Selasa, 07 Februari 2017

Al-Quran Sebagai "Penjaga" Ajaran Asli Kitab-kitab Suci Sebelumnya & Kemustahilan Para Rasul Allah Mengajarkan "Kemusyrikan"



Bismillaahirrahmaanirrahiim

  ISLAM
Pidato  Mirza Ghulam Ahmad a.s.
Tgl. 2 November 1904 di Kota Sialkote – Hindustan

Bab  14

AL-QURAN SEBAGAI  “PENJAGAAJARAN ASLI KITAB-KITAB SUCI SEBELUMNYA & KEMUSTAHILAN PARA RASUL ALLAH MENGAJARKAN KEMUSYRIKAN

Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam bagian akhir Bab 13  telah dijelaskan topik Tujuan Pemberian Kekuasaan dan Kekayaan Duniawi Kepada Manusia, sehubungan azab Ilahi yang diancamkan Allah Swt. terhadap permintaan para hawari (murid-murid awal) Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. berkenaan māidah (hidangan) yaitu “kekayaan duniawi”, jika mereka tidak mensyukurinya sebagaimana Allah Swt. kehendaki,  firman-Nya:
قَالَ اللّٰہُ اِنِّیۡ مُنَزِّلُہَا عَلَیۡکُمۡ ۚ فَمَنۡ یَّکۡفُرۡ بَعۡدُ مِنۡکُمۡ فَاِنِّیۡۤ  اُعَذِّبُہٗ عَذَابًا  لَّاۤ   اُعَذِّبُہٗۤ  اَحَدًا مِّنَ الۡعٰلَمِیۡنَ ﴿﴾٪
Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku akan menurunkannya kepada kamu, lalu barangsiapa di antara kamu kafir  sesudah itu,  maka  sesungguhnya Aku akan mengazabnya dengan azab yang tidak pernah Aku mengazab kepada seorang pun di seluruh alam.”  (Al-Māidah [5]:115-116).
       Setelah menolak telah mengajarkan kepada para pengikutnya agar menjadikan beliau dan ibundanya sebagai “dua tuhan” selain Allah Swt. (QS.5:117-118) selanjutnya Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. berkata,:
اِنۡ تُعَذِّبۡہُمۡ فَاِنَّہُمۡ عِبَادُکَ ۚ وَ اِنۡ تَغۡفِرۡ لَہُمۡ فَاِنَّکَ اَنۡتَ الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ ﴿﴾
“Kalau Engkau mengazab mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba Engkau, dan kalau Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkau benar-benar Maha Perkasa, Maha Bijaksana” (Al-Māidah [5]: 119). 
  Dua Perang Dunia I dan Perang Dunia  II   akibat-akibat yang ditimbulkannya dapat merupakan satu tahap penyempurnaan kabar gaib (nubuatan)  tersebut dan hanya Allah Swt.   sajalah Yang  mengetahui hukuman-hukuman mengerikan apakah yang masih menunggu untuk bangsa-bangsa Kristen di belahan bumi sebelah barat, sejalan dengan firman-Nya:
  ۚ فَمَنۡ یَّکۡفُرۡ بَعۡدُ مِنۡکُمۡ فَاِنِّیۡۤ  اُعَذِّبُہٗ عَذَابًا  لَّاۤ   اُعَذِّبُہٗۤ  اَحَدًا مِّنَ الۡعٰلَمِیۡنَ ﴿﴾٪
