Bismillaahirrahmaanirrahiim
ISLAM
Pidato Mirza Ghulam Ahmad a.s.
Tgl. 2 November 1904
di Kota Sialkote – Hindustan
Bab 3
HUBUNGAN
ANCAMAN
PENGHADANGAN IBLIS DI JALAN ALLAH DENGAN TIMBULNYA BERAGAM AGAMA DAN SEKTE AGAMA & HAKIKAT PEMBERIAN NAMA ISLAM DAN MUSLIM KEPADA AGAMA TERAKHIR DAN TERSEMPURNA DAN KEPADA PEMELUKNYA
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam bagian akhir Bab 2 telah
dijelaskan topik
Amanat Allah Kepada Bani
Adam Mengenai Kesinambungan
Pengutusan Rasul Allah yaitu sehubungan dengan “perjanjian”
Allah Swt. dengan para nabi Allah dalam firman-Nya:
وَ اِذۡ اَخَذَ اللّٰہُ مِیۡثَاقَ
النَّبِیّٖنَ لَمَاۤ اٰتَیۡتُکُمۡ مِّنۡ کِتٰبٍ وَّ حِکۡمَۃٍ ثُمَّ جَآءَکُمۡ
رَسُوۡلٌ مُّصَدِّقٌ لِّمَا مَعَکُمۡ لَتُؤۡمِنُنَّ بِہٖ وَ لَتَنۡصُرُنَّہٗ ؕ
قَالَ ءَاَقۡرَرۡتُمۡ وَ اَخَذۡتُمۡ عَلٰی ذٰلِکُمۡ اِصۡرِیۡ ؕ قَالُوۡۤا
اَقۡرَرۡنَا ؕ قَالَ فَاشۡہَدُوۡا وَ اَنَا مَعَکُمۡ مِّنَ الشّٰہِدِیۡنَ ﴿﴾
Dan ingatlah ketika Allah mengambil perjanjian
dari manusia melalui nabi-nabi: لَمَاۤ اٰتَیۡتُکُمۡ مِّنۡ کِتٰبٍ وَّ حِکۡمَۃٍ ثُمَّ جَآءَکُمۡ
رَسُوۡلٌ مُّصَدِّقٌ لِّمَا مَعَکُمۡ -- “Apa
saja yang Aku berikan kepada kamu berupa Kitab dan Hikmah,
kemudian datang kepada kamu seorang
rasul yang menggenapi apa
yang ada padamu, لَتُؤۡمِنُنَّ
بِہٖ وَ لَتَنۡصُرُنَّہٗ -- kamu benar-benar harus beriman kepadanya dan kamu benar-benar harus membantunya.” قَالَ ءَاَقۡرَرۡتُمۡ وَ اَخَذۡتُمۡ عَلٰی
ذٰلِکُمۡ اِصۡرِیۡ -- Dia berfirman: “Apakah
kamu mengakui dan menerima tanggung-jawab yang Aku bebankan kepada kamu mengenai itu?” قَالُوۡۤا اَقۡرَرۡنَا -- Mereka berkata: “Kami mengakui.” قَالَ فَاشۡہَدُوۡا وَ اَنَا مَعَکُمۡ
مِّنَ الشّٰہِدِیۡنَ -- Dia
berfirman: “Maka bersaksilah dan Aku
pun beserta kamu termasuk orang-orang yang menjadi saksi.” (Āli ‘Imran [3]:82).
Ungkapan mītsaq an-nabiyyīn dapat
berarti “perjanjian nabi-nabi dengan
Tuhan” atau “perjanjian yang diambil
Tuhan dari orang-orang dengan perantaraan nabi-nabi mereka”. Ungkapan ini
telah dipakai di sini dalam artian yang kedua, sebab qira'ah (pembacaan) lain
seperti yang didukung oleh Ubayy bin Ka’b r.a. dan ‘Abdullah bin Mas’ud r.a. ialah “mītsaq alladzīna ūtul- Kitāb”
yang artinya “perjanjian mereka yang
diberi Kitab” (Muhith).
Bagaikan Mengenal
Anak-anak Mereka Sendiri
Dengan demikian nubuatan-nubuatan
dalam Bible berkenaan pengutusan Nabi Besar Muhammad saw. dari kalangan Bani Isma’il, hal itu benar-benar diketahui oleh para ulama
Bani Israil, bagaikan mengenal anak-anak mereka sendiri, firman-Nya:
اَلَّذِیۡنَ اٰتَیۡنٰہُمُ الۡکِتٰبَ
یَعۡرِفُوۡنَہٗ کَمَا یَعۡرِفُوۡنَ اَبۡنَآءَہُمۡ ؕ وَ اِنَّ فَرِیۡقًا مِّنۡہُمۡ
لَیَکۡتُمُوۡنَ الۡحَقَّ وَ ہُمۡ یَعۡلَمُوۡنَ ﴿﴾ؔ اَلۡحَقُّ مِنۡ رَّبِّکَ فَلَا تَکُوۡنَنَّ مِنَ
الۡمُمۡتَرِیۡنَ ﴿﴾٪
Orang-orang
yang telah Kami beri kitab, mereka mengenalnya sebagaimana mereka mengenal anak-anaknya, وَ اِنَّ فَرِیۡقًا مِّنۡہُمۡ
لَیَکۡتُمُوۡنَ الۡحَقَّ وَ ہُمۡ یَعۡلَمُوۡنَ -- dan
sesungguhnya segolongan dari mereka
benar-benar menyembunyikan kebenaran padahal mereka mengetahui. اَلۡحَقُّ مِنۡ رَّبِّکَ فَلَا تَکُوۡنَنَّ مِنَ
الۡمُمۡتَرِیۡنَ -- Kebenaran ini dari Rabb
(Tuhan) engkau, maka janganlah engkau
termasuk orang-orang yang ragu. (Al-Baqarah [2]:147-148). Lihat pula
QS.6:21; QS.26:193-198.
