Bismillaahirrahmaanirrahiim
ISLAM
Pidato Mirza Ghulam Ahmad a.s.
Tgl. 2 November 1904
di Kota Sialkote – Hindustan
Bab 33
DOA MINTA PERLINDUNGAN ALLAH SWT. DARI BAHAYA FITNAH DAJJAL YANG DIPERINGATKAN
PARA RASUL ALLAH & PEMBUKAAN
RAHASIA NUBUATAN
AL-QURAN DAN HADITS-HADITS MENGENAI TANDA-TANDA
AKHIR ZAMAN
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam bagian akhir Bab 32 telah dijelaskan
topik Sabda-sabda
Nabi Besar Muhammad Saw. Mengenai Perbedaan
Al-Masih Mau’ud a.s. dan Al-Masih Dajjal & Kiasan
Keluarbiasaan Kemampuan “Al-Masih
Dajjal”. Nabi
Besar Muhammad saw. menjelaskan Tanda-tanda Akhir Zaman di antaranya
munculnya Dajjal seperti yang
diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah r.a.:
“Tidak akan terjadi Hari
Kiamat sehingga dua kelompok besar
saling berperang dan banyak terbunuh
di antara dua kelompok tersebut,
yang seruan mereka adalah satu. Dan hingga dibangkitkannya para Dajjal lagi pendusta hampir 30 orang semuanya mengaku bahwa dirinya Rasul Allah, dicabutnya ilmu, banyak terjadi gempa, zaman
berdekatan, fitnah menjadi muncul, banyak terjadi pembunuhan, berlimpah-ruahnya
harta di tengah kalian sehingga para
pemilik harta bingung terhadap orang yang akan menerima shadaqahnya. Sampai
dia berusaha menawarkannya kepada
seseorang namun orang tersebut berkata: “Saya tidak membutuhkannya”; orang
berlomba-lomba dalam meninggikan bangunan. Ketika seseorang lewat pada sebuah kuburan dia berkata: “Aduhai jika saya berada di sana”; terbitnya matahari dari sebelah barat,
dan apabila terbit dari sebelah barat di
saat orang-orang melihatnya maka beriman
seluruhnya.”
Ada pun makna “Dan hingga dibangkitkannya para Dajjal
lagi pendusta hampir 30 orang
semuanya mengaku bahwa dirinya Rasul Allah“ bahwa selain Al-Masih Mau’ud a.s. akan terdapat 30 orang pendakwa dusta lainnya, yang disebut Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.
sebagai “Mesias-Mesias palsu”
(Matius 24:15-28).
Diriwayatkan oleh Ibnu
Majah dalam Kitabul-Fitan
(no.4045) dari Hudzaifah bin Usaid Abu
Suraihah r.a.:
“Kami sedang
duduk-duduk berbincang di bawah bayang-bayang salah satu kamar Rasulullah. Kami
berbincang tentang Hari Kiamat, dan suara kami pun menjadi meninggi. Lalu beliau
[saw.] bersabda, “Tidak akan terjadi Hari
Kiamat sehingga muncul sepuluh tanda,
yaitu terbitnya matahari dari sebelah
barat, munculnya Dajjal, munculnya dukhan (asap), keluarnya binatang, munculnya Ya’juj dan Ma’juj, turunnya Isa putra Maryam,
dan tiga khusuf: satu di timur, satu
di barat dan satu di jazirah Arab, dan api
yang keluar dari arah Yaman dari dataran
terendah ‘Adn yang menggiring
manusia ke tempat mahsyar.”
Tanda-tanda
Khusus Al-Masih Ad-Dajjal & Al-Masih Ibnu
Maryam a.s.
Diriwayatkan oleh Bukhari (no.6484) dan Muslim
(no. 246) dari Ibnu Umar r.a.:
Rasulullah saw.
