Bismillaahirrahmaanirrahiim
ISLAM
Pidato Mirza Ghulam Ahmad a.s.
Tgl. 2 November 1904
di Kota Sialkote – Hindustan
Bab 5
KERUGIAN KAFIR SETELAH BERIMAN & NUBUATAN KEDATANGAN NABI BESAR MUHAMMAD SAW. DALAM AGAMA-AGAMA DAN KITAB-KITAB
SEBELUM ISLAM (AL-QURAN)
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam bagian akhir Bab 4 telah
dijelaskan topik Semua Agama Yang Benar Mengajarkan Tauhid Ilahi. Pada hakikatnya agama-agama yang diturunkan sebelum agama Islam (Al-Quran) -- yang diwahyukan Allah Swt. kepada Nabi Besar Muhammad saw., agama-agama tersebut tidak mempunyai nama apa pun, Allah Swt.
hanya menyebutkan bahwa di hadirat-Nya agama-agama
tersebut adalah “Islam” (QS.3:20) dan
pemeluknya disebut “Muslim”
(QS.22:7879), firman-Nya:
اِنَّ الدِّیۡنَ عِنۡدَ اللّٰہِ
الۡاِسۡلَامُ ۟ وَ مَا اخۡتَلَفَ الَّذِیۡنَ اُوۡتُوا الۡکِتٰبَ اِلَّا مِنۡۢ
بَعۡدِ مَا جَآءَہُمُ الۡعِلۡمُ بَغۡیًۢا بَیۡنَہُمۡ ؕ وَ مَنۡ یَّکۡفُرۡ
بِاٰیٰتِ اللّٰہِ فَاِنَّ اللّٰہَ سَرِیۡعُ
الۡحِسَابِ ﴿﴾
Sesungguhnya
agama yang benar di sisi Allah adalah Islam, dan sekali-kali tidaklah berselisih orang-orang yang diberi Kitab
melainkan setelah ilmu datang kepada
mereka karena kedengkian di antara
mereka. Dan barang-siapa kafir
kepada Tanda-tanda Allah maka sesungguhnya
Allah sangat cepat dalam meng-hisab. (Āli ‘Imran [3]:20).
Semua agama senantiasa menanamkan kepercayaan Tauhid Ilahi dan kepatuhan
kepada kehendak-Nya (aslama/muslim –
QS.2:129 & 131-132), namun demikian hanya dalam agama Islam sajalah paham kepatuhan kepada kehendak
Ilahi mencapai kesempurnaan,
sebab kepatuhan sepenuhnya meminta pengejewantahan penuh Sifat-sifat Allah Swt. dan
hanya pada Islam (Al-Quran) ajalah pengenjewantahan demikian telah terjadi, yaitu berupa sempurnanya hukum-hukum syariat (QS.5:4).
Jadi dari semua tatanan keagamaan
hanya Islam sajalah yang berhak
disebut agama Tuhan pribadi (agama
Allah) dalam arti yang sebenarnya. Semua
agama yang benar -- lebih atau kurang -- dalam bentuknya yang asli adalah agama Islam, sedang para pengikut agama-agama itu adalah Muslim dalam arti kata secara harfiah, tetapi nama Al-Islam
tidak diberikan sebelum tiba saat
bila agama menjadi lengkap dalam segala ragam seginya, karena nama
itu dicadangkan untuk syariat yang
terakhir dan mencapai kesempurnaan
dalam Al-Quran (QS.2:3) barulah Allah Swt. memberikan nama “Islam” kepada “agama sempurna” tersebut
(QS.5:4) dan menyebut pengikutnya
dengan nama “Muslim”, sebagaimana firman-Nya:
اَلۡیَوۡمَ اَکۡمَلۡتُ لَکُمۡ دِیۡنَکُمۡ وَ
اَتۡمَمۡتُ عَلَیۡکُمۡ نِعۡمَتِیۡ وَ رَضِیۡتُ لَکُمُ الۡاِسۡلَامَ دِیۡنًا
Hari ini telah Ku-sempurnakan agama kamu bagimu, telah
Kulengkapkan nikmat-Ku atas kamu, dan telah
Kusukai Islam sebagai agama bagi kamu.
(Al-Māidah
[5]:4).
Ikmāl
(menyempurnakan) dan itmām (melengkapkan) merupakan akar-akar kata (masdar),
yang pertama berhubungan dengan kaifiat (kualitas) dan yang kedua
berhubungan dengan kammiat (kuantitas). Kata yang pertama (itmām) menunjukkan bahwa ajaran-ajaran serta perintah-perintah mengenai pencapaian kemajuan jasmani, ruhani, dan akhlak manusia telah terkandung dalam
Al-Quran dalam bentuk yang paripurna;
sedang yang kedua (akmal) menunjukkan
bahwa tidak ada suatu keperluan
manusia yang lepas dari perhatian (diabaikan).