Ya’rifuna-hu dalam ayat:
اَلَّذِیۡنَ
اٰتَیۡنٰہُمُ الۡکِتٰبَ یَعۡرِفُوۡنَہٗ کَمَا یَعۡرِفُوۡنَ اَبۡنَآءَہُمۡ -- “Orang-orang yang telah Kami beri kitab, mereka mengenalnya sebagaimana mereka mengenal anak-anaknya“ berasal dari ‘arafa yang berarti ia mengetahui atau mengenal atau melihat
sesuatu. Meskipun kata itu dipakai pula mengenai ilmu yang diperoleh melalui pancaindra
jasmani, kata itu terutama dipakai mengenai ilmu yang diperoleh lewat renungan
dan tafakur (Al-Mufradat) sebagaimana dikemukakan dalam QS.3:191-195 mengenai “ulul-albāb” (orang-orang yang berakal) berawal dari bertafakkur
mengenai kesempurnaan tatanan alam semesta, lalu menyaksikan “kobaran api” dan berakhir dengan beriman kepada Rasul Allah yang kedatangannya dijanjikan
Allah Swt. (QS.7:35-37).
Kata mushaddiq dalam ayat ثُمَّ جَآءَکُمۡ رَسُوۡلٌ مُّصَدِّقٌ لِّمَا مَعَکُمۡ -- “kemudian
datang kepada kamu seorang rasul yang menggenapi apa yang ada
pada kamu” (QS.3:82),
telah dipakai di sini untuk menyatakan tolok
ukur yang dengan tolok ukur itu pendakwa
yang benar dapat dibedakan dari seorang pendakwa
yang palsu. Secara tepat kata mushaddiq itu telah diterjemahkan di
sini sebagai “menggenapi”, sebab
hanya dengan “menggenapi” dalam dirinya maka nubuatan-nubuatan yang
terkandung dalam Kitab-kitab wahyu
terdahulu maka seorang pendakwa dapat dibuktikan kebenarannya.
Pengingkaran “Ikrar
Kesepakatan” Allah Swt. dengan Para Nabi
Allah & Ancaman Penghadangan Iblis di Jalan Allah
Makna ayat
selanjutnya: قَالَ فَاشۡہَدُوۡا وَ اَنَا مَعَکُمۡ
مِّنَ الشّٰہِدِیۡنَ -- Dia
berfirman: “Maka bersaksilah dan Aku
pun beserta kamu termasuk orang-orang yang menjadi saksi” (QS.3:82)
dianggap pula berlaku kepada para nabi
Allah pada umumnya dan khususnya kepada Nabi Besar Muhammad saw. Kedua
pemakaian itu tepat.
Ayat tersebut menetapkan suatu peraturan umum. Kedatangan setiap nabi Allah terjadi sebagai penggenapan nubuatan-nubuatan tertentu yang dibuat
oleh seorang nabi Allah yang mendahuluinya,
ketika nabi Allah tersebut menyuruh
pengikutnya supaya menerima dan beriman
kepada nabi Allah yang berikutnya kapan pun nabi Allah itu datang, firman-Nya:
وَ لِکُلِّ اُمَّۃٍ اَجَلٌ ۚ فَاِذَا جَآءَ
اَجَلُہُمۡ لَا یَسۡتَاۡخِرُوۡنَ
سَاعَۃً وَّ لَا یَسۡتَقۡدِمُوۡنَ ﴿﴾ یٰبَنِیۡۤ اٰدَمَ اِمَّا یَاۡتِیَنَّکُمۡ رُسُلٌ مِّنۡکُمۡ
یَقُصُّوۡنَ عَلَیۡکُمۡ اٰیٰتِیۡ ۙ فَمَنِ اتَّقٰی وَ اَصۡلَحَ فَلَا خَوۡفٌ
عَلَیۡہِمۡ وَ لَا ہُمۡ یَحۡزَنُوۡنَ ﴿﴾ وَ
الَّذِیۡنَ کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا وَ اسۡتَکۡبَرُوۡا عَنۡہَاۤ اُولٰٓئِکَ اَصۡحٰبُ النَّارِ ۚ ہُمۡ فِیۡہَا
خٰلِدُوۡنَ ﴿﴾
Dan bagi tiap-tiap
umat ada batas waktu, maka apabila
telah datang batas waktunya, mereka tidak
dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak pula dapat memajukannya.
یٰبَنِیۡۤ
اٰدَمَ اِمَّا یَاۡتِیَنَّکُمۡ
رُسُلٌ مِّنۡکُمۡ یَقُصُّوۡنَ عَلَیۡکُمۡ اٰیٰتِیۡ -- Wahai Bani
Adam, jika datang kepada kamu rasul-rasul dari antara kamu
yang membacakan Ayat-ayat-Ku kepada kamu, maka barangsiapa bertakwa dan memperbaiki diri,
maka tidak akan ada ketakutan menimpa
mereka dan tidak pula mereka akan
bersedih hati. وَ الَّذِیۡنَ کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا وَ
اسۡتَکۡبَرُوۡا عَنۡہَاۤ اُولٰٓئِکَ
اَصۡحٰبُ النَّارِ -- Dan orang-orang
yang mendustakan Ayat-ayat Kami dan dengan
takabur berpaling darinya mereka itu penghuni Api, ہُمۡ
فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ -- mereka kekal
di dalamnya. (Al-A’rāf [7]:35-37).
