Bismillaahirrahmaanirrahiim
ISLAM
Pidato Mirza Ghulam Ahmad a.s.
Tgl. 2 November 1904
di Kota Sialkote – Hindustan
Bab 37
TANDA-TANDA AKHIR ZAMAN MERUPAKAN HARI KIAMAT TELAH DEKAT
&
KELAHIRAN NABI ISA IBNU MARYAM A.S.
TANPA AYAH MERUPAKAN AS-SĀ’AH
(TANDA KIAMAT) BAGI BANI ISRAIL
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
D
|
alam bagian akhir Bab sebelumnya
telah dijelaskan bagian awal pidato Mirza
Ghulam Ahmad a.s. tentang ISLAM di
kota Sialkote sehubungan topik Masa
Kedatangan Masih Mau’ud a.s. di Akhir
Masa Ribuan Keenam. Beliau a.s. menjelaskan:
“Semua nabi sepakat bahwa Masih
Mau’ud akan datang dalam permulaan ribuan
ketujuh dan akan lahir dalam penghabisan ribuan keenam karena dia datang dalam akhir sebagaimana Adam a.s.
datang dalam awal. Adam a.s. lahir pada hari keenam yakni hari Jum’at
saat terakhir. Satu hari di sisi
Allah sama dengan seribu tahun
perhitungan dunia. Dan karena kesesuaian
ini Allah Swt. mengutus Masih Mau’ud dalam waktu penghabisan ribuan tahun keenam
seakan-akan waktu yang terakhir dari hari.
Di antara awal
dan akhir ada suatu
hubungan karena itulah Allah Swt. mengutus Masih Mau’ud seperti keadaan Adam
juga. Adam a.s. lahir kembar pada
hari Jum’at, begitu pula saya yang
menjadi Masih Mau’ud pun lahir kembar
dan pada hari Jum’at juga.Terlebih
dulu seorang anak perempuan lahir kemudian saya lahir, dan kelahiran semacam ini mengisyaratkan kepada kedudukan khatam kewalian.”
Berikut beberapa ayat Al-Quran tentang
periode “seribu tahun” pergantian petunjuk
dengan kesesatan, firman-Nya:
یُدَبِّرُ
الۡاَمۡرَ مِنَ السَّمَآءِ اِلَی
الۡاَرۡضِ ثُمَّ یَعۡرُجُ اِلَیۡہِ فِیۡ یَوۡمٍ کَانَ مِقۡدَارُہٗۤ اَلۡفَ سَنَۃٍ مِّمَّا تَعُدُّوۡنَ ﴿﴾
Dia mengatur perintah dari langit
sampai bumi, kemudian perintah itu akan naik kepada-Nya dalam satu
hari, yang hitungan lamanya seribu
tahun dari apa yang kamu hitung. (As-Sajdah [31]:6).
Firman-Nya
lagi:
وَ یَسۡتَعۡجِلُوۡنَکَ بِالۡعَذَابِ وَ لَنۡ
یُّخۡلِفَ اللّٰہُ وَعۡدَہٗ ؕ وَ اِنَّ یَوۡمًا عِنۡدَ رَبِّکَ کَاَلۡفِ
سَنَۃٍ مِّمَّا تَعُدُّوۡنَ ﴿﴾
Dan mereka meminta kepada engkau untuk
mempercepat azab, tetapi Allah tidak akan pernah mengingkari janji-Nya.
Dan sesungguhnya satu hari di sisi Tuhan
engkau seperti seribu tahun menurut perhitungan
kamu (Al-Hājj [22]:48).
“Waktu yang
Dijanjikan” Telah Lewat
dan Gagal “Mengenal Orang yang Dijanjikan”
Selanjutnya Masih Mau’ud a.s.
menjelaskan: “Pendek kata, semua nabi
sepakat tentang ajaran ini bahwa Masih Mau’ud akan datang dalam permulaan
ribuan ketujuh. Karena itulah dalam
beberapa tahun yang lalu orang-orang
Kristen pun sangat gelisah. Di negeri Amerika diterbitkan beberapa majalah tentang masalah ini bahwa Masih Mau’ud yang harus lahir dalam zaman
ini mengapa hingga sekarang belum muncul juga?
