Bismillaahirrahmaanirrahiim
ISLAM
Pidato Mirza Ghulam Ahmad a.s.
Tgl. 2 November 1904
di Kota Sialkote – Hindustan
Bab 25
MAKNA “PENGAMBILAN IMAN
DARI BINTANG TSURAYYA” OLEH AL-MASIH
MAU’UD A.S. DI AKHIR ZAMAN DAN HUBUNGANNYA DENGAN “SURGA YANG DIDEKATKAN”
& KEWAJIBAN BAI’AT
KEPADA IMAM MAHDI A.S.
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam bagian akhir Bab 24 telah dijelaskan topik Saling Mewarisi Cara-cara
Menentang Para Rasul Allah sehubungan dengan bahasa yang penuh kiasan (perumpamaan)
berkenaan nubuatan (kabar-gaib) yang
dikemukakan dalam Kitab-kitab suci --
khususnya Al-Quran, sabda para rasul Allah dan para wali Allah -- termasuk juga ramalan yang dikemukakan para leluhur
suatu bangsa atau suku bangsa --
senantiasa merupakan “bahasa kiasan”
yang kalau difahami secara harfiyah akan jauh dari hakikatnya dan menyebabkan terjadinya pendustaan terhadap para rasul Allah karena keadaannya bertentangan dengan “persepsi
keliru” mereka, firman-Nya:
وَ قَالَ الرَّسُوۡلُ یٰرَبِّ اِنَّ قَوۡمِی اتَّخَذُوۡا
ہٰذَا الۡقُرۡاٰنَ مَہۡجُوۡرًا ﴿﴾ وَ
کَذٰلِکَ جَعَلۡنَا لِکُلِّ نَبِیٍّ عَدُوًّا مِّنَ الۡمُجۡرِمِیۡنَ ؕ وَ کَفٰی
بِرَبِّکَ ہَادِیًا وَّ نَصِیۡرًا ﴿﴾
Dan Rasul
itu berkata: “Ya Rabb-ku (Tuhan-ku),
sesungguhnya kaumku telah menjadikan
Al-Quran ini sesuatu yang telah
ditinggalkan. وَ کَذٰلِکَ
جَعَلۡنَا لِکُلِّ نَبِیٍّ عَدُوًّا مِّنَ الۡمُجۡرِمِیۡنَ -- Dan demikianlah Kami telah
menjadikan musuh bagi tiap-tiap nabi dari antara orang-orang yang berdosa, وَ کَفٰی بِرَبِّکَ ہَادِیًا وَّ نَصِیۡرًا -- dan cukuplah Rabb (Tuhan) engkau sebagai pemberi
petunjuk dan penolong. (Al-Furqān
[25]:31-32).
Firman-Nya lagi:
یٰحَسۡرَۃً عَلَی الۡعِبَادِ ۚؑ مَا یَاۡتِیۡہِمۡ مِّنۡ رَّسُوۡلٍ اِلَّا
کَانُوۡا بِہٖ یَسۡتَہۡزِءُوۡنَ ﴿﴾ اَلَمۡ یَرَوۡا کَمۡ اَہۡلَکۡنَا
قَبۡلَہُمۡ مِّنَ الۡقُرُوۡنِ
اَنَّہُمۡ اِلَیۡہِمۡ لَا
یَرۡجِعُوۡنَ ﴿ؕ﴾ وَ اِنۡ کُلٌّ
لَّمَّا جَمِیۡعٌ لَّدَیۡنَا مُحۡضَرُوۡنَ ﴿﴾
Wahai sangat disesalkan atas hamba-hamba itu, sekali-kali tidak pernah datang kepada mereka seorang rasul melainkan mereka senantiasa mencemoohkannya. Apakah mereka tidak melihat berapa banyak generasi yang telah Kami binasakan
sebelum mereka, bahwasanya mereka itu tidak kembali lagi kepada
mereka? Dan setiap mereka semua niscaya akan dihadirkan
kepada Kami.” (Yā Sīn [36]:11-32).
Kata-kata dalam ayat 31 penuh dengan
kerawanan. Tuhan Yang Maha Kuasa Sendiri agaknya seolah-olah sangat masygul atas penolakan dan ejekan manusia
terhadap para nabi-Nya. Sementara
para nabi Allah menanggung kesedihan dan derita untuk kaumnya
(QS.9:128; QS.18:7; QS.26:4), maka kaumnya
itu membalas kesedihan mereka itu
dengan penghinaan, fitnah dan kezaliman seakan-akan mereka itu telah saling mewasiatkan, termasuk di Akhir Zaman ini, firman-Nya:
کَذٰلِکَ مَاۤ اَتَی الَّذِیۡنَ مِنۡ قَبۡلِہِمۡ مِّنۡ رَّسُوۡلٍ اِلَّا
قَالُوۡا سَاحِرٌ اَوۡ مَجۡنُوۡنٌ ﴿ۚ﴾ اَتَوَاصَوۡا
بِہٖ ۚ بَلۡ ہُمۡ قَوۡمٌ طَاغُوۡنَ ﴿ۚ﴾
Demikianlah sekali-kali tidak pernah datang kepada
orang-orang sebelum mereka seorang rasul
melainkan mereka berkata: “Dia tukang
sihir, atau orang gila!” Adakah mereka saling mewasiatkan mengenai itu? Tidak, bahkan mereka itu
semua kaum pendurhaka. (Adz-Dzāriyāt [51]:53-54).
