Rabu, 08 Maret 2017

Kesempurnaan Tugas Nabi Besar Muhammad Saw. Menciptakan "Manusia-manusia Bertauhid" & Pergiliran Periode "Seribu Tahun" Masa "Petunjuk" dan "Kesesatan"



Bismillaahirrahmaanirrahiim

  ISLAM
Pidato  Mirza Ghulam Ahmad a.s.
Tgl. 2 November 1904 di Kota Sialkote – Hindustan

Bab  37

   KESEMPURNAAN TUGAS NABI BESAR MUHAMMAD SAW.  MENCIPTAKAN “MANUSIA-MANUSIA BERTAUHID” & PERGILIRAN PERIODE “SERIBU TAHUN” MASA PETUNJUK DAN KESESATAN

Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam Bab-bab sebelumnya telah dijelaskan mengenai latar-belakang atau alasan mengapa Allah Swt. mengutus  Imam Mahdi a.s. atau Al-Masih Al-Mau’ud a.s.  atau misal Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (QS.43:58) di wilayah Hindustan (India), selanjutnya akan dikemukakan Pidato Mirza Ghulam Ahmad a.s. mengenai “ISLAM” di kota  Sialkote  -- sekarang termasuk wilayah Pakistan   --   yang diterbitkan dengan judul  “Sialkote Lecture.

Bismillāhirrahmānir- rahīm    Nahmaduhu wa nushalliy ‘ala Rasūlihil- Karīm

ISLAM

Pidato

Y.M.  Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad, Masih Mau’ud a.s.
Tanggal 2 November 1904
Di Kota Sialkote

         “Penyelidikan yang teliti menyatakan bahwa   -- kecuali Islam    -- semua agama lainnya dalam dunia ini mengandung salah satu kesalahan di dalamnya. Sebenarnya agama-agama itu bukanlah palsu sejak dari awalnya, hanya saja setelah agama Islam datang dalam dunia ini Allah Swt. tidak memelihara lagi agama-agama itu. Maka ibarat suatu kebun tidak disirami dan dipelihara oleh   tukang kebun lambat-laun timbullah bermacam-macam kerusakan di dalamnya serta pohon-pohon yang berbuah menjadi kering  dan muncullah macam-macam tumbuh-tumbuhan liar dan berduri. Begitu pula keruhanian yang menjadi pokok agama telah hilang lenyap dan yang tinggal hanya perkataan kosong belaka.
         Tetapi Allah Swt.  tidak melakukan begitu terhadap Islam  dan Dia menghendaki kebun ini harus subur dan menghijau untuk selama-lamanya. Oleh karena itulah pada permulaan tiap-tiap abad Dia  menyirami kebun ini  dengan air yang sejuk supaya jangan layu. Sekali pun mujaddid (pembaharu ruhani) yang dikirim oleh-Nya pada permulaan tia-tiap abad untuk memperbaiki umat Islam senantiasa dilawan oleh orang-orang jahil, dan mereka tidak sudi memperbaiki kesalahan-kesalahan yang sudah masuk ke dalam adat-istiadat mereka, tetapi  Allah Swt. tidak menghentikan kebiasaan-Nya (Sunnah-Nya), dan sampai pada Akhir Zaman ini  waktunya peperangan yang akhir antara hidayah (petunjuk) dengan kesesatan, yakni dalam abad 14  dan ribuan yang akhir (ribuan ketujuh setelah Nabi Adam a.s. yang berarti ribuan terakhir – pen.), ketika orang-orang Islam telah tenggelam dalam kelalaian. Allah Swt. menurut perjanjian-Nya mengirimkan lagi seorang mujaddid  untuk memperbaharui Islam. Sesudah Nabi Muhammad saw.  agama-agama lain tidak diperbaharui oleh-Nya  karena itu semua agama tersebut telah mati dan tidak mempunyai keruhanian lagi.”

