Bismillaahirrahmaanirrahiim
ISLAM
Pidato Mirza Ghulam Ahmad a.s.
Tgl. 2 November 1904
di Kota Sialkote – Hindustan
Bab 9
PERUMPAMAAN UMAT ISLAM YANG TERBAIK BAGAIKAN ”TURUNNYA TETESAN
AIR HUJAN DI AWALNYA
DAN DI AKHIRNYA” & HAKIKAT
BERBAGAI VERSI PARA MUJADDID DI KALANGAN UMAT ISLAM
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam bagian akhir Bab 8 telah
dijelaskan topik Makna Gelar “Khātaman
Nabiyyīn” & “Kenabian Ummati” Mirza
Ghulam Ahmad a.s. Sebagai Rasul
Akhir Zaman sehubungan terbukanya “semua pintu martabat keruhanian” dalam QS.4:70-71) serta alasan lainnya mengapa pengutusan para nabi Allah hingga dengan Nabi Besar
Muhammad saw. semuanya merupakan nabi
mustaqil (nabi mandiri), karena – sesuai
dengan Sifat Rububiyyat Allah Swt.
(QS.1:2) -- hingga dengan masa menjelang pengutusan Nabi Besar Muhammad saw.
proses penyempurnaan hukum-hukum syariat belum mencapai puncak kesempurnaannya (QS.5:4), firman-Nya:
اَلۡحَمۡدُ لِلّٰہِ رَبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ ۙ﴿ ﴾
"Segala puji hanya bagi Allah, Rabb
(Tuhan) seluruh alam.”
Kata
kerja rabba dalam ayat tersebut berarti: ia mengelola urusan itu; ia memperbanyak,
mengembangkan, memperbaiki, dan melengkapkan urusan itu; ia memelihara dan
menjaga. Jadi Rabb berarti: (a) Tuhan, Yang Dipertuan, Khāliq (Yang
menciptakan); (b) Wujud Yang memelihara dan mengembangkan; (c) Wujud Yang
menyempurnakan, dengan cara se-tingkat demi setingkat (Al-Mufradat dan Lexicon
Lane).
Tetapi jika dipakai dalam rangkaian dengan kata lain,
kata rabb itu dapat dipakai untuk orang atau wujud selain Allah Swt.,
contohnya Nabi Yusuf a.s. menyebut Fir’aun
dengan sebutan “rabb” (QS.12:51),
sebab semua raja melakukan penyempurnaan
kerajaannya (pemerintahannya) dilakukan secara bertahap.
Kedatangan “Roh Kebenaran” yang “Membawa Seluruh Kebenaran” & Penggenapan Nubuatan Nabi Musa a.s. Dalam Ulangan 18:15-19
Mengisyaratkan kepada kenyataan itulah dalam Injil Matius --
setelah Yesus mengecam keras para pemuka agama Yahudi (Matius
23:1-36) -- selanjutnya Allah Swt. melalui beliau bernubuat
mengenai kedatangan “Dia yang datang dalam nama Tuhan”:
Keluhan terhadap Yerusalem
23:37 "Yerusalem, Yerusalem, engkau yang membunuh nabi-nabi dan melempari dengan batu orang-orang yang diutus kepadamu! Berkali-kali Aku rindu mengumpulkan anak-anakmu, sama seperti induk ayam mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayapnya,
tetapi kamu
tidak mau. 23:38 Lihatlah rumahmu ini akan
ditinggalkan dan menjadi sunyi.
23:39 Dan Aku berkata kepadamu: Mulai
sekarang kamu tidak akan melihat Aku lagi, hingga kamu berkata: Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan!" (Matius 23:37-39).
Makna “Diberkatilah Dia yang datang dalam nama
Tuhan!" hanya cocok
dengan Nabi Besar Muhammad saw., sebab semua Surah Al-Quran -- kecuali surah At-Taubah – dimulai dengan ayat بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ – “dengan nama Allah, Yang Maha Pemurah
dan maha Penyayang.”
Nubuatan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. dalam Matius 23:37-39 mengenai belum sempurnanya proses
pewahyuan syariat sampai dengan masa Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. tersebut dijelaskan lagi
oleh beliau dalam Injil Yohanes
berikut ini:
16:12 Masih banyak hal yang harus
Kukatakan kepadamu, tetapi sekarang
kamu belum dapat menanggungnya. 16:13 Tetapi apabila Ia datang,
yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh
kebenaran; sebab Ia tidak akan berkata-kata dari diri-Nya
sendiri, tetapi segala sesuatu yang
didengar-Nya itulah yang akan
dikatakan-Nya dan Ia akan
memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang. (Yohanes
16:12-13).
