Sabtu, 04 Maret 2017

Doa Minta Perlindungan Allah Swt. Dari Bahaya "Fitnah Dajjal" yang Diperingatkan Para Rasul Allah & Pembukaan Rahasia Nubuatan Al-Quran dan hadits-hadits Mengenai Tanda-tanda Akhir Zaman





Bismillaahirrahmaanirrahiim

  ISLAM
Pidato  Mirza Ghulam Ahmad a.s.
Tgl. 2 November 1904 di Kota Sialkote – Hindustan

Bab  33

DOA MINTA PERLINDUNGAN ALLAH SWT. DARI BAHAYA FITNAH  DAJJAL YANG DIPERINGATKAN PARA RASUL ALLAH  &  PEMBUKAAN  RAHASIA   NUBUATAN AL-QURAN DAN HADITS-HADITS MENGENAI TANDA-TANDA AKHIR ZAMAN

Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma



D
alam bagian akhir Bab 32 telah dijelaskan  topik     Sabda-sabda Nabi Besar Muhammad Saw. Mengenai Perbedaan  Al-Masih Mau’ud a.s. dan Al-Masih Dajjal  &  Kiasan  Keluarbiasaan Kemampuan “Al-Masih Dajjal”. Nabi Besar Muhammad saw. menjelaskan Tanda-tanda Akhir Zaman di antaranya munculnya  Dajjal   seperti yang diriwayatkan oleh   Bukhari    dan Muslim  dari  Abu Hurairah r.a.:
Tidak akan terjadi  Hari Kiamat sehingga dua kelompok besar saling berperang dan banyak terbunuh di antara  dua kelompok tersebut, yang seruan mereka adalah satu. Dan hingga dibangkitkannya para Dajjal lagi pendusta hampir 30 orang semuanya mengaku bahwa dirinya Rasul Allah, dicabutnya ilmu, banyak terjadi gempa, zaman berdekatan, fitnah  menjadi muncul, banyak terjadi pembunuhan, berlimpah-ruahnya harta di tengah kalian sehingga para pemilik harta bingung terhadap orang yang akan menerima shadaqahnya. Sampai dia berusaha menawarkannya kepada seseorang namun orang tersebut berkata: “Saya tidak membutuhkannya”; orang berlomba-lomba dalam meninggikan bangunan. Ketika seseorang lewat pada sebuah kuburan dia berkata: “Aduhai jika saya berada di sana”; terbitnya matahari dari sebelah barat, dan apabila terbit dari sebelah barat di saat orang-orang melihatnya maka beriman seluruhnya.”
         Ada pun makna “Dan hingga dibangkitkannya para Dajjal lagi pendusta hampir 30 orang semuanya mengaku bahwa dirinya Rasul Allah“ bahwa selain Al-Masih Mau’ud a.s. akan terdapat 30 orang pendakwa dusta  lainnya, yang disebut Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.  sebagai “Mesias-Mesias  palsu” (Matius  24:15-28).
          Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dalam Kitabul-Fitan (no.4045) dari Hudzaifah bin Usaid Abu  Suraihah r.a.:
“Kami sedang duduk-duduk berbincang di bawah bayang-bayang salah satu kamar Rasulullah. Kami berbincang  tentang Hari Kiamat, dan suara kami pun menjadi meninggi. Lalu beliau [saw.] bersabda, “Tidak akan terjadi Hari Kiamat sehingga muncul sepuluh tanda, yaitu terbitnya matahari dari sebelah barat, munculnya Dajjal, munculnya dukhan (asap), keluarnya binatang, munculnya Ya’juj dan Ma’juj, turunnya Isa  putra Maryam, dan tiga khusuf: satu di timur, satu di barat dan satu di jazirah Arab, dan api yang keluar dari arah Yaman dari dataran terendah ‘Adn yang menggiring manusia ke tempat mahsyar.”     
         
Tanda-tanda Khusus Al-Masih Ad-Dajjal & Al-Masih Ibnu Maryam a.s.

