Bismillaahirrahmaanirrahiim
ISLAM
Pidato Mirza Ghulam Ahmad a.s.
Tgl. 2 November 1904
di Kota Sialkote – Hindustan
Bab 35
NUBUATAN PENGUTUSAN MISAL NABI ISA IBNU MARYAM A.S. (MASIH MAU’UD A.S.) DI KALANGAN UMAT ISLAM DAN PENENTANGAN TERHADAPNYA & PERINTAH ALLAH
SWT. KEPADA ORANG-ORANG BERIMAN
UNTUK MENJADI “ANSHĀRULLĀH” (PARA
PENOLONG ALLAH) DI AKHIR ZAMAN
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam
bagian akhir Bab 34 telah dijelaskan
topik Kemuliaan Martabat
Ruhani Nabi Besar Muhammad Saw. & Pengutusannya
yang Kedua Kali di Akhir Zaman Dalam Wujud Masih Mau’ud a.s.,
sehubungan dengan firman Allah Swt. berupa
nubuatan dalam ayat:
وَ الَّیۡلِ
اِذَا عَسۡعَسَ -- “Demi malam apabila hampir
meninggalkan gelapnya, وَ
الصُّبۡحِ اِذَا تَنَفَّسَ -- Dan demi subuh apabila mulai
bernafas” ((At-Takwīr [81]:18-19).
Dua Kali Pengutusan
Nabi Besar Muhammad Saw.
Kata-kata
“seorang Rasul yang mulia” dalam ayat selanjutnya: اِنَّہٗ لَقَوۡلُ رَسُوۡلٍ کَرِیۡمٍ -- “Sesungguhnya Al-Quran itu benar-benar firman yang diucapkan seorang Rasul yang mulia”, menunjuk kepada Nabi Besar
Muhammad saw. -- bukan kepada Malaikat Jibril a.s., seperti pada umumnya disalah-artikan. Kenyataan tersebut diperkuat oleh ayat
selanjutnya: ذِیۡ
قُوَّۃٍ عِنۡدَ ذِی الۡعَرۡشِ
مَکِیۡنٍ -- “yang memiliki kekuatan di sisi Tuhan Pemilik ‘Arasy, مُّطَاعٍ ثَمَّ
اَمِیۡنٍ -- yang ditaati
kemudian yang dipercaya.“ (At-Takwīr
[81]:20-22).
Kelima sifat:
Rasul yang mulia, yang memiliki kekuatan, menikmati kedudukan tinggi di hadapan
Tuhan Pemilik ‘Arasy, yang layak ditaati, dan setia kepada amanatnya dalam
pandangan Allah Swt., semua kenyataan
tersebut tepat sekali diterapkan kepada Nabi Besar Muhammad saw., sebagaimana
dijelaskan pula dalam QS.53:1-19.
Kata ganti nama hu yang berarti “nya”
(masa depan Islam yang gemilang) dan “ia” (Nabi Besar Muhammad saw),
pertama-tama dapat berarti menjadi sempurnanya nubuatan mengenai hari-depan
Islam yang gemilang, dan kedua
dapat pula berarti, bahwa Nabi Besar Muhammad saw. saw. melihat wujud beliau sendiri di Timur Jauh -- dalam
pribadi Masih Mau’ud a.s. yakni Rasul Akhir Zaman (QS.62:3-4). Itulah makna ayat selanjutnya: وَ مَا صَاحِبُکُمۡ بِمَجۡنُوۡنٍ -- “Dan
teman kamu itu, Rasulullah,
sekali-kali bukanlah orang gila. وَ لَقَدۡ رَاٰہُ بِالۡاُفُقِ الۡمُبِیۡنِ -- Dan
sungguh ia benar-benar melihatnya di ufuk yang jelas.” (At-Takwīr
[81]:23-24).
