Senin, 13 Maret 2017

Nubuatan Pengulangan "Kedurhakaan" Para pemuka Agama Yahudi Terhadap "Masih Mau'ud a.s." di Akhir Zaman & Makna "Rafa'a ilallaah" (Pengangkatan Kepada Allah) Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.


Bismillaahirrahmaanirrahiim

  ISLAM
Pidato  Mirza Ghulam Ahmad a.s.
Tgl. 2 November 1904 di Kota Sialkote – Hindustan

Bab  38

NUBUATAN PENGULANGAN KEDURHAKAAN PARA PEMUKA AGAMA YAHUDI TERHADAP MASIH MAU'UD A.S. DI AKHIR ZAMAN & MAKNA RAFA’A ILALLĀH (PENGANGKATAN KEPADA ALLAH) NABI ISA IBNU MARYAM A.S.  

Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam bagian akhir Bab  sebelumnya telah dijelaskan  topik Nubuatan Dalam Ayat Terakhir Surah Al-Fatihah   sehubungan sabda Masih Mau’ud a.s.: “Begitu pun dalam hadits-hadits shahih diceritakan  bahwa di Akhir Zaman sebagian besar orang Islam akan menyerupai orang-orang Yahudi. Dalam surah Al-Fatihah pun diisyaratkan tentang hal ini karena di dalamnya diajarkan doa: “Ya Allah, janganlah kami jadi seperti orang-orang Yahudi yang di zaman Nabi Isa melawan kepada beliau dan mendapat kemurkaan Ilahi dalam dunia ini juga.”
    Menurut sunnah (kebiasaan) Ilahi, apabila Allah Swt. memberi suatu firman kepada suatu bangsa atau mengajar suatu doa kepada mereka maka itu berarti bahwa beberapa orang dari antara mereka  akan mengerjakan dosa yang dilarang kepada mereka. Dalam ayat “Ghayril-maghdhūbi ‘alayhim” diterangkan orang-orang  Yahudi yang pada zaman akhir dari umat Nabi Musa a.s. – yakni pada waktu Nabi Isa a.s. – mereka mendapat kemurkaaan Ilahi karena menolak Nabi Isa a.s.. Karena itu menurut sunnah Ilahi yang tersebut di atas dalam ayat ini pun adalah kabar gaib  bahwa pada masa  Akhir Zaman dari umat Nabi Muhammad saw. juga akan datang seorang  Masih Mau’ud (Masih yang dijanjikan) dari umat ini.”

