Minggu, 12 Februari 2017

Kedatangan "Rasul Akhir Zaman" Untuk Melakukan "Penghakiman" Mengenai "Perselisihan" di Kalangan Umat Beragama & "Akibat Buruk" Keliru Memahami "Bahasa Nubuatan" yang Penuh "Kiasan""



Bismillaahirrahmaanirrahiim

  ISLAM
Pidato  Mirza Ghulam Ahmad a.s.
Tgl. 2 November 1904 di Kota Sialkote – Hindustan

Bab  18

KEDATANGAN  RASUL AKHIR ZAMAN  UNTUK MELAKUKAN PENGHAKIMAN  MENGENAI “PERSELISIHAN” DI KALANGAN  UMAT BERAGAMA &  AKIBAT BURUK  KELIRU   MEMAHAMI BAHASA NUBUATAN YANG PENUH KIASAN  

Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam bagian akhir Bab 17 telah dijelaskan topik    Alasan Rasul Akhir Zaman Muncul di “Hindustanmengenai makna    firman Allah Swt. dalam surah Al-An’ām ayat 166:   وَ ہُوَ الَّذِیۡ جَعَلَکُمۡ خَلٰٓئِفَ الۡاَرۡضِ وَ رَفَعَ بَعۡضَکُمۡ فَوۡقَ بَعۡضٍ دَرَجٰتٍ لِّیَبۡلُوَکُمۡ فِیۡ مَاۤ  اٰتٰکُمۡ  --  “Dan Dia-lah Yang menjadikan kamu penerus-penerus di bumi, dan Dia meninggikan sebagian kamu dari sebagian yang lain dalam derajat  supaya Dia menguji kamu dengan apa pun yang telah Dia berikan kepada kamu”  sekaligus merupakan anjuran dan peringatan kepada kaum Muslimin. Mereka diberitahu bahwa  -- sebagai “umat terbaik” (QS.2:144; QS.3:111) -- kepada mereka akan dianugerahkan kekuatan serta kekuasaan (QS.24:56), dan tugas mengatur urusan bangsa-bangsa (al-mudābbir) akan diserahkan ke tangan mereka (QS.79:1-6).
  Umat Islam sebagai “umat terbaik” yang diciptakan  untuk memberikan manfaat kepada umat manusia (QS.2:144; QS.3:111), mereka harus melaksanakan kewajiban mereka dengan tidak-berat-sebelah dan adil, sebab mereka harus mempertanggung-jawabkan tugas kewajiban mereka  kepada Wujud Yang Menjadikan mereka, yaitu Allah Swt., karena Allah Swt. telah menjadikan umat Islam  sebagai “umat terbaik” (QS.3:111)   untuk menjadi  al-wasath  (wasit) dan “syāhid” (saksi/penjaga) manusia – QS.2:144).
  Di Akhir Zaman ini penggenapan nubuatan kejayaan Islam yang kedua kali tersebut   dimulai  dengan pengutusan Mirza Ghulam Ahmad a.s. (QS.1835-1908)  -- yang lahir di kampung Qadian, wilayah Punjab – Hindustan  -- sebagai  Masih Mau’ud a.s. atau misal nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (QS.43:58)  serta  sebagai Rasul Akhir Zaman dengan nama yang berlainan  bagi setiap umat beragama (QS.77:1-20)   -- yang diutus Allah Swt.  di kalangan  umat Islam pada masa   puncak kemundurannya  selama 1000 tahun setelah mengalami 3 abad masa kejayaan yang pertama (QS.32:6). 
  Al-Masih Mau’ud a.s. yang juga sebagai Imam Mahdi a.s.   –  “lā mahdiy illa ‘Isa”   --  itulah yang menurut Nabi Besar Muhammad saw.  telah dijadikan Allah Swt. “Hakim yang adil” guna “memutuskan” segala macam bentuk “perselisihan” yang terjadi  di kalangan semua umat beragama, dan secara khusus di kalangan umat Islam berdasarkan ketentuan Al-Quran dan Sunnah Nabi Besar Muhammad saw. sesuai  petunjuk wahyu Ilahi  yang beliau terima, sehingga ajaran Islam (Al-Quran) yang diwahyukan Allah Swt. kepada Nabi Besar Muhammad saw.   tanpa mazbah” apa pun maka di   di Akhir Zaman ini   ajaran Islam (Al-Quran)  akan kembali tanpa “mazhab” apa pun, sehingga  dapat diterima oleh  semua umat beragama  yang benar-benar mencari kebenaran yang hakiki (QS.61:10).
  Sehubungan dengan  pentingnya adalah  “penghakiman” dari Allah Swt. mengenai berbagai “perselisihan” di kalangan umat beragama  tersebut Nabi Besar Muhammad saw. bersabda:  
Dari Abu Hurairah r.a., katanya Rasulullah saw, bersabda: “Demi Allah yang jiwaku di tangan-Nya, sesungguhnya telah dekat masanya ‘Isa anak Maryam akan turun di tengah-tengah kamu. Dia akan menjadi hakim yang adil, akan menghancurkan salib, akan membunuh babi,  akan menghapuskan  jijyah (pajak), dan akan membagikan kekayaan yang  melimpah ruah, sehingga tidak seorang pun lagi yang bersedia menerima pemberian  (Shahih Muslim no. 127 dan Hadits Shahih Bukhari no. 1090).