Makna ayat selanjutnya: وَ مَا ہُوَ عَلَی الۡغَیۡبِ بِضَنِیۡنٍ -- “Dan ia sekali-kali tidak kikir mengenai hal
gaib” (At-Takwīr [81]:25). Allah Swt. telah membukakan kepada umat manusia rahasia-rahasia mengenai hal-hal
gaib melalui mulut Nabi Besar Muhammad saw., demikian pula di Akhir
Zaman ini dengan perantaraan wakil
beliau saw. – yakni Masih Mau’ud a.s. -- sehingga Islam
(Al-Quran) dan umat Islam akan kembali unggul atas semua agama lainnya (QS.61:10).
Dengan demikian sempurnalah pernyataan Allah
Swt. dalam ayat-ayat selanjutnya mengenai kesempurnaan agama Islam (Al-Quran) sebagai
agama dan Kitab suci terakhir dan tersempurna (QS.5:4; QS.15:10), firman-Nya:
وَ مَا ہُوَ بِقَوۡلِ شَیۡطٰنٍ
رَّجِیۡمٍ --
“Dan bukanlah Al-Quran itu ucapan syaitan yang terkutuk, فَاَیۡنَ تَذۡہَبُوۡنَ -- maka kemanakah kamu akan pergi? ”
(At-Takwīr
[81]:26-27).
Kesempurnaan Ajaran Islam (Al-Quran) &
Pengutusan Nabi Besar Muhammad saw. Sebagai “Rahmat
bagi Seluruh Alam”
Pernyataan Allah Swt.
tersebut selaras dengan pernyataan Allah Swt. berikut ini mengenai pentingnya
memeluk agama Islam dan mengamalkannya
sebagaimana yang dicontohkan Nabi
Besar Muhammad saw. (QS.3:32),
firman-Nya:
وَ مَنۡ یَّبۡتَغِ غَیۡرَ الۡاِسۡلَامِ
دِیۡنًا فَلَنۡ یُّقۡبَلَ مِنۡہُ ۚ وَ ہُوَ فِی الۡاٰخِرَۃِ مِنَ الۡخٰسِرِیۡنَ ﴿﴾ کَیۡفَ یَہۡدِی
اللّٰہُ قَوۡمًا کَفَرُوۡا بَعۡدَ
اِیۡمَانِہِمۡ وَ شَہِدُوۡۤا اَنَّ الرَّسُوۡلَ حَقٌّ وَّ جَآءَہُمُ الۡبَیِّنٰتُ
ؕ وَ اللّٰہُ لَا یَہۡدِی الۡقَوۡمَ
الظّٰلِمِیۡنَ ﴿﴾ اُولٰٓئِکَ جَزَآؤُہُمۡ اَنَّ عَلَیۡہِمۡ لَعۡنَۃَ اللّٰہِ وَ الۡمَلٰٓئِکَۃِ
وَ النَّاسِ اَجۡمَعِیۡنَ ﴿ۙ﴾
خٰلِدِیۡنَ فِیۡہَا ۚ لَا یُخَفَّفُ
عَنۡہُمُ الۡعَذَابُ وَ لَا ہُمۡ یُنۡظَرُوۡنَ ﴿ۙ﴾
Dan barangsiapa
mencari agama yang bukan agama Islam, maka agama itu tidak akan pernah diterima darinya, dan di akhirat ia termasuk orang-orang yang rugi. Bagaimana mungkin Allah akan memberi petunjuk kepada suatu kaum yang kafir setelah mereka
beriman, dan mereka telah menjadi
saksi pula bahwa sesungguhnya
rasul itu benar, dan juga telah datang kepada mereka bukti-bukti
yang nyata? Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum
yang zalim. Mereka inilah orang-orang yang atas mereka balasannya adalah
laknat Allah, malaikat dan manusia
seluruhnya. Mereka kekal di dalamnya, azab
tidak akan diringankan dari mereka, dan tidak pula mereka akan diberi tangguh. Kecuali orang-orang yang bertaubat setelah itu dan melakukan perbaikan, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. (Āli ‘Imran [3]:86-89).
