Bismillaahirrahmaanirrahiim
ISLAM
Pidato Mirza Ghulam Ahmad a.s.
Tgl. 2 November 1904
di Kota Sialkote – Hindustan
Bab 38
NUBUATAN PENGULANGAN KEDURHAKAAN PARA PEMUKA AGAMA YAHUDI TERHADAP MASIH MAU'UD A.S. DI AKHIR ZAMAN & MAKNA RAFA’A ILALLĀH (PENGANGKATAN
KEPADA ALLAH) NABI ISA IBNU MARYAM A.S.
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam bagian akhir Bab sebelumnya
telah dijelaskan topik Nubuatan Dalam Ayat Terakhir Surah Al-Fatihah
sehubungan sabda Masih Mau’ud
a.s.: “Begitu pun dalam hadits-hadits shahih diceritakan bahwa di Akhir
Zaman sebagian besar orang Islam
akan menyerupai orang-orang Yahudi. Dalam surah Al-Fatihah pun diisyaratkan tentang hal ini karena di dalamnya
diajarkan doa: “Ya Allah, janganlah kami
jadi seperti orang-orang Yahudi yang di zaman Nabi Isa melawan kepada beliau
dan mendapat kemurkaan Ilahi dalam dunia ini juga.”
Menurut sunnah
(kebiasaan) Ilahi, apabila Allah Swt.
memberi suatu firman kepada suatu bangsa atau mengajar suatu doa kepada
mereka maka itu berarti bahwa beberapa
orang dari antara mereka akan mengerjakan dosa yang dilarang kepada mereka. Dalam ayat “Ghayril-maghdhūbi ‘alayhim” diterangkan orang-orang
Yahudi yang pada zaman akhir
dari umat Nabi Musa a.s. – yakni pada waktu Nabi Isa a.s. – mereka mendapat kemurkaaan Ilahi karena menolak Nabi Isa a.s.. Karena itu
menurut sunnah Ilahi yang tersebut di
atas dalam ayat ini pun adalah kabar gaib bahwa pada masa Akhir
Zaman dari umat Nabi Muhammad saw. juga akan datang seorang Masih
Mau’ud (Masih yang dijanjikan) dari umat ini.”
Perintah Menolong Perjuangan Masih Mau’ud a.s. di Akhir Zaman
Sehubungan dengan sabda Masih Mau’ud a.s. tersebut dalam Al-Quran
terdapat perintah Allah Swt. kepada
orang-orang beriman -- dalam al ini
umat Islam – agar bersikap seperti kaum hawari yang menolong perjuangan Nabi Isa Ibnu Maryam
a.s., bukan berlaku seperti para pemuka
agama Yahudi yang mendustakan dan
menentang – bahkan berusaha membunuh
-- Nabi Isa Ibnu Maryam .s. melalui penyaliban
– firman-Nya:
یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ
اٰمَنُوۡا کُوۡنُوۡۤا اَنۡصَارَ
اللّٰہِ کَمَا قَالَ عِیۡسَی ابۡنُ مَرۡیَمَ لِلۡحَوَارِیّٖنَ مَنۡ اَنۡصَارِیۡۤ
اِلَی اللّٰہِ ؕ قَالَ الۡحَوَارِیُّوۡنَ نَحۡنُ اَنۡصَارُ اللّٰہِ فَاٰمَنَتۡ طَّآئِفَۃٌ مِّنۡۢ
بَنِیۡۤ اِسۡرَآءِیۡلَ وَ
کَفَرَتۡ طَّآئِفَۃٌ ۚ فَاَیَّدۡنَا
الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا عَلٰی
عَدُوِّہِمۡ فَاَصۡبَحُوۡا ظٰہِرِیۡنَ ﴿٪﴾
Hai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penolong-penolong Allah sebagaimana Isa ibnu Maryam berkata
kepada pengikut-pengikutnya, مَنۡ
اَنۡصَارِیۡۤ اِلَی اللّٰہِ -- “Siapakah
penolong-penolongku di jalan Allah?”
قَالَ الۡحَوَارِیُّوۡنَ نَحۡنُ اَنۡصَارُ اللّٰہِ
-- Pengikut-pengikut yang setia
itu berkata: “Kamilah penolong-penolong
Allah.” Maka segolongan dari Bani
Israil beriman sedangkan segolongan lagi
kafir, kemudian Kami membantu
orang-orang yang beriman terhadap musuh-musuh mereka lalu mereka menjadi orang-orang yang menang. (Ash-Shaf
[61]:15).
