Sabtu, 18 Februari 2017

Makna "Merangkak di Padang Salju" & Hakikat "Perpaduan" Nabi Besar Muhammad Saw. Dengan Allah Swt. Dalam Peristiwa "Mi'raj"





Bismillaahirrahmaanirrahiim

  ISLAM
Pidato  Mirza Ghulam Ahmad a.s.
Tgl. 2 November 1904 di Kota Sialkote – Hindustan

Bab  22

 MAKNA “MERANGKAK DI PADANG SALJU    &     HAKIKAT  PERPADUAN” NABI BESAR MUHAMMAD SAW.   DENGAN ALLAH SWT. DALAM PERISTIWA MI’RAJ

Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam bagian akhir Bab 20 telah dijelaskan topik   Berbagai  Makna   Gelar “Khātaman-Nabiyyīnsehubungan dengan ayat  مَا کَانَ مُحَمَّدٌ اَبَاۤ  اَحَدٍ مِّنۡ رِّجَالِکُمۡ    --  Muhammad bukanlah bapak salah seorang laki-laki di antara lelaki  kamu“ (QS.33:41)  mengatakan bahwa  Nabi Besar Muhammad saw.    adalah rasul Allah, yang mengandung arti bahwa beliau adalah bapak ruhani seluruh umat manusia – sebab beliau saw. diutus untuk seluruh umat manusia (QS.7:159; QS.21:108; QS.25:2; 34:29)  -- dan beliau juga Khātaman Nabiyyīn, yang maksudnya bahwa beliau adalah bapak ruhani seluruh nabi Allah.
      Jadi, jika  Nabi Besar Muhammad saw.  merupakan bapak ruhani semua orang beriman dan bahkan beliau saw. merupakan “bapak ruhani” semua nabi Allah,  maka bagaimana mungkin Nabi Besar Muhammad saw. beliau saw. dapat disebut abtar   (tak berketurunan)?  Firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِؕ﴿﴾   اِنَّاۤ  اَعۡطَیۡنٰکَ  الۡکَوۡثَرَ ؕ﴿﴾   فَصَلِّ  لِرَبِّکَ وَ انۡحَرۡ ؕ﴿﴾   اِنَّ شَانِئَکَ ہُوَ الۡاَبۡتَرُ ٪﴿﴾
Aku baca  dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha PenyayangSesungguhnya Kami  telah  menganugerahkan kepada engkau berlimpah-limpah kebaikan.Maka shalatlah  bagi Rabb (Tuhan) engkau dan berkorbanlah. ؕ  اِنَّ شَانِئَکَ ہُوَ الۡاَبۡتَرُ  --   Sesungguhnya musuh engkau, dialah  yang  tanpa keturunan  (Al-Kautsar [108]:1-4).

Nabi Terakhir Pembawa Syariat &   Empat Makna Khātaman Nabiyyīn

       Apabila ungkapan  Khātaman Nabiyyīn ini diambil dalam arti bahwa beliau saw. itu nabi yang terakhir, dan bahwa tidak ada nabi  Allah  macam apa pun akan datang sesudah beliau saw., maka makna surah Al-Ahzab ayat 41  ini akan nampak sumbang bunyinya dan tidak mempunyai pertautan dengan konteks ayat-ayat sebelumnya, dan daripada menyanggah ejekan orang-orang kafir bahwa  Nabi Besar Muhammad saw. seorang yang abtar (tidak berketurunan), malahan mendukung dan menguatkan tuduhan dusta tersebut.
        Pendek kata, menurut arti yang tersimpul dalam kata khatam seperti dikatakan di atas, maka ungkapan Khātaman Nabiyyīn dapat mempunyai kemungkinan empat macam arti:
       (1)  Nabi Besar Muhammad saw.  adalah meterai para nabi Allah, yakni, tidak ada nabi Allah dapat dianggap benar kalau kenabiannya tidak bermeteraikan pernyataan Nabi Besar Muhammad saw., sebab  kenabian semua nabi Allah  yang sudah lampau harus dikuatkan dan disahkan oleh  Nabi Besar Muhammad saw.. dan juga tidak ada seorang pun yang dapat mencapai tingkat kenabian sesudah beliau saw., kecuali dengan menjadi pengikut hakiki beliau saw. (QS.4:70-71). Hal ini penting sebab beliau saw. bukan seorang yang abtar (terputus keturunannya).
       (2)  Nabi Besar Muhammad saw.   adalah yang terbaik, termulia, dan paling sempurna dari antara semua nabi Allah dan juga beliau saw. adalah sumber hiasan bagi mereka (Zurqani, Syarah Muwahib al-Laduniyyah).
       (3)  Nabi Besar Muhammad saw.    adalah yang terakhir di antara para nabi pembawa syari'at. Penafsiran ini telah diterima oleh para ulama terkemuka, orang-orang suci dan waliullah seperti Ibn ‘Arabi, Syah Waliullah, Imam ‘Ali Qari, Mujaddid Alf Tsani, dan lain-lain.
         Menurut ulama-ulama besar dan para waliullah itu, tidak ada nabi dapat datang sesudah  Nabi Besar Muhammad saw.   yang dapat memansukhkan (membatalkan) millah beliau saw. atau yang akan datang dari luar umat beliau saw. (Futuhat-ul-Makiyyah;Tafhimat; Maktubat, dan Yawaqit wa’l Jawahir).    Aisyah binti Abubakar Shiddiq r.a,  istri Nabi Besar Muhammad saw.,  yang amat berbakat menurut riwayat pernah mengatakan: “Katakanlah bahwa beliau (Rasulullāh saw.) adalah Khātaman Nabiyyin, tetapi janganlah mengatakan tidak akan ada nabi lagi sesudah beliau” (Mantsur).
       (4)  Nabi Besar Muhammad saw.   adalah nabi yang terakhir (Akhirul Anbiya) hanya dalam arti kata bahwa semua nilai dan sifat kenabian terjelma dengan sesempurna-sempurnanya dan selengkap-lengkapnya dalam diri beliau saw.: khatam dalam arti sebutan terakhir untuk menggambarkan kebagusan dan kesempurnaa  adalah sudah lazim dipakai. Lebih-lebih Al-Quran dengan jelas mengatakan tentang bakal diutusnya nabi-nabi sesudah Nabi Besar Muhammad saw. wafat (QS.7:35-36).