Perintah Menolong Perjuangan Masih Mau’ud a.s. di Akhir Zaman

   Sehubungan dengan sabda Masih Mau’ud a.s. tersebut dalam Al-Quran terdapat perintah Allah Swt. kepada orang-orang beriman   -- dalam al ini umat Islam – agar bersikap seperti kaum  hawari  yang menolong perjuangan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s., bukan berlaku seperti para pemuka agama Yahudi yang mendustakan dan menentang – bahkan berusaha membunuh  -- Nabi Isa Ibnu Maryam .s. melalui penyaliban – firman-Nya:
یٰۤاَیُّہَا  الَّذِیۡنَ  اٰمَنُوۡا کُوۡنُوۡۤا  اَنۡصَارَ اللّٰہِ کَمَا قَالَ عِیۡسَی ابۡنُ  مَرۡیَمَ لِلۡحَوَارِیّٖنَ مَنۡ  اَنۡصَارِیۡۤ  اِلَی اللّٰہِ ؕ قَالَ الۡحَوَارِیُّوۡنَ نَحۡنُ  اَنۡصَارُ اللّٰہِ  فَاٰمَنَتۡ طَّآئِفَۃٌ  مِّنۡۢ  بَنِیۡۤ  اِسۡرَآءِیۡلَ وَ کَفَرَتۡ طَّآئِفَۃٌ ۚ فَاَیَّدۡنَا  الَّذِیۡنَ  اٰمَنُوۡا عَلٰی عَدُوِّہِمۡ  فَاَصۡبَحُوۡا ظٰہِرِیۡنَ ﴿٪﴾  
Hai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penolong-penolong Allah sebagaimana Isa ibnu Maryam berkata kepada  pengikut-pengikutnya, مَنۡ  اَنۡصَارِیۡۤ  اِلَی اللّٰہِ --  “Siapakah penolong-penolongku di jalan Allah?” قَالَ الۡحَوَارِیُّوۡنَ نَحۡنُ  اَنۡصَارُ اللّٰہِ  -- Pengikut-pengikut yang setia itu berkata: “Kamilah penolong-penolong Allah.” Maka segolongan dari Bani Israil beriman sedangkan segolongan lagi kafir, kemudian Kami membantu orang-orang yang beriman terhadap musuh-musuh mereka lalu mereka menjadi  orang-orang yang menang. (Ash-Shaf [61]:15).
     Dari ketiga golongan agama di antara kaum Yahudi, yang terhadap mereka Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.  menyampaikan tablighnya – kaum Parisi, kaum Saduki, dan kaum Essenes – Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.  termasuk golongan kaum Essenes sebelum beliau diutus sebagai rasul Allah.
   Kaum Essenes adalah kaum yang sangat bertakwa, hidup jauh dari kesibukan dan keramaian dunia, dan melewatkan waktu mereka dalam berzikir dan berdoa, dan berbakti kepada sesama manusia. Dari  kaum Essenes inilah berasal bagian besar dari para pengikut beliau (hawari) di masa permulaan (“The Dead Sea Community,” oleh Kurt Schubert, dan “The Crucifixion by an Eye-Witness”). Mereka disebut “Par170170a Penolong” oleh Eusephus.
    Kata-kata penutup Surah Ash-Shaf ini sungguh sarat dengan nubuatanفَاَیَّدۡنَا  الَّذِیۡنَ  اٰمَنُوۡا عَلٰی عَدُوِّہِمۡ  فَاَصۡبَحُوۡا ظٰہِرِیۡنَ  -- “Maka segolongan dari Bani Israil beriman sedangkan segolongan lagi kafir, kemudian Kami membantu orang-orang yang beriman terhadap musuh-musuh mereka lalu mereka menjadi  orang-orang yang menang.“   Sepanjang zaman para pengikut Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. telah menikmati kekuatan dan kekuasaan atas musuh abadi mereka – kaum Yahudi. Mereka telah menegakkan dan memerintah kerajaan-kerajaan luas dan perkasa, sedang kaum Yahudi tetap merupakan kaum yang cerai-berai sehingga mendapat julukan “the Wandering Jew” (“Yahudi Pengembara”). Nubuatan Al-Quran tersebut – Insya Allah   -- akan kembali berulang pada Masih Mau’ud a.s. dan para pengikutnya di Akhir Zaman ini.

Misal Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. dari Kalangan Umat Islam Sebagai As-Sā’ah (Tanda Kiamat)

