Bismillaahirrahmaanirrahiim
ISLAM
Pidato Mirza Ghulam Ahmad a.s.
Tgl. 2 November 1904
di Kota Sialkote – Hindustan
Bab 13
HUBUNGAN “RĀQIM”
(PRASASTI-PRASASTI) DENGAN PERMINTAAN HAWARI
KEPADA NABI ISA IBNU MARYAM A.S. AGAR ALLAH SWT. MENURUNKAN MĀIDAH (HIDANGAN) DARI LANGIT & ANCAMAN AZAB
ILAHI MENGERIKAN DI AKHIR ZAMAN
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam bagian akhir Bab 12 telah
dijelaskan topik Kecaman dan Penolakan Keras Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.
sehubungan dengan pernyataan Allah Swt. dalam
Al-Quran (QS.5:117-118) mengenai penolakan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. terhadap faham “Trinitas”
dan “Penebusan dosa” ajaran Paulus,
firman-Nya:
وَ اِذۡ قَالَ اللّٰہُ
یٰعِیۡسَی ابۡنَ مَرۡیَمَ ءَاَنۡتَ قُلۡتَ
لِلنَّاسِ اتَّخِذُوۡنِیۡ وَ اُمِّیَ اِلٰہَیۡنِ مِنۡ دُوۡنِ
اللّٰہِ ؕ قَالَ سُبۡحٰنَکَ مَا یَکُوۡنُ لِیۡۤ
اَنۡ اَقُوۡلَ مَا لَیۡسَ لِیۡ ٭ بِحَقٍّ ؕ اِنۡ کُنۡتُ قُلۡتُہٗ فَقَدۡ
عَلِمۡتَہٗ ؕ تَعۡلَمُ مَا فِیۡ
نَفۡسِیۡ وَ لَاۤ اَعۡلَمُ مَا فِیۡ نَفۡسِکَ ؕ اِنَّکَ
اَنۡتَ عَلَّامُ الۡغُیُوۡبِ ﴿﴾ مَا قُلۡتُ
لَہُمۡ اِلَّا مَاۤ اَمَرۡتَنِیۡ بِہٖۤ اَنِ اعۡبُدُوا اللّٰہَ رَبِّیۡ وَ رَبَّکُمۡ ۚ وَ کُنۡتُ
عَلَیۡہِمۡ شَہِیۡدًا مَّا
دُمۡتُ فِیۡہِمۡ ۚ فَلَمَّا تَوَفَّیۡتَنِیۡ کُنۡتَ اَنۡتَ الرَّقِیۡبَ
عَلَیۡہِمۡ ؕ وَ اَنۡتَ عَلٰی
کُلِّ شَیۡءٍ شَہِیۡدٌ ﴿﴾
Dan ingatlah
ketika Allah berfirman: “Hai ‘Isa ibnu Maryam, apakah engkau telah
berkata kepada manusia: Jadikanlah aku dan ibuku sebagai dua tuhan
selain Allah?" Ia berkata: “Maha Suci Engkau. Tidak patut bagiku
mengatakan apa yang sekali-kali
bukan hakku. Jika aku telah mengatakannya maka sungguh Engkau mengetahuinya. Engkau mengetahui apa yang ada dalam diriku, sedangkan aku tidak mengetahui apa yang ada dalam
diri Engkau, sesungguh-nya Engkau benar-benar Maha Mengetahui segala yang gaib. Aku sekali-kali tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang telah Engkau perintahkan kepadaku, yaitu: ”Beribadahlah kepada Allah, Rabb-ku
(Tuhan-ku) dan Rabb (Tuhan) kamu.” Dan aku menjadi saksi atas mereka selama aku berada di antara mereka,
tetapi tatkala Engkau
telah mewafatkanku maka Engkau-lah Yang benar-benar menjadi
Pengawas atas mereka, dan Engkau adalah
Saksi atas segala sesuatu. (Al-Māidah [5]:117-118).
