Bismillaahirrahmaanirrahiim
ISLAM
Pidato Mirza Ghulam Ahmad a.s.
Tgl. 2 November 1904
di Kota Sialkote – Hindustan
Bab 26
MINTA KEPUTUSAN ALLAH SWT. MELALUI MUBAHALAH (TANDING DOA) & MEMANFAATKAN SISTEM DEMOKRASI KERAJAAN INGGRIS RAYA DI HINDUSTAN DALAM MEMBELA KESEMPURNAAN
AJARAN ISLAM DAN KESUCIAN NABI BESAR MUHAMMAD SAW.
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam bagian akhir Bab 25 telah dijelaskan topik Sabda-sabda Nabi Besar
Muhammad saw. Tentang Imam Mahdi a.s.
Berikut beberapa sabda Nabi Besar Muhammad saw. berkenaan dengan
keberadaan para Mujaddid yang bertugas memurnikan kembali pemahaman ajaran
Islam (Al-Quran), terutama Imam Zaman
– yakni Imam Mahdi a.s. atau Rasul Akhir Zaman -- yang akan
mewujudkan kejayaan Islam yang kedua kali, firman-Nya:
ہُوَ
الَّذِیۡۤ اَرۡسَلَ رَسُوۡلَہٗ
بِالۡہُدٰی وَ دِیۡنِ الۡحَقِّ
لِیُظۡہِرَہٗ عَلَی الدِّیۡنِ کُلِّہٖ وَ
لَوۡ کَرِہَ الۡمُشۡرِکُوۡنَ ٪﴿﴾
Dia-lah Yang mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk
dan dengan agama yang benar supaya Dia memenangkannya atas semua agama,
walaupun orang musyrik tidak menyukai. (Ash-Shaf [61]:10).
Kebanyakan ahli
tafsir Al-Quran sepakat bahwa ayat ini kena dan akan terwujud melalui perjuangan suci Al-Masih
yang dijanjikan (Masih Mau’ud a.s.), sebab di zaman beliau semua agama muncul dan berlomba-lomba mentabligkan agama mereka,
karena mereka pun mempercayai mengenai kedatangan seorang “pahlawan
agama” -- dengan nama yang berbeda-beda di setiap umat beragama --
yang akan memenangkan agama mereka,
sebagaimana yang juga dipercayai oleh umat
Islam mengenai kedatangan Imam Mahdi
a.s. dan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.,
yang akan mengunggulkan agama Islam
di atas semua agama.
Abu Hurairah r.a. meriwayatkan bahwa
Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya Allah akan mengutus
(menghadirkan) bagi umat ini (umat Islam) orang
yang akan memperbaharui (urusan) agama mereka pada setiap akhir seratus tahun” (HR Abu Dawud no. 4291).
“Andaikan dunia tinggal sehari sungguh Allah
akan panjangkan hari tersebut sehingga diutus
padanya seorang lelaki dari ahli
baitku namanya serupa namaku dan nama
ayahnya serupa nama ayahku. Ia akan penuhi bumi dengan kejujuran dan keadilan sebagaimana sebelumnya dipenuhi dengan kezaliman
dan penganiayaan.” (HR Abu Dawud 9435).
“Aku kabarkan berita gembira mengenai Al-Mahdi yang diutus Allah ke tengah ummatku ketika banyak terjadi perselisihan antar-manusia dan gempa-gempa. Ia akan penuhi bumi dengan keadilan dan
kejujuran sebagaimana sebelumnya dipenuhi dengan kesewenang-wenangan dan
kezaliman.” (HR Ahmad
10898).
“Sungguh,
bumi ini akan dipenuhi oleh kezhaliman
dan kesemena-menaan. Dan apabila kezhaliman serta kesemena-menaan
itu telah penuh, maka Allah Swt.
akan mengutus seorang laki-laki yang berasal dari umatku, namanya seperti namaku, dan nama bapaknya seperti nama bapakku.
