Selasa, 31 Januari 2017

Berbagai Keistimewaan Nabi Besar Muhammad Saw. & Makna Gelar "Khaataman-Nabiyyiin" Nabi Besar Muhammad saw. Sebagai "Penutup" Rangkaian "Kenabian Mustaqil (Kenabian Mandiri) dan "Pembuka" Pintu "Kemabian Ummati (Kenabian Ummat)





Bismillaahirrahmaanirrahiim

  ISLAM
Pidato  Mirza Ghulam Ahmad a.s.
Tgl. 2 November 1904 di Kota Sialkote – Hindustan

Bab  8

BERBAGAI KEISTIMEWAAN NABI BESAR MUHAMMAD SAW. &  MAKNA GELAR KHĀTAMAN NABIYYÎN NABI BESAR MUHAMMAD SAW. SEBAGAI PENUTUP RANGKAIAN KENABIAN MUSTAQIL  (KENABIAN MANDIRI) DAN PEMBUKA  PINTU “KENABIAN UMMATI“ (KENABIAN UMMAT)  

Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam bagian akhir Bab 7  telah dijelaskan topik     Para Khalifah Ruhani Nabi Besar Muhammad Saw., yaitu sehubungan dengan  sabda Nabi Besar Muhammad saw. “’ulama ummati kal-anbiyya’    bani Isrāil – ‘ulama umatku seperti nabi-nabi Bani Israil”, yaitu  para mujaddid dan para wali Allah besar  di kalangan umat Islam,  karena pada hakikatnya para mujaddid tersebut dari segi keruhanian merupakan  para “khalifah” (wakil/penerus) Nabi Besar Muhammad saw.,  setelah khalifah  yang memiliki kekuasaan duniawi dan ruhani hanya sampai dengan Khalifah Ali bin Abi Thalib r.a..
         Mengapa demikian? Sebab selanjutnya yang memerintah di kalangan umat Islam  bukan khalifah yang hakiki melainkan adalah para sultan (raja), baik  dari  dinasti Ummayah yang kemudian berkuasa di Spanyol (Andalusia)  maupun  dinasti Abbasiyah di Iraq, setelah berhasil merebutnya dari Bani Umayyah. Demikian  pula sebutan “khalifah” pada  dinasti  Ustmaniyah  di Turki. 

Lima Kurun Waktu Sejarah Umat Islam

          Kenyataan tersebut sesuai dengan nubuatan (kabar gaib) Nabi Besar Muhammad saw. mengenai umat Islam:
تكون النبوة فيكم ما شاء الله أن تكون , ثم يرفعها الله إذا شاء أن يرفعها ثم تكون خلافة على منهاج النبوة , فتكون ما شاء الله أن تكون , ثم يرفعها إذا شاء أن يرفعها , ثم تكون ملكا عاضا فيكون ما شاء الله أن تكون , ثم يرفعها إذا شاء الله أن يرفعها , ثم تكون ملكا جبريا فتكون ما شاء الله أن تكون , ثم يرفعها إذا شاء أن يرفعها , ثم تكون خلافة على منهاج النبوة . ثم سكت " .
Akan ada masa nubuwwat (kenabian) pada kalian selama yang Allah kehendaki, kemudian Allah mengangkatnya  kalau Allah kehendaki. Lalu akan ada khilāfatun ‘alā minhājin- nubuwwah --  masa khilafah di atas    jalan kenabian  selama yang Allah kehendaki, kemudian Allah mengangkatnya jika Allah menghendaki. Lalu ada  mulkan ‘ādhan   -- masa  kerajaan yang  dhalim/menggigit  selama yang Allah kehendaki, kemudian Allah mengangkatnya bila Allah menghendaki. Lalu akan ada   mulkan  jabriyān – masa  kerajaan  tirani (diktator) selama yang Allah kehendaki, kemudian Allah mengangkatnya bila Allah menghendaki. Lalu akan ada lagi khilāfatun ‘alā minhājin- nubuwwah -- masa kekhilafahan di atas manhaj Nubuwwah”. Kemudian beliau diam” [Diriwayatkan oleh Ahmad 4/273 dan Ath-Thayalisi no. 439; dishahihkan oleh Al-Albaaniy dalam Silsilah Ash-Shahiihah no. 5].
         Dalam Hadist di atas Nabi Besar Muhammad saw. membagi zaman menjadi 5 (lima) bagian. Berdasarkan  hadist tersebut kita bisa menerka bahwa zaman selepas kekhalifahan Khulafaur Rasyidin adalah zaman fitnah. Zaman ini bermula dari sejak turunnya Sayidina Hasan bin Ali r.a. dari tampuk kekhalifahan yang sah --  demi menjaga keutuhan umat Islam  -- serta menyerahkannya kepada Muawiyah bin Abu Sufyan r.a. -- dan berakhir tahun 1924 M.
       Termasuk dalam zaman mulkan ‘ādhan (pemerintahan yang zhalim/menggigit) dan zaman  mulkan jabariyān (penindasan dan penzaliman/diktator)  tersebut adalah zaman Bani Umaiyah, Bani Abbasiyah, Bani Mamluk, Bani Fatimiyah, Moghul, Seljuk, Ayubiah sampai ke zaman jatuhnya kekhalifahan Ustmaniyah
       Pemerintahan mereka umumnya buruk, tetapi ada beberapa yang bisa dikecualikan, seperti  (1) zaman Khalifah  Umar bin Abdul Aziz – yang dikenal sebagai mujaddid abad pertama –  (2)  ‘Abdullah bin Az Zubair, (3) Sultan Muhammad Al Fateh, dan (4) Salahuddin Al Ayubi

“Kehormatan Khusus” Nabi Besar Muhammad Saw.


