Rabu, 01 Maret 2017

Hubungan Pewarisan "Negeri yang Dijanjikan" (Palestina) Dengan Kedatangan Kedua Kali "Bayyinah" (Rasul Allah) di Akhir Zaman & Dinasti Kerajaan Mughal di Hindustan dan Leluhur "Masih Mau'ud a.s".





Bismillaahirrahmaanirrahiim

  ISLAM
Pidato  Mirza Ghulam Ahmad a.s.
Tgl. 2 November 1904 di Kota Sialkote – Hindustan

Bab  31

HUBUNGAN PEWARISAN “NEGERI YANG DIJANJIKAN” (PALESTINA)  DENGAN KEDATANGAN KEDUA KALI  BAYYINAH” (RASUL ALLAH) DI AKHIR ZAMAN &   DINASTI KERAJAAN MUGHAL DI HINDUSTAN DAN LELUHUR MASIH MAU’UD A.S.

Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam bagian akhir Bab 30 telah dijelaskan  topik   Nabi Besar Muhammad Saw. Sebagai “Rahmat Bagi Seluruh Alam” & Makna “Seburuk-buruk makhluk” dan “Sebaik-baik Makhluk” yang Diridhai Allah Swt. dalam QS.98:1-9   dan hubungannya  dengan  ketetapan Allah Swt. mengenai pewarisan “negeri yang dijanjikan” (Palestina/Kanaan) dalam  firman-Nya:
وَ لَقَدۡ کَتَبۡنَا فِی الزَّبُوۡرِ مِنۡۢ بَعۡدِ الذِّکۡرِ اَنَّ الۡاَرۡضَ یَرِثُہَا عِبَادِیَ الصّٰلِحُوۡنَ ﴿﴾ اِنَّ فِیۡ ہٰذَا لَبَلٰغًا لِّقَوۡمٍ  عٰبِدِیۡنَ ﴿﴾ؕ
Dan  sungguh Kami benar-benar telah menuliskan dalam  Kitab Zabur sesudah pemberi peringatan itu,    bahwa negeri itu akan diwarisi oleh hamba-hamba-Ku yang shalih.   Sesungguhnya dalam hal ini ada suatu amanat bagi kaum yang beribadah.   (Al-Anbiya [21]:106-107).
         Allah Swt. berfirman mengenai “bayyinah” (bukti yang nyata) yakni  Nabi Besar Muhammad saw. (QS.98:1-9):    Dan  Kami sekali-kali tidak mengutus engkau melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam   (Al-Anbiya [21]:108).
        Nabi Besar Muhammad saw. adalah pembawa rahmat untuk seluruh umat manusia, sebab amanat beliau saw. – yakni ajaran Islam (Al-Quran)   -- tidak terbatas kepada suatu negeri atau kaum tertentu. Dengan perantaraan beliau bangsa-bangsa dunia telah diberkati, seperti belum pernah mereka diberkati sebelum itu.
        Oleh karena itu mengenai  orang-orang yang  mendustakan dan menentang  pengutusan “bayyinah” (rasul Allah)  Allah Swt. berfirman: اِنَّ  الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا مِنۡ اَہۡلِ الۡکِتٰبِ وَ الۡمُشۡرِکِیۡنَ فِیۡ  نَارِ جَہَنَّمَ خٰلِدِیۡنَ فِیۡہَا ؕ  --  Sesungguhnya orang-orang  kafir dari antara Ahlikitab dan orang-orang musyrik akan berada dalam Api Jahannam, mereka kekal di dalamnya. اُولٰٓئِکَ ہُمۡ شَرُّ الۡبَرِیَّۃِ --  Mereka itulah seburuk-buruk makhluk.  (Al-Bayyinah [98]:7).