     Lebih lanjut Masih Mau’ud a.s. menjelaskan:   “Sebagian orang Islam karena melawan Masih Mau’ud akan menjadi seperti orang-orang Yahudi di zaman Nabi Isa a.s. Hal ini tidak dapat dicela bahwa kalau Masih Mau’ud yang akan datang adalah dari umat ini, mengapa dalam hadits dia dinamakan Isa? Karena kebiasaan-kebiasaan Ilahi selamanya begini, yakni beberapa orang suka diberi nama dengan nama orang lain. Sebagaimana dalam hadits Abu Jahal dipanggil dengan sebutan Fir’aun, Hadhrat Nuh dinamakan Adam Tsani (Adam kedua) dan Yahya dinamakan Elia. Inilah kebiasaan Ilahi yang tidak dapat ditolak oleh siapa pun juga.
     Allah Swt. memberi lagi satu persesuaian kepada Masih  Mau’ud di Akhir Zaman dengan Masih Israili yang dahulu, yakni Nabi Isa Israili yang dulu datang pada permulaaan abad ke-14 sesudah Nabi Musa a.s., demikian pula Masih Mau’ud di Akhir Zaman ini pun datang dalam abad ke-14 sesudah Nabi Muhammad saw. Pada waktu kedatangan Masih Mau’ud a.s. ini kerajaan Islam sudah tidak ada di India dan telah dikuasai pemerintah Inggris, begitu pula Nabi Isa a.s.  pun datang pada waktu kerajaan Israil telah jatuh dan orang-orang Yahudi telah dikuasai oleh kerajaan Roma.
    Masih Mau’ud dari umat Islam  mempunyai satu persesuaian lainnya lagi dengan Nabi Isa yang dulu, yakni Nabi Isa  a.s. bukan asli keturunan Bani Israil melainkan karena ibunya. Begitu pula sebagian dari nenek kami adalah dari Sadāt (sayyid)  walau pun ayahanda bukan dari sadāt (sayyid). Allah Swt. menghendaki supaya   seorang dari Bani Israil jangan menjadi ayah Hadhrat Isa a.s., yang di dalamnya mengandung rahasia karena Allah Swt. sangat marah kepada Bani Israil sebab dosa-dosa mereka terlampau banyak.
     Maka untuk memberi peringatan Allah Swt. memperlihatkan tanda bahwa seorang anak laki-laki lahir hanya dari ibunya saja dengan tidak ada campuran sedikit pun dari  ayah. Seolah-orang dari dua bagian wujud Israil  pada wujud  Nabi Isa hanya tinggal sebagian saja. Hal ini menunjukkan bahwa nabi yang akan datang sesudah   Nabi Isa a.s. (yakni Nabi Muhammad saw. – red)  sama sekali tidak mempunyai suatu bagian dari  Israil.  Dunia ini telah menghampiri penghabisannya karena itu dalam kelahiran saya pun ada suatu isyarat bahwa Kiamat telah dekat dan itulah yang akan menghabiskan perjanjian Khilafat kepada Quraisy juga.
      Pendek kata,  untuk menyempurnakan persesuaian antara umat Nabi Muhammad saw. dengan umat Nabi Musa a.s. diperlukan seorang Masih Mau’ud yang akan datang dengan segala keadaan seperti Nabi Isa a.s., maka sistim Islamiyah ini mulai dengan seorang yang seperti Nabi  Musa a.s. dan akan berakhir pula dengan seorang seperti Nabi Isa a.s. supaya yang akhir mempunyai persesuaian dengan yang awal. Demikianlah hal ini pun mempunyai satu bukti bagi orang-orang yang mau memperhatikan hal ini dengan takwa kepada Allah Swt..” 
    Penjelasan Masih Mau’ud a.s. berkenaan pentingnya kedatangan  misal Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. di kalangan umat Islam (Bani Isma’il) dan  alasan mengapa Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. dilahirkan tanpa ayah  seorang laki-laki dari kalangan Bani Israil melainkan ibunya sendiri (Maryam binti ‘Imran) merangkap sebagai ayah  beliau tersebut sesuai dengan firman Allah Swt. berikut ini mengenai “As-Sā’ah” (Tanda Kiamat):
وَ لَمَّا ضُرِبَ ابۡنُ مَرۡیَمَ  مَثَلًا  اِذَا قَوۡمُکَ مِنۡہُ  یَصِدُّوۡنَ ﴿﴾  وَ قَالُوۡۤاءَ اٰلِہَتُنَا خَیۡرٌ اَمۡ ہُوَ ؕ مَا ضَرَبُوۡہُ  لَکَ  اِلَّا جَدَلًا ؕ بَلۡ ہُمۡ قَوۡمٌ خَصِمُوۡنَ ﴿﴾ اِنۡ ہُوَ اِلَّا عَبۡدٌ اَنۡعَمۡنَا عَلَیۡہِ وَ جَعَلۡنٰہُ  مَثَلًا   لِّبَنِیۡۤ   اِسۡرَآءِیۡلَ ﴿ؕ﴾ وَ لَوۡ  نَشَآءُ  لَجَعَلۡنَا مِنۡکُمۡ مَّلٰٓئِکَۃً  فِی الۡاَرۡضِ  یَخۡلُفُوۡنَ ﴿﴾ وَ اِنَّہٗ  لَعِلۡمٌ  لِّلسَّاعَۃِ  فَلَا تَمۡتَرُنَّ بِہَا وَ اتَّبِعُوۡنِ ؕ ہٰذَا صِرَاطٌ مُّسۡتَقِیۡمٌ ﴿﴾
Dan apabila   Ibnu Maryam dikemukakan  sebagai misal tiba-tiba kaum engkau meneriakkan  penentangan  terhadapnya,  dan mereka berkata: "Apakah tuhan-tuhan kami lebih baik ataukah dia?" Mereka tidak menyebutkan hal itu kepada engkau melainkan perbantahan semata. Bahkan mereka adalah kaum yang biasa berbantahاِنۡ ہُوَ اِلَّا عَبۡدٌ اَنۡعَمۡنَا عَلَیۡہِ وَ جَعَلۡنٰہُ  مَثَلًا   لِّبَنِیۡۤ   اِسۡرَآءِیۡلَ --   Ia tidak lain melainkan seorang hamba yang telah Kami  anugerahi nikmat kepadanya, dan Kami menja-dikan dia suatu perumpamaan  bagi Bani Israil. وَ لَوۡ  نَشَآءُ  لَجَعَلۡنَا مِنۡکُمۡ مَّلٰٓئِکَۃً  فِی الۡاَرۡضِ  یَخۡلُفُوۡنَ --  Dan seandainya Kami meng-hendaki niscaya Kami menjadikan malaikat dari antara kamu  sebagai penerus di bumi. وَ اِنَّہٗ  لَعِلۡمٌ  لِّلسَّاعَۃِ  فَلَا تَمۡتَرُنَّ بِہَا وَ اتَّبِعُوۡنِ ؕ ہٰذَا صِرَاطٌ مُّسۡتَقِیۡمٌ  -- Tetapi sesungguhnya ia benar-benar pengetahuan mengenai  Saat,  maka janganlah ragu-ragu mengenainya dan ikutilah aku, inilah jalan lurus. (Az-Zukhruf [43]:58-62).

