Senin, 20 Maret 2017

Ketidak-berdayaan "Tuhan-tuhan" Rekaan "Imajinasi" Manusia & Tiga Cara Melakukan "Tadzkiyah Nafs" (Pensucian Jiwa) dan Dua Macam "Minuman Surgawi"


Bismillaahirrahmaanirrahiim

  ISLAM
Pidato  Mirza Ghulam Ahmad a.s.
Tgl. 2 November 1904 di Kota Sialkote – Hindustan

Bab  42

KETIDAK-BERDAYAAN “TUHAN-TUHAN” REKAAN IMAJINASI MANUSIA &   TIGA CARA MELAKUKAN “TADZKIYAH NAFS” (PENSUCIAN JIWA)” DAN DUA MACAM “MINUMAN SURGAWI”   

Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam bagian akhir Bab  sebelumnya telah dijelaskan  topik Menjadi  Atheisme. Sehubungan topik tersebut Masih Mau’ud a.s. selanjutnya menjelaskan  kekeliruan  kepercayaan kaum Ariya:
    “Ada lagi satu kerusakan yang sangat besar dalam itikad ini bahwa  tiap-tiap dzarrah (molekul) terjadi dengan sendirinya dan juga tidak akan hancur, yakni tiap-tiap dzarrah dianggap sebagai sekutu Allah.   Orang-orang yang menyembah berhala mereka anggap hanya beberapa berhala saja sebagai sekutu Allah, tetapi menurut itikad Ariya segenap dunia menjadi (merupakan) syirik (sekutu) Allah Swt. karena tiap-tiap dzarrah adalah Tuhan bagi dirinya.
    Allah Swt. mengetahui  -- saya mengatakan  hal-hal ini bukan karena  benci atau bermusuhan  -- bahkan saya yakin dengan  sebenarnya bahwa asal pelajaran Weda tentu tidak begitu. Saya mengetahui pula hanya orang-orang ahli filsafat menurut kehendak sendiri telah membikin  itikad semacam itu dan kebanyakan dari mereka pada akhirnya menjadi dahriyah (atheis). Saya takut kalau orang-orang Ariya tidak mau berhenti dari itikad  yang salah tersebut nanti akibatnya mereka akan buruk seperti mereka juga.
       Dalam itikad ini terutama bagian penitisanlah (re-inkarnasi) yang sangat menodai Sifat Pengasih dan fadhal (karunia) Allah. Apabila perhatikan dalam setiap jengkal tanah terdapat berjuta-juta semut, dalam setitik air terdapat berlaksa-laksa  kuman, dan semua sungai,  lautan dan hutan-hutan pun penuh dengan bermacam-macam binatang besar dan kecil yang tidak dapat dihitung banyaknya, sehingga bilangan (jumlah) seluruh manusia tidak dapat dibandingkan sedikit pun dengan banyaknya binatang-binatang tersebut.
      Jadi, kalau dianggap untuk sementara bahwa masalah penitisan (re-inkarenasi) itu betul adanya, lalu apakah yang sampai sekarang telah dibikin (diperbuat)  Tuhan? Dan berapa banyak yang telah diberi najat (keselamatan)? Dan apakah yang dapat  diharap kemudian hari?
    Tambahan pula peraturan ini tidak dapat difahami yakni  orang yang diberi hukuman tidak diberitahukan apa kesalahannya atau dosanya. Satu hal yang lebih menyusahkan lagi ialah bahwa “mukti” (najat/keselamatan) itu tergantung kepada “giyan” (ilmu makrifat) sedangkan “giyan” itu senantiasa hilang dengan meninggalnya orang itu.
     Tidak ada seorang  yang bagaimana  pun ‘alim (berilmu)  kependetaannya dan dalam penitisan hidup  sebagai apa saja yang lahir di dunia ini, ia   dapat  ingat sedikit pelajaran Weda, maka  hal ini  menyatakan bahwa orang tidak mungkin memperoleh najat (keselamatan) dengan perantaraan penitisan hidup yang berulang-ulang (re-inkarnasi).
    Begitu juga orang-orang laki-laki dan perempuan yang lahir di dunia ini menurut peraturan penitisan, mereka tidak disertai suatu daftar yang menyatakan pertalian kekeluargaan mereka, supaya jangan sampai orang keliru menikah dengan seorang gadis yang dalam hidupnya dahulu pernah berstatus saudara atau ibu terhadapnya.

