Selasa, 14 Maret 2017

Peran "Fadhal Ilahi" (Karunia Ilahi) Dalam Penganugerahan "Makrifat Ilahi" & Hubungan "Pemberi Syafaat" Hakiki Yakni "Rasul Allah" Dengan Penganugerahan "Najat" (Keselamatan)





Bismillaahirrahmaanirrahiim

  ISLAM
Pidato  Mirza Ghulam Ahmad a.s.
Tgl. 2 November 1904 di Kota Sialkote – Hindustan

Bab  39

PERAN  FADHAL ILAHI ( KARUNIA ILAHI)  DALAM  PENGANUGERAHAN  MAKRIFAT ILAHI   HUBUNGAN   PEMBERI SYAFAAT HAKIKI YAKNI RASUL ALLAH   DENGAN PENGANUGERAHAN  NAJAT (KESELAMATAN)

Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam bagian akhir Bab  sebelumnya telah dijelaskan  topik  Pengulangan Fitnah Terhadap Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.  & Terhindar dari Kematian Terkutuk di Tiang Salib. Sehubungan dengan topik tersebut Masih Mau’ud a.s. menjelaskan:
    “Orang-orang yang melawan mengatakan bahwa saya ini sebagai yang terlaknat dan tidak beriman. Sebenarnya perkataan semacam inilah jugalah yang diucapkan terhadap Nabi Isa a.s. yang dulu dan sampai sekarang pun orang-orang Yahudi yang buruk perangainya terus menerus mengatakan demikian. Tetapi orang-orang yang dimasukkan dalam neraka pada Hari Kiamat mereka akan mengatakan begini: مَا لَنَا لَا نَرٰی رِجَالًا کُنَّا نَعُدُّہُمۡ مِّنَ الۡاَشۡرَارِ   --  “apakah sebabnya kita tidak melihat orang-orang yang kita anggap mereka termasuk orang-orang jahat?” – QS.38:62). Yakni  “Apakah yang terjadi kepada kita bahwa kita tidak melihat dalam neraka  ini orang-orang yang kita anggap jahat?”
    Dunia senantiasa memusuhi utusan-utusan Allah Swt. karena cinta kepada keduniaan dan cinta kepada utusan-utusan Allah sama sekali tidak dapat dikumpulkan dalam satu tempat. Kalau kalian tidak cinta  kepada keduniaan maka kalian akan dapat melihat saya, tetapi karena cinta kepada keduniaan maka sekarang kalian tidak dapat melihat saya.
         Kalau benar bahwa arti  بَلۡ رَّفَعَہُ اللّٰہُ اِلَیۡہِ   bahwa   Nabi Isa a.s. telah diangkat ke atas langit kedua maka harus dibuktikan pula ayat lain yang memberi keputusan tentang perkara yang harus diputuskan itu. Orang-orang Yahudi yang sampai sekarang masih hidup pun menolak rafa’a ilallāh  (pengangkatan kepada Allah) Nabi Isa a.s. dalam arti bahwa – Na’udzubillāh – beliau bukan seorang mukmin yang shadiq (benar) maka ruh beliau tidak memperoleh rafa’a ilallāh.
        Jika ada keraguan hal ini dapat ditanyakan kepada ulama Yahudi, mereka sama sekali tidak berpendapat bahwa orang yang mati di atas kayu salib maka ruh serta badannya tidak  dapat naik  ke atas langit, melainkan mereka sepakat mengatakan bahwa orang yang mati di atas kayu salib adalah mal’un (orang yang terlaknat) adanya, dan ia tidak mendapat rafa’a ilallāh  (pengangkatan kepada Allah).

Marham Isa” (Salep Isa) Bukti Terhindarnya Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. Dari Kematian Terkutuk  Di  Tiang  Salib

