Jumat, 27 Januari 2017

Hubungan "Ancaman Penghadangan Iblis di Jalan Allah" Dengan Timbulnya Beragam Agama dan Sekte Agama & Hakikat Pemberian Nama "Islam" dan "Muslim" Kepada "Agama Terakhir dan Tersempurna" dan Kepada "Pemeluknya"






Bismillaahirrahmaanirrahiim

  ISLAM
Pidato  Mirza Ghulam Ahmad a.s.
Tgl. 2 November 1904 di Kota Sialkote – Hindustan

Bab  3

HUBUNGAN  ANCAMAN PENGHADANGAN IBLIS DI JALAN ALLAH  DENGAN   TIMBULNYA BERAGAM  AGAMA DAN SEKTE AGAMA & HAKIKAT PEMBERIAN NAMA ISLAM DAN MUSLIM KEPADA AGAMA TERAKHIR DAN TERSEMPURNA DAN KEPADA PEMELUKNYA

Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam bagian akhir Bab 2   telah dijelaskan topik Amanat Allah Kepada Bani Adam Mengenai Kesinambungan Pengutusan Rasul Allah yaitu   sehubungan   dengan  perjanjian” Allah Swt. dengan para nabi Allah   dalam firman-Nya:
وَ اِذۡ اَخَذَ اللّٰہُ مِیۡثَاقَ النَّبِیّٖنَ لَمَاۤ اٰتَیۡتُکُمۡ مِّنۡ کِتٰبٍ وَّ حِکۡمَۃٍ ثُمَّ جَآءَکُمۡ رَسُوۡلٌ مُّصَدِّقٌ لِّمَا مَعَکُمۡ لَتُؤۡمِنُنَّ بِہٖ وَ لَتَنۡصُرُنَّہٗ ؕ قَالَ ءَاَقۡرَرۡتُمۡ وَ اَخَذۡتُمۡ عَلٰی ذٰلِکُمۡ اِصۡرِیۡ ؕ قَالُوۡۤا اَقۡرَرۡنَا ؕ قَالَ فَاشۡہَدُوۡا وَ اَنَا مَعَکُمۡ مِّنَ  الشّٰہِدِیۡنَ ﴿﴾
Dan ingatlah  ketika Allah mengambil perjanjian  dari manusia melalui nabi-nabi:   لَمَاۤ اٰتَیۡتُکُمۡ مِّنۡ کِتٰبٍ وَّ حِکۡمَۃٍ ثُمَّ جَآءَکُمۡ رَسُوۡلٌ مُّصَدِّقٌ لِّمَا مَعَکُمۡ   -- “Apa saja yang Aku berikan kepada kamu berupa Kitab dan Hikmah, kemudian datang kepada kamu seorang rasul yang menggenapi  apa yang ada padamu, لَتُؤۡمِنُنَّ بِہٖ وَ لَتَنۡصُرُنَّہٗ  --   kamu benar-benar harus beriman kepadanya dan   kamu  benar-benar harus membantunya.” قَالَ ءَاَقۡرَرۡتُمۡ وَ اَخَذۡتُمۡ عَلٰی ذٰلِکُمۡ اِصۡرِیۡ  -- Dia berfirman: “Apakah kamu mengakui dan menerima tanggung-jawab yang Aku bebankan kepada kamu mengenai itu?” قَالُوۡۤا اَقۡرَرۡنَا  --  Mereka berkata: “Kami mengakui.”  قَالَ فَاشۡہَدُوۡا وَ اَنَا مَعَکُمۡ مِّنَ  الشّٰہِدِیۡنَ -- Dia berfirman: “Maka bersaksilah  dan Aku pun beserta kamu termasuk  orang-orang yang menjadi saksi.”  (Āli ‘Imran [3]:82). 
        Ungkapan mītsaq an-nabiyyīn dapat berarti “perjanjian nabi-nabi dengan Tuhan” atau “perjanjian yang diambil Tuhan dari orang-orang dengan perantaraan nabi-nabi mereka”. Ungkapan ini telah dipakai di sini dalam artian yang kedua, sebab qira'ah (pembacaan) lain seperti yang didukung oleh Ubayy bin Ka’b r.a. dan ‘Abdullah bin Mas’ud r.a.  ialah “mītsaq alladzīna ūtul- Kitāb” yang artinya “perjanjian mereka yang diberi Kitab” (Muhith).