Malah sebagian orang menjawab seperti
putus pengharapan,
katanya, “Karena sekarang waktunya telah lewat baiklah gereja saja dianggap sebagai wakil atau pengganti Masih Mau’ud.”
Jadi, inilah suatu keterangan
yang kuat tentang kebenaranku bahwa
saya diutus dalam ribuan
yang telah ditetapkan oleh nabi-nabi
terdahulu. Seandainya tiada keterangan-keterangan lain tentang kebenaranku cukuplah satu keterangan ini saja untuk orang yang
mencari haq (kebenaran). Menolak keterangan tersebut berarti membatalkan Kitab-kitab Ilahi semuanya.
Orang-orang yang mempunyai ilmu tentang Kitab Ilahi dan suka mempelajarinya,
bagi mereka keterangan tersebut jelas
dan terang
seperti siang hari, menolak keterangan
ini berarti menolak semua nubuatan
serta mengacau-balaukan seluruh
susunan dan merusak peraturan Ilahi.
Sebagian orang mempunyai pikiran
bahwa tidak ada yang dapat mengetahui
tentang Kiamat, kemudian bagaimana
dapat ditetapkan umur dunia mulai
Adam a.s. sampai penghabisan hanya 7000
tahun saja?
Pikiran seperti itu keliru, dan
orang-orang semacam itu tidak pernah mempelajari kitab-kitab Ilahi dengan
teliti dan seksama. Hitungan ini bukan saya yang menetapkan melainkan hal ini
dari dahuku kala telah diakui oleh orang-orang ‘alim dari ahli Kitab juga, sehingga ada juga orang-orang Yahudi ‘alim
yang mempercayai hal ini.
Menurut Al-Quran pun dapat dijelaskan
bahwa mulai Adam a.s sampai penghabisan
umur dunia ini hanya 7000 tahun saja,
begitu pulalah kitab-kitab yang dahulu pun menyetujui hal ini. Ayat Al-Quran: وَ اِنَّ
یَوۡمًا عِنۡدَ رَبِّکَ کَاَلۡفِ سَنَۃٍ
مِّمَّا تَعُدُّوۡنَ (“Dan sesungguhnya satu hari di sisi Rabb
kamu adalah seperti seribu tahun dari apa yang kamu hitung” – QS.22:48) pun
menyatakan ini, dan semua nabi
telah mengkabarkan begitu juga.
Sebagaimana telah saya katakan, menurut ilmu hitungan-huruf surah Al-Ashr pun menyatakan bahwa Nabi
Muhammad saw. lahir dalam ribuan kelima sesudah Adam a.s., maka menurut
hisab (perhitungan) tersebut zaman yang kita alami sekarang adalah ribuan ketujuh. Kami tidak dapat menolak
hal yang Allah Swt. membukakan kepada
kami dengan perantaraan wahyu-Nya,
lagi pula kami tidak melihat suatu keterangan pun untuk menolak ucapan yang telah disetujui oleh nabi-nabi Allah.
Bukti-bukti yang begitu banyak serta
keterangan-keterangan Al-Quran dan Hadits yang menyatakan bahwa inilah Akhir Zaman, semua itu memastikan bahwa
inilah ribuan yang akhir dan Masih Mau’ud harus datang dalam permulaan ribuan yang akhir ini.
Makna Tidak Ada yang Mengetahui Kapan Terjadinya “Hari Kiamat” & Tanda-tanda Akhir Zaman Lainnya dan
Makna “Peniupan Terompet”
Anggapan yang menyatakan bahwa tidak ada
yang dapat mengetahui tentang waktu Kiamat
bukanlah bermaksud tidak dapat
mengetahui sama sekali. Kalau tidak dapat mengetahui sama sekali, maka semua tanda
tentang Kiamat yang disebutkan dalam
Al-Quran dan Hadits pun tidak akan dapat diterima, karena dengan tanda-tanda itu didapat suatu
pengetahuan tentang dekatnya Kiamat.
