Rabu, 01 Februari 2017

Perumpamaan"Umat Islam" yang "Terbaik" Bagaikan Turunnya Tetesan "Air Hujan di Awalnya dan di Akhirnya" & Hakikat Berbagai Versi "Mujaddid" di Kalangan Umat Islam


Bismillaahirrahmaanirrahiim

  ISLAM
Pidato  Mirza Ghulam Ahmad a.s.
Tgl. 2 November 1904 di Kota Sialkote – Hindustan

Bab  9

  PERUMPAMAAN UMAT ISLAM YANG TERBAIK  BAGAIKAN ”TURUNNYA TETESAN   AIR HUJAN  DI AWALNYA DAN DI AKHIRNYA”  &  HAKIKAT BERBAGAI VERSI PARA MUJADDID DI KALANGAN UMAT ISLAM

Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam bagian akhir Bab 8  telah dijelaskan topik  Makna Gelar “Khātaman Nabiyyīn” & “Kenabian Ummati” Mirza Ghulam Ahmad  a.s. Sebagai  Rasul Akhir Zaman  sehubungan terbukanya “semua pintu martabat keruhanian” dalam QS.4:70-71)  serta alasan lainnya mengapa pengutusan para nabi Allah hingga dengan Nabi Besar Muhammad saw. semuanya merupakan nabi mustaqil (nabi mandiri),  karena – sesuai dengan Sifat Rububiyyat Allah Swt. (QS.1:2)   --  hingga dengan masa menjelang pengutusan Nabi Besar Muhammad saw. proses penyempurnaan hukum-hukum syariat belum mencapai puncak kesempurnaannya  (QS.5:4), firman-Nya: 
اَلۡحَمۡدُ لِلّٰہِ رَبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ ۙ﴿
"Segala  puji  hanya bagi  Allah, Rabb (Tuhan) seluruh alam.”
    Kata kerja rabba dalam ayat tersebut berarti: ia mengelola urusan itu; ia memperbanyak, mengembangkan, memperbaiki, dan melengkapkan urusan itu; ia memelihara dan menjaga. Jadi Rabb berarti: (a) Tuhan, Yang Dipertuan, Khāliq (Yang menciptakan); (b) Wujud Yang memelihara dan mengembangkan; (c) Wujud Yang menyempurnakan, dengan cara se-tingkat demi setingkat (Al-Mufradat dan Lexicon Lane).
       Tetapi  jika dipakai dalam rangkaian dengan kata lain, kata rabb itu dapat dipakai untuk orang atau wujud selain Allah Swt., contohnya Nabi Yusuf a.s. menyebut Fir’aun dengan sebutan “rabb” (QS.12:51), sebab  semua raja    melakukan penyempurnaan kerajaannya (pemerintahannya) dilakukan secara  bertahap.

Kedatangan “Roh Kebenaran” yang “Membawa Seluruh Kebenaran”  & Penggenapan Nubuatan Nabi Musa a.s. Dalam Ulangan 18:15-19

        Mengisyaratkan kepada kenyataan itulah dalam Injil Matius  --  setelah Yesus  mengecam keras para pemuka agama Yahudi (Matius 23:1-36)  -- selanjutnya Allah Swt.  melalui beliau  bernubuat  mengenai kedatangan “Dia yang datang dalam nama Tuhan”:
Keluhan terhadap Yerusalem
23:37 "Yerusalem, Yerusalem, engkau yang membunuh nabi-nabi dan melempari dengan batu orang-orang yang diutus kepadamu!   Berkali-kali Aku rindu mengumpulkan anak-anakmu, sama seperti induk ayam mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayapnya,   tetapi kamu tidak mau. 23:38 Lihatlah rumahmu ini akan ditinggalkan dan menjadi sunyi. 23:39 Dan Aku berkata kepadamu: Mulai sekarang kamu tidak akan melihat Aku lagi, hingga   kamu berkata: Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan!" (Matius 23:37-39).
      Makna “Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan!"  hanya cocok dengan Nabi Besar Muhammad saw., sebab   semua Surah Al-Quran  -- kecuali surah At-Taubah – dimulai dengan ayat  بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ  – “dengan nama Allah, Yang Maha Pemurah dan maha Penyayang.”
      Nubuatan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. dalam   Matius 23:37-39 mengenai belum sempurnanya proses pewahyuan syariat sampai dengan masa Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. tersebut  dijelaskan  lagi  oleh  beliau dalam  Injil Yohanes berikut ini:
16:12 Masih banyak hal yang harus Kukatakan kepadamu, tetapi sekarang kamu belum dapat menanggungnya.   16:13 Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran,   Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran;  sebab Ia tidak akan berkata-kata dari diri-Nya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengar-Nya itulah yang akan dikatakan-Nya dan Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang. (Yohanes 16:12-13).
         Nubuatan-nubuatan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. dalam Injil tersebut berkenaan dengan “Dia yang datang dalam nama Tuhan” atau “Roh Kebenaran” yang “membawa seluruh kebenaran” – yakni Nabi Besar Muhamad saw. -- sesuai pula dengan nubuatan Nabi Musa a.s. dalam  Kitab Ulangan   mengenai kedatangan “nabi yang seperti Musa” dari kalangan Bani Isma’il, yaitu Nabi Besar Muhammad saw.  yang membawa syariat terakhir dan tersempurna (QS.5:4):
18:15 Seorang nabi dari tengah-tengahmu, dari antara saudara-saudaramu,    sama seperti aku, akan dibangkitkan bagimu oleh Tuhan, Allahmu; dialah yang harus kamu dengarkan. 18:16 Tepat seperti yang kamu minta dahulu kepada Tuhan, Allahmu, di gunung Horeb, pada hari perkumpulan, dengan berkata: Tidak mau aku mendengar lagi suara Tuhan, Allahku, dan api yang besar ini tidak mau aku melihatnya lagi, supaya jangan aku mati.   18:17 Lalu berkatalah Tuhan kepadaku: Apa yang dikatakan mereka itu baik; 18:18 seorang nabi   akan Kubangkitkan bagi mereka dari antara saudara mereka, seperti engkau ini; Aku akan menaruh firman-Ku   dalam mulutnya,   dan ia akan mengatakan kepada mereka segala yang Kuperintahkan kepadanya.   18:19 Orang yang tidak mendengarkan   segala firman-Ku yang akan diucapkan nabi itu demi nama-Ku,   dari padanya akan Kutuntut pertanggungjawaban.   18:20 Tetapi seorang nabi, yang terlalu berani untuk mengucapkan demi nama-Ku perkataan yang tidak Kuperintahkan untuk dikatakan olehnya, atau yang berkata demi nama allah    lain, nabi itu harus mati.   (Ulangan 18:15-20).

