Bismillaahirrahmaanirrahiim
ISLAM
Pidato Mirza Ghulam Ahmad a.s.
Tgl. 2 November 1904
di Kota Sialkote – Hindustan
Bab 29
PENGUSIRAN ORANG-ORANG YAHUDI DI BERBAGAI ZAMAN & KONSPIRASI KEMBALINYA ORANG-ORANG YAHUDI KE PALESTINA DARI PENGEMBARAAN SELAMA 2000
TAHUN DI BERBAGAI WILAYAH DUNIA MERUPAKAN SALAH SATU TANDA KEBENARAN RASUL AKHIR ZAMAN
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam bagian akhir Bab 28 telah dijelaskan
topik Dua Pengusiran Tiga
Suku Yahudi Dari Medinah. Sebagaimana akkibat penentangan yang dilakukan orang-orang
Yahudi terhadap Nabi Daud a.s. dan Nabi
Sulaiman a.s. – sehingga mendapat kutukan
kedua rasul Allah tersebut
QS.5:80-81) -- telah mengakibatkan mereka dibuang
ke Babilonia oleh balatentara raja Nebukadnezar, demikian pula orang-orang Yahudi yang
tinggal di Medinah pun -- karena
melakukan “makar buruk” yang sama
terhadap Nabi Besar Muhammad saw.. (QS.2:103)
-- mereka pun diusir dari Madinah
lalu mereka mendirikan pemukiman dan benteng
pertahanan di Khaibar.
Runtuhnya “Benteng Khaibar”
Tetapi “benteng” yang mereka banggakan tersebut terbukti tidak mampu melindungi mereka dari kepungan pasukan Muslim yang dipimpin oleh Ali
bin Abi Thalib r.a. yang dipilih secara khusus oleh Nabi Besar Muhammad
saw. -- padahal ketika itu beliau sedang
menderita sakit mata -- firman-Nya:
ہُوَ الَّذِیۡۤ اَخۡرَجَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا مِنۡ اَہۡلِ
الۡکِتٰبِ مِنۡ دِیَارِہِمۡ لِاَوَّلِ
الۡحَشۡرِ ؕؔ مَا ظَنَنۡتُمۡ اَنۡ
یَّخۡرُجُوۡا وَ ظَنُّوۡۤا
اَنَّہُمۡ مَّانِعَتُہُمۡ
حُصُوۡنُہُمۡ مِّنَ اللّٰہِ فَاَتٰىہُمُ
اللّٰہُ مِنۡ حَیۡثُ لَمۡ یَحۡتَسِبُوۡا ٭
وَ قَذَفَ فِیۡ قُلُوۡبِہِمُ الرُّعۡبَ یُخۡرِبُوۡنَ بُیُوۡتَہُمۡ بِاَیۡدِیۡہِمۡ وَ اَیۡدِی الۡمُؤۡمِنِیۡنَ ٭ فَاعۡتَبِرُوۡا یٰۤاُولِی الۡاَبۡصَارِ ﴿﴾ وَ لَوۡ لَاۤ اَنۡ کَتَبَ اللّٰہُ عَلَیۡہِمُ الۡجَلَآءَ لَعَذَّبَہُمۡ فِی الدُّنۡیَا ؕ وَ لَہُمۡ فِی الۡاٰخِرَۃِ عَذَابُ النَّارِ ﴿﴾ ذٰلِکَ بِاَنَّہُمۡ
شَآقُّوا اللّٰہَ وَ رَسُوۡلَہٗ ۚ وَ مَنۡ یُّشَآقِّ اللّٰہَ
فَاِنَّ اللّٰہَ شَدِیۡدُ الۡعِقَابِ ﴿﴾ مَا قَطَعۡتُمۡ مِّنۡ لِّیۡنَۃٍ
اَوۡ تَرَکۡتُمُوۡہَا
قَآئِمَۃً عَلٰۤی اُصُوۡلِہَا فَبِاِذۡنِ اللّٰہِ وَ لِیُخۡزِیَ
الۡفٰسِقِیۡنَ ﴿﴾
Dia-lah Yang mengeluarkan orang-orang yang kafir di
antara Ahlikitab dari rumah-rumah mereka
pada pengusiran pertama. Kamu sekali-kali
tidak menyangka bahwa mereka akan keluar, dan mereka pun menyangka bahwa benteng-benteng akan
melindungi mereka dari keputusan Allah, maka Allah
datang kepada mereka dari arah mana yang tidak mereka sangka, dan Dia melemparkan kecemasan dalam kalbu
mereka, sehingga mereka merobohkan
rumah mereka dengan tangan mereka sendiri dan dengan tangan orang-orang beriman, maka ambillah pelajaran hai orang-orang yang memiliki penglihatan. Dan seandainya tidak karena Allah telah
menetapkan pengusiran terhadap mereka, niscaya Allah telah mengazab mereka di dunia ini juga,
dan bagi mereka di akhirat ada
azab Api. Hal demikian
itu karena mereka menentang Allah
dan Rasul-Nya, dan barangsiapa
menentang Allah, maka sesungguhnya
azab Allāh sangat keras. Pohon kurma apa saja jenisnya yang kamu tebang
atau kamu membiarkannya berdiri pada
akar-akarnya maka itu dengan izin
Allah, supaya Dia menghinakan
orang-orang durhaka (Al-Hasyr
[59]:3-6).
