Jumat, 03 Maret 2017

Dinasti "Kerajaan Mughal" di Hindustan dan Hubungannya Dengan Pengutusan "Masih Mau'ud a.s." & Nubuatan Al-Quran Mengenai "Tanda-tanda Akhir Zaman" dan Kiasan Keluarbiasaan Kemampuan Duniawi "Al-Masih Dajjal"





Bismillaahirrahmaanirrahiim

  ISLAM
Pidato  Mirza Ghulam Ahmad a.s.
Tgl. 2 November 1904 di Kota Sialkote – Hindustan

Bab  32

DINASTI KERAJAAN MUGHAL DI HINDUSTAN DAN HUBUNGANNYA DENGAN PENGUTUSAN MUNCULAN MASIH MAU’UD A.S.  & NUBUATAN AL-QURAN MENGENAI TANDA-TANDA AKHIR ZAMAN DAN KIASAN KELUARBIASAAN KEMAMPUAN DUNIAWI AL-MASIH DAJJAL

Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma




D
alam bagian akhir Bab 31 telah dijelaskan  topik    Silsilah Mirza Ghulam Ahmad a.s. dan Pengkhidmatannya Terhadap Islam dan Nabi Besar Muhammad saw. Sebelumnya telah dikemukakan     ringkasan sejarah kerajaan Mughal di Hindustan yang para penguasanya menganut agama Islam, dimana   leluhur  Pendiri Jemaat Muslim Ahmadiyah, Mirza Ghulam Ahmad a.s. selain memiliki hubungan dengan Nabi Besar Muhammad saw. sebagai “Ahli Bait”  -- juga memiliki hubungan kekerabatan (hubungan darah) dengan bangsa Persia (Iran), yaitu dari keturunan   Haji Barlas, yang merupakan paman Amir Tuglak Temur (Timur Lenk).
          Timur berasal dari suku Barlas yang terkenal dan yang menguasai kawasan Kish (Kesh) selama 200 tahun. Kawasan ini pada zaman dahulu dikenal dengan nama Sogdiana yang  ibukotanya adalah Samarkand. Mereka adalah suku yang berakar dari Persia. Kata Samarkand itu sendiri berasal dari  bahasa Farsi. Barlas juga demikian, artinya  pemuda gagah berani dari kalangan terhormat.”
        Mirza Hadi Beg,  keturunan Haji Barlas,  memimpin hijrah dari Samarkand   menuju Punjab, India, dengan membawa rombongan sekitar 200 orang. Mereka membangun sebuah perkampungan yang tidak begitu jauh dari sungai Bias, dan menamakannya Islampur.
       Emperor Babar (Babur) memberikan kepada beliau kawasan yang mencakup ratusan perkampungan. Dan beliau ditunjuk sebagai Qazi (Qadhi) disana,  sehingga kampung kediaman beliau itu dikenal dengan nama Islampur Qazi (Qadhi). Akhirnya nama ini tinggal Qazi (Qadhi)   dan lebih dikenal dengan sebutan Qadi yang kemudian menjadi Qadian. (Lihat: Life of Ahmad, A.R.Dard, Tabshir Publication, 1948,vol.1,h.7-8)  
Haji Barlas adalah Raja Kawasan Qesh, yang merupakan Paman Amir Tughlak Temur (Timur Lenk). Tatkala Amir Temur menyerang Qesh, Haji Barlas sekeluarga terpaksa melarikan diri ke Khurasan dan Samarkand dan mulai menetap di sana. Akan tetapi  pada abad 10 H atau abad ke 16 Masehi, seorang keturunan Haji Barlas bernama Hadi Beg beserta 200 orang pengikutnya hijrah dari Khurasan ke India karena beberapa hal, dan tinggal di kawasan sungai Bias lalu mendirikan sebuah perkampungan bernama Islampur, 9 km dari sungai tersebut.
Mirza Hadi Beg adalah orang yang cerdik dan pandai, karenanya beliau diangkat oleh Pemerintah Pusat Delhi sebagai Qadhi (Hakim) untuk daerah sekelilingnya. Oleh sebab kedudukan beliau sebagai Qadhi itulah, tempat tinggal beliau disebut Islampur Qadhi. Lambat laun kata Islampur hilang tinggal Qadhi saja. Dikarenakan dialek setempat akhirnya disebut sebagai Qadi atau Qadian.
         Selama kerajaan Mughal (Moghul) berkuasa, keluarga ini sering memperoleh kedudukan terhormat dari Pemerintah  Mughal. Akan tetapi  ketika kerajaan Mughal jatuh, keluarga ini hanya mendapatkan 60 pal sekitar Qadian sebagai daerah otonomi. Keadaan ini diperparah lagi ketika bangsa Sikh menguasai Qadian. Keluarga Barlas semuanya ditahan selama beberapa hari, kemudian diizinkan meninggalkan Qadian. Akhirnya, mereka pergi ke Kesultanan Kapurtala selama 12 tahun.