Makna Gelar “Khātaman Nabiyyīn

         Salah satu bukti bahwa Kitab suci Al-Quran dan Nabi Besar Muhammad saw. memiliki hubungan yang sangat erat dengan nubuatan-nubuatan  dalam Bible tersebut, maka nubuatan-nubuatan  tersebut dikemukakan  lagi dalam Al-Quran guna membuktikan bahwa pewahyuan Al-Quran dan pengutusan Nabi Besar Muhammad saw. di kalangan Bani Isma’il  merupakan penggenapan nubuatan-nubuatan dalam Bible, mengenai hal itu berikut firman-Nya kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
قُلۡ مَا کُنۡتُ بِدۡعًا مِّنَ الرُّسُلِ وَ مَاۤ اَدۡرِیۡ  مَا یُفۡعَلُ بِیۡ  وَ لَا بِکُمۡ ؕ اِنۡ  اَتَّبِعُ اِلَّا مَا یُوۡحٰۤی  اِلَیَّ وَ مَاۤ  اَنَا  اِلَّا نَذِیۡرٌ مُّبِیۡنٌ ﴿ قُلۡ  اَرَءَیۡتُمۡ  اِنۡ کَانَ مِنۡ عِنۡدِ اللّٰہِ وَ کَفَرۡتُمۡ  بِہٖ وَ شَہِدَ شَاہِدٌ مِّنۡۢ  بَنِیۡۤ اِسۡرَآءِیۡلَ  عَلٰی مِثۡلِہٖ  فَاٰمَنَ وَ اسۡتَکۡبَرۡتُمۡ ؕ اِنَّ اللّٰہَ  لَا یَہۡدِی الۡقَوۡمَ الظّٰلِمِیۡنَ ﴿٪﴾
Katakanlah: "Aku sekali-kali bukan rasul baru di antara rasul-rasul, dan  aku  sekali-kali tidak  mengetahui apa yang akan diperbuat Allah terhadapku atau pun terhadap kamu.  Aku tidak lain hanyalah mengikuti apa yang diwahyukan kepadaku, dan aku tidak lain hanyalah  seorang pemberi peringatan yang nyata."   قُلۡ  اَرَءَیۡتُمۡ  اِنۡ کَانَ مِنۡ عِنۡدِ اللّٰہِ وَ کَفَرۡتُمۡ  بِہٖ   -- Katakanlah: "Terangkanlah kepadaku jika Al-Quran ini dari Allah tetapi  kamu tidak percaya kepadanya  وَ شَہِدَ شَاہِدٌ مِّنۡۢ  بَنِیۡۤ اِسۡرَآءِیۡلَ  عَلٰی مِثۡلِہٖ  فَاٰمَنَ وَ اسۡتَکۡبَرۡتُمۡ  -- dan  seorang saksi dari antara Bani Israil  memberi kesaksian terhadap kedatangan seseorang semisalnya  lalu ia beriman tetapi kamu berlaku sombong?" اِنَّ اللّٰہَ  لَا یَہۡدِی الۡقَوۡمَ الظّٰلِمِیۡنَ   -- Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang zalim (Al-Ahqāf [46]:11).
        Tetapi  ketika syariat Islam diwahyukan Allah Swt. kepada Nabi Besar Muhammad saw.    – yang   merupakan puncak   proses penyempurnaan hukum syariat  (QS.5:4)   -- maka rangkaian pengutusan nabi mustaqil  telah berakhir (tertutup) dengan diutus-Nya Nabi Besar Muhamad saw.  –  yakni beliau saw. sebagai nabi mustaqil yang terakhir  --  dan  selanjutnya adalah terbukanya “kenabian ummati” (nabi pengikut)  atau kenabian zhilli (buruzi  -- nabi bayangan) melalui ketaatan kepada Nabi Besar Muhammad saw. (QS.3:32; QS.4:70; QS.33:22).
        Itulah sebabnya Allah Swt. telah memberi gelar “Khātaman-Nabiyyīn” kepada Nabi Besar Muhammad saw., firman-Nya:
مَا کَانَ مُحَمَّدٌ اَبَاۤ  اَحَدٍ مِّنۡ رِّجَالِکُمۡ وَ لٰکِنۡ رَّسُوۡلَ اللّٰہِ وَ خَاتَمَ  النَّبِیّٖنَ ؕ وَ  کَانَ اللّٰہُ  بِکُلِّ شَیۡءٍ عَلِیۡمًا ﴿٪﴾
Muhammad bukanlah bapak salah seorang laki-laki di antara laki  kamu, akan tetapi ia adalah Rasul Allah dan Khātaman-Nabiyyīn (meterai sekalian nabi), dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu  (Al-Ahzāb [33]:41).
       Jadi, sehubungan dengan QS.4:70 mengenai terbukanya “pintu kenabian ummati” (zhilli/buruzi)  bagi para pengikut sejati Nabi Besar Muhammad   saw.  merupakan   sekian  banyak keunggulan beliau saw. yang lainnya lagi, dan  merupakan kelebihan Nabi Besar Muhammad saw.   yang menonjol di atas semua nabi Allah  dan rasul Allah lainnya, firman-Nya:
وَ مَنۡ یُّطِعِ اللّٰہَ وَ الرَّسُوۡلَ فَاُولٰٓئِکَ مَعَ الَّذِیۡنَ اَنۡعَمَ اللّٰہُ عَلَیۡہِمۡ مِّنَ النَّبِیّٖنَ وَ الصِّدِّیۡقِیۡنَ وَ الشُّہَدَآءِ وَ الصّٰلِحِیۡنَ ۚ وَ حَسُنَ اُولٰٓئِکَ رَفِیۡقًا ﴿ؕ﴾ ذٰلِکَ الۡفَضۡلُ مِنَ اللّٰہِ ؕ وَ کَفٰی بِاللّٰہِ عَلِیۡمًا ﴿٪﴾
Dan    barangsiapa taat kepada Allah  dan Rasul ini maka mereka akan termasuk di antara   orang-orang  yang Allah memberi nikmat kepada mereka yakni: مِّنَ النَّبِیّٖنَ وَ الصِّدِّیۡقِیۡنَ وَ الشُّہَدَآءِ وَ الصّٰلِحِیۡنَ  -- nabi-nabi, shiddiq-shiddiq, syahid-syahid, dan orang-orang shalih,  وَ حَسُنَ اُولٰٓئِکَ رَفِیۡقًا -- dan mereka itulah sahabat yang sejati.  ذٰلِکَ الۡفَضۡلُ مِنَ اللّٰہِ ؕ وَ کَفٰی بِاللّٰہِ عَلِیۡمًا  --   Itulah karunia dari Allah,  dan cukuplah Allah Yang Maha Mengetahui  (An-Nisā  [4]:70-71).

