Selasa, 24 Januari 2017

Makna "Sesungguhnya Agama di Sisi Allah Islam" Sifat "Rububiyyat" Allah Swt. Dalam Proses Penyempurnaan Agama (Syariat) dan Kitab Suci




    
Bismillaahirrahmaanirrahiim


  ISLAM
Pidato  Mirza Ghulam Ahmad a.s.
Tgl. 2 November 1904 di Kota Sialkote – Hindustan

Bab  1

MAKNA   SESUNGGUHYA  AGAMA DI SISI ALLAH ISLAM” &  SIFAT RUBUBIYAT ALLAH SWT.  DALAM PROSES   PENYEMPURNAAN AGAMA (SYARIAT) DAN KITAB SUCI


Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

S
ebelum mengemukakan materi  ISLAM, Pidato Mirza Ghulam Ahmad a.s. Tgl. 2 November 1894 di Sialkote  - Hindustan”, agar   memahami materi pidato Pendiri Jemaat Muslim Ahmadiyah yang sangat bersejarah dan sangat berbobot tersebut   perlu terlebih dulu dijelaskan beberapa topik pembahasan sebagai landasan untuk memahaminya. 
     Di antaranya adalah masalah hubungan  agama Islam (Al-Quran) dengan agama-agama dan Kitab-kitab suci sebelumnya serta hubungan Nabi Besar Muhammad saw. dengan rasul-rasul Allah yang diutus sebelumnya,  sebab umumnya orang memahami hubungan agama Islam dengan agama-agama yang diwahyukan sebelumnya ibarat sebuah kawasan yang berdampingan  dengan kawasan-kawasan lainnya – demikian pula halnya hubungan Nabi Besar Muhammad saw. dengan para rasul Allah sebelumnya -- padahal hubungannya tidak demikian.
       Masalah lain yang perlu dijelaskan adalah alasan mengapa semua umat beragama sepakat mempercayai dan sedang menunggu-nunggu kedatangan seorang “pahlawan agama” atau “Rasul Akhir Zaman  -- dengan nama yang berlainan -- yang mereka percayai akan mengunggulkan agamanya atas agama-agama lainnya, sebagaimana  yang juga dipercayai oleh umat Islam, firman-Nya:
ہُوَ الَّذِیۡۤ  اَرۡسَلَ  رَسُوۡلَہٗ  بِالۡہُدٰی وَ دِیۡنِ  الۡحَقِّ لِیُظۡہِرَہٗ  عَلَی الدِّیۡنِ کُلِّہٖ وَ لَوۡ  کَرِہَ  الۡمُشۡرِکُوۡنَ ٪﴿﴾
Dia-lah Yang mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk dan dengan agama yang benar supaya Dia memenangkannya atas semua agama, walaupun orang musyrik tidak menyukai  (Ash-Shaf [61]:10).

MaknaIslam Sebagai Agama di Sisi Allah” &  Makna “Penyerahan Diri” Kepada Allah Swt.