Berbagai “Keberatan”
Terhadap Pengangkatan Rasul Allah
Begitu menyoloknya persamaan tuduhan-tuduhan
yang dilancarkan terhadap Nabi Besar Muhammad saw. dan para mushlih
rabbani (rasul-rasul Allah) lainnya
oleh lawan-lawan mereka sepanjang
masa, sehingga nampaknya orang-orang
kafir dari abad tertentu menurunkan (mewariskan) tuduhan-tuduhan itu kepada keturunan
mereka, supaya terus melancarkan lagi tuduhan-tuduhan
dusta tersebut, termasuk di Akhir Zaman ini kepada Mirza
Ghulam Ahmad a.s. -- Rasul Akhir Zaman
yang akan mewujudkan kejayaan
Islam yang kedua kali, firman-Nya:
ہُوَ
الَّذِیۡۤ اَرۡسَلَ رَسُوۡلَہٗ
بِالۡہُدٰی وَ دِیۡنِ الۡحَقِّ
لِیُظۡہِرَہٗ عَلَی الدِّیۡنِ کُلِّہٖ وَ
لَوۡ کَرِہَ الۡمُشۡرِکُوۡنَ ٪﴿﴾
Dia-lah Yang mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk
dan dengan agama yang benar supaya Dia memenangkannya atas semua agama,
walaupun orang musyrik tidak menyukai (Ash-Shaf [61]:10).
Salah satu contoh bahasa nubuatan yang penuh
dengan kiasan adalah mengenai kemunculan khalifah ruhani Nabi Besar Muhammad
saw. yang terbesar dalam wujud Pendiri Jemaat Muslim Ahmadiyah, -- yakni Mirza Ghulam Ahmad
a.s. atau Imam Mahdi a.s. atau Al-Masih Mau’ud a.s. atau misal
Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (QS.43:58) yang diutus di wilayah Punjab, Hindustan.
Salah satu keberatan atau penolakan
yang dikemukakan para penentang pendakwaan
beliau sebagai Rasul Akhir Zaman adalah: “Kalau pun harus ada lagi rasul (nabi) setelah Nabi Besar Muhammad
saw. maka ia harus muncul di wilayah
Timur Tengah, bukannya dari wilayah Hindustan!”
Sehubungan saling
mewarisi cara melakukan penentangan terhadap para rasul Allah seperti itu sebelumnya dilakukan pula oleh
orang-orang Bani Israil (orang-orang
Yahudi) bahwa kalau pun silsilah kenabian
terus berlangsung maka nabi Allah
yang datang harus dari kalangan Bani
Israil, bukan muncul dari kalangan Bani Isma’il (bangsa Arab)!
Namun dalam kenyataannya ketika Allah
Swt. di kalangan bani Israil mengangkat Thalut (Gideon) sebagai raja bagi mereka, para pemuka Bani
Israil menolak pengangkatannya dengan mengatakan bahwa salah seorang di antara
mereka itulah yang layak diangkat
sebagai raja bagi mereka, karena Thalut tidak diberi kekayaan yang berlimpah-ruah seperti mereka
(QS.2:247-249).
Sejarah kenabian
di kalangan Bani Israil membuktikan
bahwa pengutusan para rasul Allah mulai dari Nabi Musa a.s. sampai dengan Nabi
Isa Ibnu Maryam a.s. senantiasa didustakan dan ditentang oleh para pemuka
Bani Israil yang takabbur sehingga akibatnya mereka yang sebelumnya sebagai “kaum pilihan” Allah Swt. tersebut
(QS.2:48) menjadi golongan yang dilaknat dan dimurkai Allah Swt.,
firman-Nya:
اِیَّاکَ
نَعۡبُدُ وَ اِیَّاکَ نَسۡتَعِیۡنُ ﴿﴾ اِہۡدِ نَا الصِّرَاطَ الۡمُسۡتَقِیۡمَ ۙ ﴿﴾ صِرَاطَ الَّذِیۡنَ
اَنۡعَمۡتَ عَلَیۡہِمۡ ۙ۬ غَیۡرِ الۡمَغۡضُوۡبِ عَلَیۡہِمۡ وَ لَا الضَّآلِّیۡنَ ٪﴿﴾
Hanya Engkau-lah Yang kami sembah dan hanya
kepada Engkau-lah kami mohon pertolongan. Tunjukilah kami jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang
yang telah Engkau beri nikmat atas mereka, bukan jalan mereka yang
dimurkai dan bukan pula jalan
mereka yang sesat.
(Al-Fatihah [1]:5-7).
Penyebab “Kaum Pilihan” Allah Swt. Berubah Menjadi “Kaum yang Dimurkai” Allah Swt.
Sebagai Peringatan bagi Umat Islam
Perubahan Bani Israil dari “kaum pilihan” Allah Swt. pada zamannya
(QS.2:48) kemudian menjadi “kaum yang
dimurkai” (maghdhub) karena senantiasa berlaku takabbur terhadap Allah Swt.