Makna ayat: وَ الَّذِیۡنَ کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا وَ اسۡتَکۡبَرُوۡا
عَنۡہَاۤ اُولٰٓئِکَ اَصۡحٰبُ النَّارِ -- Dan
orang-orang yang mendustakan Ayat-ayat Kami dan dengan takabur berpaling darinya mereka itu penghuni Api, ہُمۡ
فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ -- mereka kekal
di dalamnya. (Al-A’rāf [7]:37), ayat tersebut
mengisyaratkan kepada pengingkaran
yang dilakukan para pemuka kaum
(pemuka agama) terhadap “perjanjian Allah
Swt. dan nabi-nabi” dalam QS.3:82, yakni mereka melakukan pendustaan
dan penentangan terhadap rasul Allah
yang kedatangannya dijanjikan tersebut (QS.7:36), sehingga benarlah ancaman
yang dikemukakan Iblis kepada Allah
Swt. sebelum ia diusir dari “jannah” karena menolak perintah Allah Swt.
untuk “sujud” (beriman dan
patuh-taat) kepada Adam (Khalifah
Allah) bersama para malaikat,
firman-Nya:
وَ لَقَدۡ خَلَقۡنٰکُمۡ
ثُمَّ صَوَّرۡنٰکُمۡ ثُمَّ قُلۡنَا لِلۡمَلٰٓئِکَۃِ اسۡجُدُوۡا لِاٰدَمَ ٭ۖ فَسَجَدُوۡۤا اِلَّاۤ
اِبۡلِیۡسَ ؕ لَمۡ یَکُنۡ مِّنَ
السّٰجِدِیۡنَ ﴿﴾ قَالَ
مَا مَنَعَکَ اَلَّا تَسۡجُدَ
اِذۡ اَمَرۡتُکَ ؕ قَالَ اَنَا خَیۡرٌ
مِّنۡہُ ۚ خَلَقۡتَنِیۡ مِنۡ نَّارٍ
وَّ خَلَقۡتَہٗ مِنۡ
طِیۡنٍ ﴿﴾ قَالَ
فَاہۡبِطۡ مِنۡہَا فَمَا یَکُوۡنُ لَکَ اَنۡ تَتَکَبَّرَ فِیۡہَا فَاخۡرُجۡ اِنَّکَ مِنَ الصّٰغِرِیۡنَ ﴿﴾ قَالَ
اَنۡظِرۡنِیۡۤ اِلٰی یَوۡمِ
یُبۡعَثُوۡنَ ﴿﴾ قَالَ اِنَّکَ
مِنَ الۡمُنۡظَرِیۡنَ ﴿﴾ قَالَ فَبِمَاۤ
اَغۡوَیۡتَنِیۡ لَاَقۡعُدَنَّ
لَہُمۡ صِرَاطَکَ الۡمُسۡتَقِیۡمَ
﴿ۙ﴾ ثُمَّ
لَاٰتِیَنَّہُمۡ مِّنۡۢ بَیۡنِ اَیۡدِیۡہِمۡ وَ مِنۡ خَلۡفِہِمۡ وَ عَنۡ اَیۡمَانِہِمۡ وَ عَنۡ شَمَآئِلِہِمۡ
ؕ وَ لَا تَجِدُ اَکۡثَرَہُمۡ شٰکِرِیۡنَ
﴿﴾ قَالَ اخۡرُجۡ مِنۡہَا مَذۡءُوۡمًا
مَّدۡحُوۡرًا ؕ لَمَنۡ تَبِعَکَ مِنۡہُمۡ لَاَمۡلَـَٔنَّ جَہَنَّمَ مِنۡکُمۡ
اَجۡمَعِیۡنَ ﴿﴾
Dan sungguh
Kami benar-benar telah menciptakan kamu, kemudian
Kami memberi kamu bentuk, lalu Kami berfirman kepada para malaikat: فَسَجَدُوۡۤا
اِلَّاۤ اِبۡلِیۡسَ -- ”Sujudlah yakni patuhlah sepenuhnya
kamu kepada Adam", فَسَجَدُوۡۤا اِلَّاۤ اِبۡلِیۡسَ ؕ لَمۡ یَکُنۡ مِّنَ السّٰجِدِیۡنَ -- maka mereka
bersujud ke-cuali iblis, ia
tidak termasuk orang-orang yang bersujud.