Peringatan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. Mengenai Munculnya “Nabi-nabi Palsu”
Sejalan dengan penjelasan Allah Swt. dalam
Al-Quran tersebut berikut peringatan Nabi
Isa Ibnu Maryam a.s. (Yesus) dalam Matius
7:15-23:
Hal pengajaran yang sesat
7:15 "Waspadalah terhadap nabi-nabi palsu yang datang
kepadamu dengan menyamar seperti domba,
tetapi sesungguhnya mereka adalah
serigala yang buas. 7:16 Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka. Dapatkah orang memetik buah anggur dari semak duri
atau buah ara dari rumput duri? 7:17 Demikianlah setiap pohon yang baik menghasilkan buah
yang baik, sedang pohon yang tidak
baik menghasilkan buah yang tidak baik. 7:18 Tidak mungkin
pohon yang baik itu menghasilkan buah
yang tidak baik, ataupun pohon yang
tidak baik itu menghasilkan buah yang baik. 7:19 Dan setiap pohon yang tidak menghasilkan buah
yang baik, pasti ditebang dan dibuang ke dalam api. 7:20 Jadi dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka. 7:21 Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan,
Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga. 7:22 Pada hari terakhir banyak orang akan berseru
kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami
bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak
mujizat demi nama-Mu juga? 7:23 Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada
mereka dan berkata:
Aku tidak pernah mengenal kamu ! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian
pembuat kejahatan!" (Matius
7:15-23).
Generasi Penerus “Ashhabul-Kahf“ (Penghuni Gua) yang Meninggalkan “Gua”
Jadi itulah makna ucapan generasi
penerus kaum Yahudi – yakni kaum Kristen --
dalam ayat: وَ یَقُوۡلُوۡنَ
سَیُغۡفَرُ لَنَا -- “Pasti
kami akan diampuni“ dalam surah Al-A’rāf ayat 170 yang dikemukkan dalam Bab sebelumnya,
firman-Nya:
فَخَلَفَ مِنۡۢ بَعۡدِہِمۡ خَلۡفٌ
وَّرِثُوا الۡکِتٰبَ یَاۡخُذُوۡنَ عَرَضَ ہٰذَا الۡاَدۡنٰی وَ یَقُوۡلُوۡنَ
سَیُغۡفَرُ لَنَا ۚ وَ اِنۡ یَّاۡتِہِمۡ عَرَضٌ مِّثۡلُہٗ یَاۡخُذُوۡہُ ؕ اَلَمۡ یُؤۡخَذۡ
عَلَیۡہِمۡ مِّیۡثَاقُ الۡکِتٰبِ اَنۡ لَّا یَقُوۡلُوۡا عَلَی اللّٰہِ اِلَّا الۡحَقَّ وَ دَرَسُوۡا مَا فِیۡہِ ؕ وَ الدَّارُ
الۡاٰخِرَۃُ خَیۡرٌ
لِّلَّذِیۡنَ یَتَّقُوۡنَ ؕ اَفَلَا تَعۡقِلُوۡنَ ﴿﴾ وَ
الَّذِیۡنَ یُمَسِّکُوۡنَ بِالۡکِتٰبِ وَ اَقَامُوا الصَّلٰوۃَ ؕ
اِنَّا لَا نُضِیۡعُ اَجۡرَ الۡمُصۡلِحِیۡنَ ﴿﴾
Maka datang menggantikan sesudah mereka,
suatu generasi pengganti
yang mewarisi Kitab Taurat itu,
mereka mengambil harta dunia yang
rendah ini وَ یَقُوۡلُوۡنَ
سَیُغۡفَرُ لَنَا --
dan mereka mengatakan: “Pasti kami akan
diampuni.” Dan jika datang kepada
mereka harta semacam itu lagi mereka akan
mengambilnya. اَلَمۡ یُؤۡخَذۡ عَلَیۡہِمۡ مِّیۡثَاقُ الۡکِتٰبِ اَنۡ لَّا
یَقُوۡلُوۡا عَلَی اللّٰہِ اِلَّا
الۡحَقَّ وَ دَرَسُوۡا مَا فِیۡہِ -- Bukankah telah diambil perjanjian dari mereka dalam
Kitab bahwa mereka tidak akan
mengatakan sesuatu terhadap Allah kecuali yang haq, dan mereka
telah mempelajari apa
yang tercantum di dalamnya? ؕ وَ الدَّارُ
الۡاٰخِرَۃُ خَیۡرٌ لِّلَّذِیۡنَ یَتَّقُوۡنَ ؕ اَفَلَا تَعۡقِلُوۡنَ -- Padahal kampung akhirat itu
lebih baik bagi orang-orang
yang bertakwa, apakah kamu tidak mau
mengerti? وَ الَّذِیۡنَ یُمَسِّکُوۡنَ بِالۡکِتٰبِ
وَ اَقَامُوا الصَّلٰوۃَ -- Dan orang-orang
yang berpegang teguh pada
Kitab itu dan mendirikan
shalat, اِنَّا
لَا نُضِیۡعُ اَجۡرَ الۡمُصۡلِحِیۡنَ -- sesungguhnya Kami tidak akan menyia-nyiakan ganjaran orang-orang yang melakukan
perbaikan (Al-A’rāf [7]:170-171).