Khayrul Bariyyah (Sebaik-baik Makhluk)  &  Jiwa yang Tentram

      Sebaliknya, mengenai  hamba-hamba Allah yang shalih  yang beriman  dan bai’at kepada “bayyinah” Allah Swt. berfirman: اِنَّ  الَّذِیۡنَ  اٰمَنُوۡا وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ  --  Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh اُولٰٓئِکَ ہُمۡ خَیۡرُ الۡبَرِیَّۃِ --  mereka itu sebaik-baik makhluk.    جَزَآؤُہُمۡ عِنۡدَ  رَبِّہِمۡ جَنّٰتُ عَدۡنٍ تَجۡرِیۡ مِنۡ تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ خٰلِدِیۡنَ فِیۡہَاۤ  اَبَدًا  -- Ganjaran mereka ada di sisi Rabb (Tuhan) mereka,  kebun-kebun abadi, yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya untuk selama-lamanya. رَضِیَ اللّٰہُ  عَنۡہُمۡ وَ رَضُوۡا عَنۡہُ --  Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya.  ذٰلِکَ لِمَنۡ خَشِیَ رَبَّہٗ  --   Itulah balasan bagi orang yang takut kepada Rabb-nya (Tuhan-nya). (Al-Bayyinah [98]:8-9).
  Makna ayat:  رَضِیَ اللّٰہُ  عَنۡہُمۡ وَ رَضُوۡا عَنۡہُ --  Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya mengisyaratkan kepada tingkat tertinggi perkembangan ruhani tercapai ketika kehendak manusia menjadi sepenuhnya sesuai dengan iradah (kehendak)  Allah Swt. yang disebut keadaan nafs-al-Mutmainnah  (jiwa yang tentram), firman-Nya:
یٰۤاَیَّتُہَا النَّفۡسُ الۡمُطۡمَئِنَّۃُ ﴿٭ۖ﴾ ارۡجِعِیۡۤ  اِلٰی  رَبِّکِ رَاضِیَۃً  مَّرۡضِیَّۃً ﴿ۚ﴾ فَادۡخُلِیۡ  فِیۡ عِبٰدِیۡ ﴿ۙ﴾وَ ادۡخُلِیۡ جَنَّتِیۡ ﴿٪﴾
Hai jiwa yang tenteram!   Kembalilah kepada Rabb (Tuhan) engkau, engkau ridha kepada-Nya dan Dia pun ridha kepada engkau.  Maka masuklah dalam golong-an hamba-hamba-Ku,   dan masuklah ke dalam surga-Ku. (Al-Fajr [89]:27-29).
         Ayat:  ارۡجِعِیۡۤ  اِلٰی  رَبِّکِ رَاضِیَۃً  مَّرۡضِیَّۃً  --  “Kembalilah kepada Rabb (Tuhan) engkau, engkau ridha kepada-Nya dan Dia pun ridha kepada engkau.“ Keadaan dalam ayat ini merupakan tingkat perkembangan ruhani tertinggi, ketika manusia ridha kepada Tuhan-nya dan Tuhan pun ridha kepadanya (QS.58:23).
         Pada tingkat ini yang disebut pula tingkat surgawi  seorang hamba Allah yang hakiki  menjadi kebal terhadap segala macam kelemahan akhlak, diperkuat dengan kekuatan ruhani yang khas. Ia “manunggal” dengan Allah Swt. – yakni Sifat-sifat-Nya --  dan tidak dapat hidup tanpa Dia.

Pewaris  Hakiki  Kehidupan Surgawi di Dunia” dan “ Pewaris “Negeri yang Dijanjikan

