Minggu, 19 Maret 2017

Pentingnya "Pencangkokan Ruhani" Dengan "Rasul Allah" & Komentar Mengenai "Kekeliruan Ajaran" Golongan Ariya Dalam Kapasitas Sebagai "Sri Kisyna a.s." yang Dijanjikan di "Akhir Zaman"



Bismillaahirrahmaanirrahiim

  ISLAM
Pidato  Mirza Ghulam Ahmad a.s.
Tgl. 2 November 1904 di Kota Sialkote – Hindustan

Bab  41

PENTINGNYA PENCANGKOKAN RUHANI  DENGAN RASUL ALLAH & KOMENTAR MENGENAI KEKELIRUAN AJARAN GOLONGAN ARIYA  DALAM KAPASITAS SEBAGAI SRI KRISYNA A.S. YANG DIJANJIKAN DI AKHIR ZAMAN

Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam bagian akhir Bab  sebelumnya telah dijelaskan  topik    Munculnya Doa yang Hakiki Melalui Makrifat Ilahi.  Sehubungan dengan hal tersebut Masih Mau’ud a.s. menjelaskan:
       “Setelah keadaan  tersebut lalu gerak pertama yang terjadi karena fadhal dalam ruh manusia ialah doa. Jangan keliru,  bahwa kita pun setiap hari berdoa, dan shalat pun doa juga yang kita kerjakan, karena doa yang timbul setelah makrifat dan dengan perantaraan fadhal Ilahi adalah lain dalam sifat dan keadaannya.
      Itulah suatu barang yang dapat menghancurkan, suatu api yang dapat membakar, suatu magnit untuk menarik kepada rahmat Ilahi, suatu maut (kematian) yang akhirnya akan menghidupkan dan suatu taufan banjir yang akirnya akan menjadi perahu. Tiap-tiap urusan yang telah rusak dapat diperbaiki dengan itu dan tiap-tiap racun akhirnya menjadi obat karena itu.
     Berbahagialah tawanan yang berdoa dengan tidak mengenal jemu dan lelah karena mereka akan dibebaskan pada suatu waktu. Berbahagialah orang-orang  buta yang tidak lalai dalam doa karena mereka akan mulai melihat pada suatu waktu. Berbahagialah orang-orang dalam kuburan yang memohon pertolongan Ilahi dengan doa karena pada suatu saat mereka akan dikeluarkan dari kuburan itu.
     Berbahagialah kamu apabila kamu tidak mengenal lelah dan payah untuk berdoa, ruh kamu lebur-lelah untuk berdoa, mata kamu mengalirkan air mata dan akan menyalakan suatu api dalam dada kamu. Untuk mendapatkan rasa kecintaan dan suasana terpisah dari menyendiri kamu dibawa ke sudut-sudut yang gelap dan  ke hutan-hutan yang sunyi senyap dan membikin kamu menjadi gelisah, pandir dan lupa diri karena  akhirnya  akan dibukakan fadhal (karunia) Ilahi kepada kamu.
     Kami  hanya mengajak kalian kepada-Nya Yang adalah   Pemurah, PengasihPenyantun, Benar, Setia dan  Penyayang kepada yang tidak berdaya, maka kalian pun harus setia dan berdoa dengan penuh kejujuran dan kesetiaan supaya Dia pun akan kasihan kepada kalian.
      Pisahkanlah kalian dari keributan dan kekacauan  dunia ini, agama janganlah kamu warnai dengan rona kenafsuan. Kalahkanlah diri kalian karena Allah dan terimalah kekalahan supaya  kalian menjadi waris dari kemenangan-kemenangan yang besar. Orang-orang yang berdoa akan diperlihatkan mukjijat oleh Allah Swt. dan orang-orang yang memohon akan diberi nikmat luar biasa.
    Doa itu datang dari Allah Swt.  dan kembali pula kepada-Nya. Dengan perantaraan  doa Allah Swt. menjadi dekat seperti juga jiwa  kalian dekat kepada  kalian. Nikmat yang pertama dari doa ialah manusia mendapat perubahan suci di dalam dirinya, kemudian karena perubahan itu Allah Swt. pun merubah Sifat-sifat-Nya.
      Sifat-sifat Allah Swt. sendiri tidak pernah berubah, tetapi untuk orang yang  telah mendapat perubahan itu  Dia menampakkan  Sifat-sifat-Nya dengan suatu cara yang lain lagi yang tidak diketahui oleh dunia, seolah-olah Dia adalah Tuhan yang lain (baru) padahal tidak ada Tuhan yang lain, hanya penampakan (tajalli) yang baru menyatakan Dia dalam keadaan yang baru. Kemudian dalam keadaan penampakkan (tajalli) yang khas itu Dia mengerjakan hal-hal untuk orang yang telah beroleh perubahan yang suci itu yang tidak dikerjakan untuk orang-orang lain, inilah yang dikatakan hal luar-biasa (mukjizat).

Shalat Ruhani Harus Mengiringi Shalat Jasmani

       Pendek kata, doa adalah suatu obat yang sangat aksir (mujarab dan mustajab) yang membuat segumpal tanah  menjadi suatu barang yang tak ternilai harganya, dan itulah suatu air yang membersihkan segala kekotoran batin. Dengan doa itulah ruh manusia hancur-luluh dan mengalir seperti air ke hadapan istana Tauhid Ilahi, begitu ruh itu berdiri pula di hadapan Allah Swt. lalu berukuk dan bersujud pula.
        Sebagai zhill (bayangan) dari kaifiat ruh inilah diadakan shalat yang diajarkan oleh Islam.  Berdirinya (qiyamnya) ruh itu bermaksud bahwa ia telah siap sedia untuk menderita segala musibat di jalan Allah dan mengikuti segala perintah-Nya. Rukuknya ruh itu berarti  bahwa ia condong kepada Allah Swt. dengan melepaskan segala kecintaan dan pertalian-pertalian yang lain dan menjadi tunduk  kepada Allah untuk selama-lamanya. Sujudnya ruh itu bermaksud bahwa ia menjatuhkan diri di hadapan istana Ilahi dengan menghilangkan diri pribadi serta menghapuskan segala pola dirinya.
     Demikianlah shalat yang mempertemukan manusia dengan Allah Swt., dan syariat Islam telah menggambarkan segenap kaifiat shalat ruh ini dalam shalat yang lazim dikerjakan sehari-hari supaya shalat yang zahir ini akan menggerakkan dan mendorong kepada shalat ruhani tersebut.
    Allah Swt. telah menjadikan umat manusia sedemikian rupa bahwa ruh senantiasa memberi bekas  dan pengaruh kepada tubuh,   begitu pula tubuh memberi bekas dan pengaruh kepada  ruh. Kalau ruh kalian  berdukacita (sedih) kemudian mata pun akan mengalirkan air mata, dan apabila ruh kalian  senang lalu  dari air muka pun akan nampak riang gembira, malah kadang-kadang mulai tertawa pula.
      Begitu pula jika tubuh menderita sesuatu kesakitan dan kesusahan maka ruh pun akan ikut-serta dalam penderitaan tersebut.  Apabila tubuh mendapat kesenangan dari suatu hawa yang sejuk niscaya ruh  juga akan merasakan lezatnya. Maka ibadah yang  zahir  ini bermaksud bahwa pertalian antara tubuh dengan ruh dapat menggerakkan ruh manusia ke hadapan Allah Swt. supaya menyilahkan diri dalam menjalankan qiyam (berdiri), rukuk dan sujud dengan sebenarnya.
     Untuk kemajuan manusia  membutuhkan mujahadah (perjuangan)  dan shalat pun suatu mujahadah pula. Mudah difahami bahwa apabila dua barang telah terikat satu sama lain lalu dengan mengangkat salah satu barang tersebut maka yang lainnya akan ikut serta bergerak juga, demikian juga halnya tubuh dengan ruh.  Tetapi hanya sekedar qiyam ( berdiri), rukuk dan sujud dengan tubuh zahir saja tidak akan berfaedah kalau tidak diusahakan supaya ruh juga ikut qiyam, rukuk dan sujud, sedangkan hal ini tergantung kepada makrifat, dan makrifat tergantung kepada fadhal (karunia ) Ilahi.