           Diriwayatkan oleh  Bukhari (no.6484) dan Muslim (no. 246) dari Ibnu Umar r.a.:
Rasulullah saw. menyebutkan pada suatu hari di tengah keramaian tentang Al-Masih Dajjal. Beliau saw. berkata: “Sesungguhnya Allah tidak buta sebelah, dan ketahuilah Al-Masih Ad-Dajjal adalah buta mata sebelah kanannya, seperti buah anggur yang menonjol.” Ibnu Umar berkata: Rasulullah bersabda: “Diperlihatkan dalam mimpiku pada suatu malam ketika aku berada di Ka’bah, kemunculan secara tiba-tiba seseorang dari bani Adam yang terlihat sangat bagus, berkulit sawo matang, rambutnya tersisir di antara kedua pundaknya, dalam keadaan  meletakkan kedua tangannya di atas dua pundak dua lelaki dan dia melaksanakan thawaf di antara keduanya, aku berkata: “Siapakah ini?” Mereka berkata, “Al-Masih bin Maryam.” Dan aku melihat di belakangnya ada seseorang yang sangat keriting rambutnya dan buta matanya sebelah kanan dan serupa dengan Ibnu Qathan. Dia meletakkan tangannya di atas pundak dua lelaki dan thawaf di Ka’bah. Lalu aku berkata: “Siapakah ini?” Mereka menjawab, “Ini  adalah Al-Masih ad-Dajjal.”
            Makna  dua lelaki yang thawaf di Ka’bah” yaitu (1) Al-Masih Mau’ud a.s.,  yang menyeru umat manusia kepada Tauhid; (2) Al-Masih Ad-Dajjal  yang menyeru manusia untuk menjauhi Tauhid.  Ada pun makna  buta  mata sebelah kanan Dajjal  melambangkan kebutaan mata ruhaninya  -- yakni tertutup tabir    (QS.18:99-102; QS.20:103) -- karena sekali pun  matanya yang sebelah kiri  dapat melihat   -- yakni  mata duniawinya sangat  tajam     sehingga memperoleh kesuksesan duniawi”   --  tetapi mengatakan bahwa “Tuhan punya anak” (QS.18:1-9),   yaitu  mempercayai “Trinitas” dan “penebusan dosa” melalui kematian terkutuk Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. pada tiang salib, padahal bertentangan dengan akal sehat dan hukum alam  yang menyanjung kesucian Allah Swt. (QS.17:45; QS.24:42; QS.57:2; QS.61:2; QS.62:2; QS.64:2).

Kiat-kiat Mengenal Dajjal si Pendusta Besar & Doa Agar Terhindar Dari Fitnah Dajjal

       Nabi Besar Muhammad saw. telah mengajarkan  doa khusus pada  menjelang akhir  shalat yaitu berlindung pada Allah dari fitnah Dajjal:
         Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِذَا تَشَهَّدَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْتَعِذْ بِاللَّهِ مِنْ أَرْبَعٍ يَقُولُ اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ
Jika salah seorang di antara kalian melakukan tasyahud, mintalah perlindungan pada Allah dari empat perkara: Ya Allah, aku meminta perlindungan pada Engkau dari siksa Jahannam, dari siksa kubur, dari fitnah hidup dan mati, dan dari kejelekan fitnah Al Masih Ad Dajjal” (HR. Muslim no. 588).
         Nabi Besar Muhammad saw.  menganjurkan kepada umat Islam untuk menghafal dan memahami   awal-awal surah Al-Kahfi agar terlindung dari fitnah Dajjal. Dalam riwayat lain disebutkan akhir-akhir surah Al-Kahfi yang dibaca.  
         Dari Abu Darda’, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ حَفِظَ عَشْرَ آيَاتٍ مِنْ أَوَّلِ سُورَةِ الْكَهْفِ عُصِمَ مِنَ الدَّجَّالِ
Barangsiapa menghafal sepuluh ayat pertama dari surat Al Kahfi, maka ia akan terlindungi dari (fitnah) Dajjal” (HR. Muslim no. 809).
         Dari An Nawas bin Sam’an, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
فَمَنْ أَدْرَكَهُ مِنْكُمْ فَلْيَقْرَأْ عَلَيْهِ فَوَاتِحَ سُورَةِ الْكَهْفِ
Barangsiapa di antara kalian mendapati zamannya Dajjal, bacalah awal-awal surat Al Kahfi” (HR. Muslim no. 2937).
       Dari Abu Darda’, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ قَرَأَ عَشْرَ آيَاتٍ مِنْ آخِرِ الْكَهْفِ عُصِمَ مِنْ فِتْنَةِ الدَّجَّالِ ». قَالَ حَجَّاجٌ « مَنْ قَرَأَ الْعَشْرَ الأَوَاخِرَ مِنْ سُورَةِ الكَهْفِ »
Barangsiapa membaca sepuluh ayat terakhir dari surat Al Kahfi, maka ia akan terlindungi dari fitnah Dajjal.” Hajjaj berkata, “Barangsiapa membaca sepuluh ayat terakhir dari surat Al Kahfi” (HR. Ahmad 6: 446).

