Bismillaahirrahmaanirrahiim
ISLAM
Pidato Mirza Ghulam Ahmad a.s.
Tgl. 2 November 1904
di Kota Sialkote – Hindustan
Bab 32
DINASTI KERAJAAN MUGHAL DI
HINDUSTAN DAN HUBUNGANNYA DENGAN PENGUTUSAN MUNCULAN MASIH
MAU’UD A.S. & NUBUATAN AL-QURAN MENGENAI TANDA-TANDA AKHIR ZAMAN
DAN KIASAN KELUARBIASAAN KEMAMPUAN DUNIAWI AL-MASIH DAJJAL
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam bagian akhir Bab 31 telah dijelaskan
topik Silsilah Mirza Ghulam Ahmad a.s. dan Pengkhidmatannya
Terhadap Islam dan Nabi Besar Muhammad saw. Sebelumnya telah dikemukakan ringkasan sejarah kerajaan Mughal di Hindustan
yang para penguasanya menganut agama
Islam, dimana leluhur Pendiri Jemaat
Muslim Ahmadiyah, Mirza Ghulam Ahmad a.s.
– selain memiliki hubungan dengan Nabi
Besar Muhammad saw. sebagai “Ahli Bait” -- juga memiliki hubungan kekerabatan (hubungan darah) dengan bangsa Persia (Iran), yaitu dari keturunan Haji
Barlas, yang merupakan paman Amir Tuglak Temur (Timur Lenk).
Timur
berasal dari suku Barlas yang
terkenal dan yang menguasai kawasan Kish
(Kesh) selama 200 tahun. Kawasan ini pada zaman dahulu dikenal dengan nama Sogdiana yang ibukotanya adalah Samarkand. Mereka adalah suku yang berakar dari Persia. Kata Samarkand itu sendiri berasal dari
bahasa Farsi. Barlas juga
demikian, artinya “pemuda gagah berani dari kalangan terhormat.”
Mirza
Hadi Beg, keturunan Haji Barlas, memimpin hijrah
dari Samarkand menuju Punjab, India, dengan membawa rombongan sekitar 200 orang. Mereka
membangun sebuah perkampungan yang
tidak begitu jauh dari sungai Bias, dan menamakannya Islampur.
Emperor Babar (Babur) memberikan kepada beliau kawasan yang mencakup
ratusan perkampungan. Dan beliau ditunjuk sebagai Qazi (Qadhi)
disana, sehingga kampung kediaman beliau
itu dikenal dengan nama Islampur Qazi (Qadhi). Akhirnya nama ini tinggal Qazi (Qadhi)
dan lebih dikenal
dengan sebutan Qadi yang kemudian menjadi Qadian. (Lihat: Life of Ahmad, A.R.Dard, Tabshir
Publication, 1948,vol.1,h.7-8)
Haji
Barlas adalah Raja Kawasan Qesh, yang
merupakan Paman Amir Tughlak Temur
(Timur Lenk). Tatkala Amir Temur
menyerang Qesh, Haji Barlas
sekeluarga terpaksa melarikan diri ke Khurasan
dan Samarkand dan mulai menetap di
sana. Akan tetapi pada abad 10 H atau
abad ke 16 Masehi, seorang keturunan Haji
Barlas bernama Hadi Beg beserta
200 orang pengikutnya hijrah dari Khurasan ke India karena beberapa hal, dan tinggal di kawasan sungai Bias lalu
mendirikan sebuah perkampungan bernama Islampur,
9 km dari sungai tersebut.
Mirza Hadi Beg adalah orang yang cerdik dan pandai, karenanya beliau
diangkat oleh Pemerintah Pusat Delhi
sebagai Qadhi (Hakim) untuk daerah
sekelilingnya. Oleh sebab kedudukan beliau sebagai Qadhi itulah, tempat tinggal beliau disebut Islampur Qadhi. Lambat laun kata Islampur hilang tinggal Qadhi
saja. Dikarenakan dialek setempat akhirnya disebut sebagai Qadi atau Qadian.
Selama kerajaan Mughal (Moghul) berkuasa, keluarga ini sering memperoleh kedudukan terhormat dari Pemerintah Mughal.
