Bismillaahirrahmaanirrahiim
ISLAM
Pidato Mirza Ghulam Ahmad a.s.
Tgl. 2 November 1904
di Kota Sialkote – Hindustan
Bab 2
PEMBERIAN NAMA ISLAM DAN MUSLIM
KEPADA SYARIAT TERAKHIR DAN TERSEMPURNA SERTA KEPADA
PEMELUKNYA & PELANGGARAN TERHADAP “PERJANJIAN
NABI-NABI“ DAN TERJADINYA KEBERAGAMAN AGAMA
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam bagian akhir Bab I telah
dijelaskan topik Penggenapan Nubuatan
Nabi Musa a.s. Dalam Ulangan 18:15-19. Sebelumnya telah dikemukakan nubuatan-nubuatan
Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. dalam Matius 23:37-39 dan Yohanes 16:12-13 berkenaan dengan “Dia yang datang dalam nama Tuhan” atau “Roh Kebenaran” yang “membawa
seluruh kebenaran” – yakni Nabi Besar Muhammad saw..
Nubuatan
Nabi Isa Maryam a.s. tersebut sesuai
dengan nubuatan Nabi Musa a.s.
dalam Kitab Ulangan mengenai kedatangan “nabi yang seperti Musa” dari kalangan Bani Isma’il, yaitu Nabi
Besar Muhammad saw. yang membawa syariat terakhir dan tersempurna (QS.5:4):
18:15 Seorang nabi
dari tengah-tengahmu, dari antara saudara-saudaramu, sama seperti aku, akan dibangkitkan bagimu oleh Tuhan, Allahmu;
dialah yang harus kamu dengarkan. 18:16 Tepat seperti
yang kamu minta dahulu kepada Tuhan, Allahmu, di gunung Horeb, pada hari
perkumpulan, dengan berkata: Tidak
mau aku mendengar lagi suara Tuhan, Allahku, dan api yang besar ini tidak mau
aku melihatnya lagi, supaya jangan aku mati. 18:17 Lalu berkatalah Tuhan kepadaku: Apa yang dikatakan mereka itu baik; 18:18 seorang nabi akan Kubangkitkan bagi mereka dari antara
saudara mereka, seperti engkau ini; Aku akan menaruh firman-Ku dalam mulutnya, dan ia akan mengatakan kepada mereka segala
yang Kuperintahkan kepadanya. 18:19 Orang yang
tidak mendengarkan segala firman-Ku yang akan diucapkan nabi itu
demi nama-Ku, dari padanya akan Kutuntut pertanggungjawaban. 18:20 Tetapi seorang
nabi, yang terlalu berani untuk mengucapkan demi nama-Ku perkataan yang tidak
Kuperintahkan untuk dikatakan olehnya, atau
yang berkata demi nama allah lain, nabi itu harus mati. (Ulangan
18:15-20).
Pengulangan Nubuatan Bible Dalam Al-Quran Mengenai Nabi Besar Muhammad Saw. Sebagai “Misal” Nabi Musa a.s.
Salah satu bukti bahwa Kitab suci Al-Quran dan Nabi Besar
Muhammad saw. memiliki hubungan yang
sangat erat dengan nubuatan-nubuatan dalam Bible
tersebut, maka nubuatan-nubuatan tersebut dikemukakan lagi dalam Al-Quran guna membuktikan bahwa pewahyuan
Al-Quran dan pengutusan Nabi Besar
Muhammad saw. di kalangan Bani
Isma’il merupakan penggenapan nubuatan-nubuatan dalam Bible, mengenai hal itu berikut firman-Nya
kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
قُلۡ
مَا کُنۡتُ بِدۡعًا مِّنَ الرُّسُلِ وَ مَاۤ اَدۡرِیۡ مَا یُفۡعَلُ بِیۡ وَ لَا بِکُمۡ ؕ اِنۡ اَتَّبِعُ اِلَّا مَا یُوۡحٰۤی اِلَیَّ وَ مَاۤ اَنَا
اِلَّا نَذِیۡرٌ مُّبِیۡنٌ ﴿ ﴾ قُلۡ اَرَءَیۡتُمۡ
اِنۡ کَانَ مِنۡ عِنۡدِ اللّٰہِ وَ کَفَرۡتُمۡ بِہٖ وَ شَہِدَ شَاہِدٌ مِّنۡۢ بَنِیۡۤ اِسۡرَآءِیۡلَ عَلٰی مِثۡلِہٖ فَاٰمَنَ وَ اسۡتَکۡبَرۡتُمۡ ؕ اِنَّ
اللّٰہَ لَا یَہۡدِی الۡقَوۡمَ
الظّٰلِمِیۡنَ ﴿٪﴾
Katakanlah:
"Aku sekali-kali bukan rasul baru di antara rasul-rasul, dan aku sekali-kali tidak mengetahui apa yang akan diperbuat Allah
terhadapku atau pun terhadap kamu.