          Oleh karena itu Allah Swt. menerangkan dalam Al-Quran bahwa Nabi Isa a.s. tidak mati di atas kayu salib, firman-Nya adalah:   وَ مَا قَتَلُوۡہُ وَ مَا صَلَبُوۡہُ وَ لٰکِنۡ شُبِّہَ لَہُمۡ    --  “padahal mereka tidak membunuhnya secara biasa dan tidak pula mematikannya melalui penyaliban  akan tetapi ia disamarkan.” Dalam ayat ini  perkataan  صَلَبُوۡہُ     (menyalibnya) ditambah lagi dengan قَتَلُوۡہُ   (membunuhnya) supaya  menyatakan bahwa hanya sekedar dinaikkan (dipakukan) pada kayu salib  tidak mendatangkan laknat, melainkan dengan syarat bahwa sesudah dinaikkan di atas kayu salib lalu dengan niat qatal (membunuh) dipatahkan pula kedua kali dan kedua tangannya  dan juga dipukul maka barulah kematian seperti itu akan dikatakan kematian mal’un (terlaknat).
       Tetapi Allah Swt. telah memelihara Nabi Isa a.s. dari kematian semacam itu, karena walau pun benar beliau a.s. dinaikkan  ke atas kayu salib (disalib) tetapi beliau a.s. tidak mati karena disalib.  Namun orang-orang Yahudi merasa ragu bahwa   beliau a.s. benar-benar mati di atas kayu salib.
        Orang-orang Nasrani pun merasakan keraguan seperti itu juga, hanya saja mereka berpendirian bahwa sesudah mati beliau a.s. hidup kembali, padahal sebenarnya beliau hanya  pingsan karena kesakitan yang dideritanya di atas kayu salib, dan perkataan (disamarkan kepada mereka/mereka menjadi ragu) dan inilah yang dimaksud dengan    syubbiha lahum.
          Satu Kesaksian yang paling mengherankan mengenai kejadian ini ialah satu resep berupa  marham Isa (zalf Isa) yang sudah beratus-ratus tahun senantiasa dicantumkan dalam buku-buku obat orang-orang Ibrani, Romawi, Yunani dan orang-orang Islam juga, dengan keterangan bahwa resep ini  dulu untuk mengobati luka-luka Nabi Isa a.s..
          Pendek kata,  pikiran ini sangat  memalukan jika Allah Swt. telah mengangkat Nabi Isa a.s. dengan jasad kasarnya ke langit, seperti seolah-olah Dia takut oleh orang-orang Yahudi supaya  mereka jangan dapat menangkapnya. Orang-orang yang tidak mengerti kepada  pokok perkara yang harus diputuskan, mereka itulah yang menyiarkan pikiran-pikiran semacam itu.

Menghina” Kekuasaan Allah Swt. dan Kesempurnaan Nabi Besar Muhammad Saw.

        Lagi pula pikiran tersebut sangat menghina Nabi Muhammad saw., karena orang-orang kafir Quraisy dengan berulang-ulang telah minta mukjizat supaya beliau saw. naik ke langit di hadapan mata mereka lalu mereka akan beriman kepada beliau saw., tetapi tuntutan mereka dijawab:   قُلۡ سُبۡحَانَ رَبِّیۡ  ہَلۡ کُنۡتُ  اِلَّا بَشَرًا رَّسُوۡلًا   -- Katakanlah, “Maha Suci Rabb-ku (Tuhan-ku), tidaklah aku melainkan seorang manusia dan rasul” – QS.17:94).  Yakni “saya  hanyalah manusia dan Allah Swt. adalah suci dan tidak akan melanggar perjanjian-Nya dengan mengangkat manusia ke langit”, karena Dia telah menjanjikan bahwa semua manusia akan hidup hanya  di bumi ini, lalu bagaimanakan Dia akan mengangkat Nabi Isa a.s. dengan jasad  kasarnya ke langit dengan tidak mempedulikan   perjanjian-Nya: فِیۡہَا تَحۡیَوۡنَ وَ فِیۡہَا تَمُوۡتُوۡنَ وَ مِنۡہَا  تُخۡرَجُوۡنَ     (di bumi inilah kamu akan hidup dan di bumi inilah kamu akan mati dan darinya kamu akan dikeluarkan pula – QS.7:26).
     Ada pun sebagian orang-orang yang berpendapat bahwa mereka tidak  perlu mempercayai (beriman) kepada Masih Mau’ud. Mereka mengatakan pula, “Baiklah kami menerima bahwa Nabi Isa a.s. telah wafat, tetapi jika kami adalah orang Islam yang mengerjakan shalat dan puasa  serta  mengikuti perintah-perintah Islam, lalu apakah perlunya kami mesti mempercayai (beriman) kepada orang lain?”
      Tetapi harus diperhatikan bahwa orang-orang semacam  itu dalam kesalahan besar. Pertama, bagaimanakah mereka dapat mengaku diri   Islam (Muslim) jika mereka tidak mengikuti perintah Allah Swt. dan Rasul-Nya? Perintah Allah Swt. dan Rasul-Nya menyatakan bahwa apabila Imam Mau’ud (Imam yang dijanjikan)  telah datang maka kalian dengan segara harus menghadap kepadanya, sekali pun dengan merangkak di atas gunung es kalian harus menemuinya. Tetapi berlawanan dengan perintah Ilahi tersebut sekarang mereka tidak mempedulikan  Imam Mau’ud itu, apakah inilah yang dikatakan Islam (Muslim) (orang Islam) dan ke-Islam-an?
        Bukan hanya begitu saja, malah Masih Mau’ud itu dicaci-maki dengan perkataan yang kotor-kotor serta dinamakan kafir dan dajjal.  Bahkan orang-orang melawan dan menyusahkan saya dengan anggapan bahwa mereka mendapat pahala besar, dan mereka mendustakan saya dengan anggapan bahwa Allah akan senang terhadap mereka.
     Hai orang-orang yang telah diberi pelajaran untuk sabar dan takwa,  mengapa kalian tergesa-gesa dan berprasangka? Tanda manakah yang tidak diperlihatkan oleh Allah Swt.  dan keterangan manakah yang tidak dikemukakan oleh-Nya?   Tetapi kalian tidak menerimanya dan  dengan berani menolak hukum-hukum Allah Swt.. Dengan siapa  saya mesti mengumpamakan tukang helah dan makar zaman sekarang?
       Mereka adalah seperti seorang pengicu yang menutup matanya di waktu siang hari yang terang benderang dengan mengatakan, “Dimanakah matahari?” Hai orang-orang yang menipu diri sendiri, terlebih dulu bukalah mata sendiri kemudian barulah kalian akan melihat matahari.”

