Sabtu, 28 Januari 2017

Kerugian "Kafir" Setelah "Beriman" & Nubuatan kedatangan Nabi Besar Muhammad saw. Dalam Agama-agama dan KItab-kitab Sebelum Islam (Al-Quran)





Bismillaahirrahmaanirrahiim

  ISLAM
Pidato  Mirza Ghulam Ahmad a.s.
Tgl. 2 November 1904 di Kota Sialkote – Hindustan

Bab  5

KERUGIAN KAFIR SETELAH BERIMAN &   NUBUATAN KEDATANGAN NABI BESAR MUHAMMAD SAW. DALAM AGAMA-AGAMA DAN KITAB-KITAB  SEBELUM ISLAM (AL-QURAN)

Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma


D
alam bagian akhir Bab 4  telah dijelaskan topik  Semua Agama Yang Benar Mengajarkan Tauhid Ilahi.   Pada hakikatnya agama-agama yang diturunkan sebelum agama Islam (Al-Quran) -- yang diwahyukan Allah Swt.  kepada Nabi Besar Muhammad saw., agama-agama tersebut tidak mempunyai nama apa pun,  Allah Swt. hanya menyebutkan bahwa di hadirat-Nya agama-agama tersebut adalah “Islam” (QS.3:20) dan pemeluknya disebut “Muslim” (QS.22:7879), firman-Nya:
اِنَّ الدِّیۡنَ عِنۡدَ اللّٰہِ الۡاِسۡلَامُ ۟ وَ مَا اخۡتَلَفَ الَّذِیۡنَ اُوۡتُوا الۡکِتٰبَ اِلَّا مِنۡۢ بَعۡدِ مَا جَآءَہُمُ الۡعِلۡمُ بَغۡیًۢا بَیۡنَہُمۡ ؕ وَ مَنۡ یَّکۡفُرۡ بِاٰیٰتِ اللّٰہِ فَاِنَّ اللّٰہَ سَرِیۡعُ  الۡحِسَابِ ﴿﴾
Sesungguhnya agama  yang benar di sisi Allah adalah Islam, dan sekali-kali tidaklah berselisih orang-orang yang diberi Kitab melainkan setelah ilmu datang kepada mereka karena kedengkian di antara mereka. Dan barang-siapa kafir kepada Tanda-tanda Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat dalam meng-hisab. (Āli ‘Imran [3]:20).
        Semua agama senantiasa menanamkan kepercayaan Tauhid Ilahi dan kepatuhan kepada kehendak-Nya (aslama/muslim – QS.2:129 & 131-132), namun demikian hanya dalam agama Islam sajalah paham kepatuhan   kepada kehendak Ilahi mencapai kesempurnaan, sebab kepatuhan sepenuhnya meminta pengejewantahan penuh Sifat-sifat Allah Swt.    dan hanya pada Islam  (Al-Quran) ajalah pengenjewantahan demikian telah terjadi, yaitu berupa sempurnanya hukum-hukum syariat (QS.5:4).
     Jadi dari semua tatanan keagamaan hanya Islam sajalah yang berhak disebut agama Tuhan pribadi (agama Allah) dalam arti  yang sebenarnya. Semua agama yang benar  -- lebih atau kurang  --  dalam bentuknya yang asli adalah agama Islam, sedang para pengikut agama-agama itu adalah Muslim dalam arti kata secara harfiah, tetapi  nama Al-Islam tidak diberikan sebelum tiba saat bila agama menjadi lengkap dalam segala ragam seginya, karena nama itu dicadangkan untuk syariat yang terakhir dan mencapai kesempurnaan dalam Al-Quran  (QS.2:3) barulah Allah Swt. memberikan nama “Islam kepada “agama sempurna” tersebut (QS.5:4) dan menyebut pengikutnya dengan nama “Muslim”, sebagaimana firman-Nya:
