Minggu, 29 Januari 2017

Silsilah "Khilafat Atas Manhaaj (Jalan) Kenabian" di Akhir Zaman & Makna "Peniupan Nafiri" ; 'Ulama" Hakiki dan Kemunculan Orang-orang yang "Bermata Biru" Yakni "Ja'juj" (Gog) dan "Ma'juj "(Magog)






Bismillaahirrahmaanirrahiim

  ISLAM
Pidato  Mirza Ghulam Ahmad a.s.
Tgl. 2 November 1904 di Kota Sialkote – Hindustan

Bab  6

 SILSILAH   KHILAFAT ATAS MANHĀJ (JALAN)  KENABIAN   DI AKHIR ZAMAN &   MAKNA “PENIUPAN NAFIRI” ; 'ULAMA HAKIKI DAN KEMUNCULAN  ORANG-ORANG YANG “BERMATA BIRU  YAKNI YA’JUJ (GOG) DAN MA’JUJ (MAGOG)

Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam bagian akhir Bab 5  telah dijelaskan topik   Kenyataan yang  Sebaliknya  berkenaan yang terjadi saat ini  di kalangan umat Islam – terutama di wilayah Timur Tengah dan Afrika Utara  -- akibat melanggar  perintah Allah Swt. dalam firman-Nya:
یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰہَ حَقَّ تُقٰتِہٖ وَ لَا تَمُوۡتُنَّ  اِلَّا وَ اَنۡتُمۡ  مُّسۡلِمُوۡنَ ﴿﴾ وَ اعۡتَصِمُوۡا بِحَبۡلِ اللّٰہِ جَمِیۡعًا وَّ لَا تَفَرَّقُوۡا ۪ وَ اذۡکُرُوۡا نِعۡمَتَ اللّٰہِ عَلَیۡکُمۡ  اِذۡ  کُنۡتُمۡ اَعۡدَآءً فَاَلَّفَ بَیۡنَ قُلُوۡبِکُمۡ فَاَصۡبَحۡتُمۡ بِنِعۡمَتِہٖۤ اِخۡوَانًا ۚ وَ کُنۡتُمۡ عَلٰی شَفَا حُفۡرَۃٍ مِّنَ النَّارِ فَاَنۡقَذَکُمۡ مِّنۡہَا ؕ   کَذٰلِکَ یُبَیِّنُ اللّٰہُ لَکُمۡ اٰیٰتِہٖ  لَعَلَّکُمۡ  تَہۡتَدُوۡنَ ﴿﴾
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan takwa yang sebenar-benarnya, dan  janganlah sekali-kali kamu mati kecuali kamu dalam keadaan berserah  diri.   Dan  berpegangteguhlah kamu sekalian pada tali Allah,  dan  janganlah kamu berpecah-belah dan  ingatlah akan nikmat Allah atas kamu ketika kamu dahulu bermusuh-musuhan lalu  Dia menyatukan hati kamu dengan kecintaan  antara satu sama lain maka  dengan nikmat-Nya itu kamu menjadi bersaudara,   dan kamu dahulu berada di tepi jurang Api  lalu Dia menyelamatkan kamu darinya.     Demikianlah Allah menjelaskan Ayat-ayat-Nya kepada kamu supaya kamu mendapat petunjuk. (Ali ‘Imran [3]:103-104).
Firman-Nya lagi:
یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا لَا تَتَّخِذُوا الۡیَہُوۡدَ وَ النَّصٰرٰۤی اَوۡلِیَآءَ ۘؔ بَعۡضُہُمۡ اَوۡلِیَآءُ بَعۡضٍ ؕ وَ مَنۡ  یَّتَوَلَّہُمۡ  مِّنۡکُمۡ فَاِنَّہٗ  مِنۡہُمۡ ؕ اِنَّ اللّٰہَ  لَا یَہۡدِی الۡقَوۡمَ  الظّٰلِمِیۡنَ ﴿﴾ فَتَرَی الَّذِیۡنَ فِیۡ قُلُوۡبِہِمۡ مَّرَضٌ یُّسَارِعُوۡنَ فِیۡہِمۡ یَقُوۡلُوۡنَ نَخۡشٰۤی اَنۡ تُصِیۡبَنَا دَآئِرَۃٌ ؕ فَعَسَی اللّٰہُ اَنۡ یَّاۡتِیَ بِالۡفَتۡحِ اَوۡ اَمۡرٍ مِّنۡ عِنۡدِہٖ فَیُصۡبِحُوۡا عَلٰی  مَاۤ  اَسَرُّوۡا  فِیۡۤ   اَنۡفُسِہِمۡ نٰدِمِیۡنَ ﴿ؕ﴾
Hai orang-orang yang beriman!  Janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan orang-orang Nasrani menjadi  penolong,  sebagian mereka adalah penolong sebagian lainnya.  Dan barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pelindung-pelindung   maka sesungguhnya ia dari mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang zalim. فَتَرَی الَّذِیۡنَ فِیۡ قُلُوۡبِہِمۡ مَّرَضٌ یُّسَارِعُوۡنَ فِیۡہِمۡ یَقُوۡلُوۡنَ نَخۡشٰۤی اَنۡ تُصِیۡبَنَا دَآئِرَۃٌ --  Maka engkau akan melihat orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit bergegas  kepada mereka yang kafir seraya berkata: “Kami takut  bencana  menimpa kami.” فَعَسَی اللّٰہُ اَنۡ یَّاۡتِیَ بِالۡفَتۡحِ اَوۡ اَمۡرٍ مِّنۡ عِنۡدِہٖ فَیُصۡبِحُوۡا عَلٰی  مَاۤ  اَسَرُّوۡا  فِیۡۤ   اَنۡفُسِہِمۡ نٰدِمِیۡنَ -- Boleh jadi Allah akan mendatangkan  kemenangan  atau suatu peristiwa lain dari sisi-Nya, maka  mereka akan merasa menyesal atas apa yang telah mereka  sembunyikan di dalamnya. (Al-Māidah [5]:52-53).
      Ayat 52 Surah Al-Māidah  tidak boleh diartikan seolah-olah melarang atau mencegah perlakuan adil dan baik terhadap orang-orang Yahudi, Kristen, dan kaum kufar lainnya (QS.60:9-10). Ayat ini hanya mengisyaratkan kepada orang-orang Yahudi atau Kristen yang telah berperang dengan kaum Muslimin dan senantiasa mengadakan permufakatan-permu-fakatan jahat terhadap Islam. Sebab  menurut Allah Swt.  orang-orang Yahudi dan Kristen akan melupakan perbedaan-perbedaan paham di antara mereka dan menjadi bersatu dalam perlawanan terhadap Islam.
       Sungguh benar apa yang dikatakan oleh Nabi Besar Muhammad saw.: “Semua orang kafir merupakan satu umat.”  Jadi semua orang kafir biar bagaimana tidak bersahabatnya antara satu sama lain tetapi  namun bila menghadapi Islam mereka adalah seperti satu kaum (QS.      2:214).                       

