Rabu, 15 Maret 2017

Pemberian "Izin" Allah Swt. Kepada Rasul Allah Untuk Melakukan "Syafaat" Menggugurkan Faham "Penebusan Dosa" Melalui "Kematian Terkutuk" Nabi Isa Ibnu Maryam di "Tiang Salib" & Khasiat Luar Biasa "Doa" Yang Dihasilkan "Makrifat Ilahi"





Bismillaahirrahmaanirrahiim

  ISLAM
Pidato  Mirza Ghulam Ahmad a.s.
Tgl. 2 November 1904 di Kota Sialkote – Hindustan

Bab  40

PEMBERIAN IZIN ALLAH SWT.  KEPADA RASUL ALLAH UNTUK  MELAKUKAN SYAFAAT  MENGGUGURKAN  FAHAM “PENEBUSAN DOSA” MELALUI “KEMATIAN TERKUTUK” NABI ISA IBNU MARYAM A.S. DI TIANG SALIB & KHASIAT LUARBIASA  DOA YANG DIHASILKAN   MAKRIFAT ILAHI

Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma 

D
alam bagian akhir Bab  sebelumnya telah dijelaskan  topik   Kehatian-hatian Pemberian Syafaat  sehubungan firman Allah Swt.:
یٰبَنِیۡۤ  اِسۡرَآءِیۡلَ اذۡکُرُوۡا نِعۡمَتِیَ الَّتِیۡۤ اَنۡعَمۡتُ عَلَیۡکُمۡ وَ اَنِّیۡ فَضَّلۡتُکُمۡ عَلَی الۡعٰلَمِیۡنَ ﴿﴾وَ اتَّقُوۡا یَوۡمًا لَّا تَجۡزِیۡ نَفۡسٌ عَنۡ نَّفۡسٍ شَیۡئًا وَّ لَا یُقۡبَلُ مِنۡہَا شَفَاعَۃٌ وَّ لَا یُؤۡخَذُ مِنۡہَا عَدۡلٌ وَّ لَا ہُمۡ یُنۡصَرُوۡنَ ﴿﴾
Hai Bani Israil,  ingatlah nikmat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepada kamu dan bahwa   Aku  telah memuliakan kamu atas seluruh bangsa.  Dan takutlah hari itu ketika   suatu jiwa tidak dapat menggantikan jiwa yang lainnya sedikit pun dan  tidak akan diterima untuknya  syafaat,  dan tidak akan diambil suatu te-busan  darinya dan tidak pula mereka akan ditolong. (Al-Baqarah [2]:48-49).
    Syafaat sebagaimana  dipahami oleh Islam, pada hakikatnya hanya merupakan bentuk lain dari permohonan pengampunan, sebab taubat (mohon pengampunan) berarti memperbaiki kembali perhubungan yang terputus atau mengencangkan apa yang sudah longgar. Maka jika pintu taubat tertutup oleh kematian, pintu syafaat tetap terbuka   sekali pun di alam akhirat.
Tambahan pula syafaat  adalah suatu cara untuk menjelmakan kasih-sayang Allah Swt.   dan karena Allah Swt.  bukanlah  hakim, melainkan Mālik (Pemilik dan Majikan), maka tidak ada yang dapat mencegah Dia dari memperlihatkan kasih-sayang-Nya kepada siapa pun yang dikehendaki-Nya.
   Dengan demikian jelaslah bahwa yang tetap berlangsung di dalam kehidupan di dunia dan di alam akhirat adalah pemberian syafaat  oleh Rasul Allah  -- terutama Nabi Besar Muhammad saw – dan  ajaran “penebusan dosa” melalui kematian terkutuk Nabi isa Ibnu Maryam a.s. di tiang salib  -- benar-benar sangat menghinakan  kesempurnaan Sifat-sifat Allah Swt., Tuhan Yang Maha Pengampun, firman-Nya: 
مَنۡ یَّشۡفَعۡ شَفَاعَۃً حَسَنَۃً یَّکُنۡ لَّہٗ نَصِیۡبٌ مِّنۡہَا ۚ وَ مَنۡ یَّشۡفَعۡ شَفَاعَۃً سَیِّئَۃً یَّکُنۡ لَّہٗ کِفۡلٌ مِّنۡہَا ؕ وَ کَانَ اللّٰہُ  عَلٰی کُلِّ  شَیۡءٍ  مُّقِیۡتًا ﴿﴾
Barangsiapa memberi syafaat yang baik,  bagi dia  pasti  ada bagian yang ditentukan darinya, dan barangsiapa memberi syafaat yang buruk  bagi dia pasti ada bagian yang sama darinya, dan Allah Maha Menguasai segala sesuatu. (An-Nisa [4]:86).
       Ayat itu menunjukkan bahwa pemberian syafaat atau rekomendasi (meng-usulkan kepada atasan untuk kepentingan orang bawahan) tidak boleh dianggap enteng; sebab  orang yang memberi syafaat bagi orang lain bertanggung jawab atas tindakannya. Jika syafaatnya benar dan adil, niscaya ia akan memperoleh ganjaran yang selayaknya; sebaliknya akan diminta pertanggungjawaban atas segala akibat-akibatnya yang buruk.