Maka ia akan memenuhi bumi dengan
keadilan dan kemakmuran, sebagaimana ia
(bumi) telah dipenuhi sebelum itu oleh kezhaliman dan kesemena-menaan. Di
waktu itu langit tidak akan menahan
setetes pun dari tetesan airnya, dan bumi
pun tidak akan menahan sedikit pun dari tanaman-tanamannya. Maka ia akan
hidup bersama kamu selama 7 tahun, atau 8 tahun, atau 9 tahun. (HR. Thabrani) ”
"Pada Akhir Zaman akan muncul seorang
khalifah yang berasal dari umatku,
yang akan melimpahkan harta kekayaan selimpah-limpahnya.
Dan .” (HR. Muslim dan Ahmad).
“Al-Mahdi
berasal dari umatku, berkening lebar, berhidung panjang dan mancung.
Ia akan memenuhi bumi ini dengan
keadilan dan kemakmuran,
sebagaimana ia (bumi ini) sebelum itu
dipenuhi oleh kezhaliman dan kesemena-menaan,
dan ia (umur kekhalifahan) berumur tujuh tahun. (HR. Abu
Dawud dan Al-Hakim).
“Al-Mahdi berasal dari umatku, dari keturunan anak cucuku. (HR. Abu Dawud; Ibnu Majah, dan Al-Hakim).
“Al-Mahdi berasal dari umatku, dari keturunan anak cucuku. (HR. Abu Dawud; Ibnu Majah, dan Al-Hakim).
“Al-Mahdi
berasal dari umatku, yang akan diislahkan oleh Allah dalam satu malam.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah).
Ada pun wasiat (amanat) yang
paling penting Nabi Besar Muhammad
saw. berkenan Imam Mahdi a.s. adalah harus melakukan bai’at kepada beliau a.s.:
“Ketika kalian melihatnya
(kehadiran Imam Mahdi) maka berbai’atlah dengannya walaupun harus merangkak-rangkak di atas salju
karena sesungguhnya dia adalah Khalifatullah
Al-Mahdi.” (HR Abu Dawud, 4074).
Pidato Mirza
Ghulam Ahmad a.s. Mengenai “Islam”
di Sialkote & Kekuasaan Kerajaan Inggris Raya di Hindustan
Pendiri
Jemaat Muslim Ahmadiyah – Mirza Ghulam
Ahmad a.s. (1835-1908) – dalam
kedudukan beliau sebagai Khalifah
Nabi Besar Muhammad saw. di Akhir Zaman ini
dalam pidato beliau di kota Sialkote di hadapan sekitar 6000 orang yang hadir, menjelaskan berbagai keadaan berbahaya yang di hadapi umat Islam di berbagai kawasan dunia -- terutama di Hindustan, yang pada saat itu ada di bawah kekuasaan pemerintahan Kerajaan Inggris Raya yang dipimpin
Ratu Victoria.
Salah satu kelebihan pemerintah kerajaan Inggris yang beragama Kristen
di wilayah Hindustan adalah para penguasa Inggris di Hindustan memberikan kebebasan
dalam beragama kepada para penduduk Hindustan, sehingga para pemeluk
berbagai agama di Hindustan -- termasuk umat Islam -- dapat menablighkan
agama mereka kepada pihak lain.
Namun sayang, keadaan umat Islam di Hindustan setelah runtuhnya dinasti
Mughal dan dilanjutkan berkuasanya
kaum Sikh, mereka benar-benar dalam
keadaan tidak berdaya sehingga tidak mampu bukan saja untuk memelihara
umat Islam dari menjadi pengikut ajaran
Hindu dan Kristen bahkan sekedar memelihara tempat-tempat ibadah pun mereka tidak mampu – sehingga banyak yang
dijadikan kandang binatang -- apalagi memiliki keberanian untuk mentablighkan
ajaran Islam kepada pihak-pihak
lain.
Ajakan Melakukan “Mubahalah”
(Tanding Doa)
Bukan hanya orang-orang Muslim dari kalangan
umum saja, bahkan tidak sedikit para
Muslim dari kalangan sayyid pun yang bukan sekedar menjadi pemeluk agama Kristen tetapi menjadi para pendeta Kristen. Salah
seorang Muslim yang beralih menjadi pendeta Kristen adalah ‘Abdullah Atham yang menyerang kesucian Nabi Besar Muhammad saw., sehingga terpaksa Mirza Ghulam
Ahmad a.s. menantangnya untuk
melakukan mubahalah (tanding doa –
QS.3:62) namun dengan segala dalih ia
menolak menerima tantangan tersebut,
walau pun pada akhirnya ia mengalami kematian
secara hina sesuai dengan nubuatan dari Mirza Ghulam Ahmad a.s..
