Bismillaahirrahmaanirrahiim
ISLAM
Pidato Mirza Ghulam Ahmad a.s.
Tgl. 2 November 1904
di Kota Sialkote – Hindustan
Bab 28
MAKNA “JADAD TANPA RUH” DI SINGGASANA
NABI SULAIMAN A.S. & PENGUSIRAN
TIGA SUKU YAHUDI DARI MADINAH OLEH NABI BESAR
MUHAMMAD SAW. MERUPAKAN HUKUMAN YANG SANGAT RINGAN
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam bagian akhir Bab 26 telah dijelaskan topik Dua Azab
Ilahi yang Menimpa Bani Israil berkenaan masa fatrah
(masa jeda) pengutusan rasul Allah,
firman-Nya:
یٰۤاَہۡلَ الۡکِتٰبِ قَدۡ
جَآءَکُمۡ رَسُوۡلُنَا یُبَیِّنُ لَکُمۡ
عَلٰی فَتۡرَۃٍ مِّنَ الرُّسُلِ اَنۡ تَقُوۡلُوۡا مَا
جَآءَنَا مِنۡۢ بَشِیۡرٍ وَّ لَا نَذِیۡرٍ ۫ فَقَدۡ جَآءَکُمۡ بَشِیۡرٌ وَّ
نَذِیۡرٌ ؕ وَ اللّٰہُ عَلٰی کُلِّ
شَیۡءٍ قَدِیۡرٌ ﴿٪﴾
Hai Ahlul Kitab, sungguh telah datang kepada kamu Rasul Kami yang
menjelaskan syariat kepada
kamu عَلٰی فَتۡرَۃٍ
مِّنَ الرُّسُلِ
-- pada masa jeda pengutusan rasul-rasul,
اَنۡ تَقُوۡلُوۡا مَا جَآءَنَا مِنۡۢ
بَشِیۡرٍ وَّ لَا نَذِیۡرٍ -- supaya kamu tidak mengatakan: “Tidak pernah datang kepada kami seorang pemberi kabar gembira dan tidak pula seorang pemberi peringatan.”
فَقَدۡ
جَآءَکُمۡ بَشِیۡرٌ وَّ نَذِیۡرٌ ؕ -- Padahal sungguh
telah datang kepada kamu seorang pembawa kabar gembira dan pemberi
peringatan, وَ اللّٰہُ عَلٰی کُلِّ
شَیۡءٍ قَدِیۡرٌ -- dan Allah Maha kuasa atas segala sesuatu (Māidah [5]:20).
Dua Kali Azab Ilahi yang Menimpa Bani
Israil
Pada masa fatrah (jeda) pengutusan rasul
Allah tersebut di kalangan umat
beragama terjadi “musim kemarau
ruhani” yang lama yang menimbulkan
berbagai akibat buruk seperti halnya
yang terjadi masa musim kemarau panjang secara jasmani.
Mengisyaratkan kepada akibat
buruk yang ditimbulkan masa “fatrah” (masa jeda) rangkaian pengutusan rasul Allah (QS.7:35-37) atau “musim kemarau panjang ruhani” yang
panjang itu pulalah peringatan Allah Swt. kepada umat
Islam dalam firman-Nya sebelum ini:
اَلَمۡ یَاۡنِ لِلَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡۤا اَنۡ
تَخۡشَعَ قُلُوۡبُہُمۡ لِذِکۡرِ
اللّٰہِ وَ مَا نَزَلَ مِنَ الۡحَقِّ ۙ وَ
لَا یَکُوۡنُوۡا کَالَّذِیۡنَ اُوۡتُوا الۡکِتٰبَ مِنۡ قَبۡلُ فَطَالَ
عَلَیۡہِمُ الۡاَمَدُ فَقَسَتۡ
قُلُوۡبُہُمۡ ؕ وَ کَثِیۡرٌ مِّنۡہُمۡ
فٰسِقُوۡنَ ﴿﴾ اِعۡلَمُوۡۤا اَنَّ اللّٰہَ یُحۡیِ الۡاَرۡضَ بَعۡدَ
مَوۡتِہَا ؕ قَدۡ بَیَّنَّا لَکُمُ الۡاٰیٰتِ لَعَلَّکُمۡ تَعۡقِلُوۡنَ ﴿﴾
Apakah belum sampai waktu bagi orang-orang
yang beriman, bahwa hati mereka
tunduk untuk mengingat Allah dan
mengingat kebenaran yang telah turun kepada mereka, وَ لَا یَکُوۡنُوۡا کَالَّذِیۡنَ اُوۡتُوا الۡکِتٰبَ مِنۡ قَبۡلُ -- dan mereka tidak menjadi seperti orang-orang yang diberi kitab sebelumnya, فَطَالَ عَلَیۡہِمُ الۡاَمَدُ فَقَسَتۡ قُلُوۡبُہُمۡ -- maka zaman
kesejahteraan menjadi panjang
atas mereka lalu hati
mereka menjadi keras, وَ
کَثِیۡرٌ مِّنۡہُمۡ فٰسِقُوۡنَ -- dan kebanyakan dari mereka menjadi durhaka?
اِعۡلَمُوۡۤا اَنَّ اللّٰہَ یُحۡیِ الۡاَرۡضَ بَعۡدَ
مَوۡتِہَا -- Ketahuilah,
bahwasanya Allah menghidupkan
bumi sesudah matinya. قَدۡ
بَیَّنَّا لَکُمُ الۡاٰیٰتِ لَعَلَّکُمۡ
تَعۡقِلُوۡنَ -- Sungguh Kami telah menjelaskan Tanda-tanda kepada
kamu supaya kamu mengerti. (Al-Hadīd
[57]:17-18).
