Bismillaahirrahmaanirrahiim
ISLAM
Pidato Mirza Ghulam Ahmad a.s.
Tgl. 2 November 1904
di Kota Sialkote – Hindustan
Bab 37
KESEMPURNAAN TUGAS NABI BESAR MUHAMMAD
SAW. MENCIPTAKAN “MANUSIA-MANUSIA BERTAUHID” & PERGILIRAN PERIODE “SERIBU TAHUN” MASA PETUNJUK DAN KESESATAN
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam Bab-bab sebelumnya
telah dijelaskan mengenai latar-belakang
atau alasan mengapa Allah Swt. mengutus Imam Mahdi a.s. atau Al-Masih Al-Mau’ud a.s. atau misal
Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (QS.43:58) di wilayah Hindustan (India), selanjutnya akan dikemukakan Pidato Mirza Ghulam Ahmad a.s. mengenai
“ISLAM” di kota Sialkote -- sekarang termasuk wilayah Pakistan -- yang diterbitkan dengan judul “Sialkote
Lecture.”
Bismillāhirrahmānir- rahīm
Nahmaduhu wa nushalliy ‘ala Rasūlihil- Karīm
ISLAM
Pidato
Y.M. Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad, Masih Mau’ud a.s.
Tanggal 2 November 1904
Di Kota Sialkote
“Penyelidikan yang teliti menyatakan
bahwa -- kecuali Islam -- semua agama
lainnya dalam dunia ini mengandung salah satu kesalahan di dalamnya. Sebenarnya
agama-agama itu bukanlah palsu sejak dari awalnya, hanya saja setelah agama Islam datang dalam dunia ini Allah
Swt. tidak memelihara lagi agama-agama itu. Maka ibarat suatu kebun tidak disirami dan dipelihara oleh
tukang kebun lambat-laun timbullah
bermacam-macam kerusakan di dalamnya serta pohon-pohon yang berbuah menjadi
kering dan muncullah macam-macam
tumbuh-tumbuhan liar dan berduri. Begitu pula keruhanian yang menjadi pokok
agama telah hilang lenyap dan yang tinggal hanya perkataan kosong belaka.
Tetapi Allah Swt. tidak melakukan begitu terhadap Islam dan Dia menghendaki kebun ini harus subur dan menghijau untuk selama-lamanya. Oleh
karena itulah pada permulaan tiap-tiap abad Dia menyirami
kebun ini dengan air yang sejuk supaya jangan layu.
Sekali pun mujaddid (pembaharu
ruhani) yang dikirim oleh-Nya pada permulaan tia-tiap abad untuk memperbaiki
umat Islam senantiasa dilawan oleh orang-orang jahil, dan mereka tidak sudi
memperbaiki kesalahan-kesalahan yang
sudah masuk ke dalam adat-istiadat mereka, tetapi Allah Swt. tidak menghentikan kebiasaan-Nya (Sunnah-Nya), dan sampai
pada Akhir Zaman ini waktunya peperangan
yang akhir antara hidayah (petunjuk)
dengan kesesatan, yakni dalam abad 14
dan ribuan yang akhir (ribuan ketujuh setelah Nabi Adam a.s. yang
berarti ribuan terakhir – pen.), ketika orang-orang Islam telah tenggelam dalam
kelalaian. Allah Swt. menurut perjanjian-Nya mengirimkan lagi seorang mujaddid untuk memperbaharui Islam. Sesudah Nabi Muhammad saw. agama-agama lain tidak diperbaharui
oleh-Nya karena itu semua agama tersebut telah mati dan tidak mempunyai keruhanian lagi.”
