Bismillaahirrahmaanirrahiim
ISLAM
Pidato Mirza Ghulam Ahmad a.s.
Tgl. 2 November 1904
di Kota Sialkote – Hindustan
Bab 34
HUBUNGAN “FITNAH DAJJAL” DENGAN KESUKSESAN YA’JUJ (GOG) DAN MA’JUJ (MAGOG) MENGEMBANGKAN IPTEK
(ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI) DI AKHIR ZAMAN & NUBUATAN
TERBITNYA KEMBALI
“FAJAR KEJAYAAN ISLAM
“ MELALUI PENGUTUSAN RASUL AKHIR
ZAMAN
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam bagian akhir Bab 32 telah dijelaskan
topik Makna Sepuluh Ayat Awal Surah Al-Kahf &
Peran Besar “Keledai Pemakan Api” dimana Nabi Besar Muhammad saw. diriwayatkan telah bersabda bahwa
pembacaan sepuluh ayat pertama dan sepuluh ayat terakhir Surah Al-Kahf menjamin keselamatan
seseorang terhadap serangan-serangan
ruhani dari Dajjal.
Hal itu menunjukkan bahwa Al-Masih-Ad-Dajjal dan Ya’juj
(Gog) - Ma’juj (Magog) adalah bangsa
itu-itu juga, yaitu bangsa-bangsa Kristen
dari barat (Eropa). Kata Dajjal
menggambarkan propaganda keagamanan
mereka yang membawa kemudaratan
kepada Islam, sedang Ya’juj-Ma’juj (Gog-Magog – Wahyu 20:7-10) menggambarkan kekuatan dan kekuasaan mereka di bidang kebendaan
dan politik.
Pembukaan Rahasia Gaib
Al-Quran Kepada Rasul Akhir Zaman
Berbagai rahasia
gaib yang baru dari Al-Quran – termasuk hakikat surah Al-Kahf berkenaan hubungan
para penghuni gua
(ashhabul-kahf) dengan Ya’juj (Gog)
dan Ma’juj (Magog) – telah dibukakan Allah Swt. secara khusus
kepada Mirza Ghulam Ahmad a.s. sebagai Rasul
Akhir Zaman (QS.72:27-29) yang kedatangannya ditunggu-tunggu
oleh semua umat beragama dengan nama yang berlainan (QS.77:12;
QS.62:3-4), termasuki makna dari gambaran kiasan mengenai Al-Masih
ad-Dajjal yang dikemukakan Nabi Besar Muhammad saw. dalam berbagai hadits.
Kembali
kepada pembahasan Tanda-tanda Akhir Zaman dalam surah At-Takwīr, firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ
الرَّحِیۡمِ۪ۙ﴿﴾ اِذَا الشَّمۡسُ کُوِّرَتۡ ۪ۙ﴿﴾ وَ اِذَا
النُّجُوۡمُ انۡکَدَرَتۡ ۪ۙ﴿﴾ وَ
اِذَا الۡجِبَالُ سُیِّرَتۡ ۪ۙ﴿﴾ وَ اِذَا الۡعِشَارُ
عُطِّلَتۡ ۪ۙ﴿﴾ وَ اِذَا
الۡوُحُوۡشُ حُشِرَتۡ ۪ۙ﴿﴾ وَ اِذَا
الۡبِحَارُ سُجِّرَتۡ ۪ۙ﴿﴾ وَ اِذَا النُّفُوۡسُ زُوِّجَتۡ ۪ۙ﴿﴾ وَ اِذَا الۡمَوۡءٗدَۃُ
سُئِلَتۡ ۪ۙ﴿﴾ بِاَیِّ ذَنۡۢبٍ قُتِلَتۡ ۚ﴿﴾ وَ اِذَا
الصُّحُفُ نُشِرَتۡ ﴿۪ۙ﴾ وَ
اِذَا السَّمَآءُ کُشِطَتۡ ﴿۪ۙ﴾ وَ اِذَا الۡجَحِیۡمُ سُعِّرَتۡ
﴿۪ۙ﴾ وَ اِذَا
الۡجَنَّۃُ اُزۡلِفَتۡ ﴿۪ۙ﴾ عَلِمَتۡ نَفۡسٌ
مَّاۤ اَحۡضَرَتۡ ﴿ؕ﴾
Aku baca dengan nama Allah, Maha Pemurah,
Maha Penyayang. Apabila matahari
digulung, dan apabila bintang-bintang menjadi suram, dan apabila gunung-gunung digerakan, dan apabila unta-unta bunting sepuluh bulan
ditinggalkan, dan
apabila binatang-binatang liar
dikumpulkan, dan apabila lautan-lautan disalurkan,
dan apabila orang-orang dikumpulkan, dan apabila bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup akan ditanya, karena dosa
apakah ia dibunuh? Dan apabila buku-buku
akan disebar-luaskan, dan
apabila langit dibuka, dan apabila neraka dinyalakan, dan apabila surga didekatkan. Setiap jiwa akan mengetahui apa yang dihadirkan. (At-Takwīr [81]:1-14).