menyebutkan pada suatu hari di tengah keramaian tentang Al-Masih Dajjal. Beliau saw. berkata: “Sesungguhnya Allah tidak buta sebelah, dan
ketahuilah Al-Masih Ad-Dajjal adalah
buta mata sebelah kanannya, seperti buah
anggur yang menonjol.” Ibnu Umar berkata: Rasulullah bersabda: “Diperlihatkan dalam mimpiku pada suatu
malam ketika aku berada di Ka’bah,
kemunculan secara tiba-tiba seseorang dari bani Adam yang terlihat
sangat bagus, berkulit sawo matang,
rambutnya tersisir di antara kedua
pundaknya, dalam keadaan meletakkan kedua tangannya di atas dua pundak
dua lelaki dan dia melaksanakan
thawaf di antara keduanya, aku berkata: “Siapakah ini?” Mereka berkata, “Al-Masih bin Maryam.” Dan aku melihat di belakangnya ada seseorang yang sangat keriting rambutnya dan buta
matanya sebelah kanan dan serupa dengan Ibnu Qathan. Dia meletakkan
tangannya di atas pundak dua lelaki dan thawaf
di Ka’bah. Lalu aku berkata: “Siapakah
ini?” Mereka menjawab, “Ini adalah Al-Masih ad-Dajjal.”
Makna ”dua
lelaki yang thawaf di Ka’bah” yaitu (1) Al-Masih
Mau’ud a.s., yang menyeru umat manusia kepada Tauhid; (2) Al-Masih
Ad-Dajjal yang menyeru manusia untuk
menjauhi Tauhid. Ada pun makna
buta mata
sebelah kanan Dajjal melambangkan kebutaan mata ruhaninya --
yakni tertutup tabir (QS.18:99-102; QS.20:103) -- karena sekali pun matanya
yang sebelah kiri dapat melihat -- yakni
“mata duniawinya sangat tajam
sehingga memperoleh kesuksesan
duniawi” -- tetapi mengatakan bahwa “Tuhan punya anak” (QS.18:1-9), yaitu
mempercayai “Trinitas” dan “penebusan dosa” melalui kematian terkutuk Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.
pada tiang salib, padahal bertentangan dengan akal sehat dan hukum alam yang menyanjung
kesucian Allah Swt. (QS.17:45; QS.24:42; QS.57:2; QS.61:2; QS.62:2;
QS.64:2).
Kiat-kiat
Mengenal Dajjal si Pendusta Besar & Doa Agar Terhindar
Dari Fitnah Dajjal
Nabi Besar Muhammad saw.
telah mengajarkan doa khusus pada menjelang akhir shalat yaitu berlindung pada Allah dari fitnah Dajjal:
Dari
Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِذَا تَشَهَّدَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْتَعِذْ
بِاللَّهِ مِنْ أَرْبَعٍ يَقُولُ اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ
جَهَنَّمَ وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ
وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ
“Jika salah seorang di antara
kalian melakukan tasyahud, mintalah perlindungan pada Allah dari
empat perkara: Ya Allah, aku meminta perlindungan pada Engkau dari siksa Jahannam, dari siksa kubur, dari fitnah hidup dan mati,
dan dari kejelekan fitnah Al Masih Ad
Dajjal” (HR. Muslim no. 588).
Nabi Besar Muhammad saw. menganjurkan kepada umat Islam untuk menghafal dan memahami awal-awal surah Al-Kahfi agar terlindung
dari fitnah Dajjal. Dalam riwayat
lain disebutkan akhir-akhir surah Al-Kahfi
yang dibaca.
Dari Abu
Darda’, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ حَفِظَ عَشْرَ آيَاتٍ مِنْ أَوَّلِ سُورَةِ
الْكَهْفِ عُصِمَ مِنَ الدَّجَّالِ
“Barangsiapa menghafal sepuluh ayat pertama
dari surat Al Kahfi, maka ia akan terlindungi dari (fitnah) Dajjal”
(HR. Muslim
no. 809).
Dari An Nawas bin Sam’an, ia berkata
bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
فَمَنْ أَدْرَكَهُ مِنْكُمْ فَلْيَقْرَأْ
عَلَيْهِ فَوَاتِحَ سُورَةِ الْكَهْفِ
“Barangsiapa di antara kalian
mendapati zamannya Dajjal, bacalah awal-awal surat Al Kahfi” (HR. Muslim
no. 2937).
Dari Abu Darda’, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ قَرَأَ عَشْرَ آيَاتٍ مِنْ آخِرِ الْكَهْفِ
عُصِمَ مِنْ فِتْنَةِ الدَّجَّالِ ». قَالَ حَجَّاجٌ « مَنْ قَرَأَ الْعَشْرَ
الأَوَاخِرَ مِنْ سُورَةِ الكَهْفِ »
“Barangsiapa membaca sepuluh
ayat terakhir dari surat Al Kahfi, maka ia akan terlindungi dari fitnah Dajjal.”