قَالَ مَا
مَنَعَکَ اَلَّا تَسۡجُدَ
اِذۡ اَمَرۡتُکَ -- Dia berfirman: “Apa yang telah menghalangi engkau sehingga engkau tidak bersujud yakni patuh
sepenuhnya ketika Aku memberi
perintah kepada engkau?” قَالَ اَنَا خَیۡرٌ
مِّنۡہُ ۚ خَلَقۡتَنِیۡ مِنۡ نَّارٍ
وَّ خَلَقۡتَہٗ مِنۡ طِیۡنٍ -- Ia
(Iblis) berkata: “Aku lebih baik
daripada dia, Engkau menciptakan aku
dari api dan Engkau menciptakan dia
dari tanah liat.” قَالَ فَاہۡبِطۡ
مِنۡہَا فَمَا یَکُوۡنُ لَکَ اَنۡ تَتَکَبَّرَ فِیۡہَا فَاخۡرُجۡ اِنَّکَ مِنَ الصّٰغِرِیۡنَ -- Dia
berfirman: ”Jika demikian,
pergilah engkau darinya, karena sekali-kali tidak patut bagi engkau berlaku takabur di dalamnya,
karena itu keluarlah, sesungguhnya engkau termasuk di antara orang-orang yang
hina.” قَالَ اَنۡظِرۡنِیۡۤ اِلٰی
یَوۡمِ یُبۡعَثُوۡنَ -- Ia, Iblis, berkata: “Berilah aku tangguh sampai hari mereka dibang-kitkan.” قَالَ
اِنَّکَ مِنَ الۡمُنۡظَرِیۡنَ -- Dia berfirman: “Sesungguhnya engkau termasuk orang-orang yang diberi
tangguh.” قَالَ فَبِمَاۤ
اَغۡوَیۡتَنِیۡ لَاَقۡعُدَنَّ
لَہُمۡ صِرَاطَکَ الۡمُسۡتَقِیۡمَ -- Ia, Iblis, berkata: “Karena Engkau
telah menyatakan aku sesat, niscaya aku akan menghadang mereka di jalan Engkau yang lurus, ثُمَّ لَاٰتِیَنَّہُمۡ مِّنۡۢ بَیۡنِ
اَیۡدِیۡہِمۡ وَ مِنۡ خَلۡفِہِمۡ وَ عَنۡ
اَیۡمَانِہِمۡ وَ عَنۡ شَمَآئِلِہِمۡ
-- Kemudian niscaya akan ku-datangi mereka dari depan mereka, dari belakang mereka, dari kanan mereka, dan dari kiri mereka, ؕ وَ لَا تَجِدُ اَکۡثَرَہُمۡ شٰکِرِیۡن -- dan Engkau
tidak akan mendapati kebanyakan mereka
bersyukur.” قَالَ اخۡرُجۡ
مِنۡہَا مَذۡءُوۡمًا مَّدۡحُوۡرًا
-- Dia
berfirman: “Keluarlah eng-kau darinya dengan terhina dan terusir, قَالَ اخۡرُجۡ مِنۡہَا مَذۡءُوۡمًا مَّدۡحُوۡرًا ؕ لَمَنۡ تَبِعَکَ
مِنۡہُمۡ لَاَمۡلَـَٔنَّ جَہَنَّمَ مِنۡکُمۡ اَجۡمَعِیۡنَ -- barangsiapa dari mereka mengikuti engkau, niscaya akan Aku penuhi Jahannam dengan kamu semua.” (Al-A’rāf [7]:12-19).
Dengan demikian jelaslah bahwa
terjadinya pengingkaran terhadap “perjanjian
Allah dengan nabi-nabi” dalam
QS.3:82 yang dilakukan para pemuka kaum dan pemuka agama -- sehingga terjadi beragam
agama dan beragam
sekte agama -- pada hakikatnya merupakan terbuktinya ancaman penghadangan iblis di jalan
Allah yang terjadi pada setiap masa pengutusan rasul Allah (Khalifah Allah) yang
dijanjikan dari kalangan Bani Adam (QS.7:35-37), termasuk di Akhir Zaman ini.
Pemberian Nama Islam
dan Muslim
Ketika proses pewahyuan hukum-hukum syariat berdasarkan Sifat Rububiyyat Allah Swt. tersebut telah mencapai kesempurnaan dalam wujud wahyu
Al-Quran (QS.2:107; QS.5:4) -- yang diwahyukan Allah Swt. kepada Nabi Besar Muhammad saw. bagi kepentingan seluruh umat
manusia (QS.2:186; QS.7:158-159; QS.21:108) -- maka barulah nama Islam diberikan kepada agama terakhir dan tersempurna tersebut, firman-Nya:
اَلۡیَوۡمَ اَکۡمَلۡتُ لَکُمۡ دِیۡنَکُمۡ وَ
اَتۡمَمۡتُ عَلَیۡکُمۡ نِعۡمَتِیۡ وَ رَضِیۡتُ لَکُمُ الۡاِسۡلَامَ دِیۡنًا
Hari ini telah Ku-sempurnakan agama kamu bagimu, telah Kulengkapkan
nikmat-Ku atas kamu, dan telah Kusukai Islam sebagai agama bagi kamu. (Al-Māidah
[5]:4).
Ikmāl
(menyempurnakan) dan itmām (melengkapkan) merupakan akar-akar kata
(masdar), yang pertama berhubungan dengan kaifiat (kualitas) dan yang
kedua berhubungan dengan kammiat (kuantitas). Kata yang pertama (itmām) menunjukkan bahwa ajaran-ajaran serta perintah-perintah mengenai pencapaian kemajuan jasmani, ruhani, dan akhlak manusia telah terkandung dalam
Al-Quran dalam bentuk yang paripurna;
sedang yang kedua (akmal) menunjukkan
bahwa tidak ada suatu keperluan
manusia yang lepas dari perhatian (diabaikan).
Kata yang pertama (itmām) berhubungan dengan
perintah-perintah yang bertalian dengan segi fisik atau keadaan lahiriah
manusia, sedang yang kedua (akmal) berhubungan
dengan segi ruhaniah dan batiniahnya.