Akibat Buruk “Musim Kemarau Ruhani” yang Lama

        Penjelasan Pendiri Jemaat Muslim berkenaan keadaan agama-agama sebelum Islam tersebut selaras dengan Sunnatullah dalam firman-Nya berikut ini – yang juga merupakan peringatan bagi umat Islam  --  Dia berfirman:
اَلَمۡ یَاۡنِ  لِلَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡۤا  اَنۡ  تَخۡشَعَ قُلُوۡبُہُمۡ  لِذِکۡرِ اللّٰہِ  وَ مَا  نَزَلَ مِنَ الۡحَقِّ  ۙ  وَ لَا یَکُوۡنُوۡا کَالَّذِیۡنَ اُوۡتُوا الۡکِتٰبَ مِنۡ قَبۡلُ فَطَالَ عَلَیۡہِمُ  الۡاَمَدُ فَقَسَتۡ قُلُوۡبُہُمۡ ؕ وَ کَثِیۡرٌ  مِّنۡہُمۡ فٰسِقُوۡنَ ﴿﴾ اِعۡلَمُوۡۤا  اَنَّ اللّٰہَ یُحۡیِ الۡاَرۡضَ بَعۡدَ مَوۡتِہَا ؕ قَدۡ بَیَّنَّا لَکُمُ الۡاٰیٰتِ لَعَلَّکُمۡ  تَعۡقِلُوۡنَ ﴿۱۷
Apakah belum sampai waktu bagi orang-orang yang beriman, bahwa hati mereka tunduk untuk mengingat Allah dan mengingat  kebenaran yang telah turun kepada mereka, dan mereka tidak  menjadi seperti orang-orang yang diberi kitab sebelumnya, maka  zaman kesejahteraan menjadi panjang atas mereka lalu   hati mereka menjadi keras, dan kebanyakan dari mereka menjadi durhaka?   Ketahuilah, bahwasanya  Allah  menghidupkan bumi sesudah mati-nya. Sungguh Kami telah menjelaskan Tanda-tanda kepada kamu supaya kamu mengerti. (Al-Hadīd [57]:17-18).
          Selanjutnya Masih Mau’ud a.s. menyinggung  berbagai kesalahan  agama-agama sebelum Islam, termasuk   agama Kristen:
     “Banyak kesalahan masuk  ke dalam agama-agama itu seperti kotoran masuk dalam pakaian yang tidak pernah dicuci. Lagi pula orang-orang yang tidak mempunyai keruhanian sedikit pun dan nafsu Ammarahnya masih terikat dalam kekotoran  keduniawian, mereka memasukkan kemauan sendiri dalam agama-agama itu sehingga agama-agama tersebut sudah berubah sama sekali.
       Umpamanya agama Kristen asalnya memang berdasarkan atas usul-usul (dasar-dasar) yang suci. Pelajaran (ajaran) yang dikemukakan oleh Nabi Isa a.s.  – walau pun kurang jika dibandingkan dengan Islam  karena pada waktu itu belum sampai saatnya untuk pelajaran (ajaran) yang sempurna, lagi pula kekuatan kecakapan manusia pun belum cukup   -- tetapi  pelajaran (ajaran) itu sangat bagus dan sesuai dengan keadaan waktu itu untuk mengantarkan manusia kepada Allah Swt.  seperti Taurat juga, hanya saja setelah wafat Nabi Isa a.s. orang-orang Kristen berubah dalam kepercayaannya dengan menganggap Tuhan yang lain yang tidak diajarkan oleh Taurat dan tidak diketahui pula oleh Bani Israil sedikit pun.
      Kepercayaan kepada Tuhan yang baru itu sangat bertentangan dengan Taurat dan merusak pelajaran Taurat yang hendak memberi kesucian serta kelepasan (najat/keselamatan) yang sebenarnya dari dosa-dosa. Lalu dikemukakan pula suatu itikad baru yakni untuk lepas dari dosa orang harus mempercayai  bahwa Nabi Isa a.s. telah naik di atas kayu salib (telah disalibkan) untuk memberi kelepasan (najat/keselamatan) kepada dunia dan beliaulah sebenarnya Tuhan. Bukan hanya itu saja, bahkan banyak lagi hukum-hukum Taurat dihapuskan dan agama Kristen berubah sama sekali, sehingga seandainya Nabi Isa a.s. sendiri datang lagi kedua kalinya ke dunia ini tentu beliau a.s. tidak akan dapat mengenali agama ini.”