Hajjaj berkata, “Barangsiapa membaca sepuluh
ayat terakhir dari surat Al Kahfi” (HR. Ahmad 6: 446).
Kebanggaan Palsu yang Berakhir Kehancuran
Seandainya umat Islam benar-benar memahami
10 ayat awal dan akhir Surah Al-Kahf -- khususnya firman-Nya berikut ini -- maka akan mengetahui siapa sebenarnya
yang dimaksud Nabi Besar Muhammad saw. dengan “Dajjal” dan “fitnah Dajjal” yang digambarkan secara kiasan oleh Nabi Besar Muhammad saw.,
firman-Nya:
وَّ یُنۡذِرَ الَّذِیۡنَ
قَالُوا اتَّخَذَ اللّٰہُ وَلَدًا ٭﴿﴾ مَا لَہُمۡ بِہٖ مِنۡ عِلۡمٍ وَّ لَا لِاٰبَآئِہِمۡ ؕ کَبُرَتۡ کَلِمَۃً تَخۡرُجُ مِنۡ اَفۡوَاہِہِمۡ ؕ اِنۡ یَّقُوۡلُوۡنَ اِلَّا کَذِبًا ﴿﴾ فَلَعَلَّکَ
بَاخِعٌ نَّفۡسَکَ عَلٰۤی اٰثَارِہِمۡ اِنۡ
لَّمۡ یُؤۡمِنُوۡا بِہٰذَا الۡحَدِیۡثِ اَسَفًا ﴿﴾ اِنَّا جَعَلۡنَا مَا عَلَی الۡاَرۡضِ زِیۡنَۃً لَّہَا لِنَبۡلُوَہُمۡ اَیُّہُمۡ اَحۡسَنُ عَمَلًا ﴿﴾ وَ اِنَّا لَجٰعِلُوۡنَ مَا عَلَیۡہَا صَعِیۡدًا جُرُزًا ؕ﴿﴾
Dan
supaya memperingatkan orang-orang yang berkata: اتَّخَذَ اللّٰہُ وَلَدًا
-- "Allah mengambil seorang anak laki-laki. مَا لَہُمۡ بِہٖ مِنۡ عِلۡمٍ وَّ لَا لِاٰبَآئِہِمۡ ؕ کَبُرَتۡ کَلِمَۃً تَخۡرُجُ مِنۡ اَفۡوَاہِہِمۡ -- Mereka sekali-kali
tidak memiliki pengetahuan mengenainya, dan tidak pula bapak-bapak mereka memilikinya. Sangat
besar keburukan perkataan yang keluar
dari mulut mereka, اِنۡ یَّقُوۡلُوۡنَ اِلَّا کَذِبًا -- mereka tidak
mengucapkan kecuali kedustaan.
Maka sangat mungkin engkau akan membinasakan diri engkau karena sangat
sedih sekiranya mereka tidak beriman
kepada keterangan ini. Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi perhiasan baginya supaya Kami
menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya. Dan sesungguhnya Kami niscaya akan menjadikan segala yang ada
di atasnya menjadi tanah-rata yang tandus. (Al-Kahf
[18]:5-9).
Kemudian dalam bagian akhir Surah Al-Kahf Allah Swt. berfirman
mengenai kebanggaan palsu “Dajjal” si pendusta besar mengenai keberhasilan duniawi mereka berkenaan dengan iptek (ilmu pengetahuan dan teknologi), yang tidak berari apa-apa jika dibandingkan dengan
ketidak-terbatasan khazanah
rahasia-rahasia ciptaan Allah Swt. di alam semesta jasmani ini, firman-Nya:
قُلۡ
لَّوۡ کَانَ الۡبَحۡرُ مِدَادًا لِّکَلِمٰتِ رَبِّیۡ لَنَفِدَ الۡبَحۡرُ قَبۡلَ اَنۡ تَنۡفَدَ کَلِمٰتُ رَبِّیۡ وَ
لَوۡ جِئۡنَا بِمِثۡلِہٖ مَدَدًا ﴿﴾ قُلۡ اِنَّمَاۤ اَنَا بَشَرٌ
مِّثۡلُکُمۡ یُوۡحٰۤی اِلَیَّ اَنَّمَاۤ اِلٰـہُکُمۡ اِلٰہٌ وَّاحِدٌ ۚ فَمَنۡ کَانَ یَرۡجُوۡا لِقَآءَ رَبِّہٖ فَلۡیَعۡمَلۡ عَمَلًا صَالِحًا وَّ لَا یُشۡرِکۡ
بِعِبَادَۃِ رَبِّہٖۤ اَحَدًا﴿﴾٪
Katakanlah:
"'Seandainya lautan menjadi tinta
untuk menuliskan kalimat-kalimat Rabb-ku (Tuhan-ku), niscaya lautan
itu akan habis sebelum kalimat-kalimat
Rabb-ku (Tuhan-ku) habis dituliskan, sekalipun Kami datangkan sebanyak itu lagi sebagai tambahannya. Katakanlah: ”Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang manusia seperti kamu, tetapi telah diwahyukan kepadaku bahwa Rabb (Tuhan) kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa, maka ba-rangsiapa mengharap akan bertemu
dengan Rabb-nya (Tuhan-nya) hendaklah ia beramal saleh dan ia
jangan mempersekutukan siapa pun dalam
beribadah kepada Rabb-nya (Tuhan-nya)" (Al-Kahf [18]:110-111).