Kebersamaan” Dalam Martabat Ruhani

       Nabi Besar Muhammad saw.    sendiri jelas mempunyai tanggapan mengenai berlanjutnya kenabian sesudah beliau saw.. Menurut riwayat, beliau saw. pernah bersabda: “Seandainya Ibrahim (putra beliau) masih hidup, niscaya ia akan menjadi nabi” (Ibnu Majah, Kitab al-Jana’iz) dan: “Abu Bakar adalah sebaik-baik orang sesudahku, kecuali bila ada seorang nabi muncul” (Al-Kanzul-Umal). Sehubungan dengan kenyataan tersebut Allah Swt. berfirman: 
وَ مَنۡ یُّطِعِ اللّٰہَ وَ الرَّسُوۡلَ فَاُولٰٓئِکَ مَعَ الَّذِیۡنَ اَنۡعَمَ اللّٰہُ عَلَیۡہِمۡ مِّنَ النَّبِیّٖنَ وَ الصِّدِّیۡقِیۡنَ وَ الشُّہَدَآءِ وَ الصّٰلِحِیۡنَ ۚ وَ حَسُنَ اُولٰٓئِکَ رَفِیۡقًا ﴿ؕ﴾  ذٰلِکَ الۡفَضۡلُ مِنَ اللّٰہِ ؕ وَ کَفٰی بِاللّٰہِ عَلِیۡمًا ﴿٪﴾
Dan  barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul ini maka mereka akan termasuk di antara  orang-orang  yang Allah memberi nikmat kepada mereka yakni: nabi-nabi, shiddiq-shiddiq, syahid-syahid, dan orang-orang shalih, dan mereka itulah sahabat yang sejati.   Itulah karunia dari Allah,  dan cukuplah Allah Yang Maha Mengetahui. (An-Nisa [4]:70-71).
        Kata depan ma’a menunjukkan adanya dua orang atau lebih  bersama pada suatu tempat atau pada satu saat, kedudukan, pangkat atau keadaan. Kata itu mengandung arti bantuan, seperti tercantum dalam QS.9:40 (Al-Mufradat). Kata itu dipergunakan pada beberapa tempat dalam Al-Quran dengan artian fi artinya “di antara”  (QS.3:194; QS.4: 147).
        Ayat ini sangat penting sebab ia menerangkan semua jalur kemajuan ruhani yang terbuka bagi kaum Muslimin. Keempat martabat keruhanian — nabi-nabi, shiddiq-shiddiq, syahid-syahid, dan orang-orang shalih — kini semuanya dapat dicapai hanya dengan jalan mengikuti  Nabi Besar Muhammad saw.    Hal ini merupakan kehormatan khusus bagi  Nabi Besar Muhammad saw.    semata.
      Tidak ada nabi Allah  lain menyamai beliau saw. dalam perolehan nikmat ini. Kesimpulan itu lebih lanjut ditunjang oleh ayat yang membicarakan nabi-nabi secara umum dan mengatakan: “Dan orang-orang yang beriman kepada Allah dan para rasul-Nya, mereka adalah orang-orang shiddiq dan saksi-saksi di sisi Rabb (Tuhan) mereka” (QS.57: 20).
       Apabila kedua ayat ini dibaca bersama-sama maka kedua ayat itu berarti bahwa, kalau para pengikut nabi-nabi lainnya dapat mencapai martabat shiddiq, syahid, dan shalih dan tidak lebih tinggi dari itu, maka pengikut  Nabi Besar Muhammad saw.  dapat naik ke martabat nabi Allah juga.
       Kitab “Bahr-ul-Muhit” (jilid III, hlm. 287) menukil Al-Raghib yang mengatakan: “Tuhan telah membagi orang-orang beriman  dalam empat golongan dalam ayat ini, dan telah menetapkan bagi mereka empat tingkatan, sebagian di antaranya lebih rendah dari yang lain, dan Dia telah mendorong orang-orang beriman sejati agar jangan tertinggal dari keempat tingkatan ini.” Dan membubuhkan bahwa: “Kenabian itu ada dua macam: umum dan khusus. Kenabian khusus, yakni kenabian yang membawa syariat, sekarang tidak dapat dicapai lagi; tetapi kenabian yang umum masih tetap dapat dicapai.”

Makna “Merangkak di  Atas Salju” & Berbagai Macam Kecepatan Gerak  Melakukan “Perjalanan” (Suluk)  Menuju Allah Swt.