Kebanggaan Palsu yang Berakhir Kehancuran

        Seandainya umat Islam benar-benar  memahami 10 ayat awal dan akhir Surah Al-Kahf --  khususnya firman-Nya berikut ini   -- maka akan mengetahui siapa sebenarnya yang dimaksud Nabi Besar Muhammad saw. dengan “Dajjal” dan  fitnah Dajjal” yang digambarkan secara kiasan oleh Nabi Besar Muhammad saw., firman-Nya:
وَّ یُنۡذِرَ الَّذِیۡنَ قَالُوا اتَّخَذَ اللّٰہُ وَلَدًا ٭﴿﴾  مَا لَہُمۡ بِہٖ مِنۡ عِلۡمٍ وَّ لَا لِاٰبَآئِہِمۡ ؕ کَبُرَتۡ کَلِمَۃً  تَخۡرُجُ مِنۡ اَفۡوَاہِہِمۡ ؕ اِنۡ یَّقُوۡلُوۡنَ  اِلَّا کَذِبًا ﴿﴾  فَلَعَلَّکَ بَاخِعٌ نَّفۡسَکَ عَلٰۤی اٰثَارِہِمۡ  اِنۡ لَّمۡ  یُؤۡمِنُوۡا بِہٰذَا  الۡحَدِیۡثِ  اَسَفًا ﴿﴾  اِنَّا جَعَلۡنَا مَا عَلَی الۡاَرۡضِ زِیۡنَۃً  لَّہَا لِنَبۡلُوَہُمۡ  اَیُّہُمۡ   اَحۡسَنُ  عَمَلًا ﴿﴾  وَ اِنَّا لَجٰعِلُوۡنَ مَا عَلَیۡہَا صَعِیۡدًا جُرُزًا  ؕ﴿﴾
Dan supaya memperingat­kan orang-orang  yang berkata: اتَّخَذَ اللّٰہُ وَلَدًا  --  "Allah  mengambil seorang  anak laki-laki.  مَا لَہُمۡ بِہٖ مِنۡ عِلۡمٍ وَّ لَا لِاٰبَآئِہِمۡ ؕ کَبُرَتۡ کَلِمَۃً  تَخۡرُجُ مِنۡ اَفۡوَاہِہِمۡ   --  Mereka   sekali-kali tidak memiliki pengetahuan mengenainya, dan tidak pula bapak-bapak mereka memilikinya.  Sangat besar keburukan perkataan yang keluar dari mulut mereka, اِنۡ یَّقُوۡلُوۡنَ  اِلَّا کَذِبًا  --   mereka tidak mengucapkan kecuali kedustaan. Maka sangat mungkin engkau akan  membinasakan diri engkau  karena sangat sedih  sekiranya mereka tidak beriman kepada keterangan ini.   Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi per­hiasan baginya   supaya  Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya.     Dan sesungguhnya Kami niscaya akan menjadikan segala yang ada di atasnya menjadi tanah-rata yang tandus.  (Al-Kahf [18]:5-9).
        Kemudian dalam bagian akhir Surah Al-Kahf Allah Swt. berfirman mengenai kebanggaan palsu “Dajjal” si pendusta besar  mengenai keberhasilan duniawi mereka  berkenaan dengan iptek (ilmu pengetahuan dan teknologi), yang  tidak berari apa-apa jika dibandingkan dengan ketidak-terbatasan khazanah rahasia-rahasia ciptaan Allah Swt. di alam semesta jasmani ini, firman-Nya:
قُلۡ لَّوۡ کَانَ الۡبَحۡرُ مِدَادًا لِّکَلِمٰتِ رَبِّیۡ لَنَفِدَ الۡبَحۡرُ  قَبۡلَ اَنۡ تَنۡفَدَ کَلِمٰتُ رَبِّیۡ وَ لَوۡ  جِئۡنَا بِمِثۡلِہٖ  مَدَدًا ﴿﴾ قُلۡ اِنَّمَاۤ  اَنَا بَشَرٌ  مِّثۡلُکُمۡ  یُوۡحٰۤی  اِلَیَّ اَنَّمَاۤ  اِلٰـہُکُمۡ  اِلٰہٌ  وَّاحِدٌ ۚ فَمَنۡ کَانَ یَرۡجُوۡا لِقَآءَ رَبِّہٖ فَلۡیَعۡمَلۡ عَمَلًا صَالِحًا وَّ لَا یُشۡرِکۡ بِعِبَادَۃِ  رَبِّہٖۤ  اَحَدًا﴿﴾٪
Katakanlah: "'Seandainya lautan menjadi tinta untuk me­nuliskan kalimat-kalimat Rabb-ku (Tuhan-ku), niscaya  lautan itu akan habis se­belum kalimat-kalimat Rabb-ku (Tuhan-ku) habis dituliskan, sekalipun Kami datangkan sebanyak itu lagi sebagai tambahannya.  Katakanlah:  ”Sesungguh­nya aku ini hanyalah seorang manusia seperti kamu, tetapi telah diwahyukan kepadaku bahwa Rabb (Tuhan) kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa,   maka ba-rangsiapa mengharap akan bertemu  dengan Rabb-nya (Tuhan-nya) hendaklah ia beramal saleh dan ia jangan  memper­sekutukan siapa pun dalam ber­ibadah kepada Rabb-nya (Tuhan-nya)"   (Al-Kahf [18]:110-111).