 “Lalu barangsiapa di antara kamu kafir  sesudah itu, maka  sesungguhnya Aku akan mengazabnya dengan azab yang tidak pernah Aku mengazab kepada seorang pun di seluruh alam.
          Peringatan Allah Swt. tersebut sesuai dengan firman-Nya dalam surah Bani Israil berikut ini::
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿۳اَلۡحَمۡدُ لِلّٰہِ الَّذِیۡۤ  اَنۡزَلَ عَلٰی عَبۡدِہِ الۡکِتٰبَ  وَ لَمۡ  یَجۡعَلۡ  لَّہٗ عِوَجًا ؕ﴿ٜ﴾ قَیِّمًا  لِّیُنۡذِرَ بَاۡسًا شَدِیۡدًا مِّنۡ لَّدُنۡہُ وَ یُبَشِّرَ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ الَّذِیۡنَ یَعۡمَلُوۡنَ الصّٰلِحٰتِ اَنَّ  لَہُمۡ  اَجۡرًا حَسَنًا ۙ﴿﴾  مَّاکِثِیۡنَ فِیۡہِ اَبَدًا ۙ﴿﴾ وَّ یُنۡذِرَ الَّذِیۡنَ قَالُوا اتَّخَذَ اللّٰہُ وَلَدًا ٭﴿﴾ مَا لَہُمۡ بِہٖ مِنۡ عِلۡمٍ وَّ لَا لِاٰبَآئِہِمۡ ؕ کَبُرَتۡ کَلِمَۃً  تَخۡرُجُ مِنۡ اَفۡوَاہِہِمۡ ؕ اِنۡ یَّقُوۡلُوۡنَ  اِلَّا کَذِبًا ﴿﴾  فَلَعَلَّکَ بَاخِعٌ نَّفۡسَکَ عَلٰۤی اٰثَارِہِمۡ  اِنۡ لَّمۡ  یُؤۡمِنُوۡا بِہٰذَا  الۡحَدِیۡثِ  اَسَفًا ﴿﴾ اِنَّا جَعَلۡنَا مَا عَلَی الۡاَرۡضِ زِیۡنَۃً  لَّہَا لِنَبۡلُوَہُمۡ  اَیُّہُمۡ   اَحۡسَنُ  عَمَلًا ﴿﴾ وَ اِنَّا لَجٰعِلُوۡنَ مَا عَلَیۡہَا صَعِیۡدًا جُرُزًا  ؕ﴿﴾
Aku baca dengan nama Allah Maha Pemurah, Maha PenyayangSegala puji bagi Allah  Yang  telah menurunkan kepada hamba-Nya Kitab Al-Quran ini dan   Dia  tidak menjadikan padanya ke­bengkokan.   Sebagai penjaga untuk memberi peringatan mengenai  siksaan yang dahsyat dari hadirat-Nya,  dan memberikan kabar gembira  kepada orang-orang  beriman  yang beramal saleh bahwa sesungguhnya bagi mereka ada ganjaran yang baik,  mereka menetap di dalamnya selama-lamanyaDan supaya memperingat­kan orang-orang  yang berkata: "Allah  mengambil seorang  anak laki-laki.     Mereka   sekali-kali tidak memiliki pengetahuan mengenainya, dan tidak pula bapak-bapak mereka memilikinya.   Sangat besar keburukan perkataan yang keluar dari mulut mereka,   mereka tidak mengucapkan kecuali kedustaan Maka sangat mungkin engkau akan  membinasakan diri engkau   karena sangat sedih  sekiranya mereka tidak beriman kepada keterangan ini.  Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi per­hiasan  baginya    supaya  Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya   Dan sesungguhnya Kami niscaya akan menjadikan segala yang ada di atasnya menjadi tanah-rata yang tandus.  (Al-Kahf [19]:1-9).

