Selasa, 28 Februari 2017

Cara yang Benar "Mewarisi" Kembali "Palestina" & Hubungan Pewarisan "Negeri yang Dijanjikan" (Palestina) Dengan "Hamba-hamba Allah" yang Mewarisi "Kehidupan Surgawi" di Dunia





Bismillaahirrahmaanirrahiim

  ISLAM
Pidato  Mirza Ghulam Ahmad a.s.
Tgl. 2 November 1904 di Kota Sialkote – Hindustan

Bab  30

CARA YANG BENAR MEWARISI KEMBALI  PALESTINA & HUBUNGAN PEWARISAN “NEGERI YANG DIJANJIKAN” (PALESTINA) DENGAN “HAMBA-HAMBA ALLAH” YANG MEWARISI “KEHIDUPAN SURGAWI” DI DUNIA

Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam bagian akhir Bab 29 telah dijelaskan  topik  Kembalinya Kaum Yahudi Ke Palestina  dari Pengembaraan Selama 2000 Tahun & Berdirinya “Negara Israel. Sebelumnya telah dijelaskan  bahwa walau pun  bangsa-bangsa Kristen dari Barat – sejak zaman kerajaan Romawi dipimpin  Kaisar  Constantine  sampai  saat ini – bukanlah pengikut ajaran asli Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. melainkan pengikut ajaran Paulus (QS.7:170) yang mempercayai “Trinitas” dan “penebusan dosa” melalui “kematian terkutuk” Nabi Isa Ibnu Maryam di tiang salib, tetapi mereka telah dijadikan  Allah Swt. sebagai “sarana” untuk menghukum umat Islam  yang kedua kali di Akhir Zaman, sebab mereka pulalah yang memungkinkan kaum Yahudi -- yang selama 2000 tahun tercerai-berai di luar “Palestina”  -- dapat  kembali ke Palestina dan mendirikan “negara Israel” di wilayah Palestina,  firman-Nya:
وَّ قُلۡنَا مِنۡۢ بَعۡدِہٖ  لِبَنِیۡۤ  اِسۡرَآءِیۡلَ اسۡکُنُوا الۡاَرۡضَ فَاِذَا جَآءَ وَعۡدُ الۡاٰخِرَۃِ  جِئۡنَا بِکُمۡ  لَفِیۡفًا ﴿﴾ؕ
Dan setelah dia, yakni Fir’aun, Kami berfirman kepada Bani Israil:  Tinggallah di negeri yang dijanjikan itu, dan apabila janji mengenai Akhir Zaman tiba  Kami akan menghimpun kamu semuanya dari antara berbagai bangsa.” (Bani Israil [17]:105).
        Ayat ini mengandung arti bahwa seperti orang-orang Yahudi, demikian pula umat Islam pun dua kali akan menderita bencana nasional. Yang pertama dari kedua bencana ini menimpa umat Islam ketika kota Baghdad jatuh kepada kekuasaan bangsa Tartar dan Mongol di bawah pimpinan Hulaku Khan.
        Umat Islam dalam ayat ini diperingatkan Allah Swt. bahwa mereka akan ditimpa azab Ilahi untuk kedua kali di Akhir Zaman  -- yakni di masa Masih Mau’ud a.s. seperti orang-orang Yahudi diberi hukuman di zaman Al-Masih pertama - Nabi Isa Ibnu Maryam a.s..
         Ayat ini berarti, bahwa manakala umat Islam akan dihukum untuk kedua kalinya  -- yang berarti sempurnanya “janji mengenai Akhir Zaman”  -- maka orang-orang Yahudi yang tercerai-berai di berbagai wilayah dunia akan dihimpun kembali di tanah suci (Palestina).
       Nubuatan ini telah menjadi sempurna dengan cara yang luar biasa dengan kembalinya orang-orang Yahudi ke Palestina  -- dengan perantaraan  “Balfour Declaration” (Pernyataan Balfour) yang disponsori negara-negara Kristen Eropa, terutama Inggris   -- dengan didirikannya apa yang dikatakan Negara Israil. Jadi,  Janji mengenai Akhir Zaman” itu bertalian dengan masa Masih Mau’ud a.s. atau Isa Al-Masih Akhir Zaman a.s.   (Bayan).