Kemelut Berkepanjangan di kalangan Sesama Muslim

          Akibat melanggar perintah Allah Swt. tersebut maka   yang terjadi di kalangan umat Islam di Timur Tengah dan di berbagai wilayah Afrika  dan lain-lain  adalah  kebenaran pernyataan  Allah Swt. dalam firman-Nya  berikut ini:
قُلۡ ہُوَ  الۡقَادِرُ عَلٰۤی  اَنۡ یَّبۡعَثَ عَلَیۡکُمۡ عَذَابًا مِّنۡ فَوۡقِکُمۡ اَوۡ مِنۡ تَحۡتِ اَرۡجُلِکُمۡ اَوۡ یَلۡبِسَکُمۡ شِیَعًا وَّ یُذِیۡقَ بَعۡضَکُمۡ بَاۡسَ بَعۡضٍ ؕ اُنۡظُرۡ کَیۡفَ نُصَرِّفُ الۡاٰیٰتِ لَعَلَّہُمۡ یَفۡقَہُوۡنَ ﴿﴾  وَ کَذَّبَ بِہٖ قَوۡمُکَ وَ ہُوَ الۡحَقُّ ؕ قُلۡ لَّسۡتُ عَلَیۡکُمۡ  بِوَکِیۡلٍ ﴿ؕ﴾    لِکُلِّ نَبَاٍ  مُّسۡتَقَرٌّ ۫ وَّ سَوۡفَ تَعۡلَمُوۡنَ ﴿﴾
Katakanlah: “Dia-lah Yang berkuasa mengirimkan azab kepada kamu dari atas kamu atau dari bawah kaki kamu اَوۡ یَلۡبِسَکُمۡ شِیَعًا وَّ یُذِیۡقَ بَعۡضَکُمۡ بَاۡسَ بَعۡضٍ  -- atau mencampur-baurkan kamu menjadi golongan-golongan yang saling berselisih  dan membuat sebagian kamu merasakan keganasan sebagian yang lain.” اُنۡظُرۡ کَیۡفَ نُصَرِّفُ الۡاٰیٰتِ لَعَلَّہُمۡ یَفۡقَہُوۡنَ -- Lihatlah bagaimana Kami membentangkan Tanda-tanda supaya mereka mengerti.  وَ کَذَّبَ بِہٖ قَوۡمُکَ وَ ہُوَ الۡحَقُّ --  Dan  kaum engkau telah mendustakannya,  padahal itu adalah kebenaran. قُلۡ لَّسۡتُ عَلَیۡکُمۡ  بِوَکِیۡلٍ --  Katakanlah:  Aku sekali-kali bukan  penanggungjawab atas kamu.” لِکُلِّ نَبَاٍ  مُّسۡتَقَرٌّ ۫ وَّ سَوۡفَ تَعۡلَمُوۡنَ  --  Bagi tiap kabar gaib ada masa yang tertentu, dan kamu segera akan mengetahui.  (Al-An’ām [6]:66-68).
  Makna “Azab dari atas” maknanya: kelaparan, gempa bumi, air bah, taufan, penin-dasan terhadap golongan yang lemah oleh yang kuat, penderitaan mental, dan sebagainya, dan “siksaan dari bawah” berarti: penyakit-penyakit, wabah, pemberontakan orang-orang bawahan, dan sebagainya. Kemudian ada hukuman berupa kekacauan, perpecahan-perpecahan dan perselisihan yang kadang-kadang berakhir dalam perang saudara, seperti yang saat ini berlangsung di kawasan Timur-tengah dan berbagai kawasan Muslim lainnya di Afrika.  Hal demikian ini diisyaratkan dalam kata-kata  اَوۡ یَلۡبِسَکُمۡ شِیَعًا وَّ یُذِیۡقَ بَعۡضَکُمۡ بَاۡسَ بَعۡضٍ --  “atau membuat sebagian kamu merasakan keganasan sebagian yang lain.”
  Kata ganti “nya” dalam ayat: وَ کَذَّبَ بِہٖ قَوۡمُکَ وَ ہُوَ الۡحَقُّ  -- “Dan kaum engkau telah mendustakannya, padahal itu adalah kebenaran” menunjuk kepada (1) perkara yang sedang dibahas; (2) Al-Quran; (3) azab Ilahi. Jika kita ambil arti yang terakhir, maka kata-kata وَ ہُوَ الۡحَقُّ  --  “padahal itu adalah kebenaran” akan berarti bahwa azab Ilahi yang dijanjikan pasti akan tiba (terjadi)., sebagaimana dijelaskan dalam ayat selanjutnya: لِکُلِّ نَبَاٍ  مُّسۡتَقَرٌّ ۫ وَّ سَوۡفَ تَعۡلَمُوۡنَ  -- “Bagi tiap kabar gaib ada masa yang tertentu  dan kamu segera akan mengetahui” berarti bahwa  Allah Swt.  sesuai dengan hikmah-Nya yang tidak dapat salah itu, telah menentukan satu saat penggenapan setiap kabar gaib. Maka azab Ilahi  yang telah dijanjikan kepada orang-orang yang menolak kebenaran akan datang juga pada saatnya yang tepat dan akan terjadi secara  tiba-tiba (QS.6:32; QS.21:41; QS.47:19), firman-Nya:
وَ  یَسۡتَعۡجِلُوۡنَکَ بِالۡعَذَابِ وَ لَنۡ یُّخۡلِفَ اللّٰہُ وَعۡدَہٗ ؕ وَ اِنَّ یَوۡمًا عِنۡدَ رَبِّکَ  کَاَلۡفِ  سَنَۃٍ   مِّمَّا  تَعُدُّوۡنَ ﴿﴾ وَ کَاَیِّنۡ مِّنۡ قَرۡیَۃٍ  اَمۡلَیۡتُ لَہَا وَ ہِیَ ظَالِمَۃٌ  ثُمَّ اَخَذۡتُہَا ۚ وَ اِلَیَّ الۡمَصِیۡرُ ﴿٪﴾
Dan mereka meminta kepada engkau untuk mempercepat azab, tetapi Allah  tidak akan pernah mengingkari janji-Nya. Dan sesungguhnya satu hari di sisi Rabb (Tuhan) engkau  seperti seribu tahun menurut perhitungan kamu.  Dan berapa banyaknya kota telah Aku memberi tangguh baginya padahal dia berlaku zalim.  Kemudian Aku menangkapnya dan kepada Aku-lah kembali mereka. (Al-Hājj [22]:48-49).