Kata yang pertama (itmām) berhubungan dengan
perintah-perintah yang bertalian dengan segi fisik atau keadaan lahiriah
manusia, sedang yang kedua (akmal) berhubungan
dengan segi ruhaniah dan batiniahnya.
Firman-Nya
lagi:
یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوا
ارۡکَعُوۡا وَ اسۡجُدُوۡا وَ اعۡبُدُوۡا
رَبَّکُمۡ وَ افۡعَلُوا الۡخَیۡرَ
لَعَلَّکُمۡ تُفۡلِحُوۡنَ ﴿ۚٛ﴾ وَ جَاہِدُوۡا فِی
اللّٰہِ حَقَّ جِہَادِہٖ ؕ ہُوَ اجۡتَبٰىکُمۡ وَ مَا جَعَلَ عَلَیۡکُمۡ فِی
الدِّیۡنِ مِنۡ حَرَجٍ ؕ مِلَّۃَ
اَبِیۡکُمۡ اِبۡرٰہِیۡمَ ؕ ہُوَ سَمّٰىکُمُ الۡمُسۡلِمِیۡنَ ۬ۙ مِنۡ قَبۡلُ
وَ فِیۡ ہٰذَا لِیَکُوۡنَ الرَّسُوۡلُ
شَہِیۡدًا عَلَیۡکُمۡ وَ تَکُوۡنُوۡا شُہَدَآءَ عَلَی النَّاسِ ۚۖ فَاَقِیۡمُوا
الصَّلٰوۃَ وَ اٰتُوا الزَّکٰوۃَ وَ اعۡتَصِمُوۡا بِاللّٰہِ ؕ ہُوَ مَوۡلٰىکُمۡ
ۚ فَنِعۡمَ الۡمَوۡلٰی وَ نِعۡمَ النَّصِیۡرُ ﴿٪﴾
Hai orang-orang yang beriman, rukuklah kamu, dan sujudlah, serta sembahlah Rabb (Tuhan) kamu, dan berbuatlah kebaikan supaya kamu memperoleh
kebahagiaan. Dan
berjihadlah kamu di jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya, ہُوَ اجۡتَبٰىکُمۡ وَ مَا جَعَلَ عَلَیۡکُمۡ
فِی الدِّیۡنِ مِنۡ حَرَجٍ -- Dia
telah memilih kamu, dan Dia tidak
menjadikan kesukaran pada kamu dalam urusan agama, ؕ
مِلَّۃَ اَبِیۡکُمۡ اِبۡرٰہِیۡمَ -- Ikutilah agama bapak kamu, Ibrahim,
ہُوَ سَمّٰىکُمُ الۡمُسۡلِمِیۡنَ ۬ۙ
مِنۡ قَبۡلُ وَ فِیۡ ہٰذَا -- Dia telah memberi kamu nama Muslimin dahulu
dan dalam Kitab ini, لِیَکُوۡنَ الرَّسُوۡلُ شَہِیۡدًا عَلَیۡکُمۡ
وَ تَکُوۡنُوۡا شُہَدَآءَ عَلَی النَّاسِ -- supaya
Rasul itu menjadi saksi atas kamu dan supaya
kamu menjadi saksi atas umat manusia. فَاَقِیۡمُوا الصَّلٰوۃَ وَ
اٰتُوا الزَّکٰوۃَ وَ اعۡتَصِمُوۡا
بِاللّٰہِ ؕ -- Maka
dirikanlah shalat, bayarlah zakat, dan berpegang teguhlah kepada Allah. ہُوَ مَوۡلٰىکُمۡ ۚ فَنِعۡمَ الۡمَوۡلٰی وَ
نِعۡمَ النَّصِیۡر -- Dia Pelindung
kamu maka Dia-lah sebaik-baik Pelindung
dan sebaik-baik Penolong. (Al-Hājj
[22]:78-79).
