Bismillaahirrahmanirrahiim
ISLAM
Pidato Mirza Ghulam Ahmad a.s.
Tgl. 2 November 1904
di Kota Sialkote – Hindustan
Bab 4
KERAGAMAN AGAMA DAN SEKTE AGAMA BUKAN KEHENDAK
ALLAH SWT. MELAINKAN AKIBAT MELANGGAR “PERJANJIAN
NABI-NABI” DENGAN ALLAH SWT. & PERUMPAMAAN HUBUNGAN AGAMA ISLAM DENGAN AGAMA-AGAMA SEBELUMNYA
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam bagian akhir Bab 3 telah
dijelaskan topik Akibat Mengingkari “Perjanjian
Dengan Nabi-nabi” sehubungan dengan pembahasan
QS.3:82 mengenai makna مِیۡثَاقَ
النَّبِیّٖنَ – “perjanjian
nabi-nabi” dan makna مُّصَدِّقٌ -- “menggenapi”,
firman-Nya:
وَ اِذۡ اَخَذَ اللّٰہُ مِیۡثَاقَ
النَّبِیّٖنَ لَمَاۤ اٰتَیۡتُکُمۡ مِّنۡ کِتٰبٍ وَّ حِکۡمَۃٍ ثُمَّ جَآءَکُمۡ
رَسُوۡلٌ مُّصَدِّقٌ لِّمَا مَعَکُمۡ لَتُؤۡمِنُنَّ بِہٖ وَ لَتَنۡصُرُنَّہٗ ؕ
قَالَ ءَاَقۡرَرۡتُمۡ وَ اَخَذۡتُمۡ عَلٰی ذٰلِکُمۡ اِصۡرِیۡ ؕ قَالُوۡۤا
اَقۡرَرۡنَا ؕ قَالَ فَاشۡہَدُوۡا وَ اَنَا مَعَکُمۡ مِّنَ الشّٰہِدِیۡنَ ﴿﴾
Dan ingatlah ketika Allah mengambil perjanjian
dari manusia melalui nabi-nabi: لَمَاۤ اٰتَیۡتُکُمۡ مِّنۡ کِتٰبٍ وَّ حِکۡمَۃٍ ثُمَّ جَآءَکُمۡ
رَسُوۡلٌ مُّصَدِّقٌ لِّمَا مَعَکُمۡ -- “Apa
saja yang Aku berikan kepada kamu berupa Kitab dan Hikmah,
kemudian datang kepada kamu seorang
rasul yang menggenapi apa
yang ada padamu, لَتُؤۡمِنُنَّ
بِہٖ وَ لَتَنۡصُرُنَّہٗ -- kamu benar-benar harus beriman kepadanya dan kamu benar-benar harus membantunya.” قَالَ ءَاَقۡرَرۡتُمۡ وَ اَخَذۡتُمۡ عَلٰی
ذٰلِکُمۡ اِصۡرِیۡ -- Dia berfirman: “Apakah
kamu mengakui dan menerima tanggung-jawab yang Aku bebankan kepada kamu mengenai itu?” قَالُوۡۤا اَقۡرَرۡنَا -- Mereka berkata: “Kami mengakui.” قَالَ فَاشۡہَدُوۡا وَ اَنَا مَعَکُمۡ
مِّنَ الشّٰہِدِیۡنَ -- Dia
berfirman: “Maka bersaksilah dan Aku
pun beserta kamu termasuk orang-orang yang menjadi saksi.” (Āli ‘Imran [3]:82).
Pelanggaran Terhadap “Perjanjian
Nabi-nabi”
Mengenai makna ayat: لَتُؤۡمِنُنَّ بِہٖ وَ لَتَنۡصُرُنَّہٗ -- kamu
benar-benar harus beriman kepadanya dan
kamu benar-benar harus membantunya.” Jika nabi Allah itu datang memenuhi nubuatan-nubuatan dalam Kitab-kitab dari
satu kaum saja, seperti halnya dengan
Nabi Isa
Ibnu Maryam a.s. dan para nabi Bani Israil lainnya, maka
hanya kaum itu saja yang wajib menerima dan membantu beliau.
