Bismillaahirrahmaanirrahiim
ISLAM
Pidato Mirza Ghulam Ahmad a.s.
Tgl. 2 November 1904
di Kota Sialkote – Hindustan
Bab 22
MAKNA “MERANGKAK DI PADANG
SALJU” & HAKIKAT “PERPADUAN”
NABI BESAR MUHAMMAD SAW. DENGAN ALLAH SWT. DALAM PERISTIWA MI’RAJ
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam bagian akhir Bab 20 telah dijelaskan topik Berbagai Makna Gelar “Khātaman-Nabiyyīn”
sehubungan
dengan ayat مَا کَانَ مُحَمَّدٌ
اَبَاۤ اَحَدٍ مِّنۡ رِّجَالِکُمۡ -- “Muhammad
bukanlah bapak salah seorang laki-laki di antara lelaki kamu“ (QS.33:41) mengatakan bahwa Nabi Besar Muhammad saw. adalah rasul Allah, yang mengandung arti bahwa beliau adalah bapak
ruhani seluruh umat manusia –
sebab beliau saw. diutus untuk seluruh umat
manusia (QS.7:159; QS.21:108; QS.25:2; 34:29) -- dan beliau juga Khātaman Nabiyyīn,
yang maksudnya bahwa beliau adalah bapak ruhani seluruh nabi Allah.
Jadi, jika Nabi Besar Muhammad saw. merupakan bapak
ruhani semua orang beriman dan bahkan
beliau saw. merupakan “bapak ruhani” semua nabi
Allah, maka bagaimana mungkin Nabi
Besar Muhammad saw. beliau saw. dapat disebut abtar (tak
berketurunan)? Firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ
الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِؕ﴿﴾ اِنَّاۤ اَعۡطَیۡنٰکَ
الۡکَوۡثَرَ ؕ﴿﴾ فَصَلِّ لِرَبِّکَ وَ انۡحَرۡ ؕ﴿﴾ اِنَّ
شَانِئَکَ ہُوَ الۡاَبۡتَرُ ٪﴿﴾
Aku baca
dengan nama
Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.
Sesungguhnya Kami telah menganugerahkan kepada engkau
berlimpah-limpah kebaikan.Maka shalatlah bagi Rabb
(Tuhan) engkau dan berkorbanlah. ؕ اِنَّ شَانِئَکَ ہُوَ الۡاَبۡتَرُ -- Sesungguhnya musuh engkau, dialah yang tanpa keturunan (Al-Kautsar [108]:1-4).
Nabi Terakhir Pembawa
Syariat & Empat Makna Khātaman Nabiyyīn
Apabila ungkapan Khātaman Nabiyyīn ini diambil dalam
arti bahwa beliau saw. itu nabi yang
terakhir, dan bahwa tidak ada nabi Allah
macam apa pun akan datang sesudah beliau saw., maka makna surah Al-Ahzab ayat 41 ini akan nampak sumbang bunyinya dan tidak mempunyai pertautan dengan konteks ayat-ayat
sebelumnya, dan daripada menyanggah
ejekan orang-orang kafir bahwa Nabi Besar Muhammad saw. seorang yang abtar (tidak berketurunan), malahan mendukung dan menguatkan tuduhan dusta tersebut.
Pendek kata, menurut arti yang tersimpul dalam
kata khatam seperti dikatakan di atas, maka ungkapan Khātaman
Nabiyyīn dapat mempunyai kemungkinan empat macam arti:
(1) Nabi Besar Muhammad saw. adalah meterai
para nabi Allah, yakni, tidak ada nabi Allah dapat dianggap benar kalau kenabiannya
tidak bermeteraikan pernyataan Nabi
Besar Muhammad saw., sebab kenabian semua nabi Allah yang sudah lampau
harus dikuatkan dan disahkan oleh Nabi Besar Muhammad saw.. dan juga
tidak ada seorang pun yang dapat mencapai tingkat
kenabian sesudah beliau saw., kecuali dengan menjadi pengikut hakiki beliau saw. (QS.4:70-71). Hal ini penting sebab
beliau saw. bukan seorang yang abtar
(terputus keturunannya).
(2) Nabi Besar Muhammad saw. adalah
yang terbaik, termulia, dan paling sempurna
dari antara semua nabi Allah dan
juga beliau saw. adalah sumber hiasan
bagi mereka (Zurqani, Syarah
Muwahib al-Laduniyyah).
(3) Nabi Besar Muhammad saw. adalah
yang terakhir di antara para nabi pembawa syari'at. Penafsiran ini
telah diterima oleh para ulama terkemuka, orang-orang suci dan waliullah
seperti Ibn ‘Arabi, Syah Waliullah, Imam ‘Ali Qari, Mujaddid Alf Tsani, dan
lain-lain.
Menurut ulama-ulama besar dan
para waliullah itu, tidak ada nabi dapat datang sesudah Nabi Besar Muhammad saw. yang
dapat memansukhkan (membatalkan) millah
beliau saw. atau yang akan datang dari
luar umat beliau saw. (Futuhat-ul-Makiyyah;Tafhimat; Maktubat, dan Yawaqit
wa’l Jawahir). Aisyah binti Abubakar Shiddiq r.a, istri Nabi Besar Muhammad saw., yang amat berbakat menurut riwayat pernah
mengatakan: “Katakanlah bahwa beliau
(Rasulullāh saw.) adalah Khātaman Nabiyyin, tetapi janganlah mengatakan tidak
akan ada nabi lagi sesudah beliau” (Mantsur).
