Bismillaahirrahmaanirrahiim
ISLAM
Pidato Mirza Ghulam Ahmad a.s.
Tgl. 2 November 1904
di Kota Sialkote – Hindustan
Bab 31
HUBUNGAN PEWARISAN “NEGERI YANG DIJANJIKAN” (PALESTINA) DENGAN KEDATANGAN KEDUA KALI “BAYYINAH”
(RASUL ALLAH) DI AKHIR ZAMAN & DINASTI
KERAJAAN MUGHAL DI HINDUSTAN DAN LELUHUR MASIH
MAU’UD A.S.
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam bagian akhir Bab 30 telah dijelaskan
topik Nabi Besar
Muhammad Saw. Sebagai “Rahmat Bagi
Seluruh Alam” & Makna “Seburuk-buruk
makhluk” dan “Sebaik-baik Makhluk”
yang Diridhai Allah Swt. dalam QS.98:1-9 dan hubungannya dengan
ketetapan Allah Swt. mengenai
pewarisan “negeri yang dijanjikan”
(Palestina/Kanaan) dalam firman-Nya:
وَ لَقَدۡ کَتَبۡنَا فِی الزَّبُوۡرِ مِنۡۢ بَعۡدِ
الذِّکۡرِ اَنَّ الۡاَرۡضَ
یَرِثُہَا عِبَادِیَ الصّٰلِحُوۡنَ ﴿﴾ اِنَّ فِیۡ ہٰذَا لَبَلٰغًا
لِّقَوۡمٍ عٰبِدِیۡنَ ﴿﴾ؕ
Dan sungguh Kami
benar-benar telah menuliskan dalam Kitab
Zabur sesudah pemberi peringatan
itu, bahwa negeri
itu akan diwarisi oleh hamba-hamba-Ku yang shalih. Sesungguhnya dalam hal ini ada suatu amanat bagi kaum yang beribadah. (Al-Anbiya
[21]:106-107).
Allah Swt. berfirman mengenai “bayyinah” (bukti yang nyata) yakni Nabi
Besar Muhammad saw. (QS.98:1-9): Dan Kami
sekali-kali tidak mengutus engkau melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam (Al-Anbiya [21]:108).
Nabi Besar Muhammad saw. adalah pembawa rahmat untuk seluruh umat manusia, sebab amanat beliau saw. – yakni ajaran Islam (Al-Quran) -- tidak terbatas kepada suatu negeri atau kaum tertentu. Dengan perantaraan beliau bangsa-bangsa dunia telah diberkati,
seperti belum pernah mereka diberkati
sebelum itu.
Oleh karena itu mengenai orang-orang yang mendustakan
dan menentang pengutusan “bayyinah” (rasul Allah)
Allah Swt. berfirman: اِنَّ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا مِنۡ اَہۡلِ الۡکِتٰبِ وَ
الۡمُشۡرِکِیۡنَ فِیۡ نَارِ جَہَنَّمَ
خٰلِدِیۡنَ فِیۡہَا ؕ -- Sesungguhnya orang-orang kafir dari antara Ahlikitab dan orang-orang musyrik akan berada dalam Api Jahannam, mereka kekal di dalamnya. اُولٰٓئِکَ ہُمۡ شَرُّ الۡبَرِیَّۃِ -- Mereka
itulah seburuk-buruk makhluk. (Al-Bayyinah [98]:7).
Khayrul
Bariyyah (Sebaik-baik Makhluk) & “Jiwa
yang Tentram”
Sebaliknya, mengenai hamba-hamba
Allah yang shalih yang beriman dan bai’at
kepada “bayyinah” Allah Swt.