Allah Swt. berfirman dalam Al-Quran bahwa
di Akhir
Zaman akan banyak digali
terusan-terusan dan saluran-saluran. Banyak buku-buku dan suratkabar-suratkabar
akan disiarkan dan unnta-unta tidak akan dipergunakan. Kita dapat menyaksikan
bahwa semua perkara itu telah terjadi sempurna
dalam zaman sekarang, kereta api
dipergunakan untuk pengangkutan sebagai pengganti unta-unta, karena itu kita mengetahui bahwa Kiamat telah dekat. Allah
Swt. sendiri dalam ayat: “Iqtarabatis- sā’ah”
(Kiamat telah dekat – QS.54:2), dan lain-lain ayat telah memberitahukan kepada umat manusia tentang telah dekat terjadinya Kiamat itu.
Oleh
karena itu syariat tidak
menyatakan bahwa segala (semua)
pengetahuan tentang Kiamat
tersembunyi sama sekali, bahkan semua nabi pun telah menerangkan tanda-tanda tentang Akhir Zaman dan di dalam Injil pun disebutkan juga. Jadi ajaran
itu hanya bermaksud bahwa tidak ada yang mengetahui tentang tepatnya waktu kejadian saat itu.
Allah Swt. berkuasa untuk melebihkan beberapa abad sesudah masa seribu tahun yang sekarang ini karena bilangan kecil
lazimnya tidak dihitung. Sebagaimana dalam hitungan mengenai orang yang hamil kadang-kadang dapat melebihi beberapa hari. Kebanyakan bayi lahir dalam masa kehamilan 9 bulan 10
hari. Tetapi dapat dikatakan bahwa tidak ada yang dapat mengetahui waktunya yang tepat mengenai kelahiran bayi
itu. Begitu pula walau masih ada 1000
tahun lagi untuk berakhirnya dunia
ini tetapi tidak ada yang dapat mengetahui
tentang saat yang tepat kapan Kiamat itu terjadi.
Menolak keterangan-keterangan yang
dikemukakan Allah Swt. untuk membuktikan kebenaran dan imamat (kepemimpinan) berarti merusak keimanan itu sendiri. Semua tanda
tentang telah dekatnya Kiamat telah
berkumpul dan di seluruh dunia terjadi perubahan
yang sangat hebat.
Sebagian besar Tanda-tanda tentang dekatnya
Kiamat yang disebutkan dalam Al-Quran
telah jadi sempurna pula. Al-Quran
menerangkan baehwa pada zaman dekatnya Kiamat
banyak saluran (irigasi) akan mengalir di bumi, banyak buku-buku akan disiarkan, gunung-gunung
akan dihancurkan, sungai-sungai akan
dikeringkan, banyak tanah (lahan) akan dibuka untuk pertanian, jalan-jalan lalu-lintas dan perhubungan akan
diperbanyak.
Semua bangsa akan ribut tentang agama, dan suatu bangsa akan menyerang
seperti ombak untuk menghapuskan agama
bangsa lain. Pada waktu itu terompet
dari langit akan dibunyikan untuk
mengumpulkan semua bangsa dalam satu agama, kecuali mereka yang rusak tabiatnya dan tidak patut menerima
panggilan Ilahi.”
Ada pun ayat-ayat Al-Quran yang
disinggung Masih Mau’ud a.s. mengenai
tanda-tanda Kiamat atau tanda-tanda Akhir Zaman tersebut Allah Swt. berfirman:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ
الرَّحِیۡمِ۪ۙ﴿﴾ اِذَا الشَّمۡسُ کُوِّرَتۡ ۪ۙ﴿﴾ وَ اِذَا
النُّجُوۡمُ انۡکَدَرَتۡ ۪ۙ﴿﴾ وَ
اِذَا الۡجِبَالُ سُیِّرَتۡ ۪ۙ﴿﴾ وَ اِذَا الۡعِشَارُ
عُطِّلَتۡ ۪ۙ﴿﴾ وَ اِذَا
الۡوُحُوۡشُ حُشِرَتۡ ۪ۙ﴿﴾ وَ اِذَا
الۡبِحَارُ سُجِّرَتۡ ۪ۙ﴿﴾
وَ اِذَا النُّفُوۡسُ زُوِّجَتۡ ۪ۙ﴿﴾ وَ اِذَا الۡمَوۡءٗدَۃُ
سُئِلَتۡ ۪ۙ﴿﴾ بِاَیِّ ذَنۡۢبٍ قُتِلَتۡ ۚ﴿﴾ وَ
