Selasa, 07 Maret 2017

Berbagai "Karya-tulis" Masih Mau'ud a.s. yang Bergelar "Sulthan-ul-Qalam" (Raja Pena) Bagaikan Tebasan "Pedang Dzulfiqar" di Tangan Ali bin Abi Thalib r.a.





Bismillaahirrahmaanirrahiim

  ISLAM
Pidato  Mirza Ghulam Ahmad a.s.
Tgl. 2 November 1904 di Kota Sialkote – Hindustan

Bab  36

BERBAGAI KARYA-TULIS MASIH MAU’UD A.S.  YANG BERGELAR  SULTHAN-UL-QALAM” (RAJA PENA)   BAGAIKAN  TEBASAN  PEDANG DZULFIQAR” DI TANGAN   ALI BIN ABI THALIB R.A  

Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam bagian akhir Bab 34 telah dijelaskan  topik     Kemuliaan Martabat Ruhani Nabi Besar Muhammad Saw. & Pengutusannya yang Kedua Kali di Akhir Zaman  Dalam Wujud Masih Mau’ud a.s., sehubungan firman Allah Swt. mengenai penyelamatan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. setelah peristiwa penyaliban yang beliau alami, firman-Nya:
وَ جَعَلۡنَا ابۡنَ مَرۡیَمَ وَ اُمَّہٗۤ  اٰیَۃً وَّ اٰوَیۡنٰہُمَاۤ  اِلٰی رَبۡوَۃٍ  ذَاتِ قَرَارٍ وَّ مَعِیۡنٍ ﴿٪﴾
Dan Kami menjadikan  Ibnu Maryam dan ibunya suatu Tanda, dan Kami melindungi keduanya ke suatu dataran yang tinggi yang memiliki   lembah-lembah hijau  dan    sumber-sumber mata air yang  mengalir.  (Al-Mu’minun [23]:51).

Kuburan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. di Srinagar – Kasymir

     (3) Bukti-bukti tersebut cukup menjadi saksi untuk menunjukkan kenyataan, bahwa  Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.  sungguh-sungguh datang ke Kasymir dan orang-orang Kasymir adalah keturunan "Sepuluh Suku Bani Israil yang Hilang”. Tetapi bukti terbesar dan paling terang mengenai kedatangan  Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. ke Kasymir dan telah tinggal dan wafat di sana adalah adanya kuburan beliau di kampung Khanyar, Srinagar, Kasymir. Kuburan yang disebut Rauzabal itu. dikenal dengan berbagai sebutan, yaitu: kuburan Yus Asaf, kuburan Nabi Sahib (Baginda Nabi), kuburan Syahzadah Nabi (Nabi Pangeran), dan bahkan kuburan Isa Sahib (Baginda Isa).
       Menurut penuturan sejarah  yang telah terbukti sahnya, Yus Asaf datang ke Kasymir lebih dari 1900 tahun lampau dan mengajar dengan memakai tamsil (perumpamaan) dan mempergunakan banyak tamsil-tamsil yang tercantum dalam Injil.  Dalam sebagian buku sejarah tertentu  beliau digambarkan sebagai seorang nabi. Tambahan pula Yus Asaf  itu suatu nama dalam Bible, yang berarti "Yasu” yaitu ”pengumpul" yang merupakan salah satu nama sifat Yesus, sebab tugas  beliau adalah mengumpulkan suku-suku Bani Israil yang telah hilang (sesat) ke pangkuan “Majikannya”, sebagaimana beliau sendiri katakan:
 "Ada lagi padaKu domba lain yang bukan masuk kandang domba ini, maka sekalian itu juga wajib Aku bawa, dan domba-domba itu kelak mendengar akan seruanku,  lalu akan menjadi sekawan, dan gembala seorang sahaja" (Injil Yohanes 10:16).
  Kutipan-kutipan yang bernilai sejarah seperti berikut memberi juga sedikit penjelasan mengenai masalah ini:
"Makam itu pada umumnya dikenal sebagai makam seorang nabi. Beliau seorang pangeran yang datang ke Kasymir dari sebuah negeri asing dan giat dalam mengajar orang-orang Kasymir, Namanya Yus Asaf” (Tarikh A'zhami, hlm.  82-85).    
"Yus Asaf mengembara di beberapa negeri  hingga beliau tiba di sebuah negeri  yang disebut Kasymir. Beliau menjelajah seluruh negeri tersebut dan tinggal di sana hingga beliau wafat" (Ikmal-ad-Din, hlm. 258-359).
"Hikayat Kasymir itu — demikian diberitahukan kepada sava — menyebut­kan seorang  nabi  yang tinggal di sana dan memberikan pelajaran seperti dilakukan oleh Yesus dengan tamsil-tamsil dan kisah-kisah pendek, yang sampai saat ini dituturkan orang di Kasymir  (John Noel's Article in Asia. Oct. 1930).
"Oleh sebab itu kepergian   Isa   a.s.  ke India dan wafat di Srinagar tidak bertentangan dengan kebenaran, baik dari segi akal atau sejarah" (Tafsir Al­-Manar, jilid 6).

