Senin, 13 Februari 2017

Pentingnya Melakukan "Bai'at" (Jual-beli) Dengan Allah Swt. Melalui "Kepatuh-taatan" Kepada Nabi Besar Muhammad Saw. dan Hubungannya Dengan Makna Kalimat "Uqtulu Anfusakum -- Bunuhlah Diri Kamu"



Bismillaahirrahmaanirrahiim

  ISLAM
Pidato  Mirza Ghulam Ahmad a.s.
Tgl. 2 November 1904 di Kota Sialkote – Hindustan

Bab  19

  PENTINGNYA MELAKUKAN  BAI’AT  (JUAL-BELI) DENGAN ALLAH SWT. MELALUI KEPATUH-TAATAN KEPADA NABI BESAR MUHAMMAD SAW.    DAN HUBUNGANNYA DENGAN    MAKNA KALIMAT: “UQTULU ANFUSAKUM – BUNUHLAH DIRI KAMU”  

Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam bagian akhir Bab 18 telah dijelaskan topik Pentingnya Memahami “Bahasa Nubuatan” yang Penuh Kiasan & Akibat Buruk Keliru Menafsirkan “Bahasa Kiasan”, sehubungan sabda Nabi Besar Muhammad saw. yang diriwayatkan ‘Aisyah binti Abubakar Shiddiq r.a.:  “Rasulullah saw. pernah bersabda kepada para istrinya, ‘Orang yang paling cepat menyusulku di antara kalian adalah yang paling panjang tangannya.”
     Ternyata yang dimaksud “yang paling panjang tangannya” oleh Nabi Besar Muhammad saw. adalah yang paling banyak melakukan shadaqah yaitu Zainab binti Jahsy r.a., karena beliau r.a. yang  paling dulu wafat  setelah kewafatan Nabi Besar Muhammad saw.. Sebelum kewafatan Zainab binti Jahsy r.a., para  Ummul-mukminin r.a. (istri-istri Nabi Besar Muhammad saw.)  saling mengukur panjangnya tangan mereka, bertentangan  dengan makna sabda  Nabi Besar Muhammad saw..
       Karena itu betapa pentingnya memahami bahasa nubuatan  yang dikemukakan Nabi Besar Muhammad saw. berkenaan   kedatangan  Imam Mahdi  a.s.,   Nabi Isa Ibnu Maryam  a.s.Dajjal – dengan  berbagai kiasan mengenai keluarbiasaan kemampuannya – mengenai makna  keledai Dajjal, Tanda-tanda Akhir Zaman dan  makna Akhir Zaman atau Kiamat  dan sebagainya.
       Kekeliruan para pemuka Yahudi dalam memahami makna nubuatan kedatangan kedua kali Nabi Elia menjelang kedatangan  Al-Masih (Mesiah) (Malaekhi 4:5-6; Matius 11:7-15) telah menjerumuskan mereka menjadi    maghdhub (yang dimurkai Allah Swt. -- QS.1:7), sebab kekeliruan penafsiran mereka telah mengakibatkan mereka secara berturut-turut mendustakan Nabi Yahya a.s., Nabi Isa Ibnu Maryam a.s., dan  mendustakan  Nabi Besar Muhammad saw. yang nubuatannya mereka ketahui bagaikan mereka mengenal anak-anak mereka sendiri (QS.2:147; Yohanes 1:19-28).
          Padahal ketiga rasul Allah itulah yang dimaksud  nubuatan Bible  berkenaan  (1) kedatangan kedua kali Nabi Elia a.s. (Nabi Yahya  a.s.), (2) kedatangan Al-Masih (Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.) dan (3) kedatangan “nabi yang seperti Musa” atau “nabi yang akan datang” (Ulangan 18: 15-19) atau “Roh kebenaran  yang datang membawa seluruh kebenaran” (Yohanes 16:12-14) atau “Dia yang datang dalam nama Tuhan” (Matius 23:37-39) yakni Nabi Besar Muhammad saw. (QS.7:158-159).
     Demikian pula kekeliruan menafsirkan peristiwa penyaliban Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. yang sangat misterius (QS.4:158-159) telah  “menggelincirkan” orang-orang yang berhati bengkok (QS.3:8-9), sehingga   mereka dalam surah Al-Fatihah  disebut  dhāllīn (orang-orang yang sesat) dari Tauhid Ilahi (QS.1:7; QS.9:30-32), sebab telah “mempertuhankan manusia” (QS.9:30-31).

