Sabtu, 11 Februari 2017

Nubuatan Kebangkitan dan Kehancuran "Ya'juj" (Gog) dan "Ma'juj" (Magog) yang "Bermata Biru" & Hubungan "Al-Masih" Dengan Wilayah "Hindustan"



Bismillaahirrahmaanirrahiim

  ISLAM
Pidato  Mirza Ghulam Ahmad a.s.
Tgl. 2 November 1904 di Kota Sialkote – Hindustan

Bab  17

NUBUATAN KEBANGKITAN  DAN KEHANCURAN YA’JUJ (GOG) DAN MA’JUJ (MAGOG)  YANG “BERMATA BIRU”  &    HUBUNGAN “AL-MASIH”  DENGAN WILAYAH  “HINDUSTAN

Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam bagian akhir Bab 16 telah dijelaskan topik   Ekspansi Bangsa-bangsa Kristen dari  Barat ke Berbagai Wilayah Dunia Berkedok “Perniagaan” (Perdagangan)  sehubungan dengan   firman-Nya:
وَ کَذٰلِکَ بَعَثۡنٰہُمۡ  لِیَتَسَآءَلُوۡا  بَیۡنَہُمۡ ؕ قَالَ قَآئِلٌ مِّنۡہُمۡ کَمۡ لَبِثۡتُمۡ ؕ قَالُوۡا لَبِثۡنَا یَوۡمًا اَوۡ بَعۡضَ یَوۡمٍ ؕ قَالُوۡا رَبُّکُمۡ  اَعۡلَمُ بِمَا لَبِثۡتُمۡ ؕ فَابۡعَثُوۡۤا اَحَدَکُمۡ بِوَرِقِکُمۡ ہٰذِہٖۤ  اِلَی الۡمَدِیۡنَۃِ فَلۡیَنۡظُرۡ  اَیُّہَاۤ   اَزۡکٰی  طَعَامًا فَلۡیَاۡتِکُمۡ بِرِزۡقٍ مِّنۡہُ  وَ لۡـیَؔ‍‍‍تَلَطَّفۡ وَ لَا  یُشۡعِرَنَّ  بِکُمۡ  اَحَدًا ﴿﴾
Dan demikianlah Kami  bangkitkan mereka supaya mereka saling bertanya di antara mereka. Salah seorang dari mereka berkata:  "Berapa lamakah kamu tinggal?" Mereka menjawab:  "Kami telah tinggal sehari atau sebagian dari hari." Yang lain ber­kata: "Rabb (Tuhan) kamu  lebih mengetahui lamanya kamu tinggal. Maka suruhlah sekarang salah seorang dari antara kamu dengan mata uang kamu ini ke kota dan hendaklah ia memperhatikan  siapa dari antara  mereka mempunyai bahan makanan terbaik  dan hendaklah ia membawa kepada kamu rezeki  darinya. Dan hendaklah ia bersikap lemah-lembut, dan ia jangan memberitahukan  mengenai kamu kepada siapa pun. (Al-Kahf [18]:20).

Makna Bangkit dari “Tidur” Ratusan Tahun.   