         Di dunia ini, dan bukan  setelah mati perubahan ruhani besar terjadi di dalam dirinya, dan di dunia inilah dan  bukan di tempat lain jalan dibukakan baginya untuk masuk ke surga. Jika keadaan akhlak  dan ruhani umat Islam – sebagai “umat terbaik” yang dijadikan bagi manfaat umat manusia  (QS.2:144; QS.3:111)  --  telah kembali seperti itu maka, Insya Allah, Palestina “negeri yang dijanjikan” itu pun akan kembali diwariskan Allah Swt. kepada umat Islam, firman-Nya: 
وَ لَقَدۡ کَتَبۡنَا فِی الزَّبُوۡرِ مِنۡۢ بَعۡدِ الذِّکۡرِ اَنَّ الۡاَرۡضَ یَرِثُہَا عِبَادِیَ الصّٰلِحُوۡنَ ﴿﴾ اِنَّ فِیۡ ہٰذَا لَبَلٰغًا لِّقَوۡمٍ  عٰبِدِیۡنَ ﴿﴾ؕ وَ مَاۤ  اَرۡسَلۡنٰکَ اِلَّا رَحۡمَۃً  لِّلۡعٰلَمِیۡنَ ﴿﴾
Dan  sungguh Kami benar-benar telah menuliskan dalam  Kitab Zabur sesudah pemberi peringatan itu,   bahwa negeri itu akan diwarisi oleh hamba-hamba-Ku yang shalih  Sesungguhnya dalam hal ini ada suatu amanat bagi kaum yang beribadah.     Dan  Kami sekali-kali tidak mengutus engkau melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.   (Al-Anbiya [21]:106-108).
       Menurut Allah Swt. karena pewarisanPalestina” yang pertama kepada umat Islam terjadi setelah pengutusan “bayyinah” (bukti yang nyata) – yakni Nabi Besar Muhammad saw. -- demikian juga pewarisan kembali “Palestina” yang kedua kali di Akhir Zaman ini pun  setelah pengutusan “bayyinah  (bukti yang nyata) – yakni Nabi Besar Muhammad saw.   --   yang kedua kali, yaitu Masih Mau’ud a.s. (Al-Masih yang dijanjikan), firman-Nya:
  ہُوَ الَّذِیۡ  بَعَثَ فِی  الۡاُمِّیّٖنَ  رَسُوۡلًا مِّنۡہُمۡ  یَتۡلُوۡا عَلَیۡہِمۡ  اٰیٰتِہٖ  وَ  یُزَکِّیۡہِمۡ وَ  یُعَلِّمُہُمُ  الۡکِتٰبَ وَ  الۡحِکۡمَۃَ ٭ وَ  اِنۡ کَانُوۡا مِنۡ  قَبۡلُ  لَفِیۡ ضَلٰلٍ  مُّبِیۡنٍ ۙ﴿﴾   وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ  لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ ہُوَ  الۡعَزِیۡزُ  الۡحَکِیۡمُ ﴿﴾           
Dia-lah Yang telah membangkitkan di kalangan bangsa yang buta huruf seorang  rasul dari antara mereka, yang membacakan kepada mereka Tanda-tanda-Nya,  mensucikan mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah  walaupun sebelumnya mereka berada dalam kesesatan yang nyata,  وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ  لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ ہُوَ  الۡعَزِیۡزُ  الۡحَکِیۡمُ -- Dan juga akan membangkitkannya pada kaum lain dari antara mereka, yang belum bertemu dengan mereka. Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana  (Al-Jumu’ah [62]:3-4).