Ajakan untuk melakukan mubahalah (tanding doa) yang
dilakukan oleh Masih Mau’ud a.s. tersebut
sesuai dengan Sunnah Nabi Besar
Muhammad saw., ketika pihak lawan tetap bersikeras dengan kesesatan pemahamannya
walau pun segala macam dalil
yang tidak terbantahkan telah dikemukakan
kepadanya, firman-Nya:
فَمَنۡ حَآجَّکَ فِیۡہِ مِنۡۢ بَعۡدِ
مَا جَآءَکَ مِنَ الۡعِلۡمِ فَقُلۡ تَعَالَوۡا نَدۡعُ اَبۡنَآءَنَا وَ
اَبۡنَآءَکُمۡ وَ نِسَآءَنَا وَ نِسَآءَکُمۡ وَ اَنۡفُسَنَا وَ اَنۡفُسَکُمۡ ۟
ثُمَّ نَبۡتَہِلۡ فَنَجۡعَلۡ لَّعۡنَتَ اللّٰہِ عَلَی الۡکٰذِبِیۡنَ ﴿﴾
Tetapi barangsiapa membantah engkau mengenainya
setelah datang kepada engkau ilmu فَقُلۡ تَعَالَوۡا نَدۡعُ اَبۡنَآءَنَا وَ
اَبۡنَآءَکُمۡ وَ نِسَآءَنَا وَ نِسَآءَکُمۡ وَ اَنۡفُسَنَا وَ اَنۡفُسَکُمۡ -- maka katakanlah: “Marilah kita panggil anak-anak laki-laki
kami dan anak-anak laki-laki kamu,
perempuan-perempuan kami dan pe-rempuan-perempuan kamu, orang-orang kami dan orang-orang kamu, ثُمَّ نَبۡتَہِلۡ فَنَجۡعَلۡ لَّعۡنَتَ اللّٰہِ
عَلَی الۡکٰذِبِیۡنَ -- kemudian kita berdoa supaya laknat Allah menimpa orang-orang yang
berdusta.” (Ali ‘Imrān [3]:62).
Pembahasan ajaran
Kristen yang digarap oleh Surah Ali
‘Imran mulai ayat 36-61 telah berakhir dalam ayat ini. Rujukan itu, seperti telah disebut di atas, tertuju
kepada suatu perutusan orang-orang
Kristen dari Najran, terdiri atas
40 orang dipimpin oleh kepala kabilah mereka ‘Abd-al-Masih, yang terkenal dengan nama Al-’Āqib. Mereka menjumpai Nabi Besar Muhammad saw. di masjid beliau saw. di Medinah, dan pertukaran pikiran (dialog) tentang akidah yang dinamakan mereka ketuhanan
Isa berlangsung beberapa lama.
Ketika masalahnya telah dibahas
secukupnya dan para anggota delegasi Kristen tersebut ternyata masih tetap berpegang pada ajaran mereka, maka Nabi Besar Muhammad saw. mematuhi
perintah Ilahi yang tercantum dalam
ayat ini, sebagai langkah penghabisan
mengajak mereka untuk ikut serta dengan beliau dalam semacam adu kekuatan doa dan yang secara teknis
disebut mubahalah, yakni menyeru agar kutukan Allah Swt. menimpa
penganut kepercayaan palsu.
Toleransi Beragama yang Diamalkan Nabi Besar Muhammad Saw.
Tetapi karena orang-orang Kristen
itu tidak
merasa yakin mengenai dasar kepercayaan
mereka maka mereka menolak menerima
tantangan itu, dengan demikian penolakan
mereka itu secara tidak langsung mengakhiri
kepalsuan akidah mereka (Zurqani).
Secara sambil lalu baiklah
disebutkan bahwa sewaktu berlangsung tukar
pikiran dengan delegasi Kristen
dari Najran itu, Nabi Besar Muhammad saw. mengizinkan
mereka melakukan sembahyang di masjid beliau dengan cara mereka sendiri, dan mereka
melakukan dengan menghadap ke timur, suatu sikap
toleransi keagamaan yang tiada taranya dalam sejarah agama (Zurqani).
