Bismillaahirrahmaanirrahiim
ISLAM
Pidato Mirza Ghulam Ahmad a.s.
Tgl. 2 November 1904
di Kota Sialkote – Hindustan
Bab 14
AL-QURAN SEBAGAI “PENJAGA” AJARAN ASLI KITAB-KITAB SUCI SEBELUMNYA & KEMUSTAHILAN PARA RASUL ALLAH
MENGAJARKAN KEMUSYRIKAN
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam bagian akhir Bab 13 telah dijelaskan topik Tujuan
Pemberian Kekuasaan dan Kekayaan Duniawi Kepada Manusia, sehubungan azab
Ilahi yang diancamkan Allah Swt.
terhadap permintaan para hawari (murid-murid awal) Nabi Isa Ibnu
Maryam a.s. berkenaan māidah
(hidangan) yaitu “kekayaan duniawi”, jika mereka tidak mensyukurinya sebagaimana Allah Swt. kehendaki, firman-Nya:
قَالَ
اللّٰہُ اِنِّیۡ مُنَزِّلُہَا عَلَیۡکُمۡ ۚ فَمَنۡ یَّکۡفُرۡ بَعۡدُ مِنۡکُمۡ
فَاِنِّیۡۤ اُعَذِّبُہٗ عَذَابًا لَّاۤ اُعَذِّبُہٗۤ اَحَدًا مِّنَ الۡعٰلَمِیۡنَ ﴿﴾٪
Allah
berfirman: “Sesungguhnya Aku akan
menurunkannya kepada kamu, lalu barangsiapa
di antara kamu kafir sesudah
itu, maka sesungguhnya Aku akan
mengazabnya dengan azab yang tidak
pernah Aku mengazab kepada seorang pun di seluruh alam.” (Al-Māidah [5]:115-116).
Setelah menolak telah mengajarkan kepada para pengikutnya agar menjadikan beliau dan ibundanya sebagai “dua tuhan”
selain Allah Swt. (QS.5:117-118)
selanjutnya Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. berkata,:
اِنۡ
تُعَذِّبۡہُمۡ فَاِنَّہُمۡ عِبَادُکَ ۚ وَ اِنۡ تَغۡفِرۡ لَہُمۡ فَاِنَّکَ اَنۡتَ
الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ ﴿﴾
“Kalau Engkau mengazab mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba
Engkau, dan kalau Engkau mengampuni
mereka, maka sesungguhnya Engkau
benar-benar Maha Perkasa, Maha Bijaksana”
(Al-Māidah
[5]: 119).
Dua Perang Dunia I dan Perang Dunia II akibat-akibat yang ditimbulkannya dapat
merupakan satu tahap penyempurnaan kabar
gaib (nubuatan) tersebut dan hanya
Allah Swt. sajalah Yang mengetahui hukuman-hukuman mengerikan apakah yang masih menunggu untuk bangsa-bangsa Kristen di belahan bumi
sebelah barat, sejalan dengan firman-Nya:
ۚ فَمَنۡ یَّکۡفُرۡ بَعۡدُ
مِنۡکُمۡ فَاِنِّیۡۤ اُعَذِّبُہٗ عَذَابًا لَّاۤ اُعَذِّبُہٗۤ اَحَدًا مِّنَ الۡعٰلَمِیۡنَ ﴿﴾٪
“Lalu barangsiapa di antara kamu kafir sesudah itu, maka sesungguhnya Aku akan mengazabnya
dengan azab yang tidak pernah
Aku mengazab kepada seorang pun di seluruh alam.”