     Demikianlah pembelaan berjenjang Allah Swt.  berkenaan tuduhan  para pemimpin kaum kafir Arabia berkenaan pernikahan Nabi Besar Muhammad saw. dengan Zainab binti Jahsy r.a. yang   bertentangan dengan adat-istiadat bangsa Arab jahiliyah berkenaan dengan anak-angkat, firman-Nya:
مَا کَانَ مُحَمَّدٌ اَبَاۤ  اَحَدٍ مِّنۡ رِّجَالِکُمۡ وَ لٰکِنۡ رَّسُوۡلَ اللّٰہِ وَ خَاتَمَ  النَّبِیّٖنَ ؕ وَ  کَانَ اللّٰہُ  بِکُلِّ شَیۡءٍ عَلِیۡمًا ﴿٪﴾
Muhammad bukanlah bapak salah seorang laki-laki di antara lelaki  kamu, akan tetapi ia adalah Rasul Allah dan meterai sekalian nabi,  dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (Al-Ahzāb [33]:41).
        Jadi, betapa  pentingnya melakukan “baiat” kepada Nabi Besar Muhammad saw. (QS.48:11) dan pentingnya melakukan  baiat kepada Imam Mahdi a.s.  yang diperintahkan Nabi Besar Muhammad saw.: 
“Ketika kalian melihatnya (kehadiran Imam Mahdi)  maka berbai’atlah dengannya walaupun harus merangkak-rangkak di atas salju karena sesungguhnya dia adalah Khalifatullah Al-Mahdi.” (HR Abu Dawud, 4074).
         Selain pentingnya melakukan bai’at kepada Imam Mahdi a.s. hal berikutnya yang perlu difahami dari sabda Nabi Besar Muhammad saw. tersebut adalah bahwa  melakukan baiat kepada Imam Mahdi a.s.  memerlukan perjuangan yang sangat berat, sebagaimana tergambar dalam kalimat “walaupun harus merangkak-rangkak di atas salju”.
        Sehubungan dengan kata “merangkak dalam hadits tersebut  Allah Swt.  berfirman:
وَ اللّٰہُ خَلَقَ کُلَّ دَآبَّۃٍ  مِّنۡ مَّآءٍ ۚ فَمِنۡہُمۡ مَّنۡ یَّمۡشِیۡ عَلٰی بَطۡنِہٖ ۚ وَ مِنۡہُمۡ مَّنۡ یَّمۡشِیۡ عَلٰی  رِجۡلَیۡنِ ۚ  وَ مِنۡہُمۡ مَّنۡ یَّمۡشِیۡ عَلٰۤی اَرۡبَعٍ ؕ یَخۡلُقُ اللّٰہُ  مَا یَشَآءُ ؕ اِنَّ  اللّٰہَ  عَلٰی کُلِّ  شَیۡءٍ  قَدِیۡرٌ ﴿﴾
Dan Allah telah menciptakan semua binatang melata dari air, lalu  dari antaranya sebagian ada yang berjalan pada perutnya, dan sebagian dari antaranya ada yang berjalan pada dua kaki, dan dari antaranya ada sebagian lagi yang berjalan pada empat kaki.  Allah menciptakan apa yang Dia kehendaki, sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (An-Nūr [24]:46).
       Ayat ini melukiskan sifat dan bentuk kemajuan yang ditempuh oleh para musafir ruhani (sālik) ke arah tujuan mereka yang telah ditentukan itu  yakni  dalam rangka meraih  maqam  fana (menghilangkan diri), baqa (kelahiran kembali), dan liqa (memanunggal) dengan Allah Swt. sebagaimana yang dicomtohkan nabi Besar Muhammad saw. (QS.6:162-164; QS.53:1-19; QS.89:28-31), menurut ayat tersebut kemajuan suluk (perjalan ruhani) sebagian dari antara mereka amat lambat sekali. Mereka bergerak ke arah tujuan mereka dengan merangkak-rangkak dan merayap-rayap: فَمِنۡہُمۡ مَّنۡ یَّمۡشِیۡ عَلٰی بَطۡنِہ  -- “lalu  dari antaranya sebagian ada yang berjalan pada perutnya”.
       Makna ayat: وَ مِنۡہُمۡ مَّنۡ یَّمۡشِیۡ عَلٰی  رِجۡلَیۡنِ  -- “dan sebagian dari antaranya ada yang berjalan pada dua kaki“, sedangkan yang lain berjalan (bergerak)  lebih cepat seperti binatang yang bergerak pada dua kakinya,  وَ مِنۡہُمۡ مَّنۡ یَّمۡشِیۡ عَلٰۤی اَرۡبَعٍ  -- “dan dari antaranya ada sebagian lagi yang berjalan pada empat kaki“, yakni yang lainnya  bergerak  lebih cepat laksana binatang-binatang berkaki empat.

Makna Jumlah “Sayap” Para Malaikat &  Ketinggian Sempurna “Mi’raj Ruhani” Nabi Besar Muhammad Saw.  