“Kenabian Ummati” Mirza Ghulam Ahmad  a.s. Sebagai  Rasul Akhir Zaman  & Dua  Periode  Khilafat Kenabian yang Terpisah  

       Di Akhir Zaman   ini   -- sesuai dengan sabda Nabi Besar Muhammad saw. dalam Hadits sebelum ini – umat manusia telah menyaksikan khalifah ruhani beliau saw. yang terbesar dalam wujud Pendiri Jemaat Ahmadiyah., Mirza Ghulam Ahmad a.s.   – Imam Mahdi a.s. dan Al-Masih Mau’ud a.s.  – sebagaimana  sabda beliau saw.: ثم تكون خلافة على منهاج النبوة . ثم سكت "  -- “kemudian berlaku pula zaman Kekhalifahan  yang berjalan di atas cara   kenabian.”  Setelah  mengucapkan nubuatan tersebut   beliau  saw. diam:
تكون النبوة فيكم ما شاء الله أن تكون , ثم يرفعها الله إذا شاء أن يرفعها ثم تكون خلافة على منهاج النبوة , فتكون ما شاء الله أن تكون , ثم يرفعها إذا شاء أن يرفعها , ثم تكون ملكا عاضا فيكون ما شاء الله أن تكون , ثم يرفعها إذا شاء الله أن يرفعها , ثم تكون ملكا جبريا فتكون ما شاء الله أن تكون , ثم يرفعها إذا شاء أن يرفعها , ثم تكون خلافة على منهاج النبوة . ثم سكت " .
Akan ada masa nubuwwat (kenabian) pada kalian selama yang Allah kehendaki, kemudian Allah mengangkatnya  kalau Allah kehendaki. Lalu akan ada khilāfatun ‘alā minhājin- nubuwwah --  masa khilafah di atas    jalan kenabian  selama yang Allah kehendaki, kemudian Allah mengangkatnya jika Allah menghendaki. Lalu ada  mulkan ‘ādhan   -- masa  kerajaan yang  dhalim/menggigit  selama yang Allah kehendaki, kemudian Allah mengangkatnya bila Allah menghendaki. Lalu akan ada   mulkan  jabriyān – masa  kerajaan  tirani (diktator) selama yang Allah kehendaki, kemudian Allah mengangkatnya bila Allah menghendaki. Lalu akan ada lagi khilāfatun ‘alā minhājin- nubuwwah -- masa kekhilafahan di atas manhaj Nubuwwah”. Kemudian beliau diam” [Diriwayatkan oleh Ahmad 4/273 dan Ath-Thayalisi no. 439; dishahihkan oleh Al-Albaaniy dalam Silsilah Ash-Shahiihah no. 5].
      Jadi, silsilah  خلافة على منهاج النبوة --  khilafat atas jalan (acuan) kenabian” di kalangan umat Islam ada di dua zaman, yaitu:
       (1) di masa awal setelah wafatnya Nabi Besar Muhammad berupa masa  kepemimpinan para Khulafa-ur-Rasyidin   (Khalifah Abu bakar Shiddiq r,a,, Khalifah  ‘Umat bin Khaththab r.a., Khalifah Utsman bin ‘Affan r.a., dan Khalifah Ali bin Abu Thalib r.a.).
        (2) di Akhir Zaman ini yang diawali dengan pengutusan Mirza Ghulam Ahmad a.s. sebagai  Rasul Akhir Zaman yaitu  Al-Masih Mau’ud a.s.  atau misal Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (QS.43:58),  dan  para penerus kepemimpinannya   disebut Khalifatul-Masih.
         Dengan demikian genaplah nubuatan Allah Swt. dalam Al-Quran mengenai dua kali pengutusan Nabi Besar Muhammad saw., yaitu di masa awal umat Islam dan di masa akhir  umat Islam  yakni di Akhir Zaman  ini melalui pengutusan Masih Mau’ud a.s., firman-Nya:
  ہُوَ الَّذِیۡ  بَعَثَ فِی  الۡاُمِّیّٖنَ  رَسُوۡلًا مِّنۡہُمۡ  یَتۡلُوۡا عَلَیۡہِمۡ  اٰیٰتِہٖ  وَ  یُزَکِّیۡہِمۡ وَ  یُعَلِّمُہُمُ  الۡکِتٰبَ وَ  الۡحِکۡمَۃَ ٭ وَ  اِنۡ کَانُوۡا مِنۡ  قَبۡلُ  لَفِیۡ ضَلٰلٍ  مُّبِیۡنٍ ۙ﴿﴾  وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ  لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ ہُوَ  الۡعَزِیۡزُ  الۡحَکِیۡمُ ﴿﴾ 