Pada masa “fatrah” (jeda) pengutusan rasul Allah Swt. selama 1000 tahun itu pulalah nubuatan
dan peringatan Allah Swt.
berupa azab Ilahi -- yang sebelumnya telah menimpa Bani Israil dua kali
-- telah menimpa umat Islam
(Bani Isma’il), firman-Nya:
وَ قَضَیۡنَاۤ اِلٰی بَنِیۡۤ اِسۡرَآءِیۡلَ فِی الۡکِتٰبِ
لَتُفۡسِدُنَّ فِی الۡاَرۡضِ
مَرَّتَیۡنِ وَ
لَتَعۡلُنَّ عُلُوًّا کَبِیۡرًا ﴿﴾ فَاِذَا جَآءَ وَعۡدُ اُوۡلٰىہُمَا
بَعَثۡنَا عَلَیۡکُمۡ
عِبَادًا لَّنَاۤ اُولِیۡ بَاۡسٍ
شَدِیۡدٍ فَجَاسُوۡا
خِلٰلَ الدِّیَارِ ؕ وَ کَانَ وَعۡدًا مَّفۡعُوۡلًا ﴿﴾ ثُمَّ رَدَدۡنَا لَکُمُ الۡکَرَّۃَ
عَلَیۡہِمۡ وَ اَمۡدَدۡنٰکُمۡ بِاَمۡوَالٍ وَّ بَنِیۡنَ وَ جَعَلۡنٰکُمۡ اَکۡثَرَ
نَفِیۡرًا ﴿﴾ اِنۡ اَحۡسَنۡتُمۡ اَحۡسَنۡتُمۡ لِاَنۡفُسِکُمۡ ۟ وَ اِنۡ اَسَاۡتُمۡ فَلَہَا ؕ فَاِذَا جَآءَ وَعۡدُ الۡاٰخِرَۃِ لِیَسُوۡٓءٗا وُجُوۡہَکُمۡ وَ لِیَدۡخُلُوا الۡمَسۡجِدَ کَمَا دَخَلُوۡہُ اَوَّلَ مَرَّۃٍ وَّ لِیُتَبِّرُوۡا
مَا عَلَوۡا تَتۡبِیۡرًا ﴿﴾
عَسٰی
رَبُّکُمۡ اَنۡ یَّرۡحَمَکُمۡ ۚ وَ اِنۡ عُدۡتُّمۡ عُدۡنَا ۘ وَ جَعَلۡنَا جَہَنَّمَ
لِلۡکٰفِرِیۡنَ حَصِیۡرًا ﴿﴾
Dan telah Kami tetapkan terhadap Bani Israil
dalam kitab itu: “Niscaya kamu akan melakukan kerusakan di muka bumi
ini dua kali, dan niscaya kamu
akan menyombongkan diri dengan kesombongan yang sangat besar.” Apabila datang saat sempurnanya
janji yang pertama dari kedua janji itu, Kami membangkitkan
untuk menghadapi kamu hamba-hamba Kami yang mempunyai kekuatan tempur yang
dahsyat, dan mereka menerobos jauh ke dalam rumah-rumah, dan itu
merupakan suatu janji yang pasti terlaksana. Kemudian Kami
mengembalikan lagi kepada kamu kekuatan untuk melawan mereka, dan Kami membantu kamu dengan harta dan
anak-anak, dan Kami menjadikan kelompok kamu lebih besar dari
sebelumnya. ا Jika kamu berbuat ihsan, kamu
berbuat ihsan bagi diri kamu sendiri,
dan jika kamu berbuat buruk maka itu untuk diri kamu sendiri. Lalu jika datang saat sempurnanya janji yang kedua itu Kami
membangkitkan lagi hamba-hamba Kami yang lain supaya mereka mendatangkan kesusahan kepada pemimpin-pemimpin kamu
dan supaya mereka memasuki masjid seperti pernah mereka memasukinya pada
ka-li pertama, dan supaya mereka
menghancurluluhkan segala yang telah me-reka kuasai. - Boleh
jadi kini Rabb (Tuhan) kamu
akan menaruh kasihan kepada kamu, tetapi jika kamu kembali kepada perbuatan buruk, Kami pun akan kembali menimpakan
hukuman dan ingatlah Kami telah jadikan Jahannam penjara bagi orang-orang kafir. (Bani
Israil [17]:5-9).
Penghukuman Allah Swt. Melalui Orang-orang
Kafir: Bangsa Assiria, Bangsa Mesir dan Bangsa Babilonia
Dua kali kedurhakaan
Bani Israil yang tersebut dalam kitab
Musa a.s. (Ulangan 28:15, 49-53, 63-64 & 30:15) disinggung dalam
ayat ini. Orang-orang kafir di kalangan Bani Israil yang senantiasa melakukan kedurhakaan kepada Allah Swt. dan para rasul Allah yang dibangkitkan di kalangan mereka (QS.2:88-89) telah
dua kali dikutuk yaitu pertama oleh Nabi Daud a.s. dan
yang kedua dikutuk Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.