Penolakan Nabi Isa Ibnu  Maryam  a.s. Terhadap “Trinitas” dan “Penebusan Dosa” &  Kemusyrikan di Kalangan Agama Hindu

          Penjelasan Masih Mau’ud a.s. terhadap “Trinitas” dan  “penebusan dosa” melalui kematian terkutuk Nabi isa Ibnu Maryam a.s. di tiang salib tersebut sesuai dengan penolakan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. dalam firman-Nya berikut ini:
وَ  اِذۡ قَالَ اللّٰہُ یٰعِیۡسَی ابۡنَ مَرۡیَمَ  ءَاَنۡتَ قُلۡتَ لِلنَّاسِ اتَّخِذُوۡنِیۡ وَ اُمِّیَ  اِلٰہَیۡنِ مِنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ ؕ قَالَ سُبۡحٰنَکَ مَا یَکُوۡنُ لِیۡۤ  اَنۡ اَقُوۡلَ مَا لَیۡسَ لِیۡ ٭ بِحَقٍّ ؕ؃ اِنۡ کُنۡتُ قُلۡتُہٗ فَقَدۡ عَلِمۡتَہٗ ؕ تَعۡلَمُ  مَا فِیۡ نَفۡسِیۡ وَ لَاۤ اَعۡلَمُ مَا فِیۡ نَفۡسِکَ ؕ اِنَّکَ اَنۡتَ عَلَّامُ  الۡغُیُوۡبِ ﴿﴾ مَا قُلۡتُ لَہُمۡ اِلَّا مَاۤ اَمَرۡتَنِیۡ بِہٖۤ اَنِ اعۡبُدُوا اللّٰہَ رَبِّیۡ وَ رَبَّکُمۡ ۚ وَ کُنۡتُ عَلَیۡہِمۡ  شَہِیۡدًا مَّا دُمۡتُ فِیۡہِمۡ ۚ فَلَمَّا تَوَفَّیۡتَنِیۡ  کُنۡتَ اَنۡتَ الرَّقِیۡبَ عَلَیۡہِمۡ ؕ وَ  اَنۡتَ عَلٰی کُلِّ  شَیۡءٍ  شَہِیۡدٌ ﴿﴾
Dan ingatlah ketika Allah berfirman: “Hai ‘Isa ibnu Maryam, apakah engkau telah berkata kepada manusia: Jadikanlah aku dan ibuku sebagai dua tuhan  selain  Allah?" Ia berkata: “Maha Suci Engkau. Tidak patut bagiku mengatakan812 apa yang  sekali-kali  bukan hakku. Jika  aku telah mengatakannya maka sungguh  Engkau mengetahuinya. Engkau mengetahui apa yang ada dalam diriku, sedangkan aku tidak mengetahui apa yang ada dalam diri Engkau sesungguh-nya Engkau benar-benar Maha Mengetahui segala yang gaib.    Aku sekali-kali tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang telah Engkau perintahkan kepadaku, yaitu:  Beribadahlah ke-pada Allāh, Rabb-ku (Tuhan-ku) dan Rabb (Tuhan) kamu.” Dan aku menjadi saksi atas me-reka selama aku berada di antara mereka,  tetapi  ketika   Engkau telah mewafatkanku  maka Engkau-lah Yang benar-benar menjadi Pengawas atas mereka, dan Engkau adalah Saksi atas segala sesuatu. (Al-Māidah [17]:117-118).
      Selanjutnya Masih Mau’ud a.s. menjelaskan mengenai terjadinya hal-hal yang bertentangan dengan  Taurat dalam ajaran Kristen:
      “Sangat mengherankan, orang-orang yang diperintah untuk mengikuti Taurat mereka telah meninggalkan hukum-hukum Taurat. Umpamanya. Umpamanya dalam Injil, sama sekali tidak difirmankan bahwa: Babi yang diharamkan oleh Taurat sekarang dihalalkan, dan khitan yang diperintahkan Taurat sekarang dihapuskan. Lalu mengapa hal-hal yang tidak diajarkan oleh Nabi Isa a.s. dijadikan bagian agama? Karena itu sudah seyogianya Allah Swt. akan mendirikan satu agama yang cukup untuk seluruh dunia yaitu agama Islam. Karena itu kerusakan agama Kristen menjadi satu tanda tentang kedatangan agama Islam.
    Hal ini tidak dapat disangkal lagi bahwa sebelum kedatangan Islam keadaan agama Hindu pun telah rusak juga dan hampir di seluruh India orang-orang sudah mulai menyembah berhala-berhala. Sebagai akibat dan bekas kerusakan-kerusakan itu sampai sekarang orang-orang Arya (segolongan Hindu) berpendirian bahwa Tuhan membutuhkan benda (sarana) untuk menjadikan (menciptakan)  makhluk, dan karena akidah yang salah ini mereka menerima satu kepercayaan lagi yang penuh dengan syirik, yakni semua dzarah-dzarah  dan ruh-ruh  dalam alam ini bersifat qadim (tidak ada permulaan) dan akan azali (tidak berkesudahan).

