Bismillaahirrahmaanirrahiim
ISLAM
Pidato Mirza Ghulam Ahmad a.s.
Tgl. 2 November 1904
di Kota Sialkote – Hindustan
Bab 1
MAKNA “SESUNGGUHYA AGAMA DI SISI ALLAH ISLAM” & SIFAT RUBUBIYAT
ALLAH SWT. DALAM PROSES PENYEMPURNAAN
AGAMA (SYARIAT) DAN KITAB SUCI
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
S
|
ebelum mengemukakan materi “ISLAM, Pidato Mirza Ghulam Ahmad a.s. Tgl. 2
November 1894 di Sialkote - Hindustan”, agar memahami
materi pidato Pendiri Jemaat Muslim Ahmadiyah yang sangat bersejarah dan sangat berbobot tersebut perlu terlebih dulu dijelaskan beberapa topik pembahasan sebagai landasan untuk memahaminya.
Di
antaranya adalah masalah hubungan agama Islam (Al-Quran) dengan agama-agama dan Kitab-kitab suci sebelumnya serta hubungan Nabi Besar Muhammad saw. dengan rasul-rasul
Allah yang diutus sebelumnya, sebab
umumnya orang memahami hubungan agama
Islam dengan agama-agama yang diwahyukan sebelumnya ibarat sebuah kawasan yang berdampingan dengan kawasan-kawasan
lainnya – demikian pula halnya hubungan
Nabi Besar Muhammad saw. dengan para rasul
Allah sebelumnya -- padahal hubungannya
tidak demikian.
Masalah lain yang perlu
dijelaskan adalah alasan mengapa
semua umat beragama sepakat mempercayai dan sedang menunggu-nunggu kedatangan seorang “pahlawan agama” atau “Rasul Akhir Zaman” -- dengan nama
yang berlainan -- yang mereka percayai akan mengunggulkan
agamanya atas agama-agama
lainnya, sebagaimana yang juga dipercayai
oleh umat Islam, firman-Nya:
ہُوَ
الَّذِیۡۤ اَرۡسَلَ رَسُوۡلَہٗ
بِالۡہُدٰی وَ دِیۡنِ الۡحَقِّ
لِیُظۡہِرَہٗ عَلَی الدِّیۡنِ کُلِّہٖ وَ
لَوۡ کَرِہَ الۡمُشۡرِکُوۡنَ ٪﴿﴾
Dia-lah Yang mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk
dan dengan agama yang benar supaya Dia memenangkannya atas semua agama,
walaupun orang musyrik tidak menyukai
(Ash-Shaf [61]:10).
Makna “Islam Sebagai Agama di Sisi Allah”
& Makna “Penyerahan Diri” Kepada Allah Swt.
Menurut Allah Swt. dalam Al-Quran,
nama agama sejak pertama kali wahyu syariat diturunkan kepada para rasul Allah pembawa syariat
adalah “Islam” , firman-Nya:
اِنَّ الدِّیۡنَ عِنۡدَ اللّٰہِ
الۡاِسۡلَامُ ۟ وَ مَا اخۡتَلَفَ الَّذِیۡنَ اُوۡتُوا الۡکِتٰبَ اِلَّا مِنۡۢ
بَعۡدِ مَا جَآءَہُمُ الۡعِلۡمُ بَغۡیًۢا بَیۡنَہُمۡ ؕ وَ مَنۡ یَّکۡفُرۡ
بِاٰیٰتِ اللّٰہِ فَاِنَّ اللّٰہَ سَرِیۡعُ
الۡحِسَابِ ﴿﴾
Sesungguhnya
agama yang benar di sisi Allah adalah Islam, dan sekali-kali tidaklah berselisih orang-orang yang diberi Kitab اِلَّا مِنۡۢ بَعۡدِ مَا جَآءَہُمُ
الۡعِلۡمُ بَغۡیًۢا بَیۡنَہُمۡ -- melainkan setelah ilmu datang kepada mereka karena kedengkian di antara mereka. وَ مَنۡ یَّکۡفُرۡ بِاٰیٰتِ اللّٰہِ
فَاِنَّ اللّٰہَ سَرِیۡعُ الۡحِسَابِ -- Dan barangsiapa kafir kepada Tanda-tanda Allah maka
sesungguhnya Allah sangat cepat dalam
meng-hisab. (Āli ‘Imran [3]:20).
Salah satu makna mengapa “agama” di sisi Allah adalah Islam, karena semua
ajaran agama yang bersumber dari Allah
Swt. mengajarkan sikap “penyerahan
diri” (aslam/aslim) kepada Allah Swt. melalui ketaatan sepenuhnya kepada petunjuk Allah
Swt. dan rasul-Nya, sebagaimana
firman-Nya berikut ini kepada Nabi Ibrahim a.s.:
وَ مَنۡ یَّرۡغَبُ عَنۡ
مِّلَّۃِ اِبۡرٰہٖمَ اِلَّا مَنۡ سَفِہَ نَفۡسَہٗ ؕ وَ لَقَدِ اصۡطَفَیۡنٰہُ فِی الدُّنۡیَا ۚ وَ اِنَّہٗ فِی الۡاٰخِرَۃِ لَمِنَ
الصّٰلِحِیۡنَ ﴿ ﴾ اِذۡ قَالَ لَہٗ رَبُّہٗۤ اَسۡلِمۡ ۙ قَالَ اَسۡلَمۡتُ لِرَبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ ﴿﴾ وَ وَصّٰی بِہَاۤ اِبۡرٰہٖمُ بَنِیۡہِ وَ یَعۡقُوۡبُ ؕ یٰبَنِیَّ اِنَّ اللّٰہَ اصۡطَفٰی
لَکُمُ الدِّیۡنَ فَلَا تَمُوۡتُنَّ اِلَّا
وَ اَنۡتُمۡ مُّسۡلِمُوۡنَ ﴿﴾ؕ
Dan siapakah yang berpaling dari agama Ibrahim selain orang yang memperbodoh dirinya sendiri?
