Jumat, 24 Februari 2017

"Hindustan" Merupakan MIniatur "Dunia Agama" & Menunggu Seorang "Pahlawan Agama" Dengan "Nama" Berlainan di Ujung "Musim Kemarau" Panjang "Ruhani"





Bismillaahirrahmaanirrahiim

  ISLAM
Pidato  Mirza Ghulam Ahmad a.s.
Tgl. 2 November 1904 di Kota Sialkote – Hindustan

Bab  27

  HINDUSTAN MERUPAKAN MINIATUR “DUNIA AGAMA” & MENUNGGU  SEORANG “PAHLAWAN AGAMA DENGAN NAMA   BERLAINAN DI UJUNG “MUSIM KEMARAU” PANJANG RUHANI

Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam bagian akhir Bab 26 telah dijelaskan topik   Kesedihan dan Keprihatinan  Rasul Akhir Zaman & Memanfaatkan  Sistem ”Demokrasi  Pemerintahan Inggris Raya di Hindustan.  Mengisyaratkan kepada kenyataan kemunduran akhlak  dan ruhani  --  serta kemunduran   kekuasaan duniawi  yang menimpa umat Islam   terutama di wilayah Hindustan  -- itulah yang membuat    Masih Mau’ud a.s. sangat sedih, sebagaimana dikemukakan dalam  firman-Nya:
وَ قَالَ الرَّسُوۡلُ یٰرَبِّ اِنَّ قَوۡمِی اتَّخَذُوۡا ہٰذَا الۡقُرۡاٰنَ مَہۡجُوۡرًا ﴿﴾
Dan  Rasul itu berkata: “Ya Rabb-ku (Tuhan-ku), sesungguhnya kaumku telah menjadikan Al-Quran ini sesuatu yang telah ditinggalkan.  (Al-Furqān [25]:31).
     Ayat ini dengan sangat tepat sekali dapat dikenakan kepada mereka yang menamakan diri orang-orang Muslim tetapi telah menyampingkan Al-Quran dan telah melemparkannya ke belakang. Barangkali belum pernah terjadi selama 14 abad ini di mana Al-Quran demikian rupa diabaikan dan dilupakan oleh orang-orang Muslim seperti  di Akhir Zaman ini.
       Ada sebuah hadits Nabi Besar Muhammad  saw. yang mengatakan: “Satu saat akan datang kepada kaumku, bila tidak ada yang tinggal dari Islam melainkan namanya dan dari Al-Quran melainkan kata-katanya (Baihaqi, Syu’ab-ul-iman). Sungguh masa sekarang-sekarang di Akhir Zaman inilah saat yang dimaksudkan itu.,   terutama di wilayah Hindustan   setelah berakhirnya kekuasaan Dinasti Mughal.

Berbagai Pelanggaran Terhadap Perintah dan Larangan Allah Swt. Dalam Al-Quran

  Beberapa  perintah dan larangan Allah Swt. dalam Al-Quran yang diabaikan atau dilanggar oleh umumnya umat Islam antara lain:
(1)  Melanggar perintah bertakwa dan berpegang-teguh pada tali Allah  (QS.3:103-106),
(2)  Melanggar larangan menjadikan orang-orang Non-Muslim  yang aktif memusuhi Islam sebagai wali (pelindung/pemimpin/penolong) dengan mengenyampingkan sesama Muslim (QS.3:29 & 119; QS.4:145; QS.5:52-53 & 58; QS.60:9-10; QS.49:10-11).
(3)      Menyatakan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. masih hidup di langit dengan jasad kasarnya padahal beliau telah wafat (QS.3:56, 145, 186; QS.5:117-118;  QS.  21:35-36; QS.29:58), karena orang yang dipanjangkan   usianya – tanpa kecuali -- pasti  mengalami pikun (QS.16:71; QS.22:6; QS.36:69).
(4)      Menyatakan semua jenis kenabian dan  wahyu Ilahi telah berakhir dengan diutusnya Nabi Besar Muhammad saw. (QS.40:35-36; QS.72:8), padahal Allah Swt. bersifat Al-Mursilīn (Maha Mengutus – (QS.7:35-37; QS.22:76; QS.28:46;  QS.44:6) danbersifat  Al-Mutakallim  (Maha Berbicara --  QS.2:175; QS.3:78;  QS.16:69-70; QS.23:104-109; QS.42:52-54).
       Kalau benar bahwa   dengan diutus-Nya Nabi Besar Muhammad saw. dan diwahyukan-Nya Al-Quran maka semua jenis kenabian dan semua jenis wahyu Ilahi telah tertutup rapat,  maka berarti Nabi Besar Muhammad saw. adalah seorang abtar (terputus keturunannya) – baik dari segi jasmani mau pun ruhani  --  padahal menurut Allah Swt. para penentang Nabi Besar Muhammad saw. itulah yang akan abtar (terputus keturunannya – QS.108:1-4), sedangkan keturunan ruhani Nabi Besar Muhammad saw. akan terus berlangsung hingga  Hari Kiamat (QS.3:32; 4:70-71), karena kecuali beriman kepada Nabi Besar Muhammad saw., dan beragama Islam maka yang selainnya tidak akan diterima Allah Swt. QS.3:20 & 86; QS.4:70-71).
      Bukti  kebenaran hal tersebut adalah Nabi Besar Muhammad saw. telah menubuatkan kedatangan Imam Mahdi a.s. sebagai Khalifatullah  atau Rasul Allah  yang akan mewujudkan  kejayaan Islam yang kedua kali di Akhir Zaman ini (QS.61:10). Imam artinya “pemimpin” dan Mahdi  artinya “orang yang mendapat petunjuk dari Allah Swt. melalui  wahyu Ilahi” (QS.42:52-54),  sebab hanya kepada Khalifah Allah ( nabi Allah) sajalah Allah Swt. mengajarkan khazanah-khazanah baru   rahasia Ketuhanan-Nya sebagaimana yang diajarkan-Nya kepada Adam (QS.2:31-36; QS.3:180; QS.72:27-29).
     Itulah sebabnya  Nabi Besar Muhammad saw. telah menubuatkan dan  memberikan   memberikan amanat   yang  sangat penting  kepada umat Islam   mengenai kedatangan  Imam Mahdi a.s.  di Akhir Zaman dan  harus  bai’at kepada beliau a.s.:
“Ketika kalian melihatnya (kehadiran Imam Mahdi)  maka berbai’atlah dengannya walaupun harus merangkak-rangkak di atas salju karena sesungguhnya dia adalah Khalifatullah Al-Mahdi.” (HR Abu Dawud, 4074).      
Membangkitkan “Semangat” Umat Islam di Hindustan