Akan tetapi ketika kerajaan Mughal jatuh, keluarga ini hanya
mendapatkan 60 pal sekitar Qadian
sebagai daerah otonomi. Keadaan ini
diperparah lagi ketika bangsa Sikh
menguasai Qadian. Keluarga Barlas semuanya ditahan selama beberapa
hari, kemudian diizinkan meninggalkan Qadian.
Akhirnya, mereka pergi ke Kesultanan Kapurtala selama 12 tahun.
Silsilah Keturunan Haji
Barlas
Silsilah keturunan Haji
Barlas yang secara berurutan melahirkan: (1) Mirza Hadi Beg; (2) Muhammad Sultan; (3) Abdul Baqi; (4) Muhammad
Beg; (5) Jafar Beg; (6) Allah Din; (7) Muhammad Dilawar, (8) Muhammad Aslam;
(9) Muhammad Qaim; (10) MIrza Faiz Muhammad; (11) Mirza Ghul Muhammad; (12)
Mirza Ata Muhammad; (13) Mirza Ghulam Murtaza; (14) Mirza Ghulam Ahmad.
Ketika zaman Kekuasaan Maha Raja Ranjit Singh yang berhasil menguasai semua raja kecil, beliau mengembalikan
sebagian harta benda keluarga itu kepada Mirza
Ghulam Murtaza, ayah Mirza Ghulam
Ahmad. Kemudian datanglah Inggris
yang mengalahkan Pemerintah Sikh dan
merampas segala kekayaan keluarga ini
kecuali satu daerah yaitu Qadian yang
amat kecil. Daerah ini dibiarkan dalam kepemilikan
keluarga tersebut.
Jadi,
menjelang masa kelahiran Mirza Ghulam Ahmad di Qadian keadaan umat Islam di Hindustan – khususnya di
wilayah Punjab -- benar-benar sangat
menderita dari tekanan dan kezaliman kaum Hindu
dan Sikh, sehingga banyak sekali mesjid-mesjid yang terlantar dan
dijadikan kandang hewan.
Tetapi
ketika bangsa Inggris -- yang sebelumnya mendapat kekuasaan di
wilayah pantai guna kepentingan perdagangan
(QS.18:19-21) -- kemudian berhasil mengalahkan
kekuasaan kaum Sikh di Punjab,
keadaan umat Islam di Punjab dapat kembali “bernafas”, walau
pun tetap tidak berdaya menahan
serangan-serangan keagamaan baik dari
pihak Hindu mau pun dari para missionaries
Kristen yang memanfaatkan
kekuasaan kerajaan Inggris di Hindustan, dan berhasil memasukkan jutaan umat
Islam -- termasuk dari kalangan Sayyid -- ke dalam agama
Kristen.
Zaman Pergolakan dan
Perubahan Dunia
Banyak
perubahan dan pergolakan sosio-politik dunia pada masa-masa itu. Imperialisme Barat menampakkan warnanya.
Inggris Raya sedang jaya-jayanya hampir di seluruh belahan
bumi ini. Namun sejauh yang berkaitan dengan masalah agama, pemerintah Kerajaan
Inggris memberikan jaminan kebebasan
beragama, khususnya dalam toleransi
beragama. Yaitu dengan disahkannya rancangan
undang-undang Emansipasi Katolik (Catholic Emancipation Bill) pada
tahun 1829, yang dasarnya adalah penghapusan diskriminasi dalam perkara-perkara sipil dan kesama-rataan dalam hak-hak politis.
Banyak hal yang merubah pola pikir dan cara hidup dunia. Rancangan pembuatan Terusan Suez sudah mulai dijajaki semenjak tahun 1833. Dan Terusan Suez itu selesai dibuat pada
tahun 1865. Mesin cetak plat baja sudah ditemukan pada akhir abad ke-18. Dan
mesin cetak praktis yang menggunakan tenaga
uap pertama kali diproduksi dan digunakan pada tahun 1814. Kendara-kendara atau alat-alat
transportasi praktis yang menggunakan tenaga
uap (tenaga api) dirancang pada tahun 1802, dan pada tahun 1824 sudah
banyak yang beredar dengan sukses.
