Bismillaahirrahmaanirrahiim
ISLAM
Pidato Mirza Ghulam Ahmad a.s.
Tgl. 2 November 1904
di Kota Sialkote – Hindustan
Bab 6
SILSILAH KHILAFAT
ATAS MANHĀJ (JALAN) KENABIAN DI AKHIR ZAMAN & MAKNA “PENIUPAN
NAFIRI” ; 'ULAMA HAKIKI DAN KEMUNCULAN ORANG-ORANG
YANG “BERMATA BIRU” YAKNI
YA’JUJ (GOG) DAN MA’JUJ (MAGOG)
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam bagian akhir Bab 5 telah
dijelaskan topik Kenyataan yang Sebaliknya berkenaan yang terjadi saat ini di kalangan umat Islam – terutama di wilayah Timur Tengah dan Afrika Utara -- akibat melanggar perintah Allah Swt. dalam firman-Nya:
یٰۤاَیُّہَا
الَّذِیۡنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا
اللّٰہَ حَقَّ تُقٰتِہٖ وَ لَا تَمُوۡتُنَّ اِلَّا وَ اَنۡتُمۡ
مُّسۡلِمُوۡنَ ﴿﴾ وَ اعۡتَصِمُوۡا بِحَبۡلِ اللّٰہِ جَمِیۡعًا وَّ لَا تَفَرَّقُوۡا ۪ وَ اذۡکُرُوۡا
نِعۡمَتَ اللّٰہِ عَلَیۡکُمۡ اِذۡ
کُنۡتُمۡ اَعۡدَآءً فَاَلَّفَ بَیۡنَ
قُلُوۡبِکُمۡ فَاَصۡبَحۡتُمۡ
بِنِعۡمَتِہٖۤ اِخۡوَانًا ۚ وَ
کُنۡتُمۡ عَلٰی
شَفَا حُفۡرَۃٍ مِّنَ النَّارِ فَاَنۡقَذَکُمۡ مِّنۡہَا ؕ کَذٰلِکَ یُبَیِّنُ اللّٰہُ لَکُمۡ اٰیٰتِہٖ لَعَلَّکُمۡ
تَہۡتَدُوۡنَ ﴿﴾
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan takwa yang sebenar-benarnya, dan janganlah
sekali-kali kamu mati kecuali kamu
dalam keadaan berserah diri. Dan
berpegangteguhlah kamu
sekalian pada tali Allah,
dan janganlah kamu berpecah-belah, dan ingatlah
akan nikmat Allah atas kamu ketika kamu
dahulu bermusuh-musuhan, lalu Dia
menyatukan hati kamu dengan kecintaan antara
satu sama lain maka dengan
nikmat-Nya itu kamu menjadi bersaudara, dan kamu dahulu berada di tepi jurang Api lalu Dia
menyelamatkan kamu darinya. Demikianlah Allah menjelaskan Ayat-ayat-Nya
kepada kamu supaya kamu mendapat
petunjuk. (Ali ‘Imran [3]:103-104).
Firman-Nya
lagi:
یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا لَا
تَتَّخِذُوا الۡیَہُوۡدَ وَ النَّصٰرٰۤی اَوۡلِیَآءَ ۘؔ بَعۡضُہُمۡ اَوۡلِیَآءُ
بَعۡضٍ ؕ وَ مَنۡ یَّتَوَلَّہُمۡ مِّنۡکُمۡ فَاِنَّہٗ مِنۡہُمۡ ؕ اِنَّ اللّٰہَ لَا یَہۡدِی الۡقَوۡمَ الظّٰلِمِیۡنَ ﴿﴾ فَتَرَی
الَّذِیۡنَ فِیۡ قُلُوۡبِہِمۡ مَّرَضٌ یُّسَارِعُوۡنَ فِیۡہِمۡ یَقُوۡلُوۡنَ
نَخۡشٰۤی اَنۡ تُصِیۡبَنَا دَآئِرَۃٌ ؕ فَعَسَی اللّٰہُ اَنۡ یَّاۡتِیَ
بِالۡفَتۡحِ اَوۡ اَمۡرٍ مِّنۡ عِنۡدِہٖ فَیُصۡبِحُوۡا عَلٰی مَاۤ
اَسَرُّوۡا فِیۡۤ اَنۡفُسِہِمۡ نٰدِمِیۡنَ ﴿ؕ﴾
Hai orang-orang yang beriman! Janganlah
kamu mengambil orang-orang Yahudi dan orang-orang
Nasrani menjadi penolong, sebagian mereka adalah penolong sebagian lainnya.
Dan barangsiapa di antara
kamu mengambil mereka menjadi pelindung-pelindung maka sesungguhnya
ia dari mereka. Sesungguhnya Allah
tidak memberi petunjuk kepada kaum yang zalim. فَتَرَی الَّذِیۡنَ
فِیۡ قُلُوۡبِہِمۡ مَّرَضٌ یُّسَارِعُوۡنَ فِیۡہِمۡ یَقُوۡلُوۡنَ نَخۡشٰۤی اَنۡ
تُصِیۡبَنَا دَآئِرَۃٌ -- Maka engkau
akan melihat orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit bergegas kepada mereka yang kafir seraya
berkata: “Kami takut bencana menimpa kami.” فَعَسَی اللّٰہُ اَنۡ
یَّاۡتِیَ بِالۡفَتۡحِ اَوۡ اَمۡرٍ مِّنۡ عِنۡدِہٖ فَیُصۡبِحُوۡا عَلٰی مَاۤ
اَسَرُّوۡا فِیۡۤ اَنۡفُسِہِمۡ نٰدِمِیۡنَ -- Boleh jadi Allah akan mendatangkan kemenangan
atau suatu peristiwa lain dari sisi-Nya, maka mereka
akan merasa menyesal atas apa yang telah
mereka sembunyikan di dalamnya. (Al-Māidah
[5]:52-53).
