Jumat, 10 Februari 2017

Ancaman "Azab Ilahi" Berupa "Perang Armagedon" di Akhir Zaman & Kesuksesan Armada Niaga "Ya'juj" (Gog) dan "Ma'juj"" (Magog) yang Berujung "Penguasaan Wilayah" (Penjajahan)



Bismillaahirrahmaanirrahiim

  ISLAM
Pidato  Mirza Ghulam Ahmad a.s.
Tgl. 2 November 1904 di Kota Sialkote – Hindustan

Bab  16

  ANCAMAN AZAB ILAHI  BERUPA “PERANG ARMAGEDON “ DI AKHIR ZAMAN  & KESUKSESAN “ARMADA NIAGAYA’JUJ (GOG) DAN MA’JUJ (MAGOG) YANG BERUJUNG   PENGUASAAN WILAYAH (PENJAJAHAN)

Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam bagian akhir Bab 15  telah dijelaskan topik  Penjagaan Al-Quran Terhadap Ajaran Asli Kitab-kitab (Agama-agama)  Sebelumnya  sehubungan dengan   firman-Nya:
ِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿۳اَلۡحَمۡدُ لِلّٰہِ الَّذِیۡۤ  اَنۡزَلَ عَلٰی عَبۡدِہِ الۡکِتٰبَ  وَ لَمۡ  یَجۡعَلۡ  لَّہٗ عِوَجًا ؕ﴿ٜ﴾ قَیِّمًا  لِّیُنۡذِرَ بَاۡسًا شَدِیۡدًا مِّنۡ لَّدُنۡہُ وَ یُبَشِّرَ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ الَّذِیۡنَ یَعۡمَلُوۡنَ الصّٰلِحٰتِ اَنَّ  لَہُمۡ  اَجۡرًا حَسَنًا ۙ﴿﴾  مَّاکِثِیۡنَ فِیۡہِ اَبَدًا ۙ﴿﴾ وَّ یُنۡذِرَ الَّذِیۡنَ قَالُوا اتَّخَذَ اللّٰہُ وَلَدًا ٭﴿﴾ مَا لَہُمۡ بِہٖ مِنۡ عِلۡمٍ وَّ لَا لِاٰبَآئِہِمۡ ؕ کَبُرَتۡ کَلِمَۃً  تَخۡرُجُ مِنۡ اَفۡوَاہِہِمۡ ؕ اِنۡ یَّقُوۡلُوۡنَ  اِلَّا کَذِبًا ﴿﴾  فَلَعَلَّکَ بَاخِعٌ نَّفۡسَکَ عَلٰۤی اٰثَارِہِمۡ  اِنۡ لَّمۡ  یُؤۡمِنُوۡا بِہٰذَا  الۡحَدِیۡثِ  اَسَفًا ﴿﴾ اِنَّا جَعَلۡنَا مَا عَلَی الۡاَرۡضِ زِیۡنَۃً  لَّہَا لِنَبۡلُوَہُمۡ  اَیُّہُمۡ   اَحۡسَنُ  عَمَلًا ﴿﴾ وَ اِنَّا لَجٰعِلُوۡنَ مَا عَلَیۡہَا صَعِیۡدًا جُرُزًا  ؕ﴿﴾
Aku baca dengan nama Allah Maha Pemurah, Maha Penyayang.  Segala puji bagi Allah  Yang  telah menurunkan kepada hamba-Nya Kitab Al-Quran ini dan   Dia  tidak menjadikan padanya ke­bengkokan. Sebagai penjaga untuk memberi peringatan mengenai siksaan yang dahsyat dari hadirat-Nya, dan memberikan kabar gembira  kepada orang-orang  beriman  yang beramal saleh bahwa sesungguhnya bagi mereka ada ganjaran yang baik,   mereka menetap di dalamnya selama-lamanya.   Dan supaya memperingat­kan orang-orang  yang berkata: "Allah  mengambil seorang  anak laki-laki.     Mereka   sekali-kali tidak memiliki pengetahuan mengenainya, dan tidak pula bapak-bapak mereka memilikinya  Sangat besar keburukan perkataan yang keluar dari mulut mereka,    mereka tidak mengucapkan kecuali kedustaan   Maka sangat mungkin engkau akan  membinasakan diri engkau   karena sangat sedih  sekiranya mereka tidak beriman kepada keterangan ini.   Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi per­hiasan  baginya  supaya  Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya   Dan sesungguhnya Kami niscaya akan menjadikan segala yang ada di atasnya menjadi tanah-rata yang tandus.  (Al-Kahf [19]:1-9).
      Al-Quran sebagai qayyim (penjaga) melakukan tugas ganda. Al-Quran   penjaga atas kitab-kitab terdahulu dengan jalan memperbaiki dan menghilang­kan kesalahan-kesalahan yang telah masuk dalam kitab-kitab itu, dan Al-Quran  penjaga atas generasi-generasi yang akan datang, sebab dipikulnya kewajiban untuk memperkembangkan ruhani mereka serta membimbing mereka pada jalan-jalan yang menjurus kepada penghayatan tujuan hidup manusia yang agung dan mulia (QS.51:57-59).