Di Medinah tinggal tiga golongan suku Yahudi yaitu Banu Qainuqa’, Banu Nadhir, dan Banu
Quraizhah. Ayat ini mengisyaratkan kepada pengusiran
Banu Nadhir dari Medinah. Suku ini sama seperti suku Qainuqa’ sebelum mereka, telah berlaku khianat terhadap Nabi Besar Muhammad saw. dan kaum Muslimin pada
beberapa peristiwa. Mereka menjalin jaringan
komplotan dan memasuki persekutuan-persekutuan
rahasia dengan musuh-musuh Islam
untuk tujuan mengadakan perlawanan
terhadap Nabi Besar Muhammad saw. dan kaum Muslimin.
Orang-orang Yahudi berulang-ulang melanggar perjanjian mereka dan mengkhianati
persetujuan-persetujuan resmi untuk tetap berdiri netral di antara Nabi Besar Muhammad saw. dengan musuh-musuh beliau saw., dan
bahkan telah berkomplot hendak membunuh beliau saw.. Pemimpin mereka, Ka'b bin Asyraf, pergi ke Mekkah untuk
mengumpulkan bala bantuan dari kaum
Quraisy dan dari suku-suku musyrik
lain di sekitar Mekkah untuk mengusir
Nabi Besar Muhammad saw. dan kaum Muslimin
dari Medinah.
Pengusiran Orang-orang Yahudi Dari
Madinah & Melakukan “Politik
Bumi Hangus”
Sesudah kekalahan sementara yang diderita oleh
kaum Muslimin di Uhud, kasak-kusuk dan perlawanan terhadap Nabi Besar Muhammad saw. kian menjadi-jadi. Maka setelah keaniayaan mereka melampaui batas serta kehadiran mereka di Medinah ternyata selalu
merupakan sumber bahaya kematian kaum
Muslimin dan negara Islam, baru pada saat itulah Nabi Besar Muhammad saw. mengambil tindakan terhadap mereka. Beliau saw. memerintahkan mengepung benteng mereka dan, setelah mereka
dengan sia-sia bertahan selama 21
hari, pada akhirnya mereka menyerah.
Mereka diperintahkan
meninggalkan Medinah lalu mereka
semua berangkat ke Siria, kecuali dua
keluarga memilih tetap tinggal di Khaibar.
Nabi Besar Muhammad saw. luar biasa baik hati dan lemah-lembutnya
terhadap mereka. Beliau saw. mengizinkan
mereka membawa harta-benda dan ternak mereka. Mereka bertolak dengan
aman dari Medinah, tetapi mereka tidak berbuat demikian sebelum mereka
dihinggapi rasa putus asa dari
mendapat bantuan yang dinanti-nanti mereka dari sekutu-sekutu mereka di Mekkah
dan dari kaum muna-fikin di Medinah, dan lagi pula telah terbukti bahwa benteng mereka, yang mereka duga tidak terbobolkan itu, ternyata tidak
dapat menyelamatkan mereka.
Mengingat rencana jahat dan tipu-daya orang-orang Yahudi, persekongkolan-persekongkolan
dan perkomplotan-perkomplotan rahasia
mereka, serta perbuatan khianat dan kepalsuan yang dibuktikan mereka
berulang-ulang, pula pelanggaran perjanjian-perjanjian
resmi yang terjadi setiap kali, maka hukuman
yang dijatuhkan Nabi Besar Muhamad saw. atas mereka itu sungguh amat ringan sekali.