Peringatan Allah Swt. tersebut sesuai dengan firman-Nya dalam surah Bani Israil berikut ini::
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿۳﴾ اَلۡحَمۡدُ لِلّٰہِ الَّذِیۡۤ اَنۡزَلَ عَلٰی
عَبۡدِہِ الۡکِتٰبَ وَ لَمۡ
یَجۡعَلۡ لَّہٗ عِوَجًا ؕ﴿ٜ﴾ قَیِّمًا لِّیُنۡذِرَ بَاۡسًا
شَدِیۡدًا مِّنۡ لَّدُنۡہُ وَ یُبَشِّرَ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ الَّذِیۡنَ
یَعۡمَلُوۡنَ الصّٰلِحٰتِ اَنَّ لَہُمۡ اَجۡرًا حَسَنًا ۙ﴿﴾ مَّاکِثِیۡنَ فِیۡہِ اَبَدًا ۙ﴿﴾ وَّ یُنۡذِرَ
الَّذِیۡنَ قَالُوا اتَّخَذَ اللّٰہُ وَلَدًا ٭﴿﴾ مَا لَہُمۡ بِہٖ مِنۡ عِلۡمٍ وَّ لَا لِاٰبَآئِہِمۡ ؕ کَبُرَتۡ کَلِمَۃً تَخۡرُجُ مِنۡ اَفۡوَاہِہِمۡ ؕ اِنۡ یَّقُوۡلُوۡنَ اِلَّا کَذِبًا ﴿﴾ فَلَعَلَّکَ بَاخِعٌ نَّفۡسَکَ عَلٰۤی اٰثَارِہِمۡ اِنۡ
لَّمۡ یُؤۡمِنُوۡا بِہٰذَا الۡحَدِیۡثِ اَسَفًا ﴿﴾
اِنَّا
جَعَلۡنَا مَا عَلَی الۡاَرۡضِ زِیۡنَۃً لَّہَا لِنَبۡلُوَہُمۡ اَیُّہُمۡ اَحۡسَنُ عَمَلًا ﴿﴾ وَ اِنَّا لَجٰعِلُوۡنَ مَا عَلَیۡہَا صَعِیۡدًا جُرُزًا ؕ﴿﴾
Aku
baca dengan nama Allah Maha Pemurah,
Maha Penyayang. Segala
puji bagi Allah Yang telah
menurunkan kepada hamba-Nya Kitab Al-Quran ini dan Dia tidak menjadikan padanya kebengkokan. Sebagai penjaga
untuk memberi peringatan
mengenai siksaan yang dahsyat dari
hadirat-Nya, dan memberikan kabar gembira
kepada orang-orang beriman
yang beramal saleh bahwa sesungguhnya
bagi mereka ada ganjaran yang baik, mereka
menetap di dalamnya selama-lamanya. Dan supaya
memperingatkan orang-orang yang
berkata: "Allah mengambil seorang anak laki-laki. Mereka sekali-kali tidak memiliki pengetahuan mengenainya, dan tidak pula bapak-bapak mereka memilikinya. Sangat
besar keburukan perkataan yang keluar dari mulut mereka, mereka tidak mengucapkan kecuali kedustaan. Maka sangat mungkin engkau akan membinasakan diri engkau karena sangat
sedih sekiranya mereka tidak beriman kepada keterangan ini. Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi perhiasan baginya
supaya Kami
menguji mereka siapakah di antara
mereka yang terbaik perbuatannya. Dan sesungguhnya Kami niscaya akan menjadikan segala yang ada di atasnya
menjadi tanah-rata yang tandus.
(Al-Kahf [19]:1-9).
Penjagaan Al-Quran Terhadap Ajaran Asli
Kitab-kitab (Agama-agama) Sebelumnya
Al-Quran sebagai qayyim (penjaga)
melakukan tugas ganda. Al-Quran penjaga atas kitab-kitab terdahulu dengan jalan memperbaiki dan menghilangkan
kesalahan-kesalahan yang telah masuk
dalam kitab-kitab itu, dan
Al-Quran penjaga atas generasi-generasi
yang akan datang, sebab dipikulnya kewajiban
untuk memperkembangkan ruhani
mereka serta membimbing mereka pada jalan-jalan yang menjurus kepada penghayatan tujuan hidup manusia yang agung dan mulia (QS.51:57-59).
