Bismillaahirrahmaanirrahiim
ISLAM
Pidato Mirza Ghulam Ahmad a.s.
Tgl. 2 November 1904
di Kota Sialkote – Hindustan
Bab 8
BERBAGAI KEISTIMEWAAN
NABI BESAR MUHAMMAD SAW. & MAKNA GELAR KHĀTAMAN
NABIYYÎN NABI BESAR MUHAMMAD SAW. SEBAGAI PENUTUP RANGKAIAN KENABIAN
MUSTAQIL (KENABIAN MANDIRI) DAN PEMBUKA PINTU “KENABIAN
UMMATI“ (KENABIAN UMMAT)
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam bagian akhir Bab 7 telah
dijelaskan topik Para Khalifah
Ruhani Nabi Besar Muhammad Saw., yaitu sehubungan dengan sabda Nabi Besar Muhammad saw. “’ulama ummati kal-anbiyya’ bani Isrāil – ‘ulama umatku seperti
nabi-nabi Bani Israil”, yaitu para mujaddid
dan para wali Allah besar di kalangan umat Islam, karena pada hakikatnya para mujaddid tersebut dari segi keruhanian merupakan para “khalifah”
(wakil/penerus) Nabi Besar
Muhammad saw., setelah khalifah
yang memiliki kekuasaan duniawi
dan ruhani hanya sampai dengan Khalifah Ali bin Abi Thalib r.a..
Mengapa
demikian? Sebab selanjutnya yang memerintah
di kalangan umat Islam bukan khalifah
yang hakiki melainkan adalah para sultan
(raja), baik dari dinasti
Ummayah yang kemudian berkuasa di Spanyol
(Andalusia) maupun dinasti
Abbasiyah di Iraq, setelah
berhasil merebutnya dari Bani Umayyah.
Demikian pula sebutan “khalifah” pada dinasti
Ustmaniyah di Turki.
Lima Kurun Waktu Sejarah Umat Islam
Kenyataan
tersebut sesuai dengan nubuatan
(kabar gaib) Nabi Besar Muhammad saw. mengenai umat Islam:
تكون
النبوة فيكم ما شاء الله أن تكون , ثم يرفعها الله إذا شاء أن يرفعها ثم تكون
خلافة على منهاج النبوة , فتكون ما شاء الله أن تكون , ثم يرفعها إذا شاء أن
يرفعها , ثم تكون ملكا عاضا فيكون ما شاء الله أن تكون , ثم يرفعها إذا شاء الله
أن يرفعها , ثم تكون ملكا جبريا فتكون ما شاء الله أن تكون , ثم يرفعها إذا شاء أن
يرفعها , ثم تكون خلافة على منهاج النبوة . ثم سكت " .
“Akan
ada masa nubuwwat (kenabian) pada
kalian selama yang Allah kehendaki, kemudian Allah mengangkatnya kalau
Allah kehendaki. Lalu akan ada khilāfatun ‘alā minhājin- nubuwwah -- masa khilafah di atas jalan
kenabian selama yang
Allah kehendaki, kemudian Allah
mengangkatnya jika Allah menghendaki. Lalu ada mulkan ‘ādhan -- masa kerajaan
yang dhalim/menggigit selama yang Allah kehendaki, kemudian Allah mengangkatnya bila Allah
menghendaki. Lalu akan ada mulkan jabriyān – masa kerajaan
tirani (diktator) selama yang Allah kehendaki, kemudian Allah mengangkatnya bila Allah
menghendaki. Lalu akan ada lagi khilāfatun ‘alā minhājin- nubuwwah -- masa kekhilafahan di atas manhaj
Nubuwwah”. Kemudian beliau diam” [Diriwayatkan oleh Ahmad 4/273 dan Ath-Thayalisi
no. 439; dishahihkan oleh Al-Albaaniy dalam Silsilah Ash-Shahiihah
no. 5].
Dalam Hadist di atas Nabi Besar Muhammad saw. membagi zaman menjadi 5 (lima) bagian.
Berdasarkan hadist tersebut kita bisa
menerka bahwa zaman selepas kekhalifahan Khulafaur Rasyidin adalah zaman fitnah. Zaman ini bermula dari
sejak turunnya Sayidina Hasan bin Ali
r.a. dari tampuk kekhalifahan
yang sah -- demi menjaga keutuhan umat Islam -- serta menyerahkannya kepada Muawiyah bin Abu Sufyan r.a. -- dan berakhir
tahun 1924 M.
Termasuk dalam zaman mulkan ‘ādhan
(pemerintahan yang zhalim/menggigit) dan zaman
mulkan jabariyān (penindasan dan penzaliman/diktator) tersebut adalah zaman Bani Umaiyah, Bani Abbasiyah,
Bani Mamluk, Bani Fatimiyah, Moghul, Seljuk, Ayubiah sampai ke zaman jatuhnya kekhalifahan Ustmaniyah.