Akibat Buruk “Musim
Kemarau Ruhani” yang Lama
Penjelasan Pendiri Jemaat Muslim
berkenaan keadaan agama-agama sebelum Islam
tersebut selaras dengan Sunnatullah
dalam firman-Nya berikut ini – yang juga merupakan peringatan bagi umat Islam
-- Dia berfirman:
اَلَمۡ یَاۡنِ لِلَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡۤا اَنۡ
تَخۡشَعَ قُلُوۡبُہُمۡ لِذِکۡرِ
اللّٰہِ وَ مَا نَزَلَ مِنَ الۡحَقِّ ۙ وَ
لَا یَکُوۡنُوۡا کَالَّذِیۡنَ اُوۡتُوا الۡکِتٰبَ مِنۡ قَبۡلُ فَطَالَ
عَلَیۡہِمُ الۡاَمَدُ فَقَسَتۡ
قُلُوۡبُہُمۡ ؕ وَ کَثِیۡرٌ مِّنۡہُمۡ
فٰسِقُوۡنَ ﴿﴾ اِعۡلَمُوۡۤا
اَنَّ اللّٰہَ یُحۡیِ الۡاَرۡضَ بَعۡدَ مَوۡتِہَا ؕ قَدۡ بَیَّنَّا لَکُمُ
الۡاٰیٰتِ لَعَلَّکُمۡ تَعۡقِلُوۡنَ ﴿۱۷﴾
Apakah belum sampai waktu bagi orang-orang yang
beriman, bahwa hati mereka tunduk
untuk mengingat Allah dan mengingat
kebenaran yang telah turun kepada
mereka, dan mereka tidak menjadi seperti orang-orang yang diberi kitab
sebelumnya, maka zaman kesejahteraan menjadi panjang
atas mereka lalu hati
mereka menjadi keras, dan kebanyakan
dari mereka menjadi durhaka? Ketahuilah,
bahwasanya Allah menghidupkan
bumi sesudah mati-nya. Sungguh Kami
telah menjelaskan Tanda-tanda kepada kamu supaya kamu mengerti. (Al-Hadīd [57]:17-18).
Selanjutnya Masih Mau’ud a.s. menyinggung
berbagai kesalahan agama-agama
sebelum Islam, termasuk agama Kristen:
“Banyak kesalahan masuk ke dalam agama-agama itu seperti kotoran masuk dalam pakaian yang tidak pernah dicuci.
Lagi pula orang-orang yang tidak mempunyai keruhanian
sedikit pun dan nafsu Ammarahnya
masih terikat dalam kekotoran keduniawian, mereka memasukkan kemauan sendiri dalam agama-agama itu sehingga agama-agama
tersebut sudah berubah sama sekali.
Umpamanya
agama Kristen asalnya memang
berdasarkan atas usul-usul
(dasar-dasar) yang suci. Pelajaran (ajaran) yang dikemukakan oleh Nabi Isa
a.s. – walau pun kurang jika
dibandingkan dengan Islam karena pada waktu itu belum sampai saatnya
untuk pelajaran (ajaran) yang sempurna, lagi pula kekuatan kecakapan
manusia pun belum cukup -- tetapi pelajaran
(ajaran) itu sangat bagus dan sesuai dengan keadaan
waktu itu untuk mengantarkan manusia kepada Allah Swt. seperti Taurat
juga, hanya saja setelah wafat Nabi
Isa a.s. orang-orang Kristen berubah
dalam kepercayaannya dengan menganggap Tuhan
yang lain yang tidak diajarkan oleh Taurat dan tidak diketahui pula oleh Bani Israil sedikit pun.
Kepercayaan kepada Tuhan yang baru itu sangat bertentangan
dengan Taurat dan merusak pelajaran Taurat yang hendak
memberi kesucian serta kelepasan (najat/keselamatan) yang
sebenarnya dari dosa-dosa. Lalu dikemukakan pula suatu itikad baru yakni untuk lepas
dari dosa orang harus mempercayai bahwa Nabi Isa a.s. telah naik di atas kayu
salib (telah disalibkan) untuk memberi kelepasan
(najat/keselamatan) kepada dunia dan beliaulah sebenarnya Tuhan. Bukan hanya itu saja, bahkan banyak lagi hukum-hukum Taurat dihapuskan dan agama Kristen berubah sama sekali,
sehingga seandainya Nabi Isa a.s. sendiri datang lagi kedua kalinya ke dunia
ini tentu beliau a.s. tidak akan dapat mengenali
agama ini.”
