Bismillaahirrahmaanirrahiim
ISLAM
Pidato Mirza Ghulam Ahmad a.s.
Tgl. 2 November 1904
di Kota Sialkote – Hindustan
Bab 42
KETIDAK-BERDAYAAN “TUHAN-TUHAN” REKAAN IMAJINASI MANUSIA & TIGA CARA MELAKUKAN “TADZKIYAH NAFS” (PENSUCIAN JIWA)” DAN DUA MACAM “MINUMAN SURGAWI”
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
D
|
alam bagian akhir Bab sebelumnya
telah dijelaskan topik Menjadi Atheisme.
Sehubungan topik tersebut Masih Mau’ud
a.s. selanjutnya menjelaskan kekeliruan
kepercayaan kaum Ariya:
“Ada lagi satu kerusakan yang sangat besar dalam itikad ini bahwa tiap-tiap dzarrah (molekul) terjadi dengan sendirinya
dan juga tidak akan hancur, yakni
tiap-tiap dzarrah dianggap sebagai sekutu Allah. Orang-orang yang menyembah berhala mereka anggap hanya beberapa berhala saja sebagai sekutu
Allah, tetapi menurut itikad Ariya
segenap dunia menjadi (merupakan) syirik (sekutu) Allah Swt. karena tiap-tiap dzarrah adalah Tuhan bagi dirinya.
Allah Swt. mengetahui -- saya mengatakan hal-hal ini bukan karena benci
atau bermusuhan -- bahkan saya yakin dengan sebenarnya
bahwa asal pelajaran Weda tentu tidak begitu. Saya mengetahui
pula hanya orang-orang ahli filsafat
menurut kehendak sendiri telah
membikin itikad semacam itu dan kebanyakan dari mereka pada akhirnya menjadi
dahriyah (atheis). Saya takut kalau orang-orang
Ariya tidak mau berhenti dari itikad
yang salah tersebut nanti
akibatnya mereka akan buruk seperti
mereka juga.
Dalam itikad ini terutama bagian penitisanlah
(re-inkarnasi) yang sangat menodai Sifat
Pengasih dan fadhal (karunia)
Allah. Apabila perhatikan dalam setiap jengkal
tanah terdapat berjuta-juta semut,
dalam setitik air terdapat
berlaksa-laksa kuman, dan semua sungai,
lautan dan hutan-hutan pun penuh dengan bermacam-macam binatang besar dan kecil yang tidak
dapat dihitung banyaknya, sehingga bilangan
(jumlah) seluruh manusia tidak dapat
dibandingkan sedikit pun dengan banyaknya
binatang-binatang tersebut.
Jadi, kalau dianggap untuk sementara
bahwa masalah penitisan (re-inkarenasi)
itu betul adanya, lalu apakah yang sampai sekarang telah dibikin
(diperbuat) Tuhan? Dan berapa banyak
yang telah diberi najat
(keselamatan)? Dan apakah yang dapat
diharap kemudian hari?
Tambahan pula peraturan ini tidak dapat difahami yakni orang yang diberi hukuman tidak diberitahukan apa kesalahannya
atau dosanya. Satu hal yang lebih
menyusahkan lagi ialah bahwa “mukti”
(najat/keselamatan) itu tergantung kepada “giyan”
(ilmu makrifat) sedangkan “giyan” itu
senantiasa hilang dengan meninggalnya orang itu.
Tidak ada seorang yang bagaimana pun ‘alim (berilmu) kependetaannya
dan dalam penitisan hidup sebagai apa saja yang lahir di dunia ini,
ia dapat ingat
sedikit pelajaran Weda, maka hal ini
menyatakan bahwa orang tidak mungkin memperoleh najat (keselamatan) dengan perantaraan penitisan hidup yang berulang-ulang (re-inkarnasi).
Begitu juga orang-orang laki-laki dan
perempuan yang lahir di dunia ini menurut peraturan penitisan, mereka tidak disertai suatu daftar yang menyatakan pertalian
kekeluargaan mereka, supaya jangan sampai orang keliru menikah dengan seorang gadis yang dalam hidupnya dahulu
pernah berstatus saudara atau ibu terhadapnya.
Keburukan Niyog & Gambaran Keliru Mengenai Kesempurnaan
Sifat-sifat Tuhan
Disini kami terus terang menasihatkan
kepada orang-orang Ariya supaya
mereka secepat mungkin membuang masalah niyog. Batin manusia sekali-kali tidak akan mau
menerima supaya seorang istri sejati
yang mempunyai segala perhubungan
yang sewajarnya dengan suaminya serta
yang dihormati dan dicintai olehnya, tetapi demi untuk
mendapatkan keturunan akan bersetubuh dengan laki-laki lain. Kami tak ingin menulis dengan panjang lebar tentang
peristiwa ini dan hanya menyerahkan kepada keputusan conscience (batin sejati) dari tiap-tiap orang yang baik.