Isyarat di dalam kata-kata: لِاَوَّلِ الۡحَشۡرِ -- “pada waktu
pengusiran pertama”, dapat ditujukan kepada pengusiran
terhadap Banu Qainuqa’ dari Medinah sesudah Pertempuran Badar, atau kata-kata itu dapat pula tertuju kepada pengusiran dari Medinah terhadap ketiga suku Yahudi tersebut di atas oleh
Nabi Besar Muhamad saw.. Itulah pengusiran mereka yang pertama.
Tetapi Umar bin Khaththab r.a., Khalifah kedua Nabi Besar Muhamad saw. mengusir seluruh orang Yahudi dari daerah Arab selebihnya untuk yang kedua kalinya dan yang terakhir. Jadi, kata-kata: لِاَوَّلِ الۡحَشۡرِ -- “pada waktu
pengusiran pertama”, itu dapat dianggap
mengandung suatu kabar gaib bahwa
sesudah suku-suku bangsa Yahudi Medinah diusir
oleh Nabi Besar Muhammad saw. semua orang
Yahudi akan mengalami nasib yang sama
pada waktu kemudian.
Kecemasan yang Ditimbulkan Allah Swt.
Melalui Penebangan Beberapa Pohon Kurma Tak Bermutu
Mengingat akan sumber-sumber daya materi, persekutuan
politik, dan organisasi orang-orang Yahudi di Medinah, kaum Muslim
tidak pernah dapat membayangkan
betapa orang-orang Yahudi bisa diusir
dari Medinah dengan begitu mudah
tanpa kehilangan jiwa manusia pada
kedua belah pihak.
Makna ayat: وَ قَذَفَ فِیۡ قُلُوۡبِہِمُ
الرُّعۡبَ یُخۡرِبُوۡنَ بُیُوۡتَہُمۡ
بِاَیۡدِیۡہِمۡ وَ اَیۡدِی
الۡمُؤۡمِنِیۡنَ ٭ فَاعۡتَبِرُوۡا
یٰۤاُولِی الۡاَبۡصَارِ -- “dan Dia
melemparkan kecemasan
dalam kalbu mereka, sehingga mereka
merobohkan rumah mereka dengan tangan mereka sendiri dan dengan tangan orang-orang beriman, maka ambillah pelajaran hai orang-orang yang memiliki penglihatan.”
Sebelum berangkat dari
Medinah, Banu Nadhir telah membumi-hanguskan dengan tangan mereka
sendiri rumah-rumah mereka serta kekayaan yang tidak bergerak lainnya di
hadapan mata kaum Muslimin. Nabi Besar Muhammad saw. telah memberi tempo 10 hari untuk
menyelesaikan urusan mereka sebagaimana diinginkan oleh mereka. Jadi, orang-orang Yahudi Medinah adalah yang
pertama-tama menjalankan politik
bumi-hangus, berabad-abad sebelum bangsa Rusia melakukan serupa itu dalam Perang Dunia kedua.
Pembuangan Banu
Nadhir dari Medinah merupakan suatu hukuman
yang amat ringan. Mereka selayaknya mendapat hukuman yang lebih berat lagi;
dan seandainya mereka tidak dibuang,
niscaya mereka telah mendapat hukuman
keras dengan suatu cara lain itulah makna ayat: وَ لَوۡ لَاۤ اَنۡ کَتَبَ اللّٰہُ عَلَیۡہِمُ الۡجَلَآءَ لَعَذَّبَہُمۡ فِی الدُّنۡیَا ؕ وَ لَہُمۡ فِی الۡاٰخِرَۃِ عَذَابُ النَّارِ -- “Dan seandainya tidak karena Allah telah
menetapkan pengusiran terhadap mereka, niscaya Allah telah mengazab mereka di dunia ini juga,
dan bagi mereka di akhirat ada
azab Api.”.
