Minggu, 05 Maret 2017

Hubungan "Fitnah Dajjal" Dengan Kesuksesan "Ya'juj" (Gog) dan "Ma'juj" (Magog) Mengembangkan "Iptek" (Ilmu Pengetahuan dan Teknologi) di Akhir Zaman & Nubuatan Terbitnya Kembali "Fajar Kejayaan Islam" Melalui Pengutusan "Rasul Akhir Zaman"





Bismillaahirrahmaanirrahiim

  ISLAM
Pidato  Mirza Ghulam Ahmad a.s.
Tgl. 2 November 1904 di Kota Sialkote – Hindustan

Bab  34

HUBUNGAN “FITNAH DAJJAL” DENGAN KESUKSESAN YA’JUJ (GOG) DAN MA’JUJ (MAGOG) MENGEMBANGKAN IPTEK (ILMU PENGETAHUAN  DAN TEKNOLOGI) DI AKHIR ZAMAN  & NUBUATAN   TERBITNYA KEMBALI  “FAJAR KEJAYAAN  ISLAM  MELALUI PENGUTUSAN RASUL  AKHIR ZAMAN

Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam bagian akhir Bab 32 telah dijelaskan  topik   Makna Sepuluh Ayat Awal Surah Al-Kahf & Peran Besar “Keledai Pemakan Apidimana  Nabi Besar Muhammad saw.  diriwayatkan telah bersabda bahwa pembacaan sepuluh ayat pertama dan sepuluh ayat terakhir Surah Al-Kahf menjamin keselamatan seseorang terhadap serangan-serangan ruhani dari Dajjal.
       Hal itu menunjukkan bahwa Al-Masih-Ad-Dajjal dan Ya’juj (Gog)   - Ma’juj (Magog) adalah bangsa itu-itu juga, yaitu bangsa-bangsa Kristen dari barat (Eropa). Kata Dajjal menggambarkan propaganda keagamanan mereka yang membawa kemudaratan kepada Islam, sedang Ya’juj-Ma’juj (Gog-Magog – Wahyu 20:7-10) menggambarkan kekuatan dan kekuasaan mereka di bidang kebendaan dan politik.

Pembukaan Rahasia Gaib Al-Quran Kepada Rasul   Akhir Zaman

    Berbagai rahasia gaib yang baru dari Al-Quran – termasuk hakikat surah Al-Kahf berkenaan hubungan  para penghuni gua (ashhabul-kahf) dengan Ya’juj (Gog) dan Ma’juj (Magog) – telah dibukakan Allah Swt. secara khusus kepada Mirza Ghulam Ahmad a.s.  sebagai Rasul Akhir Zaman (QS.72:27-29) yang kedatangannya  ditunggu-tunggu oleh semua umat beragama dengan nama yang berlainan (QS.77:12; QS.62:3-4), termasuki makna dari  gambaran kiasan  mengenai Al-Masih ad-Dajjal yang dikemukakan Nabi Besar Muhammad saw. dalam berbagai hadits.
    Kembali kepada pembahasan Tanda-tanda Akhir  Zaman  dalam surah At-Takwīr, firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ۪ۙ﴿﴾   اِذَا  الشَّمۡسُ کُوِّرَتۡ ۪ۙ﴿﴾   وَ  اِذَا  النُّجُوۡمُ  انۡکَدَرَتۡ ۪ۙ﴿﴾   وَ  اِذَا  الۡجِبَالُ سُیِّرَتۡ ۪ۙ﴿﴾  وَ  اِذَا الۡعِشَارُ عُطِّلَتۡ ۪ۙ﴿﴾   وَ  اِذَا  الۡوُحُوۡشُ حُشِرَتۡ ۪ۙ﴿﴾   وَ  اِذَا  الۡبِحَارُ سُجِّرَتۡ ۪ۙ﴿﴾   وَ  اِذَا النُّفُوۡسُ زُوِّجَتۡ ۪ۙ﴿﴾  وَ  اِذَا  الۡمَوۡءٗدَۃُ  سُئِلَتۡ ۪ۙ﴿﴾ بِاَیِّ ذَنۡۢبٍ قُتِلَتۡ ۚ﴿﴾   وَ  اِذَا الصُّحُفُ نُشِرَتۡ ﴿۪ۙ﴾   وَ اِذَا  السَّمَآءُ کُشِطَتۡ ﴿۪ۙ﴾  وَ  اِذَا  الۡجَحِیۡمُ سُعِّرَتۡ ﴿۪ۙ﴾  وَ  اِذَا  الۡجَنَّۃُ   اُزۡلِفَتۡ ﴿۪ۙ﴾ عَلِمَتۡ نَفۡسٌ مَّاۤ  اَحۡضَرَتۡ ﴿ؕ﴾ 
Aku baca  dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.   Apabila matahari digulung,  dan apabila bintang-bintang menjadi suram,  dan  apabila gunung-gunung digerakan, dan apabila unta-unta bunting sepuluh bulan ditinggalkan,   dan apabila binatang-binatang liar dikumpulkan,   dan apabila lautan-lautan  disalurkan,  dan apabila orang-orang dikumpulkan,   dan apabila bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup akan ditanya,    karena dosa apakah ia dibunuh? Dan apabila buku-buku akan disebar-luaskan,  dan apabila langit dibuka,   dan apabila neraka dinyalakan,   dan apabila surga didekatkan.   Setiap jiwa akan mengetahui  apa yang dihadirkan.  (At-Takwīr [81]:1-14).
  Setelah nubuatan mengenai akan ditinggalkannya unta-unta  bunting sepuluh bulan”  -- sebagai sarana transportasi kuno (tradisional)   karena digantikan fungsinya oleh keledai Dajjal yang makanannya api” hasil Revolusi Industri bangsa-bangsa Kristen dari  Eropa  pada 1750-1850 -- selanjutnya Allah Swt. berfirman mengenai Tanda-tanda Akhir Zaman lainnya: وَ  اِذَا  الۡوُحُوۡشُ حُشِرَتۡ   -- “dan apabila binatang-binatang liar dikumpulkan.
  Mengingat berbagai arti akar kata husyira yang berbeda-beda (Lexicon Lane), maka ayat ini mengandung arti: ketika binatang-binatang akan dikumpulkan di kebun-kebun binatang, atau ketika bangsa-bangsa terbelakang akan disuruh tinggal di dalam kelompok-kelompok masyarakat yang bertata-tertib; atau, ketika mereka akan dipaksa meninggalkan kampung halaman mereka.