Dia-lah Yang telah membangkitkan di kalangan bangsa yang buta huruf seorang rasul dari antara mereka, yang membacakan kepada mereka Tanda-tanda-Nyamensucikan mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah  walaupun sebelumnya mereka berada dalam kesesatan yang nyata,  وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ  لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ ہُوَ  الۡعَزِیۡزُ  الۡحَکِیۡمُ  --  Dan juga Dia  akan membangkitkannya pada kaum lain dari antara mereka, yang belum bertemu dengan mereka. Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana. (Al-Jumu’ah [62}:3-4).

Umat Islam  Sebagai “Umat Terbaik” dan Perumpamaan “Air Hujan

   Atas dasar nubuatan itu pulalah Nabi Besar Muhammad saw. telah bersabda mengenai permisalan umat Islam dengan turunnya air hujan dari langit:
"Perumpamaan ummatku seperti halnya hujan, tidak diketahui manakah yang lebih baik, awalnya atau akhirnya." (HR. Tirmidzi 2869;  Ahmad dalam Musnadnya).
Dalam kesempatan lain Nabi Besar Muhammad saw. bersabda:
"Sesungguhnya Islam dimulai dalam keadaan asing dan akan kembali menjadi asing" (HR MuslimTirmidzi;   Ibnu Majah).
"Sebaik-baik umatku adalah generasi   yang hidup   ketika aku diutus." (HR MuslimAbu DawudTirmidziAhmad)
 Nabi Besar Muhammad saw. pun pernah bersabda:
 "Sebaik-baik umatku adalah yang pertama dan yang terakhir” " (HR Al-Haitsami dalam Majma' 'Az-Zawaid).
Beliau saw. bersabda lagi:
"Orang yang memegang agamanya dari mereka ketika itu (Akhir Zaman) seperti orang yang memegang bara api."
Bahkan ketika Nabi Besar Muhammad saw.  ditanya tentang al-ghuroba (orang-orang yang dianggap asing/aneh di Akhir Zaman) beliau saw. bersabda:
  "Mereka adalah orang-orang yang menghidupkan sunnahku yg telah mati (sunnah yang telah ditinggalkan oleh manusia)." (HR Tirmidzi).
 Dengan demikian jelaslah bahwa  hadits   "Perumpamaan ummatku seperti halnya hujan, tidak diketahui manakah yang lebih baik, awalnya atau akhirnya." Dapat dipahami bahwa Nabi Besar Muhamad saw.  ingin mendekatkan keutamaan umat Islam yang hidup di Akhir Zaman dengan keutamaan generasi umat Islam yang awal,  karena generasi umat Islam di Akhir Zaman  yang diisyaratkan dalam ayat: وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ  لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ   -- Dan juga Dia  akan membangkitkannya pada kaum lain dari antara mereka, yang belum bertemu dengan mereka (QS.62:4) atau  ثم تكون خلافة على منهاج النبوة . ثم سكت "   – “Lalu akan ada lagi khilāfatun ‘alā minhājin- nubuwwah -- masa kekhilafahan di atas manhāj (jalan) kenabian”    juga mengalami  perjuangan (jihad) yang besar dan berat  di jalan Allah dalam menghadapi ujian dan cobaan untuk tetap bisa komitmen (istiqamah/teguh) di atas agama Islam yang lurus dan benar (QS.2:154-158; QS.41:31-33; QS.98:6), sehingga  benarlah sabda Nabi Besar Muhammad saw. sebelum ini: 
"Orang yang memegang agamanya dari mereka ketika itu (Akhir Zaman) seperti orang yang memegang bara api."
   Dengan demikian jelaslah bahwa yang dimaksud dengan sabda Nabi Besar Muhammad saw. ‘ulamā-u ummatiy  kal-anbiyā-i  banī  Isrāīla  (para  ’ulama umatku seperti nabi-nabi Bani Israil),    bukanlah para ‘ulama  dalam pengertian umum – yang disebut   juga  ustadz atau kyai atau ajengan atau buya dan lain-lain – melainkan maksudnya adalah para  wali Allah yang memiliki kedekatan khusus dengan Allah Swt. yakni para mujaddid yang muncul di setiap abad, seperti Khalifah ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz yang dipercayai sebagai mujaddid Islam yang pertama setelah masa khulafa-ur- Rasyidin, lalu Imam Syafi’i, Imam Ghazali, Syeikh ‘Abdul Qadir Jailani  dan  para ulama rabbani lainnya.

