Rabu, 25 Januari 2017

Pemberian Nama "Islam" dan "Muslim" Kepada "Syariat Terakhir dan Tersempurna" dan Kepada "Pemeluknya" & Pelanggaran Terhadap "Perjanjian Nabi-nabi" dan Terjadinya "Keberagaman Agama"





Bismillaahirrahmaanirrahiim


ISLAM
Pidato  Mirza Ghulam Ahmad a.s.
Tgl. 2 November 1904 di Kota Sialkote – Hindustan

Bab  2

PEMBERIAN NAMA ISLAM  DAN MUSLIM KEPADA SYARIAT TERAKHIR DAN TERSEMPURNA  SERTA  KEPADA PEMELUKNYA &  PELANGGARAN TERHADAP  PERJANJIAN NABI-NABI“  DAN  TERJADINYA KEBERAGAMAN AGAMA   

Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam bagian akhir Bab I  telah dijelaskan topik Penggenapan Nubuatan Nabi Musa a.s. Dalam Ulangan 18:15-19. Sebelumnya  telah dikemukakan      nubuatan-nubuatan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. dalam   Matius 23:37-39  dan Yohanes 16:12-13   berkenaan dengan “Dia yang datang dalam nama Tuhan” atau “Roh Kebenaran” yang “membawa seluruh kebenaran” – yakni Nabi Besar Muhammad saw..
       Nubuatan Nabi Isa Maryam a.s. tersebut  sesuai dengan nubuatan Nabi Musa a.s. dalam  Kitab Ulangan   mengenai kedatangan “nabi yang seperti Musa” dari kalangan Bani Isma’il, yaitu Nabi Besar Muhammad saw.  yang membawa syariat terakhir dan tersempurna (QS.5:4):
18:15 Seorang nabi dari tengah-tengahmu, dari antara saudara-saudaramu, sama seperti aku, akan dibangkitkan bagimu oleh Tuhan, Allahmu; dialah yang harus kamu dengarkan. 18:16 Tepat seperti yang kamu minta dahulu kepada Tuhan, Allahmu, di gunung Horeb, pada hari perkumpulan, dengan berkata: Tidak mau aku mendengar lagi suara Tuhan, Allahku, dan api yang besar ini tidak mau aku melihatnya lagi, supaya jangan aku mati. 18:17 Lalu berkatalah Tuhan kepadaku: Apa yang dikatakan mereka itu baik; 18:18 seorang nabi   akan Kubangkitkan bagi mereka dari antara saudara mereka, seperti engkau ini; Aku akan menaruh firman-Ku   dalam mulutnya,   dan ia akan mengatakan kepada mereka segala yang Kuperintahkan kepadanya.  18:19 Orang yang tidak mendengarkan   segala firman-Ku yang akan diucapkan nabi itu demi nama-Ku,   dari padanya akan Kutuntut pertanggungjawaban. 18:20 Tetapi seorang nabi, yang terlalu berani untuk mengucapkan demi nama-Ku perkataan yang tidak Kuperintahkan untuk dikatakan olehnya, atau yang berkata demi nama allah    lain, nabi itu harus mati.   (Ulangan 18:15-20).

Pengulangan Nubuatan Bible Dalam Al-Quran Mengenai Nabi Besar Muhammad Saw. Sebagai “Misal” Nabi Musa a.s.