Keburukan   Niyog  & Gambaran Keliru Mengenai Kesempurnaan Sifat-sifat Tuhan

    Disini kami terus terang menasihatkan kepada orang-orang Ariya supaya mereka secepat mungkin membuang  masalah niyog.  Batin manusia sekali-kali tidak akan mau menerima supaya seorang istri sejati yang mempunyai segala perhubungan yang sewajarnya dengan suaminya serta yang dihormati dan dicintai olehnya, tetapi demi untuk mendapatkan keturunan akan bersetubuh dengan laki-laki lain. Kami tak ingin menulis dengan panjang lebar tentang peristiwa ini dan hanya menyerahkan kepada keputusan conscience (batin sejati) dari tiap-tiap orang yang baik.
    Orang-orang Ariya yang  mempunyai kepercayaan macam itu sedang berusaha membujuk orang-orang Islam masuk ke dalam agama Ariya, maka kami katakan bahwa tiap-tiap yang berakal akan mau menerima kebenaran, tetapi pendirian (itikad) agama Ariya ini tidak benar.
     Allah Swt. memperlihatkan Diri-Nya dengan perantaraan Sifat-sifat  dan kekuasaan yang amat agung, tetapi kalau Dia tidak mempunyai sifat Khaliq (menciptakan) dan   kesempurnaan yang lainnya  lalu bagaimana  Dia dapat dikatakan  (disebut) Tuhan?
   Manusia dapat mengenal Allah dengan perantaraan Sifat-sifat dan kekuasaan-kekuasaan-Nya, tetapi kalau Dia tidak memiliki suatu kekuasaan serta  seperti manusia butuh  kepada bahan-bahan dan perkakas  maka  pintu untuk mengenal-Nya akan tertutup pula.
    Allah Swt.  patut disembah karena terbukti ada  pemberian-Nya dan kemurahan-Nya, tetapi kalau Dia tidak menciptakan ruh-ruh dan Dia tidak mempunyai sifat-sifat untuk memberikan karunia dan kemurahan kepada orang-orang yang bekerja atau usaha untuk itu,   lalu untuk apa Tuhan semacam itu harus disembah
    Menurut penyelidikan Kami, orang-orang Ariya tidak dapat  mengemukakan suatu contoh yang baik dari agamanya. Mereka menganggap Tuhan begitu lemah dan pendendam, bahwa setelah Dia menghukum yang begitu banyak pun tetapi Dia tidak memberi najat  (keselamatan) yang kekal, dan kemurkaan-Nya tidak  ada habis-habisnya juga.
      Mereka pun menodai  kebudayaan bangsa dengan niyog yang mencemarkan pula martabat kaum  perempuan yang lemah itu, dan demikianlah mereka telah merusak hak-hak Allah serta hak-hak manusia kedua-duanya, karena dengan membatasi kekuasaan Tuhan menurut mereka sangat  dekat kepada  dahriat (atheisme), dan karena masalah niyog  maka  menurut kebudayaan mereka menyerupai suatu bangsa yang tidak patut diceritakan.”

