Bismillaahirrahmaanirrahiim
ISLAM
Pidato Mirza Ghulam Ahmad a.s.
Tgl. 2 November 1904
di Kota Sialkote – Hindustan
Bab 30
CARA YANG BENAR MEWARISI KEMBALI PALESTINA
& HUBUNGAN PEWARISAN “NEGERI YANG
DIJANJIKAN” (PALESTINA) DENGAN “HAMBA-HAMBA
ALLAH” YANG MEWARISI “KEHIDUPAN
SURGAWI” DI DUNIA
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam bagian akhir Bab 29 telah dijelaskan
topik Kembalinya Kaum Yahudi
Ke Palestina dari Pengembaraan Selama 2000
Tahun & Berdirinya “Negara Israel”. Sebelumnya telah dijelaskan bahwa walau
pun bangsa-bangsa Kristen dari Barat – sejak zaman kerajaan Romawi dipimpin Kaisar
Constantine sampai saat ini – bukanlah pengikut ajaran asli Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.
melainkan pengikut ajaran Paulus
(QS.7:170) yang mempercayai “Trinitas”
dan “penebusan dosa” melalui “kematian terkutuk” Nabi Isa Ibnu Maryam
di tiang salib, tetapi mereka telah
dijadikan Allah Swt. sebagai “sarana” untuk menghukum umat Islam yang kedua kali di Akhir Zaman, sebab mereka pulalah yang memungkinkan kaum Yahudi
-- yang selama 2000 tahun tercerai-berai
di luar “Palestina” -- dapat kembali
ke Palestina dan mendirikan “negara Israel” di wilayah Palestina, firman-Nya:
وَّ قُلۡنَا
مِنۡۢ بَعۡدِہٖ لِبَنِیۡۤ اِسۡرَآءِیۡلَ اسۡکُنُوا الۡاَرۡضَ فَاِذَا
جَآءَ وَعۡدُ الۡاٰخِرَۃِ جِئۡنَا
بِکُمۡ لَفِیۡفًا ﴿﴾ؕ
Dan setelah dia, yakni Fir’aun, Kami
berfirman kepada Bani Israil: ”Tinggallah di negeri yang dijanjikan itu, dan apabila janji
mengenai Akhir Zaman tiba Kami
akan menghimpun kamu semuanya dari antara berbagai bangsa.” (Bani
Israil [17]:105).
Ayat
ini mengandung arti bahwa seperti orang-orang
Yahudi, demikian pula umat Islam
pun dua kali akan menderita bencana nasional. Yang pertama
dari kedua bencana ini menimpa umat Islam
ketika kota Baghdad jatuh kepada kekuasaan
bangsa Tartar dan Mongol di bawah pimpinan Hulaku Khan.
Umat Islam dalam ayat ini diperingatkan Allah Swt. bahwa mereka
akan ditimpa azab Ilahi untuk kedua
kali di Akhir Zaman -- yakni di masa Masih Mau’ud a.s. seperti orang-orang Yahudi diberi hukuman
di zaman Al-Masih pertama - Nabi Isa
Ibnu Maryam a.s..
Ayat ini
berarti, bahwa manakala umat Islam akan dihukum
untuk kedua kalinya -- yang berarti
sempurnanya “janji mengenai Akhir Zaman”
-- maka orang-orang Yahudi
yang tercerai-berai di berbagai wilayah
dunia akan dihimpun kembali di tanah suci (Palestina).
Nubuatan ini telah menjadi sempurna
dengan cara yang luar biasa dengan kembalinya orang-orang Yahudi ke Palestina
-- dengan perantaraan “Balfour Declaration” (Pernyataan
Balfour) yang disponsori negara-negara
Kristen Eropa, terutama Inggris -- dengan didirikannya apa yang dikatakan Negara Israil. Jadi, “Janji
mengenai Akhir Zaman” itu bertalian dengan masa Masih Mau’ud a.s. atau Isa
Al-Masih Akhir Zaman a.s. (Bayan).
