Bismillaahirrahmaanirrahiim
ISLAM
Pidato Mirza Ghulam Ahmad a.s.
Tgl. 2 November 1904
di Kota Sialkote – Hindustan
Bab 7
MAKNA “DIHANCURKAN-NYA
GUNUNG-GUNUNG” DAN “MERUNDUKNYA SEMUA SUARA” DI HADAPAN ALLAH SWT. DI AKHIR ZAMAN & 'ULAMA HAKIKI UMAT ISLAM DAN DUA
PERIODE TERPISAH PARA KHALIFAH NABI BESAR
MUHAMMAD SAW.
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam bagian akhir Bab 6 telah
dijelaskan topik Menantang Mempercepat Azab Ilahi yang Dijanjikan &
Orang-orang “Yang Bermata Biru”, berkenan dengan surah Al-Hajj ayat 46-48, bahwa jelas orang-orang mati, orang-orang buta,
dan orang-orang tuli, yang
dibicarakan dalam ayat tersebut atau di
tempat lain dalam Al-Quran adalah orang-orang yang ditilik dari segi ruhani telah mati, buta, dan tuli (QS.2:19; QS.17:73; QS.20:125-128),
firman-Nya:
فَکَاَیِّنۡ مِّنۡ قَرۡیَۃٍ اَہۡلَکۡنٰہَا وَ ہِیَ ظَالِمَۃٌ فَہِیَ خَاوِیَۃٌ عَلٰی عُرُوۡشِہَا وَ
بِئۡرٍ مُّعَطَّلَۃٍ وَّ
قَصۡرٍ مَّشِیۡدٍ ﴿﴾ اَفَلَمۡ یَسِیۡرُوۡا فِی الۡاَرۡضِ فَتَکُوۡنَ لَہُمۡ قُلُوۡبٌ
یَّعۡقِلُوۡنَ بِہَاۤ اَوۡ اٰذَانٌ
یَّسۡمَعُوۡنَ بِہَا ۚ فَاِنَّہَا لَا تَعۡمَی الۡاَبۡصَارُ وَ لٰکِنۡ
تَعۡمَی الۡقُلُوۡبُ الَّتِیۡ فِی الصُّدُوۡرِ ﴿﴾
Dan berapa banyak kota yang Kami telah membinasakannya, yang penduduknya
sedang berbuat zalim lalu dinding-dindingnya jatuh
atas atapnya, dan sumur yang
telah ditinggalkan dan istana
yang menjulang tinggi. Maka apakah mereka tidak berpesiar di bumi, lalu menjadikan
hati mereka memahami dengannya atau
menjadikan telinga mereka mendengar dengannya? فَاِنَّہَا لَا تَعۡمَی الۡاَبۡصَارُ وَ لٰکِنۡ
تَعۡمَی الۡقُلُوۡبُ الَّتِیۡ فِی الصُّدُوۡرِ -- Maka sesungguhnya bukan mata yang buta tetapi yang buta adalah hati yang ada dalam dada. (Al-Hājj [22]:46-47).
Menantang Mempercepat Kedatangan Azab
yang Dijanjikan
Demikian rupa butanya mata
ruhani mereka dari berbagai mukjizat
mau pun Tanda-tanda Ilahi yang
mendukung kebenaran pendakwaan Nabi
Besar Muhammad saw., sehingga bahkan
dengan takabbur menantang agar segera
mendatangkan azab Ilahi yang dijanjikan Allah Swt. kepada mereka, firman-Nya:
وَ یَسۡتَعۡجِلُوۡنَکَ بِالۡعَذَابِ وَ لَنۡ
یُّخۡلِفَ اللّٰہُ وَعۡدَہٗ ؕ وَ اِنَّ یَوۡمًا عِنۡدَ رَبِّکَ کَاَلۡفِ
سَنَۃٍ مِّمَّا تَعُدُّوۡنَ ﴿﴾ وَ کَاَیِّنۡ مِّنۡ قَرۡیَۃٍ
اَمۡلَیۡتُ لَہَا وَ ہِیَ ظَالِمَۃٌ
ثُمَّ اَخَذۡتُہَا ۚ وَ اِلَیَّ الۡمَصِیۡرُ ﴿٪﴾
Dan mereka meminta kepada engkau untuk
mempercepat azab, tetapi Allah tidak akan pernah mengingkari janji-Nya. وَ اِنَّ یَوۡمًا عِنۡدَ رَبِّکَ کَاَلۡفِ
سَنَۃٍ مِّمَّا تَعُدُّوۡنَ -- Dan sesungguhnya satu hari di sisi Rabb (Tuhan) engkau seperti seribu
tahun menurut perhitungan kamu. وَ کَاَیِّنۡ مِّنۡ قَرۡیَۃٍ
اَمۡلَیۡتُ لَہَا وَ ہِیَ ظَالِمَۃٌ
ثُمَّ اَخَذۡتُہَا ۚ وَ اِلَیَّ الۡمَصِیۡرُ -- Dan berapa
banyaknya kota telah Aku memberi tangguh baginya padahal dia berlaku zalim. Kemudian Aku
menangkapnya dan kepada Aku-lah
kembali mereka. (Al-Hājj [22]:48-49).