Salah satu contoh “penjagaan” yang dilakukan Al-Quran
terhadap Kitab-kitab (agama-agama)
sebelum Al-Quran adalah menyeru para penganut agama-agama sebelumnya kepada ajaran Tauhid
Ilahi yang hakiki serta
meninggalkan berbagai bentuk “kemusyrikan”
lainnya – baik yang nyata mau pun
yang tersembunyi -- yang merasuki agama-agama tersebut akibat tidak
mendapat pemeliharaan Allah
Swt. sebagaimana yang dilakukan terhadap
Al-Quran (QS.15:10), firman-Nya:
مَا کَانَ لِبَشَرٍ اَنۡ یُّؤۡتِیَہُ
اللّٰہُ الۡکِتٰبَ وَ الۡحُکۡمَ وَ النُّبُوَّۃَ ثُمَّ یَقُوۡلَ لِلنَّاسِ
کُوۡنُوۡا عِبَادًا لِّیۡ مِنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ وَ لٰکِنۡ کُوۡنُوۡا رَبّٰنِیّٖنَ
بِمَا کُنۡتُمۡ تُعَلِّمُوۡنَ الۡکِتٰبَ وَ بِمَا کُنۡتُمۡ تَدۡرُسُوۡنَ ﴿ۙ﴾ وَ لَا
یَاۡمُرَکُمۡ اَنۡ تَتَّخِذُوا الۡمَلٰٓئِکَۃَ وَ النَّبِیّٖنَ اَرۡبَابًا ؕ
اَیَاۡمُرُکُمۡ بِالۡکُفۡرِ بَعۡدَ اِذۡ اَنۡتُمۡ مُّسۡلِمُوۡنَ ﴿٪﴾
Sekali-kali tidak mungkin bagi seorang
manusia yang kepadanya Allah memberi
Kitab, Kekuasaan, dan kenabian, kemudian ia berkata kepada manusia: “Jadilah kamu hamba-hamba-Ku, bukannya hamba-hamba Allah”, tetapi ia akan berkata: “Jadilah
kamu orang yang berbakti hanya
kepada Allah, karena kamu
senan-tiasa mengajarkan Kitab serta
kamu senantiasa mempelajarinya,
dan kamu se-nantiasa membacanya.”
Dan tidak pula ia akan menyuruh
kamu supaya kamu menjadikan
malaikat-malaikat dan nabi-nabi sebagai
tuhan-tuhan. Apakah ia
akan menyuruh kamu kafir setelah kamu
menjadi orang-orang yang berserah diri kepada
Allah? (Āli’ Imran [3]:80-81).
Ungkapan “mā kāna lahu” berkenaan dengan para nabi Allah dipakai dalam tiga
pengertian: (a) tidak layak baginya berbuat demikian; (b) tidak mungkin baginya
berbuat demikian; atau tidak masuk akal ia sampai berbuat demikian; (c) tidak
ada kemungkinan ia dapat berbuat demikian, yakni secara fisik mustahil ia berbuat demikian.
Meniru-niru Kemusyrikan
Orang-orang Sebelumnya
Dengan demikian jelaslah bahwa agama-agama yang kemudian mengajarkan penyembahan terhadap nabi-nabi mereka atau terhadap para malaikat,
para pemuka agama mereka dan
sebagainya, kemusyrikan seperti itu bukanlah ajaran
asli dari agama-agama tersebut
melainkan ajaran-ajaran sesat yang
masuk kemudian, atau mengikuti kesesatan
orang-orang musyrik sebelumnya,
firman-Nya:
وَ
قَالَتِ الۡیَہُوۡدُ عُزَیۡرُۨ ابۡنُ اللّٰہِ وَ قَالَتِ النَّصٰرَی الۡمَسِیۡحُ
ابۡنُ اللّٰہِ ؕ ذٰلِکَ قَوۡلُہُمۡ بِاَفۡوَاہِہِمۡ ۚ یُضَاہِـُٔوۡنَ قَوۡلَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا مِنۡ قَبۡلُ ؕ قٰتَلَہُمُ اللّٰہُ ۚ۫ اَنّٰی
یُؤۡفَکُوۡنَ ﴿﴾
Dan orang-orang
Yahudi berkata: “Uzair adalah anak
Allah”, dan orang-orang Nasrani
berkata: “Al-Masih adalah anak Allah.” ذٰلِکَ قَوۡلُہُمۡ بِاَفۡوَاہِہِمۡ -- Demikian
itulah perkataan mereka dengan mulutnya,
یُضَاہِـُٔوۡنَ قَوۡلَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا
مِنۡ قَبۡلُ -- mereka meniru-niru perkataan orang-orang kafir
yang terdahulu. Allah membinasakan
mereka, bagaimana mereka sampai dipalingkan
dari Tauhid? (At-Taubah
[9]:30).