Pentingnya   fadhal (Karunia) Ilahi   Untuk Memperoleh Makrifat  Ilahi yang Hakiki

      Mengatakan kafir kepada seorang rasul Allah adalah mudah, tetapi mengikutinya dalam jalan-jalan yang halus keimanan adalah musykil. Menyebut seorang utusan Allah dajjal adalah mudah, tetapi masuk dalam pintu yang sempit sesuai ajarannya adalah sukar.
     Tiap-tiap orang yang mengatakan bahwa ia tidak menghiraukan Masih Mau’ud sebenarnya ia tidak menghiraukan keimanannya sendiri, orang-orang semacam itu tidak menghargai iman, najat (keselamatan) dan kesucian yang sebenarnya. Kalau mereka menggunakan sifat keadilan dan mempelajari keadaan batin mereka sendiri barulah mereka akan mengetahui bahwa kecuali keyakinan yang baru dan hidup  -- yang turun dari langit dengan perantaraan para nabi dan para rasul-Nya   -- maka   shalat mereka hanya menyerupai suatu adat kebiasaan saja, dan puasa-puasa mereka pun hanyalah berlapar belaka.
     Sebenarnya seseorang tidak adan dapat lepas dari dosa dengan sebenarnya dan tidak akan memperoleh kecintaan  Ilahi yang sejati, dan tidak bertakwa kepada Allah dengan semestinya, sebelum mendapat makrifat Ilahi (pengetahuan Ilahi) dengan fadhal-Nya (karunia-Nya) serta taufik dari-Nya.
      Hal ini jelas sekali bahwa tiap-tiap ketakutan dan kecintaan  kan timbul karena makrifat juga. Barang-barang di dunia ini ada yang dicintai manusia dan ada pula yang ditakuti manusia, semua keadaan ini akan timbul dalam batin manusia sesudah makrifat juga.
      Memang sebenarnya tidak dapat diperoleh makrifat sebelum ada fadhal (karunia) dari Allah Swt., dan tidak akan mendapat manfaat pula kalau tidak ada fadhal dari-Nya. Makrifat akan datang dengan perantaraan fadhal (karunia), kemudian dengan perantaraan makrifat akan terbukalah suatu pintu untuk menyelidiki dan menyaksikan kebenaran dan haq, lagi pula hanya dengan berulang-ulang datangnya fadhal sajalah pintu akan senantiasa terbuka dan tidak akan tertutup.
       Pendek kata, makrifat akan diberikan dengan perantaraan fadhal dan akan kekal dengan perantaraan fadhal juga. Hanya fadhal yang membersihkan dan menerangi makrifat, membukakan segala tutup yang menghalangi, menjauhkan debu dan kotoran nafsu ammarah dan memberikan kehidupan serta kekuatan pada ruh. Maka fadhal pula yang melepaskan nafsu ammarah dari ikatan kemarahannya, membersihkan dari kekotoran kehendak yang jahat, dan mengeluarkan arus yang keras dari perasaan  kenafsuan, kemudian barulah timbul satu perubahan dalam batin manusia, lantas dengan sendirinya ia jemu dan benci kepada kehidupan yang kotor.”
        
Pentingnya  Peran Syafa’at  Rasul Allah  Untuk Memperoleh Makrifat  Ilahi yang Hakiki

