Bismillaahirrahmaanirrahiim
ISLAM
Pidato Mirza Ghulam Ahmad a.s.
Tgl. 2 November 1904
di Kota Sialkote – Hindustan
Bab 40
PEMBERIAN IZIN ALLAH SWT. KEPADA RASUL ALLAH UNTUK MELAKUKAN SYAFAAT MENGGUGURKAN FAHAM “PENEBUSAN
DOSA” MELALUI “KEMATIAN TERKUTUK”
NABI ISA IBNU MARYAM A.S. DI TIANG SALIB
& KHASIAT LUARBIASA DOA YANG DIHASILKAN MAKRIFAT ILAHI
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam bagian akhir Bab sebelumnya
telah dijelaskan topik Kehatian-hatian Pemberian Syafaat sehubungan firman Allah Swt.:
یٰبَنِیۡۤ اِسۡرَآءِیۡلَ اذۡکُرُوۡا نِعۡمَتِیَ الَّتِیۡۤ
اَنۡعَمۡتُ عَلَیۡکُمۡ وَ اَنِّیۡ فَضَّلۡتُکُمۡ عَلَی الۡعٰلَمِیۡنَ ﴿﴾وَ
اتَّقُوۡا یَوۡمًا لَّا تَجۡزِیۡ نَفۡسٌ عَنۡ نَّفۡسٍ شَیۡئًا وَّ لَا یُقۡبَلُ
مِنۡہَا شَفَاعَۃٌ وَّ لَا یُؤۡخَذُ مِنۡہَا عَدۡلٌ وَّ لَا ہُمۡ
یُنۡصَرُوۡنَ ﴿﴾
Hai Bani Israil, ingatlah nikmat-Ku yang telah Aku
anugerahkan kepada kamu dan bahwa Aku telah memuliakan kamu atas seluruh bangsa.
Dan takutlah hari itu ketika suatu
jiwa tidak dapat menggantikan jiwa yang lainnya sedikit pun dan tidak akan diterima untuknya syafaat, dan tidak
akan diambil suatu te-busan darinya dan tidak pula mereka akan ditolong. (Al-Baqarah [2]:48-49).
Syafaat sebagaimana dipahami oleh Islam, pada hakikatnya hanya merupakan bentuk lain dari permohonan pengampunan, sebab taubat (mohon pengampunan) berarti memperbaiki kembali perhubungan yang
terputus atau mengencangkan apa yang
sudah longgar. Maka jika pintu taubat
tertutup oleh kematian, pintu syafaat tetap terbuka sekali pun di alam akhirat.
Tambahan
pula syafaat adalah suatu cara untuk menjelmakan kasih-sayang Allah Swt. dan karena Allah Swt. bukanlah
hakim, melainkan Mālik (Pemilik dan Majikan), maka tidak
ada yang dapat mencegah Dia dari
memperlihatkan kasih-sayang-Nya
kepada siapa pun yang dikehendaki-Nya.
Dengan demikian jelaslah bahwa yang tetap
berlangsung di dalam kehidupan di dunia dan di alam akhirat adalah pemberian syafaat oleh Rasul
Allah -- terutama Nabi Besar
Muhammad saw – dan ajaran “penebusan dosa” melalui kematian terkutuk Nabi isa Ibnu Maryam
a.s. di tiang salib -- benar-benar sangat menghinakan kesempurnaan Sifat-sifat Allah Swt.,
Tuhan Yang Maha Pengampun,
firman-Nya:
مَنۡ یَّشۡفَعۡ شَفَاعَۃً حَسَنَۃً
یَّکُنۡ لَّہٗ نَصِیۡبٌ مِّنۡہَا ۚ وَ مَنۡ یَّشۡفَعۡ شَفَاعَۃً سَیِّئَۃً یَّکُنۡ
لَّہٗ کِفۡلٌ مِّنۡہَا ؕ وَ کَانَ اللّٰہُ
عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ مُّقِیۡتًا ﴿﴾
Barangsiapa memberi syafaat yang baik, bagi dia
pasti ada bagian yang ditentukan darinya, dan barangsiapa memberi syafaat yang buruk bagi dia pasti ada bagian yang sama darinya,
dan Allah Maha Menguasai segala
sesuatu. (An-Nisa [4]:86).
Ayat itu menunjukkan bahwa pemberian syafaat atau rekomendasi (meng-usulkan kepada atasan
untuk kepentingan orang bawahan) tidak boleh dianggap enteng; sebab orang yang memberi
syafaat bagi orang lain bertanggung
jawab atas tindakannya. Jika syafaatnya
benar dan adil, niscaya ia akan
memperoleh ganjaran yang selayaknya;
sebaliknya akan diminta
pertanggungjawaban atas segala akibat-akibatnya
yang buruk.