Dari ketiga
golongan agama di antara kaum Yahudi,
yang terhadap mereka Nabi Isa Ibnu Maryam
a.s. menyampaikan tablighnya – kaum Parisi, kaum Saduki, dan
kaum Essenes – Nabi Isa Ibnu Maryam
a.s. termasuk golongan kaum Essenes sebelum beliau diutus sebagai rasul Allah.
Kaum Essenes adalah kaum yang sangat bertakwa,
hidup jauh dari kesibukan dan keramaian dunia, dan melewatkan waktu
mereka dalam berzikir dan berdoa, dan berbakti kepada sesama manusia. Dari kaum Essenes
inilah berasal bagian besar dari para pengikut
beliau (hawari) di masa permulaan (“The
Dead Sea Community,” oleh Kurt Schubert, dan “The Crucifixion by an Eye-Witness”). Mereka disebut
“Par170170a Penolong” oleh Eusephus.
Kata-kata
penutup Surah Ash-Shaf ini sungguh
sarat dengan nubuatan: فَاَیَّدۡنَا الَّذِیۡنَ
اٰمَنُوۡا عَلٰی عَدُوِّہِمۡ
فَاَصۡبَحُوۡا ظٰہِرِیۡنَ -- “Maka segolongan
dari Bani Israil beriman sedangkan segolongan
lagi kafir, kemudian Kami
membantu orang-orang yang beriman terhadap musuh-musuh mereka lalu mereka menjadi orang-orang yang menang.“ Sepanjang zaman para pengikut Nabi Isa Ibnu
Maryam a.s. telah menikmati kekuatan
dan kekuasaan atas musuh abadi mereka – kaum Yahudi. Mereka telah menegakkan dan memerintah kerajaan-kerajaan luas dan perkasa, sedang kaum Yahudi
tetap merupakan kaum yang cerai-berai
sehingga mendapat julukan “the Wandering Jew” (“Yahudi Pengembara”). Nubuatan Al-Quran tersebut – Insya Allah -- akan kembali berulang pada Masih Mau’ud a.s. dan para pengikutnya di Akhir Zaman ini.
Misal Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. dari Kalangan Umat Islam Sebagai As-Sā’ah (Tanda
Kiamat)
Lebih lanjut Masih Mau’ud a.s.
menjelaskan: “Sebagian orang Islam karena melawan Masih Mau’ud akan menjadi seperti orang-orang Yahudi di zaman Nabi Isa a.s. Hal ini tidak dapat dicela bahwa
kalau Masih Mau’ud yang akan datang
adalah dari umat ini, mengapa dalam
hadits dia dinamakan Isa? Karena kebiasaan-kebiasaan Ilahi selamanya
begini, yakni beberapa orang suka diberi nama
dengan nama orang lain. Sebagaimana
dalam hadits Abu Jahal dipanggil
dengan sebutan Fir’aun, Hadhrat Nuh dinamakan Adam Tsani (Adam kedua) dan Yahya
dinamakan Elia. Inilah kebiasaan
Ilahi yang tidak dapat ditolak oleh siapa pun juga.
Allah Swt. memberi lagi satu persesuaian
kepada Masih Mau’ud di Akhir Zaman dengan Masih
Israili yang dahulu, yakni Nabi Isa
Israili yang dulu datang pada permulaaan abad ke-14 sesudah Nabi Musa a.s.,
demikian pula Masih Mau’ud di Akhir Zaman ini pun datang dalam abad
ke-14 sesudah Nabi Muhammad saw. Pada waktu kedatangan Masih Mau’ud a.s. ini kerajaan
Islam sudah tidak ada di India
dan telah dikuasai pemerintah Inggris,
begitu pula Nabi Isa a.s. pun datang pada waktu kerajaan Israil telah jatuh dan orang-orang Yahudi telah dikuasai
oleh kerajaan Roma.
Masih Mau’ud dari umat Islam mempunyai satu persesuaian lainnya lagi dengan Nabi Isa yang dulu, yakni Nabi
Isa a.s. bukan asli keturunan Bani Israil melainkan karena ibunya. Begitu pula sebagian dari nenek kami adalah dari Sadāt (sayyid) walau pun ayahanda bukan dari sadāt (sayyid). Allah Swt. menghendaki
supaya seorang dari Bani Israil jangan menjadi ayah
Hadhrat Isa a.s., yang di dalamnya mengandung rahasia karena Allah Swt. sangat marah kepada Bani Israil sebab dosa-dosa
mereka terlampau banyak.
