Senin, 06 Februari 2017

Hubungan "Raaqim" (Prasasti-prasasti) Dengan Permintaan "Hawari" Kepada Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. Agar Allah Swt. Menurunkan "Maaidah" (Hidangan) dari Langit & Ancaman "Azab Ilahi" Mengerikan di Akhir Zaman



Bismillaahirrahmaanirrahiim

  ISLAM
Pidato  Mirza Ghulam Ahmad a.s.
Tgl. 2 November 1904 di Kota Sialkote – Hindustan

Bab  13

HUBUNGAN “RĀQIM” (PRASASTI-PRASASTI) DENGAN PERMINTAAN HAWARI KEPADA NABI ISA IBNU MARYAM A.S. AGAR ALLAH SWT. MENURUNKAN  MĀIDAH  (HIDANGAN) DARI LANGIT &   ANCAMAN AZAB ILAHI  MENGERIKAN DI AKHIR ZAMAN

Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam bagian akhir Bab 12  telah dijelaskan topik    Kecaman dan Penolakan Keras Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.  sehubungan dengan pernyataan Allah Swt. dalam Al-Quran  (QS.5:117-118) mengenai penolakan  Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. terhadap  faham “Trinitas” dan “Penebusan dosa” ajaran Paulus,  firman-Nya:
وَ  اِذۡ قَالَ اللّٰہُ یٰعِیۡسَی ابۡنَ مَرۡیَمَ  ءَاَنۡتَ قُلۡتَ لِلنَّاسِ اتَّخِذُوۡنِیۡ وَ اُمِّیَ  اِلٰہَیۡنِ مِنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ ؕ قَالَ سُبۡحٰنَکَ مَا یَکُوۡنُ لِیۡۤ  اَنۡ اَقُوۡلَ مَا لَیۡسَ لِیۡ ٭ بِحَقٍّ ؕ؃ اِنۡ کُنۡتُ قُلۡتُہٗ فَقَدۡ عَلِمۡتَہٗ ؕ تَعۡلَمُ  مَا فِیۡ نَفۡسِیۡ وَ لَاۤ اَعۡلَمُ مَا فِیۡ نَفۡسِکَ ؕ اِنَّکَ اَنۡتَ عَلَّامُ  الۡغُیُوۡبِ ﴿﴾ مَا قُلۡتُ لَہُمۡ اِلَّا مَاۤ اَمَرۡتَنِیۡ بِہٖۤ اَنِ اعۡبُدُوا اللّٰہَ رَبِّیۡ وَ رَبَّکُمۡ ۚ وَ کُنۡتُ عَلَیۡہِمۡ  شَہِیۡدًا مَّا دُمۡتُ فِیۡہِمۡ ۚ فَلَمَّا تَوَفَّیۡتَنِیۡ  کُنۡتَ اَنۡتَ الرَّقِیۡبَ عَلَیۡہِمۡ ؕ وَ  اَنۡتَ عَلٰی کُلِّ  شَیۡءٍ  شَہِیۡدٌ ﴿﴾
Dan ingatlah ketika Allah berfirman: “Hai ‘Isa ibnu Maryam, apakah engkau telah berkata kepada manusia: Jadikanlah aku dan ibuku sebagai dua tuhan  selain  Allah?" Ia berkata: “Maha Suci Engkau. Tidak patut bagiku mengatakan   apa yang  sekali-kali  bukan hakku. Jika  aku telah mengatakannya maka sungguh  Engkau mengetahuinya. Engkau mengetahui apa yang ada dalam diriku, sedangkan aku tidak mengetahui apa yang ada dalam diri Engkau sesungguh-nya Engkau benar-benar Maha Mengetahui segala yang gaib.  Aku sekali-kali tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang telah Engkau perintahkan kepadaku, yaitu: ”Beribadahlah kepada Allah, Rabb-ku  (Tuhan-ku) dan Rabb (Tuhan) kamu.” Dan aku menjadi saksi atas mereka selama aku berada di antara mereka,  tetapi tatkala Engkau telah mewafatkanku  maka Engkau-lah Yang benar-benar menjadi Pengawas atas mereka, dan Engkau adalah Saksi atas segala sesuatu. (Al-Māidah [5]:117-118).