       Menurut Allah Swt. dalam Al-Quran, nama agama  sejak  pertama kali  wahyu syariat  diturunkan kepada para rasul Allah pembawa syariat adalah “Islam” , firman-Nya:
اِنَّ الدِّیۡنَ عِنۡدَ اللّٰہِ الۡاِسۡلَامُ ۟ وَ مَا اخۡتَلَفَ الَّذِیۡنَ اُوۡتُوا الۡکِتٰبَ اِلَّا مِنۡۢ بَعۡدِ مَا جَآءَہُمُ الۡعِلۡمُ بَغۡیًۢا بَیۡنَہُمۡ ؕ وَ مَنۡ یَّکۡفُرۡ بِاٰیٰتِ اللّٰہِ فَاِنَّ اللّٰہَ سَرِیۡعُ  الۡحِسَابِ ﴿﴾
Sesungguhnya agama  yang benar di sisi Allah adalah Islam, dan sekali-kali tidaklah berselisih orang-orang yang diberi Kitab  اِلَّا مِنۡۢ بَعۡدِ مَا جَآءَہُمُ الۡعِلۡمُ بَغۡیًۢا بَیۡنَہُمۡ  -- melainkan setelah ilmu datang kepada mereka karena kedengkian di antara mereka. وَ مَنۡ یَّکۡفُرۡ بِاٰیٰتِ اللّٰہِ فَاِنَّ اللّٰہَ سَرِیۡعُ  الۡحِسَابِ -- Dan barangsiapa kafir kepada Tanda-tanda Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat dalam meng-hisab. (Āli ‘Imran [3]:20).
      Salah satu makna mengapa “agama” di sisi Allah adalah Islam,  karena semua ajaran agama yang bersumber  dari Allah Swt. mengajarkan sikap “penyerahan diri” (aslam/aslim) kepada Allah Swt. melalui ketaatan sepenuhnya kepada petunjuk  Allah Swt. dan rasul-Nya, sebagaimana firman-Nya berikut ini kepada Nabi Ibrahim a.s.:
وَ مَنۡ یَّرۡغَبُ عَنۡ مِّلَّۃِ  اِبۡرٰہٖمَ  اِلَّا مَنۡ سَفِہَ نَفۡسَہٗ ؕ وَ لَقَدِ اصۡطَفَیۡنٰہُ فِی الدُّنۡیَا ۚ وَ اِنَّہٗ فِی الۡاٰخِرَۃِ  لَمِنَ الصّٰلِحِیۡنَ ﴿    اِذۡ قَالَ لَہٗ رَبُّہٗۤ  اَسۡلِمۡ ۙ قَالَ اَسۡلَمۡتُ لِرَبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ ﴿﴾  وَ وَصّٰی بِہَاۤ اِبۡرٰہٖمُ  بَنِیۡہِ وَ یَعۡقُوۡبُ ؕ یٰبَنِیَّ  اِنَّ اللّٰہَ اصۡطَفٰی لَکُمُ الدِّیۡنَ فَلَا تَمُوۡتُنَّ  اِلَّا وَ اَنۡتُمۡ  مُّسۡلِمُوۡنَ ﴿﴾ؕ
Dan siapakah yang berpaling dari  agama Ibrahim selain orang yang memperbodoh dirinya sendiri?  Dan  sungguh  Kami  benar-benar telah me-milihnya di dunia dan sesungguhnya di akhirat pun dia termasuk orang-orang yang saleh.    Ingatlah ketika Rabb-nya (Tuhan-nya) berfirman kepadanya: “Berserah dirilah”,  ia berkata:  Aku telah berserah diri kepada Rabb (Tuhan) seluruh  alam.”  Dan Ibrahim mewasiatkan yang demikian kepada anak-anaknya dan demikian pula Ya’qub  seraya  berkata: “Hai anak-anakku, sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagi kamu  maka janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan berserah diri.”  (Al-Baqarah [2]:131-133).
  Makna kata safiha dalam ayat:   “Dan siapakah yang berpaling dari  agama Ibrahim selain orang yang memperbodoh dirinya sendiri?“ Berbagai bentuk dari kata safiha, safaha dan safuha mempunyai arti yang berbeda, safiha berarti: ia jahil, bodoh atau kurang akal.
        Jika kata itu dipakai bersama dengan nafsahu, seolah-olah sebagai pelengkapnya seperti dalam ayat ini, kata itu tidak sungguh-sungguh menjadi transitif (berpelengkap), hanya nampaknya saja demikian (Lisan-ul-‘Arab dan Al-Mufradat). Kata-kata  "Illa man safiha nafsahuitu berarti juga  kecuali yang telah membinasakan jiwanya sendiri.”
      Makna ayat:  “maka janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan berserah diri,”   karena tidak ada saat ditentukan untuk mati, maka orang hendaknya setiap saat menjalani kehidupannya dengan berserah diri (patuh-taat) sepenuhnya kepada Allah Swt., dalam surah lain Allah Swt. berfirman:
یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰہَ حَقَّ تُقٰتِہٖ وَ لَا تَمُوۡتُنَّ  اِلَّا وَ اَنۡتُمۡ  مُّسۡلِمُوۡنَ ﴿﴾
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan takwa yang sebenar-benarnya, dan  janganlah sekali-kali kamu mati kecuali kamu dalam keadaan berserah  diri (Āli ‘Imran [3]:103).
         Karena kedatangan saat kematian tidak diketahui, manusia dapat berkeyakinan akan mati dalam keadaan berserah  diri kepada Allah Swt.  hanya jika senantiasa tetap dalam keadaan menyerahkan diri kepada-Nya. Jadi ungkapan itu mengandung arti bahwa manusia dalam menjalani kehidupannya  harus senantiasa tetap patuh kepada Allah Swt.  yakni  muslimūn  (berserah diri kepada-Nya).
        Ayat ini dapat pula berarti bahwa orang beriman sejati hendaknya begitu sepenuhnya berserah diri kepada kehendak Ilahi – yang merupakan hukum jasmani dan hukum ruhani (syariat)   -- dan meraih keridhaan-Nya begitu sempurna, sehingga Allah Swt.  dengan kemurahan-Nya yang tidak terbatas, Dia akan mengatur demikian rupa sehingga kematian akan datang kepadanya pada saat ketika ia berserah  diri sepenuhnya kepada kehendak-Nya.

Terjadinya Keragaman dan Perpecahan Agama Adalah Akibat Kedengkian Terhadap Rasul Allah  yang Dijanjikan