Makna ayat:  “Yang lain ber­kata: "Rabb (Tuhan) kamu  lebih mengetahui lamanya kamu tinggal.     Maka suruhlah sekarang salah seorang dari antara kamu dengan mata uangmu ini ke kota dan hendaklah ia memperhatikan  siapa dari antara  mereka mempunyai bahan makanan terbaik  dan hendaklah ia membawa kepada kamu rezeki  darinya.”
  Ketika "penghuni-penghuni gua" melihat, bahwa gelombang penindasan terhadap mereka telah mereda, mereka mengutus salah seorang anggota mereka ke kota yang dibekali dengan beberapa mata uang lama untuk membeli perbekalan hidup dan untuk menyelidiki bagaimana situasi, yang menyangkut diri mereka. Tha'ām dapat berarti, bahan-bahan makanan seperti gandum, jelai, jawawut, kurma dan lain sebagainya (Lexicon Lane). Ayat ini menunjuk kepada ekspedisi­-ekspedisi perdagangan bangsa-bangsa Kristen barat ke seluruh bagian dunia.
Selanjutnya mengenai makna ayat:    “Dan hendaklah ia ber-sikap lemah-lembut,  dan ia jangan memberitahukan1681 mengenai kamu kepada siapa pun.“ Para ahli niaga Eropa mempunyai keterampilan khas untuk berlaku lemah-lembut dan sopan-santun dalam urusan perdagangan mereka. Nampaknya ungkapan, "hendaklah ia bersikap lemah-lembut" menunjuk kepada sifat khusus ini. Kata-kata itu berarti pula "hendaknya ia berlaku hati-hati."
  Makna kata-kata  "dan jangan sama sekali ia memberitahukan mengenai kamu kepada siapa pun”  mengisyaratkan kepada penyusupan pengaruh barat ke timur dengan diam-diam dan tidak menyolok mata. Selanjutnya Allah Swt. berfirman mengenai mereka sehubungan makna ayat sebelumnya :
اِنَّہُمۡ اِنۡ یَّظۡہَرُوۡا عَلَیۡکُمۡ یَرۡجُمُوۡکُمۡ اَوۡ یُعِیۡدُوۡکُمۡ فِیۡ مِلَّتِہِمۡ وَ لَنۡ تُفۡلِحُوۡۤا اِذًا  اَبَدًا ﴿
"Sesungguhnya jika mereka  unggul atas kamu  mereka akan mengusir kamu atau akan memaksa kamu kembali ke dalam agama mereka, dan  kamu tidak akan pernah berhasil selama-lamanya.” (Al-Kahf  [18]:20).
  Kata-kata dalam ayat ini berarti: "Jika orang-orang yang kepadanya kamu mengirim rombongan dagang dapat mengetahui niat-niat kamu yang sebenarnya, atau sebelum kaki kamu ditegakkan dengan kuat di negeri mereka, suatu persengketaan politik atau perselisihan dagang timbul, dan kamu sendiri tidak kuat menghadapinya, kemudian kamu akan terpaksa meninggalkan negeri mereka atau memeluk agama mereka. Jika terjadi salah satu di antara keduanya, kamu akan gagal memperoleh tempat berpijak yang kekal, dan semua impian kamu untuk menegakkan kerajaan yang besar di negeri mereka akan lenyap sirna."