Peran Ruhulqudus Bagi Perkembangan  Akhlak dan Ruhani

    Dari dahulu kala sejak  manusia dilahirkan Allah Swt. menjalankan sunnah-Nya begini yaitu bahwa lebih dulu dengan fadhal-Nya yang agung Dia mengirimkan Ruhulqudus kepada siapa yang Dia kehendaki, kemudian dengan pertolongan Ruhulqudus menimbulkan kecintaan-Nya di dalam orang itu serta memberikan kejujuran dan keteguhan kepadanya dan dengan bermacam-macam tanda menguatkan makrifat-Nya serta menjauhkan segala kelemahannya sehingga ia benar-benar bersedia untuk mengurbankan hidupnya di   jalan-Nya.
       Pertalian dan  hubungan dia dengan Allah Swt. menjadi begitu rapat dan kuat yang tidak dapat diputuskan oleh suatu musibah atau pedang apa pun. Kecintaannya itu tidak didasarkan  atas sesuatu yang tidak kekal, tidak karena tamak kepada surga, tidak takut kepada neraka, tidak mengharap kesenangan dunia dan harta benda, tetapi hubungan ini tidak dapat diketahui melainkan oleh Allah Swt.
      Lebih ajaib lagi ialah orang yang terikat dalam kecintaan itu ia pun tidak sampai kepada hakikat  hubungan tersebut yakni mengapa dan bagaimana serta untuk apakah penghubungan itu?  Karena  hubungan  adalah  dengan azal (yang tidak ada pemulaannya) dan bukanlah karena makrifat, malah makrifat datang sesudah perhubungan itu yang  menerangi  hubungan tersebut.
     Sebagaimana api sudah terlebih dulu ada dalam batu  tetapi akan menyala dan tampak sesudah dipantik dan dipukul dengan batu pantik, demikian pula orang yang mempunyai hubungan semacam itu di satu pihak mempunyai kecintaan yang sangat kuat dengan Allah Swt. dan di pihak lain ia mempunyai kecintaan  dan hasrat untuk menolong dan memperbaiki sesama umat manusia. Oleh karena itulah di satu pihak karena pertalian dengan Allah Swt. ia senantiasa tertarik kepada-Nya, dan di pihak lain karena  hubungannya yang sangat rapat dengan sesama manusia maka orang-orang yang sehat batinnya senantiasa tertarik kepadanya.
       Misalnya seperti halnya matahari  yang senantiasa menarik segenap lapisan bumi kepada dirinya, dan lagi matahari sendiri pun senantiasa tertarik kepada suatu jurusan  lain juga,  samalah halnya orang yang semacam itu,  menurut istilah agama Islam mereka itu dinamakan nabi, rasul dan muhaddats. Mereka itu beroleh mukallamah dan mukhathabah (pembicaraan) dari Allah Swt. serta berbagai macam mukjizat nampak dari tangan mereka, lagi pula kebanyakan doa-doa mereka dikabulkan, dan acapkali mereka dapat menerima jawaban dari Allah Swt. dalam doa-doa mereka.

Serupa Tetapi Tidak Sama  Antara Pengemis Dengan Orang Kaya

    Sebagian orang-orang yang tidak faham suka mengatakan begini: “Kami pun mendapat minpi-mimpi yang benar, kadang-kadang ada juga doa-doa kami yang dikabulkan dan ada kalanya kami mendapat ilham juga,  lalu apa perbedaan di antara kami dengan rasul-rasul-Nya?”
     Jadi, dalam pandangan mereka  nabi Allah adalah penipu atau dalam kekeliruan karena memegahkan (membanggakan) hal yang tidak begitu berharga dan tidak  seberapa perbedaan di antara nabi  dengan orang yang bukan nabi. Inilah suatu pendirian yang sangat sombong yang telah mencelakakan  banyak orang di jaman sekarang.
      Tetapi bagi orang yang hendak mencari kebenaran keterangan-keterangannya yang jelas adalah sebagai berikut:  Sesungguhnya Allah Swt. telah memilih segolongan manusia dengan fadhal-Nya (karunia-Nya) yang khas serta memuliakan mereka dengan memberikan nikmat-nikmat keruhanian,  karena itu walau pun nabi-nabi tersebut dilawan dan ditolak oleh musuh-musuhnya yang buta-tuli  tetapi nabi-nabi Allah senantiasa memperoleh kemenangan.
    Lagi pula nur dan kesucian mereka senantiasa nampak dengan jalan yang sangat luar biasa sehingga orang-orang yang cerdik dan berakal mengakui bahwa di antara nabi dengan orang-orang yang bukan nabi terdapat perbedaan yang sangat besar.  Seorang miskin peminta-minta pun mempunyai sedikit uang dan seorang raja pun mempunyai khazanah yang penuh dengan uang, tetapi orang miskin itu tidak dapat mengatakan bahwa sama dengan raja itu.
     Umpamanya kunang-kunang pun punya cahaya yang berkelap-kelip pada waktu malam, demikian pula matahari pun mempunyai cahaya, tetapi kunang-kunang tidak dapat mengatakan bahwa ia sama dengan matahari.   Allah Swt. kadang-kadang suka juga memberi rukya, kasyaf dan ilham kepada orang-orang umum supaya mereka dengan pengalaman sendiri dapat  mengenal nabi-nabi Allah. Lagi pula jalan ini pun dapat dipakai untuk menyempurnakan keterangan kepada mereka agar tiada satu uzur (helah) lagi.
    Suatu sifat istimewa lagi dari hamba-hamba-Nya yang suci itu ialah mereka mempunyai kekuatan mendidik dan menarik serta mereka diutus untuk mendirikan keturunan ruhani  di dunia ini, mereka memimpin dan menuntun umat manusia dengan jalan kenyataan dan menjauhkan segala kegelapan dari mereka. Oleh karena itu makrifat dan kecintaan Ilahi, kesucian dan takwa yang sebenarnya serta kegembiraan dan kelezatan iman  akan timbul dalam kalbu manusia hanya dengan perantaraan mereka. 