Ketidak-terbatasan Khazanah Rahasia Ciptaan Allah Swt.
Ayat
110 menyindir bangsa-bangsa Kristen
dari barat yang membanggakan diri atas
penemuan-penemuan dan hasil-hasil mereka yang besar dalam ilmu pengetahuan dan teknologi, dan nampaknya mereka dikuasai anggapan keliru bahwa mereka telah berhasil mengetahui seluk-beluk rahasia-rahasia
takhliq (penciptaan) itu sendiri.
Hal itu hanya pembualan yang sia-sia belaka, sebab rahasia-rahasia Tuhan dan ciptaan-Nya
tidak ada habisnya dan tidak dapat diselami sehingga apa yang telah mereka
temukan sampai sekarang -- dan apa yang
nanti akan ditemukan dengan segala susah payah
-- jika dibandingkan dengan rahasia-rahasia Allah Swt. belumlah
merupakan setitik pun air dalam samudera, firman-Nya:
وَ اِنۡ مِّنۡ شَیۡءٍ اِلَّا عِنۡدَنَا خَزَآئِنُہٗ ۫ وَ مَا
نُنَزِّلُہٗۤ اِلَّا بِقَدَرٍ مَّعۡلُوۡمٍ ﴿﴾
Dan tidak
ada suatu pun benda melainkan pada
Kami ada khazanah-khazanahnya yang tidak terbatas, dan Kami
sama sekali tidak menurunkannya melainkan dalam ukuran yang tertentu. (Al-Hijr [15]:22).
Allah Swt.
memiliki khazanah segala
sesuatu dalam jumlah yang tidak terbatas. Akan tetapi sesuai dengan rahmat-Nya yang tidak berhingga, Dia
mengarahkan pikiran atau otak manusia kepada satu benda yang tertentu, hanya bilamana
timbul suatu keperluan yang
sesungguhnya akan benda itu, firman-Nya:
یَسۡـَٔلُہٗ مَنۡ
فِی السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ؕ کُلَّ
یَوۡمٍ ہُوَ فِیۡ شَاۡنٍ ﴿ۚ﴾
Kepada-Nya memohon segala yang
ada di seluruh langit dan bumi. Setiap hari Dia menampakkan sifat-Nya dalam keadaan yang berlainan. (Ar-Rahmān
[55]:30).
Untuk mempertahankan hidup dan memenuhi segala keperluannya,
sekalian makhluk bergantung pada Allah
Swt., Yang adalah Sang Pencipta, Pemberi rezeki, dan Pemelihara mereka. Sifat-sifat Ilahi tidak mengenal batas
atau hitungan, dan sifat-sifat itu
menjelmakan diri dalam berbagai cara
di sepanjang masa. Jadi, sungguh mustahil bagi manusia mengetahui sepenuhnya rahasia-rahasia
ciptaan Allah Swt. yang tidak terbatas tersebut, firman-Nya:
وَ اٰتٰىکُمۡ
مِّنۡ کُلِّ مَا سَاَلۡتُمُوۡہُ ؕ وَ اِنۡ تَعُدُّوۡا نِعۡمَتَ اللّٰہِ لَا
تُحۡصُوۡہَا ؕ اِنَّ الۡاِنۡسَانَ
لَظَلُوۡمٌ کَفَّارٌ ﴿٪﴾
Dan Dia telah memberikan kepada kamu segala
sesuatu apa yang kamu minta kepada-Nya, dan jika kamu menghitung nikmat-nikmat Allah, kamu
tidak akan dapat menghitung-nya, sesungguhnya manusia benar-benar sangat zalim, sangat tidak bersyukur. (Ibrahim
[14]:35). Lihat QS.16:19.