Peran Kemajuan Iptek  (Ilmu pengetahuan & Teknologi) & Meningkatnya Peran Kaum Perempuan

       Ayat وَ  اِذَا  الۡبِحَارُ سُجِّرَتۡ   -- “dan apabila lautan-lautan  disalurkan” ini berarti; ketika sungai-sungai akan  dibendung dan disalurkan untuk keperluan irigasi atau tujuan-tujuan lain; atau, ketika di dalam pertempuran-pertempuran laut kapal-kapal besar akan terbakar, sehingga akan nampak seolah-olah laut dimakan api; atau samudera-samudera raya akan dihubungkan melalui terusan-terusan; atau, ketika penduduk daerah akan mengalir ke kota-kota  sehingga kota-kota penuh sesak dengan penduduk melimpah
   Kata sujjira, mengandung semua arti tersebut (Lexicon Lane). Semua peristiwa tersebut melibatkan peran-serta  kemajuan iptek (ilmu pengetahuan dan teknologi) sebab mustahil membuat “Terusan Suez” dan “terusan Panama” serta membuat bendung-bendung  raksasa jika hanya mengandalkan alat-alat tradisional belaka.
     Makna ayat selanjutnya: وَ  اِذَا النُّفُوۡسُ زُوِّجَتۡ   --  “dan apabila orang-orang dikumpulkan” yaitu  ketika sarana-sarana pengangkutan (transportasi) dan komunikasi akan berkembang pesat demikian rupa, serta hubungan antar bangsa yang mendiami negeri-negeri jauh akan menjadi demikian mudah dan lancar sehingga membuat mereka bersatu menjadi satu bangsa. Ayat ini mengandung pula arti bahwa orang-orang yang mempunyai pandangan-pandangan sama mengenai kemasyarakatan atau politik akan menggabungkan diri dalam wadah partai-partai.
    Makna ayat:  وَ  اِذَا  الۡمَوۡءٗدَۃُ  سُئِلَتۡ  -- “dan apabila bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup akan ditanya.“ Penguburan atau pembakaran hidup-hidup bayi-bayi perempuan akan dianggap sebagai kejahatan besar, terutama di kalangan bangsa Arab jahiliyah yang menganggap kelahiran bayi-bayi perempuan dianggap merupakan noda (aib) bagi keluarga, sehingga setelah lahir akan dikubur hidup-hidup (QS.16:58-61; QS.43:17-18): بِاَیِّ ذَنۡۢبٍ قُتِلَتۡ    -- “karena dosa apakah ia dibunuh.
   Di Akhir Zaman ini   tidak sedikit para perempuan yang menduduki  berbagai posisi strategis, baik di pemerintahan,  di perusahaan, dalam bidang iptek (ilmu pengetahuan dan teknologi), maupun dalam dunia militer, bahkan  banyak yang menjadi Kepala Negara (Presiden) dan Kepala pemerintahan (Perdana Menteri).