Makna
ayat: وَ لٰکِنۡ کُوۡنُوۡا رَبّٰنِیّٖنَ بِمَا
کُنۡتُمۡ تُعَلِّمُوۡنَ الۡکِتٰبَ وَ بِمَا کُنۡتُمۡ تَدۡرُسُوۡنَ -- “tetapi ia akan berkata: “Jadilah
kamu orang yang berbakti hanya
kepada Allah, karena kamu senantiasa
mengajarkan Kitab serta
kamu senantiasa mempelajarinya,
dan kamu senantiasa membacanya” (Āli’ Imran
[3]:80). Rabbaniyyīn itu jamak dari Rabbaniy yang berarti:
(1) orang yang mewakafkan diri untuk
mengkhidmati agama atau menyediakan dirinya untuk menjalankan ibadah;
(2) orang yang memiliki ilmu
Ilahiyyat (Ketuhanan);
(3) orang yang ahli dalam
pengetahuan agama, atau seorang yang baik dan bertakwa;
(4) guru yang mulai memberikan
kepada orang-orang pengetahuan atau ilmu yang ringan-ringan sebelum beranjak ke
ilmu-ilmu yang berat-berat;
(5) induk semang atau majikan atau
pemimpin;
(6) seorang muslih (pembaharu). (Lexicon Lane; Sibawaih, dan Mubarrad).
Kata-kata: بِمَا کُنۡتُمۡ تُعَلِّمُوۡنَ الۡکِتٰبَ
وَ بِمَا کُنۡتُمۡ تَدۡرُسُوۡنَ -- “karena
kamu senantiasa mengajarkan Al-Kitab dan senantiasa
mempelajarinya”, menunjukkan bahwa telah menjadi kewajiban bagi semua yang telah meraih ilmu keruhanian, agar mereka meneruskannya kepada orang-orang lain
dan jangan membiarkan orang-orang meraba-raba
dalam kegelapan, kejahilan atau kebodohan.
Kemustahilan Para Nabi Allah Mengajarkan Kemusyrikan
Selanjutnya Allah Swt. berfirman mengenai kemustahilan para rasul Allah mengajarkan kemusyrikan kepada manusia:
وَ لَا
یَاۡمُرَکُمۡ اَنۡ تَتَّخِذُوا الۡمَلٰٓئِکَۃَ وَ النَّبِیّٖنَ اَرۡبَابًا ؕ
اَیَاۡمُرُکُمۡ بِالۡکُفۡرِ بَعۡدَ اِذۡ اَنۡتُمۡ مُّسۡلِمُوۡنَ ﴿٪﴾
Dan tidak
pula ia akan menyuruh kamu supaya kamu menjadikan malaikat-malaikat dan nabi-nabi sebagai tuhan-tuhan.
Apakah ia akan menyuruh kamu kafir setelah kamu
menjadi orang-orang yang berserah diri kepada
Allah? (Āli’ Imran [3]:80-81).