Peristiwa mubahalah
tersebut membuktikan kebenaran pernyataan Allah Swt. bahwa tidak
boleh ada paksaan dalam bentuk apa pun dalam masalah agama, firman-Nya:
لَاۤ اِکۡرَاہَ فِی الدِّیۡنِ ۟ۙ قَدۡ
تَّبَیَّنَ الرُّشۡدُ مِنَ الۡغَیِّ ۚ فَمَنۡ یَّکۡفُرۡ بِالطَّاغُوۡتِ وَ
یُؤۡمِنۡۢ بِاللّٰہِ فَقَدِ اسۡتَمۡسَکَ بِالۡعُرۡوَۃِ الۡوُثۡقٰی ٭ لَا
انۡفِصَامَ لَہَا ؕ وَ اللّٰہُ سَمِیۡعٌ
عَلِیۡمٌ ﴿﴾
Tidak ada paksaan dalam agama. Sungguh
jalan benar itu nyata bedanya
dari kesesatan, karena itu barangsiapa kafir kepada thāghūt dan
beriman kepada Allah, maka
sungguh ia telah berpegang
kepada suatu pegangan yang sangat kuat lagi tidak akan putus, dan Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui. (Al-Baqarah [2]:257).
Ayat ini melenyapkan salah paham itu dan bukan saja melarang kaum Muslimin dengan kata-kata
yang sangat tegas mempergunakan kekerasan
dalam rangka menarik orang-orang bukan-Muslim
masuk Islam, tetapi memberikan pula alasan-alasan mengapa kekerasan tidak boleh dipakai untuk tujuan tersebut. Alasan itu ialah karena
kebenaran (haq) itu nyata berbeda dari kesesatan maka tidak ada alasan untuk membenarkan penggunaan kekerasan,
sebab Islam adalah kebenaran
yang nyata.
Thāghūt adalah:
orang-orang yang bertindak melampaui batas-batas kewajaran; iblis; orang-orang
yang menyesatkan orang lain dari jalan lurus dan benar; segala bentuk berhala.
Kata itu dipakai dalam arti mufrad dan jamak (QS.2:258 dan QS.4:61).
Masih Mau’ud
a.s. Banyak Melakukan
Mubahalah & Makna Kiasan Gambaran Mengenai Imam
Mahdi a.s.
Demikian banyak peristiwa mubahalah yang dilakukan oleh Pendiri Jemaat Muslim Ahmadiyah terhadap para penghujat ajaran Islam (Al-Quran) dan kesucian Nabi Besar Muhammad
saw. dengan pihak-pihak yang mendustakan pendakwaan
beliau.
Bahkan tantangan mubahalah itu pun beliau
diajukan pula terhadap para pemuka
agama Islam yang secara aniaya
terus menerus menebar fitnah mengenai
pendakwaan beliau sebagai Masih Mau’ud a.s. atau misal
Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (QS.43:58), sebagaimana yang dilakukan para
pemuka Yahudi terhadap Nabi Isa Ibnu Maryam a.s..
Orang-orang yang – baik secara langsung
mau pun secara tidak langsung --
menerima tantangan “mubahalah” yang diajukan Masih Mau’ud a.s. benar-benar mengalami kematian tragis secara ajaib dalam batas
waktu yang telah ditentukan sesuai nubuatan
yang beliau
siarkan secara umum.
Alexander
Doui -- seorang pendeta Kristen di salah
satu kota Amerika Serikat yang sangat terkenal – yang mendirikan kota “Zion” guna menyambut “turunnya Yesus
Kristus dari langit” -- adalah
salah seorang yang meladeni tantangan
“mubahalah” Masih Mau’ud a.s., dan kehidupannya berakhir dengan penuh kehinaan, karena selain terbukti sebagai
seorang pemabuk juga telah
menggelapkan dana (pengorbanan) yang dihimpun dari para pengikutnya.
Mengisyaratkan kepada kenyataan itulah
sabda-sabda Nabi Besar Muhammad saw. berkenaan dengan Imam Mahdi a.s. atau misal
Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (QS.43:58) bahwa “pandangan matanya” dan “tiupan nafasnya” akan banyak menimbulkan banyak korban.