Tetapi
jika Kitab-kitab semua agama menubuatkan kedatangan seorang nabi
Allah seperti halnya mengenai Nabi
Besar Muhammad saw. maka
semua bangsa harus menerima dan beriman
kepada beliau saw., sebab Nabi Besar Muhammad saw. datang sebagai penyempurnaan nubuatan-nubuatan, bukan
hanya dari para nabi Bani Israil saja
(Yesaya 21:13-15; Ulangan 18:18; 33:2; Yohanes
14:25, 26; 16:7-13), tetapi juga nubuatan-nubuatan
dari ahli-ahli kasyaf bangsa Aria dan
ruhaniawan-ruhaniawan agama Buddha
dan Zoroaster (Syafrang Dasatir hlm. 188, Siraji Press, Delhi Yamaspi,
diterbitkan oleh Nizham Al-Masyaich, Delhi, 1330 Hijrah).
Itulah makna penegasan Allah Swt. dalam
ayat selanjutnya: قَالَ
ءَاَقۡرَرۡتُمۡ وَ اَخَذۡتُمۡ عَلٰی ذٰلِکُمۡ اِصۡرِیۡ -- Dia berfirman: “Apakah kamu mengakui dan menerima
tanggung-jawab yang Aku bebankan kepada kamu mengenai itu?” قَالُوۡۤا اَقۡرَرۡنَا -- Mereka berkata: “Kami mengakui.” قَالَ فَاشۡہَدُوۡا وَ اَنَا مَعَکُمۡ
مِّنَ الشّٰہِدِیۡنَ -- Dia
berfirman: “Maka bersaksilah dan Aku
pun beserta kamu termasuk orang-orang yang menjadi saksi.” (Āli
‘Imran [3]:82).
Namun dalam kenyataannya مِیۡثَاقَ النَّبِیّٖنَ – “perjanjian nabi-nabi” tersebut telah dilanggar oleh para pemuka kaum para rasul Allah
tersebut dan mereka bertahan dalam “agama”
mereka dan “adat-istadat leluhur” mereka, firman-Nya:
وَ اِذَا قِیۡلَ لَہُمۡ تَعَالَوۡا اِلٰی مَاۤ اَنۡزَلَ اللّٰہُ وَ اِلَی الرَّسُوۡلِ
قَالُوۡا حَسۡبُنَا مَا وَجَدۡنَا عَلَیۡہِ اٰبَآءَنَا ؕ اَوَ لَوۡ
کَانَ اٰبَآؤُہُمۡ لَا یَعۡلَمُوۡنَ شَیۡئًا وَّ لَا
یَہۡتَدُوۡنَ ﴿﴾
Dan apabila
dikatakan kepada mereka: “Marilah taat
kepada apa-apa yang diturunkan Allah dan kepada Rasul.” Mereka berkata: “Cukuplah
bagi kami apa yang kami dapati
bapak-bapak kami mengerjakannya.” Apakah walaupun bapak-bapak mereka itu tidak mengetahui sesuatu dan
tidak pula mendapat petunjuk? (Al-Maidah
[5]:105).
Dengan demikian terjawablah pertanyaan: Mengapa dalam kenyataannya
ketika Rasul Allah yang kedatangannya dijanjikan sebelumnya oleh
para rasul Allah tersebut (QS.7:335-37) benar-benar datang mereka
senantiasa didustakan dan ditentang oleh kaumnya, termasuk Nabi Besar Muhammad
saw.?