Kembali kepada kemusyrikan
yang terjadi di kalangan golongan Ahli
Kitab yang dikemukakan sebelum ini, firman-Nya:
وَ قَالَتِ الۡیَہُوۡدُ
عُزَیۡرُۨ ابۡنُ اللّٰہِ وَ قَالَتِ
النَّصٰرَی الۡمَسِیۡحُ ابۡنُ
اللّٰہِ ؕ ذٰلِکَ
قَوۡلُہُمۡ بِاَفۡوَاہِہِمۡ ۚ یُضَاہِـُٔوۡنَ قَوۡلَ الَّذِیۡنَ
کَفَرُوۡا مِنۡ قَبۡلُ ؕ قٰتَلَہُمُ
اللّٰہُ ۚ۫ اَنّٰی یُؤۡفَکُوۡنَ ﴿﴾ اِتَّخَذُوۡۤا اَحۡبَارَہُمۡ
وَ رُہۡبَانَہُمۡ اَرۡبَابًا
مِّنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ وَ
الۡمَسِیۡحَ ابۡنَ مَرۡیَمَ ۚ وَ مَاۤ
اُمِرُوۡۤا اِلَّا لِیَعۡبُدُوۡۤا اِلٰـہًا وَّاحِدًا ۚ لَاۤ
اِلٰہَ اِلَّا ہُوَ ؕ
سُبۡحٰنَہٗ عَمَّا یُشۡرِکُوۡنَ ﴿﴾ یُرِیۡدُوۡنَ اَنۡ یُّطۡفِـُٔوۡا
نُوۡرَ اللّٰہِ بِاَفۡوَاہِہِمۡ
وَ یَاۡبَی اللّٰہُ اِلَّاۤ اَنۡ یُّتِمَّ نُوۡرَہٗ وَ لَوۡ کَرِہَ الۡکٰفِرُوۡنَ ﴿﴾
Dan
orang-orang Yahudi berkata: “Uzair
adalah anak
Allah”, dan orang-orang Nasrani
berkata: “Al-Masih adalah anak Allah.” Demikian itulah perkataan mereka dengan mulutnya, mereka meniru-niru
perkataan orang-orang kafir yang terdahulu.
Allah
membinasakan mereka, bagaimana mereka
sampai dipalingkan dari Tauhid? ا Mereka telah menjadikan ulama-ulama mereka dan
rahib-rahib mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah, dan begitu juga Al-Masih ibnu Maryam, padahal
mereka tidak
diperintahkan melainkan supaya
mereka menyembah Tuhan Yang Mahaesa. Tidak
ada Tuhan kecuali Dia. Maha-suci Dia dari apa yang
mereka sekutukan. Mereka berkehendak memadamkan cahaya Allah dengan mulut
mereka, tetapi Allah menolak
bahkan menyempurnakan cahaya-Nya, walau-pun
orang-orang kafir tidak menyukai.
(At-Taubah [9]:30-32). Lihat pula QS.2:117; QS.10:69; QS.17:112; QS.18:5; QS.112:1-5.
‘Uzair
atau Ezra hidup pada abad kelima sebelum Masehi. Beliau keturunan Seraya, imam agung, dan karena beliau
sendiri pun anggota Dewan Imam dan
dikenal sebagai Imam Ezra. Beliau
termasuk seorang tokoh terpenting di masanya dan mempunyai pengaruh yang luas
sekali dalam mengembangkan agama Yahudi.
‘Uzair (Ezra) mendapat kehormatan
khas di antara nabi-nabi Israil.
Orang-orang Yahudi di Medinah dan suatu mazhab Yahudi di Hadramaut, mempercayai
beliau sebagai anak Allah. Para Rabbi
(pendeta-pendeta Yahudi) menghubungkan nama beliau dengan beberapa
lembaga-lembaga penting.
Renan mengemukakan dalam mukadimah bukunya “History of the People of Israel” bahwa bentuk agama Yahudi
yang-pasti dapat dianggap berwujud semenjak masa Ezra. Dalam kepustakaan golongan Rabbi beliau dianggap patut jadi
wahana pengemban syariat seandainya
syariat itu tidak dibawa oleh Nabi Musa a.s. Beliau bekerjasama
dengan Nehemya dan wafat pada usia
120 tahun di Babil (Yewish Encyclopaedia
& Encyclopaedia Biblica).
Membangun Gereja-gereja Untuk Menghormati Para Santo & Makna
Upaya “Memadamkan Cahaya Allah”
Dengan “Tiupan Mulut” Mereka
Selanjutnya Allah Swt. berfirman: “Mereka telah
menjadikan ulama-ulama mereka dan rahib-rahib
mereka sebagai tuhan-tuhan
selain Allah, dan begitu juga Al-Masih ibnu Maryam.” Ahbar adalah ulama-ulama Yahudi dan Ruhban adalah para rahib (petapa) agama Nasrani.