Buku “Al-Masih di Hindustan” Karya Masih Mau’ud a.s. & Kesaksian Al-Quran

Tetapi kupasan yang lebih baik dan lebih lengkap mengenai masalah ini  lihat buku "Masih Hindustan Mein" ditulis oleh Mirza Ghulam  Ahmad a.s. -- Masih Mau'ud a.s..  Lihat pula buku terkenal bernama "Nazarene Gospel Restored” yang pengarangnya berpendapat bahwa sekalipun secara resmi disalibkan pada tahun 30 Masehi namun Yesus masih hidup selama 20 tahun sesudah kebangkitannya kembali.
Tidak mungkin ada lukisan lebih bagus mengenai tempat di mana sesudah beliau terhindar dari kematian terkutuk di atas salib, Nabi Isa a.s. dan ibunda beliau  tinggal  dengan aman-sentausa dan pulang ke rahmatullāh, daripada yang dikemukakan oleh Al-Quran  dalam kata-kata "dataran yang tinggi yang memiliki lembah-lembah hijau dan sumber-sumber air yang mengalir" yang merupakan lukisan yang sangat tepat mengenai  Lembah Kasymir yang indah itu. Nicholas Notovitch menamakan Kasymir "Lembah Kebahagiaan Abadi".
         Bersamaan dengan itu di anak-benua India pun bermunculan kelompok-kelompok Neo-Hindu yang gencar menghadapi perkembangan zaman. Diantaranya yang paling militan dan agressif adalah sekte Arya Samaj  yang didirikan pertama kali pada tahun 1875 di Bombay oleh  Swami Dayananda Saraswati (1824-1883). Ini adalah suatu gerakan yang ingin mengembalikan  kemurnian agama Hindu dan menampilkannya sebagai suatu kebanggaan nasional India.
        Swami Dayananda Saraswati ini mulai mengembangkan ajaran Neo-Hindu-nya sejak tahun 1865.    Alirannya banyak menentang pemahaman-pemahaman Hindu Brahma yang ortodox. Selain itu mereka melancarkan serangan besar-besaran terhadap Kristen maupun Islam.
       Swami Dayananda Saraswati yang digelari "Hindu Luther" oleh penentangnya, juga menulis sebuah 'Bible' Arya Samaj yang bernama Satyarth Prakash, yang berisikan penafsiran (terapan-terapan) ayat Veda yang menggambarkan sikap Hindu terhadap agama-agama lainnya dan terhadap permasalahan-permasalahan sosial kontemporer.
     Sekte ini berkembang menjamur di India dengan cepat, khususnya di wilayah Punjab. (Lihat: The Raj, India & the British 1600-1947, C.A.Bayly, National Potrait Gallery Publications, London, 1990, p. 305-306; Life of Ahmad, A.R.Dard, Tabshir Publication, 1948,vol.l,h.61; Arya Dharm: Hindu consciousness in 19th century Punjab, Kenneth WJones,  Univercity of California Press, Berkeley and Los Angeles, 1976; Prophecy Continuous, Yohanan Friedmann, University of California Press, 1989, foot note p.4)
       Dalam keadaan  umat Islam tidak berdaya seperti itulah Mirza Ghulam Ahmad     memanfaatkan system demokrasi yang dianut  pemerintah kerajaan Inggris -- yang memberikan kebebasan berpendapat dan mengemukakan pikiran --   untuk melakukan syiar Islam serta menjawab berbagai tuduhan dusta serta fitnah yang ditujukan kepada kesempurnaan agama Islam dan kesucian  Nabi Besar Muhammad saw., baik melalui dialog secara lisan mau pun tulisan.

Mengangkat “Senjata Pena” Membela Kesucian Islam (Al-Quran) dan Nabi Besar Muhammad Saw.