      Jadi, yang diisyaratkan di sini ialah kecepatan dan bukan caranya bergerak. Binatang berkaki empat pada umumnya lebih cepat bergeraknya daripada binatang-binatang berkaki dua atau yang merayap. Begitu pula halnya dengan  kecepatan gerak para musafir ruhani di jalan Allah Swt. tidak sama kecepatannya, bahkan ada gerakannya yang lebih cepat lagi sehingga gerakannya bagaikan “terbang”:  یَخۡلُقُ اللّٰہُ  مَا یَشَآءُ ؕ اِنَّ  اللّٰہَ  عَلٰی کُلِّ  شَیۡءٍ  قَدِیۡرٌ -- “Allah menciptakan apa yang Dia kehendaki, sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”
      Dalam dunia penerbangan, kecepatan dan kekuatan gerak  pesawat terbang ditentukan dengan jumlah baling-baling atau motor penggerak yang dimiliki pesawat terbang. Dalam surah berikut ini perumpamaan yang dipergunakan mengenai “kecepatan gerak” dan kemampuan bukan jumlah kaki  melainkan jumlah sayap, firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿۱﴾ اَلۡحَمۡدُ لِلّٰہِ فَاطِرِ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ جَاعِلِ الۡمَلٰٓئِکَۃِ  رُسُلًا اُولِیۡۤ  اَجۡنِحَۃٍ مَّثۡنٰی وَ ثُلٰثَ وَ رُبٰعَ ؕ یَزِیۡدُ فِی الۡخَلۡقِ مَا یَشَآءُ ؕ اِنَّ اللّٰہَ عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ  قَدِیۡرٌ ﴿﴾  مَا یَفۡتَحِ اللّٰہُ  لِلنَّاسِ مِنۡ  رَّحۡمَۃٍ  فَلَا مُمۡسِکَ لَہَا ۚ وَ مَا یُمۡسِکۡ ۙ فَلَا مُرۡسِلَ  لَہٗ  مِنۡۢ  بَعۡدِہٖ ؕ وَ ہُوَ  الۡعَزِیۡزُ  الۡحَکِیۡمُ ﴿﴾
Aku baca dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.   Segala puji milik Allah   Yang menciptakan seluruh langit dan bumi, Yang menjadikan malaikat-malaikat sebagai utusan-utusan yang bersayap dua, tiga  dan empat. Dia menambahkan pada ciptaan-Nya  apa yang Dia kehendaki, sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.   Rahmat  apa pun yang dibukakan Allah bagi umat manusia  maka tidak ada yang dapat menahannya, dan apa pun yang ditahan-Nya  maka tidak ada yang dapat melepaskannya sesudah itu,  dan Dia Maha Perkasa, Maha Bijaksana (Al-Fāthir [35]:1-3).
    Kepada malaikat-malaikat dipercayakan menjaga, mengatur, dan mengawasi segala urusan yang berlaku di alam jasmani (QS.79:6). Inilah tugas dan tanggungjawab yang dibebankan kepada mereka. Tugas mereka yang lain dan yang lebih berat yaitu  melaksanakan perintah dan kehendak Allah Swt.   kepada rasul-rasul-Nya. Malaikat-malaikat pembawa wahyu menampakkan serentak dua, tiga, atau empat sifat Ilahi, dan ada pula malaikat lain, yang bahkan menjelmakan lebih banyak lagi dari sifat-sifat itu.
    Karena ajnihah  (sayap) merupakan lambang kekuatan dan kemampuan (Lexicon Lane), ayat ini mengandung arti bahwa malaikat-malaikat itu memiliki kekuatan dan sifat yang berbeda-beda derajatnya sesuai dengan kepentingan pekerjaan yang dipercayakan kepada mereka masing-masing.  Sebagian malaikat dianugerahi kekuatan-kekuatan dan sifat-sifat yang lebih besar daripada yang lain. Malaikat Jibril a.s. adalah penghulu semua malaikat  karena itu pekerjaan mahapenting  yakni  menyampaikan wahyu Ilahi kepada para rasul Allah, diserahkan kepadanya serta dilaksanakan di bawah asuhan dan pengawasannya.

Pentingnya Melakukan “Jihad Ruhani” yang Berkesinambungan & Berbagai Makna An-Najm  

