Senin, 06 Maret 2017

Nubuatan Pengutusan "Misal Nabi Isa Ibnu Maryam a.s." (Masih Mau'ud a.s.) di Kalangan Umat Islam dan "Penentangan" Terhadapnya & Perintah Allah Swt. Kepada "Orang-orang Beriman" Untuk Menjadi "Anshaarullaah" (Para Penolong Allah) di Akhir Zaman &


Bismillaahirrahmaanirrahiim

  ISLAM
Pidato  Mirza Ghulam Ahmad a.s.
Tgl. 2 November 1904 di Kota Sialkote – Hindustan

Bab  35

NUBUATAN   PENGUTUSAN MISAL NABI ISA IBNU MARYAM A.S. (MASIH MAU’UD A.S.) DI KALANGAN UMAT ISLAM DAN PENENTANGAN TERHADAPNYA & PERINTAH  ALLAH SWT. KEPADA ORANG-ORANG BERIMAN UNTUK MENJADI “ANSHĀRULLĀH” (PARA PENOLONG ALLAH)   DI AKHIR ZAMAN

Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam bagian akhir Bab 34 telah dijelaskan  topik Kemuliaan Martabat Ruhani Nabi Besar Muhammad Saw. & Pengutusannya yang Kedua Kali di Akhir Zaman  Dalam Wujud Masih Mau’ud a.s., sehubungan dengan firman Allah Swt. berupa   nubuatan  dalam ayat:  وَ  الَّیۡلِ  اِذَا عَسۡعَسَ   -- “Demi malam apabila  hampir meninggalkan gelapnya, وَ الصُّبۡحِ  اِذَا تَنَفَّسَ  --  Dan demi subuh apabila mulai bernafas” ((At-Takwīr [81]:18-19).

Dua Kali Pengutusan Nabi Besar Muhammad Saw.

     Kata-kata “seorang Rasul yang mulia” dalam ayat selanjutnya:  اِنَّہٗ  لَقَوۡلُ رَسُوۡلٍ  کَرِیۡمٍ  -- “Sesungguhnya Al-Quran itu benar-benar  firman yang  diucapkan seorang Rasul  yang mulia”,  menunjuk kepada Nabi Besar Muhammad saw.  --  bukan kepada Malaikat Jibril a.s., seperti pada umumnya disalah-artikan. Kenyataan tersebut diperkuat oleh ayat selanjutnya:  ذِیۡ  قُوَّۃٍ  عِنۡدَ ذِی الۡعَرۡشِ مَکِیۡنٍ -- “yang memiliki kekuatan di sisi Tuhan Pemilik  ‘Arasy, مُّطَاعٍ  ثَمَّ  اَمِیۡنٍ  --   yang ditaati kemudian yang dipercaya.“ (At-Takwīr [81]:20-22).
    Kelima sifat: Rasul yang mulia, yang memiliki kekuatan, menikmati kedudukan tinggi di hadapan Tuhan Pemilik ‘Arasy, yang layak ditaati, dan setia kepada amanatnya dalam pandangan Allah Swt., semua  kenyataan tersebut  tepat sekali diterapkan kepada Nabi Besar Muhammad saw., sebagaimana dijelaskan pula dalam QS.53:1-19.
   Kata ganti nama hu yang berarti “nya” (masa depan Islam yang gemilang) dan “ia” (Nabi Besar Muhammad saw), pertama-tama dapat berarti menjadi sempurnanya nubuatan mengenai hari-depan Islam yang gemilang, dan kedua dapat pula berarti, bahwa Nabi Besar Muhammad saw. saw. melihat wujud beliau sendiri di Timur Jauh   -- dalam pribadi  Masih Mau’ud a.s. yakni  Rasul Akhir Zaman (QS.62:3-4).  Itulah makna ayat selanjutnya:  وَ مَا صَاحِبُکُمۡ بِمَجۡنُوۡنٍ -- “Dan teman kamu itu, Rasulullah, sekali-kali bukanlah orang gila. وَ لَقَدۡ رَاٰہُ  بِالۡاُفُقِ الۡمُبِیۡنِ   --  Dan  sungguh ia benar-benar melihatnya  di ufuk yang jelas.” (At-Takwīr [81]:23-24).
     Makna ayat selanjutnya:    وَ مَا ہُوَ عَلَی الۡغَیۡبِ بِضَنِیۡنٍ -- “Dan ia sekali-kali tidak kikir mengenai hal gaib” (At-Takwīr [81]:25). Allah Swt. telah membukakan kepada umat manusia rahasia-rahasia mengenai hal-hal gaib melalui mulut Nabi Besar Muhammad saw., demikian pula di Akhir  Zaman ini dengan perantaraan wakil beliau saw. – yakni Masih Mau’ud a.s.  -- sehingga  Islam (Al-Quran) dan umat Islam  akan kembali unggul atas  semua agama lainnya (QS.61:10).
   Dengan demikian sempurnalah pernyataan Allah Swt. dalam ayat-ayat selanjutnya mengenai kesempurnaan agama Islam (Al-Quran) sebagai  agama dan Kitab suci terakhir dan tersempurna (QS.5:4; QS.15:10), firman-Nya: وَ مَا ہُوَ بِقَوۡلِ شَیۡطٰنٍ رَّجِیۡمٍ  -- “Dan bukanlah Al-Quran itu ucapan syaitan yang terkutuk, فَاَیۡنَ تَذۡہَبُوۡنَ -- maka kemanakah kamu akan pergi? ” (At-Takwīr [81]:26-27).