Pentingnya Melakukan Bai’at Kepada Rasul Akhir Zaman

    Kembali kepada sabda Nabi Besar Muhammad saw. sebelum ini mengenai pentingnya melakukan bai’at kepada Khalifatullah Al-Mahdi:
“Ketika kalian melihatnya (kehadiran Imam Mahdi)  maka berbai’atlah dengannya walaupun harus merangkak-rangkak di atas salju karena sesungguhnya dia adalah Khalifatullah Al-Mahdi.” (HR Abu Dawud, 4074).
          Perintah melakukan “baiat” kepada Imam Mahdi a.s.Khalifah Allah  -- dengan ungkapan “walaupun harus merangkak-rangkak di atas salju”  memiliki hubungan yang sangat  erat dan mengandung makna yang sangat dalam, karena itu  perlu terlebih dulu  memahami makna “bai’at” sebelum menjelaskan makna “merangkak-rangkak di padang salju”.
       Sehubungan dengan masalah bai’at, berikut  firman Allah Swt. kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
اِنَّ  الَّذِیۡنَ یُبَایِعُوۡنَکَ  اِنَّمَا یُبَایِعُوۡنَ اللّٰہَ ؕ یَدُ اللّٰہِ  فَوۡقَ  اَیۡدِیۡہِمۡ ۚ فَمَنۡ  نَّکَثَ فَاِنَّمَا یَنۡکُثُ عَلٰی نَفۡسِہٖ ۚ وَ مَنۡ  اَوۡفٰی بِمَا عٰہَدَ عَلَیۡہُ اللّٰہَ  فَسَیُؤۡتِیۡہِ  اَجۡرًا عَظِیۡمًا ﴿٪﴾
Sesungguhnya orang-orang yang baiat kepada engkau sebenarnya mereka baiat kepada  Allah.  یَدُ اللّٰہِ  فَوۡقَ  اَیۡدِیۡہِمۡ  -- Tangan Allah ada di atas tangan mereka, maka barangsiapa melanggar janjinya maka ia melanggar janji atas  dirinya sendiri, dan barangsiapa memenuhi apa yang telah  dia  janjikan kepada Allah maka Dia segera akan memberinya ganjaran yang besar (Al-Fath [48]:11).  Lihat pula QS.60:13.
   Isyarat itu ditujukan kepada sumpah setia (bai’at) para sahabah r.a.  di tangan Nabi Besar Muhammad saw.  di bawah sebatang pohon di Hudaibiyah (QS.48:10;  Bukhari), ketika tersebar  isu terbunuhnya  Utsman bin ‘Affan r.a., sebagai duta  Nabi Besar Muhammad saw. untuk  melakukan perundingan  dengan para pemimpin kafir Mekkah agar mengizinkan beliau saw. dan para sahabah r.a.  memasuki Mekkah guna melakukan ‘umrah.
   Bai’at – yang artinya “jual-beli”  (QS.9:111)  -- merupakan Sunnah Nabi Besar Muhammad saw. yang diamalkan umat Islam dalam pada waktu pemilihan Khalifatur-Rasyidin dan para pemimpin umat Islam selanjutnya.  Melakukan  bai’at kepada  Nabi Besar Muhammad saw. artinya melakukan  “jual-beli”  dengan Allah Swt.  dengan “perantaraan” beliau saw..:  اِنَّ  الَّذِیۡنَ یُبَایِعُوۡنَکَ  اِنَّمَا یُبَایِعُوۡنَ اللّٰہَ -- “Sesungguhnya orang-orang yang baiat kepada engkau sebenarnya mereka baiat kepada  Allah,      یَدُ اللّٰہِ  فَوۡقَ  اَیۡدِیۡہِمۡ  -- “Tangan Allah ada di atas tangan mereka (QS.48:11). Dalam surah berikut ini Allah Swt. berfirman:  
اِنَّ اللّٰہَ اشۡتَرٰی مِنَ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ اَنۡفُسَہُمۡ وَ اَمۡوَالَہُمۡ بِاَنَّ لَہُمُ الۡجَنَّۃَ ؕ یُقَاتِلُوۡنَ فِیۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ فَیَقۡتُلُوۡنَ وَ یُقۡتَلُوۡنَ ۟ وَعۡدًا عَلَیۡہِ حَقًّا فِی التَّوۡرٰىۃِ وَ الۡاِنۡجِیۡلِ وَ الۡقُرۡاٰنِ ؕ وَ مَنۡ اَوۡفٰی بِعَہۡدِہٖ مِنَ اللّٰہِ فَاسۡتَبۡشِرُوۡا بِبَیۡعِکُمُ الَّذِیۡ بَایَعۡتُمۡ بِہٖ ؕ وَ  ذٰلِکَ ہُوَ الۡفَوۡزُ  الۡعَظِیۡمُ ﴿﴾
Sesungguhnya   Allah telah membeli dari orang-orang beriman jiwa mereka dan harta mereka sesungguhnya mereka akan memperoleh ganjaran surga. Mereka berperang pada jalan Allah, lalu mereka membunuh dan  terbunuh, janji yang haq (benar) atas-Nya  dalam TauratInjil dan Al-Quran. وَ مَنۡ اَوۡفٰی بِعَہۡدِہٖ مِنَ اللّٰہِ فَاسۡتَبۡشِرُوۡا بِبَیۡعِکُمُ الَّذِیۡ بَایَعۡتُمۡ بِہٖ   -- Dan siapakah yang lebih menepati  janjinya  daripada Allah? Maka bergembiralah kamu dengan jual-beli yang telah kamu lakukan dengan-Nya, وَ  ذٰلِکَ ہُوَ الۡفَوۡزُ  الۡعَظِیۡمُ  -- dan itulah kemenangan yang besar  (At-Taubah [9]:111).