Penyebarluasan Literatur &  Upaya Menguak  Rahasia Langit

      Selanjutnya isyarat ayat:  وَ  اِذَا الصُّحُفُ نُشِرَتۡ   -- “Dan apabila buku-buku akan disebar-luaskan” nampaknya ditujukan kepada penyebarluasan surat-surat kabar, majalah-majalah, dan juga buku-buku, juga ditujukan kepada sistem perpustakaan dan taman-taman bacaan serta tempat-tempat dan sarana-sarana lainnya serupa itu – termasuk internet  -- untuk penyiaran ilmu pengetahuan pada Akhir Zaman.
  Ayat selanjutnya:   وَ اِذَا  السَّمَآءُ کُشِطَتۡ  --  “dan apabila langit dibuka  dapat menunjuk kepada kemajuan amat pesat yang akan dicapai oleh ilmu falak di Akhir Zaman ini. Kemajuan ilmu pengetahuan dalam bidang astronomi dan ruang angkasa  benar-benar  telah mengejutkan dunia.
    Berkenaan masalah ini secara khusus Al-Quran lebih dari 14 abad yang lalu telah menubuatkan dalam firman-Nya berikut ini:
یٰمَعۡشَرَ الۡجِنِّ وَ الۡاِنۡسِ  اِنِ اسۡتَطَعۡتُمۡ اَنۡ  تَنۡفُذُوۡا مِنۡ  اَقۡطَارِ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ فَانۡفُذُوۡا ؕ لَا  تَنۡفُذُوۡنَ  اِلَّا بِسُلۡطٰنٍ ﴿ۚ﴾ فَبِاَیِّ  اٰلَآءِ  رَبِّکُمَا تُکَذِّبٰنِ ﴿﴾   یُرۡسَلُ عَلَیۡکُمَا شُوَاظٌ مِّنۡ نَّارٍ ۬ۙ وَّ نُحَاسٌ فَلَا  تَنۡتَصِرٰنِ ﴿ۚ﴾
Hai golongan jin dan ins (manusia)! Jika kamu memiliki kekuatan untuk menembus batas-batas seluruh langit dan bumi maka tembuslah, namun kamu tidak dapat menembusnyakecuali dengan kekuatan.   Maka  nikmat-nikmat Rabb (Tuhan) kamu berdua yang manakah yang kamu  berdua dustakan?  Akan dikirimkan kepada kamu berdua nyala api, dan leburan tembaga,  lalu kamu berdua tidak akan dapat menolong diri sendiri.  (Al-Rahmān [55]:34).
   Ayat ini telah diberi bermacam-macam penafsiran. Menurut suatu penafsiran, para ilmuwan dan para ahli filsafat Non-Muslim – dalam hal ini bangsa-bangsa penganut system Kapitalisme dan Sosialisme --  yang membanggakan diri mengenai kemajuan besar yang telah dicapai mereka dalam bidang ilmu duniawi telah diberitahu (diperingatkan)  bahwa kendati pun betapa besarnya kemajuan yang mungkin telah dicapai mereka dalam pengetahuan dan  teknologi, mereka tidak dapat memahami semua hukum alam yang mengatur alam semesta ini dengan sepenuhnya.  Betapa pun mereka berusaha, mereka tidak akan berhasil dalam pencarian mereka.
   Menurut penafsiran lain, ayat ini memperingatkan orang-orang berdosa yang menentang Tauhid Ilahi: “Biarkanlah mereka memberanikan diri menembus batas-batas langit dan bumi, mereka tidak akan mampu menentang hukum-hukum Ilahi tanpa mendapat hukuman, dan mereka tidak akan dapat meloloskan diri dari azab Ilahi.  
    Ayat ini dapat juga mengisyaratkan kepada pembuatan roket-roket, sputnik-sputnik, dan pesawat antariksa lainnya, dengan alat-alat tersebut orang-orang Rusia (penganut Sosialisme) dan Amerika Sertikat (penganut Kapitalisme) berusaha mencapai benda-benda langit. Mereka diberitahu, bahwa paling-paling mereka hanya akan dapat mencapai beberapa planet terdekat dari bumi, tetapi jagat-jagat raya kepunyaan Tuhan tidak mungkin dapat dijelajahi seluruhnya.