Bukti Benarnya Larangan Allah Swt. dalam Surah Al-Māidah
Ayat 52
Dengan demikian benarlah peringatan Allah Swt. yang dikemukakan dalam firman-Nya berikut
ini:
یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا لَا
تَتَّخِذُوا الۡیَہُوۡدَ وَ النَّصٰرٰۤی اَوۡلِیَآءَ ۘؔ بَعۡضُہُمۡ اَوۡلِیَآءُ
بَعۡضٍ ؕ وَ مَنۡ یَّتَوَلَّہُمۡ مِّنۡکُمۡ فَاِنَّہٗ مِنۡہُمۡ ؕ اِنَّ اللّٰہَ لَا یَہۡدِی الۡقَوۡمَ الظّٰلِمِیۡنَ ﴿﴾
Hai orang-orang yang beriman! Janganlah
kamu mengambil orang-orang Yahudi dan orang-orang
Nasrani menjadi wali (pelindung/sahabat), sebagian
mereka adalah penolong sebagian lainnya. Dan barangsiapa
di antara kamu mengambil mereka menjadi pelindung-pelindung maka sesungguhnya ia dari mereka.
Sesungguhnya Allah tidak memberi
petunjuk kepada kaum yang zalim. (Al-Māidah [5]:52). Lihat pula
QS.3:29 & 119-121; QS.4:145; QS.5:58; QS.60:9-10.
Dalam QS.5:52 orang-orang Islam dilarang
bersahabat dengan orang-orang kafir – dengan mengenyampingkan sesama Muslim
(QS.3:29 & 119-121; QS.4:145) -- karena sikap
tidak bersahabat mereka itu dan karena mereka secara aktif memerangi umat Islam. Ayat ini
memberikan alasan perintah itu,
tetapi hal itu tidak berarti bahwa
orang-orang Islam dihalang-halangi (dilarang)
mempunyai hubungan bersahabat dalam
bentuk bagaimanapun dengan orang-orang kafir
atau berbuat baik terhadap mereka dan
memperlakukan mereka itu dengan baik (QS.60:9-10).
Salah satu alasan larangan
Allah Swt. tersebut adalah karena walau pun antara orang-orang Yahudi dan Nasrani
(Kristen) bertentangan pendapat mengenai Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. – bahkan saling
mengkafirkan (QS.2:114) -- tetapi
jika menghadapi umat Islam mereka
akan melupakan pertentangan di antara
mereka (QS.2:121).
Contohnya yang nyata adalah kembalinya orang-orang
Yahudi ke Palestina dari pengembaraan
mereka selama 2000 tahun di berbagai
wilayah dunia (QS.17:105) sejak mendapat kutukan
dari Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.
(QS.5:80) dan mereka mendirikan “negara Israel”, padahal Allah Swt.
menyatakan bawa “Palestina”
(Kanaan) -- yakni “negeri yang
dijanjikan” hanya akan diwarisi oleh “hamba-hamba-Nya
yang shaleh”, frman-Nya:
وَ لَقَدۡ
کَتَبۡنَا فِی الزَّبُوۡرِ مِنۡۢ
بَعۡدِ الذِّکۡرِ اَنَّ الۡاَرۡضَ
یَرِثُہَا عِبَادِیَ الصّٰلِحُوۡنَ ﴿﴾ اِنَّ فِیۡ ہٰذَا لَبَلٰغًا
لِّقَوۡمٍ عٰبِدِیۡنَ ﴿﴾ؕ وَ مَاۤ اَرۡسَلۡنٰکَ
اِلَّا رَحۡمَۃً لِّلۡعٰلَمِیۡنَ ﴿﴾
Dan sungguh Kami
benar-benar telah menuliskan dalam Kitab
Zabur sesudah pemberi peringatan
itu, bahwa negeri
itu akan diwarisi oleh hamba-hamba-Ku yang shalih. Sesungguhnya dalam hal ini ada suatu amanat bagi kaum yang beribadah. Dan Kami
sekali-kali tidak mengutus engkau melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.
(Al-Anbiya [21]:106-108).
Tanda “Hamba-hamba Allah” yang Hakiki
Yang
dimaksud dengan “bumi itu” adalah Palestina
atau Kanaan – yakni “negeri yang
dijanjikan”. Para pujangga Kristen menafsirkan juga kata-kata “bumi itu akan dipusakai” atau “tanah itu akan dipusakai” dalam Mazmur
dalam artian mewarisi Kanaan menurut
“janji dalam perjanjian Tuhan".
Isyarat dalam kata-kata “dalam
kitab Daud” pada ayat “Dan sungguh Kami
benar-benar telah menuliskan dalam Kitab
Zabur” ditujukan kepada Mazmur 37:9, 11, 22, dan 29. Terdapat pula
suatu nubuatan dalam Kitab Ulangan
(28:11 dan 34:4) bahwa negeri Palestina
akan diberikan kepada Bani Israil. Walau
pun mereka sempat menolak memasukinya
karena takut kepada kaum-kaum yang berada di dalamnya
(QS.5:21-27).