Imam Mahdi Hakaman ‘Adlan (Hakim yang Adil)   

        Demikian parahnya perselisihan  masalah  agama yang terjadi  di kalangan  semua umat beragama di Akhir Zaman ini, sehingga timbul ratusan –  bahkan  ribuan – sekte agama  atau firqah-fiqrah serta mazhab-mazhab keagamaan (QS.30:31-33; QS.6:160), yang masing-masing mendakwakan sebagai  pihak yang benar, sedangkan agama, sekte, firqah serta mazhab pihak-pihak lainnya sesat dan menyesatkan.
        Untuk   melakukan “penghakiman” terhadap “perselisihan” yang sangat parah  tersebut sama sekali bukan wewenang negara atau pun lembaga buatan manusia,  melainkan sepenuhnya merupakan wewenang Allah Swt. untuk melakukannya, yaitu melalui pengutusan rasul Allah yang kedatangannya dijanjikan kepada semua umat beragama (QS.7:35-37) sebagai   Hakaman ‘Adlan (Hakim yang adil), yang dengan petunjuk Allah Swt. melalui wahyu-Nya akan  memutuskan dengan benar berbagai perselisihan  yang terjadi di kalangan umat beragama, firman-Nya:
مَا  کَانَ اللّٰہُ لِیَذَرَ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ عَلٰی مَاۤ  اَنۡتُمۡ عَلَیۡہِ حَتّٰی یَمِیۡزَ  الۡخَبِیۡثَ مِنَ الطَّیِّبِ ؕ وَ مَا کَانَ اللّٰہُ لِیُطۡلِعَکُمۡ عَلَی الۡغَیۡبِ وَ لٰکِنَّ اللّٰہَ یَجۡتَبِیۡ مِنۡ رُّسُلِہٖ مَنۡ یَّشَآءُ ۪ فَاٰمِنُوۡا بِاللّٰہِ وَ رُسُلِہٖ ۚ وَ  اِنۡ تُؤۡمِنُوۡا وَ تَتَّقُوۡا فَلَکُمۡ  اَجۡرٌ  عَظِیۡمٌ ﴿﴾
Allah sekali-kali tidak akan  membiarkan orang-orang yang beriman di dalam keadaan kamu berada di dalamnya   hingga  Dia memisahkan yang buruk dari yang baik. Dan Allah sekali-kali tidak akan  memperlihatkan  yang gaib kepada kamu, tetapi Allah memilih  di antara rasul-rasul-Nya siapa yang Dia kehendaki, karena itu berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, dan jika kamu beriman dan bertakwa, maka bagi kamu ganjaran yang besar. (Ali ‘Imran [3]:180).
Firman-Nya lagi:
عٰلِمُ الۡغَیۡبِ فَلَا یُظۡہِرُ عَلٰی غَیۡبِہٖۤ اَحَدًا ﴿ۙ﴾  اِلَّا مَنِ ارۡتَضٰی مِنۡ رَّسُوۡلٍ فَاِنَّہٗ یَسۡلُکُ مِنۡۢ  بَیۡنِ یَدَیۡہِ  وَ مِنۡ خَلۡفِہٖ رَصَدًا ﴿ۙ﴾  لِّیَعۡلَمَ  اَنۡ  قَدۡ  اَبۡلَغُوۡا رِسٰلٰتِ رَبِّہِمۡ وَ اَحَاطَ بِمَا لَدَیۡہِمۡ وَ اَحۡصٰی کُلَّ  شَیۡءٍ عَدَدً   ﴿ۙ﴾
Dia-lah Yang mengetahui yang gaib, maka Dia tidak menzahirkan rahasia gaib-Nya kepada siapa pun, kecuali kepada Rasul yang Dia ridhai, maka sesungguhnya barisan pengawal berjalan di hadapannya dan di belakangnya, supaya Dia mengetahui bahwa  sungguh  mereka telah menyampaikan Amanat-amanat Tuhan mereka, dan Dia meliputi semua yang ada pada mereka dan Dia membuat perhitungan mengenai segala sesuatu. (Al-Jin [72]:27-29).
   Ungkapan, “izhhar ‘ala al-ghaib” berarti: diberi pengetahuan dengan sering dan secara berlimpah-limpah mengenai rahasia gaib bertalian dengan dan mengenai peristiwa dan kejadian yang sangat penting.  Ayat ini merupakan ukuran yang tiada tara bandingannya guna membedakan antara sifat dan jangkauan rahasia-rahasia gaib yang dibukakan kepada seorang rasul Allah dan rahasia-rahasia gaib yang dibukakan kepada orang-orang   beriman  yang bertakwa lainnya.
  Perbedaan itu letaknya pada kenyataan bahwa, kalau rasul-rasul Allah dianugerahi izhhar ‘ala al-ghaib yakni penguasaan atas yang gaib, maka rahasia-rahasia yang diturunkan kepada orang-orang bertakwa dan orang-orang suci lainnya tidak menikmati kehormatan serupa itu.
  Tambahan pula wahyu yang dianugerahkan kepada rasul-rasul Allah, karena ada dalam pemeliharaan-istimewa-Ilahi, keadaannya aman dari pemutar-balikkan atau pemalsuan oleh jiwa-jiwa yang jahat, sedang rahasia-rahasia yang dibukakan kepada orang-orang bertakwa lainnya tidak begitu terpelihara.
  Wahyu rasul-rasul Allah itu dijamin keamanannya terhadap pemutarbalikkan atau pemalsuan, sebab para rasul itu membawa tugas dari Allah yang harus dipenuhi dan mengemban Amanat Ilahi yang harus disampaikan oleh mereka.