Pengulangan  Penolakan Terhadap   Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.  di Akhir Zaman

      Shadda (yashuddu)  dalam ayat 58: وَ لَمَّا ضُرِبَ ابۡنُ مَرۡیَمَ  مَثَلًا  اِذَا قَوۡمُکَ مِنۡہُ  یَصِدُّوۡنَ  -- “Dan apabila   Ibnu Maryam dikemukakan  sebagai misal tiba-tiba kaum engkau meneriakkan  penentangan  terhadapnya berarti: ia menghalangi dia dari sesuatu, dan shadda (yashiddu) berarti: ia mengajukan sanggahan atau protes  (Aqrab-ul-Mawarid).  
     Kedatangan Al-Masih Ibnu Maryam a.s. adalah tanda (as-Sā’ah) bahwa orang-orang Yahudi akan dihinakan dan direndahkan serta akan kehilangan kenabian untuk selama-lamanya, sebagai perwujudan kutukan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (QS.5:80-81) karena mereka berusaha membunuh beliau melalui penyaliban, sebagaimana sebelumnya mereka pun telah mendapat kutukan Nabi Daud a.s. (QS.4:158-159; QS.2:88-89), sehingga  mereka dua kali mendapat hukuman Allah Swt. (QS.17:5-9).
        Karena matsal berarti sesuatu yang semacam dengan atau sejenis dengan yang lain (QS.6:39), ayat ini, di samping arti yang diberikan dalam ayat ini, dapat pula berarti bahwa bila kaum Nabi Besar Muhammad saw.   — yaitu kaum Muslimin — diberitahu bahwa orang lain seperti dan merupakan sesama Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. akan dibangkitkan di antara mereka untuk memperbaharui mereka dan mengembalikan kejayaan ruhani mereka yang telah hilang, maka dari bergembira atas kabar gembira itu malah mereka berteriak  mengajukan protes. Jadi, ayat ini dapat dianggap mengisyaratkan kepada kedatangan kedua kali Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.     di Akhir Zaman ini.
      Makna ayat:  وَ لَوۡ  نَشَآءُ  لَجَعَلۡنَا مِنۡکُمۡ مَّلٰٓئِکَۃً  فِی الۡاَرۡضِ  یَخۡلُفُوۡنَ --  “Dan seandainya Kami menghendaki niscaya Kami menjadikan malaikat dari antara kamu  sebagai pe-nerus di bumi.” Para malaikat tidak dapat dijadikan contoh dan model bagi manusia; oleh karena itu Allah Swt.   senantiasa mengutus manusia sebagai rasul-Nya (QS.22:76) guna menyampaikan kehendak-Nya kepada manusia dan untuk menjadi contoh dan teladan bagi manusia.
       Makna "as-Sā’at" (saat) dalam ayat: وَ اِنَّہٗ  لَعِلۡمٌ  لِّلسَّاعَۃِ  فَلَا تَمۡتَرُنَّ بِہَا وَ اتَّبِعُوۡنِ ؕ ہٰذَا صِرَاطٌ مُّسۡتَقِیۡمٌ  -- “Dan seandainya Kami menghendaki niscaya Kami menjadikan malaikat dari antara kamu  sebagai penerus di bumi.  Tetapi sesungguhnya ia benar-benar pengetahuan mengenai  Saat, maka janganlah ragu-ragu mengenainya dan ikutilah aku, inilah jalan lurus” dapat menyatakan waktu berakhirnya syariat Nabi Musa a.s.,  dan kata pengganti hu dalam innahu dapat mengisyaratkan kepada Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.  atau kepada Al-Quran, dan ayat ini dapat berarti bahwa sesudah Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.  kaum Bani Israil akan kehilangan karunia kenabian, atau bahwa syariat lain —yakni  syariat Al-Quran— akan menggantikan syariat Nabi Musa a.s..
            
Makna  Kata Rafa’a (Pengangkatan) Berkenaan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.

