Bismillaahirrahmaanirrahiim
ISLAM
Pidato Mirza Ghulam Ahmad a.s.
Tgl. 2 November 1904
di Kota Sialkote – Hindustan
Bab 18
KEDATANGAN RASUL AKHIR ZAMAN UNTUK MELAKUKAN PENGHAKIMAN MENGENAI “PERSELISIHAN” DI KALANGAN UMAT
BERAGAMA & AKIBAT BURUK KELIRU MEMAHAMI BAHASA NUBUATAN YANG PENUH KIASAN
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam
bagian akhir Bab 17 telah dijelaskan topik Alasan Rasul Akhir Zaman Muncul di “Hindustan” mengenai makna firman Allah Swt. dalam surah Al-An’ām ayat 166: وَ ہُوَ الَّذِیۡ جَعَلَکُمۡ خَلٰٓئِفَ الۡاَرۡضِ وَ رَفَعَ
بَعۡضَکُمۡ فَوۡقَ بَعۡضٍ دَرَجٰتٍ لِّیَبۡلُوَکُمۡ فِیۡ مَاۤ اٰتٰکُمۡ
-- “Dan Dia-lah Yang menjadikan kamu penerus-penerus di bumi, dan Dia meninggikan sebagian kamu dari sebagian yang lain dalam derajat supaya Dia menguji kamu dengan apa
pun yang telah Dia berikan kepada kamu”
sekaligus merupakan anjuran
dan peringatan kepada kaum Muslimin. Mereka diberitahu bahwa -- sebagai “umat terbaik” (QS.2:144; QS.3:111) -- kepada mereka akan dianugerahkan
kekuatan serta kekuasaan (QS.24:56), dan tugas mengatur
urusan bangsa-bangsa (al-mudābbir)
akan diserahkan ke tangan mereka (QS.79:1-6).
Umat Islam
sebagai “umat terbaik” yang
diciptakan untuk memberikan manfaat kepada umat manusia (QS.2:144; QS.3:111),
mereka harus melaksanakan kewajiban
mereka dengan tidak-berat-sebelah dan
adil, sebab mereka harus mempertanggung-jawabkan tugas kewajiban
mereka kepada Wujud Yang Menjadikan mereka, yaitu Allah Swt., karena Allah Swt. telah menjadikan umat Islam sebagai “umat
terbaik” (QS.3:111) untuk menjadi al-wasath
(wasit) dan “syāhid” (saksi/penjaga) manusia – QS.2:144).
Di Akhir Zaman ini penggenapan nubuatan kejayaan Islam yang kedua kali tersebut dimulai
dengan pengutusan Mirza Ghulam
Ahmad a.s. (QS.1835-1908) -- yang
lahir di kampung Qadian, wilayah
Punjab – Hindustan -- sebagai
Masih Mau’ud a.s. atau misal nabi Isa Ibnu Maryam a.s.
(QS.43:58) serta sebagai Rasul
Akhir Zaman dengan nama yang
berlainan bagi setiap umat beragama
(QS.77:1-20) -- yang diutus Allah
Swt. di kalangan umat
Islam pada masa puncak kemundurannya selama 1000
tahun setelah mengalami 3 abad masa kejayaan yang pertama
(QS.32:6).
Al-Masih Mau’ud a.s. yang juga sebagai Imam
Mahdi a.s. – “lā
mahdiy illa ‘Isa” -- itulah yang menurut Nabi Besar Muhammad
saw. telah dijadikan Allah Swt. “Hakim yang adil” guna “memutuskan”
segala macam bentuk “perselisihan”
yang terjadi di kalangan semua umat beragama, dan secara khusus di
kalangan umat Islam berdasarkan
ketentuan Al-Quran dan Sunnah Nabi Besar Muhammad saw. sesuai petunjuk
wahyu Ilahi yang beliau terima,
sehingga ajaran Islam (Al-Quran) yang
diwahyukan Allah Swt. kepada Nabi
Besar Muhammad saw. tanpa “mazbah” apa pun maka di di Akhir
Zaman ini ajaran Islam (Al-Quran) akan
kembali tanpa “mazhab” apa pun,
sehingga dapat diterima oleh semua umat beragama yang benar-benar mencari kebenaran yang hakiki (QS.61:10).
Sehubungan
dengan pentingnya adalah “penghakiman” dari Allah Swt. mengenai
berbagai “perselisihan” di kalangan umat beragama tersebut Nabi Besar Muhammad saw. bersabda:
Dari Abu Hurairah r.a., katanya Rasulullah saw, bersabda: “Demi Allah yang
jiwaku di tangan-Nya, sesungguhnya
telah dekat masanya ‘Isa anak Maryam
akan turun di tengah-tengah kamu. Dia akan
menjadi hakim yang adil, akan menghancurkan salib, akan membunuh babi, akan menghapuskan jijyah (pajak), dan akan membagikan kekayaan
yang melimpah ruah, sehingga tidak seorang pun lagi yang bersedia menerima
pemberian” (Shahih Muslim no. 127 dan Hadits Shahih
Bukhari no. 1090).