Membangun Gereja   Untuk Memperingati “Orang-orang Kudus” Mereka

  Kata-kata, "Kami pasti akan membangun di atas tempat tinggal  mereka rumah peribadatan" menyebut salah satu ciri istimewa generasi penerus "penghuni­-penghuni gua" itu,  -- yaitu bangsa-bangsa Kristen dalam  membangun gereja-gereja untuk memperingati orang-orang kudus mereka yang telah mati. Perlu pula diperhatikan, bahwa banyak gereja semacam itu telah ditemukan di katakomba-katakomba.
   Terkaan-terkaan ini nampaknya berdasar pada prasasti-prasasti yang tertera di alas dinding-dinding beberapa kamar di katakomba-katakomba, tetapi tiap tulisan itu menunjuk hanya kepada suatu keluarga, golongan, atau rombongan yang tertentu. Jumlah banyaknya orang-orang yang mencari perlindungan dalam katakomba-katakomba itu pada suatu waktu tertentu tidak diketahui. Dari prasasti-prasasti itu nampak bahwa selamanya ada anjing menyertai suatu rombongan pengungsi itu.
  Jadi, betapa Al-Quran  dalam surah Al-Kahf ayat 19 menubuatkan hakikat ini ratusan tahun sebelumnya, ketika bangsa-bangsa Kristen masih terbenam dalam “tidur lelap ratusan tahun”  --  sehingga daya cipta yang betapa pun kaya dan luasnya tidak dapat meramalkan kekuasaan dan kemuliaan   --  yang kemudian akan dicapai oleh bangsa­-bangsa Kristen  atau Ya’juj (Gog) dan Ma’juj (Magog)   itu  sesudahnya, firman-Nya:
وَ حَرٰمٌ عَلٰی قَرۡیَۃٍ  اَہۡلَکۡنٰہَاۤ  اَنَّہُمۡ لَا  یَرۡجِعُوۡنَ ﴿﴾  حَتّٰۤی  اِذَا  فُتِحَتۡ یَاۡجُوۡجُ وَ مَاۡجُوۡجُ وَ ہُمۡ  مِّنۡ  کُلِّ  حَدَبٍ  یَّنۡسِلُوۡنَ ﴿﴾   وَ اقۡتَرَبَ الۡوَعۡدُ الۡحَقُّ فَاِذَا ہِیَ شَاخِصَۃٌ  اَبۡصَارُ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا ؕ یٰوَیۡلَنَا قَدۡ کُنَّا فِیۡ غَفۡلَۃٍ  مِّنۡ  ہٰذَا بَلۡ کُنَّا ظٰلِمِیۡنَ ﴿﴾ 
Dan terlarang bagi penduduk suatu negeri yang telah Kami binasakan bahwa sesungguhnya mereka itu tidak mungkin kembali. حَتّٰۤی  اِذَا  فُتِحَتۡ یَاۡجُوۡجُ وَ مَاۡجُوۡجُ وَ ہُمۡ  مِّنۡ  کُلِّ  حَدَبٍ  یَّنۡسِلُوۡنَ --  Hingga apabila dibukakan pintu pemenjaraan  Ya’juj dan Ma’juj  dan mereka turun dengan cepat dari setiap ketinggian. وَ اقۡتَرَبَ الۡوَعۡدُ الۡحَقُّ فَاِذَا ہِیَ شَاخِصَۃٌ  اَبۡصَارُ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا --  Sudah mendekat  janji yang benar maka sekonyong-konyong akan terbelalak     mata orang-orang   kafir,  یٰوَیۡلَنَا قَدۡ کُنَّا فِیۡ غَفۡلَۃٍ  مِّنۡ  ہٰذَا بَلۡ کُنَّا ظٰلِمِیۡنَ ٰ -- mereka  berseru, Aduhai, celaka kami! Sungguh kami dalam kelalaian mengenai hal ini, bahkan kami adalah orang yang zalim!” (Al-Anbiya [21]:96-98).

Nubuatan Kebangkitan dan Kehancuran Ya’juj (Gog) dan Ma’juj (Magog)