Penolakan Nabi Isa Ibnu Maryam
a.s. Terhadap “Trinitas” dan “Penebusan Dosa” & Kemusyrikan
di Kalangan Agama Hindu
Penjelasan Masih Mau’ud a.s. terhadap “Trinitas”
dan “penebusan
dosa” melalui kematian terkutuk
Nabi isa Ibnu Maryam a.s. di tiang salib
tersebut sesuai dengan penolakan Nabi Isa
Ibnu Maryam a.s. dalam firman-Nya berikut ini:
وَ اِذۡ قَالَ اللّٰہُ
یٰعِیۡسَی ابۡنَ مَرۡیَمَ ءَاَنۡتَ قُلۡتَ
لِلنَّاسِ اتَّخِذُوۡنِیۡ وَ اُمِّیَ اِلٰہَیۡنِ مِنۡ دُوۡنِ
اللّٰہِ ؕ قَالَ سُبۡحٰنَکَ مَا یَکُوۡنُ لِیۡۤ
اَنۡ اَقُوۡلَ مَا لَیۡسَ لِیۡ ٭ بِحَقٍّ ؕ اِنۡ کُنۡتُ قُلۡتُہٗ فَقَدۡ
عَلِمۡتَہٗ ؕ تَعۡلَمُ مَا فِیۡ
نَفۡسِیۡ وَ لَاۤ اَعۡلَمُ مَا فِیۡ نَفۡسِکَ ؕ اِنَّکَ
اَنۡتَ عَلَّامُ الۡغُیُوۡبِ ﴿﴾ مَا قُلۡتُ
لَہُمۡ اِلَّا مَاۤ اَمَرۡتَنِیۡ بِہٖۤ اَنِ اعۡبُدُوا اللّٰہَ رَبِّیۡ وَ رَبَّکُمۡ ۚ وَ کُنۡتُ
عَلَیۡہِمۡ شَہِیۡدًا مَّا
دُمۡتُ فِیۡہِمۡ ۚ فَلَمَّا تَوَفَّیۡتَنِیۡ کُنۡتَ اَنۡتَ الرَّقِیۡبَ
عَلَیۡہِمۡ ؕ وَ اَنۡتَ عَلٰی
کُلِّ شَیۡءٍ شَہِیۡدٌ ﴿﴾
Dan ingatlah
ketika Allah berfirman: “Hai ‘Isa ibnu
Maryam, apakah engkau telah berkata kepada
manusia: Jadikanlah aku dan ibuku sebagai dua tuhan selain Allah?" Ia berkata: “Maha Suci Engkau. Tidak patut bagiku mengatakan812 apa yang sekali-kali
bukan hakku. Jika aku telah mengatakannya maka sungguh Engkau mengetahuinya. Engkau mengetahui apa yang ada dalam diriku,
sedangkan aku tidak mengetahui apa yang
ada dalam diri Engkau, sesungguh-nya Engkau benar-benar Maha Mengetahui segala yang gaib. Aku sekali-kali tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang telah Engkau perintahkan kepadaku, yaitu: ”Beribadahlah ke-pada Allāh, Rabb-ku
(Tuhan-ku) dan Rabb (Tuhan) kamu.” Dan aku menjadi saksi atas me-reka selama aku berada di antara mereka,
tetapi ketika Engkau telah mewafatkanku maka Engkau-lah
Yang benar-benar menjadi Pengawas atas mereka, dan Engkau adalah Saksi atas segala sesuatu. (Al-Māidah
[17]:117-118).