Yang diisyaratkan ayat: مَا
قَطَعۡتُمۡ مِّنۡ لِّیۡنَۃٍ اَوۡ
تَرَکۡتُمُوۡہَا قَآئِمَۃً
عَلٰۤی اُصُوۡلِہَا فَبِاِذۡنِ
اللّٰہِ وَ لِیُخۡزِیَ الۡفٰسِقِیۡنَ -- “Pohon kurma apa saja jenisnya yang kamu tebang
atau kamu membiarkannya berdiri pada
akar-akarnya maka itu dengan izin
Allah, supaya Dia menghinakan
orang-orang durhaka” adalah penebangan
pohon-pohon korma milik Banu
Nadhir atas perintah Nabi Besar Muhammad saw. seperti dinyatakan dalam ayat 3, telah
mengurung diri mereka di dalam benteng-benteng
mereka sebagai tentangan terhadap perintah beliau saw. supaya mereka menyerah.
Setelah pengepungan
berlangsung beberapa hari Nabi Besar
Muhammad saw. memerintahkan untuk memaksa
mereka menyerah dengan mene-bangi pohon-pohon kurma mereka dari
jenis linah yang mutu buahnya sangat buruk dan sama
sekali tidak berguna untuk dimakan manusia (Ar-Raudh-al-Unuf). Baru saja enam pohon ditebang, mereka
menyerah (Zurqani). Perintah Nabi Besar Muhammad saw. itu sangat ringan, lunak, dan sungguh
sesuai dengan hukum perang yang beradab.
Penggenapan Kutukan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.
Jadi, kembali
kepada dua kali hukuman Ilahi yang menimpa
orang-orang kafir di kalangan Bani Israil -- sebagai realisasi kutukan Nabi Daud a.s. dan kutukan
Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (QS.5:80-81)
-- firman-Nya:
وَ قَضَیۡنَاۤ اِلٰی بَنِیۡۤ اِسۡرَآءِیۡلَ فِی الۡکِتٰبِ
لَتُفۡسِدُنَّ فِی الۡاَرۡضِ
مَرَّتَیۡنِ وَ
لَتَعۡلُنَّ عُلُوًّا کَبِیۡرًا ﴿﴾ فَاِذَا جَآءَ وَعۡدُ اُوۡلٰىہُمَا
بَعَثۡنَا عَلَیۡکُمۡ
عِبَادًا لَّنَاۤ اُولِیۡ بَاۡسٍ
شَدِیۡدٍ فَجَاسُوۡا
خِلٰلَ الدِّیَارِ ؕ وَ کَانَ وَعۡدًا مَّفۡعُوۡلًا ﴿﴾ ثُمَّ رَدَدۡنَا لَکُمُ الۡکَرَّۃَ
عَلَیۡہِمۡ وَ اَمۡدَدۡنٰکُمۡ بِاَمۡوَالٍ وَّ بَنِیۡنَ وَ جَعَلۡنٰکُمۡ اَکۡثَرَ
نَفِیۡرًا ﴿﴾ اِنۡ اَحۡسَنۡتُمۡ اَحۡسَنۡتُمۡ لِاَنۡفُسِکُمۡ ۟ وَ اِنۡ اَسَاۡتُمۡ فَلَہَا ؕ فَاِذَا جَآءَ وَعۡدُ الۡاٰخِرَۃِ لِیَسُوۡٓءٗا وُجُوۡہَکُمۡ وَ لِیَدۡخُلُوا الۡمَسۡجِدَ کَمَا دَخَلُوۡہُ اَوَّلَ مَرَّۃٍ وَّ لِیُتَبِّرُوۡا
مَا عَلَوۡا تَتۡبِیۡرًا ﴿﴾
عَسٰی
رَبُّکُمۡ اَنۡ یَّرۡحَمَکُمۡ ۚ وَ اِنۡ عُدۡتُّمۡ عُدۡنَا ۘ وَ جَعَلۡنَا جَہَنَّمَ
لِلۡکٰفِرِیۡنَ حَصِیۡرًا ﴿﴾
Dan telah
Kami tetapkan terhadap Bani Israil dalam kitab itu: “Niscaya kamu akan
melakukan kerusakan di muka bumi ini dua kali, dan niscaya kamu akan menyombongkan diri dengan
kesombongan yang sangat besar.” Apabila
datang saat sempurnanya janji yang pertama dari kedua janji
itu, Kami membangkitkan untuk menghadapi kamu hamba-hamba Kami yang
mempunyai kekuatan tempur yang dahsyat, dan mereka menerobos jauh ke dalam
rumah-rumah, dan itu merupakan suatu janji yang pasti terlaksana. Kemudian Kami
mengembalikan lagi kepada kamu kekuatan untuk melawan mereka, dan Kami membantu kamu dengan harta dan
anak-anak, dan Kami menjadikan kelompok kamu lebih besar dari
sebelumnya. Jika kamu berbuat ihsan, kamu
berbuat ihsan bagi diri kamu sendiri,
dan jika kamu berbuat buruk maka itu untuk diri kamu sendiri. Lalu jika datang saat sempurnanya janji yang kedua itu Kami
membangkitkan lagi hamba-hamba Kami yang lain supaya mereka mendatangkan kesusahan kepada pemimpin-pemimpin kamu
dan supaya mereka memasuki masjid seperti pernah mereka memasukinya pada
ka-li pertama, dan supaya mereka
menghancurluluhkan segala yang telah me-reka kuasai. Boleh
jadi kini Rabb (Tuhan) kamu
akan menaruh kasihan kepada kamu, tetapi jika kamu kembali kepada perbuatan buruk, Kami pun akan kembali menimpakan
hukuman dan ingatlah Kami telah jadikan Jahannam penjara bagi orang-orang kafir. (Bani
Israil [17]:5-9).