Meletusnya Rangkaian Perang Dunia I dan Perang Dunia II

   Ayat selanjutnya: یُرۡسَلُ عَلَیۡکُمَا شُوَاظٌ مِّنۡ نَّارٍ ۬ۙ وَّ نُحَاسٌ فَلَا  تَنۡتَصِرٰنِ  --  Akan dikirimkan kepada kamu berdua nyala api, dan leburan tembaga,  lalu kamu berdua tidak akan dapat menolong diri sendiri.”  Ayat ini menunjuk kepada azab Ilahi paling dahsyat lagi menakutkan  -- berupa rangkaian perang Dunia I dan II --  yang akan menimpa kedua blok besar  jins dan ins yang bermusuhan itu. Dunia rupa-rupanya berdiri di tepi jurang api yang berkobar-kobar dengan dahsyatnya dan nyala apinya mengancam akan menghanguskan seluruh peradaban manusia, terutama Perang Dunia III atau Perang Nuklir.
    Nubuatan Al-Quran dalam surah Ar-Rahmān tersebut sejalan dengan peringatan Allah Swt.   ayat:   وَ  اِذَا  الۡجَحِیۡمُ سُعِّرَتۡ   -- “dan apabila neraka dinyalakan  (At-Takwīr [81]:13). Yakni akibat kesuksesan duniawi  yang diraih oleh Ya’juj (Gog) dan Ma’juj (Magog) – serta fitnah Dajjal  -- telah membuat perilaku manusia bergelimang dosa dan tidak adil maka kemurkaan Allah Swt. akan bangkit dan suatu neraka akan dilepaskan ke dunia berupa peperangan yang membinasakan, yaitu Perang Dunia I dan perang Dunia II, sedangkan Perang Dunia III  atau Perang Nuklir telah mengancam.
     Oleh karena pada Akhir Zaman kejahatan akan merajalela dan manusia akan membiarkan dirinya terombang-ambing oleh kedurhakaan dan oleh  penyembahan dewa kekayaan sehingga perbuatan baik sekecil-kecilnya pun akan membuat manusia layak menerima imbalan besar, serta akan menariknya lebih dekat ke surga, itulah makna ayat selanjutnya:  وَ  اِذَا  الۡجَنَّۃُ   اُزۡلِفَتۡ   -- “dan apabila surga didekatkan  (At-Takwīr [81]:14).
     Jadi, bertentangan dengan itikad “Trinitas” dan “penebusan dosa” oleh “kematian terkutuk Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. di tiang salib” yang disebarkan Al-Masih-ad Dajjal  -- sang   pendusta  besar   --  takdir khas Allah akan berlaku dan hukuman terhadap perbuatan durjana manusia akan mengambil bentuk bencana-bencana alam yang tersebar luas, sebab tidak ada satu pun perbuatan baik mau pun perbuatan buruk manusia   -- baik besar mau pun kecil   --  yang  terbebas dari akibatnya (QS.7:9-10; QS.23:103-104; QS.101:1-12).   Meletusnya Perang Dunia I dan Perang Dunia II  membuktikan sia-sianya ajaran “penebusan dosa” oleh kematian terkutuk Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. di tiang salib.

