Bismillaahirrahmaanirrahiim
ISLAM
Pidato Mirza Ghulam Ahmad a.s.
Tgl. 2 November 1904
di Kota Sialkote – Hindustan
Bab 27
HINDUSTAN
MERUPAKAN MINIATUR “DUNIA AGAMA” & MENUNGGU
SEORANG “PAHLAWAN AGAMA” DENGAN NAMA BERLAINAN DI UJUNG “MUSIM KEMARAU”
PANJANG RUHANI
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam bagian akhir Bab 26 telah dijelaskan topik Kesedihan dan Keprihatinan Rasul Akhir
Zaman & Memanfaatkan Sistem ”Demokrasi” Pemerintahan Inggris Raya di Hindustan. Mengisyaratkan
kepada kenyataan kemunduran akhlak
dan ruhani --
serta kemunduran kekuasaan duniawi yang menimpa umat Islam terutama di wilayah Hindustan -- itulah yang
membuat Masih
Mau’ud a.s. sangat sedih, sebagaimana
dikemukakan dalam firman-Nya:
وَ قَالَ
الرَّسُوۡلُ یٰرَبِّ اِنَّ قَوۡمِی اتَّخَذُوۡا ہٰذَا الۡقُرۡاٰنَ مَہۡجُوۡرًا ﴿﴾
Dan Rasul
itu berkata: “Ya Rabb-ku (Tuhan-ku),
sesungguhnya kaumku telah menjadikan
Al-Quran ini sesuatu yang
telah ditinggalkan. (Al-Furqān
[25]:31).
Ayat ini dengan sangat tepat
sekali dapat dikenakan kepada mereka yang menamakan diri orang-orang Muslim tetapi telah menyampingkan Al-Quran dan telah melemparkannya ke belakang. Barangkali belum pernah terjadi selama
14 abad ini di mana Al-Quran demikian
rupa diabaikan dan dilupakan oleh orang-orang Muslim seperti di Akhir
Zaman ini.
Ada sebuah hadits Nabi Besar
Muhammad saw. yang
mengatakan: “Satu saat akan datang kepada
kaumku, bila tidak ada yang tinggal dari Islam melainkan namanya dan dari
Al-Quran melainkan kata-katanya” (Baihaqi,
Syu’ab-ul-iman). Sungguh masa sekarang-sekarang di Akhir Zaman inilah saat yang dimaksudkan
itu., terutama di wilayah Hindustan setelah berakhirnya kekuasaan Dinasti Mughal.
Berbagai Pelanggaran Terhadap Perintah
dan Larangan Allah Swt. Dalam
Al-Quran
Beberapa perintah dan larangan Allah
Swt. dalam Al-Quran yang diabaikan atau
dilanggar oleh umumnya umat Islam antara lain:
(1) Melanggar perintah
bertakwa dan berpegang-teguh pada tali
Allah (QS.3:103-106),
(2) Melanggar larangan
menjadikan orang-orang Non-Muslim yang aktif
memusuhi Islam sebagai wali
(pelindung/pemimpin/penolong) dengan mengenyampingkan
sesama Muslim (QS.3:29 & 119;
QS.4:145; QS.5:52-53 & 58; QS.60:9-10; QS.49:10-11).
(3)
Menyatakan
Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. masih hidup di
langit dengan jasad kasarnya
padahal beliau telah wafat (QS.3:56,
145, 186; QS.5:117-118; QS. 21:35-36; QS.29:58), karena orang yang dipanjangkan usianya – tanpa kecuali -- pasti mengalami pikun
(QS.16:71; QS.22:6; QS.36:69).
(4)
Menyatakan
semua jenis kenabian dan wahyu
Ilahi telah berakhir dengan
diutusnya Nabi Besar Muhammad saw.
(QS.40:35-36; QS.72:8), padahal Allah Swt. bersifat Al-Mursilīn (Maha Mengutus – (QS.7:35-37; QS.22:76; QS.28:46; QS.44:6) danbersifat Al-Mutakallim
(Maha
Berbicara -- QS.2:175; QS.3:78; QS.16:69-70; QS.23:104-109; QS.42:52-54).
Kalau benar bahwa dengan diutus-Nya Nabi Besar Muhammad saw. dan diwahyukan-Nya
Al-Quran maka semua jenis kenabian dan semua jenis wahyu Ilahi telah tertutup rapat, maka berarti
Nabi Besar Muhammad saw. adalah seorang abtar
(terputus keturunannya) – baik dari segi jasmani
mau pun ruhani --
padahal menurut Allah Swt. para penentang
Nabi Besar Muhammad saw. itulah yang akan abtar
(terputus keturunannya – QS.108:1-4), sedangkan keturunan ruhani Nabi Besar Muhammad saw. akan terus berlangsung hingga Hari Kiamat (QS.3:32; 4:70-71), karena
kecuali beriman kepada Nabi Besar Muhammad saw., dan beragama Islam maka yang selainnya tidak akan diterima Allah Swt. QS.3:20 & 86;
QS.4:70-71).
