Senin, 30 Januari 2017

Makna "Dihancurkan-Nya Gunung-gunung" dan "Merunduknya Semua Suara" di Hadapam Allah Swt. di "Akhir Zaman" & 'Ulama Hakiki Umat Islam dan "Dua Periode" Para "Khalifah" Nabi Besar Muhammad Saw.



 
Bismillaahirrahmaanirrahiim

  ISLAM
Pidato  Mirza Ghulam Ahmad a.s.
Tgl. 2 November 1904 di Kota Sialkote – Hindustan

Bab  7

MAKNA “DIHANCURKAN-NYA GUNUNG-GUNUNG” DAN  MERUNDUKNYA SEMUA SUARA” DI HADAPAN ALLAH SWT. DI AKHIR ZAMAN  & 'ULAMA HAKIKI UMAT ISLAM DAN DUA PERIODE  TERPISAH PARA KHALIFAH NABI BESAR MUHAMMAD SAW.

Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam bagian akhir Bab 6  telah dijelaskan topik    Menantang Mempercepat  Azab Ilahi yang Dijanjikan & Orang-orang “Yang Bermata Biru”, berkenan dengan surah Al-Hajj  ayat 46-48, bahwa   jelas   orang-orang mati, orang-orang buta, dan orang-orang tuli, yang dibicarakan dalam ayat tersebut  atau di tempat lain dalam Al-Quran adalah  orang-orang yang ditilik dari segi ruhani telah mati, buta, dan tuli (QS.2:19; QS.17:73; QS.20:125-128), firman-Nya:
فَکَاَیِّنۡ مِّنۡ قَرۡیَۃٍ  اَہۡلَکۡنٰہَا وَ ہِیَ ظَالِمَۃٌ  فَہِیَ خَاوِیَۃٌ عَلٰی عُرُوۡشِہَا وَ بِئۡرٍ  مُّعَطَّلَۃٍ   وَّ  قَصۡرٍ  مَّشِیۡدٍ ﴿﴾  اَفَلَمۡ یَسِیۡرُوۡا فِی الۡاَرۡضِ فَتَکُوۡنَ لَہُمۡ قُلُوۡبٌ یَّعۡقِلُوۡنَ بِہَاۤ  اَوۡ اٰذَانٌ یَّسۡمَعُوۡنَ بِہَا ۚ فَاِنَّہَا لَا تَعۡمَی الۡاَبۡصَارُ  وَ لٰکِنۡ  تَعۡمَی الۡقُلُوۡبُ الَّتِیۡ فِی الصُّدُوۡرِ ﴿﴾  
Dan berapa banyak kota yang Kami telah  membinasakannya, yang penduduknya sedang berbuat zalim  lalu  dinding-dindingnya  jatuh atas atapnya, dan sumur yang telah ditinggalkan dan istana yang menjulang tinggi.    Maka apakah mereka tidak berpesiar di bumi, lalu  menjadikan hati mereka memahami dengannya   atau menjadikan telinga  mereka mendengar dengannya?  فَاِنَّہَا لَا تَعۡمَی الۡاَبۡصَارُ  وَ لٰکِنۡ  تَعۡمَی الۡقُلُوۡبُ الَّتِیۡ فِی الصُّدُوۡرِ --  Maka sesungguhnya bukan mata yang buta  tetapi yang buta adalah hati yang ada dalam dada. (Al-Hājj [22]:46-47).