Misal Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.  Bukan Imam Mahdi  “Penumpah Darah” & Persamaan Bani Isma’il (umat) Islam dengan Bani Israil  (Yahudi dan Nasrani)

      Atas atas dasar itulah Nabi Besar Muhammad Saw. telah menyebut Rasul Akhir Zaman tersebut -- selain sebagai misal Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (QS.43:58)  atau   Al-Masih Mau’ud a.s. – juga sebagai Imam Mahdi a.s. -   Hakaman ‘Adlan (Hakim yang adil)  -- bukan Imam MahdiPenumpah Darah” yang akan memutuskan perkara melalui cara-cara paksaan dan  kekerasan, sebagaimana yang secara keliru difahami  --firman-Nya:
وَ لَمَّا ضُرِبَ ابۡنُ مَرۡیَمَ  مَثَلًا  اِذَا قَوۡمُکَ مِنۡہُ  یَصِدُّوۡنَ ﴿﴾   وَ قَالُوۡۤاءَ اٰلِہَتُنَا خَیۡرٌ اَمۡ ہُوَ ؕ مَا ضَرَبُوۡہُ  لَکَ  اِلَّا جَدَلًا ؕ بَلۡ ہُمۡ قَوۡمٌ خَصِمُوۡنَ ﴿﴾  اِنۡ ہُوَ اِلَّا عَبۡدٌ اَنۡعَمۡنَا عَلَیۡہِ وَ جَعَلۡنٰہُ  مَثَلًا   لِّبَنِیۡۤ   اِسۡرَآءِیۡلَ ﴿ؕ﴾
Dan apabila Ibnu Maryam dikemukakan  sebagai misal tiba-tiba kaum engkau meneriakkan penentangan terhadapnya, dan mereka berkata: "Apakah tuhan-tuhan kami lebih baik ataukah dia?" Mereka tidak menyebutkan hal itu kepada engkau melainkan perbantahan semata. Bahkan mereka adalah kaum yang biasa berbantah.  Ia tidak lain melainkan seorang hamba yang telah Kami  anugerahi nikmat kepadanya, dan Kami menjadikan dia suatu perumpamaan  bagi Bani Israil. (Al-Zukhruf [43]:58-60). 
    Shadda (yashuddu) berarti: ia menghalangi dia dari sesuatu, dan shadda (yashiddu) berarti: ia mengajukan sanggahan (protes) (Aqrab-ul-Mawarid). Lawan bicara Allah Swt. dalam ayat 58  adalah Nabi Besar Muhammad saw., dan makna kalimat qaumuka (kaum engkau) adalah umat Islam, bukan  kaum musyrik Arabiya, sebab bangsa Arab jahiliyah sama sekali tidak berkepentingan dengan masalah Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. atau pun misal Nabi Isa Ibnu Maryam a.s..
     Perlu juga dijelaskan, bahwa walau pun benar kalimat qaumuka (kaum engkau) tertuju kepada umat Islam, tetapi bukan umat Islam   di masa Nabi Besar Muhammad saw. dan di masa para Khulafatur- Rasyidah r.a. melainkan umat Islam di Akhir Zaman pada masa  pengutusan kedua kali secara ruhani Nabi Besar Muhammad saw.  (QS.63:3-5), dalam wujud misal Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. atau Al-Masih Mau’ud a.s. (QS.43:58).
        Dengan demikian sempurnalah sabda Nabi Besar Muhammad saw. tentang adanya persamaan  -- seperti “persamaan sepasang sepatu” -- antara umat beliau saw. (umat Islam/Bani Ismail) dengan umat sebelumnya (Yahudi dan Nasrani/Bani Israil), yakni:
   (1)  Sebagaimana silsilah kenabian di kalangan Bani Israil dimulai dengan pengutusan Nabi Musa a.s. dan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.; demikian pula di kalangan Bani Isma’il pun silsilah kenabian diawali dengan pengutusan misal Nabi Musa  a.s. yakni Nabi Besar Muhammad saw. (QS.46:11) dan diakhiri dengan misal Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (QS.43:58), yakni Mirza Ghulam Ahmad a.s., Pendiri Jemaat Ahmadiyah.
      (2)  Sebagaimana pada masa kedatangan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. di kalangan kaum Yahudi telah terpecah-belah dalam berbagai macam sekte atau firqah – yang utama adalah tiga golongan, yaitu:  golongan Farisi, golongan Saduki, dan golongan Essenes;  demikian pula  pada masa kedatangan misal Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (Al-Masih Mau’ud a.s.) pun,   kalangan umat Islam  dalam keadaan terpecah-belah  dalam berbagai sekte dan firqah,   yang utama ada 3 golongan yakni: Golongan Ahlus-Sunnah, golongan Syiah, dan golongan  penganut Tashawuf.