(QS.5:79), dan sebagai akibatnya mereka telah dihukum pula dua kali
sebagaimana dikemukakan sebelumnya, firman-Nya:
لُعِنَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا مِنۡۢ
بَنِیۡۤ اِسۡرَآءِیۡلَ عَلٰی لِسَانِ
دَاوٗدَ وَ عِیۡسَی ابۡنِ مَرۡیَمَ ؕ
ذٰلِکَ بِمَا عَصَوۡا وَّ کَانُوۡا یَعۡتَدُوۡنَ ﴿﴾ کَانُوۡا
لَا یَتَنَاہَوۡنَ عَنۡ مُّنۡکَرٍ فَعَلُوۡہُ ؕ لَبِئۡسَ مَا کَانُوۡا
یَفۡعَلُوۡنَ ﴿﴾ تَرٰی
کَثِیۡرًا مِّنۡہُمۡ یَتَوَلَّوۡنَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا ؕ لَبِئۡسَ مَا قَدَّمَتۡ
لَہُمۡ اَنۡفُسُہُمۡ اَنۡ سَخِطَ اللّٰہُ عَلَیۡہِمۡ وَ فِی الۡعَذَابِ ہُمۡ
خٰلِدُوۡنَ ﴿﴾ وَ
لَوۡ کَانُوۡا یُؤۡمِنُوۡنَ بِاللّٰہِ وَ النَّبِیِّ وَ مَاۤ اُنۡزِلَ اِلَیۡہِ مَا اتَّخَذُوۡہُمۡ
اَوۡلِیَآءَ وَ لٰکِنَّ کَثِیۡرًا مِّنۡہُمۡ
فٰسِقُوۡنَ ﴿﴾
Orang-orang yang
kafir dari kalangan Bani Israil
telah dilaknat oleh lidah Daud
dan Isa ibnu Maryam, hal demikian itu karena mereka senantiasa durhaka dan melampaui batas. Mereka tidak
pernah saling mencegah dari kemungkaran yang dikerjakannya, benar-benar
sangat
buruk apa yang senantiasa mereka
kerjakan. Engkau melihat kebanyakan
dari mereka menjadikan orang-orang kafir
sebagai pelindung, dan benar-benar sangat buruk apa yang
telah mereka dahulukan bagi diri mereka yaitu bahwa Allah murka
kepada mereka, dan di dalam azab
inilah mereka akan kekal. Dan seandainya
mereka beriman kepada Allah, Nabi
ini, dan kepada apa yang
diturunkan kepadanya, mereka
sekali-kali tidak akan mengambil orang-orang itu sebagai pelindung-pelindungnya, tetapi kebanyakan
mereka adalah orang-orang fasiq (Al-Māidah [5]:79-82).
Azab
Ilahi yang pertama menimpa Bani
Israil sesudah Nabi Daud a.s. dan
yang kedua sesudah Nabi Isa Ibnu Maryam
a.s.. Nampak dari Bible bahwa sesudah
Nabi Musa a.s., orang-orang Yahudi telah menjadi suatu bangsa yang amat kuat,
dan di masa Nabi Daud a.s. mereka
meletakkan dasar suatu kerajaan kuat, yang setelah wafatnya –
yakni pada masa pemerintahan Nabi
Sulaiman a.s. -- untuk beberapa waktu terus berlanjut kejayaan dan kemuliaannya.
Kemudian setelah wafatnya Nabi
Sulaiman a.s. kerajaan Bani Israil itu menjadi sasaran kemunduran yang berangsur-angsur, dan pada sekitar 733 s.M. Samaria
ditaklukkan oleh bangsa Assiria, yang
mencaplok seluruh daerah Israil di sebelah utara Yezreel. Pada tahun 608 s.M., Palestina telah dilanda oleh satu
lasykar Mesir di bawah Firaun Necho,
dan Bani Israil takluk kepada
kekuasaan Mesir (Yewish Encyclopedia, Jilid 6, halaman
665).
Makna “Jasad Tanpa Ruh”
di Singgasana Nabi Sulaiman a.s.
Mengenai kemunduran kerajaan Bani
Israil setelah wafatnya Nabi Sulaiman a.s.
tersebut sebelumnya Allah Swt. telah memberitahukan-Nya kepada kepada
Nabi Sulaiman a.s. dalam bentuk kasyaf (penglihatan ruhani) bahwa para pewaris kerajaan Bani Israil setelah
Nabi Sulaiman a.s. adalah “bagaikan jasad
tanpa ruh” yang duduk di singgasana
Nabi Sulaiman a.s., firman-Nya:
فَلَمَّا قَضَیۡنَا عَلَیۡہِ الۡمَوۡتَ مَا دَلَّہُمۡ عَلٰی مَوۡتِہٖۤ اِلَّا دَآبَّۃُ الۡاَرۡضِ تَاۡکُلُ مِنۡسَاَتَہٗ ۚ فَلَمَّا
خَرَّ تَبَیَّنَتِ الۡجِنُّ اَنۡ لَّوۡ کَانُوۡا یَعۡلَمُوۡنَ الۡغَیۡبَ مَا
لَبِثُوۡا فِی الۡعَذَابِ الۡمُہِیۡنِ ﴿ؕ﴾
Maka tatkala Kami menentukan kematiannya,
sekali-kali tidak ada yang menunjukkan kematiannya kepada mereka
selain rayap bumi yang memakan tongkatnya. Lalu tatkala tongkat
itu jatuh, jin-jin mengetahui dengan
jelas bahwa seandainya mereka
mengetahui yang gaib, mereka
sekali-kali tidak akan tetap dalam azab
yang menghinakan (As-Saba’
[34]:15).
Putra
yang sia-sia sebagai penerus Nabi Sulaiman a.s., Rehoboam; di bawah pemerintahannya yang
lemah itu kerajaan Nabi Sulaiman a.s.
yang tadinya besar dan berkuasa telah menjadi berantakan (I Raja-raja, fatsal 12, 13, 14 & Jewish
Encyclopaedia di bawah “Rehoboam”).
Kehancuran dan keterpecahbelahan kerajaan Nabi Sulaiman
a.s. mulai berlaku pada masa pemerintahan
Rehoboam, dan oknum
yang memimpin gerakan bawah tanah -- yang dalam Al-Quran disebut secara kiasan
sebagai syaitan yang
mengajarkan “sihir” (QS.2:103) adalah
Jeroboam. Bahkan “makar buruk” yang dilakukan para pemberontak di kalangan kaum Yahudi
tersebut telah berlangsung di masa pemerintahan Nabi Daud a.s., antara lain
berupa upaya pembunuhan terhadap
beliau (QS.38:22-27).