Ayat 52
Surah Al-Māidah tidak boleh diartikan seolah-olah melarang atau mencegah perlakuan adil dan baik terhadap orang-orang Yahudi,
Kristen, dan kaum kufar lainnya (QS.60:9-10). Ayat ini hanya mengisyaratkan
kepada orang-orang Yahudi atau Kristen yang telah berperang dengan kaum
Muslimin dan senantiasa mengadakan permufakatan-permu-fakatan
jahat terhadap Islam. Sebab menurut Allah Swt. orang-orang Yahudi dan Kristen akan
melupakan perbedaan-perbedaan paham
di antara mereka dan menjadi bersatu
dalam perlawanan terhadap Islam.
Sungguh benar apa yang dikatakan
oleh Nabi Besar Muhammad saw.: “Semua
orang kafir merupakan satu umat.”
Jadi semua orang kafir biar
bagaimana tidak bersahabatnya antara
satu sama lain tetapi namun bila
menghadapi Islam mereka adalah
seperti satu kaum (QS. 2:214).
Kemelut Berkepanjangan di kalangan Sesama Muslim
Akibat melanggar perintah Allah Swt. tersebut maka
yang terjadi di kalangan umat
Islam di Timur Tengah dan di berbagai
wilayah Afrika dan lain-lain
adalah kebenaran pernyataan Allah
Swt. dalam firman-Nya berikut ini:
قُلۡ ہُوَ الۡقَادِرُ عَلٰۤی اَنۡ یَّبۡعَثَ عَلَیۡکُمۡ عَذَابًا مِّنۡ
فَوۡقِکُمۡ اَوۡ مِنۡ تَحۡتِ اَرۡجُلِکُمۡ اَوۡ یَلۡبِسَکُمۡ شِیَعًا وَّ یُذِیۡقَ
بَعۡضَکُمۡ بَاۡسَ بَعۡضٍ ؕ اُنۡظُرۡ کَیۡفَ نُصَرِّفُ الۡاٰیٰتِ لَعَلَّہُمۡ
یَفۡقَہُوۡنَ ﴿﴾ وَ
کَذَّبَ بِہٖ قَوۡمُکَ وَ ہُوَ الۡحَقُّ ؕ قُلۡ لَّسۡتُ عَلَیۡکُمۡ بِوَکِیۡلٍ ﴿ؕ﴾ لِکُلِّ نَبَاٍ مُّسۡتَقَرٌّ ۫ وَّ سَوۡفَ تَعۡلَمُوۡنَ ﴿﴾
Katakanlah: “Dia-lah Yang berkuasa mengirimkan azab
kepada kamu dari atas kamu atau dari bawah kaki kamu اَوۡ یَلۡبِسَکُمۡ شِیَعًا وَّ یُذِیۡقَ
بَعۡضَکُمۡ بَاۡسَ بَعۡضٍ -- atau mencampur-baurkan kamu menjadi
golongan-golongan yang saling berselisih dan membuat sebagian kamu merasakan keganasan
sebagian yang lain.” اُنۡظُرۡ کَیۡفَ
نُصَرِّفُ الۡاٰیٰتِ لَعَلَّہُمۡ یَفۡقَہُوۡنَ -- Lihatlah bagaimana Kami membentangkan Tanda-tanda supaya mereka mengerti. وَ کَذَّبَ بِہٖ قَوۡمُکَ وَ ہُوَ الۡحَقُّ -- Dan kaum engkau telah mendustakannya,
padahal itu adalah kebenaran. قُلۡ لَّسۡتُ عَلَیۡکُمۡ
بِوَکِیۡلٍ -- Katakanlah: ”Aku sekali-kali bukan penanggungjawab atas kamu.” لِکُلِّ نَبَاٍ مُّسۡتَقَرٌّ ۫ وَّ سَوۡفَ تَعۡلَمُوۡنَ -- Bagi tiap kabar gaib ada masa yang tertentu,
dan kamu segera akan mengetahui.
(Al-An’ām
[6]:66-68).
Makna “Azab
dari atas” maknanya: kelaparan, gempa bumi, air bah, taufan, penin-dasan
terhadap golongan yang lemah oleh yang kuat, penderitaan mental, dan
sebagainya, dan “siksaan dari bawah”
berarti: penyakit-penyakit, wabah, pemberontakan orang-orang bawahan, dan
sebagainya. Kemudian ada hukuman
berupa kekacauan, perpecahan-perpecahan dan perselisihan yang kadang-kadang berakhir
dalam perang saudara, seperti yang
saat ini berlangsung di kawasan
Timur-tengah dan berbagai kawasan Muslim
lainnya di Afrika. Hal demikian ini diisyaratkan dalam
kata-kata اَوۡ یَلۡبِسَکُمۡ شِیَعًا وَّ یُذِیۡقَ
بَعۡضَکُمۡ بَاۡسَ بَعۡضٍ -- “atau membuat
sebagian kamu merasakan keganasan sebagian yang lain.”