Beragam Agama Bukan Kehendak
Allah Swt. & Makna Umat Manusia
Merupakan “Satu Umat”
Dengan demikian terjawab pulalah pertanyaan
lainnya: Mengapa dalam kenyataannya di
kalangan umat manusia terdapat bermacam-macam agama dengan nama yang berlainan? Apakah itu merupakan kehendak Allah Swt. ataukah bukan? Sehubungan dengan kenyataan
tersebut Allah Swt. berfirman:
کَانَ النَّاسُ اُمَّۃً وَّاحِدَۃً ۟ فَبَعَثَ اللّٰہُ النَّبِیّٖنَ
مُبَشِّرِیۡنَ وَ مُنۡذِرِیۡنَ ۪ وَ
اَنۡزَلَ مَعَہُمُ الۡکِتٰبَ بِالۡحَقِّ
لِیَحۡکُمَ بَیۡنَ النَّاسِ فِیۡمَا اخۡتَلَفُوۡا فِیۡہِ ؕ وَ مَا اخۡتَلَفَ
فِیۡہِ اِلَّا الَّذِیۡنَ اُوۡتُوۡہُ مِنۡۢ بَعۡدِ مَا جَآءَتۡہُمُ الۡبَیِّنٰتُ
بَغۡیًۢا بَیۡنَہُمۡ ۚ فَہَدَی اللّٰہُ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا لِمَا اخۡتَلَفُوۡا
فِیۡہِ مِنَ الۡحَقِّ بِاِذۡنِہٖ ؕ وَ اللّٰہُ
یَہۡدِیۡ مَنۡ یَّشَآءُ اِلٰی
صِرَاطٍ مُّسۡتَقِیۡمٍ ﴿﴾
Manusia dahulunya
merupakan satu umat, lalu Allah
mengutus nabi-nabi sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan, dan Dia menurunkan beserta mereka Kitab dengan haq
(benar) supaya Dia menghakimi di antara
manusia dalam hal-hal yang mereka perselisihkan, وَ مَا اخۡتَلَفَ
فِیۡہِ اِلَّا الَّذِیۡنَ اُوۡتُوۡہُ مِنۡۢ بَعۡدِ مَا جَآءَتۡہُمُ الۡبَیِّنٰتُ
بَغۡیًۢا بَیۡنَہُمۡ -- dan sekali-kali
tidak ada yang memperselisihkannya kecuali orang-orang
yang diberi Alkitab itu sesudah Tanda-tanda
yang nyata datang kepada mereka, karena
kedengkian di antara mereka. فَہَدَی اللّٰہُ
الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا لِمَا اخۡتَلَفُوۡا فِیۡہِ مِنَ الۡحَقِّ بِاِذۡنِہٖ -- Lalu Allah dengan izin-Nya telah memberi petunjuk
orang-orang yang beriman kepada kebenaran
yang mereka perselisihkan itu, وَ اللّٰہُ یَہۡدِیۡ مَنۡ یَّشَآءُ اِلٰی صِرَاطٍ مُّسۡتَقِیۡمٍ -- dan Allah memberi petunjuk kepada siapa yang
Dia kehendaki ke jalan yang lurus. (Al-Baqarah [2]:214).
Sebelum kedatangan seorang nabi Allah semua orang adalah laksana satu umat (kaum), dalam arti bahwa
mereka semua orang-orang kafir, sebab
tujuan pengutusan nabi (rasul) Allah adalah untuk
memberi petunjuk kepada mereka agar mereka tidak lagi berada dalam kesesatan atau kegelapan akhlak dan ruhani.
Tetapi apabila seorang nabi Allah
muncul, sekali pun mereka itu di
kalangan mereka sendiri satu sama lain berbeda
faham dalam hal kekafiran dan kemusyrikan
yang mereka lakukan, mereka itu merupakan satu barisan dalam melakukan perlawanan
kepada nabi Allah tersebut.
Ungkapan کَانَ النَّاسُ اُمَّۃً وَّاحِدَۃً -- “umat
manusia adalah satu umat” atau
kata-kata yang serupa dipakai pada tujuh tempat dalam Al-Quran selain dalam
ayat ini. Dalam QS.10:20, QS.21:93 dan
QS.23:53 ungkapan itu berarti “kesatuan
nasional”, dan dalam QS.5:49; QS.16:94; QS.42:9; QS.43:34 dan dalam ayat
ini berarti “mempunyai identitas yang sama dalam pikiran.”
“Perselisihan” yang tersebut dalam ayat
ini pada dua tempat terpisah
menunjukkan dua macam ketidaksepahaman
yang berlain-lainan. Sebelum kedatangan seorang nabi Allah orang-orang berselisih di antara mereka sendiri
mengenai perbuatan musyrik mereka.
Tetapi sesudah nabi Allah itu muncul
mereka mulai berselisih mengenai dakwahnya. Jadi, nabi Allah tidak menimbulkan perselisihan karena sebenarnya perselisihan
telah ada hanya saja sesudah
kedatangannya perselisihan itu
mengambil bentuk baru.
Sebelum seorang nabi Allah datang orang-orang meskipun berselisih paham
antara satu sama lain, mereka nampaknya seperti satu kaum, dan mereka mulai terpisah menjadi dua blok yang sangat berbeda — yaitu orang-orang yang beriman dan orang-orang kafir — sesudah nabi Allah itu datang.
Lima Tingkatan yang
Dilalui Umat Manusia & Pewahyuan Al-Quran
Secara Bertahap
Dipandang secara kolektif surah Al-Baqarah
ayat 214 menggambarkan lima tingkat berlainan yang telah
dilalui umat manusia:
(1) Mula-mula ada kesatuan di antara manusia semuanya
merupakan satu umat.