Pentingnya “Mencangkokkan Diri” Dengan Rasul Allah

  Memutuskan hubungan dengan mereka sama seperti suatu cabang jatuh dari pohonnya. Hubungan dengan mereka mempunyai khasiat yang luar biasa, dan agar kita menghubungkan diri dengan mereka mulailah pendidikan dan kemajuan keruhanian menurut ukuran (kadar) hubungan itu masing-masing. Apabila hubungan itu diputuskan akan mulai pula keadaan keimanan diliputi oleh debu dan kekotoran.
     Hanya orang-orang yang takabur dan sombong  yang mengatakan bahwa ia tidak butuh dan tidak perlu nabi-nabi dan rasul-rasul-Nya, inilah tanda kerusakan imannya. Dia menipu dirinya dengan mengatakan, “Kami shalat, puasa dan mengucapkan Kalimah Syahadat” Dia mengucapkan demikian karena dia tidak mempunyai keimanan, keikhlasan dan kegemaran yang sebenarnya.
    Dia harus memikirkan pula bahwa meski pun manusia dijadikan oleh Allah Swt. tetapi satu manusia  menjadi perantara untuk kelahiran manusia lainnya. Maka sebagaimana dalam silsilah jasmani, demikian pula  ayah-ayah ruhani yang menjadi perantara kelahiran keturunan ruhani. Haruslah berhati-hati, jangan menipu diri dengan hanya mengemukakan gambar Islam yang lahiriah.
    Kalian haruslah mempelajari  kalam Allah Swt.  dengan teliti untuk mengetahui kehendak dan maksud-Nya. Dia menghendaki dari kamu apa yang telah diajarkan dalam doa surah Al-Fatihah:
اِہۡدِ نَا الصِّرَاطَ الۡمُسۡتَقِیۡمَ ۙ ﴿﴾   صِرَاطَ الَّذِیۡنَ اَنۡعَمۡتَ عَلَیۡہِمۡ ۙ۬
Artinya: “Tunjukkanlah kami jalan yang lurus, perjalanan orang-orang yang Engkau beri nikmat atas mereka.”
     Allah Swt. berfirman bahwa lima kali satu hari kalian harus membaca doa ini dalam shalat supaya nikmat yang diberikan kepada nabi-nabi dan rasul-rasul-Nya akan diberikan pula kepada kalian, kemudian bagaimanakah kalian dapat memperoleh nikmat-nikmat-Nya itu  jika tidak dengan perantaraan nabi-nabi dan rasul-rasul-Nya?
     Maka sudah sewajarnya Allah Swt, kadang-kadang mengutus nabi-nabi-Nya yang akan menyampaikan kalian kepada derajat keimanan dan kecintaan yang tinggi supaya kamulian memperoleh nikmat-nikmat tersebut. Apakah kalian akan melawan Allah Swt. dan menentang undang-undang-Nya yang berlaku dari dahulu kala? Dapatkah nuthfah (bibit manusia) lahir dengan tidak perantaraan ayah? Dapatkah telinga mendengar tanpa perantaraan udara? Maka tiada suatu kebodohan yang lebih besar daripada melawan undang-undang-Nya itu.

Diutus Untuk Memperbaiki Semua Umat Beragama  & Pendakwaan Sebagai Krisyna a.s. dan Masih Mau’ud a.s.

     Haruslah diperhatikan pula bahwa  saya diutus oleh Allah Swt. di zaman sekarang bukan hanya untuk memperbaiki orang-orang Islam saja, bahkan saya juga harus memperbaiki kaum-kaum Islam, Hindu dan Kristen ketiga-tiganya. Allah Swt. telah menjadikan saya sebagai Masih Mau’ud untuk orang-orang Islam dan Kristen, begitu pula sebagai autar (nabi) untuk orang-orang Hindu.
       Kurang lebih 20 tahun saya senantiasa menyiarkan bahwa untuk menjauhkan dosa-dosa yang penuh dalam dunia ini  saya adalah sebagai Masih Ibnu Maryam, begitu juga sebagai Raja Krisyna yang adalah sebagai autar (nabi) yang terbesar dari semua autar agama Hindu. Atau boleh dikatakan, menurut hakikat keruhanian saya adalah itu juga.
       Ini bukanlah khayal atau dugaan saya sendiri melainkan Allah Yang menguasai bumi dan langit telah menyatakan hal ini kepada saya, bukan hanya sekali tetapi berulang-ulang. Dia telah menarangkan: “Engkau  Krisyna untuk orang-orang Hindu dan  Masih Mau’ud untuk orang-orang Islam dan Kristen.”
    Saya mengetahui orang-orang Islam yang jahil setelah mendengar ini dengan segara akan mencap saya kafir karena saya memakai nama orang Hindu. Tetapi inilah wahyu Ilahi yang tidak dapat saya sembunyikan, dan inilah hari pertama saya   kemukakan hal ini di hadapan satu  pertemuan yang sangat besar karena orang-orang yang diutus oleh-Nya tidak takut suatu celaan dari mana pun juga.
       Sekarang saya terangkan, apa yang telah dibukakan kepada saya bahwa Krisyna adalah seorang yang sangat suci yang tidak ada bandingannya di antara para rishi (wali) dan autar (nabi) dalam agama Hindu. Krisyna adalah seorang autar, yakni nabi di zamannya yang mendapat Ruhulqudus dari Allah Swt.. Beliau diberi kemenangan dan kemuliaan dari-Nya dan beliau membersihkan tanah-airnya dari dosa-dosa. Beliau adalah nabi  yang sebenarnya di zaman itu, hanya saja sesudah beliau ajarannya banyak diubah-ubah.
     Beliau mempunyai  kecintaan yang penuh kepada Allah Swt., persahabatan dengan kebaikan serta permusuhan dengan kejahatan. Allah Swt. telah berjanji untuk mengadakan penjelmaan dari beliau atau autar (nabi)  di Akhir Zaman maka perjanjian ini telah sempurna dengan kedatangan saya.
     Dalam ilham-ilham yang saya terima ada satu ilham tentang diri saya begini: “Hei Krisyna  rawaddar gaupal teri mehma gita en likhi gei hei” (Krisyna yang pengasih dan pemelihara sapi, pujian engkau tertulis dalam buku suci Gita). Saya cinta kepada Krisyna karena  saya adalah mazharnya (penjelmaannya).
        Satu hikmah lagi ialah sifat-sifat yang disebutkan dalam Krisyna yakni pembersih dosa, penyayang dan penolong si miskin dan sebagainya, sifat-sifat  itu juga disebutkan mengenai Masih  Mau’ud, maka menurut keruhanian Krisyna dan Masih Mau’ud satu juga, hanya saja ada perbedaan dalam istilah (sebutan) masing-masing golongan.