Bukti
kebenaran hal tersebut adalah Nabi Besar Muhammad saw. telah menubuatkan kedatangan Imam Mahdi a.s. sebagai Khalifatullah atau Rasul
Allah yang akan mewujudkan kejayaan
Islam yang kedua kali di Akhir Zaman
ini (QS.61:10). Imam artinya “pemimpin” dan Mahdi artinya “orang yang mendapat petunjuk dari Allah Swt.
melalui wahyu Ilahi” (QS.42:52-54), sebab hanya kepada Khalifah Allah ( nabi Allah) sajalah Allah Swt. mengajarkan khazanah-khazanah baru rahasia Ketuhanan-Nya
sebagaimana yang diajarkan-Nya
kepada Adam (QS.2:31-36; QS.3:180; QS.72:27-29).
Itulah sebabnya Nabi Besar
Muhammad saw. telah menubuatkan dan memberikan
memberikan amanat yang sangat penting
kepada umat Islam mengenai kedatangan Imam
Mahdi a.s. di Akhir Zaman dan harus bai’at
kepada beliau a.s.:
“Ketika kalian melihatnya
(kehadiran Imam Mahdi) maka berbai’atlah dengannya walaupun harus merangkak-rangkak di atas salju
karena sesungguhnya dia adalah Khalifatullah
Al-Mahdi.” (HR Abu Dawud, 4074).
Membangkitkan “Semangat”
Umat Islam di Hindustan
Sistem
demokrasi yang dijalankan yang
dijalankan pemerintah kerajaan Inggris
di Hindustan –
termasuk dalam hal kebebasan beragama -- telah dimanfaatkan
oleh Mirza Ghulam Ahmad a.s. – yakni Imam
Mahdi a.s. atau Masih Mau’ud
a.s. -- untuk membela
kesempurnaan agama Islam (Al-Quran)
serta kesucian akhlak dan ruhani
Nabi Besar Muhamad saw. melalui
berbagai diskusi dan surat menyurat dengan pihak pemeluk agama lain, terutama pihak Hindu dan Kristen yang
sangat agresif menyebarkan ajaran mereka.
Pembelaan secara tertulis
paling terkenal dan benar-benar telah membungkam pihak-pihak yang sebelumnya
secara agresif menyerang ajaran Islam (Al-Quran) serta kesucian akhlak dan ruhani Nabi Besar Muhammad saw. yang dilakukan Mirza Ghulam Ahmad
adalah penerbitan buku “Barahin-e-Ahmadiyyah” (bukti-bukti
Kesempurnaan Islam) sebanyak 5 jilid.
Pembelaan yang dilakukan Mirza Ghulam Ahmad a.s. terutama dengan
diterbitnya buku Barahin-e-Ahmadiyyah” (bukti-bukti Kesempurnaan Islam) – yang
dilakukan sebelum beliau melakukan pendakwaan
sebagai Imam Mahdi a.s. dan Masih Mau’ud a.s.. – tersebut telah
membangkitkan semangat dan keberanian umat Islam di Hindustan dan banyak para pemuka
agama Islam yang memuji-muji “jihad melalui pena” (tulisan) dan lisan yang dilakukan oleh Mirza Ghulam Ahmad
a.s..
Di
antara ‘ulama Hindustan yang
memuji-muji “jihad” melalui “pena”
(tulisan) yang dilakukan Mirza Gulam Ahmad a.s. tersebut salah satunya
adalah Maulwi Muhammad Husein Batalwi,
ia menulis pujiannya dalam
majalahnya yang bernama Isya’atus-Sunnah,
walau pun kemudian ia berbalik menjadi penentang yang paling aktif ketika Mirza
Ghulam Ahmad a.s. atas perintah Allah Swt. menda’wakan sebagai Masih
Mau’ud a.s., dengan penentangnya tersebut menggenapi lanjutan firman Allah Swt. sebelum ini
(QS.25:31), firman-Nya:
وَ کَذٰلِکَ
جَعَلۡنَا لِکُلِّ نَبِیٍّ عَدُوًّا مِّنَ الۡمُجۡرِمِیۡنَ ؕ وَ کَفٰی بِرَبِّکَ
ہَادِیًا وَّ نَصِیۡرًا ﴿﴾
Dan demikianlah Kami telah menjadikan musuh bagi tiap-tiap nabi dari antara orang-orang yang berdosa, dan cukuplah Rabb (Tuhan) engkau sebagai pemberi petunjuk dan penolong
(Al-Furqān [25]:32).