Pencabutan “Ruh” Al-Quran dari Kalangan Umat Islam

    Demikianlah nubuatan-nubuatan  dalam surah At-Takwir mengenai kemajuan duniawi yang diraih bangsa-bangsa Kristen dari barat   -- atau Ya’juj (Gog) dan Ma’juj (Magog)  --  yang sangat luar-biasa pada masa puncak kemunduran umat Islam selama  1000 tahun (QS32:6) setelah mereka  mengalami masa kejayaan pertama  selama 3 abad, firman-Nya:
یُدَبِّرُ الۡاَمۡرَ مِنَ السَّمَآءِ  اِلَی الۡاَرۡضِ ثُمَّ یَعۡرُجُ  اِلَیۡہِ  فِیۡ یَوۡمٍ کَانَ مِقۡدَارُہٗۤ اَلۡفَ سَنَۃٍ  مِّمَّا تَعُدُّوۡنَ ﴿﴾   ذٰلِکَ عٰلِمُ الۡغَیۡبِ وَ الشَّہَادَۃِ  الۡعَزِیۡزُ الرَّحِیۡمُ ۙ﴿﴾
Dia mengatur perintah dari langit sampai bumi, kemudian perintah itu akan naik kepada-Nya dalam satu hari, yang hitungan lamanya seribu tahun dari apa yang kamu hitung.    Demikian itulah  Tuhan Yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, Maha Perkasa, Maha Penyayang. (As-Sajdah 32]:6-7).
     Ayat 6  menunjuk kepada suatu pancaroba – masa kemunduran ruhani dan duniawi   -- sangat hebat  yang ditakdirkan akan menimpa umat Islam dalam perkembangannya yang penuh dengan perubahan itu. Islam akan melalui suatu masa kemajuan dan kesejahteraan yang mantap selama 3 abad pertama kehidupannya.
      Nabi Besar Muhammad saw.  diriwayatkan pernah menyinggung secara jitu mengenai kenyataan itu dalam sabda beliau: “Abad terbaik ialah abad di kala aku hidup, kemudian abad berikutnya, kemudian abad sesudah itu” (Tirmidzi & Bukhari, Kitab-usy-Syahadat).
      Islam mulai mundur sesudah 3 abad pertama masa keunggulan dan keme-nangan yang tiada henti-hentinya. Peristiwa kemunduran dan kemerosotannya berlangsung dalam masa 1000 tahun berikutnya. Kepada masa 1000 tahun inilah, telah diisyaratkan dengan kata-kata: ثُمَّ یَعۡرُجُ  اِلَیۡہِ  فِیۡ یَوۡمٍ کَانَ مِقۡدَارُہٗۤ اَلۡفَ سَنَۃٍ  مِّمَّا تَعُدُّوۡنَ  -- “Kemudian perintah itu akan naik kepada-Nya dalam satu hari, yang hitungan lamanya seribu tahun.”
       Dalam hadits lain Nabi Besar Muhammad saw. berkenaan dengan tafsir surah Al-Jumu’ah ayat 3-4 mengenai makna “pengutusan kedua kali Nabi Besar Muhammad saw. di kalangan kaum lain” diriwayatkan pernah bersabda bahwa ketika iman akan terbang ke Bintang Tsurayya  maka  seseorang (rajulun) dari keturunan Parsi akan mengembalikannya ke bumi (Bukhari, Kitab-ut-Tafsir).
     Sabda Nabi Besar Muhammad saw. tersebut telah digenapi oleh pengutusan Mirza Ghulam Ahmad a.s.  – yakni Imam Mahdi a.s. dan Al-Masih Mau’ud a.s. – yang akan mewujudkan kejayaan Islam kedua kali di Akhir Zaman ini, firman-Nya:
ہُوَ الَّذِیۡۤ  اَرۡسَلَ  رَسُوۡلَہٗ  بِالۡہُدٰی وَ دِیۡنِ  الۡحَقِّ لِیُظۡہِرَہٗ  عَلَی الدِّیۡنِ کُلِّہٖ وَ لَوۡ  کَرِہَ  الۡمُشۡرِکُوۡنَ ٪﴿﴾
 Dia-lah Yang mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk dan dengan agama yang benar supaya Dia memenangkannya atas semua agama, walaupun orang musyrik tidak menyukai  (Ash-Shaf [61]:10).
   Kebanyakan ahli tafsir Al-Quran sepakat bahwa ayat ini kena untuk Al-Masih yang dijanjikan (Masih Mau’ud a.s.), sebab di zaman beliau semua agama muncul dan keunggulan Islam di atas semua agama akan menjadi kepastian.

Gambaran Keadaan Umat Islam di Masa Puncak  Kemunduran Seribu Tahun & Terbitnya Fajar Ruhani Islam
  