اِذَا الصُّحُفُ نُشِرَتۡ ﴿۪ۙ﴾ وَ
اِذَا السَّمَآءُ کُشِطَتۡ ﴿۪ۙ﴾ وَ اِذَا الۡجَحِیۡمُ سُعِّرَتۡ
﴿۪ۙ﴾ وَ اِذَا
الۡجَنَّۃُ اُزۡلِفَتۡ ﴿۪ۙ﴾ عَلِمَتۡ نَفۡسٌ
مَّاۤ اَحۡضَرَتۡ ﴿ؕ﴾
Aku baca dengan nama Allah, Maha Pemurah,
Maha Penyayang. Apabila matahari
digulung, dan apabila bintang-bintang menjadi suram, dan apabila gunung-gunung digerakan, dan apabila unta-unta bunting sepuluh bulan
ditinggalkan, dan
apabila binatang-binatang liar
dikumpulkan, dan apabila lautan-lautan disalurkan,
dan apabila orang-orang dikumpulkan, dan apabila bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup akan ditanya, karena dosa
apakah ia dibunuh? Dan apabila buku-buku
akan disebar-luaskan, dan
apabila langit dibuka, dan apabila neraka dinyalakan, dan apabila surga didekatkan. Setiap jiwa akan mengetahui apa yang dihadirkan. (At-Takwīr [81]:1-14).
Muncul dan Tersebarnya Ya’juj (Gog) dan Ma’juj (Magog)
& Hikmah Pengutusan Masih Mau’ud a.s.
dari Kalangan Muslim
Selaanjutnya Masih Mau’ud a.s. mnjelaskan: “ Kabar tersebut dalam Al-Quran
mengisyaratkan tentang kedatangan Masih Mau’ud, oleh karena itu ceritanya
disebutkan setelah cerita Ya’juj dan Ma’juj. Sebenarnya Ya’juj dan Ma’juj dua
bangsa yang disebutkan dalam buku dahulu dan mereka dinamakan demikian karena
mereka akan banyak menggunakan ajij
(api) dalam perjuangan mereka. Mereka akan memperoleh kemenangan besar di dunia
ini dan akan menguasai tiap-tiap ketinggian (QS.21:97).
Kemudian pada zaman itu juga di langit
akan direncanakan suatu perubahan besar
dan akan mulai tampak perdamaian
serta keamanan bagi dunia. Lagi pula
dalam Al-Quran diterangkan bahwa pada zaman itu banyak pertambangan dan barang-barang
yang tersembunyi dieksploitir (QS.99:1-9) serta terjadi gerhana matahari
dan bulan (QS.75:7-10). Di bumi akan merajalela wabah tha’un (pes – 27:83). Unta-unta
tidak dipergunakan lagi, yakni akan diciptakan suatu kendara lain yang akan dipakai untuk pengangkutan penganti unta-unta (QS.16:9; QS.36:43; QS.43:13).
Sekarang kita dapat menyaksikan bahwa kerena api lebih murah dan cepat untuk pengangkutan, dan tidak lama lagi
orang-orang yang pergi ibadah haji
pun akan memakai kereta api untuk
bepergian ke Madinah. Maka hal ini akan menyempurnakan perkataan Hadits yang
berbunyi: layutrakunnal qilāsu falā yus’a
‘alayha – “dan unta-unta akan dilepaskan lalu tidak dipergunakan”.
Tanda-tanda Akhir Zaman ini telah
sempurna semuanya karena itu terbuktilah bahwa sekarang inilah ribuan
yang akhir umur dunia. Al-Quran menerangkan bahwa Allah Swt. menjadikan 7 hari dan 1 hari itu
sama dengan 1000 tahun dunia ini,
yang menurut persamaan itu umur duia adalah 7000
tahun menurut keterangan Al-Quran juga.
Lagi pula Allah Swt. itu ganjil dan Dia suka kepada yang ganjil, sebagaimana Dia telah
menjadi 7 hari itu ganjil begitu juga
7000 tahun pun adalah ganjil. Dengan semua keterangan ini
mudah difahami bahwa sekarang ini adalah Akhir
Zaman dan merupakan ribuan terakhir dunia ini yang diawal periodenya Masih Mau’ud a.s. itu lahir, dan Kitab-kitab Ilahi menyatakan permulaan ribuan ini.