       Setelah zaman  mulkan ‘ādhan (pemerintahan yang menggigit/zhalim)  dan zaman  mulkan jabriyān (penindasan dan penzaliman/diktator) sampai  jatuhnya Imperium Turki Ustmaniyah, selanjutnya Nabi Besar Muhammad saw. bersabda “Tsumma takūnu khilāfatun ‘alā minhāji- nubuwwah    -- kemudian berlaku pula zaman Kekhalifahan  yang berjalan di atas cara hidup zaman kenabian.”
       Setelah  mengucapkan nubuatan tersebut   beliau  saw. diam.  Sabda Nabi Besar Muhammad saw.:     Tsumma takūnu khilāfatun ‘alā minhāji- nubuwwah    -- kemudian berlaku pula zaman Kekhalifahan  yang berjalan di atas cara hidup zaman kenabian” berhubungan erat dengan firman Allah Swt. berikut ini:   
وَعَدَ  اللّٰہُ  الَّذِیۡنَ  اٰمَنُوۡا مِنۡکُمۡ وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ لَیَسۡتَخۡلِفَنَّہُمۡ فِی الۡاَرۡضِ کَمَا اسۡتَخۡلَفَ الَّذِیۡنَ مِنۡ قَبۡلِہِمۡ ۪ وَ لَیُمَکِّنَنَّ لَہُمۡ دِیۡنَہُمُ  الَّذِی ارۡتَضٰی لَہُمۡ وَ لَیُبَدِّلَنَّہُمۡ مِّنۡۢ بَعۡدِ خَوۡفِہِمۡ  اَمۡنًا ؕ یَعۡبُدُوۡنَنِیۡ لَا  یُشۡرِکُوۡنَ بِیۡ شَیۡئًا ؕ وَ مَنۡ  کَفَرَ بَعۡدَ ذٰلِکَ فَاُولٰٓئِکَ ہُمُ  الۡفٰسِقُوۡنَ ﴿﴾
Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman  dan  beramal saleh di antara kamu niscaya Dia  akan menjadikan mereka itu khalifah di bumi ini sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka khalifah, dan niscaya Dia akan meneguhkan bagi mereka agamanya yang telah Dia ridhai bagi mereka,  dan niscaya Dia akan mengubah keadaan mereka dengan keamanan sesudah ketakutan mereka. Mereka akan menyembah-Ku dan mereka tidak akan mempersekutukan sesuatu dengan-Ku, dan barangsiapa kafir sesudah itu  mereka itulah orang-orang  durhaka.  (An-Nūr [24]:56).
        Dikarenakan ayat ini berlaku sebagai pendahuluan untuk mengantarkan masalah khilafat, maka dalam ayat-ayat QS.52:55 sebelumnya berulang-ulang telah diberi tekanan mengenai ketaatan kepada Allah Swt. dan Rasul-Nya. Tekanan ini merupakan isyarat mengenai tingkat dan kedudukan seorang khalifah dalam Islam. Ayat ini berisikan janji Allah Swt. bahwa orang-orang Muslim akan dianugerahi pimpinan ruhani maupun duniawi.
      Janji Allah Swt. itu diberikan kepada seluruh umat Islam, tetapi lembaga khilafat akan mendapat bentuk nyata dalam wujud perorangan-perorangan tertentu, yang akan menjadi penerus  Nabi Besar Muhammad saw.  serta wakil seluruh umat Islam. Janji mengenai ditegakkannya khilafat adalah jelas dan tidak dapat menimbulkan salah paham.
        Oleh sebab kini  Nabi Besar Muhammad  saw.  satu-satunya hadi (petunjuk jalan) umat manusia untuk selama-lamanya (QS.3:32; QS.4:70-71), maka  khilafat beliau saw. akan terus berwujud dalam salah satu bentuk di dunia ini sampai Hari Kiamat, karena semua khilafat yang lain telah tiada lagi, firman-Nya:
وَ مَنۡ یُّطِعِ اللّٰہَ وَ الرَّسُوۡلَ فَاُولٰٓئِکَ مَعَ الَّذِیۡنَ اَنۡعَمَ اللّٰہُ عَلَیۡہِمۡ مِّنَ النَّبِیّٖنَ وَ الصِّدِّیۡقِیۡنَ وَ الشُّہَدَآءِ وَ الصّٰلِحِیۡنَ ۚ وَ حَسُنَ اُولٰٓئِکَ رَفِیۡقًا ﴿ؕ﴾ ذٰلِکَ الۡفَضۡلُ مِنَ اللّٰہِ ؕ وَ کَفٰی بِاللّٰہِ عَلِیۡمًا ﴿٪﴾
Dan    barangsiapa taat kepada Allah  dan Rasul ini maka mereka akan termasuk di antara   orang-orang  yang Allah memberi nikmat kepada mereka yakni: nabi-nabi, shiddiq-shiddiq, syahid-syahid, dan orang-orang shalih, dan mereka itulah sahabat yang sejati.  ذٰلِکَ الۡفَضۡلُ مِنَ اللّٰہِ ؕ وَ کَفٰی بِاللّٰہِ عَلِیۡمًا  --   Itulah karunia dari Allah,  dan cukuplah Allah Yang Maha Mengetahui  (An-Nisā  [4]:70-71).
           Ayat ini sangat penting sebab ia menerangkan semua jalur kemajuan ruhani yang terbuka bagi kaum Muslimin. Keempat martabat keruhanian —  nabi-nabi, shiddiq-shiddiq, syahid-syahid, dan orang-orang shalih,   — kini semuanya dapat dicapai hanya dengan jalan mengikuti Nabi Besar Muhammad saw. (QS.3:32; QS.33:22).