Sifat-sifat Sempurna Allah Swt. Tidak Seperti Kelemahan Sifat-sifat Manusia

    Tetapi sayang, mereka tidak memperhatikan Sifat-sifat Allah Swt.  dengan sebenarnya. Seandainya benar Allah Swt. untuk menampakkan Sifat Khaliq (Yang menciptakan) yang qadim (dari dahulu) yang  ada pada-Nya adalah  seperti manusia membutuhkan suatu sarana, tetapi mengapa untuk Sifat  Samī’un  (Yang   mendengar) dan Bashīrun (Yang melihat)   Dia tidak membutuhkan satu benda (sarana) pula? Manusia tidak dapat mendengar kalau tidak ada udara dan tidak dapat melihat kalau tidak ada cahaya. Apakah Tuhan pun mempunyai kelemahan semacam itu dan Dia membutuhkan udara serta cahaya untuk mendengar dan melihat?
       Jadi, kalau Tuhan tidak membutuhkan udara dan cahaya niscaya Dia pun tidak membuntuhkan suatu sarana untuk menampakkan Sifat Khaliq-Nya (Maha Pencipta-Nya). Dengan demikian logika yang mengatakan bahwa Allah Swt.  membutuhkan suatu  sarana untuk menampakkan Sidfat-sifat-Nya adalah bohong belaka. Sifat-sifat manusia tidak dapat diqiaskan kepada Allah Swt.  bahwa tidak dapat yang “ada” diadakan (diciptakan) dari sesuatu yang “tidak ada”. Begitu pun anggapan bahwa Allah Swt. lemah seperti manusia adalah suatu kesalahan besar. Manusia itu terbatas sedangkan Allah Swt. tidak terbatas, maka  dengan kekuasaan Dzat-Nya Sendiri Allah Swt. menjadikan (menciptakan) suatu wujud yang lain lagi,  inilah yang dikatakan kekuasaan Tuhan.
     Untuk menampakkan Sifat-sifat-Nya Allah Swt. sama sekali tidak membuntuhkan suatu benda (sarana), sebab kalau  tidak demikian Dia bukan Tuhan. Adakah manusia yang dapat menghalangi pekerjaan-Nya? Umpamanya, jika Dia hendak menjadikan langit dan bumi dalam sekejap saja apakah Dia tidak dapat menjadikannya? Dalam kalangan Hindu pun orang-orang ‘alim yang mempunyai keruhanian dan tidak diperdayakan oleh ilmu logika yang kering itu, mereka tidak mempunyai itikad seperti yang sekarang dikemukakan oleh orang Ariya terhadap (mengenai) Allah Swt.. Pendirian orang-orang Ariya sekarang adalah akibat tidak adanya keruhanian pada mereka.
          Singkatnya, dalam agama-agama itu telah timbul macam-macam kerusakan yang sebagiannya tidak patut diceritakan lagi karena bertentangan dengan kesucian dan kemanusiaan. Semua tanda-tanda ini menyatakan perlunya kedatangan Islam dalam dunia ini.
         Orang-orang yang sehat akal-pikirannya akan mengakui bahwa beberapa waktu sebelum Islam keadaan agama-agama yang lain semuanya sudah rusak dan kosong dari keruhanian, maka untuk menampakkan kebenaran kepada dunia ini Nabi kita Muhammad saw.  adalah sebagai Mujaddid ‘Azham (Pembahari agung) yang membawa kembali kebenaran yang telah hilang itu. Tiada suatu nabi lain yang mempunyai kemegahan  ini seperti Nabi kita Muhammad saw.. Beliau saw. mendapati dunia ini tenggelam dalam suatu kegelapan, dan dengan kedatangan beliau saw. kegelapan itu lenyap berubah menjadi terang.”