Selanjutnya Masih Mau’ud a.s. menjelaskan mengenai terjadinya hal-hal yang bertentangan dengan Taurat
dalam ajaran Kristen:
“Sangat mengherankan, orang-orang yang
diperintah untuk mengikuti Taurat
mereka telah meninggalkan hukum-hukum
Taurat. Umpamanya. Umpamanya dalam Injil, sama sekali tidak difirmankan
bahwa: Babi yang diharamkan oleh Taurat
sekarang dihalalkan, dan khitan yang diperintahkan Taurat sekarang dihapuskan. Lalu mengapa hal-hal yang tidak diajarkan oleh Nabi Isa a.s.
dijadikan bagian agama? Karena itu
sudah seyogianya Allah Swt. akan mendirikan satu
agama yang cukup untuk seluruh dunia
yaitu agama Islam. Karena itu kerusakan agama Kristen menjadi satu tanda tentang kedatangan agama Islam.
Hal ini tidak dapat disangkal lagi bahwa
sebelum kedatangan Islam keadaan agama Hindu pun telah rusak juga dan
hampir di seluruh India orang-orang sudah mulai menyembah berhala-berhala. Sebagai akibat dan bekas kerusakan-kerusakan itu sampai sekarang
orang-orang Arya (segolongan Hindu)
berpendirian bahwa Tuhan membutuhkan benda (sarana) untuk menjadikan
(menciptakan) makhluk, dan karena akidah
yang salah ini mereka menerima satu kepercayaan lagi yang penuh dengan syirik, yakni semua dzarah-dzarah dan ruh-ruh dalam alam ini bersifat qadim (tidak ada permulaan) dan akan azali (tidak berkesudahan).
Sifat-sifat Sempurna Allah Swt. Tidak Seperti Kelemahan
Sifat-sifat Manusia
Tetapi sayang, mereka tidak memperhatikan Sifat-sifat Allah Swt. dengan sebenarnya. Seandainya benar Allah
Swt. untuk menampakkan Sifat Khaliq
(Yang menciptakan) yang qadim (dari
dahulu) yang ada pada-Nya adalah seperti manusia
membutuhkan suatu sarana, tetapi
mengapa untuk Sifat Samī’un (Yang mendengar) dan Bashīrun (Yang melihat) Dia
tidak membutuhkan satu benda (sarana)
pula? Manusia tidak dapat mendengar
kalau tidak ada udara dan tidak dapat
melihat kalau tidak ada cahaya. Apakah Tuhan pun mempunyai
kelemahan semacam itu dan Dia membutuhkan udara
serta cahaya untuk mendengar dan melihat?
Jadi, kalau Tuhan tidak membutuhkan udara dan cahaya niscaya Dia pun tidak membuntuhkan suatu sarana untuk menampakkan Sifat Khaliq-Nya (Maha Pencipta-Nya). Dengan
demikian logika yang mengatakan bahwa Allah Swt. membutuhkan suatu sarana untuk
menampakkan Sidfat-sifat-Nya adalah bohong
belaka. Sifat-sifat manusia tidak dapat diqiaskan kepada Allah Swt. bahwa tidak dapat yang “ada” diadakan (diciptakan) dari sesuatu yang “tidak ada”. Begitu pun anggapan bahwa Allah Swt. lemah seperti manusia adalah suatu kesalahan besar. Manusia itu terbatas sedangkan Allah Swt. tidak terbatas, maka dengan kekuasaan
Dzat-Nya Sendiri Allah Swt. menjadikan (menciptakan) suatu wujud yang lain
lagi, inilah yang dikatakan kekuasaan Tuhan.
Untuk menampakkan Sifat-sifat-Nya Allah Swt. sama sekali tidak membuntuhkan suatu benda (sarana), sebab kalau tidak demikian Dia bukan Tuhan. Adakah manusia yang dapat menghalangi pekerjaan-Nya?