Nabi Besar Muhammad saw. menurut
riwayat pernah bersabda bahwa tiga abad
pertama Islam akan merupakan masa
yang terbaik, sesudah itu kepalsuan
akan tersebar dan suatu masa kegelapan
akan datang dan meluas sampai seribu
tahun (Tirmidzi). Masa 1000 tahun ini dipersamakan dengan satu hari (QS.32:6).
Dalam masa kemunduran yang melanda umat
Islam tersebut satu kaum yang bermata biru -- yakni Ya’juj (Gog) dan Ma’juj (Magog) atau bangsa-bangsa Kristen dari barat (QS.21:96-97) -- akan bangkit
dan menyebar luas ke seluruh dunia (QS.20:103-104).
Orang-orang bermata biru
itulah yang karena sombong dan takaburnya -- yang diakibatkan oleh karena memperoleh kemuliaan duniawi dan kekuasaan politik, telah digambarkan
memberi tantangan kepada Nabi Besar
Muhammad saw. untuk mempercepat kedatangan azab
Ilahi yang — begitulah dikatakan
oleh beliau saw. dalam ayat tersebut— akan menimpa mereka pada waktu yang ditentukan dan dijanjikan itu, yakni dalam jangka waktu 1000 tahun setelah 3 abad masa kejayaan Islam yang pertama, dan azab Ilahi yang dijanjikan
Allah Swt. tersebut berupa Perang
Dunia I dan Perang Dunia II.
Makna “Peniupan Nafiri” & Makna
“Orang-orang yang Bermata Biru”
Demikian pula Perang Dunia III
atau Perang Nuklir pun sedang mengancam umat manusia, karena sekali pun Rasul Akhir Zaman yang
kedatangannya dijanjikan telah datang
– yakni Mirza Ghulam Ahmad a.s. atau Masih Mau’ud a.s. -- tetapi umumnya umat manusia tetap
melakukan pendustaan dan penentangan terhadap beliau a.s.,
firman-Nya:
یَّوۡمَ یُنۡفَخُ فِی الصُّوۡرِ وَ
نَحۡشُرُ الۡمُجۡرِمِیۡنَ یَوۡمَئِذٍ زُرۡقًا ﴿﴾ۚۖ یَّتَخَافَتُوۡنَ
بَیۡنَہُمۡ اِنۡ لَّبِثۡتُمۡ اِلَّا
عَشۡرًا ﴿﴾ نَحۡنُ اَعۡلَمُ بِمَا یَقُوۡلُوۡنَ اِذۡ
یَقُوۡلُ اَمۡثَلُہُمۡ طَرِیۡقَۃً اِنۡ لَّبِثۡتُمۡ اِلَّا یَوۡمًا ﴿﴾٪
Hari ketika nafiri akan ditiup, dan Kami akan menghimpun orang-orang berdosa yang bermata biru pada hari itu. یَّتَخَافَتُوۡنَ
بَیۡنَہُمۡ اِنۡ لَّبِثۡتُمۡ اِلَّا
عَشۡرًا -- Mereka saling
berbisik-bisik di antara mereka: "Tidaklah kamu akan tinggal
melainkan hanya sepuluh."
Kami lebih mengetahui mengenai apa yang akan mereka katakan ketika berkata
orang yang paling baik cara hidupnya di antara mereka: "Tidaklah kamu tinggal melainkan sehari." (Thā Hā [20]:103-105).
Makna nafiri
dalam kalimat: یَّوۡمَ
یُنۡفَخُ فِی الصُّوۡرِ -- “Hari ketika nafiri
akan ditiup” mengisyaratkan Rasul Akhir Zaman yang mengumandangkan seruan Allah Swt. (Al-Quran) sedangkan:
وَ نَحۡشُرُ الۡمُجۡرِمِیۡنَ یَوۡمَئِذٍ
زُرۡقًا -- “dan Kami akan menghimpun orang-orang berdosa
yang bermata biru pada hari itu,“ isyarat dalam ayat ini
nampaknya terutama ditujukan kepada bangsa-bangsa
Kristen dari barat yang bermata biru, dan mereka itu buta mata
ruhaninya serta menyimpan rasa benci
tidak kunjung padam terhadap Islam dan Nabi Besar Muhammad saw.,
walau pun dari segi duniawi “mata”
mereka sangat tajam penglihatannya --
sehingga memperoleh berbagai keberhasilan
duniawi --
tetapi “mata ruhaninya buta”, itulah sebabnya Nabi Besar Muhammad saw.
secara kiasan menyebut mereka “Dajjal”, si pendusta
besar yang matanya buta sebelah yang
pada jidatnya ada tulisan “kafara” (kafir).