Silsilah Khilafat  di Atas Jalan Kenabian

        Nabi Besar Muhammad saw.  menurut riwayat pernah bersabda bahwa tiga abad pertama Islam akan merupakan masa yang terbaik – dan merupakan kejayaan Islam yang pertama -- sesudah itu kepalsuan (kesesatan)   akan tersebar dan suatu masa kegelapan akan datang dan meluas  di kalangan umat Islam sampai seribu tahun (Tirmidzi). Sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya bahwa masa  kegelapan yang melanda umat Islam 1000 tahun ini dipersamakan dengan satu hari, firman-Nya:
یُدَبِّرُ الۡاَمۡرَ مِنَ السَّمَآءِ  اِلَی الۡاَرۡضِ ثُمَّ یَعۡرُجُ  اِلَیۡہِ  فِیۡ یَوۡمٍ کَانَ مِقۡدَارُہٗۤ اَلۡفَ سَنَۃٍ  مِّمَّا تَعُدُّوۡنَ ﴿﴾
Dia mengatur perintah dari langit sampai bumi, kemudian perintah itu akan naik kepada-Nya dalam satu hari, yang hitungan lamanya seribu tahun dari apa yang kamu hitung  (As-Sajdah [32]:6).
      Dalam masa  kegelapan yang melanda umat Islam tersebut  satu kaum yang bermata biru (QS.20:103-104)  – yakni Ya’juj (Gog) dan Ma’juj (Magog – QS.21:97) atau bangsa-bangsa Kristen dari barat yakni Dajjal, si pendusta besar -- akan bangkit dan menyebar luas ke seluruh dunia. Orang-orang bermata biru itulah yang karena sombong dan takaburnya, yang diakibatkan oleh karena memperoleh kemuliaan duniawi dan kekuasaan politik, telah digambarkan memberi tantangan kepada  Nabi Besar Muhammad saw. untuk mempercepat datangnya azab yang  diperingatkan oleh beliau  saw.   akan menimpa mereka pada waktu yang ditentukan dan dijanjikan itu. 
        Sehubungan dengan pernyataan Allah Swt. tersebut  dalam surah Al-Quran  lainnya Allah Swt. berfirman mengenai  silsilah khilafat (kekhalifahan)  atas minhāajin-nubuwwah (jalan kenabian)  -- bukan khalifah  buatan manusia --  firman-Nya:  
وَعَدَ  اللّٰہُ  الَّذِیۡنَ  اٰمَنُوۡا مِنۡکُمۡ وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ لَیَسۡتَخۡلِفَنَّہُمۡ فِی الۡاَرۡضِ کَمَا اسۡتَخۡلَفَ الَّذِیۡنَ مِنۡ قَبۡلِہِمۡ ۪ وَ لَیُمَکِّنَنَّ لَہُمۡ دِیۡنَہُمُ  الَّذِی ارۡتَضٰی لَہُمۡ وَ لَیُبَدِّلَنَّہُمۡ مِّنۡۢ بَعۡدِ خَوۡفِہِمۡ  اَمۡنًا ؕ یَعۡبُدُوۡنَنِیۡ لَا  یُشۡرِکُوۡنَ بِیۡ شَیۡئًا ؕ وَ مَنۡ  کَفَرَ بَعۡدَ ذٰلِکَ فَاُولٰٓئِکَ ہُمُ  الۡفٰسِقُوۡنَ ﴿
Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman  dan  beramal saleh di antara kamu niscaya Dia  akan menjadikan mereka itu khalifah di bumi ini sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka khalifah, dan niscaya Dia akan meneguhkan bagi mereka agamanya yang telah Dia ridhai bagi mereka,  dan niscaya Dia akan mengubah keadaan mereka dengan ke-amanan sesudah ketakutan mereka. Mereka akan menyembah-Ku dan mereka tidak akan mempersekutukan sesuatu dengan-Ku, dan barangsiapa kafir sesudah itu  mereka itulah orang-orang  durhaka. (An-Nūr [24]:56).
    Dikarenakan ayat ini berlaku sebagai pendahuluan untuk mengantarkan masalah khilafat, maka dalam   QS.24:52-55 berulang-ulang telah diberi tekanan kepada orang-orang beriman mengenai pentingnya ketaatan kepada Allah Swt. dan Rasul-Nya. Tekanan ini merupakan isyarat mengenai tingkat dan kedudukan seorang khalifah dalam Islam. yang sangat penting.
       Ayat tersebut berisikan janji bahwa orang-orang Muslim – sebagai “umat terbaik” yang dijadikan bagi manfaat umat manusia  (QS.2:144; QS.3:111) -- akan dianugerahi pimpinan ruhani maupun duniawi, sebagaimana yang terjadi di kalangan Bani Israil, firman-Nya:
وَ  اِذۡ قَالَ مُوۡسٰی لِقَوۡمِہٖ یٰقَوۡمِ اذۡکُرُوۡا نِعۡمَۃَ اللّٰہِ عَلَیۡکُمۡ   اِذۡ جَعَلَ فِیۡکُمۡ اَنۡۢبِیَآءَ وَ جَعَلَکُمۡ مُّلُوۡکًا ٭ۖ وَّ اٰتٰىکُمۡ مَّا لَمۡ یُؤۡتِ اَحَدًا مِّنَ الۡعٰلَمِیۡنَ  ﴿﴾
Dan ingatlah ketika  Musa berkata kepada kaumnya: “Hai kaumku, ingatlah  nikmat Allah atas kamu, ketika Dia menjadikan nabi-nabi di antara kamu, dan  menjadikan kamu raja-raja,  dan Dia memberikan kepada kamu apa yang tidak diberikan kepada kaum lain di antara bangsa-bangsa. (Al-Māidah [5]:21)
         Penggantian kata kum (kamu)  dalam kalimat:    وَ جَعَلَکُمۡ مُّلُوۡکًا  -- “dan  menjadikan kamu raja-raja  alih-alih kata fī-kum dalam ayat: اِذۡ جَعَلَ فِیۡکُمۡ اَنۡۢبِیَآءَ  --  “ketika Dia menjadikan nabi-nabi di antara kamu“ mengandung isyarat, bahwa jikalau tiap-tiap dan semua anggota suatu bangsa yang hidup di bawah kekuasaan seorang raja seakan-akan mempunyai kekuasaan dan kedaulatan, maka pengikut-pengikut seorang nabi  Allah tidak mempunyai bagian dalam kenabiannya.