Sedangkan makna kata darasa dalam ayat: اَلَمۡ یُؤۡخَذۡ عَلَیۡہِمۡ مِّیۡثَاقُ الۡکِتٰبِ اَنۡ لَّا
یَقُوۡلُوۡا عَلَی اللّٰہِ اِلَّا
الۡحَقَّ وَ دَرَسُوۡا مَا فِیۡہِ -- “Bukankah telah diambil perjanjian dari mereka dalam
Kitab bahwa mereka tidak akan
mengatakan sesuatu terhadap Allah kecuali yang haq, وَ دَرَسُوۡا مَا فِیۡہِ -- dan
mereka telah mempelajari apa yang tercantum di dalamnya?“ Darasa
berarti: (1) ia membaca atau menelaah
buku; (2) ia meniadakan, menghapuskan atau melenyapkan sesuatu (Lexicon Lane).
Pengabulan
Doa Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.
Mengenai “Al-Māidah” (Hidangan)
Jika timbul pertanyaan: Mengapa generasi penerus Ashhabul-Kahfi (penghuni gua) yang disebut “rāqim” (prasasti-prasati) --
yakni bangsa-bangsa Kristen dari
barat yang menganut “Trinitas” dan “Penebusan dosa” ajaran Paulus – tersebut meraih kesuksesan duniawi yang sangat luar
biasa?
Jawabannya adalah: Keberhasilan duniawi bangsa-bangsa Kristen dari Barat
tersebut – disamping hasil kerja-keras
mereka dalam bidang duniawi meniru Sifat Rabubiyat Allah Swt. dan memanfaatkan sifat Ar-Rahmān (Maha Pemurah) Allah Swt. (QS.1:2-3) yang
berlaku umum -- pada hakikatnya merupakan pengabulan doa yang dipanjatkan oleh Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. kepada Allah Swt. atas permintaan para Hawari (murid-murid) beliau mengenai “maidah” (hidangan), firman-Nya:
وَ اِذۡ اَوۡحَیۡتُ اِلَی الۡحَوَارِیّٖنَ اَنۡ
اٰمِنُوۡا بِیۡ وَ بِرَسُوۡلِیۡ ۚ
قَالُوۡۤا اٰمَنَّا وَ اشۡہَدۡ بِاَنَّنَا مُسۡلِمُوۡنَ ﴿﴾ اِذۡ قَالَ الۡحَوَارِیُّوۡنَ یٰعِیۡسَی ابۡنَ مَرۡیَمَ ہَلۡ یَسۡتَطِیۡعُ رَبُّکَ اَنۡ
یُّنَزِّلَ عَلَیۡنَا مَآئِدَۃً مِّنَ السَّمَآءِ ؕ قَالَ اتَّقُوا اللّٰہَ اِنۡ کُنۡتُمۡ مُّؤۡمِنِیۡنَ ﴿﴾ قَالُوۡا
نُرِیۡدُ اَنۡ نَّاۡکُلَ مِنۡہَا وَ تَطۡمَئِنَّ
قُلُوۡبُنَا وَ نَعۡلَمَ اَنۡ قَدۡ صَدَقۡتَنَا وَ نَکُوۡنَ
عَلَیۡہَا مِنَ الشّٰہِدِیۡنَ ﴿ ﴾ قَالَ عِیۡسَی ابۡنُ مَرۡیَمَ اللّٰہُمَّ رَبَّنَاۤ اَنۡزِلۡ
عَلَیۡنَا مَآئِدَۃً مِّنَ السَّمَآءِ تَکُوۡنُ لَنَا عِیۡدًا لِّاَوَّلِنَا وَ اٰخِرِنَا وَ
اٰیَۃً مِّنۡکَ ۚ وَ ارۡزُقۡنَا وَ اَنۡتَ خَیۡرُ
الرّٰزِقِیۡنَ ﴿ ﴾ قَالَ اللّٰہُ اِنِّیۡ مُنَزِّلُہَا عَلَیۡکُمۡ ۚ فَمَنۡ یَّکۡفُرۡ
بَعۡدُ مِنۡکُمۡ فَاِنِّیۡۤ اُعَذِّبُہٗ
عَذَابًا لَّاۤ اُعَذِّبُہٗۤ اَحَدًا مِّنَ
الۡعٰلَمِیۡنَ﴿﴾٪
Dan ingatlah ketika Aku
mewahyukan kepada para hawari
bahwa: “Berimanlah kepada-Ku dan kepada rasul-Ku.” Mereka berkata: “Kami telah beriman, dan bersaksilah bahwa sesungguhnya kami adalah مُسۡلِمُوۡنَ -- orang-orang yang berserah diri.”