Dalam surah
lain “orang yang bermata biru” tersebut dikatakan
“orang yang pada matanya ada tutupan”
(QS.18:100-102), yang tidak menghiraukan
peringatan Allah Swt. dalam Al-Quran yang disampaikan Nabi Besar Muhammad saw
QS.18:1-9). Makna
"sepuluh" dalam
ayat: اِنۡ لَّبِثۡتُمۡ اِلَّا عَشۡرًا -- "Tidaklah kamu akan tinggal melainkan hanya sepuluh" berarti sepuluh
abad. Isyarat itu ditujukan kepada sepuluh
abad sesudah Hijrah, yang selama
itu bangsa-bangsa Eropa hampir tetap
dalam keadaan tidur (berleha-leha) belaka
(QS.18:19).
Baru pada permulaan abad ke-17 bangsa-bangsa Eropa keluar dari keadaan “tidurnya”
lalu mulai menyebar ke seluruh dunia serta menaklukkan berbagai kawasan dunia
-- termasuk Hindustan dan Nusantara serta menjajah kawasan
Nusantara selama 350
tahun -- yaitu kira-kira 1000 tahun sesudah Nabi
Besar Muhammad saw. mulai bertabligh (berda’wah) pada awal abad
ke-7, sesuai dengan nubuatan dalam Bible digambarkan sebagai pelepasan sementara iblis – setan, si ular tua dari masa “pemenjaraan 1000 tahun” (Wahyu 20:7-10).
Makna thariqat al-qaum dalam
ayat selanjutnya: نَحۡنُ اَعۡلَمُ بِمَا یَقُوۡلُوۡنَ اِذۡ یَقُوۡلُ اَمۡثَلُہُمۡ
طَرِیۡقَۃً اِنۡ لَّبِثۡتُمۡ اِلَّا یَوۡمًا
-- “Kami lebih mengetahui mengenai apa
yang akan mereka katakan ketika
berkata orang yang paling baik
cara hidupnya di antara
mereka: "Tidaklah kamu tinggal melainkan
sehari" (Thā Hā [20]:105) berarti kaum yang terbaik atau paling
lurus (Aqrab-ul-Mawarid).
Makna “Dihancurkannya Gunung-gunung” & Bangkitnya Sosialisme dan Demokrasi
Yaum (hari) dalam surah Thā Hā
[20]:105 berarti seribu tahun yang
disinggung dalam QS.22:48 dan bersesuaian dengan "sepuluh" yang tersebut dalam ayat yang mendahuluinya, yaitu sepuluh abad atau 1000 tahun. Yaum berarti
pula waktu yang hakiki. Dalam
pengertian inilah maka orang-orang kafir
- ketika ditimpa oleh azab Ilahi berupa tiga
kali Perang Dunia -- dikarenakan
demikian mengerikan akibat-akibat
yang ditimbulkannya – maka dilukiskan
mengatakan bahwa masa kesejahteraan
dan kemajuan mereka itu hanya berlaku
“satu hari” saja, yaitu sangat pendek, sebagaimana digambarkan dalam firman Allah Swt.