Setelah nubuatan mengenai akan ditinggalkannya unta-unta
bunting sepuluh bulan” --
sebagai sarana transportasi kuno (tradisional) karena digantikan fungsinya oleh keledai Dajjal yang makanannya api” hasil Revolusi
Industri bangsa-bangsa Kristen
dari Eropa pada 1750-1850 -- selanjutnya Allah Swt.
berfirman mengenai Tanda-tanda Akhir
Zaman lainnya: وَ اِذَا
الۡوُحُوۡشُ حُشِرَتۡ -- “dan
apabila binatang-binatang liar
dikumpulkan.“
Mengingat
berbagai arti akar kata husyira yang berbeda-beda (Lexicon Lane), maka ayat ini mengandung arti: ketika binatang-binatang akan dikumpulkan di kebun-kebun binatang, atau ketika bangsa-bangsa terbelakang akan disuruh
tinggal di dalam kelompok-kelompok
masyarakat yang bertata-tertib;
atau, ketika mereka akan dipaksa
meninggalkan kampung halaman mereka.
Peran Kemajuan Iptek
(Ilmu pengetahuan & Teknologi) & Meningkatnya Peran Kaum Perempuan
Ayat وَ
اِذَا الۡبِحَارُ سُجِّرَتۡ -- “dan apabila lautan-lautan disalurkan” ini berarti; ketika sungai-sungai akan dibendung dan disalurkan untuk keperluan irigasi atau tujuan-tujuan lain; atau,
ketika di dalam pertempuran-pertempuran laut kapal-kapal besar akan terbakar, sehingga akan nampak seolah-olah
laut dimakan api; atau samudera-samudera
raya akan dihubungkan melalui terusan-terusan;
atau, ketika penduduk daerah akan
mengalir ke kota-kota sehingga kota-kota penuh sesak dengan penduduk
melimpah
Kata sujjira, mengandung
semua arti tersebut (Lexicon Lane).
Semua peristiwa tersebut melibatkan peran-serta kemajuan iptek
(ilmu pengetahuan dan teknologi) sebab mustahil membuat “Terusan Suez” dan “terusan
Panama” serta membuat bendung-bendung raksasa
jika hanya mengandalkan alat-alat
tradisional belaka.
Makna ayat selanjutnya:
وَ اِذَا النُّفُوۡسُ زُوِّجَتۡ -- “dan apabila orang-orang dikumpulkan” yaitu ketika sarana-sarana
pengangkutan (transportasi) dan komunikasi
akan berkembang pesat demikian rupa, serta hubungan
antar bangsa yang mendiami negeri-negeri jauh akan menjadi demikian mudah dan lancar sehingga membuat mereka bersatu
menjadi satu bangsa. Ayat ini
mengandung pula arti bahwa orang-orang yang mempunyai pandangan-pandangan sama mengenai kemasyarakatan atau politik
akan menggabungkan diri dalam wadah partai-partai.
Makna ayat: وَ
اِذَا الۡمَوۡءٗدَۃُ سُئِلَتۡ -- “dan apabila bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup akan ditanya.“ Penguburan
atau pembakaran hidup-hidup bayi-bayi perempuan akan dianggap
sebagai kejahatan besar, terutama di
kalangan bangsa Arab jahiliyah yang
menganggap kelahiran bayi-bayi perempuan
dianggap merupakan noda (aib) bagi
keluarga, sehingga setelah lahir akan dikubur hidup-hidup (QS.16:58-61;
QS.43:17-18): بِاَیِّ ذَنۡۢبٍ قُتِلَتۡ -- “karena dosa apakah ia dibunuh.“
Di Akhir Zaman ini tidak sedikit para perempuan yang
menduduki berbagai posisi strategis, baik di pemerintahan, di perusahaan, dalam bidang iptek (ilmu
pengetahuan dan teknologi), maupun dalam dunia
militer, bahkan banyak yang menjadi Kepala Negara (Presiden) dan Kepala pemerintahan (Perdana Menteri).