Pemerintahan mereka umumnya buruk, tetapi ada beberapa yang bisa dikecualikan, seperti (1) zaman Khalifah Umar
bin Abdul Aziz – yang dikenal sebagai mujaddid
abad pertama – (2) ‘Abdullah bin Az Zubair, (3) Sultan Muhammad Al Fateh, dan (4) Salahuddin Al Ayubi.
“Kehormatan Khusus” Nabi Besar Muhammad Saw.
Setelah zaman mulkan ‘ādhan (pemerintahan yang
menggigit/zhalim) dan zaman mulkan
jabriyān (penindasan dan penzaliman/diktator) sampai jatuhnya Imperium
Turki Ustmaniyah, selanjutnya Nabi Besar Muhammad saw. bersabda “Tsumma takūnu khilāfatun ‘alā minhāji-
nubuwwah -- kemudian
berlaku pula zaman Kekhalifahan yang berjalan di atas cara hidup zaman kenabian.”
Setelah mengucapkan nubuatan tersebut beliau
saw. diam.
Sabda Nabi Besar Muhammad saw.:
“Tsumma takūnu khilāfatun ‘alā minhāji- nubuwwah -- kemudian berlaku pula zaman Kekhalifahan yang berjalan di atas cara hidup zaman kenabian” berhubungan
erat dengan firman Allah Swt. berikut ini:
وَعَدَ اللّٰہُ
الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا مِنۡکُمۡ وَ
عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ لَیَسۡتَخۡلِفَنَّہُمۡ فِی الۡاَرۡضِ کَمَا اسۡتَخۡلَفَ
الَّذِیۡنَ مِنۡ قَبۡلِہِمۡ ۪ وَ لَیُمَکِّنَنَّ لَہُمۡ دِیۡنَہُمُ الَّذِی ارۡتَضٰی لَہُمۡ وَ لَیُبَدِّلَنَّہُمۡ
مِّنۡۢ بَعۡدِ خَوۡفِہِمۡ اَمۡنًا ؕ
یَعۡبُدُوۡنَنِیۡ لَا یُشۡرِکُوۡنَ بِیۡ
شَیۡئًا ؕ وَ مَنۡ کَفَرَ بَعۡدَ ذٰلِکَ
فَاُولٰٓئِکَ ہُمُ الۡفٰسِقُوۡنَ ﴿﴾
Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman dan beramal saleh di antara kamu niscaya Dia
akan menjadikan mereka itu khalifah di bumi ini sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang
sebelum mereka khalifah, dan niscaya
Dia akan meneguhkan bagi mereka agamanya yang telah Dia ridhai bagi mereka, dan niscaya
Dia akan mengubah keadaan mereka dengan keamanan sesudah
ketakutan mereka. Mereka akan
menyembah-Ku dan mereka tidak akan
mempersekutukan sesuatu dengan-Ku, dan barangsiapa
kafir sesudah itu mereka itulah orang-orang
durhaka. (An-Nūr
[24]:56).
Dikarenakan ayat ini berlaku sebagai
pendahuluan untuk mengantarkan masalah khilafat, maka dalam ayat-ayat
QS.52:55 sebelumnya berulang-ulang telah diberi tekanan mengenai ketaatan kepada Allah Swt. dan Rasul-Nya.
Tekanan ini merupakan isyarat mengenai tingkat
dan kedudukan seorang khalifah
dalam Islam. Ayat ini berisikan janji
Allah Swt. bahwa orang-orang Muslim
akan dianugerahi pimpinan ruhani maupun
duniawi.
Janji Allah Swt.
itu diberikan kepada seluruh umat Islam,
tetapi lembaga khilafat akan mendapat bentuk nyata dalam wujud perorangan-perorangan tertentu,
yang akan menjadi penerus Nabi Besar Muhammad saw. serta wakil seluruh umat Islam. Janji
mengenai ditegakkannya khilafat
adalah jelas dan tidak dapat menimbulkan salah
paham.
Oleh sebab kini Nabi Besar Muhammad saw. satu-satunya hadi (petunjuk
jalan) umat manusia untuk selama-lamanya (QS.3:32; QS.4:70-71), maka khilafat
beliau saw. akan terus berwujud dalam salah satu bentuk di
dunia ini sampai Hari Kiamat, karena
semua khilafat yang lain telah tiada lagi, firman-Nya:
وَ مَنۡ یُّطِعِ اللّٰہَ وَ
الرَّسُوۡلَ فَاُولٰٓئِکَ مَعَ الَّذِیۡنَ اَنۡعَمَ اللّٰہُ عَلَیۡہِمۡ مِّنَ
النَّبِیّٖنَ وَ الصِّدِّیۡقِیۡنَ وَ الشُّہَدَآءِ وَ الصّٰلِحِیۡنَ ۚ وَ حَسُنَ
اُولٰٓئِکَ رَفِیۡقًا ﴿ؕ﴾ ذٰلِکَ الۡفَضۡلُ مِنَ اللّٰہِ ؕ وَ کَفٰی
بِاللّٰہِ عَلِیۡمًا ﴿٪﴾
Dan barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul
ini maka mereka akan termasuk di
antara orang-orang
yang Allah memberi nikmat kepada
mereka yakni: nabi-nabi, shiddiq-shiddiq, syahid-syahid, dan orang-orang
shalih, dan mereka itulah sahabat
yang sejati. ذٰلِکَ الۡفَضۡلُ
مِنَ اللّٰہِ ؕ وَ کَفٰی بِاللّٰہِ عَلِیۡمًا -- Itulah karunia
dari Allah, dan cukuplah Allah Yang Maha Mengetahui
(An-Nisā [4]:70-71).