Peringatan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. Mengenai Munculnya “Nabi-nabi Palsu”

       Sejalan dengan penjelasan Allah Swt. dalam Al-Quran tersebut berikut peringatan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (Yesus) dalam  Matius 7:15-23:
Hal pengajaran yang sesat
7:15 "Waspadalah terhadap nabi-nabi palsu  yang datang kepadamu dengan menyamar seperti domba, tetapi sesungguhnya mereka adalah serigala   yang buas. 7:16 Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka.   Dapatkah orang memetik buah anggur dari semak duri atau buah ara dari rumput duri?   7:17 Demikianlah setiap pohon yang baik menghasilkan buah yang baik, sedang pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang tidak baik. 7:18 Tidak mungkin pohon yang baik itu menghasilkan buah yang tidak baik, ataupun pohon yang tidak baik itu menghasilkan buah yang baik.   7:19 Dan setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, pasti ditebang dan dibuang ke dalam api.   7:20 Jadi dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka. 7:21 Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan!   akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga,   melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku   yang di sorga.  7:22 Pada hari terakhir  banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat   demi nama-Mu juga? 7:23 Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu ! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!" (Matius 7:15-23).
     
Generasi Penerus “Ashhabul-Kahf“  (Penghuni Gua) yang Meninggalkan “Gua

         Jadi itulah makna ucapan generasi penerus kaum Yahudi – yakni kaum Kristen   --  dalam ayat:  وَ یَقُوۡلُوۡنَ سَیُغۡفَرُ لَنَا -- “Pasti kami akan diampuni“   dalam surah Al-A’rāf  ayat 170 yang dikemukkan dalam Bab sebelumnya, firman-Nya:
فَخَلَفَ مِنۡۢ بَعۡدِہِمۡ خَلۡفٌ وَّرِثُوا الۡکِتٰبَ یَاۡخُذُوۡنَ عَرَضَ ہٰذَا الۡاَدۡنٰی وَ یَقُوۡلُوۡنَ سَیُغۡفَرُ لَنَا ۚ وَ اِنۡ یَّاۡتِہِمۡ عَرَضٌ مِّثۡلُہٗ یَاۡخُذُوۡہُ ؕ اَلَمۡ یُؤۡخَذۡ عَلَیۡہِمۡ مِّیۡثَاقُ الۡکِتٰبِ اَنۡ لَّا یَقُوۡلُوۡا عَلَی اللّٰہِ  اِلَّا الۡحَقَّ وَ دَرَسُوۡا مَا فِیۡہِ  ؕ وَ الدَّارُ  الۡاٰخِرَۃُ  خَیۡرٌ لِّلَّذِیۡنَ  یَتَّقُوۡنَ ؕ اَفَلَا  تَعۡقِلُوۡنَ ﴿﴾  وَ الَّذِیۡنَ یُمَسِّکُوۡنَ بِالۡکِتٰبِ وَ اَقَامُوا الصَّلٰوۃَ ؕ اِنَّا لَا نُضِیۡعُ اَجۡرَ الۡمُصۡلِحِیۡنَ ﴿﴾
Maka datang menggantikan sesudah mereka, suatu generasi  pengganti  yang mewarisi Kitab Taurat  itu, mereka mengambil harta dunia yang rendah ini وَ یَقُوۡلُوۡنَ سَیُغۡفَرُ لَنَا  -- dan mereka mengatakan: “Pasti kami akan diampuni.” Dan jika datang kepada mereka harta semacam itu lagi mereka akan mengambilnya. اَلَمۡ یُؤۡخَذۡ عَلَیۡہِمۡ مِّیۡثَاقُ الۡکِتٰبِ اَنۡ لَّا یَقُوۡلُوۡا عَلَی اللّٰہِ  اِلَّا الۡحَقَّ وَ دَرَسُوۡا مَا فِیۡہِ    -- Bukankah telah diambil perjanjian dari mereka dalam Kitab bahwa mereka tidak akan mengatakan sesuatu terhadap Allah kecuali yang haq, dan  mereka telah mempelajari  apa yang tercantum di dalamnya?  ؕ وَ الدَّارُ  الۡاٰخِرَۃُ  خَیۡرٌ لِّلَّذِیۡنَ  یَتَّقُوۡنَ ؕ اَفَلَا  تَعۡقِلُوۡنَ -- Padahal  kampung  akhirat itu   lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa, apakah kamu tidak mau mengerti? وَ الَّذِیۡنَ یُمَسِّکُوۡنَ بِالۡکِتٰبِ وَ اَقَامُوا الصَّلٰوۃَ  --  Dan orang-orang yang  berpegang teguh pada Kitab  itu dan  mendirikan shalat, اِنَّا لَا نُضِیۡعُ اَجۡرَ الۡمُصۡلِحِیۡنَ  -- sesungguhnya Kami tidak akan menyia-nyiakan ganjaran orang-orang yang melakukan perbaikan  (Al-A’rāf [7]:170-171).
       Sedangkan makna kata   darasa dalam ayat:  اَلَمۡ یُؤۡخَذۡ عَلَیۡہِمۡ مِّیۡثَاقُ الۡکِتٰبِ اَنۡ لَّا یَقُوۡلُوۡا عَلَی اللّٰہِ  اِلَّا الۡحَقَّ وَ دَرَسُوۡا مَا فِیۡہِ     -- “Bukankah telah diambil perjanjian dari mereka dalam Kitab bahwa mereka tidak akan mengatakan sesuatu terhadap Allah kecuali yang haqوَ دَرَسُوۡا مَا فِیۡہِ  -- dan  mereka telah mempelajari  apa yang tercantum di dalamnya?“  Darasa berarti: (1) ia  membaca atau menelaah buku; (2) ia meniadakan, menghapuskan atau melenyapkan sesuatu (Lexicon Lane).