     Selanjutnya Masih Mau’ud a.s. membahas masa makna kata rafa’a (pengangkatan) Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.  sehubungan dengan peristiwa penyaliban Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.  yang dikemukakan dalam QS.4:158-159, firman-Nya:
وَّ قَوۡلِہِمۡ اِنَّا قَتَلۡنَا الۡمَسِیۡحَ عِیۡسَی ابۡنَ مَرۡیَمَ رَسُوۡلَ اللّٰہِ ۚ وَ مَا قَتَلُوۡہُ وَ مَا صَلَبُوۡہُ وَ لٰکِنۡ شُبِّہَ لَہُمۡ ؕ وَ  اِنَّ الَّذِیۡنَ اخۡتَلَفُوۡا فِیۡہِ لَفِیۡ شَکٍّ مِّنۡہُ ؕ مَا لَہُمۡ بِہٖ مِنۡ عِلۡمٍ  اِلَّا اتِّبَاعَ الظَّنِّ ۚ وَ مَا قَتَلُوۡہُ  یَقِیۡنًۢا ﴿﴾ۙ بَلۡ رَّفَعَہُ اللّٰہُ اِلَیۡہِ ؕ وَ کَانَ اللّٰہُ عَزِیۡزًا حَکِیۡمًا﴿﴾
Dan karena ucapan mereka: “Sesungguhnya kami telah membunuh Al-Masih, Isa Ibnu Maryam, Rasul Allah,” padahal mereka tidak membunuhnya secara biasa dan tidak pula mematikannya melalui penyaliban  akan tetapi ia disamarkan  kepada mereka seperti telah mati di atas salib. Dan sesungguhnya  orang-orang yang berselisih dalam hal ini niscaya ada dalam keraguan mengenai ini,  mereka tidak memiliki  pengetahuan yang pasti mengenai ini melainkan menuruti dugaan belaka dan mereka tidak  yakin telah membunuhnya. بَلۡ رَّفَعَہُ اللّٰہُ اِلَیۡہِ ؕ وَ کَانَ اللّٰہُ عَزِیۡزًا حَکِیۡمًا   --Bahkan Allah telah mengangkatnya kepada-Nya dan Allah Maha Perkasa, Maha Bijaksana. (An-Nisa [4]:158-159).
           Berkenaan fiman Allah Swt. tersebut Masih Mau’ud a.s. menjelaskan:      “Rafa’a ruhani Nabi Isa a.s.: Moga-moga Allah Swt.   mengasihani orang-orang Islam zaman sekarang karena sebagian besar dari itikad-itikad mereka dalam kezaliman dan ketidakadilan telah melampauai batas.
   Mereka membaca dalam Al-Quran bahwa Nabi Isa a.s. telah wafat (QS.3:56 & 145; QS.21:35) tetapi kemudian menganggap bahwa beliau masih hidup. Mereka membaca dalam surah An-Nūr dalam Al-Quran – bahwa semua  khalifah yang akan datang akan diutus di antara umat ini juga (QS.24:56), tetapi kemudian mereka mengharap Nabi Isa a.s. yang dulu akan turun dari langit.
   Mereka membaca dalam hadits-hadits Bukhari dan Muslim bahwa Masih Mau’ud yang akan datang untuk umat ini akan diutus dari kalangan umat ini juga tetapi mereka masih menunggu-nunggu Nabi Isa Israili saja. Mereka membaca dalam Al-Quran bahwa Nabi isa tidak akan datang kedua kalinya ke dunia ini,  biar pun mereka telah mengathui hal ini   tetapi mereka masih  mengharap juga beliau a.s. akan datang kedua kalinya.
    Namun demikian walau begitu mereka masih mendakwakan diri menjadi Islam (Muslim) dan menganggap bahwa Nabi Isa a.s. telah diangkat ke langit dengan jasad  kasarnya. Tetapi   mereka tidak dapat menjawab hal ini yakni mengapa Nabi Isa a.s. diangkat ke langit?
    Orang-orang Yahudi hanya bertengkar tentang rafa’a ruhani (kenaikan ruhani) saja,  mereka menganggap bahwa ruh Nabi isa a.s. tidak diangkat ke langit seperti orang-orang suci yang lain karena beliau digantungkan di atas kayu salib dan orang yang digantungkan di atas kayu salib niscaya ia terlaknat  adanya, yakni ruhnya tidak akan diangkat ke langit kepada Allah Swt..
     Al-Quran hanya memutuskan pertengkaran ini sebagaimana Al-Quran sendiri mendakwakan untuk menyatakan kesalahan-kesalahan Yahudi dan Nashara serta membereskan perselisihan-perselisihan mereka. Orang-orang Yahudi mengatakan bahwa  Nabi Isa a.s. bukan orang suci, lagi pula tidak memperoleh  najat (keselamatan) dan ruhnya pun  tidak dirafa’ (diangkat) kepada Allah Swt., tetapi perkara yang diputuskan malah apakah Nabi Isa a.s. adalah  seorang nabi besar dan suci ataukah  bukan? Dan ruh beliau a.s. seperti orang-orang suci dan mukmin lain dirafa’a (diangkat) kepada Allah Swt. ataukah tidak? Hal inilah yang akan diputuskan oleh Al-Quran.