Bagaikan Mengenal Anak-anak Mereka Sendiri

          Dengan demikian  nubuatan-nubuatan dalam Bible  berkenaan pengutusan Nabi Besar Muhammad saw. dari kalangan Bani Isma’il,  hal itu  benar-benar diketahui oleh para ulama Bani Israil, bagaikan mengenal anak-anak mereka sendiri, firman-Nya:
اَلَّذِیۡنَ اٰتَیۡنٰہُمُ الۡکِتٰبَ یَعۡرِفُوۡنَہٗ کَمَا یَعۡرِفُوۡنَ اَبۡنَآءَہُمۡ ؕ وَ اِنَّ فَرِیۡقًا مِّنۡہُمۡ لَیَکۡتُمُوۡنَ الۡحَقَّ وَ ہُمۡ یَعۡلَمُوۡنَ ﴿﴾ؔ اَلۡحَقُّ  مِنۡ رَّبِّکَ فَلَا تَکُوۡنَنَّ مِنَ الۡمُمۡتَرِیۡنَ ﴿﴾٪
Orang-orang yang telah Kami beri kitab, mereka mengenalnya  sebagaimana mereka mengenal   anak-anaknya,  وَ اِنَّ فَرِیۡقًا مِّنۡہُمۡ لَیَکۡتُمُوۡنَ الۡحَقَّ وَ ہُمۡ یَعۡلَمُوۡنَ -- dan sesungguhnya segolongan dari mereka benar-benar menyembunyikan kebenaran padahal mereka mengetahui. اَلۡحَقُّ  مِنۡ رَّبِّکَ فَلَا تَکُوۡنَنَّ مِنَ الۡمُمۡتَرِیۡنَ  --   Kebenaran ini dari Rabb (Tuhan) engkau, maka janganlah engkau termasuk orang-orang yang ragu. (Al-Baqarah [2]:147-148). Lihat pula QS.6:21; QS.26:193-198.
         Ya’rifuna-hu  dalam ayat:  اَلَّذِیۡنَ اٰتَیۡنٰہُمُ الۡکِتٰبَ یَعۡرِفُوۡنَہٗ کَمَا یَعۡرِفُوۡنَ اَبۡنَآءَہُمۡ  --  “Orang-orang yang telah Kami beri kitab, mereka mengenalnya  sebagaimana mereka mengenal   anak-anaknya  berasal dari ‘arafa yang berarti ia mengetahui atau mengenal atau melihat sesuatu. Meskipun kata itu dipakai pula mengenai ilmu yang diperoleh melalui pancaindra jasmani, kata itu terutama dipakai mengenai ilmu yang diperoleh lewat renungan dan tafakur   (Al-Mufradat)  sebagaimana dikemukakan dalam  QS.3:191-195 mengenai “ulul-albāb” (orang-orang yang berakal) berawal dari  bertafakkur mengenai kesempurnaan tatanan   alam semesta, lalu menyaksikan “kobaran api” dan berakhir dengan beriman kepada Rasul Allah yang kedatangannya dijanjikan Allah Swt. (QS.7:35-37).
         Kata mushaddiq dalam ayat ثُمَّ جَآءَکُمۡ رَسُوۡلٌ مُّصَدِّقٌ لِّمَا مَعَکُمۡ   --  kemudian datang kepada kamu seorang rasul yang menggenapi apa yang ada pada kamu (QS.3:82), telah dipakai di sini untuk menyatakan tolok ukur yang dengan tolok ukur itu pendakwa yang benar dapat dibedakan dari seorang pendakwa yang palsu. Secara tepat kata mushaddiq itu telah diterjemahkan di sini sebagai “menggenapi”, sebab hanya dengan “menggenapi” dalam dirinya maka nubuatan-nubuatan yang terkandung dalam Kitab-kitab wahyu terdahulu maka    seorang pendakwa dapat dibuktikan kebenarannya.

Pengingkaran “Ikrar Kesepakatan” Allah Swt. dengan Para Nabi Allah &  Ancaman Penghadangan Iblis di Jalan Allah