      Firman Allah dalam surah At-Takwīr selanjutnya menggambarkan keadaan umat Islam di masa puncak  kemunduran: tersebut, firman-Nya:    
فَلَاۤ  اُقۡسِمُ  بِالۡخُنَّسِ ﴿ۙ﴾   الۡجَوَارِ الۡکُنَّسِ ﴿ۙ﴾   وَ  الَّیۡلِ  اِذَا عَسۡعَسَ ﴿ۙ﴾   وَ الصُّبۡحِ  اِذَا تَنَفَّسَ ﴿ۙ﴾  اِنَّہٗ  لَقَوۡلُ رَسُوۡلٍ  کَرِیۡمٍ ﴿ۙ﴾ ذِیۡ  قُوَّۃٍ  عِنۡدَ ذِی الۡعَرۡشِ مَکِیۡنٍ ﴿ۙ﴾  مُّطَاعٍ  ثَمَّ  اَمِیۡنٍ ﴿ؕ﴾   وَ مَا صَاحِبُکُمۡ بِمَجۡنُوۡنٍ ﴿ۚ﴾  وَ لَقَدۡ رَاٰہُ  بِالۡاُفُقِ الۡمُبِیۡنِ ﴿ۚ﴾  وَ مَا ہُوَ عَلَی الۡغَیۡبِ بِضَنِیۡنٍ ﴿ۚ﴾   وَ مَا ہُوَ بِقَوۡلِ شَیۡطٰنٍ رَّجِیۡمٍ ﴿ۙ﴾  فَاَیۡنَ تَذۡہَبُوۡنَ ﴿ؕ﴾  اِنۡ  ہُوَ  اِلَّا ذِکۡرٌ  لِّلۡعٰلَمِیۡنَ ﴿ۙ﴾  لِمَنۡ  شَآءَ مِنۡکُمۡ  اَنۡ یَّسۡتَقِیۡمَ ﴿ؕ﴾  وَ مَا تَشَآءُوۡنَ  اِلَّاۤ  اَنۡ یَّشَآءَ اللّٰہُ  رَبُّ الۡعٰلَمِیۡنَ ﴿٪﴾
Tidak demikian!  Aku bersumpah dengan yang tertinggal di belakang,   bergerak maju lalu bersembunyi. Demi malam apabila  hampir meninggalkan gelapnya,   Dan demi subuh apabila mulai bernafas.  Sesungguhnya Al-Quran itu benar-benar  firman yang  diucapkan seorang Rasul  yang mulia, yang memiliki kekuatan di sisi Tuhan Pemilik  ‘Arasy,   yang ditaati kemudian yang dipercaya.   Dan teman kamu itu, Rasulullah, sekali-kali bukanlah orang gila.    Dan  sungguh ia benar-benar melihatnya  di ufuk yang jelas.   Dan ia sekali-kali tidak kikir mengenai hal gaib.    Dan bukanlah Al-Quran itu ucapan syaitan yang terkutuk,   maka kemanakah kamu akan pergi?   Tidak lain Al-Quran itu melainkan peringatan bagi seluruh  alam,   Bagi siapa yang menghendaki di antara kamu untuk berjalan lurus.    Dan kamu tidak menghendaki kecuali yang dikehendaki  Allah, Rabb (Tuhan) seluruh alam. (At-Takwīr [81]:16-30).
    Makna ayat:   فَلَاۤ  اُقۡسِمُ  بِالۡخُنَّسِ  -- “Tidak demikian!  Aku bersumpah dengan yang tertinggal di belakang,  الۡجَوَارِ الۡکُنَّسِ --  Bergerak maju lalu bersembunyi.” Pada Akhir Zaman orang-orang Muslim akan jadi mundur dari kedudukan mulia mereka sebagai “umat terbaik” yang dijadikan untuk manfaat seluruh umat manusia (QS.2:144; QS.3:111),   karena di masa kemunduran selama 1000 tahun tersebut umat Islam  akan cepat berderap maju ke depan melaksanakan rencana-rencana mereka dengan membabi-buta, atau   mereka akan meninggalkan segala daya upaya kreatif dan membangun  karena berputus asa. Itulah makna ayat:  فَلَاۤ  اُقۡسِمُ  بِالۡخُنَّسِ  -- “Tidak demikian!  Aku bersumpah dengan yang tertinggal di belakang,  الۡجَوَارِ الۡکُنَّسِ --  Bergerak maju lalu bersembunyi.” فَلَاۤ  اُقۡسِمُ  بِالۡخُنَّسِ  -- “Tidak demikian!  Aku bersumpah dengan yang tertinggal di belakang,  الۡجَوَارِ الۡکُنَّسِ --  Bergerak maju lalu bersembunyi.” (At-Takwīr [81]:16-17).
      Makna  nubuatan dalam ayat selanjutnya:  وَ  الَّیۡلِ  اِذَا عَسۡعَسَ   -- “Demi malam apabila  hampir meninggalkan gelapnya, وَ الصُّبۡحِ  اِذَا تَنَفَّسَ  --  Dan demi subuh apabila mulai bernafas” ((At-Takwīr [81]:18-19).  Dengan diutusnya sang pembaharu      untuk Akhir Zaman – yakni Rasul Akhir Zaman  -- maka malam kemunduran dan kemerosotan akhlak umat Islam akan mulai berlalu, memberi tempat kepada fajar hari depan Islam yang besar dan jaya, firman-Nya:
ہُوَ الَّذِیۡۤ  اَرۡسَلَ  رَسُوۡلَہٗ  بِالۡہُدٰی وَ دِیۡنِ  الۡحَقِّ لِیُظۡہِرَہٗ  عَلَی الدِّیۡنِ کُلِّہٖ وَ لَوۡ  کَرِہَ  الۡمُشۡرِکُوۡنَ ٪﴿﴾
 Dia-lah Yang mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk dan dengan agama yang benar supaya Dia memenangkannya atas semua agama, walaupun orang musyrik tidak menyukai  (Ash-Shaf [61]:10).