Berbagai Versi Para Mujaddid  Di Setiap Abad

       Sehubungan dengan hal tersebut berdasarkan riwayat dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda:
Sesungguhnya Allah akan mengutus (menghadirkan) bagi umat ini (umat Islam) orang yang akan memperbaharui (urusan) agama mereka pada setiap akhir seratus tahun.” (Hadits riwayat al-Bukhari, bab Al Fitan. no. 7068. Imam Abu Dawud dalam Sunannya hadits no 4921. Al Baihaqy dalam Ma’rifatus Sunan wal Atsar,  h. 52).     
    Ibnu Ziyad telah menyebutkan tokoh-tokoh  Islam yang disebut-sebut sebagai mujaddid pada zamannya, yakni:
1.     Mujaddid  abad pertama  Sayyidina Umar bin Abdul al-Aziz,
2.     Mujaddid  abad kedua Imam Syafi’i,
3.     Mujaddid  abad ketiga  Ibnu al-Suraij atau Imam al-Asy’ari,
4.     Mujaddid  abad keempat Al-Sha’luky atau Abu Hamid al-Asfiraainy atau Qadhi Abu Bakar al-Baqilany,
5.     Mujaddid  abad  kelima Imam al-Ghazali,
6.     Mujaddid  abad  keenam Fakhrurrazi atau al-Rafi’i
7.     Mujaddid  abad ketujuh Ibnu Daqiq al-Id,
8.     Mujaddid  abad kedelapan    Al-Bulqaini atau Zainuddin al-Iraqi atau Ibnu binti al-Miilaq,
9.     Mujaddid  abad  kesembilan Zakariya al-Anshari atau al-Suyuthi (al-Suyuthi telah menisbahkan mujaddid kepada dirinya sendiri), 
10.                        Mujaddid  abad kesepuluh  Ibnu Hajar al-Haitamy atau Imam al-Ramli,
11.                        Mujaddid  abad kesebelas  Al-Quthub Abdullah bin ‘Alawi al-Hadad ‘Alawi,
12.                        Mujaddid  abad keduabelas Al-Quthub Ahmad bin Umar ibnu Sumith ‘Alawi
      Dalam sebuah buku yang bernama Hujajul Kiramah karangan Nawab Shiddiq Hasan Khan (Bahasa Parsi). Dalam buku itu pada halaman 135-139 tercantum nama-nama Mujaddid dimulai abad ke 1 sampai 14 sbb:
1.     ’Umar bin ‘Abdul ‘Aziz;
2.     Imam Syafi’i dan setengah orang mengatakan Ahmad bin Hambal,
3.     Abu Syarah atau Abu Hasan Asy’ari,
4.     Abu Ubaidullah,
5.     Imam Ghazali,
6.     Abdul Qadir Al-Jailani,
7.     Ibnu Thaimiyah,
8.     Ibnu Hajar Asqwalani
9.     Imam Suyuthi
10.                        Imam Muhammad Thahir Gujarati
11.                        Alif Tsani Sarhindi,
12.                        Syekh Waliyullah Muhadits Delhi,
13.  Sayid Ahmad Barelwi,
14.  Imam Mahdi / Isa Al-Masih yang dijanjikan Rasulullah saw..