       Sistem demokrasi yang dijalankan yang dijalankan pemerintah kerajaan Inggris di Hindustan    termasuk dalam hal  kebebasan beragama   --   telah dimanfaatkan oleh Mirza Ghulam Ahmad a.s.  – yakni Imam Mahdi a.s. atau Masih Mau’ud a.s.  -- untuk membela kesempurnaan agama Islam (Al-Quran) serta kesucian akhlak dan ruhani  Nabi Besar Muhamad saw. melalui   berbagai diskusi dan surat menyurat  dengan pihak pemeluk agama lain, terutama pihak Hindu dan Kristen yang sangat agresif  menyebarkan ajaran mereka.
     Pembelaan secara  tertulis paling terkenal dan benar-benar telah membungkam pihak-pihak yang sebelumnya secara agresif  menyerang  ajaran Islam (Al-Quran) serta kesucian akhlak dan ruhani Nabi Besar Muhammad saw. yang dilakukan Mirza Ghulam Ahmad adalah penerbitan buku “Barahin-e-Ahmadiyyah” (bukti-bukti Kesempurnaan Islam) sebanyak 5 jilid.
      Pembelaan yang dilakukan Mirza Ghulam Ahmad a.s.  terutama dengan diterbitnya buku  Barahin-e-Ahmadiyyah” (bukti-bukti Kesempurnaan Islam) – yang dilakukan sebelum beliau melakukan pendakwaan sebagai Imam Mahdi a.s. dan Masih Mau’ud a.s.. – tersebut telah membangkitkan semangat dan keberanian  umat Islam di Hindustan dan banyak para pemuka agama Islam yang memuji-mujijihad melalui pena” (tulisan) dan lisan  yang dilakukan oleh Mirza Ghulam Ahmad a.s.. 
       Di antara ‘ulama Hindustan yang memuji-muji   jihad” melalui “pena” (tulisan) yang dilakukan Mirza Gulam Ahmad a.s. tersebut salah satunya adalah  Maulwi Muhammad Husein Batalwi,  ia menulis pujiannya dalam majalahnya yang bernama Isya’atus-Sunnah, walau pun kemudian ia  berbalik menjadi penentang yang paling aktif  ketika Mirza Ghulam Ahmad a.s. atas perintah Allah Swt. menda’wakan sebagai Masih Mau’ud a.s.,  dengan  penentangnya tersebut menggenapi  lanjutan firman Allah Swt. sebelum ini (QS.25:31), firman-Nya:
وَ کَذٰلِکَ جَعَلۡنَا لِکُلِّ نَبِیٍّ عَدُوًّا مِّنَ الۡمُجۡرِمِیۡنَ ؕ وَ کَفٰی بِرَبِّکَ ہَادِیًا وَّ نَصِیۡرًا ﴿﴾
Dan demikianlah Kami  telah menjadikan musuh bagi tiap-tiap nabi   dari antara orang-orang yang berdosa, dan cukuplah Rabb (Tuhan) engkau sebagai pemberi petunjuk dan penolong  (Al-Furqān [25]:32).