Maka untuk memberi peringatan Allah Swt. memperlihatkan tanda bahwa seorang anak laki-laki lahir hanya dari ibunya
saja dengan tidak ada campuran
sedikit pun dari ayah. Seolah-orang dari dua bagian wujud Israil pada wujud Nabi Isa hanya tinggal sebagian saja. Hal ini menunjukkan bahwa nabi yang akan datang sesudah
Nabi Isa a.s. (yakni Nabi Muhammad saw. – red) sama sekali tidak mempunyai suatu bagian dari Israil. Dunia ini telah menghampiri penghabisannya karena itu dalam kelahiran saya pun ada suatu isyarat bahwa Kiamat telah dekat dan
itulah yang akan menghabiskan perjanjian Khilafat
kepada Quraisy juga.
Pendek kata, untuk menyempurnakan persesuaian antara umat Nabi Muhammad saw. dengan umat Nabi Musa
a.s. diperlukan seorang Masih Mau’ud
yang akan datang dengan segala keadaan seperti
Nabi Isa a.s., maka sistim Islamiyah
ini mulai dengan seorang yang seperti
Nabi Musa a.s. dan akan berakhir pula
dengan seorang seperti Nabi Isa a.s. supaya yang akhir mempunyai persesuaian dengan yang awal.
Demikianlah hal ini pun mempunyai satu bukti
bagi orang-orang yang mau memperhatikan hal ini dengan takwa kepada Allah Swt..”
Penjelasan Masih Mau’ud a.s. berkenaan pentingnya kedatangan misal
Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. di kalangan umat
Islam (Bani Isma’il) dan alasan
mengapa Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. dilahirkan
tanpa ayah seorang laki-laki
dari kalangan Bani Israil melainkan ibunya sendiri (Maryam binti ‘Imran) merangkap sebagai ayah beliau tersebut sesuai
dengan firman Allah Swt. berikut ini mengenai “As-Sā’ah” (Tanda Kiamat):
وَ لَمَّا ضُرِبَ ابۡنُ مَرۡیَمَ مَثَلًا
اِذَا قَوۡمُکَ مِنۡہُ یَصِدُّوۡنَ
﴿﴾ وَ قَالُوۡۤاءَ اٰلِہَتُنَا خَیۡرٌ اَمۡ ہُوَ ؕ
مَا ضَرَبُوۡہُ لَکَ اِلَّا جَدَلًا ؕ بَلۡ ہُمۡ قَوۡمٌ خَصِمُوۡنَ
﴿﴾ اِنۡ ہُوَ اِلَّا عَبۡدٌ اَنۡعَمۡنَا عَلَیۡہِ وَ جَعَلۡنٰہُ مَثَلًا
لِّبَنِیۡۤ اِسۡرَآءِیۡلَ ﴿ؕ﴾ وَ لَوۡ نَشَآءُ
لَجَعَلۡنَا مِنۡکُمۡ مَّلٰٓئِکَۃً
فِی الۡاَرۡضِ یَخۡلُفُوۡنَ ﴿﴾ وَ اِنَّہٗ لَعِلۡمٌ
لِّلسَّاعَۃِ فَلَا تَمۡتَرُنَّ
بِہَا وَ اتَّبِعُوۡنِ ؕ ہٰذَا صِرَاطٌ مُّسۡتَقِیۡمٌ ﴿﴾
Dan apabila Ibnu Maryam dikemukakan sebagai misal tiba-tiba kaum engkau meneriakkan penentangan
terhadapnya, dan mereka berkata: "Apakah tuhan-tuhan kami lebih baik ataukah dia?" Mereka tidak
menyebutkan hal itu kepada engkau melainkan perbantahan semata. Bahkan mereka
adalah kaum yang biasa berbantah. اِنۡ ہُوَ اِلَّا عَبۡدٌ اَنۡعَمۡنَا عَلَیۡہِ
وَ جَعَلۡنٰہُ مَثَلًا لِّبَنِیۡۤ
اِسۡرَآءِیۡلَ -- Ia tidak lain melainkan seorang hamba yang telah Kami
anugerahi nikmat kepadanya, dan Kami menja-dikan dia suatu perumpamaan
bagi Bani Israil. وَ لَوۡ نَشَآءُ
لَجَعَلۡنَا مِنۡکُمۡ مَّلٰٓئِکَۃً
فِی الۡاَرۡضِ یَخۡلُفُوۡنَ -- Dan seandainya
Kami meng-hendaki niscaya Kami
menjadikan malaikat dari antara
kamu sebagai penerus di bumi. وَ
اِنَّہٗ لَعِلۡمٌ لِّلسَّاعَۃِ
فَلَا تَمۡتَرُنَّ بِہَا وَ اتَّبِعُوۡنِ ؕ ہٰذَا صِرَاطٌ مُّسۡتَقِیۡمٌ -- Tetapi sesungguhnya ia benar-benar pengetahuan mengenai Saat, maka janganlah
ragu-ragu mengenainya dan ikutilah
aku, inilah jalan lurus. (Az-Zukhruf
[43]:58-62).