Ketidak-berdayaan “Tuhan-tuhan” Rekaan Imajinasi Manusia

       Penjelasan Mirza Ghulam Ahmad a.s.  – dalam kapasitas beliau sebagai kedatangan kedua kali Krisyna a.s.   – berkenaan kekeliruan beberapa kepercayaan golongan Ariya tersebut sesuai dengan firman Allah Swt. berikut ini:
لَہٗ  دَعۡوَۃُ   الۡحَقِّ ؕ وَ الَّذِیۡنَ  یَدۡعُوۡنَ مِنۡ دُوۡنِہٖ لَا یَسۡتَجِیۡبُوۡنَ لَہُمۡ بِشَیۡءٍ  اِلَّا کَبَاسِطِ کَفَّیۡہِ  اِلَی الۡمَآءِ لِیَبۡلُغَ فَاہُ وَ مَا ہُوَ بِبَالِغِہٖ ؕ وَ مَا دُعَآءُ الۡکٰفِرِیۡنَ  اِلَّا  فِیۡ  ضَلٰلٍ ﴿﴾ وَ لِلّٰہِ یَسۡجُدُ مَنۡ فِی السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ طَوۡعًا وَّ کَرۡہًا وَّ ظِلٰلُہُمۡ بِالۡغُدُوِّ  وَ الۡاٰصَالِ  ﴿ٛ﴾   قُلۡ مَنۡ رَّبُّ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ؕ قُلِ اللّٰہُ ؕ قُلۡ  اَفَاتَّخَذۡتُمۡ  مِّنۡ  دُوۡنِہٖۤ  اَوۡلِیَآءَ  لَا یَمۡلِکُوۡنَ لِاَنۡفُسِہِمۡ نَفۡعًا وَّ لَا ضَرًّا ؕ قُلۡ ہَلۡ یَسۡتَوِی الۡاَعۡمٰی وَ الۡبَصِیۡرُ ۬ۙ اَمۡ ہَلۡ تَسۡتَوِی الظُّلُمٰتُ وَ النُّوۡرُ ۬ۚ اَمۡ  جَعَلُوۡا لِلّٰہِ  شُرَکَآءَ  خَلَقُوۡا کَخَلۡقِہٖ فَتَشَابَہَ الۡخَلۡقُ عَلَیۡہِمۡ ؕ قُلِ اللّٰہُ خَالِقُ کُلِّ شَیۡءٍ وَّ ہُوَ الۡوَاحِدُ الۡقَہَّارُ ﴿﴾
Hanya Bagi Dia-lah seruan  yang haq (benar),  dan mereka yang diseru oleh orang-orang itu selain Dia, mereka tidak menjawabnya sedikit pun, melainkan seperti orang yang mengulurkan kedua tangannya ke air  supaya sampai ke mulutnya, tetapi itu tidak akan sampai kepadanya,  dan tidaklah doa orang-orang kafir itu melainkan  sia-sia belaka.  Dan kepada Allah-lah bersujud siapa pun yang ada di seluruh langit dan bumi dengan rela  atau tidak rela  dan demikian juga bayangan-bayangan mereka pada setiap pagi dan petang hari.   Katakanlah: “Siapakah  Rabb (Tuhan) seluruh langit dan bumi?” Katakanlah: “Allah!” Katakanlah: “Apakah kamu mengambil selain Dia pelindung-pelindung   yang tidak memiliki  kekuasaan untuk kemanfaatan atau pun kemudaratan, meskipun bagi dirinya sendiri?” Katakanlah: ”Apakah sama keadaan orang-orang buta dan    orang-orang yang melihat? Atau samakah gelap dan terang? Atau  apakah mereka itu menjadikan bagi Allah sekutu yang telah menciptakan seperti ciptaan-Nya  sehingga kedua jenis ciptaan itu nampak serupa saja bagi mereka?” Katakanlah: “Hanya Allah yang telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia-lah Yang Maha Esa, Maha Perkasa.” (Ar-Rā’d [13]:15-17). 