Menantang Mempercepat Kedatangan Azab yang Dijanjikan

        Demikian rupa  butanya mata ruhani mereka dari berbagai mukjizat mau pun Tanda-tanda Ilahi yang mendukung kebenaran pendakwaan Nabi Besar Muhammad saw., sehingga  bahkan dengan takabbur menantang agar segera mendatangkan  azab Ilahi  yang dijanjikan Allah Swt. kepada mereka,   firman-Nya:
وَ  یَسۡتَعۡجِلُوۡنَکَ بِالۡعَذَابِ وَ لَنۡ یُّخۡلِفَ اللّٰہُ وَعۡدَہٗ ؕ وَ اِنَّ یَوۡمًا عِنۡدَ رَبِّکَ  کَاَلۡفِ  سَنَۃٍ   مِّمَّا  تَعُدُّوۡنَ ﴿﴾ وَ کَاَیِّنۡ مِّنۡ قَرۡیَۃٍ  اَمۡلَیۡتُ لَہَا وَ ہِیَ ظَالِمَۃٌ  ثُمَّ اَخَذۡتُہَا ۚ وَ اِلَیَّ الۡمَصِیۡرُ ﴿٪﴾
Dan mereka meminta kepada engkau untuk mempercepat azab, tetapi Allah  tidak akan pernah mengingkari janji-Nya. وَ اِنَّ یَوۡمًا عِنۡدَ رَبِّکَ  کَاَلۡفِ  سَنَۃٍ   مِّمَّا  تَعُدُّوۡنَ --  Dan sesungguhnya satu hari di sisi Rabb (Tuhan) engkau  seperti seribu tahun menurut perhitungan kamu. وَ کَاَیِّنۡ مِّنۡ قَرۡیَۃٍ  اَمۡلَیۡتُ لَہَا وَ ہِیَ ظَالِمَۃٌ  ثُمَّ اَخَذۡتُہَا ۚ وَ اِلَیَّ الۡمَصِیۡرُ  -- Dan berapa banyaknya kota telah Aku memberi tangguh baginya padahal dia berlaku zalim.  Kemudian Aku menangkapnya dan kepada Aku-lah kembali mereka. (Al-Hājj [22]:48-49).
       Nabi Besar Muhammad saw.  menurut riwayat pernah bersabda bahwa tiga abad pertama Islam akan merupakan masa yang terbaik, sesudah itu kepalsuan akan tersebar dan suatu masa kegelapan akan datang dan meluas sampai seribu tahun (Tirmidzi). Masa 1000 tahun ini dipersamakan dengan satu hari (QS.32:6).
       Dalam masa  kemunduran yang melanda umat Islam tersebut  satu kaum yang bermata biru   -- yakni Ya’juj (Gog) dan Ma’juj (Magog)  atau bangsa-bangsa Kristen dari barat   (QS.21:96-97)   -- akan bangkit dan menyebar luas ke seluruh dunia (QS.20:103-104).
       Orang-orang bermata biru itulah yang karena sombong dan takaburnya  -- yang diakibatkan oleh karena memperoleh kemuliaan duniawi dan kekuasaan politik, telah digambarkan memberi tantangan kepada Nabi Besar Muhammad saw.   untuk mempercepat kedatangan  azab Ilahi  yang — begitulah dikatakan oleh beliau saw. dalam ayat tersebut— akan menimpa mereka pada waktu yang ditentukan dan dijanjikan itu, yakni  dalam jangka waktu 1000 tahun setelah      3 abad masa kejayaan Islam yang pertama, dan azab Ilahi yang dijanjikan Allah Swt. tersebut   berupa   Perang Dunia I dan Perang Dunia II.