Kembali kepada Surah At Takwir, selanjutnya Allah Swt. berfirman: اِنۡ
ہُوَ اِلَّا ذِکۡرٌ لِّلۡعٰلَمِیۡنَ
-- “Tidak lain Al-Quran itu
melainkan peringatan bagi seluruh alam, لِمَنۡ
شَآءَ مِنۡکُمۡ اَنۡ
یَّسۡتَقِیۡمَ -- bagi siapa yang
menghendaki di antara kamu untuk berjalan lurus. وَ مَا تَشَآءُوۡنَ اِلَّاۤ
اَنۡ یَّشَآءَ اللّٰہُ رَبُّ
الۡعٰلَمِیۡنَ -- Dan
kamu tidak menghendaki kecuali yang dikehendaki Allah, Rabb (Tuhan) seluruh alam (At-Takwīr [81]:28-30).
Makna ayat وَ مَا تَشَآءُوۡنَ
اِلَّاۤ اَنۡ یَّشَآءَ
اللّٰہُ رَبُّ الۡعٰلَمِیۡنَ -- ”dan
kamu tidak menghendaki kecuali yang dikehendaki Allah, Rabb (Tuhan) seluruh alam”, bahwa orang yang dituntun
ke jalan lurus hanyalah dia yang
berusaha mencari jalan lurus dan
menyesuaikan kehendaknya dengan kehendak Allah Swt., sebagaimana firman-Nya:
وَ الَّذِیۡنَ جَاہَدُوۡا فِیۡنَا
لَنَہۡدِیَنَّہُمۡ سُبُلَنَا ؕ وَ اِنَّ اللّٰہَ
لَمَعَ الۡمُحۡسِنِیۡنَ ﴿٪
Dan orang-orang yang berjuang untuk
Kami niscaya Kami akan memberi
petunjuk kepada mereka pada jalan-jalan Kami, dan sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang berbuat ihsan. (Al-Ankabūt
[29]:70).
Jihad sebagaimana diperintahkan oleh Islam, tidak berarti harus membunuh atau menjadi kurban pembunuhan, melainkan harus berjuang keras guna memperoleh keridhaan Ilahi, sebab kata fīnā berarti
“untuk menjumpai Kami.”
Demikianlah makna berbagai nubuatan
dalam surah At-Takwir berkenaan
keadaan umat Islam di masa puncak kemundurannya selama 1000 tahun (QS.32:6) serta nubuatan mengenai mulai terbitnya “fajar kebangkitan dan kejayaan Islam” yang kedua di Akhir Zaman melalui pengutusan Mirza Ghulam Ahmad a.s. yang merupakan pengutusan kedua kali secara ruhani Nabi Besar Muhammad saw.
(QS.62:3-4), guna mewujudkan “kejayaan Islam” yang kedua kali di Akhir Zaman ini (QS.61:10), melalui motto LOVE FOR ALL HATRED FOR NONE
(Cinta untuk semua, tidak ada kebencian bagi siapa pun),
sebagaimana tujuan pengutusan
Nabi Besar Muhammad saw.
sebagai rahmat bagi seluruh alam (QS.21:108).
Kebangkitan
agama Kristen & Pengutusan Misal Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.
Pendek kata, Masih Mau’ud a.s. atau misal
Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (QS.43:58) – yakni Mirza Ghulam Ahmad a.s. --
dilahirkan pada zaman ketika
bidang keagamaan missi-missi Kristen bergerak dengan gencarnya di seluruh dunia
semenjak tahun 1804, khususnya ketika British & Foreign Bible Society terbentuk.
(Life of Ahmad, A.R.Dard,
Tabshir Publication, 1948,vol.1,h.20-24)
Bahkan kurun waktu antara tahun 1815
hingga 1914 telah ditetapkan oleh kelompok Kristen
sebagai The Great Century of World
Evangelization (Abad Agung Penginjilan Dunia). Dan anak-benua India merupakan sebuah sasaran yang dijadikan sebagai proyek besar bagi gerakan penginjilan (Kristenisasi) itu. Dan jutaan orang masuk ke dalam agama
Kristen melalui gerakan-gerakan missionaris
Kristen di sana (Hindustan).