Nubuatan-nubuatan
Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. dalam Injil tersebut berkenaan dengan “Dia yang datang dalam nama Tuhan” atau “Roh Kebenaran” yang “membawa seluruh kebenaran” – yakni Nabi
Besar Muhamad saw. -- sesuai pula dengan nubuatan
Nabi Musa a.s. dalam Kitab Ulangan mengenai kedatangan “nabi yang seperti Musa” dari kalangan Bani Isma’il, yaitu Nabi
Besar Muhammad saw. yang membawa syariat terakhir dan tersempurna (QS.5:4):
18:15 Seorang nabi dari tengah-tengahmu, dari antara saudara-saudaramu, sama seperti aku, akan dibangkitkan bagimu oleh Tuhan, Allahmu;
dialah yang harus kamu dengarkan. 18:16 Tepat seperti yang kamu minta dahulu kepada Tuhan,
Allahmu, di gunung Horeb, pada hari perkumpulan, dengan berkata: Tidak mau aku mendengar lagi suara Tuhan,
Allahku, dan api yang besar ini tidak mau aku melihatnya lagi, supaya jangan
aku mati. 18:17 Lalu
berkatalah Tuhan kepadaku: Apa yang
dikatakan mereka itu baik; 18:18 seorang nabi akan Kubangkitkan bagi mereka dari antara
saudara mereka, seperti engkau ini; Aku akan menaruh firman-Ku dalam mulutnya, dan ia akan mengatakan kepada mereka segala
yang Kuperintahkan kepadanya. 18:19 Orang yang tidak mendengarkan segala firman-Ku yang akan diucapkan nabi itu
demi nama-Ku, dari padanya akan Kutuntut pertanggungjawaban.
18:20 Tetapi seorang nabi, yang terlalu berani untuk
mengucapkan demi nama-Ku perkataan yang tidak Kuperintahkan untuk dikatakan
olehnya, atau yang berkata demi nama
allah lain, nabi itu harus mati. (Ulangan
18:15-20).
Makna Gelar “Khātaman
Nabiyyīn”
Salah satu bukti bahwa Kitab suci Al-Quran dan Nabi Besar
Muhammad saw. memiliki hubungan yang
sangat erat dengan nubuatan-nubuatan dalam Bible
tersebut, maka nubuatan-nubuatan tersebut dikemukakan lagi dalam Al-Quran guna membuktikan bahwa pewahyuan
Al-Quran dan pengutusan Nabi Besar
Muhammad saw. di kalangan Bani
Isma’il merupakan penggenapan nubuatan-nubuatan dalam Bible, mengenai hal itu berikut firman-Nya
kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
قُلۡ
مَا کُنۡتُ بِدۡعًا مِّنَ الرُّسُلِ وَ مَاۤ اَدۡرِیۡ مَا یُفۡعَلُ بِیۡ وَ لَا بِکُمۡ ؕ اِنۡ اَتَّبِعُ اِلَّا مَا یُوۡحٰۤی اِلَیَّ وَ مَاۤ اَنَا
اِلَّا نَذِیۡرٌ مُّبِیۡنٌ ﴿ ﴾ قُلۡ اَرَءَیۡتُمۡ
اِنۡ کَانَ مِنۡ عِنۡدِ اللّٰہِ وَ کَفَرۡتُمۡ بِہٖ وَ شَہِدَ شَاہِدٌ مِّنۡۢ بَنِیۡۤ اِسۡرَآءِیۡلَ عَلٰی مِثۡلِہٖ فَاٰمَنَ وَ اسۡتَکۡبَرۡتُمۡ ؕ اِنَّ
اللّٰہَ لَا یَہۡدِی الۡقَوۡمَ
الظّٰلِمِیۡنَ ﴿٪﴾
Katakanlah:
"Aku sekali-kali bukan rasul baru di antara rasul-rasul, dan aku sekali-kali tidak mengetahui apa yang akan diperbuat Allah
terhadapku atau pun terhadap kamu.