Aku tidak lain hanyalah mengikuti
apa yang diwahyukan kepadaku, dan aku
tidak lain hanyalah seorang pemberi
peringatan yang nyata." قُلۡ
اَرَءَیۡتُمۡ اِنۡ کَانَ مِنۡ
عِنۡدِ اللّٰہِ وَ کَفَرۡتُمۡ بِہٖ -- Katakanlah: "Terangkanlah kepadaku jika Al-Quran ini dari Allah tetapi kamu
tidak percaya kepadanya وَ شَہِدَ شَاہِدٌ مِّنۡۢ بَنِیۡۤ اِسۡرَآءِیۡلَ عَلٰی مِثۡلِہٖ فَاٰمَنَ وَ اسۡتَکۡبَرۡتُمۡ -- dan seorang
saksi dari antara Bani Israil memberi kesaksian terhadap kedatangan seseorang semisalnya lalu ia
beriman tetapi kamu berlaku sombong?"
اِنَّ اللّٰہَ لَا یَہۡدِی الۡقَوۡمَ الظّٰلِمِیۡنَ -- Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang zalim (Al-Ahqāf
[46]:11).
Makna seorang saksi dari antara Bani Israil dalam ayat: وَ شَہِدَ شَاہِدٌ مِّنۡۢ بَنِیۡۤ اِسۡرَآءِیۡلَ عَلٰی مِثۡلِہٖ فَاٰمَنَ وَ اسۡتَکۡبَرۡتُمۡ -- dan seorang
saksi dari antara Bani Israil memberi kesaksian terhadap kedatangan seseorang semisalnya lalu ia
beriman tetapi kamu berlaku sombong?"
adalah Nabi Musa a.s.. Kepada nubuatan
beliau berkenaan dengan kedatangan Nabi Besar Muhammad saw. itulah yang telah diisyaratkan dalam
ayat ini. Adapun nubuatan itu
berbunyi sebagai berikut:
18:17 Lalu berkatalah Tuhan kepadaku: Apa yang dikatakan mereka itu baik; 18:18 seorang nabi akan Kubangkitkan bagi mereka dari antara
saudara mereka, seperti engkau ini; Aku akan menaruh firman-Ku dalam mulutnya, dan ia akan
mengatakan kepada mereka segala yang Kuperintahkan kepadanya. 18:19 Orang yang tidak mendengarkan segala firman-Ku yang akan diucapkan nabi itu
demi nama-Ku, dari padanya akan Kutuntut pertanggungjawaban. (Ulangan 18:18-19).
Hubungan Taurat dengan Al-Quran yang Diwahyukan Dalam Bahasa Arab
Kemudian dalam Surah yang sama
Allah Swt. berfirman mengenai hubungan Taurat dengan Al-Quran:
وَ مِنۡ قَبۡلِہٖ کِتٰبُ مُوۡسٰۤی اِمَامًا وَّ رَحۡمَۃً ؕ وَ ہٰذَا کِتٰبٌ
مُّصَدِّقٌ لِّسَانًا عَرَبِیًّا لِّیُنۡذِرَ الَّذِیۡنَ ظَلَمُوۡا ٭ۖ وَ
بُشۡرٰی لِلۡمُحۡسِنِیۡنَ﴿ۚ﴾
Dan sebelum ini ada Kitab Musa sebagai petunjuk dan rahmat, dan Al-Quran ini adalah Kitab dalam
bahasa Arab yang menggenapinya supaya memberi peringatan kepada orang-orang zalim dan kabar gembira untuk orang-orang yang berbuat ihsan (Al-Ahqāf
[46]:13).