        Makna ayat selanjutnya:  قَالَ فَاشۡہَدُوۡا وَ اَنَا مَعَکُمۡ مِّنَ  الشّٰہِدِیۡنَ -- Dia berfirman: “Maka bersaksilah  dan Aku pun beserta kamu termasuk  orang-orang yang menjadi saksi” (QS.3:82) dianggap pula berlaku kepada para nabi Allah pada umumnya dan khususnya kepada Nabi Besar Muhammad saw.   Kedua pemakaian itu tepat.
Ayat tersebut menetapkan suatu peraturan umum. Kedatangan setiap nabi Allah terjadi sebagai penggenapan nubuatan-nubuatan tertentu yang dibuat oleh seorang nabi Allah yang mendahuluinya, ketika  nabi Allah tersebut  menyuruh pengikutnya  supaya menerima  dan beriman kepada nabi Allah yang berikutnya kapan pun nabi Allah itu datang, firman-Nya:
وَ لِکُلِّ اُمَّۃٍ  اَجَلٌ ۚ فَاِذَا  جَآءَ  اَجَلُہُمۡ  لَا یَسۡتَاۡخِرُوۡنَ سَاعَۃً  وَّ لَا یَسۡتَقۡدِمُوۡنَ ﴿﴾  یٰبَنِیۡۤ  اٰدَمَ  اِمَّا یَاۡتِیَنَّکُمۡ رُسُلٌ مِّنۡکُمۡ یَقُصُّوۡنَ عَلَیۡکُمۡ اٰیٰتِیۡ ۙ فَمَنِ اتَّقٰی وَ اَصۡلَحَ فَلَا خَوۡفٌ عَلَیۡہِمۡ وَ لَا ہُمۡ یَحۡزَنُوۡنَ ﴿﴾  وَ الَّذِیۡنَ کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا وَ اسۡتَکۡبَرُوۡا عَنۡہَاۤ  اُولٰٓئِکَ اَصۡحٰبُ النَّارِ ۚ ہُمۡ فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ ﴿﴾   
Dan bagi  tiap-tiap umat ada batas waktu, maka apabila telah datang batas waktunya, mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak pula dapat memajukannya.    یٰبَنِیۡۤ  اٰدَمَ  اِمَّا یَاۡتِیَنَّکُمۡ رُسُلٌ مِّنۡکُمۡ یَقُصُّوۡنَ عَلَیۡکُمۡ اٰیٰتِیۡ  --  Wahai Bani Adam,  jika datang kepada kamu  rasul-rasul dari antara kamu yang membacakan  Ayat-ayat-Ku kepada kamu, maka barangsiapa bertakwa dan memperbaiki diri, maka tidak akan ada ketakutan menimpa mereka dan tidak pula mereka akan bersedih hati.  وَ الَّذِیۡنَ کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا وَ اسۡتَکۡبَرُوۡا عَنۡہَاۤ  اُولٰٓئِکَ اَصۡحٰبُ النَّارِ  --  Dan  orang-orang yang mendustakan Ayat-ayat Kami dan dengan takabur berpaling  darinya  mereka itu penghuni Api, ہُمۡ فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ  --  mereka kekal di dalamnya. (Al-A’rāf [7]:35-37).
        Makna ayat:  وَ الَّذِیۡنَ کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا وَ اسۡتَکۡبَرُوۡا عَنۡہَاۤ  اُولٰٓئِکَ اَصۡحٰبُ النَّارِ  --  Dan  orang-orang yang mendustakan Ayat-ayat Kami dan dengan takabur berpaling  darinya  mereka itu penghuni Api, ہُمۡ فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ  --  mereka kekal di dalamnya. (Al-A’rāf [7]:37), ayat tersebut  mengisyaratkan kepada pengingkaran yang dilakukan para pemuka kaum (pemuka agama) terhadap “perjanjian Allah Swt. dan nabi-nabi” dalam QS.3:82, yakni mereka  melakukan pendustaan dan penentangan terhadap rasul Allah   yang kedatangannya dijanjikan tersebut (QS.7:36),  sehingga benarlah  ancaman yang dikemukakan Iblis kepada Allah Swt. sebelum ia diusir dari “jannah” karena menolak  perintah Allah Swt. untuk “sujud” (beriman dan patuh-taat) kepada Adam (Khalifah Allah) bersama para malaikat, firman-Nya:
 وَ لَقَدۡ خَلَقۡنٰکُمۡ ثُمَّ صَوَّرۡنٰکُمۡ ثُمَّ قُلۡنَا لِلۡمَلٰٓئِکَۃِ اسۡجُدُوۡا  لِاٰدَمَ ٭ۖ فَسَجَدُوۡۤا  اِلَّاۤ  اِبۡلِیۡسَ ؕ لَمۡ  یَکُنۡ مِّنَ السّٰجِدِیۡنَ ﴿﴾   قَالَ مَا مَنَعَکَ  اَلَّا  تَسۡجُدَ   اِذۡ   اَمَرۡتُکَ ؕ قَالَ  اَنَا خَیۡرٌ  مِّنۡہُ ۚ خَلَقۡتَنِیۡ مِنۡ نَّارٍ  وَّ  خَلَقۡتَہٗ  مِنۡ  طِیۡنٍ ﴿﴾  قَالَ فَاہۡبِطۡ مِنۡہَا فَمَا یَکُوۡنُ لَکَ اَنۡ تَتَکَبَّرَ فِیۡہَا فَاخۡرُجۡ  اِنَّکَ مِنَ الصّٰغِرِیۡنَ ﴿﴾   قَالَ  اَنۡظِرۡنِیۡۤ   اِلٰی  یَوۡمِ  یُبۡعَثُوۡنَ ﴿﴾   قَالَ   اِنَّکَ  مِنَ  الۡمُنۡظَرِیۡنَ ﴿﴾  قَالَ فَبِمَاۤ  اَغۡوَیۡتَنِیۡ لَاَقۡعُدَنَّ  لَہُمۡ صِرَاطَکَ  الۡمُسۡتَقِیۡمَ ﴿ۙ﴾  ثُمَّ لَاٰتِیَنَّہُمۡ مِّنۡۢ بَیۡنِ اَیۡدِیۡہِمۡ وَ مِنۡ خَلۡفِہِمۡ  وَ عَنۡ اَیۡمَانِہِمۡ وَ عَنۡ شَمَآئِلِہِمۡ ؕ وَ لَا  تَجِدُ اَکۡثَرَہُمۡ شٰکِرِیۡنَ ﴿﴾  قَالَ اخۡرُجۡ مِنۡہَا مَذۡءُوۡمًا مَّدۡحُوۡرًا ؕ لَمَنۡ تَبِعَکَ مِنۡہُمۡ لَاَمۡلَـَٔنَّ جَہَنَّمَ  مِنۡکُمۡ  اَجۡمَعِیۡنَ ﴿﴾
Dan  sungguh  Kami  benar-benar telah menciptakan kamu, kemudian  Kami memberi kamu bentuk, lalu Kami berfirman kepada para malaikat: فَسَجَدُوۡۤا  اِلَّاۤ  اِبۡلِیۡسَ  --  Sujudlah yakni patuhlah sepenuhnya  kamu kepada Adam", فَسَجَدُوۡۤا  اِلَّاۤ  اِبۡلِیۡسَ ؕ لَمۡ  یَکُنۡ مِّنَ السّٰجِدِیۡنَ  --  maka mereka bersujud ke-cuali iblis,  ia tidak termasuk orang-orang yang bersujud.   قَالَ مَا مَنَعَکَ  اَلَّا  تَسۡجُدَ   اِذۡ   اَمَرۡتُکَ  --  Dia  berfirman:  Apa  yang telah menghalangi engkau sehingga engkau tidak bersujud yakni patuh sepenuhnya ketika Aku memberi perintah kepada engkau?” قَالَ  اَنَا خَیۡرٌ  مِّنۡہُ ۚ خَلَقۡتَنِیۡ مِنۡ نَّارٍ  وَّ  خَلَقۡتَہٗ  مِنۡ  طِیۡنٍ -- Ia (Iblis) berkata: “Aku lebih baik daripada dia, Engkau menciptakan aku dari api dan Engkau menciptakan dia dari tanah liat.” قَالَ فَاہۡبِطۡ مِنۡہَا فَمَا یَکُوۡنُ لَکَ اَنۡ تَتَکَبَّرَ فِیۡہَا فَاخۡرُجۡ  اِنَّکَ مِنَ الصّٰغِرِیۡنَ  --   Dia berfirman:  ”Jika demikian, pergilah engkau darinya,  karena sekali-kali tidak patut bagi engkau berlaku takabur di dalamnya, karena itu keluarlah, sesungguhnya engkau termasuk di antara orang-orang yang hina.”   قَالَ  اَنۡظِرۡنِیۡۤ   اِلٰی  یَوۡمِ  یُبۡعَثُوۡنَ --  Ia, Iblis,     berkata: “Berilah aku tangguh sampai hari mereka dibang-kitkan.” قَالَ   اِنَّکَ  مِنَ  الۡمُنۡظَرِیۡنَ -- Dia berfirman: “Sesungguhnya engkau termasuk orang-orang yang diberi tangguh.”    قَالَ فَبِمَاۤ  اَغۡوَیۡتَنِیۡ لَاَقۡعُدَنَّ  لَہُمۡ صِرَاطَکَ  الۡمُسۡتَقِیۡمَ  --    Ia, Iblis,  berkata: “Karena  Engkau telah menyatakan  aku  sesat, niscaya aku akan menghadang mereka di jalan Engkau yang lurus, ثُمَّ لَاٰتِیَنَّہُمۡ مِّنۡۢ بَیۡنِ اَیۡدِیۡہِمۡ وَ مِنۡ خَلۡفِہِمۡ  وَ عَنۡ اَیۡمَانِہِمۡ وَ عَنۡ شَمَآئِلِہِمۡ  --  Kemudian  niscaya  akan ku-datangi mereka dari depan  mereka, dari belakang mereka, dari kanan mereka, dan dari kiri mereka,  ؕ وَ لَا  تَجِدُ اَکۡثَرَہُمۡ شٰکِرِیۡن  --  dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka  bersyukur.” قَالَ اخۡرُجۡ مِنۡہَا مَذۡءُوۡمًا مَّدۡحُوۡرًا  --    Dia berfirman: “Keluarlah eng-kau darinya dengan  terhina dan terusir,  قَالَ اخۡرُجۡ مِنۡہَا مَذۡءُوۡمًا مَّدۡحُوۡرًا ؕ لَمَنۡ تَبِعَکَ مِنۡہُمۡ لَاَمۡلَـَٔنَّ جَہَنَّمَ  مِنۡکُمۡ  اَجۡمَعِیۡنَ --  barangsiapa dari mereka mengikuti engkau, niscaya akan Aku penuhi Jahannam dengan kamu semua.”  (Al-A’rāf [7]:12-19). 
           Dengan demikian jelaslah bahwa terjadinya  pengingkaran terhadap “perjanjian Allah dengan nabi-nabi” dalam QS.3:82  yang dilakukan para pemuka kaum dan pemuka agama     -- sehingga terjadi  beragam agama   dan beragam sekte agama -- pada hakikatnya merupakan terbuktinya  ancaman  penghadangan iblis  di jalan Allah  yang terjadi pada setiap masa pengutusan rasul Allah (Khalifah Allah) yang dijanjikan dari kalangan Bani Adam (QS.7:35-37), termasuk di Akhir Zaman ini.