Orang-orang Ariya yang mempunyai
kepercayaan macam itu sedang berusaha membujuk orang-orang Islam masuk ke dalam agama
Ariya, maka kami katakan bahwa tiap-tiap yang berakal akan mau menerima kebenaran,
tetapi pendirian (itikad) agama Ariya
ini tidak benar.
Allah Swt. memperlihatkan Diri-Nya dengan perantaraan Sifat-sifat dan kekuasaan
yang amat agung, tetapi kalau Dia tidak mempunyai sifat Khaliq (menciptakan) dan
kesempurnaan yang lainnya lalu
bagaimana Dia dapat dikatakan (disebut) Tuhan?
Manusia dapat mengenal Allah dengan perantaraan Sifat-sifat
dan kekuasaan-kekuasaan-Nya, tetapi
kalau Dia tidak memiliki suatu kekuasaan
serta seperti manusia butuh
kepada bahan-bahan dan perkakas
maka pintu untuk mengenal-Nya akan tertutup pula.
Allah Swt.
patut disembah karena terbukti
ada pemberian-Nya
dan kemurahan-Nya, tetapi kalau Dia tidak menciptakan ruh-ruh dan Dia tidak
mempunyai sifat-sifat untuk memberikan
karunia dan kemurahan kepada
orang-orang yang bekerja atau usaha untuk itu,
lalu untuk apa Tuhan semacam
itu harus disembah?
Menurut penyelidikan Kami, orang-orang Ariya tidak dapat mengemukakan suatu contoh yang baik dari agamanya. Mereka menganggap Tuhan begitu lemah dan pendendam,
bahwa setelah Dia menghukum yang
begitu banyak pun tetapi Dia tidak memberi najat (keselamatan) yang kekal, dan kemurkaan-Nya
tidak ada habis-habisnya juga.
Mereka pun menodai kebudayaan bangsa
dengan niyog yang mencemarkan pula martabat kaum
perempuan yang lemah itu, dan demikianlah mereka telah merusak hak-hak Allah serta hak-hak manusia kedua-duanya, karena dengan membatasi kekuasaan Tuhan menurut mereka
sangat dekat kepada dahriat
(atheisme), dan karena masalah niyog maka
menurut kebudayaan mereka
menyerupai suatu bangsa yang tidak patut diceritakan.”
Ketidak-berdayaan “Tuhan-tuhan”
Rekaan Imajinasi Manusia
Penjelasan Mirza Ghulam Ahmad
a.s. – dalam kapasitas beliau sebagai kedatangan
kedua kali Krisyna a.s. – berkenaan kekeliruan beberapa kepercayaan golongan
Ariya tersebut sesuai dengan firman Allah Swt. berikut ini:
لَہٗ
دَعۡوَۃُ الۡحَقِّ ؕ وَ
الَّذِیۡنَ یَدۡعُوۡنَ مِنۡ دُوۡنِہٖ لَا
یَسۡتَجِیۡبُوۡنَ لَہُمۡ بِشَیۡءٍ اِلَّا
کَبَاسِطِ کَفَّیۡہِ اِلَی الۡمَآءِ
لِیَبۡلُغَ فَاہُ وَ مَا ہُوَ بِبَالِغِہٖ ؕ وَ مَا دُعَآءُ الۡکٰفِرِیۡنَ اِلَّا
فِیۡ ضَلٰلٍ ﴿﴾ وَ لِلّٰہِ
یَسۡجُدُ مَنۡ فِی السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ طَوۡعًا وَّ کَرۡہًا وَّ ظِلٰلُہُمۡ
بِالۡغُدُوِّ وَ الۡاٰصَالِ ﴿ٛ﴾ قُلۡ
مَنۡ رَّبُّ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ؕ قُلِ
اللّٰہُ ؕ قُلۡ اَفَاتَّخَذۡتُمۡ مِّنۡ
دُوۡنِہٖۤ اَوۡلِیَآءَ لَا یَمۡلِکُوۡنَ لِاَنۡفُسِہِمۡ نَفۡعًا وَّ
لَا ضَرًّا ؕ قُلۡ ہَلۡ یَسۡتَوِی الۡاَعۡمٰی وَ الۡبَصِیۡرُ ۬ۙ اَمۡ ہَلۡ
تَسۡتَوِی الظُّلُمٰتُ وَ النُّوۡرُ ۬ۚ اَمۡ
جَعَلُوۡا لِلّٰہِ شُرَکَآءَ خَلَقُوۡا کَخَلۡقِہٖ فَتَشَابَہَ الۡخَلۡقُ
عَلَیۡہِمۡ ؕ قُلِ اللّٰہُ خَالِقُ کُلِّ شَیۡءٍ وَّ ہُوَ الۡوَاحِدُ الۡقَہَّارُ
﴿﴾
Hanya Bagi Dia-lah seruan yang haq (benar), dan mereka yang diseru oleh orang-orang itu selain Dia, mereka tidak
menjawabnya sedikit pun, melainkan seperti
orang yang mengulurkan kedua tangannya ke air
supaya sampai ke mulutnya, tetapi itu tidak akan sampai kepadanya, dan tidaklah doa orang-orang kafir itu melainkan sia-sia belaka. Dan kepada
Allah-lah bersujud siapa pun yang ada di seluruh langit dan bumi dengan rela
atau tidak rela dan demikian juga bayangan-bayangan mereka pada setiap pagi dan petang hari. Katakanlah:
“Siapakah Rabb
(Tuhan) seluruh langit dan bumi?” Katakanlah: “Allah!” Katakanlah: “Apakah kamu mengambil selain Dia pelindung-pelindung yang tidak memiliki kekuasaan untuk
kemanfaatan atau pun kemudaratan,
meskipun bagi dirinya sendiri?”