Kalau
firman Allah Swt. dalam surah Al-Ahqāf
[46]:11 -- yang didukung oleh Ulangan 18:18 -- menunjuk
kepada kedatangan seorang nabi yang “seperti Musa” dari antara Bani Isma’il, maka ayat ini
menunjuk ke tanah Arab sebagai tempat
turunnya nabi Allah yang akan mempunyai persamaan dengan Nabi Musa
a.s. tersebut, dan juga kepada Kitab Al-Quran
yang akan menggenapi nubuatan-nubuatan yang terkandung di dalam Kitab Musa dan juga akan diunggulinya.” Ada pun nubuatan dalam Bible tersebut adalah:
"Bahwa inilah
firman akan hal negeri Arab: Di dalam gurun
Arab kamu akan bermalam, hai kafilah
orang Dedan. Datanglah mendapatkan orang yang berdahaga sambil membawa air, hai
orang isi negeri Tema! Dan unjuklah roti kepada orang-orang yang lari
itu" (Yesaya 21:13-15).
Nubuatan tersebut mengisyaratkan kepada penempatan Nabi Isma’il a.s. ketika masih kecil dan
ibunya, Siti Hajrah, di lembah Mekkah
oleh Nabi Ibrahim a.s. sesuai dengan perintah Allah Swt. (QS.2:126-130;
QS.14:36-42) sehinggianubuatan dalam Ulangan 18:15-19 mengenai
pengutusan “nabi yang seperti Musa” dari kalangan “saudara Bani Israil” – yaitu Bani
Isma’il – menjadi genap.
Demikianlah hubungan nubuatan-nubuatan dalam Bible dengan pengulangan nubuatan-nubuatan tersebut dalam Al-Quran serta penggenapannya
berupa pengutusan Nabi Besar Muhammad
saw. yang membawa agama dan Kitab suci terakhir dan tersempurna yaitu agama
Islam dan Al-Quran (QS.5:4):
Orang yang tidak mendengarkan segala firman-Ku yang akan diucapkan nabi itu demi
nama-Ku, dari padanya akan
Kutuntut pertanggungjawaban. (Ulangan 18:19).
Pemberian Nama “Islam” Kepada Agama Terakhir dan Tersempurna
Ketika proses pewahyuan
hukum-hukum syariat tersebut telah
mencapai kesempurnaan dalam wujud wahyu Al-Quran (QS.2:107; QS.5:4)
-- yang diwahyukan Allah Swt. kepada
Nabi Besar Muhammad saw. bagi kepentingan
seluruh umat manusia (QS.2:186; QS.7:158-159; QS.21:108) -- maka barulah nama Islam diberikan kepada agama terakhir dan tersempurna tersebut, firman-Nya:
اَلۡیَوۡمَ اَکۡمَلۡتُ لَکُمۡ دِیۡنَکُمۡ وَ
اَتۡمَمۡتُ عَلَیۡکُمۡ نِعۡمَتِیۡ وَ رَضِیۡتُ لَکُمُ الۡاِسۡلَامَ دِیۡنًا
Hari ini telah Ku-sempurnakan agama kamu bagimu, telah
Kulengkapkan nikmat-Ku atas kamu, dan telah
Kusukai Islam sebagai agama bagi kamu.
(Al-Māidah
[5]:4).
Ikmāl
(menyempurnakan) dan itmām (melengkapkan) merupakan akar-akar kata
(masdar), yang pertama berhubungan dengan kaifiat (kualitas) dan yang
kedua berhubungan dengan kammiat (kuantitas). Kata yang pertama (itmām) menunjukkan bahwa ajaran-ajaran serta perintah-perintah mengenai pencapaian kemajuan jasmani, ruhani, dan akhlak manusia telah terkandung dalam
Al-Quran dalam bentuk yang paripurna;
sedang yang kedua (akmal) menunjukkan
bahwa tidak ada suatu keperluan
manusia yang lepas dari perhatian (diabaikan).