Ingatlah ketika para hawari
berkata: “Hai ‘Isa ibnu Maryam, mampukah
Rabb (Tuhan) engkau menurunkan
kepada kami hidangan dari
langit? Ia berkata: “Bertakwalah kepada Allah jika kamu orang-orang yang beriman.” Mereka berkata: “Kami ingin memakan dari hidangan
itu, supaya hati kami tenteram, dan supaya kami mengetahui bahwa engkau sungguh telah
berkata benar kepada kami dan supaya kami termasuk di antara orang-orang yang menjadi saksi.” ‘Isa
ibnu Maryam berkata: “Ya Allah, Rabb (Tuhan) kami, turunkanlah kepada kami hidangan dari langit supaya menjadi suatu perayaan yang berulang
bagi kami, bagi orang-orang
yang awal dari kami, juga bagi yang
datang di belakang kami,
dan sebagai Tanda-tanda kebenaran
dari Engkau, dan beri rezekilah kami, dan Engkau sebaik-baik Pemberi rezeki. Allah
berfirman: “Sesungguhnya Aku akan
menurunkannya kepada kamu, maka
barangsiapa di antara kamu kafir sesudah
itu, maka sesungguhnya
Aku akan mengazabnya dengan azab
yang tidak pernah Aku mengazab kepada seorang pun di seluruh alam.” (Al-Māidah [5]:112-116).
Permintaan Hawari yang “Memaksa” Mengenai “Māidah” (Hidangan)
Jawaban para hawari dalam ayat 112: “Mereka
berkata: “Kami telah beriman, dan bersaksilah bahwa sesungguhnya kami adalah مُسۡلِمُوۡنَ -- orang-orang yang berserah diri” membuktikan bahwa semua ajaran para rasul Allah -- termasuk
ajaran Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. -- adalah
“Islam” (QS.3:20) dan pemeluknya disebut “Muslim” (QS.22:79).
Makna permintaan para Hawari dalam ayat 113 bukan satu kali hidangan saja melainkan jaminan
hidup yang kekal dan dapat diperoleh tanpa
kesukaran atau jerih-payah. Kata-kata
“hidangan dari langit”
menyatakan suatu hal yang diperoleh
tanpa susah-payah tapi pasti serta kekal. Jawaban Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. adalah: ‘’Ia berkata: Bertakwalah kepada Allah jika kamu orang-orang yang beriman.”
Jawaban Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. tersebut
sesuai dengan pernyataan Allah Swt. dalam surah Al-Quran lainnya mengenai pentingnya bertakwa kepada Allah Swt.,
yakni Allah Swt. akan membuat jalan
keluar dari masalah yang dihadapinya dan Dia akan memberi rezeki dari arah yang tidak
diduga (QS. 65:3-4).
Namun sudah merupakan ciri khas kaum
Yahudi suka memaksakan kehendak kepada Allah Swt. (QS.2:62 & 68-72),
demikian pula para hawari (pengikut awal) Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.:
قَالُوۡا
نُرِیۡدُ اَنۡ نَّاۡکُلَ مِنۡہَا وَ تَطۡمَئِنَّ
قُلُوۡبُنَا وَ نَعۡلَمَ اَنۡ قَدۡ صَدَقۡتَنَا وَ نَکُوۡنَ عَلَیۡہَا مِنَ الشّٰہِدِیۡنَ ﴿﴾
Mereka
berkata: “Kami ingin memakan dari hidangan itu, supaya hati kami tenteram, dan supaya kami mengetahui bahwa engkau sungguh telah berkata benar kepada kami dan
supaya kami termasuk di antara
orang-orang yang menjadi saksi.” (Al-Māidah [5]:114).