Imam Mahdi Hakaman
‘Adlan (Hakim yang Adil)
Demikian parahnya perselisihan masalah
agama yang terjadi di
kalangan semua umat beragama di Akhir
Zaman ini, sehingga timbul ratusan –
bahkan ribuan – sekte agama atau firqah-fiqrah serta mazhab-mazhab
keagamaan (QS.30:31-33; QS.6:160), yang masing-masing mendakwakan
sebagai pihak yang benar, sedangkan agama,
sekte, firqah serta mazhab pihak-pihak lainnya sesat
dan menyesatkan.
Untuk melakukan “penghakiman” terhadap “perselisihan”
yang sangat parah tersebut sama sekali
bukan wewenang negara atau pun lembaga buatan
manusia, melainkan sepenuhnya merupakan wewenang
Allah Swt. untuk melakukannya, yaitu melalui pengutusan rasul Allah yang
kedatangannya dijanjikan kepada semua umat beragama (QS.7:35-37)
sebagai Hakaman ‘Adlan (Hakim yang adil), yang
dengan petunjuk Allah Swt. melalui wahyu-Nya akan memutuskan dengan benar
berbagai perselisihan yang
terjadi di kalangan umat beragama, firman-Nya:
مَا کَانَ اللّٰہُ لِیَذَرَ
الۡمُؤۡمِنِیۡنَ عَلٰی مَاۤ اَنۡتُمۡ
عَلَیۡہِ حَتّٰی یَمِیۡزَ الۡخَبِیۡثَ
مِنَ الطَّیِّبِ ؕ وَ مَا کَانَ اللّٰہُ لِیُطۡلِعَکُمۡ عَلَی الۡغَیۡبِ وَ
لٰکِنَّ اللّٰہَ یَجۡتَبِیۡ مِنۡ رُّسُلِہٖ مَنۡ یَّشَآءُ ۪ فَاٰمِنُوۡا بِاللّٰہِ
وَ رُسُلِہٖ ۚ وَ اِنۡ تُؤۡمِنُوۡا وَ
تَتَّقُوۡا فَلَکُمۡ اَجۡرٌ عَظِیۡمٌ ﴿﴾
Allah sekali-kali tidak akan
membiarkan orang-orang yang beriman di dalam keadaan kamu berada
di dalamnya hingga Dia
memisahkan yang buruk dari yang baik. Dan Allah sekali-kali tidak akan memperlihatkan yang gaib kepada kamu, tetapi Allah memilih di antara rasul-rasul-Nya siapa yang Dia
kehendaki, karena itu berimanlah
kamu kepada Allah dan rasul-rasul-Nya,
dan jika kamu beriman dan bertakwa, maka bagi kamu ganjaran yang besar. (Ali
‘Imran [3]:180).
Firman-Nya lagi:
عٰلِمُ الۡغَیۡبِ فَلَا یُظۡہِرُ عَلٰی غَیۡبِہٖۤ اَحَدًا ﴿ۙ﴾ اِلَّا مَنِ ارۡتَضٰی
مِنۡ رَّسُوۡلٍ فَاِنَّہٗ یَسۡلُکُ مِنۡۢ
بَیۡنِ یَدَیۡہِ وَ مِنۡ خَلۡفِہٖ
رَصَدًا ﴿ۙ﴾ لِّیَعۡلَمَ اَنۡ
قَدۡ اَبۡلَغُوۡا رِسٰلٰتِ
رَبِّہِمۡ وَ اَحَاطَ بِمَا لَدَیۡہِمۡ وَ اَحۡصٰی کُلَّ شَیۡءٍ عَدَدً ﴿ۙ﴾
Dia-lah Yang mengetahui yang gaib, maka Dia tidak menzahirkan rahasia
gaib-Nya kepada siapa pun, kecuali kepada
Rasul yang Dia ridhai, maka sesungguhnya
barisan pengawal berjalan di hadapannya dan di belakangnya, supaya
Dia mengetahui bahwa sungguh mereka telah menyampaikan Amanat-amanat Tuhan
mereka, dan Dia meliputi
semua yang ada pada mereka dan Dia
membuat perhitungan mengenai segala sesuatu. (Al-Jin [72]:27-29).
Ungkapan, “izhhar ‘ala al-ghaib” berarti:
diberi pengetahuan dengan sering dan secara berlimpah-limpah mengenai rahasia gaib bertalian dengan dan
mengenai peristiwa dan kejadian yang
sangat penting. Ayat ini merupakan
ukuran yang tiada tara bandingannya guna membedakan antara sifat dan jangkauan rahasia-rahasia gaib yang dibukakan
kepada seorang rasul Allah dan rahasia-rahasia gaib yang dibukakan
kepada orang-orang beriman
yang bertakwa lainnya.
Perbedaan itu letaknya pada kenyataan bahwa,
kalau rasul-rasul Allah dianugerahi izhhar
‘ala al-ghaib yakni penguasaan atas yang gaib, maka rahasia-rahasia
yang diturunkan kepada orang-orang
bertakwa dan orang-orang suci
lainnya tidak menikmati kehormatan
serupa itu.
Tambahan pula wahyu yang dianugerahkan kepada rasul-rasul
Allah, karena ada dalam pemeliharaan-istimewa-Ilahi,
keadaannya aman dari pemutar-balikkan
atau pemalsuan oleh jiwa-jiwa yang jahat, sedang rahasia-rahasia yang dibukakan kepada orang-orang bertakwa lainnya tidak
begitu terpelihara.