Katakanlah: ”Apakah sama keadaan orang-orang buta
dan orang-orang yang melihat? Atau samakah
gelap dan terang? Atau apakah mereka itu menjadikan bagi Allah
sekutu yang telah menciptakan
seperti ciptaan-Nya sehingga kedua
jenis ciptaan itu nampak serupa saja
bagi mereka?” Katakanlah: “Hanya Allah yang telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia-lah Yang Maha Esa, Maha Perkasa.” (Ar-Rā’d
[13]:15-17).
Ungkapan:
لَہٗ دَعۡوَۃُ
الۡحَقِّ -- “Hanya Bagi Dia-lah seruan yang haq (benar)” diterjemahkan sebagai berikut: (1) Allah Swt. sajalah yang layak disembah; (2)
hanya shalat dan mendoa kepada Allah
Swt. sajalah yang dapat berguna
dan berfaedah bagi manusia; (3) suara Allah Swt. sajalah yang berkumandang untuk
mendukung kebenaran; dan (4) suara Allah Swt. sajalah yang akan unggul.
Makna Ayat selanjutnya: وَ الَّذِیۡنَ
یَدۡعُوۡنَ مِنۡ دُوۡنِہٖ لَا یَسۡتَجِیۡبُوۡنَ لَہُمۡ بِشَیۡءٍ اِلَّا کَبَاسِطِ کَفَّیۡہِ اِلَی الۡمَآءِ لِیَبۡلُغَ فَاہُ وَ مَا ہُوَ
بِبَالِغِہٖ ؕ وَ مَا دُعَآءُ الۡکٰفِرِیۡنَ
اِلَّا فِیۡ ضَلٰلٍ -- “dan
mereka yang diseru oleh orang-orang itu
selain Dia, mereka tidak menjawabnya sedikit pun, melainkan seperti orang yang mengulurkan kedua
tangannya ke air supaya sampai ke
mulutnya, tetapi itu tidak akan
sampai kepadanya, dan tidaklah doa orang-orang kafir itu melainkan sia-sia belaka.“
Makna Ayat tersebut adalah bahwa jalan
yang benar untuk mendapat sukses
dalam kehidupan ialah menempatkan segala
sesuatu pada tempatnya yang tepat -- memberikan kedudukan kepada Allah Swt.
kedudukan yang mustahak bagi-Nya sebagai satu-satunya Tuhan Pencipta seluruh alam, dan memberi
kepada makhluk-makhluk-Nya (ciptaan-ciptaan-Nya)
kedudukan yang mereka berhak memilikinya. Hanya itu saja satu-satunya jalan untuk mencapai sukses dan kebahagiaan yang sejati.
Ketika makhluq-makhluk yang lemah tersebut kemudian “dipertuhan” maka gambarannya adalah seperti yang dikemukakan ayat
tersebut: وَ
الَّذِیۡنَ یَدۡعُوۡنَ مِنۡ دُوۡنِہٖ لَا
یَسۡتَجِیۡبُوۡنَ لَہُمۡ بِشَیۡءٍ اِلَّا
کَبَاسِطِ کَفَّیۡہِ اِلَی الۡمَآءِ
لِیَبۡلُغَ فَاہُ وَ مَا ہُوَ بِبَالِغِہٖ ؕ وَ مَا دُعَآءُ الۡکٰفِرِیۡنَ اِلَّا
فِیۡ ضَلٰلٍ -- “dan
mereka yang diseru oleh orang-orang itu
selain Dia, mereka tidak menjawabnya sedikit pun, melainkan seperti orang yang mengulurkan kedua
tangannya ke air supaya sampai ke
mulutnya, tetapi itu tidak akan
sampai kepadanya, dan tidaklah doa orang-orang kafir itu melainkan sia-sia
belaka.“
Semua Makhluk (Ciptaan)
Tidak Bisa Melepaskan Diri Dari “Hukum-hukum”
Allah Swt.