(4) Nabi Besar Muhammad saw. adalah
nabi yang terakhir (Akhirul Anbiya)
hanya dalam arti kata bahwa semua nilai
dan sifat kenabian terjelma dengan sesempurna-sempurnanya dan selengkap-lengkapnya dalam diri beliau
saw.: khatam dalam arti sebutan terakhir
untuk menggambarkan kebagusan dan kesempurnaa adalah sudah lazim dipakai. Lebih-lebih
Al-Quran dengan jelas mengatakan tentang bakal diutusnya nabi-nabi sesudah Nabi
Besar Muhammad saw. wafat (QS.7:35-36).
“Kebersamaan” Dalam Martabat Ruhani
Nabi Besar Muhammad saw. sendiri
jelas mempunyai tanggapan mengenai berlanjutnya
kenabian sesudah beliau saw.. Menurut riwayat, beliau saw. pernah bersabda:
“Seandainya Ibrahim (putra beliau) masih
hidup, niscaya ia akan menjadi nabi” (Ibnu Majah,
Kitab al-Jana’iz) dan: “Abu Bakar adalah
sebaik-baik orang sesudahku, kecuali bila ada seorang nabi muncul” (Al-Kanzul-Umal). Sehubungan
dengan kenyataan tersebut Allah Swt. berfirman:
وَ مَنۡ یُّطِعِ اللّٰہَ وَ
الرَّسُوۡلَ فَاُولٰٓئِکَ مَعَ الَّذِیۡنَ اَنۡعَمَ اللّٰہُ عَلَیۡہِمۡ مِّنَ
النَّبِیّٖنَ وَ الصِّدِّیۡقِیۡنَ وَ الشُّہَدَآءِ وَ الصّٰلِحِیۡنَ ۚ وَ حَسُنَ
اُولٰٓئِکَ رَفِیۡقًا ﴿ؕ﴾ ذٰلِکَ
الۡفَضۡلُ مِنَ اللّٰہِ ؕ وَ کَفٰی بِاللّٰہِ عَلِیۡمًا ﴿٪﴾
Dan barangsiapa
taat kepada Allah dan Rasul ini
maka mereka akan termasuk di antara
orang-orang yang
Allah memberi nikmat kepada mereka yakni: nabi-nabi, shiddiq-shiddiq,
syahid-syahid, dan orang-orang shalih, dan mereka itulah sahabat yang
sejati. Itulah karunia
dari Allah, dan cukuplah Allah Yang Maha Mengetahui. (An-Nisa [4]:70-71).
Kata depan ma’a menunjukkan adanya dua
orang atau lebih bersama pada suatu tempat
atau pada satu saat, kedudukan, pangkat atau keadaan.
Kata itu mengandung arti bantuan, seperti tercantum dalam QS.9:40 (Al-Mufradat). Kata itu
dipergunakan pada beberapa tempat dalam Al-Quran dengan artian fi
artinya “di antara” (QS.3:194; QS.4:
147).
Ayat ini
sangat penting sebab ia menerangkan semua jalur
kemajuan ruhani yang terbuka bagi
kaum Muslimin. Keempat martabat
keruhanian — nabi-nabi, shiddiq-shiddiq, syahid-syahid, dan orang-orang
shalih — kini semuanya dapat dicapai hanya dengan jalan mengikuti Nabi Besar Muhammad saw. Hal
ini merupakan kehormatan khusus bagi Nabi Besar Muhammad saw. semata.
Tidak ada nabi Allah lain menyamai
beliau saw. dalam perolehan nikmat
ini. Kesimpulan itu lebih lanjut ditunjang oleh ayat yang membicarakan nabi-nabi secara umum dan mengatakan: “Dan orang-orang yang beriman kepada Allah
dan para rasul-Nya, mereka adalah orang-orang shiddiq dan saksi-saksi di sisi Rabb
(Tuhan) mereka” (QS.57: 20).
Apabila kedua ayat ini dibaca
bersama-sama maka kedua ayat itu berarti bahwa, kalau para pengikut nabi-nabi lainnya dapat mencapai martabat shiddiq, syahid, dan shalih dan
tidak lebih tinggi dari itu, maka pengikut
Nabi Besar Muhammad saw. dapat
naik ke martabat nabi Allah juga.
Kitab “Bahr-ul-Muhit” (jilid III, hlm. 287) menukil Al-Raghib yang
mengatakan: “Tuhan telah membagi
orang-orang beriman dalam empat golongan
dalam ayat ini, dan telah menetapkan bagi mereka empat tingkatan, sebagian di
antaranya lebih rendah dari yang lain, dan Dia telah mendorong orang-orang
beriman sejati agar jangan tertinggal dari keempat tingkatan ini.” Dan
membubuhkan bahwa: “Kenabian itu ada dua
macam: umum dan khusus. Kenabian khusus, yakni kenabian yang membawa syariat,
sekarang tidak dapat dicapai lagi; tetapi kenabian yang umum masih tetap dapat
dicapai.”
Makna “Merangkak di Atas Salju” & Berbagai Macam Kecepatan
Gerak Melakukan “Perjalanan” (Suluk)
Menuju Allah Swt.
Demikianlah pembelaan
berjenjang Allah Swt. berkenaan tuduhan para pemimpin kaum kafir Arabia berkenaan pernikahan
Nabi Besar Muhammad saw. dengan Zainab binti Jahsy r.a. yang bertentangan dengan adat-istiadat bangsa
Arab jahiliyah berkenaan dengan anak-angkat, firman-Nya:
مَا کَانَ
مُحَمَّدٌ اَبَاۤ اَحَدٍ مِّنۡ
رِّجَالِکُمۡ وَ لٰکِنۡ رَّسُوۡلَ اللّٰہِ وَ خَاتَمَ النَّبِیّٖنَ ؕ وَ کَانَ اللّٰہُ
بِکُلِّ شَیۡءٍ عَلِیۡمًا ﴿٪﴾
Muhammad bukanlah bapak salah
seorang laki-laki di antara lelaki kamu, akan tetapi ia adalah Rasul Allah dan meterai sekalian nabi, dan Allah
Maha Mengetahui segala sesuatu. (Al-Ahzāb [33]:41).