selanjutnya:
وَ یَسۡـَٔلُوۡنَکَ عَنِ الۡجِبَالِ
فَقُلۡ یَنۡسِفُہَا رَبِّیۡ نَسۡفًا ﴿﴾ۙ فَیَذَرُہَا قَاعًا
صَفۡصَفًا ﴿﴾ۙ لَّا تَرٰی
فِیۡہَا عِوَجًا وَّ لَاۤ
اَمۡتًا ﴿﴾ؕ یَوۡمَئِذٍ یَّتَّبِعُوۡنَ الدَّاعِیَ لَا
عِوَجَ لَہٗ ۚ وَ خَشَعَتِ الۡاَصۡوَاتُ لِلرَّحۡمٰنِ فَلَا تَسۡمَعُ اِلَّا ہَمۡسًا ﴿﴾ یَوۡمَئِذٍ
لَّا تَنۡفَعُ الشَّفَاعَۃُ اِلَّا مَنۡ
اَذِنَ لَہُ الرَّحۡمٰنُ
وَ رَضِیَ لَہٗ قَوۡلًا ﴿﴾ یَعۡلَمُ
مَا بَیۡنَ اَیۡدِیۡہِمۡ وَ مَا
خَلۡفَہُمۡ وَ لَا یُحِیۡطُوۡنَ بِہٖ
عِلۡمًا ﴿﴾ وَ
عَنَتِ الۡوُجُوۡہُ لِلۡحَیِّ
الۡقَیُّوۡمِ ؕ وَ قَدۡ خَابَ مَنۡ حَمَلَ
ظُلۡمًا ﴿﴾
Dan
mereka bertanya kepada engkau mengenai gunung-gunung itu, maka katakanlah: "Rabb-ku (Tuhan-ku) akan
menghancurkannya sehancur-hancurnya, maka Dia akan meninggalkannya sebagai tanah datar yang gersang. Engkau tidak
akan melihat di dalamnya kerendahan dan ketinggian. Pada hari itu mereka akan mengikuti Penyeru, tidak
ada kebengkokan dalam ajarannya, dan semua
suara akan merendah di hadapan Tuhan Yang Maha Pemurah dan
tidak engkau akan mendengar kecuali
bisikan. Pada hari
itu syafaat tidak bermanfaat kecuali orang yang telah mendapat izin baginya
dari Tuhan Yang Maha Pemurah
dan perkataannya telah diridhai. Dia
mengetahui apa yang ada di hadapan
mereka dan apa yang ada di belakang
mereka, dan tidaklah mereka dapat meliputi-Nya dengan
ilmunya. Dan akan
tunduk semua pemuka di hadapan Yang Maha-hidup. Yang Tegak atas Dzat-Nya
Sendiri dan Penegak segala sesuatu.
Dan sungguh
rugilah siapa yang memikul beban kezaliman. (Thā Hā
[20]:106-112).
Isyarat dalam kata al-jibāl (gunung-gunung)
dalam ayat: وَ
یَسۡـَٔلُوۡنَکَ عَنِ الۡجِبَالِ فَقُلۡ یَنۡسِفُہَا رَبِّیۡ نَسۡفًا
-- “Dan mereka bertanya kepada engkau mengenai gunung-gunung itu, maka katakanlah: "Rabb-ku (Tuhan-ku) akan menghancurkannya
sehancur-hancurnya,” ditujukan kepada Ya’juj (Gog) dan Majuj
(Magog) (QS.21:96-97), yaitu bangsa-bangsa Kristen dari barat yang gagah-perkasa.
Nubuatan dalam ayat ini bertalian dengan
kehancuran mereka secara total. Kehancuran dunia barat telah mulai berjalan sejak beberapa lama. Perang Dunia I dan perang Dunia II telah sangat
melemahkannya (Spengler's "Decline
of the West" & Toynbee's "A Study of History"), sebagaimana dinubuatkan dalam QS.18:1-9.
Isyarat ini ayat: فَیَذَرُہَا
قَاعًا صَفۡصَفًا -- "Maka Dia akan meninggal-kannya sebagai tanah datar yang gersang. Engkau tidak
akan melihat di dalamnya kerendahan dan ketinggian” rupanya ditujukan kepada bangkitnya sosialisme dan demokrasi, ketika kerajaan-kerajaan
besar lagi gagah-perkasa penganut
kapitalisme yang memiliki kekuasaan absolute akan tersapu bersih – contohnya di Rusia -- dan akan terjadi kemerataan dalam taraf kehidupan
sosial dan ekonomi pada berbagai
sektor kehidupan masyarakat, yakni bangkitnya faham sosialisme
yang merupakan antitesis paham kapitalisme, yang kemudian menjadi dua Blok besar dunia yang saling berhadapan yang maisng-maisng
dipimpin oleh Amerika Serikat &
sekutunya dan Uni Sovyet (Rusia)
serta Cina & sekutunya.
“Penyeru”
dari Allah Swt. & Makna Merunduknya
“Semua Suara” di Hadapan Allah Swt.
Makna “Penyeru”
dalam ayat: یَوۡمَئِذٍ یَّتَّبِعُوۡنَ الدَّاعِیَ لَا
عِوَجَ لَہٗ -- “Pada hari itu mereka akan mengikuti Penyeru, tidak ada kebengkokan dalam ajarannya”
adalah Nabi Besar Muhammad saw. dan Masih Mau’ud a.s. yang merupakan kedatangan kedua kali beliau saw. di Akhir Zaman (QS.62:3-4) yang akan
terwujudnya “langit baru dan bumi baru” (QS.14:47-53; QS.39:69-71) yang merupakan kejayaan Islam kedua di Akhir Zaman ini ( QS.61:10).