Penjagaan Al-Quran Terhadap Ajaran Asli Kitab-kitab (Agama-agama)  Sebelumnya

     Al-Quran sebagai qayyim (penjaga) melakukan tugas ganda. Al-Quran   penjaga atas kitab-kitab terdahulu dengan jalan memperbaiki dan menghilang­kan kesalahan-kesalahan yang telah masuk dalam kitab-kitab itu, dan Al-Quran  penjaga atas generasi-generasi yang akan datang, sebab dipikulnya kewajiban untuk memperkembangkan ruhani mereka serta membimbing mereka pada jalan-jalan yang menjurus kepada penghayatan tujuan hidup manusia yang agung dan mulia (QS.51:57-59).
      Salah satu contoh “penjagaan” yang dilakukan Al-Quran terhadap Kitab-kitab (agama-agama) sebelum Al-Quran  adalah menyeru para penganut agama-agama sebelumnya kepada  ajaran Tauhid Ilahi yang hakiki serta meninggalkan berbagai bentuk “kemusyrikan” lainnya – baik yang nyata mau pun yang tersembunyi  --   yang merasuki agama-agama tersebut   akibat tidak  mendapat pemeliharaan Allah Swt.  sebagaimana yang dilakukan terhadap Al-Quran (QS.15:10), firman-Nya:
مَا کَانَ لِبَشَرٍ اَنۡ یُّؤۡتِیَہُ اللّٰہُ الۡکِتٰبَ وَ الۡحُکۡمَ وَ النُّبُوَّۃَ ثُمَّ یَقُوۡلَ لِلنَّاسِ کُوۡنُوۡا عِبَادًا لِّیۡ مِنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ وَ لٰکِنۡ کُوۡنُوۡا رَبّٰنِیّٖنَ بِمَا کُنۡتُمۡ تُعَلِّمُوۡنَ الۡکِتٰبَ وَ بِمَا کُنۡتُمۡ  تَدۡرُسُوۡنَ ﴿ۙ﴾ وَ لَا یَاۡمُرَکُمۡ اَنۡ تَتَّخِذُوا الۡمَلٰٓئِکَۃَ وَ النَّبِیّٖنَ اَرۡبَابًا ؕ اَیَاۡمُرُکُمۡ بِالۡکُفۡرِ بَعۡدَ اِذۡ اَنۡتُمۡ مُّسۡلِمُوۡنَ ﴿٪﴾
Sekali-kali tidak mungkin  bagi seorang manusia yang kepadanya Allah memberi Kitab, Kekuasaan, dan  kenabian,  kemudian ia  berkata kepada manusia: “Jadilah kamu hamba-hamba-Ku, bukannya hamba-hamba Allah”,  tetapi ia akan berkata:  “Jadilah kamu orang yang berbakti  hanya kepada Allah, karena kamu senan-tiasa mengajarkan Kitab  serta  kamu senantiasa mempelajarinya, dan kamu se-nantiasa membacanya.”  Dan tidak  pula ia akan menyuruh kamu supaya kamu menjadikan malaikat-malaikat dan nabi-nabi sebagai tuhan-tuhan. Apakah  ia akan menyuruh kamu  kafir  setelah kamu menjadi  orang-orang yang berserah diri kepada Allah?  (Āli’ Imran [3]:80-81).
       Ungkapan  “mā kāna lahu” berkenaan dengan para nabi Allah dipakai dalam tiga pengertian: (a) tidak layak baginya berbuat demikian; (b) tidak mungkin baginya berbuat demikian; atau tidak masuk akal ia sampai berbuat demikian; (c) tidak ada kemungkinan ia dapat berbuat demikian, yakni secara fisik mustahil ia berbuat demikian.