      Ungkapan:  لَہٗ  دَعۡوَۃُ   الۡحَقِّ -- “Hanya Bagi Dia-lah seruan  yang haq (benar)”  diterjemahkan sebagai berikut: (1)  Allah Swt.  sajalah yang layak disembah; (2) hanya shalat dan mendoa kepada  Allah Swt.   sajalah yang dapat berguna dan berfaedah bagi manusia; (3) suara  Allah Swt.   sajalah yang berkumandang untuk mendukung kebenaran; dan (4) suara  Allah Swt.    sajalah yang akan unggul.
        Makna Ayat selanjutnya:  وَ الَّذِیۡنَ  یَدۡعُوۡنَ مِنۡ دُوۡنِہٖ لَا یَسۡتَجِیۡبُوۡنَ لَہُمۡ بِشَیۡءٍ  اِلَّا کَبَاسِطِ کَفَّیۡہِ  اِلَی الۡمَآءِ لِیَبۡلُغَ فَاہُ وَ مَا ہُوَ بِبَالِغِہٖ ؕ وَ مَا دُعَآءُ الۡکٰفِرِیۡنَ  اِلَّا  فِیۡ  ضَلٰلٍ   --  “dan mereka yang diseru oleh orang-orang itu selain Dia, mereka tidak menjawabnya sedikit pun, melainkan seperti orang yang mengulurkan kedua tangannya ke air  supaya sampai ke mulutnya, tetapi itu tidak akan sampai kepadanya,  dan tidaklah doa orang-orang kafir itu melainkan  sia-sia belaka.“
      Makna Ayat tersebut adalah bahwa  jalan yang benar untuk mendapat sukses dalam kehidupan ialah menempatkan segala sesuatu pada tempatnya yang tepat -- memberikan kedudukan kepada Allah Swt.  kedudukan yang mustahak bagi-Nya sebagai satu-satunya Tuhan Pencipta seluruh alam, dan memberi kepada makhluk-makhluk-Nya (ciptaan-ciptaan-Nya) kedudukan yang mereka berhak memilikinya. Hanya itu saja satu-satunya jalan untuk mencapai sukses dan kebahagiaan yang sejati.
     Ketika  makhluq-makhluk yang lemah  tersebut kemudian “dipertuhan” maka gambarannya adalah seperti yang dikemukakan ayat tersebut: وَ الَّذِیۡنَ  یَدۡعُوۡنَ مِنۡ دُوۡنِہٖ لَا یَسۡتَجِیۡبُوۡنَ لَہُمۡ بِشَیۡءٍ  اِلَّا کَبَاسِطِ کَفَّیۡہِ  اِلَی الۡمَآءِ لِیَبۡلُغَ فَاہُ وَ مَا ہُوَ بِبَالِغِہٖ ؕ وَ مَا دُعَآءُ الۡکٰفِرِیۡنَ  اِلَّا  فِیۡ  ضَلٰلٍ   --  “dan mereka yang diseru oleh orang-orang itu selain Dia, mereka tidak menjawabnya sedikit pun, melainkan seperti orang yang mengulurkan kedua tangannya ke air  supaya sampai ke mulutnya, tetapi itu tidak akan sampai kepadanya,  dan tidaklah doa orang-orang kafir itu melainkan  sia-sia belaka.“

Semua Makhluk (Ciptaan) Tidak Bisa Melepaskan Diri Dari “Hukum-hukum” Allah Swt.