Penyebarluasan Literatur & Upaya Menguak Rahasia Langit
Selanjutnya
isyarat ayat: وَ اِذَا الصُّحُفُ نُشِرَتۡ -- “Dan apabila buku-buku akan disebar-luaskan” nampaknya
ditujukan kepada penyebarluasan surat-surat
kabar, majalah-majalah, dan juga buku-buku, juga ditujukan kepada sistem perpustakaan dan taman-taman bacaan serta tempat-tempat
dan sarana-sarana lainnya serupa itu – termasuk internet -- untuk penyiaran ilmu pengetahuan pada Akhir Zaman.
Ayat selanjutnya: وَ اِذَا السَّمَآءُ کُشِطَتۡ -- “dan
apabila langit dibuka“ dapat
menunjuk kepada kemajuan amat pesat yang akan dicapai oleh ilmu falak di Akhir Zaman
ini. Kemajuan ilmu pengetahuan dalam bidang astronomi dan ruang angkasa benar-benar telah mengejutkan
dunia.
Berkenaan masalah ini
secara khusus Al-Quran lebih dari 14 abad yang lalu telah menubuatkan dalam firman-Nya berikut ini:
یٰمَعۡشَرَ الۡجِنِّ وَ الۡاِنۡسِ اِنِ اسۡتَطَعۡتُمۡ اَنۡ تَنۡفُذُوۡا مِنۡ اَقۡطَارِ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ
فَانۡفُذُوۡا ؕ لَا تَنۡفُذُوۡنَ اِلَّا بِسُلۡطٰنٍ ﴿ۚ﴾ فَبِاَیِّ اٰلَآءِ
رَبِّکُمَا تُکَذِّبٰنِ ﴿﴾
یُرۡسَلُ عَلَیۡکُمَا شُوَاظٌ مِّنۡ نَّارٍ ۬ۙ وَّ نُحَاسٌ فَلَا تَنۡتَصِرٰنِ ﴿ۚ﴾
Hai
golongan jin dan ins (manusia)! Jika kamu memiliki kekuatan untuk menembus batas-batas seluruh langit
dan bumi maka tembuslah, namun kamu tidak dapat menembusnyakecuali
dengan kekuatan. Maka nikmat-nikmat Rabb (Tuhan) kamu berdua yang
manakah yang kamu berdua dustakan? Akan
dikirimkan kepada kamu berdua nyala api, dan leburan tembaga, lalu kamu
berdua tidak akan dapat menolong diri sendiri. (Al-Rahmān [55]:34).
Ayat ini telah
diberi bermacam-macam penafsiran. Menurut suatu penafsiran, para ilmuwan dan para ahli filsafat Non-Muslim – dalam hal ini bangsa-bangsa penganut system Kapitalisme dan Sosialisme -- yang membanggakan
diri mengenai kemajuan besar yang
telah dicapai mereka dalam bidang ilmu
duniawi telah diberitahu (diperingatkan) bahwa kendati pun betapa besarnya kemajuan yang mungkin telah dicapai
mereka dalam pengetahuan dan teknologi,
mereka tidak dapat memahami semua hukum
alam yang mengatur alam semesta
ini dengan sepenuhnya. Betapa pun mereka
berusaha, mereka tidak akan berhasil
dalam pencarian mereka.
Menurut penafsiran lain,
ayat ini memperingatkan orang-orang berdosa yang menentang Tauhid Ilahi: “Biarkanlah mereka
memberanikan diri menembus batas-batas langit dan bumi, mereka tidak akan mampu
menentang hukum-hukum Ilahi tanpa
mendapat hukuman, dan mereka tidak
akan dapat meloloskan diri dari azab
Ilahi.
Ayat ini dapat juga
mengisyaratkan kepada pembuatan roket-roket,
sputnik-sputnik, dan pesawat
antariksa lainnya, dengan alat-alat tersebut orang-orang Rusia (penganut Sosialisme) dan Amerika Sertikat
(penganut Kapitalisme) berusaha
mencapai benda-benda langit. Mereka
diberitahu, bahwa paling-paling mereka hanya akan dapat mencapai beberapa planet terdekat dari bumi,
tetapi jagat-jagat raya kepunyaan Tuhan tidak
mungkin dapat dijelajahi seluruhnya.