Ayat
ini sangat penting sebab ia menerangkan semua jalur kemajuan ruhani yang terbuka
bagi kaum Muslimin. Keempat martabat
keruhanian — nabi-nabi, shiddiq-shiddiq,
syahid-syahid, dan orang-orang shalih, — kini
semuanya dapat dicapai hanya dengan jalan mengikuti
Nabi Besar Muhammad saw. (QS.3:32; QS.33:22).
Perbedaan Nabi Mustaqil (Nabi
Mandiri) Dengan Nabi Ummati (Zhilli/Buruzi)
Hal
ini merupakan kehormatan khusus bagi Nabi Besar Muhammad saw. semata. Tidak ada nabi Allah lain menyamai beliau saw. dalam perolehan nikmat ruhani ini. Kesimpulan itu lebih
lanjut ditunjang oleh ayat yang membicarakan nabi-nabi secara umum dan mengatakan: “Dan orang-orang yang beriman kepada Allah dan para rasul-Nya, mereka
adalah orang-orang shiddiq dan saksi-saksi di sisi Rabb (Tuhan) mereka”
(QS.57: 20).
Apabila kedua ayat ini dibaca bersama-sama
maka kedua ayat itu berarti bahwa, kalau para pengikut nabi-nabi lainnya dapat mencapai martabat shiddiq, syahid, dan shalih dan
tidak lebih tinggi dari itu, maka pengikut Nabi Besar Muhammad saw. dapat naik ke martabat nabi Allah juga.
Kitab “Bahr-ul-Muhit” (jilid III, hlm.
287) menukil Al-Raghib yang mengatakan:
“Tuhan
telah membagi orang-orang beriman dalam
empat golongan dalam ayat ini, dan telah menetapkan bagi mereka empat
tingkatan, sebagian di antaranya lebih rendah dari yang lain, dan Dia telah
mendorong orang-orang beriman sejati agar jangan tertinggal dari keempat
tingkatan ini.” Dan membubuhkan bahwa: “Kenabian
itu ada dua macam: umum dan khusus. Kenabian khusus, yakni kenabian yang
membawa syariat, sekarang tidak dapat dicapai lagi; tetapi kenabian yang umum
masih tetap dapat dicapai.”
Perlu diketahui, bahwa dari segi
cara pengangkatan rasul (nabi) Allah -- baik nabi
pembawa syariat mau pun nabi yang
tidak membawa syariat -- pengangkatan para rasul Allah tersebut sampai dengan pengangkatan Nabi Besar Muhammad
saw. adalah “mustaqil” (mandiri).
Contohnya, pengangatan Nabi Harun a.s. sebagai rasul Allah (QS.20:41-; QS.26:11-16; QS.28:26-36) bukan karena
adanya kepatuhan Nabi Harun a.s. kepada hukum
syariat, sebab sampai saat itu Taurat belum diwahyukan Allah Swt. kepada Nabi Musa a.s., melainkan sepenuhnya
merupakan kehendak Allah Swt.. Itulah
makna nabi mustaqil (nabi mandiri).
Semua rasul Allah di kalangan Bani
Israil (keturunan Nabi Ya’qub a.s.)
mulai Nabi Yusuf a.s., Nabi Musa a.s.