Umpamanya, jika Dia hendak menjadikan langit dan bumi dalam sekejap saja apakah
Dia tidak dapat menjadikannya? Dalam kalangan Hindu pun orang-orang ‘alim yang
mempunyai keruhanian dan tidak
diperdayakan oleh ilmu logika yang
kering itu, mereka tidak mempunyai itikad
seperti yang sekarang dikemukakan oleh orang Ariya terhadap (mengenai) Allah
Swt.. Pendirian orang-orang Ariya sekarang adalah akibat tidak adanya keruhanian pada mereka.
Singkatnya, dalam agama-agama itu telah timbul macam-macam kerusakan yang sebagiannya tidak patut diceritakan lagi karena
bertentangan dengan kesucian dan kemanusiaan. Semua tanda-tanda ini menyatakan perlunya kedatangan Islam dalam dunia ini.
Orang-orang
yang sehat akal-pikirannya akan mengakui
bahwa beberapa waktu sebelum Islam
keadaan agama-agama yang lain semuanya sudah rusak dan kosong dari keruhanian, maka untuk menampakkan kebenaran kepada dunia ini Nabi kita
Muhammad saw. adalah sebagai Mujaddid ‘Azham (Pembahari agung) yang
membawa kembali kebenaran yang telah
hilang itu. Tiada suatu nabi lain
yang mempunyai kemegahan ini seperti Nabi kita Muhammad saw.. Beliau
saw. mendapati dunia ini tenggelam
dalam suatu kegelapan, dan dengan
kedatangan beliau saw. kegelapan itu
lenyap berubah menjadi terang.”
Kerusakan Merebak di Daratan
dan di Lautan & Pengutusan Nabi Besar Muhammad Saw.
Penjelasan Masih Mau’ud a.s. tersebut didukung oleh firman Allah Swt. dalam
Al-Quran, firman-Nya:
ظَہَرَ الۡفَسَادُ فِی الۡبَرِّ وَ
الۡبَحۡرِ بِمَا کَسَبَتۡ اَیۡدِی
النَّاسِ لِیُذِیۡقَہُمۡ بَعۡضَ
الَّذِیۡ عَمِلُوۡا لَعَلَّہُمۡ
یَرۡجِعُوۡنَ ﴿﴾ قُلۡ سِیۡرُوۡا فِی الۡاَرۡضِ فَانۡظُرُوۡا
کَیۡفَ کَانَ عَاقِبَۃُ الَّذِیۡنَ مِنۡ
قَبۡلُ ؕ کَانَ اَکۡثَرُہُمۡ
مُّشۡرِکِیۡنَ ﴿﴾ فَاَقِمۡ وَجۡہَکَ لِلدِّیۡنِ الۡقَیِّمِ مِنۡ
قَبۡلِ اَنۡ یَّاۡتِیَ یَوۡمٌ لَّا مَرَدَّ لَہٗ مِنَ اللّٰہِ یَوۡمَئِذٍ یَّصَّدَّعُوۡنَ ﴿﴾
Kerusakan telah meluas di daratan dan di lautan disebabkan per-buatan tangan manusia, supaya dirasakan kepada mereka akibat seba-gian perbuatan yang mereka
lakukan, supaya mereka kembali dari
kedurhakaannya. Katakanlah: ”Berjalanlah di bumi dan lihatlah
bagaimana buruk-nya akibat bagi orang-orang sebelum kamu ini.
Kebanyakan mereka itu orang-orang musyrik.” Maka hadapkanlah wajah engkau kepada agama yang lurus, sebelum datang
dari Allah hari yang tidak dapat dihindarkan, pada hari
itu orang-orang beriman dan kafir akan terpisah. (Ar-Rūm [30]:42-44).