Terhadap permintaan Hawari yang bernada memaksakan kehendak
tersebut Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. pun berdoa:
قَالَ
عِیۡسَی ابۡنُ مَرۡیَمَ اللّٰہُمَّ رَبَّنَاۤ اَنۡزِلۡ عَلَیۡنَا مَآئِدَۃً مِّنَ
السَّمَآءِ تَکُوۡنُ لَنَا عِیۡدًا لِّاَوَّلِنَا وَ اٰخِرِنَا
وَ اٰیَۃً مِّنۡکَ ۚ وَ ارۡزُقۡنَا وَ اَنۡتَ
خَیۡرُ الرّٰزِقِیۡنَ ﴿﴾
‘Isa ibnu Maryam berkata: “Ya Allah, Rabb (Tuhan) kami, turunkanlah
kepada kami hidangan dari langit supaya menjadi suatu perayaan yang
berulang bagi kami, bagi orang-orang yang awal dari kami, juga
bagi yang datang di belakang kami, dan
sebagai Tanda-tanda kebenaran dari Engkau, dan beri rezekilah kami, dan Engkau
sebaik-baik Pemberi rezeki (Al-Māidah
[5]:115).
Jawaban dan Peringatan Allah
Swt.
Ada pun jawaban
Allah Swt. terhadap doa Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. tersebut
adalah, firman-Nya:
قَالَ
اللّٰہُ اِنِّیۡ مُنَزِّلُہَا عَلَیۡکُمۡ ۚ فَمَنۡ یَّکۡفُرۡ بَعۡدُ مِنۡکُمۡ
فَاِنِّیۡۤ اُعَذِّبُہٗ عَذَابًا لَّاۤ اُعَذِّبُہٗۤ اَحَدًا مِّنَ الۡعٰلَمِیۡنَ ﴿﴾
Allah
berfirman: “Sesungguhnya Aku akan
menurunkannya kepada kamu, maka barangsiapa
di antara kamu kafir sesudah
itu, maka sesungguhnya Aku akan
mengazabnya dengan azab yang tidak
pernah Aku mengazab kepada seorang pun di seluruh alam.” (Al-Māidah [5]:115-116).
Selaras dengan makna ‘Id (hari yang berulang) ada dua masa kemakmuran dan kemajuan
duniawi untuk umat Kristen. Mereka
telah dianugerahi harta-benda duniawi dengan
berlimpah-limpah pada dua masa yang
berbeda::
(1) Pada zaman permulaan sesudah Kaisar
Romawi, Konstantin, 3 abad setelah Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.
menjadi penganut agama Kristen yang
diajarkan Paulus dan bahkan
Konsantin menjadi agama Kristen sebagai agama
Kerajaan Romawi dan bangsa Kristen Romawi meraih kekuasaan duniawi sampai dengan masa
kekuasaan Kaisar Heraclius, yang kemudian kemajuannya terhenti untuk sementara
waktu dengan bangkitnya umat Islam
melalui pengutusan Nabi Besar Muhammad
saw. pada abad 6 Masehi.
(2)
Kemudian dalam abad-abad ke-18 dan ke-19 – yakni di Akhir zaman ini -- bangsa-bangsa Kristen dari Barat
tersebut kembali memperoleh kemakmuran dan kekuasaan politik yang kedua kali dalam ukuran yang tak ada tara bandingannya dalam sejarah bangsa lain mana pun (QS.18:1-9 & 19-23),
yang dalam Bible digambarkan sebagai pelepasan sementara “iblis”
dari pemenjaraannya selama
1000 tahun (Wahyu 20:7-10) atau “penyebaran
Ya’juj (Gog) dan Ma’juj (Magog – QS.21:97) yang disebut Nabi Besar Muhammad saw. “Dajjal”
-- Pendusta besar, yang matanya buta sebelah dan di tangannya terdapat “surga” dan “neraka”
padahal sebaliknya (Hadits).
Ada pun
hukuman yang diperingatkan Allah Swt. dalam Al-Māidah
ayat 116 sebelumnya sama dengan ucapan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. dalam ayat
119, firman-Nya:
اِنۡ تُعَذِّبۡہُمۡ
فَاِنَّہُمۡ عِبَادُکَ ۚ وَ اِنۡ تَغۡفِرۡ لَہُمۡ فَاِنَّکَ اَنۡتَ الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ
﴿﴾
“Kalau Engkau mengazab mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba
Engkau, dan kalau Engkau mengampuni
mereka, maka sesungguhnya Engkau
benar-benar Maha Perkasa, Maha Bijaksana”
(Al-Māidah
[5]: 119).