Makna ‘Ulama  Pewaris Para Nabi & ‘Ulama Hakiki

        Nabi Besar Muhammad saw. telah bersabda: ‘Ulama ummatiy kal-anbiyā-i bani Isrāila   --  ulama umatku seperti nabi-nabi Bani Israil.”   Ada pun yang dimaksud dengan ‘ulama ummaty  (‘ulama umatku) dalam sabda Nabi Besar Muhammad saw.  tersebut lebih tertuju kepada para mujaddid (pembaharu ruhani)  --  yang beliau saw.  katakan  akan ada pada setiap permulaan abad    --  sebab mereka   dan para wali Allah besar sajalah yang memenuhi kriteria ‘ulama hakiki yang benar-benar takut kepada Allah Swt. sebagaimana dikemukakan dalam    firman-Nya berikut kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
اَلَمۡ  تَرَ  اَنَّ اللّٰہَ  اَنۡزَلَ مِنَ  السَّمَآءِ  مَآءً ۚ فَاَخۡرَجۡنَا بِہٖ ثَمَرٰتٍ  مُّخۡتَلِفًا  اَلۡوَانُہَا ؕ وَ مِنَ الۡجِبَالِ جُدَدٌۢ  بِیۡضٌ وَّ حُمۡرٌ  مُّخۡتَلِفٌ اَلۡوَانُہَا وَ غَرَابِیۡبُ سُوۡدٌ ﴿﴾  وَ مِنَ النَّاسِ وَ الدَّوَآبِّ وَ الۡاَنۡعَامِ مُخۡتَلِفٌ اَلۡوَانُہٗ  کَذٰلِکَ ؕ اِنَّمَا یَخۡشَی اللّٰہَ مِنۡ عِبَادِہِ  الۡعُلَمٰٓؤُا ؕ اِنَّ اللّٰہَ عَزِیۡزٌ  غَفُوۡرٌ ﴿﴾
Apakah engkau tidak melihat  bahwasanya Allah menurunkan air dari awan, dan Kami mengeluarkan dengan air itu buah-buahan yang beraneka warnanya. Dan di gunung-gunung ada garis-garis putih,   merah dengan beraneka macam warnanya, dan ada yang sehitam burung gagak?  وَ مِنَ النَّاسِ وَ الدَّوَآبِّ وَ الۡاَنۡعَامِ مُخۡتَلِفٌ اَلۡوَانُہٗ  کَذٰلِکَ --   Dan demikian juga di antara manusia,  hewan berkaki empat dan binatang ternak bermacam-macam warnanya.  اِنَّمَا یَخۡشَی اللّٰہَ مِنۡ عِبَادِہِ  الۡعُلَمٰٓؤُا    -- Sesungguhnya  dari antara hamba-hamba-Nya yang takut kepada Allah adalah ulama. اِنَّ اللّٰہَ عَزِیۡزٌ  غَفُوۡرٌ --  Sesungguhnya Allah Maha Perkasa, Maha Pengampun. (Al-Fāthir [35]:28-29).
         Ayat 28 ini bermaksud mengatakan, bahwa apabila hujan turun di atas tanah yang kering dan gersang, maka air hujan itu menimbulkan aneka ragam tanam-tanaman, bunga-bungaan, dan buah-buahan yang warna warni serta aneka cita rasa, dan bentuk serta corak yang berlainan.
     Menurut ayat tersebut air hujannya sama tetapi tanam-tanaman, bunga-bungaan, dan buah-buahan yang dihasilkan sangat berbeda satu sama lain. Perbedaan-perbedaan itu mungkin sekali dikarenakan perbedaan  sifat yang dimiliki tanah dan benih.
       Demikian pula manakala wahyu Ilahi — yang pada beberapa tempat dalam Al-Quran telah diibaratkan air — turun kepada suatu kaum bersamaan pengutusan rasul Allah yang kedatangannya dijanjikan (QS.7:35-37),  maka wahyu Ilahi  itu menimbulkan berbagai-bagai akibat pada bermacam-macam manusia menurut keadaan “tanah” (hati) mereka dan cara mereka menerimanya.
       Ayat selanjutnya menjelaskan bahwa keragaman yang indah sekali dalam bentuk, warna, dan corak, yang telah dikemukakan dalam ayat sebelumnya tidak hanya terdapat pada hanya  bunga, buah, dan batu karang saja, tetapi juga pada manusia, binatang buas dan ternak. Kata an-nās (manusia), ad-dawāb (binatang buas) dan al-an’ām (binatang ternak) dapat juga melukiskan manusia dengan bermacam-macam kesanggupan, pembawaan, dan kecenderungan alami.

Makna  Kiasan “ Ad-Dawāb” (Binatang Buas) dan “An’ām (Binatang ternak)

      Jadi, ungkapan  اِنَّمَا یَخۡشَی اللّٰہَ مِنۡ عِبَادِہِ  الۡعُلَمٰٓؤُا    -- “Sesungguhnya  dari antara hamba-hamba-Nya yang takut kepada Allah adalah ulama memberikan bobot arti kepada pandangan bahwa ketiga kata  -- an-nās (manusia), ad-dawāb (binatang buas) dan al-an’ām (binatang ternak)  --  secara kiasan menggambarkan tiga golongan manusia, yang di antara mereka itu hanya mereka yang dikaruniai ilmu (ma’rifat) hakiki (‘ulama) saja yang takut kepada  Allah Swt., sedangkan yang lainnya akan seperti ad-dawāb (binatang buas) dan al-an’ām (binatang ternak), sebagaimana firman-Nya mengenai orang-orang yang mendustakan dan menentang para rasul Allah:
وَ اِذَا قِیۡلَ لَہُمُ  اتَّبِعُوۡا مَاۤ اَنۡزَلَ اللّٰہُ قَالُوۡا بَلۡ نَتَّبِعُ مَاۤ اَلۡفَیۡنَا عَلَیۡہِ اٰبَآءَنَا ؕ اَوَ لَوۡ کَانَ اٰبَآؤُہُمۡ لَا یَعۡقِلُوۡنَ شَیۡئًا وَّ لَا  یَہۡتَدُوۡنَ﴿﴾   وَ مَثَلُ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا کَمَثَلِ الَّذِیۡ یَنۡعِقُ بِمَا لَا یَسۡمَعُ     اِلَّا دُعَآءً  وَّ  نِدَآءً ؕ صُمٌّۢ  بُکۡمٌ عُمۡیٌ  فَہُمۡ  لَا  یَعۡقِلُوۡنَ﴿﴾ 
Dan  apabila dikatakan kepada mereka: “Ikutilah apa yang diturunkan Allah”, mereka berkata: “Tidak, bahkan kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati bapak-bapak kami biasa melakukannya  Apakah sekali pun  bapak-bapak mereka itu tidak mengerti suatu apa pun, dan tidak pula mereka mendapat petunjuk?   Dan perumpamaan  keadaan orang-orang kafir itu seperti  sese-orang yang berteriak kepada sesuatu yang tidak dapat mendengar kecuali hanya panggilan dan seruan belaka.   Mereka tuli, bisu, dan buta, karena itu  mereka tidak mengerti  (Al-Baqarah [2]:171-172)
        Sungguh ganjil benar, namun demikian amat  disayangkan, bahwa dalam urusan agama yang begitu erat hubungannya dengan kehidupannya yang kekal di akhirat  manusia seringkali puas dengan mengikuti secara membabi-buta (taqlid buta) jejak orang-orang tuanya (leluhurnya). Tetapi dalam urusan duniawi, yang hanya bertalian dengan kepentingan hidup ini saja dan itu pun hanya sebagian, ia sangat berhati-hati  agar ia menempuh jalan yang tepat dan tidak mengikuti orang-orang lain dengan membabi buta.
     Ayat selanjutnya menjelaskan bahwa Nabi Besar Muhammad saw. menyampaikan Amanat Allah Swt. (Al-Quran) kepada orang-orang kafir. Beliau  saw. itu  seorang da’i (penyeru) kepada Allah Swt.  dan mereka mendengar suara beliau saw.  tetapi tidak berusaha menangkap maknanya. Kata-kata (seruan) beliau saw. seolah-olah sampai kepada telinga orang tuli dengan berakibat bahwa kemampuan ruhani mereka menjadi sama sekali rusak dan martabat mereka jatuh sampai ke taraf keadaan binatang ternak  dan binatang buas (QS.7:180; QS.25:45) yang hanya mendengar teriakan si pengembala, tetapi tak mengerti apa yang dikatakannya, firman-Nya:
اَرَءَیۡتَ مَنِ اتَّخَذَ اِلٰـہَہٗ ہَوٰىہُ ؕ اَفَاَنۡتَ تَکُوۡنُ عَلَیۡہِ وَکِیۡلًا ﴿ۙ﴾ اَمۡ تَحۡسَبُ اَنَّ اَکۡثَرَہُمۡ یَسۡمَعُوۡنَ اَوۡ یَعۡقِلُوۡنَ ؕ اِنۡ ہُمۡ اِلَّا کَالۡاَنۡعَامِ بَلۡ ہُمۡ اَضَلُّ سَبِیۡلًا ﴿﴾
Apakah engkau melihat  orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya? Maka apakah engkau menjadi pengawas atasnya?   Ataukah engkau menyangka  bahwa sesungguhnya kebanyakan dari mereka mendengar atau mengerti?  Mereka tidak lain melainkan seperti hewan ternak  bahkan mereka lebih sesat dari jalannya. (Al-Furqān [25]:44-45).
        Keinginan-keinginan, lamunan-lamunan, dan khayalan-khayalannya sendiri itulah yang pada umumnya orang puja lebih dari apa pun, dan inilah yang menjadi batu penghalang baginya untuk menerima kebenaran. Dalam intelek atau akal, manusia boleh jadi telah jauh maju, sehingga ia tidak membungkukkan diri di hadapan batu-batu dan bintang-bintang, akan tetapi ia belum mengatasi pemujaannya terhadap cita-cita, prasangka-prasangka, dan khayalan-khayalannya yang palsu.
      Pemujaan berhala-berhala yang bersemayam dalam hati   orang-orang kafir  itulah yang dicela di sini. Daripada ia memanfaatkan kemampuan-kemampuannya yang dianugerahkan Allah Swt. untuk berpikir dan mendengar kebenaran yang disampaikan rasul Allah   --  dan yang seharusnya membantu manusia mengenal dan menyadari kebenaran  --  malah ia meraba-raba  dalam kegelapan.