اَلۡیَوۡمَ اَکۡمَلۡتُ لَکُمۡ دِیۡنَکُمۡ وَ اَتۡمَمۡتُ عَلَیۡکُمۡ نِعۡمَتِیۡ وَ رَضِیۡتُ لَکُمُ الۡاِسۡلَامَ دِیۡنًا
Hari ini telah Ku-sempurnakan agama kamu bagimu, telah Kulengkapkan nikmat-Ku atas kamu, dan  telah Kusukai  Islam sebagai agama bagi kamu. (Al-Māidah [5]:4).
        Ikmāl (menyempurnakan) dan itmām (melengkapkan) merupakan akar-akar kata (masdar), yang pertama berhubungan dengan kaifiat (kualitas) dan yang kedua berhubungan dengan kammiat (kuantitas). Kata yang pertama (itmām) menunjukkan bahwa ajaran-ajaran serta perintah-perintah mengenai pencapaian kemajuan jasmani, ruhani, dan akhlak manusia telah terkandung dalam Al-Quran dalam bentuk yang paripurna; sedang yang kedua (akmal) menunjukkan bahwa tidak ada suatu keperluan manusia yang lepas dari perhatian (diabaikan).  Kata yang pertama  (itmām) berhubungan dengan perintah-perintah yang bertalian dengan segi fisik atau keadaan lahiriah manusia, sedang yang kedua (akmal) berhubungan dengan segi ruhaniah dan batiniahnya.
Firman-Nya lagi:
یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوا ارۡکَعُوۡا  وَ اسۡجُدُوۡا وَ اعۡبُدُوۡا رَبَّکُمۡ وَ افۡعَلُوا الۡخَیۡرَ    لَعَلَّکُمۡ  تُفۡلِحُوۡنَ ﴿ۚٛ﴾  وَ جَاہِدُوۡا فِی اللّٰہِ حَقَّ جِہَادِہٖ ؕ ہُوَ اجۡتَبٰىکُمۡ وَ مَا جَعَلَ عَلَیۡکُمۡ فِی الدِّیۡنِ مِنۡ حَرَجٍ ؕ مِلَّۃَ  اَبِیۡکُمۡ اِبۡرٰہِیۡمَ ؕ ہُوَ سَمّٰىکُمُ الۡمُسۡلِمِیۡنَ ۬ۙ مِنۡ قَبۡلُ وَ فِیۡ ہٰذَا  لِیَکُوۡنَ الرَّسُوۡلُ شَہِیۡدًا عَلَیۡکُمۡ وَ تَکُوۡنُوۡا شُہَدَآءَ عَلَی النَّاسِ ۚۖ فَاَقِیۡمُوا الصَّلٰوۃَ  وَ اٰتُوا الزَّکٰوۃَ  وَ اعۡتَصِمُوۡا بِاللّٰہِ ؕ ہُوَ مَوۡلٰىکُمۡ ۚ فَنِعۡمَ الۡمَوۡلٰی وَ نِعۡمَ النَّصِیۡرُ ﴿٪﴾
Hai orang-orang yang beriman,   rukuklah kamu, dan sujudlah,  serta sembahlah Rabb (Tuhan) kamu, dan berbuatlah kebaikan supaya kamu memperoleh kebahagiaan.  Dan berjihadlah kamu di jalan Allah  dengan jihad  yang sebenar-benarnya, ہُوَ اجۡتَبٰىکُمۡ وَ مَا جَعَلَ عَلَیۡکُمۡ فِی الدِّیۡنِ مِنۡ حَرَجٍ  -- Dia telah memilih kamu, dan Dia tidak menjadikan kesukaran pada kamu dalam urusan agama, ؕ مِلَّۃَ  اَبِیۡکُمۡ اِبۡرٰہِیۡمَ  --  Ikutilah agama bapak kamu, Ibrahim, ہُوَ سَمّٰىکُمُ الۡمُسۡلِمِیۡنَ ۬ۙ مِنۡ قَبۡلُ وَ فِیۡ ہٰذَا -- Dia telah memberi kamu nama Muslimin  dahulu dan dalam Kitab ini, لِیَکُوۡنَ الرَّسُوۡلُ شَہِیۡدًا عَلَیۡکُمۡ وَ تَکُوۡنُوۡا شُہَدَآءَ عَلَی النَّاسِ  --    supaya Rasul itu menjadi saksi atas kamu  dan supaya kamu menjadi saksi atas umat manusia. فَاَقِیۡمُوا الصَّلٰوۃَ  وَ اٰتُوا الزَّکٰوۃَ  وَ اعۡتَصِمُوۡا بِاللّٰہِ ؕ  -- Maka dirikanlah shalat, bayarlah zakat, dan berpegang teguhlah kepada Allah. ہُوَ مَوۡلٰىکُمۡ ۚ فَنِعۡمَ الۡمَوۡلٰی وَ نِعۡمَ النَّصِیۡر --  Dia Pelindung kamu  maka Dia-lah sebaik-baik Pelindung  dan sebaik-baik Penolong. (Al-Hājj [22]:78-79).