     (3)  Semua para pemuka sekte-sekte di kalangan kaum Yahudi sepakat melakukan pendustaan dengan mengeluarkan berbagai fatwa dusta dan melakukan penentangan – bahkan berupaya membunuh Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. melalui penyaliban (QS.4:158-159);  hal yang sama terjadi juga terhadap misal Nabi Isa Ibnu Maryam a.s., yakni Mirza Ghulam Ahmad a.s., sebagaimana digambarkan  dalam   QS. 43:58-59.
      (4) Makna “tuhan-tuhan” dalam pernyataan mereka  "Apakah tuhan-tuhan kami lebih baik ataukah dia?"   mengisyaratkan kefanatikan buta mereka terhadap para apa pun yang dikatakan atau difatwakan pemimpin firqah (sekte) yang menentang Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. maupun yang menentang misal Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. di Akhir Zaman ini, sehingga mereka itu seakan-akan telah “dipertuhankan” oleh para pengikutnya yang fanatik buta. Mengenai hal tersebut Allah Swt. berfirman:
وَ قَالَتِ الۡیَہُوۡدُ عُزَیۡرُۨ  ابۡنُ اللّٰہِ وَ قَالَتِ النَّصٰرَی الۡمَسِیۡحُ  ابۡنُ  اللّٰہِ ؕ ذٰلِکَ قَوۡلُہُمۡ بِاَفۡوَاہِہِمۡ ۚ یُضَاہِـُٔوۡنَ  قَوۡلَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا مِنۡ قَبۡلُ ؕ قٰتَلَہُمُ اللّٰہُ ۚ۫ اَنّٰی  یُؤۡفَکُوۡنَ ﴿﴾  اِتَّخَذُوۡۤا اَحۡبَارَہُمۡ وَ رُہۡبَانَہُمۡ اَرۡبَابًا مِّنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ وَ الۡمَسِیۡحَ ابۡنَ مَرۡیَمَ ۚ وَ مَاۤ  اُمِرُوۡۤا  اِلَّا  لِیَعۡبُدُوۡۤا  اِلٰـہًا  وَّاحِدًا ۚ لَاۤ اِلٰہَ  اِلَّا ہُوَ ؕ سُبۡحٰنَہٗ عَمَّا یُشۡرِکُوۡنَ ﴿﴾  یُرِیۡدُوۡنَ  اَنۡ یُّطۡفِـُٔوۡا نُوۡرَ اللّٰہِ بِاَفۡوَاہِہِمۡ وَ یَاۡبَی اللّٰہُ  اِلَّاۤ  اَنۡ  یُّتِمَّ  نُوۡرَہٗ وَ لَوۡ  کَرِہَ  الۡکٰفِرُوۡنَ ﴿﴾  ہُوَ الَّذِیۡۤ  اَرۡسَلَ رَسُوۡلَہٗ  بِالۡہُدٰی وَ دِیۡنِ الۡحَقِّ لِیُظۡہِرَہٗ عَلَی الدِّیۡنِ کُلِّہٖ ۙ وَ لَوۡ کَرِہَ  الۡمُشۡرِکُوۡنَ ﴿﴾
Dan  orang-orang Yahudi berkata: “Uzair adalah  anak Allah”, dan orang-orang Nasrani berkata: “Al-Masih adalah  anak  Allah.” Demikian itulah perkataan mereka dengan mulutnya, mereka  meniru-niru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Allah membinasakan mereka, bagaimana mereka sampai dipa-lingkan dari Tauhid?      Mereka telah menjadikan ulama-ulama mereka dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah, dan begitu juga Al-Masih ibnu Maryam, padaha mereka tidak diperintahkan melainkan supaya mereka menyembah Tuhan Yang Mahaesa. Tidak ada Tuhan kecuali Dia. Maha-suci Dia dari apa yang mereka sekutukan. Mereka berkehendak memadamkan cahaya Allah  dengan mulut mereka, tetapi Allah menolak bahkan menyempurnakan cahaya-Nya, walau pun orang-orang kafir tidak menyukai.    Dia-lah Yang telah mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk dan agama yang haq (benar), supaya Dia mengunggulkannya atas semua agama walau-pun orang-orang musyrik tidak menyukainya. (At-Taubah [9]:30-33).
      ‘Uzair atau Ezra hidup pada abad kelima sebelum Masehi. Beliau keturunan Seraya, imam agung, dan karena beliau sendiri pun anggota Dewan Imam dan dikenal sebagai Imam Ezra. Beliau termasuk seorang tokoh terpenting di masanya dan mempunyai pengaruh yang luas sekali dalam mengembangkan agama Yahudi. Beliau mendapat kehormatan khas di antara nabi-nabi Israil.
   Orang-orang Yahudi di Medinah dan suatu mazhab Yahudi di Hadramaut, mempercayai beliau sebagai anak Allah. Para Rabbi (pendeta-pendeta Yahudi) menghubungkan nama beliau dengan beberapa lembaga-lembaga penting. Renan mengemukakan dalam mukadimah bukunya “History of the People of Israel” bahwa bentuk agama Yahudi yang-pasti dapat dianggap berwujud semenjak masa Ezra. Dalam kepustakaan golongan Rabbi, beliau dianggap patut jadi wahana pengemban syariat seandainya syariat itu tidak dibawa oleh Nabi Musa a.s.  Beliau bekerjasama dengan Nehemya dan wafat pada usia 120 tahun di Babil (Yewish Encyclopaedia   & Encyclopaedia Biblica).