Meletusnya Rangkaian Perang Dunia I dan Perang Dunia II
Ayat selanjutnya:
یُرۡسَلُ عَلَیۡکُمَا شُوَاظٌ مِّنۡ
نَّارٍ ۬ۙ وَّ نُحَاسٌ فَلَا تَنۡتَصِرٰنِ -- “Akan
dikirimkan kepada kamu berdua nyala api, dan leburan tembaga, lalu kamu
berdua tidak akan dapat menolong diri sendiri.” Ayat ini menunjuk kepada azab Ilahi paling dahsyat lagi menakutkan -- berupa rangkaian perang Dunia I dan II -- yang akan menimpa kedua blok besar jins
dan ins yang bermusuhan itu. Dunia rupa-rupanya berdiri di tepi jurang api yang berkobar-kobar dengan dahsyatnya dan nyala apinya mengancam akan menghanguskan
seluruh peradaban manusia, terutama Perang Dunia III atau Perang Nuklir.
Nubuatan
Al-Quran dalam surah Ar-Rahmān
tersebut sejalan dengan peringatan
Allah Swt. ayat: وَ اِذَا
الۡجَحِیۡمُ سُعِّرَتۡ -- “dan apabila neraka dinyalakan“ (At-Takwīr [81]:13). Yakni akibat kesuksesan duniawi yang diraih oleh Ya’juj (Gog) dan Ma’juj
(Magog) – serta fitnah Dajjal -- telah membuat perilaku manusia bergelimang dosa dan tidak adil maka kemurkaan Allah Swt. akan bangkit dan suatu neraka akan dilepaskan ke dunia berupa peperangan yang membinasakan,
yaitu Perang Dunia I dan perang Dunia II, sedangkan Perang Dunia III atau Perang Nuklir telah mengancam.
Oleh
karena pada Akhir Zaman kejahatan
akan merajalela dan manusia akan membiarkan dirinya terombang-ambing oleh kedurhakaan dan oleh penyembahan
dewa kekayaan sehingga perbuatan baik
sekecil-kecilnya pun akan membuat manusia layak menerima imbalan besar,
serta akan menariknya lebih dekat ke surga, itulah makna ayat
selanjutnya: وَ اِذَا
الۡجَنَّۃُ اُزۡلِفَتۡ -- “dan apabila surga didekatkan” (At-Takwīr [81]:14).
Jadi, bertentangan dengan itikad “Trinitas” dan “penebusan dosa” oleh “kematian
terkutuk Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. di tiang
salib” yang disebarkan Al-Masih-ad
Dajjal -- sang pendusta besar
-- takdir khas Allah akan berlaku dan hukuman
terhadap perbuatan durjana manusia
akan mengambil bentuk bencana-bencana alam
yang tersebar luas, sebab tidak ada satu pun perbuatan baik mau pun perbuatan
buruk manusia -- baik besar mau pun kecil -- yang
terbebas dari akibatnya
(QS.7:9-10; QS.23:103-104; QS.101:1-12).
Meletusnya Perang Dunia I dan Perang Dunia II membuktikan sia-sianya ajaran “penebusan dosa” oleh kematian terkutuk Nabi Isa Ibnu Maryam
a.s. di tiang salib.
Pencabutan “Ruh” Al-Quran dari Kalangan Umat Islam
Demikianlah nubuatan-nubuatan dalam surah At-Takwir mengenai kemajuan
duniawi yang diraih bangsa-bangsa
Kristen dari barat -- atau Ya’juj (Gog) dan Ma’juj (Magog) -- yang sangat luar-biasa pada masa puncak kemunduran umat Islam selama 1000 tahun (QS32:6) setelah mereka mengalami masa
kejayaan pertama selama 3 abad, firman-Nya:
یُدَبِّرُ الۡاَمۡرَ مِنَ
السَّمَآءِ اِلَی الۡاَرۡضِ ثُمَّ
یَعۡرُجُ اِلَیۡہِ فِیۡ یَوۡمٍ کَانَ مِقۡدَارُہٗۤ اَلۡفَ سَنَۃٍ مِّمَّا تَعُدُّوۡنَ ﴿﴾ ذٰلِکَ
عٰلِمُ الۡغَیۡبِ وَ الشَّہَادَۃِ
الۡعَزِیۡزُ الرَّحِیۡمُ ۙ﴿﴾
Dia
mengatur perintah dari langit sampai bumi,
kemudian perintah itu akan naik
kepada-Nya dalam satu hari, yang hitungan
lamanya seribu tahun dari apa yang kamu hitung. Demikian itulah Tuhan Yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, Maha Perkasa,
Maha Penyayang. (As-Sajdah
32]:6-7).