Bukti  Benarnya Larangan Allah Swt. dalam Surah  Al-Māidah Ayat 52

       Dengan demikian benarlah peringatan Allah Swt. yang dikemukakan dalam firman-Nya berikut ini:
یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا لَا تَتَّخِذُوا الۡیَہُوۡدَ وَ النَّصٰرٰۤی اَوۡلِیَآءَ ۘؔ بَعۡضُہُمۡ اَوۡلِیَآءُ بَعۡضٍ ؕ وَ مَنۡ  یَّتَوَلَّہُمۡ  مِّنۡکُمۡ فَاِنَّہٗ  مِنۡہُمۡ ؕ اِنَّ اللّٰہَ  لَا یَہۡدِی الۡقَوۡمَ  الظّٰلِمِیۡنَ ﴿﴾  
Hai orang-orang yang beriman!  Janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan orang-orang Nasrani menjadi  wali (pelindung/sahabat),  sebagian mereka adalah penolong sebagian lainnya.  Dan barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pelindung-pelindung maka sesungguhnya ia dari mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang zalim. (Al-Māidah [5]:52). Lihat pula QS.3:29 & 119-121; QS.4:145; QS.5:58; QS.60:9-10.
        Dalam QS.5:52 orang-orang Islam dilarang bersahabat dengan orang-orang kafir – dengan mengenyampingkan sesama Muslim (QS.3:29 & 119-121; QS.4:145) --   karena sikap tidak bersahabat mereka itu dan karena mereka secara aktif  memerangi umat Islam. Ayat ini memberikan alasan perintah itu, tetapi hal itu tidak berarti bahwa orang-orang Islam dihalang-halangi (dilarang) mempunyai hubungan bersahabat dalam bentuk bagaimanapun dengan orang-orang kafir atau berbuat baik terhadap mereka dan memperlakukan mereka itu dengan baik (QS.60:9-10).
        Salah satu alasan larangan Allah Swt. tersebut adalah karena walau pun antara orang-orang Yahudi dan Nasrani (Kristen)  bertentangan pendapat mengenai Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.  – bahkan saling mengkafirkan  (QS.2:114) -- tetapi jika menghadapi umat Islam mereka akan melupakan pertentangan di antara mereka (QS.2:121).
         Contohnya yang nyata adalah kembalinya  orang-orang Yahudi ke Palestina  dari pengembaraan mereka selama 2000 tahun di berbagai wilayah dunia (QS.17:105) sejak mendapat kutukan dari Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (QS.5:80) dan mereka   mendirikan “negara Israel”, padahal Allah Swt. menyatakan bawa “Palestina” (Kanaan)  -- yakni “negeri yang dijanjikan” hanya akan diwarisi oleh “hamba-hamba-Nya yang shaleh”, frman-Nya:
وَ لَقَدۡ کَتَبۡنَا فِی الزَّبُوۡرِ مِنۡۢ بَعۡدِ الذِّکۡرِ اَنَّ الۡاَرۡضَ یَرِثُہَا عِبَادِیَ الصّٰلِحُوۡنَ ﴿﴾ اِنَّ فِیۡ ہٰذَا لَبَلٰغًا لِّقَوۡمٍ  عٰبِدِیۡنَ ﴿﴾ؕ وَ مَاۤ  اَرۡسَلۡنٰکَ اِلَّا رَحۡمَۃً  لِّلۡعٰلَمِیۡنَ ﴿﴾
Dan  sungguh Kami benar-benar telah menuliskan dalam  Kitab Zabur sesudah pemberi peringatan itu,    bahwa negeri itu akan diwarisi oleh hamba-hamba-Ku yang shalih.   Sesungguhnya dalam hal ini ada suatu amanat bagi kaum yang beribadah.   Dan  Kami sekali-kali tidak mengutus engkau melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.   (Al-Anbiya [21]:106-108).