sampai dengan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. merupakan
nabi-nabi Mustaqil (QS.2:89; QS.5:47;
QS.57:28). Demikian juga halnya dengan
pengutusan Nabi Besar Muhammad
saw. di kalangan Bani Isma’il pun
merupakan nabi mustaqil, sebab tidak
ada ada satu ajaran agama pun yang
diketahui oleh Nabi Besar Muhammad saw. kecuali mengikuti millat (sikap hidup) Nabi
Ibrahim a.s. (QS.6:162-164) yaitu berserah-diri
sepenuhnya kepada Allah Swt. (QS.2:131-134), berikut firman-Nya berkenaan
Nabi Besar Muhammad saw.:
وَ مَا کَانَ لِبَشَرٍ اَنۡ یُّکَلِّمَہُ اللّٰہُ اِلَّا وَحۡیًا اَوۡ مِنۡ وَّرَآیِٔ حِجَابٍ
اَوۡ یُرۡسِلَ رَسُوۡلًا فَیُوۡحِیَ بِاِذۡنِہٖ مَا یَشَآءُ ؕ اِنَّہٗ عَلِیٌّ حَکِیۡمٌ ﴿﴾ وَ
کَذٰلِکَ اَوۡحَیۡنَاۤ اِلَیۡکَ رُوۡحًا مِّنۡ اَمۡرِنَا
ؕ مَا کُنۡتَ تَدۡرِیۡ مَا الۡکِتٰبُ وَ لَا
الۡاِیۡمَانُ وَ لٰکِنۡ جَعَلۡنٰہُ
نُوۡرًا نَّہۡدِیۡ بِہٖ مَنۡ
نَّشَآءُ مِنۡ عِبَادِنَا ؕ وَ اِنَّکَ
لَتَہۡدِیۡۤ اِلٰی صِرَاطٍ مُّسۡتَقِیۡمٍ
﴿ۙ﴾ صِرَاطِ
اللّٰہِ الَّذِیۡ لَہٗ مَا فِی السَّمٰوٰتِ وَ مَا فِی الۡاَرۡضِ
ؕ اَلَاۤ اِلَی اللّٰہِ تَصِیۡرُ الۡاُمُوۡرُ ﴿٪﴾
Dan sekali-kali tidak mungkin bagi manusia
bahwa Allah berbicara kepadanya kecuali dengan wahyu atau dari
belakang tabir atau dengan
mengirimkan seorang utusan guna mewahyukan dengan seizin-Nya apa yang Dia kehendaki, sesungguh-nya, Dia Maha Tinggi, Maha Bijaksana. Dan demikianlah
Kami telah mewahyukan kepada engkau firman ini dengan perintah Kami. Engkau sekali-kali tidak mengetahui apa
Kitab itu, dan tidak pula apa
iman itu, tetapi Kami
telah menjadikan wahyu itu nur, yang dengan itu Kami memberi petunjuk kepada siapa yang Kami kehendaki
dari antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya engkau benar-benar memberi
petunjuk ke jalan lurus, Jalan Allah Yang milik-Nya apa
yang ada di seluruh langit dan apa
yang ada di bumi. Ketahuilah,
kepada Allah segala perkara kembali. (Asy-Syūrā
[42]:52-54).
Berbagai Keistimewaan “Kemustaqilan” Kenabian Nabi Besar Muhammad Saw.: (1) Ummiy (Buta-huruf); (2)
Pembawa Syariat Terakhir dan Tersempurna, (3) Diutus Untuk Seluruh Umat Manusia
Ayat 52
menyebut tiga cara Allah Swt. berbicara atau berkomunikasi
kepada hamba-Nya dan menampakkan Wujud-Nya kepada mereka:
(a) Dia berfirman secara langsung melalui
wahyu kepada mereka tanpa perantara.
(b) Dia membuat mereka menyaksikan kasyaf (penglihatan gaib), yang dapat
ditakwilkan atau tidak, atau kadang-kadang membuat mereka mendengar kata-kata dalam keadaan jaga dan sadar, di waktu itu
mereka tidak melihat wujud orang yang berbicara kepada mereka. Inilah arti
kata-kata "dari belakang tabir,"
(c)
Allah Swt. menurunkan
seorang utusan atau seorang malaikat yang menyampaikan Amanat Ilahi, yakni malaikat Jibril a.s.
Dalam
ayat 53 Al-Quran disebut di sini ruh (nafas hidup — Lexicon Lane), sebab dengan perantaraannya bangsa yang telah mati keadaan akhlak dan keruhaniannya mendapat kehidupan baru: مَا کُنۡتَ تَدۡرِیۡ مَا الۡکِتٰبُ وَ لَا الۡاِیۡمَانُ – “Engkau sekali-kali tidak mengetahui apa
Kitab itu, dan tidak pula apa
iman itu, وَ لٰکِنۡ
جَعَلۡنٰہُ نُوۡرًا نَّہۡدِیۡ بِہٖ مَنۡ نَّشَآءُ مِنۡ عِبَادِنَا -- tetapi Kami
telah menjadikan wahyu itu nur, yang dengan itu Kami memberi petunjuk kepada siapa yang Kami kehendaki
dari antara hamba-hamba Kami.”
Islam adalah kehidupan, nur, dan jalan yang
membawa manusia kepada Allah Swt. dan menyadarkan
manusia akan tujuan agung dan luhur kejadiannya yaitu untuk beribadah kepada Allah Swt. dan berkhidmat
kepada makhluk-Nya (QS.51:57-59): صِرَاطِ اللّٰہِ الَّذِیۡ
لَہٗ مَا فِی السَّمٰوٰتِ وَ مَا فِی الۡاَرۡضِ -- “Jalan
Allah Yang milik-Nya apa yang ada di seluruh langit dan apa yang ada di bumi.”