Dan sungguh
Kami benar-benar telah me-milihnya di dunia
dan sesungguhnya di akhirat pun dia
termasuk orang-orang yang saleh. Ingatlah ketika Rabb-nya (Tuhan-nya) berfirman kepadanya: “Berserah dirilah”, ia berkata: ”Aku telah berserah diri kepada Rabb (Tuhan) seluruh alam.” Dan
Ibrahim mewasiatkan yang demikian
kepada anak-anaknya dan demikian
pula Ya’qub seraya berkata: “Hai anak-anakku, sesungguhnya Allah
telah memilih agama ini bagi kamu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam
keadaan berserah diri.” (Al-Baqarah [2]:131-133).
Makna
kata safiha dalam ayat: “Dan siapakah yang berpaling dari agama Ibrahim selain orang yang memperbodoh dirinya sendiri?“
Berbagai bentuk dari kata safiha, safaha dan safuha
mempunyai arti yang berbeda, safiha berarti: ia jahil, bodoh atau kurang
akal.
Jika kata itu dipakai bersama dengan nafsahu, seolah-olah sebagai
pelengkapnya seperti dalam ayat ini, kata itu tidak sungguh-sungguh menjadi transitif
(berpelengkap), hanya nampaknya saja demikian (Lisan-ul-‘Arab dan Al-Mufradat). Kata-kata
"Illa man safiha nafsahu" itu berarti juga “kecuali yang telah membinasakan jiwanya sendiri.”
Makna ayat: “maka
janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan berserah diri,”
karena tidak ada saat ditentukan
untuk mati, maka orang hendaknya setiap saat menjalani kehidupannya dengan berserah diri (patuh-taat) sepenuhnya kepada Allah Swt., dalam
surah lain Allah Swt. berfirman:
یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰہَ حَقَّ تُقٰتِہٖ وَ لَا تَمُوۡتُنَّ اِلَّا وَ اَنۡتُمۡ
مُّسۡلِمُوۡنَ ﴿﴾
Hai
orang-orang yang beriman, bertakwalah
kepada Allah dengan takwa yang
sebenar-benarnya, dan janganlah sekali-kali kamu mati kecuali
kamu dalam keadaan berserah diri (Āli ‘Imran [3]:103).
Karena kedatangan saat kematian tidak diketahui, manusia dapat berkeyakinan akan mati dalam keadaan berserah diri kepada Allah Swt. hanya jika senantiasa tetap dalam keadaan menyerahkan diri kepada-Nya. Jadi
ungkapan itu mengandung arti bahwa manusia dalam menjalani kehidupannya harus
senantiasa tetap patuh kepada Allah Swt. yakni muslimūn (berserah diri kepada-Nya).
Ayat ini dapat pula berarti bahwa
orang beriman sejati hendaknya begitu
sepenuhnya berserah diri kepada kehendak Ilahi – yang merupakan hukum jasmani dan hukum ruhani (syariat) -- dan
meraih keridhaan-Nya begitu sempurna,
sehingga Allah Swt. dengan kemurahan-Nya yang tidak terbatas, Dia akan
mengatur demikian rupa sehingga kematian
akan datang kepadanya pada saat ketika ia
berserah diri sepenuhnya kepada kehendak-Nya.
Terjadinya Keragaman dan
Perpecahan Agama Adalah Akibat Kedengkian Terhadap Rasul Allah yang Dijanjikan
Jadi, itulah makna ayat اِنَّ الدِّیۡنَ عِنۡدَ اللّٰہِ
الۡاِسۡلَامُ ۟ -- “Sesungguhnya
agama yang benar di sisi Allah adalah Islam”.
Selanjutnya Allah Swt. berfirman: وَ مَا اخۡتَلَفَ
الَّذِیۡنَ اُوۡتُوا الۡکِتٰبَ -- dan sekali-kali
tidaklah berselisih orang-orang yang diberi Kitab اِلَّا مِنۡۢ بَعۡدِ
مَا جَآءَہُمُ الۡعِلۡمُ -- melainkan setelah ilmu datang kepada mereka
بَغۡیًۢا
بَیۡنَہُمۡ -- karena kedengkian di antara mereka. وَ مَنۡ یَّکۡفُرۡ بِاٰیٰتِ اللّٰہِ
فَاِنَّ اللّٰہَ سَرِیۡعُ الۡحِسَابِ -- Dan barangsiapa kafir kepada Tanda-tanda Allah maka
sesungguhnya Allah sangat cepat dalam
menghisab. (Āli ‘Imran [3]:20). (QS.3:20).