(2) Dengan bertambahnya
penduduk dan meluasnya kepentingan
mereka dan kian ruwetnya masalah-masalah yang dihadapi mereka,
mereka mulai berselisih antara satu
sama lain.
(3) Kemudian Allah Swt. membangkitkan nabi-nabi-Nya dan mewahyukan
kehendak-Nya untuk memutuskan perselisihan mereka (QS.3:180; QS.72:27-29).
(4) Setiap wahyu-baru dijadikan sebab kekacauan dan pertikaian, terutama oleh kaum
yang kepadanya Amanat Ilahi
dialamatkan.
(5) Akhirnya
Allah Swt. membangkitkan Nabi Besar Muhamad saw. dengan mewahyukan Kitab-Nya
yang terakhir dan tersempurna -- beserta ajaran
yang universal, berseru kepada
seluruh umat manusia untuk berkumpul
di sekitar panjinya.
Dengan demikian lingkaran telah bertemu dan dunia yang mulai dengan “kesatuan” ditakdirkan untuk berakhir
dalam kesatuan yang bersifat universal, sebagaimana firman-Nya
kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
وَ مَاۤ اَرۡسَلۡنٰکَ اِلَّا رَحۡمَۃً لِّلۡعٰلَمِیۡنَ ﴿﴾ قُلۡ اِنَّمَا یُوۡحٰۤی اِلَیَّ اَنَّمَاۤ اِلٰـہُکُمۡ اِلٰہٌ وَّاحِدٌ ۚ
فَہَلۡ اَنۡتُمۡ مُّسۡلِمُوۡنَ ﴿﴾
Dan Kami sekali-kali tidak mengutus engkau melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam. Katakanlah: “Sesungguhnya telah diwahyukan kepadaku,
bahwasanya Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Esa, maka kepada-Nya hendaknya kamu berserah
diri” (Al-Anbiya [21]:108-109).
Nabi Besar Muhammad saw. adalah pembawa rahmat untuk seluruh umat manusia, sebab amanat beliau saw. tidak terbatas kepada suatu negeri atau kaum tertentu (QS.7:159; QS.25:2; QS.34:29). Dengan perantaraan
beliau saw. bangsa-bangsa dunia telah
diberkati, seperti belum pernah
mereka diberkati sebelum itu.
Sebagaimana halnya pewahyuan syariat hingga mencapai syariat terakhir dan tersempurna dalam wujud agama Islam (Al-Quran – QS.5-4 sesuai Sifat Rububiyat-Nya dilakukan
secara bertahap, demikian pula halnya dengan pewahyuan Al-Quran pun dilakukan Allah Swt. secara bertahap pula,
firman-Nya:
وَ قَالَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا لَوۡ
لَا نُزِّلَ عَلَیۡہِ الۡقُرۡاٰنُ جُمۡلَۃً وَّاحِدَۃً ۚۛ کَذٰلِکَ ۚۛ لِنُثَبِّتَ
بِہٖ فُؤَادَکَ وَ رَتَّلۡنٰہُ تَرۡتِیۡلًا ﴿﴾وَ لَا
یَاۡتُوۡنَکَ بِمَثَلٍ اِلَّا جِئۡنٰکَ بِالۡحَقِّ وَ اَحۡسَنَ تَفۡسِیۡرًا ﴿ؕ﴾
Dan orang-orang
kafir berkata: “Mengapa Al-Quran tidak diturunkan kepadanya
seluruhnya sekali-gus? Seperti itulah Kami telah menurunkannya supaya Kami
meneguhkan hati engkau dengannya, dan Kami telah menyusunnya dalam susunan yang sebaik-baiknya. (Al-Furqān [25]:33)
Al-Quran diwahyukan Allah Swt. kepada
Nabi Besar Muhammad saw. sedikit-sedikit
atau secara bertahap dan pada waktu yang terpisah-pisah.
Hal ini dimaksudkan untuk memenuhi beberapa tujuan
tertentu yang sangat berguna:
(a) waktu selang antara wahyu berbagai bagian, memberikan
kesempatan kepada orang-orang beriman
untuk menyaksikan sempurnanya
beberapa nubuatan yang terkandung di
dalam bagian yang sudah diwahyukan,
dengan demikian keimanan mereka
menjadi teguh dan kuat. Tambahan pula hal itu dimaksudkan
untuk menjawab keberatan-keberatan
yang dilancarkan oleh orang-orang kafir dalam
waktu selang itu.