Wahyu rasul-rasul
Allah itu dijamin keamanannya terhadap pemutarbalikkan
atau pemalsuan, sebab para rasul itu membawa tugas dari Allah yang harus dipenuhi dan mengemban Amanat Ilahi yang harus disampaikan oleh
mereka.
Misal Nabi Isa
Ibnu Maryam a.s. Bukan Imam Mahdi “Penumpah Darah” & Persamaan Bani Isma’il (umat) Islam dengan Bani Israil (Yahudi dan Nasrani)
Atas
atas dasar itulah Nabi Besar Muhammad Saw. telah menyebut Rasul Akhir Zaman
tersebut -- selain sebagai misal Nabi
Isa Ibnu Maryam a.s. (QS.43:58)
atau Al-Masih Mau’ud a.s. – juga sebagai Imam Mahdi a.s. - Hakaman ‘Adlan (Hakim yang adil) -- bukan Imam
Mahdi “Penumpah Darah” yang akan memutuskan perkara
melalui cara-cara paksaan dan kekerasan,
sebagaimana yang secara keliru difahami
--firman-Nya:
وَ لَمَّا ضُرِبَ ابۡنُ مَرۡیَمَ
مَثَلًا اِذَا قَوۡمُکَ
مِنۡہُ یَصِدُّوۡنَ ﴿﴾ وَ
قَالُوۡۤاءَ اٰلِہَتُنَا خَیۡرٌ اَمۡ ہُوَ ؕ مَا ضَرَبُوۡہُ لَکَ
اِلَّا جَدَلًا ؕ بَلۡ ہُمۡ قَوۡمٌ خَصِمُوۡنَ ﴿﴾
اِنۡ ہُوَ اِلَّا عَبۡدٌ اَنۡعَمۡنَا عَلَیۡہِ وَ
جَعَلۡنٰہُ مَثَلًا لِّبَنِیۡۤ
اِسۡرَآءِیۡلَ ﴿ؕ﴾
Dan apabila Ibnu Maryam dikemukakan sebagai misal tiba-tiba kaum engkau meneriakkan penentangan terhadapnya,
dan mereka berkata: "Apakah
tuhan-tuhan kami lebih baik ataukah dia?"
Mereka tidak menyebutkan hal itu kepada engkau melainkan perbantahan semata. Bahkan mereka
adalah kaum yang biasa berbantah. Ia tidak lain melainkan seorang hamba yang telah Kami
anugerahi nikmat kepadanya, dan Kami menjadikan dia suatu perumpamaan bagi Bani
Israil. (Al-Zukhruf [43]:58-60).
Shadda (yashuddu) berarti: ia
menghalangi dia dari sesuatu, dan shadda (yashiddu) berarti: ia
mengajukan sanggahan (protes) (Aqrab-ul-Mawarid). Lawan bicara Allah
Swt. dalam ayat 58 adalah Nabi Besar
Muhammad saw., dan makna kalimat qaumuka
(kaum engkau) adalah umat Islam,
bukan kaum musyrik Arabiya, sebab bangsa Arab jahiliyah sama sekali tidak
berkepentingan dengan masalah Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. atau pun misal Nabi Isa Ibnu Maryam a.s..
Perlu juga dijelaskan, bahwa walau pun benar kalimat qaumuka (kaum engkau) tertuju kepada umat Islam, tetapi bukan umat
Islam di masa Nabi Besar Muhammad
saw. dan di masa para Khulafatur-
Rasyidah r.a. melainkan umat Islam
di Akhir Zaman pada masa pengutusan
kedua kali secara ruhani Nabi
Besar Muhammad saw. (QS.63:3-5), dalam
wujud misal Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.
atau Al-Masih Mau’ud a.s. (QS.43:58).
Dengan demikian sempurnalah sabda Nabi Besar
Muhammad saw. tentang adanya persamaan -- seperti “persamaan sepasang sepatu” -- antara umat beliau saw. (umat
Islam/Bani Ismail) dengan umat sebelumnya (Yahudi dan Nasrani/Bani Israil),
yakni:
(1)
Sebagaimana silsilah kenabian
di kalangan Bani Israil dimulai
dengan pengutusan Nabi Musa a.s. dan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.; demikian pula
di kalangan Bani Isma’il pun silsilah
kenabian diawali dengan pengutusan misal Nabi Musa a.s. yakni Nabi Besar Muhammad saw.
(QS.46:11) dan diakhiri dengan misal
Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (QS.43:58), yakni Mirza
Ghulam Ahmad a.s., Pendiri Jemaat Ahmadiyah.
(2) Sebagaimana pada masa kedatangan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. di kalangan
kaum Yahudi telah terpecah-belah dalam berbagai macam sekte atau firqah – yang utama adalah tiga golongan, yaitu: golongan Farisi,
golongan Saduki, dan golongan Essenes;
demikian pula pada masa kedatangan misal Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.
(Al-Masih Mau’ud a.s.) pun, kalangan
umat Islam dalam keadaan terpecah-belah dalam berbagai sekte dan firqah, yang utama ada 3 golongan yakni: Golongan
Ahlus-Sunnah, golongan Syiah, dan golongan
penganut Tashawuf.
(3)
Semua para pemuka sekte-sekte di kalangan kaum Yahudi sepakat melakukan pendustaan dengan mengeluarkan berbagai fatwa dusta dan melakukan penentangan – bahkan berupaya membunuh Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.
melalui penyaliban
(QS.4:158-159); hal yang sama terjadi
juga terhadap misal Nabi Isa Ibnu
Maryam a.s., yakni Mirza Ghulam Ahmad a.s.,
sebagaimana digambarkan dalam QS. 43:58-59.