        Jika ayat 97 dibaca bersama-sama dengan ayat yang mendahuluinya maka maksud ayat ini ialah bahwa hukum alam bekerja demikian rupa, sehingga sekali bila suatu kaum — sesudah mencapai puncak kejayaan dan kemuliaannya — mengalami kebinasaan dan kehancuran, mereka tidak mendapatkan kembali kejayaan mereka yang hilang itu.
      Ya’juj (Gog) dan Ma’juj  (Magog) pun  -- yaitu bangsa-bangsa Kristen dari Barat -- dengan kejayaan dan kemuliaan besar dalam kebendaan tidak dapat mengelakkan diri dari hukum alam tersebut Mereka akan jatuh dan tidak akan bangkit kembali untuk selama-lamanya. Ya’juj dan Ma’juj atau bangsa-bangsa Kristen barat telah mencapai segala puncak kekuasaan politik dan telah menyebar ke seluruh dunia. Ungkapan Al-Quran:  حَتّٰۤی  اِذَا  فُتِحَتۡ یَاۡجُوۡجُ وَ مَاۡجُوۡجُ وَ ہُمۡ  مِّنۡ  کُلِّ  حَدَبٍ  یَّنۡسِلُوۡنَ  “Hingga apabila dibukakan pintu pemenjaraan  Ya’juj dan Ma’juj  dan mereka turun dengan cepat dari setiap ketinggian”  berarti  bahwa mereka akan menempati setiap ujung yang membawa keuntungan dan akan menguasai seluruh dunia.
       Ayat selanjutnya menjelaskan:  وَ اقۡتَرَبَ الۡوَعۡدُ الۡحَقُّ فَاِذَا ہِیَ شَاخِصَۃٌ  اَبۡصَارُ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا  “Sudah mendekat  janji yang benar maka sekonyong-konyong akan terbelalak     mata orang-orang   kafir”,   bahwa kekuasaan Ya’juj dan Majuj akan diikuti oleh peristiwa-peristiwa yang membawa bencana di dunia, yang akhirnya akan menyebabkan kejayaan  dan kemenangan Islam (QS.61:10) dan menjadi sebab kekuatan-kekuatan kepalsuan dan kebendaan   -- yang menjelma dalam wujud Ya’juj dan Ma’juj   -- itu musnah (QS.18:1-9; QS.20:106-112).
        Bila sesudah kehancuran Ya’juj dan Ma’juj secara mutlak, Islam akan memperoleh kembali kejayaan dan kemuliaannya seperti sediakala, mereka yang telah berputus-asa mengenai kebangkitan kembali mata kepala mereka sendiri hampir-hampir tidak dapat mempercayainya, firman-Nya:
ہُوَ الَّذِیۡۤ  اَرۡسَلَ  رَسُوۡلَہٗ  بِالۡہُدٰی وَ دِیۡنِ  الۡحَقِّ لِیُظۡہِرَہٗ  عَلَی الدِّیۡنِ کُلِّہٖ وَ لَوۡ  کَرِہَ  الۡمُشۡرِکُوۡنَ ٪﴿﴾
Dia-lah Yang mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk dan dengan agama yang benar supaya Dia meme-nangkannya atas semua agama, walaupun orang musyrik tidak menyukai  (Ash-Shaf [61]:10).
    Kebanyakan ahli tafsir Al-Quran sepakat bahwa ayat ini kena untuk Al-Masih yang dijanjikan sebab di zaman beliau semua agama muncul dan keunggulan Islam di atas semua agama akan menjadi kepastian.  
 Untuk pembahasan hukuman Allah Swt. yang amat mengerikan dan membinasakan yang akan turun kepada Ya’juj dan Ma’juj itu lihat Surah Ar-Rahmān (ayat 27-46, firman-Nya: 
وَ قَالُوا  اتَّخَذَ  الرَّحۡمٰنُ  وَلَدًا ﴿ؕ﴾ لَقَدۡ  جِئۡتُمۡ  شَیۡئًا  اِدًّا ﴿ۙ﴾ تَکَادُ السَّمٰوٰتُ یَتَفَطَّرۡنَ مِنۡہُ وَ تَنۡشَقُّ الۡاَرۡضُ وَ تَخِرُّ الۡجِبَالُ ہَدًّا ﴿ۙ﴾ اَنۡ  دَعَوۡا  لِلرَّحۡمٰنِ  وَلَدًا ﴿ۚ﴾ وَ مَا یَنۡۢبَغِیۡ لِلرَّحۡمٰنِ اَنۡ  یَّتَّخِذَ  وَلَدًا ﴿ؕ﴾ اِنۡ کُلُّ مَنۡ فِی السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ  اِلَّاۤ اٰتِی  الرَّحۡمٰنِ  عَبۡدًا ﴿ؕ﴾ لَقَدۡ  اَحۡصٰہُمۡ  وَ عَدَّہُمۡ  عَدًّا ﴿ؕ﴾ وَ  کُلُّہُمۡ  اٰتِیۡہِ  یَوۡمَ الۡقِیٰمَۃِ   فَرۡدًا ﴿﴾
Dan mereka  berkata: "Tuhan Yang Maha Pemurah telah meng­ambil seorang anak laki-laki."   Sungguh  kamu benar-benar telah mengucapkan sesuatu  yang  sangat mengerikan. Hampir-hampir seluruh langit pecah   karenanya, bumi terbelah, dan gunung­-gunung runtuh berkeping-keping, karena mereka menyatakan bagi Tuhan Yang Maha Pemurah punya  anak laki-laki.    Padahal sekali-kali tidak layak bagi Tuhan Yang  Maha Pemurah, mengambil seorang anak laki-laki.   Tidak  ada seorang pun di se­luruh  langit dan bumi melainkan ia akan datang kepada Tuhan Yang Maha Pemurah sebagai hamba.  Sungguh Dia benar-benar  mengetahui jumlah  mereka dan meng-hitung mereka dengan   menyeluruh.   Dan setiap mereka akan datang kepada-Nya pada Hari Kiamat sendiri-sendiri  (Maryam [19]:89-96).