Berbagai Manfaat Melakukan Bai’at (Jaal-beli) Dengan Allah Swt. Melalui Nabi Besar Muhammad Saw.

     Dalam ayat selanjutnya dijelaskan manfaat yang diperoleh dari melakukan “bai’at” kepada Nabi Besar Muhammad saw., firman-Nya:
اَلتَّآئِبُوۡنَ الۡعٰبِدُوۡنَ الۡحٰمِدُوۡنَ السَّآئِحُوۡنَ الرّٰکِعُوۡنَ السّٰجِدُوۡنَ الۡاٰمِرُوۡنَ بِالۡمَعۡرُوۡفِ وَ النَّاہُوۡنَ عَنِ الۡمُنۡکَرِ وَ الۡحٰفِظُوۡنَ لِحُدُوۡدِ اللّٰہِ ؕ وَ بَشِّرِ  الۡمُؤۡمِنِیۡنَ ﴿﴾
Yaitu orang-orang yang bertaubat,   yang beribadah, yang memuji Allah, yang bepergian pada jalan Allah, yang ruku', yang sujud,  yang menyuruh terhadap kebaikan, melarang keburukan dan yang menjaga batas-batas yang ditetapkan Allah. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang beriman. (At-Taubah [9]:112).
         Ada pun makna “membeli jiwa” dan “harta” orang-orang beriman dalam ayat:  اِنَّ اللّٰہَ اشۡتَرٰی مِنَ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ اَنۡفُسَہُمۡ وَ اَمۡوَالَہُمۡ بِاَنَّ لَہُمُ الۡجَنَّۃَ -- “Sesungguhnya   Allah telah membeli dari orang-orang beriman jiwa mereka dan harta mereka sesungguhnya mereka akan memperoleh ganjaran surga“  adalah mengorbankan jiwa dan harta di jalan Allah  melalui pengamalkan perintah-perintah Allah Swt. dalam Al-Quran, sebagaimana   firman-Nya berikut ini mengenai bai’at (jual-beli) dengan Allah Swt. yang dilakukan Nabi Besar Muhammad saw.:
قُلۡ  اِنَّنِیۡ ہَدٰىنِیۡ رَبِّیۡۤ  اِلٰی صِرَاطٍ مُّسۡتَقِیۡمٍ ۬ۚ دِیۡنًا قِیَمًا مِّلَّۃَ  اِبۡرٰہِیۡمَ حَنِیۡفًا ۚ وَ مَا کَانَ مِنَ الۡمُشۡرِکِیۡنَ ﴿﴾  قُلۡ  اِنَّ صَلَاتِیۡ  وَ نُسُکِیۡ وَ مَحۡیَایَ وَ مَمَاتِیۡ   لِلّٰہِ   رَبِّ  الۡعٰلَمِیۡنَ ﴿﴾ۙ  لَا شَرِیۡکَ لَہٗ ۚ وَ بِذٰلِکَ اُمِرۡتُ وَ اَنَا  اَوَّلُ الۡمُسۡلِمِیۡنَ ﴿﴾
Katakanlah: “Sesungguhnya aku telah diberi petunjuk oleh Rabb-ku (Tuhan-ku) kepada jalan lurus, agama yang teguh, agama Ibrahim yang lurus dan dia bukanlah dari orang-orang musyrik.” Katakanlah: “Sesungguhnya shalatku, pengorbanankukehidupanku, dan  kematianku  hanyalah untuk Allah, Rabb (Tuhan) seluruh alam; tidak ada sekutu bagi-Nya, untuk itulah aku diperintahkan,  dan akulah orang pertama  yang berserah diri (Al-An’ām [6]:162-164).
   Shalat, korban, hidup, dan mati meliputi seluruh bidang amal perbuatan manusia; dan Nabi Besar Muhammad saw.  diperintah Allah Swt.  menyatakan bahwa semua segi kehidupan di dunia ini dipersembahkan oleh beliau saw. kepada Allah Swt.,  semua amal ibadah beliau saw. dipersembahkan kepada  Allah Swt., semua pengorbanan dilakukan beliau saw. untuk Dia; segala penghidupan dihibahkan beliau saw. untuk berbakti kepada-Nya, maka bila di jalan agama beliau saw. mencari kematian, itu pun guna meraih keridhaan-Nya.