Kata
ganti “nya” dalam ayat: وَ کَذَّبَ بِہٖ قَوۡمُکَ وَ ہُوَ الۡحَقُّ
-- “Dan kaum engkau telah mendustakannya,
padahal itu adalah kebenaran” menunjuk
kepada (1) perkara yang sedang dibahas; (2) Al-Quran; (3) azab Ilahi. Jika kita ambil arti yang terakhir, maka kata-kata وَ ہُوَ الۡحَقُّ
-- “padahal itu adalah
kebenaran” akan berarti bahwa azab
Ilahi yang dijanjikan pasti akan tiba (terjadi)., sebagaimana dijelaskan
dalam ayat selanjutnya: لِکُلِّ
نَبَاٍ مُّسۡتَقَرٌّ ۫ وَّ سَوۡفَ
تَعۡلَمُوۡنَ -- “Bagi tiap kabar gaib ada masa yang tertentu dan kamu
segera akan mengetahui” berarti bahwa
Allah Swt. sesuai
dengan hikmah-Nya yang tidak dapat
salah itu, telah menentukan satu saat penggenapan setiap kabar gaib. Maka
azab Ilahi yang telah dijanjikan
kepada orang-orang yang menolak kebenaran
akan datang juga pada saatnya yang
tepat dan akan terjadi secara tiba-tiba (QS.6:32; QS.21:41; QS.47:19),
firman-Nya:
وَ
یَسۡتَعۡجِلُوۡنَکَ بِالۡعَذَابِ وَ لَنۡ یُّخۡلِفَ اللّٰہُ وَعۡدَہٗ ؕ وَ
اِنَّ یَوۡمًا عِنۡدَ رَبِّکَ
کَاَلۡفِ سَنَۃٍ مِّمَّا
تَعُدُّوۡنَ ﴿﴾ وَ کَاَیِّنۡ مِّنۡ قَرۡیَۃٍ اَمۡلَیۡتُ لَہَا وَ ہِیَ ظَالِمَۃٌ ثُمَّ اَخَذۡتُہَا ۚ وَ اِلَیَّ الۡمَصِیۡرُ
﴿٪﴾
Dan mereka meminta kepada engkau untuk mempercepat azab, tetapi Allah
tidak akan pernah mengingkari janji-Nya. Dan sesungguhnya satu hari di sisi Rabb (Tuhan) engkau seperti seribu
tahun menurut perhitungan kamu.
Dan berapa banyaknya kota telah Aku memberi tangguh baginya padahal dia berlaku zalim. Kemudian Aku
menangkapnya dan kepada Aku-lah
kembali mereka. (Al-Hājj [22]:48-49).
Silsilah Khilafat di Atas Jalan
Kenabian
Nabi Besar Muhammad saw. menurut riwayat pernah bersabda bahwa tiga abad pertama Islam akan merupakan masa yang terbaik – dan merupakan
kejayaan Islam yang pertama -- sesudah itu kepalsuan
(kesesatan) akan tersebar dan suatu masa
kegelapan akan datang dan meluas di kalangan umat Islam sampai seribu
tahun (Tirmidzi). Sebagaimana
telah dikemukakan sebelumnya bahwa masa kegelapan yang melanda umat Islam 1000
tahun ini dipersamakan dengan satu hari, firman-Nya:
یُدَبِّرُ
الۡاَمۡرَ مِنَ السَّمَآءِ اِلَی
الۡاَرۡضِ ثُمَّ یَعۡرُجُ اِلَیۡہِ فِیۡ یَوۡمٍ کَانَ مِقۡدَارُہٗۤ اَلۡفَ سَنَۃٍ مِّمَّا تَعُدُّوۡنَ ﴿﴾
Dia
mengatur perintah dari langit sampai bumi, kemudian perintah itu
akan naik kepada-Nya dalam satu hari, yang hitungan lamanya seribu tahun dari apa yang kamu hitung (As-Sajdah [32]:6).
Dalam masa kegelapan yang melanda umat Islam tersebut satu kaum
yang bermata biru (QS.20:103-104) – yakni Ya’juj
(Gog) dan Ma’juj (Magog –
QS.21:97) atau bangsa-bangsa Kristen
dari barat yakni Dajjal, si pendusta besar -- akan bangkit dan menyebar luas ke seluruh dunia. Orang-orang bermata biru itulah yang karena sombong
dan takaburnya, yang diakibatkan oleh
karena memperoleh kemuliaan duniawi
dan kekuasaan politik, telah digambarkan
memberi tantangan kepada Nabi Besar Muhammad saw. untuk mempercepat datangnya azab yang diperingatkan
oleh beliau saw. akan menimpa mereka pada waktu yang ditentukan dan
dijanjikan itu.
Sehubungan dengan pernyataan Allah Swt.
tersebut dalam surah Al-Quran lainnya Allah Swt. berfirman mengenai silsilah khilafat
(kekhalifahan) atas minhāajin-nubuwwah (jalan kenabian)
-- bukan khalifah buatan manusia -- firman-Nya:
وَعَدَ اللّٰہُ
الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا مِنۡکُمۡ وَ
عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ لَیَسۡتَخۡلِفَنَّہُمۡ فِی الۡاَرۡضِ کَمَا اسۡتَخۡلَفَ
الَّذِیۡنَ مِنۡ قَبۡلِہِمۡ ۪ وَ لَیُمَکِّنَنَّ لَہُمۡ دِیۡنَہُمُ الَّذِی ارۡتَضٰی لَہُمۡ وَ لَیُبَدِّلَنَّہُمۡ
مِّنۡۢ بَعۡدِ خَوۡفِہِمۡ اَمۡنًا ؕ
یَعۡبُدُوۡنَنِیۡ لَا یُشۡرِکُوۡنَ بِیۡ
شَیۡئًا ؕ وَ مَنۡ کَفَرَ بَعۡدَ ذٰلِکَ
فَاُولٰٓئِکَ ہُمُ الۡفٰسِقُوۡنَ ﴿ ﴾
Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman
dan beramal saleh di antara kamu niscaya Dia akan menjadikan mereka itu
khalifah di bumi ini sebagaimana Dia
telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka khalifah, dan niscaya Dia akan meneguhkan bagi mereka agamanya yang telah Dia ridhai bagi mereka, dan niscaya
Dia akan mengubah keadaan mereka dengan ke-amanan sesudah
ketakutan mereka. Mereka akan
menyembah-Ku dan mereka tidak akan
mempersekutukan sesuatu dengan-Ku, dan barangsiapa
kafir sesudah itu mereka itulah
orang-orang durhaka. (An-Nūr
[24]:56).