(b) Bila orang-orang Muslim memerlukan petunjuk pada kejadian tertentu untuk memenuhi keperluan tertentu maka ayat-ayat
yang diperlukan dan bersangkut-paut dengan hal itu diturunkan.
Wahyu Al-Quran terpencar sepanjang masa 23 tahun, agar para sahabat Nabi Besar Muhammad saw. dapat menghafalkan, mempelajari,
dan menyesuaikan diri. Seandainya wahyu Al-Quran diturunkan sekaligus dalam bentuk sebuah kitab yang lengkap, maka orang-orang
kafir dapat mengatakan (menuduh) bahwa Nabi Besar Muhammad saw. telah menyuruh seseorang menyiapkannya
(QS.10:38-39; QS.25:5-7).
Dengan demikian turunnya (diwahyukan-Nya) Al-Quran kepada Nabi Besar Muhammad saw. secara bertahap
pada waktu-waktu yang berlainan, pada kesempatan-kesempatan yang berlainan, dan
di dalam keadaan-keadaan yang jauh sekali berbeda, menjawab keberatan yang mungkin timbul. Al-Quran diturunkan sebagian
demi sebagian agar supaya dapat dihafalkan
di luar kepala dengan mudah. Diturunkannya Al-Quran sedikit-demi sedikit
memenuhi juga nubuatan dalam Bible
seperti berikut:
“Maka siapa gerangan diajarkannya pengetahuan? dan siapa diartikannya
barang yang kedengaran itu? Kanak-kanak
yang baharu lepas susukah? kanak-kanak
yang baharu diceraikan dari susu emaknya?
Karena adalah hukum bertambah hukum dan
hukum bertambah hukum, syarat bertambah syarat dan syarat bertambah syarat, di
sini sedikit, di sana sedikit” (Yesaya
28:9-10).
Dengan kata lain, proses penyempurnaan hukum syariat hingga mencapai puncak
kesempurnaannya dalam wujud Al-Quran
(agama Islam) yang diwahyukan Allah
Swt. kepada Nabi Besar Muhammad saw. secara bertahap
tersebut sejalan dengan proses
perkembangan tubuh jasmani seorang manusia
mulai dari bayi hingga mencapai puncak kedewasaannya -- baik dari segi jasmani mau pun dari segi ruhani -- sehingga layak dikatakan sebagai wujud seorang manusia yang sempurna.
Hubungan Agama Islam (Al-Quran) Dengan Agama-agama
Sebelumnya
Untuk memudahkan pemahaman uraian sebelumnya, perumpamaan hubungan agama Islam dengan agama-agama yang diwahyukan
sebelumnya adalah seperti proses perkembangan tubuh
jasmani seorang manusia, yaitu
ketika masih bayi dan ketika ia telah
mencapai kedewasaannya.
Struktur tubuh seorang manusia ketika masih bayi
dengan struktur tubuhnya setelah dewasa tetap sama,
tidak ada yang hilang tidak ada yang bertambah, yang berbeda
hanyalah kesempurnaan ukurannya dan kualitas kemampuannya dengan segala eksesorisnya untuk melengkapi kedewasaannya.
Mengisyaratkan
kepada kenyataan itulah adanya persamaan
beberapa permasaan pokok antara agama
Islam dengan agama-agama yang
diwahyukan sebelumnya, yakni:
(1) penunaikan hak-hak dan kewajiban terhadap Tuhan Pencipta alam semesta (huququllah/hablun- minanllāh);
(2)
penunaian hak-hak dan kewajiban terhadap sesama makhluk Allah (huququl-‘ibad/hablun-
minannās).
Dua pokok ajaran semua agama tersebut dalam Al-Quran tergambar
dalam perintah Allah Swt. “Dirikanlah shalat dan bayarlah zakat” (QS.2:44 & 111;
QS.73:21; QS.51:57-59).
Dari perumpamaan
tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa hubungan
antara agama Islam (Al-Quran) dengan agama-agama sebelumnya – terutama dengan
Taurat dan Injil -- bukan seperti suatu bidang yang terbagi-bagi (terkotak-kotak) sebagaimana umumnya keliru difahami, melainkan adanya seperti hubungan fase-fase
perkembangan (pertumbuhan) sebuah pohon mulai dari sebutir benih sampai menjadi sebuah pohon
besar, atau seperti perkembangan manusia
mulai dari keadaan bayi hingga menjadi manusia dewasa.