Palestina tetap di tangan bangsa Kristen – yakni kerajaan Romawi Timur -- hingga orang Islam menaklukkannya di masa
khilafat Umar bin
Khaththab r.a., Khalifah ke-II Nabi Besar Muhammad saw.. Nubuatan yang terkandung dalam ayat ini, rupanya menunjuk kepada
penaklukan Palestina tersebut oleh lasykar Islam.
Palestina tetap berada di
bawah kekuasaan umat Islam selama kira-kira 1350 tahun - kecuali satu masa
pendek yang lamanya 92 tahun, ketika di zaman peperangan salib kekuasaan telah berpindah-tangan — hingga dalam
masa kita ini sebagai akibat rencana-rencana buruk dari beberapa kekuasaan
barat yang disebut demokrasi, negeri bernama Palestina itu sama sekali tidak berwujud dan di atas puing-puingnya
didirikan negara Israel.
Orang-orang Yahudi kembali
setelah mengembara selama hampir 2000 tahun. Tetapi peristiwa sejarah yang
besar ini telah terjadi sebagai pemenuhan suatu nubuatan Al-Quran (QS.17:105).
Tetapi hal ini hanya merupakan satu babak sementara saja. Orang-orang Islam
telah ditakdirkan akan menguasainya kembali. Cepat atau lambat
— malahan lebih cepat daripada lambat - Palestina
akan kembali menjadi milik Islam. Hal
ini merupakan keputusan Allah Swt. dan
tidak ada seorang pun dapat mengubah keputusan Allah Swt., firman-Nya:
وَ لَقَدۡ کَتَبۡنَا فِی الزَّبُوۡرِ مِنۡۢ بَعۡدِ
الذِّکۡرِ اَنَّ الۡاَرۡضَ
یَرِثُہَا عِبَادِیَ الصّٰلِحُوۡنَ ﴿﴾
Dan sungguh Kami
benar-benar telah menuliskan dalam Kitab
Zabur sesudah pemberi peringatan
itu, اَنَّ الۡاَرۡضَ یَرِثُہَا عِبَادِیَ الصّٰلِحُوۡنَ -- bahwa negeri
itu akan diwarisi oleh hamba-hamba-Ku yang shalih. (Al-Anbiya [21]:106).
Pertanyaannya adalah: Siapakah
yang dimaksud dengan “hamba-hamba-Ku yang
shalih” dalam ayat tersebut? Dijawab oleh Allah Swt. sendiri dalam ayat
selanjutnya, firman-Nya: Sesungguhnya dalam hal ini ada suatu amanat bagi kaum yang beribadah. Dan Kami
sekali-kali tidak mengutus engkau melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.
(Al-Anbiya [21]:106-108).
Makna "kaum yang beribadah" dalam ayat “Sesungguhnya dalam hal ini ada suatu amanat bagi kaum yang beribadah” bukan sekedar melakukan ‘ibadah atau ritual keagamaan
belaka, sebab ketika orang-orang Yahudi kembali ke wilayah Palestina pun umumnya umat Islam di wilayah Timur Tengah tetap ritual-ritual yang diajarkan
agama Islam (Al-Quran), namun dalam
kenyataannya mengapa mereka tidak dapat menggagalkan
kembalinya orang-orang Yahudi ke
wilayah Palestina dan hingga saat ini “negara Israel” masih berdiri di sana walau pun perlawanan umat Islam di
sana terhadap mereka terus berlangsung hingga hari ini?