berfirman: اِنَّ الَّذِیۡنَ
اٰمَنُوۡا وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ
-- Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh اُولٰٓئِکَ ہُمۡ خَیۡرُ الۡبَرِیَّۃِ -- mereka
itu sebaik-baik makhluk. جَزَآؤُہُمۡ عِنۡدَ رَبِّہِمۡ جَنّٰتُ عَدۡنٍ تَجۡرِیۡ مِنۡ
تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ خٰلِدِیۡنَ فِیۡہَاۤ
اَبَدًا -- Ganjaran
mereka ada di sisi Rabb (Tuhan)
mereka, kebun-kebun abadi, yang di bawahnya mengalir sungai-sungai,
mereka kekal di dalamnya untuk selama-lamanya. رَضِیَ اللّٰہُ عَنۡہُمۡ وَ رَضُوۡا عَنۡہُ -- Allah
ridha kepada mereka dan mereka pun
ridha kepada-Nya. ذٰلِکَ لِمَنۡ خَشِیَ رَبَّہٗ -- Itulah balasan bagi orang yang takut kepada Rabb-nya
(Tuhan-nya). (Al-Bayyinah [98]:8-9).
Makna ayat:
رَضِیَ
اللّٰہُ عَنۡہُمۡ وَ رَضُوۡا عَنۡہُ -- “Allah ridha kepada mereka dan mereka
pun ridha kepada-Nya” mengisyaratkan
kepada tingkat tertinggi perkembangan
ruhani tercapai ketika kehendak
manusia menjadi sepenuhnya sesuai dengan iradah (kehendak) Allah Swt.
yang disebut keadaan nafs-al-Mutmainnah (jiwa yang tentram), firman-Nya:
یٰۤاَیَّتُہَا
النَّفۡسُ الۡمُطۡمَئِنَّۃُ ﴿٭ۖ﴾
ارۡجِعِیۡۤ اِلٰی
رَبِّکِ رَاضِیَۃً مَّرۡضِیَّۃً
﴿ۚ﴾ فَادۡخُلِیۡ فِیۡ عِبٰدِیۡ
﴿ۙ﴾وَ ادۡخُلِیۡ جَنَّتِیۡ ﴿٪﴾
Hai jiwa yang tenteram! Kembalilah kepada Rabb (Tuhan) engkau, engkau
ridha kepada-Nya dan Dia pun
ridha kepada engkau. Maka masuklah
dalam golong-an hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku. (Al-Fajr
[89]:27-29).
Ayat: ارۡجِعِیۡۤ
اِلٰی رَبِّکِ رَاضِیَۃً مَّرۡضِیَّۃً
-- “Kembalilah kepada Rabb (Tuhan) engkau, engkau ridha kepada-Nya dan Dia pun ridha kepada engkau.“
Keadaan dalam ayat ini merupakan tingkat perkembangan
ruhani tertinggi, ketika manusia
ridha kepada Tuhan-nya dan Tuhan pun
ridha kepadanya (QS.58:23).
Pada tingkat ini yang disebut pula tingkat surgawi seorang hamba
Allah yang hakiki menjadi kebal terhadap segala macam kelemahan akhlak, diperkuat dengan kekuatan ruhani yang khas. Ia “manunggal” dengan Allah Swt. – yakni
Sifat-sifat-Nya -- dan tidak dapat hidup
tanpa Dia.
Pewaris Hakiki “Kehidupan
Surgawi di Dunia” dan “ Pewaris “Negeri
yang Dijanjikan”
Di dunia ini, dan bukan setelah mati perubahan ruhani besar terjadi di dalam dirinya, dan di dunia
inilah dan bukan di tempat lain jalan dibukakan baginya untuk masuk ke surga. Jika keadaan akhlak dan ruhani umat Islam – sebagai “umat
terbaik” yang dijadikan bagi manfaat
umat manusia (QS.2:144;
QS.3:111) -- telah kembali seperti itu maka, Insya Allah, Palestina “negeri yang dijanjikan” itu pun akan kembali diwariskan Allah Swt. kepada umat Islam, firman-Nya:
وَ لَقَدۡ
کَتَبۡنَا فِی الزَّبُوۡرِ مِنۡۢ
بَعۡدِ الذِّکۡرِ اَنَّ الۡاَرۡضَ
یَرِثُہَا عِبَادِیَ الصّٰلِحُوۡنَ ﴿﴾ اِنَّ فِیۡ ہٰذَا لَبَلٰغًا
لِّقَوۡمٍ عٰبِدِیۡنَ ﴿﴾ؕ وَ مَاۤ اَرۡسَلۡنٰکَ
اِلَّا رَحۡمَۃً لِّلۡعٰلَمِیۡنَ ﴿﴾
Dan sungguh Kami
benar-benar telah menuliskan dalam Kitab
Zabur sesudah pemberi peringatan
itu, bahwa negeri
itu akan diwarisi oleh hamba-hamba-Ku yang shalih. Sesungguhnya dalam hal ini ada suatu amanat bagi kaum yang beribadah. Dan Kami
sekali-kali tidak mengutus engkau melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.