Makna “Peniupan Nafiri” & Makna  Orang-orang yang Bermata Biru

       Demikian pula Perang Dunia III atau Perang Nuklir  pun sedang mengancam umat manusia, karena sekali pun Rasul Akhir Zaman  yang kedatangannya dijanjikan telah datang – yakni Mirza Ghulam Ahmad a.s. atau Masih Mau’ud a.s.   -- tetapi umumnya umat manusia tetap melakukan pendustaan dan penentangan terhadap beliau a.s., firman-Nya:
یَّوۡمَ یُنۡفَخُ فِی الصُّوۡرِ وَ نَحۡشُرُ الۡمُجۡرِمِیۡنَ  یَوۡمَئِذٍ  زُرۡقًا ﴿﴾ۚۖ یَّتَخَافَتُوۡنَ بَیۡنَہُمۡ  اِنۡ لَّبِثۡتُمۡ اِلَّا عَشۡرًا ﴿﴾ نَحۡنُ اَعۡلَمُ بِمَا یَقُوۡلُوۡنَ اِذۡ یَقُوۡلُ اَمۡثَلُہُمۡ طَرِیۡقَۃً اِنۡ لَّبِثۡتُمۡ اِلَّا یَوۡمًا ﴿﴾٪
Hari ketika  nafiri akan ditiup, dan Kami akan menghimpun orang-orang berdosa yang bermata biru pada hari itu. یَّتَخَافَتُوۡنَ بَیۡنَہُمۡ  اِنۡ لَّبِثۡتُمۡ اِلَّا عَشۡرًا --   Mereka saling berbisik-­bisik di antara mereka: "Tidaklah kamu akan  tinggal melainkan hanya sepuluh."  Kami lebih mengetahui mengenai apa yang akan mereka katakan ketika  berkata orang yang paling baik cara hidupnya  di antara mereka: "Tidaklah kamu tinggal melainkan sehari." (Thā Hā [20]:103-105).
    Makna nafiri  dalam kalimat: یَّوۡمَ یُنۡفَخُ فِی الصُّوۡرِ  -- “Hari ketika  nafiri akan ditiup” mengisyaratkan Rasul Akhir Zaman yang mengumandangkan seruan Allah Swt.  (Al-Quran) sedangkan: وَ نَحۡشُرُ الۡمُجۡرِمِیۡنَ  یَوۡمَئِذٍ  زُرۡقًا  -- “dan Kami akan menghimpun orang-orang berdosa yang bermata biru pada hari itu,“ isyarat dalam ayat ini nampaknya terutama ditujukan kepada bangsa­-bangsa Kristen dari barat yang bermata biru, dan mereka itu buta mata ruhaninya serta menyimpan rasa benci tidak kunjung padam terhadap Islam dan Nabi Besar Muhammad saw., walau pun dari segi duniawi “mata” mereka sangat tajam penglihatannya  --  sehingga memperoleh berbagai keberhasilan duniawi  --  tetapi   mata ruhaninya  buta”,  itulah sebabnya Nabi Besar Muhammad saw. secara  kiasan menyebut mereka  “Dajjal”,  si pendusta besar yang matanya buta sebelah yang pada jidatnya ada tulisan “kafara” (kafir). 
    Dalam surah lain “orang yang bermata biru” tersebut  dikatakan   “orang yang pada matanya  ada tutupan” (QS.18:100-102), yang tidak menghiraukan peringatan Allah Swt. dalam Al-Quran  yang disampaikan Nabi Besar Muhammad saw QS.18:1-9).        Makna  "sepuluh" dalam ayat:  اِنۡ لَّبِثۡتُمۡ اِلَّا عَشۡرًا --   "Tidaklah kamu akan  tinggal melainkan hanya sepuluh"  berarti sepuluh abad. Isyarat itu ditujukan kepada sepuluh abad sesudah Hijrah, yang selama itu bangsa-bangsa Eropa hampir tetap dalam keadaan tidur (berleha-leha) belaka (QS.18:19).
     Baru pada permulaan abad ke-17  bangsa-­bangsa Eropa keluar dari keadaan “tidurnya” lalu mulai menyebar ke seluruh dunia serta menaklukkan berbagai kawasan  dunia   -- termasuk Hindustan dan Nusantara  serta menjajah    kawasan  Nusantara   selama 350 tahun  --  yaitu kira-kira 1000 tahun sesudah  Nabi Besar Muhammad saw.  mulai bertabligh (berda’wah) pada awal abad ke-7, sesuai dengan nubuatan dalam Bible digambarkan sebagai pelepasan sementara iblis setan, si ular tua dari masa “pemenjaraan 1000 tahun” (Wahyu 20:7-10).
   Makna thariqat al-qaum    dalam ayat selanjutnya: نَحۡنُ اَعۡلَمُ بِمَا یَقُوۡلُوۡنَ اِذۡ یَقُوۡلُ اَمۡثَلُہُمۡ طَرِیۡقَۃً اِنۡ لَّبِثۡتُمۡ اِلَّا یَوۡمًا  -- “Kami lebih mengetahui mengenai apa yang akan mereka katakan ketika  berkata orang yang paling baik cara hidupnya  di antara mereka: "Tidaklah kamu tinggal melainkan sehari" (Thā Hā [20]:105)   berarti kaum yang terbaik atau paling lurus (Aqrab-ul-Mawarid).