Ayat selanjutnya menjelaskan satu kebenaran agung,
yaitu bahwa segala sesuatu yang dijadikan
Allah Swt. – yakni makhluk-Nya -- mau tidak mau harus tunduk kepada hukum-hukum
alam yang diadakan (ditetapkan) oleh-Nya.
Lidah harus melaksanakan tugas mencicip dan telinga tidak berdaya selain mendengar.
Tunduknya semua ciptaan Allah Swt. kepada hukum-hukum
alam itu dapat disebut sebagai dipaksakan.
Itulah makna ayat: وَ لِلّٰہِ یَسۡجُدُ
مَنۡ فِی السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ طَوۡعًا وَّ کَرۡہًا وَّ ظِلٰلُہُمۡ
بِالۡغُدُوِّ وَ الۡاٰصَالِ -- “Dan kepada
Allah-lah bersujud siapa pun yang ada di seluruh langit dan bumi dengan rela
atau tidak rela dan demikian juga bayangan-bayangan mereka pada setiap pagi dan petang hari.“
Tetapi manusia diberi juga kebebasan tertentu untuk berbuat, di mana ia dapat mempergunakan kemauannya dan pertimbangan akalnya. Tetapi bahkan dalam perbuatan-perbuatan, yang untuk melakukannya ia nampaknya
dianugerahi kebebasan, ia
sedikit-banyak harus tunduk kepada paksaan, dan ia harus menaati hukum-hukum Allah
Swt. dalam berbuat apa pun, biar suka atau tidak.
Kata-kata طَوۡعًا وَّ کَرۡہًا -- “dengan senang
atau tidak senang” dapat juga mengisyaratkan kepada dua golongan manusia, yaitu (1) orang-orang
beriman yang secara ikhlas tunduk kepada Allah
Swt., dan (2) orang-orang kafir yang menaati hukum-hukum Allah Swt. dengan menggerutu.
Kedua golongan manusia tersebut masing-masing akan mendapatkan akibatnya yang baik mau pun yang buruk sesuai
dengan perbuatannya masing-masing
sesuai dengan ketetapan hukum Allah
Swt., firman-Nya:
ہٰذٰنِ خَصۡمٰنِ اخۡتَصَمُوۡا فِیۡ رَبِّہِمۡ ۫
فَالَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا قُطِّعَتۡ لَہُمۡ ثِیَابٌ مِّنۡ نَّارٍ ؕ یُصَبُّ مِنۡ
فَوۡقِ رُءُوۡسِہِمُ الۡحَمِیۡمُ ﴿ۚ﴾ یُصۡہَرُ بِہٖ
مَا فِیۡ بُطُوۡنِہِمۡ وَ الۡجُلُوۡدُ ﴿ؕ﴾ وَ لَہُمۡ مَّقَامِعُ مِنۡ حَدِیۡدٍ ﴿﴾ کُلَّمَاۤ اَرَادُوۡۤا اَنۡ یَّخۡرُجُوۡا مِنۡہَا مِنۡ
غَمٍّ اُعِیۡدُوۡا فِیۡہَا ٭ وَ ذُوۡقُوۡا
عَذَابَ الۡحَرِیۡقِ ﴿٪﴾ اِنَّ اللّٰہَ یُدۡخِلُ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا
وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ جَنّٰتٍ تَجۡرِیۡ مِنۡ تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ یُحَلَّوۡنَ فِیۡہَا مِنۡ اَسَاوِرَ مِنۡ
ذَہَبٍ وَّ لُؤۡلُؤًا ؕ وَ لِبَاسُہُمۡ
فِیۡہَا حَرِیۡرٌ ﴿﴾ وَ ہُدُوۡۤا اِلٰی الطَّیِّبِ مِنَ الۡقَوۡلِ
ۚۖ وَ ہُدُوۡۤا اِلَی صِرَاطِ
الۡحَمِیۡدِ ﴿﴾
Mereka berdua ini golongan petengkar yang berbantah mengenai Rabb (Tuhan) mereka, maka orang-orang kafir bagi mereka akan
dipotongkan pakaian-pakaian dari api, dituangkan
dari atas kepala mereka air
mendidih. Akan dilebur dengannya apa yang ada dalam
perut mereka dan juga kulit
mereka. Dan bagi
mereka ada cambuk-cambuk besi. Setiap kali mereka hendak ke luar dari situ karena sedih, mereka akan dikembalikan ke dalamnya dan, dikatakan: ”Rasakanlah
azab yang membakar!” Sesungguhnya Allah akan memasukkan
orang-orang yang beriman dan beramal
saleh ke dalam kebun-kebun yang di
bawahnya mengalir sungai-sungai. Di dalamnya mereka
akan dihiasi dengan gelang-gelang emas dan
mutiara, dan di dalamnya pakaian
mereka dari sutera. Dan mereka akan dibimbing kepada ucapan yang
baik, dan mereka akan dibimbing ke
jalan yang terpuji. (Al-Hājj
[20]:20-25).