Makna لِیَسُوۡٓءٗا وُجُوۡہَکُمۡ -- “supaya
mereka menghina wajah-wajah kamu”, dalam firman-Nya berikut ini berarti pula, “Supaya mereka akan menghina
pemimpin-pemimpin kamu.” Kata wujuh (wajah-wajah) berarti pula
pemimpin-pemimpin (Lexicon Lane),
firman-Nya: "Lalu bila datang saat sempurnanya janji yang kedua itu Kami
membangkitkan lagi hamba-hamba Kami yang lain supaya mereka mendatangkan kesusahan kepada pemimpin-pemimpin kamu
dan supaya mereka memasuki masjid seperti pernah mereka memasukinya pada kali
pertama, dan supaya mereka meng-hancurluluhkan
segala yang telah mereka kuasai. (Bani Israil [17]:8).
Ayat ini membicarakan jatuhnya kembali orang-orang Yahudi ke lembah keburukan,
dan tentang azab yang menimpa mereka sebagai akibatnya. Mereka menentang
dan menganiaya Nabi Isa Ibnu Maryam
a.s. serta berusaha membunuh beliau pada palang salib dan memusnahkan pergerakan
beliau (QS.4:156-159).
Serbuan Panglima Titus
dari Kerajaan Romawi & Serbuan Ya’juj (Gog) dan Ma’juj
(Magog) Atau “Kebo Bule” (Kerbau Bule)
Oleh sebab itu Allah Swt. menimpakan kepada
mereka azab yang sangat keras, ketika
pada tahun 70 M. pasukan-pasukan Romawi
di bawah pimpinan Titus melanda negeri itu, dan di tengah-tengah
kejadian-kejadian mengerikan yang
tidak ada bandingannya dalam sejarah itu, kota
Yerusalem kembali dihancurkan dan rumah peribadatan Nabi Sulaiman a.s. dibumihanguskan (Matius 24:15-28; Encyclopaedia Biblica, pada kata “Yerusalem”).
Malapetaka itu terjadi ketika Nabi Isa a.s. masih hidup di Kasymir (QS.23:51). Hal ini pun dinubuatkan
oleh Nabi Musa a.s. (Ulangan
32: 18-26).
Perlu pula dicatat di sini, bahwa nubuatan mengenai azab kedua kali itu telah disebut dalam Bible sesudah adanya nubuatan
yang membicarakan hukuman pertama (Ulangan Bab 28). Lebih dari itu,
bahkan nubuatan ini disebut sesudah nubuatan mengenai kembalinya orang-orang Yahudi ke Yerusalem (Ulangan 30:1-5). Hal
ini menunjukkan, bahwa nubuatan ini (Ulangan
32:18-26) menunjuk kepada azab yang
kedua, yang telah disinggung dalam Al-Quran, yaitu “Niscaya kamu akan
melakukan kerusakan besar di muka bumi
ini dua kali.” (QS.17:5).
Surah bani Israil ayat 5-9 tersebut mengandung nubuatan dan peringatan
bagi umat Islam, bahwa seperti orang
Yahudi mereka pun akan dihukum dua kali,oleh
Allah Swt. jika mereka tidak mau meninggalkan kebiasaan-kebiasaan buruk mereka. Tetapi umat
Islam tidak memperoleh faedah dari peringatan yang tepat pada
waktunya itu, serta tidak meninggalkan cara-cara
yang buruk; dan oleh karena itu telah dihukum dua kali.