Jadi, betapa pentingnya
melakukan “baiat” kepada Nabi Besar Muhammad saw. (QS.48:11) dan pentingnya melakukan baiat
kepada Imam Mahdi a.s. yang diperintahkan
Nabi Besar Muhammad saw.:
“Ketika kalian melihatnya
(kehadiran Imam Mahdi) maka berbai’atlah dengannya walaupun harus merangkak-rangkak di atas salju
karena sesungguhnya dia adalah Khalifatullah
Al-Mahdi.” (HR Abu Dawud, 4074).
Selain pentingnya melakukan bai’at
kepada Imam Mahdi a.s. hal berikutnya yang perlu difahami dari sabda
Nabi Besar Muhammad saw. tersebut adalah bahwa melakukan baiat kepada Imam Mahdi
a.s. memerlukan perjuangan
yang sangat berat, sebagaimana tergambar dalam kalimat “walaupun harus merangkak-rangkak di atas salju”.
Sehubungan dengan kata “merangkak”
dalam hadits tersebut Allah Swt. berfirman:
وَ اللّٰہُ خَلَقَ کُلَّ
دَآبَّۃٍ مِّنۡ مَّآءٍ ۚ فَمِنۡہُمۡ
مَّنۡ یَّمۡشِیۡ عَلٰی بَطۡنِہٖ ۚ وَ مِنۡہُمۡ مَّنۡ یَّمۡشِیۡ عَلٰی رِجۡلَیۡنِ ۚ
وَ مِنۡہُمۡ مَّنۡ یَّمۡشِیۡ عَلٰۤی اَرۡبَعٍ ؕ یَخۡلُقُ اللّٰہُ مَا یَشَآءُ ؕ اِنَّ اللّٰہَ
عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ قَدِیۡرٌ ﴿﴾
Dan Allah telah menciptakan semua binatang
melata dari air, lalu dari antaranya sebagian ada yang berjalan pada perutnya, dan sebagian
dari antaranya ada yang berjalan
pada dua kaki, dan dari antaranya ada
sebagian lagi yang berjalan pada empat kaki. Allah
menciptakan apa yang Dia kehendaki, sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (An-Nūr [24]:46).
Ayat
ini melukiskan sifat dan bentuk kemajuan yang ditempuh oleh para musafir ruhani (sālik) ke arah tujuan mereka yang telah ditentukan itu yakni dalam rangka meraih maqam fana (menghilangkan diri), baqa (kelahiran kembali), dan liqa (memanunggal) dengan Allah Swt. sebagaimana yang dicomtohkan
nabi Besar Muhammad saw. (QS.6:162-164; QS.53:1-19; QS.89:28-31), menurut ayat
tersebut kemajuan suluk (perjalan
ruhani) sebagian dari antara mereka amat
lambat sekali. Mereka bergerak ke arah tujuan
mereka dengan merangkak-rangkak dan merayap-rayap: فَمِنۡہُمۡ مَّنۡ یَّمۡشِیۡ عَلٰی بَطۡنِہ -- “lalu dari antaranya sebagian ada yang berjalan pada perutnya”.
Makna ayat: وَ مِنۡہُمۡ
مَّنۡ یَّمۡشِیۡ عَلٰی رِجۡلَیۡنِ -- “dan sebagian dari
antaranya ada yang berjalan pada dua
kaki“, sedangkan yang lain berjalan
(bergerak) lebih cepat seperti binatang yang bergerak pada dua kakinya, وَ مِنۡہُمۡ مَّنۡ یَّمۡشِیۡ عَلٰۤی اَرۡبَعٍ -- “dan dari antaranya ada sebagian lagi yang berjalan pada empat kaki“, yakni yang
lainnya bergerak lebih
cepat laksana binatang-binatang berkaki
empat.
Makna Jumlah “Sayap”
Para Malaikat & Ketinggian Sempurna
“Mi’raj Ruhani” Nabi Besar Muhammad
Saw.
Jadi, yang diisyaratkan di sini ialah kecepatan dan bukan caranya bergerak. Binatang berkaki
empat pada umumnya lebih cepat
bergeraknya daripada binatang-binatang berkaki
dua atau yang merayap. Begitu
pula halnya dengan kecepatan gerak para musafir ruhani di jalan Allah Swt. tidak
sama kecepatannya, bahkan ada gerakannya
yang lebih cepat lagi sehingga gerakannya bagaikan “terbang”: یَخۡلُقُ اللّٰہُ مَا یَشَآءُ ؕ اِنَّ اللّٰہَ
عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ قَدِیۡرٌ -- “Allah menciptakan apa yang Dia kehendaki,
sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas
segala sesuatu.”
Dalam dunia penerbangan, kecepatan
dan kekuatan gerak pesawat terbang ditentukan dengan jumlah baling-baling atau motor penggerak yang dimiliki pesawat terbang. Dalam surah berikut
ini perumpamaan yang dipergunakan
mengenai “kecepatan gerak” dan kemampuan bukan jumlah kaki melainkan jumlah sayap, firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿۱﴾ اَلۡحَمۡدُ لِلّٰہِ فَاطِرِ
السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ جَاعِلِ الۡمَلٰٓئِکَۃِ
رُسُلًا اُولِیۡۤ اَجۡنِحَۃٍ
مَّثۡنٰی وَ ثُلٰثَ وَ رُبٰعَ ؕ یَزِیۡدُ فِی الۡخَلۡقِ مَا یَشَآءُ ؕ اِنَّ
اللّٰہَ عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ قَدِیۡرٌ ﴿﴾ مَا یَفۡتَحِ اللّٰہُ
لِلنَّاسِ مِنۡ رَّحۡمَۃٍ فَلَا مُمۡسِکَ لَہَا ۚ وَ مَا یُمۡسِکۡ ۙ
فَلَا مُرۡسِلَ لَہٗ مِنۡۢ
بَعۡدِہٖ ؕ وَ ہُوَ
الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ ﴿﴾
Aku baca dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang. Segala puji milik Allah Yang menciptakan seluruh langit dan bumi,
Yang menjadikan malaikat-malaikat
sebagai utusan-utusan yang bersayap
dua, tiga dan empat.