Trinitas” dan “Penebusan Dosa” Bertentangan Dengan Fitrat Manusia dan Fitrat Alam Semesta

   Paham bahwa Yesus anak Allah itu begitu mengerikan, sehingga seluruh langit, bumi, dan gunung-gunung dapat hancur berkeping-keping dan rebah ke tanah karena kejinya kepercavaan itu. Kepercayaan itu sangat menjijikkan wujud­-wujud samawi (as-samawat) oleh karena berlawanan dengan sifat-sifat Ilahi dan bertentangan dengan segala yang wujud-wujud samawi itu bela dan muliakan.
   Kepercayaan ini menjijikkan manusia yang mendiami bumi (al-ardh), sebab hal ini bertentangan dengan tuntutan fitrat serta kecerdasan otak manusia sejati, dan akal manusia menolak dengan perasaan kecewa terhadap paham demikian itu. Orang-orang yang memiliki cita-cita tinggi dan mulia seperti para nabi Allah dan para pilihan Tuhan (al-jibal) menentangnya juga   menolak dan menentangnya,  sebab anggapan bahwa  manusia memerlukan pengurbanan orang lain untuk memperoleh keselamatan dan mencapai tingkat akhlak tinggi  adalah bertentangan dengan pengalaman ruhani mereka sendiri.
    Surah Maryam  ini berisikan pencelaan yang paling keras dan lugas terhadap 'itikad-'itikad Kristen, terutama kepercayaan mereka yang pokok bahwa Yesus anak Allah, satu kepercayaan dusta yang darinya terbit semua 'itikad lainnya; tekanan istimewa telah diberikan kepada penolakan dan pencelaan terhadap kepercayaan ini.
    Perlu mendapat perhatian khusus bahwa sifat Ar-Rahmān (Maha Pemurah) telah berulang-ulang disinggung dalam Surah ini — sifat itu telah disebutkan sebanyak 16 kali, karena 'itikad Kristen yang pokok ialah pengakuan kepada Yesus sebagai anak Allah dan akibat-akibatnya yaitu 'itikad penebusan dosa mengandung arti penolakan terhadap sifat Ar-Rahmān (Maha Pemurah) Allah Swt.,  dan karena pokok pembahasan utama Surah Maryam  ini ialah pembantahan terhadap ‘itikad ini maka sudah seharusnya sifat-sifat Ilahi Ar-Rahman (Maha Pemurah) itu disebut dengan berulang-ulang. '
  Itikad penebusan dosa yang mengandung arti bahwa Allah Swt.  tidak dapat mengampuni dosa-dosa manusia, padahal sifat Ar-Rahmān (Maha Pemurah) menghendaki bahwa Dia dapat dan memang sering mengampuni mereka, itulah sebabnya sifat Ar-Rahmān (Maha Pemurah) berulang kah disebut dalam Surah ini.