Kata-kata
“yang kamu minta kepada-Nya” menunjukkan kepada tuntutan-tuntutan fitrat manusa yang telah terpenuhi seluruhnya.
Allah Swt. telah menyediakan
bahan yang lengkap untuk
memenuhi segala hasrat dan keinginan fitrat manusia.
Pembukaan Khazanah
Ruhani Al-Quran Kepada Rasul
Akhir Zaman
Seperti halnya alam semesta kebendaan, demikian pula Al-Quran pun merupakan alam semesta keruhanian di mana
tersembunyi khazanah-khazanah ilmu
keruhanian yang dibukakan kepada
manusia sesuai dengan keperluan zaman,
yaitu melalui rasul Allah yang dijanjikan (QS.7:35-37), sebagaimana firman-Nya
kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
قُلۡ
اِنۡ اَدۡرِیۡۤ اَقَرِیۡبٌ مَّا تُوۡعَدُوۡنَ اَمۡ یَجۡعَلُ
لَہٗ رَبِّیۡۤ اَمَدًا ﴿﴾ عٰلِمُ
الۡغَیۡبِ فَلَا یُظۡہِرُ عَلٰی غَیۡبِہٖۤ اَحَدًا ﴿ۙ﴾ اِلَّا
مَنِ ارۡتَضٰی مِنۡ رَّسُوۡلٍ فَاِنَّہٗ یَسۡلُکُ مِنۡۢ بَیۡنِ یَدَیۡہِ وَ مِنۡ خَلۡفِہٖ رَصَدًا ﴿ۙ﴾ لِّیَعۡلَمَ اَنۡ قَدۡ
اَبۡلَغُوۡا رِسٰلٰتِ رَبِّہِمۡ وَ اَحَاطَ بِمَا لَدَیۡہِمۡ وَ اَحۡصٰی
کُلَّ شَیۡءٍ عَدَدًا ﴿٪﴾
Katakanlah: “Aku tidak mengetahui apakah yang dijanjikan kepada kamu itu telah dekat ataukah Rabb-ku (Tuhan-ku) telah menetapkan baginya
masa yang lama. Dia-lah Yang mengetahui yang gaib, maka Dia tidak menzahirkan rahasia gaib-Nya kepada siapa pun, kecuali
kepada Rasul yang Dia ridhai, maka
sesungguhnya barisan pengawal berjalan
di hadapannya dan di belakangnya,
supaya Dia mengetahui
bahwa sungguh mereka
telah menyam-paikan Amanat-amanat Rabb (Tuhan) mereka, dan Dia
meliputi semua yang ada pada mereka dan Dia membuat perhitungan mengenai segala sesuatu. (Al-Jin [72]:27-29).
Ungkapan, “izhhar ‘ala
al-ghaib” dalam ayat: عٰلِمُ الۡغَیۡبِ فَلَا یُظۡہِرُ عَلٰی
غَیۡبِہٖۤ اَحَدًا -- “Dia-lah Yang mengetahui yang gaib, maka Dia tidak menzahirkan rahasia gaib-Nya kepada siapa pun“ berarti diberi
pengetahuan dengan sering dan
secara berlimpah-limpah mengenai rahasia gaib bertalian dengan dan
mengenai peristiwa dan kejadian yang
sangat penting: اِلَّا مَنِ ارۡتَضٰی مِنۡ رَّسُوۡلٍ -- “kecuali
kepada Rasul yang Dia ridhai.“
Ayat ini merupakan ukuran yang tiada tara bandingannya guna
membedakan antara sifat dan jangkauan
rahasia-rahasia gaib yang dibukakan
kepada seorang rasul Tuhan dan rahasia-rahasia gaib yang dibukakan
kepada orang-orang mukmin muttaki
lainnya. Perbedaan itu letaknya pada kenyataan bahwa, kalau rasul-rasul Tuhan dianugerahi izhhar
‘ala al-ghaib -- “penguasaan atas
yang gaib” -- maka rahasia-rahasia yang diturunkan kepada orang-orang muttaki dan orang-orang
suci lainnya tidak menikmati kehormatan
serupa itu.