Makna ayat:
اَلَاۤ اِلَی اللّٰہِ
تَصِیۡرُ الۡاُمُوۡرُ -- Ketahuilah, kepada Allah
segala perkara kembali” bahwa permulaan
dan akhir segala sesuatu terletak di tangan Allah Swt.. Pernyataan Allah Swt. dalam ayat-ayat
tersebut menegaskan bahwa Nabi Besar
Muhammad saw. adalah “nabi
mustaqil” (nabi yang mandiri), bahkan beliau saw. seorang “nabi ummiy” (QS.7:158) namun demikian
beliau saw. mendapat wahyu syariat
terakhir dan tersempurna yakni agama Islam (Al-Quran -- QS.5:4) dan beliau saw. diutus untuk seluruh umat manusia (QS.7:159;
QS.21:108; QS.25:2; QS34:29), firman-Nya:
اَلَّذِیۡنَ
یَتَّبِعُوۡنَ الرَّسُوۡلَ النَّبِیَّ الۡاُمِّیَّ الَّذِیۡ یَجِدُوۡنَہٗ
مَکۡتُوۡبًا عِنۡدَہُمۡ فِی التَّوۡرٰىۃِ وَ الۡاِنۡجِیۡلِ ۫ یَاۡمُرُہُمۡ
بِالۡمَعۡرُوۡفِ وَ یَنۡہٰہُمۡ عَنِ الۡمُنۡکَرِ وَ یُحِلُّ لَہُمُ الطَّیِّبٰتِ
وَ یُحَرِّمُ عَلَیۡہِمُ الۡخَبٰٓئِثَ وَ یَضَعُ عَنۡہُمۡ اِصۡرَہُمۡ وَ
الۡاَغۡلٰلَ الَّتِیۡ کَانَتۡ عَلَیۡہِمۡ ؕ فَالَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا بِہٖ وَ عَزَّرُوۡہُ وَ نَصَرُوۡہُ وَ اتَّبَعُوا النُّوۡرَ الَّذِیۡۤ اُنۡزِلَ
مَعَہٗۤ ۙ اُولٰٓئِکَ ہُمُ الۡمُفۡلِحُوۡنَ ﴿﴾٪
“Yaitu orang-orang yang mengikuti
Rasul, Nabi Ummi, yang mereka dapati tercantum di dalam Taurat dan Injil yang
ada pada mereka. Ia menyuruh mereka kepada yang makruf, melarang mereka dari yang mungkar, menghalalkan bagi mereka segala yang baik, mengharamkan
bagi mereka segala yang buruk, menyingkirkan
dari mereka beban mereka dan belenggu-belenggu
yang ada pada mereka. فَالَّذِیۡنَ
اٰمَنُوۡا بِہٖ وَ عَزَّرُوۡہُ وَ
نَصَرُوۡہُ وَ اتَّبَعُوا النُّوۡرَ
الَّذِیۡۤ اُنۡزِلَ مَعَہٗۤ ۙ اُولٰٓئِکَ
ہُمُ الۡمُفۡلِحُوۡنَ -- Maka orang-orang
yang beriman kepadanya, mendukungnya, menolongnya,
dan mengikuti cahaya yang telah ditu-runkan besertanya, mereka
itulah orang-orang yang berhasil.” (Al-A’rāf
[7]:158).
Berbagai Arti “Ummiy” & Keuniversalan Misi
Kenabian Nabi Besar Muhammad Saw.
Ummiy dalam ayat: اَلَّذِیۡنَ
یَتَّبِعُوۡنَ الرَّسُوۡلَ النَّبِیَّ الۡاُمِّیَّ الَّذِیۡ یَجِدُوۡنَہٗ
مَکۡتُوۡبًا عِنۡدَہُمۡ فِی التَّوۡرٰىۃِ وَ الۡاِنۡجِیۡلِ -- “Yaitu
orang-orang yang mengikuti Rasul, Nabi
Ummi, yang mereka dapati tercantum di dalam Taurat
dan Injil yang ada pada mereka,“ artinya:
(1) yang menjadi milik atau mempunyai pertalian dengan ibu, yakni maksum
(tidak berdosa) seperti bayi yang masih menyusu dari ibunya;
(2) orang yang tidak mempunyai
Kitab wahyu, khususnya orang Arab;
(3) orang yang tidak pandai membaca
dan menulis (buta huruf);
(4) orang yang berasal dari
Mekkah yang dikenal sebagai Ummul Qura, yakni induk kota-kota.
Jika kata ummi diambil pengertian “buta
huruf,” maka ayat ini akan berarti bahwa walaupun Nabi Besar Muhammad saw. tidak menerima pendidikan apa pun dan sama sekali buta aksara, namun Allah Swt. melimpahkan kepada beliau pengetahuan (makrifat) demikian
tingginya sehingga dapat memberikan nur (cahaya) dan bimbingan bahkan kepada mereka yang
dianggap paling maju dalam ilmu pengetahuan dan penalaran.
Ayat: الَّذِیۡ یَجِدُوۡنَہٗ مَکۡتُوۡبًا
عِنۡدَہُمۡ فِی التَّوۡرٰىۃِ وَ الۡاِنۡجِیۡلِ -- yang mereka
dapati tercantum di dalam Taurat dan Injil
yang ada pada mereka,“ mengenai beberapa nubuatan Bible berkenaan
dengan Nabi Besar Muhammad saw. lihat
Matius 23:39; Yohanes 14:16, 26; 16:7-14; Ulangan 18:18 dan 33:2; Yesaya 21:13-17 dan 20:62; Syiru ‘Lasyar 1:5-6; Habakuk 3:7.