Kerusakan Merebak  di Daratan dan di Lautan  & Pengutusan Nabi Besar Muhammad Saw.

         Penjelasan Masih Mau’ud a.s. tersebut didukung oleh firman Allah Swt. dalam Al-Quran, firman-Nya:
ظَہَرَ الۡفَسَادُ فِی الۡبَرِّ وَ الۡبَحۡرِ بِمَا کَسَبَتۡ اَیۡدِی  النَّاسِ  لِیُذِیۡقَہُمۡ بَعۡضَ الَّذِیۡ عَمِلُوۡا  لَعَلَّہُمۡ یَرۡجِعُوۡنَ ﴿﴾ قُلۡ سِیۡرُوۡا فِی الۡاَرۡضِ فَانۡظُرُوۡا کَیۡفَ کَانَ عَاقِبَۃُ  الَّذِیۡنَ مِنۡ قَبۡلُ ؕ کَانَ اَکۡثَرُہُمۡ  مُّشۡرِکِیۡنَ ﴿﴾ فَاَقِمۡ وَجۡہَکَ لِلدِّیۡنِ الۡقَیِّمِ مِنۡ قَبۡلِ اَنۡ یَّاۡتِیَ یَوۡمٌ  لَّا  مَرَدَّ لَہٗ مِنَ اللّٰہِ یَوۡمَئِذٍ  یَّصَّدَّعُوۡنَ ﴿﴾
Kerusakan telah meluas di daratan dan di lautan  disebabkan per-buatan tangan manusia, supaya dirasakan kepada mereka akibat seba-gian perbuatan yang mereka lakukan, supaya mereka kembali dari kedurhakaannya.  Katakanlah:  Berjalanlah di bumi dan lihatlah bagaimana buruk-nya akibat bagi orang-orang sebelum kamu ini. Kebanyakan mereka itu orang-orang musyrik.”   Maka hadapkanlah wajah engkau kepada agama yang lurus, sebelum datang dari Allah hari yang tidak dapat dihindarkan,  pada hari itu orang-orang beriman  dan kafir akan terpisah. (Ar-Rūm [30]:42-44).
            Lebih jauh Masih Mau’ud a.s. menjelaskan mengenai kesuksesan Nabi Besar Muhammad saw. mengubah  kaum beliau saw. yang musyrik menjadi para pecinta Tauhid yang hakiki:
        “Sebelum beliau saw. wafat   semua kaum beliau saw. telah meninggalkan syirik dan telah memegang Tauhid, bahkan mereka maju terus dalam derajat keimanan yang tinggi. Mereka membuktikan kejujuran, kesetiaan dan keyakinannya yang tidak ada bandingannya di dunia ini. Nabi-nabi selain Nabi  Muhammad saw. tidak beroleh kemenangan  dan kemajuan yang besar seperti ini.
      Ini merupakan satu keterangan yang besar tentang kebenaran Nabi Muhammad saw.,  yaitu beliau saw. diutus dalam satu zaman ketika dunia dalam  kegelapan dan membutuhkan satu mushlih (pembaharu)  ruhani  yang agung. Kemudian beliau saw. meninggal dunia pada waktu berlaksa-laksa manusia telah meninggalkan syirik  dan persembahan kepada berhala-berhala dengan berpegang pada Tauhid serta jalan lurus itu.
        Sebenarnya ishlah kamil (perbaikan yang sempurna)  semacam ini hanya dapat dikerjakan oleh beliau saw. saja, yakni beliau saw. mengajarkan akhlak dan adat kemanusiaan kepada satu bangsa yang liar. Dalam perkataan lain boleh dikatakan  bahwa beliau saw.  mendidik mereka dari sifat hewan menjadi sifat insan, dan dari sifat insan  menjadi insan  yang terpelajar, dan dari insan  yang terpelajar menjadi insan  yang ber-Tuhan.
       Mereka ditiup dengan keruhanian dan kesucian hingga benar-benar  mempunyai  hubungan dengan  Allah Swt.. Dalam jalan Allah Swt. mereka disembelih seperti kambing dan diinjak seperti semut tetapi mereka tidak melepaskan keimanannya, bahkan dalam tiap-tiap musibah pun mereka maju ke depan.