Hikmah masalah penyempurnaan dan pelengkapan
agama dan nikmat Allah disebut dalam QS.5:4 berdampingan dengan hukum yang berlaku bertalian dengan makanan-makanan, untuk menjelaskan bahwa
penggunaan makanan yang halal dan thayyib merupakan salah satu dasar yang amat penting
untuk menumbuh-kembangkan nilai akhlak yang baik dan pada gilirannya memberi dasar tempat-berpijak guna mencapai kemajuan ruhani. Itulah sebabnya dalam ajaran Islam (Al-Quran) masalah makanan
dan minuman -- termasuk cara memperolehnya – telah
dijelaskan secara terinci.
Sehubungan
dengan pemberian nama Islam kepada agama terakhir dan tersempurna yang diwahyukan
kepada Nabi Besar Muhammad Saw. tersebut, dalam firman-Nya berikut ini
dikemukakan pemberian nama Muslim kepada para pemeluknya, firman-Nya:
یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوا
ارۡکَعُوۡا وَ اسۡجُدُوۡا وَ اعۡبُدُوۡا
رَبَّکُمۡ وَ افۡعَلُوا الۡخَیۡرَ
لَعَلَّکُمۡ تُفۡلِحُوۡنَ ﴿ۚٛ﴾ وَ جَاہِدُوۡا فِی
اللّٰہِ حَقَّ جِہَادِہٖ ؕ ہُوَ اجۡتَبٰىکُمۡ وَ مَا جَعَلَ عَلَیۡکُمۡ فِی
الدِّیۡنِ مِنۡ حَرَجٍ ؕ مِلَّۃَ
اَبِیۡکُمۡ اِبۡرٰہِیۡمَ ؕ ہُوَ سَمّٰىکُمُ الۡمُسۡلِمِیۡنَ ۬ۙ مِنۡ قَبۡلُ
وَ فِیۡ ہٰذَا لِیَکُوۡنَ الرَّسُوۡلُ
شَہِیۡدًا عَلَیۡکُمۡ وَ تَکُوۡنُوۡا شُہَدَآءَ عَلَی النَّاسِ ۚۖ فَاَقِیۡمُوا
الصَّلٰوۃَ وَ اٰتُوا الزَّکٰوۃَ وَ اعۡتَصِمُوۡا بِاللّٰہِ ؕ ہُوَ مَوۡلٰىکُمۡ
ۚ فَنِعۡمَ الۡمَوۡلٰی وَ نِعۡمَ النَّصِیۡرُ ﴿٪﴾
Hai orang-orang yang beriman, rukuklah kamu, dan sujudlah, serta sembahlah Rabb (Tuhan) kamu, dan berbuatlah kebaikan supaya kamu memperoleh
kebahagiaan. جَاہِدُوۡا فِی اللّٰہِ حَقَّ جِہَادِہٖ وَ -- Dan
berjihadlah kamu di jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya, ہُوَ اجۡتَبٰىکُمۡ وَ مَا جَعَلَ عَلَیۡکُمۡ
فِی الدِّیۡنِ مِنۡ حَرَجٍ -- Dia
telah memilih kamu, dan Dia tidak
menjadikan kesukaran pada kamu dalam urusan agama, ؕ
مِلَّۃَ اَبِیۡکُمۡ اِبۡرٰہِیۡمَ -- Ikutilah agama bapak kamu, Ibrahim,
ہُوَ سَمّٰىکُمُ الۡمُسۡلِمِیۡنَ ۬ۙ
مِنۡ قَبۡلُ وَ فِیۡ ہٰذَا -- Dia telah memberi kamu nama Muslimin dahulu
dan dalam Kitab ini, لِیَکُوۡنَ الرَّسُوۡلُ شَہِیۡدًا عَلَیۡکُمۡ
وَ تَکُوۡنُوۡا شُہَدَآءَ عَلَی النَّاسِ -- supaya
Rasul itu menjadi saksi atas kamu dan supaya
kamu menjadi saksi atas umat manusia. فَاَقِیۡمُوا الصَّلٰوۃَ وَ
اٰتُوا الزَّکٰوۃَ وَ اعۡتَصِمُوۡا
بِاللّٰہِ ؕ -- Maka
dirikanlah shalat, bayarlah zakat, dan berpegang teguhlah kepada Allah. ہُوَ مَوۡلٰىکُمۡ ۚ فَنِعۡمَ الۡمَوۡلٰی وَ
نِعۡمَ النَّصِیۡر -- Dia Pelindung
kamu maka Dia-lah sebaik-baik Pelindung
dan sebaik-baik Penolong. (Al-Hājj
[22]:78-79).