Tanda “Hamba-hamba Allah” yang Hakiki

         Yang dimaksud dengan “bumi itu” adalah Palestina atau Kanaan – yakni “negeri yang dijanjikan”. Para pujangga Kristen menafsirkan juga kata-kata “bumi itu akan dipusakai” atau “tanah itu akan dipusakai” dalam Mazmur dalam artian mewarisi Kanaan menurut “janji dalam perjanjian Tuhan".
  Isyarat dalam kata-kata   dalam kitab Daud” pada ayat   “Dan  sungguh Kami benar-benar telah menuliskan dalam  Kitab Zabur” ditujukan kepada Mazmur 37:9, 11, 22, dan 29. Terdapat pula suatu nubuatan dalam Kitab Ulangan (28:11 dan 34:4) bahwa negeri Palestina akan diberikan kepada Bani Israil. Walau pun mereka sempat menolak memasukinya karena takut kepada kaum-kaum yang berada di dalamnya (QS.5:21-27).
         Palestina tetap di tangan bangsa Kristen – yakni kerajaan Romawi Timur   -- hingga orang Islam menaklukkannya di masa khilafat   Umar bin Khaththab  r.a., Khalifah ke-II  Nabi Besar Muhammad saw.. Nubuatan yang terkandung dalam ayat ini, rupanya menunjuk kepada penaklukan Palestina tersebut oleh lasykar Islam.
        Palestina tetap berada di bawah kekuasaan umat Islam selama kira-kira 1350 tahun - kecuali satu masa pendek yang lamanya 92 tahun, ketika di zaman peperangan salib kekuasaan telah berpindah-tangan — hingga dalam masa kita ini sebagai akibat rencana-rencana buruk dari beberapa kekuasaan barat yang disebut demokrasi, negeri bernama Palestina itu sama sekali tidak berwujud dan di atas puing-puingnya didirikan negara Israel.
        Orang-orang Yahudi kembali setelah mengembara selama hampir 2000 tahun. Tetapi peristiwa sejarah yang besar ini telah terjadi sebagai pemenuhan suatu nubuatan Al-Quran (QS.17:105). Tetapi hal ini hanya merupakan satu babak sementara saja. Orang-orang Islam telah ditakdirkan akan menguasainya kembali. Cepat atau lambat — malahan lebih cepat daripada lambat - Palestina akan kembali menjadi milik Islam. Hal ini merupakan keputusan Allah Swt.  dan tidak ada seorang pun dapat mengubah keputusan Allah Swt., firman-Nya:
وَ لَقَدۡ کَتَبۡنَا فِی الزَّبُوۡرِ مِنۡۢ بَعۡدِ الذِّکۡرِ اَنَّ الۡاَرۡضَ یَرِثُہَا عِبَادِیَ الصّٰلِحُوۡنَ ﴿﴾
Dan  sungguh Kami benar-benar telah menuliskan dalam  Kitab Zabur sesudah pemberi peringatan itu, اَنَّ الۡاَرۡضَ یَرِثُہَا عِبَادِیَ الصّٰلِحُوۡنَ --  bahwa negeri itu akan diwarisi oleh hamba-hamba-Ku yang shalih.    (Al-Anbiya [21]:106).
        Pertanyaannya adalah: Siapakah yang dimaksud dengan “hamba-hamba-Ku yang shalih” dalam ayat tersebut? Dijawab oleh Allah Swt. sendiri dalam ayat selanjutnya, firman-Nya:   Sesungguhnya dalam hal ini ada suatu amanat bagi kaum yang beribadah.    Dan  Kami sekali-kali tidak mengutus engkau melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.   (Al-Anbiya [21]:106-108).
       Makna  "kaum yang beribadah" dalam ayat   “Sesungguhnya dalam hal ini ada suatu amanat bagi kaum yang beribadah” bukan sekedar melakukan ‘ibadah atau ritual keagamaan belaka, sebab  ketika orang-orang Yahudi kembali ke wilayah Palestina pun umumnya umat Islam di wilayah Timur Tengah tetap ritual-ritual  yang diajarkan agama Islam (Al-Quran), namun dalam kenyataannya mengapa mereka tidak dapat menggagalkan kembalinya orang-orang Yahudi ke wilayah Palestina dan hingga saat ini “negara Israel” masih berdiri di sana walau pun perlawanan umat Islam di sana terhadap mereka terus berlangsung hingga hari ini?