(Al-Anbiya [21]:106-108).
Menurut Allah Swt. karena pewarisan “Palestina” yang pertama kepada umat
Islam terjadi setelah pengutusan “bayyinah”
(bukti yang nyata) – yakni Nabi Besar Muhammad saw. -- demikian juga pewarisan kembali “Palestina” yang kedua
kali di Akhir Zaman ini pun setelah pengutusan “bayyinah” (bukti yang nyata) – yakni Nabi Besar Muhammad
saw. -- yang kedua
kali, yaitu Masih Mau’ud a.s.
(Al-Masih yang dijanjikan), firman-Nya:
ہُوَ
الَّذِیۡ بَعَثَ فِی الۡاُمِّیّٖنَ
رَسُوۡلًا مِّنۡہُمۡ یَتۡلُوۡا
عَلَیۡہِمۡ اٰیٰتِہٖ وَ
یُزَکِّیۡہِمۡ وَ
یُعَلِّمُہُمُ الۡکِتٰبَ وَ الۡحِکۡمَۃَ ٭ وَ اِنۡ کَانُوۡا مِنۡ قَبۡلُ
لَفِیۡ ضَلٰلٍ مُّبِیۡنٍ ۙ﴿﴾ وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ ہُوَ الۡعَزِیۡزُ
الۡحَکِیۡمُ ﴿﴾
Dia-lah Yang telah membangkitkan di kalangan
bangsa yang buta huruf seorang
rasul dari antara mereka, yang membacakan kepada mereka Tanda-tanda-Nya, mensucikan
mereka, dan mengajarkan kepada mereka
Kitab dan Hikmah walaupun sebelumnya mereka berada dalam kesesatan yang nyata, وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ
لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ ہُوَ
الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ -- Dan juga akan membangkitkannya pada kaum lain dari antara mereka, yang belum bertemu dengan mereka. Dan
Dia-lah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana (Al-Jumu’ah [62]:3-4).
Kemunculan Dinasti Mughal di Hindustan
Pada hakikatnya ayat وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ -- “Dan juga akan membangkitkannya pada kaum lain dari antara mereka, yang belum bertemu dengan mereka” merupakan
bukti Nabi Besar Muhammad saw. “rahmat
bagi seluruh alam”, yakni kerasulan
(kenabian) beliau saw. bukan hanya khusus untuk orang-orang Arab (Bani Isma’il)
saja tetapi juga bagi kaum-kaum lain pula dalam wujud Masih Mau’ud a.s. yang menurut Nabi Besar Muhammad saw. berasal
dari keturunan Farsi (Fersia) dan di Hindustan lebih dikenal dengan sebutan Mughal.