Tidak Boleh Ada Paksaan
Dalam Urusan Agama (Keimanan) &
Penyebab Munculnya Bermacam-macam
Agama
Dengan
demikian jelaslah, bahwa keberadaan berbagai macam agama di kalangan umat manusia sama sekali bukan
kehendak Allah Swt., melainkan sebagai akibat
pendustaan dan penentangan
terhadap para rasul Allah yang kedatangannya dijanjikan
kepada mereka, karena Allah Swt. memberikan kebebasan
kepada manusia untuk menentukan sikapnya dan pilihannya,
firman-Nya:
وَ قُلِ الۡحَقُّ مِنۡ رَّبِّکُمۡ ۟
فَمَنۡ شَآءَ فَلۡیُؤۡمِنۡ وَّ مَنۡ
شَآءَ فَلۡیَکۡفُرۡ ۙ اِنَّاۤ اَعۡتَدۡنَا
لِلظّٰلِمِیۡنَ نَارًا ۙ اَحَاطَ بِہِمۡ
سُرَادِقُہَا ؕ وَ اِنۡ یَّسۡتَغِیۡثُوۡا یُغَاثُوۡا بِمَآءٍ کَالۡمُہۡلِ
یَشۡوِی الۡوُجُوۡہَ ؕ بِئۡسَ الشَّرَابُ ؕ وَ
سَآءَتۡ
مُرۡتَفَقًا ﴿﴾
Dan
katakanlah: ”Inilah haq (kebenaran) dari Rabb (Tuhan) kamu فَمَنۡ شَآءَ فَلۡیُؤۡمِنۡ وَّ مَنۡ شَآءَ فَلۡیَکۡفُرۡ -- karena itu
barangsiapa menghendaki maka berimanlah, dan barangsiapa menghendaki maka kafirlah”, اِنَّاۤ اَعۡتَدۡنَا لِلظّٰلِمِیۡنَ نَارًا ۙ اَحَاطَ بِہِمۡ سُرَادِقُہَا
-- sesungguhnya Kami telah menyediakan bagi orang-orang yang zalim itu api yang dinding-dindingnya mengepung mereka, وَ اِنۡ یَّسۡتَغِیۡثُوۡا یُغَاثُوۡا بِمَآءٍ کَالۡمُہۡلِ یَشۡوِی الۡوُجُوۡہَ
-- dan jika mereka berteriak
meminta tolong, mereka akan ditolong
dengan air seperti leburan timah, yang akan
menghanguskan wajah-wajah, بِئۡسَ الشَّرَابُ ؕ وَ سَآءَتۡ
مُرۡتَفَقًا -- sangat buruk minuman itu dan sangat buruk tempat tinggal itu! (Al-Kahf [18]:30). LIhat
pula QS.9:6.
Itulah sebabnya Allah Swt. telah menyatakan
bahwa tidak boleh adanya paksaan dan kekerasan dalam masalah agama (keimanan), firman-Nya:
لَاۤ اِکۡرَاہَ فِی الدِّیۡنِ ۟ۙ قَدۡ
تَّبَیَّنَ الرُّشۡدُ مِنَ الۡغَیِّ ۚ فَمَنۡ یَّکۡفُرۡ بِالطَّاغُوۡتِ وَ
یُؤۡمِنۡۢ بِاللّٰہِ فَقَدِ اسۡتَمۡسَکَ بِالۡعُرۡوَۃِ الۡوُثۡقٰی ٭ لَا
انۡفِصَامَ لَہَا ؕ وَ اللّٰہُ سَمِیۡعٌ
عَلِیۡمٌ ﴿﴾ اَللّٰہُ وَلِیُّ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا ۙ یُخۡرِجُہُمۡ مِّنَ
الظُّلُمٰتِ اِلَی النُّوۡرِ۬ؕ وَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡۤا اَوۡلِیٰٓـُٔہُمُ
الطَّاغُوۡتُ ۙ یُخۡرِجُوۡنَہُمۡ مِّنَ النُّوۡرِ اِلَی الظُّلُمٰتِ ؕ اُولٰٓئِکَ
اَصۡحٰبُ النَّارِ ۚ ہُمۡ فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ
﴿﴾٪
Tidak ada paksaan dalam agama. Sungguh jalan benar itu nyata bedanya
dari kesesatan, فَمَنۡ یَّکۡفُرۡ بِالطَّاغُوۡتِ وَ یُؤۡمِنۡۢ بِاللّٰہِ فَقَدِ
اسۡتَمۡسَکَ بِالۡعُرۡوَۃِ الۡوُثۡقٰی -- karena itu barangsiapa kafir kepada thāghūt dan beriman
kepada Allah maka sungguh ia telah berpegang kepada suatu
pegangan yang sangat kuat lagi tidak
akan putus, وَ اللّٰہُ سَمِیۡعٌ عَلِیۡمٌ -- dan Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui. اَللّٰہُ وَلِیُّ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا ۙ
یُخۡرِجُہُمۡ مِّنَ الظُّلُمٰتِ اِلَی النُّوۡرِ
-- Allah adalah Pelindung orang-orang beriman, Dia menge-luarkan mereka dari berbagai kegelapan kepada cahaya, وَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡۤا اَوۡلِیٰٓـُٔہُمُ
الطَّاغُوۡتُ ۙ یُخۡرِجُوۡنَہُمۡ مِّنَ النُّوۡرِ اِلَی الظُّلُمٰتِ -- dan orang-orang
kafir pelindung mereka
adalah thāghūt, yang mengeluarkan
mereka dari cahaya kepada berbagai kegelapan, اُولٰٓئِکَ اَصۡحٰبُ النَّارِ ۚ ہُمۡ فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ -- mereka itu penghuni
Api, me-reka kekal di dalamnya.
(Al-Baqarah
[2]:257-258).
Ayat 257
melenyapkan salah paham itu dan bukan saja melarang kaum Muslimi -- dengan kata-kata yang sangat tegas -- mempergunakan kekerasan dalam rangka menarik orang-orang
bukan-Muslim masuk Islam, tetapi juga
memberikan pula alasan-alasan mengapa
kekerasan tidak boleh dipakai untuk
tujuan tersebut. Alasan itu ialah
karena: قَدۡ
تَّبَیَّنَ الرُّشۡدُ مِنَ الۡغَیِّ -- sungguh
kebenaran itu nyata berbeda dari kesesatan”
karena itu tidak ada alasan
untuk membenarkan penggunaan kekerasan,
sebab Islam adalah kebenaran yang nyata.