Silsilah Keturunan Haji Barlas

Silsilah  keturunan Haji Barlas yang secara berurutan melahirkan: (1) Mirza Hadi Beg; (2) Muhammad Sultan; (3) Abdul Baqi; (4) Muhammad Beg; (5) Jafar Beg; (6) Allah Din; (7) Muhammad Dilawar, (8) Muhammad Aslam; (9) Muhammad Qaim; (10) MIrza Faiz Muhammad; (11) Mirza Ghul Muhammad; (12) Mirza Ata Muhammad; (13) Mirza Ghulam Murtaza; (14) Mirza Ghulam Ahmad.
         Ketika zaman Kekuasaan Maha Raja Ranjit Singh yang berhasil menguasai semua raja kecil, beliau mengembalikan sebagian harta benda keluarga itu kepada Mirza Ghulam Murtaza, ayah Mirza Ghulam Ahmad. Kemudian datanglah Inggris yang mengalahkan Pemerintah Sikh dan merampas segala kekayaan keluarga ini kecuali satu daerah yaitu Qadian yang amat kecil. Daerah ini dibiarkan dalam kepemilikan keluarga tersebut.
              Jadi, menjelang   masa kelahiran Mirza Ghulam Ahmad di Qadian keadaan umat Islam di Hindustan – khususnya di wilayah Punjab -- benar-benar sangat menderita dari tekanan dan kezaliman kaum Hindu dan Sikh, sehingga banyak sekali mesjid-mesjid yang terlantar dan dijadikan kandang hewan.
             Tetapi ketika bangsa Inggris   -- yang sebelumnya mendapat kekuasaan di wilayah pantai guna kepentingan perdagangan (QS.18:19-21) -- kemudian berhasil mengalahkan kekuasaan kaum Sikh di Punjab, keadaan umat Islam di Punjab dapat kembali “bernafas”, walau pun tetap tidak berdaya menahan serangan-serangan keagamaan  baik dari  pihak Hindu  mau pun dari para  missionaries Kristen yang memanfaatkan kekuasaan kerajaan Inggris di Hindustan,  dan berhasil memasukkan  jutaan umat Islam  -- termasuk dari kalangan Sayyid --  ke dalam agama Kristen.