     Demikian sempurnanya “bai’at” (jual-beli) yang dilakukan Nabi Besar Muhammad saw. dengan Allah Swt. sehingga Allah Swt. menyatakan: اِنَّ  الَّذِیۡنَ یُبَایِعُوۡنَکَ  اِنَّمَا یُبَایِعُوۡنَ اللّٰہَ ؕ یَدُ اللّٰہِ  فَوۡقَ  اَیۡدِیۡہِمۡ ۚ    -- Sesungguhnya orang-orang yang bai’at kepada engkau sebenarnya mereka bai’at kepada  Allahیَدُ اللّٰہِ  فَوۡقَ  اَیۡدِیۡہِمۡ  -- Tangan Allah ada di atas tangan mereka,  فَمَنۡ  نَّکَثَ فَاِنَّمَا یَنۡکُثُ عَلٰی نَفۡسِہٖ ۚ وَ مَنۡ  اَوۡفٰی بِمَا عٰہَدَ عَلَیۡہُ اللّٰہَ  فَسَیُؤۡتِیۡہِ  اَجۡرًا عَظِیۡمًا -- maka barangsiapa melanggar janjinya maka ia melanggar janji atas  dirinya sendiri, dan barangsiapa memenuhi apa yang telah  dia  janjikan kepada Allah maka Dia segera akan memberinya ganjaran yang besar (Al-Fath [48]:11).
  Mengenai pentingnya  beriman dan patuh-taat kepada  Nabi Besar Muhammad saw.   selanjutnya Allah Swt. berfirman:        
وَ مَاۤ اَرۡسَلۡنَا مِنۡ رَّسُوۡلٍ اِلَّا لِیُطَاعَ بِاِذۡنِ اللّٰہِ ؕ وَ لَوۡ اَنَّہُمۡ اِذۡ ظَّلَمُوۡۤا اَنۡفُسَہُمۡ جَآءُوۡکَ فَاسۡتَغۡفَرُوا اللّٰہَ وَ اسۡتَغۡفَرَ لَہُمُ الرَّسُوۡلُ لَوَجَدُوا اللّٰہَ تَوَّابًا  رَّحِیۡمًا ﴿﴾ فَلَا وَ رَبِّکَ لَا یُؤۡمِنُوۡنَ حَتّٰی  یُحَکِّمُوۡکَ فِیۡمَا شَجَرَ  بَیۡنَہُمۡ ثُمَّ  لَا  یَجِدُوۡا فِیۡۤ  اَنۡفُسِہِمۡ حَرَجًا  مِّمَّا قَضَیۡتَ  وَ یُسَلِّمُوۡا  تَسۡلِیۡمًا ﴿﴾
Dan sekali-kali tidak Kami  utus seorang rasul pun kecuali supaya ia ditaati  dengan izin Allah. Dan sesungguhnya  seandainya  ketika mereka menzalimi dirinya datang kepada engkau, lalu mereka memohon ampun kepada Allah, dan Rasul pun memintakan ampun bagi mereka, niscaya   mereka akan mendapati Allah benar-benar Maha Penerima taubat, Maha Penyayang. فَلَا وَ رَبِّکَ لَا یُؤۡمِنُوۡنَ حَتّٰی  یُحَکِّمُوۡکَ فِیۡمَا شَجَرَ  بَیۡنَہُمۡ ثُمَّ  لَا  یَجِدُوۡا فِیۡۤ  اَنۡفُسِہِمۡ حَرَجًا  مِّمَّا قَضَیۡتَ  وَ یُسَلِّمُوۡا  تَسۡلِیۡمًا  --  Tidak, demi Rabb (Tuhan) engkau, mereka tidak akan beriman  hingga mereka menjadikan engkau sebagai hakim dalam apa yang menjadi perselisihan di antara mereka, kemudian mereka tidak mendapati suatu keberatan dalam hati mereka mengenai apa yang engkau putuskan dan mereka menerima dengan sepenuhnya   (An-Nisa [4]:65-66). 