Daimler menemukan internal-combustion-motor pada tahun 1885 yang menggunakan bahan
bakar minyak (petroleum spirit). Kapal uap pertama mulai menjelajahi
jarak antara Liverpool dan Glasgow pada tahun 1815. Jaringan kereta-api pun mulai dibuka di Inggris
pada tahun 1825. Electric telegraphy
mulai digunakan pada tahun 1820 sebagai sarana
komunikasi antar berbagai tempat di seluruh dunia. Mesin elektro-magnetik mulai digunakan pada
tahun 1832.
Pada
tahun 1846 telah ditemukan sistim
anaesthetik. Dan sistim antiseptik
dalam perawatan luka mulai diakui
pada tahun 1867. Penelitian Pasteur
tentang teori kuman pada penyakit-penyakit infeksi dimulai pada tahun 1850. Dan
malaria serta tuberculosis ditemukan pada tahun 1880.
Penggunaan listrik secara komersial untuk sarana
penerangan telah dimulai pada tahun 1879. Dan telephone ditemukan pada tahun 1876. Demikian pula X-ray ditemukan pada tahun 1895.
Ringkasnya banyak sekali penemuan-penemuan
baru yang mengubah pola pikir dan
pola hidup manusia. (Life of Ahmad, A.R.Dard, Tabshir
Publication, 1948,vol.1,h.20-24).
Tanda-tanda Akhir
Zaman & Makna “Matahari Digulung”
Semua kesuksesan dalam bidang iptek (ilmu pengetahuan dan teknologi)
yang diraih bangsa-bangsa Kristen
dari barat -- yakni Ya’juj (Gog) dan Ma’juj (Magog)
– tersebut menjadi penggenap berbagai nubuatan dalam Al-Quran, di antaranya
adalah Tanda-tanda Akhir Zaman
dalam surah At-Takwir,
firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ
الرَّحِیۡمِ۪ۙ﴿﴾ اِذَا الشَّمۡسُ کُوِّرَتۡ ۪ۙ﴿﴾ وَ اِذَا
النُّجُوۡمُ انۡکَدَرَتۡ ۪ۙ﴿﴾ وَ
اِذَا الۡجِبَالُ سُیِّرَتۡ ۪ۙ﴿﴾ وَ اِذَا الۡعِشَارُ
عُطِّلَتۡ ۪ۙ﴿﴾ وَ اِذَا
الۡوُحُوۡشُ حُشِرَتۡ ۪ۙ﴿﴾ وَ اِذَا
الۡبِحَارُ سُجِّرَتۡ ۪ۙ﴿﴾ وَ اِذَا النُّفُوۡسُ زُوِّجَتۡ ۪ۙ﴿﴾ وَ اِذَا الۡمَوۡءٗدَۃُ
سُئِلَتۡ ۪ۙ﴿۸﴾ بِاَیِّ ذَنۡۢبٍ
قُتِلَتۡ ۚ﴿﴾ وَ اِذَا الصُّحُفُ نُشِرَتۡ ﴿۪ۙ۱﴾ وَ
اِذَا السَّمَآءُ کُشِطَتۡ ﴿۪ۙ﴾ وَ اِذَا الۡجَحِیۡمُ سُعِّرَتۡ
﴿۪ۙ﴾ وَ اِذَا
الۡجَنَّۃُ اُزۡلِفَتۡ ﴿۪ۙ﴾ عَلِمَتۡ نَفۡسٌ
مَّاۤ اَحۡضَرَتۡ ﴿ؕ﴾
Aku baca dengan nama Allah, Maha Pemurah,
Maha Penyayang. Apabila
matahari digulung, dan apabila bintang-bintang menjadi suram, dan apabila gunung-gunung digerakan, dan apabila unta-unta bunting sepuluh bulan
ditinggalkan, dan apabila binatang-binatang liar dikumpulkan, dan apabila lautan-lautan disalurkan,
dan apabila orang-orang dikumpulkan, dan
apabila bayi perempuan yang dikubur
hidup-hidup akan dita-nya, karena dosa
apakah ia dibunuh? Dan apabila buku-buku
akan disebar-luaskan, dan
apabila langit dibuka, dan
apabila neraka dinyalakan, dan
apabila surga didekatkan. Setiap jiwa akan mengetahui apa yang dihadirkan. (At-Takwīr [81]:1-14).