       Ayat  selanjutnya menjelaskan satu kebenaran   agung, yaitu bahwa segala sesuatu yang dijadikan Allah Swt.  – yakni makhluk-Nya   --  mau tidak mau harus tunduk kepada hukum-hukum alam yang diadakan (ditetapkan)  oleh-Nya. Lidah harus melaksanakan tugas mencicip dan telinga tidak berdaya selain mendengar. Tunduknya semua ciptaan Allah Swt. kepada hukum-hukum alam itu dapat disebut sebagai dipaksakan.  Itulah makna ayat: وَ لِلّٰہِ یَسۡجُدُ مَنۡ فِی السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ طَوۡعًا وَّ کَرۡہًا وَّ ظِلٰلُہُمۡ بِالۡغُدُوِّ  وَ الۡاٰصَالِ    -- “Dan kepada Allah-lah bersujud siapa pun yang ada di seluruh langit dan bumi dengan rela  atau tidak rela  dan demikian juga bayangan-bayangan mereka pada setiap pagi dan petang hari.“
       Tetapi manusia diberi juga kebebasan tertentu untuk berbuat, di mana ia dapat mempergunakan kemauannya dan pertimbangan akalnya. Tetapi bahkan dalam perbuatan-perbuatan, yang untuk melakukannya ia nampaknya dianugerahi kebebasan, ia sedikit-banyak harus tunduk kepada paksaan, dan ia harus menaati hukum-hukum  Allah Swt.  dalam berbuat apa pun, biar suka atau tidak.
    Kata-kata  طَوۡعًا وَّ کَرۡہًا --  “dengan senang atau tidak senang” dapat juga mengisyaratkan kepada dua golongan manusia, yaitu (1) orang-orang beriman yang secara ikhlas tunduk kepada  Allah Swt.,   dan (2) orang-orang kafir yang menaati hukum-hukum  Allah Swt.   dengan menggerutu.
        Kedua golongan manusia tersebut masing-masing akan mendapatkan akibatnya yang baik mau pun yang buruk   sesuai dengan perbuatannya masing-masing sesuai dengan ketetapan hukum Allah Swt., firman-Nya:
 ہٰذٰنِ خَصۡمٰنِ اخۡتَصَمُوۡا فِیۡ رَبِّہِمۡ ۫ فَالَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا قُطِّعَتۡ لَہُمۡ ثِیَابٌ مِّنۡ نَّارٍ ؕ یُصَبُّ مِنۡ فَوۡقِ رُءُوۡسِہِمُ الۡحَمِیۡمُ ﴿ۚ﴾ یُصۡہَرُ  بِہٖ  مَا فِیۡ  بُطُوۡنِہِمۡ  وَ الۡجُلُوۡدُ ﴿ؕ﴾   وَ لَہُمۡ  مَّقَامِعُ مِنۡ  حَدِیۡدٍ ﴿﴾ کُلَّمَاۤ  اَرَادُوۡۤا اَنۡ یَّخۡرُجُوۡا مِنۡہَا مِنۡ غَمٍّ  اُعِیۡدُوۡا فِیۡہَا ٭ وَ ذُوۡقُوۡا عَذَابَ الۡحَرِیۡقِ ﴿٪﴾ اِنَّ اللّٰہَ یُدۡخِلُ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ جَنّٰتٍ تَجۡرِیۡ مِنۡ تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ  یُحَلَّوۡنَ فِیۡہَا مِنۡ اَسَاوِرَ مِنۡ ذَہَبٍ وَّ لُؤۡلُؤًا ؕ وَ لِبَاسُہُمۡ  فِیۡہَا حَرِیۡرٌ ﴿﴾ وَ ہُدُوۡۤا اِلٰی الطَّیِّبِ مِنَ الۡقَوۡلِ ۚۖ وَ ہُدُوۡۤا  اِلَی  صِرَاطِ  الۡحَمِیۡدِ ﴿﴾
Mereka berdua  ini golongan petengkar yang berbantah mengenai Rabb (Tuhan) mereka, maka orang-orang kafir bagi mereka akan dipotongkan pakaian-pakaian dari api, dituangkan dari atas kepala mereka  air mendidih.  Akan dilebur dengannya apa yang ada dalam perut mereka dan juga kulit mereka.   Dan bagi mereka ada cambuk-cambuk besi.    Setiap kali mereka hendak ke luar dari situ karena sedih, mereka akan dikembalikan ke dalamnya dan, dikatakan:  Rasakanlah azab yang membakar!”   Sesungguhnya Allah akan  memasukkan orang-orang yang beriman dan beramal saleh ke dalam kebun-kebun yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. Di dalamnya   mereka akan dihiasi  dengan gelang-gelang emas dan mutiara, dan di dalamnya  pakaian mereka dari sutera.  Dan mereka akan dibimbing kepada ucapan yang baik, dan mereka akan dibimbing ke jalan  yang terpuji. (Al-Hājj [20]:20-25).
        Isyarat dalam kata-kata “mereka berdua ini”  dalam ayat: ہٰذٰنِ خَصۡمٰنِ اخۡتَصَمُوۡا فِیۡ رَبِّہِمۡ   -- “Mereka berdua  ini golongan petengkar yang berbantah mengenai Rabb (Tuhan) mereka“ ditujukan kepada dua golongan manusia, yaitu (1) orang-orang beriman dan (2) orang-orang kafir. Ayat-ayat selanjutnya (21-23) menggambarkan akibat buruk yang pasti akan dialami oleh orang-orang kafir  -- baik di dunia mau pun di akhirat -- sedangkan ayat  24-25 menggambarkan  berbagai akibat baik serta ganjaran surgawi   yang akan dianugerahkan kepada orang-orang yang beriman kepada Allah Swt. dan rasul-Nya.   