Mengisyaratkan kepada kenyataan itulah firman Allah Swt. berikut ini:
مَا نَنۡسَخۡ مِنۡ اٰیَۃٍ اَوۡ نُنۡسِہَا نَاۡتِ بِخَیۡرٍ مِّنۡہَاۤ اَوۡ مِثۡلِہَا ؕ اَلَمۡ تَعۡلَمۡ اَنَّ
اللّٰہَ عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ قَدِیۡرٌ ﴿﴾
Ayat mana pun yang Kami mansukhkan yakni batalkan atau Kami biarkan terlupa, maka Kami
datangkan yang lebih baik darinya atau yang
semisalnya. Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguh-nya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu? (Al-Baqarah [2]:107)
Kata ayah dalam ayat مَا نَنۡسَخۡ مِنۡ اٰیَۃٍ اَوۡ نُنۡسِہَا -- “Ayat
mana pun yang Kami mansukhkan yakni batalkan atau Kami biarkan terlupa” tidak hanya merujuk ayat Al-Quran, melainkan
juga berarti: pesan, tanda, perintah atau ayat Al-Quran (Lexicon Lane).
Ada kekeliruan
dalam mengambil kesimpulan dari ayat ini bahwa beberapa ayat Al-Quran telah dimansukhkan
(dibatalkan). Kesimpulan itu jelas salah dan tidak beralasan. Tidak ada sesuatu
dalam ayat ini yang menunjukkan bahwa kata āyah itu maksudnya ayat-ayat
Al-Quran, sebab akan bertentangan
dengan pernyataan Allah Swt. bahwa agama Islam dan Al-Quran merupakan agama
dan Kitab suci terakhir dan tersempurna (QS.5:4) yang mendapat jaminan pemeliharaan Allah Swt. hingga Hari Kiamat (QS.15:10).
Dalam ayat sebelum dan sesudahnya telah disinggung mengenai Ahlul Kitab dan kedengkian mereka terhadap wahyu
baru, yang menunjukkan bahwa makna āyah yang disebut dalam ayat ini
sebagai mansukh (batal) menunjuk kepada wahyu-wahyu (syariat-syariat) terdahulu, karena keadaannya seperti
“pakaian” anak kecil --
yang selain ukurannya kecil juga segala sesuatunya sangat sederhana -- sehingga
ketika si bayi
telah menjadi seorang dewasa maka “pakaian kecilnya” tersebut tidak
mungkin dipakai lagi -- kecuali terlebih dulu dilakukan berbagai perombakan total
terhadap “pakaian kecilnya” tersebut
– dan harus dibuat pakaian baru yang dalam segala
sesuatunya benar-benar sempurna, yakni syariat Islam (Al-Quran – QS.5:4).
Dijelaskan
dalam ayat tersebut bahwa Kitab Suci
terdahulu mengandung dua macam perintah:
(a) yang menghendaki
penghapusan karena keadaan sudah
berubah dan karena keuniversilan
wahyu baru itu menghendaki pembatalan;
(b) yang mengandung kebenaran kekal-abadi, atau memerlukan penyegaran kembali sehingga orang dapat diingatkan kembali akan kebenaran yang terlupakan, karena itu perlu sekali menghapuskan bagian-bagian tertentu Kitab-kitab Suci itu dan mengganti
dengan perintah-perintah baru dan pula menegakkan
kembali perintah-perintah yang sudah hilang, maka Allah Swt. menghapuskan
beberapa bagian wahyu-wahyu
terdahulu, menggantikannya dengan yang baru dan lebih baik, dan di samping itu memasukkan
lagi bagian-bagian yang hilang atau sengaja
dihilangkan dengan yang sama.
Kecuali Agama Islam,
Agama-agama Sebelumnya Tidak Mendapat Jaminan
Pemeliharaan Allah Swt.
Itulah arti yang sesuai dan cocok dengan konteks (letak) ayat ini
dan dengan jiwa umum ajaran Al-Quran: مَا نَنۡسَخۡ مِنۡ اٰیَۃٍ اَوۡ نُنۡسِہَا نَاۡتِ بِخَیۡرٍ مِّنۡہَاۤ
اَوۡ مِثۡلِہَا
-- “Ayat mana pun yang Kami
mansukhkan yakni batalkan atau Kami biarkan terlupa, maka Kami datangkan yang lebih baik darinya
atau yang semisalnya.“
Al-Quran telah membatalkan semua Kitab Suci sebelumnya, sebab — mengingat keadaan umat manusia dan keadaan perkembangan zaman dengan segala kemajuannya
telah berubah — Al-Quran membawa syariat baru yang bukan saja lebih baik daripada semua syariat lama, tetapi ditujukan pula kepada seluruh umat manusia dari semua zaman.