Makna lain Perintah “Uqtulu anfusakum -- Bunuhlah Diri Kamu”

       Kadangkala dicoba menarik kesimpulan keliru dari kata-kata: وَ مَاۤ اَرۡسَلۡنَا مِنۡ رَّسُوۡلٍ اِلَّا لِیُطَاعَ بِاِذۡنِ اللّٰہِ  -- “Dan sekali-kali tidak Kami  utus seorang rasul pun kecuali supaya ia ditaati  dengan izin Allah“     bahwa sungguhpun seorang nabi harus ditaati oleh kaumnya yang kepada mereka beliau menyampaikan amanatnya, tapi beliau sendiri tidak perlu menampakkan kesetiaan kepada nabi lain.
      Pandangan seperti itu jelas satu kesimpulan yang keliru. Kenyataan bahwa seorang nabi Allah harus ditaati oleh orang-orang lain  tidak menghalangi kemungkinan bagi dirinya sendiri tunduk kepada dan menjadi pengikut nabi Allah yang  lain.  Contohnya Nabi Harun a.s.  itu seorang nabi Allah yang ikut  dan patuh-taat kepada Nabi Musa a.s.  (QS.2:88; QS.7:143; QS.20:94).
    Perintah untuk patuh-taat  dalam ayat 66  berhubungan dengan Nabi Besar Muhammad saw. sebagai Kepala Negara Islam, dan oleh karenanya perintah itu harus juga berlaku untuk para Khulafa-ur-Rasyidin, karena itu merupakan kewajiban  semua masyarakat  -- termasuk yang Non-Muslim  -- yang ada di wilayah pemerintahan Islam Muslim seperti itu wajib menerima keputusan Nabi Besar Muhammad saw. dan para Khalifah beliau saw..
      Keputusan   atau perintah Nabi Besar Muhammad saw. dan para Khalifah beliau saw. dalam melakukan penghakiman mengenai perselisihan   (persengketaan) yang terjadi di kalangan masyarakat pasti tidak akan menyenangkan   semua pihak yang bersengketa, sebab dalam  setiap memutuskan  perselisihan (persengketaan) harus ada yang dibenarkan dan ada yang disalahkan.
     Allah Swt. memerintahkan kepada kedua-belah pihak yang berselisih (bersengketa) harus menerima keputusan  apa pun yang ditetapkan Nabi Besar Muhammad saw. atau Khalifah  beliau saw.  dengan patuh (QS.2:286; QS.4:47; QS.24:52-53), sebab kepatuhan terhadap keputusan Allah Swt. dan Rasul-Nya identik dengan “memerangi gejolak hawa-nafsu” pada tingkatan nafs Ammarah yang senantiasa mengajak melakukan “pembangkangan” (QS.12:54), firman-Nya:
وَ لَوۡ اَنَّا کَتَبۡنَا عَلَیۡہِمۡ اَنِ اقۡتُلُوۡۤا اَنۡفُسَکُمۡ اَوِ اخۡرُجُوۡا مِنۡ دِیَارِکُمۡ مَّا فَعَلُوۡہُ  اِلَّا قَلِیۡلٌ مِّنۡہُمۡ ؕ وَ لَوۡ اَنَّہُمۡ فَعَلُوۡا مَا یُوۡعَظُوۡنَ بِہٖ لَکَانَ خَیۡرًا لَّہُمۡ  وَ اَشَدَّ  تَثۡبِیۡتًا ﴿ۙ﴾ وَّ اِذًا لَّاٰتَیۡنٰہُمۡ مِّنۡ لَّدُنَّـاۤ اَجۡرًا عَظِیۡمًا ﴿ۙ﴾ وَّ لَہَدَیۡنٰہُمۡ صِرَاطًا مُّسۡتَقِیۡمًا ﴿﴾
Dan seandainya Kami menetapkan kewajiban atas  mereka:  Bunuhlah diri kamu atau “keluarlah dari kampung-halaman kamu”, mereka sekali-kali tidak akan mengerjakannya kecuali sedikit  dari antara  mereka, padahal sesungguhnya  seandainya mereka  mengerjakan apa yang dengannya mereka dinasihatkan niscaya akan lebih baik bagi mereka dan lebih meneguhkan, وَّ اِذًا لَّاٰتَیۡنٰہُمۡ مِّنۡ لَّدُنَّـاۤ اَجۡرًا عَظِیۡمًا --   dan  jika demikian niscaya akan Kami berikan kepada mereka ganjaran besar dari sisi Kami,  وَّ لَہَدَیۡنٰہُمۡ صِرَاطًا مُّسۡتَقِیۡمًا --  dan niscaya bKami  akan tunjuki mereka ke jalan yang lurus  (An-Nisa [4]:67-69). 
       Kata-kata uqtulu anfusakum  bukan berarti “bunuhlah diri kamu”  -- sebab ajaran Islam (Al-Quran) melarang melakukan “bunuh diri” -- tetapi maknanya “korbankanlah jiwa kamu di jalan Allah” melalui kepatuh-taatan kepada Allah Swt. dan Rasul-Nya,  berupa pengamalan  ketentuan  syariat Islam  (Al-Quran), sebagaimana yang telah dicontohkan Nabi Besar Muhammad saw., firman-Nya:
قُلۡ  اِنۡ کُنۡتُمۡ تُحِبُّوۡنَ اللّٰہَ فَاتَّبِعُوۡنِیۡ یُحۡبِبۡکُمُ اللّٰہُ وَ یَغۡفِرۡ لَکُمۡ ذُنُوۡبَکُمۡ ؕ وَ اللّٰہُ غَفُوۡرٌ  رَّحِیۡمٌ ﴿﴾  قُلۡ اَطِیۡعُوا اللّٰہَ وَ الرَّسُوۡلَ ۚ فَاِنۡ تَوَلَّوۡا فَاِنَّ اللّٰہَ  لَا یُحِبُّ الۡکٰفِرِیۡنَ ﴿﴾
Katakanlah:  ”Jika kamu benar-benar mencintai Allah maka ikutilah aku,  Allah pun akan mencintai kamu dan akan mengampuni dosa-dosa kamu. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.”  Katakanlah:   Taatilah Allah dan Rasul ini”, kemudian jika mereka berpaling maka ketahuilah sesungguhnya Allah tidak mencintai orang-orang kafir  (Āli ‘Imran [3]:32-33).