Dinasti Mughal merupakan keturunan
dari Jenghis Khan pemimpin bangsa Mongol dan Tartar -- yang pada masa cucunya, Hulaku Khan – telah menaklukan
kekuasaan kerajaan Islam yang berpusat di kota Baghdad, yang telah dijadikan Allah Swt. sebagai sarana untuk menghukum umat Islam yang pertama dari dua hukuman
Allah Swt. yang dijanjikan sesuai
nubuatan dalam QS.17:5-9
berkenaan Bani Israil, firman-Nya:
وَ قَضَیۡنَاۤ اِلٰی بَنِیۡۤ اِسۡرَآءِیۡلَ فِی الۡکِتٰبِ
لَتُفۡسِدُنَّ فِی الۡاَرۡضِ
مَرَّتَیۡنِ وَ
لَتَعۡلُنَّ عُلُوًّا کَبِیۡرًا ﴿﴾ فَاِذَا جَآءَ وَعۡدُ اُوۡلٰىہُمَا
بَعَثۡنَا عَلَیۡکُمۡ
عِبَادًا لَّنَاۤ اُولِیۡ بَاۡسٍ
شَدِیۡدٍ فَجَاسُوۡا
خِلٰلَ الدِّیَارِ ؕ وَ کَانَ وَعۡدًا مَّفۡعُوۡلًا ﴿﴾
Dan telah
Kami tetapkan terhadap Bani Israil dalam kitab itu: “Niscaya kamu
akan melakukan kerusakan di muka bumi ini dua kali, dan niscaya kamu akan menyombongkan diri dengan kesombongan yang sangat besar.” Apabila datang saat sempurnanya
janji yang pertama dari kedua janji itu, Kami membangkitkan untuk menghadapi kamu
hamba-hamba Kami yang mempunyai kekuatan tempur yang dahsyat, dan mereka menerobos jauh ke dalam rumah-rumah, dan itu merupakan suatu janji yang pasti
terlaksana (Bani Israil [17]:5-6).
Kerajaan Muslim terakhir di masa fatrah
(jeda) pengutusan rasul Allah (QS.5:20) yang berkuasa di Hindustan adalah Kerajaan Mughal
(Dinasti Moghul), yang setelah
mengalami masa kejayaannya di zaman
raja Aurangzeb kemudian secara
berangsur-angsur di masa para penerusnya
kerajaan Mughal mengalami kemunduran dan akhirnya kekuasaan di wilayah Punjab diambil alih oleh para penguasa kaum Sikh, sebelum kemudian dikuasai oleh Kerajaan Inggris.
Asal Usul Kerajaan Mughal
Mughal merupakan kerajaan
Islam di anak benua India (Hindustan), dengan Delhi sebagai ibukotanya, berdiri antara tahun (1526-1858 M). Dinasti Mughal di India didirikan oleh Zahiruddin Muhammad Babur (1482-1530 M),
salah satu cucu dari Timur Lenk dari
etnis Mongol, keturunan Jengis Khan.
Ekspansinya ke India dimulai dengan penundukan penguasa
setempat yaitu Ibrahim Lodi dengan Alam Khan (Paman Lodi) dan gubernur
Lohere. Ia berhasil menguasai Punjab
dan berhasil menundukkan Delhi, sejak
saat itu ia memproklamirkan berdirinya kerajaan
Mughal.
Proklamasi 1526 M yang dikumandangkan Babur mendapat tantangan dari Rajput dan Rana Sanga didukung oleh para kepala
suku India tengah dan umat Islam setempat yang belum tunduk
pada penguasa yang baru itu, sehingga ia harus berhadapan langsung dengan dua
kekuatan sekaligus. Tantangan tersebut dihadapi Babur pada tanggal 16 Maret
1527 M di Khanus dekat Agra. Babur memperoleh kemenangan dan Rajput jatuh ke dalam kekuasaannya.
Penguasa Mughal
setelah Babur adalah puteranya sendiri, Nashiruddin
Humayun atau lebih dikenal dengan Humayun
(1530-1540 dan 1555-1556 M). Sepanjang pemerintahannya tidak stabil, karena
banyak terjadi perlawanan dari musuh-musuhnya. Bahkan beliau sempat mengungsi
ke Persia karena mengalami kekalahan
saat melawan pemberontakan Sher Khan
di Qonuj, tetapi beliau berhasil merebut kembali kekuasaannya pada tahun 1555 M
berkat bantuan dari kerajaan Safawi.
Namun
setahun kemudian 1556 M Nashiruddin Humayun meninggal karena
tertimpa tangga pepustakaan, dan tahta kerajaan selanjutnya dipegang oleh
putranya yang bernama Akbar -- di Indonesia melalui film Yodha Akbar -- dikenal dengan nama Jalaluddin Muhammad Akbar.