Perbedaan Nabi Mustaqil (Nabi Mandiri) Dengan    Nabi Ummati (Zhilli/Buruzi)

      Hal ini merupakan kehormatan khusus bagi  Nabi Besar Muhammad saw.   semata. Tidak ada nabi Allah lain menyamai beliau saw. dalam perolehan nikmat ruhani ini. Kesimpulan itu lebih lanjut ditunjang oleh ayat yang membicarakan nabi-nabi secara umum dan mengatakan: “Dan orang-orang yang beriman kepada Allah dan para rasul-Nya, mereka adalah orang-orang shiddiq dan saksi-saksi di sisi Rabb (Tuhan) mereka” (QS.57: 20).
      Apabila kedua ayat ini dibaca bersama-sama maka kedua ayat itu berarti bahwa, kalau para pengikut nabi-nabi lainnya dapat mencapai martabat shiddiq, syahid, dan shalih dan tidak lebih tinggi dari itu, maka pengikut  Nabi Besar Muhammad saw.  dapat naik ke martabat nabi  Allah juga.
Kitab “Bahr-ul-Muhit” (jilid III, hlm. 287) menukil Al-Raghib yang mengatakan:
 Tuhan telah membagi orang-orang beriman  dalam empat golongan dalam ayat ini, dan telah menetapkan bagi mereka empat tingkatan, sebagian di antaranya lebih rendah dari yang lain, dan Dia telah mendorong orang-orang beriman sejati agar jangan tertinggal dari keempat tingkatan ini.” Dan membubuhkan bahwa: “Kenabian itu ada dua macam: umum dan khusus. Kenabian khusus, yakni kenabian yang membawa syariat, sekarang tidak dapat dicapai lagi; tetapi kenabian yang umum masih tetap dapat dicapai.”
        Perlu diketahui,  bahwa dari segi cara pengangkatan rasul (nabi) Allah   -- baik nabi pembawa syariat mau pun nabi yang tidak membawa syariat   -- pengangkatan para rasul Allah tersebut sampai dengan pengangkatan Nabi Besar Muhammad saw.   adalah “mustaqil” (mandiri).
      Contohnya, pengangatan Nabi Harun a.s. sebagai rasul Allah (QS.20:41-; QS.26:11-16; QS.28:26-36) bukan karena adanya kepatuhan Nabi Harun a.s.  kepada hukum syariat, sebab sampai saat itu  Taurat belum diwahyukan Allah Swt. kepada Nabi Musa a.s., melainkan sepenuhnya merupakan kehendak Allah Swt.. Itulah makna nabi mustaqil  (nabi mandiri).
         Semua rasul Allah di kalangan Bani Israil  (keturunan Nabi Ya’qub a.s.) mulai Nabi Yusuf a.s., Nabi Musa a.s.  sampai dengan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.  merupakan nabi-nabi Mustaqil (QS.2:89; QS.5:47;  QS.57:28). Demikian juga halnya dengan  pengutusan Nabi Besar Muhammad saw. di kalangan Bani Isma’il pun merupakan nabi mustaqil, sebab tidak ada ada satu ajaran agama pun yang diketahui oleh Nabi Besar Muhammad saw. kecuali mengikuti millat (sikap hidup) Nabi Ibrahim a.s. (QS.6:162-164) yaitu berserah-diri sepenuhnya kepada Allah Swt. (QS.2:131-134), berikut firman-Nya berkenaan Nabi Besar Muhammad saw.:
وَ مَا کَانَ  لِبَشَرٍ اَنۡ یُّکَلِّمَہُ اللّٰہُ  اِلَّا وَحۡیًا اَوۡ مِنۡ وَّرَآیِٔ حِجَابٍ اَوۡ یُرۡسِلَ رَسُوۡلًا فَیُوۡحِیَ بِاِذۡنِہٖ مَا یَشَآءُ ؕ اِنَّہٗ عَلِیٌّ  حَکِیۡمٌ ﴿﴾  وَ کَذٰلِکَ  اَوۡحَیۡنَاۤ  اِلَیۡکَ رُوۡحًا مِّنۡ اَمۡرِنَا ؕ مَا کُنۡتَ تَدۡرِیۡ مَا الۡکِتٰبُ وَ لَا  الۡاِیۡمَانُ وَ لٰکِنۡ جَعَلۡنٰہُ  نُوۡرًا نَّہۡدِیۡ  بِہٖ مَنۡ نَّشَآءُ  مِنۡ عِبَادِنَا ؕ وَ اِنَّکَ لَتَہۡدِیۡۤ  اِلٰی صِرَاطٍ مُّسۡتَقِیۡمٍ ﴿ۙ﴾  صِرَاطِ اللّٰہِ  الَّذِیۡ  لَہٗ مَا فِی السَّمٰوٰتِ وَ مَا فِی الۡاَرۡضِ ؕ اَلَاۤ  اِلَی اللّٰہِ  تَصِیۡرُ الۡاُمُوۡرُ ﴿٪﴾
Dan sekali-kali tidak mungkin bagi manusia bahwa Allah berbicara kepadanya kecuali dengan wahyu atau dari belakang tabir atau dengan mengirimkan seorang utusan guna mewahyukan dengan seizin-Nya  apa yang Dia kehendaki, sesungguh-nya, Dia Maha Tinggi, Maha Bijaksana.   Dan demikianlah Kami telah mewahyukan kepada engkau firman ini  dengan perintah Kami.   Engkau sekali-kali tidak mengetahui apa Kitab itu, dan tidak pula apa iman itu,  tetapi Kami telah menjadikan wahyu itu nur, yang dengan itu Kami memberi petunjuk kepada siapa yang Kami kehendaki dari antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya engkau benar-benar memberi petunjuk ke jalan lurusJalan Allah Yang milik-Nya apa yang ada di seluruh langit dan apa yang ada di bumi.   Ketahuilah, kepada Allah segala perkara kembali. (Asy-Syūrā [42]:52-54).