Zaman Pergolakan dan Perubahan Dunia

       Banyak perubahan dan pergolakan sosio-politik dunia pada masa-masa itu. Imperialisme Barat menampakkan warnanya. Inggris Raya sedang jaya-jayanya hampir di seluruh belahan bumi ini. Namun sejauh yang berkaitan dengan masalah agama, pemerintah Kerajaan Inggris memberikan jaminan kebebasan beragama, khususnya dalam toleransi beragama. Yaitu dengan disahkannya rancangan undang-undang Emansipasi Katolik (Catholic Emancipation Bill) pada tahun 1829, yang  dasarnya adalah penghapusan diskriminasi dalam perkara-perkara sipil dan kesama-rataan dalam hak-hak politis.
       Banyak hal yang merubah pola pikir dan cara hidup dunia. Rancangan pembuatan Terusan Suez sudah mulai dijajaki semenjak tahun 1833. Dan Terusan Suez itu selesai dibuat pada tahun 1865. Mesin cetak plat baja sudah ditemukan pada akhir abad ke-18. Dan mesin cetak praktis yang menggunakan tenaga uap pertama kali diproduksi dan digunakan pada tahun 1814. Kendara-kendara   atau alat-alat transportasi praktis yang menggunakan tenaga uap (tenaga api) dirancang pada tahun 1802, dan pada tahun 1824 sudah banyak yang beredar dengan sukses.
    Daimler menemukan internal-combustion-motor pada tahun 1885 yang menggunakan bahan bakar  minyak (petroleum spirit). Kapal uap pertama mulai menjelajahi jarak antara Liverpool dan Glasgow pada tahun 1815. Jaringan kereta-api pun mulai dibuka di Inggris pada tahun 1825. Electric telegraphy mulai digunakan pada tahun 1820 sebagai sarana komunikasi antar berbagai tempat di seluruh dunia. Mesin elektro-magnetik mulai digunakan pada tahun 1832.
         Pada tahun 1846 telah ditemukan sistim anaesthetik. Dan sistim antiseptik dalam perawatan luka mulai diakui pada tahun 1867. Penelitian Pasteur tentang teori kuman pada penyakit-penyakit infeksi dimulai pada tahun 1850. Dan malaria serta tuberculosis ditemukan pada tahun 1880.
         Penggunaan listrik secara komersial untuk sarana penerangan telah dimulai pada tahun 1879. Dan telephone ditemukan pada tahun 1876. Demikian pula X-ray ditemukan pada tahun 1895. Ringkasnya banyak sekali penemuan-penemuan baru yang mengubah pola pikir dan pola hidup manusia. (Life of Ahmad, A.R.Dard, Tabshir Publication, 1948,vol.1,h.20-24).

Tanda-tanda Akhir Zaman & Makna “Matahari Digulung

       Semua kesuksesan dalam bidang iptek (ilmu pengetahuan dan teknologi) yang diraih bangsa-bangsa Kristen dari barat  -- yakni Ya’juj (Gog) dan Ma’juj (Magog) – tersebut menjadi penggenap  berbagai nubuatan dalam Al-Quran, di antaranya adalah Tanda-tanda Akhir  Zaman  dalam surah At-Takwir, firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ۪ۙ﴿﴾   اِذَا  الشَّمۡسُ کُوِّرَتۡ ۪ۙ﴿﴾   وَ  اِذَا  