Dua Golongan “Orang Kafir”
& Arti Lain “Orang-orang Musyrik”
Dengan demikian jelaslah bahwa yang dimaksud "kaum
yang beribadah" ayat:
“Sesungguhnya dalam hal ini ada
suatu amanat bagi kaum yang
beribadah” adalah orang-orang yang yang beribadah
kepada Allah Swt. dengan tulus-ikhlas
dan dengan lurus, dan ibadah yang seperti itu hal tersebut
hanya diajarkan oleh rasul Allah yang
kedatangannya dijanjikan Allah
Swt., firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ
الرَّحِیۡمِ﴿﴾ لَمۡ یَکُنِ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا مِنۡ
اَہۡلِ الۡکِتٰبِ وَ الۡمُشۡرِکِیۡنَ مُنۡفَکِّیۡنَ حَتّٰی
تَاۡتِیَہُمُ الۡبَیِّنَۃُ ۙ﴿﴾ رَسُوۡلٌ مِّنَ
اللّٰہِ یَتۡلُوۡا صُحُفًا مُّطَہَّرَۃً ۙ﴿﴾ فِیۡہَا
کُتُبٌ قَیِّمَۃٌ ؕ﴿﴾ وَ
مَا تَفَرَّقَ الَّذِیۡنَ اُوۡتُوا الۡکِتٰبَ
اِلَّا مِنۡۢ بَعۡدِ مَا
جَآءَتۡہُمُ الۡبَیِّنَۃُ ؕ﴿﴾ وَ مَاۤ
اُمِرُوۡۤا اِلَّا لِیَعۡبُدُوا
اللّٰہَ مُخۡلِصِیۡنَ لَہُ الدِّیۡنَ ۬ۙ
حُنَفَآءَ وَ یُقِیۡمُوا الصَّلٰوۃَ وَ
یُؤۡتُوا الزَّکٰوۃَ وَ ذٰلِکَ دِیۡنُ الۡقَیِّمَۃِ ؕ﴿﴾ اِنَّ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا
مِنۡ اَہۡلِ الۡکِتٰبِ وَ الۡمُشۡرِکِیۡنَ فِیۡ
نَارِ جَہَنَّمَ خٰلِدِیۡنَ فِیۡہَا ؕ اُولٰٓئِکَ ہُمۡ شَرُّ الۡبَرِیَّۃِ
ؕ﴿﴾ اِنَّ الَّذِیۡنَ
اٰمَنُوۡا وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ ۙ اُولٰٓئِکَ ہُمۡ خَیۡرُ الۡبَرِیَّۃِ
ؕ﴿﴾ جَزَآؤُہُمۡ
عِنۡدَ رَبِّہِمۡ جَنّٰتُ عَدۡنٍ تَجۡرِیۡ
مِنۡ تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ خٰلِدِیۡنَ فِیۡہَاۤ
اَبَدًا ؕ رَضِیَ اللّٰہُ عَنۡہُمۡ
وَ رَضُوۡا عَنۡہُ ؕ ذٰلِکَ لِمَنۡ خَشِیَ رَبَّہٗ ٪﴿﴾
Aku
baca dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha
Penyayang. Orang-orang kafir dari Ahli-kitab dan orang-orang
musyrik- tidak akan berhenti
dari kekafiran حَتّٰی تَاۡتِیَہُمُ الۡبَیِّنَۃُ -- hingga datang mereka bukti yang nyata,
رَسُوۡلٌ مِّنَ اللّٰہِ یَتۡلُوۡا
صُحُفًا مُّطَہَّرَۃً -- Seorang rasul dari Allah yang membacakan
lembaran-lembaran suci, فِیۡہَا کُتُبٌ قَیِّمَۃٌ -- yang di dalamnya ada perintah-perintah abadi. وَ مَا تَفَرَّقَ الَّذِیۡنَ اُوۡتُوا الۡکِتٰبَ اِلَّا مِنۡۢ
بَعۡدِ مَا جَآءَتۡہُمُ
الۡبَیِّنَۃُ ؕ﴿﴾ -- Dan
orang-orang yang
diberi Kitab tidak
berpecah-belah kecuali setelah
datang kepada mereka bukti yang nyata.
