Selasa, 21 Februari 2017

Makna "Pengambilan Iman dari Bintang Tsurayya" Oleh Al-Masih Mau'ud a.s. di Akhir Zaman dan Hubungannya Dengan "Surga yang Didekatkan" & Kewajiban "Bai'at" Kepada Imam Mahdi a.s.





Bismillaahirrahmaanirrahiim

  ISLAM
Pidato  Mirza Ghulam Ahmad a.s.
Tgl. 2 November 1904 di Kota Sialkote – Hindustan

Bab  25

 MAKNA “PENGAMBILAN  IMAN  DARI BINTANG TSURAYYA” OLEH AL-MASIH MAU’UD A.S. DI AKHIR ZAMAN   DAN HUBUNGANNYA DENGAN   SURGA  YANG DIDEKATKAN” & KEWAJIBAN   BAI’AT KEPADA IMAM MAHDI A.S.           

Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam bagian akhir Bab 24 telah dijelaskan topik    Saling Mewarisi Cara-cara Menentang Para Rasul Allah   sehubungan dengan bahasa  yang penuh kiasan (perumpamaan) berkenaan nubuatan (kabar-gaib)   yang dikemukakan dalam  Kitab-kitab suci  -- khususnya Al-Quran,  sabda para rasul Allah dan para wali Allah  -- termasuk juga ramalan yang dikemukakan para leluhur suatu bangsa atau suku bangsa   -- senantiasa merupakan “bahasa kiasan” yang kalau  difahami  secara harfiyah  akan jauh dari hakikatnya dan menyebabkan terjadinya pendustaan terhadap  para rasul Allah karena keadaannya bertentangan dengan “persepsi keliru” mereka, firman-Nya:
   وَ قَالَ الرَّسُوۡلُ یٰرَبِّ اِنَّ قَوۡمِی اتَّخَذُوۡا ہٰذَا الۡقُرۡاٰنَ مَہۡجُوۡرًا ﴿﴾  وَ کَذٰلِکَ جَعَلۡنَا لِکُلِّ نَبِیٍّ عَدُوًّا مِّنَ الۡمُجۡرِمِیۡنَ ؕ وَ کَفٰی بِرَبِّکَ ہَادِیًا وَّ نَصِیۡرًا ﴿﴾
Dan  Rasul itu berkata: “Ya Rabb-ku (Tuhan-ku), sesungguhnya kaumku telah menjadikan Al-Quran ini sesuatu yang telah ditinggalkan. وَ کَذٰلِکَ جَعَلۡنَا لِکُلِّ نَبِیٍّ عَدُوًّا مِّنَ الۡمُجۡرِمِیۡنَ  -- Dan demikianlah Kami  telah menjadikan musuh bagi tiap-tiap nabi   dari antara orang-orang yang berdosa, وَ کَفٰی بِرَبِّکَ ہَادِیًا وَّ نَصِیۡرًا --  dan cukuplah Rabb (Tuhan) engkau sebagai pemberi petunjuk dan penolong. (Al-Furqān [25]:31-32).
 Firman-Nya lagi:
یٰحَسۡرَۃً عَلَی الۡعِبَادِ ۚؑ مَا یَاۡتِیۡہِمۡ مِّنۡ رَّسُوۡلٍ  اِلَّا  کَانُوۡا بِہٖ  یَسۡتَہۡزِءُوۡنَ ﴿﴾  اَلَمۡ یَرَوۡا کَمۡ  اَہۡلَکۡنَا قَبۡلَہُمۡ مِّنَ الۡقُرُوۡنِ  اَنَّہُمۡ  اِلَیۡہِمۡ لَا یَرۡجِعُوۡنَ ﴿ؕ﴾  وَ اِنۡ کُلٌّ  لَّمَّا جَمِیۡعٌ لَّدَیۡنَا مُحۡضَرُوۡنَ ﴿﴾
Wahai sangat disesalkan atas hamba-hamba itu,  sekali-kali tidak pernah datang kepada mereka seorang rasul melainkan mereka senantiasa mencemoohkannya.  Apakah mereka tidak melihat berapa banyak generasi yang telah Kami binasakan sebelum mereka, bahwasanya  mereka itu tidak kembali lagi kepada mereka?  Dan setiap mereka semua niscaya akan dihadirkan kepada Kami.” (Yā Sīn [36]:11-32).
       Kata-kata dalam ayat 31 penuh dengan kerawanan. Tuhan Yang Maha Kuasa Sendiri agaknya seolah-olah sangat masygul atas penolakan dan ejekan manusia terhadap para nabi-Nya. Sementara para nabi Allah menanggung kesedihan dan derita untuk kaumnya (QS.9:128; QS.18:7; QS.26:4), maka kaumnya itu membalas kesedihan mereka itu dengan penghinaan, fitnah  dan kezaliman   seakan-akan mereka itu telah saling mewasiatkan, termasuk di Akhir Zaman ini, firman-Nya:
کَذٰلِکَ مَاۤ  اَتَی الَّذِیۡنَ مِنۡ قَبۡلِہِمۡ  مِّنۡ رَّسُوۡلٍ  اِلَّا  قَالُوۡا  سَاحِرٌ  اَوۡ مَجۡنُوۡنٌ ﴿ۚ﴾  اَتَوَاصَوۡا بِہٖ ۚ بَلۡ ہُمۡ قَوۡمٌ طَاغُوۡنَ ﴿ۚ﴾
Demikianlah sekali-kali tidak pernah datang kepada orang-orang sebelum mereka seorang rasul melainkan mereka berkata: “Dia tukang sihir, atau orang gila!”   Adakah mereka saling mewasiatkan  mengenai itu? Tidak, bahkan mereka itu semua kaum pendurhaka. (Adz-Dzāriyāt [51]:53-54).