Berbagai Keistimewaan “Kemustaqilan” Kenabian Nabi Besar Muhammad Saw.: (1) Ummiy (Buta-huruf); (2) Pembawa Syariat Terakhir dan Tersempurna, (3)  Diutus Untuk Seluruh Umat Manusia

   Ayat 52   menyebut tiga cara Allah Swt.    berbicara  atau berkomunikasi kepada hamba-Nya dan menampakkan Wujud-Nya kepada mereka:
(a)  Dia berfirman secara langsung melalui wahyu kepada mereka tanpa perantara.
(b)  Dia membuat mereka menyaksikan kasyaf (penglihatan gaib), yang dapat ditakwilkan atau tidak, atau kadang-kadang membuat mereka mendengar kata-kata dalam keadaan jaga dan sadar, di waktu itu mereka tidak melihat wujud orang yang berbicara kepada mereka. Inilah arti kata-kata "dari belakang tabir,"
 (c)   Allah Swt.  menurunkan seorang utusan atau seorang malaikat yang menyampaikan Amanat Ilahi, yakni malaikat Jibril a.s.
     Dalam ayat 53 Al-Quran disebut di sini ruh (nafas hidup — Lexicon Lane), sebab dengan perantaraannya bangsa yang telah mati keadaan akhlak dan keruhaniannya mendapat kehidupan baru:  مَا کُنۡتَ تَدۡرِیۡ مَا الۡکِتٰبُ وَ لَا  الۡاِیۡمَانُ – “Engkau sekali-kali tidak mengetahui apa Kitab itu, dan tidak pula apa iman itu, وَ لٰکِنۡ جَعَلۡنٰہُ  نُوۡرًا نَّہۡدِیۡ  بِہٖ مَنۡ نَّشَآءُ  مِنۡ عِبَادِنَا --  tetapi Kami telah menjadikan wahyu itu nur, yang dengan itu Kami memberi petunjuk kepada siapa yang Kami kehendaki dari antara hamba-hamba Kami.”
  Islam adalah kehidupan, nur, dan jalan yang membawa manusia kepada Allah Swt.  dan menyadarkan manusia akan tujuan agung dan luhur kejadiannya yaitu untuk beribadah kepada Allah Swt. dan berkhidmat kepada   makhluk-Nya (QS.51:57-59):  صِرَاطِ اللّٰہِ  الَّذِیۡ  لَہٗ مَا فِی السَّمٰوٰتِ وَ مَا فِی الۡاَرۡضِ  -- “Jalan Allah Yang milik-Nya apa yang ada di seluruh langit dan apa yang ada di bumi.”  
     Makna ayat:   اَلَاۤ  اِلَی اللّٰہِ  تَصِیۡرُ الۡاُمُوۡرُ -- Ketahuilah, kepada Allah segala perkara kembali” bahwa permulaan dan akhir segala sesuatu terletak di tangan Allah Swt..  Pernyataan Allah Swt. dalam ayat-ayat tersebut  menegaskan bahwa Nabi Besar Muhammad saw.  adalah “nabi  mustaqil” (nabi yang mandiri), bahkan beliau saw. seorang “nabi ummiy” (QS.7:158) namun demikian beliau saw. mendapat wahyu syariat terakhir dan tersempurna yakni agama Islam (Al-Quran  -- QS.5:4) dan beliau saw. diutus untuk seluruh umat manusia (QS.7:159; QS.21:108; QS.25:2; QS34:29),  firman-Nya:
اَلَّذِیۡنَ یَتَّبِعُوۡنَ الرَّسُوۡلَ النَّبِیَّ الۡاُمِّیَّ الَّذِیۡ یَجِدُوۡنَہٗ مَکۡتُوۡبًا عِنۡدَہُمۡ فِی التَّوۡرٰىۃِ وَ الۡاِنۡجِیۡلِ ۫ یَاۡمُرُہُمۡ بِالۡمَعۡرُوۡفِ وَ یَنۡہٰہُمۡ عَنِ الۡمُنۡکَرِ وَ یُحِلُّ لَہُمُ الطَّیِّبٰتِ وَ یُحَرِّمُ عَلَیۡہِمُ الۡخَبٰٓئِثَ وَ یَضَعُ عَنۡہُمۡ اِصۡرَہُمۡ وَ الۡاَغۡلٰلَ الَّتِیۡ کَانَتۡ عَلَیۡہِمۡ ؕ فَالَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا بِہٖ  وَ عَزَّرُوۡہُ وَ نَصَرُوۡہُ  وَ اتَّبَعُوا النُّوۡرَ الَّذِیۡۤ اُنۡزِلَ مَعَہٗۤ ۙ اُولٰٓئِکَ  ہُمُ  الۡمُفۡلِحُوۡنَ ﴿﴾٪
“Yaitu orang-orang yang mengikuti Rasul,  Nabi Ummi,   yang mereka dapati tercantum di dalam Taurat dan Injil  yang ada pada mereka.  Ia menyuruh mereka kepada yang makruf, melarang mereka dari yang mungkar, menghalalkan bagi mereka segala yang baik,  mengharamkan bagi mereka segala yang buruk, menyingkirkan dari mereka beban mereka dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka.  فَالَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا بِہٖ  وَ عَزَّرُوۡہُ وَ نَصَرُوۡہُ  وَ اتَّبَعُوا النُّوۡرَ الَّذِیۡۤ اُنۡزِلَ مَعَہٗۤ ۙ اُولٰٓئِکَ  ہُمُ  الۡمُفۡلِحُوۡنَ -- Maka orang-orang yang  beriman kepadanya,  mendukungnya,   menolongnya, dan mengikuti cahaya yang telah ditu-runkan besertanya, mereka itulah orang-orang yang berhasil.” (Al-A’rāf [7]:158).

Berbagai Arti  Ummiy  & Keuniversalan  Misi Kenabian Nabi Besar Muhammad Saw.