Isyarat dalam kata-kata “mereka berdua ini”
dalam ayat: ہٰذٰنِ خَصۡمٰنِ اخۡتَصَمُوۡا فِیۡ رَبِّہِمۡ -- “Mereka berdua ini golongan
petengkar yang berbantah
mengenai Rabb (Tuhan) mereka“ ditujukan kepada dua golongan manusia, yaitu (1) orang-orang beriman dan (2) orang-orang kafir. Ayat-ayat selanjutnya
(21-23) menggambarkan akibat buruk
yang pasti akan dialami oleh orang-orang
kafir -- baik di dunia mau pun di akhirat -- sedangkan ayat
24-25 menggambarkan berbagai akibat baik serta ganjaran surgawi yang akan
dianugerahkan kepada orang-orang yang
beriman kepada Allah Swt. dan rasul-Nya.
Penggenapan Nubuatan
Nabi Besar Muhammad Saw. Mengenai Syuraqah
bin Malik Berkenaan Ditaklukannya Kerajaan
Persia Oleh Umat Islam
Berkenaan dengan ayat: اِنَّ اللّٰہَ یُدۡخِلُ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ عَمِلُوا
الصّٰلِحٰتِ جَنّٰتٍ تَجۡرِیۡ مِنۡ تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ یُحَلَّوۡنَ فِیۡہَا مِنۡ اَسَاوِرَ مِنۡ
ذَہَبٍ وَّ لُؤۡلُؤًا ؕ وَ لِبَاسُہُمۡ
فِیۡہَا حَرِیۡرٌ --
“Sesungguhnya Allah akan memasukkan orang-orang yang beriman dan beramal saleh ke dalam kebun-kebun yang di bawahnya mengalir
sungai-sungai. Di dalamnya mereka
akan dihiasi dengan gelang-gelang emas
dan mutiara, dan di dalamnya pakaian
mereka dari sutera.” Nabi Besar Muhammad saw. menurut riwayat pernah bersabda “Nil dan Efrat itu dua buah sungai surgawi”
(Muslim bab al-Jannah).
Nabi Besar Muhmamad saw. dan
para sahabat r.a. mengetahui, bahwa
kepada mereka telah dijanjikan “kebun-kebun,”
bukan saja pada kehidupan di akhirat tetapi
di dunia juga; dan mereka mengetahui
bahwa dengan “kebun-kebun” di dunia
dimaksudkan daerah-daerah kaya dan subur yang pernah diperintah oleh para Kisra dari Persia dan Kaisar dari
kerajaan Romawi Timur.
Di masa khilafat Umar bin Khaththab r.a. tentara
Islam bertempur di dua medan pertempuran, yaitu di Mesopotamia dan Siria.
Ketika beberapa pemimpin Arab
menghadap beliau r.a. dan menawarkan jasa, beliau r.a. menanyakan kepada
mereka, “Mau pergi ke negeri yang manakah dari antara dua
daerah yang dijanjikan itu
(Mesopotamia atau Siria)?
Nubuatan dalam ayat tersebut telah
dipenuhi secara harfiah ketika Khalifah Umar bin Khaththab r.a. menyuruh
Suraqah bin Malik r.a. memakai gelang-gelang
mas yang raja-raja Iran -- biasa memakainya pada upacara-upacara kenegaraan yang istimewa – dalam rangka menyempurnakan kebenaran sabda (nubuatan) Nabi Besar Muhammad saw. ketika Suraqah bin Malik mengejar dan berusaha menangkap beliau saw. sewaktu hijrah ke Madinah bersama Abu Bakar Shiddiq r.a.