Kemunculan  Dinasti Mughal di Hindustan

    Pada hakikatnya ayat وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ  لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ  --  Dan juga akan membangkitkannya pada kaum lain dari antara mereka, yang belum bertemu dengan mereka” merupakan bukti Nabi Besar Muhammad saw. “rahmat bagi seluruh alam”, yakni kerasulan (kenabian) beliau saw. bukan hanya khusus untuk orang-orang Arab (Bani Isma’il)  saja tetapi juga bagi kaum-kaum  lain pula dalam wujud Masih Mau’ud a.s. yang menurut Nabi Besar Muhammad saw. berasal dari keturunan Farsi (Fersia) dan di Hindustan lebih dikenal dengan sebutan Mughal.
        Dinasti Mughal  merupakan keturunan dari Jenghis Khan    pemimpin bangsa Mongol dan Tartar --  yang pada masa cucunya, Hulaku Khan – telah menaklukan  kekuasaan kerajaan Islam yang berpusat di kota Baghdad, yang telah dijadikan Allah Swt. sebagai sarana untuk menghukum umat Islam  yang pertama  dari dua hukuman Allah Swt. yang dijanjikan  sesuai   nubuatan dalam QS.17:5-9 berkenaan Bani Israil, firman-Nya:
وَ قَضَیۡنَاۤ  اِلٰی بَنِیۡۤ  اِسۡرَآءِیۡلَ فِی الۡکِتٰبِ لَتُفۡسِدُنَّ فِی الۡاَرۡضِ مَرَّتَیۡنِ  وَ لَتَعۡلُنَّ  عُلُوًّا کَبِیۡرًا ﴿﴾  فَاِذَا جَآءَ وَعۡدُ اُوۡلٰىہُمَا بَعَثۡنَا عَلَیۡکُمۡ  عِبَادًا  لَّنَاۤ   اُولِیۡ  بَاۡسٍ  شَدِیۡدٍ فَجَاسُوۡا خِلٰلَ الدِّیَارِ ؕ وَ کَانَ وَعۡدًا  مَّفۡعُوۡلًا ﴿﴾
Dan   telah Kami tetapkan terhadap Bani Israil dalam kitab itu: “Niscaya  kamu akan melakukan kerusakan di muka bumi ini dua kali,  dan niscaya kamu akan menyombongkan diri dengan kesombongan yang sangat besar.”  Apabila datang saat sempurnanya janji yang pertama  dari kedua janji itu,    Kami membangkitkan untuk menghadapi kamu hamba-hamba Kami yang mempunyai kekuatan tempur yang dahsyat, dan mereka menerobos jauh ke dalam rumah-rumah dan itu merupakan suatu janji yang pasti terlaksana  (Bani Israil [17]:5-6).  
      Kerajaan Muslim  terakhir  di masa fatrah (jeda)  pengutusan rasul Allah (QS.5:20) yang berkuasa di Hindustan adalah Kerajaan Mughal (Dinasti Moghul), yang setelah mengalami masa kejayaannya di zaman raja Aurangzeb kemudian secara berangsur-angsur di masa para penerusnya kerajaan Mughal mengalami kemunduran dan  akhirnya  kekuasaan di wilayah Punjab diambil alih oleh para penguasa kaum Sikh, sebelum kemudian dikuasai oleh Kerajaan Inggris.

Asal Usul Kerajaan Mughal

Mughal merupakan kerajaan Islam di anak benua India (Hindustan), dengan Delhi sebagai ibukotanya, berdiri antara tahun (1526-1858 M). Dinasti Mughal di India didirikan oleh Zahiruddin Muhammad Babur (1482-1530 M), salah satu cucu dari Timur Lenk dari etnis Mongol, keturunan Jengis Khan.
Ekspansinya ke India dimulai dengan penundukan penguasa setempat yaitu Ibrahim Lodi dengan Alam Khan (Paman Lodi) dan gubernur Lohere.­ Ia berhasil menguasai Punjab dan berhasil menundukkan Delhi, sejak saat itu ia memproklamirkan berdirinya kerajaan Mughal.
Proklamasi 1526 M yang dikumandangkan Babur mendapat tantangan dari Rajput dan Rana Sanga didukung oleh para kepala suku India tengah dan umat Islam setempat yang belum tunduk pada penguasa yang baru itu, sehingga ia harus berhadapan langsung dengan dua kekuatan sekaligus. Tantangan tersebut dihadapi Babur pada tanggal 16 Maret 1527 M di Khanus dekat Agra. Babur memperoleh kemenangan dan Rajput jatuh ke dalam kekuasaannya.
Penguasa Mughal setelah Babur adalah puteranya sendiri, Nashiruddin Humayun atau lebih dikenal dengan Humayun (1530-1540 dan 1555-1556 M). Sepanjang pemerintahannya tidak stabil, karena banyak terjadi perlawanan dari musuh-musuhnya. Bahkan beliau sempat mengungsi ke Persia karena mengalami kekalahan saat melawan pemberontakan Sher Khan di Qonuj, tetapi beliau berhasil merebut kembali kekuasaannya pada tahun 1555 M berkat bantuan dari kerajaan Safawi.
  Namun setahun kemudian 1556 M  Nashiruddin Humayun meninggal karena tertimpa tangga pepustakaan, dan tahta kerajaan selanjutnya dipegang oleh putranya yang bernama Akbar  -- di Indonesia melalui film Yodha Akbar  -- dikenal dengan nama Jalaluddin Muhammad Akbar.