Perkembangan dan Kejayaan Kerajaan
Mughal
Masa kejayaan kerajaan Mughal dimulai pada pemerintahan Akbar (1556-1506 M), dan tiga raja penggantinya, yaitu Jehangir (1605-1628 M), Syah Jehan (1628-1658 M), Aurangzeb (1658-1707 M). Setelah itu,
kemajuan kerajaan Mughal tidak dapat
dipertahankan oleh raja-raja berikutnya.
Akbar mengganti ayahnya pada saat usia 14 tahun,
sehingga urusan kerajaan diserahkan kepada Bairam
Khan, seorang Syi’i. Pada masa pemerintahannya Akbar
melancarkan serangan untuk memerangi pemberontakan
sisa-sisa keturunan Sher Khan Shah
yang berkuasa di Punjab.
Pemberontakan lain dilakukan oleh Himu yang menguasai Gwalior dan Agra.
Pemberontakan tersebut disambut oleh Bairam
Khan sehingga terjadi peperangan dasyat, yang disebut Panipat 2 tahun 1556 M. Himu
dapat dikalahkan dan ditangkap kemudian diekskusi. Dengan demikian, Agra dan
Kwalior dapat dikuasai penuh (Mahmudun Nasir,1981:265-266).
Setelah Akbar
dewasa, ia berusaha menyingkirkan Bairam
Khan yang sudah mempunyai pengaruh kuat dan terlampau memaksakan
kepentingan aliran Syi’ah. Bairam Khan
memberontak tetapi dapat dikalahkan oleh
Akbar di Jullandur tahun 1561 M.
Setelah itu masa kejayaan kerajaan Mughal berhasil dipertahankan oleh putra Akbar yaitu Jehangir yang memerintah selama 23 tahun (1605-1628 M). Namun Jehangir adalah penganut Ahlussunah Wal Jamaah, sehingga Din-i-Ilahi yang dibentuk ayahnya
menjadi hilang pengaruhnya.
Sepeninggalan Jehangir pucuk kekuasaan kerajaan
Mughal di pegang oleh Sheh Jehan
yang memerintah Mughal selam 30 tahun
(1628-1658 M). Pada masa pemerintahannya banyak muncul pemberontakan dan perselisihan
dalam internal keluarga istana. Namun
semua itu dapat diatasi oleh beliau, bahkan beliau berhasil memperluas
kekuasaanya Hyderabat, Maratha, dan Kerajaan
Hindu lain yang belum tunduk kepada pemerintahan Mughal. Keberhasilan itu tidak bias lepas dari peran Aurangzeb, putera ketiga dari Sheh Jehan.
Pengganti Sheh
Jehan yaitu Aurangzeb, beliau
berhasil menduduki tahta kerajaan setelah berhasil menyingkirkan para
pesaingnya (saudaranya). Pada masanya kebesaran
Mughal mulai menggema kembali, dan kebesaran namanya-pun disejajarkan
dengan pendahulunya dulu, yaitu Akbar.
Adapun usaha-usaha Aurangzeb dalam memajukan kerajaan
Mughal diantaranya menghapuskan
pajak, menurunkan bahan pangan dan memberantas korupsi, kemudian ia membentuk
peradilan yang berlaku di India yang dinamakan fatwa
alamgiri sampai akhirnya Aurangzeb meninggal pada tahun 1707 M.
Selama satu setengah abad, India di bawah Dinasti Mughal menjadi salah satu negara adikuasa. Ia menguasai perekonomian
Dunia dengan jaringan pemasaran barang-barangnya yang mencapai Eropa, Timur
Tengah, Asia Tenggara dan Cina. Selain itu, India juga memiliki pertahanan
militer yang tangguh yang sukar ditaklukkan dan kebudayaan yang tinggi.