       Ummiy dalam ayat:  اَلَّذِیۡنَ یَتَّبِعُوۡنَ الرَّسُوۡلَ النَّبِیَّ الۡاُمِّیَّ الَّذِیۡ یَجِدُوۡنَہٗ مَکۡتُوۡبًا عِنۡدَہُمۡ فِی التَّوۡرٰىۃِ وَ الۡاِنۡجِیۡلِ  --  “Yaitu orang-orang yang mengikuti Rasul,  Nabi Ummi,   yang mereka dapati tercantum di dalam Taurat dan Injil  yang ada pada mereka,  artinya:  
      (1) yang menjadi milik  atau mempunyai pertalian dengan ibu, yakni maksum (tidak berdosa) seperti bayi yang masih menyusu dari ibunya;
        (2) orang yang tidak mempunyai Kitab wahyu, khususnya orang Arab;
        (3) orang yang tidak pandai membaca dan menulis (buta huruf);
      (4) orang yang berasal dari Mekkah yang dikenal sebagai Ummul Qura, yakni induk kota-kota.
        Jika kata ummi diambil pengertian “buta huruf,” maka ayat ini akan berarti bahwa walaupun  Nabi Besar Muhammad saw.   tidak menerima pendidikan apa pun dan sama sekali buta aksara, namun Allah Swt.  melimpahkan kepada beliau pengetahuan (makrifat) demikian tingginya sehingga dapat memberikan nur (cahaya) dan bimbingan bahkan kepada mereka yang dianggap paling maju dalam ilmu pengetahuan dan penalaran.
  Ayat:   الَّذِیۡ یَجِدُوۡنَہٗ مَکۡتُوۡبًا عِنۡدَہُمۡ فِی التَّوۡرٰىۃِ وَ الۡاِنۡجِیۡلِ  --   yang mereka dapati tercantum di dalam Taurat dan Injil  yang ada pada mereka,“  mengenai beberapa nubuatan Bible berkenaan dengan Nabi Besar Muhammad saw.    lihat Matius 23:39; Yohanes 14:16, 26; 16:7-14; Ulangan 18:18 dan 33:2; Yesaya 21:13-17 dan 20:62; Syiru ‘Lasyar 1:5-6; Habakuk 3:7.
        Selanjutnya Allah Swt. berfirman mengenai misi pengutusan Nabi Besar Muhamad saw. untuk seluruh umat manusia:
قُلۡ یٰۤاَیُّہَا النَّاسُ اِنِّیۡ رَسُوۡلُ اللّٰہِ اِلَیۡکُمۡ جَمِیۡعَۨا الَّذِیۡ لَہٗ  مُلۡکُ السَّمٰوٰتِ  وَ الۡاَرۡضِ ۚ لَاۤ اِلٰہَ  اِلَّا ہُوَ یُحۡیٖ وَ یُمِیۡتُ ۪ فَاٰمِنُوۡا  بِاللّٰہِ وَ رَسُوۡلِہِ النَّبِیِّ  الۡاُمِّیِّ  الَّذِیۡ یُؤۡمِنُ بِاللّٰہِ وَ کَلِمٰتِہٖ وَ اتَّبِعُوۡہُ  لَعَلَّکُمۡ تَہۡتَدُوۡنَ ﴿﴾
Katakanlah: “Hai manusia,  sesungguhnya aku Rasul Allah kepada kamu semua.  Dia-lah Yang Memiliki  kerajaan seluruh langit dan bumi, tidak ada Tuhan kecuali Dia.  Dia menghidupkan dan mematikan,  فَاٰمِنُوۡا  بِاللّٰہِ وَ رَسُوۡلِہِ النَّبِیِّ  الۡاُمِّیِّ  الَّذِیۡ یُؤۡمِنُ بِاللّٰہِ وَ کَلِمٰتِہٖ وَ اتَّبِعُوۡہُ  لَعَلَّکُمۡ تَہۡتَدُوۡنَ -- maka berimanlah kepada Allah dan Rasul-Nya, Nabi Ummiy yang beriman kepada Allah dan Kalimat-kalimat-Nya,  dan  ikutilah dia supaya kamu mendapat petunjuk.” (Al-A’rāf [7]:159).
        Jika semua utusan Allah yang dibangkitkan sebelum  Nabi Besar Muhammad saw.  merupakan nabi-nabi bangsa tertentu   -- contohnya Nabi Musa a.s. dan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. hanya untuk Bani Israil (QS.61:6-7) --  yang ajaran-ajaran mereka dimaksudkan untuk kaum atau bangsa yang kepada mereka nabi-nabi itu diutus dan nabi-nabi itu diutus untuk masa-masa tertentu   maka  Nabi Besar Muhammad saw.   dibangkitkan untuk seluruh umat manusia hingga Hari Kiamat.
       Kedatangan Nabi Besar Muhammad saw.  merupakan kejadian mandiri dalam sejarah umat manusia. Kedatangannya itu, dimaksudkan untuk membina segala macam bangsa dan masyarakat agar terhimpun dalam satu Ikatan Persaudaraan Umat Manusia yang dengan perantaraan beliau saw.  segala perbedaan warna, iklim, dan kepercayaan dilenyapkan sama sekali.