   Jadi, itulah makna ayat اِنَّ الدِّیۡنَ عِنۡدَ اللّٰہِ الۡاِسۡلَامُ ۟     -- “Sesungguhnya agama  yang benar di sisi Allah adalah Islam”. Selanjutnya Allah Swt. berfirman:  وَ مَا اخۡتَلَفَ الَّذِیۡنَ اُوۡتُوا الۡکِتٰبَ  --  dan sekali-kali tidaklah berselisih orang-orang yang diberi Kitab اِلَّا مِنۡۢ بَعۡدِ مَا جَآءَہُمُ الۡعِلۡمُ  -- melainkan setelah ilmu datang kepada mereka  بَغۡیًۢا بَیۡنَہُمۡ  --  karena kedengkian di antara mereka. وَ مَنۡ یَّکۡفُرۡ بِاٰیٰتِ اللّٰہِ فَاِنَّ اللّٰہَ سَرِیۡعُ  الۡحِسَابِ -- Dan barangsiapa kafir kepada Tanda-tanda Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat dalam menghisab. (Āli ‘Imran [3]:20). (QS.3:20).
         Ayat selanjutnya menjelaskan bahwa karena  adanya kedengkian terhadap rasul Allah yang kedatangannya dijanjikan itulah (QS.7:35-37) maka  mulai  terjadi keragaman  dan perpecahan  agama serta para pemeluknya saling mendakwakan bahwa hanya agamanya yang benar sedangkan yang lain sesat, contohnya yang terjadi di kalangan Bani Israil (golongan Ahli-Kitab),  firman-Nya:
وَ قَالُوۡا لَنۡ یَّدۡخُلَ الۡجَنَّۃَ اِلَّا مَنۡ کَانَ ہُوۡدًا اَوۡ نَصٰرٰی ؕ تِلۡکَ اَمَانِیُّہُمۡ ؕ قُلۡ ہَاتُوۡا بُرۡہَانَکُمۡ  اِنۡ کُنۡتُمۡ صٰدِقِیۡنَ ﴿﴾      بَلٰی ٭  مَنۡ اَسۡلَمَ وَجۡہَہٗ  لِلّٰہِ وَ ہُوَ  مُحۡسِنٌ فَلَہٗۤ اَجۡرُہٗ عِنۡدَ رَبِّہٖ ۪ وَ لَا خَوۡفٌ عَلَیۡہِمۡ  وَ لَا ہُمۡ  یَحۡزَنُوۡنَ ﴿﴾٪  
Dan mereka berkata:  Tidak akan pernah ada yang akan masuk surga, kecuali orang-orang Yahudi atau Nasrani.”  Ini hanyalah angan-angan mereka belaka. Katakanlah: “Kemukakanlah bukti-bukti kamu, jika kamu sungguh orang-orang yang benar.”   بَلٰی ٭  مَنۡ اَسۡلَمَ وَجۡہَہٗ  لِلّٰہِ وَ ہُوَ  مُحۡسِنٌ فَلَہٗۤ اَجۡرُہٗ عِنۡدَ رَبِّہٖ ۪ وَ لَا خَوۡفٌ عَلَیۡہِمۡ  وَ لَا ہُمۡ  یَحۡزَنُوۡنَ  --  Tidak demikian, bahkan yang benar ialah  barangsiapa berserah diri  kepada  Allah dan ia berbuat ihsan maka baginya ada ganjaran di sisi Rabb-nya (Tuhan-nya),   tidak ada ketakutan atas mereka dan tidak pula mereka akan bersedih. (Al-Baqarah [2]:112-113).
         Ayat 112 menjelaskan bahwa bahwa orang-orang Yahudi dan Nashrani (Kristen) kedua-duanya berkhayal kosong bahwa hanya orang Yahudi atau orang Kristen saja yang dapat meraih najat (keselamatan). Pendakwaan mereka dibantah Allah Swt. dalam ayat selanjutnya:     بَلٰی ٭  مَنۡ اَسۡلَمَ وَجۡہَہٗ  لِلّٰہِ وَ ہُوَ  مُحۡسِنٌ فَلَہٗۤ اَجۡرُہٗ عِنۡدَ رَبِّہٖ ۪ وَ لَا خَوۡفٌ عَلَیۡہِمۡ  وَ لَا ہُمۡ  یَحۡزَنُوۡنَ  --  Tidak demikian, bahkan yang benar ialah  barangsiapa berserah diri  kepada  Allah dan ia berbuat ihsan maka baginya ada ganjaran di sisi Rabb-nya (Tuhan-nya),   tidak ada ketakutan atas mereka dan tidak pula mereka akan bersedih."
        Wajh dalam ayat: مَنۡ اَسۡلَمَ وَجۡہَہٗ  لِلّٰہِ – “Tidak demikian, bahkan yang benar ialah  barangsiapa berserah diri  kepada  Allah“ berarti: wajah (muka); benda itu sendiri; tujuan dan motif; perbuatan atau tindakan yang kepadanya seseorang menujukan perhatian; jalan yang diinginkan, anugerah atau kebaikan (Aqrab-ul-Mawarid).

Ke-Muslim-an Sempurna Nabi Besar Muhammad saw.