Dalam surah Al-Kahfi dikemukakan mengenai generasi
penerus Ashhabul-Kahf (para Penghuni gua) ketika mereka setelah “bangun
dari tidur panjang mereka“ lalu keluar
dari “Al-Kahf” (gua-gua) dan mereka menjadi pecinta
kehidupan duniawi -- bertolak belakang dengan pendahulu mereka
di masa awal -- firman-Nya:
وَ کَذٰلِکَ
اَعۡثَرۡنَا عَلَیۡہِمۡ لِیَعۡلَمُوۡۤا اَنَّ وَعۡدَ
اللّٰہِ حَقٌّ وَّ اَنَّ السَّاعَۃَ لَا رَیۡبَ فِیۡہَا ۚ٭ اِذۡ یَتَنَازَعُوۡنَ بَیۡنَہُمۡ اَمۡرَہُمۡ فَقَالُوا ابۡنُوۡا
عَلَیۡہِمۡ
بُنۡیَانًا ؕ رَبُّہُمۡ اَعۡلَمُ بِہِمۡ ؕ قَالَ الَّذِیۡنَ
غَلَبُوۡا عَلٰۤی اَمۡرِہِمۡ لَنَتَّخِذَنَّ عَلَیۡہِمۡ
مَّسۡجِدًا ﴿﴾
Dan
demikianlah Kami memberitahukan mengenai
mereka supaya mereka mengetahui sesungguhnya janji Allah itu benar,
dan bahwa saat itu tidak ada keraguan di
dalamnya, -- ketika mereka bertengkar di antara mereka
mengenai urusan mereka, dan mereka
berkata satu sama lain: "Dirikanlah
di atas mereka itu suatu bangunan." Rabb (Tuhan) mereka lebih mengetahui mengenai mereka. Orang-orang yang unggul atas perkara mereka
berkata: "Kami pasti akan membangun
di atas tempat tinggal mereka rumah peribadatan." (Al-Kahf [18]:22).
Kata-kata, "Kami pasti akan membangun di atas tempat
tinggal mereka rumah peribadatan"
menyebut salah satu ciri istimewa "penghuni-penghuni
gua" itu, yaitu para pelanjut
(generasi penerus) mereka, yaitu bangsa-bangsa
Kristen, mereka akan membangun gereja-gereja
untuk memperingati orang-orang kudus
mereka yang telah mati serta
memberi nama gereja-gereja mereka itu
dengan nama-nama orang-orang mereka
anggap suci (santo-santo). Perlu pula diperhatikan, bahwa banyak gereja semacam itu telah ditemukan di
katakomba-katakomba.
Makna
“memadamkan Cahaya Allah dengan tiupan mulut mereka” dalam ayat
selanjutnya: Mereka berkehendak memadamkan cahaya Allah dengan mulut
mereka, tetapi Allah menolak
bahkan menyempurnakan cahaya-Nya, walau-pun
orang-orang kafir tidak menyukai.