Ayat
selanjutnya menjelaskan bahwa karena adanya kedengkian
terhadap rasul Allah yang
kedatangannya dijanjikan itulah
(QS.7:35-37) maka mulai terjadi keragaman
dan perpecahan agama serta para pemeluknya saling mendakwakan
bahwa hanya agamanya yang benar sedangkan yang lain sesat, contohnya yang terjadi di
kalangan Bani Israil (golongan
Ahli-Kitab), firman-Nya:
وَ قَالُوۡا لَنۡ یَّدۡخُلَ الۡجَنَّۃَ
اِلَّا مَنۡ کَانَ ہُوۡدًا اَوۡ نَصٰرٰی ؕ تِلۡکَ اَمَانِیُّہُمۡ ؕ قُلۡ ہَاتُوۡا
بُرۡہَانَکُمۡ اِنۡ کُنۡتُمۡ صٰدِقِیۡنَ
﴿﴾ بَلٰی
٭ مَنۡ اَسۡلَمَ وَجۡہَہٗ لِلّٰہِ وَ ہُوَ مُحۡسِنٌ فَلَہٗۤ اَجۡرُہٗ عِنۡدَ رَبِّہٖ ۪ وَ
لَا خَوۡفٌ عَلَیۡہِمۡ وَ لَا ہُمۡ یَحۡزَنُوۡنَ ﴿﴾٪
Dan mereka
berkata: ”Tidak akan pernah ada yang akan masuk surga, kecuali orang-orang Yahudi atau Nasrani.” Ini hanyalah angan-angan mereka belaka. Katakanlah: “Kemukakanlah bukti-bukti kamu, jika kamu sungguh orang-orang yang benar.” بَلٰی ٭ مَنۡ اَسۡلَمَ
وَجۡہَہٗ لِلّٰہِ وَ ہُوَ مُحۡسِنٌ فَلَہٗۤ اَجۡرُہٗ عِنۡدَ رَبِّہٖ ۪ وَ
لَا خَوۡفٌ عَلَیۡہِمۡ وَ لَا ہُمۡ یَحۡزَنُوۡنَ -- Tidak
demikian, bahkan yang benar ialah
barangsiapa berserah diri
kepada Allah dan ia berbuat ihsan maka baginya
ada ganjaran di sisi Rabb-nya (Tuhan-nya),
tidak ada ketakutan atas mereka dan tidak pula mereka akan bersedih. (Al-Baqarah
[2]:112-113).
Ayat
112 menjelaskan bahwa bahwa orang-orang
Yahudi dan Nashrani (Kristen)
kedua-duanya berkhayal kosong bahwa
hanya orang Yahudi atau orang Kristen saja yang dapat meraih najat
(keselamatan). Pendakwaan mereka dibantah Allah Swt. dalam ayat
selanjutnya: بَلٰی ٭
مَنۡ اَسۡلَمَ وَجۡہَہٗ لِلّٰہِ وَ
ہُوَ مُحۡسِنٌ فَلَہٗۤ اَجۡرُہٗ عِنۡدَ
رَبِّہٖ ۪ وَ لَا خَوۡفٌ عَلَیۡہِمۡ وَ
لَا ہُمۡ یَحۡزَنُوۡنَ -- Tidak demikian, bahkan yang benar ialah barangsiapa
berserah diri kepada Allah dan ia berbuat ihsan maka baginya
ada ganjaran di sisi Rabb-nya (Tuhan-nya),
tidak ada ketakutan atas mereka dan tidak pula mereka akan bersedih."
Wajh dalam ayat: مَنۡ اَسۡلَمَ وَجۡہَہٗ لِلّٰہِ – “Tidak
demikian, bahkan yang benar ialah
barangsiapa berserah diri
kepada Allah“ berarti: wajah (muka); benda itu
sendiri; tujuan dan motif; perbuatan atau tindakan yang kepadanya seseorang
menujukan perhatian; jalan yang diinginkan, anugerah atau kebaikan (Aqrab-ul-Mawarid).
Ke-Muslim-an Sempurna
Nabi Besar Muhammad saw.
Surah Al-Baqarah [2]:113 tersebut memberi isyarat kepada ketiga taraf penting ketakwaan sempurna, yaitu: (1) fana
(menghilangkan diri), (2) baqa (kelahiran kembali), dan (3) liqa
(memanunggal dengan Allah Swt.). Kata-kata
مَنۡ اَسۡلَمَ وَجۡہَہٗ
لِلّٰہِ -- “berserah
diri kepada Allah” berarti segala kekuatan dan anggota tubuh manusia, dan apa-apa yang menjadi bagian dirinya hendaknya diserahkan
kepada Allah Swt. seutuhnya dan dibaktikan kepada-Nya. Keadaan itu dikenal sebagai fana atau
“kematian” yang harus ditimpakan
seorang Muslim atas dirinya sendiri
melalui pengamalan syariat
(Al-Quran).
Anak-kalimat kedua وَ ہُوَ
مُحۡسِنٌ -- “dan
ia berbuat ihsan” menunjuk kepada keadaan baqa atau “kelahiran kembali”, sebab bila seseorang
telah melenyapkan dirinya (fana)
dalam cinta Ilahi dan segala tujuan serta keinginan duniawi telah lenyap, ia seolah-olah dianugerahi kehidupan baru yang dapat disebut baqa
atau kelahiran kembali, maka ia hidup untuk Allah Swt. (huququllāh) dan
bakti kepada umat manusia (huququl-‘ibād).
Kata-kata penutup: وَ لَا خَوۡفٌ عَلَیۡہِمۡ وَ
لَا ہُمۡ یَحۡزَنُوۡنَ -- “maka baginya ada ganjaran di sisi Rabb-nya
(Tuhan-nya), tidak
ada ketakutan atas mereka dan tidak
pula mereka akan bersedih" menjelaskan taraf kebaikan ketiga dan tertinggi
— taraf liqa atau memanunggal
(menyatu) dengan Allah Swt. yang
dalam Al-Quran disebut pula “jiwa yang
tenteram” atau nafs muthma’innah. (QS.89:28-31).