Hakikat Penyebutan Dua Peringatan   &   Keprihatinan Nabi Besar Muhammad Saw.

  Al-Quran pertama-tama disebut sebagai "memberi peringatan" dankemudian sebagai "memberi kabar gembira" (ayat 3), dan sekali lagi sebagai “memberi peringatan” seperti dalam ayat  ini. Orang-orang kafir dari kalangan Ahli-Kitab telah dua kali diberi peringatan,  dan di tengah-tengah dua peringatan itu orang-orang beriman telah diberi kabar gembira.
 Dua peringatan yang dipisahkan oleh kabar gembira bagi umat Islam itu mengandung tiga nubuatan:
(a)    Kekalahan dan kehancuran lawan-lawan Nabi Besar Muhammad saw.  di masa beliau saw. sendiri,
(b)  Kenaikan umat Islam ke puncak kekuasaan dan kemuliaan dengan jalan yang menakjubkan,  
(c)     Sesudah terlepasnya umat Islam dari kejayaan dan kemegahan selama 3 abad -- dan secara beraangsur-angsur mengalami masa kemunduran selama 1000 tahun (QS.32:6)  --  adanya hukuman yang disediakan bagi bangsa-bangsa yang mengatakan bahwa "Allqh telah mengambil seorang anak lelaki."
   Makna ayat     “maka sangat mungkin engkau akan  membinasakan diri engkau   karena sangat sedih  sekiranya mereka tidak beriman kepada keterangan ini”,    karena bakhi' itu ism fail dari bakha'a yang berarti: ia berbuat sesuatu dengan cara setepat-tepatnya, ayat ini dengan padat dan lugas melukiskan betapa besarnya perhatian dan kekhawatiran serta kecemasan Nabi Besar Muhammad saw.  mengenai kesejahteraan ruhani kaum beliau saw..
    Kesedihan  Nabi Besar Muhammad saw. atas penolakan dan perlawanan mereka terhadap amanat Ilahi hampir membuat beliau  saw. wafat. Memang begitulah keadaan para rasul  dan nabi Allah hatinya senantiasa penuh dengan kasih-sayang terhadap sesama manusia.
 Mereka berseru  kepada Allah Swt. menangis  dan berdukacita demi kepentingan umat manusia. Tetapi manusia tidak tahu  berterimakasih, sehingga orang­orang itu sendiri yang bagi mereka para nabi Allah  mempunyai perasaan yang begitu mendalam justru merekalah yang menindas para nabi Allah dan berusaha untuk membunuh mereka, firman-Nya:
یٰحَسۡرَۃً عَلَی الۡعِبَادِ ۚؑ مَا یَاۡتِیۡہِمۡ مِّنۡ رَّسُوۡلٍ  اِلَّا  کَانُوۡا بِہٖ  یَسۡتَہۡزِءُوۡنَ ﴿﴾  اَلَمۡ یَرَوۡا کَمۡ  اَہۡلَکۡنَا قَبۡلَہُمۡ مِّنَ الۡقُرُوۡنِ  اَنَّہُمۡ  اِلَیۡہِمۡ لَا یَرۡجِعُوۡنَ ﴿ؕ﴾  وَ اِنۡ کُلٌّ  لَّمَّا جَمِیۡعٌ لَّدَیۡنَا مُحۡضَرُوۡنَ ﴿٪﴾
Wahai sangat disesalkan atas hamba-hamba itu,  sekali-kali tidak pernah datang kepada mereka seorang rasul melainkan mereka senantiasa mencemoohkannya.   Apakah mereka tidak melihat berapa banyak  generasi yang telah Kami binasakan sebelum mereka, bahwasanya  mereka itu tidak kembali lagi kepada mereka?  Dan setiap mereka semua niscaya akan dihadirkan kepada Kami. (Yā Sīn [36]:31-33).
        Kata-kata dalam ayat 31  penuh dengan kerawanan hati. Tuhan Yang Maha Kuasa Sendiri agaknya seolah-olah sangat masygul atas penolakan dan ejekan manusia terhadap para nabi-Nya. Sementara para nabi Allah menanggung kesedihan dan derita untuk kaumnya, tetapi  kaumnya itu membalas kesedihan mereka itu dengan penghinaan dan ejekan.
  Isyarat  ayat:  “Apakah mereka tidak melihat berapa banyak  generasi yang telah Kami binasakan sebelum mereka, bahwasanya  mereka itu tidak kembali lagi kepada mereka?“ agaknya tertuju kepada azab Ilahi yang akan bersifat semesta (universal), sebab dikemukakan   azab-azab Ilahi yang telah menghancur-luluhkan kaum-kaum purbakala yang telah mendustakan dan menentang keras para rasul Allah yang dibangkitkan di kalangan mereka sendiri (QS.7:35-37).