     Walau pun benar  Allah Swt. adalah Tuhan  Yang Maha Kuasa yang berkuasa melaksanakan kalimat “Kun fayakun  (“Jadilah!” maka terjadilah – QS.2:118)  dalam makna harfiah, namun dalam kenyataannya hukum penciptaan  yang berlaku di alam semesta jasmani atau dalam kehidupan di dunia ini  bukanlah berdasarkan ayat “Kun fayakun  (“Jadilah!” maka terjadilah)   dalam makna harfiah melainkan berdasarkan  Sifat Rabubiyyah  Allah Swt., firman-Nya:  “Segala  puji hanya bagi  Allah, Rabb (Tuhan) seluruh alam  (Al-Fatihah [1]:2).
     Kata kerja rabba dalam kalimat  Rabb (Tuhan) seluruh alam” berarti: ia mengelola urusan itu; ia memperbanyak, mengembangkan, memperbaiki, dan melengkapkan urusan itu; ia memelihara dan menjaga. Jadi Rabb berarti: (a) Tuhan, Yang Dipertuan, Khāliq (Yang menciptakan); (b) Wujud Yang memelihara dan mengembangkan; (c) Wujud Yang menyempurnakan, dengan cara setingkat demi setingkat (Mufradat dan Lexicon Lane). Dan jika dipakai dalam rangkaian dengan kata lain, kata itu dapat dipakai untuk orang atau wujud selain Allah Swt., contohnya Nabi Yusuf a.s. menyebut raja Mesir  dengan sebutan rabb (QS.12:51).
         Karena  alam semesta jasmani ini diciptakan merupakan rangkaian hukum sebab-akibat berdasarkan Sifat Rabubiyyat  Allah Swt. itulah sebabnya dalam rangka terkabulkan   doa  yang dipanjatkan kepada   Allah Swt. pun Dia telah mendahulukan masalah sabar sebelum  kata shalat (doa), firman-Nya:
یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوا اسۡتَعِیۡنُوۡا بِالصَّبۡرِ وَ الصَّلٰوۃِ ؕ اِنَّ اللّٰہَ مَعَ الصّٰبِرِیۡنَ ﴿﴾
Hai orang-orang yang beriman,  mohonlah pertolongan dengan sabar  dan shalat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.  (Al-Baqarah [2]:154)
       Shabr (sabar) berarti: (1) tekun dalam menjalankan sesuatu; (2) memikul kemalangan dengan ketabahan dan tanpa berkeluh-kesah; (3) berpegang teguh kepada syariat dan petunjuk akal; (4) menjauhi perbuatan yang dilarang oleh syariat dan akal  (Al-Mufradat).
       Ayat ini mengandung satu asas yang sangat hebat   untuk mencapai keberhasilan:
       Pertama, seorang Muslim harus tekun dalam usahanya dan sedikit pun tidak boleh berputus asa. Di samping itu ia harus menjauhi apa-apa yang berbahaya dan berpegang teguh kepada segala hal yang baik.
        Kedua, ia hendaknya mendoa kepada  Allah Swt.  untuk keberhasilan, sebab hanya Allah Swt.     sajalah Sumber segala kebaikan.
      Kata shabr (sabar) mendahului kata shalat dalam ayat ini dengan maksud untuk menekankan pentingnya melaksanakan hukum Ilahi yang terkadang diremehkan karena tidak mengetahui. Lazimnya doa akan terkabul hanya bila didampingi oleh penggunaan segala sarana yang dijadikan  Allah Swt.  untuk mencapai sesuatu tujuan.
         Contohnya,  kalau sepasang suami-istri yang baru menikah  memohon kepada Allah Swt.  bahwa setelah keduanya “bercampur” kemudian pada pagi harinya istrinya akan melahirkan anak maka sampai kapan pun permohonannya tersebut tidak akan dikabulkan Allah Swt., sebab Allah Swt. berdasarkan Sifat Rabubiyyat-Nya telah menentukan bahwa umumnya proses terciptanya bayi dalam rahim ibu  adalah selama 9 bulan 10 hari.

Pentingnya Peran “Sarana Perantara” & Peran Malaikat Jibril a.s.