Tuan Nawab Shiddiq Hasan Khan telah
menyatakan dalam kitabnya yang bernama “Hujajul- Kiramah” baha di antara para
‘alim dan ahli khusyuf di dalam umat
Islam tidak ada seorang pun yang menetapkan zaman kedatangan Masih Mau’ud
akan melewati permulaan abad ke-14 ini.
Sekarang timbul pertanyaan: Apa perlunya
Masih Mau’ud diutus dalam umat ini?
Jawabannya adalah: Allah Swt. telah berjanji dalam Al-Quran bahwa Nabi Muhammad
saw. pada zaman permulaan kenabian dan pula pada akhirnya akan sesuai seperti Nabi Musa a.s.. Persesuaian tersebut sekali dalam zaman permulaan – yaitu zaman Nabi Muhammad
saw. sendiri – dan sekali lagi di Akhir
Zaman ini.
Dalam zaman permulaan persesuaian tersebut menyerupai
sebagaimana akhirnya Allah Swt. memberi kemenangan kepada Nabi Musa a.s. atas Fir’aun dan lasykarnya, begitu pula Allah Swt. memberi kemenangan kepada Nabi Muhammad saw. atas Abu
Jahal yang seperti Fir’aun pada
zaman itu dan atas lasykar-lasykarnya.
Demikilanlah mereka itu dihancurkan dengan pertolongan Allah
Swt. dan berdirilah agama Islam di tanah Arab untuk menyempurnakan kabar-gaib berikut ini:
اِنَّاۤ اَرۡسَلۡنَاۤ
اِلَیۡکُمۡ رَسُوۡلًا ۬ۙ شَاہِدًا
عَلَیۡکُمۡ کَمَاۤ اَرۡسَلۡنَاۤ اِلٰی فِرۡعَوۡنَ رَسُوۡلًا ﴿ؕ ﴾
(Sesungguhnya Kami
mengutus kepada kamu seorang rasul sebagai saksi atas kamu, sebagaimana kami
telah mengutus kepada Fir’aun seorang rasul - (QS.73:15).
Persesuaian Keadaan Umat Islam dengan Bani Israil
(Yahudi dan Nasrani) &
Silasilah Khilafat di Kalangan Umat Islam
Begitu pula persesuaian yang terjadi di Akhir
Zaman ini bahwa sebagaimana dalam zaman
yang akhir dari umat Nabi Musa a.s. Allah Swt. mengutus seorang nabi
yang melarang jihad dan berperang untuk
menyiarkan agama, malah mengajarkan sifat maaf
serta kehalusan kepada mereka. Beliau
a.s. datang tatkala akhlak dan tingkah-laku Bani
Israil telah sangat jatuh dan rusak, kerajaan
pun telah hilang dari mereka, tambahan pula mereka dijajah oleh kerajaan Roma.
Beliau a.s. datang tepat pada permulaan
abad ke-14 sesudah Nabi Musa a.s. serta silsilah kenabian Israil berakhir sesudah sampai kepada beliau a.s., dan
beliaulah nabi terakhir di kalangan Bani Israil.
Begitu
juga dalam zaman yang akhir
dari umat Nabi Muhammad saw. sayalah
yang diutus dalam keadaan dan sifat
seperti Isa Ibnu Maryam yang dahulu.
Dalam zaman saya pun jihad dan peperangan semacam itu sudah tidak ada sebagaimana telah dikabarkan
sejak dulu bahwa pada zaman Masih Mau’ud a.s. jihad akan ditiadakan.
Begitu pula saya diberi ajaran untuk memberi maaf dan menenggang.
Lagi pula saya diutus waktu keadaan batin
orang-orang Islam telah rusak seperti
Yahudi dan keruhanian telah hilang dari mereka serta
hanya kebiasaan yang zahir saja. Semua hal ini terlebih dulu telah diisyaratkan
dalam Al-Quran untuk orang-orang Islam di Akhir
Zaman. Al-Quran menggunakan
perkataan-perkataan yang digunkana terhadap Yahudi juga, yakni: Fayanzhur kayfa ta’malun (Maka Dia
melihat bagaimana kamu mengerjakan).