     Digambarkan secara kiasan bahwa Malaikat Jibril a.s. memiliki 700 sayap, tetapi dalam peristiwa mi’raj Nabi Besar Muhammad saw. ternyata  Malaikat Jibril a.s. tidak mampu lagi  mendampingi Nabi Besar Muhammad saw.  menjangkau “ketinggian langit ruhani” (alam Lahut) yang berhasil dicapai oleh Nabi Besar Muhammad saw. hingga beliau saw. mencapai Sidratul Muntaha, firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ  ﴿﴾  وَ النَّجۡمِ   اِذَا ہَوٰی  ۙ﴿﴾  مَا ضَلَّ صَاحِبُکُمۡ  وَ مَا غَوٰی ۚ﴿﴾   وَ مَا یَنۡطِقُ عَنِ  الۡہَوٰی  ؕ﴿﴾    اِنۡ  ہُوَ   اِلَّا  وَحۡیٌ   یُّوۡحٰی  ۙ﴿﴾  عَلَّمَہٗ  شَدِیۡدُ الۡقُوٰی  ۙ﴿﴾  ذُوۡ مِرَّۃٍ ؕ  فَاسۡتَوٰی  ۙ﴿﴾  وَ ہُوَ  بِالۡاُفُقِ الۡاَعۡلٰی ؕ﴿﴾   ثُمَّ  دَنَا فَتَدَلّٰی ۙ﴿﴾  فَکَانَ قَابَ قَوۡسَیۡنِ  اَوۡ اَدۡنٰی  ۚ﴿﴾  فَاَوۡحٰۤی  اِلٰی عَبۡدِہٖ  مَاۤ  اَوۡحٰی  ﴿ؕ﴾  مَا کَذَبَ الۡفُؤَادُ  مَا  رَاٰی  ﴿﴾  اَفَتُمٰرُوۡنَہٗ  عَلٰی مَا یَرٰی  ﴿﴾  وَ لَقَدۡ رَاٰہُ  نَزۡلَۃً   اُخۡرٰی  ﴿ۙ﴾  عِنۡدَ سِدۡرَۃِ  الۡمُنۡتَہٰی ﴿﴾   عِنۡدَہَا جَنَّۃُ  الۡمَاۡوٰی  ﴿ؕ﴾  اِذۡ  یَغۡشَی السِّدۡرَۃَ  مَا یَغۡشٰی  ﴿ۙ﴾ مَا زَاغَ الۡبَصَرُ  وَ مَا طَغٰی ﴿﴾   لَقَدۡ رَاٰی مِنۡ اٰیٰتِ رَبِّہِ  الۡکُبۡرٰی ﴿﴾
Aku baca  dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.  Demi bintang  apabila  jatuh.  Tidaklah sesat sahabat kamu dan tidak pula keliru.    Dan ia sekali-kali tidak berkata-kata menuruti keinginannya.   Perkataannya itu tidak lain melainkan wahyu yang diwahyukan. Tuhan Yang Mahakuat Perkasa mengajarinya,    Pemilik Kekuatan,  lalu  Dia bersemayam  di atas ‘Arasy. Dan Dia mewahyukan Kalam-Nya ketika ia, Rasulullah, berada di   ufuk tertinggi.  Kemudian ia, Rasulullah, mendekati Allah, lalu Dia kian dekat kepadanya, maka jadilah ia, seakan-akan, seutas tali dari dua buah busur, atau lebih dekat lagi. Lalu Dia mewahyukan kepada hamba-Nya apa yang telah Dia wahyukan.  Hati Rasulullah sekali-kali tidak berdusta apa yang dia lihat.  Maka apakah kamu membantahnya mengenai apa yang telah dia lihat? Dan  sungguhn  dia benar-benar melihat-Nya kedua kali,  Dekat pohon Sidrah tertinggi,  yang di dekatnya ada surga, tempat tinggal.  Ketika pohon Sidrah diselubungi oleh sesuatu yang menyelubungi.   Penglihatannya sekali-kali tidak menyimpang dan tidak pula melantur.    Sungguh  ia benar-benar melihat Tanda paling besar dari Tanda-tanda Rabb-nya (Tuhan-Nya). (An-Najm [53]:1-19).
     An-najm berarti bintang atau tumbuhan yang tidak berbatang. Tetapi bila dikenakan sebagai kata pengganti nama kata itu berarti “Bintang Tujuh “ (Bintang Kartika atau Pleiades). Kata itu dalam ayat  وَ النَّجۡمِ   اِذَا ہَوٰی  -- “Demi bintang   apabila  jatuh“ dianggap juga oleh beberapa ulama sebagai mengandung arti penurunan (pewahyuan) Al-Quran secara berangsur-angsur, dan oleh beberapa sumber lainnya an-Najm  dianggap mengisyaratkan kepada Nabi Besar Muhammad saw.   sendiri. Kata jamaknya an-nujum, berarti juga para kepala kaum atau kepala negara-negara kecil atau jajahan atau kerajaan-kerajaan kecil (Kasysyaf, Taj & Ghara’ib-al-Quran).
    Mengingat  arti yang berbeda-beda,   kata an-najm dalam ayat وَ النَّجۡمِ   اِذَا ہَوٰی  -- “Demi bintang   apabila  jatuh“   dapat diterangkan:
 (1) Menurut sebuah hadits yang masyhur, Nai Besar Muhammad saw. pernah me-ngatakan: “Manakala kegelapan ruhani meliputi seluruh permukaan bumi dan tidak ada yang tinggal dari Islam kecuali namanya, dan tidak ada dari Al-Quran kecuali hurufnya dan iman terbang ke Bintang Tsuraya, maka seorang laki-laki dari keturunan Parsi akan membawanya kembali ke bumi” (Bukhari).
    (2) Kata najm dalam ayat itu dapat berarti bahwa Al-Quran memberi kesaksian atas kebenarannya sendiri.
    (3)  An-Najm dalam arti  tumbuhan yang tidak berbatang, ayat tersebut mengandung makna bahwa  pohon Islam yang masih lemah  kini seperti akan tumbang oleh angin perlawanan kuat lagi tidak bersahabat yang bertiup kencang dan sengit ke arahnya, tidak lama lagi akan bangkit dan berkembang menjadi pohon megah (QS.14:25-26; QS.38:30) dan di bawah naungannya yang sejuk  bangsa-bangsa besar akan berteduh.
   (4) Karena orang-orang Arab sudah biasa menetapkan arah dan tujuan serta dibimbing dalam perjalanan mereka pada malam hari di padang pasir Arabia oleh peredaran bintang-bintang (QS.16:17), demikianlah mereka sekarang akan dibimbing ke tujuan ruhani mereka oleh bintang yang paling cemerlang yaitu Nabi Besar Muhammad saw.
   (5) Ayat وَ النَّجۡمِ   اِذَا ہَوٰی  -- “Demi bintang   apabila  jatuh“    dapat juga mengandung sebuah nubuatan tentang jatuhnya negeri Arab yang sudah bobrok, suatu nubuatan yang lebih jelas lagi diterangkan dalam  QS.54:2 mengenai “terbelahnya bulan”.