Pemberian Nama Islam dan Muslim  

         Ketika  proses  pewahyuan hukum-hukum syariat berdasarkan Sifat Rububiyyat Allah Swt. tersebut  telah mencapai kesempurnaan dalam wujud wahyu Al-Quran (QS.2:107; QS.5:4) -- yang diwahyukan Allah Swt. kepada Nabi Besar Muhammad saw.  bagi kepentingan  seluruh umat manusia (QS.2:186; QS.7:158-159; QS.21:108) -- maka barulah nama Islam diberikan kepada agama terakhir dan tersempurna tersebut, firman-Nya:  
اَلۡیَوۡمَ اَکۡمَلۡتُ لَکُمۡ دِیۡنَکُمۡ وَ اَتۡمَمۡتُ عَلَیۡکُمۡ نِعۡمَتِیۡ وَ رَضِیۡتُ لَکُمُ الۡاِسۡلَامَ دِیۡنًا
Hari ini telah Ku-sempurnakan agama kamu bagimu, telah Kulengkapkan nikmat-Ku atas kamu, dan  telah Kusukai  Islam sebagai agama bagi kamu. (Al-Māidah [5]:4).
          Ikmāl (menyempurnakan) dan itmām (melengkapkan) merupakan akar-akar kata (masdar), yang pertama berhubungan dengan kaifiat (kualitas) dan yang kedua berhubungan dengan kammiat (kuantitas). Kata yang pertama (itmām) menunjukkan bahwa ajaran-ajaran serta perintah-perintah mengenai pencapaian kemajuan jasmani, ruhani, dan akhlak manusia telah terkandung dalam Al-Quran dalam bentuk yang paripurna; sedang yang kedua (akmal) menunjukkan bahwa tidak ada suatu keperluan manusia yang lepas dari perhatian (diabaikan).  Kata yang pertama  (itmām) berhubungan dengan perintah-perintah yang bertalian dengan segi fisik atau keadaan lahiriah manusia, sedang yang kedua (akmal) berhubungan dengan segi ruhaniah dan batiniahnya.
          Hikmah masalah penyempurnaan dan pelengkapan agama dan nikmat Allah disebut dalam QS.5:4 berdampingan dengan hukum yang berlaku bertalian dengan makanan-makanan, untuk menjelaskan bahwa penggunaan makanan yang halal dan thayyib merupakan salah satu dasar yang amat penting untuk menumbuh-kembangkan  nilai akhlak yang baik dan pada gilirannya memberi dasar tempat-berpijak guna mencapai kemajuan ruhani.   Itulah sebabnya dalam ajaran Islam (Al-Quran) masalah makanan dan minuman  -- termasuk cara memperolehnya – telah dijelaskan secara terinci.
        Sehubungan dengan pemberian nama Islam  kepada agama terakhir  dan tersempurna  yang diwahyukan kepada Nabi Besar Muhammad Saw. tersebut, dalam firman-Nya berikut ini dikemukakan pemberian nama Muslim  kepada para pemeluknya, firman-Nya:
یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوا ارۡکَعُوۡا  وَ اسۡجُدُوۡا وَ اعۡبُدُوۡا رَبَّکُمۡ وَ افۡعَلُوا الۡخَیۡرَ    لَعَلَّکُمۡ  تُفۡلِحُوۡنَ ﴿ۚٛ﴾  وَ جَاہِدُوۡا فِی اللّٰہِ حَقَّ جِہَادِہٖ ؕ ہُوَ اجۡتَبٰىکُمۡ وَ مَا جَعَلَ عَلَیۡکُمۡ فِی الدِّیۡنِ مِنۡ حَرَجٍ ؕ مِلَّۃَ  اَبِیۡکُمۡ اِبۡرٰہِیۡمَ ؕ ہُوَ سَمّٰىکُمُ الۡمُسۡلِمِیۡنَ ۬ۙ مِنۡ قَبۡلُ وَ فِیۡ ہٰذَا  لِیَکُوۡنَ الرَّسُوۡلُ شَہِیۡدًا عَلَیۡکُمۡ وَ تَکُوۡنُوۡا شُہَدَآءَ عَلَی النَّاسِ ۚۖ فَاَقِیۡمُوا الصَّلٰوۃَ  وَ اٰتُوا الزَّکٰوۃَ  وَ اعۡتَصِمُوۡا بِاللّٰہِ ؕ ہُوَ مَوۡلٰىکُمۡ ۚ فَنِعۡمَ الۡمَوۡلٰی وَ نِعۡمَ النَّصِیۡرُ ﴿٪﴾
Hai orang-orang yang beriman,   rukuklah kamu, dan sujudlah,  serta sembahlah Rabb (Tuhan) kamu, dan berbuatlah kebaikan supaya kamu memperoleh kebahagiaan.  جَاہِدُوۡا فِی اللّٰہِ حَقَّ جِہَادِہٖ  وَ  --  Dan berjihadlah kamu di jalan Allah  dengan jihad  yang sebenar-benarnya, ہُوَ اجۡتَبٰىکُمۡ وَ مَا جَعَلَ عَلَیۡکُمۡ فِی الدِّیۡنِ مِنۡ حَرَجٍ  -- Dia telah memilih kamu, dan Dia tidak menjadikan kesukaran pada kamu dalam urusan agama, ؕ مِلَّۃَ  اَبِیۡکُمۡ اِبۡرٰہِیۡمَ  --  Ikutilah agama bapak kamu, Ibrahim, ہُوَ سَمّٰىکُمُ الۡمُسۡلِمِیۡنَ ۬ۙ مِنۡ قَبۡلُ وَ فِیۡ ہٰذَا -- Dia telah memberi kamu nama Muslimin  dahulu dan dalam Kitab ini, لِیَکُوۡنَ الرَّسُوۡلُ شَہِیۡدًا عَلَیۡکُمۡ وَ تَکُوۡنُوۡا شُہَدَآءَ عَلَی النَّاسِ  --    supaya Rasul itu menjadi saksi atas kamu  dan supaya kamu menjadi saksi atas umat manusia. فَاَقِیۡمُوا الصَّلٰوۃَ  وَ اٰتُوا الزَّکٰوۃَ  وَ اعۡتَصِمُوۡا بِاللّٰہِ ؕ  -- Maka dirikanlah shalat, bayarlah zakat, dan berpegang teguhlah kepada Allah. ہُوَ مَوۡلٰىکُمۡ ۚ فَنِعۡمَ الۡمَوۡلٰی وَ نِعۡمَ النَّصِیۡر --  Dia Pelindung kamu  maka Dia-lah sebaik-baik Pelindung  dan sebaik-baik Penolong. (Al-Hājj [22]:78-79).

Tidak Boleh Ada Paksaan Dalam Urusan Agama (Keimanan) & Penyebab Munculnya Bermacam-macam Agama