Hindustan Miniatur “Dunia Agama” & Pengulangan “Zaman Jahiliyah” di Akhir Zaman

      Wilayah Hindustan saat itu  merupakan miniatur  dunia agama, karena hampir semua agama, sekte-sekte agama serta berbagai aliran kepercayaan dan aliran pemikiran – termasuk penganut  Atheisme – terdapat di Hindustan.   Jadi, pengutusan Mirza Ghulam Ahmad a.s. di wilayah Hindustan sebagai  Rasul Akhir Zaman -- yang kedatangannya ditunggu-tunggu oleh semua umat beragama  dengan nama (sebutan) yang berbeda-beda (QS.77:12) -- bukan tanpa hikmah yang sangat dalam, sebagaimana juga halnya pengutusan Nabi Besar Muhammad saw. di Jazirah Arabia (Mekkah) lebih dari 14 abad yang lalu, firman-Nya:
ظَہَرَ الۡفَسَادُ فِی الۡبَرِّ وَ الۡبَحۡرِ بِمَا کَسَبَتۡ اَیۡدِی  النَّاسِ  لِیُذِیۡقَہُمۡ بَعۡضَ الَّذِیۡ عَمِلُوۡا  لَعَلَّہُمۡ یَرۡجِعُوۡنَ ﴿﴾  قُلۡ سِیۡرُوۡا فِی الۡاَرۡضِ فَانۡظُرُوۡا کَیۡفَ کَانَ عَاقِبَۃُ  الَّذِیۡنَ مِنۡ قَبۡلُ ؕ کَانَ اَکۡثَرُہُمۡ  مُّشۡرِکِیۡنَ ﴿﴾  فَاَقِمۡ وَجۡہَکَ لِلدِّیۡنِ الۡقَیِّمِ مِنۡ قَبۡلِ اَنۡ یَّاۡتِیَ یَوۡمٌ  لَّا  مَرَدَّ لَہٗ مِنَ اللّٰہِ یَوۡمَئِذٍ  یَّصَّدَّعُوۡنَ ﴿﴾
Kerusakan telah meluas di daratan dan di lautan  disebabkan perbuatan tangan manusia,  supaya dirasakan kepada mereka akibat sebagian perbuatan yang mereka lakukan, supaya mereka kembali dari kedurhakaannya.  قُلۡ سِیۡرُوۡا فِی الۡاَرۡضِ فَانۡظُرُوۡا کَیۡفَ کَانَ عَاقِبَۃُ  الَّذِیۡنَ مِنۡ قَبۡلُ ؕ  --  Katakanlah:  Berjalanlah di bumi dan lihatlah bagaimana buruknya akibat bagi orang-orang sebelum kamu ini. کَانَ اَکۡثَرُہُمۡ  مُّشۡرِکِیۡنَ  --  Kebanyakan mereka itu orang-orang musyrik.”    Maka hadapkanlah wajah engkau kepada agama yang lurus, sebelum datang dari Allāh hari yang tidak dapat dihindarkan,  pada hari itu orang-orang beriman  dan kafir akan terpisah. (Ar-Rūm [30]:42-44).
   Dalam  firman-Nya tersebut  Allah Swt. memberi tahu, bahwa jika kegelapan (kekafiran dan kemusyrikan)  telah menyelimuti muka bumi dan manusia melupakan Allah Swt.  serta menaklukkan diri sendiri kepada penyembahan tuhan-tuhan yang dikhayalkan dan diciptakan oleh mereka sendiri, maka  sesuai dengan Sunnah-Nya Allah Swt. membangkitkan seorang nabi Allah (QS.7:35-37) untuk mengembalikan gembalaan yang tersesat keharibaan Majikan-nya.
      “Permulaan abad ketujuh adalah masa kekacauan nasional dan sosial, dan agama sebagai kekuatan akhlak, telah lenyap dan telah jatuh, menjadi hanya semata-mata tatacara dan upacara adat belaka; dan agama-agama besar di dunia sudah tidak lagi berpengaruh sehat pada kehidupan para penganutnya. Api suci yang dinyalakan oleh Zoroaster, Musa, dan Isa  a.m.s.  di dalam aliran darah manusia telah padam. Dalam abad kelima dan keenam, dunia beradab berada di tepi jurang kekacauan. Agaknya peradaban besar yang telah memerlukan waktu empat ribu tahun lamanya untuk menegakkannya telah berada di tepi jurang........ Peradaban laksana pohon besar yang daun-daunnya telah menaungi dunia dan dahan-dahannya telah menghasilkan buah-buahan emas dalam kesenian, keilmuan, kesusatraan, sudah goyah, batangnya tidak hidup lagi dengan mengalirkan sari pengabdian dan pembaktian, tetapi telah busuk hingga terasnya” (“Emotion as the Basis of Civilization” dan “Spirit of Islam”).
       Demikianlah keadaan umat manusia pada waktu Nabi Besar Muhammad saw.,  Guru umat manusia terbesar,  muncul pada pentas dunia sesuai nubuatan-nubuatan para rasul Allah dan kitab-kitab suci sebelumnya  -- mengenai beberapa nubuatan Bible berkenaan dengan  Nabi Besar Muhammad saw.    lihat Matius 23:39; Yahya 14:16, 26; 16:7-14; Ulangan 18:18 dan 33:2; Jesaya 21:13-17 dan 20:62; Syiru ‘Lasyar 1:5-6; Habakuk 3:7  --  dan tatkala syariat yang paling sempurna dan terakhir diturunkan dalam bentuk Al-Quran (QS.5:4), sebab  syariat yang sempurna hanya dapat diturunkan bila semua atau kebanyakan keburukan, teristimewa yang dikenal sebagai akar keburukan, menampakkan diri telah menjadi mapan.
      Kata-kata “daratan dan lautan” dapat diartikan: (a) bangsa-bangsa yang kebudayaan dan peradabannya hanya semata-mata berdasar pada akal serta pengalaman manusia, dan bangsa-bangsa yang kebudayaannya serta peradabannya didasari oleh wahyu Ilahi; (b) orang-orang yang hidup di benua-benua dan orang-orang yang hidup di pulau-pulau.