Ayat tersebut
mengisyaratkan bahwa upaya-upaya
– berupa “gerakan rahasia” -- kaum Yahudi pada dua peristiwa yang telah lewat itu telah membawa hasil yang
berlainan. Pada peristiwa pertama, komplotan
mereka bertujuan untuk melawan Nabi
Sulaiman a.s. dan disudahi
dengan kehilangan seluruh kewibawaan
dan akhirnya mereka dibuang ke Babilonia oleh belatentara Raja
Nebukadnezar dengan terlebih dulu menghancur-luluhkan kota Yerusalem (QS.2:260). Pada peristiwa kedua mereka mengambil
cara-cara yang sama, di bawah pimpinan dua
wujud yang mendapat wahyu Ilahi -- yang disebut Harut dan Marut --
dan “gerakan rahasia” mereka
berhasil gilang-gemilang.
Dalam QS.2:103 perhatian orang-orang Yahudi di zaman Nabi Besar Muhammad saw. ditarik
kepada kenyataan bahwa pertama nenek-moyang
mereka pun telah melancarkan komplotan makar terhadap Nabi Sulaiman a.s., ketika
beberapa anggota masyarakatnya telah mendirikan perkumpulan-perkumpulan rahasia melawan beliau.
Di dalam perkumpulan-perkumpulan rahasia itu diajarkan lambang-lambang dan sandi-sandi (I Raja-raja 11:29-32; I Raja-raja 11:14, 23, 26; II Tawarikh
10:2-4) yang bertujuan menimbulkan kemudharatan
karena itu Allah Swt. menyebutnya sebagai “syaitan-syaitan yang mengajarkan sihir” di zaman kerajaan Sulaiman a.s.”
Tetapi hilangnya kekuasaan duniawi
mereka serta kehancuran dan ketelantaran mereka tidak mendorong
mereka untuk memperbaiki cara-cara mereka. Mereka dengan gigih
bertahan pada cara-cara buruk mereka
yang lama. Nabi Yermiah a.s. memperingatkan
mereka supaya meninggalkan cara-cara
buruk mereka, sebab kemurkaan Allah tidak lama lagi akan menimpa
mereka, tetapi mereka sama sekali tidak menghiraukan peringatan-peringatan Nabi
Yermiah a.s. tersebut.
Penghancuran Kota Yerusalem
yang Pertama oleh Kaum Musyrik Pimpinan Raja Nebukadnezar dari Babilonia
Di masa kerajaan Yehoyakim, Nebukadnezar dari Babilonia
melancarkan serbuan pertamanya ke Palestina dan membawa pulang perkakas rumah peribadatan, tetapi
ketika itu kota Yerusalem sendiri
selamat dari kekejaman akibat pengepungan. Pada tahun 597 s.M. pun kota itu
dikepung dan penduduknya mengalami kelaparan
yang sangat keras.
Tetapi pemberontakan raja Zedekia membawa akibat adanya serbuan kedua
oleh Nebukadnezar pada tahun 587
s.M., dan sesudah masa pengepungan yang berlangsung satu tahun setengah, kota
itu ditaklukkan dengan serangan cepat laksana halilintar. Putra-putranya
dibunuh dan matanya sendiri dicukil, dan dalam keadaan diborgol ia dibawa ke
Babilonia. Rumah peribadatan di
Yerusalem, istana raja, serta semua bangunan besar di kota Yerusalem dibumihanguskan, para imam besar, dan para pemimpin lain
dibunuh, dan sejumlah besar rakyat diboyong sebagai tawanan (Yewish Encyclopaedia Jilid 6,
hlm. 665 & Jilid 7, hlm. 122 pada kata “Yerusalem”).
Ada pun yang menarik adalah
bahwa orang-orang kafir yang telah dijadikan Allah Swt. sebagai “sarana” untuk menghukum Bani
Israil dua kali – yakni bangsa Babilonia dan bangsa Romawi yang musyrik -- telah disebut Allah Swt. “hamba-hamba Kami”, firman-Nya:
فَاِذَا جَآءَ وَعۡدُ اُوۡلٰىہُمَا بَعَثۡنَا عَلَیۡکُمۡ
عِبَادًا لَّنَاۤ اُولِیۡ بَاۡسٍ
شَدِیۡدٍ فَجَاسُوۡا خِلٰلَ الدِّیَارِ ؕ وَ کَانَ وَعۡدًا مَّفۡعُوۡلًا ﴿﴾
Apabila datang saat sempurnanya janji yang pertama dari
kedua janji itu, Kami membangkitkan untuk menghadapi kamu hamba-hamba
Kami yang mempunyai kekuatan tempur yang dahsyat, dan mereka menerobos jauh ke
dalam rumah-rumah, dan itu merupakan suatu janji yang pasti terlaksana.
(Bani Israil [17]:6).
Makna
ayat 7 “Kemudian Kami
mengembalikan lagi kepada kamu kekuatan untuk melawan mereka, dan Kami membantu
kamu dengan harta dan anak-anak, dan
Kami menjadikan kelompok kamu lebih besar dari sebelumnya.” Yakni orang-orang
Yahudi menyesuaikan diri mereka dengan keadaan baru di masa pembuangan di Babilonia.
Kebanyakan di antara mereka telah dipekerjakan pada pekerjaan-pekerjaan
umum di Babilonia Tengah, dan banyak dari
mereka pada akhirnya memperoleh kemerdekaan
dan mencapai kedudukan yang
berpengaruh. eyakinan dan pengabdian mereka kepada agama telah bangkit kembali;
kepustakaan kerajaan dipelajari, diterbitkan kembali, dan disesuaikan dengan
keperluan kaum yang sedang hidup kembali itu, serta harapan untuk mereka
kembali ke Palestina telah dikobarkan dan dipupuk. Kira-kira pada tahun 545
s.M., cita-cita ini memperoleh bentuk lebih jelas.