Dua Golongan “Orang Kafir” &  Arti Lain “Orang-orang Musyrik

          Dengan demikian jelaslah bahwa yang dimaksud  "kaum yang beribadah"  ayat:   “Sesungguhnya dalam hal ini ada suatu amanat bagi kaum yang beribadah” adalah   orang-orang yang  yang beribadah kepada Allah Swt. dengan tulus-ikhlas dan dengan lurus, dan ibadah yang seperti itu hal tersebut hanya diajarkan oleh rasul Allah yang kedatangannya dijanjikan Allah Swt.,  firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿﴾  لَمۡ  یَکُنِ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا  مِنۡ  اَہۡلِ الۡکِتٰبِ وَ الۡمُشۡرِکِیۡنَ مُنۡفَکِّیۡنَ حَتّٰی تَاۡتِیَہُمُ  الۡبَیِّنَۃُ ۙ﴿﴾ رَسُوۡلٌ مِّنَ اللّٰہِ یَتۡلُوۡا صُحُفًا مُّطَہَّرَۃً  ۙ﴿﴾  فِیۡہَا کُتُبٌ قَیِّمَۃٌ ؕ﴿﴾  وَ مَا تَفَرَّقَ الَّذِیۡنَ اُوۡتُوا الۡکِتٰبَ  اِلَّا مِنۡۢ  بَعۡدِ مَا جَآءَتۡہُمُ  الۡبَیِّنَۃُ ؕ﴿﴾   وَ مَاۤ  اُمِرُوۡۤا  اِلَّا لِیَعۡبُدُوا اللّٰہَ مُخۡلِصِیۡنَ لَہُ  الدِّیۡنَ ۬ۙ حُنَفَآءَ وَ یُقِیۡمُوا الصَّلٰوۃَ  وَ یُؤۡتُوا الزَّکٰوۃَ    وَ ذٰلِکَ دِیۡنُ الۡقَیِّمَۃِ ؕ﴿﴾  اِنَّ  الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا مِنۡ اَہۡلِ الۡکِتٰبِ وَ الۡمُشۡرِکِیۡنَ فِیۡ  نَارِ جَہَنَّمَ خٰلِدِیۡنَ فِیۡہَا ؕ اُولٰٓئِکَ ہُمۡ شَرُّ الۡبَرِیَّۃِ ؕ﴿﴾  اِنَّ  الَّذِیۡنَ  اٰمَنُوۡا وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ ۙ اُولٰٓئِکَ ہُمۡ خَیۡرُ الۡبَرِیَّۃِ ؕ﴿﴾  جَزَآؤُہُمۡ عِنۡدَ  رَبِّہِمۡ جَنّٰتُ عَدۡنٍ تَجۡرِیۡ مِنۡ تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ خٰلِدِیۡنَ فِیۡہَاۤ  اَبَدًا ؕ رَضِیَ اللّٰہُ  عَنۡہُمۡ وَ رَضُوۡا عَنۡہُ ؕ ذٰلِکَ لِمَنۡ خَشِیَ رَبَّہٗ ٪﴿﴾
Aku baca dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.  Orang-orang kafir dari Ahli-kitab dan orang-orang musyrik- tidak akan berhenti dari kekafiran   حَتّٰی تَاۡتِیَہُمُ  الۡبَیِّنَۃُ     -- hingga datang  mereka bukti yang nyata, رَسُوۡلٌ مِّنَ اللّٰہِ یَتۡلُوۡا صُحُفًا مُّطَہَّرَۃً    --   Seorang rasul dari Allah yang membacakan lembaran-lembaran suci,  فِیۡہَا کُتُبٌ قَیِّمَۃٌ --   yang di dalamnya ada perintah-perintah abadi. وَ مَا تَفَرَّقَ الَّذِیۡنَ اُوۡتُوا الۡکِتٰبَ  اِلَّا مِنۡۢ  بَعۡدِ مَا جَآءَتۡہُمُ  الۡبَیِّنَۃُ ؕ﴿﴾  --  Dan  orang-orang yang diberi Kitab  tidak berpecah-belah kecuali setelah datang kepada mereka bukti yang nyata.  وَ مَاۤ  اُمِرُوۡۤا  اِلَّا لِیَعۡبُدُوا اللّٰہَ مُخۡلِصِیۡنَ لَہُ  الدِّیۡنَ ۬ۙ حُنَفَآءَ وَ یُقِیۡمُوا الصَّلٰوۃَ  وَ یُؤۡتُوا الزَّکٰوۃَ وَ ذٰلِکَ دِیۡنُ الۡقَیِّمَۃِ --    Padahal mereka tidak diperintahkan melainkan supaya beribadah kepada Allah dengan tulus ikhlas dalam ketaatan kepada-Nya  dan dengan lurus, serta mendirikan shalat dan membayar zakat,  وَ ذٰلِکَ دِیۡنُ الۡقَیِّمَۃِ ؕ  -- dan itulah agama yang lurus.  اِنَّ  الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا مِنۡ اَہۡلِ الۡکِتٰبِ وَ الۡمُشۡرِکِیۡنَ فِیۡ  نَارِ جَہَنَّمَ خٰلِدِیۡنَ فِیۡہَا ؕ  --  Sesungguhnya orang-orang  kafir dari antara Ahlikitab dan orang-orang musyrik akan berada dalam Api Jahannam, mereka kekal di dalamnya. اُولٰٓئِکَ ہُمۡ شَرُّ الۡبَرِیَّۃِ --  Mereka itulah seburuk-buruk makhluk.  اِنَّ  الَّذِیۡنَ  اٰمَنُوۡا وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ  --  Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh اُولٰٓئِکَ ہُمۡ خَیۡرُ الۡبَرِیَّۃِ --  mereka itu sebaik-baik makhluk.    جَزَآؤُہُمۡ عِنۡدَ  رَبِّہِمۡ جَنّٰتُ عَدۡنٍ تَجۡرِیۡ مِنۡ تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ خٰلِدِیۡنَ فِیۡہَاۤ  اَبَدًا  --  Ganjaran mereka ada di sisi Rabb (Tuhan) mereka,  kebun-kebun abadi, yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya untuk selama-lamanya. رَضِیَ اللّٰہُ  عَنۡہُمۡ وَ رَضُوۡا عَنۡہُ --  Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya.  ذٰلِکَ لِمَنۡ خَشِیَ رَبَّہٗ  --   Itulah balasan bagi orang yang takut kepada Rabb-nya (Tuhan-nya). (Al-Bayyinah [98]:1-9).
      Al-Quran telah membagi semua orang kafir dalam dua golongan – yaitu Ahlikitab dan orang-orang musyrik (mereka yang tidak percaya kepada sesuatu Kitab Suci).  Tetapi menurut Al-Quran yang dimaksud “orang-orang musyrik” bukan hanya orang-orang yang menyembah berbagai bentuk berhala  tetapi juga orang-orang yang memecah-belah agama  dan umat beragama (QS.30:31-33).