Dia menambahkan pada ciptaan-Nya
apa yang Dia kehendaki,
sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas
segala sesuatu. Rahmat apa pun yang dibukakan Allah bagi
umat manusia maka tidak ada yang dapat menahannya, dan apa pun yang ditahan-Nya maka tidak
ada yang dapat melepaskannya sesudah itu,
dan Dia Maha Perkasa, Maha Bijaksana (Al-Fāthir [35]:1-3).
Kepada malaikat-malaikat
dipercayakan menjaga, mengatur, dan mengawasi segala urusan yang berlaku di
alam jasmani (QS.79:6). Inilah tugas dan tanggungjawab yang dibebankan kepada
mereka. Tugas mereka yang lain dan yang lebih berat yaitu melaksanakan
perintah dan kehendak Allah Swt. kepada
rasul-rasul-Nya. Malaikat-malaikat pembawa wahyu menampakkan serentak dua,
tiga, atau empat sifat Ilahi, dan ada
pula malaikat lain, yang bahkan menjelmakan lebih banyak lagi dari sifat-sifat itu.
Karena
ajnihah (sayap) merupakan lambang
kekuatan dan kemampuan (Lexicon Lane), ayat ini
mengandung arti bahwa malaikat-malaikat
itu memiliki kekuatan dan sifat yang berbeda-beda derajatnya
sesuai dengan kepentingan pekerjaan yang
dipercayakan kepada mereka masing-masing.
Sebagian malaikat dianugerahi kekuatan-kekuatan
dan sifat-sifat yang lebih besar
daripada yang lain. Malaikat Jibril a.s. adalah penghulu semua malaikat
karena itu pekerjaan mahapenting
yakni menyampaikan wahyu Ilahi kepada para rasul Allah, diserahkan kepadanya serta
dilaksanakan di bawah asuhan dan pengawasannya.
Pentingnya Melakukan “Jihad Ruhani” yang Berkesinambungan & Berbagai Makna An-Najm
Digambarkan secara kiasan bahwa Malaikat Jibril a.s. memiliki 700 sayap, tetapi dalam peristiwa mi’raj Nabi Besar Muhammad saw. ternyata Malaikat Jibril a.s. tidak mampu lagi mendampingi
Nabi Besar Muhammad saw. menjangkau “ketinggian
langit ruhani” (alam Lahut) yang
berhasil dicapai oleh Nabi Besar Muhammad saw. hingga beliau saw. mencapai Sidratul Muntaha, firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ﴿﴾ وَ
النَّجۡمِ اِذَا ہَوٰی ۙ﴿﴾ مَا
ضَلَّ صَاحِبُکُمۡ وَ مَا غَوٰی ۚ﴿﴾ وَ مَا یَنۡطِقُ عَنِ الۡہَوٰی ؕ﴿﴾ اِنۡ
ہُوَ اِلَّا وَحۡیٌ
یُّوۡحٰی ۙ﴿﴾
عَلَّمَہٗ شَدِیۡدُ الۡقُوٰی ۙ﴿﴾
ذُوۡ مِرَّۃٍ ؕ فَاسۡتَوٰی ۙ﴿﴾ وَ
ہُوَ بِالۡاُفُقِ الۡاَعۡلٰی ؕ﴿﴾ ثُمَّ
دَنَا فَتَدَلّٰی ۙ﴿﴾ فَکَانَ
قَابَ قَوۡسَیۡنِ اَوۡ اَدۡنٰی ۚ﴿﴾
فَاَوۡحٰۤی اِلٰی عَبۡدِہٖ مَاۤ
اَوۡحٰی ﴿ؕ﴾ مَا
کَذَبَ الۡفُؤَادُ مَا رَاٰی ﴿﴾ اَفَتُمٰرُوۡنَہٗ عَلٰی مَا یَرٰی ﴿﴾ وَ لَقَدۡ رَاٰہُ نَزۡلَۃً
اُخۡرٰی ﴿ۙ﴾
عِنۡدَ سِدۡرَۃِ الۡمُنۡتَہٰی ﴿﴾ عِنۡدَہَا جَنَّۃُ الۡمَاۡوٰی ﴿ؕ﴾ اِذۡ
یَغۡشَی السِّدۡرَۃَ مَا یَغۡشٰی ﴿ۙ﴾
مَا زَاغَ الۡبَصَرُ وَ مَا طَغٰی ﴿﴾ لَقَدۡ رَاٰی مِنۡ اٰیٰتِ رَبِّہِ الۡکُبۡرٰی ﴿﴾
Aku baca dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.