Pengulangan Penolakan
Terhadap Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. di
Akhir Zaman
Shadda (yashuddu) dalam
ayat 58: وَ لَمَّا ضُرِبَ ابۡنُ مَرۡیَمَ مَثَلًا
اِذَا قَوۡمُکَ مِنۡہُ یَصِدُّوۡنَ -- “Dan apabila Ibnu Maryam dikemukakan sebagai misal tiba-tiba kaum engkau meneriakkan penentangan
terhadapnya” berarti:
ia menghalangi dia dari sesuatu, dan shadda (yashiddu) berarti: ia mengajukan
sanggahan atau protes (Aqrab-ul-Mawarid).
Kedatangan Al-Masih Ibnu Maryam a.s. adalah tanda (as-Sā’ah) bahwa orang-orang
Yahudi akan dihinakan dan direndahkan serta akan kehilangan kenabian untuk selama-lamanya, sebagai perwujudan kutukan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.
(QS.5:80-81) karena mereka berusaha membunuh
beliau melalui penyaliban,
sebagaimana sebelumnya mereka pun telah mendapat kutukan Nabi Daud a.s. (QS.4:158-159; QS.2:88-89), sehingga mereka dua
kali mendapat hukuman Allah Swt.
(QS.17:5-9).
Karena matsal berarti sesuatu yang semacam dengan atau sejenis
dengan yang lain (QS.6:39), ayat ini, di samping arti yang diberikan dalam ayat
ini, dapat pula berarti bahwa bila kaum Nabi Besar Muhammad saw. — yaitu kaum Muslimin — diberitahu bahwa orang lain seperti dan merupakan sesama
Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. akan dibangkitkan di antara mereka untuk memperbaharui mereka dan mengembalikan kejayaan ruhani mereka yang telah
hilang, maka dari bergembira atas kabar gembira itu malah mereka berteriak mengajukan
protes. Jadi, ayat ini dapat dianggap mengisyaratkan kepada kedatangan kedua kali Nabi Isa Ibnu
Maryam a.s. di Akhir
Zaman ini.
Makna ayat: وَ لَوۡ نَشَآءُ لَجَعَلۡنَا مِنۡکُمۡ مَّلٰٓئِکَۃً فِی الۡاَرۡضِ
یَخۡلُفُوۡنَ --
“Dan seandainya Kami menghendaki niscaya Kami menjadikan malaikat dari
antara kamu sebagai pe-nerus di bumi.” Para
malaikat tidak dapat dijadikan contoh dan model bagi manusia; oleh karena itu Allah Swt. senantiasa mengutus manusia sebagai rasul-Nya (QS.22:76) guna
menyampaikan kehendak-Nya kepada manusia dan untuk menjadi contoh dan teladan bagi manusia.
Makna "as-Sā’at" (saat) dalam
ayat: وَ اِنَّہٗ لَعِلۡمٌ
لِّلسَّاعَۃِ فَلَا تَمۡتَرُنَّ
بِہَا وَ اتَّبِعُوۡنِ ؕ ہٰذَا صِرَاطٌ مُّسۡتَقِیۡمٌ -- “Dan seandainya
Kami menghendaki niscaya Kami
menjadikan malaikat dari antara kamu sebagai penerus
di bumi. Tetapi sesungguhnya ia benar-benar pengetahuan mengenai Saat, maka janganlah ragu-ragu mengenainya dan ikutilah aku, inilah jalan lurus” dapat menyatakan waktu berakhirnya syariat Nabi Musa a.s., dan kata pengganti hu dalam innahu
dapat mengisyaratkan kepada Nabi Isa Ibnu
Maryam a.s. atau kepada Al-Quran, dan ayat ini dapat berarti
bahwa sesudah Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.
kaum Bani Israil akan kehilangan karunia
kenabian, atau bahwa syariat lain —yakni syariat Al-Quran—
akan menggantikan syariat Nabi Musa
a.s..
Makna Kata Rafa’a (Pengangkatan) Berkenaan Nabi Isa
Ibnu Maryam a.s.