Hukuman menimpa mereka, diawali dengan serbuan-serbuan dahsyat balatentara Mongol dan Tartar pimpinan Jenghis
Khan dan mencapai puncaknya ketika kota Baghdad
jatuh pada tahun 1258 M. Yakni pasukan-pasukan
Mongol dan Tartar yang dipimpin cucu Jenghis Khan – yakni -- Hulaku Khan -- yang
biadab itu sama sekali memusnahkan
pusat ilmu pengetahuan dan kekuasaan
yang agung itu, dan konon kabarnya 1.800.000
orang Islam telah terbunuh pada
ketika itu.
Tetapi dari malapetaka mengerikan yang menimpa umat Islam itu akhirnya Islam
keluar sebagai pemenang. Mereka yang menaklukkan
menjadi yang ditaklukkan. Yakni cucu Hulaku Khan bersama-sama sejumlah besar
orang Moghul dan Tartar memeluk agama Islam,
dan bahkan keturunan mereka berhasil
mendirikan dinasti Mughal di
Hindustan.
Hukuman kedua telah ditakdirkan akan menimpa umat Islam di Akhir Zaman ini melalui penyerbuan bangsa-bangsa barat
yang beragama Kristen yang disebut Ya’juj (Gog) dan Majuj (Magog – QS.21:96-97), yang
siasatnya dimulai dengan mencari komoditi
ekonomi tetapi berujung melakukan
penjajahan (QS.18:19-22) -- dan melakukan politik “devide et Impera” (memecah-belah lalu
menjajah), sebagaimana yang dilakukan Dinasti Fir’aun di Mesir terhadap Bani Israil (QS.28:3-9).
Mereka menyebar ke berbagai wilayah dunia, termasuk ke Hindustan dan juga ke wilayah Nusantara -- yang dalam Uga Wangsit Prabu Siliwangi disebut
datangnya “kebo bule” (kerbau bule) yang bermata biru -- firman-Nya:
یَّوۡمَ یُنۡفَخُ فِی الصُّوۡرِ وَ
نَحۡشُرُ الۡمُجۡرِمِیۡنَ یَوۡمَئِذٍ زُرۡقًا ﴿﴾ۚۖ یَّتَخَافَتُوۡنَ
بَیۡنَہُمۡ اِنۡ لَّبِثۡتُمۡ اِلَّا
عَشۡرًا ﴿﴾ نَحۡنُ اَعۡلَمُ بِمَا یَقُوۡلُوۡنَ اِذۡ
یَقُوۡلُ اَمۡثَلُہُمۡ طَرِیۡقَۃً اِنۡ لَّبِثۡتُمۡ اِلَّا یَوۡمًا ﴿﴾٪
Hari ketika nafiri akan ditiup, dan Kami akan menghimpun orang-orang berdosa
yang bermata biru pada hari itu.
Mereka saling berbisik-bisik di antara mereka: "Tidaklah kamu akan tinggal
melainkan hanya sepuluh.” Kami lebih mengetahui mengenai apa yang akan mereka katakan
ketika berkata orang yang paling baik cara hidupnya di antara mereka:
"Tidaklah kamu tinggal
melainkan sehari." (Thā
Hā [20]:103-105).
Isyarat dalam ayat 103 ini nampaknya terutama
ditujukan kepada bangsa-bangsa Kristen
dari barat yang bermata biru, yakni Ya’juj (Gog) dan Ma’juj (Magog) -- dan
mereka itu buta mata ruhaninya serta menyimpan rasa benci tidak kunjung padam terhadap Islam.
Disebut “Hamba-hamba” Allah Swt.
Makna "sepuluh" dalam ayat selanjutnya berarti sepuluh
abad. Isyarat itu ditujukan kepada sepuluh
abad sesudah Hijrah, yang selama
itu bangsa-bangsa Eropa hampir tetap
dalam keadaan tidur belaka (QS.18:19-21).
Baru pada permulaan abad ke-17 bangsa-bangsa Eropa keluar dari keadaan
tidurnya lalu mulai menyebar ke seluruh dunia serta menaklukkan
dunia, yaitu kira-kira 1000 tahun sesudah Nabi Besar Muhammad saw. mulai bertabligh pada awal abad ke-7 (Wahyu
20:7-10; QS.18:10-22).