dan para rasul Allah yang diutus di
kalangan mereka, firman-Nya:
وَ لَقَدۡ اٰتَیۡنَا
مُوۡسَی الۡکِتٰبَ وَ قَفَّیۡنَا مِنۡۢ بَعۡدِہٖ بِالرُّسُلِ ۫ وَ اٰتَیۡنَا
عِیۡسَی ابۡنَ مَرۡیَمَ الۡبَیِّنٰتِ وَ اَیَّدۡنٰہُ بِرُوۡحِ الۡقُدُسِ ؕ
اَفَکُلَّمَا جَآءَکُمۡ رَسُوۡلٌۢ بِمَا لَا تَہۡوٰۤی اَنۡفُسُکُمُ
اسۡتَکۡبَرۡتُمۡ ۚ فَفَرِیۡقًا
کَذَّبۡتُمۡ ۫ وَ فَرِیۡقًا تَقۡتُلُوۡنَ
﴿﴾ وَ قَالُوۡا قُلُوۡبُنَا غُلۡفٌ ؕ بَلۡ لَّعَنَہُمُ اللّٰہُ بِکُفۡرِہِمۡ فَقَلِیۡلًا مَّا یُؤۡمِنُوۡنَ ﴿﴾ وَ لَمَّا
جَآءَہُمۡ کِتٰبٌ مِّنۡ عِنۡدِ اللّٰہِ مُصَدِّقٌ لِّمَا مَعَہُمۡ ۙ وَ کَانُوۡا مِنۡ قَبۡلُ یَسۡتَفۡتِحُوۡنَ
عَلَی الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا ۚۖ فَلَمَّا جَآءَہُمۡ مَّا عَرَفُوۡا کَفَرُوۡا بِہٖ
۫ فَلَعۡنَۃُ اللّٰہِ عَلَی الۡکٰفِرِیۡنَ ﴿﴾
Dan sungguh Kami benar-benar telah berikan Alkitab kepada Musa dan Kami mengikutkan rasul-rasul di
belakangnya, Kami berikan kepada Isa Ibnu Maryam Tanda-tanda
yang nyata, dan juga Kami
memperkuatnya dengan Ruhulqudus.
اَفَکُلَّمَا جَآءَکُمۡ رَسُوۡلٌۢ
بِمَا لَا تَہۡوٰۤی اَنۡفُسُکُمُ اسۡتَکۡبَرۡتُمۡ -- Maka apakah
patut setiap datang kepada kamu seorang rasul dengan membawa apa yang tidak disukai oleh
dirimu kamu berlaku takabur, فَفَرِیۡقًا کَذَّبۡتُمۡ ۫
وَ فَرِیۡقًا تَقۡتُلُوۡنَ -- lalu sebagian
kamu dustakan dan sebagian lainnya
kamu bunuh? وَ قَالُوۡا
قُلُوۡبُنَا غُلۡفٌ ؕ بَلۡ لَّعَنَہُمُ اللّٰہُ بِکُفۡرِہِمۡ فَقَلِیۡلًا مَّا یُؤۡمِنُوۡنَ -- Dan mereka berkata: ”Hati kami tertutup.” Tidak, bahkan Allah
telah mengutuk mereka karena kekafiran
mereka maka sedikit sekali apa yang mereka imani. وَ لَمَّا جَآءَہُمۡ کِتٰبٌ مِّنۡ عِنۡدِ
اللّٰہِ مُصَدِّقٌ لِّمَا مَعَہُمۡ -- Dan tatkala
datang kepada mereka sebuah Kitab yakni Al-Quran dari Allah menggenapi
apa yang ada pada mereka, وَ
کَانُوۡا مِنۡ قَبۡلُ یَسۡتَفۡتِحُوۡنَ عَلَی الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا -- sedangkan sebelum itu mereka senantiasa memohon
kemenangan atas orang-orang kafir, فَلَمَّا جَآءَہُمۡ مَّا عَرَفُوۡا کَفَرُوۡا
بِہٖ ۫ فَلَعۡنَۃُ اللّٰہِ عَلَی الۡکٰفِرِیۡنَ -- tetapi tatkala
datang
kepada mereka apa yang mereka kenali itu
lalu mereka kafir kepadanya
maka laknat Allah atas
orang-orang kafir. (Al-Baqarah [2]:88-90).
Penolakan terhadap para rasul Allah yang diutus dari kalangan Bani
Israil terjadi pula di kalangan Bani
Isma’il (bangsa Arab) terhadap diri Nabi
Besar Muhammad saw., yakni para pemuka kaum kafir Quraisy Mekkah pimpinan Abu
Jahal berkata bahwa: “Seandainya
pun benar Allah Swt. mengutus rasul Allah di kalangan Bani Isma’il (bangsa Arab) maka yang paling pantas sebagai rasul Allah adalah salah seseorang besar (pemuka kaum) dari
antara penduduk Mekkah atau
penduduk Thaif, bukannya Muhammad seorang miskin
dan anak yatim!” Firman-Nya:
وَ لَمَّا جَآءَہُمُ الۡحَقُّ قَالُوۡا ہٰذَا سِحۡرٌ وَّ اِنَّا بِہٖ کٰفِرُوۡنَ ﴿﴾ وَ قَالُوۡا
لَوۡ لَا نُزِّلَ ہٰذَا الۡقُرۡاٰنُ عَلٰی رَجُلٍ مِّنَ الۡقَرۡیَتَیۡنِ عَظِیۡمٍ ﴿﴾ اَہُمۡ
یَقۡسِمُوۡنَ رَحۡمَتَ رَبِّکَ ؕ نَحۡنُ قَسَمۡنَا بَیۡنَہُمۡ مَّعِیۡشَتَہُمۡ فِی الۡحَیٰوۃِ الدُّنۡیَا وَ
رَفَعۡنَا بَعۡضَہُمۡ فَوۡقَ بَعۡضٍ دَرَجٰتٍ لِّیَتَّخِذَ بَعۡضُہُمۡ بَعۡضًا
سُخۡرِیًّا ؕ وَ رَحۡمَتُ رَبِّکَ خَیۡرٌ
مِّمَّا یَجۡمَعُوۡنَ ﴿﴾
Tetapi tatkala datang kepada mereka kebenaran,
mereka berkata: "Ini adalah sihir, dan sesungguhnya kami mengingkarinya." وَ قَالُوۡا لَوۡ لَا
نُزِّلَ ہٰذَا الۡقُرۡاٰنُ عَلٰی رَجُلٍ مِّنَ الۡقَرۡیَتَیۡنِ عَظِیۡمٍ -- Dan
mereka berkata: "Mengapakah
Al-Quran ini tidak diturunkan kepada seseorang
besar dari kedua kota besar
itu?" اَہُمۡ یَقۡسِمُوۡنَ رَحۡمَتَ رَبِّکَ -- Apakah mereka
yang membagi-bagikan rahmat Rabb (Tuhan)
engkau? نَحۡنُ قَسَمۡنَا بَیۡنَہُمۡ مَّعِیۡشَتَہُمۡ فِی الۡحَیٰوۃِ الدُّنۡیَا وَ
رَفَعۡنَا بَعۡضَہُمۡ فَوۡقَ بَعۡضٍ دَرَجٰتٍ لِّیَتَّخِذَ بَعۡضُہُمۡ بَعۡضًا
سُخۡرِیًّا -- Kami-lah
Yang membagi-bagikan di antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia
dan Kami mengangkat sebagian mereka di atas
sebagian lain dalam derajat, supaya sebagian
dari mereka dapat melayani yang lainnya. وَ رَحۡمَتُ رَبِّکَ خَیۡرٌ مِّمَّا یَجۡمَعُوۡنَ -- Dan rahmat Rabb (Tuhan) engkau adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan. (Az-Zukhruf [43]:31-33).