Pada umumnya dikatakan bahwa Surah ini
membahas Hari Kebangkitan terakhir, ketika hukum dan proses alam
seperti kita kenal akan berhenti bekerja. Tetapi seluruh arah dan tujuan Surah
ini membicarakan dengan begitu jelas keadaan-keadaan yang terdapat dalam alam kebendaan di dunia ini, sehingga beberapa ayat akan kehilangan segala
maknanya jika ayat-ayat itu dianggap
ditujukan hanya kepada Hari Kebangkitan
terakhir (qiamat kubra) belaka.
Pada
hakikatnya Surah At-Takwīr mengatakan
mengenai perubahan-perubahan besar
yang telah terjadi di alam dunia kebendaan
dan di alam kehidupan manusia sejak
zaman Nabi Besar Muhammad saw., khususnya di Akhir Zaman ini. Dengan demikian ayat: اِذَا الشَّمۡسُ کُوِّرَتۡ -- “Apabila matahari digulung” akan
berarti: Apabila kegelapan ruhani akan meliputi seluruh dunia - ketika cahaya Matahari Ruhani Nabi Besar Muhammad saw. secara berangsur-angsur menjadi suram atau
hilang sirna – setelah umat Islam mengalami
3 abad masa kejayaannya yang
pertama (QS.32:6).
Atau,
ayat ini dapat juga menunjuk kepada gerhana-gerhana
matahari dan bulan (QS.75:7-10), yang
menurut sebuah hadits termasyhur akan
terjadi di masa Imam Mahdi a.s.
di dalam bulan Ramadhan; suatu gejala alam yang dunia tidak pernah menyaksikan sebelumnya
(Ad-Daru-
Quthni hlm. 188). Gerhana-gerhana
matahari dan bulan tersebut telah
terjadi pada tahun 1894, tepat seperti yang telah dinubuatkan, yakni 4 tahun
kemudian setelah Mirza Ghulam Ahmad a.s. mendakwakan diri sebagai Imam Mahdi a.s..
Makna “Bintang-bintang Berjatuhan”; “Gunung-gunung
Digerakan” dan “Unta-unta Betina
Ditinggalkan”
Makna
ayat: وَ اِذَا
النُّجُوۡمُ انۡکَدَرَتۡ -- “dan apabila bintang-bintang menjadi suram.” An-nujūm (bintang-bintang) berarti
para ulama. Arti ini didukung oleh
sebuah hadits termasyhur: “Sahabat-sahabat
adalah laksana bintang-bintang, siapa pun dari antara mereka kamu ikuti, kamu
akan mendapat pertunjuk yang benar” (Baihaqi).
Maka, ayat itu dapat berarti: Ketika para pemimpin
agama akan menjadi rusak dan kehilangan
segala pengaruhnya. Isyarat ini dapat pula ditujukan kepada jatuhnya bintang-bintang atau gejala
meteoric dalam jumlah luar biasa besarnya, pada masa ketika seorang mushlih rabbani (pembaharu ruhani)
datang.
Makna
ayat selanjutnya: وَ
اِذَا الۡجِبَالُ سُیِّرَتۡ -- “dan apabila gunung-gunung digerakan.”
Yakni ketika gunung-gunung
akan dihancurkan dengan dinamit dan jalan-jalan
akan dibuat menembus gunung-gunung; atau secara kiasan, ketika kekuasaan para penguasa akan terkikis, kata jabal berarti pula kepala suatu kaum (Lexicon Lane).
‘Isyār dalam ayat: وَ اِذَا الۡعِشَارُ عُطِّلَتۡ -- “dan apabila unta-unta
bunting sepuluh bulan ditinggalkan”
itu jamak dari ‘usyara‘, yang berarti: seekor unta betina bunting
sepuluh bulan. Kata ‘isyār dikenakan kepada unta-unta betina, ketika
sebagian telah beranak dan sebagian lain diharapkan segera akan beranak (Lexicon Lane).
Ayat
ini berarti apabila unta-unta betina tidak akan dianggap penting lagi, bahkan di negeri
Arab sekalipun. Isyarat ini agaknya tertuju kepada keadaan, dimana unta -- sebagai alat tranportasi akan digantikan fungsinya oleh sarana-sarana pengangkutan yang lebih baik dan lebih cepat pula, seperti kereta api, mobil, kapal terbang, dan
lain-lain.