Kemusyrikan  Identik Dengan  Perpecahan Umat Beragama

    Ahbar adalah ulama-ulama Yahudi dan Ruhban adalah para rahib agama Nasrani, sebutan-sebutan tersebut   ada juga di kalangan umat Islam, yakni golongan  ‘ulama dan golongan  sufi atau faqir yang menjadi sentral terjadinya perpecahan di kalangan umat Islam, sebagaimana yang dikemukan firman Allah Swt. berikut ini:
فَاَقِمۡ  وَجۡہَکَ لِلدِّیۡنِ حَنِیۡفًا ؕ فِطۡرَتَ اللّٰہِ  الَّتِیۡ فَطَرَ  النَّاسَ عَلَیۡہَا ؕ لَا تَبۡدِیۡلَ  لِخَلۡقِ اللّٰہِ ؕ ذٰلِکَ الدِّیۡنُ الۡقَیِّمُ ٭ۙ وَ لٰکِنَّ  اَکۡثَرَ النَّاسِ لَا یَعۡلَمُوۡنَ ﴿٭ۙ﴾  مُنِیۡبِیۡنَ اِلَیۡہِ وَ اتَّقُوۡہُ  وَ اَقِیۡمُوا الصَّلٰوۃَ  وَ لَا تَکُوۡنُوۡا مِنَ الۡمُشۡرِکِیۡنَ ﴿ۙ﴾  مِنَ الَّذِیۡنَ فَرَّقُوۡا دِیۡنَہُمۡ  وَ کَانُوۡا شِیَعًا ؕ کُلُّ  حِزۡبٍۭ بِمَا لَدَیۡہِمۡ فَرِحُوۡنَ ﴿﴾
Maka hadapkanlah wajah engkau kepada agama yang lurus, yaitu fitrat Allah, yang atas dasar itu  Dia menciptakan manusia, tidak ada perubahan dalam penciptaan Allah,  itulah agama yang lurus,  tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. Kembalilah kamu kepada-Nya dan bertakwalah kepada-Nya serta dirikanlah shalat, وَ لَا تَکُوۡنُوۡا مِنَ الۡمُشۡرِکِیۡنَ  -- dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang musyrik, مِنَ الَّذِیۡنَ فَرَّقُوۡا دِیۡنَہُمۡ  وَ کَانُوۡا شِیَعًا ؕ کُلُّ  حِزۡبٍۭ بِمَا لَدَیۡہِمۡ فَرِحُوۡنَ  --   Yaitu orang-orang yang memecah-belah agamanya dan mereka menjadi golongan-golongan,  tiap-tiap golongan bangga dengan apa yang ada pada mereka. (Al-Rum [30]:31-33).
     Tuhan adalah  Esa dan kemanusiaan itu satu, inilah fithrat Allah dan dīnul-fithrah — satu agama yang berakar dalam fitrat manusia — dan terhadapnya manusia menyesuaikan diri dan berlaku secara naluri. Di dalam agama inilah seorang bayi dilahirkan akan tetapi lingkungannya, cita-cita dan kepercayaan-kepercayaan orang tuanya, serta didikan dan ajaran yang diperolehnya dari mereka itu, kemudian membuat dia Yahudi, Majusi atau Kristen (Bukhari).
    Hanya semata-mata percaya kepada Kekuasaan mutlak dan Keesaan Tuhan, -- yang sesungguhnya hal itu merupakan asas pokok agama yang hakiki --  adalah tidak cukup. Suatu agama yang benar harus memiliki peraturan-peraturan dan perintah-perintah tertentu. Dari semua peraturan dan perintah itu shalat adalah yang harus mendapat prioritas utama.
   Penyimpangan dari agama sejati menjuruskan umat di zaman lampau kepada perpecahan dalam bentuk aliran-aliran yang saling memerangi dan menyebabkan sengketa di antara mereka. Kenyataan tersebut terjadi pula di kalangan umat Islam di Akhir Zaman ini, yakni terjerumus kepada sejenis “kemusyrikan”  berupa  terjadinya perpecahan umat akibat “menyembah” para pemuka sekte dan firqah  di lingkungan umat Islam, berikut firman-Nya kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
اِنَّ الَّذِیۡنَ فَرَّقُوۡا دِیۡنَہُمۡ  وَ کَانُوۡا  شِیَعًا لَّسۡتَ مِنۡہُمۡ فِیۡ شَیۡءٍ ؕ اِنَّمَاۤ  اَمۡرُہُمۡ  اِلَی اللّٰہِ ثُمَّ یُنَبِّئُہُمۡ بِمَا کَانُوۡا یَفۡعَلُوۡنَ ﴿﴾
Sesungguhnya   orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan menjadi golongan-golongan, engkau  sedikit pun tidak mempunyai kepentingan dengan mereka. Sesungguhnya  urusan mereka terserah kepada Allah, kemudian Dia akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan. (Al-An’ām [6]:160).