Meniru-niru Kemusyrikan Orang-orang Sebelumnya

      Dengan demikian jelaslah bahwa agama-agama yang kemudian mengajarkan penyembahan terhadap nabi-nabi mereka atau terhadap  para malaikat, para pemuka agama mereka dan sebagainya, kemusyrikan seperti itu  bukanlah ajaran asli dari agama-agama tersebut melainkan  ajaran-ajaran sesat  yang masuk kemudian, atau mengikuti kesesatan orang-orang musyrik sebelumnya, firman-Nya:
وَ قَالَتِ الۡیَہُوۡدُ عُزَیۡرُۨ  ابۡنُ اللّٰہِ وَ قَالَتِ النَّصٰرَی الۡمَسِیۡحُ  ابۡنُ  اللّٰہِ ؕ ذٰلِکَ قَوۡلُہُمۡ بِاَفۡوَاہِہِمۡ ۚ یُضَاہِـُٔوۡنَ  قَوۡلَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا مِنۡ قَبۡلُ ؕ قٰتَلَہُمُ اللّٰہُ ۚ۫ اَنّٰی  یُؤۡفَکُوۡنَ ﴿﴾   
Dan  orang-orang Yahudi berkata: “Uzair  adalah  anak Allah”, dan orang-orang Nasrani berkata: “Al-Masih adalah  anak  Allah.” ذٰلِکَ قَوۡلُہُمۡ بِاَفۡوَاہِہِمۡ   -- Demikian itulah perkataan mereka dengan mulutnya, یُضَاہِـُٔوۡنَ  قَوۡلَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا مِنۡ قَبۡلُ  -- mereka  meniru-niru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Allah membinasakan mereka, bagaimana mereka sampai dipalingkan dari Tauhid?  (At-Taubah [9]:30).
        Makna ayat:  وَ لٰکِنۡ کُوۡنُوۡا رَبّٰنِیّٖنَ بِمَا کُنۡتُمۡ تُعَلِّمُوۡنَ الۡکِتٰبَ وَ بِمَا کُنۡتُمۡ  تَدۡرُسُوۡنَ --  “tetapi ia akan berkata:  “Jadilah kamu orang yang berbakti  hanya kepada Allah, karena kamu senantiasa mengajarkan Kitab  serta  kamu senantiasa mempelajarinya, dan kamu senantiasa membacanya  (Āli’ Imran [3]:80). Rabbaniyyīn itu jamak dari Rabbaniy yang berarti:
(1) orang yang mewakafkan diri untuk mengkhidmati agama atau menyediakan dirinya untuk menjalankan ibadah;
(2) orang yang memiliki ilmu Ilahiyyat (Ketuhanan);
(3) orang yang ahli dalam pengetahuan agama, atau seorang yang baik dan bertakwa;
(4) guru yang mulai memberikan kepada orang-orang pengetahuan atau ilmu yang ringan-ringan sebelum beranjak ke ilmu-ilmu yang berat-berat;
(5) induk semang atau majikan atau pemimpin;
(6) seorang muslih (pembaharu). (Lexicon Lane; Sibawaih, dan Mubarrad).
   Kata-kata: بِمَا کُنۡتُمۡ تُعَلِّمُوۡنَ الۡکِتٰبَ وَ بِمَا کُنۡتُمۡ  تَدۡرُسُوۡنَ  --  “karena kamu senantiasa mengajarkan Al-Kitab dan senantiasa mempelajarinya”, menunjukkan bahwa telah menjadi kewajiban bagi semua yang telah meraih ilmu keruhanian, agar mereka meneruskannya kepada orang-orang lain dan jangan membiarkan orang-orang meraba-raba dalam kegelapan, kejahilan atau kebodohan.