Kesempurnaan Ajaran Islam (Al-Quran)  &   Pengutusan Nabi Besar Muhammad saw. Sebagai    Rahmat bagi Seluruh Alam

   Pernyataan Allah Swt. tersebut selaras dengan pernyataan Allah Swt. berikut ini mengenai pentingnya memeluk  agama Islam dan mengamalkannya sebagaimana yang dicontohkan Nabi Besar Muhammad saw. (QS.3:32),  firman-Nya:
وَ مَنۡ یَّبۡتَغِ غَیۡرَ الۡاِسۡلَامِ دِیۡنًا فَلَنۡ یُّقۡبَلَ مِنۡہُ ۚ وَ ہُوَ فِی الۡاٰخِرَۃِ مِنَ الۡخٰسِرِیۡنَ ﴿﴾ کَیۡفَ یَہۡدِی اللّٰہُ  قَوۡمًا کَفَرُوۡا بَعۡدَ اِیۡمَانِہِمۡ وَ شَہِدُوۡۤا اَنَّ الرَّسُوۡلَ حَقٌّ وَّ جَآءَہُمُ الۡبَیِّنٰتُ ؕ وَ اللّٰہُ  لَا یَہۡدِی الۡقَوۡمَ الظّٰلِمِیۡنَ ﴿﴾ اُولٰٓئِکَ جَزَآؤُہُمۡ  اَنَّ عَلَیۡہِمۡ لَعۡنَۃَ اللّٰہِ وَ الۡمَلٰٓئِکَۃِ وَ النَّاسِ اَجۡمَعِیۡنَ ﴿ۙ﴾ خٰلِدِیۡنَ فِیۡہَا ۚ لَا یُخَفَّفُ عَنۡہُمُ الۡعَذَابُ وَ لَا  ہُمۡ  یُنۡظَرُوۡنَ ﴿ۙ﴾
Dan   barangsiapa mencari agama yang bukan agama Islam, maka  agama itu tidak akan pernah diterima darinya, dan di akhirat ia termasuk orang-orang yang rugi Bagaimana mungkin Allah akan memberi petunjuk kepada suatu kaum yang kafir setelah mereka beriman, dan mereka telah menjadi saksi pula bahwa sesungguhnya  rasul itu benar, dan juga telah datang kepada mereka bukti-bukti  yang nyata?  Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang zalim.   Mereka inilah orang-orang yang atas mereka balasannya   adalah   laknat Allah, malaikat dan manusia seluruhnya.     Mereka kekal di dalamnya, azab tidak akan diringankan dari mereka, dan tidak pula mereka akan diberi tangguh.    Kecuali orang-orang yang bertaubat setelah itu dan melakukan perbaikan, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. (Āli ‘Imran [3]:86-89).
       Kembali kepada Surah At Takwir, selanjutnya Allah Swt. berfirman: اِنۡ  ہُوَ  اِلَّا ذِکۡرٌ  لِّلۡعٰلَمِیۡنَ  --  Tidak lain Al-Quran itu melainkan peringatan bagi seluruh  alam,  لِمَنۡ  شَآءَ مِنۡکُمۡ  اَنۡ یَّسۡتَقِیۡمَ -- bagi siapa yang menghendaki di antara kamu untuk berjalan lurus. وَ مَا تَشَآءُوۡنَ  اِلَّاۤ  اَنۡ یَّشَآءَ اللّٰہُ  رَبُّ الۡعٰلَمِیۡنَ --  Dan kamu tidak menghendaki kecuali yang dikehendaki  Allah, Rabb (Tuhan) seluruh alam  (At-Takwīr [81]:28-30).