Berbagai “Keberatan” Terhadap Pengangkatan Rasul Allah

    Begitu menyoloknya persamaan tuduhan-tuduhan yang dilancarkan terhadap Nabi Besar Muhammad saw.  dan para mushlih rabbani  (rasul-rasul Allah) lainnya oleh lawan-lawan mereka sepanjang masa, sehingga nampaknya orang-orang kafir dari abad tertentu menurunkan (mewariskan) tuduhan-tuduhan itu kepada keturunan mereka, supaya terus melancarkan lagi tuduhan-tuduhan dusta  tersebut, termasuk di Akhir Zaman ini kepada Mirza Ghulam Ahmad a.s. -- Rasul Akhir Zaman  yang akan mewujudkan kejayaan Islam yang kedua kali,  firman-Nya:
ہُوَ الَّذِیۡۤ  اَرۡسَلَ  رَسُوۡلَہٗ  بِالۡہُدٰی وَ دِیۡنِ  الۡحَقِّ لِیُظۡہِرَہٗ  عَلَی الدِّیۡنِ کُلِّہٖ وَ لَوۡ  کَرِہَ  الۡمُشۡرِکُوۡنَ ٪﴿﴾
Dia-lah Yang mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk dan dengan agama yang benar supaya Dia memenangkannya atas semua agama,  walaupun orang musyrik tidak menyukai  (Ash-Shaf [61]:10).
       Salah satu contoh bahasa nubuatan  yang penuh dengan kiasan adalah mengenai  kemunculan  khalifah ruhani Nabi Besar Muhammad saw.   yang terbesar dalam wujud Pendiri Jemaat Muslim Ahmadiyah, -- yakni Mirza Ghulam Ahmad a.s.   atau  Imam Mahdi a.s. atau Al-Masih Mau’ud a.s.  atau misal Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (QS.43:58) yang diutus di wilayah Punjab,  Hindustan.
     Salah satu keberatan atau penolakan yang dikemukakan  para penentang  pendakwaan beliau sebagai Rasul Akhir Zaman    adalah: “Kalau pun harus ada lagi rasul (nabi) setelah Nabi Besar Muhammad saw. maka ia harus muncul di wilayah Timur Tengah, bukannya dari wilayah Hindustan!”
       Sehubungan  saling mewarisi cara melakukan penentangan terhadap para rasul Allah  seperti itu   sebelumnya dilakukan pula oleh orang-orang  Bani Israil (orang-orang Yahudi) bahwa kalau pun silsilah kenabian terus berlangsung maka nabi Allah yang datang harus dari kalangan Bani Israil, bukan muncul dari  kalangan Bani Isma’il (bangsa Arab)!
        Namun dalam kenyataannya ketika Allah Swt.  di kalangan bani Israil mengangkat Thalut (Gideon) sebagai raja bagi mereka, para pemuka Bani Israil menolak pengangkatannya dengan mengatakan bahwa salah seorang di antara mereka itulah yang layak diangkat sebagai raja bagi mereka, karena Thalut tidak diberi kekayaan yang berlimpah-ruah seperti mereka (QS.2:247-249).
        Sejarah kenabian di kalangan Bani Israil membuktikan bahwa pengutusan para rasul Allah  mulai dari Nabi Musa a.s. sampai dengan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.  senantiasa didustakan dan ditentang oleh para pemuka Bani Israil yang takabbur  sehingga akibatnya  mereka yang sebelumnya sebagai “kaum pilihan” Allah Swt. tersebut (QS.2:48) menjadi golongan yang dilaknat dan  dimurkai Allah Swt., firman-Nya:
اِیَّاکَ نَعۡبُدُ وَ اِیَّاکَ نَسۡتَعِیۡنُ  ﴿﴾  اِہۡدِ نَا الصِّرَاطَ الۡمُسۡتَقِیۡمَ ۙ ﴿﴾ صِرَاطَ الَّذِیۡنَ اَنۡعَمۡتَ عَلَیۡہِمۡ ۙ۬ غَیۡرِ الۡمَغۡضُوۡبِ عَلَیۡہِمۡ وَ لَا الضَّآلِّیۡنَ ٪﴿﴾                                           
Hanya Engkau-lah Yang kami sembah dan  hanya kepada Engkau-lah kami mohon pertolongan.  Tunjukilah kami   jalan yang lurus   yaitu jalan  orang-orang yang telah Engkau beri nikmat atas mereka  bukan jalan mereka  yang dimurkai dan bukan pula jalan mereka  yang sesat.  (Al-Fatihah [1]:5-7).

Penyebab “Kaum Pilihan” Allah Swt. Berubah Menjadi “Kaum yang Dimurkai” Allah Swt.  Sebagai Peringatan bagi Umat Islam
     