Kemustahilan Para Nabi Allah Mengajarkan Kemusyrikan

  Selanjutnya Allah Swt. berfirman mengenai kemustahilan para rasul Allah mengajarkan  kemusyrikan kepada manusia:
وَ لَا یَاۡمُرَکُمۡ اَنۡ تَتَّخِذُوا الۡمَلٰٓئِکَۃَ وَ النَّبِیّٖنَ اَرۡبَابًا ؕ اَیَاۡمُرُکُمۡ بِالۡکُفۡرِ بَعۡدَ اِذۡ اَنۡتُمۡ مُّسۡلِمُوۡنَ ﴿٪﴾
Dan tidak  pula ia akan menyuruh kamu supaya kamu menjadikan malaikat-malaikat dan nabi-nabi sebagai tuhan-tuhan. Apakah  ia akan menyuruh kamu  kafir  setelah kamu menjadi  orang-orang yang berserah diri kepada Allah?  (Āli’ Imran [3]:80-81).
         Kembali  kepada kemusyrikan yang terjadi di kalangan golongan Ahli Kitab yang dikemukakan sebelum ini, firman-Nya:
وَ قَالَتِ الۡیَہُوۡدُ عُزَیۡرُۨ  ابۡنُ اللّٰہِ وَ قَالَتِ النَّصٰرَی الۡمَسِیۡحُ  ابۡنُ  اللّٰہِ ؕ ذٰلِکَ قَوۡلُہُمۡ بِاَفۡوَاہِہِمۡ ۚ یُضَاہِـُٔوۡنَ  قَوۡلَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا مِنۡ قَبۡلُ ؕ قٰتَلَہُمُ اللّٰہُ ۚ۫ اَنّٰی  یُؤۡفَکُوۡنَ ﴿﴾  اِتَّخَذُوۡۤا اَحۡبَارَہُمۡ وَ رُہۡبَانَہُمۡ اَرۡبَابًا مِّنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ وَ الۡمَسِیۡحَ ابۡنَ مَرۡیَمَ ۚ وَ مَاۤ  اُمِرُوۡۤا  اِلَّا  لِیَعۡبُدُوۡۤا  اِلٰـہًا  وَّاحِدًا ۚ لَاۤ اِلٰہَ  اِلَّا ہُوَ ؕ سُبۡحٰنَہٗ عَمَّا یُشۡرِکُوۡنَ ﴿﴾  یُرِیۡدُوۡنَ  اَنۡ یُّطۡفِـُٔوۡا نُوۡرَ اللّٰہِ بِاَفۡوَاہِہِمۡ وَ یَاۡبَی اللّٰہُ  اِلَّاۤ  اَنۡ  یُّتِمَّ  نُوۡرَہٗ     وَ لَوۡ  کَرِہَ  الۡکٰفِرُوۡنَ ﴿﴾
Dan  orang-orang Yahudi berkata: “Uzair  adalah  anak Allah”, dan orang-orang Nasrani berkata: “Al-Masih adalah  anak  Allah.”  Demikian itulah perkataan mereka dengan mulutnya, mereka  meniru-niru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu.  Allah membinasakan mereka, bagaimana mereka sampai dipalingkan dari Tauhid? ا Mereka telah menjadikan ulama-ulama mereka dan rahib-rahib mereka  sebagai tuhan-tuhan selain Allah, dan begitu juga Al-Masih ibnu Maryam  padahal  mereka tidak diperintahkan melainkan supaya mereka menyembah Tuhan Yang Mahaesa. Tidak ada Tuhan kecuali Dia. Maha-suci Dia dari apa yang mereka sekutukan.    Mereka berkehendak memadamkan cahaya Allah  dengan mulut mereka, tetapi Allah menolak bahkan menyempurnakan cahaya-Nya,   walau-pun orang-orang kafir tidak menyukai. (At-Taubah [9]:30-32). Lihat pula    QS.2:117; QS.10:69;  QS.17:112; QS.18:5;  QS.112:1-5.
       ‘Uzair atau Ezra hidup pada abad kelima sebelum Masehi. Beliau keturunan Seraya, imam agung, dan karena beliau sendiri pun anggota Dewan Imam dan dikenal sebagai Imam Ezra. Beliau termasuk seorang tokoh terpenting di masanya dan mempunyai pengaruh yang luas sekali dalam mengembangkan agama Yahudi.  
        ‘Uzair (Ezra)  mendapat kehormatan khas di antara nabi-nabi Israil. Orang-orang Yahudi di Medinah dan suatu mazhab Yahudi di Hadramaut, mempercayai beliau sebagai anak Allah. Para Rabbi (pendeta-pendeta Yahudi) menghubungkan nama beliau dengan beberapa lembaga-lembaga penting.
       Renan mengemukakan dalam mukadimah bukunya “History of the People of Israel” bahwa bentuk agama Yahudi yang-pasti dapat dianggap berwujud semenjak masa Ezra. Dalam kepustakaan golongan Rabbi beliau dianggap patut jadi wahana pengemban syariat seandainya syariat itu tidak dibawa oleh Nabi Musa a.s. Beliau bekerjasama dengan Nehemya dan wafat pada usia 120 tahun di Babil (Yewish Encyclopaedia & Encyclopaedia Biblica).