Ketidak-terbatasan Khazanah Rahasia  Ciptaan Allah Swt.

    Ayat 110 menyindir bangsa-bangsa Kristen dari barat yang membanggakan diri atas penemuan­-penemuan dan hasil-hasil mereka yang besar dalam ilmu pengetahuan dan teknologi,  dan nampaknya mereka dikuasai anggapan keliru  bahwa mereka telah berhasil mengetahui seluk-beluk rahasia-rahasia takhliq (penciptaan) itu sendiri.
  Hal itu hanya pembualan yang sia-sia belaka, sebab rahasia-rahasia Tuhan  dan ciptaan-Nya tidak ada habisnya dan tidak dapat diselami sehingga apa yang telah mereka temukan sampai sekarang  -- dan apa yang nanti akan ditemukan dengan segala susah payah  --  jika dibandingkan dengan rahasia-rahasia Allah Swt. belumlah merupakan setitik pun air dalam samudera, firman-Nya:
وَ  اِنۡ مِّنۡ شَیۡءٍ   اِلَّا عِنۡدَنَا خَزَآئِنُہٗ ۫ وَ  مَا  نُنَزِّلُہٗۤ  اِلَّا بِقَدَرٍ  مَّعۡلُوۡمٍ ﴿﴾
Dan  tidak ada suatu pun benda melainkan pada Kami ada khazanah-khazanahnya yang tidak terbatas, dan  Kami sama sekali tidak menurunkannya melainkan dalam ukuran yang tertentu. (Al-Hijr [15]:22).
  Allah Swt.  memiliki  khazanah   segala sesuatu dalam jumlah yang tidak terbatas. Akan tetapi sesuai dengan rahmat-Nya yang tidak berhingga, Dia mengarahkan pikiran atau otak manusia kepada satu benda yang tertentu, hanya bilamana timbul suatu keperluan yang sesungguhnya akan benda itu, firman-Nya:
یَسۡـَٔلُہٗ  مَنۡ  فِی السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ؕ کُلَّ  یَوۡمٍ ہُوَ  فِیۡ  شَاۡنٍ ﴿ۚ﴾
Kepada-Nya memohon  segala yang ada di seluruh langit dan bumi. Setiap hari Dia menampakkan sifat-Nya dalam keadaan yang berlainan.  (Ar-Rahmān [55]:30).
Untuk mempertahankan hidup dan memenuhi segala keperluannya, sekalian makhluk bergantung pada Allah Swt., Yang adalah Sang Pencipta, Pemberi rezeki, dan Pemelihara mereka. Sifat-sifat Ilahi tidak mengenal batas atau hitungan, dan sifat-sifat itu menjelmakan diri dalam berbagai cara di sepanjang masa. Jadi, sungguh mustahil bagi manusia mengetahui sepenuhnya rahasia-rahasia ciptaan Allah Swt. yang tidak terbatas tersebut, firman-Nya:
وَ اٰتٰىکُمۡ مِّنۡ کُلِّ مَا سَاَلۡتُمُوۡہُ ؕ وَ اِنۡ تَعُدُّوۡا نِعۡمَتَ اللّٰہِ لَا تُحۡصُوۡہَا ؕ اِنَّ الۡاِنۡسَانَ  لَظَلُوۡمٌ  کَفَّارٌ ﴿٪﴾
Dan Dia telah memberikan kepada kamu segala sesuatu apa yang kamu minta kepada-Nya,  dan  jika  kamu menghitung nikmat-nikmat Allah, kamu tidak akan dapat menghitung-nya, sesungguhnya manusia benar-benar sangat zalim, sangat tidak bersyukur. (Ibrahim [14]:35). Lihat QS.16:19.
    Kata-kata “yang kamu minta kepada-Nya” menunjukkan kepada tuntutan-tuntutan fitrat manusa yang telah terpenuhi seluruhnya. Allah Swt.  telah  menyediakan bahan yang lengkap untuk memenuhi segala hasrat dan keinginan fitrat manusia.