Makna ayat selanjutnya: وَ خَشَعَتِ الۡاَصۡوَاتُ لِلرَّحۡمٰنِ فَلَا تَسۡمَعُ اِلَّا ہَمۡسًا -- “dan semua suara akan merendah
di hadapan Tuhan Yang Maha
Pemurah dan tidak engkau akan mendengar kecuali bisikan“, bahwa semua teori
kehidupan yang selama itu dibanggakan -- terutama Kapitalisme, Sosialisme
dan Demokrasi yang kebablasan --
akan terbukti gagal dan yang
akan eksis (muncul dengan kokoh)
adalah ajaran Islam (Al-Quran)
sebagaimana yang difahami dan diamalkan
oleh Nabi Besar Muhammad saw. – sebagai “rahmat bagi seluruh alam” (QS.21:108)
-- dan yang dihidupkan lagi oleh Masih Mau’ud a.s. serta jamaah beliau (Jemaat Muslim Ahmadiyah) yang dipimpin para Khalifatul Masih, sebagaimana dijelaskan lebih lanjut: یَوۡمَئِذٍ لَّا تَنۡفَعُ الشَّفَاعَۃُ اِلَّا مَنۡ اَذِنَ لَہُ
الرَّحۡمٰنُ وَ رَضِیَ لَہٗ
قَوۡلًا -- “Pada hari itu syafaat
tidak bermanfaat kecuali orang yang
telah mendapat izin baginya dari Tuhan Yang Maha Pemurah dan perkataannya
telah diridhai.”
Makna
kalimat "Apa yang ada di belakang mereka" dalam ayat: یَعۡلَمُ مَا بَیۡنَ اَیۡدِیۡہِمۡ وَ مَا خَلۡفَہُمۡ وَ لَا یُحِیۡطُوۡنَ بِہٖ
عِلۡمًا -- “Dia mengetahui apa yang ada di hadapan mereka dan apa yang ada di belakang mereka, dan tidaklah
mereka dapat meliputi-Nya dengan ilmunya“
menunjuk kepada hasil-hasil besar
yang sebelumnya telah mereka capai, dan kata-kata: "Apa yang ada di hadapan mereka" merujuk kepada hasil-hasil besar yang diharapkan
akan mereka peroleh di masa mendatang,
bahwa semuanya dan segala sesuatunya ada
dalam pengetahuan Allah Swt.
Makna “wujuh” (wajah-wajah) dalam ayat
selanjutnya: وَ عَنَتِ
الۡوُجُوۡہُ لِلۡحَیِّ الۡقَیُّوۡمِ ؕ -- “Dan akan
tunduk semua wajah (wujuh) di hadapan Yang Maha-hidup, Yang Tegak
atas DzatNya Sendiri dan Penegak
segala sesuatu” makna “wujuh” adalah pemimpin-pemimpin
besar (Aqrab-ul-Mawarid),
artinya pada waktu terwujudnya kejayaan
Islam yang kedua kali di Akhir Zaman
melalui perjuangan Rasul Akhir Zaman (Masih Mau’ud a.s.) dan Jamaa’ahnya yang dipimpin
para Khalifatul Masih (QS.62:3-4) maka semua “wujuh” (para pemimpin besar)
akan beriman kepada “Penyeru dari Allah“
tersebut (QS.3:191-196) serta akan mengikuti petunjuknya berdasarkan Al-Quran
dan Sunnah Nabi Besar Muhammad
saw., sebab semua sistem dan teori yang selama itu dijalankan terbukti senantiasa mengalami
kegagalan dan menjerumuskan kepada
“kobaran api,” karena tidak
disertai petunjuk dan bantuan Allah Swt., Wujud Yang Maha Mengetahui
yang gaib mau pun yang nyata, sesuai firman-Nya: وَ قَدۡ خَابَ
مَنۡ حَمَلَ ظُلۡمًا
-- “Dan sungguh rugilah siapa yang memikul beban kezaliman.” (Thā Hā [20]: 112).