  Makna ayat  وَ مَا تَشَآءُوۡنَ  اِلَّاۤ  اَنۡ یَّشَآءَ اللّٰہُ  رَبُّ الۡعٰلَمِیۡنَ --   ”dan kamu tidak menghendaki kecuali yang dikehendaki  Allah, Rabb (Tuhan) seluruh alam”, bahwa orang  yang dituntun ke jalan lurus hanyalah dia yang berusaha mencari jalan lurus dan menyesuaikan kehendaknya dengan kehendak Allah Swt., sebagaimana firman-Nya:
وَ الَّذِیۡنَ جَاہَدُوۡا فِیۡنَا لَنَہۡدِیَنَّہُمۡ سُبُلَنَا ؕ وَ اِنَّ اللّٰہَ  لَمَعَ الۡمُحۡسِنِیۡنَ ﴿٪
Dan orang-orang yang berjuang untuk Kami niscaya Kami akan memberi petunjuk kepada mereka pada jalan-jalan Kami, dan sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang berbuat ihsan. (Al-Ankabūt [29]:70).
        Jihad sebagaimana diperintahkan oleh Islam, tidak berarti harus membunuh atau menjadi kurban pembunuhan, melainkan harus berjuang keras guna memperoleh keridhaan Ilahi, sebab kata fīnā berarti “untuk menjumpai Kami.”
   Demikianlah makna  berbagai nubuatan dalam surah At-Takwir berkenaan keadaan  umat Islam di masa puncak kemundurannya selama 1000 tahun (QS.32:6) serta nubuatan mengenai mulai terbitnya “fajar kebangkitan dan kejayaan Islam” yang kedua di Akhir Zaman melalui pengutusan Mirza Ghulam Ahmad a.s. yang merupakan pengutusan kedua kali secara ruhani Nabi Besar Muhammad saw. (QS.62:3-4),  guna mewujudkan “kejayaan Islam” yang kedua kali di Akhir Zaman ini (QS.61:10),  melalui motto LOVE FOR ALL HATRED FOR NONE  (Cinta untuk semua, tidak ada kebencian bagi siapa pun), sebagaimana   tujuan   pengutusan  Nabi Besar Muhammad saw. sebagai rahmat bagi seluruh alam (QS.21:108).

Kebangkitan  agama Kristen & Pengutusan Misal Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.