Hubungan Al-Masih a.s. dengan “Hindustan

Dalam  bagian akhir Bab sebelumnya pun telah dikemukakan jawaban pertanyaan: Mengapa Allah Swt. mengutus Rasul Akhir Zaman    yakni Masih Mau’ud a.s. atau Imam Mahdi a.s.  sebagai “Hakim yang adil”  -- yang kedatangannya ditunggu-tunggu oleh semua umat beragama   dengan nama yang berlainan – tersebut di wilayah Hindustan? Berikut adalah beberapa alasannya:
      1. Wilayah Hindustan merupakan tempat berkumpulnya berbagai macam bangsa dan suku-bangsa dari berbagai macam ras dan etnis, serta  tempat berkumpulnya agama serta sekte-sekte agama dan  berbagai kepercayaan lainnya: Hindu (Sanātana Dharma), Buddha, Yahudi, Kristen, Islam, Sikh, Freethinker, penganut Atheisme dan berbagai macam aliran kepercayaan, kebatinan, dan gerakan  pembaruan, seperti  seperti Brahmo Samaj dan   Arya Samaj, yaitu   gerakan reformasi Hindu yang diprakarsai oleh Swami Dayananda, dan didirikan pada tanggal 7 April 1875.  Gerakan ini bermaksud mengamalkan Weda sebagaimana mestinya, dan mengesampingkan kitab-kitab yang ditulis setelah Weda. Gerakan ini bersifat monoteistis karena tidak mengakui dewa-dewi tertentu,  serta menolak pemujaan Tuhan dengan sarana patung atau lukisan.
       2. Wilayah Hindustan merupakan target penyebaran agama Kristen selain benua Afrika dan tempat-tempat lainnya yang mendompleng keberhasilan  Ya’juj (Gog) dan Ma’juj (Magog) melakukan  penguasaan wilayah yang merupakan “sumber komoditi” armada niaga mereka  (Wahyu 20:7-10; QS.18:19-23 & 84-102; QS.21:96-101).
        3. Di wilayah Hindustan dan Afganistan terdapat  keturunan  10 suku  Bani Israil  yang hilang   yang menjadi tugas utama Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (Al-Masih) untuk mencari  “domba-domba Israil” yang hilang tersebut (Yohanes 10:10-16), termasuk  di wilayah Kasymir,  tempat terakhir beliau mengakhiri tugasnya, beliau wafat di sana  serta jenazahnya dikuburkan di  kampung  Khan Yar – Shrinagar, sedangkan jenazah  ibunda beliau, Maryam binti ‘Imran, dikuburkan di kota Muree (dibaca: Mari yakni Maryam) yang kemudian menjadi wilayah Pakistan (QS.23:51).
    4. Dalam surah Yā Sīn ayat  14-33 dikemukakan perumpamaan “sebuah kota” yang kepada penduduknya diutus 4 orang rasul Allah. Tetapi berbeda dengan tiga orang rasul Allah yang diutus sebelumnya -- yang berasal dari wilayah “kota” itu  yakni wilayah Timur Tengah --  pengutusan rasul Allah yang keempat berasal dari “bagian terjauh dari kota itu” (QS.36:21-30), yakni  “ia datang  berlari-lari” dari luar wilayah Timur-Tengah, yaitu Hindustan.
   5. Semua umat berbagai agama yang berada di Hindustan tersebut  mempercayai kedatangan seorang “pahlawan agama” di Akhir Zaman   -- dengan nama yang berlainan: Shri Krishna, Buddha Meitreya, Mesiah, Al-Masih, Mesio  Darbahmi,  Imam Mahdi dll.  -- yang   mereka percayai akan mengunggulkan agamanya atas  agama-agama lainnya,    demikian juga halnya dengan kepercayaan   umat Islam  (QS.61:10).

Makna Hadits-hadits Tentang Kedatangan Imam Mahdi a.s. & Makna “Tangan Paling Panjang” Istri Nabi Besar Muhammad Saw. 