Tambahan pula wahyu Ilahi yang dianugerahkan kepada rasul-rasul Tuhan, karena ada dalam pemeliharaan-istimewa-Ilahi, keadaannya
aman dari pemutar-balikkan atau pemalsuan oleh jiwa-jiwa yang jahat, sedang rahasia-rahasia
yang dibukakan kepada orang-orang muttaki
lainnya tidak begitu terpelihara.
Makna Sepuluh Ayat Awal
Surah Al-Kahf & Peran Besar “Keledai
Pemakan Api”
Nabi Besar Muhammad saw. diriwayatkan telah bersabda bahwa
pembacaan sepuluh ayat pertama dan sepuluh ayat terakhir Surah Al-Kahf menjamin keselamatan
seseorang terhadap serangan-serangan
ruhani dari Dajjal. Hal itu
menunjukkan bahwa Al-Masih-Ad-Dajjal dan Ya’juj (Gog) - Ma’juj (Magog) adalah bangsa itu-itu juga, yaitu bangsa-bangsa Kristen dari barat. Kata Dajjal menggambarkan propaganda keagamanan mereka yang
membawa kemudaratan kepada Islam. sedang Ya’juj-Ma’juj menggambarkan kekuatan
dan kekuasaan mereka di bidang kebendaan dan politik.
Berbagai rahasia gaib yang baru dari Al-Quran –
termasuk hakikat surah Al-Kahf berkenaan
hubungan para penghuni gua (ashhabul-kahf) dengan Ya’juj (Gog) dan Ma’juj
(Magog) – telah dibukakan Allah Swt.
secara khusus kepada Mirza Ghulam Ahmad
a.s. sebagai Rasul Akhir Zaman yang kedatangannya ditunggu-tunggu
oleh semua umat beragama dengan nama yang berlainan (QS.77:12;
QS.62:3-4), termasuki makna dari gambaran kiasan mengenai Al-Masih
ad-Dajjal yang dikemukakan Nabi Besar Muhammad saw. dalam berbagai hadits.
Kembali kepada pembahasan Tanda-tanda Akhir Zaman dalam surah At-Takwīr, firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ
الرَّحِیۡمِ۪ۙ﴿﴾ اِذَا الشَّمۡسُ کُوِّرَتۡ ۪ۙ﴿﴾ وَ اِذَا
النُّجُوۡمُ انۡکَدَرَتۡ ۪ۙ﴿﴾ وَ
اِذَا الۡجِبَالُ سُیِّرَتۡ ۪ۙ﴿﴾ وَ اِذَا الۡعِشَارُ
عُطِّلَتۡ ۪ۙ﴿﴾ وَ اِذَا
الۡوُحُوۡشُ حُشِرَتۡ ۪ۙ﴿﴾ وَ اِذَا
الۡبِحَارُ سُجِّرَتۡ ۪ۙ﴿﴾ وَ اِذَا النُّفُوۡسُ زُوِّجَتۡ ۪ۙ﴿﴾ وَ اِذَا الۡمَوۡءٗدَۃُ
سُئِلَتۡ ۪ۙ﴿﴾ بِاَیِّ ذَنۡۢبٍ قُتِلَتۡ ۚ﴿﴾ وَ
اِذَا الصُّحُفُ نُشِرَتۡ ﴿۪ۙ﴾ وَ
اِذَا السَّمَآءُ کُشِطَتۡ ﴿۪ۙ﴾ وَ اِذَا الۡجَحِیۡمُ سُعِّرَتۡ
﴿۪ۙ﴾ وَ اِذَا
الۡجَنَّۃُ اُزۡلِفَتۡ ﴿۪ۙ﴾ عَلِمَتۡ نَفۡسٌ
مَّاۤ اَحۡضَرَتۡ ﴿ؕ﴾
Aku baca dengan nama Allah, Maha Pemurah,
Maha Penyayang. Apabila matahari
digulung, dan apabila bintang-bintang menjadi suram, dan apabila gunung-gunung digerakan, dan apabila unta-unta bunting sepuluh bulan
ditinggalkan, dan
apabila binatang-binatang liar
dikumpulkan, dan apabila lautan-lautan disalurkan,
dan apabila orang-orang dikumpulkan, dan apabila bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup akan ditanya, karena dosa
apakah ia dibunuh? Dan apabila buku-buku
akan disebar-luaskan, dan
apabila langit dibuka, dan apabila neraka dinyalakan, dan apabila surga didekatkan. Setiap jiwa akan mengetahui apa yang dihadirkan. (At-Takwīr [81]:1-14).