Karena itu sudah sewajarnya ajaran yang
lebih rendah dengan lingkup tugas
yang terbatas harus memberikan tempatnya
kepada ajaran yang lebih baik dan lebih tinggi dengan lingkup tugas universal, yaitu
agama Islam (Al-Quran).
Dalam ayat ini kata nansakh (Kami membatalkan) bertalian dengan
kata bi-khairin (yang lebih baik), dan kata nunsiha (Kami biarkan
terlupakan) bertalian dengan kata bi-mitslihā (yang semisalnya),
maksudnya bahwa jika Allah Swt. menghapuskan sesuatu maka Dia menggantikannya dengan yang lebih baik, dan jika untuk sementara
waktu Dia membiarkan sesuatu dilupakan
orang lalu Dia menghidupkannya kembali pada waktu yang lain.
Diakui oleh ulama-ulama Yahudi
sendiri bahwa sesudah bangsa Yahudi diangkut
sebagai tawanan ke Babil oleh Nebukadnezar pada waktu penghukuman
Allah Swt. yang pertama (QS.2:260; QS.17:5-9) akibat kedurhakaan mereka sehingga mendapat kutukan Nabi Daud a.s. (QS.5:79) seluruh
Taurat (lima Kitab Nabi Musa a.s..)
telah hilang (Encyclopaedia Biblica),
dan disusun ulang oleh Nabi Uzair a.s. (Ezra – QS.9:30) bersama Nehemya
di Babil (Yewish Encyclopaedia
& Encyclopaedia Biblica).
Pendek kata, pada hakikatnya agama-agama yang diturunkan sebelum agama Islam (Al-Quran) -- yang diwahyukan Allah Swt. kepada Nabi Besar Muhammad saw., agama-agama tersebut tidak mempunyai nama apa pun, Allah Swt.
hanya menyebutkan bahwa di hadirat-Nya agama-agama
tersebut adalah “Islam” (QS.3:20),
firman-Nya:
اِنَّ الدِّیۡنَ عِنۡدَ اللّٰہِ
الۡاِسۡلَامُ ۟ وَ مَا اخۡتَلَفَ الَّذِیۡنَ اُوۡتُوا الۡکِتٰبَ اِلَّا مِنۡۢ
بَعۡدِ مَا جَآءَہُمُ الۡعِلۡمُ بَغۡیًۢا بَیۡنَہُمۡ ؕ وَ مَنۡ یَّکۡفُرۡ
بِاٰیٰتِ اللّٰہِ فَاِنَّ اللّٰہَ سَرِیۡعُ
الۡحِسَابِ ﴿﴾
Sesungguhnya
agama yang benar di sisi Allah adalah Islam, dan sekali-kali tidaklah berselisih orang-orang yang diberi Kitab
melainkan setelah ilmu datang kepada
mereka karena kedengkian di antara
mereka. Dan barang-siapa kafir
kepada Tanda-tanda Allah maka sesungguhnya
Allah sangat cepat dalam meng-hisab. (Āli ‘Imran [3]:20).
Semua Agama Yang Benar
Mengajarkan Tauhid Ilahi
Semua agama senantiasa menanamkan kepercayaan Tauhid Ilahi dan kepatuhan
kepada kehendak-Nya (aslama/muslim –
QS.2:129 & 131-132), namun demikian hanya dalam agama Islam sajalah paham kepatuhan kepada kehendak
Ilahi mencapai kesempurnaan,
sebab kepatuhan sepenuhnya meminta pengejewantahan penuh Sifat-sifat Allah Swt. dan
hanya pada Islam (Al-Quran) ajalah pengenjewantahan demikian telah terjadi.