   Jadi, pengutusan Masih Mau’ud a.s. atau misal Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (QS.43:58) atau Rasul Akhir Zaman (QS.61:10; QS.62:3-4) atau Imam Mahdi a.s. – yakni Mirza Ghulam Ahmad a.s. –   di wilayah Hindustan yang  terletak sebelah timur  Jazirah Arabia tersebut merupakan takdir Allah Swt. yang penuh hikmah, karena di wilayah Hindustan terletak pegunungan Himalaya yang memiliki puncak tertinggi di dunia yaitu  Mounth Everest (8848) yang senantiasa diliputi salju abadi.
      Hal yang sangat menakjubkan adalah ternyata hadits  Nabi Besar  Muhammad saw.  -- berkenaan dengan  pentingnya melakukan baiat kepada Imam Mahdi a.s.  --  beliau saw. menyinggung salju:
“Ketika kalian melihatnya (kehadiran Imam Mahdi), maka berbai’at-lah dengannya walaupun harus merangkak-rangkak di atas salju karena sesungguhnya dia adalah Khalifatullah Al-Mahdi.” (HR Abu Dawud, 4074).
       Berikut ini beberapa sabda Nabi Besar Muhammad saw. berkenaan dengan Imam Mahdi a.s.  yang untuk memahami hakikatnya memerlukan penjelasan,   sebab pada umumnya  ayat-ayat Kitab-kitab suci mau pun sabda-sabda para rasul Allah berupa nubuatan (kabar gaib)  menggunakan bahasa misal (perumpamaan). Contohnya mengenai  makna “tangan yang paling panjang” berkenaan salah seorang istri Nabi Besar Muhammad saw. yang akan lebih dulu wafat setelah kewafatan Nabi Besar Muhammad saw..
     Zainab binti Jahzy r.a.  -- yang pernah menjadi istri Zaid bin Haritsah r.a.  (QS.33:37-41)  -- menjadi satu-satunya istri Nabi Besar Muhammad saw. yang berasal dari kerabat dekatnya sendiri, sehingga beliau saw. tidak perlu meminta ijin jika ingin memasuki rumahnya, sedangkan kepada istri-istri lainnya beliau saw.  selalu meminta izin. Tak ayal  hal tersebut membuat kecemburuan di antara istri Nabi Besar Muhammad saw.
       Zainab binti Jahzy r.a.   juga adalah perempuan baik nan mulia, dia bekerja dengan kedua tangannya, menyamak kulit dan kemudian hasilnya ia sedekahkan di jalan Allah dengan dibagi-bagikan kepada orang miskin. Bahkan Aisyah r.a. bersaksi setelah meninggalnya Zainab: “Telah pergi wanita yang mulia dan rajin beribadah, menyantuni para yatim dan para janda.”
        Kemudian  Aisyah r.a.  berkata lagi: “Rasulullah saw. pernah bersabda kepada para istrinya, ‘Orang yang paling cepat menyusulku di antara kalian adalah yang paling panjang tangannya.” Maka apabila kami berkumpul, sepeninggal beliau kami mengukur tangan kami di dinding, untuk mengetahui siapakah yang paling panjang tangannya di antara kami.
       Hal itu kami lakukan terus hingga wafatnya Zainab binti Jahsy r.a., kami tidak mendapatkan yang paling panjang tangannya di antara kami. Maka ketika itu barulah kami mengetahui bahwa yang dimaksud dengan “panjang tangan”  yang dimaksud oleh Rasulullah saw.  adalah banyak sedekah. Adapun Zainab Jahzy r.a.   bekerja dengan tangannya menyamak kulit kemudian dia sedekahkan di jalan Allah.   Zainab binti Jahzy r.a. adalah istri Rasulullah yang pertama kali wafat menyusul beliau saw. pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab r.a..
       Ternyata makna “tangan yang paling panjang” yang dimaksud oleh Nabi Besar Muhammad saw. berkenaan salah seorang istri beliau saw. yang akan wafat setelah kewafatan beliau saw.  tersebut – yakni Zainab binti Jahsy r.a.  –  maknanya berbeda dengan  arti  peribahasa “panjang tangan” yaitu “orang yang suka  mencuri.”

Pentingnya Memahami “Bahasa Nubuatan” yang Penuh Kiasan & Akibat Buruk Keliru Menafsirkan “Bahasa Kiasan”