Dengan besarnya nama kerajaan Mughal, banyak sekali para sejarawan yang mengkaji tentang
kerajaan ini. Dan pada masa itu telah muncul seorang sejarawan yang
bernama Abu Fadl dengan karyanya “Akhbar Nama” dan “Aini Akhbari”, yang memaparkan sejarah kerajaan Mughal berdasarkan figure pemimpinnya.
Sedangkan karya seni yang dapat dinikmati
sampai sekarang dan karya seni
terbesar yang dicapai kerajaan Mughal
adalah karya-karya arsitektur yang
indah dan masjid-masjid yang indah.
Pada masa Shah Jehan dibangun masjid berlapis mutiara dan Taj Mahal di
Agra, Masjid Raya Delhi dan Istana Indah di Lahore (Ikram,
1967:247).
Kemunduran dan Ruhtuhnya Kerajaan
Mughal
Setelah satu setengah abad dinasti Mughal berada di puncak
kejayaannya, para pelanjut Aurangzeb
tidak sanggup mempertahankan kebesaran yang telah dibina oleh sultan-sultan
sebelumnya. Pada abad ke-18 M kerajaan ini memasuki masa-masa kemunduran.
Kekuasaan politiknya mulai merosot, suksesi
kepemimpinan di tingkat pusat
menjadi ajang perebutan, gerakan separatis Hindu di India tengah,
Sikh di belahan utara dan Islam di bagian timur semakin lama
semakin mengancam. Sementara itu, para pedagang
Inggris untuk pertama kalinya diizinkan oleh Jehangir menanamkan modal di India, dengan didukung oleh kekuatan bersenjata semakin kuat
menguasai wilayah pantai.
Pada masa Aurangzeb
pemberontakan terhadap pemerintahan pusat
memang sudah muncul tetapi dapat
diatasi. Pemberontakan itu bermula
dari tindakan-tindakan Aurangzeb yang
dengan keras menerapkan pemikiran puritanismenya. Setelah ia wafat penerusnya rata-rata lemah dan tidak mampu
menghadapi problema yang
ditinggalkannya.
Sepeninggal Aurangzeb (1707 M), tahta kerajaan dipegang oleh Muazzam, putra tertua Aurangzeb yang sebelumnya menjadi
penguasa di Kabul.[5] Putra
Aurangzeb ini kemudian bergelar Bahadur Syah (1707-1712 M). Ia menganut
aliran Syi’ah. Pada masa
pemerintahannya yang berjalan yang berjalan selama lima tahun, ia dihadapkan
pada perlawanan Sikh sebagai akibat
dari tindakan ayahnya. Ia juga dihadapkan pada perlawanan penduduk Lahore karena sikapnya yang terlampau
memaksakan ajaran Syi’ah kepada
mereka.
Setelah Bahadur
Syah meninggal, dalam jangka waktu yang cukup lama, terjadi perebutan kekuasaan di kalangan istana. Bahadur Syah diganti oleh anaknya, Azimus Syah. Akan tetapi pemerintahannya oleh Zulfiqar Khan, putra Azad
Khan, wazir Aurangzeb. Azimus
Syah meninggal tahun 1712 M an diganti oleh putranya, Jihandar Syah, yang mendapat tantangan dari Farukh Siyar, adiknya sendiri. Jihandar
Syah dapat disingkirkan oleh Farukh
Siyar tahun 1713 M.
Farukh
Siyar berkuasa sampai tahun
1719 M dengan dukungan kelompok sayyid,
tapi tewas di tangan para pendukungnya sendiri (1719 M). Sebagai gantinya
diangkat Muhammad Syah (1719-1748 M).
Namun ia dan pendukungnya terusir oleh suku Asyfar di bawah pimpinan Nadir Syah yang sebelumnya telah
berhasil melenyapkan kekuasaan Safawi
di Persia.
Keinginan Nadir
Syah untuk menundukkan kerajaan
Mughal terutama karena menurutnya kerajaan ini banyak sekali memberikan bantuan
kepada pemberontak Afghan di daerah
Persia. Oleh karena itu ada tahun 1739 M -- dua
tahun setelah menguasai Persia -- ia
menyerang kerajaan Mughal.