Ayat
6 menunjuk kepada suatu pancaroba – masa kemunduran ruhani dan duniawi -- sangat hebat yang ditakdirkan
akan menimpa umat Islam dalam
perkembangannya yang penuh dengan perubahan itu. Islam akan melalui suatu masa kemajuan
dan kesejahteraan yang mantap selama 3 abad pertama kehidupannya.
Nabi Besar Muhammad saw. diriwayatkan pernah menyinggung secara
jitu mengenai kenyataan itu dalam sabda beliau: “Abad terbaik ialah abad di kala aku hidup, kemudian abad berikutnya,
kemudian abad sesudah itu” (Tirmidzi
& Bukhari,
Kitab-usy-Syahadat).
Islam mulai mundur sesudah 3 abad pertama masa keunggulan dan keme-nangan yang
tiada henti-hentinya. Peristiwa kemunduran dan kemerosotannya berlangsung dalam
masa 1000 tahun berikutnya. Kepada masa 1000
tahun inilah, telah diisyaratkan dengan kata-kata: ثُمَّ یَعۡرُجُ اِلَیۡہِ
فِیۡ یَوۡمٍ کَانَ مِقۡدَارُہٗۤ اَلۡفَ سَنَۃٍ مِّمَّا تَعُدُّوۡنَ
-- “Kemudian perintah itu akan naik kepada-Nya dalam satu hari, yang
hitungan lamanya seribu tahun.”
Dalam hadits lain Nabi Besar Muhammad
saw. berkenaan dengan tafsir surah Al-Jumu’ah
ayat 3-4 mengenai makna “pengutusan kedua kali Nabi Besar Muhammad saw. di
kalangan kaum lain” diriwayatkan pernah bersabda bahwa ketika iman akan terbang ke Bintang Tsurayya maka seseorang
(rajulun) dari keturunan Parsi akan
mengembalikannya ke bumi (Bukhari,
Kitab-ut-Tafsir).
Sabda Nabi
Besar Muhammad saw. tersebut telah digenapi oleh pengutusan Mirza Ghulam Ahmad
a.s. – yakni Imam Mahdi a.s. dan Al-Masih
Mau’ud a.s. – yang akan mewujudkan kejayaan
Islam kedua kali di Akhir Zaman
ini, firman-Nya:
ہُوَ
الَّذِیۡۤ اَرۡسَلَ رَسُوۡلَہٗ
بِالۡہُدٰی وَ دِیۡنِ الۡحَقِّ
لِیُظۡہِرَہٗ عَلَی الدِّیۡنِ کُلِّہٖ وَ
لَوۡ کَرِہَ الۡمُشۡرِکُوۡنَ ٪﴿﴾
Dia-lah Yang mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk
dan dengan agama yang benar supaya Dia memenangkannya atas semua agama,
walaupun orang musyrik tidak
menyukai (Ash-Shaf [61]:10).
Kebanyakan ahli
tafsir Al-Quran sepakat bahwa ayat ini kena untuk Al-Masih yang dijanjikan (Masih Mau’ud a.s.), sebab di zaman beliau
semua agama muncul dan keunggulan Islam
di atas semua agama akan menjadi kepastian.
Gambaran Keadaan Umat Islam di Masa Puncak Kemunduran Seribu Tahun & Terbitnya Fajar Ruhani Islam
Firman Allah dalam surah At-Takwīr selanjutnya menggambarkan keadaan umat Islam di masa puncak kemunduran: tersebut, firman-Nya:
فَلَاۤ اُقۡسِمُ
بِالۡخُنَّسِ ﴿ۙ﴾ الۡجَوَارِ
الۡکُنَّسِ ﴿ۙ﴾ وَ الَّیۡلِ
اِذَا عَسۡعَسَ ﴿ۙ﴾ وَ
الصُّبۡحِ اِذَا تَنَفَّسَ ﴿ۙ﴾ اِنَّہٗ لَقَوۡلُ رَسُوۡلٍ کَرِیۡمٍ ﴿ۙ﴾ ذِیۡ قُوَّۃٍ
عِنۡدَ ذِی الۡعَرۡشِ مَکِیۡنٍ ﴿ۙ﴾ مُّطَاعٍ ثَمَّ
اَمِیۡنٍ ﴿ؕ﴾ وَ
مَا صَاحِبُکُمۡ بِمَجۡنُوۡنٍ ﴿ۚ﴾ وَ
لَقَدۡ رَاٰہُ بِالۡاُفُقِ الۡمُبِیۡنِ
﴿ۚ﴾ وَ
مَا ہُوَ عَلَی الۡغَیۡبِ بِضَنِیۡنٍ ﴿ۚ﴾ وَ
مَا ہُوَ بِقَوۡلِ شَیۡطٰنٍ رَّجِیۡمٍ ﴿ۙ﴾