Thariqat al-qaum berarti kaum yang terbaik atau paling lurus
(Aqrab-ul-Mawarid). Yaum di
sini berarti seribu tahun yang
disinggung dalam QS.22:48 dan bersesuaian dengan "sepuluh" yang tersebut dalam ayat yang mendahuluinya, yaitu sepuluh abad atau 1000 tahun.
Yaum berarti pula waktu yang hakiki.
Dalam pengertian inilah maka orang-orang kafir - ketika ditimpa oleh azab Ilahi yang dahsyat -- dilukiskan
mengatakan bahwa masa kesejahteraan
dan kemajuan duniawi mereka itu hanya berlaku satu hari saja, yaitu sangat
pendek.
Jadi, walau pun bangsa-bangsa yang telah dua kali mengalahkan Bani Israil dan umat Islam
Bani Isma’il tersebut “orang-orang musyrik” tetapi Allah Swt.
telah menyebut mereka dengan sebutan “hamba-hamba Kami”, firman-Nya:
وَ قَضَیۡنَاۤ اِلٰی بَنِیۡۤ اِسۡرَآءِیۡلَ فِی الۡکِتٰبِ
لَتُفۡسِدُنَّ فِی الۡاَرۡضِ
مَرَّتَیۡنِ وَ
لَتَعۡلُنَّ عُلُوًّا کَبِیۡرًا ﴿﴾ فَاِذَا جَآءَ وَعۡدُ اُوۡلٰىہُمَا
بَعَثۡنَا عَلَیۡکُمۡ
عِبَادًا لَّنَاۤ اُولِیۡ بَاۡسٍ
شَدِیۡدٍ فَجَاسُوۡا
خِلٰلَ الدِّیَارِ ؕ وَ کَانَ وَعۡدًا مَّفۡعُوۡلًا ﴿﴾
Dan telah
Kami tetapkan terhadap Bani Israil dalam kitab itu: “Niscaya kamu
akan melakukan kerusakan di muka bumi ini dua kali, dan niscaya kamu akan menyombongkan diri dengan kesombongan yang sangat besar.” Apabila datang saat sempurnanya
janji yang pertama dari kedua janji itu, Kami membangkitkan untuk menghadapi kamu
hamba-hamba Kami yang mempunyai kekuatan tempur yang dahsyat, dan mereka menerobos jauh ke dalam rumah-rumah, dan itu merupakan suatu janji yang pasti
terlaksana (Bani Israil [17]:5-6).
Kembalinya Kaum Yahudi Ke Palestina dari Pengembaraan
Selama 2000 Tahun & Berdirinya “Negara Israel”
Dengan demikian jelaslah bahwa bahwa
walau pun bangsa-bangsa Kristen dari Barat – sejak zaman kerajaan Romawi dipimpin Kaisar Constantine sampai
saat ini – bukanlah pengikut ajaran
asli Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. melainkan pengikut ajaran Paulus (QS.7:170) yang mempercayai “Trinitas” dan “penebusan dosa” melalui “kematian terkutuk” Nabi Isa Ibnu Maryam
di tiang salib, tetapi mereka telah dijadikan
Allah Swt. sebagai “sarana” untuk menghukum
umat Islam yang kedua kali di Akhir Zaman, sebab mereka pulalah yang memungkinkan kaum Yahudi -- yang selama 2000 tahun tercerai-berai di luar “Palestina”
-- dapat kembali ke Palestina dan
mendirikan “negara Israel” di wilayah
Palestina, firman-Nya:
وَّ قُلۡنَا
مِنۡۢ بَعۡدِہٖ لِبَنِیۡۤ اِسۡرَآءِیۡلَ اسۡکُنُوا الۡاَرۡضَ فَاِذَا
جَآءَ وَعۡدُ الۡاٰخِرَۃِ جِئۡنَا بِکُمۡ لَفِیۡفًا ﴿﴾ؕ
Dan setelah
dia, yakni Fir’aun, Kami berfirman kepada Bani
Israil: ”Tinggallah di negeri yang dijanjikan
itu, dan apabila janji mengenai akhir zaman tiba Kami
akan menghimpun kamu semuanya dari antara berbagai bangsa.” (Bani
Israil [17]:105).