Hubungan Melakukan “Jihad Besar” Berperang Melawan Hawa-nafsu   Dengan Terbukanya Semua Martabat Ruhani

      Pelaksanaan “uqtulu anfusakum” (bunuhlah hawa-nafsu kamu)   atau   bersikap “patuh-taat” sepenuhnya kepada Allah Swt. dan Rasul-Nya  yakni melakukan “bai’at” (jual-beli) dengan Allah Swt. (QS.9:111; QS.48:11) --  adalah “melakukan jihad terhadap diri sendiri”  (memerangi hawa-nafsu),  yang disebut  Nabi Besar Muhammad saw.  “jihad kabir”, sedangkan  berperang melawan musuh    secara fisik disebut “jihad kecil” (Radd-al-Muhtar)  --  sehubungan dengan hal tersebut  Allah Swt. berfirman:
وَ مَنۡ یُّطِعِ اللّٰہَ وَ الرَّسُوۡلَ فَاُولٰٓئِکَ مَعَ الَّذِیۡنَ اَنۡعَمَ اللّٰہُ عَلَیۡہِمۡ مِّنَ النَّبِیّٖنَ وَ الصِّدِّیۡقِیۡنَ وَ الشُّہَدَآءِ وَ الصّٰلِحِیۡنَ ۚ وَ حَسُنَ اُولٰٓئِکَ رَفِیۡقًا ﴿ؕ﴾  ذٰلِکَ الۡفَضۡلُ مِنَ اللّٰہِ ؕ وَ کَفٰی بِاللّٰہِ عَلِیۡمًا ﴿٪﴾
Dan  barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul ini maka mereka akan termasuk di antara  orang-orang  yang Allah memberi nikmat kepada mereka yakni: nabi-nabi, shiddiq-shiddiq, syahid-syahid, dan orang-orang shalih, dan mereka itulah sahabat yang sejati.   Itulah karunia dari Allah,  dan cukuplah Allah Yang Maha Mengetahui. (An-Nisa [4]:70-71).
         Mustahil bagi manusia   dapat berlaku patuh-taat kepada Allah Swt.   dan Rasul-Nya  tanpa  adanya kesiapan diri untuk  melawan dan mengalahkan hawa-nafsunya, atau untuk mendahulukan kehendak Allah Swt. dan Rasul-Nya daripada kehendaknya (QS.33:37), karena   sikap patuh-taat  sepenuhnya kepada Allah Swt  dan Rasul-Nya  merupakan sebutan lain dari bai’at (menjual diri)  kepada Allah Swt. dan Rasul-Nya, dengan imbalan mendapat pengampunan dan keridhaan Allah Swt. (QS.9:111-112), firman-Nya:
وَ مَا کَانَ  لِمُؤۡمِنٍ وَّ لَا مُؤۡمِنَۃٍ  اِذَا قَضَی اللّٰہُ  وَ رَسُوۡلُہٗۤ  اَمۡرًا اَنۡ  یَّکُوۡنَ  لَہُمُ الۡخِیَرَۃُ  مِنۡ اَمۡرِہِمۡ ؕ وَ مَنۡ یَّعۡصِ اللّٰہَ وَ رَسُوۡلَہٗ  فَقَدۡ  ضَلَّ  ضَلٰلًا  مُّبِیۡنًا ﴿ؕ﴾
Dan sekali-kali tidak layak bagi laki-laki  yang beriman  dan tidak pula perempuan yang beriman,  apabila Allah dan Rasul-Nya telah memutuskan sesuatu urusan bahwa mereka menjadikan pilihan sendiri dalam urusan dirinya.  Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguh  ia telah sesat  suatu kesesatan yang nyata  (Al-Ahzāb [33]:37).
     Kejadian yang langsung berkaitan dengan turunnya ayat ini mungkin terjadi karena keraguan  Zainab binti Jahsy r.a.    --  menuruti keinginan yang sangat diidam-idamkan oleh Nabi Besar Muhammad saw. agar beliau r.a.  menikah dengan Zaid bin Haritsah r.a., yang sebelumnya berstatus budak  dan  anak angkat beliau saw. yang telah dimerdekakan.
    Kita patut memuji kepatuh-taatan   Zainab binti Jahsy r.a.   karena beliau menghormati  kehendak  Nabi Besar Muhammad saw., yakni  beliau setuju menikah dengan Zaid bin Haritsah r.a., walau bertentangan dengan kecenderungan hati beliau pribadi.
      Nabi Besar Muhammad saw.  tidak memaksa  Zainab binti Jahsy r.a   menerima Zaid bin Haritsah r.a.  sebagai suami, dan  Zainab binti Jahsy r.a   hanyalah menghormati keinginan beliau saw. yang ingin menghapuskan   perbedaan status sosial  guna mengokohkan “persaudaraan Muslim” (QS.49:11).