Kritikan Kepada Golongan Ariya Mengenai Masalah  Ruh,   Mukti  dan Re-inkarnasi

    Sekarang saya sebagai Krisyna memberitahukan kepada orang-orang Ariya tentang beberapa kesalahan mereka. Salah satu darinya telah saya ceritakan lebih dulu, yakni bahwa sikap dan itikad berikut ini salah  yaitu bahwa ruh dan molekul-molekul   alam ini   -- yang disebut sebagai parkarti  atau parmanu -- itu bukan makhluk  dan tidak akan hancur pula selama-lamanya.
     Selain dari Allah semua makhluk adalah ciptaan-Nya. Dia tidak membutuhkan siapa pun juga. Sesuatu yang butuh dan tergantung kepada yang lain niscaya itu bukan “ghair-makhluk”. Apakah sifat-sifat ruh benar-benar berdiri sendiri? Apakah tidak ada yang menjadikannya? Kalau ini benar, maka tentu  ruh-ruh pun dapat masuk ke dalam tubuh-tubuh lain dengan sendirinya dan juga molekul-molekul   dapat berkumpul dan berpisah dengan sendirinya. Jika demikian maka tiada suatu keterangan menurut akal  untuk mempercayai Allah Swt..
      Kalau akal dapat menerima bahwa semua ruh dengan segala sifat-sifatnya terjadi dengan sendirinya, kemudian akal pun akan menerima juga bahwa hubungan dan perpisahan antara ruh dan tubuh pun terjadi dengan sendirinya. Kalau jalan   untuk  “terjadi dengan sendirinya” masih terbuka maka tiada keterangan lagi untuk menutup jalan yang kedua itu.
       Itikad seperti ini tidak akan dapat diluruskan oleh ilmu manthiq (logika) mana juga. Kesalahan ini telah menjerumuskan orang-orang Ariya ke dalam satu kesalahan yang lain yang akan merugikan mereka  sebagaimana kesalahan pertama menghina Allah Swt.. Yakni orang-orang Ariya telah menetapkan bahwa “mukti” (keselamatan/najat) itu hanya bersifat sementara saja dan mereka menganggap bahwa rainkarnasi (penitisan ruh) adalah untuk selama-lamanya yang tidak dapat dilepaskan lagi.
     Menurut akal yang sehat   kekurangan  semacam ini tidak dapat dinisbahkan kepada Allah Swt., sebab  kalau Allah Swt. mempunyai kekuasaan untuk memberi keselamatan yang abadi, bahkan Dia berkuasa atas segala sesuatu,  maka tidak dapat difahami mengapa Dia begitu kikir dalam memberi kemurahan dari kudrat-Nya kepada manusia?
      Pencelaan ini menjadi lebih kuat karena ruh dimasukkan  dalam siksaan yang amat panjang untuk mengalami musibah penitisan (reinkarnasi) yang berulang-ulang, sebab menurut kepercayaan Ariya ruh itu bukanlah makhluk-Nya.
     Hal ini dijawab oleh orang-orang Ariya bahwa Tuhan memang berkuasa memberikan najat (keselamatan)  untuk selama-lamanya, sebab  Dia adalah Maha Kuasa, tetapi Dia sengaja menetapkan najat (keselamatan) yang bersifat sementara supaya rangkaian ruh-ruh itu terbatas serta tidak dapat ditambahkan lagi, kemudian adanya kelepasan (keselamatan) yang bersifat abadi akan  menghentikan peraturan penitisan (re-inkarnasi) dan penjelmaan ruh, sebab ruh-ruh yang tidak memperoleh najat (keselamatan) yang abadi berarti ruh-ruh itu telah keluar dari kekuasaan Tuhan. 
     Demikianlah lambat-laun akhirnya kelak tidak ada lagi suatu ruh lagi pun dalam tangan Tuhan untuk dimasukkan ke dalam aturan penitisan (re-inkarnasi) dan Dia akan berhenti bekerja, karena itulah Tuhan telah mengatur supaya najat (keselamanatan) itu bersifat sementara dan terbatas.
      Keterangan tersebut dapat dikritik bahwa orang-orang yang tidak berdosa lagi dan telah memperoleh najat (keselamatan) mengapa mereka harus dikembalikan lagi ke dalam ketentuan penitisan (re-inkarnasi)? Kritik tersebut mereka jawab, bahwa tiap-tiap ruh yang diberi najat (keselamatan) oleh Tuhan disisakan salah satu  dosa padanya supaya karena dosa itulah nanti akhirnya ia akan dikeluarkan lagi dari najat (keselamatan) untuk  kembali mengalami penitisan (re-inkarnasi) lagi.

Sifat-sifat  Tuhan Tidak Sama Dengan Sifat-sifat Manusia

    Demikianlah dasar  pendirian orang-orang Ariya yang tidak dapat diterima akal sehat, karena mengemukakan Sifat-sifat Tuhan yang sangat bertentangan dengan kesempurnaan-Nya.  Orang-orang Ariya memasukkan diri mereka ke dalam suatu kesulitan yang besar karena menolak Sifat Khaliq (Yang menciptakan)  Allah Swt., malah mereka menghina Tuhan karena mereka  mengqiaskan pekerjaan Tuhan seperti pekerjaan mereka sendiri.
    Mereka tidak memikirkan bahwa Allah Swt. dalam setiap Sifat-Nya berbeda dengan  makhluq, dan mereka mengukur sifat-sifat Allah dengan ukuran sifat-sifat manusia adalah suatu kesalahan besar, yang dalam ilmu munazharrah (ilmu debat) dikatakan qias ma’al faraq  yakni perbandingan yang sangat  salah.
     Tentang pekerjaan  makhluq, pengalaman akal kita mengatakan bahwa tidak dapat “diadakan” sesuatu daripada yang “tidak ada”, tetapi peraturan tersebut tidak dapat diqiaskan  terhadap Sifat-sifat Allah Swt., karena  Allah Swt. berbicara tidak dengan memakai lidah jasmani, mendengar tidak dengan telinga jasmani dan melihat tidak dengan memakai mata jasmani. Begitu juga Dia mengadakan dan menjadikan   tidak  dengan memakai bahan-bahan jasmani, karena kalau Dia pun harus terikat  untuk mempergunakan benda zahir berarti Dia harus turun dari sifat-sifat Ketuhanan-Nya.