Misalnya: missi-missi Kristen dari Inggris antara lain Methodists masuk ke India pada tahun 1819; Scottish Presbyterians masuk
pada tahun 1823. Sedangkan missi-missi
Kristen dari Amerika antara lain: Congregationalist
(American Board) masuk ke India pada tahun 1810; Presbyterians pada tahun 1834; Baptists
pada tahun 1836; Lutherans
pada tahun 1840; dan Methodists
pada tahun 1856. Kemudian German
Gossner Mission masuk pada tahun 1839. Dan Scandinavian Lutherans pada tahun 1867.
Tetapi uniknya, Ratu
Victoria memproklamirkan kebebasan
beragama serta sikap tidak memihak
Kerajaan Inggris Raya pada suatu agama,
di India pada tahun 1858. (Lihat: World
Christian Encyclopedia, David B.Barrett, Oxford,1982,p.23-30).
Kenyataan tersebut y bagi Mirza Ghulam
Ahmad a.s. – baik sebelum
mendakwakan diri sebagai Imam Mahdi a.s. atau Masih
Mau’ud a.s. maupun sesudah mendakwakan diri -- merupakan karunia khusus
dari Allah Swt., sebab jika tidak demikian maka
jihad melalui pena
(tulisan) yang beliau lancarkan akan mendapat penentangan keras, termasuk dari kalangan umat Islam sendiri, sebagaimana terbukti setelah beliau mendakwakan diri sebagai Imam Mahdi a.s. dan Masih Mau’ud a.s., sebagaimana firman-Nya:
وَ لَمَّا ضُرِبَ ابۡنُ مَرۡیَمَ مَثَلًا
اِذَا قَوۡمُکَ مِنۡہُ یَصِدُّوۡنَ
﴿﴾ وَ قَالُوۡۤاءَ اٰلِہَتُنَا خَیۡرٌ اَمۡ ہُوَ ؕ
مَا ضَرَبُوۡہُ لَکَ اِلَّا جَدَلًا ؕ بَلۡ ہُمۡ قَوۡمٌ خَصِمُوۡنَ
﴿﴾
Dan apabila
Ibnu Maryam dikemukakan
sebagai misal tiba-tiba kaum engkau meneriakkan penentangan terhadapnya,
dan mereka berkata: "Apakah
tuhan-tuhan kami lebih baik ataukah dia?"
Mereka tidak menyebutkan hal itu kepada
engkau melainkan perbantahan semata.
Bahkan mereka adalah kaum yang biasa
berbantah. (Az-Zukhruf [43]:58-59).
Shadda (yashuddu) berarti: ia menghalangi dia dari sesuatu, dan shadda
(yashiddu) berarti: ia mengajukan sanggahan (Aqrab-ul-Mawarid. 2683. Kedatangan Al-Masih a.s. adalah
tanda bahwa orang-orang Yahudi akan dihinakan dan direndahkan serta akan
kehilangan kenabian untuk selama-lamanya. Karena matsal berarti sesuatu
yang semacam dengan atau sejenis dengan yang lain (QS.6:39).
Ayat ini, di samping arti yang diberikan dalam ayat ini, dapat pula
berarti bahwa ketika kaum Nabi Besar
Muhammad saw. — yaitu kaum Muslimin — diberitahu bahwa ketika seseorang di kalangan mereka mendakwakan
sebagai misal (seperti) Nabi
Isa Ibnu maryam a.s. yang dibangkitkan untuk memperbaharui mereka dan mengembalikan kejayaan ruhani mereka yang telah hilang, maka mereka bukannya bergembira
atas kabar gembira itu malah mereka
berteriak mengajukan protes:
اِذَا
قَوۡمُکَ مِنۡہُ یَصِدُّوۡنَ -- “tiba-tiba kaum
engkau meneriakkan penentangan terhadapnya.”
Menentang Perintah Allah Swt. Untuk Menjadi “Penolong Allah”
Jadi, ayat tersebut dapat
dianggap mengisyaratkan kepada kedatangan Nabi
Isa Ibnu Maryam a.s. untuk
kedua kalinya dalam wujud misal beliau a.s. yang akan mendapat penentangan dari kalangan umat
Islam – sebagaimana yang dilakukan para pemuka kaum Yahudi terhadap Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. Israili -- padahal Allah Swt. telah memerintahkan umat Islam untuk membantu
perjuangan suci Masih Mau’ud a.s. atau
misal Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.