Sumber Wahyu Al-Quran & Makna ‘Ufuq Tertinggi

   Makna ayat selanjutnya:  مَا ضَلَّ صَاحِبُکُمۡ  وَ مَا غَوٰی  -- “Tidaklah sesat sahabat kamu dan tidak pula keliru.“  Cita-cita dan asas-asas ajaran Islam yang dikemukakan oleh   Nabi Besar Muhammad saw. tidak salah  lagi pula beliau saw. sekali-kali tidak menyimpang dari asas-asas itu  yakni beliau juga tidak tersesat. Dengan demikian mengingat cita-cita luhur dan mulia beliau saw. dan mengingat pula cara beliau saw. menjalani hidup sesuai dengan cita-cita itu, beliau  saw. adalah penunjuk-jalan yang terjamin dan aman. Keterangan itu lebih diperkuat lagi dalam beberapa ayat berikutnya: وَ مَا یَنۡطِقُ عَنِ  الۡہَوٰی    -- “Dan ia sekali-kali tidak berkata-kata menuruti keinginannya“.
    Kalau ayat اِنۡ  ہُوَ   اِلَّا  وَحۡیٌ   یُّوۡحٰی    --  Perkataannya itu tidak lain melainkan wahyu yang diwahyukan    membicarakan sumber asal wahyu Nabi Besar Muhammad saw.  yaitu Allah Swt., maka dua ayat sebelumnya mengisyaratkan kepada khayalan kosong orang yang berotak miring dan kepada alam pikiran yang timbul dari nafsu pribadinya dan dorongan-dorongan ruh jahat.
    Al-Quran adalah wahyu yang gagah perkasa, yang di hadapannya semua Kitab Suci terdahulu pudar artinya. Itulah makna ayat: عَلَّمَہٗ  شَدِیۡدُ الۡقُوٰی    -- “Tuhan Yang Mahakuat Perkasa   mengajarinya. ذُوۡ مِرَّۃٍ ؕ  فَاسۡتَوٰی    --  Pemilik Kekuatan,   lalu  Dia bersemayam di atas ‘Arasy.”       Mirrah berarti: kekuatan karya atau kecerdasan, pertimbangan sehat, kete-guhan (Aqrab-ul-Mawarid).
     Dzū  mirrah dapat juga berarti  orang yang kekuatannya nampak kentara dengan lestari. Sedangkan ungkapan istawā ‘alā asy-syai-i berarti  bahwa  ia memperoleh atau memiliki  hak penguasaan atau pengaruh penuh atas barang itu. Jika diterapkan kepada Nabi Besar Muhammad saw.  ungkapan  ذُوۡ مِرَّۃٍ ؕ  فَاسۡتَوٰی    --  Pemilik Kekuatan,   lalu  Dia bersemayam di atas ‘Arasy”        akan berarti bahwa kekuatan-kekuatan jasmani dan intelek beliau saw. telah mencapai kekuatan dan kematangan sepenuh-penuhnya.
   Makna ayat:   وَ ہُوَ  بِالۡاُفُقِ الۡاَعۡلٰی  -- Dan Dia mewahyukan Kalam-Nya ketika ia, Rasulullah, berada di   ufuk tertinggi.”    Bahwa Nabi Besar Muhammad saw.  telah mencapai batas tertinggi dalam mi’raj beliau saw.  – yang bahkan malaikat Jibril a.s. pun tidak sanggup lagi mendampingi mi’raj beliau saw. karena “sayapnya akan terbakar.    --  ketika Allah Swt. menampakkan “Wujud-Nya” kepada beliau saw. dengan kebenaran dan keagungan yang sempurna.
    Atau, ayat ini dapat berarti bahwa cahaya Islam ditempatkan pada suatu tempat yang amat tinggi dan dari tempat itu dapat menyinari seluruh dunia. Kata pengganti huwa dalam ayat  وَ ہُوَ  بِالۡاُفُقِ الۡاَعۡلٰی  -- Dan Dia mewahyukan Kalam-Nya ketika ia, Rasulullah, berada di   ufuk tertinggi     dapat menunjuk kepada Allah Swt. dan kepada Nabi Besar Muhammad saw.. Lihat juga QS.53 ayat 10.

Makna “Satu Tali Dua Buah Busur”

  Ungkapan  Dalla al-dalwa  sehubungan ayat:  ثُمَّ  دَنَا فَتَدَلّٰی  -- “Kemudian ia, Rasulullah, mendekati Allah, lalu Dia kian dekat kepadanya,berarti: ia menurunkan ember ke dalam perigi, ia menarik ember ke atas atau keluar dari perigi. Tadalla berarti: ia atau sesuatu itu merendah atau menurun; ia menghampiri atau mendekati atau kian dekat (Lexicon Lane dan Lisan-ul-Arab).
    Ayat ini berarti bahwa Nabi Besar Muhammad saw..    mendekati Allah Swt.  dan Allah Swt. condong kepada beliau saw.. Ayat itu dapat juga berarti bahwa  Nabi Besar Muhammad saw..   mencapai kedekatan yang sedekat-dekatnya kepada Allah Swt.    dan setelah minum dengan sepuas-puasnya di Sumber mata air ilmu-keruhanian Ilahi kemudian  beliau saw. turun kembali dan memberikan ilmu kepada segenap umat manusia.
 Selanjutnya Allah Swt. berfirman:  فَکَانَ قَابَ قَوۡسَیۡنِ  اَوۡ اَدۡنٰی -- “maka jadilah ia, seakan-akan, seutas tali dari dua buah busur,  atau lebih dekat lagi. “  Qāb berarti:
(1)     bagian busur antara bagian yang dipegang oleh tangan dan ujungnya yang dilengkungkan;
(2)        dari satu ujung busur ke ujung busur yang lain;
(3)        ukuran atau ruang.
    Orang Arab berkata  Bainahumā  qāba qausaini”  yakni “di antara mereka berdua adalah seukuran busur”, yang berarti bahwa perhubungan di antara mereka sangat akrab.
     Peribahasa Arab yang mengatakan  ramaunā  ‘an qausin wāhidin  yakni  “mereka memanah kami dari satu busur”, yaitu  bahwa “mereka seia-sekata melawan kami”. Oleh karena itu kata tersebut menyatakan kesepakatan sepenuhnya (Lexicon Lane; Lisan-ul-‘Arab; dan Zamakhsyari).
     Apa pun kandungan arti kata qāb itu, ungkapan qāba qausaini menyatakan perhubungan yang sangat dekat antara dua orang. Ayat  فَکَانَ قَابَ قَوۡسَیۡنِ  اَوۡ اَدۡنٰی -- “maka jadilah ia, seakan-akan, seutas tali dari dua buah busur,  atau lebih dekat lagi,  mengandung makna bahwa Nabi Besar Muhammad saw.  terus menaiki jenjang-jenjang ketinggian mi’raj  dan menghampiri Allah Swt. sehingga jarak antara keduanya hilang sirna dan beliau saw.  seolah-olah menjadi “seutas tali dari dua busur”.
    Peribahasa ini mengingatkan kita kepada suatu kebiasaan orang-orang Arab kuno. Menurut kebiasaan itu, bila dua orang mengikat janji persahabatan yang kokoh kuat mereka biasa menyatu-padukan busur-busur mereka dengan cara demikian, sehingga busur-busur itu nampak seperti satu dan kemudian mereka melepaskan anak panah dari busur yang telah dipadukan itu, dengan demikian mereka menyatakan bahwa mereka itu seakan-akan telah menjadi satu wujud, dan bahwa suatu serangan terhadap yang seorang akan berarti serangan terhadap yang lainnya juga.
   Bila kata tadalla dianggap mengenai Allah Swt.  maka ayat ini akan berarti bahwa Nabi Besar Muhammad saw.  naik menuju Allah dan Allah Swt. turun kepada beliau saw., sehingga kedua-duanya seolah-olah telah menyatu menjadi satu wujud.