Jadi dari semua tatanan keagamaan hanya Islam sajalah yang berhak disebut agama Tuhan pribadi (agama Allah) dalam
arti yang sebenarnya. Semua agama yang
benar, lebih atau kurang, dalam bentuknya yang asli adalah agama Islam, sedang para
pengikut agama-agama itu adalah Muslim
dalam arti kata secara harfiah, tetapi
nama Al-Islam tidak
diberikan sebelum tiba saat bila agama menjadi lengkap dalam segala ragam
seginya, karena nama itu
dicadangkan untuk syariat yang terakhir
dan mencapai kesempurnaan dalam Al-Quran (QS.2:3) barulah Allah Swt. memberikan nama “Islam” kepada “agama sempurna” tersebut (QS.5:4)
dan menyebut pengikutnya dengan nama
“Muslim”,
sebagaimana firman-Nya:
اَلۡیَوۡمَ اَکۡمَلۡتُ لَکُمۡ دِیۡنَکُمۡ وَ
اَتۡمَمۡتُ عَلَیۡکُمۡ نِعۡمَتِیۡ وَ رَضِیۡتُ لَکُمُ الۡاِسۡلَامَ دِیۡنًا
Hari ini telah Ku-sempurnakan agama kamu bagimu, telah
Kulengkapkan nikmat-Ku atas kamu, dan telah
Kusukai Islam sebagai agama bagi kamu.
(Al-Māidah
[5]:4).
Ikmāl
(menyempurnakan) dan itmām (melengkapkan) merupakan akar-akar kata
(masdar), yang pertama berhubungan dengan kaifiat (kualitas) dan yang
kedua berhubungan dengan kammiat (kuantitas). Kata yang pertama (itmām) menunjukkan bahwa ajaran-ajaran serta perintah-perintah mengenai pencapaian kemajuan jasmani, ruhani, dan akhlak manusia telah terkandung dalam
Al-Quran dalam bentuk yang paripurna;
sedang yang kedua (akmal) menunjukkan
bahwa tidak ada suatu keperluan
manusia yang lepas dari perhatian (diabaikan).
Kata yang pertama (itmām) berhubungan dengan
perintah-perintah yang bertalian dengan segi fisik atau keadaan lahiriah
manusia, sedang yang kedua (akmal) berhubungan
dengan segi ruhaniah dan batiniahnya.
Penyempurnaan dan pelengkapan agama dan nikmat Allah disebut dalam QS.5:4 berdampingan dengan hukum yang berlaku bertalian dengan makanan-makanan untuk menjelaskan bahwa penggunaan makanan yang halal dan thayyib merupakan salah satu dasar yang amat penting
untuk menumbuh-kembangkan nilai akhlak yang baik dan pada gilirannya memberi dasar tempat-berpijak guna mencapai kemajuan ruhani. Itulah sebabnya Allah Swt. telah berfirman:
وَ مَنۡ یَّبۡتَغِ غَیۡرَ الۡاِسۡلَامِ دِیۡنًا
فَلَنۡ یُّقۡبَلَ مِنۡہُ ۚ وَ ہُوَ فِی الۡاٰخِرَۃِ مِنَ الۡخٰسِرِیۡنَ ﴿﴾ کَیۡفَ یَہۡدِی
اللّٰہُ قَوۡمًا کَفَرُوۡا بَعۡدَ
اِیۡمَانِہِمۡ وَ شَہِدُوۡۤا اَنَّ الرَّسُوۡلَ حَقٌّ وَّ جَآءَہُمُ الۡبَیِّنٰتُ
ؕ وَ اللّٰہُ لَا یَہۡدِی الۡقَوۡمَ
الظّٰلِمِیۡنَ ﴿﴾
Dan barangsiapa
mencari agama yang bukan agama
Islam, maka agama itu tidak akan pernah diterima darinya, dan di akhirat ia termasuk orang-orang yang rugi. کَیۡفَ یَہۡدِی اللّٰہُ
قَوۡمًا کَفَرُوۡا بَعۡدَ اِیۡمَانِہِمۡ -- Bagaimana mungkin Allah akan memberi petunjuk kepada suatu kaum yang kafir setelah mereka beriman, وَ شَہِدُوۡۤا اَنَّ الرَّسُوۡلَ حَقٌّ وَّ جَآءَہُمُ
الۡبَیِّنٰتُ -- dan
mereka telah menjadi saksi pula
bahwa sesungguhnya rasul itu benar, dan juga telah datang kepada mereka bukti-bukti yang nyata? وَ
اللّٰہُ لَا یَہۡدِی الۡقَوۡمَ
الظّٰلِمِیۡنَ -- Dan Allah
tidak memberi petunjuk kepada kaum
yang zalim. (Ali ‘Imran [3]:86-87).
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran Anyar,
22 Januari 2017
Tidak ada komentar:
Posting Komentar