        Perubahan Bani Israil dari “kaum pilihan” Allah Swt. pada zamannya (QS.2:48) kemudian menjadi “kaum yang dimurkai” (maghdhub) karena senantiasa berlaku takabbur terhadap Allah Swt. dan para rasul Allah yang diutus di kalangan mereka, firman-Nya:
وَ لَقَدۡ اٰتَیۡنَا مُوۡسَی الۡکِتٰبَ وَ قَفَّیۡنَا مِنۡۢ بَعۡدِہٖ بِالرُّسُلِ ۫ وَ اٰتَیۡنَا عِیۡسَی ابۡنَ مَرۡیَمَ الۡبَیِّنٰتِ وَ اَیَّدۡنٰہُ بِرُوۡحِ الۡقُدُسِ ؕ اَفَکُلَّمَا جَآءَکُمۡ رَسُوۡلٌۢ بِمَا لَا تَہۡوٰۤی اَنۡفُسُکُمُ اسۡتَکۡبَرۡتُمۡ ۚ  فَفَرِیۡقًا کَذَّبۡتُمۡ  ۫ وَ فَرِیۡقًا تَقۡتُلُوۡنَ ﴿﴾ وَ قَالُوۡا قُلُوۡبُنَا غُلۡفٌ ؕ بَلۡ لَّعَنَہُمُ اللّٰہُ بِکُفۡرِہِمۡ  فَقَلِیۡلًا مَّا یُؤۡمِنُوۡنَ ﴿﴾ وَ لَمَّا جَآءَہُمۡ کِتٰبٌ مِّنۡ عِنۡدِ اللّٰہِ مُصَدِّقٌ لِّمَا مَعَہُمۡ  ۙ وَ کَانُوۡا مِنۡ قَبۡلُ یَسۡتَفۡتِحُوۡنَ عَلَی الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا ۚۖ فَلَمَّا جَآءَہُمۡ مَّا عَرَفُوۡا کَفَرُوۡا بِہٖ ۫ فَلَعۡنَۃُ اللّٰہِ عَلَی الۡکٰفِرِیۡنَ ﴿﴾
Dan  sungguh   Kami benar-benar telah  berikan Alkitab kepada Musa dan Kami  mengikutkan rasul-rasul di belakangnya,   Kami  berikan kepada Isa Ibnu Maryam Tanda-tanda yang nyata, dan juga Kami memperkuatnya dengan  Ruhulqudus. اَفَکُلَّمَا جَآءَکُمۡ رَسُوۡلٌۢ بِمَا لَا تَہۡوٰۤی اَنۡفُسُکُمُ اسۡتَکۡبَرۡتُمۡ   -- Maka apakah patut setiap datang kepada kamu seorang rasul dengan membawa apa yang tidak disukai oleh dirimu  kamu berlaku takabur,  فَفَرِیۡقًا کَذَّبۡتُمۡ  ۫ وَ فَرِیۡقًا تَقۡتُلُوۡنَ -- lalu  sebagian kamu dustakan dan sebagian lainnya kamu bunuh? وَ قَالُوۡا قُلُوۡبُنَا غُلۡفٌ ؕ بَلۡ لَّعَنَہُمُ اللّٰہُ بِکُفۡرِہِمۡ  فَقَلِیۡلًا مَّا یُؤۡمِنُوۡنَ  --  Dan mereka berkata:  Hati kami tertutup.” Tidak,  bahkan Allah telah mengutuk mereka karena kekafiran mereka  maka sedikit sekali apa yang mereka imani. وَ لَمَّا جَآءَہُمۡ کِتٰبٌ مِّنۡ عِنۡدِ اللّٰہِ مُصَدِّقٌ لِّمَا مَعَہُمۡ   --  Dan tatkala datang kepada mereka sebuah Kitab yakni  Al-Quran dari Allah  menggenapi apa yang ada pada mereka, وَ کَانُوۡا مِنۡ قَبۡلُ یَسۡتَفۡتِحُوۡنَ عَلَی الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا -- sedangkan sebelum itu mereka senantiasa memohon kemenangan  atas orang-orang kafir, فَلَمَّا جَآءَہُمۡ مَّا عَرَفُوۡا کَفَرُوۡا بِہٖ ۫ فَلَعۡنَۃُ اللّٰہِ عَلَی الۡکٰفِرِیۡنَ --  tetapi tatkala  datang kepada mereka apa yang mereka  kenali itu lalu mereka kafir  kepadanya  maka laknat Allah atas orang-orang kafir. (Al-Baqarah [2]:88-90).
         Penolakan terhadap para rasul Allah yang diutus dari kalangan  Bani Israil terjadi pula di kalangan Bani Isma’il (bangsa Arab)  terhadap  diri Nabi Besar Muhammad saw., yakni  para pemuka kaum kafir Quraisy Mekkah  pimpinan Abu Jahal  berkata bahwa:   “Seandainya  pun    benar Allah Swt. mengutus rasul Allah di kalangan Bani Isma’il (bangsa Arab) maka yang paling pantas sebagai rasul Allah adalah salah  seseorang besar (pemuka kaum)  dari  antara penduduk Mekkah atau penduduk  Thaif, bukannya Muhammad  seorang miskin dan anak yatim!” Firman-Nya:
وَ لَمَّا جَآءَہُمُ الۡحَقُّ  قَالُوۡا ہٰذَا سِحۡرٌ  وَّ اِنَّا بِہٖ  کٰفِرُوۡنَ ﴿﴾ وَ قَالُوۡا لَوۡ لَا نُزِّلَ ہٰذَا الۡقُرۡاٰنُ عَلٰی رَجُلٍ مِّنَ الۡقَرۡیَتَیۡنِ  عَظِیۡمٍ ﴿﴾   اَہُمۡ یَقۡسِمُوۡنَ رَحۡمَتَ رَبِّکَ ؕ نَحۡنُ قَسَمۡنَا بَیۡنَہُمۡ  مَّعِیۡشَتَہُمۡ فِی الۡحَیٰوۃِ الدُّنۡیَا وَ رَفَعۡنَا بَعۡضَہُمۡ فَوۡقَ بَعۡضٍ دَرَجٰتٍ لِّیَتَّخِذَ بَعۡضُہُمۡ بَعۡضًا سُخۡرِیًّا ؕ وَ رَحۡمَتُ رَبِّکَ خَیۡرٌ  مِّمَّا یَجۡمَعُوۡنَ ﴿﴾
Tetapi tatkala datang kepada mereka kebenaran, mereka berkata: "Ini adalah sihir, dan sesungguhnya kami mengingkarinya." وَ قَالُوۡا لَوۡ لَا نُزِّلَ ہٰذَا الۡقُرۡاٰنُ عَلٰی رَجُلٍ مِّنَ الۡقَرۡیَتَیۡنِ  عَظِیۡمٍ  --  Dan mereka berkata: "Mengapakah Al-Quran ini tidak diturunkan kepada seseorang besar dari kedua kota besar itu?"   اَہُمۡ یَقۡسِمُوۡنَ رَحۡمَتَ رَبِّکَ  --  Apakah mereka yang  membagi-bagikan rahmat Rabb (Tuhan) engkau?  نَحۡنُ قَسَمۡنَا بَیۡنَہُمۡ  مَّعِیۡشَتَہُمۡ فِی الۡحَیٰوۃِ الدُّنۡیَا وَ رَفَعۡنَا بَعۡضَہُمۡ فَوۡقَ بَعۡضٍ دَرَجٰتٍ لِّیَتَّخِذَ بَعۡضُہُمۡ بَعۡضًا سُخۡرِیًّا -- Kami-lah Yang membagi-bagikan di antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia dan Kami mengangkat sebagian mereka di atas sebagian lain dalam derajat, supaya sebagian dari mereka dapat melayani yang lainnya.  وَ رَحۡمَتُ رَبِّکَ خَیۡرٌ  مِّمَّا یَجۡمَعُوۡنَ -- Dan rahmat Rabb (Tuhan) engkau adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan. (Az-Zukhruf [43]:31-33).
    Ada pun yang dimaksud dengan  kedua kota besar itu pada umumnya difahami kota-kota Mekkah dan Tha'if. Pada zaman Nabi Besar Muhammad saw.  kota itu merupakan dua buah pusat kehidupan sosial dan politik bangsa Arab.   Ayat  selanjutnya   menyatakan penyesalan keras terhadap orang-orang kafir dengan mengatakan kepada mereka bahwa sejak kapankah mereka telah menyombongkan diri mengambil peranan menjadi pembagi rahmat dan kasih-sayang Allah Swt., atau mempunyai hak istimewa memutuskan siapa yang berhak dan siapa yang tidak berhak menerima rahmat dan kasih-sayang Allah Swt., firman-Nya:  اَہُمۡ یَقۡسِمُوۡنَ رَحۡمَتَ رَبِّکَ    -- “Apakah mereka yang  membagi-bagikan rahmat Tuhan engkau? نَحۡنُ قَسَمۡنَا بَیۡنَہُمۡ  مَّعِیۡشَتَہُمۡ فِی الۡحَیٰوۃِ الدُّنۡیَا وَ رَفَعۡنَا بَعۡضَہُمۡ فَوۡقَ بَعۡضٍ دَرَجٰتٍ لِّیَتَّخِذَ بَعۡضُہُمۡ بَعۡضًا سُخۡرِیًّا  --  Kami-lah Yang membagi-bagikan di antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia dan Kami mengangkat sebagian mereka di atas sebagian lain dalam derajat, supaya sebagian dari mereka dapat melayani yang lainnya. وَ رَحۡمَتُ رَبِّکَ خَیۡرٌ  مِّمَّا یَجۡمَعُوۡنَ  -- Dan rahmat Rabb (Tuhan) eng-kau adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.”