Manunggal Dalam Sifat-sifat Allah Swt. & Peristiwa  Mi’raj Berbeda Dengan  Isra

    Ungkapan kiasan tersebut mengandung pula arti lain yang sangat indah dan halus, yaitu bahwa sementara di satu pihak Nabi Besar Muhammad saw.  menjadi sama sekali  fana (sirna) dalam Allah Swt.  serta Pencipta-nya, sehingga beliau saw. seakan-akan menjadi bayangan Allah Swt.  Sendiri, maka di pihak lain beliau saw. turun kembali kepada umat manusia dan menjadi begitu penuh cinta dan dengan rasa kasih serta merasa prihatin akan mereka, sehingga sifat Ketuhanan dan sifat kemanusiaan menjadi terpadu dalam diri beliau saw., dan beliau saw. menjadi titik-pusat tali kedua busur Ketuhanan dan kemanusiaan. Kata-kata “atau lebih dekat lagi,” mengandung arti bahwa  hubungan antara Nabi Besar Muhammad saw. dengan Allah Swt. menjadi kian dekat dan kian mesra lebih daripada yang dapat dibayangkan pikiran.
    Surah An-Najm  ayat 8 sampai 18 menggambarkan mikraj Nabi Besar Muhammad saw.  ketika beliau saw. secara ruhani dibawa ke langit dan dianugerahi pemandangan  suatu penjelmaan   ruhani Allah Swt., dan secara ruhani beliau naik sampai dekat sekali kepada Khāliq-nya. Pada hakikatnya, mi’raj merupakan dua pengalaman ruhani; kenaikan ruhani Nabi Besar Muhammad saw.  dan turunnya tajalli (penampakan kebesaran) Allah Swt. kepada beliau.
   Dalam pikiran umum, peristiwa  mi’raj  yang dikemukakan dalam QS.53:1-19 telah dicampurbaurkan dengan peristiwa isra’ (perjalanan malam) Nabi Besar Muhammad saw. yang diisyaratkan dalam QS.17:2  pada waktu malam dari Masjidil-haram di Mekkah  ke Masjidil-aqsha di Yerusalem, padahal kedua surah Al-Quran yang menceritakan peristiwa ruhani  tersebut masing-masing berlainan dan terpisah waktu terjadinya. Isra  terjadi pada tahun ke-11 atau ke-12 tahun Nabawi (Zurqani), padahal Nabi Besar Muhammad saw.   telah lebih dahulu mengalami  mi’raj pada tahun ke-5, tidak lama sesudah hijrah pertama ke Abessinia 6 atau 7 tahun sebelum terjadi peristiwa isra’.
    Penelaahan saksama dan teliti mengenai rincian kedua peristiwa itu, sebagaimana disebut-sebut di dalam hadits  juga mendukung pendapat ini. Untuk keterangan lebih  terinci  mengenai kedua peristiwa  mikraj dan isra  keduanya merupakan kejadian yang terpisah dan berbeda satu sama lain.  
    Kata dalam ayat: فَاَوۡحٰۤی  اِلٰی عَبۡدِہٖ  مَاۤ  اَوۡحٰی    -- “Lalu Dia mewahyukan kepada hamba-Nya apa yang telah Dia wahyukan kadang-kadang dipergunakan untuk menyatakan kehormatan, keheranan, atau untuk memberikan tekanan arti (Aqrab-ul-Mawarid). Ayat ini mengandung arti bahwa Allah Swt. menurunkan wahyu Al-Quran kepada hamba-Nya, dan alangkah bagus lagi hebatnya wahyu itu!

Makna  Pohon Sidrah Tertinggi” & Hakikat “Pingsannya” Nabi Musa a.s.