Mereka yang  Indera-indera Ruhaninya Lumpuh

       Pada saat itu jatuhlah ia ke taraf hidup bagaikan hewan ternak, bahkan lebih rendah dari itu, sebab hewan ternak tidak diberi kemampuan memilih dan membedakan, sedang manusia diberi daya itu untuk melakukan tafakkur dan taddabur, firman-Nya:
وَ لَقَدۡ ذَرَاۡنَا لِجَہَنَّمَ کَثِیۡرًا مِّنَ الۡجِنِّ وَ الۡاِنۡسِ ۫ۖ  لَہُمۡ قُلُوۡبٌ لَّا یَفۡقَہُوۡنَ بِہَا ۫ وَ لَہُمۡ اَعۡیُنٌ لَّا یُبۡصِرُوۡنَ بِہَا ۫ وَ لَہُمۡ اٰذَانٌ لَّا یَسۡمَعُوۡنَ بِہَا ؕ اُولٰٓئِکَ کَالۡاَنۡعَامِ بَلۡ ہُمۡ اَضَلُّ ؕ اُولٰٓئِکَ ہُمُ الۡغٰفِلُوۡنَ ﴿﴾
Dan sungguh  Kami benar-benar telah  menjadikan  untuk penghuni  Jahannam banyak di antara jin dan manusia,   mereka memiliki hati tetapi mereka tidak mengerti dengannya, mereka  memiliki   mata tetapi  mereka tidak melihat dengannya, mereka memiliki telinga tetapi mereka tidak mendengar dengannya, اُولٰٓئِکَ کَالۡاَنۡعَامِ بَلۡ ہُمۡ اَضَلُّ  --   mereka itu  seperti binatang ternak,  بَلۡ ہُمۡ اَضَلُّ ؕ  -- bahkan mereka lebih sesat.  اُولٰٓئِکَ ہُمُ الۡغٰفِلُوۡنَ -- Mereka itulah orang-orang yang lalai. (Al-A’rāf  [7]:180).
  Huruf lam    dalam kalimat  لِجَہَنَّمَ  (untuk jahannam) adalah lam ‘aqibat yang menyatakan kesudahan atau akibat. Dengan demikian ayat ini tidak ada hubungannya dengan tujuan kejadian manusia melainkan hanya menyebutkan kesudahan yang patut disesali mengenai kehidupan kebanyakan ins (manusia) dan jin. Kata jin itu juga mempunyai arti golongan manusia yang istimewa, yakni penguasa-penguasa atau pemuka-pemuka atau orang-orang besar, sedangkan ins maknanya masyarakat biasa.
  Dari cara kedua golongan manusia yang lumpuh indera-indera ruhaninya tersebut  menjalani hidup mereka dalam berbuat dosa dan kedurhakaan nampak seolah-olah mereka telah diciptakan untuk masuk neraka, firman-Nya:
فَکَاَیِّنۡ مِّنۡ قَرۡیَۃٍ  اَہۡلَکۡنٰہَا وَ ہِیَ ظَالِمَۃٌ  فَہِیَ خَاوِیَۃٌ عَلٰی عُرُوۡشِہَا وَ بِئۡرٍ  مُّعَطَّلَۃٍ   وَّ  قَصۡرٍ  مَّشِیۡدٍ ﴿﴾  اَفَلَمۡ یَسِیۡرُوۡا فِی الۡاَرۡضِ فَتَکُوۡنَ لَہُمۡ قُلُوۡبٌ یَّعۡقِلُوۡنَ بِہَاۤ  اَوۡ اٰذَانٌ یَّسۡمَعُوۡنَ بِہَا ۚ فَاِنَّہَا لَا تَعۡمَی الۡاَبۡصَارُ  وَ لٰکِنۡ  تَعۡمَی الۡقُلُوۡبُ الَّتِیۡ فِی الصُّدُوۡرِ ﴿﴾  
Dan berapa banyak kota yang Kami telah  membinasakannya, yang penduduknya sedang berbuat zalim  lalu  dinding-dindingnya  jatuh atas atapnya, dan sumur yang telah ditinggalkan dan istana yang menjulang tinggi.    Maka apakah mereka tidak berpesiar di bumi, lalu  menjadikan hati mereka memahami dengannya   atau menjadikan telinga  mereka mendengar dengannya?  فَاِنَّہَا لَا تَعۡمَی الۡاَبۡصَارُ  وَ لٰکِنۡ  تَعۡمَی الۡقُلُوۡبُ الَّتِیۡ فِی الصُّدُوۡرِ --  Maka sesungguhnya bukan mata yang buta  tetapi yang buta adalah hati yang ada dalam dada. (Al-Hājj [22]:46-47).