‘Ulama
Hakiki atau Ulul-Albāb
Demikianlah makna surah Thā Hā ayat 106-112 yang penuh dengan nubuatan yang telah, sedang dan yang akan terjadi di Akhir Zaman
ini, tetapi kenyataan tersebut hanya
dapat dimengerti oleh ‘ulama hakiki
yang dikemukakan dalam firman Allah Swt. sebelum ini:
اَلَمۡ تَرَ
اَنَّ اللّٰہَ اَنۡزَلَ مِنَ السَّمَآءِ
مَآءً ۚ فَاَخۡرَجۡنَا بِہٖ ثَمَرٰتٍ
مُّخۡتَلِفًا اَلۡوَانُہَا ؕ وَ
مِنَ الۡجِبَالِ جُدَدٌۢ بِیۡضٌ وَّ
حُمۡرٌ مُّخۡتَلِفٌ اَلۡوَانُہَا وَ
غَرَابِیۡبُ سُوۡدٌ ﴿﴾ وَ
مِنَ النَّاسِ وَ الدَّوَآبِّ وَ الۡاَنۡعَامِ مُخۡتَلِفٌ اَلۡوَانُہٗ کَذٰلِکَ ؕ اِنَّمَا یَخۡشَی اللّٰہَ مِنۡ
عِبَادِہِ الۡعُلَمٰٓؤُا ؕ اِنَّ اللّٰہَ
عَزِیۡزٌ غَفُوۡرٌ ﴿﴾
Apakah engkau tidak melihat bahwasanya Allah menurunkan air dari awan, dan Kami mengeluarkan dengan air itu buah-buahan yang beraneka warnanya. Dan di gunung-gunung ada garis-garis putih, merah
dengan beraneka macam warnanya, dan ada yang sehitam burung gagak? وَ مِنَ النَّاسِ وَ الدَّوَآبِّ وَ الۡاَنۡعَامِ مُخۡتَلِفٌ
اَلۡوَانُہٗ کَذٰلِکَ -- Dan demikian juga di antara manusia, hewan
berkaki empat dan binatang ternak bermacam-macam warnanya. اِنَّمَا یَخۡشَی اللّٰہَ مِنۡ عِبَادِہِ الۡعُلَمٰٓؤُا -- Sesungguhnya dari
antara hamba-hamba-Nya yang takut
kepada Allah adalah ulama. اِنَّ اللّٰہَ عَزِیۡزٌ غَفُوۡرٌ -- Sesungguhnya Allah Maha Perkasa, Maha
Pengampun. (Al-Fāthir [35]:28-29).
Akan tetapi di sini ilmu itu tidak seharusnya selalu berarti ilmu keruhanian, akan tetapi juga pengetahuan hukum alam. Sebab
penyelidikan yang seksama terhadap alam semesta dan hukum-hukumnya
-- melalui taddabur dan tafakkur -- niscaya membawa orang kepada makrifat mengenai kekuasaan Maha Besar Allah Ta’ala, dan sebagai akibatnya mereka merasa kagum
dan takzim terhadap Allah Swt., bahkan dapat menjuruskan yang bersangkutan
untuk beriman kepada rasul Allah yang
kedatangannya dijanjikan setelah
menyaksikan berbagai Tanda-tandanya –
baik tanda-tanda yang ada dalam Al-Quran dan di alam
semesta serta tanda-tanda zaman -- firman-Nya:
اِنَّ فِیۡ خَلۡقِ السَّمٰوٰتِ وَ
الۡاَرۡضِ وَ اخۡتِلَافِ الَّیۡلِ وَ النَّہَارِ لَاٰیٰتٍ لِّاُولِی الۡاَلۡبَابِ ﴿﴾ۚۙ الَّذِیۡنَ یَذۡکُرُوۡنَ اللّٰہَ
قِیٰمًا وَّ قُعُوۡدًا وَّ عَلٰی جُنُوۡبِہِمۡ وَ یَتَفَکَّرُوۡنَ فِیۡ
خَلۡقِ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ۚ رَبَّنَا مَا خَلَقۡتَ ہٰذَا بَاطِلًا ۚ
سُبۡحٰنَکَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ ﴿﴾ رَبَّنَاۤ
اِنَّکَ مَنۡ تُدۡخِلِ النَّارَ فَقَدۡ اَخۡزَیۡتَہٗ ؕ وَ مَا لِلظّٰلِمِیۡنَ مِنۡ
اَنۡصَارٍ ﴿﴾ رَبَّنَاۤ
اِنَّنَا سَمِعۡنَا مُنَادِیًا یُّنَادِیۡ لِلۡاِیۡمَانِ اَنۡ اٰمِنُوۡا
بِرَبِّکُمۡ فَاٰمَنَّا ٭ۖ رَبَّنَا
فَاغۡفِرۡ لَنَا ذُنُوۡبَنَا وَ کَفِّرۡ عَنَّا سَیِّاٰتِنَا وَ تَوَفَّنَا
مَعَ الۡاَبۡرَارِ ﴿﴾ۚ رَبَّنَا وَ اٰتِنَا مَا وَعَدۡتَّنَا عَلٰی رُسُلِکَ وَ لَا
تُخۡزِنَا یَوۡمَ الۡقِیٰمَۃِ ؕ اِنَّکَ لَا تُخۡلِفُ الۡمِیۡعَادَ ﴿﴾
Sesungguhnya
dalam penciptaan seluruh langit dan bumi
serta pertukaran malam dan siang benar-benar terdapat Tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal,
yaitu orang-orang
yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, dan sambil
berbaring atas rusuk mereka,
dan mereka memikirkan menge-nai
penciptaan seluruh langit dan bumi seraya berkata: “Ya Rabb
(Tuhan) kami, sekali-kali tidaklah
Engkau mencip-takan semua ini sia-sia, Maha Suci Engkau dari perbuatan sia-sia
maka peliharalah kami dari azab Api.