النُّجُوۡمُ  انۡکَدَرَتۡ ۪ۙ﴿﴾   وَ  اِذَا  الۡجِبَالُ سُیِّرَتۡ ۪ۙ﴿﴾  وَ  اِذَا الۡعِشَارُ عُطِّلَتۡ ۪ۙ﴿﴾   وَ  اِذَا  الۡوُحُوۡشُ حُشِرَتۡ ۪ۙ﴿﴾   وَ  اِذَا  الۡبِحَارُ سُجِّرَتۡ ۪ۙ﴿﴾   وَ  اِذَا النُّفُوۡسُ زُوِّجَتۡ ۪ۙ﴿﴾  وَ  اِذَا  الۡمَوۡءٗدَۃُ  سُئِلَتۡ ۪ۙ﴿۸ بِاَیِّ ذَنۡۢبٍ قُتِلَتۡ ۚ﴿﴾   وَ  اِذَا الصُّحُفُ نُشِرَتۡ ﴿۪ۙ۱   وَ اِذَا  السَّمَآءُ کُشِطَتۡ ﴿۪ۙ﴾  وَ  اِذَا  الۡجَحِیۡمُ سُعِّرَتۡ ﴿۪ۙ﴾  وَ  اِذَا  الۡجَنَّۃُ   اُزۡلِفَتۡ ﴿۪ۙ﴾ عَلِمَتۡ نَفۡسٌ مَّاۤ  اَحۡضَرَتۡ ﴿ؕ﴾ 
Aku baca  dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.   Apabila matahari digulung,  dan apabila bintang-bintang menjadi suram,  dan  apabila gunung-gunung digerakan, dan apabila unta-unta bunting sepuluh bulan ditinggalkan,   dan apabila binatang-binatang liar dikumpulkan,   dan apabila lautan-lautan  disalurkan,  dan apabila orang-orang dikumpulkan,   dan apabila bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup akan dita-nya,    karena dosa apakah ia dibunuh? Dan apabila buku-buku akan disebar-luaskan,  dan apabila langit dibuka,   dan apabila neraka dinyalakan,     dan apabila surga didekatkan.   Setiap jiwa akan mengetahui  apa yang dihadirkan.  (At-Takwīr [81]:1-14).
     Pada umumnya dikatakan bahwa Surah ini membahas  Hari Kebangkitan terakhir, ketika hukum dan proses alam seperti kita kenal akan berhenti bekerja. Tetapi seluruh arah dan tujuan Surah ini membicarakan dengan begitu jelas keadaan-keadaan yang terdapat dalam alam kebendaan di dunia ini,  sehingga beberapa ayat akan kehilangan segala maknanya  jika ayat-ayat itu dianggap ditujukan hanya kepada Hari Kebangkitan terakhir (qiamat kubra) belaka.
     Pada hakikatnya Surah At-Takwīr  mengatakan  mengenai perubahan-perubahan besar yang telah terjadi di alam dunia kebendaan dan di alam kehidupan manusia sejak zaman Nabi Besar Muhammad saw., khususnya   di  Akhir Zaman ini.  Dengan demikian ayat:  اِذَا  الشَّمۡسُ کُوِّرَتۡ    -- “Apabila matahari digulung akan berarti:  Apabila kegelapan ruhani akan meliputi seluruh dunia - ketika cahaya Matahari Ruhani  Nabi Besar Muhammad saw.  secara berangsur-angsur menjadi suram atau hilang sirna – setelah umat Islam mengalami  3 abad masa kejayaannya yang pertama (QS.32:6).
   Atau, ayat ini dapat juga menunjuk kepada gerhana-gerhana matahari dan bulan (QS.75:7-10), yang  menurut sebuah hadits termasyhur akan terjadi di masa Imam Mahdi  a.s. di dalam bulan Ramadhan; suatu gejala alam  yang dunia tidak pernah menyaksikan sebelumnya (Ad-Daru- Quthni hlm. 188). Gerhana-gerhana matahari dan bulan tersebut telah terjadi pada tahun 1894, tepat seperti yang telah dinubuatkan, yakni 4 tahun kemudian setelah  Mirza Ghulam Ahmad a.s. mendakwakan diri sebagai Imam Mahdi a.s..