Makna “Seorang Laki-laki yang Datang dari Bagian  terjauh Dari Kota itu”

    Sunnatulah berkenaan pendustaan dan penentangan terhadap para rasul Allah seperti itu kembali terulang di Akhir  Zaman ini terhadap pendakwan Mirza Ghulam Ahmad a.s. sebagai Imam  Mahdi a.s. atau misal Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.  (QS.43:58)  atau Masih Mau’ud a.s.  atau pengutusan kedua kali  secara ruhani Nabi Besar Muhammad saw. (QS.62:3-4)  yakni:  “Kalau pun harus ada lagi rasul (nabi) setelah Nabi Besar Muhammad saw. maka ia harus muncul di wilayah Timur Tengah dan bangsa Arab, bukannya dari wilayah Hindustan!”
     Jawaban atas keberatan  bahwa mengapa pengutusan Rasul Akhir Zaman di wilayah Hindustan  sesuai dengan nubuatan dalam Al-Quran  dalam Surah Yā Sīn tentang perumpamaan sebuah kota   (Mekkah) berkenaan “seorang laki-laki yang datang berlari-lari dari bagian terjauh  kota” itu, yang  berbeda dengan tempat pengutusan 3 orang rasul Allah sebelumnya yang berasal dari wilayah “kota itu (QS.36:14-20) – s  Allah Swt. berfirman:
وَ جَآءَ مِنۡ اَقۡصَا الۡمَدِیۡنَۃِ  رَجُلٌ یَّسۡعٰی قَالَ یٰقَوۡمِ اتَّبِعُوا الۡمُرۡسَلِیۡنَ ﴿ۙ﴾  اتَّبِعُوۡا مَنۡ لَّا یَسۡـَٔلُکُمۡ اَجۡرًا وَّ ہُمۡ مُّہۡتَدُوۡنَ ﴿﴾   وَ مَا لِیَ  لَاۤ  اَعۡبُدُ الَّذِیۡ فَطَرَنِیۡ وَ  اِلَیۡہِ تُرۡجَعُوۡنَ ﴿﴾  ءَاَتَّخِذُ مِنۡ دُوۡنِہٖۤ  اٰلِہَۃً اِنۡ یُّرِدۡنِ الرَّحۡمٰنُ بِضُرٍّ لَّا تُغۡنِ عَنِّیۡ شَفَاعَتُہُمۡ شَیۡئًا  وَّ لَا  یُنۡقِذُوۡنِ ﴿ۚ﴾  اِنِّیۡۤ   اِذًا  لَّفِیۡ  ضَلٰلٍ  مُّبِیۡنٍ ﴿﴾  اِنِّیۡۤ   اٰمَنۡتُ بِرَبِّکُمۡ   فَاسۡمَعُوۡنِ ﴿ؕ﴾  قِیۡلَ ادۡخُلِ الۡجَنَّۃَ ؕ قَالَ یٰلَیۡتَ قَوۡمِیۡ یَعۡلَمُوۡنَ ﴿ۙ﴾ بِمَا غَفَرَ لِیۡ رَبِّیۡ وَ جَعَلَنِیۡ مِنَ الۡمُکۡرَمِیۡنَ ﴿﴾   
Dan datang dari bagian terjauh kota itu  seorang laki-laki  dengan berlari-lari, ia berkata: “Hai kaumku, ikutilah utusan-utusan  itu. Ikutilah mereka yang tidak meminta upah dari kamu dan mereka yang telah mendapat petunjuk.      Dan mengapakah aku tidak menyembah Tuhan Yang menciptakan diriku  dan  Yang kepada-Nya  kamu   akan dikembalikan?    Apakah aku akan mengambil selain Dia sebagai sembahan-sembahan, padahal  jika Tuhan Yang Maha Pemurah menghendaki sesuatu kemudaratan bagiku  syafaat mereka itu  tidak akan bermanfaat bagiku sedikit pun, dan mereka tidak dapat menyelamatkanku?    Sesungguhnya jika aku berbuat demikian niscaya berada dalam kesesatan yang nyata. اِنِّیۡۤ   اٰمَنۡتُ بِرَبِّکُمۡ   فَاسۡمَعُوۡنِ   --   Sesungguhnya aku beriman kepada Rabb (Tuhan) kamu  maka dengarlah aku.”  قِیۡلَ ادۡخُلِ الۡجَنَّۃَ  --  Dikatakan kepadanya:  Masuklah ke dalam surga.” قَالَ یٰلَیۡتَ قَوۡمِیۡ یَعۡلَمُوۡنَ  --  Ia berkata: “Wahai alangkah baiknya jika kaum-ku mengetahui,  بِمَا غَفَرَ لِیۡ رَبِّیۡ وَ جَعَلَنِیۡ مِنَ الۡمُکۡرَمِیۡنَ -- karena apa Rabb-ku (Tuhan-ku) telah mengampuniku dan telah menjadikan aku dari antara orang-orang yang di-muliakan.    (Yā Sīn [36]:31-29).
        Kata-kata     “bagian terjauh kota itu” dalam ayat: وَ جَآءَ مِنۡ اَقۡصَا الۡمَدِیۡنَۃِ  رَجُلٌ یَّسۡعٰی   -- “Dan datang dari bagian terjauh kota itu  seorang laki-laki  dengan berlari-lari,” dapat diartikan suatu tempat yang jauh letaknya dari markas Islam yakni kota Mekkah di wilayah Timur tengah, yaitu mengisyaratkan kepada Hindustan.

Rajulun” (Seorang Laki-laki) yang Membawa Kembali Keimanan dari “Bintang Tsurayya