Pentingnya Beriman Kepada “Bayyinah” (Rasul Allah) & Arti “Ad-Dīn

    Dalam ayat selanjutnya dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan “bayyinah” (bukti yang nyata) adalah rasul Allah yang kedatangannya dijanjikan Allah Swt. (QS.7:35-37), terutama Nabi Besar Muhammad saw.: حَتّٰی تَاۡتِیَہُمُ  الۡبَیِّنَۃُ     -- hingga datang  mereka bukti yang nyata, رَسُوۡلٌ مِّنَ اللّٰہِ یَتۡلُوۡا صُحُفًا مُّطَہَّرَۃً    --   Seorang rasul dari Allah yang membacakan lembaran-lembaran suci,  فِیۡہَا کُتُبٌ قَیِّمَۃٌ --   yang di dalamnya ada perintah-perintah abadi.
     Makna ayat: فِیۡہَا کُتُبٌ قَیِّمَۃٌ --   yang di dalamnya ada perintah-perintah abadi” bahwa Al-Quran berisikan secara ikhtisar segala sesuatu yang baik, kekal, dan tidak termusnahkan, yang terkandung di dalam ajaran-ajaran Kitab-kitab Suci terdahulu, dengan imbuhan banyak ajaran yang tidak terdapat pada Kitab-kitab itu tetapi sangat diperlukan manusia guna perkembangan akhlak dan ruhaninya.
    Semua cita-cita, asas-asas luhur, peraturan-peraturan, dan perintah-perintah yang mengandung kemanfaatan abadi bagi manusia telah dimasukkan ke dalam Al-Quran (QS,2:107), seolah-olah Al-Quran  -- sebagai kitab suci terakhir dan tersempurna (QS.5:4) --berperan sebagai penjaga atas kitab-kitab lama dan bebas dari semua cacat dan noda yang terdapat pada kitab-kitab itu, karena Al-Quran mendapat jaminan pemeliharaan Allah Swt. (QS.15:10).
 Makna   dīn dalam ayat: وَ مَاۤ  اُمِرُوۡۤا  اِلَّا لِیَعۡبُدُوا اللّٰہَ مُخۡلِصِیۡنَ لَہُ  الدِّیۡنَ ۬ۙ حُنَفَآءَ وَ یُقِیۡمُوا الصَّلٰوۃَ  وَ یُؤۡتُوا الزَّکٰوۃَ وَ ذٰلِکَ دِیۡنُ الۡقَیِّمَۃِ --    Padahal mereka tidak diperintahkan melainkan supaya beribadah kepada Allah dengan tulus ikhlas dalam ketaatan kepada-Nya  dan dengan lurus, serta mendirikan shalat dan membayar zakat”, dīn    berarti: ketaatan; penguasaan; perintah; rencana; ketakwaan; kebiasaan atau adat; perilaku atau tindak-tanduk (Lexicon Lane).
   Hanya orang-orang yang  dalam beribadah kepada Allah Swt. seperti itulah yang layak disebut “hamba-hamba-Nya” yang “shalih”: وَ ذٰلِکَ دِیۡنُ الۡقَیِّمَۃِ ؕ  -- “dan itulah agama yang lurus.”  Umat Islam yang keadaan seperti itulah  yang  akan menjadi “pewaris negeri yang dijanjikan” (Palestina) yang hakiki, firman-Nya:
وَ لَقَدۡ کَتَبۡنَا فِی الزَّبُوۡرِ مِنۡۢ بَعۡدِ الذِّکۡرِ اَنَّ الۡاَرۡضَ یَرِثُہَا عِبَادِیَ الصّٰلِحُوۡنَ ﴿﴾ اِنَّ فِیۡ ہٰذَا لَبَلٰغًا لِّقَوۡمٍ  عٰبِدِیۡنَ ﴿﴾ؕ
Dan  sungguh Kami benar-benar telah menuliskan dalam  Kitab Zabur sesudah pemberi peringatan itu,    bahwa negeri itu akan diwarisi oleh hamba-hamba-Ku yang shalih.   Sesungguhnya dalam hal ini ada suatu amanat bagi kaum yang beribadah.   (Al-Anbiya [21]:106-107).