Kerugian Kafir Setelah Beriman & Kesinambungan Pengutusan Rasul Allah
Penyempurnaan dan pelengkapan agama dan nikmat Allah disebut dalam QS.5:4 berdampingan dengan hukum yang berlaku bertalian dengan makanan-makanan untuk menjelaskan bahwa penggunaan makanan yang halal dan thayyib merupakan salah satu dasar yang amat penting
untuk menumbuh-kembangkan nilai akhlak yang baik dan pada gilirannya memberi dasar tempat-berpijak guna mencapai kemajuan ruhani. Itulah sebabnya Allah Swt. telah berfirman:
وَ مَنۡ یَّبۡتَغِ غَیۡرَ الۡاِسۡلَامِ دِیۡنًا
فَلَنۡ یُّقۡبَلَ مِنۡہُ ۚ وَ ہُوَ فِی الۡاٰخِرَۃِ مِنَ الۡخٰسِرِیۡنَ ﴿﴾ کَیۡفَ یَہۡدِی
اللّٰہُ قَوۡمًا کَفَرُوۡا بَعۡدَ
اِیۡمَانِہِمۡ وَ شَہِدُوۡۤا اَنَّ الرَّسُوۡلَ حَقٌّ وَّ جَآءَہُمُ الۡبَیِّنٰتُ
ؕ وَ اللّٰہُ لَا یَہۡدِی الۡقَوۡمَ
الظّٰلِمِیۡنَ ﴿﴾
Dan barangsiapa
mencari agama yang bukan agama
Islam, maka agama itu tidak akan pernah diterima darinya, dan di akhirat ia termasuk orang-orang yang rugi. کَیۡفَ یَہۡدِی اللّٰہُ
قَوۡمًا کَفَرُوۡا بَعۡدَ اِیۡمَانِہِمۡ -- Bagaimana mungkin Allah akan memberi petunjuk kepada suatu kaum yang kafir setelah mereka beriman, وَ شَہِدُوۡۤا اَنَّ الرَّسُوۡلَ حَقٌّ وَّ جَآءَہُمُ
الۡبَیِّنٰتُ -- dan
mereka telah menjadi saksi pula
bahwa sesungguhnya rasul itu benar, dan juga telah datang kepada mereka bukti-bukti yang nyata? وَ
اللّٰہُ لَا یَہۡدِی الۡقَوۡمَ
الظّٰلِمِیۡنَ -- Dan Allah
tidak memberi petunjuk kepada kaum
yang zalim. (Ali ‘Imran [3]:86-87).
Tentu
saja suatu kaum yang mula-mula beriman kepada kebenaran seorang nabi Allah dan menyatakan keimanan mereka kepada nabi
Allah itu secara terang-terangan dan menjadi saksi atas Tanda-tanda Ilahi tetapi kemudian menolaknya (mendustakannya) karena takut kepada manusia atau karena
pertimbangan duniawi lainnya, mereka kehilangan segala hak untuk mendapat
lagi petunjuk kepada jalan yang lurus. Atau, ayat itu dapat
pula mengisyaratkan kepada mereka yang beriman
kepada para nabi Allah terdahulu tetapi menolak Nabi Besar Muhammad saw. padahal melalui pengutusan beliau saw.
itulah Allah Swt. menurunkan syariat yang
terakhir dan tersempurna (QS.5:4).
Jadi, walau pun benar pewahyuan Al-Quran kepada Nabi Besar Muhammad saw. merupakan proses terakhir dari penyempurnaan syariat tetapi tidak berarti bahwa agama Islam merupakan “agama yang termuda” -- dari rangkaian diturunkan-Nya agama melalui para rasul Allah pembawa syariat
-- karena dalam kenyataan agama Islam (Al-Quran) merupakan puncak dari proses penyempurnaan hukum-hukum agama (QS.5:4), firman-Nya:
وَ لِکُلِّ اُمَّۃٍ اَجَلٌ ۚ فَاِذَا جَآءَ
اَجَلُہُمۡ لَا یَسۡتَاۡخِرُوۡنَ سَاعَۃً وَّ لَا یَسۡتَقۡدِمُوۡنَ ﴿﴾ یٰبَنِیۡۤ اٰدَمَ اِمَّا یَاۡتِیَنَّکُمۡ رُسُلٌ مِّنۡکُمۡ
یَقُصُّوۡنَ عَلَیۡکُمۡ اٰیٰتِیۡ ۙ فَمَنِ اتَّقٰی وَ اَصۡلَحَ فَلَا خَوۡفٌ
عَلَیۡہِمۡ وَ لَا ہُمۡ یَحۡزَنُوۡنَ ﴿﴾ وَ
الَّذِیۡنَ کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا وَ اسۡتَکۡبَرُوۡا عَنۡہَاۤ اُولٰٓئِکَ اَصۡحٰبُ النَّارِ ۚ ہُمۡ فِیۡہَا
خٰلِدُوۡنَ ﴿﴾
Dan bagi tiap-tiap
umat ada batas waktu, maka apabila
telah datang batas waktunya, mereka tidak
dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak pula dapat memajukannya.
یٰبَنِیۡۤ اٰدَمَ اِمَّا یَاۡتِیَنَّکُمۡ رُسُلٌ مِّنۡکُمۡ
یَقُصُّوۡنَ عَلَیۡکُمۡ اٰیٰتِیۡ
-- Wahai Bani Adam, jika
datang kepada kamu rasul-rasul dari antara kamu
yang menceritakan Ayat-ayat-Ku kepada kamu, فَمَنِ اتَّقٰی وَ اَصۡلَحَ فَلَا خَوۡفٌ عَلَیۡہِمۡ
وَ لَا ہُمۡ یَحۡزَنُوۡنَ -- maka barangsiapa bertakwa dan memperbaiki diri, maka tidak
akan ada ketakutan menimpa mereka dan tidak
pula mereka akan bersedih hati. ﴿﴾ وَ الَّذِیۡنَ کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا وَ اسۡتَکۡبَرُوۡا
عَنۡہَاۤ -- Dan
orang-orang yang mendustakan Ayat-ayat Kami dan dengan takabur berpaling darinya, اُولٰٓئِکَ اَصۡحٰبُ النَّارِ ۚ ہُمۡ فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ -- mereka itu penghuni Api, mereka kekal di dalamnya. (Al-A’rāf
[7]:35-37).