Perkembangan dan Kejayaan Kerajaan Mughal

Masa kejayaan kerajaan Mughal dimulai pada pemerintahan Akbar (1556-1506 M), dan tiga raja penggantinya, yaitu Jehangir (1605-1628 M), Syah Jehan (1628-1658 M), Aurangzeb (1658-1707 M). Setelah itu, kemajuan kerajaan Mughal tidak dapat dipertahankan oleh raja-raja berikutnya.
Akbar mengganti ayahnya pada saat usia 14 tahun, sehingga urusan kerajaan diserahkan kepada Bairam Khan, seorang Syi’i. Pada masa pemerintahannya  Akbar melancarkan serangan untuk memerangi pemberontakan sisa-sisa keturunan Sher Khan Shah yang berkuasa di Punjab.
Pemberontakan lain dilakukan oleh Himu yang menguasai Gwalior dan Agra. Pemberontakan tersebut disambut oleh Bairam Khan sehingga terjadi peperangan dasyat, yang disebut Panipat 2 tahun 1556 M. Himu dapat dikalahkan dan ditangkap kemudian diekskusi. Dengan demikian, Agra dan Kwalior dapat dikuasai penuh (Mahmudun Nasir,1981:265-266).
Setelah Akbar dewasa, ia berusaha menyingkirkan Bairam Khan yang sudah mempunyai pengaruh kuat dan terlampau memaksakan kepentingan aliran Syi’ah. Bairam Khan memberontak  tetapi dapat dikalahkan oleh Akbar di Jullandur tahun 1561 M.
Setelah itu masa kejayaan kerajaan Mughal berhasil dipertahankan oleh putra Akbar yaitu Jehangir yang memerintah selama 23 tahun (1605-1628 M). Namun Jehangir adalah penganut Ahlussunah Wal Jamaah, sehingga Din-i-Ilahi yang dibentuk ayahnya menjadi hilang pengaruhnya.
Sepeninggalan Jehangir pucuk kekuasaan kerajaan Mughal di pegang oleh Sheh Jehan yang memerintah Mughal selam 30 tahun (1628-1658 M). Pada masa pemerintahannya banyak muncul pemberontakan dan perselisihan dalam internal keluarga istana. Namun semua itu dapat diatasi oleh beliau, bahkan beliau berhasil memperluas kekuasaanya Hyderabat, Maratha, dan Kerajaan Hindu lain yang belum tunduk kepada pemerintahan Mughal. Keberhasilan  itu tidak bias lepas dari peran Aurangzeb, putera ketiga dari Sheh Jehan.
Pengganti Sheh Jehan yaitu Aurangzeb, beliau berhasil menduduki tahta kerajaan setelah berhasil menyingkirkan para pesaingnya (saudaranya). Pada masanya kebesaran Mughal mulai menggema kembali, dan kebesaran namanya-pun disejajarkan dengan pendahulunya dulu, yaitu Akbar.
Adapun usaha-usaha Aurangzeb dalam memajukan kerajaan Mughal diantaranya menghapuskan pajak, menurunkan bahan pangan dan memberantas korupsi, kemudian ia membentuk peradilan yang berlaku  di India yang dinamakan fatwa alamgiri sampai akhirnya Aurangzeb meninggal pada tahun 1707 M.
Selama satu setengah abad, India di bawah Dinasti Mughal menjadi salah satu negara adikuasa. Ia menguasai perekonomian Dunia dengan jaringan pemasaran barang-barangnya yang mencapai Eropa, Timur Tengah, Asia Tenggara dan Cina. Selain itu, India juga memiliki pertahanan militer yang tangguh yang sukar ditaklukkan dan kebudayaan yang tinggi.
Dengan besarnya nama kerajaan Mughal, banyak sekali para sejarawan yang mengkaji tentang kerajaan ini. Dan pada masa itu telah  muncul seorang sejarawan yang bernama Abu Fadl dengan karyanya “Akhbar Nama” dan “Aini Akhbari”, yang memaparkan sejarah kerajaan Mughal berdasarkan figure pemimpinnya.
Sedangkan karya seni yang dapat dinikmati sampai sekarang dan karya seni terbesar yang dicapai kerajaan Mughal adalah karya-karya arsitektur yang indah dan masjid-masjid yang indah. Pada masa Shah Jehan dibangun masjid berlapis mutiara dan Taj Mahal di Agra, Masjid Raya Delhi dan Istana Indah di Lahore (Ikram, 1967:247).