       Pendek kata, Masih Mau’ud a.s. atau misal Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (QS.43:58) – yakni Mirza Ghulam Ahmad a.s. --  dilahirkan pada zaman  ketika bidang keagamaan  missi-missi Kristen   bergerak dengan gencarnya di seluruh dunia semenjak tahun 1804, khususnya ketika British & Foreign Bible Society terbentuk. (Life of Ahmad, A.R.Dard, Tabshir Publication, 1948,vol.1,h.20-24)
       Bahkan kurun waktu antara tahun 1815 hingga 1914 telah ditetapkan oleh kelompok Kristen sebagai The Great Century of World Evangelization (Abad Agung Penginjilan Dunia). Dan anak-benua India merupakan sebuah sasaran yang dijadikan sebagai proyek besar bagi gerakan penginjilan (Kristenisasi) itu. Dan jutaan orang masuk ke dalam agama Kristen melalui gerakan-gerakan missionaris Kristen di sana (Hindustan).
       Misalnya: missi-missi Kristen dari Inggris antara lain Methodists masuk ke India pada tahun 1819; Scottish Presbyterians masuk pada tahun 1823. Sedangkan missi-missi Kristen dari Amerika antara lain: Congregationalist (American Board) masuk ke India pada tahun 1810; Presbyterians pada tahun 1834; Baptists pada tahun 1836; Lutherans pada tahun 1840; dan Methodists pada tahun 1856. Kemudian German Gossner Mission masuk pada tahun 1839. Dan Scandinavian Lutherans pada tahun 1867.
       Tetapi  uniknya, Ratu Victoria memproklamirkan kebebasan beragama serta sikap tidak memihak Kerajaan Inggris Raya pada suatu agama, di India pada tahun 1858. (Lihat: World Christian Encyclopedia, David B.Barrett, Oxford,1982,p.23-30). Kenyataan tersebut y bagi Mirza Ghulam Ahmad a.s.  – baik sebelum mendakwakan diri sebagai Imam Mahdi a.s.  atau Masih Mau’ud a.s. maupun sesudah mendakwakan diri --   merupakan karunia  khusus dari Allah Swt., sebab jika tidak demikian maka    jihad  melalui pena (tulisan) yang beliau lancarkan akan mendapat penentangan keras, termasuk dari kalangan umat Islam sendiri, sebagaimana terbukti setelah beliau mendakwakan diri sebagai Imam Mahdi a.s. dan Masih Mau’ud a.s., sebagaimana firman-Nya:
وَ لَمَّا ضُرِبَ ابۡنُ مَرۡیَمَ  مَثَلًا  اِذَا قَوۡمُکَ مِنۡہُ  یَصِدُّوۡنَ ﴿﴾  وَ قَالُوۡۤاءَ اٰلِہَتُنَا خَیۡرٌ اَمۡ ہُوَ ؕ مَا ضَرَبُوۡہُ  لَکَ  اِلَّا جَدَلًا ؕ بَلۡ ہُمۡ قَوۡمٌ خَصِمُوۡنَ ﴿﴾
Dan apabila   Ibnu Maryam dikemukakan  sebagai misal tiba-tiba kaum engkau meneriakkan  penentangan terhadapnya, dan mereka berkata: "Apakah tuhan-tuhan kami lebih baik ataukah dia?" Mereka tidak menyebutkan hal itu kepada engkau melainkan perbantahan semata. Bahkan mereka adalah kaum yang biasa berbantah. (Az-Zukhruf [43]:58-59).
       Shadda (yashuddu) berarti: ia menghalangi dia dari sesuatu, dan shadda (yashiddu) berarti: ia mengajukan sanggahan   (Aqrab-ul-Mawarid. 2683. Kedatangan Al-Masih a.s. adalah tanda bahwa orang-orang Yahudi akan dihinakan dan direndahkan serta akan kehilangan kenabian untuk selama-lamanya. Karena matsal berarti sesuatu yang semacam dengan atau sejenis dengan yang lain (QS.6:39).
         Ayat ini, di samping arti yang diberikan dalam ayat ini, dapat pula berarti bahwa ketika  kaum Nabi Besar Muhammad saw.   — yaitu kaum Muslimin — diberitahu bahwa ketika  seseorang di kalangan mereka  mendakwakan  sebagai misal (seperti) Nabi Isa Ibnu maryam a.s.   yang   dibangkitkan   untuk memperbaharui mereka dan mengembalikan kejayaan ruhani mereka yang telah hilang, maka mereka bukannya  bergembira atas kabar gembira itu malah mereka berteriak  mengajukan protes:  اِذَا قَوۡمُکَ مِنۡہُ  یَصِدُّوۡنَ -- “tiba-tiba kaum engkau meneriakkan  penentangan terhadapnya.