Hindustan Miniatur “Dunia Agama” & Pengulangan “Zaman Jahiliyah” di Akhir Zaman
Wilayah
Hindustan saat itu merupakan miniatur
dunia agama, karena hampir semua agama, sekte-sekte agama serta berbagai aliran kepercayaan dan aliran
pemikiran – termasuk penganut Atheisme – terdapat di Hindustan. Jadi, pengutusan Mirza Ghulam Ahmad a.s. di wilayah Hindustan sebagai Rasul Akhir Zaman -- yang kedatangannya
ditunggu-tunggu oleh semua umat beragama
dengan nama (sebutan) yang berbeda-beda
(QS.77:12) -- bukan tanpa hikmah yang
sangat dalam, sebagaimana juga halnya pengutusan
Nabi Besar Muhammad saw. di Jazirah
Arabia (Mekkah) lebih dari 14 abad yang lalu, firman-Nya:
ظَہَرَ الۡفَسَادُ فِی الۡبَرِّ وَ
الۡبَحۡرِ بِمَا کَسَبَتۡ اَیۡدِی
النَّاسِ لِیُذِیۡقَہُمۡ بَعۡضَ
الَّذِیۡ عَمِلُوۡا لَعَلَّہُمۡ
یَرۡجِعُوۡنَ ﴿﴾ قُلۡ
سِیۡرُوۡا فِی الۡاَرۡضِ فَانۡظُرُوۡا کَیۡفَ کَانَ عَاقِبَۃُ الَّذِیۡنَ مِنۡ قَبۡلُ ؕ کَانَ
اَکۡثَرُہُمۡ مُّشۡرِکِیۡنَ ﴿﴾ فَاَقِمۡ وَجۡہَکَ لِلدِّیۡنِ الۡقَیِّمِ مِنۡ قَبۡلِ اَنۡ یَّاۡتِیَ
یَوۡمٌ لَّا مَرَدَّ لَہٗ مِنَ اللّٰہِ یَوۡمَئِذٍ یَّصَّدَّعُوۡنَ ﴿﴾
Kerusakan telah meluas di daratan dan di lautan disebabkan perbuatan tangan manusia, supaya dirasakan
kepada mereka akibat sebagian
perbuatan yang mereka lakukan, supaya mereka
kembali dari kedurhakaannya.
قُلۡ سِیۡرُوۡا
فِی الۡاَرۡضِ فَانۡظُرُوۡا کَیۡفَ کَانَ عَاقِبَۃُ الَّذِیۡنَ مِنۡ قَبۡلُ ؕ -- Katakanlah: ”Berjalanlah di bumi dan lihatlah
bagaimana buruknya akibat
bagi orang-orang sebelum kamu ini. کَانَ اَکۡثَرُہُمۡ
مُّشۡرِکِیۡنَ -- Kebanyakan
mereka itu orang-orang musyrik.”
Maka hadapkanlah wajah engkau kepada agama yang lurus, sebelum datang dari Allāh hari yang tidak dapat
dihindarkan, pada hari itu orang-orang beriman dan kafir akan terpisah. (Ar-Rūm [30]:42-44).
Dalam firman-Nya tersebut Allah Swt. memberi tahu, bahwa jika kegelapan (kekafiran dan kemusyrikan) telah menyelimuti
muka bumi dan manusia melupakan Allah
Swt. serta menaklukkan
diri sendiri kepada penyembahan
tuhan-tuhan yang dikhayalkan dan diciptakan oleh mereka sendiri, maka sesuai dengan Sunnah-Nya Allah Swt. membangkitkan seorang nabi Allah (QS.7:35-37) untuk mengembalikan gembalaan yang tersesat
keharibaan Majikan-nya.
“Permulaan abad ketujuh adalah masa kekacauan nasional dan sosial, dan
agama sebagai kekuatan akhlak, telah lenyap dan telah jatuh, menjadi hanya
semata-mata tatacara dan upacara adat belaka; dan agama-agama besar di dunia
sudah tidak lagi berpengaruh sehat pada kehidupan para penganutnya. Api suci
yang dinyalakan oleh Zoroaster, Musa, dan Isa a.m.s.
di dalam aliran darah manusia telah padam. Dalam abad kelima dan
keenam, dunia beradab berada di tepi jurang kekacauan. Agaknya peradaban besar
yang telah memerlukan waktu empat ribu tahun lamanya untuk menegakkannya telah
berada di tepi jurang........ Peradaban laksana pohon besar yang daun-daunnya
telah menaungi dunia dan dahan-dahannya telah menghasilkan buah-buahan emas
dalam kesenian, keilmuan, kesusatraan, sudah goyah, batangnya tidak hidup lagi
dengan mengalirkan sari pengabdian dan pembaktian, tetapi telah busuk hingga
terasnya” (“Emotion as the Basis
of Civilization” dan “Spirit
of Islam”).
Demikianlah keadaan umat manusia pada waktu Nabi Besar Muhammad saw., Guru umat manusia terbesar, muncul pada pentas
dunia sesuai nubuatan-nubuatan para rasul Allah dan kitab-kitab suci sebelumnya -- mengenai beberapa nubuatan Bible berkenaan dengan Nabi Besar Muhammad saw. lihat Matius 23:39; Yahya
14:16, 26; 16:7-14; Ulangan 18:18 dan 33:2; Jesaya 21:13-17 dan
20:62; Syiru ‘Lasyar 1:5-6; Habakuk 3:7 -- dan
tatkala syariat yang paling sempurna dan terakhir diturunkan dalam bentuk Al-Quran (QS.5:4), sebab syariat yang sempurna hanya dapat
diturunkan bila semua atau kebanyakan keburukan, teristimewa yang
dikenal sebagai akar keburukan,
menampakkan diri telah menjadi mapan.