Lebih jauh Masih
Mau’ud a.s. menjelaskan mengenai kesuksesan
Nabi Besar Muhammad saw. mengubah kaum beliau saw. yang musyrik menjadi para pecinta Tauhid
yang hakiki:
“Sebelum beliau saw. wafat
semua kaum beliau saw. telah meninggalkan syirik dan telah memegang Tauhid,
bahkan mereka maju terus dalam derajat keimanan
yang tinggi. Mereka membuktikan kejujuran, kesetiaan dan keyakinannya yang
tidak ada bandingannya di dunia ini. Nabi-nabi selain Nabi Muhammad saw. tidak beroleh kemenangan dan kemajuan
yang besar seperti ini.
Ini merupakan satu keterangan yang besar
tentang kebenaran Nabi Muhammad
saw., yaitu beliau saw. diutus dalam
satu zaman ketika dunia dalam kegelapan
dan membutuhkan satu mushlih
(pembaharu) ruhani yang agung. Kemudian
beliau saw. meninggal dunia pada waktu berlaksa-laksa
manusia telah meninggalkan syirik
dan persembahan
kepada berhala-berhala dengan
berpegang pada Tauhid serta jalan lurus itu.
Sebenarnya ishlah
kamil (perbaikan yang sempurna)
semacam ini hanya dapat dikerjakan oleh beliau saw. saja, yakni beliau
saw. mengajarkan akhlak dan adat kemanusiaan kepada satu bangsa yang liar.
Dalam perkataan lain boleh dikatakan bahwa beliau saw. mendidik mereka dari sifat hewan menjadi sifat insan,
dan dari sifat insan menjadi insan yang terpelajar,
dan dari insan yang terpelajar
menjadi insan yang ber-Tuhan.
Mereka ditiup dengan keruhanian dan kesucian hingga benar-benar mempunyai
hubungan dengan Allah Swt.. Dalam jalan Allah Swt. mereka
disembelih seperti kambing dan diinjak seperti semut tetapi mereka tidak
melepaskan keimanannya, bahkan dalam
tiap-tiap musibah pun mereka maju ke
depan.
Nabi Besar Muhammad saw. Merupakan “Adam” yang Hakiki & Gelar “Khātaman Nabiyyin”
Dengan demikian nyatalah bahwa Nabi Muhammad saw. adalah sebagai Adam yang kedua dalam usaha
membangun keruhanian. Bahkan beliau saw. adalah Adam yang hakiki karena dengan perantaraan
beliau saw. semua sifat-sifat kemanusiaan
sampai pada kesempurnaannya, semua kekuatan masing-masing menjalankan pekerjaannya dengan baik dan tiada suatu cabang pun dari fitrat manusia yang tidak berbuah.
Beliau
saw. mendapat gelar “Khātaman-Nubuwat”
bukan hanya karena beliau saw. datang dalam zaman sesudah nabi-nabi lain, tetapi juga karena semua keagungan kenabian menjadi sempurna dalam diri beliau saw.. Begitu
pula beliau saw. adalah mazhar
(penjelmaan) sempurna
Sifat-sifat Ilahi, maka
syariat beliau saw. mengandung kedua
sifat Jalal (kegagahan) dan Jamal
(kebagusan), karena itulah beliau saw. mempunyai dua nama sifat yaitu Muhammad dan Ahmad, maka tiada yang kurang dalam kenabian
beliau saw., bahkan dari permulaan juga
adalah untuk dunia seluruhnya.”
Pergiliran Periode
“Seribu Tahun” Hidayat
(Petunjuk) dan Kesesatan
Satu
keterangan lagi tentang kebenaran nubuat (kenabian) Nabi Muhammad saw. adalah
semua Kitab para nabi yang terdahulu – begitu
pula Al-Quran menyatakan -- bahwa Allah
Swt. menetapkan umur dunia ini mulai
dari Adam a.s. sampai akhir penghabisan hanya 7000 tahun, dam sudah ditetapkan
bahwa hidayat (petunjuk) dan kesesatan silih berganti muncul dalam
masa seribu-seribu tahun. Yakni dalam
satu masa periode seribu tahun
hidayat (petunjuk) memperoleh kemenangan, dan dalam masa seribu tahun lain kesesatan
yang merajalela. Sebagaimana telah saya
terangkan pula bahwa dalam kitab-kitab Ilahi kedua-dua masa giliran itu
dibagikan dalam seribu-seribu tahun.