Makna Dua “Malaikat” -- Harut dan Marut -- di Babilonia
Kaum Yahudi di Babilonia membuat suatu perjanjian rahasia dengan Cyrus, raja Media dan Persia, dan
membantu beliau menaklukkan Babil.
Kota itu dalam bulan Juli tahun 539 s.M. jatuh kepada tentaranya tanpa
perlawanan. Sebagai ganjaran atas jasa-jasa mereka, Cyrus mengizinkan orang-orang Yahudi kembali ke Yerusalem dan juga membantu mereka
membangun kembali rumah peribadatan
mereka (Historians’ History of the
World, jilid II, hlm. 126; Jewish
Encyclopaedia jilid 7, pada kata “Cyrus”,
dan 2 Tawarikh 36:22, 23).
Syesybazzar (seorang gubernur
Cyrus) yang berasal dari Yudea, membawa kembali ke rumah peribadatan itu
alat-alat dan perkakas yang telah
dirampas oleh Nebukadnezar dan
merencanakan untuk menyelenggarakan pekerjaan ini dengan membelanjakan uang
kerajaan. Sejumlah besar orang buangan
kembali ke Yerusalem (Ezra, 1:3-5).
Pekerjaan pembangunan kembali rumah peribadatan
di Yerusalem berangsur-angsur maju
terus dan selesai pada tahun 516 s.M. Kejadian-kejadian ini dan kejayaan serta
kesejahteraan orang-orang Yahudi berikutnya itulah yang diisyaratkan oleh ayat
yang sedang dibahas ini. Tetapi semuanya itu telah dinubuatkan oleh Nabi Musa a.s. jauh sebelum hal itu sungguh-sungguh terjadi (Ulangan 30:1-5).
Mengisyaratkan kepada “gerakan rahasia” kedua yang dilakukan orang-orang Yahudi di Babilonia itulah yang dimaksud dengan
ungkapan kiasan “yang diajarkan dua
malaikat” -- Harut
dan Marut – dalam firman-Nya:
وَ اتَّبَعُوۡا
مَا تَتۡلُوا الشَّیٰطِیۡنُ عَلٰی مُلۡکِ سُلَیۡمٰنَ ۚ وَ مَا کَفَرَ سُلَیۡمٰنُ
وَ لٰکِنَّ الشَّیٰطِیۡنَ کَفَرُوۡا یُعَلِّمُوۡنَ النَّاسَ السِّحۡرَ ٭ وَ مَاۤ
اُنۡزِلَ عَلَی الۡمَلَکَیۡنِ بِبَابِلَ ہَارُوۡتَ وَ مَارُوۡتَ ؕ وَ مَا یُعَلِّمٰنِ مِنۡ اَحَدٍ
حَتّٰی یَقُوۡلَاۤ اِنَّمَا نَحۡنُ فِتۡنَۃٌ فَلَا تَکۡفُرۡ ؕ فَیَتَعَلَّمُوۡنَ
مِنۡہُمَا مَا یُفَرِّقُوۡنَ بِہٖ بَیۡنَ الۡمَرۡءِ وَ زَوۡجِہٖ ؕ وَ مَا ہُمۡ بِضَآرِّیۡنَ بِہٖ مِنۡ اَحَدٍ اِلَّا
بِاِذۡنِ اللّٰہِ ؕ وَ یَتَعَلَّمُوۡنَ مَا یَضُرُّہُمۡ وَ لَا یَنۡفَعُہُمۡ ؕ وَ لَقَدۡ عَلِمُوۡا لَمَنِ اشۡتَرٰىہُ مَا
لَہٗ فِی الۡاٰخِرَۃِ مِنۡ خَلَاقٍ ۟ؕ وَ لَبِئۡسَ مَا شَرَوۡا بِہٖۤ اَنۡفُسَہُمۡ
ؕ لَوۡ کَانُوۡا یَعۡلَمُوۡنَ ﴿﴾
Dan mereka mengikuti apa yang diikuti oleh syaithan-syaitan yakni para
pemberontak di masa kerajaan Sulaiman, dan bukan Sulaiman yang kafir melainkan syaitan-syaitan itulah yang kafir, mereka mengajarkan sihir kepada manusia.
Tetapi mereka itu mengaku mengikuti apa yang telah diturunkan
kepada dua malaikat, Harut dan Marut, di Babil. Dan keduanya tidaklah me-ngajar seorang pun hingga mereka mengatakan: “Sesungguhnya kami hanya cobaan dari
Tuhan, karena itu janganlah kamu kafir.” Lalu orang-orang belajar dari keduanya hal yang
dengan itu mereka membuat pemisahan di antara laki-laki dan istri-nya, dan mereka sekali-kali tidak mendatangkan
mudarat kepada se-orang pun dengan itu kecuali dengan seizin Allah, sedangkan mereka ini belajar hal yang mendatangkan mudarat
kepada diri mereka dan tidak
bermanfaat baginya.
Dan sungguh mereka benar-benar
mengetahui bahwa barangsiapa
berniaga dengan cara ini
niscaya tidak ada baginya suatu bagian keuntungan
di akhirat, dan benar-benar sangat
buruk hal yang un-tuk itu mereka menjual dirinya, seandainya mereka mengetahui (Al-Baqarah [2]:103).
Pengkhianatan dan Makar Buruk
Orang-orang Yahudi di Madinah
Sebelumnya telah dijelaskan bahwa yang
dimaksud dengan “syaitan-syaitan”
dalam ayat tersebut mengisyaraTkan para pemberontak
di zaman Nabi Sulaimanan a.s. yang dipimpin oleh Jeroboam, yang dalam “gerakan
makar buruknya” mereka menggunakan “sandi-sandi rahasia” yang bertujuan
buruk sehingga d Allah Swt. menyebut
mereka: یُعَلِّمُوۡنَ النَّاسَ السِّحۡرَ -- “mereka mengajarkan
sihir kepada manusia.”