      Jihad  di jalan Allah” melalui pena  yang  dilakukan Mirza Ghulam Ahmad membuat arah “tiupan arah angin” berbalik mengarah kepada para penentang Islam,  dan mereka sama sekali tidak berdaya menjawab  dalil-dalil akal mau pun Al-Quran yang dikemukakan Mirza Ghulam Ahmad, terutama melalui buku “Barāhin-e-Ahmadiyya” (Bukti-bukti Kebenaran Islam) yang sangat monumental dan mendapat pujian  dari   kalangan pemuka Muslim  di Hindustan. Kondisi Islam pada saat itu benar-benar menyedihkan. Di satu sisi gerakan Kristenisasi sedang  gencar  gencarnya berjalan di India dan menarik ratusan ribu orang masuk ke dalam agama  Kristen dan di sisi lain serangan-serangan pihak Hindu terhadap Islam, Al-Quran dan terhadap  wujud suci Nabi Besar Muhammad   saw.. 
       Kondisi inilah yang banyak mewarnai kehidupan awal  Mirza Ghulam Ahmad.    Beliau banyak menelaah literatur-literatur yang berkaitan dengan agama-agama tersebut. Beliau  secara personal banyak terlibat dalam upaya-upaya untuk membela Islam dari serangan-serangan  di kedua arah tersebut. Disamping itu beliau sendiri mengalami perkembangan ruhaniah. 
      Sejak tahun 1872  Mirza Ghulam Ahmad  sudah giat membela Islam membalas serangan-serangan dari kelompok Kristen dan kelompok Hindu khususnya Arya Samaj dan Brahmu Samaj. Beliau banyak menulis artikel-artikel berkenaan dengan itu di berbagai media massa. Antara lain  jurnal “Manshur Muhammadi“ yang terbit dari Bangalore, Maysore, India Selatan, setiap 10 hari sekali. Kemudian pada beberapa surat-kabar yang terbit dari Amritsar a.l: Wakil; Safir Hind; Widya Prakash; dan Riaz Hind. Demikian pula pada Brother Hind (Lahore), Aftab Punjab (Lahore), Wazir Hind (Sialkot), Nur Afshan (Ludhiana) dan Isyaatus-Sunnah (Batala). Begitu juga pada Akhbar-e-Aam (Lahore). (Lihat: Ahmadiyyat, The Renaissance of Islam, Muhammad Zafrullah Khan, Tabshir Publications, London,1978,h.l6; Life of Ahmad, A.R.Dard, Tabshir Publication, 1948,vol.l,h.63). 

Buku “Barāhin-i Ahmadiyyah  

      Melihat serangan terhadap Islam semakin menjadi-jadi, dan tidak ada upaya berarti yang  dilakukan oleh pemuka-pemuka Islam, maka berdasarkan bimbingan dari Allah Ta'ala,  Mirza  Ghulam Ahmad mulai menulis buku Barahiin Ahmadiyya. Jilid 1 dan 2 diterbitkan pada tahun  1880; jilid 3 terbit pada tahun 1882; dan jilid 4 pada tahun 1884. Intinya beliau memaparkan  bukti-bukti keunggulan dan hidupnya agama Islam serta ketinggian (kemuliaan) Kitab Suci Al-Quran dan Rasulullah saw. sebagai perbandingan dengan agama Hindu, Kristen dan agama-agama lainnya.
       Pada jilid pertama beliau lebih memfokuskan pada balasan serangan terhadap ajaran Arya Samaj yang menghina Rasulullah saw., Nabi Isa a.s., dan Nabi Musa a.s. serta yang menuduh kitab-kitab  suci para nabi  tersebut   adalah palsu. Disamping itu beliau menyerang akidah Arya Samaj yang  menyatakan bahwa ruh tidak diciptakan oleh Tuhan, melainkan telah ada dengan sendirinya sejak  awal-permulaan. (Barāhin Ahmadiyyah; Ruhani Khazain vol.l,h.72; Life of Ahmad, A.R.Dard,  Tabshir Publication, 1948,vol.l,h.70). 
       Jilid kedua masih berkenaan dengan akidah-akidah Arya Samaj. Kemudian mengenai kedudukan  dan perlunya wahyu. Mengenai keunggulan Kitab Suci Al-Quran atas kitab-kitab agama lainnya.  Dan juga beliau menekankan kaidah dasar pembuktian kebenaran suatu agama yang harus  berdasarkan pada kitab suci yang diakui oleh agama itu sendiri. 
       Pada jilid ketiga beliau merinci keindahan dan kemuliaan Al-Quran. Beliau menjawab serangan-serangan yang ditujukan kepada Al-Quran. Dan beliau menyatakan bahwa beliau menerima wahyu-wahyu dari Allah Ta'ala dan   beliau bersedia untuk membuktikan kebenarannya. 
      Pada jilid keempat beliau membahas tentang bentuk asli bahasa umat manusia; tentang kedudukan mukjizat dan pentingnya nubuatan-nubuatan (kabar-gaib) seorang nabi berkenaan masa mendatang. Beliau memaparkan konsep- konsep agama Budha, Kristen dan Hindu Arya Samaj tentang Tuhan, dan membuktikan keunggulan ajaran Islam. Dan kitab-kitab Yahudi pun beliau paparkan sebagai perbandingan dengan Al-Quran. (Life of Ahmad, A.R.Dard, Tabshir Publication, 1948, vol.l,h. 70-76). 
       Salah satu aspek yang sangat beliau tekankan dan beliau tampilkan sebagai bukti tetap hidupnya  agama Islam hingga Hari Kiamat adalah adanya hubungan komunikasi yang hidup antara Tuhan  dengan hamba-hamba-Nya. Beliau paparkan sendiri pengalaman-pengalaman ruhaniah beliau  dalam bentuk wahyu, ilham, rukya-rukya, maupun kasyaf. 