Membangun Gereja-gereja Untuk Menghormati Para Santo  & Makna  Upaya “Memadamkan Cahaya Allah” Dengan “Tiupan Mulut” Mereka

      Selanjutnya Allah Swt. berfirman:   “Mereka telah menjadikan ulama-ulama mereka dan rahib-rahib mereka  sebagai tuhan-tuhan selain Allah, dan begitu juga Al-Masih ibnu Maryam.”   Ahbar adalah ulama-ulama Yahudi dan Ruhban adalah para rahib (petapa) agama Nasrani.
       Dalam surah Al-Kahfi dikemukakan mengenai generasi penerus  Ashhabul-Kahf (para Penghuni gua) ketika mereka  setelah “bangun dari tidur panjang mereka“ lalu keluar dari “Al-Kahf” (gua-gua)  dan  mereka menjadi  pecinta kehidupan duniawi  -- bertolak belakang dengan pendahulu mereka di masa awal --  firman-Nya:
وَ کَذٰلِکَ اَعۡثَرۡنَا عَلَیۡہِمۡ لِیَعۡلَمُوۡۤا اَنَّ وَعۡدَ اللّٰہِ حَقٌّ وَّ اَنَّ السَّاعَۃَ  لَا رَیۡبَ فِیۡہَا ۚ٭ اِذۡ یَتَنَازَعُوۡنَ بَیۡنَہُمۡ اَمۡرَہُمۡ فَقَالُوا ابۡنُوۡا عَلَیۡہِمۡ بُنۡیَانًا ؕ رَبُّہُمۡ اَعۡلَمُ بِہِمۡ ؕ قَالَ الَّذِیۡنَ غَلَبُوۡا عَلٰۤی اَمۡرِہِمۡ  لَنَتَّخِذَنَّ  عَلَیۡہِمۡ  مَّسۡجِدًا ﴿﴾
Dan demikianlah Kami memberitahukan mengenai mereka supaya mereka mengetahui  sesungguhnya janji Allah itu benar, dan bahwa  saat itu tidak ada keraguan di dalamnya,   -- ketika mereka bertengkar di antara mereka mengenai urusan mereka, dan mereka berkata satu sama lain: "Dirikanlah di atas mereka itu suatu bangunan." Rabb (Tuhan) mereka lebih mengetahui mengenai mereka   Orang-orang yang unggul atas perkara mereka berkata: "Kami pasti akan membangun di atas tempat tinggal mereka rumah peribadatan."  (Al-Kahf [18]:22).
   Kata-kata,  "Kami pasti akan membangun di atas tempat tinggal  mereka rumah peribadatan" menyebut salah satu ciri istimewa "penghuni­-penghuni gua" itu, yaitu para pelanjut (generasi penerus) mereka, yaitu bangsa-bangsa Kristen, mereka akan membangun gereja-gereja untuk memperingati orang-orang kudus mereka yang telah mati serta memberi nama gereja-gereja mereka itu dengan nama-nama orang-orang mereka anggap  suci (santo-santo). Perlu pula diperhatikan, bahwa banyak gereja semacam itu telah ditemukan di katakomba-katakomba.