Makna “Bintang-bintang Berjatuhan”;  Gunung-gunung Digerakan” dan “Unta-unta Betina Ditinggalkan

 Makna ayat:  وَ  اِذَا  النُّجُوۡمُ  انۡکَدَرَتۡ   -- “dan apabila bintang-bintang menjadi suram.          An-nujūm (bintang-bintang) berarti para ulama. Arti ini didukung oleh sebuah hadits termasyhur: “Sahabat-sahabat adalah laksana bintang-bintang, siapa pun dari antara mereka kamu ikuti, kamu akan mendapat pertunjuk yang benar” (Baihaqi). Maka, ayat itu dapat berarti: Ketika para pemimpin agama akan menjadi rusak dan kehilangan segala pengaruhnya. Isyarat ini dapat pula ditujukan kepada jatuhnya bintang-bintang  atau gejala meteoric dalam jumlah luar biasa besarnya, pada masa ketika seorang mushlih rabbani (pembaharu ruhani) datang.
   Makna ayat selanjutnya: وَ  اِذَا  الۡجِبَالُ سُیِّرَتۡ   -- “dan  apabila gunung-gunung digerakan.  Yakni ketika gunung-gunung akan dihancurkan dengan dinamit dan jalan-jalan akan dibuat menembus gunung-gunung; atau secara kiasan, ketika kekuasaan para penguasa akan terkikis, kata jabal berarti pula kepala suatu kaum (Lexicon Lane).
  ‘Isyār  dalam ayat:    وَ  اِذَا الۡعِشَارُ عُطِّلَتۡ   -- “dan apabila unta-unta bunting sepuluh bulan ditinggalkanitu jamak dari ‘usyara‘, yang berarti: seekor unta betina bunting sepuluh bulan. Kata ‘isyār dikenakan kepada unta-unta betina, ketika sebagian telah beranak dan sebagian lain diharapkan segera akan beranak (Lexicon Lane).
     Ayat ini berarti  apabila unta-unta betina tidak akan dianggap penting lagi, bahkan di negeri Arab sekalipun. Isyarat ini agaknya tertuju kepada keadaan, dimana unta  -- sebagai alat tranportasi akan digantikan fungsinya oleh sarana-sarana pengangkutan yang lebih baik dan lebih cepat pula, seperti kereta api, mobil, kapal terbang, dan lain-lain.
  Dalam sebuah hadits Nabi Besar Muhammad saw.   pun terdapat isyarat jelas mengenai unta yang akan digantikan oleh sarana-sarana pengangkutan lain itu. Hadits itu berbunyi sebagai berikut: “Unta akan ditinggalkan, dan tidak akan dipergunakan lagi guna bepergian dari suatu tempat ke tempat lain” (Muslim).