Pemberi Syafaat Hakiki
Hanyalah Rasul Allah & Makna “Hari Itu”
Selanjutnya, patut dicatat bahwa sehubungan
dengan “syafaat baik” kata yang
dipergunakannya ialah nashib (bagian atau bagian yang ditentukan),
sedangkan sehubungan dengan “syafaat
jahat” kata yang dipergunakan adalah kifl (bagian yang sama). Hal
ini menjelaskan bahwa kalau hukuman
untuk syafaat jahat hanya akan
diberikan setimpal dengan itu, maka ganjaran yang baik untuk syafaat yang baik tidak mendapat pembatasan
demikian, melainkan akan sebanyak yang ditetapkan Allah Swt. yakni
sepuluh kali lipat besarnya.
Menurut Allah Swt. dalam ayat Kursy (QS.2:256) bahwa hanya Rasul Allah mendapat izin-Nya sajalah
yang dapat memberikan syafaat
kepada orang lain, firman-Nya: مَنۡ ذَا الَّذِیۡ یَشۡفَعُ
عِنۡدَہٗۤ اِلَّا بِاِذۡنِہٖ -- Siapakah
yang dapat memberi syafaat di hadirat-Nya kecuali dengan izin-Nya?
Itulah makna ayat: مِّنۡ قَبۡلِ اَنۡ یَّاۡتِیَ یَوۡمٌ لَّا
بَیۡعٌ فِیۡہِ وَ لَا خُلَّۃٌ وَّ لَا شَفَاعَۃٌ -- “sebelum datang hari yang tidak ada jual-beli di dalamnya, dan tidak
ada persahabatan, dan tidak
pula syafaat.“ dalam firman-Nya:
یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡۤا
اَنۡفِقُوۡا مِمَّا رَزَقۡنٰکُمۡ مِّنۡ قَبۡلِ اَنۡ یَّاۡتِیَ یَوۡمٌ لَّا بَیۡعٌ
فِیۡہِ وَ لَا خُلَّۃٌ وَّ لَا شَفَاعَۃٌ ؕ وَ الۡکٰفِرُوۡنَ ہُمُ الظّٰلِمُوۡنَ ﴿﴾
Hai orang-orang yang beriman, belanjakanlah
apa yang telah Kami rezekikan kepada kamu sebelum datang hari yang tidak ada jual-beli di dalamnya, dan tidak
ada persahabatan, dan tidak
pula syafaat, dan orang-orang yang kafir mereka itulah orang-orang zalim. (Al-Baqarah
[2]:255).
“Hari itu” adalah hari pengutusan rasul Allah yang kedatangannya dijanjikan Allah Swt., termasuk di Akhir Zaman ini (QS.7:35-37;
QS.62:3-4), firman-Nya:
وَ لِکُلِّ اُمَّۃٍ اَجَلٌ ۚ فَاِذَا جَآءَ
اَجَلُہُمۡ لَا یَسۡتَاۡخِرُوۡنَ
سَاعَۃً وَّ لَا یَسۡتَقۡدِمُوۡنَ ﴿﴾ یٰبَنِیۡۤ اٰدَمَ اِمَّا یَاۡتِیَنَّکُمۡ رُسُلٌ مِّنۡکُمۡ
یَقُصُّوۡنَ عَلَیۡکُمۡ اٰیٰتِیۡ ۙ فَمَنِ اتَّقٰی وَ اَصۡلَحَ فَلَا خَوۡفٌ
عَلَیۡہِمۡ وَ لَا ہُمۡ یَحۡزَنُوۡنَ ﴿﴾ وَ
الَّذِیۡنَ کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا وَ اسۡتَکۡبَرُوۡا عَنۡہَاۤ اُولٰٓئِکَ اَصۡحٰبُ النَّارِ ۚ ہُمۡ فِیۡہَا
خٰلِدُوۡنَ ﴿﴾
Dan bagi tiap-tiap
umat ada batas waktu, maka apabila
telah datang batas waktunya, mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat
pun dan tidak pula dapat memajukannya. Wahai Bani
Adam, jika datang kepada kamu rasul-rasul
dari antara kamu yang menceritakan Ayat-ayat-Ku kepada kamu, maka barangsiapa bertakwa dan memperbaiki diri,
tidak akan ada ketakutan menimpa mereka dan tidak pula mereka akan bersedih
hati. Dan orang-orang
yang mendustakan Ayat-ayat Kami dan dengan
takabur berpaling darinya, mereka itu penghuni Api, mereka kekal di dalamnya. (Al-Arāf
[7]:35-37).