  Makna “memadamkan Cahaya Allah dengan tiupan mulut mereka” dalam ayat selanjutnya:   Mereka berkehendak memadamkan cahaya Allah  dengan mulut mereka, tetapi Allah menolak bahkan menyempurnakan cahaya-Nya,   walau-pun orang-orang kafir tidak menyukai.  (At-Taubah [9]:31-32), maka “tiupan mulut mereka” artinya mengadakan berbagai bentuk  kemusyrikan yang mereka ada-adakan yang tidak pernah diajarkan oleh para rasul Allah, termasuk oleh Nabi Uzair a.s. mau pun Nabi Isa Ibnu Maryam a.s., firman-Nya:
وَ  اِذۡ قَالَ اللّٰہُ یٰعِیۡسَی ابۡنَ مَرۡیَمَ  ءَاَنۡتَ قُلۡتَ لِلنَّاسِ اتَّخِذُوۡنِیۡ وَ اُمِّیَ  اِلٰہَیۡنِ مِنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ ؕ قَالَ سُبۡحٰنَکَ مَا یَکُوۡنُ لِیۡۤ  اَنۡ اَقُوۡلَ مَا لَیۡسَ لِیۡ ٭ بِحَقٍّ ؕ؃ اِنۡ کُنۡتُ قُلۡتُہٗ فَقَدۡ عَلِمۡتَہٗ ؕ تَعۡلَمُ  مَا فِیۡ نَفۡسِیۡ وَ لَاۤ اَعۡلَمُ مَا فِیۡ نَفۡسِکَ ؕ اِنَّکَ اَنۡتَ عَلَّامُ  الۡغُیُوۡبِ ﴿﴾  مَا قُلۡتُ لَہُمۡ اِلَّا مَاۤ اَمَرۡتَنِیۡ بِہٖۤ اَنِ اعۡبُدُوا اللّٰہَ رَبِّیۡ وَ رَبَّکُمۡ ۚ وَ کُنۡتُ عَلَیۡہِمۡ  شَہِیۡدًا مَّا دُمۡتُ فِیۡہِمۡ ۚ فَلَمَّا تَوَفَّیۡتَنِیۡ  کُنۡتَ اَنۡتَ الرَّقِیۡبَ عَلَیۡہِمۡ ؕ وَ  اَنۡتَ عَلٰی کُلِّ  شَیۡءٍ  شَہِیۡدٌ ﴿﴾
Dan ingatlah ketika Allah berfirman: “Hai ‘Isa ibnu Maryam, apakah engkau telah berkata kepada manusia: “Jadikanlah aku dan ibuku sebagai dua tuhan  selain  Allah?" Ia berkata: “Maha Suci Engkau. Tidak patut bagiku mengatakan  apa yang  sekali-kali  bukan hakku. Jika  aku telah mengatakannya maka sungguh  Engkau mengetahuinya. Engkau mengetahui apa yang ada dalam diriku, sedangkan aku tidak mengetahui apa yang ada dalam diri Engkau sesungguhnya Engkau benar-benar Maha Mengetahui segala yang gaib. Aku sekali-kali tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang telah Engkau perintahkan kepadaku, yaitu:  Beribadahlah kepada Allah, Rabb-ku (Tuhan-ku) dan Rabb (Tuhan) kamu.” Dan aku menjadi saksi atas me-reka selama aku berada di antara mereka, tetapi tatkala  Engkau telah mewafatkanku  maka Engkau-lah Yang benar-benar menjadi Pengawas atas mereka, dan Engkau adalah Saksi atas segala sesuatu. (Al-Māidah [5]:117-118).