Makna “Keledai Dajjal yang Makan Api” & Nubuatan  Terciptanya Sarana Transportasi Modern

   Dalam hadits berkenaan Dajjal  disebutkan  Nabi Besar Muhammad saw. bahwa  sarana transportasi baru yang menggantikan fungsi unta disebut secara kiasan sebagai “keledai Dajjal yang “makanannya api   yakni sarana-sarana transportasi baru ciptaan bangsa-bangsa Kristen dari barat (Ya’juj dan Ma’juj) yang memanfaatkan “kekuatan api”,  contohnya kereta api dan kapal laut yang memanfaatkan ketel uap, dan yang menggunakan  motor bakar” seperti mobil dan kapal terbang.
      Itulah sebabnya  mengapa bangsa-bangsa Kristen dari barat  pun disebut Ya’juj (Gog) dan Ma’juj (Magog) yang berasal dariakar  kata bahasa Arab:  ajja  yang artinya: ia cepat langkahnya; ia atau sesuatu itu menjadi api yang menyala-nyala (Lexicon Lane). Dengan demikian genap pulalah nubuatan dalam Al-Quran mengenai  akan terciptanya sarana transpotasi baru  pengganti unta, kuda, lembu  dan lain-lain, firman-Nya:
وَ الۡاَنۡعَامَ خَلَقَہَا ۚ لَکُمۡ فِیۡہَا دِفۡءٌ  وَّ  مَنَافِعُ وَ مِنۡہَا  تَاۡکُلُوۡنَ ﴿۪﴾  وَ لَکُمۡ فِیۡہَا جَمَالٌ حِیۡنَ تُرِیۡحُوۡنَ وَ حِیۡنَ  تَسۡرَحُوۡنَ ﴿۪﴾  وَ تَحۡمِلُ اَثۡقَالَکُمۡ  اِلٰی بَلَدٍ لَّمۡ تَکُوۡنُوۡا بٰلِغِیۡہِ   اِلَّا بِشِقِّ الۡاَنۡفُسِ ؕ اِنَّ رَبَّکُمۡ   لَرَءُوۡفٌ  رَّحِیۡمٌ ۙ﴿﴾  وَّ الۡخَیۡلَ وَ الۡبِغَالَ وَ الۡحَمِیۡرَ لِتَرۡکَبُوۡہَا وَ زِیۡنَۃً ؕ وَ یَخۡلُقُ مَا لَا تَعۡلَمُوۡنَ ﴿﴾
Dan  binatang ternak pun Dia telah menciptakannya,  kamu memperoleh  kehangatan di dalamnya serta manfaat-manfaat lainnya, dan darinya kamu makan.   Dan di dalamnya  terdapat sarana keindahan bagi kamu, ketika kamu menggiringnya di waktu petang pulang ke kandang, dan ketika kamu melepaskannya di waktu pagi ke tempat penggembalaan.  Dan  binatang itu mengangkut muatan kamu ke suatu negeri yang kamu tidak dapat mencapainya kecu-ali dengan banyak penderitaan bagi diri kamu. Sesungguhnya Rabb (Tuhan) kamu Maha Penyantun, Maha Penyayang.   Dan Dia telah menciptakan kuda-kuda, bagal-bagal, dan keledai-keledai, supaya kamu dapat  menung-ganginya, dan juga sebagai sarana keindahan, وَ یَخۡلُقُ مَا لَا تَعۡلَمُوۡنَ --   dan Dia akan menciptakan apa yang  kamu belum  ketahui. (An-Nahl [16]:6-9).
        Makna ayat 9:  اِنَّ رَبَّکُمۡ   لَرَءُوۡفٌ  رَّحِیۡمٌ ۙ﴿﴾  وَّ الۡخَیۡلَ وَ الۡبِغَالَ وَ الۡحَمِیۡرَ لِتَرۡکَبُوۡہَا وَ زِیۡنَۃً  -- “Dan Dia telah menciptakan kuda-kuda, bagal-bagal, dan keledai-keledai, supaya kamu dapat  menungganginya, dan juga sebagai sarana keindahan.” Betapa  Allah Swt.     telah menaruh perhatian begitu besar dalam mengadakan persediaan bagi segala keperluan jasmani manusia, maka sejenak pun tidak terlintas dalam pikiran, bahwa Dia seakan-akan telah mengabaikan untuk menyediakan jaminan yang sepadan bagi keperluan-keperluan ruhaninya.