Peringatan Bagi Umat
Islam di Akhir Zaman
Sejalan dengan peringatan Allah Swt. kepada Bani
Adam – yakni umat manusia hingga Hari Kiamat nanti -- berkenan pentingnya keberadaan pemberi syafaat yang mendapat
izin dari Allah Swt. – yakni Rasul
Allah -- dalam Bab sebelumnya Masih Mau’ud a.s. menjelaskan:
“Ada pun sebagian orang-orang yang
berpendapat bahwa mereka tidak perlu mempercayai (beriman) kepada Masih Mau’ud. Mereka mengatakan pula,
“Baiklah kami menerima bahwa Nabi Isa a.s. telah wafat, tetapi jika kami adalah orang
Islam yang mengerjakan shalat dan
puasa
serta mengikuti perintah-perintah Islam, lalu apakah
perlunya kami mesti mempercayai
(beriman) kepada orang lain?”
Tetapi harus diperhatikan bahwa
orang-orang semacam itu dalam kesalahan besar. Pertama, bagaimanakah
mereka dapat mengaku diri Islam (Muslim) jika mereka tidak mengikuti perintah Allah Swt. dan
Rasul-Nya? Perintah Allah Swt. dan Rasul-Nya menyatakan bahwa apabila Imam Mau’ud (Imam yang dijanjikan) telah datang maka kalian dengan segara harus
menghadap kepadanya, sekali pun dengan merangkak
di atas gunung es kalian harus
menemuinya. Tetapi berlawanan dengan perintah
Ilahi tersebut sekarang mereka tidak mempedulikan Imam
Mau’ud itu, apakah inilah yang dikatakan Islam (Muslim) (orang Islam)
dan ke-Islam-an?
Bukan hanya begitu saja, malah Masih Mau’ud itu dicaci-maki dengan perkataan yang kotor-kotor serta dinamakan kafir
dan dajjal. Bahkan orang-orang melawan dan menyusahkan saya dengan anggapan bahwa
mereka mendapat pahala besar, dan
mereka mendustakan saya dengan
anggapan bahwa Allah akan senang
terhadap mereka.
Hai orang-orang yang telah diberi
pelajaran untuk sabar dan takwa,
mengapa kalian tergesa-gesa dan berprasangka? Tanda manakah yang tidak diperlihatkan oleh Allah Swt. dan keterangan
manakah yang tidak dikemukakan oleh-Nya?
Tetapi kalian tidak menerimanya
dan dengan berani menolak hukum-hukum Allah Swt.. Dengan siapa saya mesti mengumpamakan tukang helah dan makar
zaman sekarang?
Mereka adalah seperti seorang pengicu yang menutup matanya di waktu siang hari yang terang benderang dengan
mengatakan, “Dimanakah matahari?” Hai
orang-orang yang menipu diri sendiri, terlebih dulu bukalah mata sendiri kemudian barulah
kalian akan melihat matahari.”
Pentingnya fadhal (Karunia) Ilahi Untuk Memperoleh Makrifat Ilahi yang Hakiki
Mengatakan kafir kepada seorang rasul
Allah adalah mudah, tetapi mengikutinya dalam jalan-jalan yang
halus keimanan adalah musykil. Menyebut seorang utusan Allah dajjal adalah mudah, tetapi masuk dalam pintu yang sempit sesuai ajarannya adalah sukar.
Tiap-tiap orang yang mengatakan bahwa ia
tidak menghiraukan Masih Mau’ud sebenarnya
ia tidak menghiraukan keimanannya
sendiri, orang-orang semacam itu tidak menghargai iman, najat (keselamatan)
dan kesucian yang sebenarnya. Kalau
mereka menggunakan sifat keadilan dan
mempelajari keadaan batin mereka
sendiri barulah mereka akan mengetahui bahwa kecuali keyakinan yang baru dan hidup
-- yang turun dari langit
dengan perantaraan para nabi dan para
rasul-Nya -- maka
shalat mereka hanya menyerupai
suatu adat kebiasaan saja, dan puasa-puasa mereka pun hanyalah berlapar
belaka.
Sebenarnya seseorang tidak adan dapat
lepas dari dosa dengan sebenarnya dan
tidak akan memperoleh kecintaan Ilahi yang sejati, dan tidak bertakwa kepada Allah dengan semestinya,
sebelum mendapat makrifat Ilahi
(pengetahuan Ilahi) dengan fadhal-Nya
(karunia-Nya) serta taufik dari-Nya.