Dikarenakan ayat ini berlaku sebagai pendahuluan untuk mengantarkan masalah khilafat, maka dalam QS.24:52-55
berulang-ulang telah diberi tekanan kepada
orang-orang beriman mengenai pentingnya
ketaatan kepada Allah Swt. dan Rasul-Nya.
Tekanan ini merupakan isyarat
mengenai tingkat dan kedudukan seorang khalifah dalam Islam.
yang sangat penting.
Ayat tersebut berisikan janji bahwa orang-orang Muslim – sebagai “umat
terbaik” yang dijadikan bagi manfaat
umat manusia (QS.2:144; QS.3:111) -- akan
dianugerahi pimpinan ruhani maupun duniawi, sebagaimana yang terjadi di
kalangan Bani Israil, firman-Nya:
وَ
اِذۡ قَالَ مُوۡسٰی لِقَوۡمِہٖ یٰقَوۡمِ اذۡکُرُوۡا نِعۡمَۃَ اللّٰہِ
عَلَیۡکُمۡ اِذۡ جَعَلَ فِیۡکُمۡ
اَنۡۢبِیَآءَ وَ جَعَلَکُمۡ مُّلُوۡکًا ٭ۖ وَّ اٰتٰىکُمۡ مَّا لَمۡ یُؤۡتِ
اَحَدًا مِّنَ الۡعٰلَمِیۡنَ ﴿﴾
Dan
ingatlah ketika Musa berkata kepada kaumnya: “Hai kaumku, ingatlah nikmat
Allah atas kamu, ketika Dia
menjadikan nabi-nabi di antara kamu, dan menjadikan
kamu raja-raja, dan Dia memberikan kepada kamu apa yang tidak
diberikan kepada kaum lain di antara bangsa-bangsa.
(Al-Māidah
[5]:21)
Penggantian kata kum (kamu) dalam kalimat: وَ جَعَلَکُمۡ مُّلُوۡکًا -- “dan
menjadikan kamu raja-raja” alih-alih kata fī-kum dalam ayat: اِذۡ جَعَلَ فِیۡکُمۡ
اَنۡۢبِیَآءَ --
“ketika Dia menjadikan nabi-nabi
di antara kamu“ mengandung isyarat, bahwa jikalau tiap-tiap dan semua anggota suatu bangsa yang hidup di bawah kekuasaan
seorang raja seakan-akan mempunyai
kekuasaan dan kedaulatan, maka pengikut-pengikut seorang nabi Allah tidak mempunyai bagian dalam kenabiannya.
Makna ‘Ulama Pewaris Para Nabi & ‘Ulama Hakiki
Nabi Besar Muhammad saw. telah bersabda:
‘Ulama ummatiy kal-anbiyā-i bani Isrāila -- ‘ulama umatku seperti nabi-nabi Bani Israil.” Ada pun
yang dimaksud dengan ‘ulama ummaty (‘ulama umatku) dalam sabda Nabi Besar
Muhammad saw. tersebut lebih tertuju
kepada para mujaddid (pembaharu
ruhani) -- yang beliau saw. katakan
akan ada pada setiap permulaan
abad -- sebab mereka dan
para wali Allah besar sajalah yang
memenuhi kriteria ‘ulama hakiki yang
benar-benar takut kepada Allah Swt. sebagaimana dikemukakan dalam
firman-Nya berikut kepada Nabi Besar Muhammad
saw.:
اَلَمۡ تَرَ
اَنَّ اللّٰہَ اَنۡزَلَ مِنَ السَّمَآءِ
مَآءً ۚ فَاَخۡرَجۡنَا بِہٖ ثَمَرٰتٍ
مُّخۡتَلِفًا اَلۡوَانُہَا ؕ وَ
مِنَ الۡجِبَالِ جُدَدٌۢ بِیۡضٌ وَّ
حُمۡرٌ مُّخۡتَلِفٌ اَلۡوَانُہَا وَ
غَرَابِیۡبُ سُوۡدٌ ﴿﴾ وَ
مِنَ النَّاسِ وَ الدَّوَآبِّ وَ الۡاَنۡعَامِ مُخۡتَلِفٌ اَلۡوَانُہٗ کَذٰلِکَ ؕ اِنَّمَا یَخۡشَی اللّٰہَ مِنۡ
عِبَادِہِ الۡعُلَمٰٓؤُا ؕ اِنَّ اللّٰہَ
عَزِیۡزٌ غَفُوۡرٌ ﴿﴾
Apakah engkau tidak melihat bahwasanya Allah menurunkan air dari awan, dan Kami mengeluarkan dengan air itu buah-buahan yang beraneka warnanya. Dan di gunung-gunung ada garis-garis putih, merah dengan beraneka macam warnanya, dan ada
yang sehitam burung gagak? وَ مِنَ النَّاسِ وَ الدَّوَآبِّ وَ
الۡاَنۡعَامِ مُخۡتَلِفٌ اَلۡوَانُہٗ
کَذٰلِکَ -- Dan demikian juga di antara manusia, hewan
berkaki empat dan binatang ternak bermacam-macam warnanya. اِنَّمَا یَخۡشَی اللّٰہَ مِنۡ عِبَادِہِ الۡعُلَمٰٓؤُا -- Sesungguhnya dari
antara hamba-hamba-Nya yang takut
kepada Allah adalah ulama. اِنَّ اللّٰہَ عَزِیۡزٌ غَفُوۡرٌ -- Sesungguhnya Allah Maha Perkasa, Maha
Pengampun. (Al-Fāthir [35]:28-29).