Setelah nubuatan mengenai akan ditinggalkannya unta-unta
bunting sepuluh bulan” -- sebagai
sarana transportasi kuno (tradisional)
karena digantikan fungsinya oleh keledai Dajjal yang makanannya api” hasil Revolusi
Industri bangsa-bangsa Kristen
dari Eropa pada 1750-1850 -- selanjutnya Allah Swt.
berfirman mengenai Tanda-tanda Akhir
Zaman lainnya: وَ اِذَا
الۡوُحُوۡشُ حُشِرَتۡ -- “dan
apabila binatang-binatang liar
dikumpulkan.“
Mengingat
berbagai arti akar kata husyira yang berbeda-beda (Lexicon Lane), maka ayat ini mengandung arti: ketika binatang-binatang akan dikumpulkan di kebun-kebun binatang, atau ketika bangsa-bangsa terbelakang akan disuruh
tinggal di dalam kelompok-kelompok
masyarakat yang bertata-tertib;
atau, ketika mereka akan dipaksa
meninggalkan kampung halaman mereka.
Meningkatnya Peran Kaum Perempuan
Ayat وَ
اِذَا الۡبِحَارُ سُجِّرَتۡ -- “dan apabila lautan-lautan disalurkan” ini berarti; ketika sungai-sungai akan dibendung dan disalurkan untuk keperluan irigasi atau tujuan-tujuan lain; atau,
ketika di dalam pertempuran-pertempuran laut kapal-kapal besar akan terbakar, sehingga akan nampak seolah-olah
laut dimakan api; atau samudera-samudera
raya akan dihubungkan melalui terusan-terusan;
atau, ketika penduduk daerah akan
mengalir ke kota-kota sehingga kota-kota penuh sesak dengan penduduk
melimpah
Kata sujjira, mengandung
semua arti tersebut (Lexicon Lane).
Semua peristiwa tersebut melibatkan peran-serta kemajuan iptek
(ilmu pengetahuan dan teknologi) sebab mustahil membuat “Terusan Suez” dan “terusan Panama” serta membuat bendung-bendung raksasa
jika hanya mengandalkan alat-alat
tradisional belaka.
Makna ayat selanjutnya:
وَ اِذَا النُّفُوۡسُ زُوِّجَتۡ -- “dan apabila orang-orang dikumpulkan” yaitu ketika sarana-sarana
pengangkutan (transportasi) dan komunikasi
akan berkembang pesat demikian rupa, serta hubungan
antar bangsa yang mendiami negeri-negeri jauh akan menjadi demikian mudah dan lancar sehingga membuat mereka bersatu
menjadi satu bangsa. Ayat ini
mengandung pula arti bahwa orang-orang yang mempunyai pandangan-pandangan sama mengenai kemasyarakatan atau politik
akan menggabungkan diri dalam wadah partai-partai.
Makna ayat: وَ
اِذَا الۡمَوۡءٗدَۃُ سُئِلَتۡ -- “dan apabila bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup akan ditanya.“ Penguburan
atau pembakaran hidup-hidup bayi-bayi perempuan akan dianggap
sebagai kejahatan besar, terutama di
kalangan bangsa Arab jahiliyah yang menganggap
kelahiran bayi-bayi perempuan
dianggap merupakan noda (aib) bagi
keluarga, sehingga setelah lahir akan dikubur hidup-hidup (QS.16:58-61; QS.43:17-18):
بِاَیِّ
ذَنۡۢبٍ قُتِلَتۡ -- “karena
dosa apakah ia dibunuh.“
Di Akhir Zaman ini tidak sedikit para perempuan yang
menduduki berbagai posisi strategis, baik di pemerintahan, di perusahaan, dalam bidang iptek (ilmu
pengetahuan dan teknologi), maupun dalam dunia
militer, bahkan banyak yang menjadi Kepala Negara (Presiden) dan Kepala pemerintahan (Perdana Menteri).
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran
Anyar, 4 Maret 2017
Tidak ada komentar:
Posting Komentar