Selanjutnya Masih Mau’ud a.s. membahas masa makna kata rafa’a (pengangkatan) Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. sehubungan dengan peristiwa penyaliban Nabi Isa Ibnu Maryam
a.s. yang dikemukakan dalam QS.4:158-159,
firman-Nya:
وَّ قَوۡلِہِمۡ اِنَّا قَتَلۡنَا
الۡمَسِیۡحَ عِیۡسَی ابۡنَ مَرۡیَمَ رَسُوۡلَ اللّٰہِ ۚ وَ مَا قَتَلُوۡہُ وَ مَا
صَلَبُوۡہُ وَ لٰکِنۡ شُبِّہَ لَہُمۡ ؕ وَ
اِنَّ الَّذِیۡنَ اخۡتَلَفُوۡا فِیۡہِ لَفِیۡ شَکٍّ مِّنۡہُ ؕ مَا لَہُمۡ
بِہٖ مِنۡ عِلۡمٍ اِلَّا اتِّبَاعَ
الظَّنِّ ۚ وَ مَا قَتَلُوۡہُ یَقِیۡنًۢا
﴿﴾ۙ بَلۡ رَّفَعَہُ اللّٰہُ اِلَیۡہِ ؕ وَ کَانَ اللّٰہُ عَزِیۡزًا
حَکِیۡمًا﴿﴾
Dan karena
ucapan mereka: “Sesungguhnya kami
telah membunuh Al-Masih, Isa Ibnu Maryam, Rasul Allah,” padahal mereka tidak membunuhnya secara
biasa dan tidak pula mematikannya
melalui penyaliban akan tetapi ia disamarkan kepada mereka seperti telah mati di
atas salib. Dan sesungguhnya orang-orang yang berselisih dalam hal ini
niscaya ada dalam keraguan mengenai ini,
mereka tidak memiliki pengetahuan yang pasti mengenai ini melainkan menuruti dugaan belaka dan mereka tidak yakin telah membunuhnya. بَلۡ رَّفَعَہُ اللّٰہُ اِلَیۡہِ ؕ وَ کَانَ
اللّٰہُ عَزِیۡزًا حَکِیۡمًا --Bahkan
Allah telah mengangkatnya kepada-Nya
dan Allah Maha Perkasa, Maha Bijaksana. (An-Nisa [4]:158-159).
Berkenaan fiman Allah Swt. tersebut Masih Mau’ud a.s. menjelaskan: “Rafa’a ruhani Nabi Isa a.s.: Moga-moga
Allah Swt. mengasihani orang-orang Islam zaman sekarang karena
sebagian besar dari itikad-itikad
mereka dalam kezaliman dan ketidakadilan telah melampauai batas.
Mereka membaca dalam Al-Quran bahwa Nabi Isa
a.s. telah wafat (QS.3:56 & 145;
QS.21:35) tetapi kemudian menganggap bahwa beliau masih hidup. Mereka membaca dalam surah An-Nūr dalam Al-Quran – bahwa semua khalifah
yang akan datang akan diutus di antara umat ini juga (QS.24:56), tetapi
kemudian mereka mengharap Nabi Isa a.s.
yang dulu akan turun dari langit.
Mereka membaca dalam hadits-hadits Bukhari dan Muslim bahwa Masih Mau’ud yang
akan datang untuk umat ini akan diutus dari
kalangan umat ini juga tetapi mereka masih menunggu-nunggu Nabi Isa Israili
saja. Mereka membaca dalam Al-Quran bahwa Nabi isa tidak akan datang kedua
kalinya ke dunia ini, biar pun mereka
telah mengathui hal ini tetapi mereka
masih mengharap juga beliau a.s. akan
datang kedua kalinya.
Namun demikian walau begitu mereka masih mendakwakan diri menjadi Islam (Muslim) dan menganggap bahwa Nabi
Isa a.s. telah diangkat ke langit
dengan jasad kasarnya. Tetapi mereka tidak dapat menjawab hal ini yakni
mengapa Nabi Isa a.s. diangkat ke langit?
Orang-orang Yahudi hanya bertengkar tentang
rafa’a ruhani (kenaikan ruhani)
saja, mereka menganggap bahwa ruh Nabi isa a.s. tidak diangkat ke langit seperti orang-orang suci yang lain karena beliau digantungkan di atas kayu
salib dan orang yang digantungkan
di atas kayu salib niscaya ia terlaknat adanya, yakni ruhnya tidak akan diangkat ke
langit kepada Allah Swt..
Al-Quran hanya memutuskan pertengkaran ini sebagaimana Al-Quran
sendiri mendakwakan untuk menyatakan kesalahan-kesalahan
Yahudi dan Nashara serta
membereskan perselisihan-perselisihan
mereka. Orang-orang Yahudi mengatakan bahwa
Nabi Isa a.s. bukan orang suci,
lagi pula tidak memperoleh najat (keselamatan) dan ruhnya pun tidak dirafa’
(diangkat) kepada Allah Swt., tetapi perkara
yang diputuskan malah apakah Nabi Isa
a.s. adalah seorang nabi besar dan suci
ataukah bukan? Dan ruh beliau
a.s. seperti orang-orang suci dan mukmin lain dirafa’a (diangkat) kepada Allah Swt. ataukah tidak? Hal inilah
yang akan diputuskan oleh Al-Quran.