Dalam
sebuah hadits Nabi Besar Muhammad saw.
pun terdapat isyarat jelas mengenai unta yang akan digantikan oleh sarana-sarana
pengangkutan lain itu. Hadits itu berbunyi sebagai berikut: “Unta akan ditinggalkan, dan tidak akan
dipergunakan lagi guna bepergian dari suatu tempat ke tempat lain” (Muslim).
Makna “Keledai Dajjal yang Makan Api” & Nubuatan Terciptanya Sarana Transportasi Modern
Dalam
hadits berkenaan Dajjal disebutkan Nabi Besar Muhammad saw. bahwa sarana transportasi
baru yang menggantikan fungsi unta
disebut secara kiasan sebagai “keledai Dajjal yang “makanannya api” yakni sarana-sarana transportasi baru ciptaan bangsa-bangsa
Kristen dari barat (Ya’juj dan Ma’juj) yang memanfaatkan “kekuatan
api”, contohnya kereta api dan kapal laut
yang memanfaatkan ketel uap, dan yang
menggunakan “motor bakar” seperti mobil
dan kapal terbang.
Itulah sebabnya mengapa bangsa-bangsa Kristen dari barat pun disebut Ya’juj (Gog) dan Ma’juj
(Magog) yang berasal dariakar kata
bahasa Arab: ajja yang artinya: ia cepat
langkahnya; ia atau sesuatu itu menjadi api yang menyala-nyala (Lexicon
Lane). Dengan demikian genap pulalah nubuatan dalam Al-Quran mengenai
akan terciptanya sarana transpotasi
baru pengganti unta, kuda, lembu dan lain-lain, firman-Nya:
وَ الۡاَنۡعَامَ خَلَقَہَا ۚ لَکُمۡ
فِیۡہَا دِفۡءٌ وَّ مَنَافِعُ وَ مِنۡہَا تَاۡکُلُوۡنَ ﴿۪﴾ وَ
لَکُمۡ فِیۡہَا جَمَالٌ حِیۡنَ تُرِیۡحُوۡنَ وَ حِیۡنَ تَسۡرَحُوۡنَ ﴿۪﴾ وَ
تَحۡمِلُ اَثۡقَالَکُمۡ اِلٰی بَلَدٍ
لَّمۡ تَکُوۡنُوۡا بٰلِغِیۡہِ اِلَّا
بِشِقِّ الۡاَنۡفُسِ ؕ اِنَّ رَبَّکُمۡ
لَرَءُوۡفٌ رَّحِیۡمٌ ۙ﴿﴾ وَّ الۡخَیۡلَ وَ الۡبِغَالَ وَ الۡحَمِیۡرَ لِتَرۡکَبُوۡہَا وَ
زِیۡنَۃً ؕ وَ یَخۡلُقُ مَا لَا تَعۡلَمُوۡنَ ﴿﴾
Dan
binatang ternak pun Dia
telah menciptakannya, kamu memperoleh kehangatan
di dalamnya serta manfaat-manfaat
lainnya, dan darinya kamu makan. Dan di dalamnya terdapat sarana
keindahan bagi kamu, ketika kamu
menggiringnya di waktu petang pulang ke kandang, dan ketika kamu melepaskannya di waktu pagi ke
tempat penggembalaan. Dan binatang itu mengangkut muatan kamu ke suatu negeri yang kamu tidak dapat mencapainya
kecu-ali dengan banyak penderitaan bagi
diri kamu. Sesungguhnya Rabb
(Tuhan) kamu Maha Penyantun, Maha Penyayang.
Dan Dia telah menciptakan kuda-kuda, bagal-bagal, dan keledai-keledai,
supaya kamu dapat menung-ganginya, dan juga sebagai
sarana keindahan, وَ یَخۡلُقُ مَا لَا
تَعۡلَمُوۡنَ -- dan Dia
akan menciptakan apa yang kamu
belum ketahui. (An-Nahl
[16]:6-9).