Penggenapan Nubuatan Nabi Besar Muhammad Saw. Mengenai Syuraqah bin Malik Berkenaan Ditaklukannya Kerajaan Persia  Oleh Umat Islam

          Berkenaan dengan ayat:  اِنَّ اللّٰہَ یُدۡخِلُ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ جَنّٰتٍ تَجۡرِیۡ مِنۡ تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ  یُحَلَّوۡنَ فِیۡہَا مِنۡ اَسَاوِرَ مِنۡ ذَہَبٍ وَّ لُؤۡلُؤًا ؕ وَ لِبَاسُہُمۡ  فِیۡہَا حَرِیۡرٌ   -- “Sesungguhnya Allah akan  memasukkan orang-orang yang beriman dan beramal saleh ke dalam kebun-kebun yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. Di dalamnya   mereka akan dihiasi  dengan gelang-gelang emas dan mutiara, dan di dalamnya  pakaian mereka dari sutera.” Nabi Besar Muhammad saw.   menurut riwayat pernah bersabda “Nil dan Efrat itu dua buah sungai surgawi” (Muslim bab al-Jannah).  
         Nabi Besar Muhmamad saw.    dan para sahabat r.a.  mengetahui, bahwa kepada mereka telah dijanjikan “kebun-kebun,” bukan saja pada kehidupan di akhirat tetapi di dunia juga; dan mereka mengetahui bahwa dengan “kebun-kebun” di dunia dimaksudkan daerah-daerah kaya dan subur yang pernah diperintah oleh para Kisra dari Persia dan Kaisar dari kerajaan Romawi Timur.
       Di masa khilafat Umar bin Khaththab r.a.  tentara Islam bertempur di dua medan pertempuran, yaitu di Mesopotamia dan Siria. Ketika beberapa pemimpin Arab menghadap beliau r.a. dan menawarkan jasa, beliau r.a. menanyakan kepada mereka, “Mau pergi ke negeri yang manakah dari antara   dua daerah yang dijanjikan  itu (Mesopotamia atau Siria)?
        Nubuatan dalam ayat tersebut telah dipenuhi secara harfiah ketika  Khalifah Umar bin Khaththab r.a. menyuruh Suraqah bin Malik r.a.   memakai gelang-gelang mas yang raja-raja Iran  --  biasa memakainya pada upacara-upacara kenegaraan yang istimewa – dalam rangka  menyempurnakan kebenaran sabda (nubuatan) Nabi Besar Muhammad saw. ketika Suraqah bin Malik mengejar dan berusaha menangkap  beliau saw. sewaktu hijrah ke Madinah bersama Abu Bakar Shiddiq  r.a.  agar mendapat hadiah besar dari para pemuka kaum kafir Quraisy pimpinan Abu Jahal, firman-Nya:   
اِلَّا تَنۡصُرُوۡہُ فَقَدۡ  نَصَرَہُ  اللّٰہُ  اِذۡ اَخۡرَجَہُ الَّذِیۡنَ  کَفَرُوۡا ثَانِیَ اثۡنَیۡنِ اِذۡ ہُمَا فِی الۡغَارِ اِذۡ یَقُوۡلُ لِصَاحِبِہٖ لَا تَحۡزَنۡ اِنَّ اللّٰہَ مَعَنَا ۚ فَاَنۡزَلَ اللّٰہُ سَکِیۡنَتَہٗ عَلَیۡہِ وَ اَیَّدَہٗ  بِجُنُوۡدٍ لَّمۡ تَرَوۡہَا وَ جَعَلَ کَلِمَۃَ  الَّذِیۡنَ کَفَرُوا السُّفۡلٰی ؕ وَ کَلِمَۃُ  اللّٰہِ ہِیَ الۡعُلۡیَا ؕ وَ اللّٰہُ  عَزِیۡزٌ  حَکِیۡمٌ  ﴿﴾
Jika kamu tidak menolongnya maka  sungguh Allah  telah menolongnya ketika ia (Rasulullah) diusir oleh orang-orang kafir, sedangkan ia kedua dari yang dua ketika keduanya berada dalam gua, lalu ia berkata kepada temannya: لَا تَحۡزَنۡ اِنَّ اللّٰہَ مَعَنَا  --  “Janganlah engkau sedih sesungguhnya Allah beserta kita”, lalu  Allah menurunkan ketenteraman-Nya kepadanya dan menolongnya dengan lasykar-lasykar yang kamu tidak melihatnya,  dan Dia menjadikan perkataan orang-orang yang kafir itu rendah sedangkan Kalimah Allah itulah yang tertinggi, dan Allah Maha Perkasa, Maha Bijaksana. (At-Taubah [40).  
 