Pemberi Syafaat Hakiki Hanyalah  Rasul Allah &  Makna “Hari Itu

       Selanjutnya, patut dicatat bahwa sehubungan dengan “syafaat baik” kata yang dipergunakannya ialah nashib (bagian atau bagian yang ditentukan), sedangkan sehubungan dengan “syafaat jahat” kata yang dipergunakan adalah kifl (bagian yang sama). Hal ini menjelaskan bahwa kalau hukuman untuk syafaat jahat hanya akan diberikan setimpal dengan itu, maka ganjaran yang baik untuk syafaat yang baik tidak mendapat pembatasan demikian, melainkan akan sebanyak yang ditetapkan Allah Swt.   yakni  sepuluh kali lipat besarnya.
        Menurut Allah Swt. dalam ayat Kursy (QS.2:256) bahwa hanya Rasul Allah mendapat izin-Nya sajalah yang  dapat  memberikan syafaat kepada orang lain, firman-Nya: مَنۡ ذَا الَّذِیۡ یَشۡفَعُ  عِنۡدَہٗۤ  اِلَّا بِاِذۡنِہٖ  --   Siapakah yang dapat memberi syafaat di hadirat-Nya kecuali dengan izin-Nya
      Itulah makna ayat:  مِّنۡ قَبۡلِ اَنۡ یَّاۡتِیَ یَوۡمٌ لَّا بَیۡعٌ فِیۡہِ وَ لَا خُلَّۃٌ وَّ لَا شَفَاعَۃٌ  -- “sebelum datang hari yang tidak ada jual-beli  di dalamnya, dan  tidak ada   persahabatan, dan  tidak pula syafaat.“  dalam firman-Nya:
یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡۤا اَنۡفِقُوۡا مِمَّا رَزَقۡنٰکُمۡ مِّنۡ قَبۡلِ اَنۡ یَّاۡتِیَ یَوۡمٌ لَّا بَیۡعٌ فِیۡہِ وَ لَا خُلَّۃٌ وَّ لَا شَفَاعَۃٌ ؕ وَ الۡکٰفِرُوۡنَ ہُمُ  الظّٰلِمُوۡنَ ﴿﴾
Hai orang-orang yang beriman,  belanjakanlah apa yang telah Kami rezekikan kepada kamu sebelum datang hari yang tidak ada jual-beli  di dalamnya, dan  tidak ada   persahabatan, dan  tidak pula syafaat,  dan orang-orang yang kafir  mereka itulah orang-orang  zalim. (Al-Baqarah [2]:255).
        “Hari itu” adalah hari  pengutusan  rasul Allah yang  kedatangannya dijanjikan Allah Swt., termasuk di Akhir  Zaman ini (QS.7:35-37; QS.62:3-4), firman-Nya: 
وَ لِکُلِّ اُمَّۃٍ  اَجَلٌ ۚ فَاِذَا  جَآءَ  اَجَلُہُمۡ  لَا یَسۡتَاۡخِرُوۡنَ سَاعَۃً  وَّ لَا یَسۡتَقۡدِمُوۡنَ ﴿﴾  یٰبَنِیۡۤ  اٰدَمَ  اِمَّا یَاۡتِیَنَّکُمۡ رُسُلٌ مِّنۡکُمۡ یَقُصُّوۡنَ عَلَیۡکُمۡ اٰیٰتِیۡ ۙ فَمَنِ اتَّقٰی وَ اَصۡلَحَ فَلَا خَوۡفٌ عَلَیۡہِمۡ وَ لَا ہُمۡ یَحۡزَنُوۡنَ ﴿﴾  وَ الَّذِیۡنَ کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا وَ اسۡتَکۡبَرُوۡا عَنۡہَاۤ  اُولٰٓئِکَ اَصۡحٰبُ النَّارِ ۚ ہُمۡ فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ ﴿﴾   
Dan bagi  tiap-tiap umat ada batas waktu, maka apabila telah datang batas waktunya, mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak pula dapat memajukannya.  Wahai Bani Adam, jika datang kepada kamu  rasul-rasul dari antara kamu yang menceritakan  Ayat-ayat-Ku kepada kamu, maka barangsiapa bertakwa dan memperbaiki diri, tidak akan ada ketakutan menimpa mereka dan tidak pula mereka akan bersedih hati.  Dan  orang-orang yang mendustakan Ayat-ayat Kami dan dengan takabur berpaling  darinya, mereka itu penghuni Api, mereka kekal di dalamnya. (Al-Arāf [7]:35-37).