        Dengan demikian jelaslah, bahwa  keberadaan berbagai macam agama  di kalangan umat manusia sama sekali bukan kehendak Allah Swt., melainkan sebagai akibat pendustaan dan penentangan terhadap  para rasul Allah yang kedatangannya dijanjikan kepada mereka, karena Allah Swt. memberikan kebebasan kepada manusia untuk menentukan sikapnya  dan pilihannya, firman-Nya:
وَ قُلِ الۡحَقُّ مِنۡ رَّبِّکُمۡ ۟ فَمَنۡ شَآءَ فَلۡیُؤۡمِنۡ وَّ مَنۡ شَآءَ  فَلۡیَکۡفُرۡ ۙ اِنَّاۤ اَعۡتَدۡنَا لِلظّٰلِمِیۡنَ نَارًا ۙ اَحَاطَ بِہِمۡ سُرَادِقُہَا ؕ وَ اِنۡ یَّسۡتَغِیۡثُوۡا یُغَاثُوۡا بِمَآءٍ کَالۡمُہۡلِ یَشۡوِی الۡوُجُوۡہَ ؕ بِئۡسَ الشَّرَابُ ؕ وَ سَآءَتۡ  مُرۡتَفَقًا ﴿﴾
Dan katakanlah:  ”Inilah haq (kebenaran) dari Rabb (Tuhan) kamu فَمَنۡ شَآءَ فَلۡیُؤۡمِنۡ وَّ مَنۡ شَآءَ  فَلۡیَکۡفُرۡ  --  karena itu   barang­siapa menghendaki  maka beriman­lah, dan barangsiapa menghendaki  maka kafirlah”, اِنَّاۤ اَعۡتَدۡنَا لِلظّٰلِمِیۡنَ نَارًا ۙ اَحَاطَ بِہِمۡ سُرَادِقُہَا  --  sesungguhnya Kami telah menyediakan bagi orang-orang yang zalim itu api yang dinding-dindingnya me­ngepung mereka, وَ اِنۡ یَّسۡتَغِیۡثُوۡا یُغَاثُوۡا بِمَآءٍ کَالۡمُہۡلِ یَشۡوِی الۡوُجُوۡہَ  -- dan jika mereka berteriak meminta tolong, mereka akan ditolong dengan air seperti leburan timah, yang akan menghanguskan wajah-wajah,  بِئۡسَ الشَّرَابُ ؕ وَ سَآءَتۡ  مُرۡتَفَقًا --  sangat buruk minum­an itu dan sangat buruk tempat tinggal itu! (Al-Kahf [18]:30). LIhat pula QS.9:6.
        Itulah sebabnya Allah Swt. telah menyatakan bahwa tidak boleh adanya paksaan dan kekerasan dalam masalah agama (keimanan), firman-Nya:
لَاۤ اِکۡرَاہَ فِی الدِّیۡنِ ۟ۙ قَدۡ تَّبَیَّنَ الرُّشۡدُ مِنَ الۡغَیِّ ۚ فَمَنۡ یَّکۡفُرۡ بِالطَّاغُوۡتِ وَ یُؤۡمِنۡۢ بِاللّٰہِ فَقَدِ اسۡتَمۡسَکَ بِالۡعُرۡوَۃِ الۡوُثۡقٰی ٭ لَا انۡفِصَامَ  لَہَا ؕ وَ اللّٰہُ سَمِیۡعٌ عَلِیۡمٌ ﴿﴾ اَللّٰہُ وَلِیُّ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا ۙ یُخۡرِجُہُمۡ مِّنَ الظُّلُمٰتِ اِلَی النُّوۡرِ۬ؕ وَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡۤا اَوۡلِیٰٓـُٔہُمُ الطَّاغُوۡتُ ۙ یُخۡرِجُوۡنَہُمۡ مِّنَ النُّوۡرِ اِلَی الظُّلُمٰتِ ؕ اُولٰٓئِکَ اَصۡحٰبُ النَّارِ ۚ ہُمۡ  فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ ﴿﴾٪
Tidak ada paksaan dalam agama. Sungguh  jalan benar itu nyata bedanya dari kesesatan,  فَمَنۡ یَّکۡفُرۡ بِالطَّاغُوۡتِ وَ یُؤۡمِنۡۢ بِاللّٰہِ فَقَدِ اسۡتَمۡسَکَ بِالۡعُرۡوَۃِ الۡوُثۡقٰی -- karena itu barangsiapa kafir kepada thāghūt  dan beriman kepada Allah  maka sungguh  ia  telah berpegang kepada suatu pegangan yang sangat kuat lagi tidak akan putus, وَ اللّٰہُ سَمِیۡعٌ عَلِیۡمٌ  -- dan Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui. اَللّٰہُ وَلِیُّ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا ۙ یُخۡرِجُہُمۡ مِّنَ الظُّلُمٰتِ اِلَی النُّوۡرِ  --    Allah adalah Pelindung orang-orang beriman,  Dia menge-luarkan mereka dari berbagai kegelapan kepada cahaya, وَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡۤا اَوۡلِیٰٓـُٔہُمُ الطَّاغُوۡتُ ۙ یُخۡرِجُوۡنَہُمۡ مِّنَ النُّوۡرِ اِلَی الظُّلُمٰتِ  -- dan orang-orang kafir  pelindung mereka adalah thāghūt,  yang   mengeluarkan mereka dari cahaya kepada berbagai kegelapan,  اُولٰٓئِکَ اَصۡحٰبُ النَّارِ ۚ ہُمۡ  فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ -- mereka itu  penghuni Api, me-reka kekal di dalamnya. (Al-Baqarah [2]:257-258).
        Ayat  257   melenyapkan salah paham itu dan bukan saja melarang kaum Muslimi  --  dengan kata-kata yang sangat tegas --  mempergunakan kekerasan dalam rangka menarik orang-orang bukan-Muslim masuk Islam, tetapi juga memberikan pula alasan-alasan mengapa kekerasan tidak boleh dipakai untuk tujuan tersebut. Alasan itu ialah karena: قَدۡ تَّبَیَّنَ الرُّشۡدُ مِنَ الۡغَیِّ  --  sungguh kebenaran itu nyata berbeda dari kesesatan”    karena itu  tidak ada alasan untuk membenarkan penggunaan kekerasan, sebab  Islam adalah  kebenaran yang nyata.
        Makna thāghūt dalam ayat selanjutnya:  فَمَنۡ یَّکۡفُرۡ بِالطَّاغُوۡتِ وَ یُؤۡمِنۡۢ بِاللّٰہِ فَقَدِ اسۡتَمۡسَکَ بِالۡعُرۡوَۃِ الۡوُثۡقٰی -- karena itu barangsiapa kafir kepada thāghūt  dan beriman kepada Allah  maka sungguh  ia  telah berpegang kepada suatu pegangan yang sangat kuat lagi tidak akan putus” adalah: orang-orang yang bertindak melampaui batas-batas kewajaran; iblis; orang-orang yang menyesatkan orang lain dari jalan lurus dan benar; segala bentuk berhala. Kata itu dipakai dalam arti mufrad dan jamak (QS.2:258 dan QS.4:61).