Makna ayat 35
bahwa jika waktu yang ditetapkan untuk menghukum
suatu kaum tiba -- Karena ajal
(jangka waktu) mereka telah
berakhir -- waktu
penghukuman tersebut tidak dapat
dihindarkan, diulur-ulur, atau ditunda-tunda. Penghukuman terhadap kaum
tersebut merupakan “hari kiamat” baginya, lalu Allah Swt. akan membangkitkan kaum lain sebagai pengganti kaum yang telah dibinasakan
tersebut, sebagaimana diisyaratkan dalam ayat selanjutnya.
Persamaan “Bani Israil” dan “Bani
Isma’il” & Kejayaan Islam Kedua Kali di Akhir Zaman
Penggunaan seruan “Hai Bani Adam” dalam ayat 36 patut mendapat perhatian istimewa. Seperti pada beberapa ayat sebelumnya (yakni QS.7:27-28 & 32), seruan dengan kata-kata Hai anak-cucu Adam, ditujukan kepada umat di zaman Nabi Besar Muhammad saw dan kepada generasi-generasi yang akan lahir, bukan kepada umat-umat yang hidup di masa jauh silam dan yang datang tak lama sesudah masa Nabi Adam a.s.
Makna ayat:
وَ الَّذِیۡنَ کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا وَ اسۡتَکۡبَرُوۡا
عَنۡہَاۤ اُولٰٓئِکَ اَصۡحٰبُ النَّارِ ۚ
ہُمۡ فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ -- “Dan orang-orang
yang mendustakan Ayat-ayat Kami dan dengan takabur berpaling darinya, mereka itu penghuni Api, mereka kekal
di dalamnya,” Kata-kata itu berarti bahwa mereka yang mendustakan dan
menentang utusan-utusan Allah akan melihat dengan mata kepala sendiri penyempurnaan kabar-kabar gaib yang meramalkan kekalahan dan kegagalan
mereka. Mereka akan merasakan hukuman yang
dijanjikan kepada mereka karena menentang utusan-utusan Allah Swt. di
dunia ini juga.
Sunnatullah dalam QS.7:35-37
tersebut berlaku pula bagi umat Islam,
karena yang mendapat jaminan pemeliharaan
Allah Swt. adalah Al-Quran (QS.15:10), bukan umat Islam. Bahkan Nabi Besar Muhammad saw. sendiri telah
menubuatkan mengenai akan terjadinya
“persamaan” antara umat Islam dengan golongan Ahli-kitab (Yahudi dan Nasrani) bagaikan
“persamaan sepasang sepatu”, yaitu
pada masa kemunduran umat Islam
selama 1000 tahun setelah mengalami masa kejayaan yang pertama selama 3 abad, firman-Nya:
یُدَبِّرُ الۡاَمۡرَ
مِنَ السَّمَآءِ اِلَی الۡاَرۡضِ ثُمَّ
یَعۡرُجُ اِلَیۡہِ فِیۡ یَوۡمٍ کَانَ مِقۡدَارُہٗۤ اَلۡفَ سَنَۃٍ مِّمَّا تَعُدُّوۡنَ ﴿﴾
Dia
mengatur perintah dari langit sampai bumi, kemudian perintah itu
akan naik kepada-Nya dalam satu hari, yang hitungan lamanya seribu tahun dari apa yang kamu hitung (As-Sajdah [32]:6).
Ayat ini menunjuk kepada suatu pancaroba
sangat hebat, yang ditakdirkan akan menimpa
Islam dalam perkembangannya yang
penuh dengan perubahan itu. Islam
akan melalui suatu masa kemajuan dan kesejahteraan yang mantap selama 3 abad pertama kehidupannya. Nabi Besar Muhammad saw. diriwayatkan pernah menyinggung secara
jitu mengenai kenyataan itu dalam sabda beliau: “Abad terbaik ialah abad di kala aku hidup, kemudian abad berikutnya,
kemudian abad sesudah itu” (Tirmidzi
& Bukhari,
Kitab-usy-Syahadat).
Islam – tepatnya umat Islam -- mulai mundur sesudah 3 abad pertama masa keunggulan
dan kemenangan yang tiada
henti-hentinya. Peristiwa kemunduran
dan kemerosotannya berlangsung dalam
masa 1000 tahun berikutnya: ثُمَّ یَعۡرُجُ اِلَیۡہِ
فِیۡ یَوۡمٍ کَانَ مِقۡدَارُہٗۤ اَلۡفَ سَنَۃٍ مِّمَّا تَعُدُّوۡنَ -- “kemudian perintah itu akan naik kepada-Nya dalam satu hari,
yang hitungan lamanya seribu tahun
dari apa yang kamu hitung”.