Reaksi & Dukungan Umat Bagi Buku “Barāhin Ahmadiyyah  

    Sebelumnya,    Mirza Ghulam Ahmad tidak begitu dikenal. Dan beliau berjuang sendirian. Namun setelah penerbitan buku Barahiin Ahmadiyyah  keadaan menjadi berubah dan beliau mulai dikenal  dan tampil secara terbuka. Barahiin Ahmadiyyah mendapat sambutan yang sangat besar dari kalangan umat Islam. Buku ini telah menimbulkan suatu kejutan dan gejolak revolusi besar bagi pihak-pihak non-Islam maupun bagi kalangan Islam sendiri. 
      Para pemuka Islam yang tadinya telah kehilangan nyali, seolah-olah mendapatkan seorang pembela Islam yang ulung sehingga mereka serentak berdiri di belakang beliau mendukung, dalam menghadapi serangan-serangan pihak non-Islam. Berikut ini beberapa kutipan sambutan dan dukungan tokoh-tokoh Islam India pada masa itu. 
      Mlv.Muhammad Hussein Batalvi, seorang tokoh terkemuka dari kelompok Ahli Hadits di India, banyak memberikan sanjungan terhadap buku Barahiin Ahmadiyyah maupun terhadap penulisnya. Ia  adalah seorang tokoh yang sangat mendukung perjuangan  Mirza Ghulam  Ahmad a.s. pada mulanya, namun pada akhirnya ia  berubah menjadi penentang keras beliau as.. Di dalam salah satu risalahnya, Mlv.Muhammad Hussein Batalvi menuliskan kesaksiannya tentang buku Barahin Ahmadiyyah: 
      "Menurut pendapat saya -- pada zaman sekarang dan sesuai kondisi yang berlaku --  buku ini adalah sedemikian rupa, yangmana sampai saat ini di dalam Islam tidak ada  bandingannya yang telah ditulis, dan tidak pula ada kabar di masa mendatang....  Penulisnya pun -- dalam hal memberikan bantuan kepada Islam dari segi harta, jiwa, tulisan maupun lisan -- sangat teguh dan kukuh pada langkah-langkahnya. Sehingga sangat sedikit ditemukan contoh yang seperti beliau, walau dari kalangan umat Islam  terdahulu sekali pun..." (Risalah Isyaatus-Sunnah jld.7, no.6-11; Swanah Fazl Umar,  Jld.I, hal.20). 
       Kemudian berikut ini ulasan dari seorang tokoh sufi terkenal di India yang berasal dari Ludhiana. Yaitu  Sufi Ahmad Jaan r.a.. Banyak murid maupun pengikut beliau yang menjadi tokoh-tokoh pemuka agama Islam saat itu. Sang sufi ini menuliskan ulasan tentang buku Barahiin Ahmadiyyah  di dalam sebuah selebaran beliau yang berjudul Isytihar Wajibul Izhar: 
       "Di zaman abad ke empatbelas telah berkecamuk sebuah tofan kebobrokan di dalam  setiap agama. Seperti yang dikatakan orang: orang-orang kafir baru banyak  bermunculan, dan orang-orang Islam baru pun banyak bermunculan. Tidak diragukan  lagi, diperlukan sebuah buku dan seorang mujaddid seperti Barahiinn Ahmadiyah serta  penulisnya Maulana Mirza Ghulam Ahmad Sahib. [Yaitu] yang dengan berbagai cara  siap untuk membuktikan da'wah Islam atas para penentang. 
        Beliau bukanlah berasal  dari kalangan ulama maupun cendekiawan umum. Melainkan secara khusus [datang]  untuk tugas ini sebagai utusan dari Allah; penerima ilham dan yang bercakap-cakap  dengan Allah. Sang penulis adalah mujaddid, mujtahid, muhaddats bagi abad keempat belas ini, dan merupakan seorang yang  sempurna dari kalangan umat ini.  Hadits  Nabawi ini pun mendukung beliau: “Ulama ummati kalanbiyaa Bani Israil” (ulama umatku seperti nabi-nabi Bani Israil). 
     Wahai para  penelaah! Dengan niat yang benar serta dengan semangat kebenaran yang sempurna  saya menyampaikan hal ini, bahwa tidak diragukan lagi bahwasanya Mirza Sahib  adalah mujaddid era ini. [Beliau merupakan] 'pedoman' bagi para pencari jalan [kebenaran]; matahari bagi orang-orang yang berhati batu; penunjuk jalan bagi  orang-orang yang sesat; pedang nyata bagi para pengingkar Islam; hujjah sempurna  bagi para pendengki. Yakinilah bahwa tidak akan datang lagi masa yang seperti ini. 
       Ketahuilah, bahwa masa ujian telah tiba. Dan Hujjah Ilahi telah tegak. Dan bagaikan  matahari jagat raya, telah diutus seorang Haadi Kamil (pemberi petunjuk yang  sempurna), supaya ia menganugerahkan nur kepada orang-orang yang benar dan  mengeluarkan [mereka] dari kegelapan dan kesesatan serta akan menghujjat para  pendusta"  (Swanah Fazl Umar, jld.I, hal. 21-22).
      Jadi, berbeda dengan ulama yang juga  seorang Sufi tersebut,    pujian   Maulwi Muhammad Batalwi dalam “Isya’atus-Sunnah”,   setelah Mirza Ghulam Ahmad   atas perintah Allah Swt. mendakwakan diri sebagai Imam Mahdi a.s. dan Al-Masih Mau’ud a.s.  tiba-tiba  ia menjadi salah satu penentangnya yang paling aktif, dan bahkan telah membuat fatwa kafir yang didukung oleh sekitar 200 ulama Hindustan, termasuk Nazir Hussein,  ulama besar Mesjid Raya Delhi.