Sihr
berarti: akal licik, dursila; sihir; mengadakan apa-apa yang palsu dalam bentuk
kebenaran; setiap kejadian yang sebab-sebabnya tersembunyi, dan disangka lain
dari kenyataannya (Lexicon Lane).
Jadi setiap kepalsuan, penipuan atau akal licik yang dimaksudkan untuk
menyembunyikan tujuan sebenarnya dari penglihatan orang, adalah termasuk sihir juga.
Kata “dua malaikat” dalam ayat: وَ مَاۤ اُنۡزِلَ عَلَی الۡمَلَکَیۡنِ
بِبَابِلَ ہَارُوۡتَ وَ مَارُوۡتَ -- “Tetapi mereka itu
mengaku mengikuti apa yang telah diturunkan kepada dua malaikat, Harut dan Marut, di Babil”
di sini maksudnya dua orang suci
(QS.12:32), sebab kedua malaikat itu
di sini diterangkan sebagai mengajar
sesuatu kepada orang banyak, padahal malaikat itu tidak pernah tinggal
bersama manusia dan tidak bergaul bebas dengan mereka (QS.17:95;
QS.21:8).
Harūt dan Marūt itu
keduanya nama sifat, yang pertama
berasal dari harata (yakni merobek — Aqrab-ul-Mawarid) berarti
“orang yang merobek”, dan yang kedua berasal dari marata
(artinya: ia memecahkan) berarti “orang yang memecahkan. Nama-nama itu mengandung arti bahwa tujuan munculnya
orang-orang suci itu adalah untuk
“merobek” dan “memecahkan” kemegahan dan kekuasaan kerajaan musuh-musuh kaum Bani Israil, yaitu kerajaan Babilonia.
Orang-orang suci ini pada waktu upacara pelantikan menerangkan kepada
anggota-anggota baru bahwa mereka itu
semacam percobaan dari Allah Swt. untuk maksud memisahkan
antara yang baik dan yang buruk. Mereka membatasi keanggotaan perkumpulan mereka hanya
pada kaum pria. Itulah makna ayat: فَیَتَعَلَّمُوۡنَ مِنۡہُمَا مَا
یُفَرِّقُوۡنَ بِہٖ بَیۡنَ الۡمَرۡءِ وَ
زَوۡجِہٖ -- “Lalu orang-orang
belajar dari keduanya hal yang dengan itu mereka membuat pemisahan di antara
laki-laki dan istri-nya.”
Ayat itu berarti bahwa
orang-orang Yahudi pada masa Nabi Besar Muhammad saw. ikut-ikutan
dalam rencana dan perbuatan jahat yang sama, seperti
halnya yang menjadi ciri nenek-moyang
mereka di zaman pemerintahan Nabi Sulaiman a.s..
Dikatakan selanjutnya bahwa perusuh-perusuh di zaman Nabi Sulaiman
a.s. adalah pemberontak-pemberontak
yang menuduh beliau sebagai orang kafir.
Ayat ini membersihkan Nabi Sulaiman
a.s. dari tuduhan kafir.
Ditambahkannya bahwa pemberontak-pemberontak
di zaman Nabi Sulaiman a.s. itu
mengajarkan kepada rekan-rekan mereka sandi-sandi
(lambang-lambang rahasia) yang mengandung
arti yang sama sekali berbeda dari arti yang umumnya dipahami,
dengan tujuan menipu orang dan menyembunyikan maksud sebenarnya. Itulah sebabnya Allah Swt. telah menyebut orang-orang kafir tersebut
sebagai “syaitan-syaitan yang
mengajarkan sihir.”
Ayat ini mengisyaratkan kepada sekongkol rahasia yang dilancarkan para penentang Nabi Sulaiman a.s. terhadap
beliau. Dengan jalan itu mereka berusaha menghancurkan
kerajaannya. Hal itu mengandung arti bahwa
orang-orang Yahudi Medinah pun mempergunakan pula siasat kotor yang sama terhadap Nabi Besar Muhammad saw. tetapi mereka gagal-total dalam rencana-rencana jahatnya itu.
Pengusiran Tiga Suku
Yahudi Dari Medinah
Sebagaimana akkibat penentangan yang dilakukan orang-orang
Yahudi terhadap Nabi Daud a.s. dan Nabi
Sulaiman a.s. tersebut telah mengakibatkan mereka dibuang ke Babilonia oleh balatentara raja Nebukadnezar, demikian pula orang-orang Yahudi yang
tinggal di Medinah pun -- karena
melakukan “makar buruk” yang sama
terhadap Nabi Besar Muhammad saw.. (QS.2:103)
-- mereka pun diusir dari Madinah
lalu mereka mendirikan pemukiman dan benteng
pertahanan di Khaibar.