Pembukaan Khazanah Ruhani Al-Quran Kepada Rasul Akhir Zaman 

   Seperti halnya alam semesta kebendaan, demikian pula Al-Quran pun merupakan alam semesta keruhanian di mana tersembunyi khazanah-khazanah ilmu keruhanian yang dibukakan kepada manusia sesuai dengan keperluan zaman, yaitu melalui rasul Allah yang dijanjikan (QS.7:35-37), sebagaimana firman-Nya kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
قُلۡ  اِنۡ  اَدۡرِیۡۤ  اَقَرِیۡبٌ مَّا تُوۡعَدُوۡنَ اَمۡ  یَجۡعَلُ  لَہٗ  رَبِّیۡۤ   اَمَدًا ﴿﴾ عٰلِمُ الۡغَیۡبِ فَلَا یُظۡہِرُ عَلٰی غَیۡبِہٖۤ اَحَدًا ﴿ۙ﴾  اِلَّا مَنِ ارۡتَضٰی مِنۡ رَّسُوۡلٍ فَاِنَّہٗ یَسۡلُکُ مِنۡۢ  بَیۡنِ یَدَیۡہِ  وَ مِنۡ خَلۡفِہٖ رَصَدًا ﴿ۙ﴾  لِّیَعۡلَمَ  اَنۡ  قَدۡ  اَبۡلَغُوۡا رِسٰلٰتِ رَبِّہِمۡ وَ اَحَاطَ بِمَا لَدَیۡہِمۡ وَ اَحۡصٰی کُلَّ  شَیۡءٍ عَدَدًا ﴿٪﴾ 
Katakanlah: “Aku tidak mengetahui apakah yang dijanjikan kepada kamu itu telah dekat ataukah Rabb-ku (Tuhan-ku) telah menetapkan baginya masa yang lama.  Dia-lah Yang mengetahui yang gaib, maka Dia tidak menzahirkan  rahasia gaib-Nya kepada siapa pun,        kecuali kepada Rasul yang Dia ridhai, maka sesungguhnya barisan pengawal berjalan di hadapannya dan di belakangnya, supaya Dia mengetahui bahwa  sungguh  mereka telah menyam-paikan Amanat-amanat Rabb (Tuhan) mereka,  dan Dia meliputi semua yang ada pada mereka dan Dia membuat perhitungan mengenai segala sesuatu.  (Al-Jin [72]:27-29).
   Ungkapan, “izhhar ‘ala al-ghaib”  dalam ayat: عٰلِمُ الۡغَیۡبِ فَلَا یُظۡہِرُ عَلٰی غَیۡبِہٖۤ اَحَدًا  --  Dia-lah Yang mengetahui yang gaib, maka Dia tidak menzahirkan  rahasia gaib-Nya kepada siapa punberarti  diberi pengetahuan dengan sering dan secara berlimpah-limpah mengenai rahasia gaib bertalian dengan dan mengenai peristiwa dan kejadian yang sangat penting:    اِلَّا مَنِ ارۡتَضٰی مِنۡ رَّسُوۡلٍ -- “kecuali kepada Rasul yang Dia ridhai.
      Ayat ini merupakan ukuran yang tiada tara bandingannya guna membedakan antara sifat dan jangkauan rahasia-rahasia gaib yang dibukakan kepada seorang rasul Tuhan dan rahasia-rahasia gaib yang dibukakan kepada orang-orang mukmin muttaki lainnya. Perbedaan itu letaknya pada kenyataan bahwa, kalau rasul-rasul Tuhan dianugerahi izhhar ‘ala al-ghaib  -- “penguasaan atas yang gaib”  -- maka rahasia-rahasia yang diturunkan kepada orang-orang muttaki dan orang-orang suci lainnya tidak menikmati kehormatan serupa itu.
  Tambahan pula wahyu Ilahi yang dianugerahkan kepada rasul-rasul Tuhan, karena ada dalam pemeliharaan-istimewa-Ilahi, keadaannya aman dari pemutar-balikkan atau pemalsuan oleh jiwa-jiwa yang jahat, sedang rahasia-rahasia yang dibukakan kepada orang-orang muttaki lainnya tidak begitu terpelihara.