Nabi Besar Muhammad Saw. Sebagai “Rahmat Bagi Seluruh Alam” & Makna “Seburuk-buruk makhluk” dan “Sebaik-baik Makhluk” yang Diridhai Allah Swt.

  Selanjutnya Allah Swt. berfirman mengenai “bayyinah” (bukti yang nyata) atau Nabi Besar Muhammad saw.:   Dan  Kami sekali-kali tidak mengutus engkau melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam   (Al-Anbiya [21]:108).
       Nabi Besar Muhammad saw. adalah pembawa rahmat untuk seluruh umat manusia, sebab amanat beliau saw. – yakni ajaran Islam (Al-Quran)   -- tidak terbatas kepada suatu negeri atau kaum tertentu. Dengan perantaraan beliau bangsa-bangsa dunia telah diberkati, seperti belum pernah mereka diberkati sebelum itu.
        Oleh karena itu mengenai  orang-orang yang  mendustakan dan menentang  pengutusan “bayyinah” (rasul Allah)  Allah Swt. berfirman: اِنَّ  الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا مِنۡ اَہۡلِ الۡکِتٰبِ وَ الۡمُشۡرِکِیۡنَ فِیۡ  نَارِ جَہَنَّمَ خٰلِدِیۡنَ فِیۡہَا ؕ  --  Sesungguhnya orang-orang  kafir dari antara Ahlikitab dan orang-orang musyrik akan berada dalam Api Jahannam, mereka kekal di dalamnya. اُولٰٓئِکَ ہُمۡ شَرُّ الۡبَرِیَّۃِ --  Mereka itulah seburuk-buruk makhluk.  (Al-Bayyinah [98]:7).
         Sebaliknya, mengenai  hamba-hamba Allah yang shalih  yang beriman  dan bai’at kepada “bayyinah” Allah Swt. berfirman: اِنَّ  الَّذِیۡنَ  اٰمَنُوۡا وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ  --  Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh اُولٰٓئِکَ ہُمۡ خَیۡرُ الۡبَرِیَّۃِ --  mereka itu sebaik-baik makhluk.    جَزَآؤُہُمۡ عِنۡدَ  رَبِّہِمۡ جَنّٰتُ عَدۡنٍ تَجۡرِیۡ مِنۡ تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ خٰلِدِیۡنَ فِیۡہَاۤ  اَبَدًا  --  Ganjaran mereka ada di sisi Rabb (Tuhan) mereka,  kebun-kebun abadi, yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya untuk selama-lamanya. رَضِیَ اللّٰہُ  عَنۡہُمۡ وَ رَضُوۡا عَنۡہُ --  Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya.  ذٰلِکَ لِمَنۡ خَشِیَ رَبَّہٗ  --   Itulah balasan bagi orang yang takut kepada Rabb-nya (Tuhan-nya). (Al-Bayyinah [98]:8-9).
  Makna ayat:  رَضِیَ اللّٰہُ  عَنۡہُمۡ وَ رَضُوۡا عَنۡہُ --  Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya   Tingkat tertinggi perkembangan ruhani tercapai ketika kehendak manusia menjadi sepenuhnya sesuai dengan iradah (kehendak)  Allah Swt. yang disebut keadaan nafs-al-Mutmainnah  (jiwa yang tentram), firman-Nya:
یٰۤاَیَّتُہَا النَّفۡسُ الۡمُطۡمَئِنَّۃُ ﴿٭ۖ﴾ ارۡجِعِیۡۤ  اِلٰی  رَبِّکِ رَاضِیَۃً  مَّرۡضِیَّۃً ﴿ۚ﴾ فَادۡخُلِیۡ  فِیۡ عِبٰدِیۡ ﴿ۙ﴾وَ ادۡخُلِیۡ جَنَّتِیۡ ﴿٪﴾
Hai jiwa yang tenteram!   Kembalilah kepada Rabb (Tuhan) engkau, engkau ridha kepada-Nya dan Dia pun ridha kepada engkau.  Maka masuklah dalam golong-an hamba-hamba-Ku,   dan masuklah ke dalam surga-Ku. (Al-Fajr [89]:27-29).
         Ayat:  ارۡجِعِیۡۤ  اِلٰی  رَبِّکِ رَاضِیَۃً  مَّرۡضِیَّۃً  --  “Kembalilah kepada Rabb (Tuhan) engkau, engkau ridha kepada-Nya dan Dia pun ridha kepada engkau.“ Keadaan dalam ayat ini merupakan tingkat perkembangan ruhani tertinggi, ketika manusia ridha kepada Tuhan-nya dan Tuhan pun ridha kepadanya (QS.58:23).