         Salah satu bukti bahwa Kitab suci Al-Quran dan Nabi Besar Muhammad saw. memiliki hubungan yang sangat erat dengan nubuatan-nubuatan  dalam Bible tersebut, maka nubuatan-nubuatan  tersebut dikemukakan  lagi dalam Al-Quran guna membuktikan bahwa pewahyuan Al-Quran dan pengutusan Nabi Besar Muhammad saw. di kalangan Bani Isma’il  merupakan penggenapan nubuatan-nubuatan dalam Bible, mengenai hal itu berikut firman-Nya kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
قُلۡ مَا کُنۡتُ بِدۡعًا مِّنَ الرُّسُلِ وَ مَاۤ اَدۡرِیۡ  مَا یُفۡعَلُ بِیۡ  وَ لَا بِکُمۡ ؕ اِنۡ  اَتَّبِعُ اِلَّا مَا یُوۡحٰۤی  اِلَیَّ وَ مَاۤ  اَنَا  اِلَّا نَذِیۡرٌ مُّبِیۡنٌ ﴿ قُلۡ  اَرَءَیۡتُمۡ  اِنۡ کَانَ مِنۡ عِنۡدِ اللّٰہِ وَ کَفَرۡتُمۡ  بِہٖ وَ شَہِدَ شَاہِدٌ مِّنۡۢ  بَنِیۡۤ اِسۡرَآءِیۡلَ  عَلٰی مِثۡلِہٖ  فَاٰمَنَ وَ اسۡتَکۡبَرۡتُمۡ ؕ اِنَّ اللّٰہَ  لَا یَہۡدِی الۡقَوۡمَ الظّٰلِمِیۡنَ ﴿٪﴾
Katakanlah: "Aku sekali-kali bukan rasul baru di antara rasul-rasul, dan  aku  sekali-kali tidak  mengetahui apa yang akan diperbuat Allah terhadapku atau pun terhadap kamu.  Aku tidak lain hanyalah mengikuti apa yang diwahyukan kepadaku, dan aku tidak lain hanyalah  seorang pemberi peringatan yang nyata."   قُلۡ  اَرَءَیۡتُمۡ  اِنۡ کَانَ مِنۡ عِنۡدِ اللّٰہِ وَ کَفَرۡتُمۡ  بِہٖ   -- Katakanlah: "Terangkanlah kepadaku jika Al-Quran ini dari Allah tetapi  kamu tidak percaya kepadanya  وَ شَہِدَ شَاہِدٌ مِّنۡۢ  بَنِیۡۤ اِسۡرَآءِیۡلَ  عَلٰی مِثۡلِہٖ  فَاٰمَنَ وَ اسۡتَکۡبَرۡتُمۡ  -- dan  seorang saksi dari antara Bani Israil  memberi kesaksian terhadap kedatangan seseorang semisalnya  lalu ia beriman tetapi kamu berlaku sombong?" اِنَّ اللّٰہَ  لَا یَہۡدِی الۡقَوۡمَ الظّٰلِمِیۡنَ   -- Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang zalim (Al-Ahqāf [46]:11).
   Makna  seorang saksi dari antara Bani Israil dalam ayat: وَ شَہِدَ شَاہِدٌ مِّنۡۢ  بَنِیۡۤ اِسۡرَآءِیۡلَ  عَلٰی مِثۡلِہٖ  فَاٰمَنَ وَ اسۡتَکۡبَرۡتُمۡ  -- dan  seorang saksi dari antara Bani Israil  memberi kesaksian terhadap kedatangan seseorang semisalnya  lalu ia beriman tetapi kamu berlaku sombong?"  adalah Nabi Musa a.s..  Kepada nubuatan beliau berkenaan dengan kedatangan Nabi Besar Muhammad saw.   itulah yang telah diisyaratkan dalam ayat ini. Adapun nubuatan itu berbunyi sebagai berikut:
18:17 Lalu berkatalah Tuhan kepadaku: Apa yang dikatakan mereka itu baik; 18:18 seorang nabi   akan Kubangkitkan bagi mereka dari antara saudara mereka, seperti engkau ini; Aku akan menaruh firman-Ku   dalam mulutnya, dan ia akan mengatakan kepada mereka segala yang Kuperintahkan kepadanya.  18:19 Orang yang tidak mendengarkan   segala firman-Ku yang akan diucapkan nabi itu demi nama-Ku, dari padanya akan Kutuntut pertanggungjawaban.    (Ulangan 18:18-19).