Dalam
hadits lain Nabi Besar Muhammad saw. sehubungan turunnya surah Al-Jumu’ah ayat 3-4 diriwayatkan pernah
bersabda dalam ungkapan kiasan bahwa iman
akan terbang ke Bintang Tsuraya dan seseorang dari keturunan Parsi akan mengembalikannya ke bumi (Bukhari, Kitab-ut-Tafsir).
Dengan
kedatangan Masih
Mau’ud a.s. atau misal Nabi Isa
Ibnu Maryam a.s. (QS.43:58) yakni -- Rasul Akhir Zaman -- dalam abad ke-14 sesudah Hijrah,
laju kemerosotannya telah terhenti
dan kebangkitan Islam kembali mulai berlaku,
firman-Nya:
ہُوَ
الَّذِیۡۤ اَرۡسَلَ رَسُوۡلَہٗ
بِالۡہُدٰی وَ دِیۡنِ الۡحَقِّ
لِیُظۡہِرَہٗ عَلَی الدِّیۡنِ کُلِّہٖ وَ
لَوۡ کَرِہَ الۡمُشۡرِکُوۡنَ ٪﴿﴾
Dia-lah Yang mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk dan dengan agama yang benar supaya Dia
memenangkannya atas semua agama, walaupun orang
musyrik tidak menyukai. (Ash-Shaf [61]:10).
Dua Macam Jihad
Demikianlah
makna pemberian nama Islam kepada agama terakhir dan tersempurna
yang diwahyukan kepada Nabi Besar
Muhammad saw. (QS.5:4) dan menamakan para pemeluknya Muslim, firman-Nya:
یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوا
ارۡکَعُوۡا وَ اسۡجُدُوۡا وَ اعۡبُدُوۡا
رَبَّکُمۡ وَ افۡعَلُوا الۡخَیۡرَ
لَعَلَّکُمۡ تُفۡلِحُوۡنَ ﴿ۚٛ﴾ وَ جَاہِدُوۡا فِی
اللّٰہِ حَقَّ جِہَادِہٖ ؕ ہُوَ اجۡتَبٰىکُمۡ وَ مَا جَعَلَ عَلَیۡکُمۡ فِی
الدِّیۡنِ مِنۡ حَرَجٍ ؕ مِلَّۃَ
اَبِیۡکُمۡ اِبۡرٰہِیۡمَ ؕ ہُوَ سَمّٰىکُمُ الۡمُسۡلِمِیۡنَ ۬ۙ مِنۡ قَبۡلُ
وَ فِیۡ ہٰذَا لِیَکُوۡنَ الرَّسُوۡلُ
شَہِیۡدًا عَلَیۡکُمۡ وَ تَکُوۡنُوۡا شُہَدَآءَ عَلَی النَّاسِ ۚۖ فَاَقِیۡمُوا
الصَّلٰوۃَ وَ اٰتُوا الزَّکٰوۃَ وَ اعۡتَصِمُوۡا بِاللّٰہِ ؕ ہُوَ مَوۡلٰىکُمۡ
ۚ فَنِعۡمَ الۡمَوۡلٰی وَ نِعۡمَ النَّصِیۡرُ ﴿٪﴾
Hai orang-orang yang beriman, rukuklah kamu, dan sujudlah, serta sembahlah Rabb (Tuhan) kamu, dan berbuatlah kebaikan supaya kamu memperoleh
kebahagiaan. Dan
berjihadlah kamu di jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya, ہُوَ اجۡتَبٰىکُمۡ وَ مَا جَعَلَ عَلَیۡکُمۡ
فِی الدِّیۡنِ مِنۡ حَرَجٍ -- Dia
telah memilih kamu, dan Dia tidak
menjadikan kesukaran pada kamu dalam urusan agama, ؕ
مِلَّۃَ اَبِیۡکُمۡ اِبۡرٰہِیۡمَ -- Ikutilah agama bapak kamu, Ibrahim,
ہُوَ سَمّٰىکُمُ الۡمُسۡلِمِیۡنَ ۬ۙ
مِنۡ قَبۡلُ وَ فِیۡ ہٰذَا -- Dia telah memberi kamu nama Muslimin dahulu
dan dalam Kitab ini, لِیَکُوۡنَ الرَّسُوۡلُ شَہِیۡدًا عَلَیۡکُمۡ
وَ تَکُوۡنُوۡا شُہَدَآءَ عَلَی النَّاسِ -- supaya
Rasul itu menjadi saksi atas kamu dan supaya
kamu menjadi saksi atas umat manusia. فَاَقِیۡمُوا الصَّلٰوۃَ وَ
اٰتُوا الزَّکٰوۃَ وَ اعۡتَصِمُوۡا
بِاللّٰہِ ؕ -- Maka
dirikanlah shalat, bayarlah zakat, dan berpegang teguhlah kepada Allah. ہُوَ مَوۡلٰىکُمۡ ۚ فَنِعۡمَ الۡمَوۡلٰی وَ
نِعۡمَ النَّصِیۡر -- Dia Pelindung
kamu maka Dia-lah sebaik-baik Pelindung
dan sebaik-baik Penolong. (Al-Hājj
[22]:78-79).