Pengabulan Doa Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. Mengenai “Al-Māidah” (Hidangan)

      Jika timbul pertanyaan: Mengapa generasi penerus Ashhabul-Kahfi (penghuni gua) yang disebut “rāqim” (prasasti-prasati)  -- yakni bangsa-bangsa Kristen dari barat  yang menganut “Trinitas” dan “Penebusan dosa”  ajaran Paulus – tersebut meraih kesuksesan duniawi yang sangat luar biasa?
    Jawabannya adalah: Keberhasilan duniawi bangsa-bangsa Kristen dari Barat tersebut – disamping hasil kerja-keras mereka dalam bidang duniawi   meniru Sifat Rabubiyat Allah Swt. dan memanfaatkan sifat Ar-Rahmān (Maha Pemurah) Allah Swt. (QS.1:2-3)    yang berlaku umum   --  pada hakikatnya merupakan pengabulan doa yang dipanjatkan oleh Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. kepada Allah Swt. atas permintaan para Hawari (murid-murid) beliau mengenai “maidah” (hidangan), firman-Nya:
وَ  اِذۡ  اَوۡحَیۡتُ اِلَی الۡحَوَارِیّٖنَ اَنۡ اٰمِنُوۡا بِیۡ  وَ بِرَسُوۡلِیۡ ۚ قَالُوۡۤا اٰمَنَّا وَ اشۡہَدۡ  بِاَنَّنَا مُسۡلِمُوۡنَ ﴿﴾ اِذۡ   قَالَ الۡحَوَارِیُّوۡنَ یٰعِیۡسَی ابۡنَ  مَرۡیَمَ ہَلۡ یَسۡتَطِیۡعُ رَبُّکَ اَنۡ یُّنَزِّلَ عَلَیۡنَا مَآئِدَۃً مِّنَ السَّمَآءِ ؕ قَالَ اتَّقُوا اللّٰہَ اِنۡ  کُنۡتُمۡ  مُّؤۡمِنِیۡنَ ﴿﴾ قَالُوۡا نُرِیۡدُ اَنۡ  نَّاۡکُلَ  مِنۡہَا وَ تَطۡمَئِنَّ قُلُوۡبُنَا وَ نَعۡلَمَ اَنۡ قَدۡ صَدَقۡتَنَا وَ نَکُوۡنَ عَلَیۡہَا مِنَ الشّٰہِدِیۡنَ ﴿  قَالَ عِیۡسَی ابۡنُ مَرۡیَمَ اللّٰہُمَّ رَبَّنَاۤ اَنۡزِلۡ عَلَیۡنَا مَآئِدَۃً مِّنَ السَّمَآءِ تَکُوۡنُ لَنَا عِیۡدًا لِّاَوَّلِنَا وَ اٰخِرِنَا وَ اٰیَۃً مِّنۡکَ ۚ وَ ارۡزُقۡنَا وَ اَنۡتَ خَیۡرُ الرّٰزِقِیۡنَ ﴿  قَالَ اللّٰہُ اِنِّیۡ مُنَزِّلُہَا عَلَیۡکُمۡ ۚ فَمَنۡ یَّکۡفُرۡ بَعۡدُ مِنۡکُمۡ فَاِنِّیۡۤ  اُعَذِّبُہٗ عَذَابًا  لَّاۤ   اُعَذِّبُہٗۤ  اَحَدًا مِّنَ الۡعٰلَمِیۡنَ﴿﴾٪
Dan  ingatlah ketika   Aku mewahyukan kepada para hawari bahwa: “Berimanlah kepada-Ku dan kepada rasul-Ku.” Mereka berkata: “Kami telah beriman, dan bersaksilah bahwa sesungguhnya kami adalah  مُسۡلِمُوۡنَ -- orang-orang yang berserah diri.”  Ingatlah ketika para hawari berkata: “Hai ‘Isa ibnu Maryammampukah Rabb (Tuhan) engkau  menurunkan kepada kami hidangan  dari langit? Ia berkata:  “Bertakwalah kepada Allah jika kamu orang-orang yang beriman.”  Mereka berkata: “Kami ingin memakan  dari hidangan itu,   supaya hati kami tenteram, dan supaya kami mengetahui bahwa engkau sungguh telah berkata benar kepada kami dan supaya kami termasuk di antara orang-orang yang  menjadi saksi.  ‘Isa ibnu Maryam berkata: “Ya Allah, Rabb (Tuhan) kami, turunkanlah kepada kami hidangan dari langit supaya menjadi suatu perayaan yang   berulang  bagi kami, bagi orang-orang yang awal dari kami, juga bagi yang datang di belakang  kami, dan  sebagai Tanda-tanda kebenaran dari Engkau, dan beri rezekilah kami, dan Engkau sebaik-baik Pemberi rezeki. Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku akan menurunkannya kepada kamu, maka barangsiapa di antara kamu kafir  sesudah itu,  maka  sesungguhnya Aku akan mengazabnya dengan azab yang tidak pernah Aku mengazab kepada seorang pun  di seluruh alam.” (Al-Māidah [5]:112-116).