Perkataan tersebut menyatakan bahwa kalian
akan diberi khilafat dan kerajaan. Tetapi di Akhir Zaman karena kejahatan-kejahatan kalian kerajaan itu akan
dirampas lagi dari kalangan sebagaimana telah dirampas pula dari orang-orang Yahudi.
Dalam surah An-Nur Allah Swt.
menerangkan dengan jelas bahwa segala macam keadaan yang dialami oleh khalifah-khalifah Bani Israil dulu semua
itu akan dialami oleh khalifah-khalifah dalam umat Islam ini.
Di antara khalifah-khalifah Bani Israil, Nabi Isa adalah satu khalifah yang tidak mengangkat pedang dan tidak juga jihad, maka dalam umat ini pun diutus Masih Mau’ud dalam keadaan seperti itu.
Perhatikanlah ayat Al-Quran ini:
وَعَدَ اللّٰہُ
الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا مِنۡکُمۡ وَ
عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ لَیَسۡتَخۡلِفَنَّہُمۡ فِی الۡاَرۡضِ کَمَا اسۡتَخۡلَفَ
الَّذِیۡنَ مِنۡ قَبۡلِہِمۡ ۪ وَ لَیُمَکِّنَنَّ لَہُمۡ دِیۡنَہُمُ الَّذِی ارۡتَضٰی لَہُمۡ وَ لَیُبَدِّلَنَّہُمۡ
مِّنۡۢ بَعۡدِ خَوۡفِہِمۡ اَمۡنًا ؕ
یَعۡبُدُوۡنَنِیۡ لَا یُشۡرِکُوۡنَ بِیۡ
شَیۡئًا ؕ وَ مَنۡ کَفَرَ بَعۡدَ ذٰلِکَ
فَاُولٰٓئِکَ ہُمُ الۡفٰسِقُوۡنَ ﴿﴾
Allah telah berjanji kepada
orang-orang yang beriman dan beramal
saleh di antara kamu niscaya Dia akan menjadikan mereka itu khalifah di bumi
ini sebagaimana Dia telah menjadikan
orang-orang yang sebe-lum mereka khalifah, dan niscaya Dia akan meneguhkan bagi mereka agamanya yang telah Dia ridhai bagi mereka, dan niscaya Dia akan mengubah keadaan mereka dengan ke-amanan sesudah
ketakutan mereka. Mereka akan menyembah-Ku
dan mereka tidak akan mempersekutukan sesuatu
dengan-Ku, dan barangsiapa kafir
sesudah itu mereka itulah orang-orang
durhaka. (An-Nūr [24]:56).
Dalam ayat ini کَمَا اسۡتَخۡلَفَ الَّذِیۡنَ مِنۡ قَبۡلِہِمۡ -- “sebagaimana Dia telah menjadikan
orang-orang yang sebelum mereka khalifah“ harus betul-betul dicamkan karena
ayat ini menyatakan bahwa system khilafat
dalam umat Nabi Muhammad saw. adalah seperti system khilafat dalam umat Nabi Musa a.s.. Silsilah khilafat
dalam umat Nabi Musa a.s. berakhir
pada Nabi Isa a.s. yang datang pada
permulaan abad ke-14 sesudah Nabi Musa a.s., begitu pula beliau tidak melakukan suatu peperangan atau jihad.
Oleh karena itu sudah semestinya dalam umat Nabi Muhammad saw. pun khalifah yang akhir pada permulaan abad
ke-14 sesudah Nabi Muhammad saw. harus sesuai dengan
keadaan dan sifatnya dengan Nabi Isa Israili itu.
Nubuatan Dalam Ayat Terakhir Surah Al-Fatihah
Begitu pun dalam hadits-hadits shahih
diceritakan bahwa di Akhir Zaman
sebagian besar orang Islam akan menyerupai orang-orang Yahudi. Dalam surah Al-Fatihah pun diisyaratkan tentang hal ini karena di dalamnya
diajarkan doa: “Ya Allah, janganlah kami jadi seperti orang-orang Yahudi yang
di zaman Nabi Isa melawan kepada beliau dan mendapat kemurkaan Ilahi dalam dunia ini juga.”