Menantang Mempercepat  Azab Ilahi yang Dijanjikan & Orang-orang “Yang Bermata Biru

       Dari ayat 47   jelas bahwa orang-orang mati, orang-orang buta, dan orang-orang tuli, yang dibicarakan di sini atau di tempat lain dalam Al-Quran adalah  orang-orang yang ditilik dari segi ruhani telah mati, buta, dan tuli. Demikian rupa  butanya mata ruhani mereka dari berbagai mukjizat mau pun Tanda-tanda Ilahi yang mendukung kebenaran pendakwaan Nabi Besar Muhammad saw., sehingga  bahkan dengan takabbur menantang agar segera mendatangkan  azab Ilahi  yang dijanjikan Allah Swt. kepada mereka,   firman-Nya:
وَ  یَسۡتَعۡجِلُوۡنَکَ بِالۡعَذَابِ وَ لَنۡ یُّخۡلِفَ اللّٰہُ وَعۡدَہٗ ؕ وَ اِنَّ یَوۡمًا عِنۡدَ رَبِّکَ  کَاَلۡفِ  سَنَۃٍ   مِّمَّا  تَعُدُّوۡنَ ﴿﴾ وَ کَاَیِّنۡ مِّنۡ قَرۡیَۃٍ  اَمۡلَیۡتُ لَہَا وَ ہِیَ ظَالِمَۃٌ  ثُمَّ اَخَذۡتُہَا ۚ وَ اِلَیَّ الۡمَصِیۡرُ ﴿٪﴾
Dan mereka meminta kepada engkau untuk mempercepat azab, tetapi Allah  tidak akan pernah mengingkari janji-Nya. وَ اِنَّ یَوۡمًا عِنۡدَ رَبِّکَ  کَاَلۡفِ  سَنَۃٍ   مِّمَّا  تَعُدُّوۡنَ --  Dan sesungguhnya satu hari di sisi Rabb (Tuhan) engkau  seperti seribu tahun menurut perhitungan kamu. وَ کَاَیِّنۡ مِّنۡ قَرۡیَۃٍ  اَمۡلَیۡتُ لَہَا وَ ہِیَ ظَالِمَۃٌ  ثُمَّ اَخَذۡتُہَا ۚ وَ اِلَیَّ الۡمَصِیۡرُ  -- Dan berapa banyaknya kota telah Aku memberi tangguh baginya padahal dia berlaku zalim.  Kemudian Aku menangkapnya dan kepada Aku-lah kembali mereka. (Al-Hājj [22]:48-49).
  Nabi Besar Muhammad saw.  menurut riwayat pernah bersabda bahwa tiga abad pertama Islam akan merupakan masa yang terbaik, sesudah itu kepalsuan akan tersebar dan suatu masa kegelapan akan datang dan meluas sampai seribu tahun (Tirmidzi). Masa 1000 tahun ini dipersamakan dengan satu hari (QS.32:6).
      Dalam masa  kemunduran yang melanda umat Islam tersebut  satu kaum yang bermata biru   -- yakni Ya’juj (Gog) dan Ma’juj (Magog)  atau bangsa-bangsa Kristen dari barat   (QS.21:96-97)   -- akan bangkit dan menyebar luas ke seluruh dunia (QS.20:103-104).
      Orang-orang bermata biru itulah yang karena sombong dan takaburnya  -- yang diakibatkan oleh karena memperoleh kemuliaan duniawi dan kekuasaan politik, telah digambarkan memberi tantangan kepada Nabi Besar Muhammad saw.   untuk mempercepat kedatangan  azab Ilahi  yang — begitulah dikatakan oleh beliau saw. dalam ayat tersebut— akan menimpa mereka pada waktu yang ditentukan dan dijanjikan itu, yakni  dalam jangka waktu 1000 tahun setelah      3 abad masa kejayaan Islam yang pertama, dan azab Ilahi yang dijanjikan Allah Swt. tersebut   berupa   Perang Dunia I dan Perang Dunia II.
       Demikian pula Perang Dunia III atau Perang Nuklir  pun sedang mengancam umat manusia, karena sekali pun Rasul Akhir Zaman  yang kedatangannya dijanjikan telah datang – yakni Mirza Ghulam Ahmad a.s. atau Masih Mau’ud a.s.   -- tetapi umumnya umat manusia tetap melakukan pendustaan dan penentangan terhadap beliau a.s., firman-Nya:
یَّوۡمَ یُنۡفَخُ فِی الصُّوۡرِ وَ نَحۡشُرُ الۡمُجۡرِمِیۡنَ  یَوۡمَئِذٍ  زُرۡقًا ﴿﴾ۚۖ یَّتَخَافَتُوۡنَ بَیۡنَہُمۡ  اِنۡ لَّبِثۡتُمۡ اِلَّا عَشۡرًا ﴿﴾ نَحۡنُ اَعۡلَمُ بِمَا یَقُوۡلُوۡنَ اِذۡ یَقُوۡلُ اَمۡثَلُہُمۡ طَرِیۡقَۃً اِنۡ لَّبِثۡتُمۡ اِلَّا یَوۡمًا ﴿﴾٪
Hari ketika  nafiri akan ditiup, dan Kami akan menghimpun orang-orang berdosa yang bermata biru pada hari itu. یَّتَخَافَتُوۡنَ بَیۡنَہُمۡ  اِنۡ لَّبِثۡتُمۡ اِلَّا عَشۡرًا --   Mereka saling berbisik-­bisik di antara mereka: "Tidaklah kamu akan  tinggal melainkan hanya sepuluh."  Kami lebih mengetahui mengenai apa yang akan mereka katakan ketika  berkata orang yang paling baik cara hidupnya  di antara mereka: "Tidaklah kamu tinggal melainkan sehari." (Thā Hā [20]:103-105).