Makna ungkapan
kiasan dalam hadits tersebut bahwa sudah ditakdirkan sejak semula untuk Masih
Mau’ud a.s. mula-mula ia akan
menampakkan diri dari sifat “kebengisan” sehingga
kemana saja ia melayangkan pandangannya
orang-orang akan terkapar mati karena
“tiupan nafasnya”. Maknanya adalah Masih
Mau’ud a.s. bukan melakukan jihad berupa perang
dengan menggunakan pedang (senjata)
melainkan beliau berjihad melalui “kekuatan ruhaninya” yang akan nampak dayanya bagaikan sebilah
pedang, dan tanda-tanda malapetaka
akan turun dari langit, seperti terjadinya wabah tha’un
(pes); gempa-gempa bumi dan
bermacam-macam malapetaka yang telah
membinasakan ratusan ribu -- bahkan jutaan
-- manusia.
Itulah sebabnya Allah Swt. dalam
Al-Quran telah menyebut para rasul Allah -- -- terutama Nabi Besar Muhammad saw. -- sebagai nadzir (pemberi peringatan
QS.5:20; QS.34:35; QS.71:3) yang memperingatkan manusia tentang akan terjadinya berbagai azab Ilahi jika mereka mendustakan pendakwaannya (QS.17:16; QS.20:135; QS.28:60) dan juga
sebagai basyir (pembawa kabar gembira)
mengenai berbagai macam karunia Ilahi jika mereka beriman kepada rasul Allah -- firman-Nya:
یٰۤاَیُّہَا النَّبِیُّ اِنَّاۤ
اَرۡسَلۡنٰکَ شَاہِدًا وَّ مُبَشِّرًا وَّ
نَذِیۡرًا ﴿ۙ﴾ وَّ دَاعِیًا اِلَی اللّٰہِ
بِاِذۡنِہٖ وَ سِرَاجًا مُّنِیۡرًا ﴿﴾ وَ
بَشِّرِ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ بِاَنَّ لَہُمۡ مِّنَ اللّٰہِ فَضۡلًا کَبِیۡرًا ﴿﴾
Wahai Nabi, sesungguhnya Kami mengutus engkau sebagai saksi dan pembawa kabar gembira dan pemberi
peringatan, dan sebagai penyeru kepada Allah dengan perintah-Nya,
dan juga sebagai matahari yang
memancarkan cahaya. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang
beriman bahwa sesungguhnya bagi
mereka ada karunia yang besar dari Allah.
(Al-Ahzāb
[33]:46-48).
Demikian juga hal dengan Masih Mau’ud a.s., setelah bertindak
sebagai nadzir (pemberi peringatan)
beliau akan memandang dengan penuh “kasih-sayang” kepada umat manusia dan akan menampakkan “kasih-sayang” Allah Swt. dari langit serta keberkatan akan turun pada umur
umat manusia serta dari dalam bumi
akan muncul bahan-bahan rezeki yang berlimpah-limpah.
Makna “Keberkatan Ilahi” dan “Azab
Ilahi” yang Datang dari Atas dan
dari Bawah
Terjadinya kenyataan itu sesuai dengan
pernyataan Allah Swt. dalam Al-Quran, firman-Nya:
وَ لَوۡ اَنَّ اَہۡلَ الۡکِتٰبِ اٰمَنُوۡا وَ اتَّقَوۡا
لَکَفَّرۡنَا عَنۡہُمۡ سَیِّاٰتِہِمۡ وَ لَاَدۡخَلۡنٰہُمۡ جَنّٰتِ النَّعِیۡمِ ﴿﴾ وَ
لَوۡ اَنَّہُمۡ اَقَامُوا التَّوۡرٰىۃَ وَ الۡاِنۡجِیۡلَ وَ مَاۤ اُنۡزِلَ اِلَیۡہِمۡ مِّنۡ رَّبِّہِمۡ لَاَکَلُوۡا مِنۡ فَوۡقِہِمۡ
وَ مِنۡ تَحۡتِ اَرۡجُلِہِمۡ ؕ مِنۡہُمۡ اُمَّۃٌ
مُّقۡتَصِدَۃٌ ؕ وَ کَثِیۡرٌ
مِّنۡہُمۡ سَآءَ مَا یَعۡمَلُوۡنَ ﴿٪﴾
Dan seandainya para Ahlul Kitab benar-benar beriman dan bertakwa, niscaya Kami hapuskan dari mereka keburukan mereka dan niscaya
Kami masukkan mereka ke dalam kebun-kebun kenikmatan.