(4) Makna “tuhan-tuhan” dalam pernyataan mereka "Apakah tuhan-tuhan kami lebih baik ataukah dia?"
mengisyaratkan kefanatikan buta
mereka terhadap para apa pun yang dikatakan
atau difatwakan pemimpin firqah (sekte) yang menentang Nabi Isa Ibnu
Maryam a.s. maupun yang menentang misal
Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. di Akhir
Zaman ini, sehingga mereka itu seakan-akan telah “dipertuhankan” oleh para pengikutnya yang fanatik buta. Mengenai hal tersebut Allah Swt. berfirman:
وَ قَالَتِ الۡیَہُوۡدُ عُزَیۡرُۨ ابۡنُ اللّٰہِ وَ قَالَتِ النَّصٰرَی الۡمَسِیۡحُ ابۡنُ
اللّٰہِ ؕ ذٰلِکَ قَوۡلُہُمۡ بِاَفۡوَاہِہِمۡ ۚ یُضَاہِـُٔوۡنَ قَوۡلَ
الَّذِیۡنَ
کَفَرُوۡا مِنۡ قَبۡلُ ؕ قٰتَلَہُمُ
اللّٰہُ ۚ۫ اَنّٰی یُؤۡفَکُوۡنَ ﴿﴾
اِتَّخَذُوۡۤا اَحۡبَارَہُمۡ وَ رُہۡبَانَہُمۡ اَرۡبَابًا مِّنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ وَ الۡمَسِیۡحَ ابۡنَ مَرۡیَمَ ۚ وَ مَاۤ اُمِرُوۡۤا اِلَّا لِیَعۡبُدُوۡۤا اِلٰـہًا وَّاحِدًا ۚ لَاۤ اِلٰہَ اِلَّا ہُوَ ؕ سُبۡحٰنَہٗ عَمَّا یُشۡرِکُوۡنَ ﴿﴾ یُرِیۡدُوۡنَ اَنۡ یُّطۡفِـُٔوۡا نُوۡرَ اللّٰہِ بِاَفۡوَاہِہِمۡ وَ یَاۡبَی اللّٰہُ اِلَّاۤ اَنۡ یُّتِمَّ نُوۡرَہٗ وَ
لَوۡ کَرِہَ الۡکٰفِرُوۡنَ ﴿﴾ ہُوَ الَّذِیۡۤ
اَرۡسَلَ رَسُوۡلَہٗ بِالۡہُدٰی وَ دِیۡنِ
الۡحَقِّ لِیُظۡہِرَہٗ عَلَی الدِّیۡنِ کُلِّہٖ ۙ وَ
لَوۡ کَرِہَ الۡمُشۡرِکُوۡنَ ﴿﴾
Dan orang-orang
Yahudi berkata: “Uzair adalah
anak
Allah”, dan orang-orang Nasrani
berkata: “Al-Masih adalah anak Allah.” Demikian itulah perkataan mereka dengan mulutnya, mereka meniru-niru perkataan orang-orang kafir yang
terdahulu. Allah membinasakan mereka,
bagaimana mereka sampai dipa-lingkan dari
Tauhid?
Mereka telah menjadikan ulama-ulama mereka dan rahib-rahib mereka sebagai
tuhan-tuhan selain Allah, dan begitu juga Al-Masih ibnu Maryam, padaha mereka tidak
diperintahkan melainkan supaya mereka menyembah
Tuhan Yang Mahaesa. Tidak ada Tuhan
kecuali Dia. Maha-suci Dia dari apa yang mereka sekutukan. Mereka berkehendak memadamkan cahaya Allah dengan mulut mereka, tetapi Allah menolak bahkan menyempurnakan cahaya-Nya, walau pun orang-orang kafir tidak menyukai. Dia-lah
Yang telah mengutus Rasul-Nya dengan
petunjuk dan agama yang haq (benar), supaya Dia mengunggulkannya atas semua agama walau-pun orang-orang musyrik tidak menyukainya. (At-Taubah [9]:30-33).
‘Uzair
atau Ezra hidup pada abad kelima sebelum Masehi. Beliau keturunan
Seraya, imam agung, dan karena beliau sendiri pun anggota Dewan Imam dan dikenal sebagai Imam
Ezra. Beliau termasuk seorang tokoh terpenting di masanya dan mempunyai
pengaruh yang luas sekali dalam mengembangkan agama Yahudi. Beliau mendapat kehormatan khas di antara nabi-nabi
Israil.
Orang-orang Yahudi di Medinah dan suatu mazhab
Yahudi di Hadramaut, mempercayai beliau sebagai anak Allah. Para Rabbi (pendeta-pendeta Yahudi)
menghubungkan nama beliau dengan beberapa lembaga-lembaga penting. Renan
mengemukakan dalam mukadimah bukunya “History of the People of Israel”
bahwa bentuk agama Yahudi yang-pasti
dapat dianggap berwujud semenjak masa Ezra. Dalam kepustakaan golongan Rabbi, beliau dianggap patut jadi wahana
pengemban syariat seandainya syariat itu tidak dibawa oleh Nabi Musa a.s. Beliau bekerjasama dengan Nehemya dan
wafat pada usia 120 tahun di Babil (Yewish
Encyclopaedia & Encyclopaedia Biblica).