      Begitu juga Allah Swt. telah menetapkan bahwa untuk berfungsinya indera-inderia pendengaran dan penglihatan manusia memerlukan sarana pengantar yaitu cahaya dan udara. Demikian juga  dalam hukum ruhani  tanpa adanya sarana perantara – dalam hal ini  Ruhulqudus (Malaikat Jibril a.s.) dan Rasul Allah  --  tidak akan ada seorang manusia pun yang akan memperoleh makrifat Ilahi  serta maraih kemajuan dalam perkembangan akhlak dan ruhaninya.
       Jadi, betapa ruginya orang-orang yang “memusuhi” Malaikat Jibril a.s. dan “memusuhi”  -- yakni mendustakan dan menentang  -- para rasul Allah yang kedatangannya dijanjikan  Allah Swt. dari kalangan Bani Adam (QS.7:35-37),  firman-Nya:
قُلۡ مَنۡ کَانَ عَدُوًّا لِّجِبۡرِیۡلَ فَاِنَّہٗ نَزَّلَہٗ عَلٰی قَلۡبِکَ بِاِذۡنِ اللّٰہِ مُصَدِّقًا لِّمَا بَیۡنَ یَدَیۡہِ وَ ہُدًی وَّ بُشۡرٰی لِلۡمُؤۡمِنِیۡنَ ﴿﴾مَنۡ کَانَ عَدُوًّا  لِّلّٰہِ وَ مَلٰٓئِکَتِہٖ وَ رُسُلِہٖ وَ جِبۡرِیۡلَ وَ مِیۡکٰىلَ فَاِنَّ اللّٰہَ عَدُوٌّ  لِّلۡکٰفِرِیۡنَ ﴿﴾وَ لَقَدۡ اَنۡزَلۡنَاۤ اِلَیۡکَ اٰیٰتٍۭ بَیِّنٰتٍ ۚ وَ مَا یَکۡفُرُ بِہَاۤ  اِلَّا الۡفٰسِقُوۡنَ ﴿﴾ وَ لَقَدۡ اَنۡزَلۡنَاۤ اِلَیۡکَ اٰیٰتٍۭ بَیِّنٰتٍ ۚ وَ مَا یَکۡفُرُ بِہَاۤ  اِلَّا الۡفٰسِقُوۡنَ ﴿﴾
Katakanlah: “Barangsiapa menjadi musuh Jibril”,   karena sesungguhnya dialah yang  menurunkannya ke dalam hati engkau dengan  izin Allah  menggenapi Kalam yang ada sebelumnya, sebagai petunjuk dan kabar gembira bagi orang-orang yang beriman.    Barangsiapa menjadi musuh bagi Allah, malaikat-malaikat-Nya, rasul-rasul-Nya, Jibril dan Mikail,  maka sesungguhnya Allāh pun men-jadi musuh bagi orang-orang kafir.”   Dan   sungguh  Kami benar-benar telah menurunkan Tanda-tanda yang nyata kepada engkau,  dan sekali-kali tidak ada yang  kafir kepadanya kecuali orang-orang fasik.  Apakah patut   setiap kali mereka membuat janji, segolongan dari mereka membuangnya? Bahkan kebanyakan dari mereka tidak beriman. (Al-Baqarah [2]:98-100).
        Jibril itu kata majemuk dari jabr dan il, dan berarti, orang-Tuhan yang gagah berani, atau abdi-Allāh. Jabr yang dalam bahasa Ibrani geber berarti, khadim; dan il berarti, yang gagah-perkasa, kuat (Hebrew English-Lexicon) oleh William Geseneus; (Bukhari, bab Tafsir; dan Aqrab-ul-Mawarid).
      Menurut Ibn ‘Abbas nama lain dari malaikat Jibril a.s. ialah ‘Abdullah (Tafsir Ibnu Jarir).   Malaikat Jibril  a.s. sebagai penghulu di antara para malaikat (Durr Mantsur) itu adalah pembawa wahyu Al-Quran.  Menurut para ahli tafsir Al-Quran Malaikat Jibril  a.s. itu searti dengan Rūhulqudus  (QS.2:88;QS.16:103) dan Rūhul-Amīn (QS.26:193-197).
       Menurut Bible pun tugas Malaikat Jibril a.s.  adalah menyampaikan Amanat Tuhan kepada hamba-hamba-Nya (Dan. 8:16; 9:21 dan Lukas 1:19).  Al-Quran, seperti ditegaskan oleh ayat ini, menetapkan tugas yang sama kepada Malaikat Jibril a.s. (QS.42:52-54). Tetapi dalam tulisan-tulisan Yahudi masa kemudian ia dilukiskan sebagai “malaikat api dan guntur” (Encyclopaedia Biblica pada Gabriel). Pada zaman Nabi Besar Muhammad saw.  orang-orang Yahudi menganggap malaikat Jibril a.s. sebagai musuh dan sebagai malaikat peperangan, malapetaka, dan penderitaan (Tafsir Ibnu Jarir dan Musnad Ahmad bin Hanbal).
          Mikal (Mikail) pun salah  satu dari penghulu malaikat. Kata itu dipandang sebagai paduan dari mik dan il, yang berarti “siapa yang seperti Tuhan”, artinya tiada sesuatu seperti Tuhan (Yewish  Encyclopaedia dan Bukhari). Orang-orang Yahudi memandang Mikail sebagai malaikat yang paling mereka sukai (Yewish Encyclopaedia), dan sebagai malaikat keamanan serta kelimpahan, hujan dan tumbuh-tumbuhan (Tafsir Ibnu Katsir) dan dianggap mempunyai pertalian terutama dengan pekerjaan pemeliharaan dunia.
         Malaikat-malaikat merupakan mata rantai penting dalam silsilah keruhanian dan barangsiapa memutuskan sekali pun hanya satu mata rantai ruhani atau menampakkan maksud buruk terhadap salah satu unit tatanan ruhani itu, pada hakikatnya  ia memutuskan perhubungannya dengan seluruh tatanan itu. Seorang yang demikian memahrumkan (meluputkan) diri dari rahmat dan karunia Ilahi  yang dianugerahkan kepada hamba-hamba Allah yang benar, dan menjadikan dirinya layak menerima siksaan yang ditetapkan bagi pelanggar-pelanggar.

Pemberi Syafaat yang Mendapat Izin Allah Swt.