Dan seandainya mereka benar-benar menegakkan ajaran Taurat, Injil, dan apa-apa
yang diturunkan ke-pada mereka dari Rabb (Tuhan) mereka, لَاَکَلُوۡا مِنۡ فَوۡقِہِمۡ وَ مِنۡ تَحۡتِ
اَرۡجُلِہِمۡ ؕ مِنۡہُمۡ اُمَّۃٌ
مُّقۡتَصِدَۃٌ -- nis-caya mereka akan memakan barang-barang dari atas mereka dan dari bawah kaki mereka. مِنۡہُمۡ اُمَّۃٌ
مُّقۡتَصِدَۃٌ ؕ وَ کَثِیۡرٌ
مِّنۡہُمۡ سَآءَ مَا یَعۡمَلُوۡنَ -- Di antara mereka ada umat yang mengambil jalan tengah, tetapi kebanyakan dari mereka sangat buruk apa yang mereka kerja-an. (Al-Māidah [5]:66-67).
Ungkapan kebun-kebun kenikmatan dalam
ayat 66 menunjukkan keadaan serba sempurnanya kegembiraan ruhani, begitu juga tempat-tinggal
penuh kenikmatan. Sementara menerangkan
kata-kata “kebun” dan “surga,” Al-Quran telah mempergunakan empat ungkapan yang berbeda: (1)
“kebun-kebun kenikmatan” seperti dalam ayat ini; (2) “kebun-kebun yang
kekal-abadi” (QS.32:20); (3) “kebun-kebun abadi” (QS.9:72); dan (4) “Surga
firdaus” (QS.8:108). Ungkapan-ungkapan tersebut menampilkan segi-segi yang
berlainan, begitu juga berbagai derajat
surga.
Makna ayat: لَاَکَلُوۡا مِنۡ فَوۡقِہِمۡ وَ مِنۡ تَحۡتِ اَرۡجُلِہِمۡ ؕ مِنۡہُمۡ
اُمَّۃٌ مُّقۡتَصِدَۃٌ -- “niscaya mereka akan
memakan barang-barang dari atas mereka dan dari bawah kaki mereka” antara lain:
(1)
Mereka niscaya akan menerima rahmat
dari langit seperti wahyu Ilahi dan hubungan dengan Allah Swt. dan kesejahteraan duniawi.
(2) Mereka bukan saja akan mendapat siraman hujan pada waktunya yang tepat
dan lebat dari langit, tetapi tanah
pun akan memberikan hasilnya untuk
mereka dengan berlimpah-limpah.
(3) Allah Swt. niscaya akan menyediakan untuk mereka sarana-sarana
bagi kemajuan ruhani maupun jasmani.
Jadi janganlah diartikan bahwa Masih Mau’ud a.s. dalam hadits tersebut
sebagai “tukang tenung” (ahli sihir)
yang pandangannya mendatangkan musibah kepada setiap orang, melainkan
apa yang dimaksudkan hadits tersebut bahwa “nafs
sucinya” atau “ruh sucinya” – yakni perkataannya – akan tersiar di permukaan bumi, dan karena orang-orang akan mengingkarinya serta akan mendustakannya
dan akan memaki-maki Masih Mau’ud a.s. maka keingkaran mereka itu justru akan menyebabkan turunnya berbagai
bentuk azab Ilahi, baik yang datang dari langit mau pun dari bumi, sebagaimana firman-Nya:
قُلۡ ہُوَ الۡقَادِرُ عَلٰۤی اَنۡ یَّبۡعَثَ عَلَیۡکُمۡ عَذَابًا مِّنۡ
فَوۡقِکُمۡ اَوۡ مِنۡ تَحۡتِ اَرۡجُلِکُمۡ اَوۡ یَلۡبِسَکُمۡ شِیَعًا وَّ یُذِیۡقَ
بَعۡضَکُمۡ بَاۡسَ بَعۡضٍ ؕ اُنۡظُرۡ کَیۡفَ نُصَرِّفُ الۡاٰیٰتِ لَعَلَّہُمۡ
یَفۡقَہُوۡنَ ﴿﴾ وَ
کَذَّبَ بِہٖ قَوۡمُکَ وَ ہُوَ الۡحَقُّ ؕ قُلۡ لَّسۡتُ عَلَیۡکُمۡ بِوَکِیۡلٍ ﴿ؕ﴾ لِکُلِّ
نَبَاٍ مُّسۡتَقَرٌّ ۫ وَّ سَوۡفَ
تَعۡلَمُوۡنَ ﴿﴾
Katakanlah: “Dia-lah Yang berkuasa mengirimkan azab
kepada kamu dari atas kamu atau
dari bawah kaki kamu atau mencampur-baurkan kamu menjadi
golongan-golongan yang saling berselisih dan membuat sebagian kamu merasakan keganasan sebagian yang lain.”