Ke-Muslim-an
sempurna seperti itu telah diperagakan
oleh Nabi Besar Muhammad saw. sebagai hasil dari pengamalan ajaran Islam (Al-Quran), bahkan dalam segala seginya lebih sempurna daripada ke-Muslim-an (penyerahan diri) yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim a.s., firman-Nya kepada
Nabi Besar Muhammad saw.:
قُلۡ
اِنَّنِیۡ ہَدٰىنِیۡ رَبِّیۡۤ
اِلٰی صِرَاطٍ مُّسۡتَقِیۡمٍ ۬ۚ دِیۡنًا قِیَمًا مِّلَّۃَ اِبۡرٰہِیۡمَ حَنِیۡفًا ۚ وَ مَا کَانَ مِنَ
الۡمُشۡرِکِیۡنَ ﴿﴾ قُلۡ اِنَّ صَلَاتِیۡ وَ نُسُکِیۡ وَ مَحۡیَایَ وَ مَمَاتِیۡ لِلّٰہِ
رَبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ ﴿﴾ۙ لَا شَرِیۡکَ لَہٗ ۚ وَ بِذٰلِکَ اُمِرۡتُ وَ اَنَا اَوَّلُ الۡمُسۡلِمِیۡنَ ﴿﴾
Katakanlah: “Sesungguhnya aku telah diberi petunjuk oleh
Rabb-ku (Tuhan-ku) kepada jalan
lurus, agama yang teguh, agama Ibrahim yang lurus dan dia bukanlah dari orang-orang musyrik.” قُلۡ
اِنَّ صَلَاتِیۡ وَ نُسُکِیۡ وَ
مَحۡیَایَ وَ مَمَاتِیۡ لِلّٰہِ رَبِّ
الۡعٰلَمِیۡنَ -- Katakanlah:
“Sesungguhnya shalatku, pengorbananku, kehidupanku,
dan kematianku
hanyalah untuk Allah, Rabb (Tuhan) seluruh alam;
لَا شَرِیۡکَ
لَہٗ ۚ وَ بِذٰلِکَ اُمِرۡتُ وَ اَنَا
اَوَّلُ الۡمُسۡلِمِیۡنَ -- tidak ada sekutu bagi-Nya, untuk itulah
aku diperintahkan, dan akulah
orang pertama yang berserah diri (Al-An’ām
[6]:162-164).
Shalat,
korban, hidup, dan mati meliputi seluruh bidang amal perbuatan manusia; dan Nabi
Besar Muhammad saw. diperintah menyatakan bahwa semua segi kehidupan di dunia ini dipersembahkan oleh beliau saw. kepada Allah Swt., semua
amal ibadah beliau saw. dipersembahkan
kepada Allah Swt., semua pengorbanan dilakukan beliau saw. untuk
Dia; segala penghidupan dihibahkan
beliau saw. untuk berbakti kepada-Nya, maka bila di jalan agama Nabi Besar
Muhammad saw. mencari maut (kematian) di jalan Allah itu pun guna
meraih keridhaan-Nya.
Kedengkian Penyebab
Utama Terjadinya Beragam Agama dan Perpecahan Umat Beragama
Jadi, betapa kedengkian
yang timbul di kalangan para pemuka umat beragama terhadap Rasul Allah yang kedatangannya dijanjikan (QS.7:35-36) telah
menyebabkan timbulnya beragam agama dan timbulnya perpecahan umat beragama, padahal seharusnya dari awal sampai akhir
“agama” yang bersumber
dari Allah Swt. itu adalah Islam dan pemeluknya Muslim
(QS.3:20; QS.22:78-79), firman-Nya:
وَ قَالَتِ الۡیَہُوۡدُ لَیۡسَتِ النَّصٰرٰی عَلٰی شَیۡءٍ ۪ وَّ
قَالَتِ النَّصٰرٰی لَیۡسَتِ الۡیَہُوۡدُ عَلٰی شَیۡءٍ ۙ وَّ ہُمۡ یَتۡلُوۡنَ
الۡکِتٰبَ ؕ کَذٰلِکَ قَالَ الَّذِیۡنَ لَا یَعۡلَمُوۡنَ مِثۡلَ قَوۡلِہِمۡ ۚ
فَاللّٰہُ یَحۡکُمُ بَیۡنَہُمۡ یَوۡمَ الۡقِیٰمَۃِ فِیۡمَا کَانُوۡا فِیۡہِ
یَخۡتَلِفُوۡنَ ﴿﴾
Dan orang-orang
Yahudi mengatakan: ”Orang-orang Nasrani sekali-kali tidak berdiri di atas sesuatu kebenaran,”
dan orang-orang Nasrani mengatakan: ”Orang-orang
Yahudi sekali-kali tidak berdiri di atas sesuatu kebenaran.” وَّ ہُمۡ یَتۡلُوۡنَ الۡکِتٰبَ -- Padahal mereka membaca Alkitab yang sama. کَذٰلِکَ قَالَ الَّذِیۡنَ لَا یَعۡلَمُوۡنَ
مِثۡلَ قَوۡلِہِمۡ -- Demikian
pula orang-orang yang tidak mengetahui
berkata seperti ucapan
mereka itu, فَاللّٰہُ یَحۡکُمُ بَیۡنَہُمۡ یَوۡمَ
الۡقِیٰمَۃِ فِیۡمَا کَانُوۡا فِیۡہِ یَخۡتَلِفُوۡنَ -- maka pada Hari Kiamat Allah akan menghakimi di
antara mereka tentang apa yang
mereka per-selisihkan (Al-Baqarah
[2]:112-114).