Terjerumus  Menjadi Penganut  Atheisme

     Ada lagi satu kerusakan yang sangat besar dalam itikad ini bahwa  tiap-tiap dzarrah (molekul) terjadi dengan sendirinya dan juga tidak akan hancur, yakni tiap-tiap dzarrah dianggap sebagai sekutu Allah.   Orang-orang yang menyembah berhala mereka anggap hanya beberapa berhala saja sebagai sekutu Allah, tetapi menurut itikad Ariya segenap dunia menjadi (merupakan) syirik (sekutu) Allah Swt. karena tiap-tiap dzarrah adalah Tuhan bagi dirinya.
    Allah Swt. mengetahui  -- saya mengatakan  hal-hal ini bukan karena  benci atau bermusuhan  -- bahkan saya yakin dengan  sebenarnya bahwa asal pelajaran Weda tentu tidak begitu. Saya mengetahui pula hanya orang-orang ahli filsafat menurut kehendak sendiri telah membikin  itikad semacam itu dan kebanyakan dari mereka pada akhirnya menjadi dahriyah (atheis). Saya takut kalau orang-orang Ariya tidak mau berhenti dari itikad  yang salah tersebut nanti akibatnya mereka akan buruk seperti mereka juga.
      Dalam itikad ini terutama bagian penitisanlah (re-inkarnasi) yang sangat menodai Sifat Pengasih dan fadhal (karunia) Allah. Apabila perhatikan dalam setiap jengkal tanah terdapat berjuta-juta semut, dalam setitik air terdapat berlaksa-laksa  kuman dan semua sungai,  lautan dan hutan-hutan pun penuh dengan bermacam-macam binatang besar dan kecil yang tidak dapat dihitung banyaknya,  sehingga  bilangan (jumlah) seluruh manusia tidak dapat dibandingkan sedikit pun dengan banyaknya binatang-binatang tersebut.
     Jadi, kalau dianggap untuk sementara bahwa masalah penitisan (reinkarenasi) itu betul adanya, lalu apakah yang sampai sekarang telah dibikin (diperbuat)  Tuhan? Dan berapa banyak yang telah diberi najat (keselamatan)? Dan apakah yang dapat  diharap kemudian hari?
    Tambahan pula peraturan ini tidak dapat difahami yakni  orang yang diberi hukuman tidak diberitahukan apa kesalahannya atau dosanya. Satu hal yang lebih menyusahkan lagi ialah bahwa “mukti” (najat/keselamatan) itu tergantung kepada “giyan” (ilmu makrifat) sedangkan “giyan” itu senantiasa hilang dengan meninggalnya orang itu.
      Tidak ada seorang  yang bagaimana  pun ‘alim (berilmu)  kependetaannya dan dalam penitisan hidup  sebagai apa saja yang lahir di dunia ini, ia   dapat  ingat sedikit pelajaran Weda, maka  hal ini  menyatakan bahwa orang tidak mungkin memperoleh najat (keselamatan) dengan perantaraan penitisan hidup yang berulang-ulang (re-inkarnasi).
       Begitu juga orang-orang laki-laki dan perempuan yang lahir di dunia ini menurut peraturan penitisan, mereka tidak disertai suatu daftar yang menyatakan pertalian kekeluargaan mereka, supaya jangan sampai orang keliru menikah dengan seorang gadis yang dalam hidupnya dahulu pernah berstatus saudara atau ibu terhadapnya.

Keburukan   Niyog  & Gambaran Keliru Mengenai Kesempurnaan Sifat-sifat Tuhan

     Disini kami terus terang menasihatkan kepada orang-orang Ariya supaya mereka secepat mungkin membuang  masalah niyog.  Batin manusia sekali-kali tidak akan mau menerima supaya seorang istri sejati yang mempunyai segala perhubungan yang sewajarnya dengan suaminya serta yang dihormati dan dicintai olehnya, tetapi demi untuk mendapatkan keturunan akan bersetubuh dengan laki-laki lain. Kami tak ingin menulis dengan panjang lebar tentang peristiwa ini dan hanya menyerahkan kepada keputusan conscience (batin sejati) dari tiap-tiap orang yang baik.
   Orang-orang Ariya yang  mempunyai kepercayaan macam itu sedang berusaha membujuk orang-orang Islam masuk ke dalam agama Ariya, maka kami katakan bahwa tiap-tiap yang berakal akan mau menerima kebenaran, tetapi pendirian (itikad) agama Ariya ini tidak benar.
    Allah Swt. memperlihatkan Diri-Nya dengan perantaraan Sifat-sifat  dan kekuasaan yang amat agung, tetapi kalau Dia tidak mempunyai sifat Khaliq (menciptakan) dan   kesempurnaan yang lainnya  lalu bagaimana  Dia dapat dikatakan  (disebut) Tuhan?
   Manusia dapat mengenal Allah dengan perantaraan Sifat-sifat dan kekuasaan-kekuasaan-Nya, tetapi kalau Dia tidak memiliki suatu kekuasaan serta  seperti manusia butuh  kepada bahan-bahan dan perkakas  maka  pintu untuk mengenal-Nya akan tertutup pula.
     Allah Swt.  patut disembah karena terbukti ada  pemberian-Nya dan kemurahan-Nya, tetapi kalau Dia tidak menciptakan ruh-ruh dan Dia tidak mempunyai sifat-sifat untuk memberikan karunia dan kemurahan kepada orang-orang yang bekerja atau usaha untuk itu   lalu untuk apa Tuhan semacam itu harus disembah?  
     Menurut penyelidikan Kami, orang-orang Ariya tidak dapat  mengemukakan suatu contoh yang baik dari agamanya. Mereka menganggap Tuhan begitu lemah dan pendendam, bahwa setelah Dia menghukum yang begitu banyak pun tetapi Dia tidak memberi najat  (keselamatan) yang kekal, dan kemurkaan-Nya tidak  ada habis-habisnya juga.
      Mereka pun menodai  kebudayaan bangsa dengan niyog yang mencemarkan pula martabat kaum  perempuan yang lemah itu, dan demikianlah mereka telah merusak hak-hak Allah serta hak-hak manusia kedua-duanya, karena dengan membatasi kekuasaan Tuhan menurut mereka sangat  dekat kepada  dahriat (atheisme), dan karena masalah niyog  maka  menurut kebudayaan mereka menyerupai suatu bangsa yang tidak patut diceritakan.
       
(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid

oo0oo

Pajajaran Anyar, 16   Maret  2017

Rabu, 15 Maret 2017

Pemberian "Izin" Allah Swt. Kepada Rasul Allah Untuk Melakukan "Syafaat" Menggugurkan Faham "Penebusan Dosa" Melalui "Kematian Terkutuk" Nabi Isa Ibnu Maryam di "Tiang Salib" & Khasiat Luar Biasa "Doa" Yang Dihasilkan "Makrifat Ilahi"





Bismillaahirrahmaanirrahiim

  ISLAM
Pidato  Mirza Ghulam Ahmad a.s.
Tgl. 2 November 1904 di Kota Sialkote – Hindustan

Bab  40

PEMBERIAN IZIN ALLAH SWT.  KEPADA RASUL ALLAH UNTUK  MELAKUKAN SYAFAAT  MENGGUGURKAN  FAHAM “PENEBUSAN DOSA” MELALUI “KEMATIAN TERKUTUK” NABI ISA IBNU MARYAM A.S. DI TIANG SALIB & KHASIAT LUARBIASA  DOA YANG DIHASILKAN   MAKRIFAT ILAHI

Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma 

D
alam bagian akhir Bab  sebelumnya telah dijelaskan  topik   Kehatian-hatian Pemberian Syafaat  sehubungan firman Allah Swt.:
یٰبَنِیۡۤ  اِسۡرَآءِیۡلَ اذۡکُرُوۡا نِعۡمَتِیَ الَّتِیۡۤ اَنۡعَمۡتُ عَلَیۡکُمۡ وَ اَنِّیۡ فَضَّلۡتُکُمۡ عَلَی الۡعٰلَمِیۡنَ ﴿﴾وَ اتَّقُوۡا یَوۡمًا لَّا تَجۡزِیۡ نَفۡسٌ عَنۡ نَّفۡسٍ شَیۡئًا وَّ لَا یُقۡبَلُ مِنۡہَا شَفَاعَۃٌ وَّ لَا یُؤۡخَذُ مِنۡہَا عَدۡلٌ وَّ لَا ہُمۡ یُنۡصَرُوۡنَ ﴿﴾
Hai Bani Israil,  ingatlah nikmat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepada kamu dan bahwa   Aku  telah memuliakan kamu atas seluruh bangsa.  Dan takutlah hari itu ketika   suatu jiwa tidak dapat menggantikan jiwa yang lainnya sedikit pun dan  tidak akan diterima untuknya  syafaat,  dan tidak akan diambil suatu te-busan  darinya dan tidak pula mereka akan ditolong. (Al-Baqarah [2]:48-49).
    Syafaat sebagaimana  dipahami oleh Islam, pada hakikatnya hanya merupakan bentuk lain dari permohonan pengampunan, sebab taubat (mohon pengampunan) berarti memperbaiki kembali perhubungan yang terputus atau mengencangkan apa yang sudah longgar. Maka jika pintu taubat tertutup oleh kematian, pintu syafaat tetap terbuka   sekali pun di alam akhirat.
Tambahan pula syafaat  adalah suatu cara untuk menjelmakan kasih-sayang Allah Swt.   dan karena Allah Swt.  bukanlah  hakim, melainkan Mālik (Pemilik dan Majikan), maka tidak ada yang dapat mencegah Dia dari memperlihatkan kasih-sayang-Nya kepada siapa pun yang dikehendaki-Nya.
   Dengan demikian jelaslah bahwa yang tetap berlangsung di dalam kehidupan di dunia dan di alam akhirat adalah pemberian syafaat  oleh Rasul Allah  -- terutama Nabi Besar Muhammad saw – dan  ajaran “penebusan dosa” melalui kematian terkutuk Nabi isa Ibnu Maryam a.s. di tiang salib  -- benar-benar sangat menghinakan  kesempurnaan Sifat-sifat Allah Swt., Tuhan Yang Maha Pengampun, firman-Nya: 
مَنۡ یَّشۡفَعۡ شَفَاعَۃً حَسَنَۃً یَّکُنۡ لَّہٗ نَصِیۡبٌ مِّنۡہَا ۚ وَ مَنۡ یَّشۡفَعۡ شَفَاعَۃً سَیِّئَۃً یَّکُنۡ لَّہٗ کِفۡلٌ مِّنۡہَا ؕ وَ کَانَ اللّٰہُ  عَلٰی کُلِّ  شَیۡءٍ  مُّقِیۡتًا ﴿﴾
Barangsiapa memberi syafaat yang baik,  bagi dia  pasti  ada bagian yang ditentukan darinya, dan barangsiapa memberi syafaat yang buruk  bagi dia pasti ada bagian yang sama darinya, dan Allah Maha Menguasai segala sesuatu. (An-Nisa [4]:86).
       Ayat itu menunjukkan bahwa pemberian syafaat atau rekomendasi (meng-usulkan kepada atasan untuk kepentingan orang bawahan) tidak boleh dianggap enteng; sebab  orang yang memberi syafaat bagi orang lain bertanggung jawab atas tindakannya. Jika syafaatnya benar dan adil, niscaya ia akan memperoleh ganjaran yang selayaknya; sebaliknya akan diminta pertanggungjawaban atas segala akibat-akibatnya yang buruk.

Pemberi Syafaat Hakiki Hanyalah  Rasul Allah &  Makna “Hari Itu

       Selanjutnya, patut dicatat bahwa sehubungan dengan “syafaat baik” kata yang dipergunakannya ialah nashib (bagian atau bagian yang ditentukan), sedangkan sehubungan dengan “syafaat jahat” kata yang dipergunakan adalah kifl (bagian yang sama). Hal ini menjelaskan bahwa kalau hukuman untuk syafaat jahat hanya akan diberikan setimpal dengan itu, maka ganjaran yang baik untuk syafaat yang baik tidak mendapat pembatasan demikian, melainkan akan sebanyak yang ditetapkan Allah Swt.   yakni  sepuluh kali lipat besarnya.
        Menurut Allah Swt. dalam ayat Kursy (QS.2:256) bahwa hanya Rasul Allah mendapat izin-Nya sajalah yang  dapat  memberikan syafaat kepada orang lain, firman-Nya: مَنۡ ذَا الَّذِیۡ یَشۡفَعُ  عِنۡدَہٗۤ  اِلَّا بِاِذۡنِہٖ  --   Siapakah yang dapat memberi syafaat di hadirat-Nya kecuali dengan izin-Nya
      Itulah makna ayat:  مِّنۡ قَبۡلِ اَنۡ یَّاۡتِیَ یَوۡمٌ لَّا بَیۡعٌ فِیۡہِ وَ لَا خُلَّۃٌ وَّ لَا شَفَاعَۃٌ  -- “sebelum datang hari yang tidak ada jual-beli  di dalamnya, dan  tidak ada   persahabatan, dan  tidak pula syafaat.“  dalam firman-Nya:
یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡۤا اَنۡفِقُوۡا مِمَّا رَزَقۡنٰکُمۡ مِّنۡ قَبۡلِ اَنۡ یَّاۡتِیَ یَوۡمٌ لَّا بَیۡعٌ فِیۡہِ وَ لَا خُلَّۃٌ وَّ لَا شَفَاعَۃٌ ؕ وَ الۡکٰفِرُوۡنَ ہُمُ  الظّٰلِمُوۡنَ ﴿﴾
Hai orang-orang yang beriman,  belanjakanlah apa yang telah Kami rezekikan kepada kamu sebelum datang hari yang tidak ada jual-beli  di dalamnya, dan  tidak ada   persahabatan, dan  tidak pula syafaat,  dan orang-orang yang kafir  mereka itulah orang-orang  zalim. (Al-Baqarah [2]:255).
        “Hari itu” adalah hari  pengutusan  rasul Allah yang  kedatangannya dijanjikan Allah Swt., termasuk di Akhir  Zaman ini (QS.7:35-37; QS.62:3-4), firman-Nya: 
وَ لِکُلِّ اُمَّۃٍ  اَجَلٌ ۚ فَاِذَا  جَآءَ  اَجَلُہُمۡ  لَا یَسۡتَاۡخِرُوۡنَ سَاعَۃً  وَّ لَا یَسۡتَقۡدِمُوۡنَ ﴿﴾  یٰبَنِیۡۤ  اٰدَمَ  اِمَّا یَاۡتِیَنَّکُمۡ رُسُلٌ مِّنۡکُمۡ یَقُصُّوۡنَ عَلَیۡکُمۡ اٰیٰتِیۡ ۙ فَمَنِ اتَّقٰی وَ اَصۡلَحَ فَلَا خَوۡفٌ عَلَیۡہِمۡ وَ لَا ہُمۡ یَحۡزَنُوۡنَ ﴿﴾  وَ الَّذِیۡنَ کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا وَ اسۡتَکۡبَرُوۡا عَنۡہَاۤ  اُولٰٓئِکَ اَصۡحٰبُ النَّارِ ۚ ہُمۡ فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ ﴿﴾   
Dan bagi  tiap-tiap umat ada batas waktu, maka apabila telah datang batas waktunya, mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak pula dapat memajukannya.  Wahai Bani Adam, jika datang kepada kamu  rasul-rasul dari antara kamu yang menceritakan  Ayat-ayat-Ku kepada kamu, maka barangsiapa bertakwa dan memperbaiki diri, tidak akan ada ketakutan menimpa mereka dan tidak pula mereka akan bersedih hati.  Dan  orang-orang yang mendustakan Ayat-ayat Kami dan dengan takabur berpaling  darinya, mereka itu penghuni Api, mereka kekal di dalamnya. (Al-Arāf [7]:35-37).