Reaksi & Penentangan Dari Pihak Non-Islam 

        Sebaliknya, Barāhin Ahmadiyyah telah membangkitkan reaksi keras dari kalangan non-Islam, terutama Hindu Arya Samaj, yang kemudian diikuti oleh kelompok Kristen.  Mirza Ghulam  Ahmad a.s. mulai menghadapi mereka langsung dengan mengadakan perdebatan-perdebatan. Yang pertama berlangsung adalah perdebatan beliau dengan seorang guru dan anggota Arya Samaj, Lala Murli Dhar, pada bulan Maret 1886 di Hosyiarpur. 
       Dhar menyerang pendapat Islam berkenaan dengan mukjizat Syaqqul-Qamar (terbelahnya bulan)  sedangkan  Mirza Ghulam Ahmad a.s. mengecam akidah Arya Samaj yang menyatakan bahwa ruh tidak diciptakan oleh Tuhan melainkan telah ada dari sejak awal. (Lihat: Surmah Chasm Arya & Ruhani Khazain jld. 2, h. 49-308; Arya Dharm: Hindu consciousness in 19th century Punjab, Kenneth W Jones, Univercity of Calirornia Press, Berkeley  and Los Angeles, 1976; Prophecy Continuous, Yohanan Friedmann, University of California Press, 1989,p.4-5). 
      Kemudian pada tahun 1886 itu juga Pandit Lekh Ram dari Arya Samaj menyerang  Mirza  Ghulam Ahmad a.s.. Ia menerbitkan buku dan selebaran-selebaran yang mencaci-maki Rasulullah saw.  dan Islam serta menghina diri  Mirza Ghulam Ahmad as.. Terjadi polemik keras antara keduanya. Pandit Lekh Ram mengalami kematian yang tragis dan misterius pada tahun 1897 setelah adanya nubuatan-nubuatan dari  Mirza Ghulam Ahmad a.s.
 
Karya-karya  Tulis Mirza Ghulam Ahmad a.s.