Jihad itu ada dua macam:
(a) Jihad melawan keinginan-keinginan dan kecenderungan buruk manusia sendiri, dan
(b) jihad melawan musuh-musuh kebenaran yang meliputi pula
berperang untuk membela diri. Nabi Besar Muhammad saw. menamakan jihad macam pertama “Jihad
dalam Allah” dan jihad yang kedua
“Jihad di jalan Allah”. Beliau
saw. pun telah menamakan jihad yang pertama itu sebagai jihad besar (jihad kabir) dan jihad yang kedua sebagai jihad kecil (jihad saghir).
Sebagaimana telah dikemukakan
sebelumnya bahwa merupakan keyakinan umat
Islam bahwa setelah mengalami masa
kemunduran selama 1000 tahun –
sejak 300 tahun masa kejayaan
yang pertama (QS.32:6) – umat
Islam akan kembali mengalami masa
kejayaan yang kedua di Akhir Zaman ini, sehingga adanya persamaan antara
Bani Israil dan Bani Isma’il dalam berbagai hal menjadi genap,
firman-Nya:
ہُوَ
الَّذِیۡۤ اَرۡسَلَ رَسُوۡلَہٗ
بِالۡہُدٰی وَ دِیۡنِ الۡحَقِّ
لِیُظۡہِرَہٗ عَلَی الدِّیۡنِ کُلِّہٖ وَ
لَوۡ کَرِہَ الۡمُشۡرِکُوۡنَ ٪﴿﴾
Dia-lah Yang mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk dan dengan agama yang benar supaya Dia
memenangkannya atas semua agama, walaupun orang
musyrik tidak menyukai. (Ash-Shaf [61]:10).
Nubuatan Kedatangan Rasul Allah di Kalangan Semua Umat
Beragama
Pernyataan Allah Swt. tersebut tidak
bertentangan dengan kepercayaan
umumnya semua umat beragama berkenaan
kedatangan kedua kali rasul Allah
yang dipercayai akan mengunggulkan agama
mereka atas agama-agama lainnya.
Contohnya umat Yahudi sedang
menunggu-nunggu kedatangan Mesiah
(Mesias) a.s., umat Kristen sedang
menunggu-nunggu kedatangan kedua kali Yesus Kristus a.s. (Al-Masih), umat Hindu sedang menunggu kedatangan kedua kali Shri Krishna a.s., umat Buddha
sedang menunggu-nunggu kedatangan Buddha
Maitreya a.s. (Buddha Meteyya a.s., kaum Majusi
pun sedang menunggu-nunggu kedatangan Mesio
Darbahmi, dan umat Islam pun mempercayai akan datangnya Imam Mahdi a.s. dan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s..
Semua umat beragama tersebut mempercayai
bahwa kedatangan rasul Allah yang dijanjikan tersebut adalah di Akhir Zaman atau menjelang Hari Kiamat, bahkan di kalangan umat
beragama tersebut – termasuk umat Islam
-- ada yang mempercayai bahwa kedatangan
rasul Allah yang dijanjikan tersebut terjadi pada abad 14 Hijriyah atau di abad 19
Masehi, sehingga banyak di antara mereka
yang melakukan persiapan untuk menyambut kedatangannya.
