Minggu, 26 Februari 2017

Makna "Jasad Tanpa Ruh"di "Singgasana" Nabi Sulaiman a.s. & Pengusiran Tiga Suku Yahudi Dari Madinah Oleh Nabi Besar Muhammad Saw. Merupakan "Hukuman" yang Sangat Ringan




Bismillaahirrahmaanirrahiim

  ISLAM
Pidato  Mirza Ghulam Ahmad a.s.
Tgl. 2 November 1904 di Kota Sialkote – Hindustan

Bab  28

    MAKNA “JADAD TANPA RUH” DI SINGGASANA NABI SULAIMAN A.S.  &  PENGUSIRAN TIGA SUKU   YAHUDI DARI MADINAH  OLEH NABI BESAR MUHAMMAD SAW. MERUPAKAN HUKUMAN YANG SANGAT RINGAN

Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam bagian akhir Bab 26 telah dijelaskan  topik Dua  Azab Ilahi yang Menimpa Bani Israil  berkenaan masa fatrah (masa jeda) pengutusan rasul Allah, firman-Nya:
یٰۤاَہۡلَ الۡکِتٰبِ قَدۡ جَآءَکُمۡ  رَسُوۡلُنَا یُبَیِّنُ لَکُمۡ عَلٰی  فَتۡرَۃٍ  مِّنَ الرُّسُلِ اَنۡ تَقُوۡلُوۡا مَا جَآءَنَا مِنۡۢ بَشِیۡرٍ وَّ لَا نَذِیۡرٍ ۫ فَقَدۡ جَآءَکُمۡ بَشِیۡرٌ وَّ نَذِیۡرٌ ؕ وَ اللّٰہُ  عَلٰی  کُلِّ  شَیۡءٍ  قَدِیۡرٌ ﴿٪﴾
Hai Ahlul Kitab, sungguh telah datang kepada kamu Rasul Kami yang  menjelaskan syariat kepada kamu عَلٰی  فَتۡرَۃٍ  مِّنَ الرُّسُلِ  --  pada masa jeda pengutusan rasul-rasul, اَنۡ تَقُوۡلُوۡا مَا جَآءَنَا مِنۡۢ بَشِیۡرٍ وَّ لَا نَذِیۡرٍ  -- supaya kamu tidak mengatakan: “Tidak pernah datang kepada kami  seorang pemberi kabar gembira dan tidak pula seorang pemberi peringatan.” فَقَدۡ جَآءَکُمۡ بَشِیۡرٌ وَّ نَذِیۡرٌ ؕ     -- Padahal sungguh  telah datang kepada kamu seorang pembawa kabar gembira  dan pemberi peringatan, وَ اللّٰہُ  عَلٰی  کُلِّ  شَیۡءٍ  قَدِیۡرٌ --  dan Allah Maha kuasa atas segala sesuatu  (Māidah  [5]:20).

Dua Kali Azab Ilahi yang Menimpa Bani Israil

     Pada masa fatrah (jeda) pengutusan rasul Allah tersebut di kalangan umat beragama terjadi “musim kemarau ruhani” yang  lama yang menimbulkan berbagai akibat buruk seperti halnya yang terjadi masa musim kemarau panjang  secara jasmani.
       Mengisyaratkan  kepada akibat buruk yang ditimbulkan masa “fatrah  (masa jeda)  rangkaian pengutusan rasul Allah (QS.7:35-37)  atau  musim kemarau panjang ruhani” yang panjang  itu pulalah peringatan Allah Swt. kepada umat Islam dalam  firman-Nya  sebelum ini:
اَلَمۡ یَاۡنِ  لِلَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡۤا  اَنۡ  تَخۡشَعَ قُلُوۡبُہُمۡ  لِذِکۡرِ اللّٰہِ  وَ مَا  نَزَلَ مِنَ الۡحَقِّ  ۙ  وَ لَا یَکُوۡنُوۡا کَالَّذِیۡنَ اُوۡتُوا الۡکِتٰبَ مِنۡ قَبۡلُ فَطَالَ عَلَیۡہِمُ  الۡاَمَدُ فَقَسَتۡ قُلُوۡبُہُمۡ ؕ وَ کَثِیۡرٌ  مِّنۡہُمۡ فٰسِقُوۡنَ ﴿﴾  اِعۡلَمُوۡۤا  اَنَّ اللّٰہَ یُحۡیِ الۡاَرۡضَ بَعۡدَ مَوۡتِہَا ؕ قَدۡ بَیَّنَّا لَکُمُ الۡاٰیٰتِ لَعَلَّکُمۡ  تَعۡقِلُوۡنَ ﴿﴾
Apakah belum sampai waktu bagi orang-orang yang beriman, bahwa hati mereka tunduk untuk mengingat Allah dan mengingat  kebenaran yang telah turun kepada mereka,  وَ لَا یَکُوۡنُوۡا کَالَّذِیۡنَ اُوۡتُوا الۡکِتٰبَ مِنۡ قَبۡلُ -- dan mereka tidak  menjadi seperti orang-orang yang diberi kitab sebelumnya, فَطَالَ عَلَیۡہِمُ  الۡاَمَدُ فَقَسَتۡ قُلُوۡبُہُمۡ -- maka  zaman kesejahteraan menjadi panjang atas mereka lalu   hati mereka menjadi keras, وَ کَثِیۡرٌ  مِّنۡہُمۡ فٰسِقُوۡنَ -- dan kebanyakan dari mereka menjadi durhaka? اِعۡلَمُوۡۤا  اَنَّ اللّٰہَ یُحۡیِ الۡاَرۡضَ بَعۡدَ مَوۡتِہَا  --  Ketahuilah, bahwasanya  Allah  menghidupkan bumi sesudah matinya. قَدۡ بَیَّنَّا لَکُمُ الۡاٰیٰتِ لَعَلَّکُمۡ  تَعۡقِلُوۡنَ --  Sungguh Kami telah menjelaskan Tanda-tanda kepada kamu supaya kamu mengerti. (Al-Hadīd [57]:17-18).
        Pada masa “fatrah” (jeda) pengutusan rasul Allah  Swt. selama 1000 tahun itu pulalah nubuatan dan peringatan  Allah Swt.   berupa azab Ilahi --  yang sebelumnya telah menimpa Bani Israil   dua kali  -- telah menimpa umat Islam (Bani Isma’il), firman-Nya:
 وَ قَضَیۡنَاۤ  اِلٰی بَنِیۡۤ  اِسۡرَآءِیۡلَ فِی الۡکِتٰبِ لَتُفۡسِدُنَّ فِی الۡاَرۡضِ مَرَّتَیۡنِ  وَ لَتَعۡلُنَّ  عُلُوًّا کَبِیۡرًا ﴿﴾ فَاِذَا جَآءَ وَعۡدُ اُوۡلٰىہُمَا بَعَثۡنَا عَلَیۡکُمۡ  عِبَادًا  لَّنَاۤ   اُولِیۡ  بَاۡسٍ  شَدِیۡدٍ فَجَاسُوۡا خِلٰلَ الدِّیَارِ ؕ وَ کَانَ وَعۡدًا  مَّفۡعُوۡلًا ﴿﴾   ثُمَّ رَدَدۡنَا لَکُمُ الۡکَرَّۃَ عَلَیۡہِمۡ وَ اَمۡدَدۡنٰکُمۡ بِاَمۡوَالٍ وَّ بَنِیۡنَ وَ جَعَلۡنٰکُمۡ  اَکۡثَرَ  نَفِیۡرًا ﴿﴾ اِنۡ اَحۡسَنۡتُمۡ اَحۡسَنۡتُمۡ لِاَنۡفُسِکُمۡ ۟ وَ اِنۡ اَسَاۡتُمۡ فَلَہَا ؕ فَاِذَا جَآءَ وَعۡدُ الۡاٰخِرَۃِ  لِیَسُوۡٓءٗا  وُجُوۡہَکُمۡ وَ لِیَدۡخُلُوا الۡمَسۡجِدَ کَمَا دَخَلُوۡہُ  اَوَّلَ مَرَّۃٍ  وَّ  لِیُتَبِّرُوۡا مَا عَلَوۡا تَتۡبِیۡرًا ﴿﴾ عَسٰی رَبُّکُمۡ اَنۡ یَّرۡحَمَکُمۡ ۚ وَ اِنۡ عُدۡتُّمۡ عُدۡنَا ۘ وَ جَعَلۡنَا جَہَنَّمَ لِلۡکٰفِرِیۡنَ  حَصِیۡرًا ﴿﴾
Dan   telah Kami tetapkan terhadap Bani Israil dalam kitab itu: “Niscaya  kamu akan melakukan kerusakan di muka bumi ini dua kali, dan niscaya kamu akan menyombongkan diri dengan kesombongan yang sangat besar.”   Apabila datang saat sempurnanya janji yang pertama dari kedua janji itu, Kami membangkitkan untuk menghadapi kamu hamba-hamba Kami yang mempunyai kekuatan tempur yang dahsyat, dan mereka menerobos jauh ke dalam rumah-rumah, dan itu merupakan suatu janji yang pasti terlaksana.       Kemudian Kami mengembalikan lagi kepada kamu kekuatan untuk melawan mereka, dan Kami membantu kamu dengan harta dan anak-anak, dan  Kami menjadikan kelompok kamu lebih besar   dari sebelumnya. ا  Jika kamu berbuat ihsan, kamu berbuat ihsan  bagi diri kamu sendiri, dan jika kamu berbuat buruk  maka itu untuk diri kamu sendiri. Lalu  jika datang saat sempurnanya janji yang kedua itu Kami membangkitkan lagi hamba-hamba Kami yang lain supaya mereka mendatangkan kesusahan kepada pemimpin-pemimpin kamu  dan supaya mereka memasuki masjid seperti pernah mereka memasukinya pada ka-li pertama, dan supaya mereka menghancurluluhkan segala yang telah me-reka kuasai.  - Boleh jadi kini Rabb (Tuhan)  kamu akan menaruh kasihan kepada kamu, tetapi jika kamu kembali kepada perbuatan buruk, Kami pun akan kembali menimpakan hukuman dan ingatlah  Kami telah jadikan Jahannam penjara bagi orang-orang kafir. (Bani Israil [17]:5-9).

Penghukuman Allah Swt. Melalui Orang-orang Kafir: Bangsa Assiria, Bangsa Mesir dan Bangsa Babilonia

        Dua kali  kedurhakaan Bani Israil yang tersebut dalam kitab Musa a.s. (Ulangan 28:15, 49-53, 63-64 & 30:15) disinggung dalam ayat ini.   Orang-orang kafir di kalangan Bani Israil  yang  senantiasa melakukan kedurhakaan kepada Allah Swt. dan para rasul Allah yang dibangkitkan di kalangan mereka (QS.2:88-89) telah dua kali dikutuk  yaitu pertama oleh Nabi Daud a.s.  dan yang kedua dikutuk  Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.  (QS.5:79), dan sebagai akibatnya mereka telah dihukum pula dua kali sebagaimana dikemukakan sebelumnya, firman-Nya:
لُعِنَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا مِنۡۢ بَنِیۡۤ  اِسۡرَآءِیۡلَ عَلٰی لِسَانِ دَاوٗدَ  وَ عِیۡسَی ابۡنِ مَرۡیَمَ ؕ ذٰلِکَ بِمَا عَصَوۡا وَّ کَانُوۡا یَعۡتَدُوۡنَ ﴿﴾  کَانُوۡا لَا یَتَنَاہَوۡنَ عَنۡ مُّنۡکَرٍ فَعَلُوۡہُ ؕ لَبِئۡسَ مَا کَانُوۡا یَفۡعَلُوۡنَ ﴿﴾  تَرٰی کَثِیۡرًا مِّنۡہُمۡ یَتَوَلَّوۡنَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا ؕ لَبِئۡسَ مَا قَدَّمَتۡ لَہُمۡ اَنۡفُسُہُمۡ اَنۡ سَخِطَ اللّٰہُ عَلَیۡہِمۡ وَ فِی الۡعَذَابِ ہُمۡ خٰلِدُوۡنَ ﴿﴾  وَ لَوۡ کَانُوۡا یُؤۡمِنُوۡنَ بِاللّٰہِ وَ النَّبِیِّ  وَ مَاۤ اُنۡزِلَ اِلَیۡہِ مَا اتَّخَذُوۡہُمۡ اَوۡلِیَآءَ وَ لٰکِنَّ  کَثِیۡرًا  مِّنۡہُمۡ  فٰسِقُوۡنَ ﴿﴾
Orang-orang  yang kafir  dari kalangan Bani Israil telah  dilaknat oleh lidah Daud dan Isa ibnu Maryam,  hal demikian itu karena mereka senantiasa durhaka dan melampaui batas. Mereka tidak pernah saling mencegah dari kemungkaran yang dikerjakannya, benar-benar sangat  buruk apa yang senantiasa  mereka kerjakan. Engkau melihat kebanyakan dari mereka menjadikan orang-orang kafir  sebagai  pelindung, dan benar-benar sangat buruk apa yang telah  mereka dahulukan  bagi diri mereka   yaitu bahwa Allah  murka kepada mereka, dan di dalam azab inilah mereka akan kekal.  Dan seandainya   mereka beriman kepada Allah, Nabi ini, dan kepada apa yang diturunkan kepadanya,  mereka sekali-kali  tidak akan mengambil orang-orang itu sebagai pelindung-pelindungnya,  tetapi kebanyakan mereka adalah orang-orang fasiq (Al-Māidah [5]:79-82).
        Azab Ilahi yang pertama menimpa Bani Israil sesudah Nabi Daud a.s.  dan yang kedua sesudah Nabi Isa Ibnu  Maryam a.s.. Nampak dari Bible bahwa sesudah Nabi Musa a.s., orang-orang Yahudi telah menjadi suatu bangsa yang amat kuat, dan di masa Nabi Daud a.s.  mereka meletakkan dasar suatu kerajaan kuat, yang setelah wafatnya – yakni  pada masa pemerintahan Nabi Sulaiman a.s. -- untuk beberapa waktu terus berlanjut kejayaan dan kemuliaannya.
       Kemudian setelah wafatnya Nabi  Sulaiman a.s. kerajaan Bani Israil itu menjadi sasaran kemunduran yang berangsur-angsur, dan pada sekitar 733 s.M. Samaria ditaklukkan oleh bangsa Assiria, yang mencaplok seluruh daerah Israil di sebelah utara Yezreel. Pada tahun 608 s.M., Palestina telah dilanda oleh satu lasykar Mesir di bawah Firaun Necho, dan Bani Israil takluk kepada kekuasaan Mesir (Yewish  Encyclopedia, Jilid 6, halaman 665).

Makna “Jasad Tanpa Ruh” di Singgasana Nabi Sulaiman a.s.

      Mengenai kemunduran kerajaan   Bani Israil setelah wafatnya Nabi Sulaiman a.s.  tersebut sebelumnya Allah Swt. telah memberitahukan-Nya kepada  kepada  Nabi Sulaiman a.s. dalam bentuk  kasyaf  (penglihatan ruhani) bahwa para pewaris kerajaan Bani Israil setelah Nabi Sulaiman a.s. adalah “bagaikan jasad tanpa ruh” yang duduk di singgasana Nabi Sulaiman a.s., firman-Nya:
فَلَمَّا قَضَیۡنَا عَلَیۡہِ  الۡمَوۡتَ مَا دَلَّہُمۡ عَلٰی مَوۡتِہٖۤ  اِلَّا دَآبَّۃُ  الۡاَرۡضِ تَاۡکُلُ مِنۡسَاَتَہٗ ۚ فَلَمَّا خَرَّ تَبَیَّنَتِ الۡجِنُّ اَنۡ لَّوۡ کَانُوۡا یَعۡلَمُوۡنَ الۡغَیۡبَ مَا لَبِثُوۡا فِی الۡعَذَابِ الۡمُہِیۡنِ ﴿ؕ﴾
Maka tatkala Kami menentukan kematiannya, sekali-kali tidak ada  yang menunjukkan kematiannya kepada mereka selain rayap bumi  yang memakan tongkatnya. Lalu tatkala tongkat itu jatuh, jin-jin  mengetahui dengan jelas bahwa seandainya mereka mengetahui yang gaib,  mereka sekali-kali tidak akan tetap dalam azab yang menghinakan  (As-Saba’ [34]:15).
        Putra yang sia-sia sebagai penerus Nabi Sulaiman a.s., Rehoboam; di bawah pemerintahannya yang lemah itu kerajaan Nabi Sulaiman a.s. yang tadinya besar dan berkuasa telah menjadi berantakan (I  Raja-raja, fatsal 12, 13, 14 & Jewish Encyclopaedia di bawah “Rehoboam”).   
       Kehancuran dan keterpecahbelahan kerajaan Nabi Sulaiman a.s.  mulai berlaku pada masa pemerintahan Rehoboam, dan   oknum yang memimpin gerakan bawah tanah  -- yang dalam Al-Quran disebut secara kiasan  sebagai syaitan yang mengajarkan “sihir” (QS.2:103) adalah Jeroboam. Bahkan “makar buruk” yang dilakukan  para pemberontak di kalangan kaum Yahudi tersebut telah berlangsung di masa pemerintahan Nabi Daud a.s., antara lain berupa upaya pembunuhan terhadap beliau (QS.38:22-27).
        Ayat  tersebut  mengisyaratkan bahwa upaya-upaya – berupa “gerakan rahasia   -- kaum Yahudi pada dua peristiwa yang telah lewat itu telah membawa hasil yang berlainan. Pada peristiwa pertama, komplotan mereka bertujuan untuk melawan Nabi Sulaiman a.s.  dan disudahi dengan kehilangan seluruh kewibawaan dan akhirnya mereka dibuang ke Babilonia oleh belatentara  Raja Nebukadnezar  dengan terlebih dulu menghancur-luluhkan kota Yerusalem (QS.2:260).  Pada peristiwa kedua mereka mengambil cara-cara yang sama, di bawah pimpinan dua wujud yang mendapat wahyu Ilahi   -- yang disebut Harut dan Marut   --  dan “gerakan rahasia” mereka berhasil gilang-gemilang.
      Dalam QS.2:103 perhatian orang-orang Yahudi  di zaman Nabi Besar Muhammad saw. ditarik kepada kenyataan bahwa pertama nenek-moyang mereka pun  telah melancarkan komplotan makar  terhadap Nabi Sulaiman a.s.,    ketika beberapa anggota masyarakatnya telah mendirikan perkumpulan-perkumpulan rahasia melawan beliau.
      Di dalam perkumpulan-perkumpulan rahasia itu diajarkan lambang-lambang dan sandi-sandi  (I Raja-raja 11:29-32; I  Raja-raja 11:14, 23, 26; II Tawarikh 10:2-4) yang bertujuan menimbulkan kemudharatan  karena itu Allah Swt. menyebutnya sebagai “syaitan-syaitan yang mengajarkan sihir” di zaman kerajaan Sulaiman a.s.”
      Tetapi hilangnya kekuasaan duniawi mereka serta kehancuran dan ketelantaran mereka tidak mendorong mereka untuk memperbaiki cara-cara mereka. Mereka dengan gigih bertahan pada cara-cara buruk mereka yang lama. Nabi Yermiah a.s. memperingatkan mereka supaya meninggalkan cara-cara buruk mereka, sebab kemurkaan Allah tidak lama lagi akan menimpa mereka, tetapi mereka sama sekali tidak menghiraukan peringatan-peringatan Nabi Yermiah a.s. tersebut.

Penghancuran Kota Yerusalem yang Pertama  oleh Kaum Musyrik Pimpinan Raja Nebukadnezar  dari Babilonia

       Di masa kerajaan Yehoyakim, Nebukadnezar dari Babilonia melancarkan serbuan pertamanya ke Palestina dan membawa pulang perkakas rumah peribadatan, tetapi ketika itu kota Yerusalem sendiri selamat dari kekejaman akibat pengepungan. Pada tahun 597 s.M. pun kota itu dikepung dan penduduknya mengalami kelaparan yang sangat keras.
      Tetapi pemberontakan raja Zedekia membawa akibat adanya serbuan kedua oleh Nebukadnezar pada tahun 587 s.M., dan sesudah masa pengepungan yang berlangsung satu tahun setengah, kota itu ditaklukkan dengan serangan cepat laksana halilintar. Putra-putranya dibunuh dan matanya sendiri dicukil, dan dalam keadaan diborgol ia dibawa ke Babilonia. Rumah peribadatan di Yerusalem, istana raja, serta semua bangunan besar di kota Yerusalem dibumihanguskan, para imam besar, dan para pemimpin lain dibunuh, dan sejumlah besar rakyat diboyong sebagai tawanan (Yewish Encyclopaedia Jilid 6, hlm. 665 & Jilid 7, hlm. 122 pada kata “Yerusalem”).
       Ada pun yang menarik adalah bahwa  orang-orang kafir yang telah dijadikan Allah Swt. sebagai “sarana” untuk  menghukum Bani Israil  dua kali – yakni bangsa Babilonia dan bangsa Romawi yang musyrik -- telah disebut Allah Swt. “hamba-hamba Kami”, firman-Nya:
فَاِذَا جَآءَ وَعۡدُ اُوۡلٰىہُمَا بَعَثۡنَا عَلَیۡکُمۡ  عِبَادًا  لَّنَاۤ   اُولِیۡ  بَاۡسٍ  شَدِیۡدٍ فَجَاسُوۡا خِلٰلَ الدِّیَارِ ؕ وَ کَانَ وَعۡدًا  مَّفۡعُوۡلًا ﴿﴾
Apabila datang saat sempurnanya janji yang pertama dari kedua janji itu, Kami membangkitkan untuk menghadapi kamu hamba-hamba Kami yang mempunyai kekuatan tempur yang dahsyat, dan mereka menerobos jauh ke dalam rumah-rumah, dan itu merupakan suatu janji yang pasti terlaksana.  (Bani Israil [17]:6).
        Makna ayat 7      “Kemudian Kami mengembalikan lagi kepada kamu kekuatan untuk melawan mereka, dan Kami membantu kamu dengan harta dan anak-anak, dan  Kami menjadikan kelompok kamu lebih besar  dari sebelumnya.   Yakni orang-orang Yahudi menyesuaikan diri mereka dengan keadaan baru di masa pembuangan di Babilonia.
       Kebanyakan di antara mereka telah dipekerjakan pada pekerjaan-pekerjaan umum di Babilonia Tengah, dan banyak dari mereka pada akhirnya memperoleh kemerdekaan dan mencapai kedudukan yang berpengaruh. eyakinan dan pengabdian mereka kepada agama telah bangkit kembali; kepustakaan kerajaan dipelajari, diterbitkan kembali, dan disesuaikan dengan keperluan kaum yang sedang hidup kembali itu, serta harapan untuk mereka kembali ke Palestina telah dikobarkan dan dipupuk. Kira-kira pada tahun 545 s.M., cita-cita ini memperoleh bentuk lebih jelas.

Makna Dua “Malaikat” -- Harut dan Marut  -- di Babilonia

        Kaum Yahudi di Babilonia membuat suatu perjanjian rahasia dengan Cyrus, raja Media dan Persia, dan membantu beliau menaklukkan Babil. Kota itu dalam bulan Juli tahun 539 s.M. jatuh kepada tentaranya tanpa perlawanan. Sebagai ganjaran atas jasa-jasa mereka, Cyrus mengizinkan orang-orang Yahudi kembali ke Yerusalem dan juga membantu mereka membangun kembali rumah peribadatan mereka (Historians’ History of the World, jilid II, hlm. 126; Jewish Encyclopaedia jilid 7, pada kata “Cyrus”, dan 2 Tawarikh 36:22, 23). 
       Syesybazzar (seorang gubernur Cyrus) yang berasal dari Yudea, membawa kembali ke rumah peribadatan itu alat-alat  dan perkakas yang telah dirampas oleh Nebukadnezar dan merencanakan untuk menyelenggarakan pekerjaan ini dengan membelanjakan uang kerajaan. Sejumlah besar orang buangan kembali ke Yerusalem (Ezra, 1:3-5).
      Pekerjaan pembangunan kembali rumah peribadatan di Yerusalem berangsur-angsur maju terus dan selesai pada tahun 516 s.M. Kejadian-kejadian ini dan kejayaan serta kesejahteraan orang-orang Yahudi berikutnya itulah yang diisyaratkan oleh ayat yang sedang dibahas ini. Tetapi semuanya itu telah dinubuatkan oleh Nabi Musa a.s.  jauh sebelum hal itu sungguh-sungguh terjadi (Ulangan 30:1-5).  
      Mengisyaratkan kepada “gerakan rahasia kedua yang dilakukan orang-orang Yahudi di Babilonia itulah yang dimaksud dengan ungkapan kiasan “yang diajarkan dua malaikat   --  Harut dan Marut – dalam firman-Nya:
وَ اتَّبَعُوۡا مَا تَتۡلُوا الشَّیٰطِیۡنُ عَلٰی مُلۡکِ سُلَیۡمٰنَ ۚ وَ مَا کَفَرَ سُلَیۡمٰنُ وَ لٰکِنَّ الشَّیٰطِیۡنَ کَفَرُوۡا یُعَلِّمُوۡنَ النَّاسَ السِّحۡرَ ٭ وَ مَاۤ اُنۡزِلَ عَلَی الۡمَلَکَیۡنِ بِبَابِلَ ہَارُوۡتَ  وَ مَارُوۡتَ ؕ وَ مَا یُعَلِّمٰنِ مِنۡ اَحَدٍ حَتّٰی یَقُوۡلَاۤ اِنَّمَا نَحۡنُ فِتۡنَۃٌ فَلَا تَکۡفُرۡ ؕ فَیَتَعَلَّمُوۡنَ مِنۡہُمَا مَا یُفَرِّقُوۡنَ بِہٖ بَیۡنَ الۡمَرۡءِ  وَ زَوۡجِہٖ ؕ وَ مَا ہُمۡ  بِضَآرِّیۡنَ بِہٖ مِنۡ اَحَدٍ  اِلَّا بِاِذۡنِ اللّٰہِ ؕ وَ یَتَعَلَّمُوۡنَ مَا یَضُرُّہُمۡ  وَ لَا یَنۡفَعُہُمۡ  ؕ وَ لَقَدۡ عَلِمُوۡا لَمَنِ اشۡتَرٰىہُ مَا لَہٗ فِی الۡاٰخِرَۃِ مِنۡ خَلَاقٍ ۟ؕ وَ لَبِئۡسَ مَا شَرَوۡا بِہٖۤ  اَنۡفُسَہُمۡ  ؕ لَوۡ کَانُوۡا یَعۡلَمُوۡنَ ﴿﴾
Dan mereka mengikuti apa yang diikuti  oleh syaithan-syaitan yakni para pemberontak di masa  kerajaan Sulaiman, dan bukan Sulaiman yang kafir melainkan syaitan-syaitan  itulah yang kafir, mereka mengajarkan sihir kepada manusia. Tetapi mereka itu mengaku  mengikuti apa yang telah diturunkan kepada dua  malaikat, Harut dan Marut,  di Babil. Dan keduanya tidaklah me-ngajar seorang pun hingga  mereka mengatakan: Sesungguhnya kami hanya cobaan dari Tuhan, karena itu janganlah kamu kafir.”  Lalu  orang-orang belajar dari keduanya hal yang dengan itu mereka membuat pemisahan di antara laki-laki dan istri-nya, dan mereka sekali-kali tidak mendatangkan mudarat kepada se-orang pun dengan itu kecuali dengan seizin Allah, sedangkan  mereka ini  belajar hal yang mendatangkan mudarat kepada diri mereka dan tidak bermanfaat   baginya. Dan sungguh mereka benar-benar mengetahui bahwa barangsiapa berniaga dengan cara ini niscaya tidak ada baginya suatu bagian keuntungan di akhirat, dan benar-benar sangat buruk hal yang un-tuk itu mereka menjual dirinya, seandainya mereka mengetahui  (Al-Baqarah [2]:103).

Pengkhianatan dan Makar Buruk Orang-orang Yahudi di Madinah

      Sebelumnya telah dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan “syaitan-syaitan” dalam ayat tersebut mengisyaraTkan para pemberontak di zaman Nabi Sulaimanan a.s. yang dipimpin oleh Jeroboam, yang dalam “gerakan makar buruknya mereka menggunakan “sandi-sandi rahasia  yang bertujuan buruk sehingga d Allah Swt. menyebut mereka:  یُعَلِّمُوۡنَ النَّاسَ السِّحۡرَ --   “mereka mengajarkan sihir kepada manusia.”
       Sihr berarti: akal licik, dursila; sihir; mengadakan apa-apa yang palsu dalam bentuk kebenaran; setiap kejadian yang sebab-sebabnya tersembunyi, dan disangka lain dari kenyataannya (Lexicon Lane). Jadi setiap kepalsuan, penipuan atau akal licik yang dimaksudkan untuk menyembunyikan tujuan sebenarnya dari penglihatan orang, adalah termasuk sihir juga. 
       Kata “dua malaikat” dalam ayat: وَ مَاۤ اُنۡزِلَ عَلَی الۡمَلَکَیۡنِ بِبَابِلَ ہَارُوۡتَ  وَ مَارُوۡتَ  -- “Tetapi mereka itu mengaku  mengikuti apa yang telah diturunkan kepada dua  malaikat, Harut dan Marut,  di Babil” di sini maksudnya dua orang suci (QS.12:32), sebab kedua malaikat itu di sini diterangkan sebagai mengajar sesuatu kepada orang banyak, padahal malaikat itu tidak pernah tinggal bersama manusia dan tidak bergaul bebas dengan mereka (QS.17:95; QS.21:8).
       Harūt dan Marūt itu keduanya nama sifat, yang pertama berasal dari harata (yakni merobek — Aqrab-ul-Mawarid) berarti  orang yang  merobek”, dan yang kedua berasal dari marata (artinya: ia memecahkan) berarti “orang yang memecahkan. Nama-nama itu mengandung arti bahwa tujuan munculnya orang-orang suci itu adalah  untuk “merobek” dan “memecahkan” kemegahan dan kekuasaan kerajaan musuh-musuh kaum Bani Israil, yaitu kerajaan Babilonia.
     Orang-orang suci ini pada waktu upacara pelantikan menerangkan kepada anggota-anggota baru  bahwa mereka itu semacam percobaan dari Allah  Swt. untuk maksud memisahkan antara yang baik dan yang buruk. Mereka membatasi keanggotaan perkumpulan mereka hanya pada kaum pria.  Itulah makna ayat:  فَیَتَعَلَّمُوۡنَ مِنۡہُمَا مَا یُفَرِّقُوۡنَ بِہٖ بَیۡنَ الۡمَرۡءِ  وَ زَوۡجِہٖ  -- “Lalu  orang-orang belajar dari keduanya hal yang dengan itu mereka membuat pemisahan di antara laki-laki dan istri-nya.”
Ayat itu berarti bahwa orang-orang Yahudi pada masa Nabi Besar Muhammad saw.  ikut-ikutan dalam rencana dan perbuatan jahat yang sama, seperti halnya yang menjadi ciri nenek-moyang mereka di zaman pemerintahan Nabi Sulaiman a.s..
      Dikatakan selanjutnya bahwa perusuh-perusuh di zaman Nabi Sulaiman a.s. adalah pemberontak-pemberontak yang menuduh beliau sebagai orang kafir. Ayat ini membersihkan Nabi Sulaiman a.s. dari tuduhan kafir. Ditambahkannya bahwa pemberontak-pemberontak di zaman Nabi Sulaiman a.s.  itu mengajarkan kepada rekan-rekan mereka sandi-sandi (lambang-lambang rahasia) yang mengandung  arti yang sama sekali berbeda dari arti yang umumnya dipahami, dengan tujuan menipu orang dan menyembunyikan maksud sebenarnya.  Itulah sebabnya Allah Swt. telah menyebut orang-orang kafir  tersebut  sebagai “syaitan-syaitan yang mengajarkan sihir.”
      Ayat ini mengisyaratkan kepada sekongkol rahasia yang dilancarkan para penentang Nabi Sulaiman a.s. terhadap beliau. Dengan jalan itu mereka berusaha menghancurkan kerajaannya. Hal itu mengandung arti bahwa orang-orang Yahudi Medinah  pun  mempergunakan pula siasat kotor yang sama terhadap  Nabi Besar Muhammad saw.  tetapi mereka gagal-total  dalam rencana-rencana jahatnya itu.

Pengusiran Tiga  Suku  Yahudi Dari Medinah

       Sebagaimana akkibat penentangan yang dilakukan orang-orang Yahudi  terhadap Nabi Daud a.s. dan Nabi Sulaiman a.s. tersebut telah mengakibatkan mereka dibuang ke Babilonia  oleh balatentara raja Nebukadnezar, demikian pula orang-orang Yahudi  yang tinggal di Medinah pun  -- karena melakukan “makar buruk” yang sama terhadap Nabi Besar Muhammad saw.. (QS.2:103)  -- mereka pun diusir dari  Madinah  lalu mereka mendirikan pemukiman  dan benteng pertahanan di Khaibar.
      Tetapi “benteng” yang mereka banggakan tersebut terbukti tidak mampu melindungi mereka dari   kepungan pasukan Muslim yang dipimpin oleh Ali bin Abi Thalib r.a. yang dipilih secara khusus oleh Nabi Besar Muhammad saw.  -- padahal ketika itu beliau sedang menderita sakit mata  -- firman-Nya:
ہُوَ الَّذِیۡۤ  اَخۡرَجَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا مِنۡ اَہۡلِ الۡکِتٰبِ مِنۡ دِیَارِہِمۡ  لِاَوَّلِ الۡحَشۡرِ ؕؔ مَا ظَنَنۡتُمۡ اَنۡ  یَّخۡرُجُوۡا وَ ظَنُّوۡۤا  اَنَّہُمۡ  مَّانِعَتُہُمۡ حُصُوۡنُہُمۡ مِّنَ اللّٰہِ  فَاَتٰىہُمُ اللّٰہُ مِنۡ حَیۡثُ لَمۡ یَحۡتَسِبُوۡا ٭  وَ قَذَفَ فِیۡ  قُلُوۡبِہِمُ  الرُّعۡبَ یُخۡرِبُوۡنَ بُیُوۡتَہُمۡ  بِاَیۡدِیۡہِمۡ  وَ اَیۡدِی الۡمُؤۡمِنِیۡنَ ٭  فَاعۡتَبِرُوۡا یٰۤاُولِی الۡاَبۡصَارِ ﴿﴾  وَ لَوۡ لَاۤ  اَنۡ  کَتَبَ اللّٰہُ عَلَیۡہِمُ  الۡجَلَآءَ لَعَذَّبَہُمۡ  فِی الدُّنۡیَا ؕ وَ لَہُمۡ  فِی الۡاٰخِرَۃِ عَذَابُ النَّارِ ﴿﴾  ذٰلِکَ بِاَنَّہُمۡ  شَآقُّوا اللّٰہَ وَ رَسُوۡلَہٗ ۚ وَ مَنۡ یُّشَآقِّ  اللّٰہَ  فَاِنَّ اللّٰہَ شَدِیۡدُ الۡعِقَابِ ﴿﴾  مَا  قَطَعۡتُمۡ مِّنۡ  لِّیۡنَۃٍ  اَوۡ  تَرَکۡتُمُوۡہَا قَآئِمَۃً  عَلٰۤی  اُصُوۡلِہَا فَبِاِذۡنِ اللّٰہِ وَ لِیُخۡزِیَ الۡفٰسِقِیۡنَ ﴿﴾
Dia-lah Yang mengeluarkan orang-orang yang kafir di antara Ahlikitab dari rumah-rumah mereka pada pengusiran pertama.  Kamu sekali-kali tidak menyangka bahwa mereka akan keluar, dan mereka pun menyangka bahwa benteng-benteng akan melindungi mereka dari keputusan Allah, maka   Allah datang kepada mereka dari arah mana yang tidak mereka sangka, dan Dia  melemparkan kecemasan dalam kalbu mereka, sehingga mereka merobohkan rumah mereka dengan tangan mereka sendiri  dan dengan tangan orang-orang beriman, maka ambillah pelajaran hai orang-orang yang memiliki penglihatan. Dan seandainya tidak karena Allah telah menetapkan pengusiran terhadap mereka, niscaya Allah telah mengazab mereka di dunia ini juga, dan bagi mereka di akhirat ada azab Api.   Hal demikian itu karena mereka menentang Allah dan Rasul-Nya, dan  barangsiapa menentang Allah, maka sesungguhnya azab Allāh sangat keras.    Pohon kurma  apa saja jenisnya yang kamu tebang atau kamu membiarkannya berdiri pada akar-akarnya maka itu dengan izin Allah, supaya Dia menghinakan orang-orang durhaka  (Al-Hasyr [59]:3-6).
    Di Medinah tinggal tiga golongan suku Yahudi yaitu  Banu Qainuqa’, Banu Nadhir, dan Banu Quraizhah. Ayat ini mengisyaratkan kepada pengusiran Banu Nadhir dari Medinah. Suku ini sama seperti suku Qainuqa’ sebelum mereka, telah berlaku khianat terhadap Nabi Besar Muhammad saw. dan kaum Muslimin pada beberapa peristiwa. Mereka menjalin jaringan komplotan dan memasuki persekutuan-persekutuan rahasia dengan musuh-musuh Islam untuk tujuan mengadakan perlawanan terhadap Nabi Besar Muhammad saw. dan kaum Muslimin.
   Orang-orang Yahudi berulang-ulang melanggar perjanjian mereka dan mengkhianati persetujuan-persetujuan resmi untuk tetap berdiri netral di antara Nabi Besar Muhammad saw.    dengan musuh-musuh beliau saw., dan bahkan telah berkomplot hendak membunuh beliau saw.. Pemimpin mereka, Ka'b bin Asyraf, pergi ke Mekkah untuk mengumpulkan bala bantuan dari kaum Quraisy dan dari suku-suku musyrik lain di sekitar Mekkah untuk mengusir  Nabi Besar Muhammad saw. dan kaum Muslimin dari Medinah.
    Sesudah kekalahan sementara yang diderita oleh kaum Muslimin di Uhud, kasak-kusuk dan perlawanan terhadap Nabi Besar Muhammad saw.    kian menjadi-jadi. Maka setelah keaniayaan mereka melampaui batas serta kehadiran mereka di Medinah ternyata selalu merupakan sumber bahaya kematian kaum Muslimin dan negara Islam, baru pada saat itulah  Nabi Besar Muhammad saw. mengambil tindakan terhadap mereka. Beliau saw. memerintahkan mengepung benteng mereka dan, setelah mereka dengan sia-sia bertahan selama 21 hari, pada akhirnya mereka menyerah.
     Mereka diperintahkan meninggalkan Medinah lalu mereka semua berangkat ke Siria, kecuali dua keluarga memilih tetap tinggal di Khaibar.  Nabi Besar Muhammad saw.      luar biasa baik hati dan lemah-lembutnya terhadap mereka. Beliau saw. mengizinkan mereka membawa harta-benda dan ternak mereka. Mereka bertolak dengan aman dari Medinah, tetapi mereka tidak berbuat demikian sebelum mereka dihinggapi rasa putus asa dari mendapat bantuan yang dinanti-nanti mereka dari sekutu-sekutu mereka di Mekkah dan dari kaum muna-fikin di Medinah, dan lagi pula telah terbukti bahwa benteng mereka, yang mereka duga tidak terbobolkan itu, ternyata tidak dapat menyelamatkan mereka.
   Mengingat rencana jahat dan tipu-daya orang-orang Yahudi, persekongkolan-persekongkolan dan perkomplotan-perkomplotan rahasia mereka, serta perbuatan khianat dan kepalsuan yang dibuktikan mereka berulang-ulang, pula pelanggaran perjanjian-perjanjian resmi yang terjadi setiap kali, maka hukuman yang dijatuhkan Nabi Besar Muhamad saw.  atas mereka itu sungguh amat ringan sekali.

Orang-orang Yahudi di  Madinah Melakukan “Politik Bumi Hangus

   Isyarat di dalam kata-kata:  لِاَوَّلِ الۡحَشۡرِ --  “pada waktu pengusiran pertama”, dapat ditujukan kepada pengusiran terhadap Banu Qainuqa’ dari Medinah sesudah Pertempuran Badar, atau kata-kata itu dapat pula tertuju kepada pengusiran dari Medinah terhadap ketiga suku Yahudi tersebut di atas oleh  Nabi Besar Muhamad saw..   Itulah pengusiran mereka yang pertama.
   Tetapi    Umar bin Khaththab r.a., Khalifah kedua  Nabi Besar Muhamad saw.  mengusir seluruh orang Yahudi dari daerah Arab selebihnya untuk yang kedua kalinya dan yang terakhir. Jadi, kata-kata:   لِاَوَّلِ الۡحَشۡرِ --  “pada waktu pengusiran pertama”,  itu dapat dianggap mengandung suatu kabar gaib bahwa sesudah suku-suku bangsa Yahudi Medinah diusir oleh Nabi Besar Muhammad saw. semua orang Yahudi akan mengalami nasib yang sama pada waktu kemudian.
  Mengingat akan sumber-sumber daya materi, persekutuan politik, dan organisasi orang-orang Yahudi di Medinah, kaum Muslim tidak pernah dapat membayangkan betapa orang-orang Yahudi bisa diusir dari Medinah dengan begitu mudah tanpa kehilangan jiwa manusia pada kedua belah pihak.
   Makna ayat: وَ قَذَفَ فِیۡ  قُلُوۡبِہِمُ  الرُّعۡبَ یُخۡرِبُوۡنَ بُیُوۡتَہُمۡ  بِاَیۡدِیۡہِمۡ  وَ اَیۡدِی الۡمُؤۡمِنِیۡنَ ٭  فَاعۡتَبِرُوۡا یٰۤاُولِی الۡاَبۡصَارِ -- “dan Dia  melemparkan kecemasan dalam kalbu mereka, sehingga mereka merobohkan rumah mereka dengan tangan mereka sendiri  dan dengan tangan orang-orang beriman, maka ambillah pelajaran hai orang-orang yang memiliki penglihatan. 
   Sebelum berangkat dari Medinah, Banu Nadhir telah membumi-hanguskan dengan tangan mereka sendiri rumah-rumah mereka serta kekayaan yang tidak bergerak lainnya di hadapan mata kaum Muslimin. Nabi Besar Muhammad saw.  telah memberi tempo 10 hari untuk menyelesaikan urusan mereka sebagaimana diinginkan oleh mereka. Jadi, orang-orang Yahudi Medinah adalah yang pertama-tama menjalankan politik bumi-hangus, berabad-abad sebelum bangsa Rusia melakukan serupa itu dalam Perang Dunia kedua.
   Pembuangan Banu Nadhir dari Medinah merupakan suatu hukuman yang amat ringan. Mereka selayaknya mendapat hukuman yang lebih berat lagi; dan seandainya mereka tidak dibuang, niscaya mereka telah mendapat hukuman keras dengan suatu cara lain itulah makna ayat:  وَ لَوۡ لَاۤ  اَنۡ  کَتَبَ اللّٰہُ عَلَیۡہِمُ  الۡجَلَآءَ لَعَذَّبَہُمۡ  فِی الدُّنۡیَا ؕ وَ لَہُمۡ  فِی الۡاٰخِرَۃِ عَذَابُ النَّارِ  -- “Dan seandainya tidak karena Allah telah menetapkan pengusiran terhadap mereka, niscaya Allah telah mengazab mereka di dunia ini juga, dan bagi mereka di akhirat ada azab Api.”.
    Yang diisyaratkan ayat: مَا  قَطَعۡتُمۡ مِّنۡ  لِّیۡنَۃٍ  اَوۡ  تَرَکۡتُمُوۡہَا قَآئِمَۃً  عَلٰۤی  اُصُوۡلِہَا فَبِاِذۡنِ اللّٰہِ وَ لِیُخۡزِیَ الۡفٰسِقِیۡنَ -- “Pohon kurma  apa saja jenisnya yang kamu tebang atau kamu membiarkannya berdiri pada akar-akarnya maka itu dengan izin Allah, supaya Dia menghinakan orang-orang durhaka” adalah penebangan  pohon-pohon korma milik Banu Nadhir atas perintah Nabi Besar Muhammad saw.   seperti dinyatakan dalam ayat 3, telah mengurung diri mereka di dalam benteng-benteng mereka sebagai tentangan terhadap perintah beliau saw.   supaya mereka menyerah.
     Setelah pengepungan berlangsung beberapa hari  Nabi Besar Muhammad saw. memerintahkan untuk memaksa mereka menyerah dengan mene-bangi pohon-pohon kurma mereka dari jenis linah  yang mutu buahnya sangat buruk dan sama sekali tidak berguna untuk dimakan manusia (Ar-Raudh-al-Unuf). Baru saja enam pohon ditebang, mereka menyerah (Zurqani). Perintah  Nabi Besar Muhammad saw.  itu sangat ringan, lunak, dan sungguh sesuai dengan hukum perang yang beradab.

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid

oo0oo
Pajajaran Anyar, 25    Februari  2017

Tidak ada komentar:

Posting Komentar