Kemusyrikan Identik Dengan Perpecahan
Umat Beragama
Ahbar adalah
ulama-ulama Yahudi dan Ruhban
adalah para rahib agama Nasrani,
sebutan-sebutan tersebut ada juga di
kalangan umat Islam, yakni golongan ‘ulama dan golongan sufi atau faqir yang menjadi sentral terjadinya perpecahan
di kalangan umat Islam, sebagaimana
yang dikemukan firman Allah Swt. berikut ini:
فَاَقِمۡ وَجۡہَکَ لِلدِّیۡنِ
حَنِیۡفًا ؕ فِطۡرَتَ اللّٰہِ الَّتِیۡ
فَطَرَ النَّاسَ عَلَیۡہَا ؕ لَا
تَبۡدِیۡلَ لِخَلۡقِ اللّٰہِ ؕ ذٰلِکَ
الدِّیۡنُ الۡقَیِّمُ ٭ۙ وَ لٰکِنَّ
اَکۡثَرَ النَّاسِ لَا یَعۡلَمُوۡنَ ﴿٭ۙ﴾
مُنِیۡبِیۡنَ اِلَیۡہِ وَ اتَّقُوۡہُ وَ اَقِیۡمُوا الصَّلٰوۃَ وَ لَا تَکُوۡنُوۡا مِنَ الۡمُشۡرِکِیۡنَ ﴿ۙ﴾ مِنَ الَّذِیۡنَ
فَرَّقُوۡا دِیۡنَہُمۡ وَ کَانُوۡا
شِیَعًا ؕ کُلُّ حِزۡبٍۭ بِمَا لَدَیۡہِمۡ
فَرِحُوۡنَ ﴿﴾
Maka hadapkanlah wajah engkau kepada agama yang lurus, yaitu fitrat Allah, yang atas dasar itu Dia menciptakan manusia, tidak ada
perubahan dalam penciptaan Allah, itulah
agama yang lurus, tetapi kebanyakan
manusia tidak mengetahui. Kembalilah
kamu kepada-Nya dan bertakwalah
kepada-Nya serta dirikanlah shalat,
وَ لَا تَکُوۡنُوۡا مِنَ الۡمُشۡرِکِیۡنَ -- dan janganlah
kamu termasuk orang-orang yang musyrik, مِنَ
الَّذِیۡنَ فَرَّقُوۡا دِیۡنَہُمۡ وَ
کَانُوۡا شِیَعًا ؕ کُلُّ حِزۡبٍۭ بِمَا
لَدَیۡہِمۡ فَرِحُوۡنَ -- Yaitu orang-orang yang memecah-belah agamanya dan mereka menjadi golongan-golongan, tiap-tiap golongan bangga dengan apa yang ada pada mereka. (Al-Rum [30]:31-33).
Tuhan
adalah Esa dan kemanusiaan itu satu, inilah fithrat Allah dan dīnul-fithrah
— satu agama yang berakar dalam fitrat manusia — dan terhadapnya manusia
menyesuaikan diri dan berlaku secara naluri. Di dalam agama inilah seorang bayi dilahirkan akan tetapi lingkungannya, cita-cita dan kepercayaan-kepercayaan
orang tuanya, serta didikan dan ajaran yang diperolehnya dari mereka
itu, kemudian membuat dia Yahudi, Majusi atau Kristen (Bukhari).
Hanya semata-mata percaya kepada Kekuasaan
mutlak dan Keesaan Tuhan, -- yang
sesungguhnya hal itu merupakan asas pokok
agama yang hakiki -- adalah tidak
cukup. Suatu agama yang benar harus memiliki peraturan-peraturan dan perintah-perintah tertentu. Dari semua peraturan dan perintah itu shalat adalah
yang harus mendapat prioritas utama.
Penyimpangan dari agama sejati menjuruskan umat di zaman lampau kepada perpecahan dalam bentuk aliran-aliran yang saling memerangi dan menyebabkan sengketa di
antara mereka. Kenyataan tersebut terjadi pula di kalangan umat Islam di Akhir Zaman ini, yakni terjerumus kepada sejenis “kemusyrikan” berupa
terjadinya perpecahan umat
akibat “menyembah” para pemuka sekte
dan firqah di lingkungan umat Islam, berikut firman-Nya
kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
اِنَّ الَّذِیۡنَ فَرَّقُوۡا دِیۡنَہُمۡ
وَ کَانُوۡا شِیَعًا لَّسۡتَ
مِنۡہُمۡ فِیۡ شَیۡءٍ ؕ اِنَّمَاۤ
اَمۡرُہُمۡ اِلَی اللّٰہِ ثُمَّ
یُنَبِّئُہُمۡ بِمَا کَانُوۡا یَفۡعَلُوۡنَ ﴿﴾
Sesungguhnya orang-orang yang memecah-belah agama mereka
dan menjadi golongan-golongan,
engkau
sedikit pun tidak mempunyai kepentingan dengan mereka.
Sesungguhnya urusan mereka terserah kepada Allah, kemudian Dia akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka
kerjakan. (Al-An’ām [6]:160).