Makna thāghūt dalam ayat selanjutnya: فَمَنۡ یَّکۡفُرۡ بِالطَّاغُوۡتِ وَ یُؤۡمِنۡۢ بِاللّٰہِ فَقَدِ
اسۡتَمۡسَکَ بِالۡعُرۡوَۃِ الۡوُثۡقٰی -- karena
itu barangsiapa kafir kepada thāghūt
dan beriman kepada Allah maka sungguh ia telah berpegang kepada suatu
pegangan yang sangat kuat lagi tidak
akan putus” adalah: orang-orang yang bertindak melampaui batas-batas kewajaran; iblis; orang-orang yang menyesatkan
orang lain dari jalan lurus dan benar; segala bentuk berhala. Kata itu dipakai dalam arti
mufrad dan jamak (QS.2:258 dan QS.4:61).
Akibat Mengingkari “Perjanjian
Dengan Nabi-nabi”
Kembali kepada pembahasan QS.3:82 mengenai makna مِیۡثَاقَ النَّبِیّٖنَ – “perjanjian nabi-nabi”
dan makna مُّصَدِّقٌ -- “menggenapi”,
firman-Nya:
وَ اِذۡ اَخَذَ اللّٰہُ مِیۡثَاقَ
النَّبِیّٖنَ لَمَاۤ اٰتَیۡتُکُمۡ مِّنۡ کِتٰبٍ وَّ حِکۡمَۃٍ ثُمَّ جَآءَکُمۡ
رَسُوۡلٌ مُّصَدِّقٌ لِّمَا مَعَکُمۡ لَتُؤۡمِنُنَّ بِہٖ وَ لَتَنۡصُرُنَّہٗ ؕ
قَالَ ءَاَقۡرَرۡتُمۡ وَ اَخَذۡتُمۡ عَلٰی ذٰلِکُمۡ اِصۡرِیۡ ؕ قَالُوۡۤا
اَقۡرَرۡنَا ؕ قَالَ فَاشۡہَدُوۡا وَ اَنَا مَعَکُمۡ مِّنَ الشّٰہِدِیۡنَ ﴿﴾
Dan ingatlah ketika Allah mengambil perjanjian
dari manusia melalui nabi-nabi: لَمَاۤ اٰتَیۡتُکُمۡ مِّنۡ کِتٰبٍ وَّ حِکۡمَۃٍ ثُمَّ جَآءَکُمۡ رَسُوۡلٌ
مُّصَدِّقٌ لِّمَا مَعَکُمۡ -- “Apa
saja yang Aku berikan kepada kamu berupa Kitab dan Hikmah,
kemudian datang kepada kamu seorang
rasul yang menggenapi apa
yang ada padamu, لَتُؤۡمِنُنَّ
بِہٖ وَ لَتَنۡصُرُنَّہٗ -- kamu benar-benar harus beriman kepadanya dan kamu benar-benar harus membantunya.” قَالَ ءَاَقۡرَرۡتُمۡ وَ اَخَذۡتُمۡ عَلٰی
ذٰلِکُمۡ اِصۡرِیۡ -- Dia berfirman: “Apakah
kamu mengakui dan menerima tanggung-jawab yang Aku bebankan kepada kamu mengenai itu?” قَالُوۡۤا اَقۡرَرۡنَا -- Mereka berkata: “Kami mengakui.” قَالَ فَاشۡہَدُوۡا وَ اَنَا مَعَکُمۡ
مِّنَ الشّٰہِدِیۡنَ -- Dia
berfirman: “Maka bersaksilah dan Aku
pun beserta kamu termasuk orang-orang yang menjadi saksi.” (Āli ‘Imran [3]:82).
Mengenai makna ayat: لَتُؤۡمِنُنَّ بِہٖ وَ لَتَنۡصُرُنَّہٗ -- kamu
benar-benar harus beriman kepadanya dan
kamu benar-benar harus membantunya” bahwa jika nabi Allah itu datang
memenuhi nubuatan-nubuatan dalam
Kitab-kitab dari satu kaum saja -- seperti halnya dengan Nabi Isa Ibnu
Maryam a.s. dan para nabi Bani Israil lainnya -- maka hanya kaum
itu saja yang wajib menerima dan membantu beliau.
Tetapi
jika Kitab-kitab semua agama menubuatkan kedatangan seorang nabi
Allah seperti halnya mengenai Nabi
Besar Muhammad saw. maka
semua bangsa harus menerima dan beriman
kepada beliau saw., sebab Nabi Besar Muhammad saw. datang sebagai penyempurnaan nubuatan-nubuatan, bukan
hanya dari para nabi Bani Israil saja
(Yesaya 21:13-15; Ulangan 18:18; 33:2; Yohanes
14:25, 26; 16:7-13), tetapi juga nubuatan-nubuatan
dari ahli-ahli kasyaf bangsa Aria dan ruhaniawan-ruhaniawan agama Buddha dan Zoroaster (Syafrang Dasatir
hlm. 188, Siraji Press, Delhi Yamaspi, diterbitkan oleh Nizham Al-Masyaich,
Delhi, 1330 Hijrah).
Itulah makna penegasan Allah Swt. dalam ayat
selanjutnya: قَالَ
ءَاَقۡرَرۡتُمۡ وَ اَخَذۡتُمۡ عَلٰی ذٰلِکُمۡ اِصۡرِیۡ -- Dia berfirman: “Apakah kamu mengakui dan menerima
tanggung-jawab yang Aku bebankan kepada kamu mengenai itu?” قَالُوۡۤا اَقۡرَرۡنَا -- Mereka berkata: “Kami mengakui.” قَالَ فَاشۡہَدُوۡا وَ اَنَا مَعَکُمۡ
مِّنَ الشّٰہِدِیۡنَ -- Dia
berfirman: “Maka bersaksilah dan Aku
pun beserta kamu termasuk orang-orang yang menjadi saksi.” (Āli
‘Imran [3]:82).