Firman-Nya lagi:
وَ قَالُوا اتَّخَذَ
الرَّحۡمٰنُ وَلَدًا ﴿ؕ﴾ لَقَدۡ جِئۡتُمۡ
شَیۡئًا اِدًّا ﴿ۙ﴾ تَکَادُ
السَّمٰوٰتُ یَتَفَطَّرۡنَ مِنۡہُ وَ تَنۡشَقُّ الۡاَرۡضُ وَ تَخِرُّ الۡجِبَالُ
ہَدًّا ﴿ۙ﴾ اَنۡ
دَعَوۡا لِلرَّحۡمٰنِ وَلَدًا ﴿ۚ﴾ وَ مَا
یَنۡۢبَغِیۡ لِلرَّحۡمٰنِ اَنۡ
یَّتَّخِذَ وَلَدًا ﴿ؕ﴾ اِنۡ کُلُّ مَنۡ
فِی السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ اِلَّاۤ
اٰتِی الرَّحۡمٰنِ عَبۡدًا﴿ؕ﴾ لَقَدۡ اَحۡصٰہُمۡ
وَ عَدَّہُمۡ عَدًّا ﴿ؕ﴾ وَ کُلُّہُمۡ
اٰتِیۡہِ یَوۡمَ الۡقِیٰمَۃِ فَرۡدًا ﴿﴾
Dan
mereka
berkata: "Tuhan Yang
Maha Pemurah telah mengambil
seorang anak laki-laki." لَقَدۡ
جِئۡتُمۡ شَیۡئًا اِدًّا
-- Sungguh kamu
benar-benar telah mengucapkan sesuatu
yang sangat mengerikan. تَکَادُ السَّمٰوٰتُ یَتَفَطَّرۡنَ مِنۡہُ وَ تَنۡشَقُّ الۡاَرۡضُ وَ
تَخِرُّ الۡجِبَالُ ہَدًّا -- Hampir-hampir seluruh langit pecah karenanya, dan bumi
terbelah, dan gunung-gunung runtuh
berkeping-keping, اَنۡ دَعَوۡا
لِلرَّحۡمٰنِ وَلَدًا -- karena mereka
menyatakan bagi Tuhan Yang Maha Pemurah punya anak laki-laki. وَ مَا یَنۡۢبَغِیۡ لِلرَّحۡمٰنِ اَنۡ یَّتَّخِذَ
وَلَدًا -- Padahal sekali-kali tidak layak bagi Tuhan Yang Maha Pemurah, mengambil seorang anak
laki-laki. اِنۡ کُلُّ مَنۡ
فِی السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ اِلَّاۤ
اٰتِی الرَّحۡمٰنِ عَبۡدًا -- Tidak ada seorang pun di seluruh langit dan bumi melainkan ia
akan datang kepada Tuhan Yang Maha Pemurah sebagai hamba. لَقَدۡ
اَحۡصٰہُمۡ وَ عَدَّہُمۡ عَدًّا
-- Sungguh Dia benar-benar mengetahui jumlah mereka dan menghitung mereka dengan
menyeluruh. وَ کُلُّہُمۡ
اٰتِیۡہِ یَوۡمَ الۡقِیٰمَۃِ فَرۡدًا
-- Dan setiap mereka akan datang
kepada-Nya pada Hari Kiamat sendiri-sendiri (Maryam [19]:89-96).
Kebutaan
Mata Ruhani yang Parah
Paham
bahwa Yesus anak Allah itu begitu mengerikan,
sehingga seluruh langit, bumi, dan gunung-gunung dapat hancur
berkeping-keping dan rebah ke tanah karena kejinya
kepercayaan itu. Kepercayaan itu sangat
menjijikkan wujud-wujud samawi (as-samawat) oleh karena berlawanan dengan kesempurnaan Sifat-sifat Ilahi dan bertentangan dengan segala yang wujud-wujud samawi itu bela dan muliakan.
Kepercayaan
ini menjijikkan manusia yang mendiami
bumi (al-ardh), sebab hal ini bertentangan dengan tuntutan fitrat serta kecerdasan
otak manusia sejati, dan akal manusia
menolak dengan perasaan kecewa
terhadap paham demikian itu.