Hubungan Al-Masih a.s. dengan “Hindustan”
Dalam bagian akhir Bab sebelumnya pun telah
dikemukakan jawaban pertanyaan: Mengapa Allah Swt. mengutus Rasul Akhir Zaman yakni Masih
Mau’ud a.s. atau Imam Mahdi a.s. sebagai “Hakim
yang adil” -- yang kedatangannya ditunggu-tunggu oleh semua umat beragama dengan nama yang berlainan – tersebut di
wilayah Hindustan? Berikut adalah
beberapa alasannya:
1. Wilayah Hindustan merupakan tempat berkumpulnya
berbagai macam bangsa dan suku-bangsa dari berbagai macam ras dan etnis, serta tempat
berkumpulnya agama serta sekte-sekte agama dan berbagai kepercayaan
lainnya: Hindu (Sanātana Dharma), Buddha, Yahudi, Kristen, Islam, Sikh, Freethinker,
penganut Atheisme dan berbagai macam
aliran kepercayaan, kebatinan, dan gerakan
pembaruan, seperti seperti Brahmo
Samaj dan Arya Samaj, yaitu gerakan reformasi Hindu yang diprakarsai oleh Swami
Dayananda, dan didirikan pada
tanggal 7 April 1875. Gerakan ini bermaksud mengamalkan Weda sebagaimana
mestinya, dan mengesampingkan kitab-kitab yang ditulis setelah Weda.
Gerakan ini bersifat monoteistis karena tidak
mengakui dewa-dewi tertentu, serta menolak
pemujaan Tuhan dengan sarana patung
atau lukisan.
2. Wilayah Hindustan merupakan target penyebaran
agama Kristen selain benua Afrika
dan tempat-tempat lainnya yang mendompleng keberhasilan Ya’juj
(Gog) dan Ma’juj (Magog)
melakukan penguasaan wilayah yang merupakan “sumber komoditi” armada niaga mereka (Wahyu
20:7-10; QS.18:19-23 & 84-102; QS.21:96-101).
3. Di wilayah Hindustan dan Afganistan
terdapat keturunan 10 suku
Bani Israil yang hilang yang menjadi tugas utama Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (Al-Masih) untuk mencari “domba-domba
Israil” yang hilang tersebut (Yohanes 10:10-16), termasuk di wilayah Kasymir, tempat terakhir
beliau mengakhiri tugasnya, beliau wafat
di sana serta jenazahnya dikuburkan
di kampung Khan
Yar – Shrinagar, sedangkan jenazah
ibunda beliau, Maryam binti ‘Imran,
dikuburkan di kota Muree (dibaca: Mari yakni Maryam) yang kemudian menjadi wilayah Pakistan (QS.23:51).
4. Dalam surah Yā Sīn ayat 14-33
dikemukakan perumpamaan “sebuah kota” yang kepada penduduknya
diutus 4 orang rasul Allah. Tetapi
berbeda dengan tiga orang rasul Allah
yang diutus sebelumnya -- yang berasal dari wilayah “kota” itu yakni wilayah Timur Tengah -- pengutusan rasul Allah yang keempat berasal dari “bagian
terjauh dari kota itu” (QS.36:21-30), yakni
“ia datang berlari-lari” dari luar wilayah Timur-Tengah, yaitu Hindustan.
5. Semua umat
berbagai agama yang berada di Hindustan tersebut mempercayai
kedatangan seorang “pahlawan agama”
di Akhir Zaman -- dengan nama yang berlainan: Shri
Krishna, Buddha Meitreya, Mesiah, Al-Masih, Mesio Darbahmi,
Imam Mahdi dll. -- yang
mereka percayai akan mengunggulkan
agamanya atas agama-agama lainnya,
demikian juga halnya dengan kepercayaan umat Islam
(QS.61:10).
Makna Hadits-hadits Tentang Kedatangan Imam Mahdi a.s. & Makna “Tangan Paling Panjang” Istri Nabi Besar Muhammad Saw.
Jadi, pengutusan Masih Mau’ud a.s. atau misal
Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (QS.43:58) atau Rasul Akhir Zaman (QS.61:10; QS.62:3-4) atau Imam Mahdi a.s. – yakni Mirza
Ghulam Ahmad a.s. – di wilayah Hindustan yang terletak sebelah timur Jazirah
Arabia tersebut merupakan takdir
Allah Swt. yang penuh hikmah, karena
di wilayah Hindustan terletak pegunungan Himalaya yang memiliki puncak tertinggi di dunia yaitu Mounth
Everest (8848) yang senantiasa diliputi salju
abadi.
Hal yang sangat menakjubkan adalah ternyata hadits Nabi Besar Muhammad saw. -- berkenaan dengan pentingnya
melakukan baiat kepada Imam Mahdi a.s. -- beliau
saw. menyinggung salju:
“Ketika kalian melihatnya (kehadiran Imam Mahdi), maka berbai’at-lah dengannya walaupun harus merangkak-rangkak di atas salju
karena sesungguhnya dia adalah Khalifatullah
Al-Mahdi.” (HR Abu Dawud, 4074).
Berikut ini beberapa sabda Nabi Besar Muhammad
saw. berkenaan dengan Imam Mahdi a.s. yang untuk memahami
hakikatnya memerlukan penjelasan,
sebab pada umumnya ayat-ayat
Kitab-kitab suci mau pun sabda-sabda para
rasul Allah berupa nubuatan (kabar gaib) menggunakan bahasa misal (perumpamaan). Contohnya mengenai makna “tangan
yang paling panjang” berkenaan salah seorang istri Nabi Besar Muhammad saw.
yang akan lebih dulu wafat setelah kewafatan Nabi Besar Muhammad saw..