فَاَیۡنَ تَذۡہَبُوۡنَ ﴿ؕ﴾ اِنۡ ہُوَ
اِلَّا ذِکۡرٌ لِّلۡعٰلَمِیۡنَ ﴿ۙ﴾ لِمَنۡ شَآءَ مِنۡکُمۡ اَنۡ یَّسۡتَقِیۡمَ ﴿ؕ﴾ وَ
مَا تَشَآءُوۡنَ اِلَّاۤ اَنۡ یَّشَآءَ اللّٰہُ رَبُّ الۡعٰلَمِیۡنَ ﴿٪﴾
Tidak
demikian! Aku bersumpah dengan yang
tertinggal di belakang, bergerak
maju lalu bersembunyi. Demi malam apabila hampir
meninggalkan gelapnya, Dan demi subuh apabila mulai
bernafas. Sesungguhnya
Al-Quran itu benar-benar firman yang diucapkan seorang Rasul yang mulia, yang
memiliki kekuatan di sisi Tuhan Pemilik
‘Arasy, yang ditaati
kemudian yang dipercaya. Dan
teman kamu itu, Rasulullah,
sekali-kali bukanlah orang gila. Dan
sungguh ia benar-benar melihatnya
di ufuk yang jelas. Dan ia sekali-kali tidak kikir mengenai hal
gaib. Dan bukanlah Al-Quran itu ucapan syaitan yang terkutuk, maka kemanakah kamu akan pergi? Tidak
lain Al-Quran itu
melainkan peringatan bagi seluruh alam, Bagi siapa yang menghendaki di antara kamu untuk
berjalan lurus. Dan kamu tidak menghendaki kecuali yang
dikehendaki Allah, Rabb (Tuhan) seluruh alam.
(At-Takwīr [81]:16-30).
Makna ayat:
فَلَاۤ اُقۡسِمُ
بِالۡخُنَّسِ --
“Tidak demikian! Aku bersumpah dengan yang
tertinggal di belakang, الۡجَوَارِ الۡکُنَّسِ -- Bergerak
maju lalu bersembunyi.” Pada Akhir Zaman orang-orang Muslim akan jadi mundur dari kedudukan mulia
mereka sebagai “umat terbaik” yang
dijadikan untuk manfaat seluruh umat manusia (QS.2:144; QS.3:111), karena
di masa kemunduran selama 1000 tahun
tersebut umat Islam akan cepat
berderap maju ke depan melaksanakan
rencana-rencana mereka dengan membabi-buta, atau mereka akan
meninggalkan segala daya upaya kreatif dan membangun karena berputus asa. Itulah makna ayat: فَلَاۤ اُقۡسِمُ بِالۡخُنَّسِ -- “Tidak demikian! Aku
bersumpah dengan yang tertinggal di
belakang, الۡجَوَارِ الۡکُنَّسِ -- Bergerak
maju lalu bersembunyi.” فَلَاۤ اُقۡسِمُ بِالۡخُنَّسِ -- “Tidak demikian! Aku
bersumpah dengan yang tertinggal di
belakang, الۡجَوَارِ الۡکُنَّسِ -- Bergerak
maju lalu bersembunyi.” (At-Takwīr
[81]:16-17).
Makna nubuatan dalam ayat selanjutnya: وَ الَّیۡلِ اِذَا عَسۡعَسَ -- “Demi malam
apabila hampir meninggalkan gelapnya, وَ الصُّبۡحِ اِذَا
تَنَفَّسَ -- Dan demi subuh apabila mulai
bernafas” ((At-Takwīr [81]:18-19). Dengan
diutusnya sang pembaharu untuk
Akhir Zaman – yakni Rasul Akhir Zaman -- maka malam
kemunduran dan kemerosotan akhlak
umat Islam akan mulai berlalu,
memberi tempat kepada fajar hari depan
Islam yang besar dan jaya, firman-Nya:
ہُوَ
الَّذِیۡۤ اَرۡسَلَ رَسُوۡلَہٗ
بِالۡہُدٰی وَ دِیۡنِ الۡحَقِّ
لِیُظۡہِرَہٗ عَلَی الدِّیۡنِ کُلِّہٖ وَ
لَوۡ کَرِہَ الۡمُشۡرِکُوۡنَ ٪﴿﴾
Dia-lah Yang mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk
dan dengan agama yang benar supaya Dia memenangkannya atas semua agama,
walaupun orang musyrik tidak
menyukai (Ash-Shaf [61]:10).