Namun dalam kenyataannya di abad ke 15 ini pun di kalangan umat Islam sendiri – terutama di kawasan Timur Tengah dan -- bukan tanda-tanda
kejayaan Islam kedua kali yang nampak melainkan sebaliknya, yakni di antara
berbagai golongan Islam di sana
terlibat peperangan, termasuk berperang dengan pemerintahnya, bertentangan dengan
perintah Allah Swt. dalam firman-Nya
berikut ini:
یٰۤاَیُّہَا
الَّذِیۡنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا
اللّٰہَ حَقَّ تُقٰتِہٖ وَ لَا تَمُوۡتُنَّ اِلَّا وَ اَنۡتُمۡ
مُّسۡلِمُوۡنَ ﴿﴾ وَ اعۡتَصِمُوۡا بِحَبۡلِ اللّٰہِ جَمِیۡعًا وَّ لَا تَفَرَّقُوۡا ۪ وَ اذۡکُرُوۡا
نِعۡمَتَ اللّٰہِ عَلَیۡکُمۡ اِذۡ
کُنۡتُمۡ اَعۡدَآءً فَاَلَّفَ بَیۡنَ
قُلُوۡبِکُمۡ فَاَصۡبَحۡتُمۡ
بِنِعۡمَتِہٖۤ اِخۡوَانًا ۚ وَ
کُنۡتُمۡ عَلٰی
شَفَا حُفۡرَۃٍ مِّنَ النَّارِ فَاَنۡقَذَکُمۡ مِّنۡہَا ؕ کَذٰلِکَ یُبَیِّنُ اللّٰہُ لَکُمۡ اٰیٰتِہٖ لَعَلَّکُمۡ
تَہۡتَدُوۡنَ ﴿﴾
Hai
orang-orang yang beriman, bertakwalah
kepada Allah dengan takwa yang
sebenar-benarnya, dan janganlah sekali-kali kamu mati kecuali
kamu dalam keadaan berserah diri. Dan
berpegangteguhlah
ka-mu sekalian pada tali Allah,
dan janganlah kamu berpecah-belah, dan ingatlah
akan nikmat Allah atas kamu ketika kamu
dahulu bermusuh-musuhan, lalu Dia
menyatukan hati kamu dengan kecintaan antara
satu sama lain maka dengan
nikmat-Nya itu kamu menjadi bersaudara, dan kamu dahulu berada di tepi jurang Api lalu Dia
menyelamatkan kamu darinya. Demikianlah Allāh menjelaskan Ayat-ayat-Nya
kepada kamu supaya kamu mendapat
petunjuk. (Ali ‘Imran [3]:103-104).
Kenyataan yang Terjadi
Sebaliknya
Bahkan yang terjadi saat ini adalah kebenaran
pernyataan Allah Swt. dalam
firman-Nya berikut ini:
قُلۡ ہُوَ الۡقَادِرُ عَلٰۤی اَنۡ یَّبۡعَثَ عَلَیۡکُمۡ عَذَابًا مِّنۡ
فَوۡقِکُمۡ اَوۡ مِنۡ تَحۡتِ اَرۡجُلِکُمۡ اَوۡ یَلۡبِسَکُمۡ شِیَعًا وَّ یُذِیۡقَ
بَعۡضَکُمۡ بَاۡسَ بَعۡضٍ ؕ اُنۡظُرۡ کَیۡفَ نُصَرِّفُ الۡاٰیٰتِ لَعَلَّہُمۡ
یَفۡقَہُوۡنَ ﴿﴾ وَ
کَذَّبَ بِہٖ قَوۡمُکَ وَ ہُوَ الۡحَقُّ ؕ قُلۡ لَّسۡتُ عَلَیۡکُمۡ بِوَکِیۡلٍ ﴿ؕ﴾ لِکُلِّ نَبَاٍ مُّسۡتَقَرٌّ ۫ وَّ سَوۡفَ تَعۡلَمُوۡنَ ﴿﴾
Katakanlah: “Dia-lah Yang berkuasa mengirimkan azab
kepada kamu dari atas kamu atau dari bawah kaki kamu اَوۡ یَلۡبِسَکُمۡ شِیَعًا وَّ یُذِیۡقَ
بَعۡضَکُمۡ بَاۡسَ بَعۡضٍ -- atau mencampur-baurkan kamu menjadi golongan-golongan
yang saling berselisih dan membuat
sebagian kamu merasakan keganasan sebagian yang lain.” اُنۡظُرۡ کَیۡفَ نُصَرِّفُ الۡاٰیٰتِ
لَعَلَّہُمۡ یَفۡقَہُوۡنَ -- Lihatlah bagaimana
Kami membentangkan Tanda-tanda supaya mereka
mengerti. وَ کَذَّبَ بِہٖ قَوۡمُکَ وَ ہُوَ الۡحَقُّ -- Dan kaum engkau telah mendustakannya,
padahal itu adalah kebenaran. قُلۡ لَّسۡتُ عَلَیۡکُمۡ
بِوَکِیۡلٍ -- Katakanlah: ”Aku sekali-kali bukan penanggungjawab atas kamu.” لِکُلِّ نَبَاٍ مُّسۡتَقَرٌّ ۫ وَّ سَوۡفَ تَعۡلَمُوۡنَ -- Bagi tiap kabar gaib ada masa yang tertentu,
dan kamu segera akan mengetahui.
(Al-An’ām
[6]:66-68).
Makna “Azab
dari atas” maknanya: kelaparan, gempa bumi, air bah, taufan, penin-dasan
terhadap golongan yang lemah oleh yang kuat, penderitaan mental, dan
sebagainya, dan “siksaan dari bawah”
berarti: penyakit-penyakit, wabah, pemberontakan orang-orang bawahan, dan
sebagainya. Kemudian ada hukuman
berupa kekacauan, perpecahan-perpecahan dan perselisihan yang kadang-kadang berakhir
dalam perang saudara, seperti yang
saat ini berlangsung di kawasan
Timur-tengah dan berbagai kawasan Muslim
lainnya di Afrika. Hal demikian ini diisyaratkan dalam
kata-kata اَوۡ یَلۡبِسَکُمۡ شِیَعًا وَّ یُذِیۡقَ
بَعۡضَکُمۡ بَاۡسَ بَعۡضٍ -- “atau membuat
sebagian kamu merasakan keganasan sebagian yang lain.”