Menentang Perintah Allah Swt. Untuk Menjadi “Penolong Allah

       Jadi, ayat tersebut dapat dianggap mengisyaratkan kepada kedatangan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.   untuk kedua kalinya dalam wujud misal  beliau a.s. yang  akan mendapat penentangan dari kalangan umat Islam – sebagaimana yang dilakukan para pemuka  kaum Yahudi terhadap  Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. Israili --  padahal Allah Swt. telah memerintahkan umat Islam untuk membantu perjuangan suci Masih Mau’ud a.s. atau misal Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (QS.43:58) tersebut, firman-Nya:
یٰۤاَیُّہَا  الَّذِیۡنَ  اٰمَنُوۡا کُوۡنُوۡۤا  اَنۡصَارَ اللّٰہِ کَمَا قَالَ عِیۡسَی ابۡنُ  مَرۡیَمَ لِلۡحَوَارِیّٖنَ مَنۡ  اَنۡصَارِیۡۤ  اِلَی اللّٰہِ ؕ قَالَ الۡحَوَارِیُّوۡنَ نَحۡنُ  اَنۡصَارُ اللّٰہِ  فَاٰمَنَتۡ طَّآئِفَۃٌ  مِّنۡۢ  بَنِیۡۤ  اِسۡرَآءِیۡلَ وَ کَفَرَتۡ طَّآئِفَۃٌ ۚ فَاَیَّدۡنَا  الَّذِیۡنَ  اٰمَنُوۡا عَلٰی عَدُوِّہِمۡ  فَاَصۡبَحُوۡا ظٰہِرِیۡنَ ﴿٪﴾
Hai orang-orang yang beriman, کُوۡنُوۡۤا  اَنۡصَارَ اللّٰہِ کَمَا قَالَ عِیۡسَی ابۡنُ  مَرۡیَمَ لِلۡحَوَارِیّٖنَ مَنۡ  اَنۡصَارِیۡۤ  اِلَی اللّٰہِ  -- jadilah kamu penolong-penolong Allah sebagaimana Isa ibnu Maryam berkata kepada  pengikut-pengikutnya, “Siapakah penolong-penolongku di jalan Allah?” قَالَ الۡحَوَارِیُّوۡنَ نَحۡنُ  اَنۡصَارُ اللّٰہِ  --  Pengikut-pengikut yang setia itu berkata: “Kamilah penolong-penolong Allah.”  فَاٰمَنَتۡ طَّآئِفَۃٌ  مِّنۡۢ  بَنِیۡۤ  اِسۡرَآءِیۡلَ وَ کَفَرَتۡ طَّآئِفَۃٌ  -- Maka segolongan dari Bani Israil beriman sedangkan segolongan lagi kafir, فَاَیَّدۡنَا  الَّذِیۡنَ  اٰمَنُوۡا عَلٰی عَدُوِّہِمۡ  فَاَصۡبَحُوۡا ظٰہِرِیۡنَ  -- kemudian Kami membantu orang-orang yang beriman terhadap musuh-musuh mereka lalu mereka menjadi orang-orang yang menang. (Ash-Shaf [61]:15).
     Dari ketiga golongan agama di antara kaum Yahudi, yang terhadap mereka Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. menyampaikan tablighnya – yaitu kaum Parisi, kaum Saduki, dan kaum Essenes – Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.  termasuk golongan  kaum Essenes, sebelum beliau diutus sebagai rasul Allah.
   Kaum Essenes adalah kaum yang sangat bertakwa, hidup jauh dari kesibukan dan keramaian dunia, dan melewatkan waktu mereka dalam berzikir dan berdoa, dan berbakti kepada sesama manusia. Dari kaum inilah berasal bagian besar dari para pengikut Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. di masa permulaan (“The Dead Sea Community,” oleh Kurt Schubert, dan “The Crucifixion by an Eye-Witness”). Mereka disebut “Paraclete - para Penolong” oleh Eusephus.
       Kata-kata penutup Surah Ash-Shaf ayat 15 sungguh sarat dengan nubuatan. Sepanjang zaman para pengikut Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.   telah menikmati kekuatan dan kekuasaan atas musuh abadi mereka – kaum Yahudi. Mereka telah menegakkan dan memerintah kerajaan-kerajaan luas dan perkasa, sedang kaum Yahudi tetap merupakan kaum yang cerai-berai  di berbagai wilayah dunia – termasuk wilayah Hindustan --  sehingga mendapat julukan “the Wandering Jew” (“Yahudi Pengembara”).