Musim Kemarau Panjang Ruhani & Masa “Fatrah” (Jeda) Pengutusan Rasul Allah

       Jadi menurut ayat:  ظَہَرَ الۡفَسَادُ فِی الۡبَرِّ وَ الۡبَحۡرِ بِمَا کَسَبَتۡ اَیۡدِی  النَّاسِ      -- “Kerusakan telah meluas di daratan dan di lautan  disebabkan perbuatan tangan manusia”,     berarti  bahwa semua bangsa dan umat beragama di dunia --   baik menjelang pengutusan Nabi Besar Muhammad saw. yang pertama  14 abad yang lampau mau pun di Akhir Zaman (QS.62:3-4)   -- telah menjadi rusak sampai kepada intinya, baik secara politis, sosial maupun akhlaki, firman-Nya:
یٰۤاَہۡلَ الۡکِتٰبِ قَدۡ جَآءَکُمۡ  رَسُوۡلُنَا یُبَیِّنُ لَکُمۡ کَثِیۡرًا مِّمَّا کُنۡتُمۡ تُخۡفُوۡنَ مِنَ الۡکِتٰبِ وَ یَعۡفُوۡا عَنۡ کَثِیۡرٍ ۬ؕ قَدۡ جَآءَکُمۡ  مِّنَ اللّٰہِ  نُوۡرٌ وَّ کِتٰبٌ مُّبِیۡنٌ ﴿ۙ﴾   یَّہۡدِیۡ بِہِ اللّٰہُ مَنِ اتَّبَعَ رِضۡوَانَہٗ سُبُلَ السَّلٰمِ  وَ یُخۡرِجُہُمۡ مِّنَ الظُّلُمٰتِ اِلَی النُّوۡرِ بِاِذۡنِہٖ وَ یَہۡدِیۡہِمۡ  اِلٰی  صِرَاطٍ مُّسۡتَقِیۡمٍ ﴿﴾
Hai Ahlul Kitab,  sungguh telah datang kepada kamu Rasul Kami yang menjelaskan kepada kamu banyak dari apa yang  senantiasa kamu  sembunyikan dari Kitab itu, dan ia memaafkan banyak dari kesalahan kamu. Sungguh telah datang kepada kamu Nur    dari Allah dan Kitab yang menerangi.   Dengan itu Allah memberi petunjuk orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya pada jalan-jalan keselamatan, dan mengeluarkan mereka dari berbagai kegelapan kepada cahaya dengan izin-Nya, dan memberi mereka petunjuk kepada jalan lurus. (Māidah  [5]:16-17).
        Makna “Nur dari Allah  dalam ayat:  ؕ قَدۡ جَآءَکُمۡ  مِّنَ اللّٰہِ  نُوۡرٌ وَّ کِتٰبٌ مُّبِیۡنٌ -- “Sungguh telah datang kepada kamu Nur  dari Allah dan Kitab yang menerangi” adalah Nabi Besar Muhammad saw.  (QS.24:36; QS.33:46-47).  Dalam QS.4:175  penggunaan kata “nur” dapat pula mengisyaratkan baik kepada wujud Nabi Besar Muhammad saw.  maupun Al-Quran (QS.7:158).
      Pada hakikatnya terjadinya  kerusakan  di “daratan” dan di “lautan” tersebut adalah akibat adanya masa fatrah (masa jeda) pengutusan  rasul Allah yang  sangat lama,  sehingga dalam dunia agama (keruhanian)  terjadi “musim kemarau panjang” (QS.57:17-18),  firman-Nya: 