Makna Sepuluh Ayat Awal Surah Al-Kahf & Peran Besar “Keledai Pemakan Api

  Nabi Besar Muhammad saw.  diriwayatkan telah bersabda bahwa pembacaan sepuluh ayat pertama dan sepuluh ayat terakhir Surah Al-Kahf menjamin keselamatan seseorang terhadap serangan-serangan ruhani dari Dajjal. Hal itu menunjukkan bahwa Al-Masih-Ad-Dajjal dan Ya’juj (Gog)   - Ma’juj (Magog) adalah bangsa itu-itu juga, yaitu bangsa-bangsa Kristen dari barat. Kata Dajjal menggambarkan propaganda keagamanan mereka yang membawa kemudaratan kepada Islam. sedang Ya’juj-Ma’juj menggambarkan kekuatan dan kekuasaan mereka di bidang kebendaan dan politik.
 Berbagai rahasia gaib yang baru dari Al-Quran – termasuk hakikat surah Al-Kahf berkenaan hubungan  para penghuni gua (ashhabul-kahf) dengan Ya’juj (Gog) dan Ma’juj (Magog) – telah dibukakan Allah Swt. secara khusus kepada Mirza Ghulam Ahmad a.s.  sebagai Rasul Akhir Zaman yang kedatangannya  ditunggu-tunggu oleh semua umat beragama dengan nama yang berlainan (QS.77:12; QS.62:3-4), termasuki makna dari  gambaran kiasan  mengenai Al-Masih ad-Dajjal yang dikemukakan Nabi Besar Muhammad saw. dalam berbagai hadits.
Kembali kepada pembahasan Tanda-tanda Akhir  Zaman  dalam surah At-Takwīr, firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ۪ۙ﴿﴾   اِذَا  الشَّمۡسُ کُوِّرَتۡ ۪ۙ﴿﴾   وَ  اِذَا  النُّجُوۡمُ  انۡکَدَرَتۡ ۪ۙ﴿﴾   وَ  اِذَا  الۡجِبَالُ سُیِّرَتۡ ۪ۙ﴿﴾  وَ  اِذَا الۡعِشَارُ عُطِّلَتۡ ۪ۙ﴿﴾   وَ  اِذَا  الۡوُحُوۡشُ حُشِرَتۡ ۪ۙ﴿﴾   وَ  اِذَا  الۡبِحَارُ سُجِّرَتۡ ۪ۙ﴿﴾   وَ  اِذَا النُّفُوۡسُ زُوِّجَتۡ ۪ۙ﴿﴾  وَ  اِذَا  الۡمَوۡءٗدَۃُ  سُئِلَتۡ ۪ۙ﴿﴾ بِاَیِّ ذَنۡۢبٍ قُتِلَتۡ ۚ﴿﴾   وَ  اِذَا الصُّحُفُ نُشِرَتۡ ﴿۪ۙ﴾   وَ اِذَا  السَّمَآءُ کُشِطَتۡ ﴿۪ۙ﴾  وَ  اِذَا  الۡجَحِیۡمُ سُعِّرَتۡ ﴿۪ۙ﴾  وَ  اِذَا  الۡجَنَّۃُ   اُزۡلِفَتۡ ﴿۪ۙ﴾ عَلِمَتۡ نَفۡسٌ مَّاۤ  اَحۡضَرَتۡ ﴿ؕ﴾ 
Aku baca  dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.   Apabila matahari digulung,  dan apabila bintang-bintang menjadi suram,  dan  apabila gunung-gunung digerakan, dan apabila unta-unta bunting sepuluh bulan ditinggalkan,   dan apabila binatang-binatang liar dikumpulkan,   dan apabila lautan-lautan  disalurkan,  dan apabila orang-orang dikumpulkan,   dan apabila bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup akan ditanya,    karena dosa apakah ia dibunuh? Dan apabila buku-buku akan disebar-luaskan,  dan apabila langit dibuka,   dan apabila neraka dinyalakan,   dan apabila surga didekatkan.   Setiap jiwa akan mengetahui  apa yang dihadirkan.  (At-Takwīr [81]:1-14).
  Setelah nubuatan mengenai akan ditinggalkannya unta-unta  bunting sepuluh bulan”  -- sebagai sarana transportasi kuno (tradisional)   karena digantikan fungsinya oleh keledai Dajjal yang makanannya api” hasil Revolusi Industri bangsa-bangsa Kristen dari  Eropa  pada 1750-1850 -- selanjutnya Allah Swt. berfirman mengenai Tanda-tanda Akhir Zaman lainnya: وَ  اِذَا  الۡوُحُوۡشُ حُشِرَتۡ   -- “dan apabila binatang-binatang liar dikumpulkan.
  Mengingat berbagai arti akar kata husyira yang berbeda-beda (Lexicon Lane), maka ayat ini mengandung arti: ketika binatang-binatang akan dikumpulkan di kebun-kebun binatang, atau ketika bangsa-bangsa terbelakang akan disuruh tinggal di dalam kelompok-kelompok masyarakat yang bertata-tertib; atau, ketika mereka akan dipaksa meninggalkan kampung halaman mereka.