Makna Umat Manusia
Merupakan “Satu Umat”
Namun
dalam kenyataannya مِیۡثَاقَ النَّبِیّٖنَ – “perjanjian nabi-nabi” tersebut telah dilanggar oleh para pemuka kaum para rasul Allah
tersebut dan mereka bertahan dalam “agama”
mereka dan “adat-istadat leluhur” mereka, firman-Nya:
وَ اِذَا قِیۡلَ لَہُمۡ تَعَالَوۡا اِلٰی مَاۤ اَنۡزَلَ اللّٰہُ وَ اِلَی الرَّسُوۡلِ
قَالُوۡا حَسۡبُنَا مَا وَجَدۡنَا عَلَیۡہِ اٰبَآءَنَا ؕ اَوَ لَوۡ
کَانَ اٰبَآؤُہُمۡ لَا یَعۡلَمُوۡنَ شَیۡئًا وَّ لَا
یَہۡتَدُوۡنَ ﴿﴾
Dan apabila
dikatakan kepada mereka: “Marilah taat
kepada apa-apa yang diturunkan Allah dan kepada Rasul.” Mereka berkata: “Cukuplah
bagi kami apa yang kami dapati
bapak-bapak kami mengerjakannya.” Apakah walaupun bapak-bapak mereka itu tidak mengetahui sesuatu dan
tidak pula mendapat petunjuk? (Al-Māidah
[5]:105).
Dengan demikian terjawablah pertanyaan:
Mengapa dalam kenyataannya ketika Rasul
Allah yang kedatangannya dijanjikan sebelumnya oleh para rasul
Allah tersebut (QS.7:335-37)
benar-benar datang – padahal diperkuat dengan berbagai macam Tanda-tanda Ilahi yang jelas -- tetapi mereka senantiasa didustakan dan ditentang oleh kaumnya, termasuk Nabi Besar Muhammad
saw.?
Dan terjawab pulalah pertanyaan: Mengapa dalam
kenyataannya di kalangan umat
manusia terdapat bermacam-macam agama dengan nama yang berlainan? Apakah itu merupakan kehendak Allah Swt. ataukah bukan? Jawabannya adalah bukan kehendak Allah Swt. melainkan akibat pengingkaran para
pemuka kaum (pemuka agama) terhadap “perjanjian” Allah Swt. dengan para nabi
Allah (QS.3:82). Sehubungan dengan kenyataan tersebut Allah Swt. berfirman:
کَانَ النَّاسُ اُمَّۃً وَّاحِدَۃً ۟ فَبَعَثَ اللّٰہُ النَّبِیّٖنَ
مُبَشِّرِیۡنَ وَ مُنۡذِرِیۡنَ ۪ وَ
اَنۡزَلَ مَعَہُمُ الۡکِتٰبَ بِالۡحَقِّ
لِیَحۡکُمَ بَیۡنَ النَّاسِ فِیۡمَا اخۡتَلَفُوۡا فِیۡہِ ؕ وَ مَا اخۡتَلَفَ
فِیۡہِ اِلَّا الَّذِیۡنَ اُوۡتُوۡہُ مِنۡۢ بَعۡدِ مَا جَآءَتۡہُمُ الۡبَیِّنٰتُ
بَغۡیًۢا بَیۡنَہُمۡ ۚ فَہَدَی اللّٰہُ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا لِمَا اخۡتَلَفُوۡا
فِیۡہِ مِنَ الۡحَقِّ بِاِذۡنِہٖ ؕ وَ اللّٰہُ
یَہۡدِیۡ مَنۡ یَّشَآءُ اِلٰی
صِرَاطٍ مُّسۡتَقِیۡمٍ ﴿﴾
Manusia dahulunya
merupakan satu umat, lalu Allah
mengutus nabi-nabi sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan, dan Dia menurunkan beserta mereka Kitab dengan haq
(benar) supaya Dia menghakimi di antara
manusia dalam hal-hal yang mereka perselisihkan, وَ مَا اخۡتَلَفَ
فِیۡہِ اِلَّا الَّذِیۡنَ اُوۡتُوۡہُ مِنۡۢ بَعۡدِ مَا جَآءَتۡہُمُ الۡبَیِّنٰتُ
بَغۡیًۢا بَیۡنَہُمۡ -- dan sekali-kali
tidak ada yang memperselisihkannya kecuali orang-orang
yang diberi Alkitab itu sesudah Tanda-tanda
yang nyata datang kepada mereka, karena
kedengkian di antara mereka. فَہَدَی اللّٰہُ
الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا لِمَا اخۡتَلَفُوۡا فِیۡہِ مِنَ الۡحَقِّ بِاِذۡنِہٖ -- Lalu Allah dengan izin-Nya telah memberi petunjuk
orang-orang yang beriman kepada kebenaran
yang mereka perselisihkan itu, وَ اللّٰہُ یَہۡدِیۡ مَنۡ یَّشَآءُ اِلٰی صِرَاطٍ مُّسۡتَقِیۡمٍ -- dan Allah memberi petunjuk kepada siapa yang
Dia kehendaki ke jalan yang lurus. (Al-Baqarah [2]:214).
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran Anyar,
20 Januari 2017
Tidak ada komentar:
Posting Komentar