Zainab binti Jahzy r.a. -- yang pernah menjadi istri Zaid bin
Haritsah r.a. (QS.33:37-41) -- menjadi satu-satunya istri Nabi Besar
Muhammad saw. yang berasal dari kerabat dekatnya sendiri, sehingga beliau saw.
tidak perlu meminta ijin jika ingin memasuki rumahnya, sedangkan kepada
istri-istri lainnya beliau saw. selalu
meminta izin. Tak ayal hal tersebut
membuat kecemburuan di antara istri
Nabi Besar Muhammad saw.
Zainab binti Jahzy r.a. juga adalah perempuan baik nan mulia, dia
bekerja dengan kedua tangannya, menyamak kulit dan kemudian hasilnya ia
sedekahkan di jalan Allah dengan dibagi-bagikan kepada orang miskin. Bahkan
Aisyah r.a. bersaksi setelah meninggalnya Zainab: “Telah pergi wanita yang mulia dan rajin beribadah, menyantuni para
yatim dan para janda.”
Kemudian Aisyah r.a. berkata lagi: “Rasulullah saw. pernah bersabda
kepada para istrinya, ‘Orang yang
paling cepat menyusulku di antara kalian adalah yang paling panjang tangannya.”
Maka apabila kami berkumpul, sepeninggal beliau kami mengukur
tangan kami di dinding, untuk mengetahui siapakah yang paling panjang tangannya
di antara kami.
Hal itu kami lakukan terus hingga
wafatnya Zainab binti Jahsy r.a., kami tidak mendapatkan yang paling panjang
tangannya di antara kami. Maka ketika itu barulah kami mengetahui bahwa yang
dimaksud dengan “panjang tangan” yang dimaksud oleh Rasulullah saw. adalah banyak
sedekah. Adapun Zainab Jahzy r.a. bekerja dengan tangannya menyamak kulit
kemudian dia sedekahkan di jalan Allah.
Zainab binti Jahzy r.a. adalah istri Rasulullah yang pertama kali wafat
menyusul beliau saw. pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab r.a..
Ternyata makna “tangan yang paling panjang” yang dimaksud oleh Nabi Besar Muhammad
saw. berkenaan salah seorang istri beliau saw. yang akan wafat setelah kewafatan
beliau saw. tersebut – yakni Zainab
binti Jahsy r.a. – maknanya
berbeda dengan arti peribahasa “panjang tangan” yaitu “orang
yang suka mencuri.”
Pentingnya Memahami “Bahasa
Nubuatan” yang Penuh Kiasan & Akibat Buruk Keliru Menafsirkan “Bahasa Kiasan”
Karena itu betapa pentingnya memahami bahasa nubuatan yang
dikemukakan Nabi Besar Muhammad saw. berkenaan
kedatangan Imam Mahdi a.s., Nabi
Isa Ibnu Maryam a.s., Dajjal
– dengan berbagai kiasan mengenai keluarbiasaan kemampuannya
– mengenai makna keledai Dajjal, Tanda-tanda
Akhir Zaman dan makna Akhir Zaman atau Kiamat dan sebagainya.
Kekeliruan para pemuka Yahudi dalam memahami makna nubuatan kedatangan kedua
kali Nabi Elia menjelang kedatangan Al-Masih (Mesiah) (Malaekhi 4:5-6; Matius 11:7-15)
telah menjerumuskan mereka menjadi maghdhub (yang dimurkai Allah Swt. -- QS.1:7), sebab kekeliruan penafsiran mereka telah mengakibatkan mereka secara berturut-turut mendustakan Nabi Yahya a.s., Nabi Isa Ibnu Maryam a.s., dan mendustakan
Nabi Besar Muhammad saw. yang nubuatannya
mereka ketahui bagaikan mereka mengenal
anak-anak mereka sendiri (QS.2:147; Yohanes
1:19-28), padahal ketiga rasul Allah
itulah yang dimaksud nubuatan Bible berkenaan
(1) kedatangan kedua kali Nabi
Elia a.s. (Nabi Yahya a.s.), (2) kedatangan Al-Masih (Nabi Isa Ibnu
Maryam a.s.) dan (3) kedatangan “nabi
yang seperti Musa” atau “nabi yang
akan datang” (Ulangan 18: 15-19) atau “Roh
kebenaran yang datang membawa seluruh kebenaran” (Yohanes 16:12-14)
atau “Dia yang datang dalam nama Tuhan”
(Matius 23:37-39) yakni Nabi Besar
Muhammad saw. (QS.7:158-159).
Demikian pula kekeliruan menafsirkan
peristiwa penyaliban Nabi Isa Ibnu
Maryam a.s. yang sangat misterius dan “menggelincirkan” orang-orang yang berhati bengkok (QS.3:8 &
QS.4:158-159) telah menjadikan mereka
dalam surah Al-Fatihah disebut
dhāllīn (orang-orang yang
sesat) dari Tauhid Ilahi (QS.1:7;
QS.9:30-32).