(At-Taubah [9]:31-32), maka “tiupan
mulut mereka” artinya mengadakan berbagai bentuk kemusyrikan
yang mereka ada-adakan yang tidak pernah
diajarkan oleh para rasul Allah, termasuk oleh Nabi Uzair a.s. mau pun Nabi Isa Ibnu Maryam a.s., firman-Nya:
وَ اِذۡ قَالَ اللّٰہُ
یٰعِیۡسَی ابۡنَ مَرۡیَمَ ءَاَنۡتَ قُلۡتَ
لِلنَّاسِ اتَّخِذُوۡنِیۡ وَ اُمِّیَ اِلٰہَیۡنِ مِنۡ دُوۡنِ
اللّٰہِ ؕ قَالَ سُبۡحٰنَکَ مَا یَکُوۡنُ لِیۡۤ
اَنۡ اَقُوۡلَ مَا لَیۡسَ لِیۡ ٭ بِحَقٍّ ؕ اِنۡ کُنۡتُ قُلۡتُہٗ فَقَدۡ
عَلِمۡتَہٗ ؕ تَعۡلَمُ مَا فِیۡ
نَفۡسِیۡ وَ لَاۤ اَعۡلَمُ مَا فِیۡ نَفۡسِکَ ؕ اِنَّکَ
اَنۡتَ عَلَّامُ الۡغُیُوۡبِ ﴿﴾ مَا قُلۡتُ لَہُمۡ اِلَّا مَاۤ اَمَرۡتَنِیۡ بِہٖۤ اَنِ اعۡبُدُوا
اللّٰہَ رَبِّیۡ وَ رَبَّکُمۡ ۚ وَ کُنۡتُ
عَلَیۡہِمۡ شَہِیۡدًا مَّا
دُمۡتُ فِیۡہِمۡ ۚ فَلَمَّا تَوَفَّیۡتَنِیۡ کُنۡتَ اَنۡتَ الرَّقِیۡبَ
عَلَیۡہِمۡ ؕ وَ اَنۡتَ عَلٰی
کُلِّ شَیۡءٍ شَہِیۡدٌ ﴿﴾
Dan ingatlah
ketika Allah berfirman: “Hai ‘Isa ibnu
Maryam, apakah engkau telah berkata
kepada manusia: “Jadikanlah aku dan
ibuku sebagai dua tuhan selain
Allah?" Ia berkata: “Maha
Suci Engkau. Tidak patut bagiku
mengatakan apa yang sekali-kali
bukan hakku. Jika aku telah mengatakannya maka sungguh Engkau mengetahuinya. Engkau mengetahui apa yang ada dalam diriku,
sedangkan aku tidak mengetahui apa yang
ada dalam diri Engkau, sesungguhnya Engkau benar-benar Maha Mengetahui segala yang gaib. Aku
sekali-kali tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang telah Engkau perintahkan
kepadaku, yaitu: ”Beribadahlah kepada Allah, Rabb-ku (Tuhan-ku) dan Rabb (Tuhan) kamu.” Dan aku menjadi saksi
atas me-reka selama aku berada di antara mereka, tetapi tatkala Engkau telah mewafatkanku maka Engkau-lah
Yang benar-benar menjadi Pengawas atas mereka, dan Engkau adalah Saksi atas segala sesuatu. (Al-Māidah [5]:117-118).
Mempertuhankan “Siti Maryam” Sebagai “Bunda Tuhan”
Ayat: “Dan
ingatlah ketika Allah berfirman: “Hai ‘Isa ibnu Maryam, apakah engkau
telah berkata kepada manusia: “Jadikanlah
aku dan ibuku sebagai dua tuhan selain
Allah?" Ayat itu
menunjuk kepada kebiasaan Gereja Kristen
yang menisbahkan kekuatan-kekuatan Uluhiyyah (Ketuhanan) kepada Siti Maryam. Pertolongan Siti Maryam dimohon dalam Litania (suatu
bentuk sembahyang), sedangkan dalam Katakisma (Cathechism, yakni,
dasar-dasar ajaran agama berupa tanya-jawab) Gereja Romawi ditanamkan akidah bahwa Siti Maryam itu bunda Tuhan.
Gerejawan-gerejawan di zaman
lampau menganggap beliau mempunyai sifat-sifat
Tuhan dan hanya beberapa tahun yang silam, Paus Pius XII telah memasukkan
paham kenaikan Siti Maryam ke langit
dalam ajaran Gereja. Semua ini sama
halnya dengan menaikkan beliau ke
jenjang Ketuhanan dan inilah apa yang
dicela oleh umat Protestan dan disebut sebagai Mariolatry (Pemujaan Dara
Maria).
Ungkapan bahasa Arab dalam teks -- berkenaan jawaban Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. -- yang diterjemahkan sebagai “tidak
layak bagiku” dapat ditafsirkan sebagai: “Tidak patut bagiku atau tidak
mungkin bagiku atau aku tidak berhak
berbuat demikian,” dan sebagainya. Sebab Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. mengajarkan menyembah hanya satu Tuhan:
Maka berkatalah Yesus kepadanya: "Enyahlah, Iblis! Sebab ada tertulis: Engkau harus menyembah
Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti! " (Matius 4:10) lihat pula Lukas
4:8.