Kecuali Orang-orang kafir, Semua Orang Suci Memperoleh Rafa’a ilallāh (Pengangkatan Ruhani Kepada Allah) 

   Kalau ayat: Bal rafa’allaahu ilayhi diartikan bahwa Allah Swt. telah mengangkat Nabi Isa a.s. dengan jasad kasarnya ke langit yang kedua maka dengan keterangan ini perkara yang harus diputuskan itu tidak menjadi beres. Seolah-olah  Allah Swt. seperti tidak faham mengenai apa yang harus diputuskan dan memutuskan yang sama sekali tidak berhubungan dengan pendakwaan orang-orang Yahudi.
  Sebenarnya ayat-ayat ini  menyatakan dengan jelas bahwa Nabi Isa a.s. dirafa’akan  (diangkat) kepada Allah Swt. dan sekali-kali tidak dikatakan bahwa beliau dirafa’akan (diangkat) ke langit yang kedua, atau untuk beroleh najat (keselamatan) dan iman maka orang-orang harus diangkat dengan  jasad kasarnya ini?
    Tambahan pula adalam ayat “Bal rafa’ahullaahu ilayhi” (bahkan  Allah telah mengangkat dia kepada-Nya) sama sekali tidak menceritakan tentang langit, melainkan ayat ini hanya berarti bahwa Allah Swt. telah mengangkat Nabi Isa a.s. kepada-Nya saja.”
    Sekarang harus kita perhatikan apakah Nabi-nabi Ibrahim a.s., Ismail a.s., Ishaq a.s.. Ya’qaub a.s., Musa a.s. dan nabi Muhammad saw. diangkat ke jururusan lain ataukah kepada Allah Swt juga? Maka saya mengatakan di sini dengan tegas bahwa ayat ini kalau hanya dikhususkan untuk Nabi Isa a.s. yakni bab rafa’ilallaah hanya semata-mata untuk Nabi Isa a.s. saja sedangkan nabi-nabi lain tidak  memperoleh rafa’ilallah  sesungguhnya anggapan ini akan menjadi kufur. Tidak ada kufur yang lebih besar daripada ini, karena menurut anggapan seperti itu, kecuali Nabi Isa  a.s., semua nabi yang lain tidak memperoleh rafa’ilallāh (kenaikan ruhani kepada Allah Swt.)  padahal Nabi Muhammad saw. dalam mi’raj telah menyaksikan sendiri rafa’ilallāh nabi-nabi lain juga.
 Camkanlah bahwa rafa’ilallāh tentang Nabi Isa a.s. diceritakan dalam ayat ini hanya untuk membersihkan celaan orang-orang Yahudi terhadap Nabi Isa a.s., padahal  rafa’ilallāh  ini  adalah biasa untuk semua nabi-nabi, rasul-rasul dan orang-orang mukmin, dan setelah wafat tiap-tiap mukmin pun beroleh  rafa’ilallāh.  Hal ini diterangkan dalam ayat Al-Quran: ہٰذَا  ذِکۡرٌ ؕ وَ  اِنَّ  لِلۡمُتَّقِیۡنَ لَحُسۡنَ مَاٰبٍ      جَنّٰتِ عَدۡنٍ مُّفَتَّحَۃً  لَّہُمُ  الۡاَبۡوَابُ (Inilah peringatan, dan sesungguhnya bagi orang-orang bertakwa ada   tempat kembali yang  baik, kebun-kebun yang kekal dengan pintu-pintu terbuka bagi mereka” – QS.38:49-50). tetapi orang kafir tidak akan memperoleh rafa’a (kenaikan) sebagaimana diterangkan dalam ayat Al-Quran: Lā tufattahu lahum abwaabus samaa’i --  (tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit – QS.7:40).