agar mendapat hadiah besar
dari para pemuka kaum kafir Quraisy
pimpinan Abu Jahal, firman-Nya:
اِلَّا تَنۡصُرُوۡہُ فَقَدۡ نَصَرَہُ اللّٰہُ اِذۡ اَخۡرَجَہُ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا ثَانِیَ اثۡنَیۡنِ اِذۡ ہُمَا فِی
الۡغَارِ اِذۡ یَقُوۡلُ لِصَاحِبِہٖ لَا تَحۡزَنۡ اِنَّ
اللّٰہَ مَعَنَا ۚ فَاَنۡزَلَ اللّٰہُ سَکِیۡنَتَہٗ عَلَیۡہِ وَ اَیَّدَہٗ بِجُنُوۡدٍ لَّمۡ
تَرَوۡہَا وَ جَعَلَ کَلِمَۃَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوا
السُّفۡلٰی ؕ وَ کَلِمَۃُ اللّٰہِ ہِیَ الۡعُلۡیَا ؕ وَ اللّٰہُ
عَزِیۡزٌ
حَکِیۡمٌ ﴿﴾
Jika kamu tidak menolongnya maka sungguh
Allah telah menolongnya ketika ia
(Rasulullah) diusir oleh orang-orang kafir, sedangkan ia kedua dari yang dua ketika keduanya
berada dalam gua, lalu ia berkata kepada temannya: لَا
تَحۡزَنۡ اِنَّ اللّٰہَ مَعَنَا -- “Janganlah engkau sedih sesungguhnya Allah
beserta kita”, lalu Allah menurunkan ketenteraman-Nya kepadanya
dan menolongnya dengan
lasykar-lasykar yang kamu tidak melihatnya,
dan Dia menjadikan perkataan
orang-orang yang kafir itu rendah sedangkan Kalimah Allah itulah yang tertinggi, dan Allah Maha Perkasa, Maha
Bijaksana. (At-Taubah [40).
Para Penyembah
Berhala dan Yang Disembahnya Sama-sama Lemah
Ada pun yang dimaksud oleh ayat ini ialah hijrah Nabi Besar Muhammad saw. dari Mekkah ke Medinah ketika beliau didampingi oleh Abubakar Shiddiq r.a. berlindung di gua Tsaur. Ayat ini menjelaskan martabat ruhani amat tinggi Abubakar Shiddiq r.a. yang telah disebut sebagai “salah satu di antara dua orang” dengan disertai Allah Swt. dan Dia Sendiri meredakan rasa ketakutannya.
Telah tercatat dalam sejarah bahwa ketika berada dalam gua Abubakar Shiddiq r.a. mulai menangis, dan ketika ditanya oleh Nabi Besar Muhammad saw. mengapa beliau menangis, beliau menjawab: “Saya tidak menangis untuk hidupku, ya Rasulullah, sebab jika saya mati, ini hanya menyangkut satu jiwa saja, tetapi jika Anda mati, ini akan merupakan kematian Islam dan kematian seluruh umat Islam.” (Zurqani).
Perhatikan bahwa betapa Allah Swt. -- Tuhan pencipta seluruh alam yang hakiki -- benar-benar membuktikan janji-janji-Nya kepada para penyembah-Nya yang hakiki, berbeda dengan “tuhan-tuhan palsu” hasil rekayasa pemikiran orang-orang yang jahil sebagaimana dikemukakan dalam firman Allah Swt. sebelumnya (Ar-Rā’d [13]:15-17), dan juga dalam firman-Nya berikut ini:
یٰۤاَیُّہَا النَّاسُ ضُرِبَ مَثَلٌ فَاسۡتَمِعُوۡا لَہٗ ؕ اِنَّ الَّذِیۡنَ تَدۡعُوۡنَ مِنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ لَنۡ یَّخۡلُقُوۡا ذُبَابًا وَّ لَوِ اجۡتَمَعُوۡا لَہٗ ؕ وَ اِنۡ یَّسۡلُبۡہُمُ الذُّبَابُ شَیۡئًا لَّا یَسۡتَنۡقِذُوۡہُ مِنۡہُ ؕ ضَعُفَ الطَّالِبُ وَ الۡمَطۡلُوۡبُ ﴿ ﴾ مَا قَدَرُوا اللّٰہَ حَقَّ قَدۡرِہٖ ؕ اِنَّ اللّٰہَ لَقَوِیٌّ عَزِیۡزٌ ﴿﴾ اَللّٰہُ یَصۡطَفِیۡ مِنَ الۡمَلٰٓئِکَۃِ رُسُلًا وَّ مِنَ النَّاسِ ؕ اِنَّ اللّٰہَ سَمِیۡعٌۢ بَصِیۡرٌ ﴿ۚ﴾ یَعۡلَمُ مَا بَیۡنَ اَیۡدِیۡہِمۡ وَ مَا خَلۡفَہُمۡ ؕ وَ اِلَی اللّٰہِ تُرۡجَعُ الۡاُمُوۡرُ ﴿﴾