Para Penyembah Berhala dan Yang Disembahnya Sama-sama Lemah

      Ada pun yang dimaksud oleh ayat ini ialah hijrah Nabi Besar Muhammad saw.  dari Mekkah ke Medinah ketika beliau didampingi oleh   Abubakar Shiddiq r.a.  berlindung di gua Tsaur. Ayat ini menjelaskan martabat ruhani amat tinggi  Abubakar Shiddiq r.a.  yang telah disebut sebagai “salah satu di antara dua orang” dengan disertai Allah  Swt.  dan Dia   Sendiri meredakan rasa ketakutannya.
      Telah tercatat dalam sejarah bahwa ketika berada dalam gua   Abubakar Shiddiq r.a.   mulai menangis, dan ketika ditanya oleh Nabi Besar Muhammad saw.  mengapa beliau menangis, beliau menjawab: “Saya tidak menangis untuk hidupku, ya Rasulullah, sebab jika saya mati, ini hanya menyangkut satu jiwa saja, tetapi jika Anda mati, ini akan merupakan kematian Islam dan kematian seluruh umat Islam.” (Zurqani).
       Perhatikan bahwa betapa  Allah Swt.  --  Tuhan pencipta seluruh alam yang hakiki   -- benar-benar membuktikan  janji-janji-Nya kepada para penyembah-Nya yang hakiki, berbeda dengan “tuhan-tuhan palsu” hasil rekayasa pemikiran orang-orang yang jahil  sebagaimana dikemukakan dalam firman Allah Swt. sebelumnya  (Ar-Rā’d [13]:15-17), dan juga dalam firman-Nya berikut ini:  
یٰۤاَیُّہَا النَّاسُ ضُرِبَ مَثَلٌ  فَاسۡتَمِعُوۡا لَہٗ  ؕ اِنَّ الَّذِیۡنَ تَدۡعُوۡنَ مِنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ لَنۡ یَّخۡلُقُوۡا ذُبَابًا وَّ لَوِ اجۡتَمَعُوۡا  لَہٗ ؕ وَ اِنۡ یَّسۡلُبۡہُمُ الذُّبَابُ شَیۡئًا لَّا یَسۡتَنۡقِذُوۡہُ  مِنۡہُ ؕ ضَعُفَ الطَّالِبُ وَ الۡمَطۡلُوۡبُ ﴿  مَا قَدَرُوا اللّٰہَ حَقَّ قَدۡرِہٖ ؕ اِنَّ اللّٰہَ لَقَوِیٌّ عَزِیۡزٌ ﴿﴾ اَللّٰہُ یَصۡطَفِیۡ مِنَ الۡمَلٰٓئِکَۃِ  رُسُلًا وَّ مِنَ النَّاسِ ؕ اِنَّ اللّٰہَ سَمِیۡعٌۢ  بَصِیۡرٌ ﴿ۚ﴾ یَعۡلَمُ مَا بَیۡنَ اَیۡدِیۡہِمۡ وَ مَا خَلۡفَہُمۡ ؕ وَ اِلَی اللّٰہِ  تُرۡجَعُ الۡاُمُوۡرُ ﴿﴾
Hai manusia, suatu tamsil (perumpamaan) telah dikemukakan maka dengarlah tamsil itu.  Sesungguhnya mereka yang kamu seru selain Allah tidak dapat menjadikan seekor lalat, walau pun mereka itu bergabung untuk itu. Dan seandainya  lalat itu menyambar sesuatu dari mereka, mereka tidak akan dapat merebutnya kembali dari lalat itu. ضَعُفَ الطَّالِبُ وَ الۡمَطۡلُوۡبُ --  Sangat lemah yang meminta dan yang diminta.  مَا قَدَرُوا اللّٰہَ حَقَّ قَدۡرِہٖ ؕ اِنَّ اللّٰہَ لَقَوِیٌّ عَزِیۡزٌ --    Mereka sekali-kali tidak dapat menilai kekuasaan Allah dengan sebenar-benarnya, sesungguhnya Allah MahakuatMaha Perkasa.  اَللّٰہُ یَصۡطَفِیۡ مِنَ الۡمَلٰٓئِکَۃِ  رُسُلًا وَّ مِنَ النَّاسِ ؕ اِنَّ اللّٰہَ سَمِیۡعٌۢ  بَصِیۡرٌ --  Allah memilih rasul-rasul dari antara malaikat-malaikat dan dari antara manusia, sesungguhnya Allah Maha MendengarMaha Melihatیَعۡلَمُ مَا بَیۡنَ اَیۡدِیۡہِمۡ وَ مَا خَلۡفَہُمۡ ؕ وَ اِلَی اللّٰہِ  تُرۡجَعُ الۡاُمُوۡرُ  --  Dia mengetahui apa pun  yang di hadapan mereka dan apa pun  yang di belakang mereka, dan kepada Allah-lah segala urusan dikembalikan (Al-Hājj [22]:74-77).
    Ayat 74 menerangkan kepada orang-orang kafir, bahwa tuhan-tuhan mereka sama sekali tidak mempunyai kekuasaan dan tidak berdaya, dan betapa bodohnya mereka untuk menyembah tuhan-tuhan itu.
     Kenyataan, bahwa orang-orang musyrik menjatuhkan derajat mereka sendiri ke tingkat yang begitu rendah, hingga mereka menyembah patung-patung — berhala-berhala yang terbuat dari kayu dan batu — menunjukkan, bahwa mereka mempunyai anggapan yang sangat keliru mengenai kekuatan-kekuatan dan Sifat-sifat Tuhan Yang Maha Kuasa, Al-Khāliq (Maha Pencipta) Yang Agung, sebagaimana ribuan tahun sebelumnya Nabi  Ibrahim a.s. telah mengkritik kemusyrikan  kaum   dan juga mertua beliau  (QS.6:75-85; QS.21:52-71; QS.37:84-99).
     Pada hakikatnya, semua kepercayaan yang mengakui adanya banyak tuhan dan semua anggapan-anggapan musyrik adalah timbul dari pandangan yang lemah dan keliru, bahwa kekuatan-kekuatan dan sifat-sifat Tuhan itu terbatas dan mempunyai kekurangan seperti halnya manusia, sebagaimana kepercayaan keliru golongan Ariya, firman-Nya: مَا قَدَرُوا اللّٰہَ حَقَّ قَدۡرِہٖ ؕ اِنَّ اللّٰہَ لَقَوِیٌّ عَزِیۡزٌ --    Mereka sekali-kali tidak dapat menilai kekuasaan Allah dengan sebenar-benarnya, sesungguhnya Allah MahakuatMaha Perkasa.  (Al-Hājj [22]:75), lihat pula QS.6:92; QS.39:68.

Mencela Kesempurnaan Ajaran Islam Tanpa Pengetahuan & Tiga Cara Melakukan Pensucian Jiwa dari Dosa