Muhammad
Syah tidak dapat bertahan dan mengaku tunduk kepada Nadir Syah. Muhammad Syah kembali berkuasa di Delhi setelah ia
bersedia memberi hadiah yang sangat banyak keada Nadir Syah. Kerajaan Mughal
baru dapat melakukan restorasi kembali, terutama setelah jabatan wazir dipegang
Chin Qilich Khan yang bergelar Nizam Al-Mulk (1722-732 M) karena
mendapat dukungan dari Marathas. Akan
tetapi, tahun 1732 M, Nizam Al-Mulk
meninggalkan Delhi menuju Hyderabat dan menetap di sana.
Konflik-konflik yang berkepanjangan
mengakibatkan pengawasan terhadap daerah lemah. Pemerintahan daerah satu per
satu melepaskan loyalitasnya dari pemerintah pusat, bahkan cenderung memperkuat
posisi pemerintahannya masing-masing. Hyderabat dikuasai Nizam Al-Mulk, sedangkan Marathas dikuasai Shivaji, dan Rajput
menyelenggarakan pemerintahan sendiri di bawah pimpinan Jai Singh dari Amber, Punjab
dikuasai oleh kelompok Sikh.
Sebab-sebab
keruntuhan kerajaan Mughal di Hindustan
dapat disimpulkan yaitu:
1.
Terjadinya
stagnasi pembinaan militer sehingga operasi militer Inggris di wilayah
pantai tidak dapat dipantau.
2.
Kemerosotan
moral dan hidup mewah di kalangan elite
politik yang mengakibatkan pemborosan dan penggunaan uang Negara.
3.
Pendekatan
Aurengzeb yang terkesan kasar dalam
mendakwahkan agama.
4.
Pewaris
tahta pada paroh terakhir adalah pribadi-pribadi lemah.
Silsilah Mirza Ghulam
Ahmad a.s. dan Pengkhidmatannya
Terhadap Islam dan Nabi Besar Muhammad saw.
Demikianlah ringkasan sejarah kerajaan Mughal di Hindustan yang para penguasanya menganut agama Islam, dimana leluhur
Pendiri Jemaat Muslim Ahmadiyah – Mirza Ghulam Ahmad a.s. – memiliki hubungan kekerabatan, yakni sama-sama
memiliki darah Persia (Iran), yaitu
dari keturunan Haji Barlas, yang merupakan paman Amir Tuglak Temur (Timur Lenk).
Timur
berasal dari suku Barlas yang
terkenal dan yang menguasai kawasan Kish (Kesh) selama 200 tahun. Kawasan ini
pada zaman dahulu dikenal dengan nama Sogdiana
yang ibukotanya adalah Samarkand. Mereka adalah suku yang
berakar dari Persia. Kata Samarkand itu sendiri berasal dari bahasa Farsi. Barlas juga demikian, artinya
“pemuda gagah berani dari kalangan
terhormat.”
Mirza Hadi Beg, keturunan Haji
Barlas, memimpin hijrah dari Samarkand menuju Punjab,
India, dengan membawa rombongan sekitar 200 orang. Mereka membangun sebuah perkampungan yang tidak begitu jauh dari
sungai Bias, dan menamakannya Islampur. Emperor Babar (Babur) memberikan kepada beliau kawasan yang mencakup
ratusan perkampungan. Dan beliau ditunjuk sebagai Qazi (Qadhi) disana, sehingga kampung kediaman beliau itu dikenal
dengan nama Islampur Qazi (Qadhi).