Kecintaan Kepada Dunia Menghalangi Penglihatan Ruhani

  Orang-orang yang telah bersalah atau keliru dalam hal ini sebelum kedatangan saya mereka itu akan dimaafkan kesalahannya karena mereka tidak diberi peringatan dan tidak diterangkan pula kepada mereka arti kalam Ilahi yang sebenarnya. Tetapi sekarang saya telah memberitahukan kepada kalian dan telah menjelaskan pula arti yang sebenarnya.
    Sebelum kedatangan saya kesalahan tersebut dapat dikatakan sebagai taqlid kepada kebiasaan umum, tetapi sekarang tidak ada suatu ‘udzur (alasan) pun yang dapat dikemukakan. Langit dan bumi telah menjadi saksi atas kebenaran saya. Banyak wali-wali dari umat Islam telah memberi kesaksian dengan menyebutkan nama dan tempat tinggal saya, bahwa sayalah Masih Mau’ud itu.
    Beberapa orang dari orang-orang yang memberi kesaksian itu telah meninggal dunia 30 tahun  sebelum kedatangan saya, sebagaimana kesaksian-kesaksian mereka telah saya siarkan. Dalam zaman ini pun banyak para pemuka agama yang mempunyai berlaksa-laksa pengikut  yang mendapat ilham Ilahi, dan dengan mendengar dalam rukyanya Nabi Muhammad saw. telah membenarkan pendakwaan saya.
    Hingga kini beribu-ribu tanda telah tampak dariku. Nabi-nabi suci dari Allah Swt. telah menetapkan waktu dan zaman kedatangan saya. Kalau kalian memperhatikan   maka segera kaki, tangan dan sanubari kalian akan memberi kesaksian tentang kebenaran saya, tetapi karena kelemahan  amal sudah terlampau banyak  maka kebanyakan orang telah lupa kepada kemanisan dan  kelezatan iman. Keadaan-keadaan kelemahan, aib, kesalahan, kesesatan, cinta kepada keduniaan dan kegelapan yang meliputi agama Islam sekarang dengan sendirinya mendesak minta (menuntut) agar  supaya  seorang diutus untuk memimpin dan menuntun mereka.
    Tetapi sekali pun begitu keadaannya,   sayang sampai sekarang mereka  menyebutku  Dajjal. Alangkah buruk nasib kaum itu yang dalam begitu gawat dan jeleknya tetapi mereka hanya dikirim dajjal saja. Alangkah buruk nasib kaum itu yang pada waktu begitu parah dan rusak keadaan dalam dirinya mendapat lagi suatu azab dari langit.

Pengulangan Fitnah Terhadap Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.  & Terhindar dari Kematian Terkutuk di Tiang Salib

    Orang-orang yang melawan mengatakan bahwa aku ini sebagai yang terlaknat dan tidak beriman. Sebenarnya perkataan semacam inilah jugalah yang diucapkan terhadap Nabi Isa a.s. yang dulu dan sampai sekarang pun orang-orang Yahudi yang buruk perangainya terus menerus mengatakan demikian. Tetapi orang-orang yang dimasukkan dalam neraka pada Hari Kiamat mereka akan mengatakan begini: مَا لَنَا لَا نَرٰی رِجَالًا کُنَّا نَعُدُّہُمۡ مِّنَ الۡاَشۡرَارِ      -- “apakah sebabnya kita tidak melihat orang-orang yang kita anggap mereka termasuk orang-orang jahat?” – QS.38:62). Yakni  “Apakah yang terjadi kepada kita bahwa kita tidak melihat dalam neraka  ini orang-orang yang kita anggap jahat?”
   Dunia senantiasa memusuhi utusan-utusan Allah Swt. karena cinta kepada keduniaan dan cinta kepada utusan-utusan Allah sama sekali tidak dapat dikumpulkan dalam satu tempat. Kalau kalian tidak cinta  kepada keduniaan maka kalian akan dapat melihat saya, tetap[I karena cinta kepada keduniaan maka sekarang kalian tidak dapat melihat saya.
      Kalau benar bahwa arti  بَلۡ رَّفَعَہُ اللّٰہُ اِلَیۡہِ   bahwa   Nabi Isa a.s. telah diangkat ke atas langit kedua maka harus dibuktikan pula ayat lain yang memberi keputusan tentang perkara yang harus diputuskan itu. Orang-orang Yahudi yang sampai sekarang masih hidup pun menolak rafa’a ilallaah  (pengangkatan kepada Allah) Nabi Isa a.s. dalam arti bahwa – Na’udzubillāh – beliau bukan seorang mukmin yang shadiq (benar) maka ruh beliau tidak memperoleh rafa’a ilallaah.
        Jika ada keraguan hal ini dapat ditanyakan kepada ulama Yahudi, mereka sama sekali tidak berpendapat bahwa orang yang mati di atas kayu salib maka ruh serta badannya tidak  dapat naik  ke atas langit, melainkan mereka sepakat mengatakan bahwa orang yang mati di atas kayu salib adalah mal’un (orang yang terlaknat) adanya, dan ia tidak mendapat rafa’a ilallaah  (pengangkatan kepada Allah).
        Oleh karena itu Allah Swt. menerangkan dalam Al-Quran bahwa Nabi Isa a.s. tidak mati di atas kayu salib, firman-Nya adalah:   وَ مَا قَتَلُوۡہُ وَ مَا صَلَبُوۡہُ وَ لٰکِنۡ شُبِّہَ لَہُمۡ    --  “padahal mereka tidak membunuhnya secara biasa dan tidak pula mematikannya melalui penyaliban  akan tetapi ia disamarkan.” Dalam ayat ini  perkataan  صَلَبُوۡہُ     (menyalibnya) ditambah lagi dengan قَتَلُوۡہُ   (membunuhnya) supaya  menyatakan bahwa hanya sekedar dinaikkan (dipakukan) pada kayu salib  tidak mendatangkan laknat, melainkan dengan syarat bahwa sesudah dinaikkan di atas kayu salib lalu dengan niat qatal (membunuh) dipatahkan pula kedua kali dan kedua tangannya  dan juga dipukul maka barulah kematian seperti itu akan dikatakan kematian mal’un (terlaknat). Tetapi Allah Swt. telah memelihara Nabi Isa a.s. dari kematian semacam itu, karena betul beliau a.s. dinaikkan  ke atas kayu salib (disalib) tetapi beliau a.s. tidak mati karena disalib.
       Tetapi orang-orang Yahudi merasa ragu bahwa   beliau a.s. benar-benar mati di atas kayu salib. Orang-orang Nasrani pun merasakan keraguan seperti itu juga, hanya saja mereka berpedirian bahw asesudah mati beliau a.s. hidup kembali, padahal sebenarnya beliau hanya apingsan karena kesakitan yang dideritanya di atas kayu salib, dan perkataan (disamarkan kepada mereka/mereka menjadi ragu) dan inilah yang dimaksud dengan    syubbiha lahum.