Makna “Dihancurkannya Gunung-gunung” & Bangkitnya Sosialisme dan Demokrasi

   Yaum (hari) dalam  surah  Thā Hā [20]:105 berarti seribu tahun yang disinggung dalam QS.22:48 dan bersesuaian dengan "sepuluh" yang tersebut dalam ayat yang mendahuluinya, yaitu sepuluh abad atau 1000 tahun. Yaum berarti pula waktu yang hakiki. Dalam pengertian inilah maka orang-orang kafir - ketika ditimpa oleh azab Ilahi   berupa tiga kali Perang Dunia  -- dikarenakan demikian mengerikan akibat-akibat yang ditimbulkannya – maka  dilukiskan mengatakan bahwa masa kesejahteraan dan kemajuan mereka itu hanya berlaku “satu hari” saja, yaitu sangat pendek, sebagaimana    digambarkan dalam firman Allah Swt. selanjutnya:
وَ یَسۡـَٔلُوۡنَکَ عَنِ الۡجِبَالِ فَقُلۡ یَنۡسِفُہَا رَبِّیۡ  نَسۡفًا ﴿﴾ۙ  فَیَذَرُہَا  قَاعًا صَفۡصَفًا ﴿﴾ۙ  لَّا  تَرٰی  فِیۡہَا عِوَجًا  وَّ  لَاۤ   اَمۡتًا ﴿﴾ؕ یَوۡمَئِذٍ یَّتَّبِعُوۡنَ الدَّاعِیَ لَا عِوَجَ لَہٗ ۚ وَ خَشَعَتِ الۡاَصۡوَاتُ لِلرَّحۡمٰنِ فَلَا تَسۡمَعُ   اِلَّا ہَمۡسًا ﴿﴾  یَوۡمَئِذٍ لَّا تَنۡفَعُ الشَّفَاعَۃُ  اِلَّا مَنۡ اَذِنَ  لَہُ  الرَّحۡمٰنُ  وَ رَضِیَ  لَہٗ  قَوۡلًا ﴿﴾  یَعۡلَمُ مَا بَیۡنَ اَیۡدِیۡہِمۡ  وَ مَا خَلۡفَہُمۡ  وَ لَا یُحِیۡطُوۡنَ  بِہٖ  عِلۡمًا ﴿﴾  وَ عَنَتِ الۡوُجُوۡہُ  لِلۡحَیِّ الۡقَیُّوۡمِ ؕ وَ قَدۡ خَابَ  مَنۡ  حَمَلَ  ظُلۡمًا ﴿﴾
Dan  mereka bertanya kepada engkau mengenai gunung-­gunung itu,  maka katakanlah: "Rabb-ku (Tuhan-ku) akan menghancurkan­nya sehancur-hancurnya, maka Dia akan meninggalkannya sebagai tanah datar yang gersang.  Engkau tidak akan melihat di dalamnya kerendahan dan ketinggian.  Pada hari itu mereka akan mengikuti Penyeru,  tidak ada kebengkokan dalam ajarannya, dan semua suara akan merendah di hadapan Tuhan Yang Maha Pemurah dan tidak  engkau akan men­dengar kecuali bisikan.  Pada hari itu  syafaat tidak bermanfaat kecuali orang yang telah mendapat izin baginya dari Tuhan Yang Maha Pemurah dan perkataannya telah diridhai. Dia mengetahui apa yang ada di hadapan mereka dan apa yang ada di belakang mereka,  dan tidaklah mereka dapat meliputi­-Nya dengan ilmunya.  Dan akan tunduk semua pemuka di hadapan Yang Maha-hidup. Yang Tegak atas Dzat­-Nya Sendiri dan Penegak segala sesuatu. Dan  sungguh  rugilah siapa yang memikul beban ke­zaliman. (Thā Hā [20]:106-112).
    Isyarat dalam kata al-jibāl (gunung-gunung) dalam ayat: وَ یَسۡـَٔلُوۡنَکَ عَنِ الۡجِبَالِ فَقُلۡ یَنۡسِفُہَا رَبِّیۡ  نَسۡفًا  -- “Dan  mereka bertanya kepada engkau mengenai gunung-­gunung itu,  maka katakanlah: "Rabb-ku (Tuhan-ku) akan menghancurkan­nya sehancur-hancurnya,”    ditujukan kepada Ya’juj (Gog) dan Majuj (Magog) (QS.21:96-97), yaitu  bangsa-bangsa Kristen dari barat yang gagah-perkasa.
 Nubuatan dalam ayat ini bertalian dengan kehancuran mereka secara total. Kehancuran dunia barat telah mulai berjalan sejak beberapa lama. Perang Dunia I dan perang Dunia II  telah sangat melemahkannya (Spengler's "Decline of the West" & Toynbee's "A Study of History"), sebagaimana dinubuatkan dalam  QS.18:1-9.   
  Isyarat ini ayat: فَیَذَرُہَا  قَاعًا صَفۡصَفًا  --   "Maka Dia akan meninggal-kannya sebagai tanah datar yang gersang.    Engkau tidak akan melihat di dalamnya kerendahan dan ketinggian” rupanya ditujukan kepada bangkitnya sosialisme dan demokrasi, ketika kerajaan-kerajaan besar lagi gagah-perkasa penganut kapitalisme yang memiliki kekuasaan absolute akan tersapu bersih – contohnya di Rusia  -- dan akan terjadi kemerataan dalam taraf kehidupan sosial dan ekonomi pada berbagai sektor kehidupan masyarakat, yakni bangkitnya faham  sosialisme yang merupakan antitesis  paham kapitalisme,   yang kemudian menjadi dua Blok besar dunia yang saling berhadapan yang maisng-maisng dipimpin oleh Amerika Serikat & sekutunya dan Uni Sovyet (Rusia) serta Cina  & sekutunya.

Penyeru” dari Allah Swt. &  Makna Merunduknya “Semua Suara” di Hadapan Allah Swt.