Mempertuhankan “Siti Maryam” Sebagai “Bunda Tuhan

       Ayat:   “Dan ingatlah ketika Allah berfirman: “Hai ‘Isa ibnu Maryam, apakah engkau telah berkata kepada manusia: “Jadikanlah aku dan ibuku sebagai dua tuhan  selain  Allah?"   Ayat itu menunjuk kepada kebiasaan Gereja Kristen yang menisbahkan kekuatan-kekuatan Uluhiyyah (Ketuhanan) kepada Siti Maryam. Pertolongan Siti Maryam dimohon dalam Litania (suatu bentuk sembahyang), sedangkan dalam Katakisma (Cathechism, yakni, dasar-dasar ajaran agama berupa tanya-jawab) Gereja Romawi ditanamkan akidah bahwa Siti Maryam  itu bunda Tuhan.
       Gerejawan-gerejawan di zaman lampau menganggap beliau mempunyai sifat-sifat Tuhan dan hanya beberapa tahun yang silam, Paus Pius XII telah memasukkan paham kenaikan Siti Maryam ke langit dalam ajaran Gereja. Semua ini sama halnya dengan menaikkan beliau ke jenjang Ketuhanan dan inilah apa yang dicela oleh umat Protestan dan disebut sebagai Mariolatry (Pemujaan Dara Maria).
        Ungkapan bahasa Arab dalam teks   -- berkenaan jawaban Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. -- yang diterjemahkan sebagai “tidak layak bagiku” dapat ditafsirkan sebagai: “Tidak patut bagiku atau tidak mungkin bagiku atau aku tidak berhak berbuat demikian,” dan sebagainya. Sebab Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.  mengajarkan menyembah hanya satu Tuhan:
Maka berkatalah Yesus kepadanya: "Enyahlah, Iblis!   Sebab ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti! " (Matius 4:10) lihat pula Lukas 4:8.
        Kemudian   masih dalam Injil Matius ada dialog antara Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. dengan seorang penanya:
36 "Guru, hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat?" 37 Jawab Yesus kepadanya: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. 38 Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. 39 Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. 40 Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi." (Matius 22:36-37).
         Karena Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. datang  bukan untuk menghilangkan  hukum Taurat mau pun kitab nabi-nabi melainkan untuk menyempurnakannya (Matius 5:17-20), tentu beliau pun mengajarkan Tauhid Ilahi kepada para murid-murid beliau  selama beliau bersama-sama dengan mereka, sebagaimana firman-Nya sebelum ini:
وَ  اِذۡ قَالَ اللّٰہُ یٰعِیۡسَی ابۡنَ مَرۡیَمَ  ءَاَنۡتَ قُلۡتَ لِلنَّاسِ اتَّخِذُوۡنِیۡ وَ اُمِّیَ  اِلٰہَیۡنِ مِنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ ؕ قَالَ سُبۡحٰنَکَ مَا یَکُوۡنُ لِیۡۤ  اَنۡ اَقُوۡلَ مَا لَیۡسَ لِیۡ ٭ بِحَقٍّ ؕ؃ اِنۡ کُنۡتُ قُلۡتُہٗ فَقَدۡ عَلِمۡتَہٗ ؕ تَعۡلَمُ  مَا فِیۡ نَفۡسِیۡ وَ لَاۤ اَعۡلَمُ مَا فِیۡ نَفۡسِکَ ؕ اِنَّکَ اَنۡتَ عَلَّامُ  الۡغُیُوۡبِ ﴿﴾  مَا قُلۡتُ لَہُمۡ اِلَّا مَاۤ اَمَرۡتَنِیۡ بِہٖۤ اَنِ اعۡبُدُوا اللّٰہَ رَبِّیۡ وَ رَبَّکُمۡ ۚ وَ کُنۡتُ عَلَیۡہِمۡ  شَہِیۡدًا مَّا دُمۡتُ فِیۡہِمۡ ۚ فَلَمَّا تَوَفَّیۡتَنِیۡ  کُنۡتَ اَنۡتَ الرَّقِیۡبَ عَلَیۡہِمۡ ؕ وَ  اَنۡتَ عَلٰی کُلِّ  شَیۡءٍ  شَہِیۡدٌ ﴿﴾
Dan ingatlah ketika Allah berfirman: “Hai ‘Isa ibnu Maryam, apakah engkau telah berkata kepada manusia: “Jadikanlah aku dan ibuku sebagai dua tuhan  selain  Allah?" Ia berkata: “Maha Suci Engkau. Tidak patut bagiku mengatakan  apa yang  sekali-kali  bukan hakku. Jika  aku telah mengatakannya maka sungguh  Engkau mengetahuinya. Engkau mengetahui apa yang ada dalam diriku, sedangkan aku tidak mengetahui apa yang ada dalam diri Engkau sesungguhnya Engkau benar-benar Maha Mengetahui segala yang gaib. Aku sekali-kali tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang telah Engkau perintahkan kepadaku, yaitu:  Beribadahlah kepada Allah, Rabb-ku (Tuhan-ku) dan Rabb (Tuhan) kamu.” Dan aku menjadi saksi atas mereka selama aku berada di antara mereka, tetapi tatkala  Engkau telah mewafatkanku  maka Engkau-lah Yang benar-benar menjadi Pengawas atas mereka, dan Engkau adalah Saksi atas segala sesuatu. (Al-Māidah [5]:117-118).

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid

oo0oo
Pajajaran Anyar,  7 Februari  2017

Tidak ada komentar:

Posting Komentar