Peringatan  Bagi Umat Islam di Akhir Zaman

       Sejalan dengan peringatan Allah Swt. kepada Bani Adam – yakni umat manusia hingga Hari Kiamat nanti --  berkenan pentingnya keberadaan pemberi syafaat  yang mendapat izin dari Allah Swt.  – yakni Rasul Allah  --  dalam Bab sebelumnya Masih Mau’ud a.s. menjelaskan:      
     “Ada pun sebagian orang-orang yang berpendapat bahwa mereka tidak  perlu mempercayai (beriman) kepada Masih Mau’ud. Mereka mengatakan pula, “Baiklah kami menerima bahwa Nabi Isa a.s. telah wafat, tetapi jika kami adalah orang Islam yang mengerjakan shalat dan puasa  serta  mengikuti perintah-perintah Islam, lalu apakah perlunya kami mesti mempercayai (beriman) kepada orang lain?”
      Tetapi harus diperhatikan bahwa orang-orang semacam  itu dalam kesalahan besar. Pertama, bagaimanakah mereka dapat mengaku diri   Islam (Muslim) jika mereka tidak mengikuti perintah Allah Swt. dan Rasul-Nya? Perintah Allah Swt. dan Rasul-Nya menyatakan bahwa apabila Imam Mau’ud (Imam yang dijanjikan)  telah datang maka kalian dengan segara harus menghadap kepadanya, sekali pun dengan merangkak di atas gunung es kalian harus menemuinya. Tetapi berlawanan dengan perintah Ilahi tersebut sekarang mereka tidak mempedulikan  Imam Mau’ud itu, apakah inilah yang dikatakan Islam (Muslim) (orang Islam) dan ke-Islam-an?
       Bukan hanya begitu saja, malah Masih Mau’ud itu dicaci-maki dengan perkataan yang kotor-kotor serta dinamakan kafir dan dajjal.  Bahkan orang-orang melawan dan menyusahkan saya dengan anggapan bahwa mereka mendapat pahala besar, dan mereka mendustakan saya dengan anggapan bahwa Allah akan senang terhadap mereka.
      Hai orang-orang yang telah diberi pelajaran untuk sabar dan takwa,  mengapa kalian tergesa-gesa dan berprasangka? Tanda manakah yang tidak diperlihatkan oleh Allah Swt.  dan keterangan manakah yang tidak dikemukakan oleh-Nya?   Tetapi kalian tidak menerimanya dan  dengan berani menolak hukum-hukum Allah Swt.. Dengan siapa  saya mesti mengumpamakan tukang helah dan makar zaman sekarang?
       Mereka adalah seperti seorang pengicu yang menutup matanya di waktu siang hari yang terang benderang dengan mengatakan, “Dimanakah matahari?” Hai orang-orang yang menipu diri sendiri, terlebih dulu bukalah mata sendiri kemudian barulah kalian akan melihat matahari.”

Pentingnya   fadhal (Karunia) Ilahi   Untuk Memperoleh Makrifat  Ilahi yang Hakiki