Nabi Besar Muhammad Saw. Sebagai “Nabi Penutup” dan “Nabi Pembuka

      Dengan demikian   semua orang – dari bangsa apa pun mereka – yang telah beriman kepada beliau saw.  – dengan mengikuti sepenuhnya  ajaran dan suri teladan terbaik beliau saw. (QS.3:32; QS.33:22) bagi mereka terbuka semua pintu martabat keruhanian  (QS.4:70-71).
      Dari segi inilah   Nabi besar Muhammad saw.  selain sebagai penutup rangkaian kenabian mustaqil (kenabian mandiri) tetapi beliau saw. pun sebagai pembuka  pintu “kenabian ummati” (kenabian umat) atau “kenabian zhilli/buruzi” (kenabian bayangan),  sebagaimana dikemukakan  firman-Nya sebelum ini:
وَ مَنۡ یُّطِعِ اللّٰہَ وَ الرَّسُوۡلَ فَاُولٰٓئِکَ مَعَ الَّذِیۡنَ اَنۡعَمَ اللّٰہُ عَلَیۡہِمۡ مِّنَ النَّبِیّٖنَ وَ الصِّدِّیۡقِیۡنَ وَ الشُّہَدَآءِ وَ الصّٰلِحِیۡنَ ۚ وَ حَسُنَ اُولٰٓئِکَ رَفِیۡقًا ﴿ؕ﴾ ذٰلِکَ الۡفَضۡلُ مِنَ اللّٰہِ ؕ وَ کَفٰی بِاللّٰہِ عَلِیۡمًا ﴿٪﴾
Dan  barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul ini maka mereka akan termasuk di antara  orang-orang  yang Allah memberi nikmat kepada mereka yakni: nabi-nabi, shiddiq-shiddiq, syahid-syahid, dan orang-orang shalih, dan mereka itulah sahabat yang sejati.   Itulah karunia dari Allah,  dan cukuplah Allah Yang Maha Mengetahui. (An-Nisā [4]:70-71).
        Ayat ini sangat penting sebab ia menerangkan semua jalur kemajuan ruhani yang terbuka bagi kaum Muslimin. Keempat martabat keruhanian —  nabi-nabi, shiddiq-shiddiq, syahid-syahid, dan orang-orang shalih  — kini semuanya dapat dicapai hanya dengan jalan mengikuti  Nabi Besar Muhammad saw..
    Hal ini merupakan kehormatan khusus bagi  Nabi Besar Muhammad saw..     semata. Tidak ada nabi Allah  lain menyamai beliau saw. dalam perolehan nikmat ini. Kesimpulan itu lebih lanjut ditunjang oleh ayat yang membicarakan nabi-nabi secara umum dan mengatakan: “Dan orang-orang yang beriman kepada Allah dan para rasul-Nya, mereka adalah orang-orang shiddiq dan saksi-saksi di sisi Tuhan mereka” (QS.57: 20).
       Apabila kedua ayat ini dibaca bersama-sama maka kedua ayat itu berarti bahwa, kalau para pengikut nabi-nabi lainnya dapat mencapai martabat shiddiq, syahid, dan shalih dan tidak lebih tinggi dari itu, maka pengikut  hakiki Nabi Besar Muhammad saw. dapat naik ke martabat nabi juga, yakni “nabi ummati
Kitab “Bahr-ul-Muhit” (jilid III, hlm. 287) menukil Al-Raghib yang mengatakan: “Tuhan telah membagi orang-orang beriman  dalam empat golongan dalam ayat ini, dan telah menetapkan bagi mereka empat tingkatan, sebagian di antaranya lebih rendah dari yang lain, dan Dia telah mendorong orang-orang beriman sejati agar jangan tertinggal dari keempat tingkatan ini.” Dan membubuhkan bahwa: “Kenabian itu ada dua macam: umum dan khusus. Kenabian khusus, yakni kenabian yang membawa syariat, sekarang tidak dapat dicapai lagi; tetapi kenabian yang umum masih tetap dapat dicapai.”

Makna Gelar “Khātaman Nabiyyīn” Nabi Besar Muhammad Saw.

       Alasan lainnya mengapa para  para nabi Allah hingga dengan Nabi Besar Muhammad saw. semuanya merupakan nabi mustaqil (nabi mandiri) karena hingga dengan masa menjelang  pengutusan Nabi Besar Muhammad saw. proses penyempurnaan hukum-hukum syariat belum mencapai puncak kesempurnaannya.