Karya-karya   Mirza ghulam Ahmad a.s.  di bagi ke dalam tiga macam kategori, yaitu: buku-buku, majalah, dan selebaran-selebaran yang ditulis untuk di publikasikan; dari ketiga kategori itu karya-karya tulis peninggalan  beliau ada sekitar 83 judul buku, diantaranya:
1.        Barāhin-i Ahmadiyya, (Dalil-dalil Kebenaran Islam)  buku ini seluruhnya ada lima jilid: jilid pertama dan kedua diterbitkan pada Tahun 1880 M, jilid ketiga 1882, jilid ke-empat 1884  dan jilid ke lima diterbitkan pada Tahun 1905.
2.        Purani Tahrirain (Tulisan-tulisan Lama).
3.        Surma Chasyme Arya  (Cela bagi Kaum Arya).
4.         Shahna-e-haq (Batalion Kebenaran).
5.         Sabz Ishtihar (Selebaran Hijau).
6.         Fath Islam (Kemenangan Islam).
7.         Tauzih Maram  (Penjelasan Maksud dan Tujuan).
8.         Izalah Auham (Memperbaiki Beberapa Kesalah-pahaman).
9.         Mubahisa Ludhiana (Debat Ludhiana).
10.    Mubahisa Delhi (Debat Delhi).
11.    Asmani Faisla (Keputusan Samawi) buku ini diterbitkan pada bulan Desember Tahun 1892 M.
12.    Nishan-e-Asmani Syahadatul Mulhimin  (Tanda-tanda Langit, Kesaksian Para Penerima Ilham).
13.    Aainai-e- Kamalate Islam (Cermin Kesempurnaan Islam).
14.    Barakatud-Du’a  (Berkat-berkat Doa) buku ini disusun Tahun 1893 M.
15.    Hujat-ul Islam (Dalil-dalil Islam) buku ini diterbitkan Tahun 1893 M.
16.    Sachai ka Izhar (Pernyataan Kebenaran). Buku ini diterbitkan Tahun 1893 M.
17.    Jang-e-Muqaddas  (Peperangan Suci)
18.    Syahadat-ul-Quran (Kesaksian ِAl-Quran)
19.    Tohfa-e-Bagdad   (Hadiah Untuk Bagdad)
20.    Karamat ash- Shadiqin  (Mukjizat-Mukjizat Orang-orang Benar).
21.    Hamamat al- Bushra (Merpati Kabar Gembira)
22.    Nurul Haq (Cahaya Kebenaran)
23.    Itmam-al-Hujjah (Menyempurnakan Dalil-Dalil)
24.    Sirr al-Khilafah (Rahasia Khilafat)
25.    Anwar al-Islam (Cahaya Islam) buku ini disusun Tahun 1894 Mn
26.    Minan ar-Rahman (Hadiah-Hadiah Allah Yang Maha Pemurah).Buku ini ditulis Tahun 1895 M.dan baru dapat dicetak Tahun 1915 Mn
27.    Zia-ul-Haq (Cahaya Kebenaran) buku ini ditulis Tahun 1895 Mn
28.    Nur ِAl-Quran (Cahaya ِAl-Quran)n
29.    Mi’yar al-Madzahiab (Standar Agama-agama).
30.    Arya Dharma (Agama Dharma).
31.    Sut Bachman (Perkataan yang Benar).
32.    Islami Ushul Ki Philosophi, (Falsafah  Ajaran Islam) buku ini di susun Tahun 1897 M.
33.    Ajam-e-Atham (Akhir Riwayat Atham).
34.    Siraj-e-Munir (Lentera yang Terang).
35.    Istifta (Menanyakan Masalah Agama) buku ini disusun Tahun 1897 M.
36.   Hujjatullah (Dalil-dalil dari Allah).
37.    Thofa-e-Qaidalshara (Bingkisan untuk Ratu). Karya ini ditulis Tahun 1897 M
38.    Sirajuddin Isai ke Char Sawalon Ka Jawab (Empat Pertanyaan Sirajuddin dan Jawabannya).
39.    Kitab Albariya (Buku tentang Rincian Pembebasan) buku in ditulis Tahun 1898 M.
40.    Al-Balagh (Penyampaian Pesan).
41.    Darurat Al-Imam (Kebutuhan Adanya Imam).
42.    Najm al- Huda (Bintang Penuntun) buku ini di tulis Tahun 1898
43.    Raaz-e-Haqiqat (Rahasia Kebenaran).
44.    Kasyful Ghita (Menyibak Tirai).
45.    Ayyam-e- sulh {Hari-Hari Kedamaian) buku ini disusun Tahun 1899 M.