Kata yang pertama (itmām) berhubungan dengan
perintah-perintah yang bertalian dengan segi fisik atau keadaan lahiriah
manusia, sedang yang kedua (akmal) berhubungan
dengan segi ruhaniah dan batiniahnya.
Penyempurnaan dan pelengkapan agama dan nikmat Allah disebut dalam QS.5:4 berdampingan dengan hukum yang berlaku bertalian dengan makanan-makanan untuk menjelaskan bahwa penggunaan makanan yang halal dan thayyib merupakan salah satu dasar yang amat penting
untuk menumbuh-kembangkan nilai akhlak yang baik dan pada gilirannya memberi dasar tempat-berpijak guna mencapai kemajuan ruhani.
Sehubungan
dengan pemberian nama Islam kepada agama terakhir dan tersempurna yang diwahyukan
kepada Nabi Besar Muhammad Saw. tersebut dalam firman-Nya berikut ini
dikemukakan pemberian nama Muslim kepada para pemeluknya, firman-Nya:
یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوا
ارۡکَعُوۡا وَ اسۡجُدُوۡا وَ اعۡبُدُوۡا
رَبَّکُمۡ وَ افۡعَلُوا الۡخَیۡرَ
لَعَلَّکُمۡ تُفۡلِحُوۡنَ ﴿ۚٛ﴾ وَ جَاہِدُوۡا فِی
اللّٰہِ حَقَّ جِہَادِہٖ ؕ ہُوَ اجۡتَبٰىکُمۡ وَ مَا جَعَلَ عَلَیۡکُمۡ فِی
الدِّیۡنِ مِنۡ حَرَجٍ ؕ مِلَّۃَ
اَبِیۡکُمۡ اِبۡرٰہِیۡمَ ؕ ہُوَ سَمّٰىکُمُ الۡمُسۡلِمِیۡنَ ۬ۙ مِنۡ قَبۡلُ
وَ فِیۡ ہٰذَا لِیَکُوۡنَ الرَّسُوۡلُ
شَہِیۡدًا عَلَیۡکُمۡ وَ تَکُوۡنُوۡا شُہَدَآءَ عَلَی النَّاسِ ۚۖ فَاَقِیۡمُوا
الصَّلٰوۃَ وَ اٰتُوا الزَّکٰوۃَ وَ اعۡتَصِمُوۡا بِاللّٰہِ ؕ ہُوَ مَوۡلٰىکُمۡ
ۚ فَنِعۡمَ الۡمَوۡلٰی وَ نِعۡمَ النَّصِیۡرُ ﴿٪﴾
Hai orang-orang yang beriman, rukuklah kamu, dan sujudlah, serta sembahlah Rabb (Tuhan) kamu, dan berbuatlah kebaikan supaya kamu memperoleh
kebahagiaan. جَاہِدُوۡا فِی اللّٰہِ حَقَّ جِہَادِہٖ وَ -- Dan
berjihadlah kamu di jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya, ہُوَ اجۡتَبٰىکُمۡ وَ مَا جَعَلَ عَلَیۡکُمۡ
فِی الدِّیۡنِ مِنۡ حَرَجٍ -- Dia
telah memilih kamu, dan Dia tidak
menjadikan kesukaran pada kamu dalam urusan agama, ؕ
مِلَّۃَ اَبِیۡکُمۡ اِبۡرٰہِیۡمَ -- Ikutilah agama bapak kamu, Ibrahim,
ہُوَ سَمّٰىکُمُ الۡمُسۡلِمِیۡنَ ۬ۙ
مِنۡ قَبۡلُ وَ فِیۡ ہٰذَا -- Dia telah memberi kamu nama Muslimin dahulu
dan dalam Kitab ini, لِیَکُوۡنَ الرَّسُوۡلُ شَہِیۡدًا عَلَیۡکُمۡ
وَ تَکُوۡنُوۡا شُہَدَآءَ عَلَی النَّاسِ -- supaya
Rasul itu menjadi saksi atas kamu dan supaya
kamu menjadi saksi atas umat manusia. فَاَقِیۡمُوا الصَّلٰوۃَ وَ
اٰتُوا الزَّکٰوۃَ وَ اعۡتَصِمُوۡا بِاللّٰہِ
ؕ -- Maka dirikanlah shalat, bayarlah zakat, dan berpegang
teguhlah kepada Allah. ہُوَ
مَوۡلٰىکُمۡ ۚ فَنِعۡمَ الۡمَوۡلٰی وَ نِعۡمَ النَّصِیۡر -- Dia Pelindung
kamu maka Dia-lah sebaik-baik Pelindung
dan sebaik-baik Penolong. (Al-Hājj
[22]:78-79).