Kata-kata “daratan dan lautan”
dapat diartikan: (a) bangsa-bangsa yang kebudayaan dan peradabannya
hanya semata-mata berdasar pada akal serta pengalaman manusia, dan
bangsa-bangsa yang kebudayaannya serta peradabannya didasari oleh wahyu Ilahi; (b)
orang-orang yang hidup di benua-benua dan orang-orang yang hidup di
pulau-pulau.
Musim Kemarau Panjang
Ruhani & Masa “Fatrah” (Jeda)
Pengutusan Rasul Allah
Jadi menurut ayat: ظَہَرَ الۡفَسَادُ فِی الۡبَرِّ وَ الۡبَحۡرِ بِمَا کَسَبَتۡ
اَیۡدِی النَّاسِ -- “Kerusakan
telah meluas di daratan dan di lautan
disebabkan perbuatan tangan
manusia”, berarti bahwa semua
bangsa dan umat beragama di dunia
-- baik menjelang pengutusan Nabi Besar Muhammad saw. yang pertama 14 abad yang lampau mau pun di Akhir Zaman (QS.62:3-4) -- telah menjadi rusak sampai kepada intinya,
baik secara politis, sosial maupun akhlaki, firman-Nya:
یٰۤاَہۡلَ الۡکِتٰبِ قَدۡ
جَآءَکُمۡ رَسُوۡلُنَا یُبَیِّنُ لَکُمۡ
کَثِیۡرًا مِّمَّا کُنۡتُمۡ تُخۡفُوۡنَ مِنَ الۡکِتٰبِ وَ یَعۡفُوۡا عَنۡ کَثِیۡرٍ
۬ؕ قَدۡ جَآءَکُمۡ مِّنَ اللّٰہِ نُوۡرٌ وَّ کِتٰبٌ مُّبِیۡنٌ ﴿ۙ﴾ یَّہۡدِیۡ بِہِ اللّٰہُ مَنِ اتَّبَعَ
رِضۡوَانَہٗ سُبُلَ السَّلٰمِ وَ
یُخۡرِجُہُمۡ مِّنَ الظُّلُمٰتِ اِلَی النُّوۡرِ بِاِذۡنِہٖ وَ یَہۡدِیۡہِمۡ اِلٰی
صِرَاطٍ مُّسۡتَقِیۡمٍ ﴿﴾
Hai Ahlul Kitab, sungguh telah
datang kepada kamu Rasul Kami yang menjelaskan
kepada kamu banyak dari apa yang senantiasa kamu sembunyikan dari Kitab itu, dan ia memaafkan banyak dari kesalahan kamu.
Sungguh telah datang kepada kamu Nur dari
Allah dan Kitab yang menerangi. Dengan
itu Allah memberi petunjuk orang-orang
yang mengikuti keridhaan-Nya pada jalan-jalan keselamatan, dan mengeluarkan
mereka dari berbagai kegelapan kepada cahaya dengan izin-Nya, dan memberi mereka petunjuk kepada jalan lurus.
(Māidah
[5]:16-17).
Makna “Nur
dari Allah” dalam ayat: ؕ قَدۡ جَآءَکُمۡ مِّنَ اللّٰہِ
نُوۡرٌ وَّ کِتٰبٌ مُّبِیۡنٌ -- “Sungguh telah datang kepada
kamu Nur dari Allah
dan Kitab yang menerangi” adalah Nabi Besar Muhammad saw. (QS.24:36; QS.33:46-47). Dalam QS.4:175 penggunaan kata “nur” dapat pula mengisyaratkan baik kepada wujud Nabi Besar Muhammad saw. maupun Al-Quran
(QS.7:158).