    Jadi,  Tuhan Yang bersifat Ar-Rahmān (Maha Pemurah) itu tidak memerlukan anak untuk menolong-Nya atau menggantikan-Nya, sebab Dia adalah Pemilik seluruh langit dan bumi serta  kerajaan-Nya meliputi seluruh alam, dan juga karena semua orang adalah hamba-Nya, dan Yesus (Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.) adalah salah seorang dari antara mereka.
  Terjadinya Perang Dunia I dan Perang Dunia II   pada tahun 1914-1918 dan tahun 1939-1945 yang melanda Eropa  dan  sebagian Asia – yang merupakan bagian dari “Perang Armagedon”   -- merupakan salah satu dari sekian banyak bukti  mengenai kedustaan faham “Trinitas” dan “Penebusan Dosa” berkenaan cara memperoleh keselamatan. Demikian pula terjadinya Perang Dunia III atau Perang Nuklir pun hanya tinggal menunggu waktu saja, sebagaimana firman-Nya kepada Nabi Besar Muhamad saw.:
قُلۡ اَغَیۡرَ اللّٰہِ اَبۡغِیۡ رَبًّا وَّ ہُوَ رَبُّ کُلِّ شَیۡءٍ ؕ وَ لَا تَکۡسِبُ کُلُّ نَفۡسٍ  اِلَّا عَلَیۡہَا ۚ وَ لَا تَزِرُ وَازِرَۃٌ  وِّزۡرَ  اُخۡرٰی ۚ ثُمَّ اِلٰی رَبِّکُمۡ مَّرۡجِعُکُمۡ فَیُنَبِّئُکُمۡ بِمَا کُنۡتُمۡ  فِیۡہِ  تَخۡتَلِفُوۡنَ ﴿﴾ وَ ہُوَ الَّذِیۡ جَعَلَکُمۡ خَلٰٓئِفَ الۡاَرۡضِ وَ رَفَعَ بَعۡضَکُمۡ فَوۡقَ بَعۡضٍ دَرَجٰتٍ لِّیَبۡلُوَکُمۡ فِیۡ مَاۤ  اٰتٰکُمۡ ؕ اِنَّ رَبَّکَ سَرِیۡعُ  الۡعِقَابِ ۫ۖ وَ  اِنَّہٗ  لَغَفُوۡرٌ  رَّحِیۡمٌ ﴿﴾٪
Katakanlah:  Apakah aku akan mencari Rabb (Tuhan)  yang bukan-Allah, padahal  Dia-lah Rabb (Tuhan) segala sesuatu?” وَ لَا تَکۡسِبُ کُلُّ نَفۡسٍ  اِلَّا عَلَیۡہَا ۚ وَ لَا تَزِرُ وَازِرَۃٌ  وِّزۡرَ  اُخۡرٰی   -- Dan tiada jiwa mengupayakan sesuatu melainkan akan menimpa dirinya, dan  tidak pula seorang pemikul beban memikul beban orang lain. ثُمَّ اِلٰی رَبِّکُمۡ مَّرۡجِعُکُمۡ فَیُنَبِّئُکُمۡ بِمَا کُنۡتُمۡ  فِیۡہِ  تَخۡتَلِفُوۡنَ  -- Kemudian kepada Rabb (Tuhan) kamu tempat kembalimu, maka Dia akan memberitahu kamu apa-apa yang me-ngenainya kamu berselisih. وَ ہُوَ الَّذِیۡ جَعَلَکُمۡ خَلٰٓئِفَ الۡاَرۡضِ وَ رَفَعَ بَعۡضَکُمۡ فَوۡقَ بَعۡضٍ دَرَجٰتٍ لِّیَبۡلُوَکُمۡ فِیۡ مَاۤ  اٰتٰکُمۡ  --  Dan Dia-lah Yang menjadikan kamu penerus-penerus di bumi, dan Dia meninggikan sebagian kamu dari sebagian yang lain dalam derajat  supaya Dia menguji kamu dengan apa pun yang telah Dia berikan kepada kamu. اِنَّ رَبَّکَ سَرِیۡعُ  الۡعِقَابِ ۫ۖ وَ  اِنَّہٗ  لَغَفُوۡرٌ  رَّحِیۡمٌ  --  Sesungguhnya  Rabb (Tuhan) engkau sangat cepat dalam menghukum, dan sesungguhnya Dia benar-benar Maha Pengampun, Maha Penyayang (Al-An’ām [6]:165-166).