        Surah Al-Baqarah [2]:113 tersebut  memberi isyarat kepada ketiga taraf penting ketakwaan sempurna, yaitu: (1) fana (menghilangkan diri), (2) baqa (kelahiran kembali), dan (3) liqa (memanunggal dengan Allah Swt.).  Kata-kata  مَنۡ اَسۡلَمَ وَجۡہَہٗ  لِلّٰہِ -- “berserah diri kepada Allah” berarti  segala kekuatan dan anggota tubuh manusia, dan apa-apa yang menjadi bagian dirinya  hendaknya diserahkan kepada Allah Swt. seutuhnya dan dibaktikan kepada-Nya. Keadaan itu dikenal sebagai fana atau “kematian” yang harus ditimpakan seorang Muslim atas dirinya sendiri melalui pengamalan syariat (Al-Quran).
       Anak-kalimat kedua وَ ہُوَ  مُحۡسِنٌ -- “dan ia berbuat ihsan” menunjuk kepada keadaan baqa atau “kelahiran kembali”, sebab bila seseorang telah melenyapkan dirinya (fana) dalam cinta Ilahi dan segala tujuan serta keinginan duniawi telah lenyap,   ia seolah-olah dianugerahi kehidupan baru yang dapat disebut baqa atau kelahiran kembali, maka ia hidup untuk Allah Swt. (huququllāh)   dan bakti kepada umat manusia  (huququl-‘ibād).
       Kata-kata penutup:  وَ لَا خَوۡفٌ عَلَیۡہِمۡ  وَ لَا ہُمۡ  یَحۡزَنُوۡنَ --  “maka baginya ada ganjaran di sisi Rabb-nya (Tuhan-nya),   tidak ada ketakutan atas mereka dan tidak pula mereka akan bersedih"   menjelaskan taraf kebaikan ketiga dan tertinggi — taraf liqa atau memanunggal (menyatu) dengan Allah Swt.   yang dalam Al-Quran disebut pula “jiwa yang tenteram” atau nafs muthma’innah. (QS.89:28-31).
      Ke-Muslim-an sempurna seperti itu telah diperagakan oleh Nabi Besar Muhammad saw. sebagai   hasil dari pengamalan ajaran Islam (Al-Quran), bahkan dalam segala seginya lebih sempurna daripada ke-Muslim-an (penyerahan  diri) yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim a.s., firman-Nya kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
قُلۡ  اِنَّنِیۡ ہَدٰىنِیۡ رَبِّیۡۤ  اِلٰی صِرَاطٍ مُّسۡتَقِیۡمٍ ۬ۚ دِیۡنًا قِیَمًا مِّلَّۃَ  اِبۡرٰہِیۡمَ حَنِیۡفًا ۚ وَ مَا کَانَ مِنَ الۡمُشۡرِکِیۡنَ ﴿﴾  قُلۡ  اِنَّ صَلَاتِیۡ  وَ نُسُکِیۡ وَ مَحۡیَایَ وَ مَمَاتِیۡ   لِلّٰہِ   رَبِّ  الۡعٰلَمِیۡنَ ﴿﴾ۙ  لَا شَرِیۡکَ لَہٗ ۚ وَ بِذٰلِکَ اُمِرۡتُ وَ اَنَا  اَوَّلُ الۡمُسۡلِمِیۡنَ ﴿﴾
Katakanlah: “Sesungguhnya aku telah diberi petunjuk oleh Rabb-ku (Tuhan-ku) kepada jalan lurus, agama yang teguh, agama Ibrahim yang lurus dan dia bukanlah dari   orang-orang musyrik.” قُلۡ  اِنَّ صَلَاتِیۡ  وَ نُسُکِیۡ وَ مَحۡیَایَ وَ مَمَاتِیۡ   لِلّٰہِ   رَبِّ  الۡعٰلَمِیۡنَ --  Katakanlah: “Sesungguhnya shalatku, pengorbananku,  kehidupanku, dan  kematianku  hanyalah untuk Allah,  Rabb (Tuhan) seluruh  alam;  لَا شَرِیۡکَ لَہٗ ۚ وَ بِذٰلِکَ اُمِرۡتُ وَ اَنَا  اَوَّلُ الۡمُسۡلِمِیۡنَ --     tidak ada sekutu bagi-Nya, untuk itulah aku diperintahkan,  dan akulah orang pertama  yang berserah diri (Al-An’ām [6]:162-164).
  Shalat, korban, hidup, dan mati meliputi seluruh bidang amal perbuatan manusia; dan Nabi Besar Muhammad saw. diperintah menyatakan bahwa semua segi kehidupan di dunia ini dipersembahkan oleh beliau saw. kepada Allah Swt.,   semua amal ibadah beliau saw. dipersembahkan kepada  Allah Swt., semua pengorbanan dilakukan beliau saw. untuk Dia; segala penghidupan dihibahkan beliau saw. untuk berbakti kepada-Nya, maka bila di jalan agama Nabi Besar Muhammad saw.  mencari maut (kematian) di jalan Allah  itu pun guna meraih keridhaan-Nya.

Kedengkian Penyebab Utama  Terjadinya Beragam  Agama dan Perpecahan Umat Beragama