Ada
pun yang dimaksud dengan kedua
kota besar itu pada umumnya difahami kota-kota Mekkah dan Tha'if. Pada
zaman Nabi Besar Muhammad saw. kota
itu merupakan dua buah pusat kehidupan
sosial dan politik bangsa Arab. Ayat
selanjutnya menyatakan penyesalan keras terhadap orang-orang kafir dengan mengatakan
kepada mereka bahwa sejak kapankah mereka telah menyombongkan diri mengambil peranan menjadi pembagi rahmat dan kasih-sayang
Allah Swt., atau mempunyai hak
istimewa memutuskan siapa yang berhak
dan siapa yang tidak berhak menerima rahmat dan kasih-sayang Allah Swt., firman-Nya: اَہُمۡ یَقۡسِمُوۡنَ رَحۡمَتَ رَبِّکَ -- “Apakah mereka yang membagi-bagikan rahmat Tuhan engkau? نَحۡنُ قَسَمۡنَا بَیۡنَہُمۡ مَّعِیۡشَتَہُمۡ فِی الۡحَیٰوۃِ الدُّنۡیَا وَ
رَفَعۡنَا بَعۡضَہُمۡ فَوۡقَ بَعۡضٍ دَرَجٰتٍ لِّیَتَّخِذَ بَعۡضُہُمۡ بَعۡضًا
سُخۡرِیًّا
-- Kami-lah Yang membagi-bagikan di antara mereka penghidupan mereka dalam
kehidupan dunia dan Kami mengangkat
sebagian mereka di atas sebagian lain dalam derajat, supaya sebagian dari mereka dapat melayani yang
lainnya. وَ رَحۡمَتُ
رَبِّکَ خَیۡرٌ مِّمَّا یَجۡمَعُوۡنَ -- Dan rahmat Rabb (Tuhan) eng-kau adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.”
Makna “Seorang Laki-laki
yang Datang dari Bagian terjauh Dari
Kota itu”
Sunnatulah
berkenaan pendustaan dan penentangan terhadap para rasul Allah seperti itu kembali terulang
di Akhir
Zaman ini terhadap pendakwan Mirza
Ghulam Ahmad a.s. sebagai Imam Mahdi a.s. atau misal Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (QS.43:58)
atau Masih Mau’ud a.s. atau pengutusan
kedua kali secara ruhani Nabi Besar Muhammad saw.
(QS.62:3-4) yakni: “Kalau pun harus ada lagi rasul (nabi) setelah Nabi Besar Muhammad saw. maka ia harus
muncul di wilayah Timur Tengah dan bangsa Arab, bukannya dari wilayah Hindustan!”
