Bismillaahirrahmaanirrahiim
ISLAM
Pidato Mirza Ghulam Ahmad a.s.
Tgl. 2 November 1904
di Kota Sialkote – Hindustan
Bab 16
ANCAMAN AZAB ILAHI BERUPA “PERANG
ARMAGEDON “ DI AKHIR ZAMAN & KESUKSESAN “ARMADA NIAGA” YA’JUJ
(GOG) DAN MA’JUJ (MAGOG) YANG
BERUJUNG PENGUASAAN WILAYAH
(PENJAJAHAN)
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
D
|
alam bagian akhir Bab 15 telah dijelaskan topik Penjagaan Al-Quran Terhadap Ajaran Asli Kitab-kitab (Agama-agama) Sebelumnya sehubungan dengan firman-Nya:
ِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿۳﴾ اَلۡحَمۡدُ لِلّٰہِ الَّذِیۡۤ اَنۡزَلَ عَلٰی
عَبۡدِہِ الۡکِتٰبَ وَ لَمۡ
یَجۡعَلۡ لَّہٗ عِوَجًا ؕ﴿ٜ﴾ قَیِّمًا لِّیُنۡذِرَ بَاۡسًا
شَدِیۡدًا مِّنۡ لَّدُنۡہُ وَ یُبَشِّرَ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ الَّذِیۡنَ
یَعۡمَلُوۡنَ الصّٰلِحٰتِ اَنَّ لَہُمۡ اَجۡرًا حَسَنًا ۙ﴿﴾ مَّاکِثِیۡنَ فِیۡہِ اَبَدًا ۙ﴿﴾ وَّ یُنۡذِرَ
الَّذِیۡنَ قَالُوا اتَّخَذَ اللّٰہُ وَلَدًا ٭﴿﴾ مَا لَہُمۡ بِہٖ مِنۡ عِلۡمٍ وَّ لَا لِاٰبَآئِہِمۡ ؕ کَبُرَتۡ کَلِمَۃً تَخۡرُجُ مِنۡ اَفۡوَاہِہِمۡ ؕ اِنۡ یَّقُوۡلُوۡنَ اِلَّا کَذِبًا ﴿﴾ فَلَعَلَّکَ بَاخِعٌ نَّفۡسَکَ عَلٰۤی اٰثَارِہِمۡ اِنۡ
لَّمۡ یُؤۡمِنُوۡا بِہٰذَا الۡحَدِیۡثِ اَسَفًا ﴿﴾
اِنَّا
جَعَلۡنَا مَا عَلَی الۡاَرۡضِ زِیۡنَۃً لَّہَا لِنَبۡلُوَہُمۡ اَیُّہُمۡ اَحۡسَنُ عَمَلًا ﴿﴾ وَ اِنَّا لَجٰعِلُوۡنَ مَا عَلَیۡہَا صَعِیۡدًا جُرُزًا ؕ﴿﴾
Aku
baca dengan nama Allah Maha Pemurah,
Maha Penyayang. Segala
puji bagi Allah Yang telah
menurunkan kepada hamba-Nya Kitab Al-Quran ini dan Dia tidak menjadikan padanya kebengkokan.
Sebagai penjaga untuk memberi peringatan mengenai siksaan yang
dahsyat dari hadirat-Nya, dan memberikan
kabar gembira kepada orang-orang
beriman yang beramal saleh
bahwa sesungguhnya bagi mereka ada
ganjaran yang baik, mereka
menetap di dalamnya selama-lamanya. Dan supaya
memperingatkan orang-orang yang
berkata: "Allah mengambil seorang anak laki-laki. Mereka sekali-kali tidak memiliki pengetahuan mengenainya, dan tidak pula bapak-bapak mereka memilikinya. Sangat
besar keburukan perkataan yang keluar dari mulut mereka, mereka tidak mengucapkan kecuali kedustaan. Maka sangat mungkin engkau akan membinasakan diri engkau karena sangat
sedih sekiranya mereka tidak beriman kepada keterangan ini. Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi perhiasan baginya supaya Kami
menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya. Dan sesungguhnya Kami niscaya akan menjadikan segala yang ada di atasnya
menjadi tanah-rata yang tandus.
(Al-Kahf [19]:1-9).
Al-Quran sebagai qayyim (penjaga)
melakukan tugas ganda. Al-Quran penjaga
atas kitab-kitab terdahulu dengan
jalan memperbaiki dan menghilangkan kesalahan-kesalahan yang
telah masuk dalam kitab-kitab itu, dan Al-Quran penjaga
atas generasi-generasi yang akan
datang, sebab dipikulnya kewajiban untuk
memperkembangkan ruhani mereka serta membimbing mereka pada jalan-jalan yang menjurus kepada penghayatan tujuan hidup manusia yang agung dan mulia (QS.51:57-59).
Hakikat Penyebutan Dua Peringatan & Keprihatinan Nabi Besar Muhammad Saw.
Al-Quran pertama-tama disebut sebagai "memberi peringatan" dankemudian sebagai "memberi kabar
gembira" (ayat 3), dan sekali lagi sebagai “memberi peringatan” seperti dalam ayat ini. Orang-orang
kafir dari kalangan Ahli-Kitab telah
dua kali diberi peringatan, dan di tengah-tengah dua peringatan itu orang-orang beriman telah diberi kabar gembira.
Dua peringatan yang dipisahkan oleh kabar gembira bagi umat Islam itu mengandung tiga nubuatan:
(a) Kekalahan dan
kehancuran lawan-lawan Nabi Besar
Muhammad saw. di masa beliau
saw. sendiri,
(b) Kenaikan umat Islam ke puncak kekuasaan dan
kemuliaan dengan jalan yang menakjubkan,
(c) Sesudah
terlepasnya umat Islam dari kejayaan
dan kemegahan selama 3 abad -- dan
secara beraangsur-angsur mengalami masa kemunduran
selama 1000 tahun (QS.32:6) -- adanya hukuman
yang disediakan bagi bangsa-bangsa
yang mengatakan bahwa "Allqh telah
mengambil seorang anak lelaki."
Makna
ayat “maka sangat mungkin engkau akan membinasakan diri engkau karena sangat
sedih sekiranya mereka tidak beriman kepada keterangan ini”, karena bakhi' itu ism fail dari bakha'a
yang berarti: ia berbuat sesuatu dengan cara setepat-tepatnya, ayat ini dengan
padat dan lugas melukiskan betapa besarnya perhatian dan kekhawatiran serta
kecemasan Nabi Besar Muhammad saw. mengenai
kesejahteraan ruhani kaum beliau saw..
Kesedihan Nabi Besar Muhammad saw. atas penolakan dan perlawanan mereka terhadap amanat Ilahi hampir membuat beliau saw. wafat.
Memang begitulah keadaan para rasul dan nabi
Allah hatinya senantiasa penuh dengan kasih-sayang
terhadap sesama manusia.
Mereka berseru kepada Allah Swt. menangis dan berdukacita demi kepentingan umat manusia. Tetapi manusia tidak tahu berterimakasih,
sehingga orangorang itu sendiri yang bagi mereka para nabi Allah mempunyai perasaan yang begitu mendalam justru
merekalah yang menindas para nabi Allah dan berusaha untuk membunuh mereka, firman-Nya:
یٰحَسۡرَۃً عَلَی الۡعِبَادِ ۚؑ مَا یَاۡتِیۡہِمۡ مِّنۡ رَّسُوۡلٍ اِلَّا
کَانُوۡا بِہٖ یَسۡتَہۡزِءُوۡنَ ﴿﴾ اَلَمۡ یَرَوۡا کَمۡ
اَہۡلَکۡنَا قَبۡلَہُمۡ مِّنَ الۡقُرُوۡنِ
اَنَّہُمۡ اِلَیۡہِمۡ لَا
یَرۡجِعُوۡنَ ﴿ؕ﴾ وَ اِنۡ کُلٌّ
لَّمَّا جَمِیۡعٌ لَّدَیۡنَا مُحۡضَرُوۡنَ ﴿٪﴾
Wahai sangat disesalkan atas hamba-hamba itu,
sekali-kali tidak pernah datang kepada mereka seorang
rasul melainkan mereka senantiasa
mencemoohkannya. Apakah
mereka tidak melihat berapa banyak generasi yang telah Kami binasakan sebelum
mereka, bahwasanya mereka itu tidak kembali lagi kepada mereka?
Dan setiap mereka semua niscaya akan
dihadirkan kepada Kami. (Yā Sīn [36]:31-33).
Kata-kata dalam ayat 31 penuh dengan kerawanan hati. Tuhan Yang Maha
Kuasa Sendiri agaknya seolah-olah sangat masygul
atas penolakan dan ejekan manusia terhadap para nabi-Nya. Sementara para nabi Allah menanggung kesedihan dan derita untuk kaumnya, tetapi kaumnya itu membalas kesedihan mereka itu dengan penghinaan dan ejekan.
Isyarat
ayat: “Apakah mereka tidak
melihat berapa banyak generasi yang telah Kami binasakan
sebelum mereka, bahwasanya mereka itu tidak kembali lagi kepada mereka?“
agaknya tertuju kepada azab Ilahi
yang akan bersifat semesta (universal), sebab dikemukakan azab-azab Ilahi yang telah
menghancur-luluhkan kaum-kaum purbakala
yang telah mendustakan dan menentang keras para rasul Allah yang dibangkitkan di
kalangan mereka sendiri (QS.7:35-37).
Nubuatan Kesuksesan Duniawi Bangsa-bangsa Kristen dari Barat dan Kehancuran Kekuasaan Duniawi Mereka
& “Perang Armagedon”
Makna ayat: “sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi perhiasan baginya supaya Kami
menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya” dalam QS.18:8, bahwa semua benda yang tidak terhitung
banyaknya yang telah diciptakan Allah Swt. tidak ada satu pun yang tidak mempunyai kegunaan tersendiri yang tertentu, atau
yang kosong dari segala kebaikan,
semuanya menambah semarak dan indahnya kehidupan manusia.
Umat Islam
telah dianjurkan untuk senantiasa memberi perhatian kepada kebenaran agung yang melandasi kata-kata sederhana itu, dan untuk
menyerahkan waktu dan tenaga mereka guna
menggali rahasia-rahasia alam yang agung
dan untuk menyelidiki sifat-sifat
yang tidak terbilang banyaknya yang dimiliki unsur-unsur
alam (QS.3:191-195; QS.18:110; QS.31:28; QS.40:14), yang khazanah-khazanahnya
dibukakan Allah Swt. secara bertahap, firman-Nya:
وَ اِنۡ مِّنۡ شَیۡءٍ اِلَّا عِنۡدَنَا خَزَآئِنُہٗ ۫ وَ مَا
نُنَزِّلُہٗۤ اِلَّا بِقَدَرٍ مَّعۡلُوۡمٍ ﴿﴾
Dan tidak ada suatu pun benda melainkan pada Kami ada khazanah-khazanahnya yang
tidak terbatas, dan Kami sama sekali tidak menurunkannya
melainkan dalam ukuran yang tertentu
(Al-Hijr [15]:22).
Allah
Swt. memiliki persediaan (khazanah) segala sesuatu
dalam jumlah yang tidak terbatas. Akan tetapi sesuai dengan rahmat-Nya yang tidak berhingga Dia mengarahkan
pikiran atau otak manusia kepada
satu benda yang tertentu, hanya
bilamana timbul suatu keperluan yang
sesungguhnya akan benda itu. Seperti halnya alam
semesta kebendaan, demikian pula -Quran merupakan alam semesta keruhanian, di mana tersembunyi khazanah-khazanah ilmu keruhanian yang dibukakan kepada manusia melalui hamba-hamba Allah yang terpilih
sesuai dengan keperluan zaman.
Ayat ”dan sesungguhnya Kami niscaya akan menjadikan segala yang ada di atasnya
menjadi tanah-rata yang tandus”
(QS.18:9) mengandung suatu kabar gaib (nubuatan) bahwa
akibat ketidak-bersyukuran mereka kepada Allah Swt. maka bangsa-bangsa Kristen dari barat sesudah memperoleh kekayaan, kekuatan, kekuasaan duniawi dan sesudah mendapat penemuan-penemuan besar, akhirnya akan
membuat bumi Allah itu penuh
dengan kedosaan dan keburukan seperti
yang dituturkan oleh Bible,
firman-Nya:
ظَہَرَ الۡفَسَادُ فِی الۡبَرِّ وَ
الۡبَحۡرِ بِمَا کَسَبَتۡ اَیۡدِی
النَّاسِ لِیُذِیۡقَہُمۡ بَعۡضَ
الَّذِیۡ عَمِلُوۡا لَعَلَّہُمۡ
یَرۡجِعُوۡنَ ﴿﴾ قُلۡ سِیۡرُوۡا فِی الۡاَرۡضِ فَانۡظُرُوۡا
کَیۡفَ کَانَ عَاقِبَۃُ الَّذِیۡنَ مِنۡ
قَبۡلُ ؕ کَانَ اَکۡثَرُہُمۡ
مُّشۡرِکِیۡنَ ﴿﴾ فَاَقِمۡ وَجۡہَکَ لِلدِّیۡنِ الۡقَیِّمِ مِنۡ
قَبۡلِ اَنۡ یَّاۡتِیَ یَوۡمٌ لَّا مَرَدَّ لَہٗ مِنَ اللّٰہِ یَوۡمَئِذٍ یَّصَّدَّعُوۡنَ ﴿﴾
Kerusakan telah meluas di daratan
dan di lautan disebabkan perbuatan tangan manusia, supaya dirasakan
kepada mereka akibat seba-gian perbuatan yang mereka lakukan, supaya
mereka kembali dari
kedurhakaannya Katakanlah: ”Berjalanlah di bumi dan lihatlah
bagaimana buruknya akibat bagi orang-orang sebelum kamu ini. Kebanyakan mereka itu orang-orang musyrik. Maka hadapkanlah wajah engkau kepada agama yang lurus, sebelum datang dari Allāh hari yang tidak dapat
dihindarkan, pada hari itu orang-orang beriman dan kafir akan terpisah. (Ar-Rūm [30]:42-44).
Akibatnya kemurkaan
Allah Swt. akan bangkit, dan sesuai dengan nubuatan-nubuatan yang diucapkan oleh
mulut para nabi Allah di dalam Perjanjian Lama maupun di
dalam Perjanjian Baru, serta dalam Al-Quran
dan hadits bahwa bencana-bencana akan menimpa bumi
(umat manusia) secara meluas, serta segala kemajuan
duniawi yang tadinya telah dicapai oleh mereka dan semua buah tangan
mereka, gedung-gedung mereka yang tinggi megah, keindahan negeri mereka, serta segala kemuliaan, kemegahan, dan
keagungan duniawi mereka sama sekali
akan menjadi hancur berantakan,
sebagaimana yang terjadi pada Perang
Dunia I dan perang Dunia II yang
merupakan bagian dari “Perang Armagedon”.
Mengisyaratkan
kepada kesuksesan duniawi yang diraih oleh generasi
penerus Ashhabul-Kahf (para
penghuni gua) -- yang disebut rāqim (prasasti-prasasti) --
serta akibat buruk yang akan menimpa
mereka dalam QS.18:10, bahwa mereka itu bukan
merupakan Tanda-tanda Tuhan yang ajaib, berikut ini firman-Nya kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
اَمۡ حَسِبۡتَ اَنَّ
اَصۡحٰبَ الۡکَہۡفِ وَ الرَّقِیۡمِ ۙ کَانُوۡا مِنۡ اٰیٰتِنَا
عَجَبًا ﴿﴾
Atau
engkau menyangka bahwa penghuni
gua dan prasasti-prasastinya itu adalah dari antara Tanda-tanda Kami yang menakjubkan?
(Al-Kahf [18]:10).
Generasi Penerus “Ashhabul-Kahf” (Para Penghuni Gua) “Keluar dari Gua”
Selanjutnya Allah Swt. berfirman mengenai awal kebangkitan duniawi generasi
penerus Hawari (pengikut) Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. tersebut
yang digambarkan dengan keluarnya
mereka dari “gua”:
وَ
کَذٰلِکَ بَعَثۡنٰہُمۡ
لِیَتَسَآءَلُوۡا
بَیۡنَہُمۡ ؕ قَالَ قَآئِلٌ مِّنۡہُمۡ کَمۡ لَبِثۡتُمۡ ؕ قَالُوۡا لَبِثۡنَا یَوۡمًا اَوۡ بَعۡضَ یَوۡمٍ ؕ قَالُوۡا رَبُّکُمۡ اَعۡلَمُ بِمَا لَبِثۡتُمۡ ؕ فَابۡعَثُوۡۤا اَحَدَکُمۡ بِوَرِقِکُمۡ ہٰذِہٖۤ اِلَی الۡمَدِیۡنَۃِ فَلۡیَنۡظُرۡ
اَیُّہَاۤ اَزۡکٰی
طَعَامًا فَلۡیَاۡتِکُمۡ بِرِزۡقٍ مِّنۡہُ وَ لۡـیَؔتَلَطَّفۡ وَ لَا یُشۡعِرَنَّ
بِکُمۡ اَحَدًا ﴿﴾
Dan
demikianlah Kami bangkitkan mereka supaya mereka saling bertanya di antara mereka.
Salah seorang dari mereka berkata: "Berapa lamakah kamu tinggal?" Mereka menjawab: "Kami
telah tinggal sehari atau sebagian dari
hari." Yang lain berkata: "Rabb
(Tuhan) kamu lebih mengetahui lamanya kamu tinggal. Maka suruhlah
sekarang salah seorang dari antara kamu dengan mata uang kamu ini ke kota dan hendaklah ia memperhatikan siapa
dari antara mereka mempunyai bahan makanan
terbaik dan hendaklah ia membawa kepada kamu
rezeki darinya. Dan hendaklah ia bersikap lemah-lembut,
dan ia jangan memberitahukan mengenai kamu kepada siapa pun. (Al-Kahfi [18]:20).
Makna ayat: “Dan demikianlah Kami
bangkitkan mereka supaya mereka saling bertanya di antara mereka. Salah
seorang dari mereka berkata: "Berapa
lamakah kamu tinggal?" Mereka menjawab:
"Kami telah tinggal sehari atau sebagian dari hari." Ayat ini
nampaknya menunjuk kepada bangkitnya bangsa-bangsa Kristen dari barat --
yakni “orang-orang yang bermata
biru” (QS.20:103-105) -- atau merajalelanya kembali Ya’juj
(Gog) dan Ma’juj (Magog) sebagaiman
yang dinubuatkan Dzulqarnain (QS.18:95-100)
atau pelepasan sementara iblis dan satan dari pemenjaraan selama 1000
tahun (Wahyu 20:7-10;
QS.21:97)
Kata-kata “Kami membangkitkan mereka” mengisyaratkan kepada kemajuan besar yang bangsa-bangsa itu telah ditakdirkan mencapainya yakni di Akhir
Zaman ini. Sedangkan makna kata-kata, “Salah
seorang dari mereka berkata: “Berapa lamakah kamu telah tinggal?" mengandung
arti bahwa bangsa-bangsa Kristen akan bangkit
dan menyingkirkan jauh-jauh kemalasan
mereka atau dari “keadaan tidur nyenyak” mereka yang dikemukakan dalam ayat
sebelumnya, firman-Nya:
وَ تَحۡسَبُہُمۡ اَیۡقَاظًا وَّ ہُمۡ رُقُوۡدٌ ٭ۖ وَّ نُقَلِّبُہُمۡ
ذَاتَ الۡیَمِیۡنِ
وَ ذَاتَ الشِّمَالِ ٭ۖ وَ
کَلۡبُہُمۡ بَاسِطٌ ذِرَاعَیۡہِ بِالۡوَصِیۡدِ ؕ لَوِ اطَّلَعۡتَ عَلَیۡہِمۡ لَوَلَّیۡتَ
مِنۡہُمۡ فِرَارًا
وَّ لَمُلِئۡتَ
مِنۡہُمۡ
رُعۡبًا ﴿﴾
Dan
engkau menyangka mereka itu bangun padahal mereka
itu tidur, dan Kami
membolik-balikkan mereka ke kanan dan ke kiri, dan anjing
mereka sedang menjulurkan kedua kaki-depannya di halaman gua itu. Seandainya engkau menyaksikan mereka niscaya engkau akan berbalik dari mereka untuk melarikan diri dan niscaya engkau akan dipenuhi oleh rasa
takut terhadap mereka (Al-Kahf
[18]:19).
Makna ayat ini telah dijelaskan dalam
salah satu Bab sebelumnya. Kebangkitan
kesadaran bangsa-bangsa Kristen telah terjadi di masa peperangan salib ketika
raja-raja Inggris, Perancis, dan Jerman bersatu
padu memperjuangkan tujuan bersama, dan seluruh Eropa bergabung mengadakan serangan
bersama terhadap umat Islam,
untuk merenggut tanah suci (Kanaan/Palestina) dari tangan mereka.
Berkenaan ayat: “Salah seorang dari mereka berkata: "Berapa lamakah kamu tinggal?" Mereka menjawab: "Kami
telah tinggal sehari atau sebagian
dari hari." Menurut muhawarah
bahasa Arab “sehari atau sebagian hari”
menunjuk kepada masa yang tidak tentu. Di tempat lain
(QS.20:103-104) Al-Quran telah menetapkan 1000
tahun yang selama itu bangsa-bangsa Kristen dari barat itu
tetap tinggal dalam keadaan “tidur” atau tanpa kegiatan.
Kata ''sepuluh hari" dalam QS.20:103-104 dipergunakan untuk
menyatakan sepuluh abad, dan
kata-kata "bermata biru"
dalam ayat-ayat tersebut menunjuk kepada bangsa-bangsa
barat yang pada umumnya bermata biru.
Ini merupakan kenyataan sejarah yang cukup dikenal, bahwa dasar-dasar kekuasaan Inggris di Timur diletakkan pada permulaan abad ketujuh belas ("March of Man"). Masa ini mendekati
seribu tahun sesudah Nabi Besar Muhammad saw..
Ekspansi Bangsa-bangsa Kristen dari
Barat ke Berbagai Wilayah Dunia Berkedok “Perniagaan” (Perdagangan)
Makna ayat: “Yang lain berkata: "Rabb (Tuhan) kamu lebih mengetahui lamanya kamu tinggal. Maka suruhlah sekarang salah seorang dari antara kamu dengan mata uangmu ini
ke kota dan hendaklah ia
memperhatikan siapa dari antara mereka mempunyai bahan makanan terbaik
dan hendaklah ia membawa kepada kamu rezeki
darinya.”
Ketika "penghuni-penghuni gua" melihat,
bahwa gelombang penindasan terhadap
mereka telah mereda, mereka mengutus salah seorang anggota mereka ke kota yang
dibekali dengan beberapa mata uang lama untuk membeli perbekalan hidup dan untuk menyelidiki bagaimana situasi, yang
menyangkut diri mereka. Tha'ām dapat berarti, bahan-bahan makanan
seperti gandum, jelai, jawawut, kurma dan lain sebagainya (Lexicon Lane). Ayat ini menunjuk kepada ekspedisi-ekspedisi perdagangan bangsa-bangsa Kristen barat ke
seluruh bagian dunia.
Selanjutnya mengenai makna ayat: “Dan
hendaklah ia ber-sikap lemah-lembut,
dan ia jangan memberitahukan mengenai kamu kepada siapa pun.“
Para ahli niaga Eropa mempunyai
keterampilan khas untuk berlaku
lemah-lembut dan sopan-santun
dalam urusan perdagangan mereka.
Nampaknya ungkapan, "hendaklah ia
bersikap lemah-lembut" menunjuk kepada sifat khusus ini. Kata-kata itu
berarti pula "hendaknya ia berlaku
hati-hati."
Makna kata-kata "dan jangan
sama sekali ia memberitahukan mengenai kamu kepada siapa pun” mengisyaratkan kepada penyusupan pengaruh barat ke timur dengan diam-diam dan tidak
menyolok mata. Selanjutnya Allah Swt. berfirman mengenai mereka sehubungan
makna ayat sebelumnya :
اِنَّہُمۡ اِنۡ یَّظۡہَرُوۡا عَلَیۡکُمۡ یَرۡجُمُوۡکُمۡ اَوۡ یُعِیۡدُوۡکُمۡ فِیۡ
مِلَّتِہِمۡ وَ لَنۡ
تُفۡلِحُوۡۤا اِذًا اَبَدًا ﴿ ﴾
"Sesungguhnya
jika mereka unggul atas kamu mereka akan
mengusir kamu atau akan memaksa kamu
kembali ke dalam agama mereka, dan kamu tidak akan pernah berhasil selama-lamanya.”
(Al-Kahf
[18]:20).
Kata-kata dalam ayat ini berarti: "Jika orang-orang yang kepadanya kamu
mengirim rombongan dagang dapat mengetahui niat-niat kamu yang sebenarnya, atau
sebelum kaki kamu ditegakkan dengan kuat di negeri mereka, suatu persengketaan
politik atau perselisihan dagang timbul, dan kamu sendiri tidak kuat
menghadapinya, kemudian kamu akan terpaksa meninggalkan negeri mereka atau
memeluk agama mereka. Jika terjadi salah satu di antara keduanya, kamu akan
gagal memperoleh tempat berpijak yang kekal, dan semua impian kamu untuk
menegakkan kerajaan yang besar di negeri mereka akan lenyap sirna."
Membangun Gereja Untuk Memperingati
“Orang-orang Kudus” Mereka
Kata-kata, "Kami pasti akan membangun di atas tempat tinggal mereka rumah peribadatan" menyebut
salah satu ciri istimewa generasi penerus "penghuni-penghuni gua" itu, -- yaitu bangsa-bangsa Kristen dalam membangun gereja-gereja
untuk memperingati orang-orang kudus mereka yang telah mati. Perlu pula
diperhatikan, bahwa banyak gereja semacam itu telah ditemukan di katakomba-katakomba.
Terkaan-terkaan ini nampaknya berdasar pada prasasti-prasasti yang tertera di alas
dinding-dinding beberapa kamar di katakomba-katakomba, tetapi tiap tulisan itu
menunjuk hanya kepada suatu keluarga, golongan, atau rombongan yang tertentu.
Jumlah banyaknya orang-orang yang mencari perlindungan dalam katakomba-katakomba
itu pada suatu waktu tertentu tidak diketahui. Dari prasasti-prasasti itu nampak bahwa selamanya ada anjing menyertai
suatu rombongan pengungsi itu.
Jadi, betapa Al-Quran dalam surah Al-Kahf ayat 19 menubuatkan
hakikat ini ratusan tahun sebelumnya,
ketika bangsa-bangsa Kristen masih terbenam dalam “tidur lelap ratusan tahun”
-- sehingga daya cipta yang betapa pun kaya dan luasnya tidak dapat meramalkan kekuasaan dan kemuliaan -- yang
kemudian akan dicapai oleh bangsa-bangsa
Kristen atau Ya’juj (Gog) dan Ma’juj (Magog) itu
sesudahnya.
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran Anyar,
9 Februari 2017
Tidak ada komentar:
Posting Komentar