46.    Haqiqatul Mahdi (Haqiqat Imam Mahdi) buku ini disusun Tahun 1899 M.
47.    Masih Hindustan Mein (Al-Masih di India) buku ini di tulis Tahun 1896 M.
48.    Qisara-e-Qaisharah (Bintang Sang Ratu).
49.    Tiryaq al-Qulub (Penyejuk Hati) buku ini ditulis Tahun 1899 M.
50.    Tohfa-e-Ghaznaviyya (Bingkisan untuk Para Gaznavi) buku ini di tulis Tahun 1900 M.
51.   Roidad-e-Jalsa-e-Dua (Saat-Saat Pertemuan Doa) buku ini di tulis Tahun 1900 M.
52.    Khutbah Ilhamiyyah [Khutbah-khutbah yang di Ilhami]. Buku ini di tulis Tahun 1900 M.
53.    Lujjat an-Nur (lautan Cahaya) buku ini disusun Tahun 1900 M.
54.    Government Angrezi aur jihad (Pemerintah Inggris dan Jihad) buku ini ditulis Tahun 1900 M.
55.   Tohfa-e-Golarhviyya (Bingkisan Untuk Golarvi) buku ini di susun Tahun 1900 M.
56.    Arba’in (Empat puluh Brosur).
57.    I’jaz al- Maasih (Mukjizat-mukjizat Al-Masih) buku ini ditulis Tahun 1901 M.
58.    Ek Ghalati ka Ijalah (Memperbaiki Suatu Kesalahan) buku ini ditulis Tahun 1901 M.
59.    Dafi al-Bala wa Miyar  al-Ahl al Isthifa (Menangkal Bala dan Kriteria Orang Pilihan) berupa booklet, 60.
60.    Al-Huda wa Tabsyirat li man yara (Penuntun dan Penjelasan Bagi yang Membuka Mata).
61.    Nuzul Al- Masih (Kedatangan Al-Masih) buku ini ditulis Tahun 1902 M. dan dicetak Tahun 1903 M.
62.    Kisti-e-Nuh (Bahtera Nuh) buku ini di susun Tahun 1902 M.
63.    Tohfatan Nadwa (Bingkisan Untuk Sebuah Perkumpulan).
64.    Ijaz-e-Mahdi (Mukjizat Ahmad a.s] buku ini disusun Tahun 1902 M.
65.    Review Ber Mabahisa Batalwi wa chakralwi (Tinjauan/Ulangan Debat dengan Batalwi dan Cakrawali)  buku ini ditulis    Tahun 1902 M.
66.    Mawahib Ar-Rahman (Allah yang Maha Pemurah) buku ini ditulis Tahun 1903 M.
67.    Naseem-e- Dawat ([Himbaun yang Menyejukan) buku ini disusun pada Tahun 1903 M.
68.    Sanatan Darm (Sanata Darma) buku ini di terbitkan Tahun 1903 M.
69.    Tadzkirah asy-Syahidatain (Kisah Dua Orang Syahid) buku ini di terbitkan Tahun 1903 M.
70.    Sirat al-Badal (Karakteristik Orang-orang Suci) buku ini ditulis Tahun 1903 M.
71.    Islam Aur is Mulk ke Dusrey (Islam dan Agama-agama Lain di Negeri ini).
72.    Islam (Islam) buku ini di kenal dengan Sialkot Lecture (khutbah Sialkot) yang disusun Tahun 1904 M.
73.    Lecture Ludhiana (Khubah Ludhiana) buku ini ditulis Tahun 1905 M.
74.    Al-Wasiyat (Wasiyat) buku ini ditulis Tahun 1905 M.
75.    Chashma-e-Masihi (Sumber-sumber Agama Kristen) buku ini di terbitkan Tahun 1906 M.
76.    Tajalliyat-e-Ilahiyya (Penampakan Kebesaran Tuhan) buku ini di tulis Tahun 1906 M.
77.    Qadian ke Arya Aur Ham (Kaum Arya Qadian dan Kami]  buku ini diterbitkan Tahun 1907 M.
78.    Haqiqat al-Wahyi (Hakikat Wahyu) buku ini di terbitkan Tahun 1907 M.
79.    Chashma-e-Marifat (Sumber-sumber Kesadaran atas Tuhan) buku ini di tulis Tahun 1908 M.
80.    Paigham-e-Sulh (Pesan Kedamaian) buku ini ditulis Tahun 1908 M.
81.     Gunah Say Nijat Kionkar Mil Sakti Hay?  (Cara Membebaskan Diri dari Dosa).
82.    Khutbah Ilhamiyah.
83.    Al-Washiyat (Al-Wasiyat) buku  ini  tulis menjelang kewafatan beliau.