       Karena itu betapa pentingnya memahami bahasa nubuatan  yang dikemukakan Nabi Besar Muhammad saw. berkenaan   kedatangan  Imam Mahdi  a.s.,   Nabi Isa Ibnu Maryam  a.s.Dajjal – dengan  berbagai kiasan mengenai keluarbiasaan kemampuannya – mengenai makna  keledai Dajjal, Tanda-tanda Akhir Zaman dan  makna Akhir Zaman atau Kiamat  dan sebagainya.
       Kekeliruan para pemuka Yahudi dalam memahami makna nubuatan kedatangan kedua kali Nabi Elia menjelang kedatangan  Al-Masih (Mesiah) (Malaekhi 4:5-6; Matius 11:7-15) telah menjerumuskan mereka menjadi    maghdhub (yang dimurkai Allah Swt.   -- QS.1:7), sebab kekeliruan penafsiran mereka telah mengakibatkan mereka secara berturut-turut mendustakan Nabi Yahya a.s., Nabi Isa Ibnu Maryam a.s., dan  mendustakan  Nabi Besar Muhammad saw. yang nubuatannya mereka ketahui bagaikan mereka mengenal anak-anak mereka sendiri (QS.2:147; Yohanes 1:19-28), padahal ketiga rasul Allah itulah yang dimaksud  nubuatan Bible  berkenaan  (1) kedatangan kedua kali Nabi Elia a.s. (Nabi Yahya  a.s.), (2) kedatangan Al-Masih (Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.) dan (3) kedatangan “nabi yang seperti Musa” atau “nabi yang akan datang” (Ulangan 18: 15-19) atau “Roh kebenaran  yang datang membawa seluruh kebenaran” (Yohanes 16:12-14) atau “Dia yang datang dalam nama Tuhan” (Matius 23:37-39) yakni Nabi Besar Muhammad saw. (QS.7:158-159).
     Demikian pula kekeliruan menafsirkan peristiwa penyaliban Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. yang sangat misterius  dan “menggelincirkan” orang-orang yang berhati bengkok (QS.3:8 & QS.4:158-159)  telah menjadikan mereka dalam surah Al-Fatihah  disebut  dhāllīn (orang-orang yang sesat) dari Tauhid Ilahi (QS.1:7; QS.9:30-32).
    Kembali kepada sabda Nabi Besar Muhammad saw. sebelum ini mengenai pentingnya melakukan baiat kepada Khalifatullah Al-Mahdi:
“Ketika kalian melihatnya (kehadiran Imam Mahdi)  maka berbai’atlah dengannya walaupun harus merangkak-rangkak di atas salju karena sesungguhnya dia adalah Khalifatullah Al-Mahdi.” (HR Abu Dawud, 4074).
    Perintah melakukan “baiat” kepada Imam Mahdi a.s. dengan ungkapan “walaupun harus merangkak-rangkak di atas salju”  memiliki hubungan yang sangat  erat dan mengandung makna yang sangat dalam, karena itu  perlu memahami makna “bai’at”, sebagaimana firman-Nya kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
اِنَّ  الَّذِیۡنَ یُبَایِعُوۡنَکَ  اِنَّمَا یُبَایِعُوۡنَ اللّٰہَ ؕ یَدُ اللّٰہِ  فَوۡقَ  اَیۡدِیۡہِمۡ ۚ فَمَنۡ  نَّکَثَ فَاِنَّمَا یَنۡکُثُ عَلٰی نَفۡسِہٖ ۚ وَ مَنۡ  اَوۡفٰی بِمَا عٰہَدَ عَلَیۡہُ اللّٰہَ  فَسَیُؤۡتِیۡہِ  اَجۡرًا عَظِیۡمًا ﴿٪﴾
Sesungguhnya orang-orang yang baiat kepada engkau sebenarnya mereka baiat kepada  Allah.  یَدُ اللّٰہِ  فَوۡقَ  اَیۡدِیۡہِمۡ  -- Tangan Allah ada di atas tangan mereka, maka barangsiapa melanggar janjinya maka ia melanggar janji atas  dirinya sendiri, dan barangsiapa memenuhi apa yang telah  dia  janjikan kepada Allah maka Dia segera akan memberinya ganjaran yang besar (Al-Fath [48]:11).
  Isyarat itu ditujukan kepada sumpah setia (bai’at) para sahabah r.a.  di tangan Nabi Besar Muhammad saw.  di bawah sebatang pohon di Hudaibiyah (QS.48:10;  Bukhari), ketika tersebar  isu bahwa Utsman bin ‘Affan r.a.  -- sebagai duta  Nabi Besar Muhammad saw. untuk  melakukan perundingan  dengan para pemimpin kafir Mekkah agar mengizinkan beliau saw. dan para sahabah r.a.  memasuki Mekkah guna melakukan ‘umrah  --  telah dibunuh.
   Baiat merupakan Sunnah Nabi Besar Muhammad saw. yang diamalkan umat dalam pada waktu pemilihan Khalifatur-Rasyidin dan para pemimpin umat Islam selanjutnya.  Melakukan  bai’at kepada  Nabi Besar Muhammad saw. artinya melakukan  “jual-beli”  dengan Allah Swt.  dengan “perantaraan” beliau saw..:  اِنَّ  الَّذِیۡنَ یُبَایِعُوۡنَکَ  اِنَّمَا یُبَایِعُوۡنَ اللّٰہَ -- “Sesungguhnya orang-orang yang baiat kepada engkau sebenarnya mereka baiat kepada  Allah,      یَدُ اللّٰہِ  فَوۡقَ  اَیۡدِیۡہِمۡ  -- “Tangan Allah ada di atas tangan mereka (QS.48:11). Dalam surah berikut ini Allah Swt. berfirman:  
اِنَّ اللّٰہَ اشۡتَرٰی مِنَ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ اَنۡفُسَہُمۡ وَ اَمۡوَالَہُمۡ بِاَنَّ لَہُمُ الۡجَنَّۃَ ؕ یُقَاتِلُوۡنَ فِیۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ فَیَقۡتُلُوۡنَ وَ یُقۡتَلُوۡنَ ۟ وَعۡدًا عَلَیۡہِ حَقًّا فِی التَّوۡرٰىۃِ وَ الۡاِنۡجِیۡلِ وَ الۡقُرۡاٰنِ ؕ وَ مَنۡ اَوۡفٰی بِعَہۡدِہٖ مِنَ اللّٰہِ فَاسۡتَبۡشِرُوۡا بِبَیۡعِکُمُ الَّذِیۡ بَایَعۡتُمۡ بِہٖ ؕ وَ  ذٰلِکَ ہُوَ الۡفَوۡزُ  الۡعَظِیۡمُ ﴿﴾
Sesungguhnya   Allah telah membeli dari orang-orang beriman jiwa mereka dan harta mereka sesungguhnya mereka akan memperoleh ganjaran surga. Mereka berperang pada jalan Allah, lalu mereka membunuh dan  terbunuh, janji yang haq (benar) atas-Nya  dalam TauratInjil dan Al-Quran. وَ مَنۡ اَوۡفٰی بِعَہۡدِہٖ مِنَ اللّٰہِ فَاسۡتَبۡشِرُوۡا بِبَیۡعِکُمُ الَّذِیۡ بَایَعۡتُمۡ بِہٖ   -- Dan siapakah yang lebih menepati  janjinya  daripada Allah? Maka bergembiralah kamu dengan jual-beli yang telah kamu lakukan dengan-Nya, وَ  ذٰلِکَ ہُوَ الۡفَوۡزُ  الۡعَظِیۡمُ  -- dan itulah kemenangan yang besar  (At-Taubah [9]:111).

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid

oo0oo

Pajajaran Anyar, 11    Februari  2017

Tidak ada komentar:

Posting Komentar