Berbagai Keberkahan Bersikap “Patuh-taat” Kepada Allah Swt. dan Rasul-Nya

      Walau pun pernikahan yang digagas oleh Nabi Besar Muhammad saw. tersebut  kemudian -- sesuai dengan hikmah Allah Swt. –   berujung dengan perceraian (QS.33:38), tetapi peristiwa “peragaan kepatuh-taatan” kepada Allah Swt. dan Rasul-Nya yang melibatkan  Zainab binti Jahsy r.a., Zaid bin Haritsah r.a.; dan Nabi Besar Muhammad saw.   tersebut  telah mengundang keridhaan  Allah Swt. yang sangat luar-biasa, antara lain:
     (1) Zainab binti Jahsy r.a. -- seorang bangsawati Arab --  yang sempat bersedih-hati karena statusnya sebagai janda Zaid-bin Haritsah r.a., kemudian   berakhir dengan kebahagian luar-biasa karena   atas perintah Allah Swt. beliau dinikahi Nabi besar Muhammad saw. dan menjadi salah seorang dari Ummul-mukminin (QS.33:38).
     (2) Pernikahan Nabi Besar Muhammad saw. dengan Zainab binti Jahsy r.a.  yang mengundang reaksi negative kaum kafir  -- karena dianggap bertentangan dengan adat-istiadat jahiliyah bangsa Arab  yang melarang ayah angkat menikahi janda (bekas istri) anak angkatnya –   telah dihapuskan Allah Swt. melalui pernikahan tersebut sebab menurut Allah Swt. kedudukan anak angkat tidak sama dengan anak-kandung  (QS.33:6-6).
      (3)   Pernikahan pernuh berkah Nabi Besar Muhammad saw. dengan Zainab binti Jahsy r.a.  -- yang bagi orang-orang   berhati bengkok dan berpenyakit menjadi “batu sandungan” tersebut  --  telah menjadi sebab diwahyukan-Nya ayat Khātaman-Nabiyyīn  (QS.33:41)  yang merupakan pembelaan Allah Swt. telah Nabi Besar Muhammad saw. dari segala tuduhan dusta orang-orang kafir Arabia, firman-Nya:
مَا کَانَ عَلَی النَّبِیِّ مِنۡ حَرَجٍ فِیۡمَا فَرَضَ اللّٰہُ  لَہٗ ؕ سُنَّۃَ اللّٰہِ  فِی الَّذِیۡنَ خَلَوۡا مِنۡ قَبۡلُ ؕ وَ کَانَ  اَمۡرُ  اللّٰہِ   قَدَرًا مَّقۡدُوۡرَۨا ﴿۫ۙ﴾  الَّذِیۡنَ یُبَلِّغُوۡنَ  رِسٰلٰتِ اللّٰہِ وَ یَخۡشَوۡنَہٗ  وَ لَا یَخۡشَوۡنَ  اَحَدًا  اِلَّا اللّٰہَ ؕ وَ کَفٰی  بِاللّٰہِ  حَسِیۡبًا ﴿﴾  مَا کَانَ مُحَمَّدٌ اَبَاۤ  اَحَدٍ مِّنۡ رِّجَالِکُمۡ وَ لٰکِنۡ رَّسُوۡلَ اللّٰہِ وَ خَاتَمَ  النَّبِیّٖنَ ؕ وَ  کَانَ اللّٰہُ  بِکُلِّ شَیۡءٍ عَلِیۡمًا ﴿٪﴾
Sekali-kali tidak ada keberatan atas Nabi mengenai  apa yang telah diwajibkan Allsh  kepadanya. Inilah sunnah Allsh yang Dia tetapkan terhadap orang-orang yang telah berlalu sebelumnya, dan perintah Allah ada-lah suatu keputusan yang telah ditetapkan.   Orang-orang yang menyampaikan amanat Allah dan  takut kepada-Nya, dan tidak ada mereka takut siapa pun selain Allah, dan cukuplah Allah sebagai Penghisab.  مَا کَانَ مُحَمَّدٌ اَبَاۤ  اَحَدٍ مِّنۡ رِّجَالِکُمۡ وَ لٰکِنۡ رَّسُوۡلَ اللّٰہِ وَ خَاتَمَ  النَّبِیّٖنَ ؕ وَ  کَانَ اللّٰہُ  بِکُلِّ شَیۡءٍ عَلِیۡمًا  --  Muhammad bukanlah bapak salah seorang laki-laki di antara laki  kamu, akan tetapi ia adalah Rasul Allah dan meterai sekalian nabi,  dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (Al-Ahzāb [33]:39-41).
       Yang diisyaratkan dalam ayat 39  adalah  pernikahan  Nabi Besar Muhammad saw.  dengan  Zainab binti Jahsy r.a.. Kata-kata itu menunjukkan bahwa pernikahan beliau saw. terjadi dalam menaati suatu peraturan Ilahi yang khusus sifatnya, yakni diperbolehkan-Nya  seorang “ayah angkat” menikah dengan janda (mantan istri) “anak-angkatnya” karena pernikahan tersebut tidak akan mengacaukan hubungan darah  pada keturunan keduanya  (QS.33:5-6).

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid

oo0oo
Pajajaran Anyar, 12    Februari  2017





Tidak ada komentar:

Posting Komentar