  Makna “Penyeru” dalam ayat:  یَوۡمَئِذٍ یَّتَّبِعُوۡنَ الدَّاعِیَ لَا عِوَجَ لَہٗ  -- “Pada hari itu mereka akan mengikuti Penyeru, tidak ada kebengkokan dalam ajarannya  adalah  Nabi Besar Muhammad saw.   dan   Masih Mau’ud a.s. yang merupakan kedatangan kedua kali beliau saw. di Akhir Zaman (QS.62:3-4) yang akan terwujudnya “langit baru dan bumi baru (QS.14:47-53; QS.39:69-71) yang merupakan kejayaan Islam kedua di Akhir Zaman ini ( QS.61:10). 
Makna ayat selanjutnya:  وَ خَشَعَتِ الۡاَصۡوَاتُ لِلرَّحۡمٰنِ فَلَا تَسۡمَعُ   اِلَّا ہَمۡسًا -- “dan semua suara akan merendah di hadapan Tuhan Yang Maha Pemurah dan tidak  engkau akan men­dengar kecuali bisikan“, bahwa semua  teori kehidupan yang selama itu dibanggakan  -- terutama Kapitalisme, Sosialisme dan Demokrasi yang kebablasan  --  akan terbukti gagal dan yang akan eksis (muncul dengan kokoh) adalah ajaran Islam (Al-Quran) sebagaimana yang difahami  dan diamalkan oleh Nabi Besar Muhammad saw. – sebagai “rahmat bagi seluruh alam” (QS.21:108) -- dan yang dihidupkan lagi oleh Masih Mau’ud a.s. serta jamaah beliau  (Jemaat Muslim Ahmadiyah) yang dipimpin para Khalifatul Masih,    sebagaimana dijelaskan lebih lanjut:  یَوۡمَئِذٍ لَّا تَنۡفَعُ الشَّفَاعَۃُ  اِلَّا مَنۡ اَذِنَ  لَہُ  الرَّحۡمٰنُ  وَ رَضِیَ  لَہٗ  قَوۡلًا -- “Pada hari itu  syafaat tidak bermanfaat kecuali orang yang telah mendapat izin baginya dari Tuhan Yang Maha Pemurah dan perkataannya telah diridhai.
          Makna  kalimat  "Apa yang ada di belakang mereka" dalam ayat: یَعۡلَمُ مَا بَیۡنَ اَیۡدِیۡہِمۡ  وَ مَا خَلۡفَہُمۡ  وَ لَا یُحِیۡطُوۡنَ  بِہٖ  عِلۡمًا  -- “Dia mengetahui apa yang ada di hadapan mereka dan apa yang ada di belakang mereka,  dan tidaklah mereka dapat meliputi­-Nya dengan ilmunya“ menunjuk kepada hasil-hasil besar yang sebelumnya telah mereka capai, dan kata-kata: "Apa yang ada di hadapan mereka" merujuk kepada hasil-hasil besar yang diharapkan akan mereka peroleh di masa mendatang, bahwa  semuanya dan segala sesuatunya ada dalam pengetahuan Allah Swt.
    Makna “wujuh” (wajah-wajah) dalam ayat selanjutnya: وَ عَنَتِ الۡوُجُوۡہُ  لِلۡحَیِّ الۡقَیُّوۡمِ ؕ    -- “Dan akan tunduk semua wajah (wujuh)   di hadapan Yang Maha-hidup, Yang Tegak atas Dzat­Nya Sendiri dan Penegak segala sesuatu    makna  “wujuh” adalah       pemimpin-pemimpin besar (Aqrab-ul-Mawarid), artinya pada waktu terwujudnya kejayaan Islam yang kedua kali di Akhir Zaman melalui perjuangan Rasul Akhir Zaman  (Masih Mau’ud a.s.) dan Jamaa’ahnya  yang dipimpin para Khalifatul Masih  (QS.62:3-4) maka semua “wujuh” (para pemimpin besar)  akan  beriman kepada “Penyeru  dari Allah“ tersebut (QS.3:191-196) serta akan mengikuti petunjuknya berdasarkan Al-Quran dan Sunnah Nabi Besar Muhammad saw.,   sebab semua sistem dan teori    yang selama itu dijalankan terbukti senantiasa mengalami kegagalan dan menjerumuskan kepada “kobaran api,”  karena   tidak disertai petunjuk dan bantuan Allah Swt., Wujud Yang Maha Mengetahui yang gaib  mau pun yang nyata, sesuai firman-Nya:    وَ قَدۡ خَابَ  مَنۡ  حَمَلَ  ظُلۡمًا  --  “Dan  sungguh  rugilah siapa yang memikul beban ke­zaliman.” (Thā Hā [20]: 112). 