(QS.43:58) tersebut, firman-Nya:
یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ
اٰمَنُوۡا کُوۡنُوۡۤا اَنۡصَارَ
اللّٰہِ کَمَا قَالَ عِیۡسَی ابۡنُ
مَرۡیَمَ لِلۡحَوَارِیّٖنَ مَنۡ
اَنۡصَارِیۡۤ اِلَی اللّٰہِ ؕ
قَالَ الۡحَوَارِیُّوۡنَ نَحۡنُ اَنۡصَارُ
اللّٰہِ فَاٰمَنَتۡ طَّآئِفَۃٌ مِّنۡۢ
بَنِیۡۤ اِسۡرَآءِیۡلَ وَ
کَفَرَتۡ طَّآئِفَۃٌ ۚ فَاَیَّدۡنَا
الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا عَلٰی
عَدُوِّہِمۡ فَاَصۡبَحُوۡا ظٰہِرِیۡنَ ﴿٪﴾
Hai orang-orang yang beriman, کُوۡنُوۡۤا اَنۡصَارَ
اللّٰہِ کَمَا قَالَ عِیۡسَی ابۡنُ
مَرۡیَمَ لِلۡحَوَارِیّٖنَ مَنۡ
اَنۡصَارِیۡۤ اِلَی اللّٰہِ -- jadilah
kamu penolong-penolong Allah sebagaimana Isa ibnu Maryam berkata kepada pengikut-pengikutnya, “Siapakah penolong-penolongku di jalan Allah?”
قَالَ الۡحَوَارِیُّوۡنَ نَحۡنُ اَنۡصَارُ
اللّٰہِ -- Pengikut-pengikut
yang setia itu berkata: “Kamilah
penolong-penolong Allah.” فَاٰمَنَتۡ طَّآئِفَۃٌ مِّنۡۢ
بَنِیۡۤ اِسۡرَآءِیۡلَ وَ
کَفَرَتۡ طَّآئِفَۃٌ -- Maka segolongan dari Bani Israil beriman
sedangkan segolongan lagi kafir,
فَاَیَّدۡنَا الَّذِیۡنَ
اٰمَنُوۡا عَلٰی عَدُوِّہِمۡ
فَاَصۡبَحُوۡا ظٰہِرِیۡنَ
-- kemudian Kami membantu
orang-orang yang beriman terhadap musuh-musuh
mereka lalu mereka menjadi orang-orang
yang menang. (Ash-Shaf [61]:15).
Dari ketiga
golongan agama di antara kaum Yahudi,
yang terhadap mereka Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. menyampaikan tablighnya
– yaitu kaum Parisi, kaum Saduki, dan kaum Essenes – Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. termasuk golongan kaum Essenes,
sebelum beliau diutus sebagai rasul Allah.
Kaum Essenes adalah kaum yang sangat bertakwa,
hidup jauh dari kesibukan dan keramaian dunia, dan melewatkan waktu mereka
dalam berzikir dan berdoa, dan berbakti kepada sesama manusia. Dari kaum inilah
berasal bagian besar dari para pengikut Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. di masa
permulaan (“The Dead Sea Community,”
oleh Kurt Schubert, dan “The Crucifixion
by an Eye-Witness”). Mereka disebut “Paraclete - para Penolong”
oleh Eusephus.
Kata-kata penutup Surah Ash-Shaf ayat 15 sungguh sarat dengan nubuatan. Sepanjang zaman para pengikut Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. telah
menikmati kekuatan dan kekuasaan atas musuh abadi mereka – kaum Yahudi.
Mereka telah menegakkan dan memerintah kerajaan-kerajaan
luas dan perkasa, sedang kaum Yahudi tetap
merupakan kaum yang cerai-berai di berbagai wilayah dunia – termasuk wilayah Hindustan -- sehingga mendapat julukan “the Wandering Jew” (“Yahudi Pengembara”).