Meningkatnya Peran Kaum Perempuan

       Ayat وَ  اِذَا  الۡبِحَارُ سُجِّرَتۡ   -- “dan apabila lautan-lautan  disalurkan” ini berarti; ketika sungai-sungai akan  dibendung dan disalurkan untuk keperluan irigasi atau tujuan-tujuan lain; atau, ketika di dalam pertempuran-pertempuran laut kapal-kapal besar akan terbakar, sehingga akan nampak seolah-olah laut dimakan api; atau samudera-samudera raya akan dihubungkan melalui terusan-terusan; atau, ketika penduduk daerah akan mengalir ke kota-kota  sehingga kota-kota penuh sesak dengan penduduk melimpah
   Kata sujjira, mengandung semua arti tersebut (Lexicon Lane). Semua peristiwa tersebut melibatkan peran-serta  kemajuan iptek (ilmu pengetahuan dan teknologi) sebab mustahil membuat “Terusan Suez” dan “terusan Panama” serta membuat bendung-bendung  raksasa jika hanya mengandalkan alat-alat tradisional belaka.
     Makna ayat selanjutnya: وَ  اِذَا النُّفُوۡسُ زُوِّجَتۡ   --  “dan apabila orang-orang dikumpulkan” yaitu  ketika sarana-sarana pengangkutan (transportasi) dan komunikasi akan berkembang pesat demikian rupa, serta hubungan antar bangsa yang mendiami negeri-negeri jauh akan menjadi demikian mudah dan lancar sehingga membuat mereka bersatu menjadi satu bangsa. Ayat ini mengandung pula arti bahwa orang-orang yang mempunyai pandangan-pandangan sama mengenai kemasyarakatan atau politik akan menggabungkan diri dalam wadah partai-partai.
    Makna ayat:  وَ  اِذَا  الۡمَوۡءٗدَۃُ  سُئِلَتۡ  -- “dan apabila bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup akan ditanya.“ Penguburan atau pembakaran hidup-hidup bayi-bayi perempuan akan dianggap sebagai kejahatan besar, terutama di kalangan bangsa Arab jahiliyah yang menganggap kelahiran bayi-bayi perempuan dianggap merupakan noda (aib) bagi keluarga, sehingga setelah lahir akan dikubur hidup-hidup (QS.16:58-61; QS.43:17-18): بِاَیِّ ذَنۡۢبٍ قُتِلَتۡ    -- “karena dosa apakah ia dibunuh.
   Di Akhir Zaman ini   tidak sedikit para perempuan yang menduduki  berbagai posisi strategis, baik di pemerintahan,  di perusahaan, dalam bidang iptek (ilmu pengetahuan dan teknologi), maupun dalam dunia militer, bahkan  banyak yang menjadi Kepala Negara (Presiden) dan Kepala pemerintahan (Perdana Menteri).

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid

oo0oo
Pajajaran Anyar, 4   Maret  2017




Tidak ada komentar:

Posting Komentar