Makna ayat 9:
اِنَّ
رَبَّکُمۡ لَرَءُوۡفٌ رَّحِیۡمٌ ۙ﴿﴾ وَّ الۡخَیۡلَ وَ الۡبِغَالَ
وَ الۡحَمِیۡرَ لِتَرۡکَبُوۡہَا وَ زِیۡنَۃً -- “Dan Dia telah menciptakan
kuda-kuda, bagal-bagal, dan keledai-keledai, supaya kamu dapat menungganginya, dan juga sebagai sarana
keindahan.” Betapa Allah Swt. telah menaruh perhatian begitu besar
dalam mengadakan persediaan bagi
segala keperluan jasmani manusia,
maka sejenak pun tidak terlintas dalam pikiran, bahwa Dia seakan-akan telah mengabaikan untuk menyediakan jaminan yang sepadan bagi keperluan-keperluan ruhaninya.
Nubuatan Dalam Surah Yā
Sīn Terciptanya Kapal-kapal Laut
Modern & Penyebaran Ya’juj (Gog) dan Ma’juj (Magog) yakni “Dajjal”
yang Matanya Buta Sebelah
Kata-kata
selanjutnya: وَ
یَخۡلُقُ مَا لَا تَعۡلَمُوۡنَ --
“dan Dia akan menciptakan apa yang
kamu belum ketahui” itu dapat
diartikan, bahwa Allah Swt. akan
mewujudkan alat-alat pengangkutan baru
yang dahulu masih belum dikenal manusia. Nubuatan
itu dengan ajaib sekali telah menjadi sempurna dalam bentuk kereta api, kapal
laut, mobil, pesawat terbang, dan lain-lainnya. Allah Swt. saja Yang mengetahui alat-alat
pengangkutan apa yang masih akan
diciptakan lagi.
Kemudian sesuai dengan makna nubuatan dalam ayat: وَ اِذَا الۡعِشَارُ
عُطِّلَتۡ -- “dan apabila unta-unta
bunting sepuluh bulan ditinggalkan”
(At-Takwir [81]5) Allah Swt. berfirman dalam surah Yā Sīn:
وَ اٰیَۃٌ لَّہُمۡ
اَنَّا حَمَلۡنَا ذُرِّیَّتَہُمۡ
فِی الۡفُلۡکِ الۡمَشۡحُوۡنِ ﴿ۙ﴾ وَ خَلَقۡنَا لَہُمۡ مِّنۡ
مِّثۡلِہٖ مَا یَرۡکَبُوۡنَ ﴿﴾
Dan suatu
Tanda bagi mereka bahwasanya Kami
angkut anak-cucu mereka dalam
bahtera-bahtera yang penuh. Dan Kami menciptakan bagi mereka semacam itu
juga yang akan mereka
kendarai. (Yā Sīn [36]:42-43).
Makna ayat: وَ خَلَقۡنَا
لَہُمۡ مِّنۡ مِّثۡلِہٖ مَا یَرۡکَبُوۡنَ
-- “Dan Kami menciptakan bagi mereka
semacam itu juga yang
akan mereka kendarai.” Al-Quran meramalkan
semenjak dahulu kala bahwa Allah Swt.
akan mewujudkan sarana-sarana pengangkutan baru. Kapal api dan
kapal lintas-samudera raksasa, balon zeppelin, pesawat terbang, dan sebagainya
yang begitu banyak diper-gunakan dewasa ini adalah penggenapan nubuatan Al-Quran secara jelas dan
nyata.
Jadi, betapa dalamnya makna gambaran
kiasan yang disabdakan Nabi Besar Muhammad saw. berkenaan gambaran Dajjal yang “matanya
buta sebelah” namun memiliki kemampuan
luar-biasa serta gambaran kiasan
mengenai “keledai Dajjal” yang “makanannya
api”, yang digenapi berupa keberhasilan duniawi
bangsa-bangsa Kristen dari
barat di Akhir Zaman ini yang akan menyebar ke seluruh penjuru dunia –
termasuk ke Hindustan dan ke Nusantara -- sesuai nubuatan
dalam Bible dan Al-Quran:
Iblis dihukum
20:7 Dan setelah masa
seribu tahun itu berakhir,
Iblis akan dilepaskan
dari penjaranya, 20:8 dan ia
akan pergi menyesatkan bangsa-bangsa
pada keempat penjuru bumi,
yaitu Gog dan Magog, dan mengumpulkan mereka untuk berperang
dan jumlah mereka sama dengan banyaknya pasir di laut. 20:9 Maka naiklah
mereka ke seluruh dataran bumi, lalu mengepung perkemahan tentara orang-orang kudus
dan kota yang dikasihi itu.