      Isyarat yang terkandung dalam kata rajulun dalam ayat tersebut dapat tertuju kepada  Mirza Ghulam Ahmad a.s. – yakni Imam Mahdi a.s. dan Masih Mau’ud a.s.   --   yang telah disebut  rajulun dalam suatu hadits yang terkenal  (Bukhari, Kitab at-Tafsir) sehubungan   tafsir surah Al-Jumu’ah ayat 3-4 berkenaan dengan makna ayat:   وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ  لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ ہُوَ  الۡعَزِیۡزُ  الۡحَکِیۡمُ  --  Dan juga akan membangkitkannya pada kaum lain dari antara mereka, yang belum bertemu dengan mereka.  Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana  (Al-Jumu’ah [62]:3-4). Berikut ini terjemahan  hadits yang dimaksud:
 Telah menceritakan kepadaku [Abdul Aziz bin Abdullah] ia berkata, Telah menceritakan kepadaku [Sulaiman bin Bilal] dari [Tsaur] dari [Abul Ghaits] dari [Abu Hurairah radliallahu 'anhu] ia berkata; Suatu hari, kami duduk-duduk di sisi Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, lalu diturunkanlah pada beliau surat Al Jumu'ah:   وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ  لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ    Maka aku pun bertanya, "Siapa mereka itu wahai Rasulullah?" Namun, beliau belum juga menjawab hingga tiga orang bertanya. Di antara kami ada Salman Al Farisi. Kemudian Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam meletakkan tangannya pada Salman   dan bersabda: "Sekiranya keimanan itu ada di gugusan bintang (Tsurayya), niscaya keimanan itu tetap akan diperoleh oleh rijālun (beberapa orang) atau rajulun (seseorang) dari mereka itu (orang-orang Farsi)." Telah menceritakan kepada kami [Abdullah bin Abdul Wahhab] Telah menceritakan kepada kami [Abdul Aziz] Telah mengabarkan kepadaku [Tsaur] dari [Abul Ghaits] dari [Abu Hurairah] dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda: "Niscaya (keimanan) itu akan diperoleh oleh rijālun (beberapa orang) dari mereka (Orang Farsi)." (Hadits Bukhari No.4518).
        Kata-kata yang sama dalam arti dan maksud dengan kata yas’a (berlari-lari) telah dipakai mengenai  Masih Mau’ud a.s.  oleh Nabi Besar Muhammad saw.   dalam beberapa sabda beliau saw., yang memberi isyarat kepada sifatnya yang tidak mengenal lelah, cepat bertindak dan tidak mengenal jemu dalam usahanya untuk kepentingan Islam.
      Penyebutan surga secara khusus dalam ayat:   اِنِّیۡۤ   اٰمَنۡتُ بِرَبِّکُمۡ   فَاسۡمَعُوۡنِ  -- “Sesungguhnya aku beriman kepada Rabb (Tuhan) kamu  maka dengarlah aku.” قِیۡلَ ادۡخُلِ الۡجَنَّۃَ ؕ قَالَ یٰلَیۡتَ قَوۡمِیۡ یَعۡلَمُوۡنَ --   Dikatakan kepadanya:  Masuklah ke dalam surga.” Ia berkata: “Wahai alangkah baiknya jika kaum-ku mengetahui,   بِمَا غَفَرَ لِیۡ رَبِّیۡ وَ جَعَلَنِیۡ مِنَ الۡمُکۡرَمِیۡنَ  -- karena apa Rabb-ku (Tuhan-ku) telah mengampuniku dan telah menjadikan aku dari antara orang-orang yang dimuliakan.” (Yā Sīn [36]:26-28).
       Sehubungan dengan rajulun yas’a (seorang laki-laki yang berlari-lari) itu sangat penting artinya. Kalau kepada semua orang yang beriman sejati dalam Al-Quran telah dijanjikan surga, maka penyebutan secara khusus ini nampaknya berlebih-lebihan dan tidak pada tempatnya.
       Pembuatan suatu kuburan khusus  bagi  orang-orang Muslim Ahmadi yang masuk “gerakan Al-Wasiyat” di Qadian yang terkenal  -- “Bahesyti Maqbarah” (Pekuburan  Surgawi)   -- oleh   Masih Mau’ud a.s.  atas perintah Ilahi secara istimewa, dapat merupakan penyempurnaan secara fisik bagi perintah yang terkandung dalam salah satu wahyu Ilahi yang diterima beliau kata-kata  “Inni anzaltu ma’aka al-jannah,” artinya  Aku telah menyebabkan surga turun bersama engkau” (Tadzkirah).
        Ungkapan kiasan  dalam wahyu Ilahi yang diterima Masih Mau'ud a.s. tersebut sesuai dengan firman Allah Swt.:
وَ  اِذَا  الۡجَحِیۡمُ سُعِّرَتۡ ﴿۪ۙ﴾  وَ  اِذَا  الۡجَنَّۃُ   اُزۡلِفَتۡ ﴿۪ۙ﴾
“Dan apabila neraka dinyalakan, dan apabila surga didekatkan” (At-Takwīr [81]:13-14).

Pentingnya Keselarasan Antara Ucapan yang Benar Dengan Perbuatan yang Dilakukan

    Makna ayat  yang  pertama karena  di Akhir Zaman ini  perilaku manusia bergelimang dosa dan tidak adil maka kemurkaan Allah  Swt. akan bangkit dan suatu neraka akan dilepaskan ke dunia berupa peperangan yang membinasakan. Makna ayat selanjutnya:  وَ  اِذَا  الۡجَنَّۃُ   اُزۡلِفَتۡ  -- “dan apabila surga didekatkan” menjelaskan bahwa  karena di Akhir Zaman ini kejahatan telah  merajalela dan manusia akan membiarkan dirinya terombang-ambing oleh kedurhakaan dan oleh  penyembahan dewa kekayaan sehingga perbuatan baik sekecil-kecilnya pun akan membuat manusia layak menerima imbalan besar, serta akan menariknya lebih dekat ke surge, terutama bagi orang-orang yang beriman kepada Rasul Akhir Zaman  yang kedatangannya ditunggu-tunggu oleh semua umat beragama dengan nama yang berlainan (QS.61:10; QS.62:3-4; QS.77:12).
       Nubuatan itu pun selain  mendukung penjelasan bagi makna kata-kata, ادۡخُلِ الۡجَنَّۃَ  -- Masuklah ke dalam surga”  (QS.36:27) juga sesuai dengan makna sabda Nabi Besar Muhammad saw. mengenai “pengambilan kembali iman yang yang terbang ke bintang Tsurayya”:
 "Sekiranya keimanan itu ada di gugusan bintang (Tsurayya), niscaya keimanan itu tetap akan diperoleh oleh rajulun (seseorang) atau rijaalun (beberapa orang) dari mereka itu (orang-orang Farsi)."
      Mengapa demikian? Sebab tanpa memahami dan mengamalkan ajaran Islam (Al-Quran) secara benar – sebagaiman  yang difahami dan diamalkan Nabi Besar Muhammad saw. (QS.3:32; QS.33:22) --  maka mustahil dapat  masuk ke dalam  kehidupan surgawi”, baik  di dunia mau pun di akhirat, firman-Nya:
یٰۤاَیُّہَا  الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا  لِمَ  تَقُوۡلُوۡنَ مَا لَا  تَفۡعَلُوۡنَ ﴿﴾  کَبُرَ  مَقۡتًا عِنۡدَ  اللّٰہِ  اَنۡ  تَقُوۡلُوۡا مَا  لَا تَفۡعَلُوۡنَ ﴿﴾  اِنَّ اللّٰہَ یُحِبُّ الَّذِیۡنَ یُقَاتِلُوۡنَ فِیۡ سَبِیۡلِہٖ  صَفًّا کَاَنَّہُمۡ  بُنۡیَانٌ  مَّرۡصُوۡصٌ  ﴿﴾
Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang kamu tidak kerjakan?  Adalah sesuatu yang paling di-benci di sisi Allah bahwa kamu me-ngatakan apa yang tidak kamu kerjakan.   Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berperang  dalam barisan-barisan, mereka itu seakan-akan suatu bangunan yang tersusun rapat   (Ash-Shaf [61]:3-5).
 Perbuatan seorang Muslim hendaknya sesuai dengan pernyataan-pernyataannya. Bicara sombong dan kosong membawa seseorang tidak keruan kemana yang dituju, dan ikrar-ikrar lidah tanpa disertai perbuatan-perbuatan nyata adalah berbau kemunafikan dan ketidaktulusan.
    Ayat selanjutnya menjelaskan bahwa orang-orang Muslim diharapkan tampil dalam barisan yang rapat, teguh dan kuat terhadap kekuatan-kekuatan kejahatan, di bawah komando pemimpin mereka, yang terhadapnya mereka harus taat dengan sepenuhnya dan seikhlas-ikhlasnya.