Buku Al-Washiyat  & Silsilah Khilafat Jemaat Ahmadiyah

Pada bulan Desember 1905,  Mirza Ghulam Ahmad a.s. mendapat ilham yang menerangkan bahwa saat kewafatan beliau telah dekat, oleh karenanya beliau menulis sebuah buku yang berjudul Al-Wasiyat, yang disebarluaskan kepada seluruh warga Jemaat Ahmadiyah.
Di dalam  buku tersebut  Masih Mau’ud a.s. memberitahukan kepada Jemaat beliau bahwa berdasarkan  wahyu  Ilahi dalam bahasa Arab  dan   dalam bahasa Urdu yang beliau terima bahwa saat kewafatan beliau telah dekat, dan menasihatkan agar Jemaat tetap tenteram serta berbesar hati, sebab Allah Swt.   setelah kewafatan beliau   -- yang merupakan “Kudrat-Nya” yang pertama  – akan membangkitkan “Kudrat-Nya” yang kedua berupa kesinambungan silsilah Khilafat   yang akan bersama Jemaat Muslim Ahmadiyah sampai Hari Kiamat, sebagaimana firman-Nya:
وَعَدَ  اللّٰہُ  الَّذِیۡنَ  اٰمَنُوۡا مِنۡکُمۡ وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ لَیَسۡتَخۡلِفَنَّہُمۡ فِی الۡاَرۡضِ کَمَا اسۡتَخۡلَفَ الَّذِیۡنَ مِنۡ قَبۡلِہِمۡ ۪ وَ لَیُمَکِّنَنَّ لَہُمۡ دِیۡنَہُمُ  الَّذِی ارۡتَضٰی لَہُمۡ وَ لَیُبَدِّلَنَّہُمۡ مِّنۡۢ بَعۡدِ خَوۡفِہِمۡ  اَمۡنًا ؕ یَعۡبُدُوۡنَنِیۡ لَا  یُشۡرِکُوۡنَ بِیۡ شَیۡئًا ؕ وَ مَنۡ  کَفَرَ بَعۡدَ ذٰلِکَ فَاُولٰٓئِکَ ہُمُ  الۡفٰسِقُوۡنَ ﴿﴾
Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman  dan  ber-amal saleh di antara kamu niscaya Dia  akan menjadikan mereka itu khalifah di bumi ini sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka khalifah, dan niscaya Dia akan meneguhkan bagi mereka aga-manya yang telah Dia ridhai bagi mereka,  dan niscaya Dia akan meng-ubah keadaan mereka dengan ke-amanan sesudah ketakutan mereka. Mereka akan menyembah-Ku dan mereka tidak akan mempersekutukan sesuatu dengan-Ku, dan barangsiapa kafir sesudah itu  mereka itulah orang-orang  durhaka. (An-Nūr [24]:56). 
     Dikarenakan ayat ini berlaku sebagai pendahuluan untuk mengantarkan masalah khilafat, maka dalam ayat-ayat QS.52:55 berulang-ulang telah diberi tekanan mengenai ketaatan kepada Allah Swt. dan rasul-Nya. Tekanan ini merupakan isyarat mengenai tingkat dan kedudukan seorang khalifah dalam Islam. Ayat ini berisikan janji bahwa orang-orang Islam (Muslim) akan dianugerahi pimpinan ruhani maupun duniawi.
Janji itu diberikan kepada seluruh umat Islam, tetapi Lembaga Khilafat akan mendapat bentuk nyata dalam wujud perorangan-perorangan tertentu, yang akan menjadi penerus Nabi Besar Muhammad saw.  serta wakil seluruh umat Islam. Janji mengenai ditegakkannya khilafat adalah jelas dan tidak dapat menimbulkan salah paham.
Oleh sebab kini Nabi Besar Muhammad saw.  satu-satunya hadi (petunjuk jalan) umat manusia untuk selama-lamanya, khilafat beliau saw. akan terus berwujud dalam salah satu bentuk di dunia ini sampai Hari Kiamat, karena semua khilafat yang lain telah tiada lagi. Inilah, di antara banyak keunggulan yang lainnya lagi, merupakan kelebihan  Nabi Besar Muhammad saw.     yang menonjol di atas semua nabi Allah dan rasul Allah lainnya. Zaman  di Akhir Zaman ini  telah telah berdiri   khalifah ruhani beliau saw. yang terbesar dalam wujud Masih Mau’ud a.s. atau misal Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (QS.43:58)  --   Pendiri Jemaat Muslim Ahmadiyah – yakni  Mirza Ghulam Ahmad a.s..  

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid

oo0oo
Pajajaran Anyar, 7   Maret  2017

Tidak ada komentar:

Posting Komentar