Tetapi “benteng” yang mereka banggakan tersebut terbukti tidak mampu melindungi mereka dari kepungan pasukan Muslim yang dipimpin oleh Ali
bin Abi Thalib r.a. yang dipilih secara khusus oleh Nabi Besar Muhammad
saw. -- padahal ketika itu beliau sedang
menderita sakit mata -- firman-Nya:
ہُوَ الَّذِیۡۤ اَخۡرَجَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا مِنۡ اَہۡلِ
الۡکِتٰبِ مِنۡ دِیَارِہِمۡ لِاَوَّلِ
الۡحَشۡرِ ؕؔ مَا ظَنَنۡتُمۡ اَنۡ
یَّخۡرُجُوۡا وَ ظَنُّوۡۤا اَنَّہُمۡ مَّانِعَتُہُمۡ حُصُوۡنُہُمۡ مِّنَ
اللّٰہِ فَاَتٰىہُمُ اللّٰہُ مِنۡ حَیۡثُ
لَمۡ یَحۡتَسِبُوۡا ٭ وَ قَذَفَ فِیۡ قُلُوۡبِہِمُ
الرُّعۡبَ یُخۡرِبُوۡنَ بُیُوۡتَہُمۡ
بِاَیۡدِیۡہِمۡ وَ اَیۡدِی
الۡمُؤۡمِنِیۡنَ ٭ فَاعۡتَبِرُوۡا
یٰۤاُولِی الۡاَبۡصَارِ ﴿﴾ وَ
لَوۡ لَاۤ اَنۡ کَتَبَ اللّٰہُ عَلَیۡہِمُ الۡجَلَآءَ لَعَذَّبَہُمۡ فِی الدُّنۡیَا ؕ وَ لَہُمۡ فِی الۡاٰخِرَۃِ عَذَابُ النَّارِ ﴿﴾ ذٰلِکَ بِاَنَّہُمۡ
شَآقُّوا اللّٰہَ وَ رَسُوۡلَہٗ ۚ وَ مَنۡ یُّشَآقِّ اللّٰہَ
فَاِنَّ اللّٰہَ شَدِیۡدُ الۡعِقَابِ ﴿﴾ مَا قَطَعۡتُمۡ مِّنۡ لِّیۡنَۃٍ
اَوۡ تَرَکۡتُمُوۡہَا
قَآئِمَۃً عَلٰۤی اُصُوۡلِہَا فَبِاِذۡنِ اللّٰہِ وَ لِیُخۡزِیَ
الۡفٰسِقِیۡنَ ﴿﴾
Dia-lah Yang mengeluarkan orang-orang yang kafir di
antara Ahlikitab dari rumah-rumah mereka
pada pengusiran pertama. Kamu sekali-kali
tidak menyangka bahwa mereka akan keluar, dan mereka pun menyangka bahwa benteng-benteng akan
melindungi mereka dari keputusan Allah, maka Allah
datang kepada mereka dari arah mana yang tidak mereka sangka, dan Dia melemparkan kecemasan dalam kalbu
mereka, sehingga mereka merobohkan
rumah mereka dengan tangan mereka sendiri dan dengan tangan orang-orang beriman, maka ambillah pelajaran hai orang-orang yang memiliki penglihatan. Dan seandainya tidak karena Allah telah menetapkan
pengusiran terhadap mereka, niscaya Allah telah mengazab mereka di dunia ini juga, dan bagi mereka di akhirat ada azab Api. Hal demikian itu karena mereka menentang Allah dan Rasul-Nya, dan barangsiapa
menentang Allah, maka sesungguhnya
azab Allāh sangat keras. Pohon kurma apa saja jenisnya yang kamu tebang
atau kamu membiarkannya berdiri pada
akar-akarnya maka itu dengan izin
Allah, supaya Dia menghinakan
orang-orang durhaka (Al-Hasyr
[59]:3-6).
Di Medinah tinggal tiga golongan suku Yahudi yaitu Banu Qainuqa’, Banu Nadhir, dan Banu
Quraizhah. Ayat ini mengisyaratkan kepada pengusiran
Banu Nadhir dari Medinah. Suku ini sama seperti suku Qainuqa’ sebelum mereka, telah berlaku khianat terhadap Nabi Besar Muhammad saw. dan kaum Muslimin pada beberapa
peristiwa. Mereka menjalin jaringan
komplotan dan memasuki persekutuan-persekutuan
rahasia dengan musuh-musuh Islam
untuk tujuan mengadakan perlawanan
terhadap Nabi Besar Muhammad saw. dan kaum Muslimin.
Orang-orang Yahudi berulang-ulang melanggar perjanjian mereka dan mengkhianati
persetujuan-persetujuan resmi untuk tetap berdiri netral di antara Nabi Besar Muhammad saw. dengan musuh-musuh beliau saw., dan
bahkan telah berkomplot hendak membunuh beliau saw.. Pemimpin mereka, Ka'b bin Asyraf, pergi ke Mekkah untuk
mengumpulkan bala bantuan dari kaum
Quraisy dan dari suku-suku musyrik
lain di sekitar Mekkah untuk mengusir
Nabi Besar Muhammad saw. dan kaum Muslimin
dari Medinah.
Sesudah kekalahan sementara
yang diderita oleh kaum Muslimin di Uhud,
kasak-kusuk dan perlawanan terhadap Nabi Besar Muhammad saw. kian menjadi-jadi. Maka setelah keaniayaan mereka melampaui batas serta kehadiran mereka di Medinah ternyata selalu
merupakan sumber bahaya kematian kaum
Muslimin dan negara Islam, baru pada saat itulah Nabi Besar Muhammad saw. mengambil
tindakan terhadap mereka. Beliau saw.
memerintahkan mengepung benteng
mereka dan, setelah mereka dengan sia-sia bertahan
selama 21 hari, pada akhirnya mereka menyerah.
Mereka diperintahkan
meninggalkan Medinah lalu mereka
semua berangkat ke Siria, kecuali dua
keluarga memilih tetap tinggal di Khaibar.
Nabi Besar Muhammad saw. luar
biasa baik hati dan lemah-lembutnya terhadap mereka. Beliau saw.
mengizinkan mereka membawa harta-benda dan ternak mereka. Mereka bertolak dengan aman dari Medinah, tetapi
mereka tidak berbuat demikian sebelum mereka dihinggapi rasa putus asa dari mendapat bantuan yang dinanti-nanti mereka dari
sekutu-sekutu mereka di Mekkah dan dari kaum muna-fikin di Medinah, dan lagi pula
telah terbukti bahwa benteng mereka,
yang mereka duga tidak terbobolkan
itu, ternyata tidak dapat menyelamatkan mereka.