Kerugian Kafir Setelah Beriman  & Kesinambungan Pengutusan Rasul Allah

       Penyempurnaan dan pelengkapan agama dan nikmat Allah disebut dalam QS.5:4 berdampingan dengan hukum yang berlaku bertalian dengan makanan-makanan untuk menjelaskan bahwa penggunaan makanan yang halal dan thayyib merupakan salah satu dasar yang amat penting untuk menumbuh-kembangkan  nilai akhlak yang baik dan pada gilirannya memberi dasar tempat-berpijak guna mencapai kemajuan ruhani. Itulah sebabnya Allah Swt. telah berfirman:
وَ مَنۡ یَّبۡتَغِ غَیۡرَ الۡاِسۡلَامِ دِیۡنًا فَلَنۡ یُّقۡبَلَ مِنۡہُ ۚ وَ ہُوَ فِی الۡاٰخِرَۃِ مِنَ الۡخٰسِرِیۡنَ ﴿﴾ کَیۡفَ یَہۡدِی اللّٰہُ  قَوۡمًا کَفَرُوۡا بَعۡدَ اِیۡمَانِہِمۡ وَ شَہِدُوۡۤا اَنَّ الرَّسُوۡلَ حَقٌّ وَّ جَآءَہُمُ الۡبَیِّنٰتُ ؕ وَ اللّٰہُ  لَا یَہۡدِی الۡقَوۡمَ الظّٰلِمِیۡنَ ﴿﴾
Dan   barangsiapa mencari agama yang bukan agama Islam, maka  agama itu tidak akan pernah diterima darinya, dan di akhirat ia termasuk orang-orang yang rugi. کَیۡفَ یَہۡدِی اللّٰہُ  قَوۡمًا کَفَرُوۡا بَعۡدَ اِیۡمَانِہِمۡ   --   Bagaimana mungkin Allah akan memberi petunjuk kepada suatu kaum yang kafir setelah mereka beriman, وَ شَہِدُوۡۤا اَنَّ الرَّسُوۡلَ حَقٌّ وَّ جَآءَہُمُ الۡبَیِّنٰتُ  -- dan mereka telah menjadi saksi pula bahwa sesungguhnya  rasul itu benar, dan juga telah datang kepada mereka bukti-bukti  yang nyata? وَ اللّٰہُ  لَا یَہۡدِی الۡقَوۡمَ الظّٰلِمِیۡنَ --  Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang zalim. (Ali ‘Imran [3]:86-87).
        Tentu saja suatu kaum yang mula-mula beriman kepada kebenaran seorang nabi Allah dan menyatakan keimanan mereka kepada nabi Allah  itu secara terang-terangan dan menjadi saksi atas Tanda-tanda Ilahi tetapi kemudian menolaknya (mendustakannya) karena takut kepada manusia atau karena pertimbangan duniawi lainnya, mereka kehilangan segala hak untuk mendapat lagi petunjuk kepada jalan yang lurus. Atau, ayat itu dapat pula mengisyaratkan kepada mereka yang beriman kepada para nabi Allah terdahulu tetapi menolak Nabi Besar Muhammad saw. padahal melalui pengutusan beliau saw. itulah Allah Swt. menurunkan syariat yang terakhir dan tersempurna (QS.5:4).
      Jadi, walau pun benar pewahyuan Al-Quran kepada Nabi Besar Muhammad saw. merupakan proses terakhir dari penyempurnaan syariat  tetapi tidak berarti bahwa agama Islam merupakan “agama yang termuda” -- dari rangkaian  diturunkan-Nya   agama  melalui para rasul Allah pembawa syariat  --  karena dalam kenyataan agama Islam (Al-Quran) merupakan puncak dari proses penyempurnaan hukum-hukum agama (QS.5:4), firman-Nya:
وَ لِکُلِّ اُمَّۃٍ  اَجَلٌ ۚ فَاِذَا  جَآءَ  اَجَلُہُمۡ  لَا یَسۡتَاۡخِرُوۡنَ سَاعَۃً  وَّ لَا یَسۡتَقۡدِمُوۡنَ ﴿﴾  یٰبَنِیۡۤ  اٰدَمَ  اِمَّا یَاۡتِیَنَّکُمۡ رُسُلٌ مِّنۡکُمۡ یَقُصُّوۡنَ عَلَیۡکُمۡ اٰیٰتِیۡ ۙ فَمَنِ اتَّقٰی وَ اَصۡلَحَ فَلَا خَوۡفٌ عَلَیۡہِمۡ وَ لَا ہُمۡ یَحۡزَنُوۡنَ ﴿﴾  وَ الَّذِیۡنَ کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا وَ اسۡتَکۡبَرُوۡا عَنۡہَاۤ  اُولٰٓئِکَ اَصۡحٰبُ النَّارِ ۚ ہُمۡ فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ ﴿﴾   
Dan bagi  tiap-tiap umat ada batas waktu, maka apabila telah datang batas waktunya, mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak pula dapat memajukannya.  یٰبَنِیۡۤ  اٰدَمَ  اِمَّا یَاۡتِیَنَّکُمۡ رُسُلٌ مِّنۡکُمۡ یَقُصُّوۡنَ عَلَیۡکُمۡ اٰیٰتِیۡ  -- Wahai Bani Adam, jika datang kepada kamu  rasul-rasul dari antara kamu yang menceritakan  Ayat-ayat-Ku kepada kamu, فَمَنِ اتَّقٰی وَ اَصۡلَحَ فَلَا خَوۡفٌ عَلَیۡہِمۡ وَ لَا ہُمۡ یَحۡزَنُوۡنَ --  maka barangsiapa bertakwa dan memperbaiki diri,  maka tidak akan ada ketakutan menimpa mereka dan tidak pula mereka akan bersedih hati. ﴿﴾  وَ الَّذِیۡنَ کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا وَ اسۡتَکۡبَرُوۡا عَنۡہَاۤ   --   Dan  orang-orang yang mendustakan Ayat-ayat Kami dan dengan takabur berpaling  darinya,  اُولٰٓئِکَ اَصۡحٰبُ النَّارِ ۚ ہُمۡ فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ -- mereka itu penghuni Api, mereka kekal di dalamnya. (Al-A’rāf [7]:35-37).
  Makna ayat 35 bahwa jika  waktu yang ditetapkan untuk menghukum suatu kaum tiba  -- Karena ajal (jangka waktu) mereka telah  berakhir   --  waktu penghukuman tersebut  tidak dapat dihindarkan, diulur-ulur, atau ditunda-tunda. Penghukuman  terhadap kaum tersebut merupakan “hari kiamat” baginya,  lalu Allah Swt. akan membangkitkan kaum lain sebagai pengganti kaum yang telah dibinasakan tersebut, sebagaimana diisyaratkan dalam ayat selanjutnya.