اَلَمۡ یَاۡنِ  لِلَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡۤا  اَنۡ  تَخۡشَعَ قُلُوۡبُہُمۡ  لِذِکۡرِ اللّٰہِ  وَ مَا  نَزَلَ مِنَ الۡحَقِّ  ۙ  وَ لَا یَکُوۡنُوۡا کَالَّذِیۡنَ اُوۡتُوا الۡکِتٰبَ مِنۡ قَبۡلُ فَطَالَ عَلَیۡہِمُ  الۡاَمَدُ فَقَسَتۡ قُلُوۡبُہُمۡ ؕ وَ کَثِیۡرٌ  مِّنۡہُمۡ فٰسِقُوۡنَ ﴿﴾  اِعۡلَمُوۡۤا  اَنَّ اللّٰہَ یُحۡیِ الۡاَرۡضَ بَعۡدَ مَوۡتِہَا ؕ قَدۡ بَیَّنَّا لَکُمُ الۡاٰیٰتِ لَعَلَّکُمۡ  تَعۡقِلُوۡنَ ﴿﴾
Apakah belum sampai waktu bagi orang-orang yang beriman, bahwa hati mereka tunduk untuk mengingat Allah dan mengingat  kebenaran yang telah turun kepada mereka, وَ لَا یَکُوۡنُوۡا کَالَّذِیۡنَ اُوۡتُوا الۡکِتٰبَ مِنۡ قَبۡلُ  -- dan mereka tidak  menjadi seperti orang-orang yang diberi kitab sebelumnya,  فَطَالَ عَلَیۡہِمُ  الۡاَمَدُ فَقَسَتۡ قُلُوۡبُہُمۡ ؕ وَ کَثِیۡرٌ  مِّنۡہُمۡ فٰسِقُوۡنَ -- maka zaman kesejahteraan menjadi panjang atas mereka lalu  hati mereka menjadi keras, dan kebanyakan dari mereka menjadi durhaka?  اِعۡلَمُوۡۤا  اَنَّ اللّٰہَ یُحۡیِ الۡاَرۡضَ بَعۡدَ مَوۡتِہَا ؕ قَدۡ بَیَّنَّا لَکُمُ الۡاٰیٰتِ لَعَلَّکُمۡ  تَعۡقِلُوۡنَ     -- Ketahuilah, bahwasanya  Allah  menghidupkan bumi sesudah matinya. Sungguh Kami telah menjelaskan Tanda-tanda kepada kamu supaya kamu mengerti. (Al-Hadīd [57]:17-18).
        Selaras dengan pernyataan Allah Swt. tersebut, dalam surah lainnya Allah Swt. berfirman mengenai  fatrah (masa jeda kedatangan rasul Allah):
یٰۤاَہۡلَ الۡکِتٰبِ قَدۡ جَآءَکُمۡ  رَسُوۡلُنَا یُبَیِّنُ لَکُمۡ عَلٰی  فَتۡرَۃٍ  مِّنَ الرُّسُلِ اَنۡ تَقُوۡلُوۡا مَا جَآءَنَا مِنۡۢ بَشِیۡرٍ وَّ لَا نَذِیۡرٍ ۫ فَقَدۡ جَآءَکُمۡ بَشِیۡرٌ وَّ نَذِیۡرٌ ؕ وَ اللّٰہُ  عَلٰی  کُلِّ  شَیۡءٍ  قَدِیۡرٌ ﴿٪﴾
Hai Ahlul Kitab, sungguh telah datang kepada kamu Rasul Kami yang  menjelaskan syariat kepada kamu عَلٰی  فَتۡرَۃٍ  مِّنَ الرُّسُلِ  --  pada masa jeda pengutusan rasul-rasul, اَنۡ تَقُوۡلُوۡا مَا جَآءَنَا مِنۡۢ بَشِیۡرٍ وَّ لَا نَذِیۡرٍ  -- supaya kamu tidak mengatakan: “Tidak pernah datang kepada kami  seorang pemberi kabar gembira dan tidak pula seorang pemberi peringatan.” فَقَدۡ جَآءَکُمۡ بَشِیۡرٌ وَّ نَذِیۡرٌ ؕ     -- Padahal sungguh  telah datang kepada kamu seorang pembawa kabar gembira  dan pemberi peringatan, وَ اللّٰہُ  عَلٰی  کُلِّ  شَیۡءٍ  قَدِیۡرٌ --  dan Allah Maha kuasa atas segala sesuatu  (Māidah  [5]:20