Mengingat rencana jahat dan tipu-daya orang-orang Yahudi, persekongkolan-persekongkolan
dan perkomplotan-perkomplotan rahasia
mereka, serta perbuatan khianat dan kepalsuan yang dibuktikan mereka
berulang-ulang, pula pelanggaran perjanjian-perjanjian
resmi yang terjadi setiap kali, maka hukuman
yang dijatuhkan Nabi Besar Muhamad saw. atas mereka itu sungguh amat ringan sekali.
Orang-orang Yahudi di Madinah
Melakukan “Politik Bumi Hangus”
Isyarat di dalam
kata-kata: لِاَوَّلِ الۡحَشۡرِ -- “pada waktu
pengusiran pertama”, dapat ditujukan kepada pengusiran
terhadap Banu Qainuqa’ dari Medinah sesudah Pertempuran Badar, atau kata-kata itu dapat pula tertuju kepada pengusiran dari Medinah terhadap ketiga suku Yahudi tersebut di atas oleh
Nabi Besar Muhamad saw.. Itulah
pengusiran mereka yang pertama.
Tetapi Umar bin Khaththab r.a., Khalifah kedua Nabi Besar Muhamad saw. mengusir seluruh orang Yahudi dari daerah Arab selebihnya untuk yang kedua kalinya dan yang terakhir. Jadi, kata-kata: لِاَوَّلِ الۡحَشۡرِ -- “pada waktu
pengusiran pertama”, itu dapat dianggap
mengandung suatu kabar gaib bahwa
sesudah suku-suku bangsa Yahudi Medinah diusir
oleh Nabi Besar Muhammad saw. semua orang
Yahudi akan mengalami nasib yang sama
pada waktu kemudian.
Mengingat akan sumber-sumber daya materi, persekutuan
politik, dan organisasi orang-orang Yahudi di Medinah, kaum
Muslim tidak pernah dapat membayangkan
betapa orang-orang Yahudi bisa diusir
dari Medinah dengan begitu mudah
tanpa kehilangan jiwa manusia pada
kedua belah pihak.
Makna ayat: وَ قَذَفَ فِیۡ
قُلُوۡبِہِمُ الرُّعۡبَ
یُخۡرِبُوۡنَ بُیُوۡتَہُمۡ
بِاَیۡدِیۡہِمۡ وَ اَیۡدِی
الۡمُؤۡمِنِیۡنَ ٭ فَاعۡتَبِرُوۡا
یٰۤاُولِی الۡاَبۡصَارِ -- “dan Dia
melemparkan kecemasan
dalam kalbu mereka, sehingga mereka
merobohkan rumah mereka dengan tangan mereka sendiri dan dengan tangan orang-orang beriman, maka ambillah pelajaran hai orang-orang yang memiliki penglihatan.”
Sebelum berangkat dari
Medinah, Banu Nadhir telah membumi-hanguskan dengan tangan mereka
sendiri rumah-rumah mereka serta kekayaan yang tidak bergerak lainnya di
hadapan mata kaum Muslimin. Nabi Besar Muhammad saw. telah memberi tempo 10 hari untuk
menyelesaikan urusan mereka sebagaimana diinginkan oleh mereka. Jadi, orang-orang Yahudi Medinah adalah yang
pertama-tama menjalankan politik
bumi-hangus, berabad-abad sebelum bangsa Rusia melakukan serupa itu dalam Perang Dunia kedua.
Pembuangan Banu
Nadhir dari Medinah merupakan suatu hukuman
yang amat ringan. Mereka selayaknya mendapat hukuman yang lebih berat lagi;
dan seandainya mereka tidak dibuang,
niscaya mereka telah mendapat hukuman
keras dengan suatu cara lain itulah makna ayat: وَ لَوۡ لَاۤ اَنۡ کَتَبَ اللّٰہُ عَلَیۡہِمُ الۡجَلَآءَ لَعَذَّبَہُمۡ فِی الدُّنۡیَا ؕ وَ لَہُمۡ فِی الۡاٰخِرَۃِ عَذَابُ النَّارِ -- “Dan seandainya tidak karena Allah telah
menetapkan pengusiran terhadap mereka, niscaya Allah telah mengazab mereka di dunia ini juga,
dan bagi mereka di akhirat ada
azab Api.”.
Yang diisyaratkan ayat: مَا قَطَعۡتُمۡ مِّنۡ لِّیۡنَۃٍ
اَوۡ تَرَکۡتُمُوۡہَا
قَآئِمَۃً عَلٰۤی اُصُوۡلِہَا فَبِاِذۡنِ اللّٰہِ وَ لِیُخۡزِیَ
الۡفٰسِقِیۡنَ -- “Pohon
kurma apa saja jenisnya
yang kamu tebang atau kamu
membiarkannya berdiri pada akar-akarnya maka itu dengan izin Allah, supaya Dia
menghinakan orang-orang durhaka” adalah penebangan pohon-pohon
korma milik Banu Nadhir atas perintah Nabi Besar Muhammad saw. seperti dinyatakan dalam ayat 3, telah
mengurung diri mereka di dalam benteng-benteng
mereka sebagai tentangan terhadap perintah beliau saw. supaya mereka menyerah.
Setelah pengepungan
berlangsung beberapa hari Nabi Besar
Muhammad saw. memerintahkan untuk memaksa
mereka menyerah dengan mene-bangi pohon-pohon kurma mereka dari
jenis linah yang mutu buahnya sangat buruk dan sama
sekali tidak berguna untuk dimakan manusia (Ar-Raudh-al-Unuf). Baru saja enam pohon ditebang, mereka
menyerah (Zurqani). Perintah Nabi Besar Muhammad saw. itu sangat ringan, lunak, dan sungguh
sesuai dengan hukum perang yang beradab.
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran
Anyar, 25 Februari
2017
Tidak ada komentar:
Posting Komentar