      Mengatakan kafir kepada seorang rasul Allah adalah mudah, tetapi mengikutinya dalam jalan-jalan yang halus keimanan adalah musykil. Menyebut seorang utusan Allah dajjal adalah mudah, tetapi masuk dalam pintu yang sempit sesuai ajarannya adalah sukar.
      Tiap-tiap orang yang mengatakan bahwa ia tidak menghiraukan Masih Mau’ud sebenarnya ia tidak menghiraukan keimanannya sendiri, orang-orang semacam itu tidak menghargai iman, najat (keselamatan) dan kesucian yang sebenarnya. Kalau mereka menggunakan sifat keadilan dan mempelajari keadaan batin mereka sendiri barulah mereka akan mengetahui bahwa kecuali keyakinan yang baru dan hidup  -- yang turun dari langit dengan perantaraan para nabi dan para rasul-Nya   -- maka   shalat mereka hanya menyerupai suatu adat kebiasaan saja, dan puasa-puasa mereka pun hanyalah berlapar belaka.
       Sebenarnya seseorang tidak adan dapat lepas dari dosa dengan sebenarnya dan tidak akan memperoleh kecintaan  Ilahi yang sejati, dan tidak bertakwa kepada Allah dengan semestinya, sebelum mendapat makrifat Ilahi (pengetahuan Ilahi) dengan fadhal-Nya (karunia-Nya) serta taufik dari-Nya.
     Hal ini jelas sekali bahwa tiap-tiap ketakutan dan kecintaan  kan timbul karena makrifat juga. Barang-barang di dunia ini ada yang dicintai manusia dan ada pula yang ditakuti manusia, semua keadaan ini akan timbul dalam batin manusia sesudah makrifat juga.
      Memang sebenarnya tidak dapat diperoleh makrifat sebelum ada fadhal (karunia) dari Allah Swt., dan tidak akan mendapat manfaat pula kalau tidak ada fadhal dari-Nya. Makrifat akan datang dengan perantaraan fadhal (karunia), kemudian dengan perantaraan makrifat akan terbukalah suatu pintu untuk menyelidiki dan menyaksikan kebenaran dan haq, lagi pula hanya dengan berulang-ulang datangnya fadhal sajalah pintu akan senantiasa terbuka dan tidak akan tertutup.
       Pendek kata, makrifat akan diberikan dengan perantaraan fadhal dan akan kekal dengan perantaraan fadhal juga. Hanya fadhal yang membersihkan dan menerangi makrifat, membukakan segala tutup yang menghalangi, menjauhkan debu dan kotoran nafsu ammarah dan memberikan kehidupan serta kekuatan pada ruh. Maka fadhal pula yang melepaskan nafsu ammarah dari ikatan kemarahannya, membersihkan dari kekotoran kehendak yang jahat, dan mengeluarkan arus yang keras dari perasaan  kenafsuan, kemudian barulah timbul satu perubahan dalam batin manusia, lantas dengan sendirinya ia jemu dan benci kepada kehidupan yang kotor.  

Munculnya Doa yang Hakiki Melalui Makrifat Ilahi

       Setelah keadaan  tersebut lalu gerak pertama yang terjadi karena fadhal dalam ruh manusia ialah doa. Jangan keliru,  bahwa kita pun setiap hari berdoa, dan shalat pun doa juga yang kita kerjakan, karena doa yang timbul setelah makrifat dan dengan perantaraan fadhal Ilahi adalah lain dalam sifat dan keadaannya.
      Itulah suatu barang yang dapat menghancurkan, suatu api yang dapat membakar, suatu magnit untuk menarik kepada rahmat Ilahi, suatu maut (kematian) yang akhirnya akan menghidupkan dan suatu taufan banjir yang akirnya akan menjadi perahu. Tiap-tiap urusan yang telah rusak dapat diperbaiki dengan itu dan tiap-tiap racun akhirnya menjadi obat karena itu.
      Berbahagialah tawanan yang berdoa dengan tidak mengenal jemu dan lelah karena mereka akan dibebaskan pada suatu waktu. Berbahagialah orang-orang  buta yang tidak lalai dalam doa karena mereka akan mulai melihat pada suatu waktu. Berbahagialah orang-orang dalam kuburan yang memohon pertolongan Ilahi dengan doa karena pada suatu saat mereka akan dikeluarkan dari kuburan itu.
      Berbahagialah kamu apabila kamu tidak mengenal lelah dan payah untuk berdoa, ruh kamu lebur-lelah untuk berdoa, mata kamu mengalirkan air mata dan akan menyalakan suatu api dalam dada kamu.
       Untuk mendapatkan rasa kecintaan dan suasana terpisah dari menyendiri kamu dibawa ke sudut-sudut yang gelap dan  ke hutan-hutan yang sunyi senyap dan membikin kamu menjadi gelisah, pandir dan lupa diri karena  akhirnya  akan dibukakan fadhal (karunia) Ilahi kepada kamu.
       Kami  hanya mengajak kalian kepada-Nya Yang adalah   Pemurah, Pengasih,  Penyantun, Benar, Setia dan  Penyayang kepada yang tidak berdaya, maka kalian pun harus setia dan berdoa dengan penuh kejujuran dan kesetiaan supaya Dia pun akan kasihan kepada kalian.
      Pisahkanlah kalian dari keributan dan kekacauan  dunia ini, agama janganlah kamu warnai dengan rona kenafsuan. Kalahkanlah diri kalian karena Allah dan terimalah kekalahan supaya  kalian menjadi waris dari kemenangan-kemenangan yang besar. Orang-orang yang berdoa akan diperlihatkan mukjijat oleh Allah Swt. dan orang-orang yang memohon akan diberi nikmat luar biasa.
    Doa itu datang dari Allah Swt.  dan kembali pula kepada-Nya. Dengan perantaraan  doa Allah Swt. menjadi dekat seperti juga jiwa  kalian dekat kepada  kalian. Nikmat yang pertama dari doa ialah manusia mendapat perubahan suci di dalam dirinya, kemudian karena perubahan itu Allah Swt. pun merubah Sifat-sifat-Nya.
        Sifat-sifat Allah Swt. sendiri tidak pernah berubah, tetapi untuk orang yang  telah mendapat perubahan itu  Dia menampakkan  Sifat-sifat-Nya dengan suatu cara yang lain lagi yang tidak diketahui oleh dunia, seolah-olah Dia adalah Tuhan yang lain (baru) padahal tidak ada Tuhan yang lain, hanya penampakan (tajalli) yang baru menyatakan Dia dalam keadaan yang baru. Kemudian dalam keadaan penampakkan (tajalli) yang khas itu Dia mengerjakan hal-hal untuk orang yang telah beroleh perubahan yang suci itu yang tidak dikerjakan untuk orang-orang lain, inilah yang dikatakan hal luar-biasa (mukjizat).