    Jadi, betapa kedengkian  yang timbul di kalangan para pemuka umat beragama terhadap Rasul Allah yang kedatangannya dijanjikan (QS.7:35-36) telah menyebabkan timbulnya beragam agama dan timbulnya perpecahan umat beragama, padahal seharusnya dari awal sampai akhir “agama  yang bersumber dari Allah Swt.  itu adalah Islam dan pemeluknya Muslim (QS.3:20; QS.22:78-79),  firman-Nya: 
وَ قَالَتِ الۡیَہُوۡدُ  لَیۡسَتِ النَّصٰرٰی عَلٰی شَیۡءٍ ۪ وَّ قَالَتِ النَّصٰرٰی لَیۡسَتِ الۡیَہُوۡدُ عَلٰی شَیۡءٍ ۙ وَّ ہُمۡ یَتۡلُوۡنَ الۡکِتٰبَ ؕ کَذٰلِکَ قَالَ الَّذِیۡنَ لَا یَعۡلَمُوۡنَ مِثۡلَ قَوۡلِہِمۡ ۚ فَاللّٰہُ یَحۡکُمُ بَیۡنَہُمۡ یَوۡمَ الۡقِیٰمَۃِ فِیۡمَا کَانُوۡا فِیۡہِ یَخۡتَلِفُوۡنَ ﴿﴾
 Dan orang-orang Yahudi mengatakan:  Orang-orang Nasrani sekali-kali  tidak berdiri di atas sesuatu kebenaran,” dan orang-orang Nasrani mengatakan:  Orang-orang Yahudi sekali-kali tidak berdiri di atas sesuatu kebenaran.” وَّ ہُمۡ یَتۡلُوۡنَ الۡکِتٰبَ  -- Padahal mereka membaca Alkitab yang sama. کَذٰلِکَ قَالَ الَّذِیۡنَ لَا یَعۡلَمُوۡنَ مِثۡلَ قَوۡلِہِمۡ  -- Demikian pula orang-orang yang tidak mengetahui berkata  seperti ucapan mereka itu,  فَاللّٰہُ یَحۡکُمُ بَیۡنَہُمۡ یَوۡمَ الۡقِیٰمَۃِ فِیۡمَا کَانُوۡا فِیۡہِ یَخۡتَلِفُوۡنَ -- maka pada Hari Kiamat Allah akan menghakimi di antara mereka tentang apa yang mereka per-selisihkan  (Al-Baqarah [2]:112-114).
Firman-Nya lagi:
وَ قَالُوۡا کُوۡنُوۡا ہُوۡدًا اَوۡ نَصٰرٰی تَہۡتَدُوۡا ؕ قُلۡ بَلۡ مِلَّۃَ  اِبۡرٰہٖمَ  حَنِیۡفًا ؕ وَ مَا کَانَ مِنَ الۡمُشۡرِکِیۡنَ ﴿﴾
Dan mereka berkata:  Jadilah kamu Yahudi atau Nasrani, barulah kamu akan mendapat petunjuk.”  Katakanlah: “Tidak, bahkan turutilah agama Ibrahim  yang lurus,  dan  ia sekali-kali bukan dari golongan  orang-orang musyrik.” (Al-Baqarah [2]:136).
     Makna hanīf dalam ayat   "Katakanlah: “Tidak, bahkan turutilah agama Ibrahim  yang lurus  berarti:
(1)  orang yang berpaling dari kesesatan lalu memilih petunjuk (Al-Mufradat);
(2)  orang yang dengan tetapnya mengikuti agama yang benar dan tidak pernah menyimpang darinya;
(3)  orang yang hatinya condong kepada Islam dengan sempurna dan tetap teguh di dalamnya (Lexicon Lane);
(4)  orang yang mengikuti agama Nabi Ibrahim a.s. (Aqrab-ul-Mawarid);
(5)  orang yang beriman kepada semua nabi Allah (Tafsir Ibnu Katsir).
        Sedemikian rupa  penyimpangan  pemahaman di kalangan golongan Ahli Kitab tersebut  akibat   kedengkian    mereka terhadap  Nabi Besar Muhammad saw.  yang berasal dari Bani Isma’il, sehingga Nabi Ibrahim a.s. pun  mereka akui sebagai “orang Yahudi” dan “orang Nasrani”, firman-Nya:
اَمۡ  تَقُوۡلُوۡنَ  اِنَّ  اِبۡرٰہٖمَ  وَ اِسۡمٰعِیۡلَ وَ اِسۡحٰقَ وَ یَعۡقُوۡبَ وَ الۡاَسۡبَاطَ کَانُوۡا ہُوۡدًا اَوۡ نَصٰرٰی ؕ قُلۡ ءَاَنۡتُمۡ  اَعۡلَمُ اَمِ اللّٰہُ ؕ وَ مَنۡ اَظۡلَمُ مِمَّنۡ کَتَمَ شَہَادَۃً عِنۡدَہٗ مِنَ اللّٰہِ ؕ وَ مَا اللّٰہُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعۡمَلُوۡنَ ﴿﴾  تِلۡکَ اُمَّۃٌ  قَدۡ خَلَتۡ ۚ لَہَا مَا کَسَبَتۡ وَ لَکُمۡ مَّا کَسَبۡتُمۡ ۚ وَ لَا تُسۡـَٔلُوۡنَ عَمَّا  کَانُوۡا  یَعۡمَلُوۡنَ ﴿﴾٪
Ataukah kamu berkata: “Sesungguhnya  Ibrahim, Isma’il,  Ishaq, Ya’qub dan keturunannya adalah Yahudi atau Nasrani?” Katakanlah: “Apakah kamu yang lebih mengetahui ataukah  Allah?” Dan  siapakah  yang lebih zalim  daripada orang yang menyembunyikan kesaksian  dari Allah yang ada padanya Dan Allah sekali-kali  tidak lengah terhadap apa yang kamu kerjakan Itulah umat yang telah berlalu, bagi mereka apa yang  mereka usahakan  dan bagi kamu apa yang kamu usahakan, dan kamu  tidak akan dimintai  tanggungjawab mengenai apa pun yang senantiasa mereka kerjakan.  (Al-Baqarah [2]:141-142).
        Kaum Yahudi dan Kristen secara tidak langsung telah diberitahukan, bagaimana keadaan Nabi Ibrahim a.s. dan keturunan beliau, kalau  benar   -- seperti dinyatakan oleh mereka  --  bahwa najat (keselamatan) itu monopoli mereka semata-mata, sebab dalam kenyataannya beliau-beliau itu  hidup pada masa sebelum Nabi Musa a.s.  yaitu ketika agama Yahudi dan Kristen belum berwujud?
 Dalam ayat selanjutnya kaum Yahudi dan Kristen diperingatkan pula, bahwa adanya mereka keturunan nabi-nabi Allah sama sekali tidak ada gunanya bagi mereka. Mereka akan harus mempertanggungjawabkan perbuatan mereka sendiri karena tiada orang yang harus memikul beban orang lain (QS.6:165; QS.17:16; QS.35:19;  QS.53:39-40).