وَ مَاۤ اُمِرُوۡۤا
اِلَّا لِیَعۡبُدُوا اللّٰہَ مُخۡلِصِیۡنَ لَہُ الدِّیۡنَ ۬ۙ حُنَفَآءَ وَ یُقِیۡمُوا الصَّلٰوۃَ وَ یُؤۡتُوا الزَّکٰوۃَ وَ ذٰلِکَ دِیۡنُ
الۡقَیِّمَۃِ -- Padahal
mereka tidak diperintahkan melainkan
supaya beribadah kepada Allah dengan
tulus ikhlas dalam ketaatan kepada-Nya
dan dengan lurus, serta mendirikan shalat dan membayar
zakat, وَ ذٰلِکَ دِیۡنُ الۡقَیِّمَۃِ ؕ -- dan itulah
agama yang lurus. اِنَّ
الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا مِنۡ اَہۡلِ الۡکِتٰبِ وَ الۡمُشۡرِکِیۡنَ فِیۡ نَارِ جَہَنَّمَ خٰلِدِیۡنَ فِیۡہَا ؕ -- Sesungguhnya orang-orang kafir dari antara Ahlikitab dan orang-orang musyrik akan berada dalam Api Jahannam, mereka kekal di dalamnya. اُولٰٓئِکَ ہُمۡ شَرُّ الۡبَرِیَّۃِ -- Mereka itulah seburuk-buruk makhluk. اِنَّ
الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ عَمِلُوا
الصّٰلِحٰتِ -- Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal
saleh اُولٰٓئِکَ ہُمۡ
خَیۡرُ الۡبَرِیَّۃِ -- mereka itu sebaik-baik makhluk. جَزَآؤُہُمۡ عِنۡدَ
رَبِّہِمۡ جَنّٰتُ عَدۡنٍ تَجۡرِیۡ مِنۡ تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ خٰلِدِیۡنَ
فِیۡہَاۤ اَبَدًا
-- Ganjaran mereka ada di sisi Rabb
(Tuhan) mereka, kebun-kebun abadi, yang di bawahnya mengalir sungai-sungai,
mereka kekal di dalamnya untuk selama-lamanya. رَضِیَ اللّٰہُ عَنۡہُمۡ وَ رَضُوۡا عَنۡہُ -- Allah
ridha kepada mereka dan mereka pun
ridha kepada-Nya. ذٰلِکَ لِمَنۡ خَشِیَ رَبَّہٗ -- Itulah balasan bagi orang yang takut kepada Rabb-nya (Tuhan-nya).
(Al-Bayyinah
[98]:1-9).
Al-Quran telah membagi semua orang kafir dalam dua golongan – yaitu Ahlikitab
dan orang-orang musyrik (mereka yang
tidak percaya kepada sesuatu Kitab Suci).
Tetapi menurut Al-Quran yang dimaksud “orang-orang musyrik” bukan hanya orang-orang yang menyembah berbagai bentuk berhala tetapi juga orang-orang yang memecah-belah agama dan umat
beragama (QS.30:31-33).
Pentingnya Beriman Kepada “Bayyinah”
(Rasul Allah) & Arti “Ad-Dīn”
Dalam ayat selanjutnya dijelaskan bahwa
yang dimaksud dengan “bayyinah”
(bukti yang nyata) adalah rasul Allah
yang kedatangannya dijanjikan Allah
Swt. (QS.7:35-37), terutama Nabi Besar Muhammad saw.: حَتّٰی تَاۡتِیَہُمُ الۡبَیِّنَۃُ -- hingga datang mereka bukti yang nyata,
رَسُوۡلٌ مِّنَ اللّٰہِ یَتۡلُوۡا
صُحُفًا مُّطَہَّرَۃً -- Seorang rasul dari Allah yang membacakan
lembaran-lembaran suci,
فِیۡہَا کُتُبٌ
قَیِّمَۃٌ --
yang di dalamnya ada perintah-perintah abadi.”
Makna ayat: فِیۡہَا کُتُبٌ قَیِّمَۃٌ -- yang di
dalamnya ada perintah-perintah abadi”
bahwa Al-Quran berisikan secara ikhtisar segala sesuatu yang baik, kekal, dan tidak termusnahkan,
yang terkandung di dalam ajaran-ajaran
Kitab-kitab Suci terdahulu, dengan imbuhan banyak
ajaran yang tidak terdapat pada
Kitab-kitab itu tetapi sangat diperlukan manusia guna perkembangan akhlak dan ruhaninya.
Semua
cita-cita, asas-asas luhur, peraturan-peraturan, dan perintah-perintah yang
mengandung kemanfaatan abadi bagi
manusia telah dimasukkan ke dalam Al-Quran
(QS,2:107), seolah-olah Al-Quran --
sebagai kitab suci terakhir dan tersempurna (QS.5:4) --berperan sebagai penjaga atas kitab-kitab lama dan bebas
dari semua cacat dan noda yang terdapat pada kitab-kitab itu, karena Al-Quran
mendapat jaminan pemeliharaan Allah
Swt. (QS.15:10).