         Dengan  demikian betapa  pentingnya peran Malaikat Jibril a.s. atau  Ruhulqudus (QS.2:88;QS.16:103) atau Ruhul Amin (QS.26:193-198) dan rasul Allah  bagi  diraihnya makrifat Ilahi dan kemajuan akhlak dan ruhani manusia, karena keduanya berperan  sebagai  pemberi syafaat  yang mendapat izin dari Allah Swt., firman-Nya:
اَللّٰہُ لَاۤ اِلٰہَ اِلَّا ہُوَۚ اَلۡحَیُّ الۡقَیُّوۡمُ ۬ۚ لَا تَاۡخُذُہٗ سِنَۃٌ وَّ لَا نَوۡمٌ ؕ لَہٗ مَا فِی السَّمٰوٰتِ وَ مَا فِی الۡاَرۡضِ ؕ مَنۡ ذَا الَّذِیۡ یَشۡفَعُ  عِنۡدَہٗۤ  اِلَّا بِاِذۡنِہٖ ؕ یَعۡلَمُ مَا بَیۡنَ اَیۡدِیۡہِمۡ وَ مَا خَلۡفَہُمۡ  ۚ وَ لَا یُحِیۡطُوۡنَ بِشَیۡءٍ مِّنۡ عِلۡمِہٖۤ اِلَّا بِمَا شَآءَ ۚ وَسِعَ کُرۡسِیُّہُ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضَ ۚ وَ لَا یَـُٔوۡدُہٗ حِفۡظُہُمَا ۚ وَ ہُوَ الۡعَلِیُّ  الۡعَظِیۡمُ ﴿﴾
Allah, tidak ada Tuhan kecuali Dia   Yang Maha Hidup, Yang  Maha Tegak atas Dzat-Nya Sendiri dan Penegak segala sesuatu. Kantuk tidak menyentuh-Nya dan tidak pula tidur. Milik-Nya apa pun yang ada di seluruh langit dan apa pun  yang ada di bumi. مَنۡ ذَا الَّذِیۡ یَشۡفَعُ  عِنۡدَہٗۤ  اِلَّا بِاِذۡنِہٖ  --   Siapakah yang dapat memberi syafaat di hadirat-Nya kecuali dengan izin-Nya?  Dia me-ngetahui apa pun yang ada di hadapan mereka dan apa pun di belakang mereka, dan mereka tidak meliputi se-suatu dari ilmu-Nya kecuali apa yang Dia kehendaki.  Singgasana ilmu-Nya meliputi seluruh langit dan bumi,  dan tidak memberatkan-Nya menjaga keduanya, dan Dia Maha Tinggi, Maha Agung. (Al-Baqarah [2]:256). Lihat pula  QS.20:109-112; QS.21:26-30; QS,79:39                   
        Jadi, orang-orang yang bersikap “memusuhi” malaikat Jibril a.s. (Ruhulqudus) dan rasul Allah  -- dengan mengatakan bahwa penurunan rangkaian  semua jenis wahyu Ilahi dan pengutusan semua jenis   rasul Allah telah tertutup rapat dengan  pengutusan Nabi Besar Muhammad  saw. (QS.40:35-36; QS.72:8)  -- sama dengan   menolak untuk memperoleh  syafaat, padahal Allah Swt. dalam ayat sebelumnya telah berfirman mengenai pentingnya keberadaan syafaat tersebut  bagi meraih makrifat Ilahi dan bagi kemanjuan akhlak dan ruhani manusia, firman-Nya:
یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡۤا اَنۡفِقُوۡا مِمَّا رَزَقۡنٰکُمۡ مِّنۡ قَبۡلِ اَنۡ یَّاۡتِیَ یَوۡمٌ لَّا بَیۡعٌ فِیۡہِ وَ لَا خُلَّۃٌ وَّ لَا شَفَاعَۃٌ ؕ وَ الۡکٰفِرُوۡنَ ہُمُ  الظّٰلِمُوۡنَ ﴿﴾
Hai orang-orang yang beriman,  belanjakanlah apa yang telah Kami rezekikan kepada kamu sebelum datang hari yang tidak ada jual-beli  di dalamnya, dan  tidak ada   persahabatan, dan  tidak pula syafaat,  dan orang-orang yang kafir  mereka itulah orang-orang  zalim. (Al-Baqarah [2]:255).

Kisah Monumental “Dua Anak Adam” yang Melakukan Pengorbanan  &  Syarat-syarat Pemberian Syafaat