Hai manusia, suatu tamsil (perumpamaan) telah dikemukakan maka dengarlah tamsil itu. Sesungguhnya mereka yang kamu seru selain Allah tidak dapat menjadikan seekor lalat, walau pun mereka itu bergabung untuk itu. Dan seandainya lalat itu menyambar sesuatu dari mereka, mereka tidak akan dapat merebutnya kembali dari lalat itu. ضَعُفَ الطَّالِبُ وَ الۡمَطۡلُوۡبُ -- Sangat lemah yang meminta dan yang diminta. مَا قَدَرُوا اللّٰہَ حَقَّ قَدۡرِہٖ ؕ اِنَّ اللّٰہَ لَقَوِیٌّ عَزِیۡزٌ -- Mereka sekali-kali tidak dapat menilai kekuasaan Allah dengan sebenar-benarnya, sesungguhnya Allah Mahakuat, Maha Perkasa. اَللّٰہُ یَصۡطَفِیۡ مِنَ الۡمَلٰٓئِکَۃِ رُسُلًا وَّ مِنَ النَّاسِ ؕ اِنَّ اللّٰہَ سَمِیۡعٌۢ بَصِیۡرٌ -- Allah memilih rasul-rasul dari antara malaikat-malaikat dan dari antara manusia, sesungguhnya Allah Maha Mendengar, Maha Melihat. یَعۡلَمُ مَا بَیۡنَ اَیۡدِیۡہِمۡ وَ مَا خَلۡفَہُمۡ ؕ وَ اِلَی اللّٰہِ تُرۡجَعُ الۡاُمُوۡرُ -- Dia mengetahui apa pun yang di hadapan mereka dan apa pun yang di belakang mereka, dan kepada Allah-lah segala urusan dikembalikan (Al-Hājj [22]:74-77).
Ayat 74 menerangkan kepada orang-orang kafir, bahwa tuhan-tuhan mereka sama sekali tidak mempunyai kekuasaan dan tidak berdaya, dan betapa bodohnya mereka untuk menyembah tuhan-tuhan itu.
Kenyataan, bahwa orang-orang musyrik menjatuhkan derajat mereka sendiri ke tingkat yang begitu rendah, hingga mereka menyembah patung-patung — berhala-berhala yang terbuat dari kayu dan batu — menunjukkan, bahwa mereka mempunyai anggapan yang sangat keliru mengenai kekuatan-kekuatan dan Sifat-sifat Tuhan Yang Maha Kuasa, Al-Khāliq (Maha Pencipta) Yang Agung, sebagaimana ribuan tahun sebelumnya Nabi Ibrahim a.s. telah mengkritik kemusyrikan kaum dan juga mertua beliau (QS.6:75-85; QS.21:52-71; QS.37:84-99).
Pada hakikatnya, semua kepercayaan yang mengakui adanya banyak tuhan dan semua anggapan-anggapan musyrik adalah timbul dari pandangan yang lemah dan keliru, bahwa kekuatan-kekuatan dan sifat-sifat Tuhan itu terbatas dan mempunyai kekurangan seperti halnya manusia, sebagaimana kepercayaan keliru golongan Ariya, firman-Nya: مَا قَدَرُوا اللّٰہَ حَقَّ قَدۡرِہٖ ؕ اِنَّ اللّٰہَ لَقَوِیٌّ عَزِیۡزٌ -- Mereka sekali-kali tidak dapat menilai kekuasaan Allah dengan sebenar-benarnya, sesungguhnya Allah Mahakuat, Maha Perkasa. (Al-Hājj [22]:75), lihat pula QS.6:92; QS.39:68.
Mencela Kesempurnaan Ajaran Islam Tanpa Pengetahuan & Tiga Cara Melakukan Pensucian Jiwa dari Dosa
Sehubungan dengan hal tersebut
Masih Mau’ud a.s. lebih lanjut menjelaskan: “Di sini kami terangkan dengan sedih hati bahwa kebanyakan orang-orang Ariya dan Kristen telah biasa mencela
peraturan-peraturan Islam yang benar dan sempurna tetapi
mereka lalai terhadap keruhanian agamanya
sendiri. Mencaci-maki dan mencela orang-orang mulia, nabi-nabi
dan rasul-rasul bukanlah ajaran suatu agama,
malah perbuatan terkutuk ini sangat berlawanan
dengan asal (pokok) tujuan agama.
Tujuan agama adalah manusia harus membersihkan
diri supaya ruhnya senantiasa bersujud di hadapan istana Ilahi dengan penuh keyakinan,
kecintaan, makrifat, kejujuran dan kesetiaan sehingga terjadi suatu perubahan sejati dalam dirinya
untuk memperoleh kehidupan surgawi di
dunia ini juga.