  Makna ayat: مَا کَذَبَ الۡفُؤَادُ  مَا  رَاٰی  --  Hati Rasulullah sekali-kali tidak berdusta apa yang dia lihat.“ Hakikatnya  ialah apa yang telah dilihat atau dialami oleh Nabi Besar Muhammad saw.   adalah pengalaman hakiki, dan  pengalaman beliau saw. itu kebenaran sejati dan bukan tipuan khayal beliau saw..     Makna ayat selanjutnya:  اَفَتُمٰرُوۡنَہٗ  عَلٰی مَا یَرٰی     -- “Maka apakah kamu membantahnya mengenai apa yang telah dia lihat?  وَ لَقَدۡ رَاٰہُ  نَزۡلَۃً   اُخۡرٰی -- Dan  sungguh   dia benar-benar melihat-Nya kedua kali.” Yakni kasyaf Nabi Besar Muhammad saw.   itu suatu pengalaman ruhani berganda.
  Makna ayat selanjutnya:  عِنۡدَ سِدۡرَۃِ  الۡمُنۡتَہٰی      -- “Dekat pohon Sidrah tertinggi, عِنۡدَہَا جَنَّۃُ  الۡمَاۡوٰی  --    yang di dekatnya ada surga, tempat tinggal.” Nabi Besar Muhammad saw. pada waktu mi’raj  telah mencapai martabat qurb Ilahi (kedekatan kepada Allah Swt.) demikian tinggi, sehingga sungguh berada di luar jangkauan otak manusia untuk memahaminya.
Atau ayat ini dapat berarti bahwa pada martabat itu terbentang di hadapan beliau saw. bagaikan samudera luas tanpa tepi – samudera makrifat Ilahi,  hakikat-hakikat serta kebenaran-kebenaran abadi. Sadir yang diambil dari akar kata yang sama berarti bahwa makrifat Ilahi yang dilimpahkan kepada Nabi Besar Muhammad saw.   akan seperti halnya pohon Sidrah memberikan kesenangan dan naungan kepada para musafir ruhani yang merasa kakinya letih dan payah.
   Lebih-lebih karena daun pohon Sidrah memiliki khasiat mengawetkan mayat dari proses pembusukan, ayat  عِنۡدَ سِدۡرَۃِ  الۡمُنۡتَہٰی      -- “Dekat pohon Sidrah tertinggi”,  ini dapat berarti  bahwa ajaran Islam (Al-Quran)  yang diwahyukan Allah Swt. kepada Nabi Besar Muhammad saw.  tidak hanya kebal terhadap bahaya kerusakan  -- karena mendapat jaminan pemeliharaan Allah Swt. (QS.15:10)   --  melainkan juga baik sekali guna menolong dan memelihara umat manusia terhadap kerusakan dan kematian ruhani.
   Atau, ayat  عِنۡدَ سِدۡرَۃِ  الۡمُنۡتَہٰی      -- “Dekat pohon Sidrah tertinggi, عِنۡدَہَا جَنَّۃُ  الۡمَاۡوٰی  --    yang di dekatnya ada surga, tempat tinggal” mengandung kabar gaib (nubuatan) yang mengisyaratkan kepada sebatang pohon, yang di bawah pohon itu para sahabat Nabi Besar Muhammad saw. di Hudaibiyah    mengikat janji setia (bai’at) kepada beliau saw. pada peristiwa Perjanjian Hudaibiyah (QS.48:19).
  Kata-kata “yang menutupi”  dalam ayat selanjutnya: اِذۡ  یَغۡشَی السِّدۡرَۃَ  مَا یَغۡشٰی  --  Ketika pohon Sidrah diselubungi oleh sesuatu yang menyelubungi maknanya ialah penjelmaan Ilahi.  مَا زَاغَ الۡبَصَرُ  وَ مَا طَغٰی --  Penglihatannya sekali-kali tidak menyimpang dan tidak pula melantur.  لَقَدۡ رَاٰی مِنۡ اٰیٰتِ رَبِّہِ  الۡکُبۡرٰی --    Sungguh  ia benar-benar melihat Tanda paling besar dari Tanda-tanda Rabb-nya (Tuhan-Nya). (An-Najm [53]:1-18-19).
 Firman Allah Swt. dalam dua ayat terakhir surah An-Najm  menjelaskan bahwa “Tajalliyati Ilahiyah” (penampakan keagungan Allah Swt.) kepada Nabi Besar Muhammad saw. merupakan tajalli  Allah Swt.  yang paling sempurna,  yang belum pernah terjadi para para rasul Allah sebelumnya, sehingga Nabi Musa a.s. pun “pingsan” pada saat Allah Swt. bertajalli pada sebuah gunung dalam kasyaf (penglihatan ruhani) yang dialami oleh Nabi Musa a.s.  lalu  setelah siuman dari “pingsannya” Nabi Musa a.s. menyatakan beriman kepada Nabi Besar Muhammad saw., firman-Nya:
وَ لَمَّا جَآءَ مُوۡسٰی لِمِیۡقَاتِنَا وَ کَلَّمَہٗ رَبُّہٗ ۙ قَالَ رَبِّ اَرِنِیۡۤ   اَنۡظُرۡ   اِلَیۡکَ ؕ قَالَ لَنۡ تَرٰىنِیۡ  وَ لٰکِنِ  انۡظُرۡ  اِلَی  الۡجَبَلِ فَاِنِ اسۡتَقَرَّ مَکَانَہٗ فَسَوۡفَ تَرٰىنِیۡ ۚ فَلَمَّا تَجَلّٰی رَبُّہٗ  لِلۡجَبَلِ جَعَلَہٗ  دَکًّا وَّ خَرَّ مُوۡسٰی صَعِقًا ۚ فَلَمَّاۤ  اَفَاقَ قَالَ سُبۡحٰنَکَ تُبۡتُ  اِلَیۡکَ  وَ اَنَا  اَوَّلُ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ ﴿﴾ 
Dan  tatkala Musa datang pada waktu yang Kami tetapkan dan Rabb-nya (Tuhan-nya) bercakap-cakap dengannya, ia berkata: “Ya Rabb-ku (Tuhan-ku), perlihatkanlah kepadaku supaya aku dapat memandang Engkau.” Dia berfirman: “Engkau tidak akan pernah dapat melihat-Ku  tetapi pandanglah gunung itu, lalu jika ia tetap ada pada tempatnya  maka engkau pasti  akan dapat melihat-Ku.”  فَلَمَّا تَجَلّٰی رَبُّہٗ  لِلۡجَبَلِ جَعَلَہٗ  دَکًّا وَّ خَرَّ مُوۡسٰی صَعِقًا  -- Maka  tatkala Rabb-nya (Tuhan-nya) menjelmakan keagungan-Nya pada  gunung itu  Dia menjadikannya hancur lebur, dan Musa pun jatuh pingsan.  ۚ فَلَمَّاۤ  اَفَاقَ قَالَ سُبۡحٰنَکَ تُبۡتُ  اِلَیۡکَ  وَ اَنَا  اَوَّلُ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ -- Lalu tatkala ia sadar kembali  ia berkata: “Mahasuci Engkau, aku bertaubat  kepada Engkau dan aku adalah orang pertama di antara orang-orang yang beriman kepadanya di masa ini.”  (Al-A’rāf [7]:144). 

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid

oo0oo
Pajajaran Anyar, 17    Februari  2017




Tidak ada komentar:

Posting Komentar