Persamaan “Bani Israil” dan “Bani Isma’il” &    Kejayaan Islam Kedua Kali di Akhir Zaman

       Penggunaan seruan “Hai Bani Adam” dalam ayat  36  patut mendapat perhatian istimewa. Seperti pada beberapa ayat sebelumnya (yakni QS.7:27-28 & 32), seruan dengan kata-kata Hai anak-cucu Adam, ditujukan kepada umat di zaman  Nabi Besar Muhammad saw  dan kepada generasi-generasi yang akan lahir, bukan kepada umat-umat yang hidup di masa jauh silam dan yang datang tak lama sesudah masa  Nabi Adam a.s.
  Makna ayat:    وَ الَّذِیۡنَ کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا وَ اسۡتَکۡبَرُوۡا عَنۡہَاۤ  اُولٰٓئِکَ اَصۡحٰبُ النَّارِ ۚ ہُمۡ فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ  -- “Dan  orang-orang yang mendustakan Ayat-ayat Kami dan dengan takabur berpaling  darinya, mereka itu penghuni Api, mereka kekal di dalamnya,”  Kata-kata  itu berarti bahwa mereka yang mendustakan dan menentang utusan-utusan Allah akan melihat dengan mata kepala sendiri penyempurnaan kabar-kabar gaib yang meramalkan kekalahan dan kegagalan mereka. Mereka akan merasakan hukuman yang dijanjikan kepada mereka karena menentang utusan-utusan Allah Swt. di dunia ini juga.
  Sunnatullah dalam QS.7:35-37 tersebut  berlaku pula bagi umat Islam, karena yang mendapat jaminan pemeliharaan Allah Swt. adalah Al-Quran (QS.15:10), bukan umat Islam.  Bahkan Nabi Besar Muhammad saw. sendiri telah menubuatkan mengenai akan terjadinya “persamaan” antara umat Islam dengan golongan Ahli-kitab (Yahudi dan Nasrani) bagaikan “persamaan sepasang sepatu”, yaitu pada masa kemunduran umat Islam selama 1000 tahun setelah mengalami masa kejayaan yang pertama selama 3 abad, firman-Nya:
یُدَبِّرُ الۡاَمۡرَ مِنَ السَّمَآءِ  اِلَی الۡاَرۡضِ ثُمَّ یَعۡرُجُ  اِلَیۡہِ  فِیۡ یَوۡمٍ کَانَ مِقۡدَارُہٗۤ اَلۡفَ سَنَۃٍ  مِّمَّا تَعُدُّوۡنَ ﴿﴾
Dia mengatur perintah dari langit sampai bumi, kemudian perintah itu akan naik kepada-Nya dalam satu hari, yang hitungan lamanya seribu tahun dari apa yang kamu hitung  (As-Sajdah [32]:6).
       Ayat ini menunjuk kepada suatu pancaroba sangat hebat, yang ditakdirkan akan menimpa Islam dalam perkembangannya yang penuh dengan perubahan itu. Islam akan melalui suatu masa kemajuan dan kesejahteraan yang mantap selama 3 abad pertama kehidupannya.  Nabi Besar Muhammad saw.  diriwayatkan pernah menyinggung secara jitu mengenai kenyataan itu dalam sabda beliau: “Abad terbaik ialah abad di kala aku hidup, kemudian abad berikutnya, kemudian abad sesudah itu” (Tirmidzi & Bukhari, Kitab-usy-Syahadat).
       Islam – tepatnya umat Islam   -- mulai mundur sesudah 3 abad pertama masa keunggulan dan kemenangan yang tiada henti-hentinya. Peristiwa kemunduran dan kemerosotannya berlangsung dalam masa 1000 tahun berikutnya:  ثُمَّ یَعۡرُجُ  اِلَیۡہِ  فِیۡ یَوۡمٍ کَانَ مِقۡدَارُہٗۤ اَلۡفَ سَنَۃٍ  مِّمَّا تَعُدُّوۡنَ  -- “kemudian perintah itu akan naik kepada-Nya dalam satu hari, yang hitungan lamanya seribu tahun dari apa yang kamu hitung”.
      Dalam hadits lain Nabi Besar Muhammad saw. sehubungan turunnya surah Al-Jumu’ah ayat 3-4 diriwayatkan pernah bersabda dalam ungkapan kiasan  bahwa iman akan terbang ke Bintang Tsuraya dan seseorang dari keturunan Parsi akan mengembalikannya ke bumi (Bukhari, Kitab-ut-Tafsir).
       Dengan kedatangan   Masih Mau’ud a.s. atau misal Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (QS.43:58) yakni   -- Rasul Akhir Zaman    -- dalam abad ke-14 sesudah Hijrah, laju kemerosotannya telah terhenti dan kebangkitan Islam kembali mulai berlaku, firman-Nya: 
ہُوَ الَّذِیۡۤ  اَرۡسَلَ  رَسُوۡلَہٗ  بِالۡہُدٰی وَ دِیۡنِ  الۡحَقِّ لِیُظۡہِرَہٗ  عَلَی الدِّیۡنِ کُلِّہٖ وَ لَوۡ  کَرِہَ  الۡمُشۡرِکُوۡنَ ٪﴿﴾
Dia-lah Yang mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk dan dengan agama yang benar supaya Dia memenangkannya atas semua agama,  walaupun orang musyrik tidak menyukai. (Ash-Shaf [61]:10).