Ayat 28 ini bermaksud mengatakan, bahwa apabila
hujan turun di atas tanah yang kering dan gersang, maka air hujan itu menimbulkan aneka ragam tanam-tanaman, bunga-bungaan, dan buah-buahan yang warna warni
serta aneka cita rasa, dan bentuk serta corak yang berlainan.
Menurut ayat tersebut air hujannya
sama tetapi tanam-tanaman, bunga-bungaan, dan buah-buahan yang dihasilkan sangat
berbeda satu sama lain. Perbedaan-perbedaan itu mungkin sekali dikarenakan
perbedaan sifat yang dimiliki tanah
dan benih.
Demikian pula manakala wahyu Ilahi — yang pada beberapa tempat dalam Al-Quran telah
diibaratkan air — turun kepada suatu kaum bersamaan pengutusan rasul Allah yang kedatangannya dijanjikan (QS.7:35-37), maka wahyu
Ilahi itu menimbulkan berbagai-bagai akibat pada bermacam-macam manusia menurut keadaan “tanah” (hati) mereka dan cara mereka menerimanya.
Ayat selanjutnya menjelaskan bahwa keragaman yang indah sekali dalam bentuk,
warna, dan corak, yang telah dikemukakan dalam ayat sebelumnya tidak hanya
terdapat pada hanya bunga, buah, dan batu karang saja, tetapi juga pada manusia, binatang buas dan ternak.
Kata an-nās (manusia), ad-dawāb (binatang buas) dan al-an’ām
(binatang ternak) dapat juga melukiskan
manusia dengan bermacam-macam kesanggupan,
pembawaan, dan kecenderungan alami.
Makna Kiasan “ Ad-Dawāb” (Binatang Buas) dan “An’ām (Binatang ternak)
Jadi, ungkapan اِنَّمَا یَخۡشَی اللّٰہَ مِنۡ عِبَادِہِ الۡعُلَمٰٓؤُا -- “Sesungguhnya dari
antara hamba-hamba-Nya yang takut
kepada Allah adalah ulama” memberikan bobot
arti kepada pandangan bahwa ketiga kata
-- an-nās (manusia), ad-dawāb (binatang buas) dan al-an’ām
(binatang ternak) -- secara kiasan
menggambarkan tiga golongan manusia,
yang di antara mereka itu hanya mereka yang dikaruniai
ilmu (ma’rifat) hakiki (‘ulama) saja
yang takut kepada Allah
Swt., sedangkan yang lainnya akan seperti ad-dawāb (binatang buas)
dan al-an’ām (binatang ternak), sebagaimana firman-Nya mengenai orang-orang yang mendustakan dan menentang
para rasul Allah:
وَ اِذَا قِیۡلَ لَہُمُ اتَّبِعُوۡا
مَاۤ اَنۡزَلَ
اللّٰہُ قَالُوۡا بَلۡ نَتَّبِعُ مَاۤ اَلۡفَیۡنَا عَلَیۡہِ اٰبَآءَنَا ؕ اَوَ لَوۡ کَانَ اٰبَآؤُہُمۡ لَا یَعۡقِلُوۡنَ شَیۡئًا وَّ لَا یَہۡتَدُوۡنَ﴿﴾ وَ مَثَلُ الَّذِیۡنَ
کَفَرُوۡا کَمَثَلِ الَّذِیۡ یَنۡعِقُ بِمَا لَا یَسۡمَعُ اِلَّا دُعَآءً وَّ نِدَآءً ؕ صُمٌّۢ بُکۡمٌ عُمۡیٌ فَہُمۡ لَا یَعۡقِلُوۡنَ﴿﴾
Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Ikutilah apa yang diturunkan Allah”, mereka berkata: “Tidak, bahkan kami hanya mengikuti apa yang telah kami
dapati bapak-bapak kami biasa melakukannya” Apakah sekali
pun bapak-bapak mereka itu tidak
mengerti suatu apa pun, dan tidak pula
mereka mendapat petunjuk? Dan perumpamaan keadaan orang-orang kafir itu
seperti sese-orang yang berteriak kepada sesuatu yang tidak dapat mendengar kecuali hanya panggilan dan seruan belaka.
Mereka tuli, bisu, dan buta, karena itu mereka
tidak mengerti (Al-Baqarah
[2]:171-172)
Sungguh ganjil
benar, namun demikian amat disayangkan,
bahwa dalam urusan agama yang begitu
erat hubungannya dengan kehidupannya
yang kekal di akhirat manusia seringkali puas dengan mengikuti
secara membabi-buta (taqlid buta) jejak orang-orang tuanya (leluhurnya).