Setiap Orang “Harus Memikul Salibnya” Sendiri &  Alasan Rasul Akhir Zaman Muncul di “Hindustan

   Seperti halnya ayat-ayat QS.17:16; QS.53:40-41, ayat  165 pun mengandung sanggahan keras terhadap ajaran Penebusan Dosa dan secara tegas menarik perhatian terhadap kenyataan bahwa setiap orang harus memikul salibnya sendiri, yaitu  mempertanggungjawabkan amal-perbuatannya sendiri. Pengorbanan dari siapa pun sebagai pengganti tidak akan memberi manfaat.
   Firman Allah Swt. dalam surah Al-An’ām ayat 166:   وَ ہُوَ الَّذِیۡ جَعَلَکُمۡ خَلٰٓئِفَ الۡاَرۡضِ وَ رَفَعَ بَعۡضَکُمۡ فَوۡقَ بَعۡضٍ دَرَجٰتٍ لِّیَبۡلُوَکُمۡ فِیۡ مَاۤ  اٰتٰکُمۡ  --  “Dan Dia-lah Yang menjadikan kamu penerus-penerus di bumi, dan Dia meninggikan sebagian kamu dari sebagian yang lain dalam derajat  supaya Dia menguji kamu dengan apa pun yang telah Dia berikan kepada kamu”  sekaligus merupakan anjuran dan peringatan kepada kaum Muslimin. Mereka diberitahu bahwa  -- sebagai “umat terbaik” (QS.2:144; QS.3:111) -- kepada mereka akan dianugerahkan kekuatan serta kekuasaan (QS.24:56), dan tugas mengatur urusan bangsa-bangsa akan diserahkan ke tangan mereka (QS.79:1-6).
 Umat Islam sebagai “umat terbaik” yang diciptakan  untuk memberikan manfaat kepada umat manusia (QS.2:144; QS.3:111), mereka harus melaksanakan kewajiban mereka dengan tidak-berat-sebelah dan adil, sebab mereka harus mempertanggung-jawabkan tugas kewajiban mereka kepada Wujud Yang Menjadikan mereka, yaitu Allah Swt..
 Di Akhir Zaman ini penggenapan nubuatan kejayaan Islam yang kedua kali tersebut   dimulai  dengan pengutusan Mirza Ghulam Ahmad a.s. (QS.1835-1908)  -- yang lahir di kampung Qadian, wilayah Punjab – Hindustan  -- sebagai  Masih Mau’ud a.s. atau misal nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (QS.43:58)  serta  sebagai Rasul Akhir Zaman dengan nama yang berlainan  bagi setiap umat beragama (QS.77:1-20)   -- yang diutus Allah Swt.  di kalangan  umat Islam pada masa   puncak kemundurannya  selama 1000 tahun setelah mengalami 3 abad masa kejayaan yang pertama (QS.32:6). 
Pertanyaannya adalah: Mengapa Allah Swt. mengutus Rasul Akhir Zaman yang kedatangannya ditunggu-tunggu oleh semua umat beragama – dengan nama yang berlainan – tersebut di wilayah Hindustan? Berikut adalah beberapa alasannya:
1.     Wilayah Hindustan merupakan tempat berkumpulnya berbagai macam bangsa dan suku-bangsa dari berbagai macam ras dan etnis, serta  tempat berkumpulnya agama serta sekte-sekte agama dan  berbagai kepercayaan lainnya: Hindu (Sanātana Dharma), Buddha, Yahudi, Kristen, Islam, Sikh, Freethinker, penganut Atheisme dan berbagai macam aliran kepercayaan, kebatinan, dan gerakan  pembaruan, seperti  seperti Brahmo Samaj dan   Arya Samaj, yaitu gerakan reformasi Hindu yang diprakarsai oleh Swami Dayananda, dan didirikan pada tanggal 7 April 1875.  Gerakan ini bermaksud mengamalkan Weda sebagaimana mestinya, dan mengesampingkan kitab-kitab yang ditulis setelah Weda. Gerakan ini bersifat monoteistis karena tidak mengakui dewa-dewi tertentu,  serta menolak pemujaan Tuhan dengan sarana patung atau lukisan.
