Bismillaahirrahmaanirrahiim
ISLAM
Pidato Mirza Ghulam Ahmad a.s.
Tgl. 2 November 1904
di Kota Sialkote – Hindustan
Bab 24
HADITS-HADITS NABI BESAR MUHAMMAD SAW. TENTANG CIRI-CIRI IMAM MAHDI A.S. & SALING MEWARISI CARA MELAKUKAN PENENTANGAN TERHADAP PARA RASUL ALLAH DI SETIAP ZAMAN KENABIAN
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam bagian akhir Bab 23 telah dijelaskan topik Pencabutan “Ruh”
Al-Quran dan Pengembaliannya Lagi di Akhir
Zaman sehubungan dengan firman-Nya:
وَ یَسۡـَٔلُوۡنَکَ عَنِ الرُّوۡحِ ؕ
قُلِ الرُّوۡحُ مِنۡ اَمۡرِ رَبِّیۡ وَ
مَاۤ اُوۡتِیۡتُمۡ مِّنَ الۡعِلۡمِ اِلَّا قَلِیۡلًا ﴿﴾ وَ
لَئِنۡ شِئۡنَا لَنَذۡہَبَنَّ بِالَّذِیۡۤ
اَوۡحَیۡنَاۤ اِلَیۡکَ ثُمَّ لَا تَجِدُ لَکَ بِہٖ عَلَیۡنَا وَکِیۡلًا ﴿ۙ﴾ اِلَّا
رَحۡمَۃً مِّنۡ رَّبِّکَ ؕ اِنَّ فَضۡلَہٗ
کَانَ عَلَیۡکَ کَبِیۡرًا ﴿﴾
Dan mereka bertanya kepada engkau mengenai ruh, katakanlah: “Ruh telah diciptakan atas
perintah Rabb-ku (Tuhan-ku), dan kamu sama sekali tidak
diberi ilmu mengenai itu melainkan
sedikit.” وَ لَئِنۡ شِئۡنَا لَنَذۡہَبَنَّ
بِالَّذِیۡۤ اَوۡحَیۡنَاۤ اِلَیۡکَ ثُمَّ
لَا تَجِدُ لَکَ بِہٖ عَلَیۡنَا وَکِیۡلًا -- Dan jika
Kami benar-benar menghendaki, niscaya
Kami mengambil kembali apa
yang telah Kami wahyukan kepada engkau kemudian engkau
tidak akan memperoleh penjaga baginya terhadap Kami dalam hal itu اِلَّا رَحۡمَۃً مِّنۡ رَّبِّکَ ؕ اِنَّ فَضۡلَہٗ
کَانَ عَلَیۡکَ کَبِیۡرًا --
kecuali rahmat dari Rabb (Tuhan) engkau, sesungguhnya karunia-Nya sangat besar kepada engkau. (Bani Israil [17]:86-88).
Kata ruh itu berarti wahyu Ilahi (QS.42:52-54; QS.58:23; Lexicon Lane). Letaknya kata ini
dalam ayat tersebut mendukung arti demikian. Ayat tersebut nampaknya mengandung nubuatan bahwa setelah umat Islam mengalami masa kejayaan yang pertama selama 3 abad,
akan datang suatu saat selama 1000 tahun (QS.32:6) ketika ilmu Al-Quran secara berangsur-angsur
akan lenyap dari bumi, firman-Nya:
یُدَبِّرُ
الۡاَمۡرَ مِنَ السَّمَآءِ اِلَی
الۡاَرۡضِ ثُمَّ یَعۡرُجُ اِلَیۡہِ فِیۡ یَوۡمٍ کَانَ مِقۡدَارُہٗۤ اَلۡفَ سَنَۃٍ مِّمَّا تَعُدُّوۡنَ ﴿﴾
Dia
mengatur perintah dari langit sampai bumi, kemudian perintah itu
akan naik kepada-Nya dalam satu hari, yang hitungan lamanya seribu tahun dari apa yang kamu hitung. (As-Sajdah [32]:6).
Masa Kemunduran Islam Selama Seribu
Tahun
Ayat ini menunjuk kepada suatu pancaroba sangat hebat yang ditakdirkan
Allah Swt. akan menimpa Islam dalam
perkembangannya yang penuh dengan perubahan itu. Islam akan melalui suatu masa kemajuan dan kesejahteraan yang mantap selama 3 abad pertama kehidupannya.
Nabi Besar Muhamad saw. diriwayatkan pernah menyinggung secara
jitu mengenai kenyataan itu dalam sabda beliau: “Abad terbaik ialah abad di kala aku hidup, kemudian abad berikutnya,
kemudian abad sesudah itu” (Tirmidzi
& Bukhari,
Kitab-usy-Syahadat).
Islam mulai mundur sesudah 3 abad pertama masa keunggulan dan keme-nangan pertama
yang tiada henti-hentinya. Peristiwa kemunduran
dan kemerosotannya ber-langsung dalam
masa 1000 tahun berikutnya. Kepada
masa 1000 tahun inilah telah diisyaratkan dengan kata-kata: ثُمَّ یَعۡرُجُ اِلَیۡہِ
فِیۡ یَوۡمٍ کَانَ مِقۡدَارُہٗۤ اَلۡفَ سَنَۃٍ مِّمَّا تَعُدُّوۡنَ
-- “Kemudian perintah itu akan naik kepada-Nya dalam satu hari, yang
hitungan lamanya seribu tahun.”
Dalam hadits lain berkenaan
tafsir surah Al-Jumu’ah ayat 3-4 mengenai makna ayat: وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ ہُوَ الۡعَزِیۡزُ
الۡحَکِیۡمُ
-- Dan juga akan
membangkitkan-nya pada kaum lain
dari antara mereka, yang belum
bertemu dengan mereka. Dan Dia-lah
Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana.
(Al-Jumu’ah
[62]:4). Nabi Besar Muhammad saw. diriwayatkan
pernah bersabda bahwa iman akan terbang ke Bintang Tsuraya dan seseorang dari keturunan Parsi akan mengembalikannya ke bumi (Bukhari, Kitab-ut-Tafsir).
Nubuatan Nabi Besar Muhammad saw. serupa itu telah
diriwayatkan oleh Mardawaih, Baihaqi, dan Ibn Majah, ketika ruh dan
jiwa ajaran Al-Quran akan hilang
lenyap dari bumi, dan semua orang yang
dikenal sebagai ahli-ahli mistik dan
para sufi yang mengakui memiliki kekuatan batin istimewa — seperti pula
diakui oleh segolongan orang-orang Yahudi
dahulu kala yang sifatnya serupa
dengan mereka — tidak akan berhasil mengembalikan
jiwa ajaran Al-Quran dengan usaha
mereka bersama-sama, itulah makna firman-Nya:
وَ لَئِنۡ شِئۡنَا لَنَذۡہَبَنَّ
بِالَّذِیۡۤ اَوۡحَیۡنَاۤ اِلَیۡکَ ثُمَّ
لَا تَجِدُ لَکَ بِہٖ عَلَیۡنَا وَکِیۡلًا
﴿ۙ﴾ اِلَّا رَحۡمَۃً مِّنۡ
رَّبِّکَ ؕ اِنَّ فَضۡلَہٗ کَانَ عَلَیۡکَ کَبِیۡرًا ﴿﴾
Dan jika Kami benar-benar menghendaki, niscaya Kami mengambil kembali apa yang telah Kami wahyukan kepada
engkau kemudian engkau
tidak akan memperoleh penjaga baginya terhadap Kami dalam hal itu. اِلَّا رَحۡمَۃً مِّنۡ رَّبِّکَ ؕ اِنَّ فَضۡلَہٗ
کَانَ عَلَیۡکَ کَبِیۡرًا -- Kecuali karena rahmat dari Rabb (Tuhan) engkau,
sesungguhnya karunia-Nya sangat besar
kepada engkau. (Bani Israil [17]:87-88).
Rahmat dan Karunia Ilahi Kepada Umat
Islam
Dalam ayat: اِلَّا رَحۡمَۃً مِّنۡ
رَّبِّکَ ؕ اِنَّ فَضۡلَہٗ کَانَ عَلَیۡکَ کَبِیۡرًا -- “Kecuali karena rahmat dari Rabb (Tuhan) engkau,
sesungguhnya karunia-Nya sangat besar
kepada engkau“ terdapat kabar gembira
bahwa – setelah mengalami masa kemunduran selama 1000 tahun (QS.32:6) tersebut -- Allah Swt. akan mengembalikan
lagi “ruh” Al-Quran yang telah “terbang ke bintang Tsuraya” tersebut di Akhir Zaman ini kepada umat Islam, sebagaimana yang terjadi di zaman Nabi Besar Muhammad saw. yaitu melalui pengutusan kedua kali beliau saw. secara ruhani dalam wujud Rasul Akhir Zaman, firman-Nya:
ہُوَ
الَّذِیۡ بَعَثَ فِی الۡاُمِّیّٖنَ
رَسُوۡلًا مِّنۡہُمۡ یَتۡلُوۡا
عَلَیۡہِمۡ اٰیٰتِہٖ وَ
یُزَکِّیۡہِمۡ وَ
یُعَلِّمُہُمُ الۡکِتٰبَ وَ الۡحِکۡمَۃَ ٭ وَ اِنۡ کَانُوۡا مِنۡ قَبۡلُ
لَفِیۡ ضَلٰلٍ مُّبِیۡنٍ ۙ﴿﴾ وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ ہُوَ الۡعَزِیۡزُ
الۡحَکِیۡمُ ﴿﴾
Dia-lah Yang telah membangkitkan di kalangan bangsa
yang buta-huruf seorang rasul dari antara mereka,
yang membacakan kepada mereka
Tanda-tanda-Nya, mensucikan mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah walaupun sebelumnya mereka berada dalam kesesatan yang nyata, وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ ہُوَ الۡعَزِیۡزُ
الۡحَکِیۡمُ -- Dan juga akan membangkitkannya pada kaum lain dari antara mereka, yang
belum bertemu dengan mereka. Dan Dia-lah
Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana.
(Al-Jumu’ah
[62]:3-4).
Kembali kepada masalah “pencabutan ruh” Al-Quran setelah umat Islam mengalami masa kejayaan yang pertama selama 3 abad (QS.17:86-87), selanjutnya Allah Swt. berfirman:
قُلۡ لَّئِنِ اجۡتَمَعَتِ الۡاِنۡسُ وَ
الۡجِنُّ عَلٰۤی اَنۡ یَّاۡتُوۡا بِمِثۡلِ ہٰذَا الۡقُرۡاٰنِ لَا یَاۡتُوۡنَ
بِمِثۡلِہٖ وَ لَوۡ کَانَ بَعۡضُہُمۡ لِبَعۡضٍ
ظَہِیۡرًا ﴿﴾
Katakanlah:
“Jika ins (manusia) dan jin
benar-benar berhimpun untuk mendatangkan
yang semisal Al-Quran ini, mereka tidak
akan sanggup men-datangkan yang sama seperti ini, walaupun
sebagian mereka membantu sebagian
yang lain.” (Bani Israil [17]:89).
Tantangan dalam ayat ini
pertama-tama diajukan kepada mereka yang ber-kecimpung dalam kebiasaan-kebiasaan klenik, supaya
mereka meminta pertolongan ruh-ruh gaib,
yang darinya orang-orang ahli kebatinan
itu — menurut pengakuannya sendiri —
menerima ilmu ruhani. Tantangan ini
berlaku pula untuk semua orang yang
menolak Al-Quran bersumber pada Allah
Swt. dan tantangan tersebut berlaku untuk sepanjang masa.
Jaminan Pemeliharaan
Al-Quran Secara Jasmani dan Ruhani
Jadi, sebagaimana Allah Swt. telah mewahyukan Al-Quran kepada Nabi Besar
Muhammad saw. maka dan Dia jugalah
yang menjamin
melakukan pemeliharaan terhadap
kemurnian Al-Quran (QS.15:10), dengan
demikian ketika Allah Swt. memudian mencabut
“ruh” Al-Quran pada masa kemunduran
umat Islam selama 1000 tahun (QS.32:6) maka Dia pulalah yang mengembalikannya seperti pada peristiwa pewahyuannya yang pertama kepada Nabi Besar Muhammad saw., itulah makna ayat: وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ
لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ ہُوَ
الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ -- Dan juga akan membangkitkannya pada kaum lain dari antara mereka, yang
belum bertemu dengan mereka. Dan Dia-lah
Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana” (Al-Jumu’ah [62]:4).
Rahmat
dan karunia Allah Swt. tersebut terjadi sebagai
penggenapan pernyataan-Nya dalam surah sebelumnya: اِلَّا رَحۡمَۃً مِّنۡ
رَّبِّکَ ؕ اِنَّ فَضۡلَہٗ کَانَ عَلَیۡکَ کَبِیۡرًا
-- “Kecuali karena rahmat
dari Rabb (Tuhan) engkau, sesungguhnya karunia-Nya
sangat besar kepada engkau“,
firman-Nya:
وَ لَئِنۡ شِئۡنَا لَنَذۡہَبَنَّ
بِالَّذِیۡۤ اَوۡحَیۡنَاۤ اِلَیۡکَ ثُمَّ
لَا تَجِدُ لَکَ بِہٖ عَلَیۡنَا وَکِیۡلًا
﴿ۙ﴾ اِلَّا رَحۡمَۃً مِّنۡ
رَّبِّکَ ؕ اِنَّ فَضۡلَہٗ کَانَ عَلَیۡکَ کَبِیۡرًا ﴿﴾
Dan jika Kami benar-benar menghendaki, niscaya Kami mengambil kembali apa yang telah Kami wahyukan kepada
engkau kemudian engkau tidak akan
memperoleh penjaga baginya terhadap Kami dalam hal itu. اِلَّا رَحۡمَۃً مِّنۡ رَّبِّکَ ؕ اِنَّ فَضۡلَہٗ
کَانَ عَلَیۡکَ کَبِیۡرًا -- Kecuali karena rahmat dari Rabb (Tuhan) engkau,
sesungguhnya karunia-Nya sangat besar
kepada engkau. (Bani Israil [17]:87-88).
Ayat اِلَّا رَحۡمَۃً مِّنۡ
رَّبِّکَ ؕ اِنَّ فَضۡلَہٗ کَانَ عَلَیۡکَ کَبِیۡرًا
-- “Kecuali karena rahmat
dari Rabb (Tuhan) engkau, sesungguhnya karunia-Nya
sangat besar kepada engkau“ sesuai dengan pernyataan Allah Swt. dalam
lanjutan surah Al-Jumu’ah ayat 3-4
sebelumnya, firman-Nya: ذٰلِکَ فَضۡلُ
اللّٰہِ یُؤۡتِیۡہِ مَنۡ یَّشَآءُ ؕ وَ اللّٰہُ
ذُو الۡفَضۡلِ الۡعَظِیۡمِ -- “Itulah karunia
Allah, Dia menganugerahkannya kepada
siapa yang Dia kehendaki, dan Allah
mempunyai karunia yang besar” (Al-Jumu’ah [62]:5), dan sesuai pula
dengan lanjutan firman-Nya dalam QS.4:70 mengenai terbukanya
semua derajat keruhanian bagi para pengikut
hakiki Nabi Besar Muhammad saw.: -- nabi-nabi,
shiddiq-shiddiq, syuhada
(saksi-saksi) dan orang-orang shalih
–ذٰلِکَ الۡفَضۡلُ مِنَ اللّٰہِ ؕ وَ
کَفٰی بِاللّٰہِ عَلِیۡمًا -- “ Itulah karunia
dari Allah, dan cukuplah Allah Yang Maha Menge-tahui“, firman-Nya:
وَ مَنۡ یُّطِعِ اللّٰہَ وَ
الرَّسُوۡلَ فَاُولٰٓئِکَ مَعَ الَّذِیۡنَ اَنۡعَمَ اللّٰہُ عَلَیۡہِمۡ مِّنَ
النَّبِیّٖنَ وَ الصِّدِّیۡقِیۡنَ وَ الشُّہَدَآءِ وَ الصّٰلِحِیۡنَ ۚ وَ حَسُنَ
اُولٰٓئِکَ رَفِیۡقًا ﴿ؕ﴾ ذٰلِکَ
الۡفَضۡلُ مِنَ اللّٰہِ ؕ وَ کَفٰی بِاللّٰہِ عَلِیۡمًا ﴿٪﴾
Dan barangsiapa
taat kepada Allah dan Rasul ini
maka mereka akan termasuk di antara
orang-orang yang Allāh memberi nikmat kepada
mereka yakni: nabi-nabi, shiddiq-shiddiq, syuhada (syahid-syahid), dan orang-orang
shalih, dan mereka itulah
sahabat yang sejati. ذٰلِکَ الۡفَضۡلُ مِنَ اللّٰہِ ؕ وَ کَفٰی
بِاللّٰہِ عَلِیۡمًا -- Itulah karunia
dari Allah, dan cukuplah Allah Yang Maha Mengetahui (An-Nisa [4]:70-71).
Pengabulan Doa Dalam Surah Al-Fatihah & Pentingnya Bai’at kepada Imam Mahdi a.s.
Pada hakikatnya semua itu terjadi sebagai pengabulan
doa yang diajarkan Allah Swt. dalam surah Al-Fatihah yang wajib dibaca pada setiap rakaat shalat, firman-Nya:
اِیَّاکَ
نَعۡبُدُ وَ اِیَّاکَ نَسۡتَعِیۡنُ ﴿﴾ اِہۡدِ نَا الصِّرَاطَ الۡمُسۡتَقِیۡمَ ۙ ﴿﴾ صِرَاطَ الَّذِیۡنَ
اَنۡعَمۡتَ عَلَیۡہِمۡ ۙ۬ غَیۡرِ الۡمَغۡضُوۡبِ عَلَیۡہِمۡ وَ لَا الضَّآلِّیۡنَ ٪﴿﴾
Hanya Engkau-lah Yang kami sembah dan hanya
kepada Engkau-lah kami mohon pertolongan. اِہۡدِ نَا الصِّرَاطَ الۡمُسۡتَقِیۡمَ -- Tunjukilah kami jalan yang lurus, صِرَاطَ الَّذِیۡنَ اَنۡعَمۡتَ عَلَیۡہِمۡ -- yaitu jalan orang-orang
yang telah Engkau beri nikmat atas mereka, غَیۡرِ الۡمَغۡضُوۡبِ عَلَیۡہِمۡ وَ لَا الضَّآلِّیۡنَ ٪ -- bukan jalan mereka yang
dimurkai dan bukan pula jalan
mereka yang sesat.
(Al-Fatihah [1]:5-7).
Jadi, betapa pentingnya
melakukan “baiat” kepada Nabi Besar Muhammad saw. (QS.48:11) dan pentingnya melakukan baiat
kepada Imam Mahdi a.s. yang diperintahkan
Nabi Besar Muhammad saw., sebaba jika tidak maka bukannya termasuk golongan “orang-orang yang mendapat nikmat” dari
Allah Swt. melainkan menjadi golongan “yang
dimurkai” Allah Swt. dan “yang sesat”
dari Tauhid Ilahi. Beliau saw.
bersabda:
“Ketika kalian melihatnya
(kehadiran Imam Mahdi) maka berbai’atlah dengannya walaupun harus merangkak-rangkak di atas salju
karena sesungguhnya dia adalah Khalifatullah
Al-Mahdi.” (HR Abu Dawud, 4074).
Mengapa demikian pentingnya baiat kepada Imam Mahdi a.s. tersebut? Sebab pada hakikatnya Imam Mahdi a.s. atau Masih Mau’ud a.s. atau misal Nabi
Isa Ibnu Maryam a.s. (QS.43:58) – yakni Mirza
Ghulam Ahmad a.s. -- merupakan pengutusan kedua kali secara ruhani
Nabi Besar Muhammad saw. di Akhir Zaman
ini, sebagaimana dikemukakan dalam ayat:
وَّ اٰخَرِیۡنَ
مِنۡہُمۡ لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ
ہُوَ الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ -- Dan
juga akan membangkitkannya pada
kaum lain dari antara me-reka, yang belum
bertemu dengan mereka. Dan Dia-lah
Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana”,
firman-Nya:
ہُوَ
الَّذِیۡ بَعَثَ فِی الۡاُمِّیّٖنَ
رَسُوۡلًا مِّنۡہُمۡ یَتۡلُوۡا
عَلَیۡہِمۡ اٰیٰتِہٖ وَ
یُزَکِّیۡہِمۡ وَ
یُعَلِّمُہُمُ الۡکِتٰبَ وَ الۡحِکۡمَۃَ ٭ وَ اِنۡ کَانُوۡا مِنۡ قَبۡلُ
لَفِیۡ ضَلٰلٍ مُّبِیۡنٍ ۙ﴿﴾ وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ ہُوَ الۡعَزِیۡزُ
الۡحَکِیۡمُ ﴿﴾
Dia-lah Yang telah membangkitkan di kalangan bangsa
yang buta-huruf seorang rasul dari antara mereka,
yang membacakan kepada mereka
Tanda-tanda-Nya, mensucikan mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah walaupun sebelumnya mereka berada dalam kesesatan yang nyata, وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ ہُوَ الۡعَزِیۡزُ
الۡحَکِیۡمُ -- Dan juga akan membangkitkannya pada kaum lain dari antara mereka, yang
belum bertemu dengan mereka. Dan Dia-lah
Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana.
(Al-Jumu’ah
[62]:3-4).
Makna “Kematian
Jahiliyah” & Hadits-hadits Tentang Imam
Mahdi a.s.
Begitu
pentingnya “bai’at” kepada Imam
Mahdi a.s. tersebut
sampai-sampai Nabi Besar Muhammad saw. menyatakan bahwa kematian
orang yang tidak baiat kepada Imam Zamannya -- dalam hal ini Imam Mahdi a.s. – maka kematiannya merupakan “kematian jahiliyah” (Muslim, Kitab “Imarah”
bab “wajib tetap bersama jama’ah Muslimin
saat terjadi fitnah bahkan dalam keadaan
apa pun”), sekali pun statusnya
sebagai “Muslim” karena ia memiliki pemahaman yang keliru tentang Rukun Iman dan Rukun Islam yang hakiki karena mereka memahami ajaran Islam dan Al-Quran
yang tidak memiliki “ruh” (QS.17:86-89), berbeda dengan yang difahami oleh orang-orang yang telah beriman kepada Rasul Akhir Zaman (QS.61:10; QS.24:56).
Berikut beberapa sabda Nabi Besar
Muhammad saw. berkenaan dengan para Mujaddid
yang bertugas memurnikan kembali pemahaman
ajaran Islam (Al-Quran),
terutama Imam Zaman – yakni Imam Mahdi a.s. -- atau Rasul
Akhir Zaman yang akan mewujudkan kejayaan Islam yang kedua kali,
firman-Nya:
ہُوَ الَّذِیۡۤ اَرۡسَلَ
رَسُوۡلَہٗ بِالۡہُدٰی وَ
دِیۡنِ الۡحَقِّ لِیُظۡہِرَہٗ عَلَی الدِّیۡنِ کُلِّہٖ وَ لَوۡ کَرِہَ
الۡمُشۡرِکُوۡنَ ٪﴿﴾
Dia-lah Yang mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk
dan dengan agama yang benar supaya Dia memenangkannya atas semua agama,
walaupun orang musyrik tidak menyukai. (Ash-Shaf [61]:10).
Kebanyakan ahli
tafsir Al-Quran sepakat bahwa ayat ini kena dan akan terwujud melalui perjuangan suci Al-Masih
yang dijanjikan (Masih Mau’ud a.s.), sebab di zaman beliau semua agama muncul dan berlomba-lomba mentabligkan agama mereka,
karena mereka pun mempercayai mengenai kedatangan seorang “pahlawan
agama” -- dengan nama yang berbeda-beda di setiap umat beragama --
yang akan memenangkan agama mereka,
sebagaimana yang juga dipercayai oleh umat
Islam mengenai kedatangan Imam Mahdi
a.s. dan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.,
yang akan mengunggulkan agama Islam
di atas semua agama.
Abu Hurairah r.a. meriwayatkan bahwa
Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya Allah akan mengutus (menghadirkan)
bagi umat ini (umat Islam) orang yang
akan memperbaharui (urusan) agama mereka pada setiap akhir seratus tahun” (HR Abu Dawud no. 4291).
“Andaikan dunia tinggal sehari sungguh
Allah akan panjangkan hari tersebut sehingga diutus padanya seorang lelaki dari ahli baitku namanya
serupa namaku dan nama ayahnya
serupa nama ayahku. Ia akan penuhi bumi dengan kejujuran dan keadilan sebagaimana sebelumnya dipenuhi dengan kezaliman
dan penganiayaan.” (HR Abu Dawud 9435).
“Aku kabarkan berita gembira mengenai Al-Mahdi yang diutus Allah ke tengah ummatku ketika banyak terjadi perselisihan antar-manusia dan gempa-gempa. Ia akan penuhi bumi dengan keadilan dan
kejujuran sebagaimana sebelumnya dipenuhi dengan kesewenang-wenangan dan
kezaliman.” (HR Ahmad
10898).
“Sungguh, bumi ini akan dipenuhi oleh kezhaliman dan kesemena-menaan. Dan apabila
kezhaliman serta kesemena-menaan itu telah penuh, maka Allah Swt. akan mengutus seorang laki-laki yang berasal dari umatku,
namanya seperti namaku, dan nama bapaknya seperti nama bapakku.
Maka ia akan memenuhi bumi dengan
keadilan dan kemakmuran, sebagaimana ia
(bumi) telah dipenuhi sebelum itu oleh kezhaliman dan kesemena-menaan. Di
waktu itu langit tidak akan menahan
setetes pun dari tetesan airnya, dan bumi
pun tidak akan menahan sedikit pun dari tanaman-tanamannya. Maka ia akan
hidup bersama kamu selama 7 tahun, atau 8 tahun, atau 9 tahun. (HR. Thabrani) ”
"Pada Akhir Zaman akan muncul seorang
khalifah yang berasal dari umatku,
yang akan melimpahkan harta kekayaan
selimpah-limpahnya. Dan .” (HR. Muslim dan Ahmad).
“Al-Mahdi
berasal dari umatku, berkening lebar, berhidung panjang dan mancung.
Ia akan memenuhi bumi ini dengan
keadilan dan kemakmuran,
sebagaimana ia (bumi ini) sebelum itu
dipenuhi oleh kezhaliman dan kesemena-menaan,
dan ia (umur kekhalifahan) berumur tujuh tahun. (HR. Abu
Dawud dan Al-Hakim).
“Al-Mahdi berasal dari umatku, dari keturunan anak cucuku. (HR. Abu Dawud; Ibnu Majah, dan Al-Hakim).
“Al-Mahdi berasal dari umatku, dari keturunan anak cucuku. (HR. Abu Dawud; Ibnu Majah, dan Al-Hakim).
“Al-Mahdi
berasal dari umatku, yang akan diislahkan oleh Allah dalam satu malam.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah).
Saling Mewarisi Cara-cara Menentang Para Rasul Allah
Yang perlu diperhatikan adalah bahwa bahasa nubuatan yang dikemukakan
dalam Kitab-kitab suci --
khususnya Al-Quran, sabda para rasul Allah dan para wali Allah -- termasuk juga ramalan yang dikemukakan para leluhur
suatu bangsa atau suku bangsa --
senantiasa merupakan “bahasa kiasan”
yang kalau difahami secara harfiyah akan jauh dari hakikatnya dan menyebabkan terjadinya pendustaan terhadap para rasul Allah karena keadaannya bertentangan dengan “persepsi
keliru” mereka, firman-Nya:
وَ قَالَ الرَّسُوۡلُ یٰرَبِّ اِنَّ قَوۡمِی
اتَّخَذُوۡا ہٰذَا الۡقُرۡاٰنَ مَہۡجُوۡرًا ﴿﴾ وَ کَذٰلِکَ جَعَلۡنَا لِکُلِّ نَبِیٍّ عَدُوًّا
مِّنَ الۡمُجۡرِمِیۡنَ ؕ وَ کَفٰی بِرَبِّکَ ہَادِیًا وَّ نَصِیۡرًا ﴿﴾
Dan Rasul
itu berkata: “Ya Rabb-ku (Tuhan-ku),
sesungguhnya kaumku telah menjadikan
Al-Quran ini sesuatu yang telah
ditinggalkan. وَ کَذٰلِکَ
جَعَلۡنَا لِکُلِّ نَبِیٍّ عَدُوًّا مِّنَ الۡمُجۡرِمِیۡنَ -- Dan demikianlah Kami telah
menjadikan musuh bagi tiap-tiap nabi dari antara orang-orang yang berdosa, وَ کَفٰی بِرَبِّکَ ہَادِیًا وَّ نَصِیۡرًا -- dan cukuplah Rabb (Tuhan) engkau sebagai pemberi
petunjuk dan penolong. (Al-Furqān
[25]:31-32).
Firman-Nya lagi:
یٰحَسۡرَۃً عَلَی الۡعِبَادِ ۚؑ مَا یَاۡتِیۡہِمۡ مِّنۡ رَّسُوۡلٍ اِلَّا
کَانُوۡا بِہٖ یَسۡتَہۡزِءُوۡنَ ﴿﴾ اَلَمۡ یَرَوۡا کَمۡ
اَہۡلَکۡنَا قَبۡلَہُمۡ مِّنَ الۡقُرُوۡنِ
اَنَّہُمۡ اِلَیۡہِمۡ لَا
یَرۡجِعُوۡنَ ﴿ؕ﴾ وَ اِنۡ کُلٌّ
لَّمَّا جَمِیۡعٌ لَّدَیۡنَا مُحۡضَرُوۡنَ ﴿﴾
Wahai sangat disesalkan atas hamba-hamba itu, sekali-kali tidak pernah datang kepada mereka seorang rasul melainkan mereka senantiasa mencemoohkannya.
Apakah mereka tidak melihat berapa banyak generasi yang telah Kami binasakan
sebelum mereka, bahwasanya mereka itu tidak kembali lagi kepada
mereka? Dan setiap mereka semua niscaya akan dihadirkan
kepada Kami.” (Yā Sīn [36]:11-32).
Kata-kata dalam ayat 31 penuh dengan
kerawanan. Tuhan Yang Maha Kuasa Sendiri agaknya seolah-olah sangat masygul atas penolakan dan ejekan manusia
terhadap para nabi-Nya. Sementara
para nabi Allah menanggung kesedihan
dan derita untuk kaumnya (QS.9:128; QS.18:7; QS.26:4), maka kaumnya itu membalas kesedihan
mereka itu dengan penghinaan, fitnah dan kezaliman seakan-akan mereka itu telah saling mewasiatkan, termasuk di Akhir Zaman ini, firman-Nya:
کَذٰلِکَ مَاۤ اَتَی الَّذِیۡنَ مِنۡ قَبۡلِہِمۡ مِّنۡ رَّسُوۡلٍ اِلَّا
قَالُوۡا سَاحِرٌ اَوۡ مَجۡنُوۡنٌ ﴿ۚ﴾ اَتَوَاصَوۡا
بِہٖ ۚ بَلۡ ہُمۡ قَوۡمٌ طَاغُوۡنَ ﴿ۚ﴾
Demikianlah sekali-kali tidak pernah datang kepada
orang-orang sebelum mereka seorang rasul
melainkan mereka berkata: “Dia tukang
sihir, atau orang gila!” Adakah mereka saling mewasiatkan mengenai itu? Tidak, bahkan mereka itu
semua kaum pendurhaka. (Adz-Dzāriyāt [51]:53-54).
Begitu menyoloknya persamaan tuduhan-tuduhan
yang dilancarkan terhadap Nabi Besar Muhammad saw. dan para mushlih
rabbani (rasul-rasul Allah) lainnya
oleh lawan-lawan mereka sepanjang
masa, sehingga nampaknya orang-orang
kafir dari abad tertentu menurunkan (mewariskan) tuduhan-tuduhan itu kepada keturunan
mereka, supaya terus melancarkan lagi tuduhan-tuduhan
dusta tersebut, termasuk di Akhir Zaman ini kepada Mirza
Ghulam Ahmad a.s. -- Rasul Akhir Zaman yang akan mewujudkan kejayaan Islam yang kedua kali, firman-Nya:
ہُوَ الَّذِیۡۤ اَرۡسَلَ
رَسُوۡلَہٗ بِالۡہُدٰی وَ
دِیۡنِ الۡحَقِّ لِیُظۡہِرَہٗ عَلَی الدِّیۡنِ کُلِّہٖ وَ لَوۡ کَرِہَ
الۡمُشۡرِکُوۡنَ ٪﴿﴾
Dia-lah Yang mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk
dan dengan agama yang benar supaya Dia memenangkannya atas semua agama,
walaupun orang musyrik tidak menyukai. (Ash-Shaf [61]:10).
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran Anyar, 20 Februari
2017
Tidak ada komentar:
Posting Komentar