Pengembaraan
Panjang Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.
Mencari “Sepuluh Suku Bani Israil”
yang Hilang
Itulah sebabnya setelah Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. selamat dari upaya pembunuhan
melalui penyaliban yang dilakukan
oleh para pemuka Yahudi (QS.4:258-259) kemudian beliau disertai ibunda
beliau (Maryam binti ’Imran) pergi
meninggalkan Palestina guna mencari 10 suku
Bani Israil yang tercerai-berai
setelah mereka diangkut sebagai tawanan dari Yerusalem ke Babilonia
oleh pasukan Nebukadnezar (QS.17:5-6; QS.2:260) -- sesuai kutukan
Nabi Daud a.s. (QS.5:80) – dan akhirnya pengembaraan
panjang dan lama Nabi Isa Ibnu
Maryam a.s. berakhir di Srinagar – Kasymir, beliau wafat dalam usia 120
tahun di sana serta jenazahnya dikuburkan di sana desa Khan Yar, firman-Nya:
وَ جَعَلۡنَا
ابۡنَ مَرۡیَمَ وَ اُمَّہٗۤ اٰیَۃً وَّ
اٰوَیۡنٰہُمَاۤ اِلٰی رَبۡوَۃٍ ذَاتِ قَرَارٍ وَّ مَعِیۡنٍ ﴿٪﴾
Dan
Kami menjadikan Ibnu Maryam dan ibunya suatu Tanda, dan Kami melindungi keduanya ke suatu dataran
yang tinggi yang memiliki lembah-lembah hijau dan sumber-sumber mata air yang mengalir. (Al-Mu’minun [23]:51).
Oleh sebab kematian Yesus seperti
pula kelahirannya telah menjadi masalah yang banyak dipertentangkan, dan
beberapa kekacauan pendapat dan keraguan masih tetap ada mengenai bagaimana dan
di mana beliau melampaukan hari-hari terakhir dalam kehidupan beliau yang padat
karya itu, dan oleh karena persoalan cara menemui ajal beliau pun merupakan
persoalan yang sangat penting bagi agama
Kristen maka pada tempatnya diberikan catatan yang agak lengkap mengenai persoalan yang penting
tapi rumit ini.
Al-Quran dan Bible dikuatkan oleh kenyayaan-kenyataan
sejarah yang telah diakui sahnya, memberi dukungan kuat kepada pandangan bahwa
Yesus (Nabi Isa a.s.) tidak wafat di atas salib. Dalil-dalil dan
keteranggan-keterangan berikut menunjang dan mendukung pernyataan itu:
(1) Dalam bukunya "The Unknown Life of Yesus". Nicholas Notovitch. seorang
pengembara bangsa Rus yang pernah melawat ke Timur Jauh pada kira-kira tahun
1877 menceriterakan. bahwa Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. pemah datang ke
Kasymir dan Afghanistan. Sir Francis Younghusband yang pada waktu Nicholas
Notovitch mengunjungi Kasymir adalah
seorang penduduk berkebangsaan Inggris di istana Maharaja Kasymir, bertemu
dengan dia di dekat Zojila Pass.
Penyelidikan terbaru mengenai perjalanan-perjalanan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s di Timur memberikan dukungan kuat
kepada buku Notovitch. Profesor Nicholus Roerich dalam bukunya "Heart of Asia" mengatakan:
"Di Srinagar kami mula-mula menemukan hikayat yang aneh sekitar kunjungan Yesus ke tempat itu.
Kemudian kami melihat betapa tersebar-luasnya di India, di Laddakh, dan di Asia
Tengah hikayat mengenai kunjungan Yesus ke berbagai-bagai daerah itu. Di seluruh Asia Tengah, di Kasymir, di
Laddakh, dan di Tibet, dan bahkan lebih ke utara lagi masih terdapat
kepercavaan yang kuat bahwa Yesus atau Isa berkeliling di daerah itu” ("Glimpses
of World History" oleh Yawaharlal Nehru).
Upaya Mengaburkan “Sejarah” Pengembaraan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.