Pengutusan Rasul Akhir Zaman  di Masa Puncak Kemunduran Umat Islam

       Sejarah bungkam perihal apakah ada seorang nabi Allah  pernah datang di salah satu negeri di antara zaman Nabi Besar Muhammad saw. .  dengan zaman Nabi Isa Ibnu Maryam a.s., yakni dalam rentang waktu sekitar 6 abad,    yang pasti ialah sekurang-kurangnya di antara para Ahlulkitab  setelah pengutusan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. tiada seorang nabi Allah  pun datang dalam jangka waktu itu.
     Jadi, pada hakikatnya, dunia telah mengharap-harapkan dan bersiap-siap menerima kedatangan Juru Selamat terbesar bagi umat manusia, yaitu Nabi Besar Muhammad saw., yang merupakan misal Nabi Musa a.s. (Ulangan 18:18; QS.46:11)  atau  Dia yang datang dalam nama Tuhan” (Matius 23:37-39; “Roh Kebenaran” yang membawa “seluruh kebenaran” (Yohanes 16:12-13).
      Beberapa pernyataan dari sumber yang diragukan (Kalbi) menyebutkan bahwa Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.  disusul oleh beberapa nabi, di antaranya Khalid bin Salam termasuk seorang dari antara mereka. Tetapi Nabi Besar Muhammad saw.  menurut riwayat pernah bersabda bahwa antara beliau dan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. tidak ada nabi (Bukhari).
      Masa “fatrah” (jeda) pengutusan rasul Allah tersebut kembali terjadi  di kalangan umat Islam setelah  pengutusan Nabi Besar Muhammad saw. dari kalangan Bani Isma’il   selama 1000 tahun setelah 3 abad masa kejayaannya yang pertama (QS.32:6), kemudian   Allah Swt.  pengutusan Mirza Ghulam Ahmad a.s. sebagai Imam  Mahdi a.s. dan Masih Mau’ud a.s. dari kalangan umat Islam (QS.62:3-4) pada awal abad 14 hijrah (QS.1835-1908)  -- sehingga akibatnya setelah umat Islam  (Bani Isma’il) mengalami masa   musim kemarau panjang ruhani” selama 1000 tahun, firman-Nya:
یُدَبِّرُ الۡاَمۡرَ مِنَ السَّمَآءِ  اِلَی الۡاَرۡضِ ثُمَّ یَعۡرُجُ  اِلَیۡہِ  فِیۡ یَوۡمٍ کَانَ مِقۡدَارُہٗۤ اَلۡفَ سَنَۃٍ  مِّمَّا تَعُدُّوۡنَ ﴿﴾  ذٰلِکَ عٰلِمُ الۡغَیۡبِ وَ الشَّہَادَۃِ  الۡعَزِیۡزُ الرَّحِیۡمُ ۙ﴿﴾
Dia mengatur perintah dari langit sampai bumi, kemudian perintah itu akan naik kepada-Nya dalam satu hari, yang hitungan lamanya seribu tahun dari apa yang kamu hitung.    Demikian itulah  Tuhan Yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, Maha Perkasa, Maha Penyayang, (As-Sajdah [32]:6-17).
        Ayat 6  menunjuk kepada suatu pancaroba sangat hebat  yang ditakdirkan akan menimpa Islam dalam perkembangannya yang penuh dengan perubahan itu. Islam akan melalui suatu masa kemajuan dan kesejahteraan yang mantap selama 3 abad pertama kehidupannya.  Nabi Besar Muhammad saw.  diriwayatkan pernah menyinggung secara jitu mengenai kenyataan itu dalam sabda beliau: “Abad terbaik ialah abad di kala aku hidup, kemudian abad berikutnya, kemudian abad sesudah itu” (Tirmidzi & Bukhari, Kitab-usy-Syahadat).
      Islam atau umat Islam mulai mundur sesudah 3 abad pertama masa keunggulan dan kemenangan yang tiada henti-hentinya. Peristiwa kemunduran dan kemerosotannya berlangsung dalam masa 1000 tahun berikutnya. Kepada masa 1000 tahun inilah, telah diisyaratkan dengan kata-kata: ثُمَّ یَعۡرُجُ  اِلَیۡہِ  فِیۡ یَوۡمٍ کَانَ مِقۡدَارُہٗۤ اَلۡفَ سَنَۃٍ  مِّمَّا تَعُدُّوۡنَ  -- “Kemudian perintah itu akan naik kepada-Nya dalam satu hari, yang hitungan lamanya seribu tahun dari apa yang kamu hitung.”
      Dalam hadits lain Nabi Besar Muhammad saw.  diriwayatkan pernah bersabda  menggunakan ungkapan kiasan bahwa iman dari   umat Islam akan terbang ke Bintang Tsuraya dan seseorang dari keturunan Parsi akan mengembalikannya ke bumi (Bukhari, Kitab-ut-Tafsir surah Al-Jumu’ah). Dengan kedatangan  Masih Mau’ud a.s. dalam abad ke-14 sesudah Hijrah, laju kemerosotan yang menimpa Islam telah terhenti dan kebangkitan Islam kembali mulai berlaku hingga sempurnanya firman Allah Swt. berikut ini:
ہُوَ الَّذِیۡۤ  اَرۡسَلَ  رَسُوۡلَہٗ  بِالۡہُدٰی وَ دِیۡنِ  الۡحَقِّ لِیُظۡہِرَہٗ  عَلَی الدِّیۡنِ کُلِّہٖ وَ لَوۡ  کَرِہَ  الۡمُشۡرِکُوۡنَ ٪﴿﴾
Dia-lah Yang mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk dan dengan agama yang benar supaya Dia memenangkannya atas semua agama,  walaupun orang musyrik tidak menyukai. (Ash-Shaf [61]:10).
      Kebanyakan ahli tafsir Al-Quran sepakat bahwa ayat ini kena  dan akan terwujud  melalui perjuangan suci  Al-Masih yang dijanjikan (Masih Mau’ud a.s.), sebab di zaman beliau semua agama muncul  dan berlomba-lomba mentabligkan agama mereka,  karena mereka pun  mempercayai mengenai kedatangan  seorang “pahlawan agama  -- dengan nama yang berbeda-beda di setiap umat beragama  --  yang    akan memenangkan agama mereka, sebagaimana yang juga dipercayai oleh umat Islam mengenai kedatangan Imam Mahdi a.s.  dan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.,  yang akan mengunggulkan agama Islam di atas semua agama.

Dua  Azab Ilahi yang Menimpa Bani Israil

     Mengisyaratkat  kepada akibat buruk yang ditimbulkan masa “fatrah  (masa jeda)  rangkaian pengutusan rasul Allah (QS.7:35-37)  atau  musim kemarau panjang ruhani” yang panjang  itu pulalah peringatan Allah Swt. kepada umat Islam dalam  firman-Nya  sebelum ini:
اَلَمۡ یَاۡنِ  لِلَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡۤا  اَنۡ  تَخۡشَعَ قُلُوۡبُہُمۡ  لِذِکۡرِ اللّٰہِ  وَ مَا  نَزَلَ مِنَ الۡحَقِّ  ۙ  وَ لَا یَکُوۡنُوۡا کَالَّذِیۡنَ اُوۡتُوا الۡکِتٰبَ مِنۡ قَبۡلُ فَطَالَ عَلَیۡہِمُ  الۡاَمَدُ فَقَسَتۡ قُلُوۡبُہُمۡ ؕ وَ کَثِیۡرٌ  مِّنۡہُمۡ فٰسِقُوۡنَ ﴿﴾  اِعۡلَمُوۡۤا  اَنَّ اللّٰہَ یُحۡیِ الۡاَرۡضَ بَعۡدَ مَوۡتِہَا ؕ قَدۡ بَیَّنَّا لَکُمُ الۡاٰیٰتِ لَعَلَّکُمۡ  تَعۡقِلُوۡنَ ﴿﴾
Apakah belum sampai waktu bagi orang-orang yang beriman, bahwa hati mereka tunduk untuk mengingat Allah dan mengingat  kebenaran yang telah turun kepada mereka,  وَ لَا یَکُوۡنُوۡا کَالَّذِیۡنَ اُوۡتُوا الۡکِتٰبَ مِنۡ قَبۡلُ -- dan mereka tidak  menjadi seperti orang-orang yang diberi kitab sebelumnya, فَطَالَ عَلَیۡہِمُ  الۡاَمَدُ فَقَسَتۡ قُلُوۡبُہُمۡ -- maka  zaman kesejahteraan menjadi panjang atas mereka lalu   hati mereka menjadi keras, وَ کَثِیۡرٌ  مِّنۡہُمۡ فٰسِقُوۡنَ -- dan kebanyakan dari mereka menjadi durhaka? اِعۡلَمُوۡۤا  اَنَّ اللّٰہَ یُحۡیِ الۡاَرۡضَ بَعۡدَ مَوۡتِہَا  --  Ketahuilah, bahwasanya  Allah menghidupkan bumi sesudah matinya. قَدۡ بَیَّنَّا لَکُمُ الۡاٰیٰتِ لَعَلَّکُمۡ  تَعۡقِلُوۡنَ --  Sungguh Kami telah menjelaskan Tanda-tanda kepada kamu supaya kamu mengerti. (Al-Hadīd [57]:17-18).
        Pada masa “fatrah” (jeda) pengutusan rasul Allah  Swt. selama 1000 tahun itu pulalah nubuatan dan peringatan  Allah Swt.   berupa azab Ilahi --  yang sebelumnya telah menimpa Bani Israil   dua kali  -- telah menimpa umat Islam (Bani Isma’il), firman-Nya:
 وَ قَضَیۡنَاۤ  اِلٰی بَنِیۡۤ  اِسۡرَآءِیۡلَ فِی الۡکِتٰبِ لَتُفۡسِدُنَّ فِی الۡاَرۡضِ مَرَّتَیۡنِ  وَ لَتَعۡلُنَّ  عُلُوًّا کَبِیۡرًا ﴿﴾ فَاِذَا جَآءَ وَعۡدُ اُوۡلٰىہُمَا بَعَثۡنَا عَلَیۡکُمۡ  عِبَادًا  لَّنَاۤ   اُولِیۡ  بَاۡسٍ  شَدِیۡدٍ فَجَاسُوۡا خِلٰلَ الدِّیَارِ ؕ وَ کَانَ وَعۡدًا  مَّفۡعُوۡلًا ﴿﴾   ثُمَّ رَدَدۡنَا لَکُمُ الۡکَرَّۃَ عَلَیۡہِمۡ وَ اَمۡدَدۡنٰکُمۡ بِاَمۡوَالٍ وَّ بَنِیۡنَ وَ جَعَلۡنٰکُمۡ  اَکۡثَرَ  نَفِیۡرًا ﴿﴾ اِنۡ اَحۡسَنۡتُمۡ اَحۡسَنۡتُمۡ لِاَنۡفُسِکُمۡ ۟ وَ اِنۡ اَسَاۡتُمۡ فَلَہَا ؕ فَاِذَا جَآءَ وَعۡدُ الۡاٰخِرَۃِ  لِیَسُوۡٓءٗا  وُجُوۡہَکُمۡ وَ لِیَدۡخُلُوا الۡمَسۡجِدَ کَمَا دَخَلُوۡہُ  اَوَّلَ مَرَّۃٍ  وَّ  لِیُتَبِّرُوۡا مَا عَلَوۡا تَتۡبِیۡرًا ﴿﴾ عَسٰی رَبُّکُمۡ اَنۡ یَّرۡحَمَکُمۡ ۚ وَ اِنۡ عُدۡتُّمۡ عُدۡنَا ۘ وَ جَعَلۡنَا جَہَنَّمَ لِلۡکٰفِرِیۡنَ  حَصِیۡرًا ﴿﴾
Dan   telah Kami tetapkan terhadap Bani Israil dalam kitab itu: “Niscaya  kamu akan melakukan kerusakan di muka bumi ini dua kali, dan niscaya kamu akan menyombongkan diri dengan kesombongan yang sangat besar.”   Apabila datang saat sempur-nanya janji yang pertama dari kedua janji itu, Kami membangkitkan untuk menghadapi kamu hamba-hamba Kami yang mempunyai kekuatan tempur yang dahsyat, dan mereka menerobos jauh ke dalam rumah-rumah, dan itu merupakan suatu janji yang pasti terlaksana.    Kemudian Kami mengembalikan lagi kepada kamu kekuatan untuk melawan mereka, dan Kami memban-tu kamu dengan harta dan anak-anak, dan  Kami menjadikan kelompok kamu lebih besar  dari sebelumnya.     Jika kamu berbuat ihsan, kamu berbuat ihsan  bagi diri kamu sendiri, dan jika kamu berbuat buruk  maka itu untuk diri kamu sendiri. Lalu  jika datang saat sempurnanya janji yang kedua itu Kami membangkitkan lagi hamba-hamba Kami yang lain supaya mereka mendatangkan kesusahan kepada pemimpin-pemimpin kamu  dan supaya mereka memasuki masjid seperti pernah mereka memasukinya pada kali pertama, dan supaya mereka menghancurluluhkan segala yang telah mereka kuasai.   Boleh jadi kini Rabb (Tuhan)  kamu akan menaruh kasihan kepada kamu, tetapi jika kamu kembali kepada perbuatan buruk, Kami pun akan kembali menimpakan hukuman dan ingatlah  Kami telah jadikan Jahannam penjara bagi orang-orang kafir. (Bani Israil [17]:5-9).
        Dua kedurhakaan Bani Israil yang tersebut dalam kitab Musa a.s. (Ulangan 28:15, 49-53, 63-64 & 30:15) disinggung dalam ayat ini.   Di antara Bani Israil  yang  senantiasa melakukan kedurhakaan kepada Allah Swt. dan para rasul Allah yang dibangkitkan di kalangan mereka (QS.2:88-89) telah dua kali dikutuk  yaitu oleh Nabi Daud a.s.  dan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.  (QS.5:79), dan sebagai akibatnya mereka telah dihukum pula dua kali, firman-Nya:
لُعِنَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا مِنۡۢ بَنِیۡۤ  اِسۡرَآءِیۡلَ عَلٰی لِسَانِ دَاوٗدَ  وَ عِیۡسَی ابۡنِ مَرۡیَمَ ؕ ذٰلِکَ بِمَا عَصَوۡا وَّ کَانُوۡا یَعۡتَدُوۡنَ ﴿﴾  کَانُوۡا لَا یَتَنَاہَوۡنَ عَنۡ مُّنۡکَرٍ فَعَلُوۡہُ ؕ لَبِئۡسَ مَا کَانُوۡا یَفۡعَلُوۡنَ ﴿﴾  تَرٰی کَثِیۡرًا مِّنۡہُمۡ یَتَوَلَّوۡنَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا ؕ لَبِئۡسَ مَا قَدَّمَتۡ لَہُمۡ اَنۡفُسُہُمۡ اَنۡ سَخِطَ اللّٰہُ عَلَیۡہِمۡ وَ فِی الۡعَذَابِ ہُمۡ خٰلِدُوۡنَ ﴿﴾  وَ لَوۡ کَانُوۡا یُؤۡمِنُوۡنَ بِاللّٰہِ وَ النَّبِیِّ  وَ مَاۤ اُنۡزِلَ اِلَیۡہِ مَا اتَّخَذُوۡہُمۡ اَوۡلِیَآءَ وَ لٰکِنَّ  کَثِیۡرًا  مِّنۡہُمۡ  فٰسِقُوۡنَ ﴿﴾
Orang-orang  yang kafir  dari kalangan Bani Israil telah  dilaknat oleh lidah Daud dan Isa ibnu Maryam,  hal demikian itu karena mereka senantiasa durhaka dan melampaui batas. Mereka tidak pernah saling mencegah dari kemungkaran yang dikerjakannya, benar-benar sangat  buruk apa yang senantiasa  mereka kerjakan. Engkau melihat kebanyakan dari mereka menjadikan orang-orang kafir  sebagai  pelindung, dan benar-benar sangat buruk apa yang telah  mereka dahulukan  bagi diri mereka   yaitu bahwa Allah  murka kepada mereka, dan di dalam azab inilah mereka akan kekal.  Dan seandainya   mereka beriman kepada Allah, Nabi ini, dan kepada apa yang diturunkan kepadanya,  mereka sekali-kali  tidak akan mengambil orang-orang itu sebagai pelindung-pelindungnya,  tetapi kebanyakan mereka adalah orang-orang fasiq (Al-Māidah [5]:79-82).

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid

oo0oo
Pajajaran Anyar, 23    Februari  2017




Tidak ada komentar:

Posting Komentar