Kemudian masih dalam Injil Matius ada dialog antara Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. dengan
seorang penanya:
36 "Guru, hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat?" 37 Jawab Yesus
kepadanya: "Kasihilah Tuhan,
Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap
akal budimu. 38 Itulah hukum yang
terutama dan yang pertama. 39 Dan hukum
yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. 40 Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum
Taurat dan kitab para nabi."
(Matius 22:36-37).
Karena Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.
datang bukan untuk menghilangkan hukum Taurat mau pun kitab nabi-nabi melainkan untuk menyempurnakannya
(Matius 5:17-20), tentu beliau pun
mengajarkan Tauhid Ilahi kepada para murid-murid beliau selama beliau bersama-sama dengan mereka, sebagaimana
firman-Nya sebelum ini:
وَ اِذۡ قَالَ اللّٰہُ
یٰعِیۡسَی ابۡنَ مَرۡیَمَ ءَاَنۡتَ قُلۡتَ
لِلنَّاسِ اتَّخِذُوۡنِیۡ وَ اُمِّیَ اِلٰہَیۡنِ مِنۡ دُوۡنِ
اللّٰہِ ؕ قَالَ سُبۡحٰنَکَ مَا یَکُوۡنُ لِیۡۤ
اَنۡ اَقُوۡلَ مَا لَیۡسَ لِیۡ ٭ بِحَقٍّ ؕ اِنۡ کُنۡتُ قُلۡتُہٗ فَقَدۡ
عَلِمۡتَہٗ ؕ تَعۡلَمُ مَا فِیۡ
نَفۡسِیۡ وَ لَاۤ اَعۡلَمُ مَا فِیۡ نَفۡسِکَ ؕ اِنَّکَ
اَنۡتَ عَلَّامُ الۡغُیُوۡبِ ﴿﴾ مَا قُلۡتُ لَہُمۡ اِلَّا مَاۤ اَمَرۡتَنِیۡ بِہٖۤ اَنِ اعۡبُدُوا
اللّٰہَ رَبِّیۡ وَ رَبَّکُمۡ ۚ وَ کُنۡتُ
عَلَیۡہِمۡ شَہِیۡدًا مَّا
دُمۡتُ فِیۡہِمۡ ۚ فَلَمَّا تَوَفَّیۡتَنِیۡ کُنۡتَ اَنۡتَ الرَّقِیۡبَ
عَلَیۡہِمۡ ؕ وَ اَنۡتَ عَلٰی
کُلِّ شَیۡءٍ شَہِیۡدٌ ﴿﴾
Dan ingatlah
ketika Allah berfirman: “Hai ‘Isa ibnu
Maryam, apakah engkau telah berkata
kepada manusia: “Jadikanlah aku dan
ibuku sebagai dua tuhan selain
Allah?" Ia berkata: “Maha
Suci Engkau. Tidak patut bagiku
mengatakan apa yang sekali-kali
bukan hakku. Jika aku telah mengatakannya maka sungguh Engkau mengetahuinya. Engkau mengetahui apa yang ada dalam diriku,
sedangkan aku tidak mengetahui apa yang
ada dalam diri Engkau, sesungguhnya Engkau benar-benar Maha Mengetahui segala yang gaib. Aku
sekali-kali tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang telah Engkau perintahkan
kepadaku, yaitu: ”Beribadahlah kepada Allah, Rabb-ku (Tuhan-ku) dan Rabb (Tuhan) kamu.” Dan aku menjadi saksi
atas mereka selama aku berada di antara mereka, tetapi tatkala Engkau telah mewafatkanku maka Engkau-lah
Yang benar-benar menjadi Pengawas atas mereka, dan Engkau adalah Saksi atas segala sesuatu. (Al-Māidah [5]:117-118).
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran
Anyar, 7 Februari
2017
Tidak ada komentar:
Posting Komentar