Kembali kepada sabda Nabi Besar Muhammad
saw. sebelum ini mengenai pentingnya melakukan baiat kepada Khalifatullah Al-Mahdi:
“Ketika kalian melihatnya
(kehadiran Imam Mahdi) maka berbai’atlah dengannya walaupun harus merangkak-rangkak di atas salju
karena sesungguhnya dia adalah Khalifatullah
Al-Mahdi.” (HR Abu Dawud, 4074).
Perintah melakukan “baiat” kepada Imam Mahdi a.s.
dengan ungkapan “walaupun harus merangkak-rangkak
di atas salju” memiliki hubungan yang sangat erat dan mengandung makna yang sangat dalam,
karena itu perlu memahami makna “bai’at”,
sebagaimana firman-Nya kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
اِنَّ
الَّذِیۡنَ یُبَایِعُوۡنَکَ
اِنَّمَا یُبَایِعُوۡنَ اللّٰہَ ؕ یَدُ اللّٰہِ فَوۡقَ
اَیۡدِیۡہِمۡ ۚ فَمَنۡ نَّکَثَ
فَاِنَّمَا یَنۡکُثُ عَلٰی نَفۡسِہٖ ۚ وَ مَنۡ
اَوۡفٰی بِمَا عٰہَدَ عَلَیۡہُ اللّٰہَ
فَسَیُؤۡتِیۡہِ اَجۡرًا عَظِیۡمًا
﴿٪﴾
Sesungguhnya
orang-orang yang baiat kepada engkau
sebenarnya mereka baiat
kepada Allah. یَدُ اللّٰہِ فَوۡقَ اَیۡدِیۡہِمۡ -- Tangan
Allah ada di atas tangan mereka, maka barangsiapa
melanggar janjinya maka ia melanggar janji atas dirinya sendiri, dan barangsiapa memenuhi apa yang telah
dia janjikan kepada Allah
maka Dia segera akan memberinya ganjaran
yang besar (Al-Fath [48]:11).
Isyarat itu ditujukan kepada sumpah setia (bai’at) para sahabah r.a. di tangan Nabi Besar Muhammad saw. di bawah sebatang pohon di Hudaibiyah (QS.48:10; Bukhari), ketika tersebar isu
bahwa Utsman bin ‘Affan r.a. -- sebagai duta Nabi Besar Muhammad saw. untuk melakukan perundingan dengan para pemimpin kafir Mekkah agar mengizinkan beliau saw. dan para sahabah
r.a. memasuki Mekkah guna melakukan
‘umrah -- telah dibunuh.
Baiat
merupakan Sunnah Nabi Besar Muhammad saw. yang diamalkan umat dalam pada waktu pemilihan
Khalifatur-Rasyidin dan para pemimpin
umat Islam selanjutnya. Melakukan bai’at
kepada Nabi Besar Muhammad saw. artinya
melakukan “jual-beli” dengan Allah
Swt. dengan “perantaraan” beliau saw..: اِنَّ الَّذِیۡنَ یُبَایِعُوۡنَکَ اِنَّمَا یُبَایِعُوۡنَ اللّٰہَ -- “Sesungguhnya orang-orang
yang baiat kepada engkau sebenarnya mereka baiat kepada Allah, یَدُ اللّٰہِ فَوۡقَ
اَیۡدِیۡہِمۡ -- “Tangan Allah ada di atas tangan mereka” (QS.48:11). Dalam surah berikut
ini Allah Swt. berfirman:
اِنَّ اللّٰہَ اشۡتَرٰی مِنَ
الۡمُؤۡمِنِیۡنَ اَنۡفُسَہُمۡ وَ اَمۡوَالَہُمۡ بِاَنَّ لَہُمُ الۡجَنَّۃَ ؕ
یُقَاتِلُوۡنَ فِیۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ فَیَقۡتُلُوۡنَ وَ یُقۡتَلُوۡنَ ۟ وَعۡدًا
عَلَیۡہِ حَقًّا فِی التَّوۡرٰىۃِ وَ الۡاِنۡجِیۡلِ وَ الۡقُرۡاٰنِ ؕ وَ مَنۡ
اَوۡفٰی بِعَہۡدِہٖ مِنَ اللّٰہِ فَاسۡتَبۡشِرُوۡا بِبَیۡعِکُمُ الَّذِیۡ
بَایَعۡتُمۡ بِہٖ ؕ وَ ذٰلِکَ ہُوَ
الۡفَوۡزُ الۡعَظِیۡمُ ﴿﴾
Sesungguhnya Allah
telah membeli dari orang-orang
beriman jiwa mereka dan harta mereka sesungguhnya mereka akan memperoleh ganjaran surga. Mereka berperang pada jalan Allah, lalu mereka
membunuh dan terbunuh,
janji yang haq (benar) atas-Nya dalam Taurat,
Injil dan Al-Quran. وَ مَنۡ اَوۡفٰی بِعَہۡدِہٖ مِنَ اللّٰہِ
فَاسۡتَبۡشِرُوۡا بِبَیۡعِکُمُ الَّذِیۡ بَایَعۡتُمۡ بِہٖ -- Dan siapakah
yang lebih menepati janjinya daripada Allah?
Maka bergembiralah kamu dengan jual-beli
yang telah kamu lakukan dengan-Nya, وَ
ذٰلِکَ ہُوَ الۡفَوۡزُ الۡعَظِیۡمُ -- dan itulah kemenangan yang besar (At-Taubah [9]:111).
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran Anyar, 11 Februari
2017
Tidak ada komentar:
Posting Komentar