Tetapi  ketika syariat Islam diwahyukan Allah Swt. kepada Nabi Besar Muhammad saw.    – yang   merupakan puncak   proses penyempurnaan hukum syariat  (QS.5:4)   -- maka rangkaian pengutusan nabi mustaqil  telah berakhir (tertutup) dengan diutus-Nya Nabi Besar Muhamad saw.    yakni beliau saw. sebagai nabi mustaqil yang terakhir  --  dan  selanjutnya adalah terbukanya “kenabian ummati” (nabi pengikut)  atau kenabian zhilli (buruzi  -- nabi bayangan) melalui ketaatan kepada Nabi Besar Muhammad saw. (QS.3:32; QS.4:70; QS.33:22). Itulah sebabnya Allah Swt. telah memberi gelar “Khātaman-Nabiyyīn” kepada Nabi Besar Muhammad saw., firman-Nya:
مَا کَانَ مُحَمَّدٌ اَبَاۤ  اَحَدٍ مِّنۡ رِّجَالِکُمۡ وَ لٰکِنۡ رَّسُوۡلَ اللّٰہِ وَ خَاتَمَ  النَّبِیّٖنَ ؕ وَ  کَانَ اللّٰہُ  بِکُلِّ شَیۡءٍ عَلِیۡمًا ﴿٪﴾
Muhammad bukanlah bapak salah seorang laki-laki di antara laki  kamu, akan tetapi ia adalah Rasul Allah dan Khātaman-Nabiyyīn (meterai sekalian nabi), dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu  (Al-Ahzāb [33]:41).
       Jadi, sehubungan dengan QS.4:70 mengenai terbukanya “pintu kenabian ummati” (zhilli/buruzi)  bagi para pengikut sejati Nabi Besar Muhammad   saw.  merupakan   sekian  banyak keunggulan beliau saw. yang lainnya lagi, dan  merupakan kelebihan Nabi Besar Muhammad saw.   yang menonjol di atas semua nabi Allah  dan rasul Allah lainnya, firman-Nya:
وَ مَنۡ یُّطِعِ اللّٰہَ وَ الرَّسُوۡلَ فَاُولٰٓئِکَ مَعَ الَّذِیۡنَ اَنۡعَمَ اللّٰہُ عَلَیۡہِمۡ مِّنَ النَّبِیّٖنَ وَ الصِّدِّیۡقِیۡنَ وَ الشُّہَدَآءِ وَ الصّٰلِحِیۡنَ ۚ وَ حَسُنَ اُولٰٓئِکَ رَفِیۡقًا ﴿ؕ﴾ ذٰلِکَ الۡفَضۡلُ مِنَ اللّٰہِ ؕ وَ کَفٰی بِاللّٰہِ عَلِیۡمًا ﴿٪﴾
Dan    barangsiapa taat kepada Allah  dan Rasul ini maka mereka akan termasuk di antara   orang-orang  yang Allah memberi nikmat kepada mereka yakni: مِّنَ النَّبِیّٖنَ وَ الصِّدِّیۡقِیۡنَ وَ الشُّہَدَآءِ وَ الصّٰلِحِیۡنَ  -- nabi-nabi, shiddiq-shiddiq, syahid-syahid, dan orang-orang shalih,  وَ حَسُنَ اُولٰٓئِکَ رَفِیۡقًا -- dan mereka itulah sahabat yang sejati.  ذٰلِکَ الۡفَضۡلُ مِنَ اللّٰہِ ؕ وَ کَفٰی بِاللّٰہِ عَلِیۡمًا  --   Itulah karunia dari Allah,  dan cukuplah Allah Yang Maha Mengetahui  (An-Nisā  [4]:70-71).
       Karena itu mempercayai kedatangan kedua kali  Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. Israili  dari langit  untuk menjadi nabi  di kalangan umat Islam benar-benar merupakan penghinaan kepada kemuliaan Nabi Besar Muhmmad saw., sebab sama dengan menuduh beliau saw. seorang yang abtar (terputus keturunannya)-- baik dari segi jasmani mau pun dari segi ruhani --  sebagaimana tuduhan kaum kafir Mekkah, firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿﴾  اِنَّاۤ  اَعۡطَیۡنٰکَ  الۡکَوۡثَرَ ؕ﴿﴾   فَصَلِّ  لِرَبِّکَ وَ انۡحَرۡ ؕ﴿﴾  اِنَّ شَانِئَکَ ہُوَ الۡاَبۡتَرُ ٪﴿﴾
Aku baca  dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.  Sesungguhnya Kami  telah  menganugerahkan kepada engkau ber-limpah-limpah kebaikan.  Maka shalatlah  bagi Rabb (Tuhan) engkau dan berkorbanlah.  اِنَّ شَانِئَکَ ہُوَ الۡاَبۡتَرُ --  Sesungguhnya musuh engkau, dialah  yang  tanpa keturunan. (Al-Kautsar [108]:1-4).   