Ulama Hakiki atau Ulul-Albāb

       Demikianlah makna surah Thā Hā ayat  106-112  yang penuh dengan nubuatan yang telah, sedang dan yang akan terjadi di Akhir Zaman ini, tetapi kenyataan tersebut hanya dapat dimengerti oleh ‘ulama hakiki yang dikemukakan dalam firman Allah Swt. sebelum ini:
اَلَمۡ  تَرَ  اَنَّ اللّٰہَ  اَنۡزَلَ مِنَ  السَّمَآءِ  مَآءً ۚ فَاَخۡرَجۡنَا بِہٖ ثَمَرٰتٍ  مُّخۡتَلِفًا  اَلۡوَانُہَا ؕ وَ مِنَ الۡجِبَالِ جُدَدٌۢ  بِیۡضٌ وَّ حُمۡرٌ  مُّخۡتَلِفٌ اَلۡوَانُہَا وَ غَرَابِیۡبُ سُوۡدٌ ﴿﴾  وَ مِنَ النَّاسِ وَ الدَّوَآبِّ وَ الۡاَنۡعَامِ مُخۡتَلِفٌ اَلۡوَانُہٗ  کَذٰلِکَ ؕ اِنَّمَا یَخۡشَی اللّٰہَ مِنۡ عِبَادِہِ  الۡعُلَمٰٓؤُا ؕ اِنَّ اللّٰہَ عَزِیۡزٌ  غَفُوۡرٌ ﴿﴾
Apakah engkau tidak melihat  bahwasanya Allah menurunkan air dari awan, dan Kami mengeluarkan dengan air itu buah-buahan yang beraneka warnanya. Dan di gunung-gunung ada garis-garis putih, merah dengan beraneka macam warnanya, dan ada yang sehitam burung gagak?  وَ مِنَ النَّاسِ وَ الدَّوَآبِّ وَ الۡاَنۡعَامِ مُخۡتَلِفٌ اَلۡوَانُہٗ  کَذٰلِکَ --   Dan demikian juga di antara manusia,  hewan berkaki empat dan binatang ternak bermacam-macam warnanya.  اِنَّمَا یَخۡشَی اللّٰہَ مِنۡ عِبَادِہِ  الۡعُلَمٰٓؤُا    -- Sesungguhnya  dari antara hamba-hamba-Nya yang takut kepada Allah adalah ulama. اِنَّ اللّٰہَ عَزِیۡزٌ  غَفُوۡرٌ --  Sesungguhnya Allah Maha Perkasa, Maha Pengampun. (Al-Fāthir [35]:28-29).
       Akan tetapi di sini ilmu itu tidak seharusnya selalu berarti ilmu keruhanian, akan tetapi juga pengetahuan  hukum alam. Sebab penyelidikan yang seksama terhadap alam semesta  dan hukum-hukumnya  -- melalui taddabur dan tafakkur  -- niscaya membawa orang kepada makrifat mengenai kekuasaan Maha Besar Allah Ta’ala, dan sebagai akibatnya mereka merasa kagum dan takzim terhadap Allah Swt., bahkan dapat menjuruskan  yang bersangkutan untuk beriman kepada rasul Allah yang kedatangannya dijanjikan setelah menyaksikan berbagai Tanda-tandanya – baik tanda-tanda yang ada dalam Al-Quran dan  di alam semesta  serta tanda-tanda zaman  --  firman-Nya: 
اِنَّ فِیۡ خَلۡقِ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ وَ اخۡتِلَافِ الَّیۡلِ وَ النَّہَارِ لَاٰیٰتٍ  لِّاُولِی الۡاَلۡبَابِ ﴿﴾ۚۙ  الَّذِیۡنَ یَذۡکُرُوۡنَ اللّٰہَ  قِیٰمًا وَّ قُعُوۡدًا وَّ عَلٰی جُنُوۡبِہِمۡ وَ یَتَفَکَّرُوۡنَ فِیۡ خَلۡقِ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ۚ رَبَّنَا مَا خَلَقۡتَ ہٰذَا بَاطِلًا ۚ سُبۡحٰنَکَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ ﴿﴾  رَبَّنَاۤ اِنَّکَ مَنۡ تُدۡخِلِ النَّارَ فَقَدۡ اَخۡزَیۡتَہٗ ؕ وَ مَا لِلظّٰلِمِیۡنَ مِنۡ اَنۡصَارٍ ﴿﴾  رَبَّنَاۤ اِنَّنَا سَمِعۡنَا مُنَادِیًا یُّنَادِیۡ لِلۡاِیۡمَانِ اَنۡ اٰمِنُوۡا بِرَبِّکُمۡ  فَاٰمَنَّا ٭ۖ رَبَّنَا فَاغۡفِرۡ لَنَا ذُنُوۡبَنَا وَ کَفِّرۡ عَنَّا سَیِّاٰتِنَا وَ تَوَفَّنَا مَعَ  الۡاَبۡرَارِ ﴿﴾ۚ  رَبَّنَا وَ اٰتِنَا مَا وَعَدۡتَّنَا عَلٰی رُسُلِکَ وَ لَا تُخۡزِنَا یَوۡمَ الۡقِیٰمَۃِ ؕ اِنَّکَ لَا تُخۡلِفُ الۡمِیۡعَادَ ﴿﴾
Sesungguhnya dalam penciptaan seluruh langit dan bumi serta   pertukaran malam dan siang benar-benar terdapat Tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal,  yaitu  orang-orang yang  mengingat Allah sambil berdiri, duduk, dan sambil  berbaring atas rusuk mereka, dan mereka memikirkan menge-nai penciptaan seluruh langit dan bumi  seraya berkata: “Ya  Rabb (Tuhan) kami, sekali-kali tidaklah Engkau mencip-takan  semua ini  sia-sia, Maha Suci Engkau dari perbuatan sia-sia maka peliharalah kami dari azab Api. Wahai Rabb (Tuhan) kami, sesungguhnya barangsiapa yang Engkau masukkan ke dalam Api maka sungguh Engkau telah menghinakannya, dan sekali-kali tidak ada bagi orang-orang zalim seorang penolong pun.  Wahai Rabb (Tuhan) kami, sesungguhnya kami telah mendengar seorang Penyeru menyeru kami kepada  keimanan seraya berkata:  "Berimanlah kamu kepada Rabb (Tuhan) kamu" maka kami telah beriman. Wahai Rabb (Tuhan) kami, ampunilah bagi kami dosa-dosa kami, hapuskanlah dari kami kesalahan-kesalahan kami, dan wafatkanlah kami bersama  orang-orang yang ber-buat kebajikan. Wahai Rabb (Tuhan) kami, karena itu berikanlah kepada kami apa yang telah Engkau janjikan kepada kami dengan perantaraan rasul-rasul Engkau, dan janganlah Engkau menghinakan kami pada Hari Kiamat, sesungguhnya Engkau tidak pernah menyalahi janji.” (Āli ‘Imran [3]:191-194).