Kecuali Orang-orang kafir, Semua Orang
Suci Memperoleh Rafa’a ilallāh
(Pengangkatan Ruhani Kepada Allah)
Kalau ayat: Bal rafa’allaahu ilayhi diartikan bahwa Allah Swt. telah mengangkat Nabi Isa a.s. dengan jasad kasarnya ke langit yang kedua maka
dengan keterangan ini perkara yang
harus diputuskan itu tidak menjadi
beres. Seolah-olah Allah Swt. seperti tidak faham mengenai apa yang harus diputuskan dan memutuskan yang sama sekali tidak berhubungan
dengan pendakwaan orang-orang Yahudi.
Sebenarnya ayat-ayat ini menyatakan dengan jelas bahwa Nabi Isa a.s. dirafa’akan (diangkat) kepada
Allah Swt. dan sekali-kali tidak dikatakan bahwa beliau dirafa’akan (diangkat) ke langit yang kedua, atau untuk beroleh
najat (keselamatan) dan iman maka orang-orang harus diangkat dengan jasad
kasarnya ini?
Tambahan pula adalam ayat “Bal rafa’ahullaahu ilayhi” (bahkan Allah telah mengangkat dia kepada-Nya) sama
sekali tidak menceritakan tentang langit,
melainkan ayat ini hanya berarti bahwa Allah Swt. telah mengangkat Nabi Isa a.s. kepada-Nya
saja.”
Sekarang harus kita perhatikan apakah
Nabi-nabi Ibrahim a.s., Ismail a.s., Ishaq a.s.. Ya’qaub a.s., Musa a.s. dan
nabi Muhammad saw. diangkat ke jururusan lain ataukah kepada Allah Swt juga?
Maka saya mengatakan di sini dengan tegas bahwa ayat ini kalau hanya
dikhususkan untuk Nabi Isa a.s. yakni bab rafa’ilallaah
hanya semata-mata untuk Nabi Isa a.s. saja sedangkan nabi-nabi lain
tidak memperoleh rafa’ilallah sesungguhnya anggapan ini akan menjadi kufur. Tidak ada kufur yang lebih besar daripada ini, karena menurut anggapan
seperti itu, kecuali Nabi Isa a.s., semua nabi yang lain tidak
memperoleh rafa’ilallāh (kenaikan
ruhani kepada Allah Swt.) padahal Nabi
Muhammad saw. dalam mi’raj telah menyaksikan sendiri rafa’ilallāh nabi-nabi lain juga.
Camkanlah bahwa rafa’ilallāh tentang Nabi Isa a.s. diceritakan dalam ayat ini hanya
untuk membersihkan celaan orang-orang
Yahudi terhadap Nabi Isa a.s.,
padahal rafa’ilallāh ini adalah biasa
untuk semua nabi-nabi, rasul-rasul dan orang-orang mukmin, dan setelah wafat tiap-tiap mukmin pun beroleh rafa’ilallāh.
Hal ini diterangkan dalam ayat
Al-Quran: ہٰذَا
ذِکۡرٌ ؕ وَ اِنَّ لِلۡمُتَّقِیۡنَ لَحُسۡنَ مَاٰبٍ جَنّٰتِ
عَدۡنٍ مُّفَتَّحَۃً لَّہُمُ الۡاَبۡوَابُ (Inilah peringatan, dan
sesungguhnya bagi orang-orang bertakwa ada tempat kembali yang baik, kebun-kebun yang kekal dengan
pintu-pintu terbuka bagi mereka” – QS.38:49-50). tetapi orang kafir tidak akan memperoleh rafa’a (kenaikan) sebagaimana diterangkan dalam ayat Al-Quran: Lā tufattahu lahum abwaabus samaa’i
-- (tidak akan dibukakan bagi mereka
pintu-pintu langit – QS.7:40).
Kecintaan Kepada Dunia Menghalangi Penglihatan
Ruhani
Orang-orang yang telah bersalah atau keliru
dalam hal ini sebelum kedatangan saya mereka itu akan dimaafkan kesalahannya karena mereka tidak diberi peringatan dan tidak diterangkan pula
kepada mereka arti kalam Ilahi yang
sebenarnya. Tetapi sekarang saya telah memberitahukan
kepada kalian dan telah menjelaskan pula arti yang sebenarnya.