Para Mujaddid Tidak Mendakwakan Diri Ke-mujaddid-an Mereka

      Namun dari sumber-sumber lainnya menyebutkan  susunan nama  para mujaddid  yang lain lagi  sehingga timbul pertanyaan: Mengapa bisa terjadi seperti itu?  Jawaban atas pertanyaan tersebut  adalah:
     1. Berbeda dengan para Rasul (nabi) Allah yang  harus mendakwakan diri mengenai kenabian atau kerasulan yang disandangnya dari Allah Swt.,  sedangkan  para mujaddid   mau pun para wali Allah mereka itu tidak ada kewajiban  harus mendakwakan dirinya sebagai mujaddid atau sebagai wali Allah. 
      2.  Tugas ke-mujaddid-an  para mujaddid di kalangan umat Islam tidak secara otomatis berlaku bagi seluruh wilayah kekuasaan umat Islam,  melainkan berlaku pada masanya dan pada wilayah  di mana para mujaddid tersebut ada. Demikian juga  tugas ke-mujaddid-an  (pembaharuan) yang mereka lakukan pun  tidak sama, sesuai dengan kasus-kasus keagamaan yang sedang terjadi pada wilayah mujaddid yang berangkutan ada, karena itu sangat wajar jika dalam  abad-abad tersebut terdapat lebih dari seorang  yang dianggap sebagai mujaddid.
     4.  Kadang-kadang terjadi juga seorang yang dianggap mujaddid pada abad tertentu mengeritik keras bahkan mengeluarkan fatwa kafir terhadap pemahaman yang dikemukakan mujaddid sebelumnya, contohnya Ibnu Taimiyah terhadap pemahaman Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani.
      5. Jangka waktu tajdid (pembaharuan) yang dilakukan oleh para mujaddid tersebut hanya 1 abad (100 tahun), karena itu tidak menjadi keharusan bahwa tajdid (pembaharuan)  oleh seorang mujaddid  berlaku secara umum bagi abad-abad selanjutnya sebagaimana yang difahami oleh para pengikut berbagai thariqah  atau mazhab  sehingga mengakibatkan semakin maraknya perpecahan  yang terjadi di kalangan umat Islam (QS.30:21-33; QS.6:160).
         Kembali kepada janji Allah Swt. mengenai akan berlangsungnya silsilah Khilafat kenabian di kalangan umat Islam, firman-Nya:    
وَعَدَ  اللّٰہُ  الَّذِیۡنَ  اٰمَنُوۡا مِنۡکُمۡ وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ لَیَسۡتَخۡلِفَنَّہُمۡ فِی الۡاَرۡضِ کَمَا اسۡتَخۡلَفَ الَّذِیۡنَ مِنۡ قَبۡلِہِمۡ ۪ وَ لَیُمَکِّنَنَّ لَہُمۡ دِیۡنَہُمُ  الَّذِی ارۡتَضٰی لَہُمۡ وَ لَیُبَدِّلَنَّہُمۡ مِّنۡۢ بَعۡدِ خَوۡفِہِمۡ  اَمۡنًا ؕ یَعۡبُدُوۡنَنِیۡ لَا  یُشۡرِکُوۡنَ بِیۡ شَیۡئًا ؕ وَ مَنۡ  کَفَرَ بَعۡدَ ذٰلِکَ فَاُولٰٓئِکَ ہُمُ  الۡفٰسِقُوۡنَ ﴿﴾
Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman  dan  beramal saleh di antara kamu niscaya Dia  akan menjadikan mereka itu khalifah di bumi ini sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka khalifah, dan niscaya Dia akan meneguhkan bagi mereka agamanya yang telah Dia ridhai bagi mereka,  dan niscaya Dia akan mengubah keadaan mereka dengan keamanan sesudah ketakutan mereka. Mereka akan menyembah-Ku dan mereka tidak akan mempersekutukan sesuatu dengan-Ku, dan barangsiapa kafir sesudah itu  mereka itulah orang-orang  durhaka.  (An-Nūr [24]:56).

Keabadian Silsilah Khilafat Penerus Nabi Besar Muhammad Saw.