Kemunduran dan Ruhtuhnya Kerajaan Mughal

Setelah satu setengah abad dinasti Mughal berada di puncak kejayaannya, para pelanjut Aurangzeb tidak sanggup mempertahankan kebesaran yang telah dibina oleh sultan-sultan sebelumnya. Pada abad ke-18 M kerajaan ini memasuki masa-masa kemunduran. Kekuasaan politiknya mulai merosot, suksesi kepemimpinan di tingkat pusat menjadi ajang perebutan, gerakan separatis Hindu di India tengah, Sikh di belahan utara dan Islam di bagian timur semakin lama semakin mengancam. Sementara itu, para pedagang Inggris untuk pertama kalinya diizinkan oleh Jehangir menanamkan modal di India, dengan didukung oleh kekuatan bersenjata semakin kuat menguasai wilayah pantai.
Pada masa Aurangzeb pemberontakan terhadap pemerintahan pusat memang sudah muncul  tetapi dapat diatasi. Pemberontakan itu bermula dari tindakan-tindakan Aurangzeb yang dengan keras menerapkan pemikiran puritanismenya. Setelah ia wafat  penerusnya rata-rata lemah dan tidak mampu menghadapi problema yang ditinggalkannya.
Sepeninggal Aurangzeb (1707 M), tahta kerajaan dipegang oleh Muazzam, putra tertua Aurangzeb yang sebelumnya menjadi penguasa di Kabul.[5] Putra Aurangzeb ini kemudian bergelar Bahadur Syah (1707-1712 M). Ia menganut aliran Syi’ah. Pada masa pemerintahannya yang berjalan yang berjalan selama lima tahun, ia dihadapkan pada perlawanan Sikh sebagai akibat dari tindakan ayahnya. Ia juga dihadapkan pada perlawanan penduduk Lahore karena sikapnya yang terlampau memaksakan ajaran Syi’ah kepada mereka.
Setelah Bahadur Syah meninggal, dalam jangka waktu yang cukup lama, terjadi perebutan kekuasaan di kalangan istana. Bahadur Syah diganti oleh anaknya, Azimus Syah. Akan tetapi  pemerintahannya oleh Zulfiqar Khan, putra Azad Khan, wazir Aurangzeb. Azimus Syah meninggal tahun 1712 M an diganti oleh putranya, Jihandar Syah, yang mendapat tantangan dari Farukh Siyar, adiknya sendiri. Jihandar Syah dapat disingkirkan oleh Farukh Siyar tahun 1713 M.
Farukh Siyar berkuasa sampai tahun 1719 M dengan dukungan kelompok sayyid, tapi tewas di tangan para pendukungnya sendiri (1719 M). Sebagai gantinya diangkat Muhammad Syah (1719-1748 M). Namun  ia dan pendukungnya terusir oleh suku Asyfar di bawah pimpinan Nadir Syah yang sebelumnya telah berhasil melenyapkan kekuasaan Safawi di Persia.
 Keinginan Nadir Syah untuk menundukkan kerajaan Mughal terutama karena menurutnya  kerajaan ini banyak sekali memberikan bantuan kepada pemberontak Afghan di daerah Persia. Oleh karena itu  ada tahun 1739 M  --  dua tahun setelah menguasai Persia  -- ia menyerang kerajaan Mughal.
Muhammad Syah tidak dapat bertahan dan mengaku tunduk kepada Nadir Syah. Muhammad Syah kembali berkuasa di Delhi setelah ia bersedia memberi hadiah yang sangat banyak keada Nadir Syah. Kerajaan Mughal baru dapat melakukan restorasi kembali, terutama setelah jabatan wazir dipegang Chin Qilich Khan yang bergelar Nizam Al-Mulk (1722-732 M) karena mendapat dukungan dari Marathas. Akan tetapi, tahun 1732 M, Nizam Al-Mulk meninggalkan Delhi menuju Hyderabat dan menetap di sana.
Konflik-konflik yang berkepanjangan mengakibatkan pengawasan terhadap daerah lemah. Pemerintahan daerah satu per satu melepaskan loyalitasnya dari pemerintah pusat, bahkan cenderung memperkuat posisi pemerintahannya masing-masing. Hyderabat dikuasai Nizam Al-Mulk, sedangkan  Marathas dikuasai Shivaji, dan Rajput menyelenggarakan pemerintahan sendiri di bawah pimpinan Jai Singh dari Amber, Punjab dikuasai oleh kelompok Sikh.
       Sebab-sebab keruntuhan kerajaan  Mughal  di Hindustan  dapat disimpulkan yaitu:
1.     Terjadinya stagnasi pembinaan militer sehingga operasi militer Inggris di wilayah pantai tidak dapat dipantau.
2.     Kemerosotan moral dan hidup mewah di kalangan elite politik yang mengakibatkan pemborosan dan penggunaan uang Negara.
3.     Pendekatan Aurengzeb yang terkesan kasar dalam mendakwahkan agama.
4.     Pewaris tahta pada paroh terakhir adalah pribadi-pribadi lemah.