Permintaan Hawari yang  “Memaksa” Mengenai “Māidah” (Hidangan)

        Jawaban para hawari dalam ayat 112:   “Mereka berkata: “Kami telah beriman, dan bersaksilah bahwa sesungguhnya kami adalah مُسۡلِمُوۡنَ  -- orang-orang yang berserah diri” membuktikan bahwa semua ajaran para rasul Allah  -- termasuk ajaran Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. -- adalah  “Islam” (QS.3:20)   dan pemeluknya disebut “Muslim” (QS.22:79). 
     Makna permintaan para Hawari dalam ayat 113 bukan satu kali hidangan saja melainkan jaminan hidup yang kekal dan dapat diperoleh tanpa kesukaran atau jerih-payah. Kata-kata “hidangan dari langit” menyatakan suatu hal yang diperoleh tanpa susah-payah tapi pasti serta kekal. Jawaban Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. adalah:    ‘’Ia berkata:   Bertakwalah kepada Allah jika kamu orang-orang yang beriman.”
       Jawaban Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. tersebut sesuai dengan pernyataan Allah Swt. dalam surah Al-Quran lainnya  mengenai pentingnya bertakwa kepada Allah Swt., yakni  Allah Swt. akan membuat   jalan keluar   dari masalah yang dihadapinya dan Dia akan memberi rezeki dari  arah   yang tidak diduga (QS. 65:3-4).
     Namun sudah merupakan ciri khas kaum Yahudi suka memaksakan kehendak kepada Allah Swt. (QS.2:62 & 68-72), demikian pula  para hawari  (pengikut awal)  Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.:
قَالُوۡا نُرِیۡدُ اَنۡ  نَّاۡکُلَ  مِنۡہَا وَ تَطۡمَئِنَّ قُلُوۡبُنَا وَ نَعۡلَمَ اَنۡ قَدۡ صَدَقۡتَنَا وَ نَکُوۡنَ عَلَیۡہَا مِنَ الشّٰہِدِیۡنَ ﴿﴾
Mereka berkata: “Kami ingin memakan  dari hidangan itu,   supaya hati kami tenteram, dan supaya kami mengetahui bahwa engkau sungguh telah berkata benar kepada kami dan supaya kami termasuk di antara orang-orang yang  menjadi saksi.”  (Al-Māidah [5]:114). 
        Terhadap permintaan Hawari yang bernada memaksakan kehendak tersebut Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. pun berdoa:
قَالَ عِیۡسَی ابۡنُ مَرۡیَمَ اللّٰہُمَّ رَبَّنَاۤ اَنۡزِلۡ عَلَیۡنَا مَآئِدَۃً مِّنَ السَّمَآءِ تَکُوۡنُ لَنَا عِیۡدًا لِّاَوَّلِنَا وَ اٰخِرِنَا وَ اٰیَۃً مِّنۡکَ ۚ وَ ارۡزُقۡنَا وَ اَنۡتَ خَیۡرُ الرّٰزِقِیۡنَ ﴿﴾
Isa ibnu Maryam berkata: “Ya Allah, Rabb (Tuhan) kami, turunkanlah kepada kami hidangan dari langit supaya menjadi suatu perayaan yang   berulang  bagi kami, bagi orang-orang yang awal dari kami, juga bagi yang datang di belakang  kami, dan  sebagai Tanda-tanda kebenaran dari Engkau, dan beri rezekilah kami, dan Engkau sebaik-baik Pemberi rezeki  (Al-Māidah [5]:115).