Hal ini jelas sekali bahwa tiap-tiap ketakutan dan kecintaan kan timbul karena makrifat juga. Barang-barang di dunia
ini ada yang dicintai manusia dan ada
pula yang ditakuti manusia, semua
keadaan ini akan timbul dalam batin
manusia sesudah makrifat juga.
Memang sebenarnya tidak dapat
diperoleh makrifat sebelum ada fadhal (karunia) dari Allah Swt., dan
tidak akan mendapat manfaat pula
kalau tidak ada fadhal dari-Nya. Makrifat akan datang dengan perantaraan fadhal (karunia), kemudian dengan
perantaraan makrifat akan terbukalah
suatu pintu untuk menyelidiki dan menyaksikan kebenaran dan haq, lagi pula hanya dengan
berulang-ulang datangnya fadhal
sajalah pintu akan senantiasa terbuka dan tidak akan tertutup.
Pendek kata, makrifat akan diberikan dengan perantaraan fadhal dan akan kekal dengan perantaraan fadhal juga. Hanya fadhal
yang membersihkan dan menerangi makrifat,
membukakan segala tutup yang
menghalangi, menjauhkan debu dan kotoran nafsu ammarah dan memberikan kehidupan
serta kekuatan pada ruh. Maka fadhal pula yang melepaskan nafsu
ammarah dari ikatan kemarahannya,
membersihkan dari kekotoran kehendak
yang jahat, dan mengeluarkan arus yang
keras dari perasaan kenafsuan,
kemudian barulah timbul satu perubahan
dalam batin manusia, lantas dengan
sendirinya ia jemu dan benci kepada kehidupan yang kotor.
Munculnya Doa
yang Hakiki Melalui Makrifat Ilahi
Setelah keadaan tersebut lalu gerak pertama yang terjadi karena fadhal dalam ruh manusia
ialah doa. Jangan keliru, bahwa kita pun setiap hari berdoa, dan shalat
pun doa juga yang kita kerjakan, karena doa
yang timbul setelah makrifat dan
dengan perantaraan fadhal Ilahi
adalah lain dalam sifat dan keadaannya.
Itulah suatu barang yang dapat menghancurkan,
suatu api yang dapat membakar, suatu magnit untuk menarik kepada rahmat Ilahi,
suatu maut (kematian) yang akhirnya
akan menghidupkan dan suatu taufan banjir yang akirnya akan menjadi perahu. Tiap-tiap urusan yang telah rusak
dapat diperbaiki dengan itu dan
tiap-tiap racun akhirnya menjadi obat karena itu.
Berbahagialah tawanan yang berdoa dengan tidak mengenal jemu dan
lelah karena mereka akan dibebaskan
pada suatu waktu. Berbahagialah orang-orang
buta yang tidak lalai dalam doa karena mereka akan mulai melihat pada suatu waktu. Berbahagialah
orang-orang dalam kuburan yang
memohon pertolongan Ilahi dengan doa karena pada suatu saat mereka akan
dikeluarkan dari kuburan itu.
Berbahagialah kamu apabila kamu tidak
mengenal lelah dan payah untuk berdoa,
ruh kamu lebur-lelah untuk berdoa,
mata kamu mengalirkan air mata dan akan menyalakan
suatu api dalam dada kamu.
Untuk mendapatkan rasa kecintaan dan suasana terpisah dari
menyendiri kamu dibawa ke sudut-sudut yang gelap dan ke hutan-hutan yang sunyi senyap dan membikin
kamu menjadi gelisah, pandir dan lupa diri karena akhirnya akan dibukakan fadhal (karunia) Ilahi
kepada kamu.
Kami hanya mengajak
kalian kepada-Nya Yang adalah Pemurah,
Pengasih, Penyantun,
Benar, Setia dan Penyayang kepada yang tidak berdaya, maka kalian pun harus setia dan berdoa dengan penuh kejujuran
dan kesetiaan supaya Dia pun akan kasihan kepada kalian.
Pisahkanlah kalian dari keributan dan kekacauan dunia ini, agama janganlah kamu warnai dengan rona kenafsuan.
Kalahkanlah diri kalian karena Allah
dan terimalah kekalahan supaya kalian menjadi waris dari kemenangan-kemenangan
yang besar. Orang-orang yang berdoa
akan diperlihatkan mukjijat oleh
Allah Swt. dan orang-orang yang memohon akan diberi nikmat luar biasa.