Ayat
ini mengandung arti bahwa seperti orang-orang
Yahudi, demikian pula umat Islam
pun dua kali akan menderita bencana
nasional. Yang pertama dari kedua bencana ini menimpa umat Islam ketika kota Baghdad
jatuh kepada kekuasaan bangsa Tartar dan
Mongol di bawah pimpinan Hulaku Khan.
Umat Islam dalam ayat ini diperingatkan Allah Swt. bahwa mereka
akan ditimpa azab Ilahi untuk kedua
kali di Akhir Zaman -- yakni di masa Masih Mau’ud a.s. seperti orang-orang Yahudi diberi hukuman
di zaman Al-Masih pertama - Nabi Isa
Ibnu Maryam a.s..
Ayat ini
berarti, bahwa manakala umat Islam akan dihukum
untuk kedua kalinya, yang berarti sempurnanya “janji mengenai Akhir Zaman”,
maka orang-orang Yahudi yang
tercerai-verai di berbagai wilayah dunia
akan dihimpun kembali di tanah suci (Palestina).
Nubuatan ini telah menjadi sempurna
dengan cara yang luar biasa dengan kembalinya orang-orang Yahudi ke Palestina
-- dengan perantaraan “Balfour Declaration” (Pernyataan
Balfour) yang disponsori negara-negara
Kristen Eropa, terutama Inggris -- dengan didirikannya apa yang dikatakan Negara Israil. Jadi, “Janji
mengenai Akhir Zaman” itu bertalian dengan masa Masih Mau’ud a.s. atau Isa
Al-Masih Akhir Zaman a.s. (Bayan).
Bukti Benarnya Larangan
Allah Swt. dalam Surah Al-Maidah Ayat 52
Dengan demikian benarlah peringatan Allah Swt. yang dikemukakan
dalam firman-Nya berikut ini:
یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا لَا
تَتَّخِذُوا الۡیَہُوۡدَ وَ النَّصٰرٰۤی اَوۡلِیَآءَ ۘؔ بَعۡضُہُمۡ اَوۡلِیَآءُ
بَعۡضٍ ؕ وَ مَنۡ یَّتَوَلَّہُمۡ مِّنۡکُمۡ فَاِنَّہٗ مِنۡہُمۡ ؕ اِنَّ اللّٰہَ لَا یَہۡدِی الۡقَوۡمَ الظّٰلِمِیۡنَ ﴿﴾
Hai
orang-orang yang ber-iman! Janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi
dan orang-orang Nasrani menjadi wali
(pelindung/sahabat), sebagian mereka adalah penolong sebagian
lainnya. Dan barangsiapa di antara kamu mengambil mereka
menjadi pelindung-pelindung maka sesungguhnya
ia dari mereka. Sesungguhnya Allah
tidak memberi petunjuk kepada kaum yang zalim. (Al-Māidah [5]:52). Lihat
pula QS.3:29 & 119-121; QS.4:145; QS.5:58; QS.60:9-10.
Dalam
QS.5:52 orang-orang Islam dilarang bersahabat dengan orang-orang kafir – dengan mengenyampingkan sesama Muslim (QS.3:29 & 119-121; QS.4:145) --
karena sikap
tidak bersahabat mereka itu dan karena mereka secara aktif memerangi mereka. Ayat ini memberikan alasan perintah itu, tetapi hal itu tidak berarti bahwa orang-orang Islam dihalang-halangi (dilarang) mempunyai hubungan bersahabat dalam bentuk
bagaimanapun dengan orang-orang kafir
atau berbuat baik terhadap mereka dan
memperlakukan mereka itu dengan baik (QS.60:9-10).
Salah satu alasan larangan Allah
Swt. tersebut adalah karena walau pun antara orang-orang Yahudi dan Nasrani
(Kristen) bertentangan pendapat mengenai Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. – bahkan saling
mengkafirkan (QS.2:114) -- tetapi
jika menghadapi umat Islam mereka
akan melupakan pertentangan di antara
mereka (QS.2:121).
Contohnya yang nyata adalah konspirasi kembalinya
orang-orang Yahudi ke Palestina dari pengembaraan
mereka selama 2000 tahun di berbagai
wilayah dunia (QS.17:105) sejak mendapat kutukan
dari Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.
(QS.5:80) dan mereka mendirikan “negara Israel”.
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran Anyar, 27 Februari
2017
Tidak ada komentar:
Posting Komentar