Makna dīn dalam ayat: وَ مَاۤ اُمِرُوۡۤا اِلَّا لِیَعۡبُدُوا اللّٰہَ مُخۡلِصِیۡنَ
لَہُ الدِّیۡنَ ۬ۙ حُنَفَآءَ وَ
یُقِیۡمُوا الصَّلٰوۃَ وَ یُؤۡتُوا
الزَّکٰوۃَ وَ ذٰلِکَ دِیۡنُ الۡقَیِّمَۃِ -- Padahal mereka tidak diperintahkan melainkan supaya beribadah kepada Allah dengan tulus ikhlas dalam ketaatan kepada-Nya dan dengan lurus, serta mendirikan
shalat dan membayar zakat”, dīn
berarti: ketaatan;
penguasaan; perintah; rencana; ketakwaan; kebiasaan atau adat; perilaku atau
tindak-tanduk (Lexicon Lane).
Hanya orang-orang yang
dalam beribadah kepada Allah Swt. seperti itulah yang layak
disebut “hamba-hamba-Nya” yang
“shalih”: وَ ذٰلِکَ
دِیۡنُ الۡقَیِّمَۃِ ؕ --
“dan itulah agama yang lurus.” Umat
Islam yang keadaan seperti itulah yang
akan menjadi “pewaris negeri yang
dijanjikan” (Palestina) yang hakiki,
firman-Nya:
وَ لَقَدۡ
کَتَبۡنَا فِی الزَّبُوۡرِ مِنۡۢ
بَعۡدِ الذِّکۡرِ اَنَّ الۡاَرۡضَ
یَرِثُہَا عِبَادِیَ الصّٰلِحُوۡنَ ﴿﴾ اِنَّ فِیۡ ہٰذَا لَبَلٰغًا
لِّقَوۡمٍ عٰبِدِیۡنَ ﴿﴾ؕ
Dan sungguh Kami
benar-benar telah menuliskan dalam Kitab
Zabur sesudah pemberi peringatan
itu, bahwa negeri
itu akan diwarisi oleh hamba-hamba-Ku yang shalih. Sesungguhnya dalam hal ini ada suatu amanat bagi kaum yang beribadah. (Al-Anbiya
[21]:106-107).
Nabi Besar Muhammad Saw. Sebagai “Rahmat Bagi Seluruh Alam” & Makna “Seburuk-buruk makhluk” dan “Sebaik-baik Makhluk” yang Diridhai Allah Swt.
Selanjutnya Allah Swt.
berfirman mengenai “bayyinah” (bukti
yang nyata) atau Nabi Besar Muhammad saw.:
Dan Kami
sekali-kali tidak mengutus engkau melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam (Al-Anbiya [21]:108).
Nabi Besar Muhammad saw. adalah pembawa rahmat untuk seluruh umat manusia, sebab amanat beliau saw. – yakni ajaran Islam (Al-Quran) -- tidak terbatas kepada suatu negeri atau kaum tertentu. Dengan perantaraan beliau bangsa-bangsa dunia telah diberkati,
seperti belum pernah mereka diberkati
sebelum itu.
Oleh karena itu mengenai orang-orang yang mendustakan
dan menentang pengutusan “bayyinah” (rasul Allah)
Allah Swt. berfirman: اِنَّ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا مِنۡ اَہۡلِ الۡکِتٰبِ وَ
الۡمُشۡرِکِیۡنَ فِیۡ نَارِ جَہَنَّمَ
خٰلِدِیۡنَ فِیۡہَا ؕ -- Sesungguhnya orang-orang kafir dari antara Ahlikitab dan orang-orang musyrik akan berada dalam Api Jahannam, mereka kekal di dalamnya. اُولٰٓئِکَ ہُمۡ شَرُّ الۡبَرِیَّۃِ -- Mereka
itulah seburuk-buruk makhluk. (Al-Bayyinah [98]:7).
Sebaliknya, mengenai hamba-hamba
Allah yang shalih yang beriman dan bai’at
kepada “bayyinah” Allah Swt.
berfirman: اِنَّ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ -- Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal
saleh اُولٰٓئِکَ ہُمۡ
خَیۡرُ الۡبَرِیَّۃِ -- mereka itu sebaik-baik makhluk. جَزَآؤُہُمۡ عِنۡدَ
رَبِّہِمۡ جَنّٰتُ عَدۡنٍ تَجۡرِیۡ مِنۡ تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ خٰلِدِیۡنَ
فِیۡہَاۤ اَبَدًا
-- Ganjaran mereka ada di sisi
Rabb (Tuhan) mereka, kebun-kebun abadi, yang di bawahnya mengalir sungai-sungai,
mereka kekal di dalamnya untuk selama-lamanya. رَضِیَ اللّٰہُ عَنۡہُمۡ وَ رَضُوۡا عَنۡہُ -- Allah
ridha kepada mereka dan mereka pun
ridha kepada-Nya. ذٰلِکَ لِمَنۡ خَشِیَ رَبَّہٗ -- Itulah balasan bagi orang yang takut kepada Rabb-nya
(Tuhan-nya). (Al-Bayyinah [98]:8-9).