Tetapi dari langit turunlah api menghanguskan mereka, 20:10 dan Iblis,
yang menyesatkan mereka, dilemparkan ke
dalam lautan api dan belerang ,
yaitu tempat binatang
dan nabi palsu itu, dan mereka disiksa siang malam sampai selama-lamanya. (Wahyu 20:7-10).
Allah
Swt. berfirman dalam Al-Quran:
وَ حَرٰمٌ عَلٰی قَرۡیَۃٍ اَہۡلَکۡنٰہَاۤ اَنَّہُمۡ لَا
یَرۡجِعُوۡنَ ﴿﴾ حَتّٰۤی اِذَا
فُتِحَتۡ یَاۡجُوۡجُ وَ مَاۡجُوۡجُ وَ ہُمۡ مِّنۡ
کُلِّ حَدَبٍ یَّنۡسِلُوۡنَ ﴿﴾ وَ
اقۡتَرَبَ الۡوَعۡدُ الۡحَقُّ فَاِذَا ہِیَ شَاخِصَۃٌ اَبۡصَارُ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا ؕ یٰوَیۡلَنَا
قَدۡ کُنَّا فِیۡ غَفۡلَۃٍ مِّنۡ ہٰذَا بَلۡ کُنَّا ظٰلِمِیۡنَ ﴿﴾ اِنَّکُمۡ وَ مَا تَعۡبُدُوۡنَ مِنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ حَصَبُ جَہَنَّمَ
ؕ اَنۡتُمۡ لَہَا وٰرِدُوۡنَ ﴿﴾
Dan
terlarang bagi penduduk suatu negeri yang telah Kami binasakan
bahwa sesungguhnya mereka itu tidak mungkin
kembali. حَتّٰۤی اِذَا
فُتِحَتۡ یَاۡجُوۡجُ وَ مَاۡجُوۡجُ وَ ہُمۡ مِّنۡ
کُلِّ حَدَبٍ یَّنۡسِلُوۡنَ --
Hingga apabila dibukakan pintu
pemenjaraan Ya’juj
dan Ma’juj dan mereka turun dengan cepat dari setiap
ketinggian. Sudah mendekat janji yang benar maka sekonyong-konyong akan terbelalak mata
orang-orang kafir, mereka berseru, “Aduhai, celaka kami! Sungguh kami
dalam kelalaian mengenai hal ini, bahkan kami adalah orang yang zalim!”
Sesungguhnya kamu dan apa yang
kamu sembah selain Allah adalah bahan
bakar Jahannam, kamu akan mendatanginya.” (Al-Anbiya
[21]:96-98).
Sabda-sabda Nabi
Besar Muhammad Saw. Mengenai Perbedaan Al-Masih Mau’ud a.s. dan Al-Masih Dajjal & Kiasan
Keluarbiasaan Kemampuan “Al-Masih
Dajjal”
Nabi Besar Muhammad saw. menjelaskan
masalah Dajjal dalam banyak hadits
seperti yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah r.a.:
“Tidak akan terjadi Hari
Kiamat sehingga dua kelompok besar
saling berperang dan banyak terbunuh
di antara dua kelompok tersebut,
yang seruan mereka adalah satu. Dan hingga dibangkitkannya para Dajjal lagi pendusta hampir 30 orang semuanya mengaku bahwa dirinya Rasul Allah, dicabutnya ilmu, banyak terjadi gempa, zaman
berdekatan, fitnah menjadi muncul, banyak terjadi pembunuhan, berlimpah-ruahnya
harta di tengah kalian sehingga para pemilik harta abingung terhadap orang
yang akan menerima shadaqahnya. Sampai dia berusaha menawarkannya kepada
seseorang namun orang tersebut berkata: “Saya tidak membuntuhkannya”; orang berlomba-lomba dalam meninggikan
bangunan. Ketika seseorang lewat
pada sebuah kuburan dia berkata: “Aduhai
jika saya berada di sana”; terbitnya
matahari dari sebelah barat, dan apabila
terbit dari sebelah barat di saat orang-orang melihatnya maka beriman seluruhnya.”