Kemuliaan Martabat Ruhani Nabi Besar Muhammad Saw. & Pengutusannya yang Kedua Kali di Akhir Zaman  Dalam Wujud Masih Mau’ud a.s.

  Kata-kata “seorang Rasul yang mulia” dalam ayat selanjutnya:  اِنَّہٗ  لَقَوۡلُ رَسُوۡلٍ  کَرِیۡمٍ  -- “Sesungguhnya Al-Quran itu benar-benar  firman yang  diucapkan seorang Rasul  yang mulia”,  menunjuk kepada Nabi Besar Muhammad saw.  --  bukan kepada Malaikat Jibril a.s., seperti pada umumnya disalah-artikan. Kenyataan tersebut diperkuat oleh ayat selanjutnya:  ذِیۡ  قُوَّۃٍ  عِنۡدَ ذِی الۡعَرۡشِ مَکِیۡنٍ -- “yang memiliki kekuatan di sisi Tuhan Pemilik  ‘Arasy, مُّطَاعٍ  ثَمَّ  اَمِیۡنٍ  --   yang ditaati kemudian yang dipercaya.“ (At-Takwīr [81]:20-22).
    Kelima sifat: Rasul yang mulia, yang memiliki kekuatan, menikmati kedudukan tinggi di hadapan Tuhan Pemilik ‘Arasy, yang layak ditaati, dan setia kepada amanatnya dalam pandangan Allah Swt., semua  kenyataan tersebut  tepat sekali diterapkan kepada Nabi Besar Muhammad saw., sebagaimana dijelaskan pula dalam QS.53:1-19.
   Kata ganti nama hu yang berarti “nya” (masa depan Islam yang gemilang) dan “ia” (Nabi Besar Muhammad saw), pertama-tama dapat berarti menjadi sempurnanya nubuatan mengenai hari-depan Islam yang gemilang, dan kedua dapat pula berarti, bahwa Nabi Besar Muhammad saw. saw. melihat wujud beliau sendiri di Timur Jauh   -- dalam pribadi  Masih Mau’ud a.s. yakni  Rasul Akhir Zaman (QS.62:3-4).  Itulah makna ayat selanjutnya:  وَ مَا صَاحِبُکُمۡ بِمَجۡنُوۡنٍ -- “Dan teman kamu itu, Rasulullah, sekali-kali bukanlah orang gila. وَ لَقَدۡ رَاٰہُ  بِالۡاُفُقِ الۡمُبِیۡنِ   --  Dan  sungguh ia benar-benar melihatnya  di ufuk yang jelas.” (At-Takwīr [81]:23-24).
Makna ayat selanjutnya:    وَ مَا ہُوَ عَلَی الۡغَیۡبِ بِضَنِیۡنٍ -- “Dan ia sekali-kali tidak kikir mengenai hal gaib” (At-Takwīr [81]:25). Allah Swt. telah membukakan kepada umat manusia rahasia-rahasia mengenai hal-hal gaib melalui mulut Nabi Besar Muhammad saw., demikian pula di Akhir  Zaman ini dengan perantaraan wakil beliau saw. – yakni Masih Mau’ud a.s.  -- sehingga  Islam (Al-Quran) dan umat Islam  akan kembali unggul atas  semua agama lainnya (QS.61:10).

Kesempurnaan Ajaran Islam (Al-Quran)  &   Pengutusan Nabi Besar Muhammad saw. Sebagai    Rahmat bagi Seluruh Alam