Pada hakikatnya terjadinya kerusakan di “daratan”
dan di “lautan” tersebut adalah
akibat adanya masa fatrah (masa jeda)
pengutusan rasul Allah yang sangat
lama, sehingga dalam dunia agama (keruhanian) terjadi “musim
kemarau panjang” (QS.57:17-18), firman-Nya:
اَلَمۡ یَاۡنِ لِلَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡۤا اَنۡ
تَخۡشَعَ قُلُوۡبُہُمۡ لِذِکۡرِ
اللّٰہِ وَ مَا نَزَلَ مِنَ الۡحَقِّ ۙ وَ
لَا یَکُوۡنُوۡا کَالَّذِیۡنَ اُوۡتُوا الۡکِتٰبَ مِنۡ قَبۡلُ فَطَالَ
عَلَیۡہِمُ الۡاَمَدُ فَقَسَتۡ
قُلُوۡبُہُمۡ ؕ وَ کَثِیۡرٌ مِّنۡہُمۡ
فٰسِقُوۡنَ ﴿﴾ اِعۡلَمُوۡۤا اَنَّ اللّٰہَ یُحۡیِ الۡاَرۡضَ بَعۡدَ
مَوۡتِہَا ؕ قَدۡ بَیَّنَّا لَکُمُ الۡاٰیٰتِ لَعَلَّکُمۡ تَعۡقِلُوۡنَ ﴿﴾
Apakah belum sampai waktu bagi orang-orang yang
beriman, bahwa hati mereka tunduk
untuk mengingat Allah dan mengingat
kebenaran yang telah turun kepada
mereka, وَ لَا
یَکُوۡنُوۡا کَالَّذِیۡنَ اُوۡتُوا الۡکِتٰبَ مِنۡ قَبۡلُ
-- dan mereka tidak menjadi seperti orang-orang yang diberi kitab
sebelumnya, فَطَالَ عَلَیۡہِمُ الۡاَمَدُ فَقَسَتۡ قُلُوۡبُہُمۡ ؕ وَ
کَثِیۡرٌ مِّنۡہُمۡ فٰسِقُوۡنَ -- maka zaman kesejahteraan menjadi panjang
atas mereka lalu hati mereka menjadi keras, dan kebanyakan dari mereka menjadi durhaka? اِعۡلَمُوۡۤا اَنَّ اللّٰہَ
یُحۡیِ الۡاَرۡضَ بَعۡدَ مَوۡتِہَا ؕ قَدۡ بَیَّنَّا لَکُمُ الۡاٰیٰتِ
لَعَلَّکُمۡ تَعۡقِلُوۡنَ -- Ketahuilah,
bahwasanya Allah menghidupkan
bumi sesudah matinya. Sungguh Kami
telah menjelaskan Tanda-tanda kepada kamu supaya kamu mengerti. (Al-Hadīd
[57]:17-18).
Selaras dengan pernyataan Allah Swt.
tersebut, dalam surah lainnya Allah Swt. berfirman mengenai fatrah
(masa jeda kedatangan rasul Allah):
یٰۤاَہۡلَ الۡکِتٰبِ قَدۡ
جَآءَکُمۡ رَسُوۡلُنَا یُبَیِّنُ لَکُمۡ
عَلٰی فَتۡرَۃٍ مِّنَ الرُّسُلِ اَنۡ تَقُوۡلُوۡا مَا جَآءَنَا
مِنۡۢ بَشِیۡرٍ وَّ لَا نَذِیۡرٍ ۫ فَقَدۡ جَآءَکُمۡ بَشِیۡرٌ وَّ نَذِیۡرٌ ؕ وَ
اللّٰہُ عَلٰی کُلِّ
شَیۡءٍ قَدِیۡرٌ ﴿٪﴾
Hai Ahlul Kitab, sungguh telah datang kepada kamu Rasul Kami yang
menjelaskan syariat kepada
kamu عَلٰی فَتۡرَۃٍ
مِّنَ الرُّسُلِ -- pada masa
jeda pengutusan rasul-rasul,
اَنۡ تَقُوۡلُوۡا مَا جَآءَنَا مِنۡۢ
بَشِیۡرٍ وَّ لَا نَذِیۡرٍ -- supaya kamu tidak mengatakan: “Tidak pernah datang kepada kami seorang pemberi kabar gembira dan tidak pula seorang pemberi peringatan.”
فَقَدۡ
جَآءَکُمۡ بَشِیۡرٌ وَّ نَذِیۡرٌ ؕ -- Padahal sungguh
telah datang kepada kamu seorang pembawa kabar gembira dan pemberi
peringatan, وَ اللّٰہُ عَلٰی کُلِّ
شَیۡءٍ قَدِیۡرٌ -- dan Allah Maha kuasa atas segala sesuatu (Māidah [5]:20
Pengutusan Rasul Akhir Zaman di Masa Puncak Kemunduran Umat Islam
Sejarah
bungkam perihal apakah ada seorang nabi Allah pernah datang di salah satu negeri di antara zaman Nabi Besar Muhammad saw. . dengan zaman Nabi Isa Ibnu Maryam a.s., yakni dalam rentang waktu sekitar 6 abad, yang
pasti ialah sekurang-kurangnya di antara para Ahlulkitab setelah
pengutusan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. tiada
seorang nabi Allah pun datang dalam jangka waktu itu.
Jadi, pada hakikatnya, dunia telah mengharap-harapkan
dan bersiap-siap menerima kedatangan Juru
Selamat terbesar bagi umat manusia, yaitu Nabi Besar Muhammad
saw., yang merupakan misal Nabi Musa
a.s. (Ulangan 18:18; QS.46:11)
atau “Dia yang datang dalam nama Tuhan” (Matius 23:37-39; “Roh
Kebenaran” yang membawa “seluruh
kebenaran” (Yohanes 16:12-13).
Beberapa pernyataan dari sumber yang diragukan (Kalbi)
menyebutkan bahwa Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. disusul oleh beberapa nabi, di antaranya Khalid bin Salam termasuk seorang dari antara mereka. Tetapi Nabi
Besar Muhammad saw. menurut
riwayat pernah bersabda bahwa antara
beliau dan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. tidak ada nabi (Bukhari).