Demi bintang apabila
jatuh. Tidaklah sesat sahabat kamu dan tidak pula keliru. Dan ia
sekali-kali tidak berkata-kata menuruti keinginannya. Perkataannya itu tidak lain
melainkan wahyu yang diwahyukan. Tuhan Yang Mahakuat Perkasa mengajarinya, Pemilik
Kekuatan, lalu Dia
bersemayam di atas
‘Arasy. Dan Dia mewahyukan Kalam-Nya ketika ia, Rasulullah, berada
di ufuk tertinggi. Kemudian
ia, Rasulullah, mendekati Allah, lalu Dia kian dekat kepadanya, maka
jadilah ia, seakan-akan, seutas tali dari dua buah busur, atau lebih dekat lagi. Lalu Dia mewahyukan kepada hamba-Nya apa
yang telah Dia wahyukan. Hati
Rasulullah sekali-kali tidak
berdusta apa yang dia lihat. Maka
apakah kamu membantahnya mengenai apa yang telah dia lihat? Dan sungguhn dia benar-benar melihat-Nya kedua kali,
Dekat pohon Sidrah tertinggi, yang di
dekatnya ada surga, tempat tinggal. Ketika
pohon Sidrah diselubungi oleh sesuatu yang menyelubungi. Penglihatannya sekali-kali tidak menyimpang
dan tidak pula melantur. Sungguh
ia benar-benar melihat Tanda
paling besar dari Tanda-tanda Rabb-nya (Tuhan-Nya). (An-Najm [53]:1-19).
An-najm
berarti bintang atau tumbuhan yang tidak berbatang. Tetapi bila dikenakan sebagai kata pengganti nama
kata itu berarti “Bintang Tujuh “
(Bintang Kartika atau Pleiades). Kata itu dalam ayat وَ النَّجۡمِ اِذَا ہَوٰی -- “Demi bintang apabila jatuh“ dianggap
juga oleh beberapa ulama sebagai mengandung arti penurunan (pewahyuan) Al-Quran secara berangsur-angsur, dan oleh
beberapa sumber lainnya an-Najm dianggap mengisyaratkan kepada Nabi Besar
Muhammad saw. sendiri. Kata
jamaknya an-nujum, berarti juga para kepala
kaum atau kepala negara-negara kecil
atau jajahan atau kerajaan-kerajaan kecil (Kasysyaf,
Taj & Ghara’ib-al-Quran).
Mengingat arti yang berbeda-beda, kata an-najm
dalam ayat وَ
النَّجۡمِ اِذَا ہَوٰی -- “Demi bintang apabila jatuh“ dapat diterangkan:
(1) Menurut sebuah hadits
yang masyhur, Nai Besar Muhammad saw. pernah me-ngatakan: “Manakala kegelapan ruhani meliputi seluruh permukaan bumi dan tidak ada
yang tinggal dari Islam kecuali namanya, dan tidak ada dari Al-Quran kecuali
hurufnya dan iman terbang ke Bintang Tsuraya, maka seorang laki-laki dari
keturunan Parsi akan membawanya kembali ke bumi” (Bukhari).
(2) Kata najm dalam ayat itu dapat berarti bahwa Al-Quran memberi kesaksian atas kebenarannya sendiri.
(3) An-Najm
dalam arti tumbuhan yang tidak berbatang, ayat tersebut
mengandung makna bahwa pohon Islam yang masih lemah kini seperti akan tumbang oleh angin perlawanan
kuat lagi tidak bersahabat yang bertiup kencang dan sengit ke arahnya, tidak lama lagi akan bangkit dan berkembang menjadi pohon
megah (QS.14:25-26; QS.38:30) dan di bawah naungannya yang sejuk bangsa-bangsa besar akan berteduh.
(4) Karena orang-orang Arab sudah biasa menetapkan arah dan tujuan serta dibimbing
dalam perjalanan mereka pada malam hari di padang pasir Arabia oleh peredaran bintang-bintang (QS.16:17), demikianlah
mereka sekarang akan dibimbing ke tujuan ruhani mereka oleh bintang yang paling cemerlang yaitu Nabi Besar Muhammad saw.
(5) Ayat وَ النَّجۡمِ
اِذَا ہَوٰی -- “Demi bintang apabila jatuh“ dapat juga mengandung sebuah nubuatan tentang jatuhnya negeri Arab yang sudah bobrok, suatu nubuatan yang lebih jelas lagi
diterangkan dalam QS.54:2 mengenai “terbelahnya bulan”.
Sumber Wahyu Al-Quran & Makna ‘Ufuq Tertinggi
Makna ayat
selanjutnya: مَا ضَلَّ
صَاحِبُکُمۡ وَ مَا غَوٰی -- “Tidaklah sesat sahabat kamu dan tidak pula keliru.“ Cita-cita
dan asas-asas ajaran Islam yang
dikemukakan oleh Nabi Besar Muhammad saw. tidak salah lagi pula beliau saw. sekali-kali tidak menyimpang dari asas-asas itu yakni beliau juga tidak tersesat. Dengan demikian mengingat cita-cita luhur dan mulia beliau saw. dan mengingat pula cara beliau saw. menjalani hidup sesuai
dengan cita-cita itu, beliau saw. adalah penunjuk-jalan yang terjamin
dan aman. Keterangan itu lebih
diperkuat lagi dalam beberapa ayat berikutnya: وَ مَا یَنۡطِقُ عَنِ
الۡہَوٰی
-- “Dan ia
sekali-kali tidak berkata-kata menuruti keinginannya“.
Kalau ayat اِنۡ
ہُوَ اِلَّا وَحۡیٌ
یُّوۡحٰی
-- Perkataannya itu tidak lain
melainkan wahyu yang diwahyukan” membicarakan sumber asal wahyu Nabi
Besar Muhammad saw. yaitu
Allah Swt., maka dua ayat sebelumnya mengisyaratkan kepada khayalan kosong orang yang berotak miring dan kepada alam pikiran
yang timbul dari nafsu pribadinya dan
dorongan-dorongan ruh jahat.
Al-Quran adalah wahyu yang gagah perkasa, yang di
hadapannya semua Kitab Suci terdahulu pudar
artinya. Itulah makna ayat: عَلَّمَہٗ شَدِیۡدُ الۡقُوٰی -- “Tuhan Yang Mahakuat Perkasa mengajarinya. ذُوۡ مِرَّۃٍ ؕ فَاسۡتَوٰی -- Pemilik Kekuatan, lalu Dia bersemayam di atas
‘Arasy.”