Jawaban dan Peringatan Allah Swt.

       Ada pun jawaban Allah Swt. terhadap    doa Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. tersebut adalah, firman-Nya:
قَالَ اللّٰہُ اِنِّیۡ مُنَزِّلُہَا عَلَیۡکُمۡ ۚ فَمَنۡ یَّکۡفُرۡ بَعۡدُ مِنۡکُمۡ فَاِنِّیۡۤ  اُعَذِّبُہٗ عَذَابًا  لَّاۤ   اُعَذِّبُہٗۤ  اَحَدًا مِّنَ الۡعٰلَمِیۡنَ ﴿﴾
Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku akan menurunkannya kepada kamu, maka barangsiapa di antara kamu kafir  sesudah itu,  maka  sesungguhnya Aku akan mengazabnya dengan azab yang tidak pernah Aku mengazab kepada seorang pun di seluruh alam.”  (Al-Māidah [5]:115-116).
      Selaras dengan makna ‘Id (hari yang berulang) ada dua masa kemakmuran dan kemajuan duniawi untuk umat Kristen. Mereka telah dianugerahi harta-benda duniawi dengan berlimpah-limpah pada dua masa yang berbeda::
    (1) Pada zaman permulaan sesudah Kaisar Romawi, Konstantin,  3 abad setelah Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. menjadi penganut   agama Kristen yang diajarkan Paulus dan bahkan Konsantin  menjadi agama Kristen sebagai agama Kerajaan Romawi  dan bangsa Kristen Romawi meraih kekuasaan duniawi sampai dengan masa kekuasaan Kaisar Heraclius,  yang kemudian kemajuannya terhenti untuk sementara waktu dengan bangkitnya umat Islam melalui pengutusan Nabi Besar Muhammad saw. pada abad 6 Masehi.
     (2)  Kemudian dalam abad-abad ke-18 dan ke-19 – yakni di Akhir zaman ini   -- bangsa-bangsa Kristen dari Barat tersebut kembali  memperoleh kemakmuran dan kekuasaan politik yang kedua kali dalam ukuran yang tak ada tara bandingannya dalam sejarah bangsa lain mana pun (QS.18:1-9 & 19-23), yang dalam Bible digambarkan sebagai pelepasan sementara “iblis”  dari pemenjaraannya selama 1000 tahun (Wahyu 20:7-10) atau “penyebaran Ya’juj (Gog) dan Ma’juj (Magog  – QS.21:97) yang  disebut Nabi Besar Muhammad saw.  “Dajjal”  -- Pendusta besar, yang matanya buta sebelah dan  di tangannya terdapat “surga” dan “neraka” padahal sebaliknya (Hadits).
      Ada pun  hukuman yang diperingatkan Allah Swt.  dalam Al-Māidah ayat 116   sebelumnya  sama dengan  ucapan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.   dalam ayat 119, firman-Nya:
اِنۡ تُعَذِّبۡہُمۡ فَاِنَّہُمۡ عِبَادُکَ ۚ وَ اِنۡ تَغۡفِرۡ لَہُمۡ فَاِنَّکَ اَنۡتَ الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ ﴿﴾
“Kalau Engkau mengazab mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba Engkau, dan kalau Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkau benar-benar Maha Perkasa, Maha Bijaksana” (Al-Māidah [5]: 119).  
Firman-Nya lagi:
وَ قَالُوا  اتَّخَذَ  الرَّحۡمٰنُ  وَلَدًا ﴿ؕ﴾ لَقَدۡ  جِئۡتُمۡ  شَیۡئًا  اِدًّا ﴿ۙ﴾   تَکَادُ السَّمٰوٰتُ یَتَفَطَّرۡنَ مِنۡہُ وَ تَنۡشَقُّ الۡاَرۡضُ وَ تَخِرُّ الۡجِبَالُ ہَدًّا ﴿ۙ﴾ اَنۡ  دَعَوۡا  لِلرَّحۡمٰنِ  وَلَدًا ﴿ۚ﴾ وَ مَا یَنۡۢبَغِیۡ لِلرَّحۡمٰنِ اَنۡ  یَّتَّخِذَ  وَلَدًا ﴿ؕ﴾ اِنۡ کُلُّ مَنۡ فِی السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ  اِلَّاۤ اٰتِی  الرَّحۡمٰنِ  عَبۡدًا﴿ؕ﴾ لَقَدۡ  اَحۡصٰہُمۡ  وَ عَدَّہُمۡ  عَدًّا ﴿ؕ﴾ وَ  کُلُّہُمۡ  اٰتِیۡہِ  یَوۡمَ الۡقِیٰمَۃِ   فَرۡدًا ﴿﴾
Dan mereka  berkata: "Tuhan Yang Maha Pemurah telah meng­ambil seorang anak laki-laki."  لَقَدۡ  جِئۡتُمۡ  شَیۡئًا  اِدًّا  --  Sungguh  kamu benar-benar telah mengucapkan sesuatu  yang  sangat mengerikan.  تَکَادُ السَّمٰوٰتُ یَتَفَطَّرۡنَ مِنۡہُ وَ تَنۡشَقُّ الۡاَرۡضُ وَ تَخِرُّ الۡجِبَالُ ہَدًّا --  Hampir-hampir seluruh langit pecah   karenanya,  dan bumi terbelah, dan gunung­-gunung runtuh berkeping-keping, اَنۡ  دَعَوۡا  لِلرَّحۡمٰنِ  وَلَدًا --  karena mereka menyatakan bagi Tuhan Yang Maha Pemurah punya  anak laki-laki. وَ مَا یَنۡۢبَغِیۡ لِلرَّحۡمٰنِ اَنۡ  یَّتَّخِذَ  وَلَدًا  --   Padahal sekali-kali tidak layak bagi Tuhan Yang  Maha Pemurah, mengambil seorang anak laki-laki. اِنۡ کُلُّ مَنۡ فِی السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ  اِلَّاۤ اٰتِی  الرَّحۡمٰنِ  عَبۡدًا           --  Tidak  ada seorang pun di se­luruh  langit dan bumi melainkan ia akan datang kepada Tuhan Yang Maha Pemurah sebagai hamba. لَقَدۡ  اَحۡصٰہُمۡ  وَ عَدَّہُمۡ  عَدًّا  --  Sungguh Dia benar-benar  mengetahui jumlah  mereka dan menghitung mereka dengan   menyeluruh. وَ  کُلُّہُمۡ  اٰتِیۡہِ  یَوۡمَ الۡقِیٰمَۃِ   فَرۡدًا  -- Dan setiap mereka akan datang kepada-Nya pada Hari Kiamat sendiri-sendiri  (Maryam [19]:89-96).

Kebutaan Mata Ruhani yang Parah

   Paham bahwa Yesus anak Allah itu begitu mengerikan, sehingga seluruh langit, bumi, dan gunung-gunung dapat hancur berkeping-keping dan rebah ke tanah karena kejinya kepercayaan itu. Kepercayaan itu sangat menjijikkan wujud­-wujud samawi (as-samawat) oleh karena berlawanan dengan kesempurnaan Sifat-sifat Ilahi dan bertentangan dengan segala yang wujud-wujud samawi itu bela dan muliakan.
  Kepercayaan ini menjijikkan manusia yang mendiami bumi (al-ardh), sebab hal ini bertentangan dengan tuntutan fitrat serta kecerdasan otak manusia sejati, dan akal manusia menolak dengan perasaan kecewa terhadap paham demikian itu. Orang-orang yang memiliki cita-cita tinggi dan mulia seperti para nabi Allah dan para pilihan Tuhan (al-jibal)  juga menolak dan menentangnya, sebab anggapan bahwa  manusia memerlukan pengurbanan orang lain untuk memperoleh najat (keselamatan) dan mencapai tingkat akhlak tinggi  adalah bertentangan dengan pengalaman ruhani mereka sendiri.
  Surah Maryam ini berisikan pencelaan yang paling keras dan lugas terhadap 'itikad-'itikad Kristen, terutama kepercayaan mereka yang pokok bahwa Yesus anak Allah, satu kepercayaan yang darinya terbit semua 'itikad  sesat lainnya; tekanan istimewa telah diberikan kepada penolakan dan pencelaan terhadap kepercayaan “Trinitas”   dan “Penebusan dosa”.
  Perlu mendapat perhatian khusus bahwa sifat Allah Swt.  Ar-Rahmān  (Yang Maha Pemurah)  telah berulang-ulang disinggung dalam Surah ini — sifat itu telah disebutkan sebanyak 16 kali, karena 'itikad Kristen yang pokok ialah pengakuan kepada Yesus sebagai anak Allah dan akibat-akibatnya yaitu 'itikad penebusan dosa mengandung arti penolakan terhadap sifat Ar-Rahmān (Maha Pemurah) Allah Swt..
 Dan karena pokok pembahasan utama Surah Maryam ini ialah pembantahan terhadap ‘itikad  tersebut  maka sudah seharusnya sifat-sifat Ilahi Ar-Rahmān (Maha Pemurah) itu disebut dengan berulang-ulang. 'Itikad penebusan dosa yang mengandung arti bahwa Allah Swt.  tidak dapat mengampuni dosa-dosa manusia, padahal sifat Ar-Rahmān (Maha Pemurah) menghendaki bahwa Allah Swt. bukan saja dapat dan memang sering mengampuni manusia, itulah sebabnya sifat Ar-Rahmān (Maha Pemurah) Allah Swt.  berulang kah disebut dalam Surah Maryam, dan juga dalam surah Ar-Rahmān.
   Allah Swt. Yang bersifat Rahmān (Maha Pemurah) itu tidak memerlukan anak untuk menolong-Nya atau menggantikan-Nya, sebab Dia adalah Pemilik seluruh langit dan bumi  serta kerajaan-Nya meliputi seluruh alam, dan juga karena semua orang adalah hamba-Nya, dan Yesus adalah salah seorang dari antara mereka:  اِنۡ کُلُّ مَنۡ فِی السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ  اِلَّاۤ اٰتِی  الرَّحۡمٰنِ  عَبۡدًا -- “Tidak  ada seorang pun di se­luruh  langit dan bumi melainkan ia akan datang kepada Tuhan Yang Maha Pemurah sebagai hamba.“ (Maryam [19]:94) serta masing-masing harus mempertanggungjawabkan perbuatannya: لَقَدۡ  اَحۡصٰہُمۡ  وَ عَدَّہُمۡ  عَدًّا    -- Sungguh Dia benar-benar  mengetahui jumlah  mereka dan menghitung mereka dengan   menyeluruh. وَ  کُلُّہُمۡ  اٰتِیۡہِ  یَوۡمَ الۡقِیٰمَۃِ   فَرۡدًا  --  Dan setiap mereka akan datang kepada-Nya pada Hari Kiamat sendiri-sendiri. (Maryam [19]:95-96).

Tujuan Pemberian Kekuasaan dan Kekayaan Duniawi Kepada Manusia

   Demikianlah makna azab Ilahi yang diancamkan Allah Swt. terhadap permintaan para hawari (murid-murid awal) Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. berkenaan māidah (hidangan) yaitu “kekayaan duniawi”, firman-Nya:
قَالَ اللّٰہُ اِنِّیۡ مُنَزِّلُہَا عَلَیۡکُمۡ ۚ فَمَنۡ یَّکۡفُرۡ بَعۡدُ مِنۡکُمۡ فَاِنِّیۡۤ  اُعَذِّبُہٗ عَذَابًا  لَّاۤ   اُعَذِّبُہٗۤ  اَحَدًا مِّنَ الۡعٰلَمِیۡنَ ﴿﴾٪
Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku akan menurunkannya kepada kamu, maka barangsiapa di antara kamu kafir  sesudah itu,  maka  sesungguhnya Aku akan mengazabnya dengan azab yang tidak pernah Aku mengazab kepada seorang pun di seluruh alam.”  (Al-Māidah [5]:115-116).
      Dua Perang Dunia I dan Perang Dunia  II   akibat-akibat yang ditimbulkannya dapat merupakan satu tahap penyempurnaan kabar gaib (nubuatan)  tersebut dan hanya Allah Swt.   sajalah Yang  mengetahui hukuman-hukuman mengerikan apakah yang masih menunggu untuk bangsa-bangsa Kristen di belahan bumi sebelah barat:  “maka  sesungguhnya Aku akan mengazabnya dengan azab yang tidak pernah Aku mengazab kepada seorang pun di seluruh alam”,  firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿۳اَلۡحَمۡدُ لِلّٰہِ الَّذِیۡۤ  اَنۡزَلَ عَلٰی عَبۡدِہِ الۡکِتٰبَ  وَ لَمۡ  یَجۡعَلۡ  لَّہٗ عِوَجًا ؕ﴿ٜ﴾ قَیِّمًا  لِّیُنۡذِرَ بَاۡسًا شَدِیۡدًا مِّنۡ لَّدُنۡہُ وَ یُبَشِّرَ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ الَّذِیۡنَ یَعۡمَلُوۡنَ الصّٰلِحٰتِ اَنَّ  لَہُمۡ  اَجۡرًا حَسَنًا ۙ﴿﴾  مَّاکِثِیۡنَ فِیۡہِ اَبَدًا ۙ﴿﴾ وَّ یُنۡذِرَ الَّذِیۡنَ قَالُوا اتَّخَذَ اللّٰہُ وَلَدًا ٭﴿﴾ مَا لَہُمۡ بِہٖ مِنۡ عِلۡمٍ وَّ لَا لِاٰبَآئِہِمۡ ؕ کَبُرَتۡ کَلِمَۃً  تَخۡرُجُ مِنۡ اَفۡوَاہِہِمۡ ؕ اِنۡ یَّقُوۡلُوۡنَ  اِلَّا کَذِبًا ﴿﴾  فَلَعَلَّکَ بَاخِعٌ نَّفۡسَکَ عَلٰۤی اٰثَارِہِمۡ  اِنۡ لَّمۡ  یُؤۡمِنُوۡا بِہٰذَا  الۡحَدِیۡثِ  اَسَفًا ﴿﴾ اِنَّا جَعَلۡنَا مَا عَلَی الۡاَرۡضِ زِیۡنَۃً  لَّہَا لِنَبۡلُوَہُمۡ  اَیُّہُمۡ   اَحۡسَنُ  عَمَلًا ﴿﴾ وَ اِنَّا لَجٰعِلُوۡنَ مَا عَلَیۡہَا صَعِیۡدًا جُرُزًا  ؕ﴿﴾
Aku baca dengan nama Allah Maha Pemurah, Maha Penyayang.  Segala puji bagi Allah  Yang  telah menurunkan kepada hamba-Nya Kitab Al-Quran ini dan   Dia  tidak menjadikan padanya ke­bengkokan. Sebagai penjaga    untuk memberi peringatan mengenai  siksaan yang dahsyat dari hadirat-Nya, dan memberikan kabar gembira  kepada orang-orang  beriman  yang beramal saleh bahwa sesungguhnya bagi mereka ada ganjaran yang baik, mereka menetap di dalamnya selama-lamanya.   Dan supaya memperingat­kan orang-orang  yang berkata: "Allah  mengambil seorang  anak laki-laki.     Mereka   sekali-kali tidak memiliki pengetahuan mengenainya, dan tidak pula bapak-bapak mereka memilikinya.   Sangat besar keburukan perkataan yang keluar dari mulut mereka,    mereka tidak mengucapkan kecuali kedustaan. Maka sangat mungkin engkau akan  membinasakan diri engkau   karena sangat sedih  sekiranya mereka tidak beriman kepada keterangan ini.   Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi per­hiasan  baginya  supaya  Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya. Dan sesungguhnya Kami niscaya akan menjadikan segala yang ada di atasnya menjadi tanah-rata yang tandus.  (Al-Kahf [19]:1-9).

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid

oo0oo

Pajajaran Anyar,  6 Februari  2017

Tidak ada komentar:

Posting Komentar