        Pada “hari itu” keselamatan tidak akan diperoleh dengan “jual-beli”   -- yakni “pengorbanan harta” sebab keselamatan akan bergantung hanya pada amal saleh seseorang dan diiringi oleh rahmat  Allah Swt., yang sangat erat hubungannya dengan  beriman kepada rasul Allah yang kedatangannya dijanjikan (QS.7:35-37).  Demikian pula  menurut Allah Swt. “pada hari itu” tidak akan ada kesempatan untuk mengadakan persahabatan baru dengan Allah Swt. – sekali pun  berbagai bentuk  ritual keagamaan serta  pengorbanan harta dan jiwa tetap dilaksanakan  oleh umat beragama, yang diabadikan dalam kisah monumental dua anak Adam yang sama-sama memberikan pengorbanan  tetapi hanya  seorang yang pengorbanannya dikabulkan Allah Swt, yang lainnya ditolak (QS.5:28-35).
    Ada pun makna syafaat dalam   kalimat وَّ لَا شَفَاعَۃٌ   -- “dan  tidak pula syafaat” Allah Swt. berfirman mengenai Bani Israil:
یٰبَنِیۡۤ  اِسۡرَآءِیۡلَ اذۡکُرُوۡا نِعۡمَتِیَ الَّتِیۡۤ اَنۡعَمۡتُ عَلَیۡکُمۡ وَ اَنِّیۡ فَضَّلۡتُکُمۡ عَلَی الۡعٰلَمِیۡنَ ﴿﴾وَ اتَّقُوۡا یَوۡمًا لَّا تَجۡزِیۡ نَفۡسٌ عَنۡ نَّفۡسٍ شَیۡئًا وَّ لَا یُقۡبَلُ مِنۡہَا شَفَاعَۃٌ وَّ لَا یُؤۡخَذُ مِنۡہَا عَدۡلٌ وَّ لَا ہُمۡ یُنۡصَرُوۡنَ ﴿﴾
Hai Bani Israil,  ingatlah nikmat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepada kamu dan bahwa   Aku  telah memuliakan kamu atas seluruh bangsa.  Dan takutlah hari itu ketika   suatu jiwa tidak dapat menggantikan jiwa yang lainnya sedikit pun dan  tidak akan diterima untuknya  syafaat,  dan tidak akan diambil suatu te-busan  darinya dan tidak pula mereka akan ditolong. (Al-Baqarah [2]:48-49).
     Syafā’ah (syafaat) diserap dari syafa’a yang berarti: ia memberikan sesuatu yang mandiri bersama yang lainnya; menggabungkan sesuatu dengan sesamanya (Al-Mufradat). Jadi kata itu mempunyai arti kesamaan atau persamaan,   kata itu juga berarti menjadi perantara atau mendoa untuk seseorang agar orang itu diberi karunia dan dosa-dosanya dimaafkan karena ia mempunyai perhubungan dengan si perantara (pemberi syafaat).
    Hal ini mengandung pula arti bahwa yang mengajukan permohonan  adalah orang yang mempunyai kedudukan lebih tinggi daripada orang yang diperjuangkan nasibnya, dan pula mempunyai perhubungan yang mendalam dengan orang yang baginya ia menjadi perantara (Al-Mufradat dan Lisan-ul-‘Arab).  Syafā’ah (perantaraan) ditentukan oleh syarat-syarat berikut:
 (1) pemberi  syafaat  harus mempunyai perhubungan istimewa dengan orang yang baginya ia mau menjadi perantara dan menikmati kebaikan hatinya yang istimewa, sebab tanpa perhubungan demikian ia tidak akan berani memberikan  syafaat dan tidak pula syafaatnya  akan berhasil;
 (2) orang yang diperantarai (yang diberi syafaat) harus mempunyai perhubungan yang sejati dan nyata dengan pemberi syafaat itu, sebab  tidak ada yang orang mau memperantarai seseorang sekiranya yang diperantarai itu tidak mempunyai perhubungan sungguh-sungguh dengan perantara itu;
(3) orang yang meminta syafaat pada umumnya harus orang baik dan telah berusaha sungguh-sungguh untuk mendapatkan ridha Ilahi (QS.21:29), hanya telah terjatuh ke dalam kancah dosa pada saat ia dikuasai kelemahan;
  (4) syafaat itu hanya dapat dilakukan dengan izin khusus dari Allāh Swt. (QS.2:256; QS.10:4).

Kehatian-hatian Pemberian Syafaat

Syafaat sebagaimana  dipahami oleh Islam, pada hakikatnya hanya merupakan bentuk lain dari permohonan pengampunan, sebab taubat (mohon pengampunan) berarti memperbaiki kembali perhubungan yang terputus atau mengencangkan apa yang sudah longgar. Maka jika pintu taubat tertutup oleh kematian, pintu syafaat tetap terbuka.
Tambahan pula syafaat  adalah suatu cara untuk menjelmakan kasih-sayang Allah Swt.   dan karena Allah Swt.  bukanlah  hakim, melainkan Mālik (Pemilik dan Majikan), maka tidak ada yang dapat mencegah Dia dari memperlihatkan kasih-sayang-Nya kepada siapa pun yang dikehendaki-Nya.
   Dengan demikian jelaslah bahwa yang tetap berlangsung di dalam kehidupan di dunia dan di alam akhirat adalah pemberian syafaat  oleh Rasul Allah  -- terutama Nabi Besar Muhammad saw – dan  ajaran “penebusan dosa” melalui kematian terkutuk Nabi isa Ibnu Maryam a.s. di tiang salib  -- benar-benar sangat menghinakan  kesempurnaan Sifat-sifat Allah Swt., Tuhan Yang Maha Pengampun, firman-Nya: 
مَنۡ یَّشۡفَعۡ شَفَاعَۃً حَسَنَۃً یَّکُنۡ لَّہٗ نَصِیۡبٌ مِّنۡہَا ۚ وَ مَنۡ یَّشۡفَعۡ شَفَاعَۃً سَیِّئَۃً یَّکُنۡ لَّہٗ کِفۡلٌ مِّنۡہَا ؕ وَ کَانَ اللّٰہُ  عَلٰی کُلِّ  شَیۡءٍ  مُّقِیۡتًا ﴿﴾
Barangsiapa memberi syafaat yang baik,  bagi dia  pasti  ada bagian yang ditentukan darinya, dan barangsiapa memberi syafaat yang buruk  bagi dia pasti ada bagian yang sama darinya, dan Allah Maha Menguasai segala sesuatu. (An-Nisa [4]:86).
   Ayat itu menunjukkan bahwa pemberian syafaat atau rekomendasi (meng-usulkan kepada atasan untuk kepentingan orang bawahan) tidak boleh dianggap enteng; sebab  orang yang memberi syafaat bagi orang lain bertanggung jawab atas tindakannya. Jika syafaatnya benar dan adil, niscaya ia akan memperoleh ganjaran yang selayaknya; sebaliknya akan diminta pertanggungjawaban atas segala akibat-akibatnya yang buruk.
    Selanjutnya, patut dicatat bahwa sehubungan dengan “syafaat baik” kata yang dipergunakannya ialah nashib (bagian atau bagian yang ditentukan), sedangkan sehubungan dengan “syafaat jahat” kata yang dipergunakan adalah kifl (bagian yang sama). Hal ini menjelaskan bahwa kalau hukuman untuk syafaat jahat hanya akan diberikan setimpal dengan itu, maka ganjaran yang baik untuk syafaat yang baik tidak mendapat pembatasan demikian, melainkan akan sebanyak yang ditetapkan Allah Swt.   yakni  sepuluh kali lipat besarnya.