        Dikarenakan ayat ini berlaku sebagai pendahuluan untuk mengantarkan masalah khilafat, maka dalam ayat-ayat QS.52:55 sebelumnya berulang-ulang telah diberi tekanan mengenai ketaatan kepada Allah Swt. dan Rasul-Nya. Tekanan ini merupakan isyarat mengenai tingkat dan kedudukan seorang khalifah dalam Islam. Ayat ini berisikan janji Allah Swt. bahwa orang-orang Muslim akan dianugerahi pimpinan ruhani maupun duniawi.
      Janji Allah Swt. itu diberikan kepada seluruh umat Islam, tetapi lembaga khilafat akan mendapat bentuk nyata dalam wujud perorangan-perorangan tertentu, yang akan menjadi penerus  Nabi Besar Muhammad saw.  serta wakil seluruh umat Islam. Janji mengenai ditegakkannya khilafat adalah jelas dan tidak dapat menimbulkan salah paham.
        Oleh sebab kini  Nabi Besar Muhammad  saw.  satu-satunya hadi (petunjuk jalan) umat manusia untuk selama-lamanya (QS.3:32; QS.4:70-71), maka  khilafat beliau saw. akan terus berwujud dalam salah satu bentuk di dunia ini sampai Hari Kiamat, karena semua khilafat yang lain telah tiada lagi.
       Inilah, di antara banyak keunggulan yang lainnya lagi, merupakan kelebihan Nabi Besar Muhammad saw.   yang menonjol di atas semua nabi dan rasul Allah lainnya. Di Akhir Zaman   ini   -- sesuai dengan sabda Nabi Besar Muhammad saw. dalam Hadits sebelum ini – umat manusia telah menyaksikan khalifah ruhani beliau saw. yang terbesar dalam wujud Pendiri Jemaat Muslim Ahmadiyah., Mirza Ghulam Ahmad a.s.   – Imam Mahdi a.s. dan Al-Masih Mau’ud a.s.  – sebagaimana  sabda beliau saw. “Tsumma takūnu khilāfatun ‘alā minhāji- nubuwwah    -- “kemudian berlaku pula zaman Kekhalifahan  yang berjalan di atas cara hidup zaman kenabian.”  Setelah  mengucapkan nubuatan tersebut   beliau  saw. diam.
        Kembali kepada firman Allah Swt. mengenai pengenugerahan silsilah khilafat di kalangan pengikut hakiki Nabi Besar Muhammad saw., firman-Nya:
وَعَدَ  اللّٰہُ  الَّذِیۡنَ  اٰمَنُوۡا مِنۡکُمۡ وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ لَیَسۡتَخۡلِفَنَّہُمۡ فِی الۡاَرۡضِ کَمَا اسۡتَخۡلَفَ الَّذِیۡنَ مِنۡ قَبۡلِہِمۡ ۪ وَ لَیُمَکِّنَنَّ لَہُمۡ دِیۡنَہُمُ  الَّذِی ارۡتَضٰی لَہُمۡ وَ لَیُبَدِّلَنَّہُمۡ مِّنۡۢ بَعۡدِ خَوۡفِہِمۡ  اَمۡنًا ؕ یَعۡبُدُوۡنَنِیۡ لَا  یُشۡرِکُوۡنَ بِیۡ شَیۡئًا ؕ وَ مَنۡ  کَفَرَ بَعۡدَ ذٰلِکَ فَاُولٰٓئِکَ ہُمُ  الۡفٰسِقُوۡنَ ﴿﴾
Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman  dan  beramal saleh di antara kamu niscaya Dia  akan menjadikan mereka itu khalifah di bumi ini sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka khalifah, dan niscaya Dia akan meneguhkan bagi mereka agamanya yang telah Dia ridhai bagi mereka,  dan niscaya Dia akan mengubah keadaan mereka dengan keamanan sesudah ketakutan mereka. Mereka akan menyembah-Ku dan mereka tidak akan mempersekutukan sesuatu dengan-Ku, dan barangsiapa kafir sesudah itu  mereka itulah orang-orang  durhaka.  (An-Nūr [24]:56).
Firman-Nya lagi:
وَ مَنۡ یُّطِعِ اللّٰہَ وَ الرَّسُوۡلَ فَاُولٰٓئِکَ مَعَ الَّذِیۡنَ اَنۡعَمَ اللّٰہُ عَلَیۡہِمۡ مِّنَ النَّبِیّٖنَ وَ الصِّدِّیۡقِیۡنَ وَ الشُّہَدَآءِ وَ الصّٰلِحِیۡنَ ۚ وَ حَسُنَ اُولٰٓئِکَ رَفِیۡقًا ﴿ؕ﴾ ذٰلِکَ الۡفَضۡلُ مِنَ اللّٰہِ ؕ وَ کَفٰی بِاللّٰہِ عَلِیۡمًا ﴿٪﴾
Dan  barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul ini maka mereka akan termasuk di antara  orang-orang  yang Allah memberi nikmat kepada mereka yakni: nabi-nabi, shiddiq-shiddiq, syahid-syahid, dan orang-orang shalih, dan merekaitulah sahabat yang sejati.   Itulah karunia dari Allah,  dan cukuplah Allāh Yang Maha Mengetahu . (An-Nisa [4]:70-71).
  Ayat 70  sangat penting sebab ia menerangkan semua jalur kemajuan ruhani yang terbuka bagi kaum Muslimin. Keempat martabat keruhanian — nabi-nabi, shiddiq-shiddiq,   syuhada (saksi-saksi) dan orang-orang   shalih  —  sejak diwahyukan-Nya agama Islam (Al-Quran) dan pengutusan Nabi Besar Muhammad saw.,  semua  derajat ruhani tersebut  dapat dicapai hanya dengan jalan mengikuti  Nabi Besar Muhammad saw..

Kehormatan Khusus Nabi Besar Muhammad Saw. &  Ketidak-bersyukuran Bani Isma’il   dan Terbunuhnya Tiga Orang Khulafatur Rasyidin  