Ada pun makna “Dan hingga dibangkitkannya para Dajjal
lagi pendusta hampir 30 orang
semuanya mengaku bahwa dirinya Rasul Allah“ bahwa selain Al-Masih Mau’ud a.s. akan terdapat 30 orang pendakwa dusta lainnya, yang disebut Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.
sebagai “Mesias-Mesias palsu”
(Matius 24:15-28).
Diriwayatkan oleh Ibnu
Majah dalam Kitabul-Fitan
(no.4045) dari Hudzaifah bin Usaid Abu
Suraihah r.a.:
“Kami sedang
duduk-duduk berbincang di bawah bayang-bayang salah satu kamar Rasulullah. Kami
berbincang tentang Hari Kiamat, dan suara kami pun menjadi meninggi. Lalu beliau
[saw.] bersabda, “Tidak akan terjadi Hari
Kiamat sehingga muncul sepuluh tanda,
yaitu terbitnya matahari dari sebelah
barat, munculnya Dajjal, munculnya dukhan (asap), keluarnya binatang, munculnya Ya’juj dan Ma’juj, turunnya Isa putra Maryam,
dan tiga khusuf: satu di timur, satu
di barat dan satu di jazirah Arab, dan api
yang keluar dari arah Yaman dari dataran
terendah ‘Adn yang menggiring
manusia ke tempat mahsyar.”
Diriwayatkan oleh Bukhari (no.6484) dan Muslim (no. 246) dari
Ibnu Umar r.a.:
Rasulullah saw.
menyebutkan pada suatu hari di tengah keramaian tentang Al-Masih Dajjal. Beliau saw. berkata: “Sesungguhnya Allah tidak buta sebelah, dan
ketahuilah Al-Masih Ad-Dajjal adalah
buta mata sebelah kanannya, seperti buah
anggur yang menonjol.” Ibnu Umar berkata: Rasulullah bersabda:
“Diperlihatkan dalam mimpiku pada suatu malam ketika aku berada di Ka’bah, kemunculan
secara tiba-tiba seseorang dari bani Adam yang terlihat sangat bagus, berkulit
sawo matang, rambutnya tersisir di
antara kedua pundaknya, dalam keadaan meletakkan kedua tangannya di atas dua pundak
dua lelaki dan dia melaksanakan thawaf
di antara keduanya, aku berkata: “Siapakah
ini?” Mereka berkata, “Al-Masih bin
Maryam.” Dan aku melihat di belakangnya ada seseorang yang sangat
keriting rambutnya dan buta matanya
sebelah kanan dan serupa dengan Ibnu Qathan. Dia meletakkan tangannya di
atas pundak dua lelaki dan thawaf di
Ka’bah. Lalu aku berkata: “Siapakah
ini?” Mereka menjawab, “Ini adalah Al-Masih ad-Dajjal.”
Makna ”dua lelaki yang thawaf di Ka’bah” yaitu (1) Al-Masih Mau’ud a.s., yang menyeru umat manusia kepada Tauhid;
(2) Al-Masih Ad-Dajjal yang menyeru manusia untuk menjauhi Tauhid. Ada pun makna
mata sebelah kanan Dajjal buta melambangkan kebutaan mata ruhaninya,
karena sekali pun matanya yang sebelah kiri dapat melihat -- yakni
“mata duniawinya sangat tajam
sehingga memperoleh kesuksesan
duniawi” -- tetapi mengatakan bahwa “Tuhan punya anak” (QS.18:1-9) yaitu
mempercayai “Trinitas” dan “penebusan dosa” melalui kematian terkutuk Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.
pada tiang salib.
Kesuksesan
duniawi Dajjal yang sangat menakjubkan digambarkan secara kiasan dalam berbagai berbagai hadits yang dikenal dengan istilah “fitnah Dajjal”. Tidak ada yang
mengingkari bahwa sebagaimana sabda Nabi Besar Muhammad saw. bahwa “fitnah Dajjal” merupakan
fitnah paling besar sepanjang hidup Bani Adam (umat manusia) di atas dunia
ini sampai Hari Kiamat.
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran
Anyar, 3 Maret 2017
Tidak ada komentar:
Posting Komentar