Masa “fatrah” (jeda) pengutusan rasul
Allah tersebut kembali terjadi di
kalangan umat Islam setelah pengutusan
Nabi Besar Muhammad saw. dari kalangan Bani
Isma’il selama 1000 tahun setelah 3 abad masa kejayaannya yang pertama
(QS.32:6), kemudian Allah Swt. pengutusan Mirza
Ghulam Ahmad a.s. sebagai Imam Mahdi a.s. dan Masih Mau’ud a.s. dari kalangan umat
Islam (QS.62:3-4) pada awal abad 14 hijrah
(QS.1835-1908) -- sehingga akibatnya setelah umat Islam (Bani Isma’il) mengalami
masa “musim kemarau panjang ruhani” selama 1000 tahun, firman-Nya:
یُدَبِّرُ الۡاَمۡرَ مِنَ
السَّمَآءِ اِلَی الۡاَرۡضِ ثُمَّ
یَعۡرُجُ اِلَیۡہِ فِیۡ یَوۡمٍ کَانَ مِقۡدَارُہٗۤ اَلۡفَ
سَنَۃٍ مِّمَّا تَعُدُّوۡنَ ﴿﴾ ذٰلِکَ عٰلِمُ الۡغَیۡبِ وَ الشَّہَادَۃِ الۡعَزِیۡزُ الرَّحِیۡمُ ۙ﴿﴾
Dia
mengatur perintah dari langit sampai bumi, kemudian perintah
itu akan naik kepada-Nya dalam satu
hari, yang hitungan lamanya seribu
tahun dari apa yang kamu hitung.
Demikian itulah Tuhan Yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, Maha Perkasa,
Maha Penyayang, (As-Sajdah
[32]:6-17).
Ayat 6 menunjuk kepada suatu pancaroba sangat hebat yang ditakdirkan akan menimpa Islam dalam perkembangannya yang penuh dengan perubahan itu. Islam akan melalui suatu masa
kemajuan dan kesejahteraan yang
mantap selama 3 abad pertama
kehidupannya. Nabi Besar Muhammad saw. diriwayatkan pernah menyinggung secara
jitu mengenai kenyataan itu dalam sabda beliau: “Abad terbaik ialah abad di kala aku hidup, kemudian abad berikutnya,
kemudian abad sesudah itu” (Tirmidzi
& Bukhari,
Kitab-usy-Syahadat).
Islam atau umat Islam mulai mundur sesudah 3 abad
pertama masa keunggulan dan kemenangan yang tiada henti-hentinya.
Peristiwa kemunduran dan kemerosotannya berlangsung dalam masa 1000 tahun berikutnya. Kepada masa 1000
tahun inilah, telah diisyaratkan dengan kata-kata: ثُمَّ یَعۡرُجُ اِلَیۡہِ
فِیۡ یَوۡمٍ کَانَ مِقۡدَارُہٗۤ اَلۡفَ سَنَۃٍ مِّمَّا تَعُدُّوۡنَ -- “Kemudian perintah itu akan naik
kepada-Nya dalam satu hari, yang hitungan lamanya seribu tahun dari apa yang
kamu hitung.”
Dalam hadits lain Nabi Besar Muhammad saw. diriwayatkan pernah bersabda menggunakan ungkapan kiasan bahwa iman
dari umat Islam akan terbang
ke Bintang Tsuraya dan seseorang dari
keturunan Parsi akan mengembalikannya ke bumi (Bukhari, Kitab-ut-Tafsir surah Al-Jumu’ah). Dengan
kedatangan Masih Mau’ud a.s. dalam abad ke-14 sesudah Hijrah,
laju kemerosotan yang menimpa Islam telah terhenti dan kebangkitan Islam kembali mulai berlaku hingga sempurnanya firman
Allah Swt. berikut ini:
ہُوَ
الَّذِیۡۤ اَرۡسَلَ رَسُوۡلَہٗ
بِالۡہُدٰی وَ دِیۡنِ الۡحَقِّ
لِیُظۡہِرَہٗ عَلَی الدِّیۡنِ کُلِّہٖ وَ
لَوۡ کَرِہَ الۡمُشۡرِکُوۡنَ ٪﴿﴾
Dia-lah Yang mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk
dan dengan agama yang benar supaya Dia memenangkannya atas semua agama,
walaupun orang musyrik tidak menyukai. (Ash-Shaf [61]:10).
Kebanyakan ahli
tafsir Al-Quran sepakat bahwa ayat ini kena dan akan terwujud melalui perjuangan suci Al-Masih
yang dijanjikan (Masih Mau’ud a.s.), sebab di zaman beliau semua agama muncul dan berlomba-lomba mentabligkan agama mereka,
karena mereka pun mempercayai mengenai kedatangan seorang “pahlawan
agama” -- dengan nama yang berbeda-beda di setiap umat beragama --
yang akan memenangkan agama mereka,
sebagaimana yang juga dipercayai oleh umat
Islam mengenai kedatangan Imam Mahdi
a.s. dan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.,
yang akan mengunggulkan agama Islam
di atas semua agama.