Hubungan Taurat dengan Al-Quran yang Diwahyukan Dalam Bahasa Arab

       Kemudian dalam  Surah yang sama Allah Swt. berfirman mengenai  hubungan Taurat dengan Al-Quran:
وَ مِنۡ  قَبۡلِہٖ کِتٰبُ مُوۡسٰۤی  اِمَامًا وَّ رَحۡمَۃً ؕ وَ ہٰذَا کِتٰبٌ مُّصَدِّقٌ  لِّسَانًا عَرَبِیًّا  لِّیُنۡذِرَ الَّذِیۡنَ ظَلَمُوۡا ٭ۖ وَ بُشۡرٰی لِلۡمُحۡسِنِیۡنَ﴿ۚ﴾
Dan sebelum ini ada  Kitab Musa sebagai petunjuk dan rahmat,  dan  Al-Quran ini adalah Kitab dalam bahasa Arab yang menggenapinya  supaya memberi peringatan kepada orang-orang zalim dan kabar gembira untuk orang-orang yang berbuat ihsan (Al-Ahqāf [46]:13).
    Kalau  firman Allah Swt. dalam surah  Al-Ahqāf [46]:11  --  yang didukung oleh Ulangan 18:18 -- menunjuk kepada kedatangan seorang nabi yang “seperti Musa” dari antara Bani Isma’il, maka ayat   ini menunjuk ke tanah Arab sebagai tempat turunnya nabi Allah  yang akan mempunyai persamaan dengan Nabi Musa a.s. tersebut,  dan juga kepada Kitab  Al-Quran  yang akan menggenapi nubuatan-nubuatan yang terkandung di dalam Kitab Musa dan juga akan diunggulinya.” Ada pun nubuatan dalam Bible tersebut adalah:
"Bahwa inilah firman akan hal negeri Arab: Di dalam gurun Arab kamu akan bermalam, hai kafilah orang Dedan. Datanglah mendapatkan orang yang berdahaga sambil membawa air, hai orang isi negeri Tema! Dan unjuklah roti kepada orang-orang yang lari itu" (Yesaya 21:13-15).
         Nubuatan tersebut  mengisyaratkan kepada penempatan Nabi Isma’il a.s. ketika masih kecil dan ibunya, Siti Hajrah, di lembah Mekkah oleh Nabi Ibrahim a.s. sesuai dengan perintah Allah Swt. (QS.2:126-130; QS.14:36-42) sehinggianubuatan dalam Ulangan 18:15-19 mengenai pengutusan  nabi yang seperti Musa” dari kalangan “saudara Bani Israil” – yaitu Bani Isma’il – menjadi genap.
      Demikianlah hubungan nubuatan-nubuatan dalam Bible dengan   pengulangan nubuatan-nubuatan tersebut dalam Al-Quran serta penggenapannya berupa pengutusan Nabi Besar Muhammad saw. yang membawa    agama dan Kitab suci terakhir dan tersempurna  yaitu agama Islam dan Al-Quran (QS.5:4):
Orang yang tidak mendengarkan   segala firman-Ku yang akan diucapkan nabi itu demi nama-Ku, dari padanya akan Kutuntut pertanggungjawaban.    (Ulangan 18:19).