Beberapa sarjana telah berlindung di belakang beberapa
bagian yang samar pada buku Notovitch, untuk menyebutkan bahwa Yesus datang ke
Timur sebelum dan bukan sesudah beliau mendapat tugas sebagai nabi Allah. Tetapi seorang anak yang
berumur baru 13 tahun atau 14 tahun seperti usia Yesus ketika datang ke India,
tidak mungkin mempunyai gagasan melaksanakan suatu perjalanan panjang dan sulit
ke tempat yang begitu jauh, dan dengan demikian menantang bahaya maut di tengah
perjalanan.
Gerangan
tarikan apa atau tujuan apakah yang mendorong Yesus pada usia yang semuda itu, datang ke India? Dan seandainya
beliau sungguh datang ke India pada masa itu, kepentingan apakah yang mendorong
orang-orang India dan Kasymir untuk memelihara catatan mengenai kegiatan-kegiatan
dan pengembaraan-pengembaraan seorang
anak yang berusia 13 atau 14 tahun?
Kenyataan
berdasarkan pada catatan-catatan sejarah
yaitu bahwa sesudah Nabi Isa Ibnu Maryam
a.s. ditolak oleh orang-orang
Yahudi dan jiwa beliau dalam keadaan bahaya di Palestina, Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. meninggalkan negeri itu guna mencari — untuk memenuhi nubuatan-nubuatan lama dalam Bible. — "Sepuluh suku Bani Israil yang hilang" dan menempuh perjalanan jauh serta berbahaya ke India dan Kasymir dan
menjalani suatu kehidupan yang penuh peristiwa-peristiwa sampai mencapai usia yang amat tua yaitu 120
tahun (Kanz al-Ummal, Jilid 6).
Saat itulah catatan-catatan mengenai
kegiatan-kegiatan Nabi Isa Ibnu Maryam
a.s. mulai disimpan. "Sepuluh suku Bani Israil yang hilang” itu, sesudah mereka dicerai-beraikan oleh bangsa-banasa Assiria dan Babilonia,
dan telah menetap di Irak dan Iran, dan kemudian ketika orang-orang Iran di bawah pemerintahan Darius dan Cyrus
meluaskan daerah jajahannya lebih jauh lagi ke timur yaitu ke Afghanistan dan India, maka suku-suku Bani Israil itu ikut hijrah bersama-sama dengan mereka ke
negeri-negeri tersebut.
(2) Orang-orang Kasymir
dan Afghan adalah keturunan "Sepuluh Suku Bani Israil sang Hilang”
itu. Kenyataan ini nampak jelas dari riwayat,
sejarah, dan catatan tertulis mengenai kedua kaum tersebut. Nama kota-kota dan kabilah-kabilah mereka, bentuk
tubuh mereka dan sebagainya, semuanya menyerupai orang-orang Yahudi. Barang-barang pusaka mereka dan
prasasti-prasasti kuno mereka menyokong pandangan itu.
Ceritera-ceritera
rakyatnya penuh dengan kisah-kisah yang berbau
Yahudi. Nama Kasymir sendiri sebenarnya Kasyir yang berarti "seperti
Siria" (atau nampaknya nama Kasyir
itu diambil dari Kasyi atau Kusy, seorang cucu Nabi Nuh a.s.. Semua kenyataan
memberi kepastian kepada pandangan bahwa bangsa
Afghan dan Kasymir sebagian besar
adalah keturunan "Sepuluh Suku Bani
Israil yang Hilang."
Kuburan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. di Srinagar – Kasymir
(3) Bukti-bukti tersebut cukup menjadi saksi untuk
menunjukkan kenyataan, bahwa Nabi Isa
Ibnu Maryam a.s. sungguh-sungguh
datang ke Kasymir dan orang-orang Kasymir adalah keturunan "Sepuluh Suku Bani Israil yang Hilang”.