Akibat Mengingkari “Perjanjian Dengan Nabi-nabi

      Kembali kepada pembahasan   QS.3:82 mengenai makna  مِیۡثَاقَ النَّبِیّٖنَ – “perjanjian nabi-nabi” dan makna  مُّصَدِّقٌ    -- “menggenapi”, firman-Nya:
وَ اِذۡ اَخَذَ اللّٰہُ مِیۡثَاقَ النَّبِیّٖنَ لَمَاۤ اٰتَیۡتُکُمۡ مِّنۡ کِتٰبٍ وَّ حِکۡمَۃٍ ثُمَّ جَآءَکُمۡ رَسُوۡلٌ مُّصَدِّقٌ لِّمَا مَعَکُمۡ لَتُؤۡمِنُنَّ بِہٖ وَ لَتَنۡصُرُنَّہٗ ؕ قَالَ ءَاَقۡرَرۡتُمۡ وَ اَخَذۡتُمۡ عَلٰی ذٰلِکُمۡ اِصۡرِیۡ ؕ قَالُوۡۤا اَقۡرَرۡنَا ؕ قَالَ فَاشۡہَدُوۡا وَ اَنَا مَعَکُمۡ مِّنَ  الشّٰہِدِیۡنَ ﴿﴾
Dan ingatlah  ketika Allah mengambil perjanjian  dari manusia melalui nabi-nabi:   لَمَاۤ اٰتَیۡتُکُمۡ مِّنۡ کِتٰبٍ وَّ حِکۡمَۃٍ ثُمَّ جَآءَکُمۡ رَسُوۡلٌ مُّصَدِّقٌ لِّمَا مَعَکُمۡ   -- “Apa saja yang Aku berikan kepada kamu berupa Kitab dan Hikmah, kemudian datang kepada kamu seorang rasul yang menggenapi  apa yang ada padamu, لَتُؤۡمِنُنَّ بِہٖ وَ لَتَنۡصُرُنَّہٗ  --   kamu benar-benar harus beriman kepadanya dan   kamu  benar-benar harus membantunya.” قَالَ ءَاَقۡرَرۡتُمۡ وَ اَخَذۡتُمۡ عَلٰی ذٰلِکُمۡ اِصۡرِیۡ  -- Dia berfirman: “Apakah kamu mengakui dan menerima tanggung-jawab yang Aku bebankan kepada kamu mengenai itu?” قَالُوۡۤا اَقۡرَرۡنَا  --  Mereka berkata: “Kami mengakui.”  قَالَ فَاشۡہَدُوۡا وَ اَنَا مَعَکُمۡ مِّنَ  الشّٰہِدِیۡنَ -- Dia berfirman: “Maka bersaksilah  dan Aku pun beserta kamu termasuk  orang-orang yang menjadi saksi.”  (Āli ‘Imran [3]:82). 
        Mengenai makna ayat: لَتُؤۡمِنُنَّ بِہٖ وَ لَتَنۡصُرُنَّہٗ  --   kamu benar-benar harus beriman kepadanya dan   kamu  benar-benar harus membantunya  bahwa jika nabi  Allah itu datang memenuhi nubuatan-nubuatan dalam Kitab-kitab dari satu kaum saja  --  seperti halnya dengan Nabi  Isa Ibnu Maryam a.s.  dan para nabi Bani Israil lainnya  --  maka hanya kaum  itu saja yang wajib menerima dan membantu beliau.
       Tetapi  jika Kitab-kitab semua agama menubuatkan kedatangan seorang nabi Allah seperti halnya mengenai Nabi Besar Muhammad saw.    maka semua bangsa harus menerima  dan beriman kepada beliau saw., sebab Nabi Besar Muhammad saw. datang sebagai penyempurnaan nubuatan-nubuatan, bukan hanya dari para nabi Bani Israil saja (Yesaya 21:13-15; Ulangan 18:18;  33:2; Yohanes 14:25, 26; 16:7-13), tetapi juga nubuatan-nubuatan dari ahli-ahli kasyaf bangsa Aria dan ruhaniawan-ruhaniawan agama Buddha dan Zoroaster (Syafrang Dasatir hlm. 188, Siraji Press, Delhi Yamaspi, diterbitkan oleh Nizham Al-Masyaich, Delhi, 1330 Hijrah).
         Itulah makna penegasan Allah Swt. dalam ayat selanjutnya: قَالَ ءَاَقۡرَرۡتُمۡ وَ اَخَذۡتُمۡ عَلٰی ذٰلِکُمۡ اِصۡرِیۡ  -- Dia berfirman: “Apakah kamu mengakui dan menerima tanggung-jawab yang Aku bebankan kepada kamu mengenai itu?” قَالُوۡۤا اَقۡرَرۡنَا  --  Mereka berkata: “Kami mengakui.”  قَالَ فَاشۡہَدُوۡا وَ اَنَا مَعَکُمۡ مِّنَ  الشّٰہِدِیۡنَ -- Dia berfirman: “Maka bersaksilah  dan Aku pun beserta kamu termasuk  orang-orang yang menjadi saksi.” (Āli ‘Imran [3]:82). 