Periode ribuan pertama masa kemenangan
petunjuk di dalamnya tidak nampak nama dan ciri-ciri penyembahan berhala.
Apabila hilang tahun petunjuk ini
lalu datang masa ribuan kedua ketika syirik
dan penyembahan kepada berhala
merajalela di seluruh dunia ini.
Ketiga, masa seribu tahun tatkala Tauhid
didirikan dalam dunia ini yang tersiar pula menurut kehendak Ilahi.
Keempat, masa seribu tahun ketika kesesatan muncul lagi secara luas. Dalam seribu
tahun inilah orang-orang Bani Israil
menjadi sangat rusak, dan agama Kristen yang akhirnya turun lagi menjadi layu
pula. Yakni agama Kristen lahir dan mati dalam
satu masa seribu tahun ini.
Kelima,
masa seribu tahun periode hidayat (petunjuk). Dalam masa seribu kelima ini Nabi Muhammad saw.
diutus kedunia dan Allah Swt. mendirikan lagi Tauhid dengan perantaraan
beliau saw., maka inilah keterangan yang sangat kuat tentang kebenaran Nabi Muhammad saw. sebagai nabi
Allah, yaitu beliau saw. diutus pada
masa seribu tahun yang telah
ditetapkan sejak bahari (azali) untuk hidayat
(petunjuk). Hal ini bukan perrkataan dari saya melainkan semua kitab Ilahi pun
mengatakan begitu juga.
Keterangan tersebut membuktikan pula
kebenaran pendakwaan saya sebagai Masih Mau’ud a.s., karena menurut
ketetapan tersebut masa seribu tahun
yang keenam adalah untuk tersiarnya kesesatan. Dan ribuan keenam ini mulai dari 300 tahun sesudah hijrah Nabi Muhammad saw. dan habis sampai permulaan abad yang keempatbelas
ini, orang-orang dalam ribuan keenam
inilah dinamakan tayyij a’awaj oleh Nabi Muhammad saw..
Masa
seribu tahun yang ketujuk yang
sekarang kita alami adalah zaman untuk memenangkan hidayat (petunjuk). Inilah masa ribuan
tahun yang terakhir karena itu sudah semestinya Imam Akhir Zaman akan
lahir pada permulaan ribuan ini. Sesudah Imam ini tidak ada Imam
dan Masih lain, melainkan yang akan
menjadi zhilnya (bayangannya) saja
karena dalam ribuan ini umur dunia akan habis pula, dan hal ini
telah disaksikan oleh semua nabi.
Imam
yang sekarang ini dinamakan Masih Mau’ud oleh Allah Swt. lagi pula menjadi mujaddid dalam abad ini serta mujaddid dalam ribuan yang akhir ini. Yahudi
dan Kristen pun menyetujui bahwa
inilah ribuan ketujuh
sesudah Adam a.s.. Waktu tentang Adam
a.s. yang Allah Swt. membukakan kepada
saya menurut ilmu abjad (hitungan huruf) surah Al-Ashr pun menyatakan bahwa ribuan yang sekarang kita alami ini adalah ribuan
ketujuh.
Masa Kedatangan Masih
Mau’ud a.s. di Akhir Masa Ribuan
Keenam
Semua nabi
sepakat bahwa Masih Mau’ud akan
datang dalam permulaan ribuan ketujuh dan akan lahir dalam penghabisan ribuan keenam karena dia datang dalam akhir sebagaimana Adam a.s.
datang dalam awal. Adam a.s. lahir pada hari keenam yakni hari Jum’at
saat terakhir. Satu hari di sisi
Allah sama dengan seribu tahun
perhitungan dunia. Dan karena kesesuaian
ini Allah Swt. mengutus Masih Mau’ud dalam waktu penghabisan ribuan tahun keenam
seakan-akan waktu yang terakhir dari hari.