Tetapi bukti terbesar dan paling terang mengenai kedatangan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. ke Kasymir dan telah tinggal dan wafat di sana adalah adanya kuburan beliau di kampung Khanyar,
Srinagar, Kasymir. Kuburan yang
disebut Rauzabal itu. dikenal dengan
berbagai sebutan, yaitu: kuburan Yus Asaf,
kuburan Nabi Sahib (Baginda Nabi), kuburan Syahzadah Nabi (Nabi Pangeran),
dan bahkan kuburan Isa Sahib (Baginda
Isa).
Menurut penuturan sejarah yang telah terbukti sahnya, Yus Asaf datang ke Kasymir lebih dari 1900 tahun lampau dan mengajar dengan memakai tamsil (perumpamaan) dan
mempergunakan banyak tamsil-tamsil
yang tercantum dalam Injil. Dalam sebagian buku sejarah tertentu beliau
digambarkan sebagai seorang nabi.
Tambahan pula Yus Asaf itu suatu nama dalam Bible, yang berarti "Yasu”
yaitu ”pengumpul" yang merupakan
salah satu nama sifat Yesus, sebab tugas
beliau adalah mengumpulkan
suku-suku Bani Israil yang telah hilang
(sesat) ke pangkuan “Majikannya”,
sebagaimana beliau sendiri katakan:
"Ada
lagi padaKu domba lain yang bukan masuk kandang domba ini, maka sekalian itu
juga wajib Aku bawa, dan domba-domba itu kelak mendengar akan seruanku, lalu akan menjadi sekawan, dan gembala
seorang sahaja" (Injil Yohanes
10:16).
Kutipan-kutipan
yang bernilai sejarah seperti berikut memberi juga sedikit penjelasan mengenai
masalah ini:
"Makam itu
pada umumnya dikenal sebagai makam seorang nabi. Beliau seorang pangeran yang
datang ke Kasymir dari sebuah negeri asing dan giat dalam mengajar orang-orang
Kasymir, Namanya Yus Asaf” (Tarikh
A'zhami, hlm. 82-85).
"Yus Asaf
mengembara di beberapa negeri hingga
beliau tiba di sebuah negeri yang
disebut Kasymir. Beliau menjelajah seluruh negeri tersebut dan tinggal di sana
hingga beliau wafat" (Ikmal-ad-Din,
hlm. 258-359).
"Hikayat
Kasymir itu — demikian diberitahukan kepada sava — menyebutkan seorang nabi
yang tinggal di sana dan memberikan pelajaran seperti dilakukan oleh
Yesus dengan tamsil-tamsil dan kisah-kisah pendek, yang sampai saat ini
dituturkan orang di Kasymir” (John Noel's Article in Asia.
Oct. 1930).
"Oleh sebab
itu kepergian Isa a.s.
ke India dan wafat di Srinagar tidak bertentangan dengan
kebenaran, baik dari segi akal atau sejarah" (Tafsir Al-Manar, jilid 6).
Buku “Al-Masih di Hindustan” Karya Masih Mau’ud a.s. & Kesaksian Al-Quran
Tetapi kupasan yang lebih baik dan lebih lengkap
mengenai masalah ini lihat buku "Masih Hindustan Mein"
ditulis oleh Mirza Ghulam Ahmad a.s. -- Masih Mau'ud a.s.. Lihat pula buku terkenal bernama "Nazarene Gospel Restored” yang
pengarangnya berpendapat bahwa sekalipun secara resmi disalibkan pada tahun 30
Masehi namun Yesus masih hidup selama 20
tahun sesudah kebangkitannya
kembali.
Tidak mungkin ada lukisan lebih bagus mengenai tempat
di mana sesudah beliau terhindar dari kematian terkutuk di atas salib, Nabi Isa
a.s. dan ibunda beliau
tinggal dengan aman-sentausa dan
pulang ke rahmatullāh, daripada yang dikemukakan oleh Al-Quran dalam kata-kata "dataran yang tinggi yang memiliki lembah-lembah hijau dan sumber-sumber
air yang mengalir" yang merupakan lukisan yang sangat tepat
mengenai Lembah Kasymir yang indah itu.
Nicholas Notovitch menamakan Kasymir "Lembah
Kebahagiaan Abadi".
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran
Anyar, 6 Maret 2017
Tidak ada komentar:
Posting Komentar