Dua Azab
Ilahi yang Menimpa Bani Israil
Mengisyaratkat kepada akibat
buruk yang ditimbulkan masa “fatrah” (masa jeda) rangkaian pengutusan rasul Allah (QS.7:35-37) atau “musim kemarau panjang ruhani” yang
panjang itu pulalah peringatan Allah Swt. kepada umat
Islam dalam firman-Nya sebelum ini:
اَلَمۡ یَاۡنِ لِلَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡۤا اَنۡ
تَخۡشَعَ قُلُوۡبُہُمۡ لِذِکۡرِ
اللّٰہِ وَ مَا نَزَلَ مِنَ الۡحَقِّ ۙ وَ
لَا یَکُوۡنُوۡا کَالَّذِیۡنَ اُوۡتُوا الۡکِتٰبَ مِنۡ قَبۡلُ فَطَالَ
عَلَیۡہِمُ الۡاَمَدُ فَقَسَتۡ
قُلُوۡبُہُمۡ ؕ وَ کَثِیۡرٌ مِّنۡہُمۡ
فٰسِقُوۡنَ ﴿﴾ اِعۡلَمُوۡۤا اَنَّ اللّٰہَ یُحۡیِ الۡاَرۡضَ بَعۡدَ
مَوۡتِہَا ؕ قَدۡ بَیَّنَّا لَکُمُ الۡاٰیٰتِ لَعَلَّکُمۡ تَعۡقِلُوۡنَ ﴿﴾
Apakah belum sampai waktu bagi orang-orang
yang beriman, bahwa hati mereka
tunduk untuk mengingat Allah dan
mengingat kebenaran yang telah turun kepada mereka, وَ لَا یَکُوۡنُوۡا کَالَّذِیۡنَ اُوۡتُوا الۡکِتٰبَ مِنۡ قَبۡلُ -- dan mereka tidak menjadi seperti orang-orang yang diberi kitab sebelumnya, فَطَالَ عَلَیۡہِمُ الۡاَمَدُ فَقَسَتۡ قُلُوۡبُہُمۡ -- maka zaman
kesejahteraan menjadi panjang
atas mereka lalu hati
mereka menjadi keras, وَ
کَثِیۡرٌ مِّنۡہُمۡ فٰسِقُوۡنَ -- dan kebanyakan dari mereka menjadi durhaka?
اِعۡلَمُوۡۤا اَنَّ اللّٰہَ یُحۡیِ الۡاَرۡضَ بَعۡدَ
مَوۡتِہَا -- Ketahuilah,
bahwasanya Allah menghidupkan
bumi sesudah matinya. قَدۡ
بَیَّنَّا لَکُمُ الۡاٰیٰتِ لَعَلَّکُمۡ
تَعۡقِلُوۡنَ -- Sungguh Kami telah menjelaskan Tanda-tanda kepada
kamu supaya kamu mengerti. (Al-Hadīd
[57]:17-18).
Pada masa “fatrah” (jeda) pengutusan rasul Allah Swt. selama 1000 tahun itu pulalah nubuatan dan peringatan Allah Swt. berupa azab
Ilahi -- yang sebelumnya telah
menimpa Bani Israil dua kali
-- telah menimpa umat Islam
(Bani Isma’il), firman-Nya:
وَ قَضَیۡنَاۤ اِلٰی بَنِیۡۤ اِسۡرَآءِیۡلَ فِی الۡکِتٰبِ
لَتُفۡسِدُنَّ فِی الۡاَرۡضِ
مَرَّتَیۡنِ وَ
لَتَعۡلُنَّ عُلُوًّا کَبِیۡرًا ﴿﴾ فَاِذَا جَآءَ وَعۡدُ اُوۡلٰىہُمَا
بَعَثۡنَا عَلَیۡکُمۡ
عِبَادًا لَّنَاۤ اُولِیۡ بَاۡسٍ
شَدِیۡدٍ فَجَاسُوۡا
خِلٰلَ الدِّیَارِ ؕ وَ کَانَ وَعۡدًا مَّفۡعُوۡلًا ﴿﴾ ثُمَّ رَدَدۡنَا لَکُمُ الۡکَرَّۃَ
عَلَیۡہِمۡ وَ اَمۡدَدۡنٰکُمۡ بِاَمۡوَالٍ وَّ بَنِیۡنَ وَ جَعَلۡنٰکُمۡ اَکۡثَرَ
نَفِیۡرًا ﴿﴾ اِنۡ اَحۡسَنۡتُمۡ اَحۡسَنۡتُمۡ لِاَنۡفُسِکُمۡ ۟ وَ اِنۡ اَسَاۡتُمۡ فَلَہَا ؕ فَاِذَا جَآءَ وَعۡدُ الۡاٰخِرَۃِ لِیَسُوۡٓءٗا وُجُوۡہَکُمۡ وَ لِیَدۡخُلُوا الۡمَسۡجِدَ کَمَا دَخَلُوۡہُ اَوَّلَ مَرَّۃٍ وَّ لِیُتَبِّرُوۡا
مَا عَلَوۡا تَتۡبِیۡرًا ﴿﴾
عَسٰی
رَبُّکُمۡ اَنۡ یَّرۡحَمَکُمۡ ۚ وَ اِنۡ عُدۡتُّمۡ عُدۡنَا ۘ وَ جَعَلۡنَا
جَہَنَّمَ لِلۡکٰفِرِیۡنَ
حَصِیۡرًا ﴿﴾
Dan telah
Kami tetapkan terhadap Bani Israil dalam kitab itu: “Niscaya kamu
akan melakukan kerusakan di muka bumi ini dua kali, dan niscaya kamu akan menyombongkan diri dengan
kesombongan yang sangat besar.” Apabila datang
saat sempur-nanya janji yang pertama dari kedua janji itu, Kami membangkitkan untuk menghadapi kamu
hamba-hamba Kami yang mempunyai kekuatan tempur yang dahsyat, dan mereka menerobos jauh ke dalam
rumah-rumah, dan itu