Menurut sunnah (kebiasaan) Ilahi, apabila
Allah Swt. memberi suatu firman kepada suatu bangsa atau mengajar suatu doa kepada mereka maka itu berarti bahwa
beberapa orang dari antara mereka akan mengerjakan dosa yang dilarang kepada mereka. Dalam ayat “Ghayril-maghdhubi ‘alayhim” diterangkan
orang-orang Yahudi yang pada zaman akhir
dari umat Nabi Musa a.s. – yakni pada waktu Nabi Isa a.s. – mereka mendapat kemurkaaan Ilahi karena menolak Nabi Isa a.s., Karena itu
menurut sunnah Ilahi yang tersebut di
atas dalam ayat ini pun adalah kabar gaib bahwa pada masa Akhir
Zaman dari umat Nabi Muhmamad saw. juga akan datang seorang Masih
Mau’ud (Masih yang dijanjikan) dari umat ini.
Sebagian orang Islam karena melawan Masih Mau’ud akan menjadi seperti orang-orang Yahudi di zaman Nabi Isa a.s. Hal ini tidak dapat dicela bahwa
kalau Masih Mau’ud yang akan datang
adalah dari umat ini, mengapa dalam hadits dia dinamakan Isa? Karena kebiasaan-kebiasaan Ilahi selamanya begini, yakni
beberapa orang suka diberi nama
dengan nama orang lain. Sebagaimana
dalam hadits Abu Jahal dipanggil
dengan sebutan Fir’aun, Hadhrat Nuh dinamakan Adam Tsani (Adam kedua) dan Yahya
dinamakan Elia. Inilah kebiasaan Ilahi
yang tidak dapat ditolak oleh siapa pun juga.
Allah Swt. memberi lagi satu persesuaian
kepada Masih Mau’ud di Akhir Zaman dengan Masih
Israili yang dahulu, yakni Nabi Isa
Israili yang dulu datang pada permulaaan abad ke-14 sesudah Nabi Musa a.s.,
demikian pula Masih Mau’ud di Akhir Zaman ini pun datang dalam abad
ke-14 sesudah Nabi Muhammad saw. Pada waktu kedatangan Masih Mau’ud a.s. ini kerajaan
Islam sudah tidak ada di India
dan telah dikuasai pemerintah Inggris,
begitu pula Nabi Isa a.s. pun datang pada waktu kerajaan Israil telah jatuh dan orang-orang Yahudi telah dikuasai
oleh kerajaan Roma.
Masih Mau’ud dari umat Islam mempunyai satu persesuaian lainnya lagi dengan Nabi Isa yang dulu, yakni Nabi
Isa a.s. bukan asli keturunan Bani Israil melainkan karena ibunya. Begitu pula sebagian dari nenek kami adalah dari Sadāt (sayyid) walau pun ayahanda bukan dari sadāt (sayyid). Allah Swt. menghendaki
supaya seorang dari Bani Israil jangan menjadi ayah
Hadhrat Isa a.s., yang di dalamnya mengandung rahasia karena Allah Swt. sangat marah kepada Bani Israil sebab dosa-dosa
mereka terlampau banyak.
Kelahiran Nabi Isa Ibnu Maryam
a.s. Tanpa Ayah Merupakan “Tanda Kiamat”
Maka untuk memberi peringatan Allah Swt. memperlihatkan tanda bahwa seorang anak laki-laki lahir hanya dari ibunya
saja dengan tidak ada campuran
sedikit pun dari ayah. Seolah-orang dari dua bagian wujud Israil pada wujud Nabi Isa hanya tinggal sebagian saja. Hal ini menunjukkan bahwa nabi yang akan datang sesudah
Nabi Isa a.s. (yakni Nabi Muhammad saw. – red) sama sekali tidak mempunyai suatu bagian dari Israil. Dunia ini telah menghampiri penghabisannya karena itu dalam kelahiran saya pun ada suatu isyarat bahwa Kiamat telah dekat dan
itulah yang akan menghabiskan perjanjian Khilafat
kepada Quraisy juga.