Pemberian Nama “Islam” Kepada Agama Terakhir dan Tersempurna

     Ketika  proses  pewahyuan hukum-hukum syariat tersebut  telah mencapai kesempurnaan dalam wujud wahyu Al-Quran (QS.2:107; QS.5:4) -- yang diwahyukan Allah Swt. kepada Nabi Besar Muhammad saw.  bagi kepentingan  seluruh umat manusia (QS.2:186; QS.7:158-159; QS.21:108) -- maka barulah nama Islam diberikan kepada agama terakhir dan tersempurna tersebut, firman-Nya:
اَلۡیَوۡمَ اَکۡمَلۡتُ لَکُمۡ دِیۡنَکُمۡ وَ اَتۡمَمۡتُ عَلَیۡکُمۡ نِعۡمَتِیۡ وَ رَضِیۡتُ لَکُمُ الۡاِسۡلَامَ دِیۡنًا
Hari ini telah Ku-sempurnakan agama kamu bagimu, telah Kulengkapkan nikmat-Ku atas kamu, dan  telah Kusukai  Islam sebagai agama bagi kamu. (Al-Māidah [5]:4).
         Ikmāl (menyempurnakan) dan itmām (melengkapkan) merupakan akar-akar kata (masdar), yang pertama berhubungan dengan kaifiat (kualitas) dan yang kedua berhubungan dengan kammiat (kuantitas). Kata yang pertama (itmām) menunjukkan bahwa ajaran-ajaran serta perintah-perintah mengenai pencapaian kemajuan jasmani, ruhani, dan akhlak manusia telah terkandung dalam Al-Quran dalam bentuk yang paripurna; sedang yang kedua (akmal) menunjukkan bahwa tidak ada suatu keperluan manusia yang lepas dari perhatian (diabaikan).  Kata yang pertama  (itmām) berhubungan dengan perintah-perintah yang bertalian dengan segi fisik atau keadaan lahiriah manusia, sedang yang kedua (akmal) berhubungan dengan segi ruhaniah dan batiniahnya.
        Penyempurnaan dan pelengkapan agama dan nikmat Allah disebut dalam QS.5:4 berdampingan dengan hukum yang berlaku bertalian dengan makanan-makanan untuk menjelaskan bahwa penggunaan makanan yang halal dan thayyib merupakan salah satu dasar yang amat penting untuk menumbuh-kembangkan  nilai akhlak yang baik dan pada gilirannya memberi dasar tempat-berpijak guna mencapai kemajuan ruhani.
     Sehubungan dengan pemberian nama Islam  kepada agama terakhir  dan tersempurna  yang diwahyukan kepada Nabi Besar Muhammad Saw. tersebut dalam firman-Nya berikut ini dikemukakan pemberian nama Muslim  kepada para pemeluknya, firman-Nya:
یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوا ارۡکَعُوۡا  وَ اسۡجُدُوۡا وَ اعۡبُدُوۡا رَبَّکُمۡ وَ افۡعَلُوا الۡخَیۡرَ    لَعَلَّکُمۡ  تُفۡلِحُوۡنَ ﴿ۚٛ﴾  وَ جَاہِدُوۡا فِی اللّٰہِ حَقَّ جِہَادِہٖ ؕ ہُوَ اجۡتَبٰىکُمۡ وَ مَا جَعَلَ عَلَیۡکُمۡ فِی الدِّیۡنِ مِنۡ حَرَجٍ ؕ مِلَّۃَ  اَبِیۡکُمۡ اِبۡرٰہِیۡمَ ؕ ہُوَ سَمّٰىکُمُ الۡمُسۡلِمِیۡنَ ۬ۙ مِنۡ قَبۡلُ وَ فِیۡ ہٰذَا  لِیَکُوۡنَ الرَّسُوۡلُ شَہِیۡدًا عَلَیۡکُمۡ وَ تَکُوۡنُوۡا شُہَدَآءَ عَلَی النَّاسِ ۚۖ فَاَقِیۡمُوا الصَّلٰوۃَ  وَ اٰتُوا الزَّکٰوۃَ  وَ اعۡتَصِمُوۡا بِاللّٰہِ ؕ ہُوَ مَوۡلٰىکُمۡ ۚ فَنِعۡمَ الۡمَوۡلٰی وَ نِعۡمَ النَّصِیۡرُ ﴿٪﴾
Hai orang-orang yang beriman,   rukuklah kamu, dan sujudlah,  serta sembahlah Rabb (Tuhan) kamu, dan berbuatlah kebaikan supaya kamu memperoleh kebahagiaan.  جَاہِدُوۡا فِی اللّٰہِ حَقَّ جِہَادِہٖ  وَ  --  Dan berjihadlah kamu di jalan Allah  dengan jihad  yang sebenar-benarnya, ہُوَ اجۡتَبٰىکُمۡ وَ مَا جَعَلَ عَلَیۡکُمۡ فِی الدِّیۡنِ مِنۡ حَرَجٍ  -- Dia telah memilih kamu, dan Dia tidak menjadikan kesukaran pada kamu dalam urusan agama, ؕ مِلَّۃَ  اَبِیۡکُمۡ اِبۡرٰہِیۡمَ  --  Ikutilah agama bapak kamu, Ibrahim, ہُوَ سَمّٰىکُمُ الۡمُسۡلِمِیۡنَ ۬ۙ مِنۡ قَبۡلُ وَ فِیۡ ہٰذَا -- Dia telah memberi kamu nama Muslimin  dahulu dan dalam Kitab ini, لِیَکُوۡنَ الرَّسُوۡلُ شَہِیۡدًا عَلَیۡکُمۡ وَ تَکُوۡنُوۡا شُہَدَآءَ عَلَی النَّاسِ  --    supaya Rasul itu menjadi saksi atas kamu  dan supaya kamu menjadi saksi atas umat manusia. فَاَقِیۡمُوا الصَّلٰوۃَ  وَ اٰتُوا الزَّکٰوۃَ  وَ اعۡتَصِمُوۡا بِاللّٰہِ ؕ  -- Maka dirikanlah shalat, bayarlah zakat, dan berpegang teguhlah kepada Allah. ہُوَ مَوۡلٰىکُمۡ ۚ فَنِعۡمَ الۡمَوۡلٰی وَ نِعۡمَ النَّصِیۡر --  Dia Pelindung kamu  maka Dia-lah sebaik-baik Pelindung  dan sebaik-baik Penolong. (Al-Hājj [22]:78-79).
Kata-kata  ہُوَ سَمّٰىکُمُ الۡمُسۡلِمِیۡنَ ۬ۙ مِنۡ قَبۡلُ وَ فِیۡ ہٰذَا -- Dia telah memberi kamu nama Muslimin  dahulu dan dalam Kitab inimenunjuk kepada nubuatan  Nabi Yesaya a.s.:
Maka engkau akan disebut dengan nama yang baharu, yang akan ditentukan oleh firman Tuhan .....” (Yesaya 62:2 dan 65:15).