Nubuatan Kesuksesan Duniawi Bangsa-bangsa Kristen dari Barat  dan Kehancuran Kekuasaan Duniawi Mereka &   “Perang Armagedon


    Makna ayat:  “sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi per­hiasan  baginya    supaya  Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya” dalam QS.18:8, bahwa semua benda yang tidak terhitung banyaknya yang telah diciptakan  Allah Swt.  tidak ada satu pun yang tidak mempunyai kegunaan tersendiri yang tertentu, atau yang kosong dari segala kebaikan, semuanya menambah semarak dan indahnya kehidupan manusia.
   Umat Islam telah dianjurkan untuk senantiasa  memberi perhatian kepada kebenaran agung yang  melandasi kata-kata sederhana itu, dan untuk menyerahkan waktu dan tenaga  mereka guna menggali rahasia­-rahasia alam  yang agung dan untuk menyelidiki sifat-sifat yang tidak terbilang banyaknya  yang  dimiliki unsur-unsur alam (QS.3:191-195; QS.18:110; QS.31:28;  QS.40:14), yang khazanah-khazanahnya  dibukakan Allah Swt. secara bertahap, firman-Nya:
وَ  اِنۡ مِّنۡ شَیۡءٍ   اِلَّا عِنۡدَنَا خَزَآئِنُہٗ ۫ وَ  مَا  نُنَزِّلُہٗۤ  اِلَّا بِقَدَرٍ  مَّعۡلُوۡمٍ ﴿﴾
Dan tidak ada suatu pun benda melainkan pada Kami ada khazanah-khazanahnya yang tidak terbatas, dan  Kami sama sekali tidak menurunkannya melainkan dalam ukuran yang tertentu  (Al-Hijr [15]:22).
       Allah Swt.  memiliki persediaan (khazanah) segala sesuatu dalam jumlah yang tidak terbatas. Akan tetapi sesuai dengan rahmat-Nya yang tidak berhingga  Dia mengarahkan pikiran atau otak manusia kepada satu benda yang tertentu, hanya bilamana timbul suatu keperluan yang sesungguhnya akan benda itu. Seperti halnya alam semesta kebendaan, demikian pula -Quran merupakan alam semesta keruhanian, di mana tersembunyi khazanah-khazanah ilmu keruhanian yang dibukakan kepada manusia melalui hamba-hamba Allah yang terpilih sesuai dengan keperluan zaman.
  Ayat    ”dan sesungguhnya Kami niscaya akan menjadikan segala yang ada di atasnya menjadi tanah-rata yang tandus” (QS.18:9)     mengandung suatu kabar gaib  (nubuatan) bahwa akibat ketidak-bersyukuran mereka   kepada Allah Swt.  maka bangsa-bangsa Kristen dari barat sesudah memperoleh kekayaan, kekuatan, kekuasaan duniawi dan sesudah mendapat penemuan-penemuan besar, akhirnya akan membuat bumi Allah itu penuh dengan  kedosaan dan keburukan   seperti yang dituturkan oleh Bible, firman-Nya:
ظَہَرَ الۡفَسَادُ فِی الۡبَرِّ وَ الۡبَحۡرِ بِمَا کَسَبَتۡ اَیۡدِی  النَّاسِ  لِیُذِیۡقَہُمۡ بَعۡضَ الَّذِیۡ عَمِلُوۡا  لَعَلَّہُمۡ یَرۡجِعُوۡنَ ﴿﴾ قُلۡ سِیۡرُوۡا فِی الۡاَرۡضِ فَانۡظُرُوۡا کَیۡفَ کَانَ عَاقِبَۃُ  الَّذِیۡنَ مِنۡ قَبۡلُ ؕ کَانَ اَکۡثَرُہُمۡ  مُّشۡرِکِیۡنَ ﴿﴾ فَاَقِمۡ وَجۡہَکَ لِلدِّیۡنِ الۡقَیِّمِ مِنۡ قَبۡلِ اَنۡ یَّاۡتِیَ یَوۡمٌ  لَّا  مَرَدَّ لَہٗ مِنَ اللّٰہِ یَوۡمَئِذٍ  یَّصَّدَّعُوۡنَ ﴿﴾
Kerusakan telah meluas di daratan dan di lautan  disebabkan perbuatan tangan manusia,  supaya dirasakan kepada mereka akibat seba-gian perbuatan yang mereka lakukan, supaya mereka kembali dari kedurhakaannya  Katakanlah:  Berjalanlah di bumi dan lihatlah bagaimana buruknya akibat bagi orang-orang sebelum kamu ini. Kebanyakan mereka itu orang-orang musyrik Maka hadapkanlah wajah engkau kepada agama yang lurus, sebelum datang dari Allāh hari yang tidak dapat dihindarkan,  pada hari itu orang-orang beriman  dan kafir akan terpisah. (Ar-Rūm [30]:42-44).
    Akibatnya  kemurkaan Allah Swt.  akan bangkit, dan sesuai dengan nubuatan-nubuatan yang diucapkan oleh mulut para nabi Allah  di dalam Perjanjian Lama maupun di dalam Perjanjian Baru, serta dalam  Al-Quran dan hadits bahwa bencana-bencana akan menimpa bumi (umat manusia) secara meluas, serta segala kemajuan duniawi yang tadinya telah dicapai oleh mereka dan semua buah tangan  mereka,  gedung-gedung mereka yang tinggi megah, keindahan negeri mereka, serta segala kemuliaan, kemegahan, dan keagungan duniawi  mereka sama sekali akan menjadi hancur berantakan, sebagaimana yang terjadi pada Perang Dunia I dan perang Dunia II yang merupakan bagian dari “Perang Armagedon”.
    Mengisyaratkan kepada  kesuksesan duniawi yang diraih oleh  generasi  penerus Ashhabul-Kahf (para penghuni gua)  --  yang disebut rāqim (prasasti-prasasti)  -- serta akibat buruk yang akan menimpa mereka dalam  QS.18:10, bahwa mereka itu   bukan merupakan Tanda-tanda Tuhan yang ajaib, berikut ini   firman-Nya kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
اَمۡ حَسِبۡتَ اَنَّ  اَصۡحٰبَ الۡکَہۡفِ وَ الرَّقِیۡمِ ۙ کَانُوۡا  مِنۡ  اٰیٰتِنَا  عَجَبًا ﴿﴾
Atau engkau menyangka bahwa  penghuni gua dan prasasti-prasastinya  itu adalah dari antara Tanda-tanda Kami yang menakjubkan?  (Al-Kahf [18]:10).