Ajarkan Kembali Kepada “Kalimat yang Sama” yaitu Berpegang-teguh Pada “Tauhid Ilahi

          Sehubungan dengan terjadinya “penyimpangan” dari millat (agama) Nabi Ibrahim a.s.  yang hanīf (lurus – QS.2:136) di kalangan Bani Israil  tersebut,  Allah Swt. berfirman kepada Nabi Besar Muhammad saw. firman-Nya:
قُلۡ یٰۤاَہۡلَ الۡکِتٰبِ تَعَالَوۡا اِلٰی کَلِمَۃٍ سَوَآءٍۢ  بَیۡنَنَا وَ بَیۡنَکُمۡ اَلَّا نَعۡبُدَ اِلَّا اللّٰہَ وَ لَا نُشۡرِکَ بِہٖ شَیۡئًا وَّ لَا یَتَّخِذَ بَعۡضُنَا بَعۡضًا اَرۡبَابًا مِّنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ ؕ فَاِنۡ تَوَلَّوۡا فَقُوۡلُوا اشۡہَدُوۡا بِاَنَّا مُسۡلِمُوۡنَ ﴿﴾ یٰۤاَہۡلَ الۡکِتٰبِ لِمَ تُحَآجُّوۡنَ فِیۡۤ اِبۡرٰہِیۡمَ وَ مَاۤ اُنۡزِلَتِ التَّوۡرٰىۃُ وَ الۡاِنۡجِیۡلُ  اِلَّا مِنۡۢ بَعۡدِہٖ ؕ اَفَلَا  تَعۡقِلُوۡنَ ﴿﴾  ہٰۤاَنۡتُمۡ  ہٰۤؤُلَآءِ  حَاجَجۡتُمۡ فِیۡمَا لَکُمۡ بِہٖ عِلۡمٌ فَلِمَ تُحَآجُّوۡنَ فِیۡمَا لَیۡسَ لَکُمۡ بِہٖ عِلۡمٌ ؕ وَ اللّٰہُ یَعۡلَمُ وَ اَنۡتُمۡ لَا تَعۡلَمُوۡنَ ﴿﴾  مَا کَانَ  اِبۡرٰہِیۡمُ یَہُوۡدِیًّا وَّ لَا نَصۡرَانِیًّا وَّ لٰکِنۡ کَانَ حَنِیۡفًا مُّسۡلِمًا ؕ وَ مَا کَانَ مِنَ الۡمُشۡرِکِیۡنَ ﴿﴾  اِنَّ اَوۡلَی النَّاسِ بِاِبۡرٰہِیۡمَ لَلَّذِیۡنَ اتَّبَعُوۡہُ وَ ہٰذَا النَّبِیُّ وَ الَّذِیۡنَ  اٰمَنُوۡا ؕ وَ اللّٰہُ وَلِیُّ  الۡمُؤۡمِنِیۡنَ ﴿﴾
Katakanlah: “Hai Ahlul Kitab, marilah kepada satu kalimat yang sama di antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah kecuali kepada Allah, dan tidak pula kita mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun, dan  sebagian kita tidak menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan-tuhan selain Allah.” فَاِنۡ تَوَلَّوۡا فَقُوۡلُوا اشۡہَدُوۡا بِاَنَّا مُسۡلِمُوۡنَ --  Tetapi jika mereka berpaling maka katakanlah: “Jadi saksilah bahwa sesungguhnya kami orang-orang yang berserah diri kepada Allah.”  یٰۤاَہۡلَ الۡکِتٰبِ لِمَ تُحَآجُّوۡنَ فِیۡۤ اِبۡرٰہِیۡمَ وَ مَاۤ اُنۡزِلَتِ التَّوۡرٰىۃُ وَ الۡاِنۡجِیۡلُ  اِلَّا مِنۡۢ بَعۡدِہٖ ؕ اَفَلَا  تَعۡقِلُوۡنَ  -- Hai Ahlul Kitab,  mengapakah kamu berbantah mengenai Ibrahim, padahal sekali-kali tidaklah Taurat dan Injil diturunkan melainkan sesudahnya. Tidakkah kamu mau mengerti?  ہٰۤاَنۡتُمۡ  ہٰۤؤُلَآءِ  حَاجَجۡتُمۡ فِیۡمَا لَکُمۡ بِہٖ عِلۡمٌ فَلِمَ تُحَآجُّوۡنَ فِیۡمَا لَیۡسَ لَکُمۡ بِہٖ عِلۡمٌ ؕ وَ اللّٰہُ یَعۡلَمُ وَ اَنۡتُمۡ لَا تَعۡلَمُوۡنَ ﴿﴾   -- Perhatikanlah, kamu adalah orang-orang yang telah berbantah mengenai apa yang kamu mempunyai sedikit pengetahuan, maka mengapa kamu berbantah pula mengenai apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan sama sekali? Dan  Allah mengetahui sedangkan kamu tidak mengetahui. مَا کَانَ  اِبۡرٰہِیۡمُ یَہُوۡدِیًّا وَّ لَا نَصۡرَانِیًّا وَّ لٰکِنۡ کَانَ حَنِیۡفًا مُّسۡلِمًا ؕ وَ مَا کَانَ مِنَ الۡمُشۡرِکِیۡنَ  --   Ibrahim sekali-kali bukanlah seorang Yahudi dan  bukan pula seorang Nasrani,  melainkan ia seorang yang selalu  cenderung kepada Allah  dan berserah  diri kepada-Nya, dan dia sama sekali bukan dari antara orang-orang musyrik. اِنَّ اَوۡلَی النَّاسِ بِاِبۡرٰہِیۡمَ لَلَّذِیۡنَ اتَّبَعُوۡہُ    --  Sesungguhnya manusia yang paling dekat kepada Ibrahim   adalah orang-orang yang benar-benar mengikutinya, وَ ہٰذَا النَّبِیُّ وَ الَّذِیۡنَ  اٰمَنُوۡا ؕ وَ اللّٰہُ وَلِیُّ  الۡمُؤۡمِنِیۡنَ  -- dan terutama  Nabi ini  serta  orang-orang yang beriman kepadanya, dan Allah adalah Pelindung  orang-orang  yang beriman. (Ali ‘Imran [3]:66-69).