Kemuliaan Martabat
Ruhani Nabi Besar Muhammad Saw. & Pengutusannya
yang Kedua Kali di Akhir Zaman Dalam Wujud Masih Mau’ud a.s.
Kata-kata “seorang Rasul yang mulia” dalam
ayat selanjutnya: اِنَّہٗ لَقَوۡلُ رَسُوۡلٍ کَرِیۡمٍ -- “Sesungguhnya Al-Quran itu benar-benar firman yang diucapkan seorang Rasul yang mulia”, menunjuk kepada Nabi Besar
Muhammad saw. -- bukan kepada Malaikat Jibril a.s., seperti pada umumnya disalah-artikan. Kenyataan tersebut diperkuat oleh ayat
selanjutnya: ذِیۡ
قُوَّۃٍ عِنۡدَ ذِی الۡعَرۡشِ
مَکِیۡنٍ -- “yang memiliki kekuatan di sisi Tuhan Pemilik ‘Arasy, مُّطَاعٍ ثَمَّ
اَمِیۡنٍ -- yang ditaati
kemudian yang dipercaya.“ (At-Takwīr
[81]:20-22).
Kelima sifat:
Rasul yang mulia, yang memiliki kekuatan, menikmati kedudukan tinggi di hadapan
Tuhan Pemilik ‘Arasy, yang layak ditaati, dan setia kepada amanatnya dalam
pandangan Allah Swt., semua kenyataan
tersebut tepat sekali diterapkan kepada Nabi Besar Muhammad saw., sebagaimana
dijelaskan pula dalam QS.53:1-19.
Kata ganti nama hu yang berarti “nya”
(masa depan Islam yang gemilang) dan “ia” (Nabi Besar Muhammad saw),
pertama-tama dapat berarti menjadi sempurnanya nubuatan mengenai hari-depan
Islam yang gemilang, dan kedua
dapat pula berarti, bahwa Nabi Besar Muhammad saw. saw. melihat wujud beliau sendiri di Timur Jauh -- dalam
pribadi Masih Mau’ud a.s. yakni Rasul Akhir Zaman (QS.62:3-4). Itulah makna ayat selanjutnya: وَ مَا صَاحِبُکُمۡ بِمَجۡنُوۡنٍ -- “Dan
teman kamu itu, Rasulullah,
sekali-kali bukanlah orang gila. وَ لَقَدۡ رَاٰہُ بِالۡاُفُقِ الۡمُبِیۡنِ -- Dan
sungguh ia benar-benar melihatnya di ufuk yang jelas.” (At-Takwīr
[81]:23-24).
Makna ayat selanjutnya: وَ مَا ہُوَ عَلَی الۡغَیۡبِ بِضَنِیۡنٍ -- “Dan ia sekali-kali tidak kikir mengenai hal
gaib” (At-Takwīr
[81]:25). Allah Swt. telah membukakan
kepada umat manusia rahasia-rahasia mengenai hal-hal gaib melalui mulut Nabi
Besar Muhammad saw., demikian pula di Akhir
Zaman ini dengan perantaraan wakil beliau saw. – yakni Masih Mau’ud a.s. -- sehingga Islam
(Al-Quran) dan umat Islam akan kembali unggul atas semua agama lainnya (QS.61:10).
Kesempurnaan Ajaran Islam (Al-Quran) & Pengutusan Nabi Besar Muhammad saw. Sebagai “Rahmat
bagi Seluruh Alam”
Dengan demikian sempurnalah
pernyataan Allah Swt. dalam ayat-ayat selanjutnya mengenai kesempurnaan agama
Islam (Al-Quran) sebagai agama dan Kitab suci terakhir dan tersempurna (QS.5:4; QS.15:10), firman-Nya:
وَ مَا ہُوَ بِقَوۡلِ شَیۡطٰنٍ
رَّجِیۡمٍ --
“Dan bukanlah Al-Quran itu ucapan syaitan yang terkutuk, فَاَیۡنَ تَذۡہَبُوۡنَ -- maka kemanakah kamu akan pergi? ”
(At-Takwīr
[81]:26-27).
Pernyataan Allah Swt. tersebut selaras dengan pernyataan Allah
Swt. berikut ini mengenai pentingnya memeluk
agama Islam dan mengamalkannya sebagaimana yang dicontohkan Nabi Besar Muhammad saw.