Pengembaraan Panjang Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. Mencari “Sepuluh Suku Bani Israil” yang Hilang

   Itulah sebabnya setelah Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. selamat dari upaya pembunuhan melalui penyaliban yang dilakukan oleh  para pemuka Yahudi (QS.4:258-259) kemudian beliau  disertai ibunda beliau (Maryam binti  ’Imran) pergi meninggalkan Palestina guna mencari 10 suku  Bani Israil yang tercerai-berai  setelah mereka diangkut sebagai tawanan dari Yerusalem ke Babilonia oleh pasukan Nebukadnezar  (QS.17:5-6; QS.2:260)  -- sesuai kutukan Nabi Daud a.s. (QS.5:80) – dan akhirnya pengembaraan panjang dan lama Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. berakhir di SrinagarKasymir,    beliau wafat dalam  usia 120 tahun di sana serta jenazahnya dikuburkan di sana desa Khan Yar, firman-Nya:
وَ جَعَلۡنَا ابۡنَ مَرۡیَمَ وَ اُمَّہٗۤ  اٰیَۃً وَّ اٰوَیۡنٰہُمَاۤ  اِلٰی رَبۡوَۃٍ  ذَاتِ قَرَارٍ وَّ مَعِیۡنٍ ﴿٪﴾
Dan Kami menjadikan  Ibnu Maryam dan ibunya suatu Tanda, dan Kami melindungi keduanya ke suatu dataran yang tinggi yang memiliki   lembah-lembah hijau  dan    sumber-sumber mata air yang  mengalir.  (Al-Mu’minun [23]:51).
          Oleh sebab kematian Yesus seperti pula kelahirannya telah menjadi masalah yang banyak dipertentangkan, dan beberapa kekacauan pendapat dan keraguan masih tetap ada mengenai bagaimana dan di mana beliau melampaukan hari-hari terakhir dalam kehidupan beliau yang padat karya itu, dan oleh karena persoalan cara menemui ajal beliau pun merupakan persoalan yang sangat penting  bagi agama Kristen maka pada tempatnya diberikan catatan yang  agak lengkap mengenai persoalan yang penting tapi rumit ini.
    Al-Quran dan Bible dikuatkan oleh kenyayaan-kenyataan sejarah yang telah diakui sahnya, memberi dukungan kuat kepada pandangan bahwa Yesus (Nabi Isa a.s.) tidak wafat di atas salib. Dalil-dalil dan keteranggan-keterangan berikut menunjang dan mendukung pernyataan itu:
   (1) Dalam bukunya "The Unknown Life of Yesus". Nicholas Notovitch. seorang pengembara bangsa Rus yang pernah melawat ke Timur Jauh pada kira-­kira tahun 1877 menceriterakan. bahwa Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. pemah datang ke Kasymir dan Afghanistan. Sir Francis Younghusband yang pada waktu Nicholas Notovitch mengunjungi Kasymir adalah seorang penduduk berkebangsaan Inggris di istana Maharaja Kasymir, bertemu dengan dia di dekat Zojila Pass.
   Penyelidikan terbaru mengenai perjalanan-perjalanan  Nabi Isa Ibnu Maryam a.s  di Timur memberikan dukungan kuat kepada buku Notovitch. Profesor Nicholus Roerich dalam bukunya "Heart of Asia" mengatakan:
"Di Srinagar kami mula-mula menemukan hikayat yang  aneh sekitar kunjungan Yesus ke tempat itu. Kemudian kami melihat betapa tersebar-luasnya di India, di Laddakh, dan di Asia Tengah hikayat mengenai kunjungan Yesus ke berbagai-bagai daerah itu.  Di seluruh Asia Tengah, di Kasymir, di Laddakh, dan di Tibet, dan bahkan lebih ke utara lagi masih terdapat kepercavaan yang kuat bahwa Yesus atau Isa berkeliling di daerah itu  ("Glimpses of World History" oleh Yawaharlal Nehru).