Firman-Nya lagi:
وَ قَالُوۡا کُوۡنُوۡا ہُوۡدًا اَوۡ نَصٰرٰی
تَہۡتَدُوۡا ؕ قُلۡ بَلۡ مِلَّۃَ اِبۡرٰہٖمَ حَنِیۡفًا ؕ وَ مَا کَانَ مِنَ الۡمُشۡرِکِیۡنَ ﴿﴾
Dan mereka
berkata: “Jadilah kamu Yahudi atau Nasrani, barulah kamu akan mendapat petunjuk.” Katakanlah: “Tidak, bahkan turutilah agama Ibrahim yang lurus, dan ia
sekali-kali bukan dari golongan
orang-orang musyrik.” (Al-Baqarah [2]:136).
Makna hanīf
dalam ayat "Katakanlah: “Tidak, bahkan turutilah agama Ibrahim yang lurus” berarti:
(1)
orang yang
berpaling dari kesesatan lalu memilih
petunjuk (Al-Mufradat);
(2)
orang yang
dengan tetapnya mengikuti agama yang
benar dan tidak pernah menyimpang
darinya;
(3)
orang yang hatinya condong kepada Islam dengan sempurna dan tetap teguh di dalamnya (Lexicon Lane);
(4)
orang yang
mengikuti agama Nabi Ibrahim a.s. (Aqrab-ul-Mawarid);
(5)
orang yang beriman kepada semua nabi Allah (Tafsir Ibnu Katsir).
Sedemikian rupa penyimpangan
pemahaman di kalangan golongan Ahli Kitab tersebut akibat “kedengkian” mereka terhadap Nabi
Besar Muhammad saw. yang berasal
dari Bani Isma’il, sehingga Nabi Ibrahim a.s. pun mereka akui sebagai “orang Yahudi” dan “orang
Nasrani”, firman-Nya:
اَمۡ تَقُوۡلُوۡنَ اِنَّ اِبۡرٰہٖمَ وَ اِسۡمٰعِیۡلَ وَ اِسۡحٰقَ وَ یَعۡقُوۡبَ وَ الۡاَسۡبَاطَ کَانُوۡا ہُوۡدًا اَوۡ نَصٰرٰی ؕ قُلۡ ءَاَنۡتُمۡ اَعۡلَمُ اَمِ اللّٰہُ ؕ وَ
مَنۡ اَظۡلَمُ مِمَّنۡ کَتَمَ شَہَادَۃً عِنۡدَہٗ مِنَ اللّٰہِ ؕ وَ
مَا اللّٰہُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعۡمَلُوۡنَ ﴿﴾ تِلۡکَ اُمَّۃٌ قَدۡ خَلَتۡ ۚ
لَہَا مَا کَسَبَتۡ وَ لَکُمۡ
مَّا کَسَبۡتُمۡ ۚ وَ لَا تُسۡـَٔلُوۡنَ عَمَّا
کَانُوۡا یَعۡمَلُوۡنَ ﴿﴾٪
Ataukah kamu
berkata: “Sesungguhnya Ibrahim, Isma’il, Ishaq, Ya’qub dan keturunannya
adalah Yahudi atau Nasrani?” Katakanlah: “Apakah kamu yang lebih mengetahui
ataukah Allah?” Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang menyembunyikan
kesaksian dari Allah yang ada padanya? Dan Allah
sekali-kali tidak lengah terhadap apa
yang kamu kerjakan. Itulah umat yang telah berlalu, bagi mereka apa yang mereka usahakan dan bagi
kamu apa yang kamu usahakan, dan kamu tidak akan dimintai tanggungjawab mengenai apa pun yang senantiasa mereka kerjakan. (Al-Baqarah [2]:141-142).
Kaum Yahudi dan Kristen secara
tidak langsung telah diberitahukan, bagaimana keadaan Nabi Ibrahim a.s. dan keturunan beliau, kalau
benar -- seperti dinyatakan oleh
mereka -- bahwa najat
(keselamatan) itu monopoli mereka
semata-mata, sebab dalam kenyataannya beliau-beliau itu hidup pada masa
sebelum Nabi Musa a.s. yaitu
ketika agama Yahudi dan Kristen belum berwujud?
Dalam ayat selanjutnya kaum Yahudi dan Kristen
diperingatkan pula, bahwa adanya mereka keturunan
nabi-nabi Allah sama sekali tidak ada
gunanya bagi mereka. Mereka akan harus
mempertanggungjawabkan perbuatan mereka sendiri karena tiada orang yang harus memikul beban orang lain (QS.6:165;
QS.17:16; QS.35:19; QS.53:39-40).