Kata-kata ہُوَ سَمّٰىکُمُ الۡمُسۡلِمِیۡنَ ۬ۙ مِنۡ قَبۡلُ وَ فِیۡ ہٰذَا -- Dia telah memberi
kamu nama Muslimin dahulu dan dalam Kitab ini“ menunjuk kepada nubuatan Nabi Yesaya a.s.:
“Maka engkau
akan disebut dengan nama yang baharu, yang akan ditentukan oleh firman Tuhan .....” (Yesaya 62:2 dan 65:15).
Nubuatan Pengutusan Nabi
Besar Muhammad Saw. & Makna “Perjanjian
Nabi-nabi”
Jadi, sesuai dengan Sifat Rabubiyat Allah Swt. maka proses penyempurnaan
wahyu syariat pun diturunkan secara bertahap, dan itulah sebabnya pengutusan Nabi
Besar Muhammad saw. yang membawa syariat
terakhir dan tersempurna tersebut telah dinubuatkan
oleh para rasul Allah sebelumnya --
terutama dalam Taurat dan Injil
-- firman-Nya:
وَ اِذۡ اَخَذَ اللّٰہُ مِیۡثَاقَ
النَّبِیّٖنَ لَمَاۤ اٰتَیۡتُکُمۡ مِّنۡ کِتٰبٍ وَّ حِکۡمَۃٍ ثُمَّ جَآءَکُمۡ
رَسُوۡلٌ مُّصَدِّقٌ لِّمَا مَعَکُمۡ لَتُؤۡمِنُنَّ بِہٖ وَ لَتَنۡصُرُنَّہٗ ؕ
قَالَ ءَاَقۡرَرۡتُمۡ وَ اَخَذۡتُمۡ عَلٰی ذٰلِکُمۡ اِصۡرِیۡ ؕ قَالُوۡۤا اَقۡرَرۡنَا
ؕ قَالَ فَاشۡہَدُوۡا وَ اَنَا مَعَکُمۡ مِّنَ
الشّٰہِدِیۡنَ ﴿﴾
Dan ingatlah ketika Allah mengambil perjanjian
dari manusia melalui nabi-nabi: لَمَاۤ اٰتَیۡتُکُمۡ مِّنۡ کِتٰبٍ وَّ حِکۡمَۃٍ ثُمَّ جَآءَکُمۡ
رَسُوۡلٌ مُّصَدِّقٌ لِّمَا مَعَکُمۡ -- “Apa
saja yang Aku berikan kepada kamu berupa Kitab dan Hikmah,
kemudian datang kepada kamu seorang
rasul yang menggenapi apa
yang ada padamu, لَتُؤۡمِنُنَّ
بِہٖ وَ لَتَنۡصُرُنَّہٗ -- kamu benar-benar harus beriman kepadanya dan kamu benar-benar harus membantunya.” قَالَ ءَاَقۡرَرۡتُمۡ وَ اَخَذۡتُمۡ عَلٰی
ذٰلِکُمۡ اِصۡرِیۡ -- Dia berfirman: “Apakah
kamu mengakui dan menerima tanggung-jawab yang Aku bebankan kepada kamu mengenai itu?” قَالُوۡۤا اَقۡرَرۡنَا -- Mereka berkata: “Kami mengakui.” قَالَ فَاشۡہَدُوۡا وَ اَنَا مَعَکُمۡ
مِّنَ الشّٰہِدِیۡنَ -- Dia
berfirman: “Maka bersaksilah dan Aku
pun beserta kamu termasuk orang-orang yang menjadi saksi.” (Āli ‘Imran [3]:82).