Para Khalifah Ruhani Nabi Besar Muhammad Saw.

          Ada pun alasan mengapa hanya para mujaddid dan para wali Allah besar sajalah yang dimaksud sabda Nabi Besar Muhammad saw. “’ulama ummati kal-anbiyya    bani Isrāil – ‘ulama umatku seperti nabi-nabi Bani Israil”, adalah  karena pada hakikatnya para mujaddid tersebut dari segi keruhanian merupakan  para “khalifah” (wakil/penerus) Nabi Besar Muhammad saw.,    setelah khalifah  yang memiliki kekuasaan duniawi dan ruhani hanya sampai dengan Khalifah Ali bin Abi Thalib r.a..
    Mengapa demikian? Sebab selanjutnya yang memerintah di kalangan umat Islam  bukan khalifah yang hakiki melainkan adalah para sultan (raja), baik  dari  dinasti Ummayah yang berkuasa di Spanyol (Andalusia)  maupun  dinasti Abbasiyah di Iraq, setelah berhasil merebutnya dari Bani Umayyah.   Demikian  pula sebutan “khalifah” pada  dinasti  Ustmaniyah  di Turki. 
       Kenyataan tersebut sesuai dengan nubuatan (kabar gaib) Nabi Besar Muhammad saw. mengenai umat Islam:
تكون النبوة فيكم ما شاء الله أن تكون , ثم يرفعها الله إذا شاء أن يرفعها ثم تكون خلافة على منهاج النبوة , فتكون ما شاء الله أن تكون , ثم يرفعها إذا شاء أن يرفعها , ثم تكون ملكا عاضا فيكون ما شاء الله أن تكون , ثم يرفعها إذا شاء الله أن يرفعها , ثم تكون ملكا جبريا فتكون ما شاء الله أن تكون , ثم يرفعها إذا شاء أن يرفعها , ثم تكون خلافة على منهاج النبوة . ثم سكت " .
Akan ada masa nubuwwat (kenabian) pada kalian selama yang Allah kehendaki, kemudian Allah mengangkatnya  kalau Allah kehendaki. Lalu akan ada khilāfatun ‘alā minhājin- nubuwwah --  masa khilafah di atas    jalan kenabian  selama yang Allah kehendaki, kemudian Allah mengangkatnya jika Allah menghendaki. Lalu ada  mulkan ‘ādhan   -- masa  kerajaan yang  dhalim/menggigit  selama yang Allah kehendaki, kemudian Allah mengangkatnya bila Allah menghendaki. Lalu akan ada   mulkan  jabriyān – masa  kerajaan  tirani (diktator) selama yang Allah kehendaki, kemudian Allah mengangkatnya bila Allah menghendaki. Lalu akan ada lagi khilāfatun ‘alā minhājin- nubuwwah -- masa kekhilafahan di atas manhaj Nubuwwah”. Kemudian beliau diam” [Diriwayatkan oleh Ahmad 4/273 dan Ath-Thayalisi no. 439; dishahihkan oleh Al-Albaaniy dalam Silsilah Ash-Shahiihah no. 5].
      Sabda Nabi Besar Muhammad saw.  ثم تكون خلافة على منهاج النبوة . ثم سكت "   – “Lalu akan ada lagi khilāfatun ‘alā minhājin- nubuwwah -- masa kekhilafahan di atas manhāj (jalan) kenabian”, kemudian beliau diam”    berhubungan erat dengan firman Allah Swt. sebelum ini:
وَعَدَ  اللّٰہُ  الَّذِیۡنَ  اٰمَنُوۡا مِنۡکُمۡ وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ لَیَسۡتَخۡلِفَنَّہُمۡ فِی الۡاَرۡضِ کَمَا اسۡتَخۡلَفَ الَّذِیۡنَ مِنۡ قَبۡلِہِمۡ ۪ وَ لَیُمَکِّنَنَّ لَہُمۡ دِیۡنَہُمُ  الَّذِی ارۡتَضٰی لَہُمۡ وَ لَیُبَدِّلَنَّہُمۡ مِّنۡۢ بَعۡدِ خَوۡفِہِمۡ  اَمۡنًا ؕ یَعۡبُدُوۡنَنِیۡ لَا  یُشۡرِکُوۡنَ بِیۡ شَیۡئًا ؕ وَ مَنۡ  کَفَرَ بَعۡدَ ذٰلِکَ فَاُولٰٓئِکَ ہُمُ  الۡفٰسِقُوۡنَ ﴿﴾
Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman  dan  beramal saleh di antara kamu niscaya Dia  akan menjadikan mereka itu khalifah di bumi ini sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka khalifah, dan niscaya Dia akan meneguhkan bagi mereka agamanya yang telah Dia ridhai bagi mereka,  dan niscaya Dia akan mengubah keadaan mereka dengan keamanan sesudah ketakutan mereka. Mereka akan menyembah-Ku dan mereka tidak akan mempersekutukan sesuatu dengan-Ku, dan barangsiapa kafir sesudah itu  mereka itulah orang-orang  durhaka.  (An-Nūr [24]:56).
        Dikarenakan ayat ini berlaku sebagai pendahuluan untuk mengantarkan masalah khilafat, maka dalam ayat-ayat QS.52:55 sebelumnya berulang-ulang telah diberi tekanan mengenai ketaatan kepada Allah Swt. dan Rasul-Nya. Tekanan ini merupakan isyarat mengenai tingkat dan kedudukan seorang khalifah dalam Islam. Ayat ini berisikan janji Allah Swt. bahwa orang-orang Muslim akan dianugerahi pimpinan ruhani maupun duniawi.
      Janji Allah Swt. itu diberikan kepada seluruh umat Islam, tetapi lembaga khilafat akan mendapat bentuk nyata dalam wujud perorangan-perorangan tertentu, yang akan menjadi penerus  Nabi Besar Muhammad saw.  serta wakil seluruh umat Islam. Janji mengenai ditegakkannya khilafat adalah jelas dan tidak dapat menimbulkan salah paham.
        Oleh sebab kini  Nabi Besar Muhammad  saw.  satu-satunya hadi (petunjuk jalan) umat manusia untuk selama-lamanya (QS.3:32] QS.4:70-71), maka  khilafat beliau saw. akan terus berwujud dalam salah satu bentuk di dunia ini sampai Hari Kiamat, karena semua khilafat yang lain telah tiada lagi.
        Inilah, di antara banyak keunggulan yang lainnya lagi, merupakan kelebihan Nabi Besar Muhammad saw.   yang menonjol di atas semua nabi dan rasul Allah lainnya. Di Akhir Zaman   ini   -- sesuai dengan sabda Nabi Besar Muhammad saw. dalam Hadits sebelum ini – umat manusia telah menyaksikan khalifah ruhani beliau saw. yang terbesar dalam wujud Pendiri Jemaat Ahmadiyah., Mirza Ghulam Ahmad a.s.   Imam Mahdi a.s. dan Al-Masih Mau’ud a.s.  – sebagaimana  sabda beliau saw. ثم تكون خلافة على منهاج النبوة . ثم سكت "  -- “kemudian berlaku pula zaman Kekhalifahan  yang berjalan di atas cara   kenabian.”  Setelah  mengucapkan nubuatan tersebut   beliau  saw. diam.

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid

oo0oo
Pajajaran Anyar,  28 Januari  2017

Tidak ada komentar:

Posting Komentar