Selanjutnya Allah Swt. berfirman
mengenai misi pengutusan Nabi Besar
Muhamad saw. untuk seluruh umat manusia:
قُلۡ یٰۤاَیُّہَا النَّاسُ اِنِّیۡ
رَسُوۡلُ اللّٰہِ اِلَیۡکُمۡ جَمِیۡعَۨا الَّذِیۡ
لَہٗ مُلۡکُ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ۚ لَاۤ اِلٰہَ اِلَّا ہُوَ یُحۡیٖ وَ یُمِیۡتُ ۪
فَاٰمِنُوۡا بِاللّٰہِ وَ رَسُوۡلِہِ
النَّبِیِّ الۡاُمِّیِّ الَّذِیۡ یُؤۡمِنُ بِاللّٰہِ وَ کَلِمٰتِہٖ وَ
اتَّبِعُوۡہُ لَعَلَّکُمۡ تَہۡتَدُوۡنَ ﴿﴾
Katakanlah:
“Hai manusia, sesungguhnya aku Rasul Allah kepada kamu semua. Dia-lah Yang Memiliki kerajaan seluruh
langit dan bumi, tidak ada Tuhan kecuali Dia. Dia
menghidupkan dan mematikan, فَاٰمِنُوۡا بِاللّٰہِ وَ رَسُوۡلِہِ النَّبِیِّ الۡاُمِّیِّ
الَّذِیۡ یُؤۡمِنُ بِاللّٰہِ وَ کَلِمٰتِہٖ وَ اتَّبِعُوۡہُ لَعَلَّکُمۡ تَہۡتَدُوۡنَ -- maka berimanlah kepada Allah dan Rasul-Nya, Nabi Ummiy yang beriman
kepada Allah dan Kalimat-kalimat-Nya, dan ikutilah dia supaya kamu mendapat petunjuk.”
(Al-A’rāf
[7]:159).
Jika
semua utusan Allah yang dibangkitkan
sebelum Nabi Besar Muhammad saw. merupakan nabi-nabi bangsa tertentu
-- contohnya Nabi Musa a.s.
dan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. hanya
untuk Bani Israil (QS.61:6-7) -- yang ajaran-ajaran
mereka dimaksudkan untuk kaum atau bangsa yang kepada mereka nabi-nabi itu diutus dan nabi-nabi itu diutus untuk masa-masa tertentu maka Nabi Besar Muhammad saw. dibangkitkan
untuk seluruh umat manusia hingga Hari Kiamat.
Kedatangan Nabi Besar Muhammad saw. merupakan kejadian
mandiri dalam sejarah umat manusia.
Kedatangannya itu, dimaksudkan untuk membina
segala macam bangsa dan masyarakat
agar terhimpun dalam satu Ikatan Persaudaraan Umat Manusia yang
dengan perantaraan beliau saw. segala perbedaan warna, iklim, dan kepercayaan dilenyapkan sama sekali.
Nabi Besar Muhammad Saw. Sebagai “Nabi Penutup” dan “Nabi
Pembuka”
Dengan demikian semua
orang – dari bangsa apa pun mereka –
yang telah beriman kepada beliau
saw. – dengan mengikuti sepenuhnya ajaran dan suri teladan terbaik beliau saw. (QS.3:32; QS.33:22) bagi mereka terbuka semua pintu martabat keruhanian (QS.4:70-71).
Dari segi inilah Nabi besar Muhammad saw. selain sebagai penutup rangkaian kenabian
mustaqil (kenabian mandiri) tetapi beliau saw. pun sebagai pembuka
pintu “kenabian ummati”
(kenabian umat) atau “kenabian zhilli/buruzi” (kenabian bayangan), sebagaimana dikemukakan firman-Nya sebelum ini:
وَ مَنۡ یُّطِعِ اللّٰہَ وَ
الرَّسُوۡلَ فَاُولٰٓئِکَ مَعَ الَّذِیۡنَ اَنۡعَمَ اللّٰہُ عَلَیۡہِمۡ مِّنَ
النَّبِیّٖنَ وَ الصِّدِّیۡقِیۡنَ وَ الشُّہَدَآءِ وَ الصّٰلِحِیۡنَ ۚ وَ حَسُنَ
اُولٰٓئِکَ رَفِیۡقًا ﴿ؕ﴾ ذٰلِکَ الۡفَضۡلُ مِنَ اللّٰہِ ؕ وَ کَفٰی
بِاللّٰہِ عَلِیۡمًا ﴿٪﴾
Dan barangsiapa
taat kepada Allah dan Rasul ini
maka mereka akan termasuk di antara
orang-orang yang
Allah memberi nikmat kepada mereka yakni: nabi-nabi, shiddiq-shiddiq,
syahid-syahid, dan orang-orang shalih, dan mereka itulah sahabat yang
sejati. Itulah karunia
dari Allah, dan cukuplah Allah Yang Maha Mengetahui. (An-Nisā [4]:70-71).