Sifat Rububiyyat Allah Swt. & Proses  Bertahap Penyempurnaan  Agama (Syariat) 

        Jadi, kembali kepada pernyataan Allah Swt. di awal Bab ini  bahwa  sejak awal “agama” di sisi Allah Swt. adalah “Islam”, firman-Nya:
اِنَّ الدِّیۡنَ عِنۡدَ اللّٰہِ الۡاِسۡلَامُ ۟ وَ مَا اخۡتَلَفَ الَّذِیۡنَ اُوۡتُوا الۡکِتٰبَ اِلَّا مِنۡۢ بَعۡدِ مَا جَآءَہُمُ الۡعِلۡمُ بَغۡیًۢا بَیۡنَہُمۡ ؕ وَ مَنۡ یَّکۡفُرۡ بِاٰیٰتِ اللّٰہِ فَاِنَّ اللّٰہَ سَرِیۡعُ  الۡحِسَابِ ﴿﴾
Sesungguhnya agama  yang benar di sisi Allah adalah Islam, dan sekali-kali tidaklah berselisih orang-orang yang diberi Kitab  اِلَّا مِنۡۢ بَعۡدِ مَا جَآءَہُمُ الۡعِلۡمُ بَغۡیًۢا بَیۡنَہُمۡ  -- melainkan setelah ilmu datang kepada mereka karena kedengkian di antara mereka. وَ مَنۡ یَّکۡفُرۡ بِاٰیٰتِ اللّٰہِ فَاِنَّ اللّٰہَ سَرِیۡعُ  الۡحِسَابِ -- Dan barangsiapa kafir kepada Tanda-tanda Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat dalam menghisab. (Āli ‘Imran [3]:20).
      Tetapi  sebagaimana penciptaan tatanan alam semesta ini  dilakukan melalui proses bertahap yang berkesinambungan berdasarkan Sifat Rububiyat Allah Swt. (QS.1:2; QS.21:31-34; QS.41:10-13), demikian pula  halnya dengan pewahyuan  hukum syariat pun sesuai  dengan Sifat Rububiyat  Allah Swt. (QS.1:2). Itulah sebabnya selama proses penyempurnaan hukum-hukum syariat tersebut masih berlangsung dan  belum mencapai kesempurnaan  maka selama itu pula     nama Islam   belum diberikan Allah Swt. kepada hukum-hukum syariat yang diwahyukan Allah Swt. sebelum agama Islam (Al-Quran) tersebut.
      Itulah pula sebabnya   mengapa   hukum-hukum syariat (agama)  yang diwahyukan  kepada para rasul Allah yang diutus sebelum Nabi Besar Muhammad saw.  misinya terbatas    hanya untuk kaum para rasul Allah yang bersangkutan saja, contohnya Taurat dan Injil hanya untuk kalangan Bani Israil  saja (QS.2:88-91; QS.61:6-7).
       Dikarena  agama-agama yang diwahyukan sebelum agama Islam (Al-Quran)  masih dalam proses penyempurnaan, itulah sebabnya kecuali agama Islam – yang merupakan agama terakhir dan tersempurna (QS.5:4) --  agama-agama dan Kitab-kitab suci sebelumnya  tidak mendapat jaminan pemeliharaan Allah Swt., firman-Nya:
اِنَّا نَحۡنُ نَزَّلۡنَا الذِّکۡرَ  وَ  اِنَّا  لَہٗ  لَحٰفِظُوۡنَ ۹
Sesungguhnya  Kami-lah Yang  menurunkan peringatan ini, dan sesungguhnya Kami-lah pemeliharanya  (Al-Hijr [15]:10).
     Mengisyaratkan kepada kenyataan masih berlangsungnya proses penyempurnaan hukum-hukum syariat itulah  pernyataan  Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (Yesus) berikut ini:
Yesus dan hukum Taurat
5:17 "Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya.  5:18 Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi.    5:19 Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Sorga; tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkan segala perintah-perintah hukum Taurat, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Sorga.    5:20 Maka Aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar   dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.   (Matius 5:17-20).

Kedatangan “Roh Kebenaran” yang “Membawa Seluruh Kebenaran

       Kemudian masih dalam Injil Matius,  setelah Yesus  mengecam keras para pemuka agama Yahudi (Matius 23:1-36) selanjutnya Allah Swt.  melalui beliau  bernubuat  mengenai kedatangan “Dia yang datang dalam nama Tuhan”:
Keluhan terhadap Yerusalem
23:37 "Yerusalem, Yerusalem, engkau yang membunuh nabi-nabi dan melempari dengan batu orang-orang yang diutus kepadamu!   Berkali-kali Aku rindu mengumpulkan anak-anakmu, sama seperti induk ayam mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayapnya,   tetapi kamu tidak mau. 23:38 Lihatlah rumahmu ini akan ditinggalkan dan menjadi sunyi.  23:39 Dan Aku berkata kepadamu: Mulai sekarang kamu tidak akan melihat Aku lagi, hingga   kamu berkata: Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan!" (Matius 23:37-39).
      Sesuai dengan pernyataan Injil Matius  mengenai belum sempurnanya proses pewahyuan syariat sampai dengan masa Nabi Isa Ibnu Maryam a.s., dijelaskan  lagi  oleh  beliau dalam  Injil Yohanes berikut ini:
16:12 Masih banyak hal yang harus Kukatakan kepadamu, tetapi sekarang kamu belum dapat menanggungnya.   16:13 Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran,   Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran;  sebab Ia tidak akan berkata-kata dari diri-Nya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengar-Nya itulah yang akan dikatakan-Nya dan Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang. (Yohanes 16:12-13).