Dua Macam Jihad  

       Demikianlah  makna pemberian nama Islam  kepada agama terakhir dan tersempurna yang diwahyukan kepada Nabi Besar Muhammad saw. (QS.5:4)  dan menamakan para pemeluknya  Muslim,  firman-Nya:
یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوا ارۡکَعُوۡا  وَ اسۡجُدُوۡا وَ اعۡبُدُوۡا رَبَّکُمۡ وَ افۡعَلُوا الۡخَیۡرَ    لَعَلَّکُمۡ  تُفۡلِحُوۡنَ ﴿ۚٛ﴾  وَ جَاہِدُوۡا فِی اللّٰہِ حَقَّ جِہَادِہٖ ؕ ہُوَ اجۡتَبٰىکُمۡ وَ مَا جَعَلَ عَلَیۡکُمۡ فِی الدِّیۡنِ مِنۡ حَرَجٍ ؕ مِلَّۃَ  اَبِیۡکُمۡ اِبۡرٰہِیۡمَ ؕ ہُوَ سَمّٰىکُمُ الۡمُسۡلِمِیۡنَ ۬ۙ مِنۡ قَبۡلُ وَ فِیۡ ہٰذَا  لِیَکُوۡنَ الرَّسُوۡلُ شَہِیۡدًا عَلَیۡکُمۡ وَ تَکُوۡنُوۡا شُہَدَآءَ عَلَی النَّاسِ ۚۖ فَاَقِیۡمُوا الصَّلٰوۃَ  وَ اٰتُوا الزَّکٰوۃَ  وَ اعۡتَصِمُوۡا بِاللّٰہِ ؕ ہُوَ مَوۡلٰىکُمۡ ۚ فَنِعۡمَ الۡمَوۡلٰی وَ نِعۡمَ النَّصِیۡرُ ﴿٪﴾
Hai orang-orang yang beriman,   rukuklah kamu, dan sujudlah,  serta sembahlah Rabb (Tuhan) kamu, dan berbuatlah kebaikan supaya kamu memperoleh kebahagiaan.    Dan berjihadlah kamu di jalan Allah  dengan jihad  yang sebenar-benarnya, ہُوَ اجۡتَبٰىکُمۡ وَ مَا جَعَلَ عَلَیۡکُمۡ فِی الدِّیۡنِ مِنۡ حَرَجٍ  -- Dia telah memilih kamu, dan Dia tidak menjadikan kesukaran pada kamu dalam urusan agama, ؕ مِلَّۃَ  اَبِیۡکُمۡ اِبۡرٰہِیۡمَ  --  Ikutilah agama bapak kamu, Ibrahim, ہُوَ سَمّٰىکُمُ الۡمُسۡلِمِیۡنَ ۬ۙ مِنۡ قَبۡلُ وَ فِیۡ ہٰذَا -- Dia telah memberi kamu nama Muslimin  dahulu dan dalam Kitab ini, لِیَکُوۡنَ الرَّسُوۡلُ شَہِیۡدًا عَلَیۡکُمۡ وَ تَکُوۡنُوۡا شُہَدَآءَ عَلَی النَّاسِ  --    supaya Rasul itu menjadi saksi atas kamu  dan supaya kamu menjadi saksi atas umat manusia. فَاَقِیۡمُوا الصَّلٰوۃَ  وَ اٰتُوا الزَّکٰوۃَ  وَ اعۡتَصِمُوۡا بِاللّٰہِ ؕ  -- Maka dirikanlah shalat, bayarlah zakat, dan berpegang teguhlah kepada Allah. ہُوَ مَوۡلٰىکُمۡ ۚ فَنِعۡمَ الۡمَوۡلٰی وَ نِعۡمَ النَّصِیۡر --  Dia Pelindung kamu  maka Dia-lah sebaik-baik Pelindung  dan sebaik-baik Penolong. (Al-Hājj [22]:78-79).
      Jihad itu ada dua macam: (a) Jihad melawan keinginan-keinginan dan kecenderungan buruk manusia sendiri, dan (b) jihad melawan musuh-musuh kebenaran yang meliputi pula berperang untuk membela diri. Nabi Besar Muhammad saw. menamakan jihad macam pertama   “Jihad dalam Allah” dan jihad yang kedua  “Jihad di jalan Allah”. Beliau saw. pun  telah menamakan jihad yang pertama itu sebagai jihad besar (jihad kabir) dan jihad yang kedua sebagai jihad kecil (jihad saghir).
      Sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya bahwa merupakan keyakinan umat Islam bahwa setelah mengalami masa kemunduran selama 1000 tahun – sejak 300 tahun masa kejayaan  yang pertama (QS.32:6) – umat Islam akan kembali mengalami masa kejayaan yang kedua di Akhir Zaman  ini, sehingga adanya  persamaan  antara  Bani Israil dan Bani Isma’il  dalam berbagai hal  menjadi genap, firman-Nya:
ہُوَ الَّذِیۡۤ  اَرۡسَلَ  رَسُوۡلَہٗ  بِالۡہُدٰی وَ دِیۡنِ  الۡحَقِّ لِیُظۡہِرَہٗ  عَلَی الدِّیۡنِ کُلِّہٖ وَ لَوۡ  کَرِہَ  الۡمُشۡرِکُوۡنَ ٪﴿﴾
Dia-lah Yang mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk dan dengan agama yang benar supaya Dia memenangkannya atas semua agama,  walaupun orang musyrik tidak menyukai. (Ash-Shaf [61]:10).