Marham Isa” (Salep Isa) & “Menghina” Kekuasaan Allah Swt. dan Kesempurnaan Nabi Besar Muhammad Saw.

     Satu Kesaksian yang paling mengherankan mengenai kejadian ini ialah satu resep berupa  marham Isa (zalf Isa) yang sudah beratus-ratus tahun senantiasa dicantumkan dalam buku-buku obat orang-orang Ibrani, Romawi, Yunani dan orang-orang Islam juga, dengan keterangan bahwa resep ini  dulu untuk mengobati luka-luka Nabi Isa a.s..
      Pendek kata,  pikiran ini sangat  memalukan jika Allah Swt. telah mengangkat Nabi Isa a.s. dengan jasad kasarnya ke langit, seperti seolah-olah Dia takut oleh orang-orang Yahudi supaya  mereka jangan dapat menangkapnya. Orang-orang yang tidak mengerti kepada  pokok perkara yang harus diputuskan, mereka itulah yang menyiarkan pikiran-pikiran semacam itu. Lagi pula pikiran tersebut sangat menghina Nabi Muhammad saw., Karena orang-orang kafir Quraisy dengan berulang-ulang telah minta mukjizat supaya beliau saw. naik ke langit di hadapan mata mereka lalu mereka akan beriman kepada beliau saw., tetapi tuntutan mereka dijawab:   قُلۡ سُبۡحَانَ رَبِّیۡ  ہَلۡ کُنۡتُ  اِلَّا بَشَرًا رَّسُوۡلًا   -- Katakanlah, “Maha Suci Rabb-ku (Tuhan-ku), tidaklah aku melainkan seorang manusia dan rasul” – QS.17:94).  Yakni “Saya  hanyalah manusia dan Allah Swt. adalah suci dan tidak akan melanggar perjanjian-Nya dengan mengangkat manusia ke langit”, karena Dia telah menjanjikan bahwa semua manusia akan hidup hanya  di bumi ini, lalu bagaimanakan Dia akan mengangkat Nabi Isa a.s. dengan jasad  kasarnya ke langit dengan tidak mempedulikan kepada perjanjian-Nya: فِیۡہَا تَحۡیَوۡنَ وَ فِیۡہَا تَمُوۡتُوۡنَ وَ مِنۡہَا  تُخۡرَجُوۡنَ     (di bumi inilah kamu akan hidup dan di bumi inilah kamu akan mati dan darinya kamu akan dikeluarkan pula – QS.7:26).

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid

oo0oo
Pajajaran Anyar, 11   Maret  2017

Tidak ada komentar:

Posting Komentar