Ungkapan mītsaq an-nabiyyīn dapat
berarti “perjanjian nabi-nabi dengan
Tuhan” atau “perjanjian yang diambil
Tuhan dari orang-orang dengan perantaraan nabi-nabi mereka”. Ungkapan ini
telah dipakai di sini dalam artian yang kedua, sebab qira'ah (pembacaan) lain
seperti yang didukung oleh Ubayy bin Ka’b dan ‘Abdullah bin Mas’ud ialah mītsaq
alladzīna ūtul Kitāb, yang artinya “perjanjian
mereka yang diberi Kitab” (Muhith).
Penafsiran ini didukung pula oleh
kata-kata berikut, yaitu: ثُمَّ
جَآءَکُمۡ رَسُوۡلٌ مُّصَدِّقٌ لِّمَا مَعَکُمۡ -- “kemudian datang kepada kamu seorang
rasul yang menggenapi apa yang ada pada kamu”,
sebab kepada orang-orang (kaum) rasul-rasul
Allah datang dan bukan kepada nabi-nabi
mereka.
Itulah sebabnya Allah Swt. telah berfirman
mengenai nubuatan-nubuatan dalam Bible berkenaan pengutusan Nabi Besar Muhammad saw. dari kalangan Bani Isma’il benar-benar diketahui oleh para ulama Bani Israil, bagaikan mengenal
anak-anak mereka sendiri, firman-Nya:
اَلَّذِیۡنَ اٰتَیۡنٰہُمُ الۡکِتٰبَ
یَعۡرِفُوۡنَہٗ کَمَا یَعۡرِفُوۡنَ اَبۡنَآءَہُمۡ ؕ وَ اِنَّ فَرِیۡقًا مِّنۡہُمۡ
لَیَکۡتُمُوۡنَ الۡحَقَّ وَ ہُمۡ یَعۡلَمُوۡنَ ﴿﴾ؔ اَلۡحَقُّ مِنۡ رَّبِّکَ فَلَا تَکُوۡنَنَّ مِنَ
الۡمُمۡتَرِیۡنَ ﴿﴾٪
Orang-orang
yang telah Kami beri kitab, mereka mengenalnya sebagaimana mereka mengenal anak-anaknya, وَ اِنَّ فَرِیۡقًا مِّنۡہُمۡ
لَیَکۡتُمُوۡنَ الۡحَقَّ وَ ہُمۡ یَعۡلَمُوۡنَ -- dan
sesungguhnya segolongan dari mereka
benar-benar menyembunyikan kebenaran padahal mereka mengetahui. اَلۡحَقُّ مِنۡ رَّبِّکَ فَلَا تَکُوۡنَنَّ مِنَ
الۡمُمۡتَرِیۡنَ -- Kebenaran ini dari Rabb
(Tuhan) engkau, maka janganlah engkau
termasuk orang-orang yang ragu. (Al-Baqarah [2]:147-148). Lihat pula
QS.6:21; QS.26:193-198.
Ya’rifuna-hu dalam ayat:
اَلَّذِیۡنَ
اٰتَیۡنٰہُمُ الۡکِتٰبَ یَعۡرِفُوۡنَہٗ کَمَا یَعۡرِفُوۡنَ اَبۡنَآءَہُمۡ -- “Orang-orang yang telah Kami beri kitab, mereka mengenalnya sebagaimana mereka mengenal anak-anaknya“ berasal dari ‘arafa yang berarti ia mengetahui atau mengenal atau melihat
sesuatu. Meskipun kata itu dipakai pula mengenai ilmu yang diperoleh melalui pancaindra
jasmani, kata itu terutama dipakai mengenai ilmu yang diperoleh lewat renungan
dan tafakur (Al-Mufradat) sebagaimana dikemukakan dalam QS.3:191-195 mengenai “ulul-albāb” (orang-orang yang berakal).