Ajarkan Kembali Kepada “Kalimat
yang Sama” yaitu Berpegang-teguh
Pada “Tauhid Ilahi”
Sehubungan
dengan terjadinya “penyimpangan” dari
millat (agama) Nabi Ibrahim a.s. yang hanīf (lurus – QS.2:136) di kalangan Bani Israil tersebut,
Allah Swt. berfirman kepada Nabi Besar Muhammad saw. firman-Nya:
قُلۡ یٰۤاَہۡلَ الۡکِتٰبِ تَعَالَوۡا
اِلٰی کَلِمَۃٍ سَوَآءٍۢ بَیۡنَنَا وَ
بَیۡنَکُمۡ اَلَّا نَعۡبُدَ اِلَّا اللّٰہَ وَ لَا نُشۡرِکَ بِہٖ شَیۡئًا وَّ لَا
یَتَّخِذَ بَعۡضُنَا بَعۡضًا اَرۡبَابًا مِّنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ ؕ فَاِنۡ تَوَلَّوۡا
فَقُوۡلُوا اشۡہَدُوۡا بِاَنَّا مُسۡلِمُوۡنَ ﴿﴾ یٰۤاَہۡلَ
الۡکِتٰبِ لِمَ تُحَآجُّوۡنَ فِیۡۤ اِبۡرٰہِیۡمَ وَ مَاۤ اُنۡزِلَتِ التَّوۡرٰىۃُ
وَ الۡاِنۡجِیۡلُ اِلَّا مِنۡۢ بَعۡدِہٖ ؕ
اَفَلَا تَعۡقِلُوۡنَ ﴿﴾ ہٰۤاَنۡتُمۡ
ہٰۤؤُلَآءِ حَاجَجۡتُمۡ فِیۡمَا
لَکُمۡ بِہٖ عِلۡمٌ فَلِمَ تُحَآجُّوۡنَ فِیۡمَا لَیۡسَ لَکُمۡ بِہٖ عِلۡمٌ ؕ وَ
اللّٰہُ یَعۡلَمُ وَ اَنۡتُمۡ لَا تَعۡلَمُوۡنَ ﴿﴾ مَا
کَانَ اِبۡرٰہِیۡمُ یَہُوۡدِیًّا وَّ لَا
نَصۡرَانِیًّا وَّ لٰکِنۡ کَانَ حَنِیۡفًا مُّسۡلِمًا ؕ وَ مَا کَانَ مِنَ
الۡمُشۡرِکِیۡنَ ﴿﴾ اِنَّ
اَوۡلَی النَّاسِ بِاِبۡرٰہِیۡمَ لَلَّذِیۡنَ اتَّبَعُوۡہُ وَ ہٰذَا النَّبِیُّ وَ
الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا ؕ وَ اللّٰہُ
وَلِیُّ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ ﴿﴾
Katakanlah:
“Hai Ahlul Kitab, marilah kepada satu kalimat yang sama di antara
kami dan kamu, bahwa kita tidak
menyembah kecuali kepada Allah,
dan tidak pula kita mempersekutukan-Nya dengan
sesuatu apa pun, dan sebagian
kita tidak menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan-tuhan selain Allah.” فَاِنۡ تَوَلَّوۡا فَقُوۡلُوا اشۡہَدُوۡا
بِاَنَّا مُسۡلِمُوۡنَ -- Tetapi jika
mereka berpaling maka katakanlah: “Jadi
saksilah bahwa sesungguhnya kami
orang-orang yang berserah diri kepada Allah.” یٰۤاَہۡلَ الۡکِتٰبِ لِمَ تُحَآجُّوۡنَ فِیۡۤ اِبۡرٰہِیۡمَ وَ مَاۤ
اُنۡزِلَتِ التَّوۡرٰىۃُ وَ الۡاِنۡجِیۡلُ
اِلَّا مِنۡۢ بَعۡدِہٖ ؕ اَفَلَا
تَعۡقِلُوۡنَ -- Hai
Ahlul Kitab, mengapakah
kamu berbantah mengenai Ibrahim, padahal sekali-kali tidaklah Taurat dan Injil diturunkan
melainkan sesudahnya. Tidakkah kamu mau mengerti? ہٰۤاَنۡتُمۡ
ہٰۤؤُلَآءِ حَاجَجۡتُمۡ فِیۡمَا
لَکُمۡ بِہٖ عِلۡمٌ فَلِمَ تُحَآجُّوۡنَ فِیۡمَا لَیۡسَ لَکُمۡ بِہٖ عِلۡمٌ ؕ وَ اللّٰہُ
یَعۡلَمُ وَ اَنۡتُمۡ لَا تَعۡلَمُوۡنَ ﴿﴾ -- Perhatikanlah, kamu adalah orang-orang yang telah berbantah mengenai apa yang kamu
mempunyai sedikit pengetahuan, maka mengapa kamu berbantah pula mengenai apa yang kamu tidak mempunyai
pengetahuan sama sekali? Dan Allah
mengetahui sedangkan kamu tidak mengetahui.
مَا کَانَ اِبۡرٰہِیۡمُ یَہُوۡدِیًّا وَّ لَا
نَصۡرَانِیًّا وَّ لٰکِنۡ کَانَ حَنِیۡفًا مُّسۡلِمًا ؕ وَ مَا کَانَ مِنَ
الۡمُشۡرِکِیۡنَ -- Ibrahim sekali-kali bukanlah seorang Yahudi
dan bukan pula seorang Nasrani, melainkan ia seorang yang selalu cenderung
kepada Allah dan berserah
diri kepada-Nya, dan dia sama sekali bukan dari antara orang-orang musyrik. اِنَّ اَوۡلَی النَّاسِ بِاِبۡرٰہِیۡمَ
لَلَّذِیۡنَ اتَّبَعُوۡہُ -- Sesungguhnya manusia yang paling dekat kepada Ibrahim adalah orang-orang
yang benar-benar mengikutinya, وَ ہٰذَا النَّبِیُّ وَ الَّذِیۡنَ
اٰمَنُوۡا ؕ وَ اللّٰہُ وَلِیُّ
الۡمُؤۡمِنِیۡنَ -- dan
terutama Nabi ini serta orang-orang yang beriman kepadanya, dan
Allah adalah Pelindung orang-orang
yang beriman. (Ali ‘Imran [3]:66-69).