2.     Wilayah Hindustan merupakan target penyebaran agama Kristen selain benua Afrika dan tempat-tempat lainnya yang mendompleng keberhasilan  Ya’juj (Gog) dan Ma’juj (Magog) melakukan  penguasaan wilayah yang merupakan “sumber komoditi” armada niaga mereka  (Wahyu 20:7-10; QS.18:19-23 & 84-102; QS.21:96-101).
3.     Di wilayah Hindustan dan Afganistan terdapat  keturunan  10 suku  Bani Israil  yang hilang   yang menjadi tugas utama Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (Al-Masih) untuk mencari  “domba-domba Israil” yang hilang tersebut (Yohanes 10:10-16), termasuk  di wilayah Kasymir,  tempat terakhir beliau mengakhiri tugasnya, beliau wafat di sana  serta jenazahnya dikuburkan di  kampung  Khan Yar – Shrinagar, sedangkan jenazah  ibunda beliau, Maryam binti ‘Imran, dikuburkan di kota Muree (dibaca: Mari yakni Maryam) yang kemudian menjadi wilayah Pakistan (QS.23:51).
4.     Dalam surah Yā Sīn ayat  14-33 dikemukakan perumpamaan “sebuah kota” yang kepada penduduknya diutus 4 orang rasul Allah. Tetapi berbeda dengan tiga orang rasul Allah yang diutus sebelumnya -- yang berasal dari wilayah “kota” itu  yakni wilayah Timur Tengah --  pengutusan rasul Allah yang keempat berasal dari “bagian terjauh dari kota itu” (QS.36:21-30), yakni  “ia datang  berlari-lari” dari luar wilayah Timur-Tengah, yaitu Hindustan.
5.        Semua umat berbagai agama yang berada di Hindustan tersebut  mempercayai kedatangan seorang “pahlawan agama” di Akhir Zaman   -- dengan nama yang berlainan: Shri Krishna, Buddha Meitreya, Mesiah, Al-Masih, Mesio  Darbahmi, Imam Mahdi dll.  -- yang   mereka percayai akan mengunggulkan agamanya atas  agama-agama lainnya,    demikian juga halnya dengan kepercayaan   umat Islam  (QS.61:10).
     Jadi, pengutusan Masih Mau’ud a.s. atau misal Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (QS.43:58) atau Rasul Akhir Zaman (QS.61:10; QS.62:3-4) atau Imam Mahdi a.s. – yakni Mirza Ghulam Ahmad a.s. –   di wilayah Hindustan yang  terletak sebelah timur  Jazirah Arabia tersebut merupakan takdir Allah Swt. yang penuh hikmah, karena di wilayah Hindustan terletak pegunungan Himalaya yang memiliki puncak tertinggi di dunia yaitu  Mounth Everest (8848) yang senantiasa diliputi salju abadi.
       Hal yang sangat menakjubkan adalah ternyata hadits  Nabi Besar  Muhammad saw.  -- berkenaan dengan  pentingnya melakukan baiat kepada Imam Mahdi a.s.  --  beliau saw. menyinggung salju:
“Ketika kalian melihatnya (kehadiran Imam Mahdi), maka berbai’at-lah dengannya walaupun harus merangkak-rangkak di atas salju karena sesungguhnya dia adalah Khalifatullah Al-Mahdi.” (HR Abu Dawud, 4074),
         
(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid

oo0oo
Pajajaran Anyar, 10    Februari  2017





Tidak ada komentar:

Posting Komentar