Amanat Allah Kepada Bani
Adam Mengenai Kesinambungan
Pengutusan Rasul Allah
Kata mushaddiq
dalam ayat ثُمَّ
جَآءَکُمۡ رَسُوۡلٌ مُّصَدِّقٌ لِّمَا مَعَکُمۡ -- “kemudian datang kepada kamu seorang
rasul yang menggenapi apa yang ada pada kamu” (QS.3:82), telah dipakai di sini
untuk menyatakan tolok ukur yang
dengan tolok ukur itu pendakwa yang benar dapat dibedakan dari seorang pendakwa
yang palsu. Secara tepat kata mushaddiq itu telah diterjemahkan di
sini sebagai “menggenapi”, sebab
hanya dengan “menggenapi” dalam dirinya maka nubuatan-nubuatan yang
terkandung dalam Kitab-kitab wahyu
terdahulu maka seorang pendakwa dapat dibuktikan kebenarannya.
Makna ayat
selanjutnya: قَالَ فَاشۡہَدُوۡا وَ اَنَا مَعَکُمۡ
مِّنَ الشّٰہِدِیۡنَ -- Dia
berfirman: “Maka bersaksilah dan Aku
pun beserta kamu termasuk orang-orang yang menjadi saksi” (QS.3:82)
dianggap pula berlaku kepada para nabi Allah
pada umumnya dan khususnya kepada Nabi Besar
Muhammad saw. Kedua
pemakaian itu tepat.
Ayat tersebut menetapkan suatu peraturan umum. Kedatangan setiap nabi Allah terjadi sebagai penggenapan nubuatan-nubuatan tertentu yang dibuat
oleh seorang nabi Allah yang mendahuluinya,
ketika nabi Allah tersebut menyuruh
pengikutnya supaya menerima
dan beriman
kepada nabi Allah yang berikutnya kapan pun nabi Allah itu datang, firman-Nya:
وَ لِکُلِّ اُمَّۃٍ اَجَلٌ ۚ فَاِذَا جَآءَ
اَجَلُہُمۡ لَا یَسۡتَاۡخِرُوۡنَ
سَاعَۃً وَّ لَا یَسۡتَقۡدِمُوۡنَ ﴿﴾ یٰبَنِیۡۤ اٰدَمَ اِمَّا یَاۡتِیَنَّکُمۡ رُسُلٌ مِّنۡکُمۡ
یَقُصُّوۡنَ عَلَیۡکُمۡ اٰیٰتِیۡ ۙ فَمَنِ اتَّقٰی وَ اَصۡلَحَ فَلَا خَوۡفٌ
عَلَیۡہِمۡ وَ لَا ہُمۡ یَحۡزَنُوۡنَ ﴿﴾ وَ
الَّذِیۡنَ کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا وَ اسۡتَکۡبَرُوۡا عَنۡہَاۤ اُولٰٓئِکَ اَصۡحٰبُ النَّارِ ۚ ہُمۡ فِیۡہَا
خٰلِدُوۡنَ ﴿﴾
Dan bagi tiap-tiap
umat ada batas waktu, maka apabila
telah datang batas waktunya, mereka tidak
dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak pula dapat memajukannya.
یٰبَنِیۡۤ
اٰدَمَ اِمَّا یَاۡتِیَنَّکُمۡ
رُسُلٌ مِّنۡکُمۡ یَقُصُّوۡنَ عَلَیۡکُمۡ اٰیٰتِیۡ -- Wahai Bani
Adam, jika datang kepada kamu rasul-rasul dari antara kamu
yang membacakan Ayat-ayat-Ku kepada kamu, maka barangsiapa bertakwa dan memperbaiki diri,
maka tidak akan ada ketakutan menimpa
mereka dan tidak pula mereka akan
bersedih hati. وَ الَّذِیۡنَ کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا وَ
اسۡتَکۡبَرُوۡا عَنۡہَاۤ اُولٰٓئِکَ
اَصۡحٰبُ النَّارِ -- Dan orang-orang
yang mendustakan Ayat-ayat Kami dan dengan
takabur berpaling darinya mereka itu penghuni Api, ہُمۡ
فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ -- mereka kekal
di dalamnya. (Al-A’rāf [7]:35-37).
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran Anyar,
18 Januari 2017
Tidak ada komentar:
Posting Komentar