Nabi Besar Muhammad saw. Merupakan “Adam” yang Hakiki & Gelar “Khātaman Nabiyyin

     Dengan demikian  nyatalah bahwa Nabi Muhammad saw.  adalah sebagai Adam yang kedua  dalam usaha membangun keruhanian.  Bahkan beliau saw. adalah Adam yang hakiki karena dengan perantaraan beliau saw. semua sifat-sifat kemanusiaan sampai pada kesempurnaannya, semua kekuatan masing-masing menjalankan pekerjaannya dengan baik  dan tiada  suatu cabang pun dari fitrat manusia yang tidak berbuah.
        Beliau saw. mendapat gelar “Khātaman-Nubuwat”­ bukan hanya karena beliau saw. datang dalam zaman sesudah nabi-nabi lain, tetapi juga karena semua keagungan kenabian menjadi sempurna dalam diri beliau saw.. Begitu pula beliau saw. adalah mazhar (penjelmaan)   sempurna  Sifat-sifat Ilahi, maka syariat beliau saw.  mengandung kedua sifat Jalal (kegagahan)  dan Jamal (kebagusan), karena itulah beliau saw. mempunyai dua nama sifat yaitu Muhammad dan Ahmad, maka tiada yang kurang dalam  kenabian beliau saw., bahkan  dari permulaan juga adalah untuk dunia seluruhnya.”