Upaya Mengaburkan “Sejarah” Pengembaraan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.

    Beberapa sarjana telah berlindung di belakang beberapa bagian yang samar pada buku Notovitch, untuk menyebutkan bahwa Yesus datang ke Timur sebelum dan bukan sesudah beliau mendapat tugas sebagai nabi Allah. Tetapi seorang anak yang berumur baru 13 tahun atau 14 tahun seperti usia Yesus ketika datang ke India, tidak mungkin mempunyai gagasan melaksanakan suatu perjalanan panjang dan sulit ke tempat yang begitu jauh, dan dengan demikian menantang bahaya maut di tengah perjalanan.
  Gerangan tarikan apa atau tujuan apakah yang mendorong Yesus pada usia yang  semuda itu, datang ke India? Dan seandainya beliau sungguh datang ke India pada masa itu, kepentingan apakah yang mendorong orang-orang India dan Kasymir untuk memelihara catatan mengenai kegiatan-kegiatan dan pengembaraan-pengembaraan seorang anak yang berusia 13 atau 14 tahun?
   Kenyataan berdasarkan pada catatan-­catatan sejarah yaitu bahwa sesudah  Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. ditolak  oleh orang-orang Yahudi dan  jiwa beliau dalam keadaan bahaya di Palestina,   Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. meninggalkan negeri itu guna mencari — untuk memenuhi nubuatan-nubuatan lama dalam Bible. — "Sepuluh suku Bani Israil yang hilang" dan menempuh perjalanan jauh serta berbahaya ke India dan Kasymir dan menjalani suatu kehidupan yang penuh peristiwa-peristiwa  sampai mencapai usia yang amat tua yaitu 120 tahun (Kanz al-Ummal,  Jilid 6).
    Saat itulah catatan-catatan mengenai kegiatan-kegiatan  Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.  mulai disimpan. "Sepuluh suku Bani Israil  yang hilang  itu, sesudah mereka dicerai-beraikan oleh bangsa-banasa Assiria dan Babilonia, dan telah menetap di Irak dan Iran, dan kemudian ketika orang-orang Iran di bawah  pemerintahan Darius dan Cyrus meluaskan daerah jajahannya lebih jauh lagi ke timur yaitu ke Afghanistan dan India, maka suku-suku Bani Israil itu ikut  hijrah  bersama-sama dengan mereka ke negeri-negeri  tersebut.
    (2) Orang-orang Kasymir dan Afghan adalah keturunan "Sepuluh Suku Bani Israil sang Hilang” itu. Kenyataan ini nampak jelas dari riwayat, sejarah, dan catatan tertulis mengenai kedua kaum tersebut. Nama kota-kota dan kabilah­-kabilah mereka, bentuk tubuh  mereka  dan sebagainya, semuanya menyerupai orang-orang Yahudi. Barang-barang pusaka mereka dan prasasti-prasasti kuno mereka menyokong pandangan itu.
   Ceritera-ceritera rakyatnya penuh dengan kisah-kisah yang berbau Yahudi. Nama Kasymir sendiri sebenarnya Kasyir yang berarti "seperti Siria"  (atau nampaknya nama Kasyir itu diambil dari Kasyi atau Kusy, seorang cucu Nabi Nuh a.s.. Semua kenyataan memberi kepastian kepada pandangan bahwa bangsa Afghan dan Kasymir sebagian besar adalah keturunan "Sepuluh Suku Bani Israil yang Hilang." 