Makna ayat:
رَضِیَ
اللّٰہُ عَنۡہُمۡ وَ رَضُوۡا عَنۡہُ -- “Allah ridha kepada mereka dan mereka
pun ridha kepada-Nya” Tingkat
tertinggi perkembangan ruhani
tercapai ketika kehendak manusia
menjadi sepenuhnya sesuai dengan iradah
(kehendak) Allah Swt. yang disebut
keadaan nafs-al-Mutmainnah (jiwa yang tentram), firman-Nya:
یٰۤاَیَّتُہَا
النَّفۡسُ الۡمُطۡمَئِنَّۃُ ﴿٭ۖ﴾
ارۡجِعِیۡۤ اِلٰی
رَبِّکِ رَاضِیَۃً مَّرۡضِیَّۃً
﴿ۚ﴾ فَادۡخُلِیۡ فِیۡ عِبٰدِیۡ
﴿ۙ﴾وَ ادۡخُلِیۡ جَنَّتِیۡ ﴿٪﴾
Hai jiwa yang tenteram! Kembalilah kepada Rabb (Tuhan) engkau, engkau
ridha kepada-Nya dan Dia pun
ridha kepada engkau. Maka masuklah
dalam golong-an hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku. (Al-Fajr
[89]:27-29).
Ayat: ارۡجِعِیۡۤ
اِلٰی رَبِّکِ رَاضِیَۃً مَّرۡضِیَّۃً
-- “Kembalilah kepada Rabb (Tuhan) engkau, engkau ridha kepada-Nya dan Dia pun ridha kepada engkau.“
Keadaan dalam ayat ini merupakan tingkat perkembangan
ruhani tertinggi, ketika manusia
ridha kepada Tuhan-nya dan Tuhan pun
ridha kepadanya (QS.58:23).
Pewaris Hakiki “Kehidupan Surgawi di Dunia” dan “
Pewaris “Negeri yang Dijanjikan”
Pada tingkat ini yang disebut pula tingkat surgawi seorang hamba
Allah yang hakiki menjadi kebal terhadap segala macam kelemahan akhlak, diperkuat dengan kekuatan ruhani yang khas. Ia “manunggal” dengan Allah Swt. – yakni
Sifat-sifat-Nya -- dan tidak dapat hidup
tanpa Dia.
Di dunia ini, dan bukan setelah mati perubahan ruhani besar terjadi di dalam dirinya, dan di dunia
inilah dan bukan di tempat lain jalan dibukakan baginya untuk masuk ke surga. Jika keadaan akhlak dan ruhani umat Islam – sebagai “umat
terbaik” yang dijadikan bagi manfaat
umat manusia (QS.2:144;
QS.3:111) -- telah kembali seperti itu maka, Insya Allah, Palestina “negeri yang dijanjikan” itu pun akan kembali diwariskan Allah Swt. kepada umat Islam, firman-Nya:
وَ لَقَدۡ
کَتَبۡنَا فِی الزَّبُوۡرِ مِنۡۢ
بَعۡدِ الذِّکۡرِ اَنَّ الۡاَرۡضَ
یَرِثُہَا عِبَادِیَ الصّٰلِحُوۡنَ ﴿﴾ اِنَّ فِیۡ ہٰذَا لَبَلٰغًا
لِّقَوۡمٍ عٰبِدِیۡنَ ﴿﴾ؕ وَ مَاۤ اَرۡسَلۡنٰکَ
اِلَّا رَحۡمَۃً لِّلۡعٰلَمِیۡنَ ﴿﴾
Dan sungguh Kami
benar-benar telah menuliskan dalam Kitab
Zabur sesudah pemberi peringatan
itu, bahwa negeri
itu akan diwarisi oleh hamba-hamba-Ku yang shalih. Sesungguhnya dalam hal ini ada suatu amanat bagi kaum yang beribadah. Dan Kami
sekali-kali tidak mengutus engkau melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.
(Al-Anbiya [21]:106-108).
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran Anyar, 28 Februari
2017