Nubuatan Dalam Surah Yā Sīn Terciptanya Kapal-kapal Laut Modern  & Penyebaran Ya’juj (Gog) dan Ma’juj (Magog) yakni “Dajjal” yang Matanya Buta Sebelah

  Kata-kata  selanjutnya: وَ یَخۡلُقُ مَا لَا تَعۡلَمُوۡنَ  --  “dan Dia akan menciptakan apa yang  kamu belum  ketahui” itu dapat diartikan, bahwa Allah Swt.  akan mewujudkan alat-alat pengangkutan baru yang dahulu masih belum dikenal manusia. Nubuatan itu dengan ajaib sekali telah menjadi sempurna dalam bentuk kereta api, kapal laut, mobil, pesawat terbang, dan lain-lainnya. Allah Swt.  saja Yang mengetahui alat-alat pengangkutan apa yang masih akan diciptakan lagi.
     Kemudian sesuai dengan  makna  nubuatan dalam ayat:  وَ  اِذَا الۡعِشَارُ عُطِّلَتۡ   -- “dan apabila unta-unta bunting sepuluh bulan ditinggalkan” (At-Takwir [81]5)  Allah Swt. berfirman dalam surah Yā Sīn:    
وَ اٰیَۃٌ  لَّہُمۡ  اَنَّا حَمَلۡنَا ذُرِّیَّتَہُمۡ  فِی الۡفُلۡکِ  الۡمَشۡحُوۡنِ ﴿ۙ﴾  وَ خَلَقۡنَا  لَہُمۡ مِّنۡ مِّثۡلِہٖ مَا یَرۡکَبُوۡنَ ﴿﴾
Dan  suatu Tanda bagi mereka bahwasanya Kami angkut  anak-cucu mereka dalam bahtera-bahtera yang penuh. Dan Kami menciptakan bagi mereka semacam itu juga  yang akan mereka kendarai.  (Yā Sīn  [36]:42-43).
      Makna ayat:   وَ خَلَقۡنَا  لَہُمۡ مِّنۡ مِّثۡلِہٖ مَا یَرۡکَبُوۡنَ --  “Dan Kami menciptakan bagi mereka semacam itu juga  yang akan mereka kendarai.”  Al-Quran meramalkan semenjak dahulu kala bahwa Allah Swt.  akan mewujudkan sarana-sarana pengangkutan baru. Kapal api dan kapal lintas-samudera raksasa, balon zeppelin, pesawat terbang, dan sebagainya yang begitu banyak diper-gunakan dewasa ini adalah penggenapan nubuatan Al-Quran secara jelas dan nyata.
       Jadi, betapa dalamnya  makna gambaran kiasan yang disabdakan Nabi Besar Muhammad saw. berkenaan gambaran  Dajjal  yang “matanya buta sebelah  namun  memiliki kemampuan luar-biasa serta gambaran kiasan mengenai  keledai Dajjal” yang “makanannya api”,  yang  digenapi berupa keberhasilan duniawi  bangsa-bangsa Kristen dari barat di Akhir Zaman ini yang akan menyebar ke seluruh penjuru dunia – termasuk ke Hindustan dan ke Nusantara --  sesuai nubuatan dalam Bible dan Al-Quran:
Iblis dihukum
20:7 Dan setelah masa seribu tahun itu berakhir,   Iblis akan dilepaskan  dari penjaranya, 20:8 dan ia akan pergi menyesatkan bangsa-bangsa   pada keempat penjuru bumi,   yaitu Gog dan Magog,   dan mengumpulkan mereka untuk berperang   dan jumlah mereka sama dengan banyaknya pasir di laut.   20:9 Maka naiklah mereka ke seluruh dataran bumi, lalu mengepung   perkemahan tentara orang-orang kudus dan kota yang dikasihi    itu. Tetapi dari langit    turunlah api menghanguskan mereka, 20:10 dan Iblis, yang menyesatkan mereka,   dilemparkan ke dalam lautan api dan belerang ,   yaitu tempat binatang  dan nabi palsu   itu, dan mereka disiksa siang malam sampai selama-lamanya. (Wahyu 20:7-10). 
Allah Swt. berfirman dalam Al-Quran:
وَ حَرٰمٌ عَلٰی قَرۡیَۃٍ  اَہۡلَکۡنٰہَاۤ  اَنَّہُمۡ لَا  یَرۡجِعُوۡنَ ﴿﴾  حَتّٰۤی  اِذَا  فُتِحَتۡ یَاۡجُوۡجُ وَ مَاۡجُوۡجُ وَ ہُمۡ  مِّنۡ  کُلِّ  حَدَبٍ  یَّنۡسِلُوۡنَ ﴿﴾  وَ اقۡتَرَبَ الۡوَعۡدُ الۡحَقُّ فَاِذَا ہِیَ شَاخِصَۃٌ  اَبۡصَارُ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا ؕ یٰوَیۡلَنَا قَدۡ کُنَّا فِیۡ غَفۡلَۃٍ  مِّنۡ  ہٰذَا بَلۡ کُنَّا ظٰلِمِیۡنَ ﴿﴾  اِنَّکُمۡ وَ مَا تَعۡبُدُوۡنَ مِنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ حَصَبُ جَہَنَّمَ ؕ اَنۡتُمۡ  لَہَا وٰرِدُوۡنَ ﴿﴾
Dan terlarang bagi penduduk suatu negeri yang telah Kami binasakan bahwa sesungguhnya mereka itu tidak mungkin kembali.  حَتّٰۤی  اِذَا  فُتِحَتۡ یَاۡجُوۡجُ وَ مَاۡجُوۡجُ وَ ہُمۡ  مِّنۡ  کُلِّ  حَدَبٍ  یَّنۡسِلُوۡنَ  --  Hingga apabila dibukakan pintu pemenjaraan  Ya’juj dan Ma’juj dan mereka turun dengan cepat dari setiap ketinggian.  Sudah mendekat janji yang benar maka sekonyong-konyong akan terbelalak    mata orang-orang   kafir, mereka  berseru, “Aduhai, celaka kami! Sungguh kami dalam kelalaian mengenai hal ini, bahkan kami adalah orang yang zalim!”    Sesungguhnya kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah adalah bahan bakar Jahannam,   kamu akan mendatanginya.”   (Al-Anbiya [21]:96-98).