Jawaban atas keberatan bahwa mengapa
pengutusan Rasul Akhir Zaman di
wilayah Hindustan sesuai dengan nubuatan dalam Al-Quran dalam Surah Yā Sīn tentang perumpamaan
sebuah kota (Mekkah)
berkenaan “seorang laki-laki yang datang
berlari-lari dari bagian terjauh
kota” itu, yang berbeda dengan tempat pengutusan 3 orang rasul Allah sebelumnya yang berasal dari wilayah “kota” itu (QS.36:14-20) – s Allah Swt. berfirman:
وَ
جَآءَ مِنۡ اَقۡصَا الۡمَدِیۡنَۃِ رَجُلٌ
یَّسۡعٰی قَالَ یٰقَوۡمِ اتَّبِعُوا الۡمُرۡسَلِیۡنَ ﴿ۙ﴾
اتَّبِعُوۡا
مَنۡ لَّا یَسۡـَٔلُکُمۡ اَجۡرًا وَّ ہُمۡ مُّہۡتَدُوۡنَ ﴿﴾ وَ مَا لِیَ
لَاۤ اَعۡبُدُ الَّذِیۡ
فَطَرَنِیۡ وَ اِلَیۡہِ تُرۡجَعُوۡنَ ﴿﴾ ءَاَتَّخِذُ مِنۡ دُوۡنِہٖۤ اٰلِہَۃً اِنۡ یُّرِدۡنِ الرَّحۡمٰنُ بِضُرٍّ
لَّا تُغۡنِ عَنِّیۡ شَفَاعَتُہُمۡ شَیۡئًا
وَّ لَا یُنۡقِذُوۡنِ ﴿ۚ﴾ اِنِّیۡۤ اِذًا
لَّفِیۡ ضَلٰلٍ مُّبِیۡنٍ ﴿﴾ اِنِّیۡۤ اٰمَنۡتُ بِرَبِّکُمۡ فَاسۡمَعُوۡنِ ﴿ؕ﴾ قِیۡلَ
ادۡخُلِ الۡجَنَّۃَ ؕ قَالَ یٰلَیۡتَ قَوۡمِیۡ یَعۡلَمُوۡنَ ﴿ۙ﴾ بِمَا غَفَرَ
لِیۡ رَبِّیۡ وَ جَعَلَنِیۡ مِنَ الۡمُکۡرَمِیۡنَ ﴿﴾
Dan datang dari bagian terjauh kota itu seorang laki-laki dengan berlari-lari,
ia berkata: “Hai kaumku, ikutilah
utusan-utusan itu. Ikutilah mereka yang tidak meminta upah dari kamu dan mereka yang telah mendapat petunjuk. Dan
mengapakah aku tidak menyembah Tuhan
Yang menciptakan diriku dan Yang kepada-Nya kamu akan dikembalikan? Apakah aku
akan mengambil selain Dia sebagai sembahan-sembahan, padahal jika
Tuhan Yang Maha Pemurah menghendaki
sesuatu kemudaratan bagiku syafaat
mereka itu tidak akan bermanfaat bagiku
sedikit pun, dan mereka tidak dapat
menyelamatkanku? Sesungguhnya
jika aku berbuat demikian
niscaya berada dalam kesesatan yang
nyata. اِنِّیۡۤ اٰمَنۡتُ بِرَبِّکُمۡ فَاسۡمَعُوۡنِ -- Sesungguhnya
aku beriman kepada Rabb (Tuhan) kamu maka dengarlah
aku.” قِیۡلَ ادۡخُلِ
الۡجَنَّۃَ -- Dikatakan kepadanya: “Masuklah
ke dalam surga.” قَالَ یٰلَیۡتَ قَوۡمِیۡ یَعۡلَمُوۡنَ -- Ia berkata: “Wahai alangkah baiknya jika kaum-ku mengetahui, بِمَا غَفَرَ لِیۡ رَبِّیۡ وَ
جَعَلَنِیۡ مِنَ الۡمُکۡرَمِیۡنَ -- karena apa Rabb-ku (Tuhan-ku) telah mengampuniku dan telah
menjadikan aku dari antara orang-orang yang di-muliakan. (Yā Sīn [36]:31-29).
Kata-kata “bagian
terjauh kota itu” dalam ayat: وَ جَآءَ مِنۡ اَقۡصَا
الۡمَدِیۡنَۃِ رَجُلٌ یَّسۡعٰی -- “Dan datang dari bagian terjauh kota itu seorang
laki-laki dengan berlari-lari,” dapat diartikan suatu tempat yang jauh letaknya dari markas Islam yakni kota Mekkah di wilayah Timur tengah, yaitu mengisyaratkan kepada Hindustan.
“Rajulun” (Seorang
Laki-laki) yang Membawa Kembali Keimanan
dari “Bintang Tsurayya”
Isyarat
yang terkandung dalam kata rajulun dalam ayat tersebut dapat tertuju
kepada Mirza Ghulam Ahmad a.s. – yakni Imam
Mahdi a.s. dan Masih Mau’ud a.s. -- yang telah disebut rajulun dalam suatu hadits yang
terkenal (Bukhari, Kitab at-Tafsir) sehubungan tafsir surah Al-Jumu’ah ayat 3-4 berkenaan dengan makna ayat: وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ
لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ ہُوَ
الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ -- Dan juga akan membangkitkannya pada kaum lain dari antara mereka, yang
belum bertemu dengan mereka. Dan Dia-lah
Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana
(Al-Jumu’ah [62]:3-4). Berikut ini
terjemahan hadits yang dimaksud:
“Telah menceritakan kepadaku [Abdul Aziz bin Abdullah] ia berkata, Telah
menceritakan kepadaku [Sulaiman bin Bilal] dari [Tsaur] dari [Abul Ghaits] dari
[Abu Hurairah radliallahu 'anhu] ia berkata; Suatu hari, kami duduk-duduk di
sisi Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, lalu diturunkanlah pada beliau surat Al
Jumu'ah: وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ لَمَّا
یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ Maka aku pun bertanya,
"Siapa mereka itu wahai Rasulullah?" Namun, beliau belum juga
menjawab hingga tiga orang bertanya. Di antara kami ada Salman Al Farisi. Kemudian Rasulullah shallallaahu 'alaihi
wasallam meletakkan tangannya pada Salman dan bersabda: "Sekiranya keimanan itu
ada di gugusan bintang (Tsurayya), niscaya keimanan itu tetap akan diperoleh oleh rijālun (beberapa orang) atau rajulun
(seseorang) dari mereka itu (orang-orang
Farsi)." Telah menceritakan kepada kami [Abdullah bin Abdul Wahhab] Telah
menceritakan kepada kami [Abdul Aziz] Telah mengabarkan kepadaku [Tsaur] dari
[Abul Ghaits] dari [Abu Hurairah] dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam,
beliau bersabda: "Niscaya (keimanan) itu akan diperoleh oleh rijālun (beberapa
orang) dari mereka (Orang Farsi)." (Hadits Bukhari No.4518).