Mirrah berarti: kekuatan karya atau kecerdasan, pertimbangan sehat,
kete-guhan (Aqrab-ul-Mawarid).
Dzū mirrah dapat juga berarti orang yang kekuatannya nampak kentara
dengan lestari. Sedangkan ungkapan istawā
‘alā asy-syai-i berarti bahwa ia memperoleh atau memiliki hak
penguasaan atau pengaruh penuh
atas barang itu. Jika diterapkan kepada Nabi Besar Muhammad saw. ungkapan ذُوۡ مِرَّۃٍ ؕ فَاسۡتَوٰی -- “Pemilik Kekuatan, lalu Dia bersemayam di atas
‘Arasy” akan berarti bahwa kekuatan-kekuatan jasmani dan intelek
beliau saw. telah mencapai kekuatan
dan kematangan sepenuh-penuhnya.
Makna ayat: وَ ہُوَ بِالۡاُفُقِ الۡاَعۡلٰی -- Dan Dia mewahyukan Kalam-Nya ketika
ia, Rasulullah, berada di ufuk tertinggi.” Bahwa Nabi Besar Muhammad saw. telah mencapai batas tertinggi dalam mi’raj
beliau saw. – yang bahkan malaikat Jibril a.s. pun tidak sanggup
lagi mendampingi mi’raj beliau saw.
karena “sayapnya akan terbakar.” -- ketika Allah Swt. menampakkan “Wujud-Nya” kepada beliau saw. dengan kebenaran dan keagungan yang sempurna.
Atau, ayat ini dapat berarti bahwa cahaya Islam ditempatkan pada suatu tempat yang amat tinggi dan dari tempat itu dapat menyinari seluruh dunia. Kata pengganti huwa dalam ayat
وَ ہُوَ بِالۡاُفُقِ
الۡاَعۡلٰی -- Dan
Dia mewahyukan Kalam-Nya ketika ia, Rasulullah, berada di
ufuk tertinggi”
dapat menunjuk kepada Allah Swt. dan kepada Nabi Besar
Muhammad saw.. Lihat juga QS.53 ayat 10.
Makna “Satu Tali Dua Buah Busur”
Ungkapan Dalla al-dalwa sehubungan ayat: ثُمَّ دَنَا فَتَدَلّٰی -- “Kemudian ia, Rasulullah,
mendekati Allah, lalu Dia kian dekat kepadanya,” berarti: ia menurunkan ember ke
dalam perigi, ia menarik ember ke atas atau keluar dari perigi. Tadalla berarti:
ia atau sesuatu itu merendah atau menurun; ia menghampiri atau mendekati
atau kian dekat (Lexicon Lane dan Lisan-ul-Arab).
Ayat ini berarti bahwa Nabi
Besar Muhammad saw.. mendekati
Allah Swt. dan Allah Swt. condong kepada beliau saw.. Ayat itu
dapat juga berarti bahwa Nabi Besar
Muhammad saw.. mencapai kedekatan yang sedekat-dekatnya kepada Allah Swt. dan setelah minum dengan sepuas-puasnya di Sumber
mata air ilmu-keruhanian Ilahi kemudian beliau saw. turun kembali dan memberikan ilmu
kepada segenap umat manusia.
Selanjutnya Allah Swt.
berfirman: فَکَانَ قَابَ قَوۡسَیۡنِ اَوۡ اَدۡنٰی -- “maka
jadilah ia, seakan-akan, seutas tali dari dua buah busur, atau lebih dekat lagi. “ Qāb berarti:
(1) bagian busur
antara bagian yang dipegang oleh tangan dan ujungnya yang dilengkungkan;
(2)
dari satu
ujung busur ke ujung busur yang lain;
(3)
ukuran atau
ruang.
Orang Arab berkata “Bainahumā
qāba qausaini” yakni “di
antara mereka berdua adalah seukuran
busur”, yang berarti bahwa perhubungan
di antara mereka sangat akrab.
Peribahasa Arab yang
mengatakan ramaunā ‘an qausin wāhidin yakni
“mereka memanah kami dari satu busur”, yaitu bahwa “mereka seia-sekata melawan kami”. Oleh
karena itu kata tersebut menyatakan kesepakatan
sepenuhnya (Lexicon Lane;
Lisan-ul-‘Arab; dan Zamakhsyari).
Apa pun kandungan arti
kata qāb itu, ungkapan qāba qausaini menyatakan perhubungan yang sangat dekat antara dua orang. Ayat فَکَانَ قَابَ قَوۡسَیۡنِ
اَوۡ اَدۡنٰی -- “maka jadilah ia, seakan-akan, seutas
tali dari dua buah busur, atau lebih dekat lagi, mengandung makna bahwa Nabi Besar Muhammad
saw. terus menaiki jenjang-jenjang ketinggian mi’raj dan menghampiri Allah Swt. sehingga jarak
antara keduanya hilang sirna dan beliau saw. seolah-olah menjadi “seutas tali dari dua busur”.
Peribahasa ini
mengingatkan kita kepada suatu kebiasaan orang-orang Arab kuno. Menurut
kebiasaan itu, bila dua orang mengikat
janji persahabatan yang kokoh kuat
mereka biasa menyatu-padukan busur-busur
mereka dengan cara demikian, sehingga busur-busur
itu nampak seperti satu dan kemudian
mereka melepaskan anak panah dari busur yang telah dipadukan itu, dengan
demikian mereka menyatakan bahwa mereka
itu seakan-akan telah menjadi satu wujud,
dan bahwa suatu serangan terhadap
yang seorang akan berarti serangan
terhadap yang lainnya juga.