Di antara
awal dan akhir ada suatu hubungan karena itulah Allah Swt. mengutus Masih Mau’ud seperti keadaan Adam juga. Adam a.s. lahir kembar pada hari Jum’at, begitu pula saya yang menjadi Masih Mau’ud pun lahir kembar dan pada hari Jum’at juga.Terlebih dulu seorang anak perempuan lahir kemudian
saya lahir, dan kelahiran semacam ini
mengisyaratkan kepada kedudukan khatam
kewalian.”
Berikut beberapa ayat Al-Quran tentang
periode “seribu tahun” pergantian petunjuk
dengan kesesatan, firman-Nya:
یُدَبِّرُ
الۡاَمۡرَ مِنَ السَّمَآءِ اِلَی
الۡاَرۡضِ ثُمَّ یَعۡرُجُ اِلَیۡہِ فِیۡ یَوۡمٍ کَانَ مِقۡدَارُہٗۤ اَلۡفَ سَنَۃٍ مِّمَّا تَعُدُّوۡنَ ﴿﴾
Dia mengatur perintah dari langit
sampai bumi, kemudian perintah itu akan naik kepada-Nya dalam satu
hari, yang hitungan lamanya seribu
tahun dari apa yang kamu hitung. (As-Sajdah [31]:6).
Firman-Nya
lagi:
وَ یَسۡتَعۡجِلُوۡنَکَ بِالۡعَذَابِ وَ لَنۡ
یُّخۡلِفَ اللّٰہُ وَعۡدَہٗ ؕ وَ اِنَّ یَوۡمًا عِنۡدَ رَبِّکَ کَاَلۡفِ
سَنَۃٍ مِّمَّا تَعُدُّوۡنَ ﴿﴾
Dan mereka meminta kepada engkau untuk
mempercepat azab, tetapi Allah tidak akan pernah meng-ingkari janji-Nya.
Dan sesungguhnya satu hari di sisi Tuhan
engkau seperti seribu tahun menurut perhitungan
kamu (Al-Hājj [22]:48).
“Waktu yang
Dijanjikan” Telah Lewat
dan Gagal “Mengenal Orang yang Dijanjikan”
Pendek kata, semua nabi sepakat tentang ajaran ini bahwa Masih Mau’ud akan datang dalam permulaan ribuan ketujuh. Karena itulah dalam beberapa tahun yang lalu orang-orang Kristen pun sangat gelisah.
Di negeri Amerika diterbitkan beberapa majalah
tentang masalah ini bahwa Masih Mau’ud
yang harus lahir dalam zaman ini mengapa hingga sekarang belum muncul juga?
Malah sebagian orang menjawab seperti
putus pengharapan, katanya, “Karena sekarang waktunya telah lewat baiklah gereja
saja dianggap sebagai wakil atau
pengganti Masih
Mau’ud.”
Jadi, inilah suatu keterangan
yang kuat tentang kebenaranku bahwa
saya diutus dalam ribuan
yang telah ditetapkan oleh nabi-nabi
terdahulu. Seandainya tiada keterangan-keterangan lain tentang kebenaranku cukuplah satu keterangan ini saja untuk orang yang
mencari haq (kebenaran). Menolak keterangan tersebut berarti membatalkan Kitab-kitab Ilahi semuanya.
Orang-orang yang mempunyai ilmu tentang Kitab Ilahi dan suka mempelajarinya,
bagi mereka keterangan tersebut jelas
dan terang
seperti siang hari, menolak keterangan
ini berarti menolak semua nubuatan
serta mengacau-balaukan seluruh
susunan dan merusak peraturan Ilahi.”
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran
Anyar, 8 Maret 2017
Tidak ada komentar:
Posting Komentar