Doa
itu datang dari Allah Swt. dan kembali
pula kepada-Nya. Dengan perantaraan doa
Allah Swt. menjadi dekat seperti juga
jiwa kalian dekat
kepada kalian. Nikmat yang pertama dari doa
ialah manusia mendapat perubahan suci
di dalam dirinya, kemudian karena perubahan
itu Allah Swt. pun merubah Sifat-sifat-Nya.
Sifat-sifat Allah Swt. sendiri tidak
pernah berubah, tetapi untuk orang
yang telah mendapat perubahan itu Dia
menampakkan Sifat-sifat-Nya dengan suatu cara yang lain lagi yang tidak
diketahui oleh dunia, seolah-olah Dia
adalah Tuhan yang lain (baru) padahal tidak ada Tuhan yang lain, hanya penampakan (tajalli) yang baru menyatakan Dia dalam keadaan yang baru. Kemudian dalam keadaan penampakkan
(tajalli) yang khas itu Dia mengerjakan hal-hal untuk orang yang telah
beroleh perubahan yang suci itu yang tidak dikerjakan untuk orang-orang lain, inilah yang dikatakan hal luar-biasa (mukjizat).
Shalat Ruhani Harus
Mengiringi Shalat Jasmani
Pendek
kata, doa adalah suatu obat yang sangat aksir (mujarab dan mustajab) yang membuat segumpal tanah menjadi suatu barang yang tak ternilai harganya, dan itulah suatu air yang membersihkan segala kekotoran batin. Dengan doa itulah ruh manusia hancur-luluh
dan mengalir seperti air ke hadapan istana Tauhid Ilahi, begitu ruh itu berdiri pula di hadapan Allah Swt. lalu berukuk dan bersujud
pula.
Sebagai zhill (bayangan) dari kaifiat ruh
inilah diadakan shalat yang diajarkan
oleh Islam. Berdirinya (qiyamnya) ruh itu bermaksud bahwa ia telah setiap
sedia untuk menderita segala musibat
di jalan Allah dan mengikuti segala perintah-Nya. Rukuknya ruh itu berarti bahwa ia condong
kepada Allah Swt. dengan melepaskan segala kecintaan
dan pertalian-pertalian yang lain dan
menjadi tunduk kepada Allah untuk selama-lamanya. Sujudnya ruh itu bermaksud bahwa ia menjatuhkan diri di hadapan istana Ilahi dengan menghilangkan diri pribadi serta menghapuskan segala pola
dirinya.
Demikianlah shalat yang mempertemukan
manusia dengan Allah Swt., dan syariat
Islam telah menggambarkan segenap kaifiat shalat ruh ini dalam shalat yang lazim dikerjakan sehari-hari
supaya shalat yang zahir ini akan menggerakkan dan
mendorong kepada shalat ruhani tersebut.
Allah Swt. telah menjadikan umat manusia
sedemikian rupa bahwa ruh senantiasa memberi
bekas
dan pengaruh kepada tubuh, begitu
pula tubuh memberi bekas dan pengaruh kepada ruh. Kalau ruh kalian berdukacita
(sedih) kemudian mata pun akan mengalirkan air mata, dan apabila ruh kalian senang lalu
dari air muka pun akan nampak riang gembira, malah kadang-kadang mulai
tertawa pula.
Begitu pula jika tubuh menderita sesuatu kesakitan dan kesusahan maka ruh pun akan ikut-serta dalam
penderitaan tersebut. Apabila tubuh mendapat kesenangan dari suatu
hawa yang sejuk niscaya ruh juga akan merasakan lezatnya. Maka ibadah yang zahir
ini bermaksud bahwa pertalian antara tubuh
dengan ruh dapat menggerakkan ruh manusia ke hadapan Allah Swt. supaya
menyilahkan diri dalam menjalankan qiyam
(berdiri), rukuk dan sujud dengan sebenarnya.
Untuk kemajuan
manusia membutuhkan mujahadah (perjuangan) dan shalat pun suatu mujahadah pula. Mudah difahami bahwa apabila dua barang telah
terikat satu sama lain lalu dengan mengangkat
salah satu barang tersebut maka yang lainnya akan ikut serta bergerak juga,
demikian juga halnya tubuh dengan ruh.
Tetapi hanya sekedar qiyam (
berdiri), rukuk dan sujud dengan tubuh zahir saja tidak akan berfaedah
kalau tidak diusahakan supaya ruh
juga ikut qiyam, rukuk dan sujud,
sedangkan hal ini tergantung kepada makrifat,
dan makrifat tergantung kepada fadhal (karunia ) Ilahi.
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran
Anyar, 14 Maret 2017
Tidak ada komentar:
Posting Komentar