       Sehubungan dengan hal tersebut Masih Mau’ud a.s. lebih lanjut menjelaskan:   “Di sini kami terangkan dengan sedih hati    bahwa kebanyakan orang-orang Ariya dan Kristen telah biasa mencela peraturan-peraturan Islam yang benar dan sempurna tetapi mereka lalai terhadap keruhanian agamanya sendiri. Mencaci-maki dan mencela orang-orang mulia, nabi-nabi dan rasul-rasul bukanlah ajaran  suatu agama, malah perbuatan terkutuk ini sangat berlawanan dengan asal (pokok) tujuan agama. 
       Tujuan agama adalah manusia harus membersihkan diri supaya ruhnya senantiasa bersujud di hadapan istana Ilahi dengan penuh keyakinan, kecintaan, makrifat, kejujuran dan kesetiaan  sehingga terjadi suatu perubahan sejati dalam dirinya untuk memperoleh kehidupan surgawi di  dunia ini juga.
         Kebaikan yang sebenarnya tidak dapat diperoleh hanya dengan itikad bahwa Nabi Isa  naik di atas kayu salib (disalibkan) untuk menebus dosa manusia dan dengan beriman kepada hal ini saja seorang menjadi bersih dari dosa-dosa. Bagaimana mungkin  akan  dapat diperoleh kesucian dan kebersihan jika tidak dengan mengerjakan tadzkiyah nafs (pensucian  diri pribadi) sedikit pun?
       Kesucian yang sebenarnya baru akan dapat diperoleh kalau manusia taubat dari kehidupan yang kotor untuk mencari  kehidupan yang suci, dan harus menjalankan tiga perkara berikut ini:
     Pertama,  ialah tadbir (rencana) dan mujahadah (daya upaya/usaha) yakni sedapat mungkin ia harus berdaya-upaya (berusaha) untuk keluar dari kehidupan yang kotor.
     Kedua, ialah doa yakni setiap saat ia harus munajat ke hadhirat Ilahi agar Dia mengeluarkannya dari kehidupan yang kotor dengan Tangan-Nya Sendiri serta menimbulkan suatu api di dalamnya untuk membakar segala apa yang bersangkut-paut dengan kejahatan dan memberikan suatu kekuatan untuk menang atas dorongan-dorongan nafsunya.
        Hendaknya ia senantiasa sibuk di dalam doa itu sehingga tibalah saatnya suatu nur Ilahi turun atas kalbunya, suatu cahaya yang  gemerlap melenyapkan segala kegelapan dari nafsunya serta menjauhkan kelemahan-kelemahannya dan menimbulkan suatu perubahan suci pada dirinya. 
    Sebenarnya doa mempuyai kekuatan yang luar biasa, orang mati kalau dapat dihidupkan lagi hanyalah dengan doa, orang-orang kotor kalau dapat dibuat suci hanya dengan doa. Akan tetapi mengerjakan doa itu sama susahnya seperti menerima kematian.
      Ketiga,  ia bergaul dengan orang-orang suci dan shalih karena suatu pelita dapat dinyalakan  dengan perantaraan pelita lain yang telah menyala.

Dua Macam  “Minuman Surgawi

        Jelasnya ialah tiga jalan untuk memperoleh najat (keselamatan) dari dosa dan dengan mengerjakan semua jalan ini akhirnya kelak kita akan mendapat fadhal (karunia) dan rahmat Ilahi. Kita tidak akan dapat lepas dari dosa hanya dengan mempercayai bahwa Nabi Isa  naik di atas kayu salib (disalibkan) untuk menebus dosa manusia, melainkan itu hanya menipu diri sendiri.
       Manusia dijadikan  untuk suatu maksud dan tujuan yang sangat tinggi maka ia tidak cukup hanya melepaskan diri dari dosanya saja.   Banyak binatang tidak berbuat suatu dosa, kemudian dapatkah  binatang-binatang itu disebut sebagai kamil (sempurna)? Dapatkan kita memperoleh hadiah atau karunia dari seseorang hanya karena kita tidak berbuat dosa terhadapnya?
     Karunia dan hadiah itu akan diperoleh hanya dengan khidmat dan bakti yang dikerjakan  dengan tulus ikhlas, dan  khidmat dan bakti dalam jalan Allah Swt.  ialah manusia harus menyerahkan  diri kepada-Nya serta melepaskan segala kecintaan yang lain untuk kecintaan  kepada-Nya dan membuang kemauan sendiri untuk memperoleh keridhaan-Nya.
       Tentang hal ini Al-Quran mengemukakan suatu misal bahwa seorang manusia tidak  memperoleh kesempurnaan   sebelum minum dua macam minuman:     Pertama, ialah minuman untuk mendinginkan kesukaan kepada dosa yang dalam Al-Quran dinamakan “minuman kafur (kafur barus).” Kedua, ialah minuman untuk mengisi kecintaan Ilahi yang dalam Al-Quran dinamakan “minuman zanjabil (jahe).”
    Tetapi sayang orang-orang Ariya dan Kristen tidak mempergunakan jalan ini. Orang-orang Ariya mengatakan bahwa dosa   akan dihukum  -- baik bertaubat atau pun tidak  --  dan akan menyebabkan terjadinya penitisan  ruh (re-inkarnasi) yang berulang-ulang.
      Orang-orang Kristen berpendirian bahwa hanya dengan mempercayai Nabi Isa a.s. naik di atas salib (disalibkan) untuk menebus dosa manusia kita akan lepas dari dosa-dosa itu. Kedua golongan ini telah sesat jauh dari asal maksudnya, mereka meninggalkan pintu yang harus dilaluinya dalam hutan rimba yang sangat jauh. 
       
(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid

oo0oo

Pajajaran Anyar, 18   Maret  2017

Tidak ada komentar:

Posting Komentar