Penggenapan Nubuatan Nabi Musa a.s. Dalam Ulangan 18:15-19

         Nubuatan-nubuatan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. dalam Injil tersebut berkenaan dengan “Dia yang datang dalam nama Tuhan” atau “Roh Kebenaran” yang “membawa seluruh kebenaran” – yakni Nabi Besar Muhamad saw. -- sesuai dengan nubuatan Nabi Musa a.s. dalam  Kitab Ulangan   mengenai kedatangan “nabi yang seperti Musa” dari kalangan Bani Isma’il, yaitu Nabi Besar Muhammad saw.  yang membawa syariat terakhir dan tersempurna (QS.5:4):
18:15 Seorang nabi dari tengah-tengahmu, dari antara saudara-saudaramu, sama seperti aku, akan dibangkitkan bagimu oleh Tuhan, Allahmu; dialah yang harus kamu dengarkan. 18:16 Tepat seperti yang kamu minta dahulu kepada Tuhan, Allahmu, di gunung Horeb, pada hari perkumpulan, dengan berkata: Tidak mau aku mendengar lagi suara Tuhan, Allahku, dan api yang besar ini tidak mau aku melihatnya lagi, supaya jangan aku mati.  18:17 Lalu berkatalah Tuhan kepadaku: Apa yang dikatakan mereka itu baik; 18:18 seorang nabi   akan Kubangkitkan bagi mereka dari antara saudara mereka, seperti engkau ini; Aku akan menaruh firman-Ku   dalam mulutnya,   dan ia akan mengatakan kepada mereka segala yang Kuperintahkan kepadanya.  18:19 Orang yang tidak mendengarkan   segala firman-Ku yang akan diucapkan nabi itu demi nama-Ku,   dari padanya akan Kutuntut pertanggungjawaban.  18:20 Tetapi seorang nabi, yang terlalu berani untuk mengucapkan demi nama-Ku perkataan yang tidak Kuperintahkan untuk dikatakan olehnya, atau yang berkata demi nama allah    lain, nabi itu harus mati.   (Ulangan 18:15-20).
      Salah satu bukti bahwa Kitab suci Al-Quran dan Nabi Besar Muhammad saw. memiliki hubungan yang sangat erat dengan nubuatan-nubuatan  dalam Bible tersebut, maka nubuatan-nubuatan  tersebut dikemukakan  lagi dalam Al-Quran guna membuktikan bahwa pewahyuan Al-Quran dan pengutusan Nabi Besar Muhammad saw. di kalangan Bani Isma’il  merupakan penggenapan nubuatan-nubuatan dalam Bible, mengenai hal itu berikut firman-Nya kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
قُلۡ مَا کُنۡتُ بِدۡعًا مِّنَ الرُّسُلِ وَ مَاۤ اَدۡرِیۡ  مَا یُفۡعَلُ بِیۡ  وَ لَا بِکُمۡ ؕ اِنۡ  اَتَّبِعُ اِلَّا مَا یُوۡحٰۤی  اِلَیَّ وَ مَاۤ  اَنَا  اِلَّا نَذِیۡرٌ مُّبِیۡنٌ ﴿ قُلۡ  اَرَءَیۡتُمۡ  اِنۡ کَانَ مِنۡ عِنۡدِ اللّٰہِ وَ کَفَرۡتُمۡ  بِہٖ وَ شَہِدَ شَاہِدٌ مِّنۡۢ  بَنِیۡۤ اِسۡرَآءِیۡلَ  عَلٰی مِثۡلِہٖ  فَاٰمَنَ وَ اسۡتَکۡبَرۡتُمۡ ؕ اِنَّ اللّٰہَ  لَا یَہۡدِی الۡقَوۡمَ الظّٰلِمِیۡنَ ﴿٪﴾
Katakanlah: "Aku sekali-kali bukan rasul baru di antara rasul-rasul, dan  aku  sekali-kali tidak  mengetahui apa yang akan diperbuat Allah terhadapku atau pun terhadap kamu.  Aku tidak lain hanyalah mengikuti apa yang diwahyukan kepadaku, dan aku tidak lain hanyalah  seorang pemberi peringatan yang nyata."   قُلۡ  اَرَءَیۡتُمۡ  اِنۡ کَانَ مِنۡ عِنۡدِ اللّٰہِ وَ کَفَرۡتُمۡ  بِہٖ   -- Katakanlah: "Terangkanlah kepadaku jika Al-Quran ini dari Allah tetapi  kamu tidak percaya kepadanya  وَ شَہِدَ شَاہِدٌ مِّنۡۢ  بَنِیۡۤ اِسۡرَآءِیۡلَ  عَلٰی مِثۡلِہٖ  فَاٰمَنَ وَ اسۡتَکۡبَرۡتُمۡ  -- dan  seorang saksi dari antara Bani Israil  memberi kesaksian terhadap kedatangan seseorang semisalnya  lalu ia beriman tetapi kamu berlaku sombong?" اِنَّ اللّٰہَ  لَا یَہۡدِی الۡقَوۡمَ الظّٰلِمِیۡنَ   -- Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang zalim (Al-Ahqāf [46]:11).

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid

oo0oo
Pajajaran Anyar,  16 Januari  2017



Tidak ada komentar:

Posting Komentar