Pergiliran Periode  “Seribu Tahun” Hidayat (Petunjuk) dan Kesesatan

         Satu keterangan lagi tentang kebenaran nubuat (kenabian) Nabi Muhammad saw. adalah   semua Kitab para nabi yang terdahulu – begitu pula Al-Quran menyatakan  -- bahwa Allah Swt. menetapkan umur dunia ini mulai dari Adam a.s. sampai akhir penghabisan hanya 7000 tahun, dam sudah ditetapkan bahwa hidayat (petunjuk) dan kesesatan silih berganti muncul dalam masa seribu-seribu tahun. Yakni dalam satu masa periode seribu tahun hidayat (petunjuk) memperoleh kemenangan, dan dalam masa seribu tahun  lain kesesatan yang merajalela. Sebagaimana telah saya  terangkan pula bahwa dalam kitab-kitab Ilahi kedua-dua masa giliran itu dibagikan dalam seribu-seribu tahun.
       Periode ribuan pertama masa kemenangan petunjuk di dalamnya tidak nampak nama dan ciri-ciri penyembahan berhala.
       Apabila hilang tahun petunjuk ini lalu  datang masa ribuan kedua ketika syirik dan penyembahan  kepada berhala merajalela di seluruh dunia ini.
     Ketiga, masa seribu tahun tatkala Tauhid didirikan dalam dunia ini yang tersiar pula menurut kehendak Ilahi.
     Keempat, masa seribu tahun ketika kesesatan muncul lagi secara luas. Dalam seribu tahun inilah  orang-orang Bani Israil menjadi sangat rusak, dan agama Kristen yang akhirnya turun lagi menjadi layu pula. Yakni agama Kristen lahir dan mati dalam  satu masa seribu tahun ini.
          Kelima,  masa seribu tahun periode hidayat (petunjuk). Dalam masa seribu kelima ini Nabi Muhammad saw. diutus kedunia dan Allah Swt. mendirikan lagi Tauhid  dengan perantaraan beliau saw., maka inilah keterangan yang sangat kuat tentang kebenaran Nabi Muhammad saw.  sebagai nabi Allah, yaitu  beliau saw. diutus pada masa seribu tahun yang telah ditetapkan sejak bahari (azali) untuk hidayat (petunjuk). Hal ini bukan perrkataan dari saya melainkan semua kitab Ilahi pun mengatakan begitu juga.
     Keterangan tersebut membuktikan pula kebenaran pendakwaan saya sebagai Masih Mau’ud a.s., karena menurut ketetapan tersebut masa seribu tahun yang keenam adalah untuk tersiarnya kesesatan. Dan ribuan  keenam ini mulai dari 300  tahun sesudah hijrah Nabi Muhammad saw.  dan habis sampai permulaan abad yang keempatbelas ini, orang-orang dalam ribuan  keenam inilah  dinamakan tayyij a’awaj oleh Nabi Muhammad saw..
     Masa  seribu tahun yang ketujuk yang sekarang kita alami adalah zaman untuk memenangkan hidayat (petunjuk). Inilah masa ribuan tahun yang terakhir karena itu sudah semestinya Imam Akhir Zaman  akan lahir  pada permulaan ribuan ini. Sesudah Imam ini tidak ada Imam dan Masih lain, melainkan yang akan menjadi zhilnya (bayangannya) saja karena dalam ribuan ini umur dunia akan habis pula, dan hal ini telah disaksikan oleh semua nabi.
         Imam yang sekarang ini dinamakan Masih Mau’ud  oleh Allah Swt. lagi pula menjadi mujaddid dalam abad ini serta mujaddid dalam ribuan yang akhir ini. Yahudi dan Kristen pun menyetujui bahwa inilah ribuan  ketujuh sesudah Adam a.s.. Waktu tentang Adam a.s. yang Allah Swt.  membukakan kepada saya menurut ilmu abjad (hitungan huruf) surah Al-Ashr pun menyatakan bahwa ribuan  yang sekarang kita alami ini adalah ribuan   ketujuh.