Pentingnya Keberadaan   Imam Mahdi   -- Pemimpin yang Senantiasa Mendapat Petunjuk Allah Swt. & Pentingnya Keberadaan Khilafat  Kenabian Dalam Islam

   Tetapi suatu kaum yang berusaha menjadi satu jemaat yang kokoh-kuat, harus mempunyai satu tata-cara hidup, satu cita-cita, satu maksud, satu tujuan dan satu rencana untuk mencapai tujuan itu, dan  hal tersebut hanya mungkin jika jemaat Muslim seperti itu hanya memiliki satu imam  (pemimpin), terutama yang senantiasa mendapat petunjuk Allah Swt. melalui wahyu-Nya  yakni Imam Mahdi a.s. (QS.72:27-29),   firman-Nya: 
اِنَّ اللّٰہَ یُحِبُّ الَّذِیۡنَ یُقَاتِلُوۡنَ فِیۡ سَبِیۡلِہٖ  صَفًّا کَاَنَّہُمۡ  بُنۡیَانٌ  مَّرۡصُوۡصٌ  ﴿﴾
Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berperang  dalam barisan-barisan, mereka itu seakan-akan suatu bangunan yang tersusun rapat   (Ash-Shaf [61]:5).
       Mengisyaratkan kepada imam (pemimpin) yang senantiasa mendapat petunjuk Allah Swt. (mahdi)  -- yakni Khalifah Allah   -- itulah  firman-Nya berikut ini:
وَعَدَ  اللّٰہُ  الَّذِیۡنَ  اٰمَنُوۡا مِنۡکُمۡ وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ لَیَسۡتَخۡلِفَنَّہُمۡ فِی الۡاَرۡضِ کَمَا اسۡتَخۡلَفَ الَّذِیۡنَ مِنۡ قَبۡلِہِمۡ ۪ وَ لَیُمَکِّنَنَّ لَہُمۡ دِیۡنَہُمُ  الَّذِی ارۡتَضٰی لَہُمۡ وَ لَیُبَدِّلَنَّہُمۡ مِّنۡۢ بَعۡدِ خَوۡفِہِمۡ  اَمۡنًا ؕ یَعۡبُدُوۡنَنِیۡ لَا  یُشۡرِکُوۡنَ بِیۡ شَیۡئًا ؕ وَ مَنۡ  کَفَرَ بَعۡدَ ذٰلِکَ فَاُولٰٓئِکَ ہُمُ  الۡفٰسِقُوۡنَ ﴿﴾
Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman  dan  beramal saleh di antara kamu niscaya Dia  akan menjadikan mereka itu khalifah di bumi ini sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka khalifah, dan niscaya Dia akan meneguhkan bagi mereka agamanya yang telah Dia ridhai bagi me-reka,  dan niscaya Dia akan mengubah keadaan mereka dengan ke-amanan sesudah ketakutan mereka. Mereka akan menyembah-Ku dan mereka tidak akan mempersekutukan sesuatu dengan-Ku, dan barangsiapa ka-fir sesudah itu  mereka itulah orang-orang  durhaka.  (An-Nūr [24]:56).
        Dikarenakan ayat ini berlaku sebagai pendahuluan untuk mengantarkan masalah khilafat, maka dalam ayat-ayat QS.52:55 berulang-ulang telah diberi tekanan mengenai ketaatan kepada Allah dan rasul-Nya. Tekanan ini merupakan isyarat mengenai tingkat dan kedudukan seorang khalifah dalam Islam. Ayat ini berisikan janji bahwa orang-orang Muslim akan dianugerahi pimpinan ruhani maupun duniawi.
      Janji itu diberikan kepada seluruh umat Islam, tetapi lembaga khilafat akan mendapat bentuk nyata dalam wujud perorangan-perorangan tertentu, yang akan menjadi penerus Nabi Besar Muhammad saw.  serta wakil seluruh umat Islam. Janji Allah Swt. mengenai ditegakkannya khilafat di Akhir Zaman ini   di kalangan umat Islam adalah jelas dan tidak dapat menimbulkan salah paham.
      Oleh sebab kini Nabi Besar Muhammad saw.. satu-satunya hadi (petunjuk jalan) umat manusia untuk selama-lamanya, khilafat beliau saw. akan terus berwujud dalam salah satu bentuk di dunia ini sampai Hari Kiamat, karena semua khilafat yang lain telah tiada lagi.
  Inilah, di antara banyak keunggulan yang lainnya lagi, merupakan kelebihan  Nabi Besar Muhammad saw.  yang menonjol di atas semua nabi Allah dan rasul Allah lainnya  berkenaan keberlangsungan silsilah Khilafat Kenabian  di kalangan umat Islam sampai Hari Kiamat nanti.