Bila kata tadalla dianggap
mengenai Allah Swt. maka ayat ini akan berarti bahwa Nabi Besar
Muhammad saw. naik
menuju Allah dan Allah Swt. turun kepada beliau saw., sehingga
kedua-duanya seolah-olah telah menyatu menjadi satu wujud.
Manunggal Dalam Sifat-sifat Allah Swt. & Peristiwa Mi’raj
Berbeda Dengan Isra
Ungkapan kiasan tersebut mengandung pula arti
lain yang sangat indah dan halus, yaitu bahwa sementara di satu pihak Nabi
Besar Muhammad saw. menjadi
sama sekali fana (sirna) dalam Allah Swt. serta Pencipta-nya,
sehingga beliau saw. seakan-akan menjadi bayangan
Allah Swt. Sendiri, maka di pihak lain
beliau saw. turun kembali kepada umat
manusia dan menjadi begitu penuh
cinta dan dengan rasa kasih serta
merasa prihatin akan mereka, sehingga
sifat Ketuhanan dan sifat kemanusiaan menjadi terpadu dalam diri beliau saw., dan
beliau saw. menjadi titik-pusat tali kedua busur Ketuhanan dan kemanusiaan. Kata-kata “atau
lebih dekat lagi,” mengandung arti bahwa hubungan antara Nabi Besar Muhammad saw. dengan Allah Swt. menjadi kian dekat dan kian mesra lebih daripada yang dapat dibayangkan pikiran.
Surah An-Najm ayat 8 sampai 18
menggambarkan mikraj Nabi Besar Muhammad saw. ketika beliau saw. secara ruhani dibawa ke langit
dan dianugerahi pemandangan suatu penjelmaan ruhani
Allah Swt., dan secara ruhani beliau naik sampai dekat sekali kepada Khāliq-nya.
Pada hakikatnya, mi’raj merupakan dua
pengalaman ruhani; kenaikan ruhani
Nabi Besar Muhammad saw. dan turunnya tajalli
(penampakan kebesaran) Allah Swt.
kepada beliau.
Dalam pikiran umum, peristiwa mi’raj yang dikemukakan dalam
QS.53:1-19 telah dicampurbaurkan
dengan peristiwa isra’ (perjalanan malam) Nabi Besar Muhammad saw. yang
diisyaratkan dalam QS.17:2 pada
waktu malam dari Masjidil-haram di
Mekkah ke Masjidil-aqsha di Yerusalem, padahal kedua surah Al-Quran yang
menceritakan peristiwa ruhani tersebut masing-masing berlainan dan terpisah
waktu terjadinya. Isra terjadi
pada tahun ke-11 atau ke-12 tahun Nabawi
(Zurqani), padahal Nabi Besar
Muhammad saw. telah lebih
dahulu mengalami mi’raj pada
tahun ke-5, tidak lama sesudah hijrah
pertama ke Abessinia 6 atau 7 tahun sebelum terjadi peristiwa isra’.
Penelaahan
saksama dan teliti mengenai rincian kedua peristiwa itu, sebagaimana
disebut-sebut di dalam hadits juga
mendukung pendapat ini. Untuk keterangan lebih
terinci mengenai kedua
peristiwa mikraj dan isra’ keduanya merupakan kejadian yang terpisah dan
berbeda satu sama lain.
Kata mā dalam
ayat: فَاَوۡحٰۤی اِلٰی
عَبۡدِہٖ مَاۤ اَوۡحٰی -- “Lalu Dia mewahyukan kepada hamba-Nya
apa yang telah Dia wahyukan“ kadang-kadang
dipergunakan untuk menyatakan kehormatan, keheranan, atau untuk memberikan
tekanan arti (Aqrab-ul-Mawarid).
Ayat ini mengandung arti bahwa Allah Swt. menurunkan wahyu Al-Quran kepada hamba-Nya,
dan alangkah bagus lagi hebatnya wahyu itu!
Makna “Pohon
Sidrah Tertinggi” & Hakikat “Pingsannya”
Nabi Musa a.s.
Makna ayat: مَا کَذَبَ
الۡفُؤَادُ مَا رَاٰی -- “Hati
Rasulullah sekali-kali tidak
berdusta apa yang dia lihat.“ Hakikatnya
ialah apa yang telah dilihat atau
dialami oleh Nabi Besar Muhammad saw.
adalah pengalaman hakiki, dan pengalaman beliau saw. itu kebenaran sejati dan bukan tipuan khayal beliau saw.. Makna ayat selanjutnya: اَفَتُمٰرُوۡنَہٗ عَلٰی مَا یَرٰی -- “Maka apakah kamu membantahnya mengenai apa yang telah dia lihat? وَ لَقَدۡ
رَاٰہُ نَزۡلَۃً اُخۡرٰی -- Dan sungguh
dia benar-benar melihat-Nya kedua kali.”
Yakni kasyaf Nabi Besar Muhammad saw.
itu suatu pengalaman ruhani berganda.
Makna ayat
selanjutnya: عِنۡدَ سِدۡرَۃِ الۡمُنۡتَہٰی -- “Dekat
pohon Sidrah tertinggi, عِنۡدَہَا جَنَّۃُ الۡمَاۡوٰی -- yang di dekatnya ada surga, tempat tinggal.” Nabi
Besar Muhammad saw. pada waktu mi’raj telah mencapai martabat qurb Ilahi (kedekatan
kepada Allah Swt.) demikian tinggi,
sehingga sungguh berada di luar jangkauan
otak manusia untuk memahaminya.