“Kenabian Ummati” Mirza Ghulam Ahmad  a.s. Sebagai  Rasul Akhir Zaman

      Di Akhir Zaman   ini   -- sesuai dengan sabda Nabi Besar Muhammad saw. dalam Hadits sebelum ini – umat manusia telah menyaksikan khalifah ruhani beliau saw. yang terbesar dalam wujud Pendiri Jemaat Ahmadiyah., Mirza Ghulam Ahmad a.s.   Imam Mahdi a.s. dan Al-Masih Mau’ud a.s.  – sebagaimana  sabda beliau saw.: ثم تكون خلافة على منهاج النبوة . ثم سكت "  -- “kemudian berlaku pula zaman Kekhalifahan  yang berjalan di atas cara   kenabian.”  Setelah  mengucapkan nubuatan tersebut   beliau  saw. diam:
تكون النبوة فيكم ما شاء الله أن تكون , ثم يرفعها الله إذا شاء أن يرفعها ثم تكون خلافة على منهاج النبوة , فتكون ما شاء الله أن تكون , ثم يرفعها إذا شاء أن يرفعها , ثم تكون ملكا عاضا فيكون ما شاء الله أن تكون , ثم يرفعها إذا شاء الله أن يرفعها , ثم تكون ملكا جبريا فتكون ما شاء الله أن تكون , ثم يرفعها إذا شاء أن يرفعها , ثم تكون خلافة على منهاج النبوة . ثم سكت " .
Akan ada masa nubuwwat (kenabian) pada kalian selama yang Allah kehendaki, kemudian Allah mengangkatnya  kalau Allah kehendaki. Lalu akan ada khilāfatun ‘alā minhājin- nubuwwah --  masa khilafah di atas    jalan kenabian  selama yang Allah kehendaki, kemudian Allah mengangkatnya jika Allah menghendaki. Lalu ada  mulkan ‘ādhan   -- masa  kerajaan yang  dhalim/menggigit  selama yang Allah kehendaki, kemudian Allah mengangkatnya bila Allah menghendaki. Lalu akan ada   mulkan  jabriyān – masa  kerajaan  tirani (diktator) selama yang Allah kehendaki, kemudian Allah mengangkatnya bila Allah menghendaki. Lalu akan ada lagi khilāfatun ‘alā minhājin- nubuwwah -- masa kekhilafahan di atas manhaj Nubuwwah”. Kemudian beliau diam” [Diriwayatkan oleh Ahmad 4/273 dan Ath-Thayalisi no. 439; dishahihkan oleh Al-Albaaniy dalam Silsilah Ash-Shahiihah no. 5].

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid

oo0oo
Pajajaran Anyar,  30 Januari  2017