Pendek kata, untuk menyempurnakan persesuaian antara umat Nabi Muhammad saw. dengan umat Nabi Musa
a.s. diperlukan seorang Masih Mau’ud
yang akan datang dengan segala keadaan seperti
Nabi Isa a.s., maka sistim Islamiyah
ini mulai dengan seorang yang seperti
Nabi Musa a.s. dan akan berakhir pula
dengan seorang seperti Nabi Isa a.s. supaya yang akhir mempunyai persesuaian dengan yang awal.
Demikianlah hal ini pun mempunyai satu bukti
bagi orang-orang yang mau memperhatikan hal ini dengan takwa kepada Allah Swt..”
Penjelasan Masih Mau’ud a.s. berkenaan pentingnya kedatangan misal
Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. di kalangan umat
Islam (Bani Isma’il) dan alasan
mengapa Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. dilahirkan
tanpa ayah seorang laki-laki
dari kalangan Bani Israil melainkan ibunya sendiri (Maryam binti ‘Imran) merangkap sebagai ayah beliau tersebut sesuai
dengan firman Allah Swt. berikut ini mengenai “As-Sā’ah” (Tanda Kiamat):
وَ لَمَّا ضُرِبَ ابۡنُ مَرۡیَمَ مَثَلًا
اِذَا قَوۡمُکَ مِنۡہُ یَصِدُّوۡنَ
﴿﴾ وَ قَالُوۡۤاءَ اٰلِہَتُنَا خَیۡرٌ اَمۡ ہُوَ ؕ
مَا ضَرَبُوۡہُ لَکَ اِلَّا جَدَلًا ؕ بَلۡ ہُمۡ قَوۡمٌ خَصِمُوۡنَ
﴿﴾ اِنۡ ہُوَ اِلَّا عَبۡدٌ اَنۡعَمۡنَا عَلَیۡہِ وَ جَعَلۡنٰہُ مَثَلًا
لِّبَنِیۡۤ اِسۡرَآءِیۡلَ ﴿ؕ﴾ وَ لَوۡ نَشَآءُ
لَجَعَلۡنَا مِنۡکُمۡ مَّلٰٓئِکَۃً
فِی الۡاَرۡضِ یَخۡلُفُوۡنَ ﴿﴾ وَ اِنَّہٗ لَعِلۡمٌ
لِّلسَّاعَۃِ فَلَا تَمۡتَرُنَّ
بِہَا وَ اتَّبِعُوۡنِ ؕ ہٰذَا صِرَاطٌ مُّسۡتَقِیۡمٌ ﴿﴾
Dan apabila Ibnu Maryam dikemukakan sebagai misal tiba-tiba kaum engkau meneriakkan penentangan
terhadapnya, dan mereka berkata: "Apakah tuhan-tuhan kami lebih baik ataukah dia?" Mereka tidak
menyebutkan hal itu kepada engkau melainkan perbantahan semata. Bahkan mereka
adalah kaum yang biasa berbantah. اِنۡ ہُوَ اِلَّا عَبۡدٌ اَنۡعَمۡنَا عَلَیۡہِ
وَ جَعَلۡنٰہُ مَثَلًا لِّبَنِیۡۤ
اِسۡرَآءِیۡلَ -- Ia tidak lain melainkan seorang hamba yang telah Kami
anugerahi nikmat kepadanya, dan Kami menja-dikan dia suatu perumpamaan
bagi Bani Israil. وَ لَوۡ نَشَآءُ
لَجَعَلۡنَا مِنۡکُمۡ مَّلٰٓئِکَۃً
فِی الۡاَرۡضِ یَخۡلُفُوۡنَ -- Dan seandainya
Kami meng-hendaki niscaya Kami
menjadikan malaikat dari antara
kamu sebagai penerus di bumi. وَ
اِنَّہٗ لَعِلۡمٌ لِّلسَّاعَۃِ
فَلَا تَمۡتَرُنَّ بِہَا وَ اتَّبِعُوۡنِ ؕ ہٰذَا صِرَاطٌ مُّسۡتَقِیۡمٌ -- Tetapi sesungguhnya ia benar-benar pengetahuan mengenai Saat, maka janganlah
ragu-ragu mengenainya dan ikutilah
aku, inilah jalan lurus. (Az-Zukhruf
[43]:58-62).
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran
Anyar, 9 Maret 2017
Tidak ada komentar:
Posting Komentar