Shalat Ruhani Harus Mengiringi Shalat Jasmani

      Pendek kata, doa adalah suatu obat yang sangat aksir (mujarab dan mustajab) yang membuat segumpal tanah  menjadi suatu barang yang tak ternilai harganya, dan itulah suatu air yang membersihkan segala kekotoran batin. Dengan doa itulah ruh manusia hancur-luluh dan mengalir seperti air ke hadapan istana Tauhid Ilahi, begitu ruh itu berdiri pula di hadapan Allah Swt. lalu berukuk dan bersujud pula.
        Sebagai zhill (bayangan) dari kaifiat ruh inilah diadakan shalat yang diajarkan oleh Islam.  Berdirinya (qiyamnya) ruh itu bermaksud bahwa ia telah setiap sedia untuk menderita segala musibat di jalan Allah dan mengikuti segala perintah-Nya. Rukuknya ruh itu berarti  bahwa ia condong kepada Allah Swt. dengan melepaskan segala kecintaan dan pertalian-pertalian yang lain dan menjadi tunduk  kepada Allah untuk selama-lamanya. Sujudnya ruh itu bermaksud bahwa ia menjatuhkan diri di hadapan istana Ilahi dengan menghilangkan diri pribadi serta menghapuskan segala pola dirinya.
       Demikianlah shalat yang mempertemukan manusia dengan Allah Swt., dan syariat Islam telah menggambarkan segenap kaifiat shalat ruh ini dalam shalat yang lazim dikerjakan sehari-hari supaya shalat yang zahir ini akan menggerakkan dan mendorong kepada shalat ruhani tersebut.
      Allah Swt. telah menjadikan umat manusia sedemikian rupa bahwa ruh senantiasa memberi bekas  dan pengaruh kepada tubuh,   begitu pula tubuh memberi bekas dan pengaruh kepada  ruh. Kalau ruh kalian  berdukacita (sedih) kemudian mata pun akan mengalirkan air mata, dan apabila ruh kalian  senang lalu  dari air muka pun akan nampak riang gembira, malah kadang-kadang mulai tertawa pula.
       Begitu pula jika tubuh menderita sesuatu kesakitan dan kesusahan maka ruh pun akan ikut-serta dalam penderitaan tersebut.  Apabila tubuh mendapat kesenangan dari suatu hawa yang sejuk niscaya ruh  juga akan merasakan lezatnya. Maka ibadah yang  zahir  ini bermaksud bahwa pertalian antara tubuh dengan ruh dapat menggerakkan ruh manusia ke hadapan Allah Swt. supaya menyilahkan diri dalam menjalankan qiyam (berdiri), rukuk dan sujud dengan sebenarnya.
      Untuk kemajuan manusia  membutuhkan mujahadah (perjuangan)  dan shalat pun suatu mujahadah pula. Mudah difahami bahwa apabila dua barang telah terikat satu sama lain lalu dengan mengangkat salah satu barang tersebut maka yang lainnya akan ikut serta bergerak juga, demikian juga halnya tubuh dengan ruh.  Tetapi hanya sekedar qiyam ( berdiri), rukuk dan sujud dengan tubuh zahir saja tidak akan berfaedah kalau tidak diusahakan supaya ruh juga ikut qiyam, rukuk dan sujud, sedangkan hal ini tergantung kepada makrifat, dan makrifat tergantung kepada fadhal (karunia ) Ilahi.

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid

oo0oo
Pajajaran Anyar, 14   Maret  2017

Tidak ada komentar:

Posting Komentar