merupakan suatu janji yang pasti terlaksana. Kemudian Kami
mengembalikan lagi kepada kamu kekuatan untuk melawan mereka, dan Kami memban-tu kamu dengan harta dan
anak-anak, dan Kami menjadikan kelompok kamu lebih besar dari
sebelumnya. Jika kamu berbuat ihsan, kamu
berbuat ihsan bagi diri kamu sendiri,
dan jika kamu berbuat buruk maka itu untuk diri kamu sendiri. Lalu jika datang saat sempurnanya janji yang kedua itu Kami
membangkitkan lagi hamba-hamba Kami yang lain supaya mereka mendatangkan kesusahan kepada pemimpin-pemimpin kamu
dan supaya mereka memasuki masjid seperti pernah mereka memasukinya pada
kali pertama, dan supaya mereka
menghancurluluhkan segala yang telah mereka kuasai. Boleh
jadi kini Rabb (Tuhan) kamu
akan menaruh kasihan kepada kamu, tetapi jika kamu kembali kepada perbuatan buruk, Kami pun akan kembali menimpakan
hukuman dan ingatlah Kami telah jadikan Jahannam penjara bagi orang-orang kafir. (Bani
Israil [17]:5-9).
Dua kedurhakaan
Bani Israil yang tersebut dalam kitab Musa a.s. (Ulangan 28:15, 49-53,
63-64 & 30:15) disinggung dalam ayat ini. Di
antara Bani Israil yang senantiasa melakukan kedurhakaan kepada Allah Swt. dan para rasul Allah yang dibangkitkan di kalangan mereka (QS.2:88-89) telah
dua kali dikutuk yaitu oleh Nabi Daud a.s. dan
Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (QS.5:79), dan sebagai akibatnya mereka telah
dihukum pula dua kali, firman-Nya:
لُعِنَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا مِنۡۢ
بَنِیۡۤ اِسۡرَآءِیۡلَ عَلٰی لِسَانِ
دَاوٗدَ وَ عِیۡسَی ابۡنِ مَرۡیَمَ ؕ
ذٰلِکَ بِمَا عَصَوۡا وَّ کَانُوۡا یَعۡتَدُوۡنَ ﴿﴾ کَانُوۡا
لَا یَتَنَاہَوۡنَ عَنۡ مُّنۡکَرٍ فَعَلُوۡہُ ؕ لَبِئۡسَ مَا کَانُوۡا یَفۡعَلُوۡنَ
﴿﴾ تَرٰی کَثِیۡرًا مِّنۡہُمۡ یَتَوَلَّوۡنَ
الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا ؕ لَبِئۡسَ مَا قَدَّمَتۡ لَہُمۡ اَنۡفُسُہُمۡ اَنۡ سَخِطَ
اللّٰہُ عَلَیۡہِمۡ وَ فِی الۡعَذَابِ ہُمۡ خٰلِدُوۡنَ ﴿﴾ وَ
لَوۡ کَانُوۡا یُؤۡمِنُوۡنَ بِاللّٰہِ وَ النَّبِیِّ وَ مَاۤ اُنۡزِلَ اِلَیۡہِ مَا اتَّخَذُوۡہُمۡ
اَوۡلِیَآءَ وَ لٰکِنَّ کَثِیۡرًا مِّنۡہُمۡ
فٰسِقُوۡنَ ﴿﴾
Orang-orang yang
kafir dari kalangan Bani Israil
telah dilaknat oleh lidah Daud
dan Isa ibnu Maryam, hal demikian itu karena mereka senantiasa durhaka dan melampaui batas. Mereka tidak
pernah saling mencegah dari kemungkaran yang dikerjakannya, benar-benar
sangat
buruk apa yang senantiasa mereka
kerjakan. Engkau melihat kebanyakan
dari mereka menjadikan orang-orang kafir
sebagai pelindung, dan benar-benar sangat buruk apa yang
telah mereka dahulukan bagi diri mereka yaitu bahwa Allah murka
kepada mereka, dan di dalam azab
inilah mereka akan kekal. Dan seandainya
mereka beriman kepada Allah, Nabi
ini, dan kepada apa yang
diturunkan kepadanya, mereka sekali-kali tidak
akan mengambil orang-orang itu sebagai pelindung-pelindungnya, tetapi kebanyakan
mereka adalah orang-orang fasiq (Al-Māidah [5]:79-82).
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran Anyar, 23 Februari
2017
Tidak ada komentar:
Posting Komentar