Sabda-sabda Nabi Besar Muhammad saw.  Tentang Imam Mahdi a.s.

        Berikut beberapa sabda Nabi Besar Muhammad saw. berkenaan dengan para Mujaddid yang   bertugas memurnikan kembali pemahaman  ajaran Islam (Al-Quran), terutama Imam Zaman – yakni Imam Mahdi a.s.  -- atau Rasul Akhir Zaman yang akan mewujudkan  kejayaan Islam yang kedua kali, firman-Nya:
ہُوَ الَّذِیۡۤ  اَرۡسَلَ  رَسُوۡلَہٗ  بِالۡہُدٰی وَ دِیۡنِ  الۡحَقِّ لِیُظۡہِرَہٗ  عَلَی الدِّیۡنِ کُلِّہٖ وَ لَوۡ  کَرِہَ  الۡمُشۡرِکُوۡنَ ٪﴿﴾
Dia-lah Yang mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk dan dengan agama yang benar supaya Dia memenangkannya atas semua agama,  walaupun orang musyrik tidak menyukai. (Ash-Shaf [61]:10).
  Kebanyakan ahli tafsir Al-Quran sepakat bahwa ayat ini kena  dan akan terwujud  melalui perjuangan suci  Al-Masih yang dijanjikan (Masih Mau’ud a.s.), sebab di zaman beliau semua agama muncul  dan berlomba-lomba mentabligkan agama mereka,  karena mereka pun  mempercayai mengenai kedatangan  seorang “pahlawan agama  -- dengan nama yang berbeda-beda di setiap umat beragama  --  yang    akan memenangkan agama mereka, sebagaimana yang juga dipercayai oleh umat Islam mengenai kedatangan Imam Mahdi a.s.  dan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.,  yang akan mengunggulkan agama Islam di atas semua agama.
       Abu Hurairah r.a. meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda:  Sesungguhnya Allah akan mengutus (menghadirkan) bagi umat ini (umat Islam) orang yang akan memperbaharui (urusan) agama mereka pada setiap akhir seratus tahun (HR Abu Dawud  no. 4291).  
      “Andaikan dunia tinggal sehari sungguh Allah akan panjangkan hari tersebut sehingga diutus padanya seorang lelaki dari ahli baitku namanya serupa namaku dan nama ayahnya serupa nama ayahku. Ia akan penuhi bumi dengan kejujuran dan keadilan sebagaimana sebelumnya dipenuhi dengan kezaliman dan penganiayaan.” (HR Abu Dawud 9435).
      “Aku kabarkan berita gembira mengenai Al-Mahdi yang diutus Allah ke tengah ummatku ketika banyak terjadi perselisihan antar-manusia dan gempa-gempa. Ia akan penuhi bumi dengan keadilan dan kejujuran sebagaimana sebelumnya dipenuhi dengan kesewenang-wenangan dan kezaliman.” (HR Ahmad 10898).
       “Sungguh, bumi ini akan dipenuhi oleh kezhaliman dan kesemena-menaan. Dan apabila kezhaliman serta kesemena-menaan itu telah penuh, maka Allah Swt. akan mengutus seorang laki-laki yang berasal dari umatku, namanya seperti namaku, dan nama bapaknya seperti nama bapakku. Maka ia akan memenuhi bumi dengan keadilan dan kemakmuran, sebagaimana ia (bumi) telah dipenuhi sebelum itu oleh kezhaliman dan kesemena-menaan. Di waktu itu langit tidak akan menahan setetes pun dari tetesan airnya, dan bumi pun tidak akan menahan sedikit pun dari tanaman-tanamannya. Maka ia akan hidup bersama kamu selama 7 tahun, atau 8 tahun, atau 9 tahun. (HR. Thabrani) ”
     "Pada Akhir Zaman akan muncul seorang khalifah yang berasal dari umatku, yang akan melimpahkan harta kekayaan selimpah-limpahnya. Dan  .” (HR. Muslim dan Ahmad).
      Al-Mahdi berasal dari umatku, berkening lebar, berhidung panjang dan mancung. Ia akan memenuhi bumi ini dengan keadilan dan kemakmuran, sebagaimana ia (bumi ini) sebelum itu dipenuhi oleh kezhaliman dan kesemena-menaan, dan ia (umur kekhalifahan) berumur tujuh tahun. (HR. Abu Dawud dan Al-Hakim).
    Al-Mahdi berasal dari umatku, dari keturunan anak cucuku.
(HR. Abu Dawud; Ibnu Majah, dan Al-Hakim).  
      Al-Mahdi berasal dari umatku, yang akan diislahkan oleh Allah dalam satu malam.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah).
      Ada pun wasiat (amanat) yang paling penting  Nabi Besar Muhammad saw.   berkenan Imam Mahdi a.s. adalah kewajiban melakukan bai’at kepada beliau a.s.:
“Ketika kalian melihatnya (kehadiran Imam Mahdi)  maka berbai’atlah dengannya walaupun harus merangkak-rangkak di atas salju karena sesungguhnya dia adalah Khalifatullah Al-Mahdi.” (HR Abu Dawud, 4074).

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid

oo0oo
Pajajaran Anyar, 21    Februari  2017




Tidak ada komentar:

Posting Komentar