Pewaris  Hakiki  Kehidupan Surgawi di Dunia” dan “ Pewaris “Negeri yang Dijanjikan

       Pada tingkat ini yang disebut pula tingkat surgawi  seorang hamba Allah yang hakiki  menjadi kebal terhadap segala macam kelemahan akhlak, diperkuat dengan kekuatan ruhani yang khas. Ia “manunggal” dengan Allah Swt. – yakni Sifat-sifat-Nya --  dan tidak dapat hidup tanpa Dia.
        Di dunia ini, dan bukan  setelah mati perubahan ruhani besar terjadi di dalam dirinya, dan di dunia inilah dan  bukan di tempat lain jalan dibukakan baginya untuk masuk ke surga. Jika keadaan akhlak  dan ruhani umat Islam – sebagai “umat terbaik” yang dijadikan bagi manfaat umat manusia  (QS.2:144; QS.3:111)  --  telah kembali seperti itu maka, Insya Allah, Palestina “negeri yang dijanjikan” itu pun akan kembali diwariskan Allah Swt. kepada umat Islam, firman-Nya: 
وَ لَقَدۡ کَتَبۡنَا فِی الزَّبُوۡرِ مِنۡۢ بَعۡدِ الذِّکۡرِ اَنَّ الۡاَرۡضَ یَرِثُہَا عِبَادِیَ الصّٰلِحُوۡنَ ﴿﴾ اِنَّ فِیۡ ہٰذَا لَبَلٰغًا لِّقَوۡمٍ  عٰبِدِیۡنَ ﴿﴾ؕ وَ مَاۤ  اَرۡسَلۡنٰکَ اِلَّا رَحۡمَۃً  لِّلۡعٰلَمِیۡنَ ﴿﴾
Dan  sungguh Kami benar-benar telah menuliskan dalam  Kitab Zabur sesudah pemberi peringatan itu,  bahwa negeri itu akan diwarisi oleh hamba-hamba-Ku yang shalih Sesungguhnya dalam hal ini ada suatu amanat bagi kaum yang beribadah. Dan  Kami sekali-kali tidak mengutus engkau melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.   (Al-Anbiya [21]:106-108).

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid

oo0oo
Pajajaran Anyar, 28    Februari  2017