Silsilah Mirza Ghulam Ahmad a.s. dan Pengkhidmatannya Terhadap Islam dan Nabi Besar Muhammad saw.

        Demikianlah ringkasan sejarah kerajaan Mughal di Hindustan yang para penguasanya menganut agama Islam, dimana   leluhur  Pendiri Jemaat Muslim Ahmadiyah – Mirza Ghulam Ahmad a.s. – memiliki hubungan kekerabatan, yakni sama-sama memiliki darah Persia (Iran), yaitu dari keturunan   Haji Barlas, yang merupakan paman Amir Tuglak Temur (Timur Lenk).
          Timur berasal dari suku Barlas yang terkenal dan yang menguasai kawasan Kish (Kesh) selama 200 tahun. Kawasan ini pada zaman dahulu dikenal dengan nama Sogdiana yang  ibukotanya adalah Samarkand. Mereka adalah suku yang berakar dari Persia. Kata Samarkand itu sendiri berasal dari  bahasa Farsi. Barlas juga demikian, artinya  pemuda gagah berani dari kalangan terhormat.”
        Mirza Hadi Beg,  keturunan Haji Barlas,  memimpin hijrah dari Samarkand   menuju Punjab, India, dengan membawa rombongan sekitar 200 orang. Mereka membangun sebuah perkampungan yang tidak begitu jauh dari sungai Bias, dan menamakannya Islampur. Emperor Babar (Babur) memberikan kepada beliau kawasan yang mencakup ratusan perkampungan. Dan beliau ditunjuk sebagai Qazi (Qadhi) disana,  sehingga kampung kediaman beliau itu dikenal dengan nama Islampur Qazi (Qadhi). Akhirnya nama ini tinggal Qazi (Qadhi)   dan lebih dikenal dengan sebutan Qadi yang kemudian menjadi Qadian. (Lihat: Life of Ahmad, A.R.Dard, Tabshir Publication, 1948,vol.1,h.7-8)  
Haji Barlas adalah Raja Kawasan Qesh, yang merupakan Paman Amir Tughlak Temur (Timur Lenk). Tatkala Amir Temur menyerang Qesh, Haji Barlas sekeluarga terpaksa melarikan diri ke Khurasan dan Samarkand dan mulai menetap di sana. Akan tetapi  pada abad 10 H atau abad ke 16 Masehi, seorang keturunan Haji Barlas bernama Hadi Beg beserta 200 orang pengikutnya hijrah dari Khurasan ke India karena beberapa hal, dan tinggal di kawasan sungai Bias lalu mendirikan sebuah perkampungan bernama Islampur, 9 km dari sungai tersebut.
Mirza Hadi Beg adalah orang yang cerdik dan pandai, karenanya beliau diangkat oleh Pemerintah Pusat Delhi sebagai Qadhi (Hakim) untuk daerah sekelilingnya. Oleh sebab kedudukan beliau sebagai Qadhi itulah, tempat tinggal beliau disebut Islampur Qadhi. Lambat laun kata Islampur hilang tinggal Qadhi saja. Dikarenakan dialek setempat akhirnya disebut sebagai Qadi atau Qadian.
         Selama kerajaan Mughal (Moghul) berkuasa, keluarga ini sering memperoleh kedudukan terhormat dari Pemerintah  Mughal. Akan tetapi  ketika kerajaan Mughal jatuh, keluarga ini hanya mendapatkan 60 pal sekitar Qadian sebagai daerah otonomi. Keadaan ini diperparah lagi ketika bangsa Sikh menguasai Qadian. Keluarga Barlas semuanya ditahan selama beberapa hari, kemudian diizinkan meninggalkan Qadian. Akhirnya, mereka pergi ke Kesultanan Kapurtala selama 12 tahun.