Atau ayat ini dapat berarti bahwa pada martabat itu terbentang di hadapan beliau saw. bagaikan samudera luas tanpa tepi – samudera makrifat
Ilahi, hakikat-hakikat serta
kebenaran-kebenaran abadi. Sadir yang diambil dari akar kata yang sama
berarti bahwa makrifat Ilahi yang dilimpahkan kepada Nabi Besar Muhammad
saw. akan seperti halnya pohon Sidrah memberikan kesenangan
dan naungan kepada para musafir ruhani yang merasa kakinya letih
dan payah.
Lebih-lebih karena daun pohon Sidrah memiliki khasiat mengawetkan mayat dari proses pembusukan, ayat عِنۡدَ سِدۡرَۃِ الۡمُنۡتَہٰی -- “Dekat pohon Sidrah tertinggi”, ini dapat berarti bahwa ajaran
Islam (Al-Quran) yang diwahyukan Allah Swt. kepada Nabi Besar
Muhammad saw. tidak hanya kebal terhadap bahaya kerusakan -- karena mendapat jaminan pemeliharaan Allah Swt. (QS.15:10) -- melainkan juga baik sekali guna menolong
dan memelihara umat manusia terhadap kerusakan dan kematian ruhani.
Atau, ayat عِنۡدَ سِدۡرَۃِ الۡمُنۡتَہٰی -- “Dekat pohon Sidrah tertinggi, عِنۡدَہَا جَنَّۃُ الۡمَاۡوٰی -- yang di
dekatnya ada surga, tempat tinggal” mengandung kabar gaib (nubuatan) yang mengisyaratkan kepada sebatang pohon, yang di bawah pohon itu para sahabat Nabi Besar
Muhammad saw. di Hudaibiyah mengikat janji setia (bai’at) kepada beliau saw. pada peristiwa Perjanjian Hudaibiyah (QS.48:19).
Kata-kata “yang
menutupi” dalam ayat selanjutnya: اِذۡ
یَغۡشَی السِّدۡرَۃَ مَا یَغۡشٰی -- “Ketika pohon Sidrah diselubungi oleh sesuatu
yang menyelubungi“ maknanya ialah penjelmaan Ilahi. مَا زَاغَ الۡبَصَرُ وَ مَا طَغٰی -- Penglihatannya
sekali-kali tidak menyimpang dan tidak
pula melantur. لَقَدۡ رَاٰی مِنۡ اٰیٰتِ رَبِّہِ الۡکُبۡرٰی -- Sungguh
ia benar-benar melihat Tanda
paling besar dari Tanda-tanda Rabb-nya (Tuhan-Nya). (An-Najm [53]:1-18-19).
Firman Allah Swt. dalam dua ayat terakhir surah An-Najm menjelaskan bahwa “Tajalliyati Ilahiyah” (penampakan keagungan Allah Swt.) kepada
Nabi Besar Muhammad saw. merupakan tajalli
Allah Swt. yang paling
sempurna, yang belum pernah terjadi
para para rasul Allah sebelumnya,
sehingga Nabi Musa a.s. pun “pingsan”
pada saat Allah Swt. bertajalli pada
sebuah gunung dalam kasyaf (penglihatan ruhani) yang dialami
oleh Nabi Musa a.s. lalu setelah siuman
dari “pingsannya” Nabi Musa a.s. menyatakan
beriman kepada Nabi Besar Muhammad
saw., firman-Nya:
وَ لَمَّا جَآءَ
مُوۡسٰی لِمِیۡقَاتِنَا وَ کَلَّمَہٗ رَبُّہٗ ۙ قَالَ رَبِّ اَرِنِیۡۤ اَنۡظُرۡ
اِلَیۡکَ ؕ قَالَ لَنۡ تَرٰىنِیۡ
وَ لٰکِنِ انۡظُرۡ اِلَی
الۡجَبَلِ فَاِنِ اسۡتَقَرَّ مَکَانَہٗ فَسَوۡفَ تَرٰىنِیۡ ۚ فَلَمَّا
تَجَلّٰی رَبُّہٗ لِلۡجَبَلِ
جَعَلَہٗ دَکًّا وَّ خَرَّ مُوۡسٰی
صَعِقًا ۚ فَلَمَّاۤ اَفَاقَ قَالَ
سُبۡحٰنَکَ تُبۡتُ اِلَیۡکَ وَ اَنَا
اَوَّلُ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ ﴿﴾
Dan tatkala
Musa datang pada waktu yang Kami
tetapkan dan Rabb-nya (Tuhan-nya)
bercakap-cakap dengannya, ia
berkata: “Ya Rabb-ku (Tuhan-ku), perlihatkanlah kepadaku supaya aku dapat
memandang Engkau.” Dia berfirman: “Engkau
tidak akan pernah dapat melihat-Ku
tetapi pandanglah gunung itu,
lalu jika ia tetap ada pada tempatnya maka engkau
pasti akan dapat melihat-Ku.” فَلَمَّا تَجَلّٰی رَبُّہٗ
لِلۡجَبَلِ جَعَلَہٗ دَکًّا وَّ
خَرَّ مُوۡسٰی صَعِقًا -- Maka tatkala
Rabb-nya (Tuhan-nya) menjelmakan
keagungan-Nya pada gunung itu Dia
menjadikannya hancur lebur, dan Musa pun jatuh pingsan. ۚ
فَلَمَّاۤ اَفَاقَ قَالَ سُبۡحٰنَکَ
تُبۡتُ اِلَیۡکَ وَ اَنَا
اَوَّلُ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ -- Lalu tatkala ia sadar kembali ia berkata: “Mahasuci Engkau, aku
bertaubat kepada Engkau dan aku adalah orang pertama di antara
orang-orang yang beriman kepadanya di masa ini.” (Al-A’rāf [7]:144).
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran Anyar, 17 Februari
2017
Tidak ada komentar:
Posting Komentar