Sebelum kedatangan saya kesalahan tersebut dapat dikatakan
sebagai taqlid kepada kebiasaan umum, tetapi sekarang tidak
ada suatu ‘udzur (alasan) pun yang dapat dikemukakan. Langit dan bumi telah
menjadi saksi atas kebenaran saya. Banyak wali-wali dari umat Islam telah memberi kesaksian dengan menyebutkan nama dan tempat tinggal saya, bahwa sayalah Masih Mau’ud itu.
Beberapa orang dari orang-orang yang
memberi kesaksian itu telah meninggal
dunia 30 tahun sebelum kedatangan saya,
sebagaimana kesaksian-kesaksian mereka
telah saya siarkan. Dalam zaman ini pun banyak para pemuka agama yang mempunyai
berlaksa-laksa pengikut yang mendapat ilham Ilahi, dan dengan mendengar dalam
rukyanya Nabi Muhammad saw. telah membenarkan
pendakwaan saya.
Hingga
kini beribu-ribu tanda telah tampak
dariku. Nabi-nabi suci dari Allah Swt. telah menetapkan waktu dan zaman
kedatangan saya. Kalau kalian memperhatikan maka
segera kaki, tangan dan sanubari
kalian akan memberi kesaksian tentang
kebenaran saya, tetapi karena kelemahan amal sudah terlampau banyak maka kebanyakan orang telah lupa kepada kemanisan dan kelezatan
iman. Keadaan-keadaan kelemahan, aib, kesalahan, kesesatan, cinta kepada
keduniaan dan kegelapan yang meliputi agama
Islam sekarang dengan sendirinya mendesak minta (menuntut) agar supaya seorang diutus untuk memimpin dan menuntun mereka.
Tetapi sekali pun begitu
keadaannya, sayang sampai sekarang mereka menyebutku
Dajjal. Alangkah buruk nasib kaum itu yang dalam begitu gawat dan jeleknya tetapi mereka hanya dikirim dajjal saja. Alangkah buruk nasib
kaum itu yang pada waktu begitu parah
dan rusak keadaan dalam dirinya
mendapat lagi suatu azab dari langit.
Pengulangan Fitnah Terhadap Nabi Isa Ibnu
Maryam a.s. & Terhindar dari Kematian Terkutuk di Tiang Salib
Orang-orang yang melawan
mengatakan bahwa aku ini sebagai yang terlaknat
dan tidak beriman. Sebenarnya
perkataan semacam inilah jugalah yang diucapkan terhadap Nabi Isa a.s. yang
dulu dan sampai sekarang pun orang-orang Yahudi
yang buruk perangainya terus menerus
mengatakan demikian. Tetapi orang-orang yang dimasukkan dalam neraka pada Hari Kiamat mereka akan mengatakan begini: مَا لَنَا لَا نَرٰی رِجَالًا کُنَّا
نَعُدُّہُمۡ مِّنَ الۡاَشۡرَارِ -- “apakah sebabnya kita tidak melihat orang-orang yang kita anggap mereka
termasuk orang-orang jahat?” – QS.38:62). Yakni
“Apakah yang terjadi kepada kita bahwa kita tidak melihat dalam
neraka ini orang-orang yang kita anggap
jahat?”
Dunia senantiasa memusuhi utusan-utusan Allah Swt. karena cinta
kepada keduniaan dan cinta kepada utusan-utusan Allah sama sekali tidak dapat dikumpulkan dalam satu
tempat. Kalau kalian tidak cinta kepada keduniaan
maka kalian akan dapat melihat saya,
tetap[I karena cinta kepada keduniaan maka sekarang kalian tidak dapat melihat saya.
Kalau benar bahwa arti بَلۡ رَّفَعَہُ اللّٰہُ اِلَیۡہِ
bahwa Nabi Isa a.s. telah diangkat ke atas langit kedua maka harus dibuktikan pula ayat lain yang memberi keputusan tentang perkara yang harus
diputuskan itu. Orang-orang Yahudi yang sampai sekarang masih hidup pun menolak
rafa’a ilallaah (pengangkatan kepada Allah) Nabi Isa a.s.
dalam arti bahwa – Na’udzubillāh –
beliau bukan seorang mukmin yang shadiq (benar) maka ruh beliau tidak
memperoleh rafa’a ilallaah.
Jika
ada keraguan hal ini dapat ditanyakan kepada ulama Yahudi, mereka sama sekali
tidak berpendapat bahwa orang yang mati di atas kayu salib maka ruh serta
badannya tidak dapat naik ke atas langit, melainkan mereka sepakat
mengatakan bahwa orang yang mati di atas kayu
salib adalah mal’un (orang yang
terlaknat) adanya, dan ia tidak mendapat rafa’a
ilallaah (pengangkatan kepada
Allah).