Silsilah Keturunan Haji Barlas

Silsilah  keturunan Haji Barlas yang secara berurutan melahirkan: (1) Mirza Hadi Beg; (2) Muhammad Sultan; (3) Abdul Baqi; (4) Muhammad Beg; (5) Jafar Beg; (6) Allah Din; (7) Muhammad Dilawar, (8) Muhammad Aslam; (9) Muhammad Qaim; (10) MIrza Faiz Muhammad; (11) Mirza Ghul Muhammad; (12) Mirza Ata Muhammad; (13) Mirza Ghulam Murtaza; (14) Mirza Ghulam Ahmad.
      Ketika zaman Kekuasaan Maha Raja Ranjit Singh yang berhasil menguasai semua raja kecil, beliau mengembalikan sebagian harta benda keluarga itu kepada Mirza Ghulam Murtaza, ayah Mirza Ghulam Ahmad. Kemudian datanglah Inggris yang mengalahkan Pemerintah Sikh dan merampas segala kekayaan keluarga ini kecuali satu daerah yaitu Qadian yang amat kecil. Daerah ini dibiarkan dalam kepemilikan keluarga tersebut.
            Jadi, menjelang   masa kelahiran Mirza Ghulam Ahmad di Qadian keadaan umat Islam di Hindustan – khususnya di wilayah Punjab -- benar-benar sangat menderita dari tekanan dan kezaliman kaum Hindu dan Sikh, sehingga banyak sekali mesjid-mesjid yang terlantar dan dijadikan kandang hewan.
             Tetapi ketika bangsa Inggris   -- yang sebelumnya mendapat kekuasaan di wilayah pantai guna kepentingan perdagangan (QS.18:19-21) -- kemudian berhasil mengalahkan kekuasaan kaum Sikh di Punjab, keadaan umat Islam di Punjab dapat kembali “bernafas”, walau pun tetap tidak berdaya menahan serangan-serangan keagamaan  baik dari  pihak Hindu  mau pun dari para  missionaries Kristen yang memanfaatkan kekuasaan kerajaan Inggris di Hindustan,  dan berhasil memasukkan  jutaan umat Islam  -- termasuk dari kalangan Sayyid --  ke dalam agama Kristen.

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid

oo0oo
Pajajaran Anyar, 1    Maret 2017

Tidak ada komentar:

Posting Komentar