Kata
ganti “nya” dalam ayat: وَ کَذَّبَ بِہٖ قَوۡمُکَ وَ ہُوَ الۡحَقُّ
-- “Dan kaum engkau telah mendustakannya,
padahal itu adalah kebenaran” menunjuk
kepada (1) perkara yang sedang dibahas; (2) Al-Quran; (3) azab Ilahi. Jika kita ambil arti yang terakhir, maka kata-kata وَ ہُوَ الۡحَقُّ
-- “padahal itu adalah
kebenaran” akan berarti bahwa azab
Ilahi yang dijanjikan pasti akan tiba (terjadi)., sebagaimana dijelaskan
dalam ayat selanjutnya: لِکُلِّ
نَبَاٍ مُّسۡتَقَرٌّ ۫ وَّ سَوۡفَ
تَعۡلَمُوۡنَ -- “Bagi tiap kabar gaib ada masa yang tertentu dan kamu
segera akan mengetahui” berarti bahwa
Allah Swt. sesuai
dengan hikmah-Nya yang tidak dapat
salah itu, telah menentukan satu saat penggenapan setiap kabar gaib. Maka
azab Ilahi yang telah dijanjikan
kepada orang-orang yang menolak kebenaran
akan datang juga pada saatnya yang
tepat dan akan terjadi secara tiba-tiba (QS.6:32; QS.21:41; QS.47:19),
firman-Nya:
وَ
یَسۡتَعۡجِلُوۡنَکَ بِالۡعَذَابِ وَ لَنۡ یُّخۡلِفَ اللّٰہُ وَعۡدَہٗ ؕ وَ
اِنَّ یَوۡمًا عِنۡدَ رَبِّکَ
کَاَلۡفِ سَنَۃٍ مِّمَّا
تَعُدُّوۡنَ ﴿﴾ وَ کَاَیِّنۡ مِّنۡ قَرۡیَۃٍ اَمۡلَیۡتُ لَہَا وَ ہِیَ ظَالِمَۃٌ ثُمَّ اَخَذۡتُہَا ۚ وَ اِلَیَّ الۡمَصِیۡرُ
﴿٪﴾
Dan mereka meminta kepada engkau untuk mempercepat azab, tetapi Allah
tidak akan pernah mengingkari janji-Nya. Dan sesungguhnya satu hari di sisi Rabb (Tuhan) engkau seperti seribu
tahun menurut perhitungan kamu.
Dan berapa banyaknya kota telah Aku memberi tangguh baginya padahal dia berlaku zalim. Kemudian Aku
menangkapnya dan kepada Aku-lah
kembali mereka. (Al-Hājj [22]:48-49).
Nabi Besar Muhammad saw. menurut riwayat pernah bersabda bahwa tiga abad pertama Islam akan merupakan masa yang terbaik – dan merupakan
kejayaan Islam yang pertama -- sesudah itu kepalsuan
(kesesatan) akan tersebar dan suatu masa
kegelapan akan datang dan meluas di kalangan umat Islam sampai seribu
tahun (Tirmidzi). Sebagaimana
telah dikemukakan sebelumnya bahwa masa kegelapan yang melanda umat Islam 1000
tahun ini dipersamakan dengan satu hari, firman-Nya:
یُدَبِّرُ
الۡاَمۡرَ مِنَ السَّمَآءِ اِلَی
الۡاَرۡضِ ثُمَّ یَعۡرُجُ اِلَیۡہِ فِیۡ یَوۡمٍ کَانَ مِقۡدَارُہٗۤ اَلۡفَ سَنَۃٍ مِّمَّا تَعُدُّوۡنَ ﴿﴾
Dia
mengatur perintah dari langit sampai bumi, kemudian perintah itu
akan naik kepada-Nya dalam satu hari, yang hitungan lamanya seribu tahun dari apa yang kamu hitung (As-Sajdah [32]:6).
Dalam masa kegelapan yang melanda umat Islam tersebut satu kaum
yang bermata biru (QS.20:103-104) – yakni Ya’juj
(Gog) dan Ma’juj (Magog –
QS.21:97) atau bangsa-bangsa Kristen
dari barat -- akan bangkit dan menyebar luas
ke seluruh dunia. Orang-orang bermata
biru itulah yang karena sombong dan
takaburnya, yang diakibatkan oleh
karena memperoleh kemuliaan duniawi
dan kekuasaan politik, telah
digambarkan memberi tantangan kepada Nabi Besar Muhammad saw. untuk mempercepat datangnya azab yang diperingatkan
oleh beliau saw. akan menimpa mereka pada waktu yang ditentukan dan
dijanjikan itu.
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran Anyar,
24 Januari 2017
Tidak ada komentar:
Posting Komentar