Kata-kata yang sama dalam arti dan maksud
dengan kata yas’a (berlari-lari) telah dipakai mengenai Masih
Mau’ud a.s. oleh Nabi
Besar Muhammad saw. dalam
beberapa sabda beliau saw., yang memberi isyarat kepada sifatnya yang tidak mengenal
lelah, cepat bertindak dan tidak mengenal jemu dalam usahanya untuk kepentingan Islam.
Penyebutan
surga secara khusus dalam ayat: اِنِّیۡۤ اٰمَنۡتُ بِرَبِّکُمۡ فَاسۡمَعُوۡنِ -- “Sesungguhnya aku beriman kepada Rabb
(Tuhan) kamu maka dengarlah aku.” قِیۡلَ ادۡخُلِ الۡجَنَّۃَ ؕ قَالَ یٰلَیۡتَ قَوۡمِیۡ یَعۡلَمُوۡنَ -- Dikatakan
kepadanya: “Masuklah ke dalam surga.” Ia berkata: “Wahai alangkah baiknya jika kaum-ku mengetahui, بِمَا غَفَرَ لِیۡ
رَبِّیۡ وَ جَعَلَنِیۡ مِنَ الۡمُکۡرَمِیۡنَ -- karena apa Rabb-ku (Tuhan-ku) telah
mengampuniku dan telah menjadikan
aku dari antara orang-orang yang dimuliakan.” (Yā Sīn [36]:26-28).
Sehubungan dengan rajulun yas’a (seorang laki-laki yang berlari-lari) itu
sangat penting artinya. Kalau kepada semua orang yang beriman sejati dalam
Al-Quran telah dijanjikan surga, maka
penyebutan secara khusus ini nampaknya berlebih-lebihan dan tidak pada
tempatnya.
Pembuatan suatu kuburan khusus bagi orang-orang Muslim Ahmadi yang masuk “gerakan
Al-Wasiyat” di Qadian yang terkenal -- “Bahesyti
Maqbarah” (Pekuburan Surgawi) -- oleh Masih Mau’ud a.s. atas perintah
Ilahi secara istimewa, dapat merupakan penyempurnaan
secara fisik bagi perintah yang terkandung dalam salah satu wahyu Ilahi yang diterima beliau kata-kata “Inni anzaltu ma’aka al-jannah,” artinya
“Aku
telah menyebabkan surga turun bersama engkau” (Tadzkirah).
Ungkapan kiasan dalam wahyu
Ilahi yang diterima Masih Mau'ud a.s. tersebut sesuai dengan firman Allah Swt.:
وَ اِذَا الۡجَحِیۡمُ سُعِّرَتۡ ﴿۪ۙ﴾ وَ اِذَا الۡجَنَّۃُ
اُزۡلِفَتۡ ﴿۪ۙ﴾
“Dan apabila
neraka dinyalakan, dan apabila surga didekatkan” (At-Takwīr [81]:13-14).
Pentingnya Keselarasan Antara Ucapan
yang Benar Dengan Perbuatan yang
Dilakukan
Makna ayat yang pertama karena
di Akhir
Zaman ini perilaku manusia bergelimang dosa dan tidak adil maka kemurkaan Allah Swt. akan bangkit dan suatu neraka akan dilepaskan ke dunia berupa peperangan yang membinasakan. Makna ayat selanjutnya:
وَ اِذَا
الۡجَنَّۃُ اُزۡلِفَتۡ -- “dan apabila surga didekatkan” menjelaskan
bahwa karena di Akhir Zaman ini kejahatan
telah merajalela dan manusia akan membiarkan dirinya terombang-ambing oleh kedurhakaan dan oleh penyembahan
dewa kekayaan sehingga perbuatan baik
sekecil-kecilnya pun akan membuat manusia layak
menerima imbalan besar, serta akan menariknya lebih dekat ke surge, terutama bagi orang-orang yang beriman kepada Rasul Akhir Zaman yang
kedatangannya ditunggu-tunggu oleh semua
umat beragama dengan nama yang berlainan (QS.61:10; QS.62:3-4; QS.77:12).
Nubuatan
itu pun selain mendukung penjelasan bagi
makna kata-kata, “ادۡخُلِ الۡجَنَّۃَ -- Masuklah ke dalam surga” (QS.36:27) juga sesuai dengan makna sabda Nabi
Besar Muhammad saw. mengenai “pengambilan kembali iman yang yang terbang
ke bintang Tsurayya”:
"Sekiranya
keimanan itu ada di gugusan bintang
(Tsurayya), niscaya keimanan itu
tetap akan diperoleh oleh rajulun (seseorang) atau rijaalun (beberapa orang) dari mereka itu (orang-orang Farsi)."
Mengapa demikian? Sebab tanpa memahami dan mengamalkan
ajaran Islam (Al-Quran) secara benar
– sebagaiman yang difahami dan diamalkan
Nabi Besar Muhammad saw. (QS.3:32; QS.33:22) --
maka mustahil dapat masuk ke dalam “kehidupan
surgawi”, baik di dunia mau pun di akhirat, firman-Nya:
یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا لِمَ
تَقُوۡلُوۡنَ مَا لَا تَفۡعَلُوۡنَ
﴿﴾ کَبُرَ
مَقۡتًا عِنۡدَ اللّٰہِ اَنۡ
تَقُوۡلُوۡا مَا لَا تَفۡعَلُوۡنَ
﴿﴾ اِنَّ اللّٰہَ یُحِبُّ الَّذِیۡنَ
یُقَاتِلُوۡنَ فِیۡ سَبِیۡلِہٖ صَفًّا
کَاَنَّہُمۡ بُنۡیَانٌ مَّرۡصُوۡصٌ ﴿﴾
Hai orang-orang yang beriman, mengapa
kamu mengatakan apa yang kamu tidak kerjakan? Adalah sesuatu
yang paling di-benci di sisi Allah bahwa kamu me-ngatakan apa yang tidak kamu kerjakan. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berperang dalam barisan-barisan, mereka itu
seakan-akan suatu bangunan yang tersusun
rapat (Ash-Shaf
[61]:3-5).