Masa Kedatangan Masih Mau’ud a.s. di Akhir Masa Ribuan Keenam

         Semua nabi sepakat bahwa Masih Mau’ud akan datang dalam permulaan ribuan ketujuh dan akan lahir  dalam penghabisan ribuan keenam karena dia datang dalam akhir sebagaimana Adam a.s. datang dalam awal.  Adam a.s. lahir pada hari keenam yakni hari Jum’at saat terakhir. Satu hari di sisi Allah sama dengan seribu tahun perhitungan dunia. Dan  karena kesesuaian ini Allah Swt. mengutus  Masih Mau’ud  dalam waktu penghabisan ribuan tahun keenam seakan-akan waktu yang terakhir dari hari.
        Di antara  awal dan akhir ada  suatu  hubungan karena itulah Allah Swt. mengutus Masih Mau’ud seperti keadaan Adam juga. Adam a.s. lahir kembar pada hari Jum’at, begitu pula saya yang menjadi Masih Mau’ud pun  lahir kembar dan pada hari Jum’at juga.Terlebih dulu seorang anak perempuan lahir kemudian saya lahir, dan kelahiran semacam ini mengisyaratkan kepada kedudukan khatam kewalian.”
        Berikut beberapa ayat Al-Quran tentang periode “seribu tahun”  pergantian petunjuk dengan kesesatan, firman-Nya:
یُدَبِّرُ الۡاَمۡرَ مِنَ السَّمَآءِ  اِلَی الۡاَرۡضِ ثُمَّ یَعۡرُجُ  اِلَیۡہِ  فِیۡ یَوۡمٍ کَانَ مِقۡدَارُہٗۤ اَلۡفَ سَنَۃٍ  مِّمَّا تَعُدُّوۡنَ ﴿﴾
Dia mengatur perintah dari langit sampai bumi, kemudian perintah itu akan naik kepada-Nya dalam satu hari, yang hitungan lamanya seribu tahun dari apa yang kamu hitung. (As-Sajdah [31]:6).
Firman-Nya lagi:
وَ  یَسۡتَعۡجِلُوۡنَکَ بِالۡعَذَابِ وَ لَنۡ یُّخۡلِفَ اللّٰہُ وَعۡدَہٗ ؕ وَ اِنَّ یَوۡمًا عِنۡدَ رَبِّکَ  کَاَلۡفِ  سَنَۃٍ   مِّمَّا  تَعُدُّوۡنَ ﴿﴾
Dan mereka meminta kepada engkau untuk mempercepat azab, tetapi Allah  tidak akan pernah meng-ingkari janji-Nya. Dan sesungguhnya satu hari di sisi Tuhan engkau  seperti seribu tahun menurut perhitungan kamu  (Al-Hājj [22]:48).

“Waktu yang Dijanjikan”  Telah Lewat  dan  Gagal “Mengenal Orang yang Dijanjikan

     Pendek kata,  semua nabi sepakat tentang  ajaran ini bahwa Masih Mau’ud akan datang dalam permulaan ribuan ketujuh. Karena itulah dalam beberapa tahun yang lalu orang-orang Kristen pun sangat gelisah. Di negeri Amerika diterbitkan beberapa majalah tentang masalah ini bahwa Masih Mau’ud yang harus lahir dalam zaman ini mengapa hingga sekarang belum muncul    juga?     Malah sebagian orang menjawab seperti  putus pengharapan, katanya,  “Karena sekarang waktunya telah lewat baiklah gereja saja dianggap sebagai wakil atau pengganti   Masih Mau’ud.”
       Jadi, inilah  suatu keterangan yang kuat tentang kebenaranku bahwa saya diutus dalam ribuan  yang telah ditetapkan oleh nabi-nabi terdahulu. Seandainya tiada keterangan-keterangan lain tentang kebenaranku cukuplah satu keterangan ini saja untuk orang yang mencari haq (kebenaran). Menolak keterangan tersebut berarti membatalkan Kitab-kitab Ilahi semuanya.
       Orang-orang yang mempunyai ilmu tentang Kitab Ilahi dan suka mempelajarinya, bagi mereka keterangan tersebut jelas dan  terang seperti siang hari,  menolak keterangan ini berarti menolak semua nubuatan serta mengacau-balaukan seluruh susunan dan merusak peraturan Ilahi.”

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid

oo0oo
Pajajaran Anyar, 8   Maret  2017


Tidak ada komentar:

Posting Komentar