Ayat
ini sangat penting sebab ia menerangkan semua jalur kemajuan ruhani yang
terbuka bagi kaum Muslimin. Keempat martabat keruhanian — nabi-nabi,
shiddiq-shiddiq, syahid-syahid, dan orang-orang shalih — kini
semuanya dapat dicapai hanya dengan
jalan mengikuti Nabi Besar Muhammad saw..
Hal
ini merupakan kehormatan khusus bagi Nabi Besar Muhammad saw.. semata. Tidak ada nabi Allah lain menyamai
beliau saw. dalam perolehan nikmat
ini. Kesimpulan itu lebih lanjut ditunjang oleh ayat yang membicarakan nabi-nabi secara umum dan mengatakan: “Dan orang-orang yang beriman kepada Allah
dan para rasul-Nya, mereka adalah orang-orang shiddiq dan saksi-saksi di sisi
Tuhan mereka” (QS.57: 20).
Apabila kedua ayat ini dibaca
bersama-sama maka kedua ayat itu berarti bahwa, kalau para pengikut nabi-nabi lainnya dapat mencapai
martabat shiddiq, syahid, dan shalih dan tidak lebih tinggi dari itu, maka pengikut hakiki Nabi Besar
Muhammad saw. dapat naik ke martabat nabi
juga, yakni “nabi ummati”
Kitab “Bahr-ul-Muhit” (jilid III, hlm. 287) menukil Al-Raghib yang
mengatakan: “Tuhan telah membagi
orang-orang beriman dalam empat golongan
dalam ayat ini, dan telah menetapkan bagi mereka empat tingkatan, sebagian di
antaranya lebih rendah dari yang lain, dan Dia telah mendorong orang-orang
beriman sejati agar jangan tertinggal dari keempat tingkatan ini.” Dan
membubuhkan bahwa: “Kenabian itu ada dua
macam: umum dan khusus. Kenabian khusus, yakni kenabian yang membawa syariat,
sekarang tidak dapat dicapai lagi; tetapi kenabian yang umum masih tetap dapat
dicapai.”
Makna Gelar “Khātaman
Nabiyyīn” Nabi Besar Muhammad Saw.
Alasan lainnya mengapa para para nabi
Allah hingga dengan Nabi Besar Muhammad saw. semuanya merupakan nabi mustaqil (nabi mandiri) karena
hingga dengan masa menjelang pengutusan Nabi Besar Muhammad saw.
proses penyempurnaan hukum-hukum syariat belum mencapai puncak kesempurnaannya.
Tetapi ketika syariat
Islam diwahyukan Allah Swt. kepada
Nabi Besar Muhammad saw. – yang merupakan puncak
proses penyempurnaan hukum syariat (QS.5:4) -- maka rangkaian pengutusan nabi mustaqil telah berakhir
(tertutup) dengan diutus-Nya Nabi
Besar Muhamad saw. – yakni beliau saw. sebagai nabi mustaqil yang terakhir --
dan selanjutnya adalah terbukanya
“kenabian ummati” (nabi
pengikut) atau kenabian zhilli
(buruzi -- nabi bayangan) melalui ketaatan kepada Nabi Besar Muhammad saw.
(QS.3:32; QS.4:70; QS.33:22). Itulah sebabnya Allah Swt. telah memberi gelar “Khātaman-Nabiyyīn” kepada Nabi Besar
Muhammad saw., firman-Nya:
مَا کَانَ
مُحَمَّدٌ اَبَاۤ اَحَدٍ مِّنۡ
رِّجَالِکُمۡ وَ لٰکِنۡ رَّسُوۡلَ اللّٰہِ وَ خَاتَمَ النَّبِیّٖنَ ؕ وَ کَانَ اللّٰہُ
بِکُلِّ شَیۡءٍ عَلِیۡمًا ﴿٪﴾
Muhammad bukanlah bapak salah seorang laki-laki di antara laki kamu, akan tetapi ia adalah Rasul Allah dan Khātaman-Nabiyyīn (meterai sekalian nabi), dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu (Al-Ahzāb [33]:41).
Jadi, sehubungan dengan QS.4:70 mengenai
terbukanya “pintu kenabian ummati”
(zhilli/buruzi) bagi para pengikut sejati Nabi Besar Muhammad saw. merupakan
sekian banyak keunggulan
beliau saw. yang lainnya lagi, dan merupakan kelebihan
Nabi Besar Muhammad saw. yang menonjol di atas semua nabi Allah dan rasul
Allah lainnya, firman-Nya:
وَ مَنۡ یُّطِعِ اللّٰہَ وَ
الرَّسُوۡلَ فَاُولٰٓئِکَ مَعَ الَّذِیۡنَ اَنۡعَمَ اللّٰہُ عَلَیۡہِمۡ مِّنَ
النَّبِیّٖنَ وَ الصِّدِّیۡقِیۡنَ وَ الشُّہَدَآءِ وَ الصّٰلِحِیۡنَ ۚ وَ حَسُنَ
اُولٰٓئِکَ رَفِیۡقًا ﴿ؕ﴾ ذٰلِکَ الۡفَضۡلُ مِنَ اللّٰہِ ؕ وَ کَفٰی
بِاللّٰہِ عَلِیۡمًا ﴿٪﴾
Dan barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul
ini maka mereka akan termasuk di
antara orang-orang
yang Allah memberi nikmat kepada
mereka yakni: مِّنَ النَّبِیّٖنَ وَ الصِّدِّیۡقِیۡنَ وَ الشُّہَدَآءِ وَ
الصّٰلِحِیۡنَ -- nabi-nabi, shiddiq-shiddiq, syahid-syahid,
dan orang-orang shalih, وَ حَسُنَ اُولٰٓئِکَ رَفِیۡقًا -- dan mereka itulah sahabat yang sejati. ذٰلِکَ الۡفَضۡلُ
مِنَ اللّٰہِ ؕ وَ کَفٰی بِاللّٰہِ عَلِیۡمًا -- Itulah karunia
dari Allah, dan cukuplah Allah Yang Maha Mengetahui
(An-Nisā [4]:70-71).
Karena itu mempercayai kedatangan kedua
kali Nabi
Isa Ibnu Maryam a.s. Israili dari langit
untuk menjadi nabi di kalangan umat Islam benar-benar merupakan penghinaan kepada kemuliaan Nabi Besar Muhmmad saw., sebab
sama dengan menuduh beliau saw.
seorang yang abtar (terputus
keturunannya)-- baik dari segi jasmani
mau pun dari segi ruhani -- sebagaimana tuduhan kaum kafir Mekkah, firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿﴾ اِنَّاۤ
اَعۡطَیۡنٰکَ الۡکَوۡثَرَ ؕ﴿﴾ فَصَلِّ
لِرَبِّکَ وَ انۡحَرۡ ؕ﴿﴾ اِنَّ
شَانِئَکَ ہُوَ الۡاَبۡتَرُ ٪﴿﴾
Aku baca
dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang. Sesungguhnya
Kami telah menganugerahkan kepada engkau
ber-limpah-limpah kebaikan. Maka shalatlah bagi Rabb (Tuhan) engkau dan berkorbanlah. اِنَّ شَانِئَکَ ہُوَ الۡاَبۡتَرُ -- Sesungguhnya
musuh engkau, dialah yang
tanpa keturunan. (Al-Kautsar [108]:1-4).
“Kenabian Ummati” Mirza Ghulam Ahmad a.s. Sebagai Rasul
Akhir Zaman
Di Akhir Zaman ini
-- sesuai dengan sabda Nabi Besar Muhammad saw. dalam Hadits sebelum ini
– umat manusia telah menyaksikan khalifah ruhani beliau saw. yang
terbesar dalam wujud Pendiri Jemaat Ahmadiyah., Mirza Ghulam Ahmad a.s. – Imam Mahdi a.s. dan Al-Masih Mau’ud a.s. –
sebagaimana sabda beliau saw.: ثم تكون خلافة على منهاج النبوة . ثم سكت " -- “kemudian berlaku pula zaman Kekhalifahan yang berjalan di atas cara kenabian.” Setelah mengucapkan nubuatan
tersebut beliau saw. diam:
تكون
النبوة فيكم ما شاء الله أن تكون , ثم يرفعها الله إذا شاء أن يرفعها ثم تكون
خلافة على منهاج النبوة , فتكون ما شاء الله أن تكون , ثم يرفعها إذا شاء أن
يرفعها , ثم تكون ملكا عاضا فيكون ما شاء الله أن تكون , ثم يرفعها إذا شاء الله
أن يرفعها , ثم تكون ملكا جبريا فتكون ما شاء الله أن تكون , ثم يرفعها إذا شاء أن
يرفعها , ثم تكون خلافة على منهاج النبوة . ثم سكت " .
“Akan
ada masa nubuwwat (kenabian) pada
kalian selama yang Allah kehendaki, kemudian Allah mengangkatnya kalau
Allah kehendaki. Lalu akan ada khilāfatun ‘alā minhājin- nubuwwah -- masa khilafah di atas jalan
kenabian selama yang
Allah kehendaki, kemudian Allah
mengangkatnya jika Allah menghendaki. Lalu ada mulkan ‘ādhan -- masa kerajaan
yang dhalim/menggigit selama yang Allah kehendaki, kemudian Allah mengangkatnya bila Allah
menghendaki. Lalu akan ada mulkan jabriyān – masa kerajaan
tirani (diktator) selama yang Allah kehendaki, kemudian Allah mengangkatnya bila Allah
menghendaki. Lalu akan ada lagi khilāfatun ‘alā minhājin- nubuwwah -- masa kekhilafahan di atas manhaj
Nubuwwah”. Kemudian beliau diam” [Diriwayatkan oleh Ahmad 4/273 dan Ath-Thayalisi
no. 439; dishahihkan oleh Al-Albaaniy dalam Silsilah Ash-Shahiihah
no. 5].
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran Anyar,
30 Januari 2017