Akhirnya nama ini tinggal Qazi (Qadhi) dan lebih dikenal dengan sebutan Qadi
yang kemudian menjadi Qadian. (Lihat: Life of Ahmad, A.R.Dard, Tabshir Publication,
1948,vol.1,h.7-8)
Haji
Barlas adalah Raja Kawasan Qesh, yang
merupakan Paman Amir Tughlak Temur
(Timur Lenk). Tatkala Amir Temur
menyerang Qesh, Haji Barlas
sekeluarga terpaksa melarikan diri ke Khurasan
dan Samarkand dan mulai menetap di
sana. Akan tetapi pada abad 10 H atau
abad ke 16 Masehi, seorang keturunan Haji
Barlas bernama Hadi Beg beserta
200 orang pengikutnya hijrah dari Khurasan ke India karena beberapa hal, dan tinggal di kawasan sungai Bias lalu
mendirikan sebuah perkampungan bernama Islampur,
9 km dari sungai tersebut.
Mirza Hadi Beg adalah orang yang cerdik dan pandai, karenanya beliau
diangkat oleh Pemerintah Pusat Delhi
sebagai Qadhi (Hakim) untuk daerah
sekelilingnya. Oleh sebab kedudukan beliau sebagai Qadhi itulah, tempat tinggal beliau disebut Islampur Qadhi. Lambat laun kata Islampur hilang tinggal Qadhi
saja. Dikarenakan dialek setempat akhirnya disebut sebagai Qadi atau Qadian.
Selama kerajaan
Mughal (Moghul) berkuasa, keluarga ini sering memperoleh kedudukan terhormat dari Pemerintah Mughal.
Akan tetapi ketika kerajaan Mughal jatuh, keluarga ini hanya
mendapatkan 60 pal sekitar Qadian
sebagai daerah otonomi. Keadaan ini
diperparah lagi ketika bangsa Sikh
menguasai Qadian. Keluarga Barlas semuanya ditahan selama beberapa
hari, kemudian diizinkan meninggalkan Qadian.
Akhirnya, mereka pergi ke Kesultanan Kapurtala selama 12 tahun.
Silsilah Keturunan Haji
Barlas
Silsilah keturunan Haji
Barlas yang secara berurutan melahirkan: (1) Mirza Hadi Beg; (2) Muhammad Sultan; (3) Abdul Baqi; (4) Muhammad
Beg; (5) Jafar Beg; (6) Allah Din; (7) Muhammad Dilawar, (8) Muhammad Aslam;
(9) Muhammad Qaim; (10) MIrza Faiz Muhammad; (11) Mirza Ghul Muhammad; (12)
Mirza Ata Muhammad; (13) Mirza Ghulam Murtaza; (14) Mirza Ghulam Ahmad.
Ketika zaman Kekuasaan Maha Raja Ranjit Singh yang berhasil
menguasai semua raja kecil, beliau
mengembalikan sebagian harta benda keluarga itu kepada Mirza Ghulam Murtaza, ayah Mirza
Ghulam Ahmad. Kemudian datanglah Inggris
yang mengalahkan Pemerintah Sikh dan
merampas segala kekayaan keluarga ini
kecuali satu daerah yaitu Qadian yang
amat kecil. Daerah ini dibiarkan dalam kepemilikan
keluarga tersebut.
Jadi, menjelang masa kelahiran Mirza Ghulam Ahmad di Qadian keadaan umat Islam di Hindustan – khususnya di wilayah Punjab -- benar-benar sangat menderita dari tekanan dan kezaliman
kaum Hindu dan Sikh, sehingga banyak sekali mesjid-mesjid
yang terlantar dan dijadikan kandang
hewan.
Tetapi
ketika bangsa Inggris -- yang sebelumnya mendapat kekuasaan di
wilayah pantai guna kepentingan perdagangan
(QS.18:19-21) -- kemudian berhasil mengalahkan
kekuasaan kaum Sikh di Punjab,
keadaan umat Islam di Punjab dapat kembali “bernafas”, walau
pun tetap tidak berdaya menahan
serangan-serangan keagamaan baik dari
pihak Hindu mau pun dari para missionaries
Kristen yang memanfaatkan
kekuasaan kerajaan Inggris di Hindustan, dan berhasil memasukkan jutaan umat
Islam -- termasuk dari kalangan Sayyid -- ke dalam agama
Kristen.
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran Anyar, 1 Maret
2017
Tidak ada komentar:
Posting Komentar