Oleh karena itu Allah Swt.
menerangkan dalam Al-Quran bahwa Nabi Isa a.s. tidak mati di atas kayu salib,
firman-Nya adalah: وَ مَا قَتَلُوۡہُ وَ مَا صَلَبُوۡہُ وَ لٰکِنۡ
شُبِّہَ لَہُمۡ -- “padahal mereka
tidak membunuhnya secara biasa dan tidak pula mematikannya melalui penyaliban akan tetapi ia disamarkan.” Dalam ayat ini perkataan
صَلَبُوۡہُ (menyalibnya) ditambah lagi dengan قَتَلُوۡہُ
(membunuhnya) supaya menyatakan
bahwa hanya sekedar dinaikkan
(dipakukan) pada kayu salib tidak mendatangkan laknat, melainkan dengan
syarat bahwa sesudah dinaikkan di atas kayu
salib lalu dengan niat qatal
(membunuh) dipatahkan pula kedua kali dan kedua tangannya dan juga dipukul maka barulah kematian seperti itu akan dikatakan kematian mal’un (terlaknat). Tetapi
Allah Swt. telah memelihara Nabi Isa a.s. dari kematian semacam itu, karena
betul beliau a.s. dinaikkan ke atas kayu salib (disalib) tetapi beliau a.s.
tidak mati karena disalib.
Tetapi orang-orang Yahudi merasa ragu bahwa beliau a.s.
benar-benar mati di atas kayu salib.
Orang-orang Nasrani pun merasakan keraguan seperti itu juga, hanya saja mereka
berpedirian bahw asesudah mati beliau a.s. hidup kembali, padahal sebenarnya
beliau hanya apingsan karena kesakitan yang dideritanya di atas kayu salib, dan
perkataan (disamarkan kepada mereka/mereka menjadi ragu) dan inilah yang
dimaksud dengan syubbiha lahum.
“Marham Isa”
(Salep Isa) & “Menghina” Kekuasaan
Allah Swt. dan Kesempurnaan Nabi
Besar Muhammad Saw.
Satu Kesaksian
yang paling mengherankan mengenai kejadian ini ialah satu resep berupa marham
Isa (zalf Isa) yang sudah beratus-ratus tahun senantiasa dicantumkan dalam buku-buku obat orang-orang Ibrani,
Romawi, Yunani dan orang-orang Islam juga, dengan keterangan bahwa resep ini dulu untuk mengobati luka-luka Nabi Isa a.s..
Pendek kata, pikiran ini sangat memalukan jika Allah Swt. telah mengangkat Nabi Isa a.s. dengan jasad
kasarnya ke langit, seperti
seolah-olah Dia takut oleh
orang-orang Yahudi supaya mereka jangan
dapat menangkapnya. Orang-orang yang tidak mengerti kepada pokok perkara yang harus diputuskan, mereka
itulah yang menyiarkan pikiran-pikiran semacam itu. Lagi pula pikiran tersebut
sangat menghina Nabi Muhammad saw.,
Karena orang-orang kafir Quraisy dengan berulang-ulang telah minta mukjizat supaya beliau saw. naik ke langit di hadapan mata mereka
lalu mereka akan beriman kepada
beliau saw., tetapi tuntutan mereka dijawab:
قُلۡ
سُبۡحَانَ رَبِّیۡ ہَلۡ کُنۡتُ اِلَّا بَشَرًا رَّسُوۡلًا -- Katakanlah, “Maha
Suci Rabb-ku (Tuhan-ku), tidaklah aku melainkan seorang manusia dan rasul” –
QS.17:94). Yakni “Saya hanyalah manusia dan Allah Swt. adalah suci
dan tidak akan melanggar perjanjian-Nya dengan mengangkat manusia ke langit”,
karena Dia telah menjanjikan bahwa
semua manusia akan hidup hanya di bumi
ini, lalu bagaimanakan Dia akan mengangkat Nabi Isa a.s. dengan jasad kasarnya ke langit dengan tidak mempedulikan
kepada perjanjian-Nya: فِیۡہَا تَحۡیَوۡنَ وَ فِیۡہَا
تَمُوۡتُوۡنَ وَ مِنۡہَا تُخۡرَجُوۡنَ (di bumi inilah kamu
akan hidup dan di bumi inilah kamu akan mati dan darinya kamu akan dikeluarkan
pula – QS.7:26).
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran Anyar, 11 Maret
2017
Tidak ada komentar:
Posting Komentar