Generasi Penerus “Ashhabul-Kahf” (Para Penghuni Gua) “Keluar dari Gua

      Selanjutnya Allah Swt. berfirman mengenai awal kebangkitan duniawi  generasi penerus Hawari  (pengikut) Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. tersebut yang digambarkan dengan keluarnya mereka dari “gua”:
وَ کَذٰلِکَ بَعَثۡنٰہُمۡ  لِیَتَسَآءَلُوۡا  بَیۡنَہُمۡ ؕ قَالَ قَآئِلٌ مِّنۡہُمۡ کَمۡ لَبِثۡتُمۡ ؕ قَالُوۡا لَبِثۡنَا یَوۡمًا اَوۡ بَعۡضَ یَوۡمٍ ؕ قَالُوۡا رَبُّکُمۡ  اَعۡلَمُ بِمَا لَبِثۡتُمۡ ؕ فَابۡعَثُوۡۤا اَحَدَکُمۡ بِوَرِقِکُمۡ ہٰذِہٖۤ  اِلَی الۡمَدِیۡنَۃِ فَلۡیَنۡظُرۡ  اَیُّہَاۤ   اَزۡکٰی  طَعَامًا فَلۡیَاۡتِکُمۡ بِرِزۡقٍ مِّنۡہُ  وَ لۡـیَؔ‍‍‍تَلَطَّفۡ وَ لَا  یُشۡعِرَنَّ  بِکُمۡ  اَحَدًا ﴿﴾
Dan demikianlah Kami  bangkitkan mereka supaya mereka saling bertanya di antara mereka. Salah seorang dari mereka berkata:  "Berapa lamakah kamu tinggal?" Mereka menjawab:  "Kami telah tinggal sehari atau sebagian dari hari." Yang lain ber­kata: "Rabb (Tuhan) kamu  lebih mengetahui lamanya kamu tinggal.  Maka suruhlah sekarang salah seorang dari antara kamu dengan mata uang kamu ini ke kota dan hendaklah ia memperhatikan  siapa dari antara  mereka mempunyai bahan makanan terbaik  dan hendaklah ia membawa kepada kamu rezeki  darinya. Dan hendaklah ia bersikap lemah-lembut, dan ia jangan memberitahukan  mengenai kamu kepada siapa pun. (Al-Kahfi [18]:20).
  Makna ayat:  “Dan demikianlah Kami  bangkitkan mereka supaya mereka saling bertanya di antara mereka. Salah seorang dari mereka berkata:  "Berapa lamakah kamu tinggal?" Mereka menjawab:  "Kami telah tinggal sehari atau sebagian dari hari."    Ayat ini nampaknya menunjuk kepada bangkitnya  bangsa-bangsa Kristen dari barat  --  yakni “orang-orang yang bermata biru” (QS.20:103-105)   --  atau merajalelanya kembali  Ya’juj (Gog) dan Ma’juj (Magog)  sebagaiman  yang dinubuatkan Dzulqarnain (QS.18:95-100) atau pelepasan sementara  iblis dan satan dari   pemenjaraan  selama 1000 tahun (Wahyu 20:7-10; QS.21:97) 
Kata-kata   “Kami membangkitkan mereka”  mengisyaratkan kepada kemajuan besar yang bangsa-bangsa itu telah ditakdirkan mencapainya   yakni di Akhir Zaman ini. Sedangkan makna kata-kata,    “Salah seorang dari mereka berkata: “Berapa lamakah kamu telah tinggal?" mengandung arti bahwa bangsa-bangsa Kristen  akan bangkit dan menyingkirkan jauh-jauh kemalasan mereka atau dari “keadaan tidur nyenyak”  mereka yang dikemukakan dalam ayat sebelumnya, firman-Nya:
وَ تَحۡسَبُہُمۡ اَیۡقَاظًا وَّ ہُمۡ رُقُوۡدٌ ٭ۖ وَّ نُقَلِّبُہُمۡ ذَاتَ الۡیَمِیۡنِ وَ ذَاتَ الشِّمَالِ ٭ۖ وَ کَلۡبُہُمۡ بَاسِطٌ ذِرَاعَیۡہِ  بِالۡوَصِیۡدِ ؕ لَوِ اطَّلَعۡتَ عَلَیۡہِمۡ لَوَلَّیۡتَ مِنۡہُمۡ فِرَارًا  وَّ  لَمُلِئۡتَ مِنۡہُمۡ  رُعۡبًا ﴿﴾
Dan engkau menyangka mereka itu bangun  padahal mereka itu tidur, dan Kami membolik-balikkan mereka ke kanan dan ke kiri,    dan anjing mereka sedang menjulurkan kedua kaki-depannya di halaman   gua itu.  Seandainya engkau menyaksikan mereka niscaya engkau akan berbalik dari mereka untuk melarikan diri dan niscaya engkau akan dipenuhi oleh rasa takut terhadap mereka  (Al-Kahf [18]:19).
       Makna ayat ini telah dijelaskan dalam salah satu Bab sebelumnya. Kebangkitan kesadaran  bangsa-bangsa Kristen  telah terjadi di masa peperangan salib  ketika raja-raja Inggris, Perancis, dan Jerman bersatu padu memperjuangkan tujuan bersama, dan seluruh Eropa bergabung mengadakan serangan bersama terhadap umat Islam, untuk merenggut   tanah suci (Kanaan/Palestina) dari tangan mereka.
      Berkenaan ayat:    “Salah seorang dari mereka berkata:  "Berapa lamakah kamu tinggal?" Mereka menjawab:  "Kami telah tinggal sehari atau sebagian dari hari."    Menurut muhawarah bahasa Arab “sehari atau sebagian hari” menunjuk kepada masa yang tidak tentu. Di tempat lain (QS.20:103-104) Al-Quran telah menetapkan 1000 tahun  yang selama itu bangsa­-bangsa Kristen dari barat itu tetap tinggal  dalam keadaan “tidur” atau tanpa kegiatan.
        Kata ''sepuluh hari" dalam QS.20:103-104 dipergunakan untuk menyatakan sepuluh abad, dan kata-kata "bermata biru" dalam ayat-ayat tersebut menunjuk kepada bangsa-bangsa barat yang pada umumnya bermata biru. Ini merupakan kenyataan sejarah yang cukup dikenal, bahwa dasar-dasar kekuasaan Inggris di Timur diletakkan pada permulaan abad ketujuh belas ("March of Man"). Masa ini mendekati seribu tahun sesudah  Nabi Besar Muhammad saw..

Ekspansi Bangsa-bangsa Kristen dari  Barat ke Berbagai Wilayah Dunia Berkedok “Perniagaan” (Perdagangan) 
  
Makna ayat:   “Yang lain ber­kata: "Rabb (Tuhan) kamu  lebih mengetahui lamanya kamu tinggal.       Maka suruhlah sekarang salah seorang dari antara kamu dengan mata uangmu ini ke kota dan hendaklah ia memperhatikan  siapa dari antara  mereka mempunyai bahan makanan terbaik  dan hendaklah ia membawa kepada kamu rezeki  darinya.”
  Ketika "penghuni-penghuni gua" melihat, bahwa gelombang penindasan terhadap mereka telah mereda, mereka mengutus salah seorang anggota mereka ke kota yang dibekali dengan beberapa mata uang lama untuk membeli perbekalan hidup dan untuk menyelidiki bagaimana situasi, yang menyangkut diri mereka. Tha'ām dapat berarti, bahan-bahan makanan seperti gandum, jelai, jawawut, kurma dan lain sebagainya (Lexicon Lane). Ayat ini menunjuk kepada ekspedisi­-ekspedisi perdagangan bangsa-bangsa Kristen barat ke seluruh bagian dunia.
Selanjutnya mengenai makna ayat:     “Dan hendaklah ia ber-sikap lemah-lembut,  dan ia jangan memberitahukan mengenai kamu kepada siapa pun.“ Para ahli niaga Eropa mempunyai keterampilan khas untuk berlaku lemah-lembut dan sopan-santun dalam urusan perdagangan mereka. Nampaknya ungkapan, "hendaklah ia bersikap lemah-lembut" menunjuk kepada sifat khusus ini. Kata-kata itu berarti pula "hendaknya ia berlaku hati-hati."
  Makna kata-kata   "dan jangan sama sekali ia memberitahukan mengenai kamu kepada siapa pun”  mengisyaratkan kepada penyusupan pengaruh barat ke timur dengan diam-diam dan tidak menyolok mata. Selanjutnya Allah Swt. berfirman mengenai mereka sehubungan makna ayat sebelumnya :
اِنَّہُمۡ اِنۡ یَّظۡہَرُوۡا عَلَیۡکُمۡ یَرۡجُمُوۡکُمۡ اَوۡ یُعِیۡدُوۡکُمۡ فِیۡ مِلَّتِہِمۡ وَ لَنۡ تُفۡلِحُوۡۤا اِذًا  اَبَدًا ﴿
"Sesungguhnya jika mereka  unggul atas kamu  mereka akan mengusir kamu atau akan memaksa kamu kembali ke dalam agama mereka, dan  kamu tidak akan pernah berhasil selama-lamanya.” (Al-Kahf  [18]:20).
  Kata-kata dalam ayat ini berarti: "Jika orang-orang yang kepadanya kamu mengirim rombongan dagang dapat mengetahui niat-niat kamu yang sebenarnya, atau sebelum kaki kamu ditegakkan dengan kuat di negeri mereka, suatu persengketaan politik atau perselisihan dagang timbul, dan kamu sendiri tidak kuat menghadapinya, kemudian kamu akan terpaksa meninggalkan negeri mereka atau memeluk agama mereka. Jika terjadi salah satu di antara keduanya, kamu akan gagal memperoleh tempat berpijak yang kekal, dan semua impian kamu untuk menegakkan kerajaan yang besar di negeri mereka akan lenyap sirna."

Membangun Gereja   Untuk Memperingati “Orang-orang Kudus” Mereka

  Kata-kata, "Kami pasti akan membangun di atas tempat tinggal  mereka rumah peribadatan" menyebut salah satu ciri istimewa generasi penerus "penghuni­-penghuni gua" itu,  -- yaitu bangsa-bangsa Kristen dalam  membangun gereja-gereja untuk memperingati orang-orang kudus mereka yang telah mati. Perlu pula diperhatikan, bahwa banyak gereja semacam itu telah ditemukan di katakomba-katakomba.
   Terkaan-terkaan ini nampaknya berdasar pada prasasti-prasasti yang tertera di alas dinding-dinding beberapa kamar di katakomba-katakomba, tetapi tiap tulisan itu menunjuk hanya kepada suatu keluarga, golongan, atau rombongan yang tertentu. Jumlah banyaknya orang-orang yang mencari perlindungan dalam katakomba-katakomba itu pada suatu waktu tertentu tidak diketahui. Dari prasasti-prasasti itu nampak bahwa selamanya ada anjing menyertai suatu rombongan pengungsi itu.
       Jadi, betapa Al-Quran  dalam surah Al-Kahf ayat 19 menubuatkan hakikat ini ratusan tahun sebelumnya, ketika bangsa-bangsa Kristen masih terbenam dalam “tidur lelap ratusan tahun”  --  sehingga daya cipta yang betapa pun kaya dan luasnya tidak dapat meramalkan kekuasaan dan kemuliaan   --  yang kemudian akan dicapai oleh bangsa­-bangsa Kristen  atau Ya’juj (Gog) dan Ma’juj (Magog)   itu  sesudahnya.

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid

oo0oo

Pajajaran Anyar,  9    Februari  2017

Tidak ada komentar:

Posting Komentar