Orang-orang yang memiliki cita-cita
tinggi dan mulia seperti para nabi
Allah dan para pilihan Tuhan (al-jibal)
juga menolak
dan menentangnya, sebab anggapan bahwa manusia memerlukan pengurbanan orang lain untuk memperoleh najat (keselamatan) dan mencapai tingkat akhlak tinggi adalah bertentangan dengan pengalaman ruhani mereka sendiri.
Surah Maryam
ini berisikan pencelaan yang paling keras dan lugas terhadap 'itikad-'itikad
Kristen, terutama kepercayaan
mereka yang pokok bahwa Yesus anak Allah,
satu kepercayaan yang darinya terbit
semua 'itikad sesat lainnya; tekanan
istimewa telah diberikan kepada penolakan
dan pencelaan terhadap kepercayaan “Trinitas” dan “Penebusan dosa”.
Perlu mendapat
perhatian khusus bahwa sifat Allah
Swt. Ar-Rahmān (Yang
Maha Pemurah) telah
berulang-ulang disinggung dalam Surah ini — sifat itu telah disebutkan sebanyak
16 kali, karena 'itikad Kristen yang
pokok ialah pengakuan kepada Yesus
sebagai anak Allah dan
akibat-akibatnya yaitu 'itikad penebusan
dosa mengandung arti penolakan
terhadap sifat Ar-Rahmān (Maha
Pemurah) Allah Swt..
Dan karena
pokok pembahasan utama Surah Maryam ini
ialah pembantahan terhadap ‘itikad tersebut maka sudah seharusnya sifat-sifat Ilahi Ar-Rahmān (Maha Pemurah) itu disebut
dengan berulang-ulang. 'Itikad penebusan
dosa yang mengandung arti bahwa Allah Swt. tidak
dapat mengampuni dosa-dosa manusia, padahal sifat Ar-Rahmān (Maha Pemurah) menghendaki bahwa Allah
Swt. bukan saja dapat dan memang sering mengampuni manusia, itulah sebabnya sifat Ar-Rahmān (Maha Pemurah) Allah Swt. berulang kah disebut dalam Surah Maryam, dan juga dalam surah Ar-Rahmān.
Allah
Swt. Yang bersifat Rahmān (Maha
Pemurah) itu tidak memerlukan anak
untuk menolong-Nya atau menggantikan-Nya, sebab Dia adalah Pemilik seluruh langit dan bumi serta kerajaan-Nya meliputi seluruh alam, dan juga karena semua
orang adalah hamba-Nya, dan Yesus adalah salah seorang dari antara
mereka: اِنۡ کُلُّ مَنۡ فِی السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ اِلَّاۤ اٰتِی
الرَّحۡمٰنِ عَبۡدًا -- “Tidak
ada seorang pun di seluruh
langit dan bumi melainkan ia
akan datang kepada Tuhan Yang Maha Pemurah sebagai hamba.“ (Maryam
[19]:94) serta masing-masing harus mempertanggungjawabkan
perbuatannya: لَقَدۡ اَحۡصٰہُمۡ
وَ عَدَّہُمۡ عَدًّا -- Sungguh Dia benar-benar mengetahui
jumlah mereka dan menghitung mereka dengan menyeluruh. وَ
کُلُّہُمۡ اٰتِیۡہِ یَوۡمَ الۡقِیٰمَۃِ فَرۡدًا
-- Dan setiap mereka akan datang kepada-Nya pada Hari Kiamat sendiri-sendiri.
(Maryam
[19]:95-96).
Tujuan Pemberian Kekuasaan dan Kekayaan
Duniawi Kepada Manusia
Demikianlah
makna azab Ilahi yang diancamkan Allah Swt. terhadap permintaan para hawari (murid-murid awal) Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. berkenaan māidah (hidangan) yaitu “kekayaan
duniawi”, firman-Nya:
قَالَ
اللّٰہُ اِنِّیۡ مُنَزِّلُہَا عَلَیۡکُمۡ ۚ فَمَنۡ یَّکۡفُرۡ بَعۡدُ مِنۡکُمۡ
فَاِنِّیۡۤ اُعَذِّبُہٗ عَذَابًا لَّاۤ اُعَذِّبُہٗۤ اَحَدًا مِّنَ الۡعٰلَمِیۡنَ ﴿﴾٪
Allah
berfirman: “Sesungguhnya Aku akan
menurunkannya kepada kamu, maka barangsiapa
di antara kamu kafir sesudah
itu, maka sesungguhnya Aku akan
mengazabnya dengan azab yang tidak
pernah Aku mengazab kepada seorang pun di seluruh alam.” (Al-Māidah [5]:115-116).