Sabda-sabda Nabi Besar Muhammad Saw. Mengenai Perbedaan  Al-Masih Mau’ud a.s. dan Al-Masih Dajjal  &  Kiasan  Keluarbiasaan Kemampuan “Al-Masih Dajjal”

        Nabi Besar Muhammad saw. menjelaskan masalah Dajjal dalam banyak hadits seperti yang diriwayatkan oleh   Bukhari    dan Muslim  dari  Abu Hurairah r.a.:
Tidak akan terjadi  Hari Kiamat sehingga dua kelompok besar saling berperang dan banyak terbunuh di antara  dua kelompok tersebut, yang seruan mereka adalah satu. Dan hingga dibangkitkannya para Dajjal lagi pendusta hampir 30 orang semuanya mengaku bahwa dirinya Rasul Allah, dicabutnya ilmu, banyak terjadi gempa, zaman berdekatan, fitnah  menjadi muncul, banyak terjadi pembunuhan, berlimpah-ruahnya harta di tengah kalian sehingga para pemilik harta abingung terhadap orang yang akan menerima shadaqahnya. Sampai dia berusaha menawarkannya kepada seseorang namun orang tersebut berkata: “Saya tidak membuntuhkannya”; orang berlomba-lomba dalam meninggikan bangunan. Ketika seseorang lewat pada sebuah kuburan dia berkata: “Aduhai jika saya berada di sana”; terbitnya matahari dari sebelah barat, dan apabila terbit dari sebelah barat di saat orang-orang melihatnya maka beriman seluruhnya.”
         Ada pun makna “Dan hingga dibangkitkannya para Dajjal lagi pendusta hampir 30 orang semuanya mengaku bahwa dirinya Rasul Allah“ bahwa selain Al-Masih Mau’ud a.s. akan terdapat 30 orang pendakwa dusta  lainnya, yang disebut Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.  sebagai “Mesias-Mesias  palsu” (Matius  24:15-28).
          Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dalam Kitabul-Fitan (no.4045) dari Hudzaifah bin Usaid Abu  Suraihah r.a.:
“Kami sedang duduk-duduk berbincang di bawah bayang-bayang salah satu kamar Rasulullah. Kami berbincang  tentang Hari Kiamat, dan suara kami pun menjadi meninggi. Lalu beliau [saw.] bersabda, “Tidak akan terjadi Hari Kiamat sehingga muncul sepuluh tanda, yaitu terbitnya matahari dari sebelah barat, munculnya Dajjal, munculnya dukhan (asap), keluarnya binatang, munculnya Ya’juj dan Ma’juj, turunnya Isa  putra Maryam, dan tiga khusuf: satu di timur, satu di barat dan satu di jazirah Arab, dan api yang keluar dari arah Yaman dari dataran terendah ‘Adn yang menggiring manusia ke tempat mahsyar.”
          Diriwayatkan oleh  Bukhari (no.6484) dan Muslim (no. 246) dari Ibnu Umar r.a.:
Rasulullah saw. menyebutkan pada suatu hari di tengah keramaian tentang Al-Masih Dajjal. Beliau saw. berkata: “Sesungguhnya Allah tidak buta sebelah, dan ketahuilah Al-Masih Ad-Dajjal adalah buta mata sebelah kanannya, seperti buah anggur yang menonjol.” Ibnu Umar berkata: Rasulullah bersabda: “Diperlihatkan dalam mimpiku pada suatu malam ketika aku berada di Ka’bah, kemunculan secara tiba-tiba seseorang dari bani Adam yang terlihat sangat bagus, berkulit sawo matang, rambutnya tersisir di antara kedua pundaknya, dalam keadaan  meletakkan kedua tangannya di atas dua pundak dua lelaki dan dia melaksanakan thawaf di antara keduanya, aku berkata: “Siapakah ini?” Mereka berkata, “Al-Masih bin Maryam.” Dan aku melihat di belakangnya ada seseorang yang sangat keriting rambutnya dan buta matanya sebelah kanan dan serupa dengan Ibnu Qathan. Dia meletakkan tangannya di atas pundak dua lelaki dan thawaf di Ka’bah. Lalu aku berkata: “Siapakah ini?” Mereka menjawab, “Ini  adalah Al-Masih ad-Dajjal.”
            Makna  ”dua lelaki yang thawaf di Ka’bah” yaitu (1) Al-Masih Mau’ud a.s.,  yang menyeru umat manusia kepada Tauhid; (2) Al-Masih Ad-Dajjal  yang menyeru manusia untuk menjauhi Tauhid.  Ada pun makna   mata sebelah kanan Dajjal  buta melambangkan kebutaan mata ruhaninya, karena sekali pun  matanya yang sebelah kiri  dapat melihat   -- yakni  mata duniawinya sangat  tajam     sehingga memperoleh kesuksesan duniawi”   --     tetapi mengatakan bahwa “Tuhan punya anak” (QS.18:1-9)  yaitu  mempercayai “Trinitas” dan “penebusan dosa” melalui kematian terkutuk Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. pada tiang salib.    
        Kesuksesan duniawi  Dajjal  yang sangat   menakjubkan digambarkan secara kiasan dalam berbagai  berbagai hadits yang dikenal dengan istilah “fitnah Dajjal”. Tidak ada yang mengingkari bahwa sebagaimana sabda Nabi Besar Muhammad saw. bahwa “fitnah Dajjal  merupakan  fitnah  paling besar sepanjang hidup Bani Adam (umat manusia) di atas dunia ini sampai Hari Kiamat.

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid

oo0oo
Pajajaran Anyar, 3   Maret  2017
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar