Rabu, 22 Februari 2017

Minta "Keputusan" Allah Swt. Melalui "Mubahalah" (Tanding Doa) & Memanfaatkan Sitem "Demokrasi" Kerajaan Inggris Raya di Hindustan Dalam Membela Kesempurnaan Ajaran Islam dan Kesucian Nabi Besar Muhammad Saw.



Bismillaahirrahmaanirrahiim

  ISLAM
Pidato  Mirza Ghulam Ahmad a.s.
Tgl. 2 November 1904 di Kota Sialkote – Hindustan

Bab  26

 MINTA KEPUTUSAN ALLAH SWT. MELALUI    MUBAHALAH (TANDING DOA) &  MEMANFAATKAN SISTEM DEMOKRASI  KERAJAAN INGGRIS RAYA DI HINDUSTAN  DALAM MEMBELA KESEMPURNAAN AJARAN ISLAM DAN KESUCIAN NABI BESAR MUHAMMAD SAW.  

Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam bagian akhir Bab 25 telah dijelaskan topik   Sabda-sabda Nabi Besar Muhammad saw.  Tentang Imam Mahdi a.s.  Berikut beberapa sabda Nabi Besar Muhammad saw. berkenaan dengan keberadaan  para Mujaddid yang   bertugas memurnikan kembali pemahaman  ajaran Islam (Al-Quran), terutama Imam Zaman – yakni Imam Mahdi a.s.    atau Rasul Akhir Zaman -- yang akan mewujudkan  kejayaan Islam yang kedua kali, firman-Nya:
ہُوَ الَّذِیۡۤ  اَرۡسَلَ  رَسُوۡلَہٗ  بِالۡہُدٰی وَ دِیۡنِ  الۡحَقِّ لِیُظۡہِرَہٗ  عَلَی الدِّیۡنِ کُلِّہٖ وَ لَوۡ  کَرِہَ  الۡمُشۡرِکُوۡنَ ٪﴿﴾
Dia-lah Yang mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk dan dengan agama yang benar supaya Dia memenangkannya atas semua agama,  walaupun orang musyrik tidak menyukai. (Ash-Shaf [61]:10).
     Kebanyakan ahli tafsir Al-Quran sepakat bahwa ayat ini kena  dan akan terwujud  melalui perjuangan suci  Al-Masih yang dijanjikan (Masih Mau’ud a.s.), sebab di zaman beliau semua agama muncul  dan berlomba-lomba mentabligkan agama mereka,  karena mereka pun  mempercayai mengenai kedatangan  seorang “pahlawan agama”  -- dengan nama yang berbeda-beda di setiap umat beragama  --  yang    akan memenangkan agama mereka, sebagaimana yang juga dipercayai oleh umat Islam mengenai kedatangan Imam Mahdi a.s.  dan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.,  yang akan mengunggulkan agama Islam di atas semua agama.
       Abu Hurairah r.a. meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda:  “Sesungguhnya Allah akan mengutus (menghadirkan) bagi umat ini (umat Islam) orang yang akan memperbaharui (urusan) agama mereka pada setiap akhir seratus tahun (HR Abu Dawud  no. 4291).  
      “Andaikan dunia tinggal sehari sungguh Allah akan panjangkan hari tersebut sehingga diutus padanya seorang lelaki dari ahli baitku namanya serupa namaku dan nama ayahnya serupa nama ayahku. Ia akan penuhi bumi dengan kejujuran dan keadilan sebagaimana sebelumnya dipenuhi dengan kezaliman dan penganiayaan.” (HR Abu Dawud 9435).
        “Aku kabarkan berita gembira mengenai Al-Mahdi yang diutus Allah ke tengah ummatku ketika banyak terjadi perselisihan antar-manusia dan gempa-gempa. Ia akan penuhi bumi dengan keadilan dan kejujuran sebagaimana sebelumnya dipenuhi dengan kesewenang-wenangan dan kezaliman.” (HR Ahmad 10898).
       “Sungguh, bumi ini akan dipenuhi oleh kezhaliman dan kesemena-menaan. Dan apabila kezhaliman serta kesemena-menaan itu telah penuh, maka Allah Swt. akan mengutus seorang laki-laki yang berasal dari umatku, namanya seperti namaku, dan nama bapaknya seperti nama bapakku. Maka ia akan memenuhi bumi dengan keadilan dan kemakmuran, sebagaimana ia (bumi) telah dipenuhi sebelum itu oleh kezhaliman dan kesemena-menaan. Di waktu itu langit tidak akan menahan setetes pun dari tetesan airnya, dan bumi pun tidak akan menahan sedikit pun dari tanaman-tanamannya. Maka ia akan hidup bersama kamu selama 7 tahun, atau 8 tahun, atau 9 tahun. (HR. Thabrani) ”
     "Pada Akhir Zaman akan muncul seorang khalifah yang berasal dari umatku, yang akan melimpahkan harta kekayaan selimpah-limpahnya. Dan  .” (HR. Muslim dan Ahmad).
        “Al-Mahdi berasal dari umatku, berkening lebar, berhidung panjang dan mancung. Ia akan memenuhi bumi ini dengan keadilan dan kemakmuran, sebagaimana ia (bumi ini) sebelum itu dipenuhi oleh kezhaliman dan kesemena-menaan, dan ia (umur kekhalifahan) berumur tujuh tahun. (HR. Abu Dawud dan Al-Hakim).
       “Al-Mahdi berasal dari umatku, dari keturunan anak cucuku.
(HR. Abu Dawud; Ibnu Majah, dan Al-Hakim).  
      “Al-Mahdi berasal dari umatku, yang akan diislahkan oleh Allah dalam satu malam.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah).
   Ada pun wasiat (amanat) yang paling penting  Nabi Besar Muhammad saw.   berkenan Imam Mahdi a.s. adalah harus melakukan bai’at kepada beliau a.s.:
“Ketika kalian melihatnya (kehadiran Imam Mahdi)  maka berbai’atlah dengannya walaupun harus merangkak-rangkak di atas salju karena sesungguhnya dia adalah Khalifatullah Al-Mahdi.” (HR Abu Dawud, 4074).      
Pidato Mirza Ghulam Ahmad a.s. Mengenai “Islam” di Sialkote & Kekuasaan   Kerajaan Inggris Raya di Hindustan

         Pendiri Jemaat Muslim Ahmadiyah – Mirza Ghulam Ahmad a.s.  (1835-1908) – dalam kedudukan beliau sebagai Khalifah Nabi Besar Muhammad saw. di Akhir Zaman ini dalam pidato beliau  di kota Sialkote  di hadapan sekitar 6000 orang yang hadir,  menjelaskan berbagai keadaan berbahaya yang di hadapi umat Islam di berbagai kawasan dunia  --  terutama di Hindustan, yang pada saat itu ada di bawah kekuasaan  pemerintahan Kerajaan Inggris Raya  yang dipimpin  Ratu Victoria.
       Salah satu kelebihan     pemerintah kerajaan Inggris yang beragama Kristen di wilayah Hindustan  adalah para penguasa Inggris di Hindustan memberikan kebebasan dalam beragama kepada para penduduk Hindustan, sehingga para pemeluk berbagai agama di Hindustan  -- termasuk umat Islam  -- dapat menablighkan agama mereka kepada pihak lain.
       Namun sayang, keadaan umat Islam di Hindustan setelah runtuhnya dinasti Mughal dan dilanjutkan berkuasanya kaum Sikh, mereka  benar-benar dalam keadaan tidak berdaya  sehingga tidak mampu  bukan saja untuk  memelihara umat Islam dari menjadi pengikut ajaran Hindu dan Kristen  bahkan sekedar memelihara tempat-tempat ibadah pun mereka tidak mampu – sehingga banyak yang dijadikan kandang binatang  -- apalagi memiliki keberanian untuk mentablighkan ajaran Islam  kepada pihak-pihak lain.

Ajakan Melakukan “Mubahalah” (Tanding Doa)

        Bukan hanya orang-orang Muslim dari kalangan umum saja, bahkan  tidak sedikit para Muslim dari kalangan sayyid  pun yang bukan sekedar menjadi pemeluk agama Kristen  tetapi menjadi para pendeta Kristen.  Salah seorang Muslim yang beralih menjadi pendeta Kristen adalah ‘Abdullah Atham  yang menyerang kesucian Nabi Besar Muhammad saw., sehingga terpaksa Mirza Ghulam Ahmad a.s. menantangnya untuk melakukan mubahalah (tanding doa – QS.3:62) namun dengan segala dalih ia menolak menerima tantangan tersebut, walau pun pada akhirnya ia mengalami kematian secara hina sesuai dengan nubuatan  dari Mirza Ghulam Ahmad a.s..
         Ajakan untuk melakukan mubahalah (tanding doa)  yang dilakukan oleh Masih Mau’ud a.s. tersebut sesuai dengan Sunnah Nabi Besar Muhammad saw.,  ketika pihak lawan tetap bersikeras dengan kesesatan pemahamannya   walau pun segala macam dalil yang tidak terbantahkan telah dikemukakan  kepadanya, firman-Nya:
فَمَنۡ حَآجَّکَ فِیۡہِ مِنۡۢ بَعۡدِ مَا جَآءَکَ مِنَ الۡعِلۡمِ فَقُلۡ تَعَالَوۡا نَدۡعُ اَبۡنَآءَنَا وَ اَبۡنَآءَکُمۡ وَ نِسَآءَنَا وَ نِسَآءَکُمۡ وَ اَنۡفُسَنَا وَ اَنۡفُسَکُمۡ ۟ ثُمَّ نَبۡتَہِلۡ فَنَجۡعَلۡ لَّعۡنَتَ اللّٰہِ عَلَی الۡکٰذِبِیۡنَ ﴿﴾
Tetapi barangsiapa membantah engkau mengenainya setelah datang kepada engkau ilmu  فَقُلۡ تَعَالَوۡا نَدۡعُ اَبۡنَآءَنَا وَ اَبۡنَآءَکُمۡ وَ نِسَآءَنَا وَ نِسَآءَکُمۡ وَ اَنۡفُسَنَا وَ اَنۡفُسَکُمۡ  -- maka katakanlah: “Marilah kita panggil anak-anak laki-laki kami dan anak-anak laki-laki kamu, perempuan-perempuan kami dan pe-rempuan-perempuan kamu, orang-orang kami dan orang-orang kamu, ثُمَّ نَبۡتَہِلۡ فَنَجۡعَلۡ لَّعۡنَتَ اللّٰہِ عَلَی الۡکٰذِبِیۡنَ --  kemudian kita   berdoa supaya  laknat Allah menimpa orang-orang yang berdusta.” (Ali ‘Imrān [3]:62).
          Pembahasan ajaran Kristen yang digarap oleh Surah Ali ‘Imran mulai ayat 36-61 telah berakhir dalam ayat ini. Rujukan  itu, seperti telah disebut di atas, tertuju kepada suatu perutusan orang-orang Kristen dari Najran, terdiri atas 40 orang dipimpin oleh kepala kabilah mereka ‘Abd-al-Masih, yang terkenal dengan nama Al-’Āqib. Mereka menjumpai  Nabi Besar Muhammad saw.  di masjid beliau saw. di Medinah, dan pertukaran pikiran (dialog) tentang akidah yang dinamakan mereka ketuhanan Isa berlangsung beberapa lama.
      Ketika masalahnya telah dibahas secukupnya dan para anggota delegasi  Kristen tersebut ternyata masih tetap berpegang pada ajaran mereka, maka  Nabi Besar Muhammad saw.    mematuhi perintah Ilahi yang tercantum dalam ayat ini, sebagai langkah penghabisan mengajak mereka untuk ikut serta dengan beliau dalam semacam adu kekuatan doa dan yang secara teknis disebut mubahalah, yakni menyeru agar kutukan Allah Swt.   menimpa penganut kepercayaan palsu.

Toleransi Beragama yang Diamalkan Nabi Besar Muhammad Saw.
      
     Tetapi karena orang-orang Kristen itu  tidak merasa yakin mengenai dasar kepercayaan mereka maka mereka menolak menerima tantangan itu, dengan demikian penolakan mereka itu secara tidak langsung mengakhiri kepalsuan akidah mereka (Zurqani).
       Secara sambil lalu baiklah disebutkan bahwa sewaktu berlangsung tukar pikiran dengan delegasi Kristen dari Najran itu, Nabi Besar Muhammad saw.  mengizinkan mereka melakukan sembahyang di masjid beliau dengan cara mereka sendiri, dan mereka melakukan dengan menghadap ke timur, suatu sikap toleransi keagamaan yang tiada taranya dalam sejarah agama (Zurqani).
      Peristiwa  mubahalah tersebut membuktikan kebenaran pernyataan Allah Swt.  bahwa tidak boleh ada paksaan dalam bentuk apa pun dalam masalah agama, firman-Nya:
لَاۤ اِکۡرَاہَ فِی الدِّیۡنِ ۟ۙ قَدۡ تَّبَیَّنَ الرُّشۡدُ مِنَ الۡغَیِّ ۚ فَمَنۡ یَّکۡفُرۡ بِالطَّاغُوۡتِ وَ یُؤۡمِنۡۢ بِاللّٰہِ فَقَدِ اسۡتَمۡسَکَ بِالۡعُرۡوَۃِ الۡوُثۡقٰی ٭ لَا انۡفِصَامَ  لَہَا ؕ وَ اللّٰہُ سَمِیۡعٌ عَلِیۡمٌ ﴿﴾
Tidak ada paksaan  dalam agama. Sungguh  jalan benar itu nyata bedanya dari kesesatan, karena itu barangsiapa kafir kepada thāghūt dan beriman kepada Allah, maka sungguh  ia  telah berpegang kepada suatu pegangan yang sangat kuat lagi tidak akan putus, dan Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui. (Al-Baqarah [2]:257).
       Ayat ini melenyapkan salah paham itu dan bukan saja melarang kaum Muslimin dengan kata-kata yang sangat tegas mempergunakan kekerasan dalam rangka menarik orang-orang bukan-Muslim masuk Islam, tetapi memberikan pula alasan-alasan mengapa kekerasan tidak boleh dipakai untuk tujuan tersebut. Alasan itu ialah karena kebenaran (haq) itu nyata berbeda dari kesesatan maka tidak ada alasan untuk membenarkan penggunaan kekerasan, sebab Islam adalah  kebenaran yang nyata.
       Thāghūt adalah: orang-orang yang bertindak melampaui batas-batas kewajaran; iblis; orang-orang yang menyesatkan orang lain dari jalan lurus dan benar; segala bentuk berhala. Kata itu dipakai dalam arti mufrad dan jamak (QS.2:258 dan QS.4:61).

Masih Mau’ud a.s. Banyak Melakukan  Mubahalah   & Makna Kiasan Gambaran Mengenai Imam Mahdi a.s.

     Demikian banyak peristiwa mubahalah  yang dilakukan oleh Pendiri Jemaat Muslim Ahmadiyah terhadap para penghujat ajaran Islam (Al-Quran) dan kesucian  Nabi Besar Muhammad saw.  dengan pihak-pihak yang mendustakan  pendakwaan beliau.
        Bahkan tantangan mubahalah itu pun beliau  diajukan pula  terhadap para pemuka agama Islam yang  secara aniaya terus menerus menebar fitnah mengenai pendakwaan  beliau sebagai Masih Mau’ud a.s. atau misal Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (QS.43:58), sebagaimana yang dilakukan para pemuka Yahudi terhadap Nabi Isa Ibnu Maryam a.s..
      Orang-orang yang – baik secara langsung mau pun secara tidak langsung  -- menerima tantangan “mubahalah”  yang diajukan Masih Mau’ud a.s.  benar-benar mengalami kematian tragis secara ajaib   dalam batas waktu yang telah  ditentukan   sesuai nubuatan   yang beliau  siarkan secara umum.
       Alexander Doui  -- seorang pendeta Kristen  di salah satu kota   Amerika Serikat yang sangat terkenal –  yang mendirikan kota “Zion” guna menyambut “turunnya Yesus Kristus dari langit”   -- adalah salah seorang yang meladeni tantangan “mubahalah” Masih Mau’ud a.s., dan kehidupannya berakhir dengan penuh kehinaan, karena selain terbukti sebagai seorang pemabuk juga telah menggelapkan dana (pengorbanan) yang dihimpun dari para pengikutnya.
      Mengisyaratkan kepada kenyataan itulah sabda-sabda Nabi Besar Muhammad saw. berkenaan dengan Imam Mahdi a.s. atau misal Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (QS.43:58) bahwa “pandangan matanya” dan  “tiupan nafasnya” akan banyak  menimbulkan banyak korban.
       Makna ungkapan kiasan dalam hadits tersebut bahwa sudah ditakdirkan sejak semula untuk Masih Mau’ud a.s.  mula-mula ia akan menampakkan diri dari sifat “kebengisan” sehingga kemana saja ia melayangkan pandangannya orang-orang akan terkapar mati karena “tiupan nafasnya”. Maknanya adalah Masih Mau’ud a.s. bukan melakukan jihad  berupa perang dengan menggunakan pedang (senjata) melainkan beliau berjihad melalui “kekuatan ruhaninya”  yang akan nampak dayanya bagaikan sebilah pedang, dan tanda-tanda malapetaka  akan turun dari langit, seperti terjadinya  wabah tha’un (pes); gempa-gempa bumi dan bermacam-macam malapetaka yang telah membinasakan ratusan ribu  -- bahkan jutaan -- manusia.
       Itulah sebabnya Allah Swt. dalam Al-Quran  telah menyebut  para  rasul Allah    -- -- terutama Nabi Besar Muhammad saw.   -- sebagai nadzir (pemberi peringatan QS.5:20; QS.34:35; QS.71:3)  yang memperingatkan manusia  tentang akan terjadinya berbagai azab Ilahi  jika mereka mendustakan pendakwaannya (QS.17:16; QS.20:135; QS.28:60) dan juga sebagai  basyir (pembawa kabar gembira)  mengenai berbagai macam  karunia Ilahi jika mereka beriman kepada rasul Allah  -- firman-Nya:
یٰۤاَیُّہَا النَّبِیُّ  اِنَّاۤ  اَرۡسَلۡنٰکَ شَاہِدًا وَّ مُبَشِّرًا وَّ  نَذِیۡرًا ﴿ۙ﴾ وَّ دَاعِیًا اِلَی اللّٰہِ  بِاِذۡنِہٖ وَ سِرَاجًا مُّنِیۡرًا ﴿﴾  وَ بَشِّرِ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ بِاَنَّ لَہُمۡ مِّنَ اللّٰہِ فَضۡلًا کَبِیۡرًا ﴿﴾
Wahai Nabi, sesungguhnya Kami mengutus engkau sebagai saksi dan pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan, dan  sebagai penyeru kepada Allah dengan perintah-Nya, dan juga sebagai matahari yang memancarkan cahaya.  Dan berilah kabar gembira  kepada orang-orang beriman  bahwa sesungguhnya bagi mereka ada karunia yang besar dari Allah. (Al-Ahzāb [33]:46-48).
       Demikian juga hal dengan Masih Mau’ud a.s., setelah bertindak sebagai nadzir (pemberi peringatan) beliau      akan memandang dengan penuh “kasih-sayang”  kepada umat manusia dan akan menampakkan “kasih-sayang” Allah Swt. dari langit serta keberkatan akan turun pada umur umat manusia serta dari dalam bumi akan muncul bahan-bahan rezeki yang berlimpah-limpah.

Makna “Keberkatan Ilahi”  dan  “Azab Ilahi” yang Datang dari Atas dan dari Bawah

        Terjadinya kenyataan itu sesuai dengan pernyataan Allah Swt. dalam Al-Quran, firman-Nya:
وَ لَوۡ  اَنَّ  اَہۡلَ الۡکِتٰبِ اٰمَنُوۡا وَ اتَّقَوۡا لَکَفَّرۡنَا عَنۡہُمۡ سَیِّاٰتِہِمۡ وَ لَاَدۡخَلۡنٰہُمۡ  جَنّٰتِ النَّعِیۡمِ ﴿﴾  وَ لَوۡ اَنَّہُمۡ اَقَامُوا التَّوۡرٰىۃَ وَ الۡاِنۡجِیۡلَ وَ مَاۤ  اُنۡزِلَ اِلَیۡہِمۡ  مِّنۡ رَّبِّہِمۡ لَاَکَلُوۡا مِنۡ فَوۡقِہِمۡ وَ مِنۡ تَحۡتِ اَرۡجُلِہِمۡ ؕ مِنۡہُمۡ اُمَّۃٌ  مُّقۡتَصِدَۃٌ ؕ وَ کَثِیۡرٌ  مِّنۡہُمۡ سَآءَ مَا یَعۡمَلُوۡنَ ﴿٪﴾
Dan   seandainya  para Ahlul Kitab benar-benar beriman dan bertakwa, niscaya Kami hapuskan dari mereka keburukan mereka dan  niscaya  Kami masukkan  mereka ke dalam kebun-kebun kenikmatan.  Dan seandainya mereka benar-benar menegakkan ajaran TauratInjil,  dan apa-apa yang diturunkan ke-pada mereka dari Rabb (Tuhan) mereka, لَاَکَلُوۡا مِنۡ فَوۡقِہِمۡ وَ مِنۡ تَحۡتِ اَرۡجُلِہِمۡ ؕ مِنۡہُمۡ اُمَّۃٌ  مُّقۡتَصِدَۃٌ -- nis-caya mereka akan memakan barang-barang dari atas mereka dan dari bawah kaki merekaمِنۡہُمۡ اُمَّۃٌ  مُّقۡتَصِدَۃٌ ؕ وَ کَثِیۡرٌ  مِّنۡہُمۡ سَآءَ مَا یَعۡمَلُوۡنَ --   Di antara mereka ada umat yang mengambil jalan tengah, tetapi kebanyakan dari mereka sangat buruk apa yang mereka kerja-an.  (Al-Māidah [5]:66-67).
       Ungkapan kebun-kebun kenikmatan dalam ayat 66 menunjukkan keadaan serba sempurnanya kegembiraan ruhani, begitu juga tempat-tinggal penuh kenikmatan. Sementara menerangkan kata-kata “kebun” dan “surga,” Al-Quran telah mempergunakan empat ungkapan yang berbeda: (1) “kebun-kebun kenikmatan” seperti dalam ayat ini; (2) “kebun-kebun yang kekal-abadi” (QS.32:20); (3) “kebun-kebun abadi” (QS.9:72); dan (4) “Surga firdaus” (QS.8:108). Ungkapan-ungkapan tersebut menampilkan segi-segi yang berlainan, begitu juga berbagai derajat surga.
       Makna ayat:  لَاَکَلُوۡا مِنۡ فَوۡقِہِمۡ وَ مِنۡ تَحۡتِ اَرۡجُلِہِمۡ ؕ مِنۡہُمۡ اُمَّۃٌ  مُّقۡتَصِدَۃٌ  -- “niscaya mereka akan memakan barang-barang dari atas mereka dan dari bawah kaki mereka”  antara lain:
     (1) Mereka niscaya akan menerima rahmat dari langit seperti wahyu Ilahi dan hubungan dengan Allah  Swt.   dan kesejahteraan duniawi.
       (2) Mereka bukan saja akan mendapat siraman hujan pada waktunya yang tepat dan lebat dari langit, tetapi tanah pun akan memberikan hasilnya untuk mereka dengan berlimpah-limpah.
     (3) Allah Swt.  niscaya akan menyediakan untuk mereka sarana-sarana bagi kemajuan ruhani maupun jasmani.
       Jadi janganlah diartikan bahwa Masih Mau’ud a.s. dalam hadits tersebut sebagai “tukang tenung” (ahli sihir) yang pandangannya mendatangkan musibah kepada setiap orang, melainkan apa yang dimaksudkan hadits tersebut bahwa “nafs sucinya” atau “ruh sucinya”  – yakni perkataannya – akan tersiar di permukaan bumi, dan karena orang-orang akan mengingkarinya serta  akan mendustakannya dan  akan memaki-maki Masih Mau’ud a.s. maka keingkaran mereka itu justru akan menyebabkan turunnya berbagai bentuk azab Ilahi, baik yang datang dari  langit  mau pun dari bumi, sebagaimana firman-Nya:
قُلۡ ہُوَ  الۡقَادِرُ عَلٰۤی  اَنۡ یَّبۡعَثَ عَلَیۡکُمۡ عَذَابًا مِّنۡ فَوۡقِکُمۡ اَوۡ مِنۡ تَحۡتِ اَرۡجُلِکُمۡ اَوۡ یَلۡبِسَکُمۡ شِیَعًا وَّ یُذِیۡقَ بَعۡضَکُمۡ بَاۡسَ بَعۡضٍ ؕ اُنۡظُرۡ کَیۡفَ نُصَرِّفُ الۡاٰیٰتِ لَعَلَّہُمۡ یَفۡقَہُوۡنَ ﴿﴾  وَ کَذَّبَ بِہٖ قَوۡمُکَ وَ ہُوَ الۡحَقُّ ؕ قُلۡ لَّسۡتُ عَلَیۡکُمۡ  بِوَکِیۡلٍ ﴿ؕ﴾  لِکُلِّ نَبَاٍ  مُّسۡتَقَرٌّ ۫ وَّ سَوۡفَ تَعۡلَمُوۡنَ ﴿﴾
Katakanlah: “Dia-lah Yang berkuasa mengirimkan azab kepada kamu dari atas kamu atau dari bawah kaki kamu atau mencampur-baurkan kamu menjadi golongan-golongan yang saling berselisih dan membuat sebagian kamu merasakan keganasan sebagian yang lain.” Lihatlah bagaimana Kami membentangkan Tanda-tanda supaya mereka mengerti.   Dan kaum engkau telah mendustakannya,  padahal itu adalah kebenaran. Katakanlah:  ”Aku sekali-kali bukan  penanggungjawab atas kamu.”    Bagi tiap kabar gaib ada masa yang tertentu,  dan kamu segera akan mengetahui.  (Al-An’ām [6]:66-68).
    “Azab dari atas” maknanya: kelaparan, gempa bumi, air bah, taufan, penin-dasan terhadap golongan yang lemah oleh yang kuat, penderitaan mental, dan sebagainya, dan “siksaan dari bawah” berarti: penyakit-penyakit, wabah, pemberontakan orang-orang bawahan, dan sebagainya. Kemudian ada hukuman Allah Swt. berupa kekacauan, perpecahan-perpecahan dan perselisihan  masalah agama mau pun politik yang kadang-kadang berakhir dalam perang saudara. Hal demikian ini diisyaratkan dalam kata-kata “membuat sebagian kamu merasakan keganasan sebagian yang lain”.
  Dalam ayat 67  kata ganti “nya” dalam ayat   “Dan  kaum engkau telah men-dustakannya, padahal itu adalah kebenaran. “ menunjuk kepada (1) perkara yang sedang dibahas; (2) Al-Quran; (3) azab Ilahi. Jika kita ambil arti yang terakhir (azab Ilahi)  maka kata-kata “padahal itu adalah kebenaran” akan berarti bahwa azab yang dijanjikan pasti akan tiba (terjadi).
  Makna ayat  “Bagi tiap kabar gaib ada masa yang tertentu,  dan kamu segera akan mengetahui”   berarti bahwa  Allah Swt.   sesuai dengan hikmah-Nya yang tidak dapat salah itu, telah menentukan satu saat penggenapan setiap kabar gaib. Maka azab Ilahi  yang telah dijanjikan Allah Swt.  kepada orang-orang yang menolak kebenaran akan datang juga pada saatnya yang tepat. Walau pun mereka dengan takabbur  menuntut agar  rasul Allah  mempercepat kedatangan azab Ilahi yang diperingatkan kepada mereka tersebut (QS.22:48; QS.26:205; QS.27:72;  QS.29:54-55;  QS.37:177; QS.51:15).

Kesedihan dan Keprihatinan  Rasul Akhir Zaman & Memanfaatkan  Sistem ”Demokrasi”   Pemerintahan Inggris Raya di Hindustan  

         Mengisyaratkan kepada kenyataan kemunduran akhlak  dan ruhani  --  serta kemunduran   kekuasaan duniawi  yang menimpa umat Islam – itulah yang membuat    Masih Mau’ud a.s. sangat sedih, sebagaimana dikemukakan dalam  firman-Nya:
وَ قَالَ الرَّسُوۡلُ یٰرَبِّ اِنَّ قَوۡمِی اتَّخَذُوۡا ہٰذَا الۡقُرۡاٰنَ مَہۡجُوۡرًا ﴿﴾
Dan  Rasul itu berkata: “Ya Rabb-ku (Tuhan-ku), sesungguhnya kaumku telah menjadikan Al-Quran ini sesuatu yang telah ditinggalkan.  (Al-Furqān [25]:31).
    Ayat ini dengan sangat tepat sekali dapat dikenakan kepada mereka yang menamakan diri orang-orang Muslim tetapi telah menyampingkan Al-Quran dan telah melemparkannya ke belakang. Barangkali belum pernah terjadi selama 14 abad ini di mana Al-Quran demikian rupa diabaikan dan dilupakan oleh orang-orang Muslim seperti  di Akhir Zaman ini.
       Ada sebuah hadits Nabi Besar Muhammad  saw. yang mengatakan: “Satu saat akan datang kepada kaumku, bila tidak ada yang tinggal dari Islam melainkan namanya dan dari Al-Quran melainkan kata-katanya (Baihaqi, Syu’ab-ul-iman). Sungguh masa sekarang-sekarang di Akhir Zaman inilah saat yang dimaksudkan itu.,   terutama di wilayah Hindustan   setelah berakhirnya kekuasaan Dinasti Mughal.
        Sistem demokrasi yang dijalankan yang dijalankan pemerintah kerajaan Inggris di Hindustan  –  termasuk dalam hal  kebebasan beragama   --   telah dimanfaatkan oleh Mirza Ghulam Ahmad untuk membela kesempurnaan agama Islam (Al-Quran) serta kesucian akhlak dan ruhani  Nabi Besar Muhamad saw. melalui   berbagai diskusi dan surat menyurat  dengan pihak pemeluk agama lain, terutama pihak Hindu dan Kristen yang sangat agresif  menyebarkan ajaran mereka.
    Pembelaan secara  tertulis paling terkenal dan benar-benar telah membungkam pihak-pihak yang sebelumnya secara agresif  menyerang  ajaran Islam (Al-Quran) serta kesucian akhlak dan ruhani Nabi Besar Muhammad saw. yang dilakukan Mirza Ghulam Ahmad adalah penerbitan buku “Barahin-e-Ahmadiyyah” (bukti-bukti Kesempurnaan Islam) sebanyak 5 jilid.

Membangkitkan “Semangat” Umat Islam di Hindustan

      Pembelaan yang dilakukan Mirza Ghulam Ahmad a.s.  terutama dengan diterbitnya buku  Barahin-e-Ahmadiyyah” (bukti-bukti Kesempurnaan Islam) – yang dilakukan sebelum melakukan pendakwaan sebagai Imam Mahdi a.s. dan Masih Mau’ud a.s.. – tersebut telah membangkitkan semangat dan keberanian  umat Islam di Hindustan dan banyak para pemuka agama Islam yang memuji-mujijihad melalui pena” (tulisan) dan lisan  yang dilakukan oleh Mirza Ghulam Ahmad a.s..  
       Di antara ‘ulama Hindustan yang memuji-muji   “jihad” melalui “pena” (tulisan) yang dilakukan Mirza Gulam Ahmad a.s. tersebut salah satunya adalah  Maulwi Muhammad Husein Batalwi,  ia menulis pujiannya dalam majalahnya yang bernama Isya’atus-Sunnah, walau pun kemudian ia  berbalik menjadi penentang yang paling aktif  ketika Mirza Ghulam Ahmad a.s. atas perintah Allah Swt. menda’wakan sebagai Masih Mau’ud a.s.,  dengan  penentangnya tersebut menggenapi  lanjutan firman Allah Swt. sebelum ini (QS.25:31), firman-Nya:
وَ کَذٰلِکَ جَعَلۡنَا لِکُلِّ نَبِیٍّ عَدُوًّا مِّنَ الۡمُجۡرِمِیۡنَ ؕ وَ کَفٰی بِرَبِّکَ ہَادِیًا وَّ نَصِیۡرًا ﴿﴾
Dan demikianlah Kami  telah menjadikan musuh bagi tiap-tiap nabi   dari antara orang-orang yang berdosa, dan cukuplah Rabb (Tuhan) engkau sebagai pemberi petunjuk dan penolong  (Al-Furqān [25]:32).

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid

oo0oo
Pajajaran Anyar, 22    Februari  2017

Tidak ada komentar:

Posting Komentar