Peringatan  Bagi Umat Islam di Akhir Zaman

       Sejalan dengan peringatan Allah Swt. kepada Bani Adam – yakni umat manusia hingga Hari Kiamat nanti --  berkenan pentingnya keberadaan pemberi syafaat  yang mendapat izin dari Allah Swt.  – yakni Rasul Allah  --  dalam Bab sebelumnya Masih Mau’ud a.s. menjelaskan:      
     “Ada pun sebagian orang-orang yang berpendapat bahwa mereka tidak  perlu mempercayai (beriman) kepada Masih Mau’ud. Mereka mengatakan pula, “Baiklah kami menerima bahwa Nabi Isa a.s. telah wafat, tetapi jika kami adalah orang Islam yang mengerjakan shalat dan puasa  serta  mengikuti perintah-perintah Islam, lalu apakah perlunya kami mesti mempercayai (beriman) kepada orang lain?”
      Tetapi harus diperhatikan bahwa orang-orang semacam  itu dalam kesalahan besar. Pertama, bagaimanakah mereka dapat mengaku diri   Islam (Muslim) jika mereka tidak mengikuti perintah Allah Swt. dan Rasul-Nya? Perintah Allah Swt. dan Rasul-Nya menyatakan bahwa apabila Imam Mau’ud (Imam yang dijanjikan)  telah datang maka kalian dengan segara harus menghadap kepadanya, sekali pun dengan merangkak di atas gunung es kalian harus menemuinya. Tetapi berlawanan dengan perintah Ilahi tersebut sekarang mereka tidak mempedulikan  Imam Mau’ud itu, apakah inilah yang dikatakan Islam (Muslim) (orang Islam) dan ke-Islam-an?
       Bukan hanya begitu saja, malah Masih Mau’ud itu dicaci-maki dengan perkataan yang kotor-kotor serta dinamakan kafir dan dajjal.  Bahkan orang-orang melawan dan menyusahkan saya dengan anggapan bahwa mereka mendapat pahala besar, dan mereka mendustakan saya dengan anggapan bahwa Allah akan senang terhadap mereka.
      Hai orang-orang yang telah diberi pelajaran untuk sabar dan takwa,  mengapa kalian tergesa-gesa dan berprasangka? Tanda manakah yang tidak diperlihatkan oleh Allah Swt.  dan keterangan manakah yang tidak dikemukakan oleh-Nya?   Tetapi kalian tidak menerimanya dan  dengan berani menolak hukum-hukum Allah Swt.. Dengan siapa  saya mesti mengumpamakan tukang helah dan makar zaman sekarang?
       Mereka adalah seperti seorang pengicu yang menutup matanya di waktu siang hari yang terang benderang dengan mengatakan, “Dimanakah matahari?” Hai orang-orang yang menipu diri sendiri, terlebih dulu bukalah mata sendiri kemudian barulah kalian akan melihat matahari.”

Pentingnya   fadhal (Karunia) Ilahi   Untuk Memperoleh Makrifat  Ilahi yang Hakiki

      Mengatakan kafir kepada seorang rasul Allah adalah mudah, tetapi mengikutinya dalam jalan-jalan yang halus keimanan adalah musykil. Menyebut seorang utusan Allah dajjal adalah mudah, tetapi masuk dalam pintu yang sempit sesuai ajarannya adalah sukar.
      Tiap-tiap orang yang mengatakan bahwa ia tidak menghiraukan Masih Mau’ud sebenarnya ia tidak menghiraukan keimanannya sendiri, orang-orang semacam itu tidak menghargai iman, najat (keselamatan) dan kesucian yang sebenarnya. Kalau mereka menggunakan sifat keadilan dan mempelajari keadaan batin mereka sendiri barulah mereka akan mengetahui bahwa kecuali keyakinan yang baru dan hidup  -- yang turun dari langit dengan perantaraan para nabi dan para rasul-Nya   -- maka   shalat mereka hanya menyerupai suatu adat kebiasaan saja, dan puasa-puasa mereka pun hanyalah berlapar belaka.
       Sebenarnya seseorang tidak adan dapat lepas dari dosa dengan sebenarnya dan tidak akan memperoleh kecintaan  Ilahi yang sejati, dan tidak bertakwa kepada Allah dengan semestinya, sebelum mendapat makrifat Ilahi (pengetahuan Ilahi) dengan fadhal-Nya (karunia-Nya) serta taufik dari-Nya.
     Hal ini jelas sekali bahwa tiap-tiap ketakutan dan kecintaan  kan timbul karena makrifat juga. Barang-barang di dunia ini ada yang dicintai manusia dan ada pula yang ditakuti manusia, semua keadaan ini akan timbul dalam batin manusia sesudah makrifat juga.
      Memang sebenarnya tidak dapat diperoleh makrifat sebelum ada fadhal (karunia) dari Allah Swt., dan tidak akan mendapat manfaat pula kalau tidak ada fadhal dari-Nya. Makrifat akan datang dengan perantaraan fadhal (karunia), kemudian dengan perantaraan makrifat akan terbukalah suatu pintu untuk menyelidiki dan menyaksikan kebenaran dan haq, lagi pula hanya dengan berulang-ulang datangnya fadhal sajalah pintu akan senantiasa terbuka dan tidak akan tertutup.
       Pendek kata, makrifat akan diberikan dengan perantaraan fadhal dan akan kekal dengan perantaraan fadhal juga. Hanya fadhal yang membersihkan dan menerangi makrifat, membukakan segala tutup yang menghalangi, menjauhkan debu dan kotoran nafsu ammarah dan memberikan kehidupan serta kekuatan pada ruh. Maka fadhal pula yang melepaskan nafsu ammarah dari ikatan kemarahannya, membersihkan dari kekotoran kehendak yang jahat, dan mengeluarkan arus yang keras dari perasaan  kenafsuan, kemudian barulah timbul satu perubahan dalam batin manusia, lantas dengan sendirinya ia jemu dan benci kepada kehidupan yang kotor.  