Kuburan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. di Srinagar – Kasymir

     (3) Bukti-bukti tersebut cukup menjadi saksi untuk menunjukkan kenyataan, bahwa  Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.  sungguh-sungguh datang ke Kasymir dan orang-orang Kasymir adalah keturunan "Sepuluh Suku Bani Israil yang Hilang”. Tetapi bukti terbesar dan paling terang mengenai kedatangan  Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. ke Kasymir dan telah tinggal dan wafat di sana adalah adanya kuburan beliau di kampung Khanyar, Srinagar, Kasymir. Kuburan yang disebut Rauzabal itu. dikenal dengan berbagai sebutan, yaitu: kuburan Yus Asaf, kuburan Nabi Sahib (Baginda Nabi), kuburan Syahzadah Nabi (Nabi Pangeran), dan bahkan kuburan Isa Sahib (Baginda Isa).
         Menurut penuturan sejarah  yang telah terbukti sahnya, Yus Asaf datang ke Kasymir lebih dari 1900 tahun lampau dan mengajar dengan memakai tamsil (perumpamaan) dan mempergunakan banyak tamsil-tamsil yang tercantum dalam Injil.  Dalam sebagian buku sejarah tertentu  beliau digambarkan sebagai seorang nabi. Tambahan pula Yus Asaf  itu suatu nama dalam Bible, yang berarti "Yasu” yaitu ”pengumpul" yang merupakan salah satu nama sifat Yesus, sebab tugas  beliau adalah mengumpulkan suku-suku Bani Israil yang telah hilang (sesat) ke pangkuan “Majikannya”, sebagaimana beliau sendiri katakan:
 "Ada lagi padaKu domba lain yang bukan masuk kandang domba ini, maka sekalian itu juga wajib Aku bawa, dan domba-domba itu kelak mendengar akan seruanku,  lalu akan menjadi sekawan, dan gembala seorang sahaja" (Injil Yohanes 10:16).
   Kutipan-kutipan yang bernilai sejarah seperti berikut memberi juga sedikit penjelasan mengenai masalah ini:
  "Makam itu pada umumnya dikenal sebagai makam seorang nabi. Beliau seorang pangeran yang datang ke Kasymir dari sebuah negeri asing dan giat dalam mengajar orang-orang Kasymir, Namanya Yus Asaf” (Tarikh A'zhami, hlm.  82-85).    
   "Yus Asaf mengembara di beberapa negeri  hingga beliau tiba di sebuah negeri  yang disebut Kasymir. Beliau menjelajah seluruh negeri tersebut dan tinggal di sana hingga beliau wafat" (Ikmal-ad-Din, hlm. 258-359).
"Hikayat Kasymir itu — demikian diberitahukan kepada sava — menyebut­kan seorang  nabi  yang tinggal di sana dan memberikan pelajaran seperti dilakukan oleh Yesus dengan tamsil-tamsil dan kisah-kisah pendek, yang sampai saat ini dituturkan orang di Kasymir  (John Noel's Article in Asia. Oct. 1930).
"Oleh sebab itu kepergian   Isa   a.s.  ke India dan wafat di Srinagar tidak bertentangan dengan kebenaran, baik dari segi akal atau sejarah" (Tafsir Al­-Manar, jilid 6).

Buku “Al-Masih di Hindustan” Karya Masih Mau’ud a.s. & Kesaksian Al-Quran

    Tetapi kupasan yang lebih baik dan lebih lengkap mengenai masalah ini  lihat buku "Masih Hindustan Mein" ditulis oleh Mirza Ghulam  Ahmad a.s. -- Masih Mau'ud a.s..  Lihat pula buku terkenal bernama "Nazarene Gospel Restored” yang pengarangnya berpendapat bahwa sekalipun secara resmi disalibkan pada tahun 30 Masehi namun Yesus masih hidup selama 20 tahun sesudah kebangkitannya kembali.
Tidak mungkin ada lukisan lebih bagus mengenai tempat di mana sesudah beliau terhindar dari kematian terkutuk di atas salib, Nabi Isa a.s. dan ibunda beliau  tinggal  dengan aman-sentausa dan pulang ke rahmatullāh, daripada yang dikemukakan oleh Al-Quran  dalam kata-kata "dataran yang tinggi yang memiliki lembah-lembah hijau dan sumber-sumber air yang mengalir" yang merupakan lukisan yang sangat tepat mengenai  Lembah Kasymir yang indah itu. Nicholas Notovitch menamakan Kasymir "Lembah Kebahagiaan Abadi".

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid

oo0oo
Pajajaran Anyar, 6   Maret  2017

Tidak ada komentar:

Posting Komentar