Sifat Rububiyyat Allah
Swt. & Proses Bertahap Penyempurnaan Agama (Syariat)
Jadi,
kembali kepada pernyataan Allah Swt. di awal Bab ini bahwa
sejak awal “agama” di sisi
Allah Swt. adalah “Islam”,
firman-Nya:
اِنَّ الدِّیۡنَ عِنۡدَ اللّٰہِ
الۡاِسۡلَامُ ۟ وَ مَا اخۡتَلَفَ الَّذِیۡنَ اُوۡتُوا الۡکِتٰبَ اِلَّا مِنۡۢ
بَعۡدِ مَا جَآءَہُمُ الۡعِلۡمُ بَغۡیًۢا بَیۡنَہُمۡ ؕ وَ مَنۡ یَّکۡفُرۡ
بِاٰیٰتِ اللّٰہِ فَاِنَّ اللّٰہَ سَرِیۡعُ
الۡحِسَابِ ﴿﴾
Sesungguhnya
agama yang benar di sisi Allah adalah Islam, dan sekali-kali tidaklah berselisih orang-orang yang diberi Kitab اِلَّا مِنۡۢ بَعۡدِ مَا جَآءَہُمُ
الۡعِلۡمُ بَغۡیًۢا بَیۡنَہُمۡ -- melainkan setelah ilmu datang kepada mereka karena kedengkian di antara mereka. وَ مَنۡ یَّکۡفُرۡ بِاٰیٰتِ اللّٰہِ
فَاِنَّ اللّٰہَ سَرِیۡعُ الۡحِسَابِ -- Dan barangsiapa kafir kepada Tanda-tanda Allah maka
sesungguhnya Allah sangat cepat dalam
menghisab. (Āli ‘Imran [3]:20).
Tetapi sebagaimana
penciptaan tatanan alam semesta ini dilakukan melalui proses bertahap
yang berkesinambungan berdasarkan Sifat Rububiyat
Allah Swt. (QS.1:2; QS.21:31-34; QS.41:10-13), demikian pula halnya dengan pewahyuan hukum
syariat pun sesuai dengan Sifat Rububiyat Allah Swt. (QS.1:2). Itulah sebabnya selama proses penyempurnaan hukum-hukum syariat tersebut masih berlangsung dan belum mencapai kesempurnaan maka selama itu
pula nama Islam belum
diberikan Allah Swt. kepada hukum-hukum
syariat yang diwahyukan Allah
Swt. sebelum agama Islam
(Al-Quran) tersebut.
Itulah pula sebabnya mengapa hukum-hukum
syariat (agama) yang diwahyukan kepada para rasul Allah yang diutus sebelum Nabi Besar Muhammad saw. misinya
terbatas hanya untuk kaum para rasul Allah
yang bersangkutan saja, contohnya Taurat
dan Injil hanya untuk kalangan Bani Israil saja (QS.2:88-91; QS.61:6-7).
Dikarena agama-agama
yang diwahyukan sebelum agama Islam (Al-Quran) masih dalam proses penyempurnaan, itulah
sebabnya kecuali agama Islam – yang
merupakan agama terakhir dan tersempurna (QS.5:4) -- agama-agama
dan Kitab-kitab suci sebelumnya tidak mendapat jaminan pemeliharaan Allah Swt., firman-Nya:
اِنَّا نَحۡنُ نَزَّلۡنَا الذِّکۡرَ وَ
اِنَّا لَہٗ لَحٰفِظُوۡنَ ۹
Sesungguhnya
”Kami-lah Yang menurunkan
peringatan ini, dan sesungguhnya
Kami-lah pemeliharanya (Al-Hijr
[15]:10).
Mengisyaratkan kepada
kenyataan masih berlangsungnya proses penyempurnaan hukum-hukum syariat itulah pernyataan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (Yesus) berikut ini:
Yesus dan hukum Taurat
5:17 "Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang
untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk
meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. 5:18 Karena Aku berkata
kepadamu: Sesungguhnya selama belum
lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan
dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi. 5:19 Karena itu siapa yang
meniadakan salah satu perintah hukum Taurat sekalipun yang paling
kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat
yang paling rendah di dalam Kerajaan Sorga; tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkan segala perintah-perintah hukum
Taurat, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Sorga. 5:20 Maka Aku berkata kepadamu: Jika
hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat
dan orang-orang Farisi, sesungguhnya
kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan
Sorga. (Matius 5:17-20).
Kedatangan “Roh Kebenaran” yang “Membawa Seluruh Kebenaran”
Kemudian masih dalam Injil
Matius, setelah Yesus
mengecam keras para pemuka agama Yahudi (Matius 23:1-36) selanjutnya Allah
Swt. melalui beliau bernubuat
mengenai kedatangan “Dia yang datang dalam nama Tuhan”:
Keluhan terhadap Yerusalem
23:37 "Yerusalem, Yerusalem, engkau yang
membunuh nabi-nabi dan melempari
dengan batu orang-orang yang diutus kepadamu! Berkali-kali Aku rindu mengumpulkan anak-anakmu, sama seperti induk ayam mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayapnya,
tetapi kamu
tidak mau. 23:38 Lihatlah rumahmu ini akan
ditinggalkan dan menjadi sunyi. 23:39 Dan Aku berkata kepadamu: Mulai
sekarang kamu tidak akan melihat Aku lagi, hingga kamu berkata: Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan!" (Matius 23:37-39).
Sesuai dengan pernyataan Injil Matius mengenai belum
sempurnanya proses pewahyuan syariat
sampai dengan masa Nabi Isa Ibnu Maryam
a.s., dijelaskan lagi oleh beliau
dalam Injil Yohanes berikut ini:
16:12 Masih banyak hal yang harus Kukatakan kepadamu, tetapi sekarang kamu belum dapat menanggungnya.