(QS.3:32), firman-Nya:
وَ مَنۡ یَّبۡتَغِ غَیۡرَ الۡاِسۡلَامِ
دِیۡنًا فَلَنۡ یُّقۡبَلَ مِنۡہُ ۚ وَ ہُوَ فِی الۡاٰخِرَۃِ مِنَ الۡخٰسِرِیۡنَ ﴿﴾ کَیۡفَ یَہۡدِی
اللّٰہُ قَوۡمًا کَفَرُوۡا بَعۡدَ
اِیۡمَانِہِمۡ وَ شَہِدُوۡۤا اَنَّ الرَّسُوۡلَ حَقٌّ وَّ جَآءَہُمُ الۡبَیِّنٰتُ
ؕ وَ اللّٰہُ لَا یَہۡدِی الۡقَوۡمَ
الظّٰلِمِیۡنَ ﴿﴾ اُولٰٓئِکَ جَزَآؤُہُمۡ اَنَّ عَلَیۡہِمۡ لَعۡنَۃَ اللّٰہِ وَ
الۡمَلٰٓئِکَۃِ وَ النَّاسِ اَجۡمَعِیۡنَ ﴿ۙ﴾ خٰلِدِیۡنَ
فِیۡہَا ۚ لَا یُخَفَّفُ عَنۡہُمُ الۡعَذَابُ وَ لَا ہُمۡ
یُنۡظَرُوۡنَ ﴿ۙ﴾
Dan barangsiapa
mencari agama yang bukan agama Islam, maka agama itu tidak akan pernah diterima darinya, dan di akhirat ia termasuk orang-orang yang rugi. Bagaimana mungkin Allah akan memberi petunjuk kepada suatu kaum yang kafir setelah mereka
beriman, dan mereka telah menjadi
saksi pula bahwa sesungguhnya
rasul itu benar, dan juga telah datang kepada mereka bukti-bukti
yang nyata? Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum
yang zalim. Mereka inilah orang-orang yang atas mereka balasannya adalah
laknat Allah, malaikat dan manusia
seluruhnya. Mereka kekal di dalamnya, azab
tidak akan diringankan dari mereka, dan tidak pula mereka akan diberi tangguh. Kecuali orang-orang yang bertaubat setelah itu dan melakukan perbaikan, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. (Āli ‘Imran [3]:86-89).
Kembali kepada Surah At Takwir, selanjutnya Allah Swt. berfirman: اِنۡ
ہُوَ اِلَّا ذِکۡرٌ لِّلۡعٰلَمِیۡنَ
-- “Tidak lain Al-Quran itu
melainkan peringatan bagi seluruh alam, لِمَنۡ
شَآءَ مِنۡکُمۡ اَنۡ
یَّسۡتَقِیۡمَ -- bagi siapa yang
menghendaki di antara kamu untuk berjalan lurus. وَ مَا تَشَآءُوۡنَ اِلَّاۤ
اَنۡ یَّشَآءَ اللّٰہُ رَبُّ
الۡعٰلَمِیۡنَ -- Dan
kamu tidak menghendaki kecuali yang dikehendaki Allah, Rabb (Tuhan) seluruh alam (At-Takwīr [81]:28-30).
Makna ayat
وَ مَا
تَشَآءُوۡنَ اِلَّاۤ اَنۡ یَّشَآءَ اللّٰہُ رَبُّ الۡعٰلَمِیۡنَ -- ”dan kamu tidak menghendaki kecuali yang
dikehendaki Allah, Rabb (Tuhan) seluruh alam”.
Yang dituntun
ke jalan lurus hanyalah dia yang
berusaha mencari jalan lurus dan
menyesuaikan kehendaknya dengan kehendak Allah Swt..
Demikianlah makna berbagai nubuatan
dalam surah At-Takwir berkenaan
keadaan umat Islam di masa puncak kemundurannya selama 1000 tahun (QS.32:6) serta nubuatan mengenai mulai terbitnya “fajar kebangkitan dan kejayaan Islam” yang kedua di Akhir Zaman melalui pengutusan Mirza Ghulam Ahmad a.s. yang merupakan pengutusan kedua kali secara ruhani Nabi Besar Muhammad saw. (QS.62:3-4), guna mewujudkan “kejayaan Islam” yang kedua kali di Akhir Zaman ini (QS.61:10), melalui motto LOVE FOR ALL HATRED FOR NONE
(Cinta untuk semua, tidak ada kebencian bagi siapa pun), sebagaimana tujuan pengutusan
Nabi Besar Muhammad saw.
sebagai rahmat bagi seluruh alam (QS.21:108).
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran
Anyar, 5 Maret 2017
Tidak ada komentar:
Posting Komentar