Nubuatan Pengutusan Nabi Besar Muhammad Saw. & Makna “Perjanjian Nabi-nabi

       Jadi,  sesuai dengan Sifat Rabubiyat Allah Swt. maka  proses  penyempurnaan wahyu syariat  pun diturunkan secara bertahap, dan itulah sebabnya  pengutusan Nabi Besar Muhammad saw. yang membawa syariat terakhir dan tersempurna tersebut  telah dinubuatkan oleh para rasul Allah sebelumnya  --  terutama dalam Taurat dan Injil  -- firman-Nya:
وَ اِذۡ اَخَذَ اللّٰہُ مِیۡثَاقَ النَّبِیّٖنَ لَمَاۤ اٰتَیۡتُکُمۡ مِّنۡ کِتٰبٍ وَّ حِکۡمَۃٍ ثُمَّ جَآءَکُمۡ رَسُوۡلٌ مُّصَدِّقٌ لِّمَا مَعَکُمۡ لَتُؤۡمِنُنَّ بِہٖ وَ لَتَنۡصُرُنَّہٗ ؕ قَالَ ءَاَقۡرَرۡتُمۡ وَ اَخَذۡتُمۡ عَلٰی ذٰلِکُمۡ اِصۡرِیۡ ؕ قَالُوۡۤا اَقۡرَرۡنَا ؕ قَالَ فَاشۡہَدُوۡا وَ اَنَا مَعَکُمۡ مِّنَ  الشّٰہِدِیۡنَ ﴿﴾
Dan ingatlah  ketika Allah mengambil perjanjian  dari manusia melalui nabi-nabi:   لَمَاۤ اٰتَیۡتُکُمۡ مِّنۡ کِتٰبٍ وَّ حِکۡمَۃٍ ثُمَّ جَآءَکُمۡ رَسُوۡلٌ مُّصَدِّقٌ لِّمَا مَعَکُمۡ   -- “Apa saja yang Aku berikan kepada kamu berupa Kitab dan Hikmah, kemudian datang kepada kamu seorang rasul yang menggenapi  apa yang ada padamu, لَتُؤۡمِنُنَّ بِہٖ وَ لَتَنۡصُرُنَّہٗ  --   kamu benar-benar harus beriman kepadanya dan   kamu  benar-benar harus membantunya.” قَالَ ءَاَقۡرَرۡتُمۡ وَ اَخَذۡتُمۡ عَلٰی ذٰلِکُمۡ اِصۡرِیۡ  -- Dia berfirman: “Apakah kamu mengakui dan menerima tanggung-jawab yang Aku bebankan kepada kamu mengenai itu?” قَالُوۡۤا اَقۡرَرۡنَا  --  Mereka berkata: “Kami mengakui.”  قَالَ فَاشۡہَدُوۡا وَ اَنَا مَعَکُمۡ مِّنَ  الشّٰہِدِیۡنَ -- Dia berfirman: “Maka bersaksilah  dan Aku pun beserta kamu termasuk  orang-orang yang menjadi saksi.”  (Āli ‘Imran [3]:82). 
       Ungkapan mītsaq an-nabiyyīn dapat berarti “perjanjian nabi-nabi dengan Tuhan” atau “perjanjian yang diambil Tuhan dari orang-orang dengan perantaraan nabi-nabi mereka”. Ungkapan ini telah dipakai di sini dalam artian yang kedua, sebab qira'ah (pembacaan) lain seperti yang didukung oleh Ubayy bin Ka’b dan ‘Abdullah bin Mas’ud ialah mītsaq alladzīna ūtul Kitāb, yang artinya “perjanjian mereka yang diberi Kitab” (Muhith).
        Penafsiran ini didukung pula oleh kata-kata berikut, yaitu: ثُمَّ جَآءَکُمۡ رَسُوۡلٌ مُّصَدِّقٌ لِّمَا مَعَکُمۡ   --  kemudian datang kepada kamu seorang rasul yang menggenapi apa yang ada pada kamu”, sebab kepada orang-orang (kaum)  rasul-rasul Allah datang dan bukan kepada nabi-nabi mereka.
      Itulah sebabnya Allah Swt. telah berfirman mengenai  nubuatan-nubuatan dalam Bible  berkenaan pengutusan Nabi Besar Muhammad saw. dari kalangan Bani Isma’il  benar-benar diketahui oleh para ulama Bani Israil, bagaikan mengenal anak-anak mereka sendiri, firman-Nya:
اَلَّذِیۡنَ اٰتَیۡنٰہُمُ الۡکِتٰبَ یَعۡرِفُوۡنَہٗ کَمَا یَعۡرِفُوۡنَ اَبۡنَآءَہُمۡ ؕ وَ اِنَّ فَرِیۡقًا مِّنۡہُمۡ لَیَکۡتُمُوۡنَ الۡحَقَّ وَ ہُمۡ یَعۡلَمُوۡنَ ﴿﴾ؔ اَلۡحَقُّ  مِنۡ رَّبِّکَ فَلَا تَکُوۡنَنَّ مِنَ الۡمُمۡتَرِیۡنَ ﴿﴾٪
Orang-orang yang telah Kami beri kitab, mereka mengenalnya  sebagaimana mereka mengenal   anak-anaknya,  وَ اِنَّ فَرِیۡقًا مِّنۡہُمۡ لَیَکۡتُمُوۡنَ الۡحَقَّ وَ ہُمۡ یَعۡلَمُوۡنَ -- dan sesungguhnya segolongan dari mereka benar-benar menyembunyikan kebenaran padahal mereka mengetahui. اَلۡحَقُّ  مِنۡ رَّبِّکَ فَلَا تَکُوۡنَنَّ مِنَ الۡمُمۡتَرِیۡنَ  --   Kebenaran ini dari Rabb (Tuhan) engkau, maka janganlah engkau termasuk orang-orang yang ragu. (Al-Baqarah [2]:147-148). Lihat pula QS.6:21; QS.26:193-198.
        Ya’rifuna-hu  dalam ayat:  اَلَّذِیۡنَ اٰتَیۡنٰہُمُ الۡکِتٰبَ یَعۡرِفُوۡنَہٗ کَمَا یَعۡرِفُوۡنَ اَبۡنَآءَہُمۡ  --  “Orang-orang yang telah Kami beri kitab, mereka mengenalnya  sebagaimana mereka mengenal   anak-anaknya  berasal dari ‘arafa yang berarti ia mengetahui atau mengenal atau melihat sesuatu. Meskipun kata itu dipakai pula mengenai ilmu yang diperoleh melalui pancaindra jasmani, kata itu terutama dipakai mengenai ilmu yang diperoleh lewat renungan dan tafakur   (Al-Mufradat)  sebagaimana dikemukakan dalam  QS.3:191-195 mengenai “ulul-albāb” (orang-orang yang berakal).