16:13 Tetapi apabila Ia datang,
yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh
kebenaran; sebab Ia tidak akan berkata-kata dari diri-Nya
sendiri, tetapi segala sesuatu yang
didengar-Nya itulah yang akan
dikatakan-Nya dan Ia akan
memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang. (Yohanes
16:12-13).
Penggenapan Nubuatan Nabi Musa a.s. Dalam Ulangan
18:15-19
Nubuatan-nubuatan Nabi Isa Ibnu Maryam
a.s. dalam Injil tersebut berkenaan dengan “Dia yang datang dalam nama Tuhan” atau “Roh Kebenaran” yang “membawa
seluruh kebenaran” – yakni Nabi Besar Muhamad saw. -- sesuai dengan nubuatan Nabi Musa a.s. dalam Kitab Ulangan mengenai kedatangan “nabi yang seperti Musa” dari kalangan Bani Isma’il, yaitu Nabi
Besar Muhammad saw. yang membawa syariat terakhir dan tersempurna (QS.5:4):
18:15 Seorang
nabi dari tengah-tengahmu, dari
antara saudara-saudaramu, sama seperti aku, akan dibangkitkan bagimu oleh Tuhan, Allahmu;
dialah yang harus kamu dengarkan. 18:16 Tepat seperti yang kamu minta dahulu kepada Tuhan,
Allahmu, di gunung Horeb, pada hari perkumpulan, dengan berkata: Tidak mau aku mendengar lagi suara Tuhan,
Allahku, dan api yang besar ini tidak mau aku melihatnya lagi, supaya jangan
aku mati. 18:17 Lalu
berkatalah Tuhan kepadaku: Apa yang
dikatakan mereka itu baik; 18:18 seorang nabi akan
Kubangkitkan bagi mereka dari antara saudara mereka, seperti engkau ini; Aku
akan menaruh firman-Ku dalam mulutnya, dan ia akan mengatakan kepada mereka segala
yang Kuperintahkan kepadanya. 18:19 Orang yang tidak mendengarkan segala firman-Ku yang akan diucapkan nabi itu
demi nama-Ku, dari padanya akan Kutuntut pertanggungjawaban. 18:20 Tetapi seorang nabi, yang terlalu berani untuk
mengucapkan demi nama-Ku perkataan yang tidak Kuperintahkan untuk dikatakan
olehnya, atau yang berkata demi nama
allah lain, nabi itu harus mati. (Ulangan
18:15-20).
Salah satu bukti bahwa Kitab suci Al-Quran dan Nabi Besar
Muhammad saw. memiliki hubungan yang
sangat erat dengan nubuatan-nubuatan dalam Bible
tersebut, maka nubuatan-nubuatan tersebut dikemukakan lagi dalam Al-Quran guna membuktikan bahwa pewahyuan
Al-Quran dan pengutusan Nabi Besar
Muhammad saw. di kalangan Bani
Isma’il merupakan penggenapan nubuatan-nubuatan dalam Bible, mengenai hal itu berikut firman-Nya
kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
قُلۡ
مَا کُنۡتُ بِدۡعًا مِّنَ الرُّسُلِ وَ مَاۤ اَدۡرِیۡ مَا یُفۡعَلُ بِیۡ وَ لَا بِکُمۡ ؕ اِنۡ اَتَّبِعُ اِلَّا مَا یُوۡحٰۤی اِلَیَّ وَ مَاۤ اَنَا
اِلَّا نَذِیۡرٌ مُّبِیۡنٌ ﴿ ﴾ قُلۡ اَرَءَیۡتُمۡ
اِنۡ کَانَ مِنۡ عِنۡدِ اللّٰہِ وَ کَفَرۡتُمۡ بِہٖ وَ شَہِدَ شَاہِدٌ مِّنۡۢ بَنِیۡۤ اِسۡرَآءِیۡلَ عَلٰی مِثۡلِہٖ فَاٰمَنَ وَ اسۡتَکۡبَرۡتُمۡ ؕ اِنَّ
اللّٰہَ لَا یَہۡدِی الۡقَوۡمَ
الظّٰلِمِیۡنَ ﴿٪﴾
Katakanlah:
"Aku sekali-kali bukan rasul baru di antara rasul-rasul, dan aku sekali-kali tidak mengetahui apa yang akan diperbuat Allah
terhadapku atau pun terhadap kamu.
Aku tidak lain hanyalah mengikuti
apa yang diwahyukan kepadaku, dan aku
tidak lain hanyalah seorang pemberi
peringatan yang nyata." قُلۡ
اَرَءَیۡتُمۡ اِنۡ کَانَ مِنۡ
عِنۡدِ اللّٰہِ وَ کَفَرۡتُمۡ بِہٖ -- Katakanlah: "Terangkanlah kepadaku jika Al-Quran ini dari Allah tetapi kamu
tidak percaya kepadanya وَ شَہِدَ شَاہِدٌ مِّنۡۢ بَنِیۡۤ اِسۡرَآءِیۡلَ عَلٰی مِثۡلِہٖ فَاٰمَنَ وَ اسۡتَکۡبَرۡتُمۡ -- dan seorang
saksi dari antara Bani Israil memberi kesaksian terhadap kedatangan seseorang semisalnya lalu ia
beriman tetapi kamu berlaku sombong?"
اِنَّ اللّٰہَ لَا یَہۡدِی الۡقَوۡمَ الظّٰلِمِیۡنَ -- Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang zalim (Al-Ahqāf
[46]:11).
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran Anyar,
16 Januari 2017
Tidak ada komentar:
Posting Komentar