Perbuatan
seorang Muslim hendaknya sesuai
dengan pernyataan-pernyataannya. Bicara sombong dan kosong
membawa seseorang tidak keruan kemana yang dituju, dan ikrar-ikrar lidah tanpa disertai perbuatan-perbuatan nyata adalah berbau kemunafikan dan ketidaktulusan.
Ayat
selanjutnya menjelaskan bahwa orang-orang Muslim
diharapkan tampil dalam barisan yang rapat, teguh dan kuat terhadap kekuatan-kekuatan kejahatan, di bawah
komando pemimpin mereka, yang
terhadapnya mereka harus taat dengan sepenuhnya dan seikhlas-ikhlasnya.
Pentingnya Keberadaan “Imam
Mahdi” -- Pemimpin yang Senantiasa
Mendapat Petunjuk Allah Swt. & Pentingnya Keberadaan Khilafat Kenabian Dalam Islam
Tetapi suatu kaum yang berusaha menjadi satu jemaat
yang kokoh-kuat, harus mempunyai satu tata-cara
hidup, satu cita-cita, satu maksud, satu tujuan dan satu rencana
untuk mencapai tujuan itu, dan hal tersebut hanya mungkin jika jemaat Muslim seperti itu hanya memiliki satu imam (pemimpin),
terutama yang senantiasa mendapat petunjuk
Allah Swt. melalui wahyu-Nya yakni Imam
Mahdi a.s. (QS.72:27-29), firman-Nya:
اِنَّ اللّٰہَ
یُحِبُّ الَّذِیۡنَ یُقَاتِلُوۡنَ فِیۡ سَبِیۡلِہٖ صَفًّا کَاَنَّہُمۡ بُنۡیَانٌ
مَّرۡصُوۡصٌ ﴿﴾
Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang
berperang dalam barisan-barisan, mereka
itu seakan-akan suatu bangunan yang tersusun
rapat (Ash-Shaf
[61]:5).
Mengisyaratkan kepada imam (pemimpin) yang senantiasa mendapat
petunjuk Allah Swt. (mahdi) -- yakni Khalifah
Allah -- itulah firman-Nya berikut ini:
وَعَدَ اللّٰہُ
الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا مِنۡکُمۡ وَ
عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ لَیَسۡتَخۡلِفَنَّہُمۡ فِی الۡاَرۡضِ کَمَا اسۡتَخۡلَفَ
الَّذِیۡنَ مِنۡ قَبۡلِہِمۡ ۪ وَ لَیُمَکِّنَنَّ لَہُمۡ دِیۡنَہُمُ الَّذِی ارۡتَضٰی لَہُمۡ وَ لَیُبَدِّلَنَّہُمۡ
مِّنۡۢ بَعۡدِ خَوۡفِہِمۡ اَمۡنًا ؕ
یَعۡبُدُوۡنَنِیۡ لَا یُشۡرِکُوۡنَ بِیۡ
شَیۡئًا ؕ وَ مَنۡ کَفَرَ بَعۡدَ ذٰلِکَ
فَاُولٰٓئِکَ ہُمُ الۡفٰسِقُوۡنَ ﴿﴾
Allah telah berjanji kepada orang-orang
yang beriman dan beramal
saleh di antara kamu niscaya Dia
akan menjadikan mereka itu khalifah di bumi ini sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang
sebelum mereka khalifah, dan niscaya Dia
akan meneguhkan bagi mereka agamanya yang telah Dia ridhai bagi me-reka, dan niscaya Dia akan mengubah keadaan mereka dengan ke-amanan sesudah
ketakutan mereka. Mereka akan
menyembah-Ku dan mereka tidak akan
mempersekutukan sesuatu dengan-Ku, dan barangsiapa
ka-fir sesudah itu mereka itulah orang-orang
durhaka. (An-Nūr
[24]:56).
Dikarenakan ayat ini berlaku sebagai
pendahuluan untuk mengantarkan masalah khilafat, maka dalam ayat-ayat
QS.52:55 berulang-ulang telah diberi tekanan mengenai ketaatan kepada Allah dan rasul-Nya.
Tekanan ini merupakan isyarat mengenai tingkat dan kedudukan seorang khalifah
dalam Islam. Ayat ini berisikan janji
bahwa orang-orang Muslim akan
dianugerahi pimpinan ruhani maupun duniawi.
Janji itu
diberikan kepada seluruh umat Islam, tetapi lembaga khilafat akan
mendapat bentuk nyata dalam wujud
perorangan-perorangan tertentu, yang akan menjadi penerus Nabi Besar Muhammad saw. serta wakil seluruh umat Islam.
Janji Allah Swt. mengenai ditegakkannya khilafat
di Akhir Zaman ini di kalangan umat Islam adalah jelas dan tidak dapat menimbulkan salah paham.
Oleh sebab kini Nabi Besar
Muhammad saw.. satu-satunya hadi (petunjuk jalan) umat manusia untuk selama-lamanya, khilafat beliau saw. akan terus berwujud
dalam salah satu bentuk di dunia ini sampai Hari
Kiamat, karena semua khilafat yang lain telah tiada lagi.