Wahai Rabb (Tuhan) kami, sesungguhnya
barangsiapa yang Engkau masukkan ke
dalam Api maka sungguh Engkau telah
menghinakannya, dan sekali-kali
tidak ada bagi orang-orang zalim seorang penolong pun. Wahai Rabb
(Tuhan) kami, sesungguhnya kami telah
mendengar seorang Penyeru menyeru kami kepada keimanan seraya
berkata: "Berimanlah kamu kepada Rabb (Tuhan) kamu" maka kami telah beriman. Wahai Rabb (Tuhan) kami, ampunilah bagi kami dosa-dosa kami, hapuskanlah dari kami kesalahan-kesalahan kami, dan wafatkanlah kami bersama orang-orang yang ber-buat kebajikan. Wahai
Rabb (Tuhan) kami, karena itu berikanlah kepada kami apa yang telah
Engkau janjikan kepada kami dengan perantaraan
rasul-rasul Engkau, dan janganlah
Engkau menghinakan kami pada Hari Kiamat, sesungguhnya Engkau tidak pernah menyalahi janji.” (Āli ‘Imran [3]:191-194).
Para Khalifah Ruhani Nabi Besar Muhammad Saw.
Ada
pun alasan mengapa hanya para mujaddid
dan para wali Allah besar sajalah
yang dimaksud sabda Nabi Besar Muhammad saw. “’ulama ummati kal-anbiyya bani Isrāil – ‘ulama umatku seperti
nabi-nabi Bani Israil”, adalah karena
pada hakikatnya para mujaddid
tersebut dari segi keruhanian merupakan
para “khalifah” (wakil/penerus) Nabi
Besar Muhammad saw., setelah khalifah yang memiliki kekuasaan duniawi dan ruhani
hanya sampai dengan Khalifah Ali bin Abi
Thalib r.a..
Mengapa demikian? Sebab selanjutnya yang memerintah di kalangan umat Islam bukan khalifah
yang hakiki melainkan adalah para sultan
(raja), baik dari dinasti
Ummayah yang berkuasa di Spanyol
(Andalusia) maupun dinasti
Abbasiyah di Iraq, setelah
berhasil merebutnya dari Bani Umayyah.
Demikian pula sebutan “khalifah” pada dinasti Ustmaniyah
di Turki.
Kenyataan
tersebut sesuai dengan nubuatan
(kabar gaib) Nabi Besar Muhammad saw. mengenai umat Islam:
تكون
النبوة فيكم ما شاء الله أن تكون , ثم يرفعها الله إذا شاء أن يرفعها ثم تكون
خلافة على منهاج النبوة , فتكون ما شاء الله أن تكون , ثم يرفعها إذا شاء أن يرفعها
, ثم تكون ملكا عاضا فيكون ما شاء الله أن تكون , ثم يرفعها إذا شاء الله أن
يرفعها , ثم تكون ملكا جبريا فتكون ما شاء الله أن تكون , ثم يرفعها إذا شاء أن
يرفعها , ثم تكون خلافة على منهاج النبوة . ثم سكت " .
“Akan
ada masa nubuwwat (kenabian) pada
kalian selama yang Allah kehendaki, kemudian Allah mengangkatnya kalau
Allah kehendaki. Lalu akan ada khilāfatun ‘alā minhājin- nubuwwah -- masa khilafah di atas jalan
kenabian selama yang
Allah kehendaki, kemudian Allah
mengangkatnya jika Allah menghendaki. Lalu ada mulkan ‘ādhan -- masa kerajaan
yang dhalim/menggigit selama yang Allah kehendaki, kemudian Allah mengangkatnya bila Allah
menghendaki. Lalu akan ada mulkan jabriyān – masa kerajaan
tirani (diktator) selama yang Allah kehendaki, kemudian Allah mengangkatnya bila Allah
menghendaki. Lalu akan ada lagi khilāfatun ‘alā minhājin- nubuwwah -- masa kekhilafahan di atas manhaj
Nubuwwah”. Kemudian beliau diam” [Diriwayatkan oleh Ahmad 4/273 dan Ath-Thayalisi
no. 439; dishahihkan oleh Al-Albaaniy dalam Silsilah Ash-Shahiihah
no. 5].