Tetapi dalam urusan duniawi, yang
hanya bertalian dengan kepentingan hidup
ini saja dan itu pun hanya sebagian, ia sangat
berhati-hati agar ia menempuh jalan yang tepat dan tidak mengikuti orang-orang lain dengan membabi buta.
Ayat selanjutnya menjelaskan
bahwa Nabi Besar Muhammad saw. menyampaikan Amanat Allah Swt. (Al-Quran) kepada orang-orang kafir. Beliau saw. itu seorang da’i
(penyeru) kepada Allah Swt. dan mereka mendengar
suara beliau saw. tetapi tidak berusaha menangkap maknanya.
Kata-kata (seruan) beliau saw. seolah-olah sampai kepada telinga orang tuli dengan berakibat bahwa kemampuan ruhani mereka menjadi sama sekali rusak dan martabat mereka
jatuh sampai ke taraf keadaan binatang ternak dan binatang
buas (QS.7:180; QS.25:45) yang hanya
mendengar teriakan si pengembala,
tetapi tak mengerti apa yang dikatakannya, firman-Nya:
اَرَءَیۡتَ مَنِ اتَّخَذَ اِلٰـہَہٗ
ہَوٰىہُ ؕ اَفَاَنۡتَ تَکُوۡنُ عَلَیۡہِ وَکِیۡلًا ﴿ۙ﴾ اَمۡ تَحۡسَبُ اَنَّ
اَکۡثَرَہُمۡ یَسۡمَعُوۡنَ اَوۡ یَعۡقِلُوۡنَ ؕ اِنۡ ہُمۡ اِلَّا کَالۡاَنۡعَامِ
بَلۡ ہُمۡ اَضَلُّ سَبِیۡلًا ﴿﴾
Apakah engkau melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai
tuhannya? Maka apakah engkau menjadi pengawas atasnya? Ataukah engkau
menyangka bahwa sesungguhnya kebanyakan dari mereka mendengar atau mengerti? Mereka
tidak lain melainkan seperti hewan
ternak bahkan mereka lebih sesat dari jalannya. (Al-Furqān
[25]:44-45).
Keinginan-keinginan, lamunan-lamunan, dan
khayalan-khayalannya sendiri itulah yang pada umumnya orang puja lebih dari apa pun, dan inilah yang
menjadi batu penghalang baginya untuk
menerima kebenaran. Dalam intelek atau akal, manusia boleh jadi telah jauh maju, sehingga ia tidak membungkukkan
diri di hadapan batu-batu dan bintang-bintang, akan tetapi ia belum mengatasi pemujaannya terhadap cita-cita, prasangka-prasangka, dan khayalan-khayalannya
yang palsu.
Pemujaan berhala-berhala yang bersemayam dalam hati orang-orang kafir itulah yang dicela di sini. Daripada ia memanfaatkan kemampuan-kemampuannya yang
dianugerahkan Allah Swt. untuk berpikir dan mendengar kebenaran yang
disampaikan rasul Allah -- dan yang seharusnya membantu manusia mengenal
dan menyadari kebenaran -- malah ia meraba-raba dalam kegelapan.
Mereka yang Indera-indera Ruhaninya Lumpuh
Pada saat itu jatuhlah ia ke taraf
hidup bagaikan hewan ternak,
bahkan lebih rendah dari itu, sebab hewan ternak tidak diberi kemampuan memilih dan membedakan, sedang manusia diberi daya itu untuk melakukan tafakkur dan taddabur, firman-Nya:
وَ
لَقَدۡ ذَرَاۡنَا لِجَہَنَّمَ کَثِیۡرًا مِّنَ الۡجِنِّ وَ الۡاِنۡسِ ۫ۖ لَہُمۡ قُلُوۡبٌ لَّا یَفۡقَہُوۡنَ بِہَا ۫ وَ
لَہُمۡ اَعۡیُنٌ لَّا یُبۡصِرُوۡنَ بِہَا ۫ وَ لَہُمۡ اٰذَانٌ لَّا یَسۡمَعُوۡنَ بِہَا ؕ اُولٰٓئِکَ کَالۡاَنۡعَامِ بَلۡ
ہُمۡ اَضَلُّ ؕ اُولٰٓئِکَ ہُمُ الۡغٰفِلُوۡنَ ﴿﴾
Dan sungguh Kami
benar-benar telah menjadikan untuk penghuni Jahannam banyak di antara jin dan manusia, mereka memiliki hati tetapi mereka
tidak mengerti dengannya, mereka memiliki
mata tetapi mereka tidak melihat dengannya, mereka memiliki telinga tetapi mereka tidak mendengar dengannya, اُولٰٓئِکَ کَالۡاَنۡعَامِ بَلۡ ہُمۡ اَضَلُّ -- mereka itu seperti
binatang ternak, بَلۡ ہُمۡ اَضَلُّ ؕ -- bahkan mereka lebih sesat. اُولٰٓئِکَ ہُمُ الۡغٰفِلُوۡنَ -- Mereka itulah orang-orang yang lalai. (Al-A’rāf [7]:180).
Huruf lam dalam kalimat
لِجَہَنَّمَ (untuk jahannam) adalah lam ‘aqibat
yang menyatakan kesudahan atau akibat. Dengan demikian ayat ini tidak ada
hubungannya dengan tujuan kejadian
manusia melainkan hanya menyebutkan kesudahan
yang patut disesali mengenai
kehidupan kebanyakan ins (manusia) dan jin. Kata jin itu juga mempunyai arti golongan
manusia yang istimewa, yakni penguasa-penguasa atau pemuka-pemuka atau
orang-orang besar, sedangkan ins
maknanya masyarakat biasa.