Kebaikan yang sebenarnya tidak dapat
diperoleh hanya dengan itikad bahwa Nabi Isa
naik di atas kayu salib (disalibkan)
untuk menebus dosa manusia dan dengan
beriman kepada hal ini saja seorang
menjadi bersih dari dosa-dosa. Bagaimana mungkin akan dapat diperoleh kesucian dan kebersihan
jika tidak dengan mengerjakan tadzkiyah
nafs (pensucian diri pribadi)
sedikit pun?
Kesucian yang sebenarnya baru akan dapat
diperoleh kalau manusia taubat dari
kehidupan yang kotor untuk mencari kehidupan yang suci, dan harus menjalankan tiga perkara berikut ini:
Pertama, ialah tadbir
(rencana) dan mujahadah (daya
upaya/usaha) yakni sedapat mungkin ia harus berdaya-upaya
(berusaha) untuk keluar dari kehidupan
yang kotor.
Kedua,
ialah doa yakni setiap saat ia harus munajat ke hadhirat Ilahi agar Dia
mengeluarkannya dari kehidupan yang kotor dengan Tangan-Nya Sendiri serta menimbulkan suatu api di dalamnya untuk membakar
segala apa yang bersangkut-paut dengan kejahatan
dan memberikan suatu kekuatan untuk menang atas dorongan-dorongan nafsunya.
Hendaknya
ia senantiasa sibuk di dalam doa itu sehingga tibalah saatnya suatu nur Ilahi turun atas kalbunya,
suatu cahaya yang gemerlap
melenyapkan segala kegelapan dari nafsunya serta menjauhkan kelemahan-kelemahannya dan menimbulkan
suatu perubahan suci pada
dirinya.
Sebenarnya doa mempuyai kekuatan
yang luar biasa, orang mati kalau dapat dihidupkan
lagi hanyalah dengan doa, orang-orang
kotor kalau dapat dibuat suci hanya dengan doa. Akan tetapi mengerjakan
doa itu sama susahnya seperti menerima kematian.
Ketiga, ia bergaul
dengan orang-orang suci dan shalih karena suatu pelita dapat dinyalakan dengan perantaraan pelita lain yang telah menyala.
Dua Macam “Minuman Surgawi”
Jelasnya ialah tiga jalan untuk memperoleh najat
(keselamatan) dari dosa dan dengan
mengerjakan semua jalan ini akhirnya
kelak kita akan mendapat fadhal
(karunia) dan rahmat Ilahi. Kita
tidak akan dapat lepas dari dosa hanya dengan mempercayai bahwa Nabi Isa naik di atas kayu salib (disalibkan) untuk menebus
dosa manusia, melainkan itu hanya menipu
diri sendiri.
Manusia dijadikan untuk suatu maksud dan tujuan yang sangat
tinggi maka ia tidak cukup hanya melepaskan
diri dari dosanya saja. Banyak binatang
tidak berbuat suatu dosa, kemudian
dapatkah binatang-binatang itu disebut
sebagai kamil (sempurna)? Dapatkan
kita memperoleh hadiah atau karunia dari seseorang hanya karena kita
tidak berbuat dosa terhadapnya?
Karunia dan hadiah itu akan diperoleh hanya dengan khidmat dan bakti yang
dikerjakan dengan tulus ikhlas, dan khidmat dan bakti dalam jalan Allah Swt. ialah manusia harus menyerahkan diri kepada-Nya serta melepaskan segala kecintaan
yang lain untuk kecintaan kepada-Nya dan membuang kemauan sendiri untuk memperoleh keridhaan-Nya.
Tentang hal ini Al-Quran mengemukakan
suatu misal bahwa seorang manusia
tidak memperoleh kesempurnaan sebelum minum dua macam minuman: Pertama, ialah minuman untuk mendinginkan kesukaan kepada dosa yang dalam Al-Quran dinamakan “minuman kafur (kafur barus).” Kedua, ialah minuman untuk mengisi kecintaan
Ilahi yang dalam Al-Quran dinamakan “minuman
zanjabil (jahe).”
Tetapi
sayang orang-orang Ariya dan Kristen tidak mempergunakan jalan ini. Orang-orang Ariya mengatakan bahwa dosa
akan dihukum -- baik bertaubat
atau pun tidak -- dan akan menyebabkan terjadinya penitisan ruh (re-inkarnasi) yang berulang-ulang.
Orang-orang Kristen berpendirian bahwa hanya dengan mempercayai Nabi Isa a.s.
naik di atas salib (disalibkan) untuk menebus
dosa manusia kita akan lepas dari
dosa-dosa itu. Kedua golongan ini telah
sesat jauh dari asal maksudnya,
mereka meninggalkan pintu yang harus dilaluinya dalam hutan rimba yang sangat
jauh.
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran
Anyar, 18 Maret 2017
Tidak ada komentar:
Posting Komentar