Dua Perang Dunia I dan Perang
Dunia II akibat-akibat yang ditimbulkannya dapat
merupakan satu tahap penyempurnaan kabar gaib
(nubuatan) tersebut dan hanya Allah Swt.
sajalah Yang mengetahui hukuman-hukuman mengerikan apakah yang masih menunggu untuk bangsa-bangsa Kristen di belahan bumi
sebelah barat: “maka sesungguhnya
Aku akan mengazabnya dengan azab
yang tidak pernah Aku mengazab kepada seorang pun di seluruh
alam”, firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿۳﴾ اَلۡحَمۡدُ لِلّٰہِ الَّذِیۡۤ اَنۡزَلَ عَلٰی
عَبۡدِہِ الۡکِتٰبَ وَ لَمۡ
یَجۡعَلۡ لَّہٗ عِوَجًا ؕ﴿ٜ﴾ قَیِّمًا لِّیُنۡذِرَ بَاۡسًا
شَدِیۡدًا مِّنۡ لَّدُنۡہُ وَ یُبَشِّرَ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ الَّذِیۡنَ
یَعۡمَلُوۡنَ الصّٰلِحٰتِ اَنَّ لَہُمۡ اَجۡرًا حَسَنًا ۙ﴿﴾ مَّاکِثِیۡنَ فِیۡہِ اَبَدًا ۙ﴿﴾ وَّ یُنۡذِرَ
الَّذِیۡنَ قَالُوا اتَّخَذَ اللّٰہُ وَلَدًا ٭﴿﴾ مَا لَہُمۡ بِہٖ مِنۡ عِلۡمٍ وَّ لَا لِاٰبَآئِہِمۡ ؕ کَبُرَتۡ کَلِمَۃً تَخۡرُجُ مِنۡ اَفۡوَاہِہِمۡ ؕ اِنۡ یَّقُوۡلُوۡنَ اِلَّا کَذِبًا ﴿﴾ فَلَعَلَّکَ بَاخِعٌ نَّفۡسَکَ عَلٰۤی اٰثَارِہِمۡ اِنۡ
لَّمۡ یُؤۡمِنُوۡا بِہٰذَا الۡحَدِیۡثِ اَسَفًا ﴿﴾
اِنَّا
جَعَلۡنَا مَا عَلَی الۡاَرۡضِ زِیۡنَۃً لَّہَا لِنَبۡلُوَہُمۡ اَیُّہُمۡ اَحۡسَنُ عَمَلًا ﴿﴾ وَ اِنَّا لَجٰعِلُوۡنَ مَا عَلَیۡہَا صَعِیۡدًا جُرُزًا ؕ﴿﴾
Aku
baca dengan nama Allah Maha Pemurah,
Maha Penyayang. Segala
puji bagi Allah Yang telah
menurunkan kepada hamba-Nya Kitab Al-Quran ini dan Dia tidak menjadikan padanya kebengkokan.
Sebagai penjaga untuk memberi peringatan mengenai
siksaan yang dahsyat dari hadirat-Nya, dan memberikan kabar gembira
kepada orang-orang beriman
yang beramal saleh bahwa sesungguhnya
bagi mereka ada ganjaran yang baik, mereka
menetap di dalamnya selama-lamanya. Dan supaya
memperingatkan orang-orang yang
berkata: "Allah mengambil seorang anak laki-laki. Mereka sekali-kali tidak memiliki pengetahuan mengenainya, dan tidak pula bapak-bapak mereka memilikinya. Sangat
besar keburukan perkataan yang keluar dari mulut mereka, mereka tidak mengucapkan kecuali kedustaan. Maka sangat mungkin engkau akan membinasakan diri engkau karena sangat
sedih sekiranya mereka tidak beriman kepada keterangan ini. Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi perhiasan baginya supaya Kami
menguji mereka siapakah di antara
mereka yang terbaik perbuatannya. Dan sesungguhnya Kami niscaya akan menjadikan segala yang ada di atasnya
menjadi tanah-rata yang tandus.
(Al-Kahf [19]:1-9).
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran Anyar,
6 Februari 2017
Tidak ada komentar:
Posting Komentar