Lihatlah bagaimana Kami membentangkan
Tanda-tanda supaya mereka mengerti. Dan kaum
engkau telah mendustakannya, padahal itu
adalah kebenaran. Katakanlah: ”Aku sekali-kali bukan
penanggungjawab atas kamu.”
Bagi tiap kabar gaib ada masa
yang tertentu, dan kamu segera akan mengetahui. (Al-An’ām [6]:66-68).
“Azab
dari atas” maknanya: kelaparan, gempa bumi, air bah, taufan, penin-dasan
terhadap golongan yang lemah oleh yang kuat, penderitaan mental, dan
sebagainya, dan “siksaan dari bawah”
berarti: penyakit-penyakit, wabah, pemberontakan orang-orang bawahan, dan
sebagainya. Kemudian ada hukuman Allah
Swt. berupa kekacauan, perpecahan-perpecahan dan perselisihan masalah agama
mau pun politik yang kadang-kadang
berakhir dalam perang saudara. Hal
demikian ini diisyaratkan dalam kata-kata “membuat sebagian kamu merasakan
keganasan sebagian yang lain”.
Dalam
ayat 67 kata ganti “nya” dalam
ayat “Dan kaum engkau telah
men-dustakannya, padahal
itu adalah kebenaran. “ menunjuk kepada (1) perkara yang sedang dibahas;
(2) Al-Quran; (3) azab Ilahi. Jika
kita ambil arti yang terakhir (azab Ilahi) maka kata-kata “padahal itu adalah
kebenaran” akan berarti bahwa azab
yang dijanjikan pasti akan tiba
(terjadi).
Makna ayat “Bagi
tiap kabar gaib ada masa yang tertentu, dan kamu
segera akan mengetahui” berarti bahwa
Allah Swt. sesuai
dengan hikmah-Nya yang tidak dapat
salah itu, telah menentukan satu saat
penggenapan setiap kabar gaib.
Maka azab Ilahi yang telah dijanjikan
Allah Swt. kepada orang-orang yang menolak kebenaran akan datang juga pada saatnya yang tepat. Walau pun mereka
dengan takabbur menuntut agar
rasul Allah mempercepat
kedatangan azab Ilahi yang diperingatkan kepada mereka tersebut
(QS.22:48; QS.26:205; QS.27:72;
QS.29:54-55; QS.37:177;
QS.51:15).
Kesedihan dan Keprihatinan Rasul Akhir Zaman & Memanfaatkan Sistem ”Demokrasi”
Pemerintahan Inggris Raya di Hindustan
Mengisyaratkan kepada kenyataan
kemunduran akhlak dan ruhani --
serta kemunduran kekuasaan duniawi yang menimpa umat Islam – itulah yang membuat Masih Mau’ud a.s. sangat sedih, sebagaimana dikemukakan dalam firman-Nya:
وَ قَالَ
الرَّسُوۡلُ یٰرَبِّ اِنَّ قَوۡمِی اتَّخَذُوۡا ہٰذَا الۡقُرۡاٰنَ مَہۡجُوۡرًا ﴿﴾
Dan Rasul
itu berkata: “Ya Rabb-ku (Tuhan-ku),
sesungguhnya kaumku telah menjadikan
Al-Quran ini sesuatu yang
telah ditinggalkan. (Al-Furqān
[25]:31).