Munculnya Doa yang Hakiki Melalui Makrifat Ilahi

       Setelah keadaan  tersebut lalu gerak pertama yang terjadi karena fadhal dalam ruh manusia ialah doa. Jangan keliru,  bahwa kita pun setiap hari berdoa, dan shalat pun doa juga yang kita kerjakan, karena doa yang timbul setelah makrifat dan dengan perantaraan fadhal Ilahi adalah lain dalam sifat dan keadaannya.
      Itulah suatu barang yang dapat menghancurkan, suatu api yang dapat membakar, suatu magnit untuk menarik kepada rahmat Ilahi, suatu maut (kematian) yang akhirnya akan menghidupkan dan suatu taufan banjir yang akirnya akan menjadi perahu. Tiap-tiap urusan yang telah rusak dapat diperbaiki dengan itu dan tiap-tiap racun akhirnya menjadi obat karena itu.
      Berbahagialah tawanan yang berdoa dengan tidak mengenal jemu dan lelah karena mereka akan dibebaskan pada suatu waktu. Berbahagialah orang-orang  buta yang tidak lalai dalam doa karena mereka akan mulai melihat pada suatu waktu. Berbahagialah orang-orang dalam kuburan yang memohon pertolongan Ilahi dengan doa karena pada suatu saat mereka akan dikeluarkan dari kuburan itu.
      Berbahagialah kamu apabila kamu tidak mengenal lelah dan payah untuk berdoa, ruh kamu lebur-lelah untuk berdoa, mata kamu mengalirkan air mata dan akan menyalakan suatu api dalam dada kamu.
       Untuk mendapatkan rasa kecintaan dan suasana terpisah dari menyendiri kamu dibawa ke sudut-sudut yang gelap dan  ke hutan-hutan yang sunyi senyap dan membikin kamu menjadi gelisah, pandir dan lupa diri karena  akhirnya  akan dibukakan fadhal (karunia) Ilahi kepada kamu.
       Kami  hanya mengajak kalian kepada-Nya Yang adalah   Pemurah, Pengasih,  Penyantun, Benar, Setia dan  Penyayang kepada yang tidak berdaya, maka kalian pun harus setia dan berdoa dengan penuh kejujuran dan kesetiaan supaya Dia pun akan kasihan kepada kalian.
      Pisahkanlah kalian dari keributan dan kekacauan  dunia ini, agama janganlah kamu warnai dengan rona kenafsuan. Kalahkanlah diri kalian karena Allah dan terimalah kekalahan supaya  kalian menjadi waris dari kemenangan-kemenangan yang besar. Orang-orang yang berdoa akan diperlihatkan mukjijat oleh Allah Swt. dan orang-orang yang memohon akan diberi nikmat luar biasa.
    Doa itu datang dari Allah Swt.  dan kembali pula kepada-Nya. Dengan perantaraan  doa Allah Swt. menjadi dekat seperti juga jiwa  kalian dekat kepada  kalian. Nikmat yang pertama dari doa ialah manusia mendapat perubahan suci di dalam dirinya, kemudian karena perubahan itu Allah Swt. pun merubah Sifat-sifat-Nya.
        Sifat-sifat Allah Swt. sendiri tidak pernah berubah, tetapi untuk orang yang  telah mendapat perubahan itu  Dia menampakkan  Sifat-sifat-Nya dengan suatu cara yang lain lagi yang tidak diketahui oleh dunia, seolah-olah Dia adalah Tuhan yang lain (baru) padahal tidak ada Tuhan yang lain, hanya penampakan (tajalli) yang baru menyatakan Dia dalam keadaan yang baru. Kemudian dalam keadaan penampakkan (tajalli) yang khas itu Dia mengerjakan hal-hal untuk orang yang telah beroleh perubahan yang suci itu yang tidak dikerjakan untuk orang-orang lain, inilah yang dikatakan hal luar-biasa (mukjizat).

Shalat Ruhani Harus Mengiringi Shalat Jasmani

      Pendek kata, doa adalah suatu obat yang sangat aksir (mujarab dan mustajab) yang membuat segumpal tanah  menjadi suatu barang yang tak ternilai harganya, dan itulah suatu air yang membersihkan segala kekotoran batin. Dengan doa itulah ruh manusia hancur-luluh dan mengalir seperti air ke hadapan istana Tauhid Ilahi, begitu ruh itu berdiri pula di hadapan Allah Swt. lalu berukuk dan bersujud pula.
        Sebagai zhill (bayangan) dari kaifiat ruh inilah diadakan shalat yang diajarkan oleh Islam.  Berdirinya (qiyamnya) ruh itu bermaksud bahwa ia telah setiap sedia untuk menderita segala musibat di jalan Allah dan mengikuti segala perintah-Nya. Rukuknya ruh itu berarti  bahwa ia condong kepada Allah Swt. dengan melepaskan segala kecintaan dan pertalian-pertalian yang lain dan menjadi tunduk  kepada Allah untuk selama-lamanya. Sujudnya ruh itu bermaksud bahwa ia menjatuhkan diri di hadapan istana Ilahi dengan menghilangkan diri pribadi serta menghapuskan segala pola dirinya.
       Demikianlah shalat yang mempertemukan manusia dengan Allah Swt., dan syariat Islam telah menggambarkan segenap kaifiat shalat ruh ini dalam shalat yang lazim dikerjakan sehari-hari supaya shalat yang zahir ini akan menggerakkan dan mendorong kepada shalat ruhani tersebut.
      Allah Swt. telah menjadikan umat manusia sedemikian rupa bahwa ruh senantiasa memberi bekas  dan pengaruh kepada tubuh,   begitu pula tubuh memberi bekas dan pengaruh kepada  ruh. Kalau ruh kalian  berdukacita (sedih) kemudian mata pun akan mengalirkan air mata, dan apabila ruh kalian  senang lalu  dari air muka pun akan nampak riang gembira, malah kadang-kadang mulai tertawa pula.
       Begitu pula jika tubuh menderita sesuatu kesakitan dan kesusahan maka ruh pun akan ikut-serta dalam penderitaan tersebut.  Apabila tubuh mendapat kesenangan dari suatu hawa yang sejuk niscaya ruh  juga akan merasakan lezatnya. Maka ibadah yang  zahir  ini bermaksud bahwa pertalian antara tubuh dengan ruh dapat menggerakkan ruh manusia ke hadapan Allah Swt. supaya menyilahkan diri dalam menjalankan qiyam (berdiri), rukuk dan sujud dengan sebenarnya.
      Untuk kemajuan manusia  membutuhkan mujahadah (perjuangan)  dan shalat pun suatu mujahadah pula. Mudah difahami bahwa apabila dua barang telah terikat satu sama lain lalu dengan mengangkat salah satu barang tersebut maka yang lainnya akan ikut serta bergerak juga, demikian juga halnya tubuh dengan ruh.  Tetapi hanya sekedar qiyam ( berdiri), rukuk dan sujud dengan tubuh zahir saja tidak akan berfaedah kalau tidak diusahakan supaya ruh juga ikut qiyam, rukuk dan sujud, sedangkan hal ini tergantung kepada makrifat, dan makrifat tergantung kepada fadhal (karunia ) Ilahi.

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid

oo0oo
Pajajaran Anyar, 14   Maret  2017