Dari cara kedua
golongan manusia yang lumpuh indera-indera
ruhaninya tersebut menjalani hidup mereka dalam berbuat dosa dan kedurhakaan nampak seolah-olah mereka telah diciptakan untuk masuk neraka,
firman-Nya:
فَکَاَیِّنۡ مِّنۡ قَرۡیَۃٍ اَہۡلَکۡنٰہَا وَ ہِیَ ظَالِمَۃٌ فَہِیَ خَاوِیَۃٌ عَلٰی عُرُوۡشِہَا وَ
بِئۡرٍ مُّعَطَّلَۃٍ وَّ
قَصۡرٍ مَّشِیۡدٍ ﴿﴾ اَفَلَمۡ یَسِیۡرُوۡا فِی الۡاَرۡضِ فَتَکُوۡنَ لَہُمۡ قُلُوۡبٌ
یَّعۡقِلُوۡنَ بِہَاۤ اَوۡ اٰذَانٌ
یَّسۡمَعُوۡنَ بِہَا ۚ فَاِنَّہَا لَا تَعۡمَی الۡاَبۡصَارُ وَ لٰکِنۡ
تَعۡمَی الۡقُلُوۡبُ الَّتِیۡ فِی الصُّدُوۡرِ ﴿﴾
Dan berapa banyak kota yang Kami telah membinasakannya, yang penduduknya
sedang berbuat zalim lalu dinding-dindingnya jatuh
atas atapnya, dan sumur yang
telah ditinggalkan dan istana
yang menjulang tinggi. Maka apakah mereka tidak berpesiar di bumi, lalu menjadikan
hati mereka memahami dengannya atau
menjadikan telinga mereka mendengar dengannya? فَاِنَّہَا لَا تَعۡمَی الۡاَبۡصَارُ وَ لٰکِنۡ
تَعۡمَی الۡقُلُوۡبُ الَّتِیۡ فِی الصُّدُوۡرِ -- Maka sesungguhnya bukan mata yang buta tetapi yang buta adalah hati yang ada dalam dada. (Al-Hājj [22]:46-47).
Menantang Mempercepat Azab Ilahi yang
Dijanjikan & Orang-orang “Yang
Bermata Biru”
Dari ayat 47 jelas
bahwa orang-orang mati, orang-orang buta, dan orang-orang tuli, yang dibicarakan di sini atau di
tempat lain dalam Al-Quran adalah orang-orang yang ditilik dari segi ruhani telah mati, buta, dan tuli. Demikian rupa butanya mata
ruhani mereka dari berbagai mukjizat
mau pun Tanda-tanda Ilahi yang
mendukung kebenaran pendakwaan Nabi
Besar Muhammad saw., sehingga bahkan
dengan takabbur menantang agar segera
mendatangkan azab Ilahi yang dijanjikan
Allah Swt. kepada mereka, firman-Nya:
وَ یَسۡتَعۡجِلُوۡنَکَ بِالۡعَذَابِ وَ لَنۡ
یُّخۡلِفَ اللّٰہُ وَعۡدَہٗ ؕ وَ اِنَّ یَوۡمًا عِنۡدَ رَبِّکَ کَاَلۡفِ
سَنَۃٍ مِّمَّا تَعُدُّوۡنَ ﴿﴾ وَ کَاَیِّنۡ مِّنۡ قَرۡیَۃٍ
اَمۡلَیۡتُ لَہَا وَ ہِیَ ظَالِمَۃٌ
ثُمَّ اَخَذۡتُہَا ۚ وَ اِلَیَّ الۡمَصِیۡرُ ﴿٪﴾
Dan mereka meminta kepada engkau untuk
mempercepat azab, tetapi Allah tidak akan pernah mengingkari janji-Nya. وَ اِنَّ یَوۡمًا عِنۡدَ رَبِّکَ کَاَلۡفِ
سَنَۃٍ مِّمَّا تَعُدُّوۡنَ -- Dan sesungguhnya satu hari di sisi Rabb (Tuhan) engkau seperti seribu
tahun menurut perhitungan kamu. وَ کَاَیِّنۡ مِّنۡ قَرۡیَۃٍ
اَمۡلَیۡتُ لَہَا وَ ہِیَ ظَالِمَۃٌ
ثُمَّ اَخَذۡتُہَا ۚ وَ اِلَیَّ الۡمَصِیۡرُ -- Dan berapa banyaknya kota telah Aku memberi tangguh baginya padahal dia berlaku zalim. Kemudian Aku
menangkapnya dan kepada Aku-lah
kembali mereka. (Al-Hājj [22]:48-49).
Nabi
Besar Muhammad saw. menurut
riwayat pernah bersabda bahwa tiga abad
pertama Islam akan merupakan masa
yang terbaik, sesudah itu kepalsuan
akan tersebar dan suatu masa kegelapan
akan datang dan meluas sampai seribu
tahun (Tirmidzi). Masa 1000 tahun ini dipersamakan dengan satu hari (QS.32:6).
Dalam masa kemunduran yang melanda umat
Islam tersebut satu kaum yang bermata biru -- yakni Ya’juj (Gog) dan Ma’juj (Magog) atau bangsa-bangsa Kristen dari barat (QS.21:96-97) -- akan bangkit
dan menyebar luas ke seluruh dunia (QS.20:103-104).