Nubuatan Kedatangan Rasul Allah di Kalangan  Semua Umat Beragama

        Pernyataan Allah Swt. tersebut tidak bertentangan dengan kepercayaan umumnya semua umat beragama berkenaan kedatangan kedua kali rasul Allah yang dipercayai akan mengunggulkan agama mereka atas agama-agama lainnya. Contohnya umat Yahudi sedang menunggu-nunggu kedatangan Mesiah (Mesias) a.s., umat Kristen sedang menunggu-nunggu kedatangan kedua kali  Yesus Kristus a.s. (Al-Masih), umat Hindu sedang menunggu kedatangan  kedua kali Shri Krishna a.s., umat Buddha sedang menunggu-nunggu kedatangan Buddha Maitreya a.s. (Buddha Meteyya a.s.,  kaum Majusi pun sedang menunggu-nunggu kedatangan Mesio Darbahmi, dan umat Islam pun  mempercayai akan datangnya Imam Mahdi a.s. dan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s..
       Semua umat beragama  tersebut mempercayai bahwa kedatangan rasul Allah yang dijanjikan tersebut adalah di Akhir Zaman atau menjelang Hari Kiamat, bahkan di kalangan umat beragama tersebut – termasuk umat Islam  -- ada yang mempercayai bahwa kedatangan rasul Allah yang dijanjikan  tersebut   terjadi pada abad 14 Hijriyah atau di abad 19 Masehi, sehingga  banyak di antara mereka yang melakukan persiapan untuk menyambut kedatangannya.
      Namun dalam kenyataannya  di abad ke 15 ini  pun di kalangan umat Islam sendiri – terutama di kawasan Timur Tengah dan   --  bukan tanda-tanda kejayaan Islam kedua kali yang nampak melainkan sebaliknya,  yakni di antara berbagai golongan Islam di  sana  terlibat peperangan, termasuk berperang dengan pemerintahnya,  bertentangan dengan perintah Allah Swt. dalam firman-Nya berikut ini:
یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰہَ حَقَّ تُقٰتِہٖ وَ لَا تَمُوۡتُنَّ  اِلَّا وَ اَنۡتُمۡ  مُّسۡلِمُوۡنَ ﴿﴾ وَ اعۡتَصِمُوۡا بِحَبۡلِ اللّٰہِ جَمِیۡعًا وَّ لَا تَفَرَّقُوۡا ۪ وَ اذۡکُرُوۡا نِعۡمَتَ اللّٰہِ عَلَیۡکُمۡ  اِذۡ  کُنۡتُمۡ اَعۡدَآءً فَاَلَّفَ بَیۡنَ قُلُوۡبِکُمۡ فَاَصۡبَحۡتُمۡ بِنِعۡمَتِہٖۤ اِخۡوَانًا ۚ وَ کُنۡتُمۡ عَلٰی شَفَا حُفۡرَۃٍ مِّنَ النَّارِ فَاَنۡقَذَکُمۡ مِّنۡہَا ؕ   کَذٰلِکَ یُبَیِّنُ اللّٰہُ لَکُمۡ اٰیٰتِہٖ  لَعَلَّکُمۡ  تَہۡتَدُوۡنَ ﴿﴾
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan takwa yang sebenar-benarnya, dan  janganlah sekali-kali kamu mati kecuali kamu dalam keadaan berserah  diri.    Dan  berpegangteguhlah ka-mu sekalian pada tali Allah,  dan  janganlah kamu berpecah-belah,    dan  ingatlah akan nikmat Allah atas kamu ketika kamu dahulu bermusuh-musuhan,   lalu  Dia menyatukan hati kamu dengan kecintaan  antara satu sama lain maka  dengan nikmat-Nya itu kamu menjadi bersaudara,    dan kamu dahulu berada di tepi jurang Api  lalu Dia menyelamatkan kamu darinya.      Demikianlah Allāh menjelaskan Ayat-ayat-Nya kepada kamu supaya kamu mendapat petunjuk. (Ali ‘Imran [3]:103-104).