Sabda Nabi Besar Muhammad saw. ثم تكون خلافة على منهاج النبوة . ثم سكت " – “Lalu akan ada lagi khilāfatun ‘alā minhājin-
nubuwwah -- masa kekhilafahan di atas manhāj (jalan) kenabian”, kemudian beliau diam” berhubungan erat dengan firman Allah Swt. sebelum
ini:
وَعَدَ اللّٰہُ
الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا مِنۡکُمۡ وَ
عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ لَیَسۡتَخۡلِفَنَّہُمۡ فِی الۡاَرۡضِ کَمَا اسۡتَخۡلَفَ
الَّذِیۡنَ مِنۡ قَبۡلِہِمۡ ۪ وَ لَیُمَکِّنَنَّ لَہُمۡ دِیۡنَہُمُ الَّذِی ارۡتَضٰی لَہُمۡ وَ لَیُبَدِّلَنَّہُمۡ
مِّنۡۢ بَعۡدِ خَوۡفِہِمۡ اَمۡنًا ؕ
یَعۡبُدُوۡنَنِیۡ لَا یُشۡرِکُوۡنَ بِیۡ
شَیۡئًا ؕ وَ مَنۡ کَفَرَ بَعۡدَ ذٰلِکَ
فَاُولٰٓئِکَ ہُمُ الۡفٰسِقُوۡنَ ﴿﴾
Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman dan beramal saleh di antara kamu niscaya Dia akan menjadikan
mereka itu khalifah di bumi ini sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka khalifah, dan niscaya Dia akan meneguhkan bagi mereka
agamanya yang telah Dia ridhai bagi mereka,
dan niscaya Dia akan mengubah keadaan
mereka dengan keamanan sesudah ketakutan mereka. Mereka akan menyembah-Ku dan mereka tidak akan mempersekutukan sesuatu
dengan-Ku, dan barangsiapa kafir
sesudah itu mereka itulah orang-orang
durhaka. (An-Nūr
[24]:56).
Dikarenakan ayat ini berlaku sebagai
pendahuluan untuk mengantarkan masalah khilafat, maka dalam ayat-ayat
QS.52:55 sebelumnya berulang-ulang telah diberi tekanan mengenai ketaatan kepada Allah Swt. dan Rasul-Nya.
Tekanan ini merupakan isyarat mengenai tingkat
dan kedudukan seorang khalifah
dalam Islam. Ayat ini berisikan janji
Allah Swt. bahwa orang-orang Muslim
akan dianugerahi pimpinan ruhani maupun
duniawi.
Janji Allah Swt.
itu diberikan kepada seluruh umat Islam,
tetapi lembaga khilafat akan mendapat bentuk nyata dalam wujud perorangan-perorangan tertentu,
yang akan menjadi penerus Nabi Besar Muhammad saw. serta wakil seluruh umat Islam. Janji
mengenai ditegakkannya khilafat
adalah jelas dan tidak dapat menimbulkan salah
paham.
Oleh sebab kini Nabi Besar Muhammad saw. satu-satunya hadi (petunjuk
jalan) umat manusia untuk selama-lamanya (QS.3:32] QS.4:70-71), maka khilafat
beliau saw. akan terus berwujud dalam salah satu bentuk di dunia ini sampai Hari Kiamat, karena semua khilafat
yang lain telah tiada lagi.
Inilah, di antara banyak keunggulan yang lainnya lagi, merupakan kelebihan Nabi Besar Muhammad saw. yang menonjol di atas semua nabi dan rasul Allah lainnya. Di Akhir Zaman ini
-- sesuai dengan sabda Nabi Besar Muhammad saw. dalam Hadits sebelum ini
– umat manusia telah menyaksikan khalifah ruhani beliau saw. yang
terbesar dalam wujud Pendiri Jemaat Ahmadiyah., Mirza Ghulam Ahmad a.s. – Imam Mahdi a.s. dan Al-Masih Mau’ud a.s. –
sebagaimana sabda beliau saw. ثم تكون خلافة على منهاج النبوة . ثم سكت " -- “kemudian berlaku pula zaman Kekhalifahan yang berjalan di atas cara kenabian.” Setelah mengucapkan nubuatan
tersebut beliau saw. diam.
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran Anyar,
28 Januari 2017
Tidak ada komentar:
Posting Komentar