Orang-orang bermata biru
itulah yang karena sombong dan takaburnya -- yang diakibatkan oleh karena memperoleh kemuliaan duniawi dan kekuasaan politik, telah digambarkan
memberi tantangan kepada Nabi Besar
Muhammad saw. untuk mempercepat kedatangan azab
Ilahi yang — begitulah dikatakan
oleh beliau saw. dalam ayat tersebut— akan menimpa mereka pada waktu yang ditentukan dan dijanjikan itu, yakni dalam jangka waktu 1000 tahun setelah 3 abad masa kejayaan Islam yang pertama, dan azab Ilahi yang dijanjikan
Allah Swt. tersebut berupa Perang
Dunia I dan Perang Dunia II.
Demikian pula Perang Dunia III
atau Perang Nuklir pun sedang mengancam umat manusia, karena sekali pun Rasul Akhir Zaman yang
kedatangannya dijanjikan telah datang
– yakni Mirza Ghulam Ahmad a.s. atau Masih Mau’ud a.s. -- tetapi umumnya umat manusia tetap
melakukan pendustaan dan penentangan terhadap beliau a.s., firman-Nya:
یَّوۡمَ یُنۡفَخُ فِی الصُّوۡرِ وَ
نَحۡشُرُ الۡمُجۡرِمِیۡنَ یَوۡمَئِذٍ زُرۡقًا ﴿﴾ۚۖ یَّتَخَافَتُوۡنَ
بَیۡنَہُمۡ اِنۡ لَّبِثۡتُمۡ اِلَّا
عَشۡرًا ﴿﴾ نَحۡنُ اَعۡلَمُ بِمَا یَقُوۡلُوۡنَ اِذۡ
یَقُوۡلُ اَمۡثَلُہُمۡ طَرِیۡقَۃً اِنۡ لَّبِثۡتُمۡ اِلَّا یَوۡمًا ﴿﴾٪
Hari ketika nafiri akan ditiup, dan Kami akan menghimpun orang-orang berdosa yang bermata biru pada hari itu. یَّتَخَافَتُوۡنَ
بَیۡنَہُمۡ اِنۡ لَّبِثۡتُمۡ اِلَّا
عَشۡرًا -- Mereka saling
berbisik-bisik di antara mereka: "Tidaklah kamu akan tinggal
melainkan hanya sepuluh."
Kami lebih mengetahui mengenai apa yang akan mereka katakan ketika berkata
orang yang paling baik cara hidupnya di antara mereka: "Tidaklah kamu tinggal melainkan sehari." (Thā Hā [20]:103-105).
Makna “Peniupan Nafiri” & Makna
“Orang-orang yang Bermata Biru”
Makna nafiri
dalam kalimat: یَّوۡمَ یُنۡفَخُ فِی الصُّوۡرِ -- “Hari ketika nafiri
akan ditiup” mengisyaratkan Rasul Akhir Zaman yang mengumandangkan seruan Allah Swt. (Al-Quran) sedangkan:
وَ نَحۡشُرُ الۡمُجۡرِمِیۡنَ یَوۡمَئِذٍ
زُرۡقًا -- “dan Kami akan menghimpun orang-orang berdosa
yang bermata biru pada hari itu“ Isyarat dalam ayat ini
nampaknya terutama ditujukan kepada bangsa-bangsa
Kristen dari barat yang bermata biru, dan mereka itu buta mata
ruhaninya serta menyimpan rasa benci
tidak kunjung padam terhadap Islam dan Nabi Besar Muhammad saw..
Dalam surah
lain “orang yang bermata biru” tersebut dikatakan
“orang yang pada matanya ada tutupan”
(QS.18:100-102), yang tidak menghiraukan
peringatan Allah Swt. dalam Al-Quran yang disampaikan Nabi Besar Muhammad saw.
mengenai rangkaian Perang Dunia yang
akan menimpa mereka (QS.18:1-9).
Makna
"sepuluh" dalam
ayat: اِنۡ لَّبِثۡتُمۡ اِلَّا عَشۡرًا -- "Tidaklah kamu akan tinggal melainkan hanya sepuluh" berarti
sepuluh abad. Isyarat itu ditujukan
kepada sepuluh abad sesudah Hijrah, yang selama itu bangsa-bangsa Eropa hampir tetap dalam
keadaan tidur (berleha-leha) belaka
(QS.18:19). Baru pada permulaan abad
ke-17 bangsa-bangsa Eropa keluar dari keadaan “tidurnya” lalu mulai menyebar ke seluruh dunia serta menaklukkan berbagai
kawasan dunia
-- termasuk Hindustan dan Nusantara serta menjajah kawasan
Nusantara selama 350
tahun -- yaitu kira-kira 1000 tahun sesudah Nabi
Besar Muhammad saw. mulai
bertabligh (berda’wah)pada awal abad ke-7, sesuai dengan nubuatan dalam Bible
digambarkan sebagai pelepasan
sementara iblis – setan, si ular tua dari masa “pemenjaraan
1000 tahun” (Wahyu 20:7-10).
Makna thariqat al-qaum dalam
ayat: نَحۡنُ اَعۡلَمُ
بِمَا یَقُوۡلُوۡنَ اِذۡ یَقُوۡلُ اَمۡثَلُہُمۡ طَرِیۡقَۃً اِنۡ لَّبِثۡتُمۡ
اِلَّا یَوۡمًا -- “Kami lebih
mengetahui mengenai apa yang akan mereka katakan
ketika berkata orang yang paling baik cara hidupnya di antara mereka: "Tidaklah kamu tinggal melainkan sehari", berarti
kaum yang terbaik atau paling lurus (Aqrab-ul-Mawarid).
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran Anyar,
26 Januari 2017
Tidak ada komentar:
Posting Komentar