Inilah, di antara banyak keunggulan
yang lainnya lagi, merupakan kelebihan Nabi Besar Muhammad saw. yang menonjol di atas semua nabi Allah dan rasul Allah lainnya
berkenaan keberlangsungan silsilah Khilafat
Kenabian di kalangan umat Islam
sampai Hari Kiamat nanti.
Sabda-sabda Nabi Besar Muhammad saw. Tentang Imam
Mahdi a.s.
Berikut beberapa sabda Nabi Besar
Muhammad saw. berkenaan dengan para Mujaddid
yang bertugas memurnikan kembali pemahaman
ajaran Islam (Al-Quran),
terutama Imam Zaman – yakni Imam Mahdi a.s. -- atau Rasul
Akhir Zaman yang akan mewujudkan kejayaan Islam yang kedua kali,
firman-Nya:
ہُوَ
الَّذِیۡۤ اَرۡسَلَ رَسُوۡلَہٗ
بِالۡہُدٰی وَ دِیۡنِ الۡحَقِّ
لِیُظۡہِرَہٗ عَلَی الدِّیۡنِ کُلِّہٖ وَ
لَوۡ کَرِہَ الۡمُشۡرِکُوۡنَ ٪﴿﴾
Dia-lah Yang mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk
dan dengan agama yang benar supaya Dia memenangkannya atas semua agama,
walaupun orang musyrik tidak menyukai. (Ash-Shaf [61]:10).
Kebanyakan ahli
tafsir Al-Quran sepakat bahwa ayat ini kena dan akan terwujud melalui perjuangan suci Al-Masih
yang dijanjikan (Masih Mau’ud a.s.), sebab di zaman beliau semua agama muncul dan berlomba-lomba mentabligkan agama mereka,
karena mereka pun mempercayai mengenai kedatangan seorang “pahlawan
agama” -- dengan nama yang berbeda-beda di setiap umat beragama --
yang akan memenangkan agama mereka,
sebagaimana yang juga dipercayai oleh umat
Islam mengenai kedatangan Imam Mahdi
a.s. dan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.,
yang akan mengunggulkan agama Islam
di atas semua agama.
Abu Hurairah r.a. meriwayatkan bahwa
Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya Allah akan mengutus
(menghadirkan) bagi umat ini (umat Islam) orang
yang akan memperbaharui (urusan) agama mereka pada setiap akhir seratus tahun” (HR Abu Dawud no. 4291).
“Andaikan dunia tinggal sehari sungguh Allah
akan panjangkan hari tersebut sehingga diutus
padanya seorang lelaki dari ahli
baitku namanya serupa namaku dan nama
ayahnya serupa nama ayahku. Ia akan penuhi bumi dengan kejujuran dan keadilan sebagaimana sebelumnya dipenuhi dengan kezaliman
dan penganiayaan.” (HR Abu Dawud 9435).
“Aku kabarkan berita gembira mengenai Al-Mahdi yang diutus Allah ke tengah ummatku ketika banyak terjadi perselisihan antar-manusia dan gempa-gempa. Ia akan penuhi bumi dengan keadilan dan
kejujuran sebagaimana sebelumnya dipenuhi dengan kesewenang-wenangan dan
kezaliman.” (HR Ahmad
10898).
“Sungguh, bumi ini akan dipenuhi oleh kezhaliman dan kesemena-menaan. Dan apabila
kezhaliman serta kesemena-menaan itu telah penuh, maka Allah Swt. akan mengutus seorang laki-laki yang berasal dari umatku,
namanya seperti namaku, dan nama bapaknya seperti nama bapakku.
Maka ia akan memenuhi bumi dengan
keadilan dan kemakmuran, sebagaimana ia
(bumi) telah dipenuhi sebelum itu oleh kezhaliman dan kesemena-menaan. Di
waktu itu langit tidak akan menahan
setetes pun dari tetesan airnya, dan bumi
pun tidak akan menahan sedikit pun dari tanaman-tanamannya. Maka ia akan
hidup bersama kamu selama 7 tahun, atau 8 tahun, atau 9 tahun. (HR. Thabrani) ”
"Pada Akhir Zaman akan muncul seorang
khalifah yang berasal dari umatku,
yang akan melimpahkan harta kekayaan
selimpah-limpahnya. Dan .” (HR. Muslim dan Ahmad).
“Al-Mahdi
berasal dari umatku, berkening lebar, berhidung panjang dan mancung.
Ia akan memenuhi bumi ini dengan
keadilan dan kemakmuran,
sebagaimana ia (bumi ini) sebelum itu
dipenuhi oleh kezhaliman dan kesemena-menaan,
dan ia (umur kekhalifahan) berumur tujuh tahun. (HR. Abu
Dawud dan Al-Hakim).
“Al-Mahdi berasal dari umatku, dari keturunan anak cucuku. (HR. Abu Dawud; Ibnu Majah, dan Al-Hakim).
“Al-Mahdi berasal dari umatku, dari keturunan anak cucuku. (HR. Abu Dawud; Ibnu Majah, dan Al-Hakim).
“Al-Mahdi
berasal dari umatku, yang akan diislahkan oleh Allah dalam satu malam.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah).
Ada pun wasiat (amanat) yang paling penting Nabi Besar Muhammad saw. berkenan Imam
Mahdi a.s. adalah kewajiban melakukan bai’at
kepada beliau a.s.:
“Ketika kalian melihatnya
(kehadiran Imam Mahdi) maka berbai’atlah dengannya walaupun harus merangkak-rangkak di atas salju
karena sesungguhnya dia adalah Khalifatullah
Al-Mahdi.” (HR Abu Dawud, 4074).
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran Anyar, 21 Februari
2017
Tidak ada komentar:
Posting Komentar