Makna Umat Manusia Merupakan “Satu Umat

        Namun dalam kenyataannya  مِیۡثَاقَ النَّبِیّٖنَ – “perjanjian nabi-nabi” tersebut telah dilanggar oleh para pemuka kaum para rasul Allah tersebut dan mereka  bertahan dalam “agama” mereka  dan “adat-istadat leluhur” mereka, firman-Nya:
وَ اِذَا قِیۡلَ لَہُمۡ تَعَالَوۡا  اِلٰی  مَاۤ اَنۡزَلَ اللّٰہُ وَ اِلَی الرَّسُوۡلِ قَالُوۡا حَسۡبُنَا مَا وَجَدۡنَا عَلَیۡہِ اٰبَآءَنَا ؕ اَوَ  لَوۡ کَانَ اٰبَآؤُہُمۡ لَا یَعۡلَمُوۡنَ شَیۡئًا وَّ لَا یَہۡتَدُوۡنَ ﴿﴾
Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Marilah taat kepada apa-apa yang diturunkan Allah dan kepada Rasul.” Mereka berkata: “Cukuplah bagi kami apa yang kami dapati  bapak-bapak kami mengerjakannya.” Apakah walaupun bapak-bapak mereka itu tidak mengetahui sesuatu dan tidak pula mendapat petunjuk? (Al-Māidah [5]:105).
       Dengan demikian terjawablah pertanyaan: Mengapa dalam kenyataannya ketika Rasul Allah yang kedatangannya dijanjikan sebelumnya  oleh para rasul Allah tersebut (QS.7:335-37) benar-benar datang – padahal diperkuat dengan berbagai macam Tanda-tanda Ilahi  yang jelas --  tetapi mereka senantiasa didustakan dan ditentang  oleh kaumnya, termasuk Nabi Besar Muhammad saw.?
      Dan  terjawab pulalah pertanyaan: Mengapa dalam kenyataannya di  kalangan umat manusia  terdapat bermacam-macam agama dengan nama yang berlainan? Apakah itu merupakan kehendak Allah Swt. ataukah bukan?  Jawabannya adalah bukan kehendak Allah Swt. melainkan akibat pengingkaran  para pemuka kaum (pemuka agama) terhadap “perjanjian” Allah Swt. dengan para nabi Allah (QS.3:82). Sehubungan dengan kenyataan tersebut Allah Swt. berfirman:
کَانَ النَّاسُ اُمَّۃً  وَّاحِدَۃً ۟ فَبَعَثَ اللّٰہُ النَّبِیّٖنَ مُبَشِّرِیۡنَ وَ مُنۡذِرِیۡنَ  ۪ وَ اَنۡزَلَ مَعَہُمُ  الۡکِتٰبَ بِالۡحَقِّ لِیَحۡکُمَ بَیۡنَ النَّاسِ فِیۡمَا اخۡتَلَفُوۡا فِیۡہِ ؕ وَ مَا اخۡتَلَفَ فِیۡہِ اِلَّا الَّذِیۡنَ اُوۡتُوۡہُ مِنۡۢ بَعۡدِ مَا جَآءَتۡہُمُ الۡبَیِّنٰتُ بَغۡیًۢا بَیۡنَہُمۡ ۚ فَہَدَی اللّٰہُ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا لِمَا اخۡتَلَفُوۡا فِیۡہِ مِنَ الۡحَقِّ بِاِذۡنِہٖ ؕ وَ اللّٰہُ  یَہۡدِیۡ مَنۡ یَّشَآءُ  اِلٰی صِرَاطٍ مُّسۡتَقِیۡمٍ ﴿﴾
Manusia dahulunya merupakan satu umat,  lalu Allah mengutus nabi-nabi sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan, dan Dia menurunkan beserta mereka Kitab dengan  haq (benar) supaya Dia menghakimi di antara manusia dalam hal-hal yang mereka perselisihkan, وَ مَا اخۡتَلَفَ فِیۡہِ اِلَّا الَّذِیۡنَ اُوۡتُوۡہُ مِنۡۢ بَعۡدِ مَا جَآءَتۡہُمُ الۡبَیِّنٰتُ بَغۡیًۢا بَیۡنَہُمۡ   --  dan sekali-kali tidak ada yang memperselisihkannya  kecuali orang-orang yang diberi Alkitab itu sesudah Tanda-tanda yang nyata datang kepada mereka, karena  kedengkian di antara mereka. فَہَدَی اللّٰہُ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا لِمَا اخۡتَلَفُوۡا فِیۡہِ مِنَ الۡحَقِّ بِاِذۡنِہٖ --  Lalu Allah dengan izin-Nya telah memberi petunjuk orang-orang yang beriman kepada kebenaran yang mereka perselisihkan itu, وَ اللّٰہُ  یَہۡدِیۡ مَنۡ یَّشَآءُ  اِلٰی صِرَاطٍ مُّسۡتَقِیۡمٍ  -- dan Allah memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki ke jalan yang lurus.  (Al-Baqarah [2]:214).

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid

oo0oo
Pajajaran Anyar,  20 Januari  2017

Tidak ada komentar:

Posting Komentar