Ayat ini dengan sangat tepat
sekali dapat dikenakan kepada mereka yang menamakan diri orang-orang Muslim tetapi telah menyampingkan Al-Quran dan telah melemparkannya ke belakang. Barangkali belum pernah terjadi selama
14 abad ini di mana Al-Quran demikian rupa diabaikan
dan dilupakan oleh orang-orang Muslim seperti di Akhir Zaman ini.
Ada sebuah hadits Nabi Besar
Muhammad saw. yang
mengatakan: “Satu saat akan datang kepada
kaumku, bila tidak ada yang tinggal dari Islam melainkan namanya dan dari
Al-Quran melainkan kata-katanya” (Baihaqi,
Syu’ab-ul-iman). Sungguh masa sekarang-sekarang di Akhir Zaman inilah saat yang dimaksudkan
itu., terutama di wilayah Hindustan setelah berakhirnya kekuasaan Dinasti Mughal.
Sistem demokrasi yang dijalankan yang dijalankan pemerintah kerajaan Inggris di Hindustan
– termasuk dalam hal kebebasan
beragama -- telah dimanfaatkan
oleh Mirza Ghulam Ahmad untuk membela kesempurnaan agama Islam (Al-Quran) serta kesucian akhlak dan ruhani Nabi Besar Muhamad
saw. melalui berbagai diskusi dan surat menyurat dengan pihak pemeluk agama lain, terutama pihak Hindu dan Kristen yang sangat agresif
menyebarkan ajaran mereka.
Pembelaan secara tertulis
paling terkenal dan benar-benar telah membungkam pihak-pihak yang sebelumnya
secara agresif menyerang ajaran Islam (Al-Quran) serta kesucian akhlak dan ruhani Nabi Besar Muhammad saw. yang dilakukan Mirza Ghulam Ahmad
adalah penerbitan buku “Barahin-e-Ahmadiyyah” (bukti-bukti
Kesempurnaan Islam) sebanyak 5 jilid.
Membangkitkan “Semangat”
Umat Islam di Hindustan
Pembelaan yang dilakukan Mirza Ghulam Ahmad a.s. terutama dengan diterbitnya buku Barahin-e-Ahmadiyyah”
(bukti-bukti Kesempurnaan Islam) – yang dilakukan sebelum melakukan pendakwaan sebagai Imam Mahdi a.s. dan Masih
Mau’ud a.s.. – tersebut telah membangkitkan semangat dan keberanian umat Islam di Hindustan dan banyak para pemuka
agama Islam yang memuji-muji “jihad melalui pena” (tulisan) dan lisan yang dilakukan oleh Mirza Ghulam Ahmad a.s..
Di antara ‘ulama Hindustan yang memuji-muji
“jihad” melalui “pena” (tulisan) yang dilakukan Mirza
Gulam Ahmad a.s. tersebut salah satunya adalah
Maulwi Muhammad Husein Batalwi, ia menulis pujiannya dalam majalahnya yang bernama Isya’atus-Sunnah, walau pun kemudian ia berbalik
menjadi penentang yang paling aktif
ketika Mirza Ghulam Ahmad a.s.
atas perintah Allah Swt. menda’wakan
sebagai Masih Mau’ud a.s., dengan penentangnya tersebut menggenapi lanjutan firman Allah Swt. sebelum ini
(QS.25:31), firman-Nya:
وَ کَذٰلِکَ
جَعَلۡنَا لِکُلِّ نَبِیٍّ عَدُوًّا مِّنَ الۡمُجۡرِمِیۡنَ ؕ وَ کَفٰی بِرَبِّکَ
ہَادِیًا وَّ نَصِیۡرًا ﴿﴾
Dan demikianlah Kami telah menjadikan musuh bagi tiap-tiap nabi dari antara orang-orang yang berdosa, dan cukuplah Rabb (Tuhan) engkau sebagai pemberi petunjuk dan penolong
(Al-Furqān [25]:32).
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran Anyar, 22 Februari
2017
Tidak ada komentar:
Posting Komentar