Kenyataan yang  Terjadi  Sebaliknya

        Bahkan yang terjadi saat ini adalah  kebenaran pernyataan  Allah Swt. dalam firman-Nya  berikut ini:
قُلۡ ہُوَ  الۡقَادِرُ عَلٰۤی  اَنۡ یَّبۡعَثَ عَلَیۡکُمۡ عَذَابًا مِّنۡ فَوۡقِکُمۡ اَوۡ مِنۡ تَحۡتِ اَرۡجُلِکُمۡ اَوۡ یَلۡبِسَکُمۡ شِیَعًا وَّ یُذِیۡقَ بَعۡضَکُمۡ بَاۡسَ بَعۡضٍ ؕ اُنۡظُرۡ کَیۡفَ نُصَرِّفُ الۡاٰیٰتِ لَعَلَّہُمۡ یَفۡقَہُوۡنَ ﴿﴾  وَ کَذَّبَ بِہٖ قَوۡمُکَ وَ ہُوَ الۡحَقُّ ؕ قُلۡ لَّسۡتُ عَلَیۡکُمۡ  بِوَکِیۡلٍ ﴿ؕ﴾    لِکُلِّ نَبَاٍ  مُّسۡتَقَرٌّ ۫ وَّ سَوۡفَ تَعۡلَمُوۡنَ ﴿﴾
Katakanlah: “Dia-lah Yang berkuasa mengirimkan azab kepada kamu dari atas kamu atau dari bawah kaki kamu اَوۡ یَلۡبِسَکُمۡ شِیَعًا وَّ یُذِیۡقَ بَعۡضَکُمۡ بَاۡسَ بَعۡضٍ  -- atau mencampur-baurkan kamu menjadi golongan-golongan yang saling berselisih   dan membuat sebagian kamu merasakan keganasan sebagian yang lain.” اُنۡظُرۡ کَیۡفَ نُصَرِّفُ الۡاٰیٰتِ لَعَلَّہُمۡ یَفۡقَہُوۡنَ -- Lihatlah bagaimana Kami membentangkan Tanda-tanda supaya mereka mengerti.  وَ کَذَّبَ بِہٖ قَوۡمُکَ وَ ہُوَ الۡحَقُّ --  Dan  kaum engkau telah mendustakannya,  padahal itu adalah kebenaran. قُلۡ لَّسۡتُ عَلَیۡکُمۡ  بِوَکِیۡلٍ --  Katakanlah:  Aku sekali-kali bukan  penanggungjawab atas kamu.” لِکُلِّ نَبَاٍ  مُّسۡتَقَرٌّ ۫ وَّ سَوۡفَ تَعۡلَمُوۡنَ  --  Bagi tiap kabar gaib ada masa yang tertentu, dan kamu segera akan mengetahui.  (Al-An’ām [6]:66-68).
  Makna “Azab dari atas” maknanya: kelaparan, gempa bumi, air bah, taufan, penin-dasan terhadap golongan yang lemah oleh yang kuat, penderitaan mental, dan sebagainya, dan “siksaan dari bawah” berarti: penyakit-penyakit, wabah, pemberontakan orang-orang bawahan, dan sebagainya. Kemudian ada hukuman berupa kekacauan, perpecahan-perpecahan dan perselisihan yang kadang-kadang berakhir dalam perang saudara, seperti yang saat ini berlangsung di kawasan Timur-tengah dan berbagai kawasan Muslim lainnya di Afrika.  Hal demikian ini diisyaratkan dalam kata-kata  اَوۡ یَلۡبِسَکُمۡ شِیَعًا وَّ یُذِیۡقَ بَعۡضَکُمۡ بَاۡسَ بَعۡضٍ --  “atau membuat sebagian kamu merasakan keganasan sebagian yang lain.”
  Kata ganti “nya” dalam ayat: وَ کَذَّبَ بِہٖ قَوۡمُکَ وَ ہُوَ الۡحَقُّ  -- “Dan kaum engkau telah mendustakannya, padahal itu adalah kebenaran” menunjuk kepada (1) perkara yang sedang dibahas; (2) Al-Quran; (3) azab Ilahi. Jika kita ambil arti yang terakhir, maka kata-kata وَ ہُوَ الۡحَقُّ  --  “padahal itu adalah kebenaran” akan berarti bahwa azab Ilahi yang dijanjikan pasti akan tiba (terjadi)., sebagaimana dijelaskan dalam ayat selanjutnya: لِکُلِّ نَبَاٍ  مُّسۡتَقَرٌّ ۫ وَّ سَوۡفَ تَعۡلَمُوۡنَ  -- “Bagi tiap kabar gaib ada masa yang tertentu  dan kamu segera akan mengetahui” berarti bahwa  Allah Swt.  sesuai dengan hikmah-Nya yang tidak dapat salah itu, telah menentukan satu saat penggenapan setiap kabar gaib. Maka azab Ilahi  yang telah dijanjikan kepada orang-orang yang menolak kebenaran akan datang juga pada saatnya yang tepat dan akan terjadi secara  tiba-tiba (QS.6:32; QS.21:41; QS.47:19), firman-Nya:
وَ  یَسۡتَعۡجِلُوۡنَکَ بِالۡعَذَابِ وَ لَنۡ یُّخۡلِفَ اللّٰہُ وَعۡدَہٗ ؕ وَ اِنَّ یَوۡمًا عِنۡدَ رَبِّکَ  کَاَلۡفِ  سَنَۃٍ   مِّمَّا  تَعُدُّوۡنَ ﴿﴾ وَ کَاَیِّنۡ مِّنۡ قَرۡیَۃٍ  اَمۡلَیۡتُ لَہَا وَ ہِیَ ظَالِمَۃٌ  ثُمَّ اَخَذۡتُہَا ۚ وَ اِلَیَّ الۡمَصِیۡرُ ﴿٪﴾
Dan mereka meminta kepada engkau untuk mempercepat azab, tetapi Allah  tidak akan pernah mengingkari janji-Nya. Dan sesungguhnya satu hari di sisi Rabb (Tuhan) engkau  seperti seribu tahun menurut perhitungan kamu.  Dan berapa banyaknya kota telah Aku memberi tangguh baginya padahal dia berlaku zalim.  Kemudian Aku menangkapnya dan kepada Aku-lah kembali mereka. (Al-Hājj [22]:48-49).
       Nabi Besar Muhammad saw.  menurut riwayat pernah bersabda bahwa tiga abad pertama Islam akan merupakan masa yang terbaik – dan merupakan kejayaan Islam yang pertama -- sesudah itu kepalsuan (kesesatan)   akan tersebar dan suatu masa kegelapan akan datang dan meluas  di kalangan umat Islam sampai seribu tahun (Tirmidzi). Sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya bahwa masa  kegelapan yang melanda umat Islam 1000 tahun ini dipersamakan dengan satu hari, firman-Nya:
یُدَبِّرُ الۡاَمۡرَ مِنَ السَّمَآءِ  اِلَی الۡاَرۡضِ ثُمَّ یَعۡرُجُ  اِلَیۡہِ  فِیۡ یَوۡمٍ کَانَ مِقۡدَارُہٗۤ اَلۡفَ سَنَۃٍ  مِّمَّا تَعُدُّوۡنَ ﴿﴾
Dia mengatur perintah dari langit sampai bumi, kemudian perintah itu akan naik kepada-Nya dalam satu hari, yang hitungan lamanya seribu tahun dari apa yang kamu hitung  (As-Sajdah [32]:6).
      Dalam masa  kegelapan yang melanda umat Islam tersebut  satu kaum yang bermata biru (QS.20:103-104)  – yakni Ya’juj (Gog) dan Ma’juj (Magog – QS.21:97) atau bangsa-bangsa Kristen dari barat  -- akan bangkit dan menyebar luas ke seluruh dunia. Orang-orang bermata biru itulah yang karena sombong dan takaburnya, yang diakibatkan oleh karena memperoleh kemuliaan duniawi dan kekuasaan politik, telah digambarkan memberi tantangan kepada  Nabi Besar Muhammad saw. untuk mempercepat datangnya azab yang  diperingatkan oleh beliau  saw.   akan menimpa mereka pada waktu yang ditentukan dan dijanjikan itu. 

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid

oo0oo
Pajajaran Anyar,  24 Januari  2017





Tidak ada komentar:

Posting Komentar