 Dengan demikian sempurnalah pernyataan Allah Swt. dalam ayat-ayat selanjutnya mengenai kesempurnaan agama Islam (Al-Quran) sebagai  agama dan Kitab suci terakhir dan tersempurna (QS.5:4; QS.15:10), firman-Nya: وَ مَا ہُوَ بِقَوۡلِ شَیۡطٰنٍ رَّجِیۡمٍ  -- “Dan bukanlah Al-Quran itu ucapan syaitan yang terkutuk, فَاَیۡنَ تَذۡہَبُوۡنَ -- maka kemanakah kamu akan pergi? ” (At-Takwīr [81]:26-27).
Pernyataan Allah Swt. tersebut selaras dengan pernyataan Allah Swt. berikut ini mengenai pentingnya memeluk  agama Islam dan mengamalkannya sebagaimana yang dicontohkan Nabi Besar Muhammad saw. (QS.3:32),  firman-Nya:
وَ مَنۡ یَّبۡتَغِ غَیۡرَ الۡاِسۡلَامِ دِیۡنًا فَلَنۡ یُّقۡبَلَ مِنۡہُ ۚ وَ ہُوَ فِی الۡاٰخِرَۃِ مِنَ الۡخٰسِرِیۡنَ ﴿﴾ کَیۡفَ یَہۡدِی اللّٰہُ  قَوۡمًا کَفَرُوۡا بَعۡدَ اِیۡمَانِہِمۡ وَ شَہِدُوۡۤا اَنَّ الرَّسُوۡلَ حَقٌّ وَّ جَآءَہُمُ الۡبَیِّنٰتُ ؕ وَ اللّٰہُ  لَا یَہۡدِی الۡقَوۡمَ الظّٰلِمِیۡنَ ﴿﴾ اُولٰٓئِکَ جَزَآؤُہُمۡ  اَنَّ عَلَیۡہِمۡ لَعۡنَۃَ اللّٰہِ وَ الۡمَلٰٓئِکَۃِ وَ النَّاسِ اَجۡمَعِیۡنَ ﴿ۙ﴾ خٰلِدِیۡنَ فِیۡہَا ۚ لَا یُخَفَّفُ عَنۡہُمُ الۡعَذَابُ وَ لَا  ہُمۡ  یُنۡظَرُوۡنَ ﴿ۙ﴾
Dan   barangsiapa mencari agama yang bukan agama Islam, maka  agama itu tidak akan pernah diterima darinya, dan di akhirat ia termasuk orang-orang yang rugi.   Bagaimana mungkin Allah akan memberi petunjuk kepada suatu kaum yang kafir setelah mereka beriman, dan mereka telah menjadi saksi pula bahwa sesungguhnya  rasul itu benar, dan juga telah datang kepada mereka bukti-bukti  yang nyata?  Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang zalim.   Mereka inilah orang-orang yang atas mereka balasannya   adalah   laknat Allah, malaikat dan manusia seluruhnya.     Mereka kekal di dalamnya, azab tidak akan diringankan dari mereka, dan tidak pula mereka akan diberi tangguh.    Kecuali orang-orang yang bertaubat setelah itu dan melakukan perbaikan, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. (Āli ‘Imran [3]:86-89).
       Kembali kepada Surah At Takwir, selanjutnya Allah Swt. berfirman: اِنۡ  ہُوَ  اِلَّا ذِکۡرٌ  لِّلۡعٰلَمِیۡنَ  --  Tidak lain Al-Quran itu melainkan peringatan bagi seluruh  alam,  لِمَنۡ  شَآءَ مِنۡکُمۡ  اَنۡ یَّسۡتَقِیۡمَ -- bagi siapa yang menghendaki di antara kamu untuk berjalan lurus. وَ مَا تَشَآءُوۡنَ  اِلَّاۤ  اَنۡ یَّشَآءَ اللّٰہُ  رَبُّ الۡعٰلَمِیۡنَ --  Dan kamu tidak menghendaki kecuali yang dikehendaki  Allah, Rabb (Tuhan) seluruh alam  (At-Takwīr [81]:28-30).
  Makna ayat  وَ مَا تَشَآءُوۡنَ  اِلَّاۤ  اَنۡ یَّشَآءَ اللّٰہُ  رَبُّ الۡعٰلَمِیۡنَ --   ”dan kamu tidak menghendaki kecuali yang dikehendaki  Allah, Rabb (Tuhan) seluruh alam”.   Yang dituntun ke jalan lurus hanyalah dia yang berusaha mencari jalan lurus dan menyesuaikan kehendaknya dengan kehendak Allah Swt..
   Demikianlah makna  berbagai nubuatan dalam surah At-Takwir berkenaan keadaan  umat Islam di masa puncak kemundurannya selama 1000 tahun (QS.32:6) serta nubuatan mengenai mulai terbitnya “fajar kebangkitan dan kejayaan Islam” yang kedua di Akhir Zaman melalui pengutusan Mirza Ghulam Ahmad a.s. yang merupakan pengutusan kedua kali secara ruhani Nabi Besar Muhammad saw. (QS.62:3-4),  guna mewujudkan “kejayaan Islam” yang kedua kali di Akhir Zaman ini (QS.61:10),  melalui motto LOVE FOR ALL HATRED FOR NONE  (Cinta untuk semua, tidak ada kebencian bagi siapa pun), sebagaimana   tujuan   pengutusan  Nabi Besar Muhammad saw. sebagai rahmat bagi seluruh alam (QS.21:108).

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid

oo0oo
Pajajaran Anyar, 5   Maret  2017




Tidak ada komentar:

Posting Komentar