Amanat Allah Kepada Bani Adam   Mengenai Kesinambungan Pengutusan Rasul Allah

       Kata mushaddiq dalam ayat ثُمَّ جَآءَکُمۡ رَسُوۡلٌ مُّصَدِّقٌ لِّمَا مَعَکُمۡ   --  kemudian datang kepada kamu seorang rasul yang menggenapi apa yang ada pada kamu (QS.3:82), telah dipakai di sini untuk menyatakan tolok ukur yang dengan tolok ukur itu pendakwa yang benar dapat dibedakan dari seorang pendakwa yang palsu. Secara tepat kata mushaddiq itu telah diterjemahkan di sini sebagai “menggenapi”, sebab hanya dengan “menggenapi” dalam dirinya maka nubuatan-nubuatan yang terkandung dalam Kitab-kitab wahyu terdahulu maka    seorang pendakwa dapat dibuktikan kebenarannya.
        Makna ayat selanjutnya:  قَالَ فَاشۡہَدُوۡا وَ اَنَا مَعَکُمۡ مِّنَ  الشّٰہِدِیۡنَ -- Dia berfirman: “Maka bersaksilah  dan Aku pun beserta kamu termasuk  orang-orang yang menjadi saksi” (QS.3:82) dianggap pula berlaku kepada para nabi Allah pada umumnya dan khususnya kepada Nabi Besar Muhammad saw.   Kedua pemakaian itu tepat.
        Ayat tersebut menetapkan suatu peraturan umum. Kedatangan setiap nabi Allah terjadi sebagai penggenapan nubuatan-nubuatan tertentu yang dibuat oleh seorang nabi Allah yang mendahuluinya, ketika  nabi Allah tersebut  menyuruh pengikutnya supaya menerima  dan beriman kepada nabi Allah yang berikutnya kapan pun nabi Allah itu datang, firman-Nya:
وَ لِکُلِّ اُمَّۃٍ  اَجَلٌ ۚ فَاِذَا  جَآءَ  اَجَلُہُمۡ  لَا یَسۡتَاۡخِرُوۡنَ سَاعَۃً  وَّ لَا یَسۡتَقۡدِمُوۡنَ ﴿﴾  یٰبَنِیۡۤ  اٰدَمَ  اِمَّا یَاۡتِیَنَّکُمۡ رُسُلٌ مِّنۡکُمۡ یَقُصُّوۡنَ عَلَیۡکُمۡ اٰیٰتِیۡ ۙ فَمَنِ اتَّقٰی وَ اَصۡلَحَ فَلَا خَوۡفٌ عَلَیۡہِمۡ وَ لَا ہُمۡ یَحۡزَنُوۡنَ ﴿﴾  وَ الَّذِیۡنَ کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا وَ اسۡتَکۡبَرُوۡا عَنۡہَاۤ  اُولٰٓئِکَ اَصۡحٰبُ النَّارِ ۚ ہُمۡ فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ ﴿﴾   
Dan bagi  tiap-tiap umat ada batas waktu, maka apabila telah datang batas waktunya, mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak pula dapat memajukannya.    یٰبَنِیۡۤ  اٰدَمَ  اِمَّا یَاۡتِیَنَّکُمۡ رُسُلٌ مِّنۡکُمۡ یَقُصُّوۡنَ عَلَیۡکُمۡ اٰیٰتِیۡ  --  Wahai Bani Adam,  jika datang kepada kamu  rasul-rasul dari antara kamu yang membacakan  Ayat-ayat-Ku kepada kamu, maka barangsiapa bertakwa dan memperbaiki diri, maka tidak akan ada ketakutan menimpa mereka dan tidak pula mereka akan bersedih hati.  وَ الَّذِیۡنَ کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا وَ اسۡتَکۡبَرُوۡا عَنۡہَاۤ  اُولٰٓئِکَ اَصۡحٰبُ النَّارِ  -- Dan  orang-orang yang mendustakan Ayat-ayat Kami dan dengan takabur berpaling  darinya  mereka itu penghuni Api, ہُمۡ فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ  --  mereka kekal di dalamnya. (Al-A’rāf [7]:35-37).

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid

oo0oo
Pajajaran Anyar,  18 Januari  2017

Tidak ada komentar:

Posting Komentar