 Hal ini merupakan kehormatan khusus bagi Nabi Besar Muhammad saw.semata. Tidak ada nabi Allah  lain menyamai beliau saw. dalam perolehan nikmat ini. Kesimpulan itu lebih lanjut ditunjang oleh ayat yang membicarakan nabi-nabi Allah secara umum dan mengatakan:     “Dan orang-orang yang beriman kepada Allah dan para rasul-Nya, mereka adalah orang-orang shiddiq dan saksi-saksi di sisi Tuhan mereka”, firman-Nya:
وَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا بِاللّٰہِ  وَ رُسُلِہٖۤ  اُولٰٓئِکَ ہُمُ الصِّدِّیۡقُوۡنَ ٭ۖ وَ الشُّہَدَآءُ  عِنۡدَ رَبِّہِمۡ ؕ لَہُمۡ  اَجۡرُہُمۡ وَ نُوۡرُہُمۡ ؕ وَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا وَ کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَاۤ اُولٰٓئِکَ اَصۡحٰبُ الۡجَحِیۡمِ ﴿٪﴾
Dan orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-rasul-Nya, mereka adalah orang-orang yang benar dan saksi-saksi di sisi Rabb (Tuhan) mereka. Bagi mereka ada ganjaran mereka dan cahaya mereka. Tetapi mereka yang kafir dan mendustakan Tanda-tanda Kami mereka adalah penghuni-penghuni Jahannam.  (Al-Hadīd [57]: 20).
      Apabila kedua ayat ini dibaca bersama-sama maka kedua ayat itu berarti bahwa, kalau para pengikut nabi-nabi  Allah lainnya dapat mencapai martabat shiddiq, syahid, dan shalih dan tidak lebih tinggi dari itu, maka pengikut sejati  Nabi Besar Muhammad saw.  dapat naik ke martabat nabi  Allah juga.
Kitab “Bahr-ul-Muhit” (jilid III, hlm. 287) menukil Al-Raghib yang mengatakan: “Tuhan telah membagi orang-orang beriman  dalam empat golongan dalam ayat ini, dan telah menetapkan bagi mereka empat tingkatan, sebagian di antaranya lebih rendah dari yang lain, dan Dia telah mendorong orang-orang beriman sejati agar jangan tertinggal dari keempat tingkatan ini.”
Dan membubuhkan bahwa:
 “Kenabian itu ada dua macam: umum dan khusus. Kenabian khusus, yakni kenabian yang membawa syariat, sekarang tidak dapat dicapai lagi; tetapi kenabian yang umum masih tetap dapat dicapai.”
         Janji Allah Swt. dalam kedua firman-Nya tersebut  itu diberikan kepada seluruh umat Islam, tetapi lembaga khilafat akan mendapat bentuk nyata dalam wujud perorangan-perorangan tertentu, yang akan menjadi penerus (khalifah)  Nabi Besar Muhammad saw. serta wakil seluruh umat Islam yang – akibat ketidak bersyukuran dari  kalangan umat Islam sendiri   -- silsilah Khilafat tersebut  terbatas  sampai zaman para Khulafatur- Rasyidah saja  dimana 3 orang Khalifah Nabi Besar Muhammad saw. tersebut telah disyahidkan, yakni Khalifah Umar bin Khaththab r.a., Khalifah Utsman bin ‘Affan r.a.   dan Khalifah Ali bin Abi Thalib r.a..
      Dari kenyataan sejarah tersebut jelaslah    bahwa   setelah wafat Nabi Besar Muhammad saw.,  di kalangan umat Islam bangsa Arab (Bani Isma’il) telah muncul bentuk-bentuk ketidak-bersyukuran kepada Allah Swt. dan kepada Nabi Besar Muhammad saw.

Pelepasan Sementara  Iblis dari “Pemenjaraan 1000 Tahun” & Kisah  As-habul Kahf (Para Penghuni Gua)

        Alasan lainnya mengapa  kejayaan umat Islam yang pertama  hanya berlangsung selama 3 abad saja, karena dari kurun 7000 tahun sejak pengutusan Nabi Adam a.s. – yang masanya  silih berganti antara masa  datangnya cahaya dan masa  datangnya kegelapan  masing-masing selama 1000 tahun,    seperti satu hari dalam kurun  7 hari (satu minggu)  -- pengutusan Nabi Besar Muhammad saw. pun  persis di   3 abad akhir masa cahaya  yang dimulai pengutusan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.,  yang datang sekitar     6 abad  sebelum pengutusan Nabi Besar Muhammad saw.  ditambah 3 abad masa kejayaan Islam  jumlahnya kurang-lebih 1000 tahun. Setelah itu mulai datang kurun waktu  1000 tahun masa kegelapan, firman-Nya:
یُدَبِّرُ الۡاَمۡرَ مِنَ السَّمَآءِ  اِلَی الۡاَرۡضِ ثُمَّ یَعۡرُجُ  اِلَیۡہِ  فِیۡ یَوۡمٍ کَانَ مِقۡدَارُہٗۤ اَلۡفَ سَنَۃٍ  مِّمَّا تَعُدُّوۡنَ ﴿﴾  ذٰلِکَ عٰلِمُ الۡغَیۡبِ وَ الشَّہَادَۃِ  الۡعَزِیۡزُ الرَّحِیۡمُ ۙ﴿﴾
Dia mengatur perintah dari langit sampai bumi, kemudian perintah itu akan naik kepada-Nya dalam satu hari, yang hitungan lamanya seribu tahun dari apa yang kamu hitung.  Demikian itulah  Tuhan Yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, Maha Perkasa, Maha Penyayang (As-Sajdah [32]:6-17).
       Sejalan dengan pernyataan Allah Swt. tersebut,  dalam Bible pun dikemukakan mengenai berakhirnya masa pemenjaraan “iblis” atau Satan, si ular tua selama 1000 tahun  kemudian   untuk sementara waktu ia akan dilepaskan agar menyesatkan umat manusia:
Iblis dihukum
20:7 Dan setelah masa seribu tahun itu berakhir,   Iblis akan dilepaskan   dari penjaranya, 20:8 dan ia akan pergi menyesatkan bangsa-bangsa    pada keempat penjuru bumi,   yaitu Gog dan Magog,   dan mengumpulkan mereka untuk berperang  dan jumlah mereka sama dengan banyaknya pasir di laut. 20:9 Maka naiklah mereka ke seluruh dataran bumi, lalu mengepung  perkemahan tentara orang-orang kudus dan kota yang dikasihi   itu. Tetapi dari langit turunlah api menghanguskan mereka, 20:10 dan Iblis, yang menyesatkan mereka,   dilemparkan ke dalam lautan api dan beleran ,   yaitu tempat binatang   dan nabi palsu    itu, dan mereka disiksa siang malam sampai selama-lamanya. (Wahyu 20:7-10).

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid

oo0oo

Pajajaran Anyar,  1  Februari   2017

Tidak ada komentar:

Posting Komentar