Makna “Peniupan Nafiri” & Makna  Orang-orang yang Bermata Biru

 Makna nafiri  dalam kalimat: یَّوۡمَ یُنۡفَخُ فِی الصُّوۡرِ  -- “Hari ketika  nafiri akan ditiup” mengisyaratkan Rasul Akhir Zaman yang mengumandangkan seruan Allah Swt.  (Al-Quran) sedangkan: وَ نَحۡشُرُ الۡمُجۡرِمِیۡنَ  یَوۡمَئِذٍ  زُرۡقًا  -- “dan Kami akan menghimpun orang-orang berdosa yang bermata biru pada hari itu“ Isyarat dalam ayat ini nampaknya terutama ditujukan kepada bangsa­-bangsa Kristen dari barat yang bermata biru, dan mereka itu buta mata ruhaninya serta menyimpan rasa benci tidak kunjung padam terhadap Islam dan Nabi Besar Muhammad saw..
  Dalam surah lain “orang yang bermata biru” tersebut  dikatakan   “orang yang pada matanya  ada tutupan” (QS.18:100-102), yang tidak menghiraukan peringatan Allah Swt. dalam Al-Quran  yang disampaikan Nabi Besar Muhammad saw. mengenai rangkaian Perang Dunia yang akan menimpa mereka  (QS.18:1-9).
  Makna  "sepuluh" dalam ayat:  اِنۡ لَّبِثۡتُمۡ اِلَّا عَشۡرًا --   "Tidaklah kamu akan  tinggal melainkan hanya sepuluh"  berarti sepuluh abad. Isyarat itu ditujukan kepada sepuluh abad sesudah Hijrah, yang selama itu bangsa-bangsa Eropa hampir tetap dalam keadaan tidur (berleha-leha) belaka (QS.18:19). Baru pada permulaan abad ke-17  bangsa-­bangsa Eropa keluar dari keadaan “tidurnya” lalu mulai menyebar ke seluruh dunia serta menaklukkan berbagai kawasan  dunia   -- termasuk Hindustan dan Nusantara  serta menjajah    kawasan  Nusantara   selama 350 tahun  --  yaitu kira-kira 1000 tahun sesudah  Nabi Besar Muhammad saw.  mulai bertabligh (berda’wah)pada awal abad ke-7, sesuai dengan nubuatan dalam Bible digambarkan sebagai pelepasan sementara iblis setan, si ular tua dari masa “pemenjaraan 1000 tahun” (Wahyu 20:7-10).
   Makna thariqat al-qaum    dalam ayat: نَحۡنُ اَعۡلَمُ بِمَا یَقُوۡلُوۡنَ اِذۡ یَقُوۡلُ اَمۡثَلُہُمۡ طَرِیۡقَۃً اِنۡ لَّبِثۡتُمۡ اِلَّا یَوۡمًا  -- “Kami lebih mengetahui mengenai apa yang akan mereka katakan ketika  berkata orang yang paling baik cara hidupnya  di antara mereka: "Tidaklah kamu tinggal melainkan sehari",    berarti kaum yang terbaik atau paling lurus (Aqrab-ul-Mawarid).

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid

oo0oo
Pajajaran Anyar,  26 Januari  2017




Tidak ada komentar:

Posting Komentar