Pemberi Syafaat Hakiki Hanyalah  Rasul Allah

        Menurut Allah Swt. dalam ayat Kursy (QS.2:256) bahwa hanya Rasul Allah mendapat izin-Nya sajalah yang  dapat  memberikan syafaat kepada orang lain, firman-Nya: مَنۡ ذَا الَّذِیۡ یَشۡفَعُ  عِنۡدَہٗۤ  اِلَّا بِاِذۡنِہٖ  --   Siapakah yang dapat memberi syafaat di hadirat-Nya kecuali dengan izin-Nya
   Itulah makna ayat:  مِّنۡ قَبۡلِ اَنۡ یَّاۡتِیَ یَوۡمٌ لَّا بَیۡعٌ فِیۡہِ وَ لَا خُلَّۃٌ وَّ لَا شَفَاعَۃٌ  -- “sebelum datang hari yang tidak ada jual-beli  di dalamnya, dan  tidak ada   persahabatan, dan  tidak pula syafaat.“  dalam firman-Nya:
یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡۤا اَنۡفِقُوۡا مِمَّا رَزَقۡنٰکُمۡ مِّنۡ قَبۡلِ اَنۡ یَّاۡتِیَ یَوۡمٌ لَّا بَیۡعٌ فِیۡہِ وَ لَا خُلَّۃٌ وَّ لَا شَفَاعَۃٌ ؕ وَ الۡکٰفِرُوۡنَ ہُمُ  الظّٰلِمُوۡنَ ﴿﴾
Hai orang-orang yang beriman,  belanjakanlah apa yang telah Kami rezekikan kepada kamu sebelum datang hari yang tidak ada jual-beli  di dalamnya, dan  tidak ada   persahabatan, dan  tidak pula syafaat,  dan orang-orang yang kafir  mereka itulah orang-orang  zalim. (Al-Baqarah [2]:255).
     “Hari itu” adalah hari  pengutusan  rasul Allah yang  kedatangannya di janikan Allah Swt., termasuk di Akhir  Zaman ini, firman-Nya: 
وَ لِکُلِّ اُمَّۃٍ  اَجَلٌ ۚ فَاِذَا  جَآءَ  اَجَلُہُمۡ  لَا یَسۡتَاۡخِرُوۡنَ سَاعَۃً  وَّ لَا یَسۡتَقۡدِمُوۡنَ ﴿﴾  یٰبَنِیۡۤ  اٰدَمَ  اِمَّا یَاۡتِیَنَّکُمۡ رُسُلٌ مِّنۡکُمۡ یَقُصُّوۡنَ عَلَیۡکُمۡ اٰیٰتِیۡ ۙ فَمَنِ اتَّقٰی وَ اَصۡلَحَ فَلَا خَوۡفٌ عَلَیۡہِمۡ وَ لَا ہُمۡ یَحۡزَنُوۡنَ ﴿﴾  وَ الَّذِیۡنَ کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا وَ اسۡتَکۡبَرُوۡا عَنۡہَاۤ  اُولٰٓئِکَ اَصۡحٰبُ النَّارِ ۚ ہُمۡ فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ ﴿﴾   
Dan bagi  tiap-tiap umat ada batas waktu, maka apabila telah datang batas waktunya, mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak pula dapat memajukannya.  Wahai Bani Adam, jika datang kepada kamu  rasul-rasul dari antara kamu yang menceritakan  Ayat-ayat-Ku kepada kamu, maka barangsiapa bertakwa dan memperbaiki diri, tidak akan ada ketakutan menimpa mereka dan tidak pula mereka akan bersedih hati.  Dan  orang-orang yang mendustakan Ayat-ayat Kami dan dengan takabur berpaling  darinya, mereka itu penghuni Api, mereka kekal di dalamnya. (Al-Arāf [7]:35-37).

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid

oo0oo
Pajajaran Anyar, 12   Maret  2017




Tidak ada komentar:

Posting Komentar