Aku tidak lain hanyalah mengikuti
apa yang diwahyukan kepadaku, dan aku
tidak lain hanyalah seorang pemberi
peringatan yang nyata." قُلۡ اَرَءَیۡتُمۡ اِنۡ کَانَ مِنۡ عِنۡدِ اللّٰہِ وَ
کَفَرۡتُمۡ بِہٖ -- Katakanlah: "Terangkanlah kepadaku jika Al-Quran ini dari Allah tetapi kamu tidak percaya kepadanya وَ شَہِدَ شَاہِدٌ مِّنۡۢ
بَنِیۡۤ اِسۡرَآءِیۡلَ عَلٰی
مِثۡلِہٖ فَاٰمَنَ وَ اسۡتَکۡبَرۡتُمۡ -- dan seorang
saksi dari antara Bani Israil memberi kesaksian terhadap kedatangan seseorang semisalnya lalu ia
beriman tetapi kamu berlaku sombong?"
اِنَّ اللّٰہَ لَا یَہۡدِی الۡقَوۡمَ الظّٰلِمِیۡنَ -- Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang zalim (Al-Ahqāf
[46]:11).
Tetapi ketika syariat
Islam diwahyukan Allah Swt. kepada
Nabi Besar Muhammad saw. – yang merupakan puncak proses penyempurnaan
hukum syariat (QS.5:4)
-- maka rangkaian pengutusan nabi
mustaqil telah berakhir (tertutup) dengan diutus-Nya
Nabi Besar Muhamad saw. – yakni beliau saw. sebagai nabi mustaqil yang terakhir --
dan selanjutnya adalah terbukanya
“kenabian ummati” (nabi
pengikut) atau kenabian zhilli
(buruzi -- nabi bayangan) melalui ketaatan kepada Nabi Besar Muhammad saw.
(QS.3:32; QS.4:70; QS.33:22).
Itulah sebabnya Allah Swt. telah memberi
gelar “Khātaman-Nabiyyīn” kepada Nabi
Besar Muhammad saw., firman-Nya:
مَا کَانَ
مُحَمَّدٌ اَبَاۤ اَحَدٍ مِّنۡ
رِّجَالِکُمۡ وَ لٰکِنۡ رَّسُوۡلَ اللّٰہِ وَ خَاتَمَ النَّبِیّٖنَ ؕ وَ کَانَ اللّٰہُ
بِکُلِّ شَیۡءٍ عَلِیۡمًا ﴿٪﴾
Muhammad bukanlah bapak salah seorang laki-laki di antara laki kamu, akan tetapi ia adalah Rasul Allah dan Khātaman-Nabiyyīn (meterai sekalian nabi), dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu (Al-Ahzāb [33]:41).
Jadi, sehubungan dengan QS.4:70 mengenai
terbukanya “pintu kenabian ummati”
(zhilli/buruzi) bagi para pengikut sejati Nabi Besar Muhammad saw. merupakan
sekian banyak keunggulan
beliau saw. yang lainnya lagi, dan merupakan kelebihan
Nabi Besar Muhammad saw. yang menonjol di atas semua nabi Allah dan rasul
Allah lainnya, firman-Nya:
وَ مَنۡ یُّطِعِ اللّٰہَ وَ
الرَّسُوۡلَ فَاُولٰٓئِکَ مَعَ الَّذِیۡنَ اَنۡعَمَ اللّٰہُ عَلَیۡہِمۡ مِّنَ النَّبِیّٖنَ
وَ الصِّدِّیۡقِیۡنَ وَ الشُّہَدَآءِ وَ الصّٰلِحِیۡنَ ۚ وَ حَسُنَ اُولٰٓئِکَ
رَفِیۡقًا ﴿ؕ﴾ ذٰلِکَ الۡفَضۡلُ مِنَ اللّٰہِ ؕ وَ کَفٰی
بِاللّٰہِ عَلِیۡمًا ﴿٪﴾
Dan barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul
ini maka mereka akan termasuk di
antara orang-orang
yang Allah memberi nikmat kepada
mereka yakni: مِّنَ النَّبِیّٖنَ وَ الصِّدِّیۡقِیۡنَ وَ الشُّہَدَآءِ وَ
الصّٰلِحِیۡنَ -- nabi-nabi, shiddiq-shiddiq, syahid-syahid,
dan orang-orang shalih, وَ حَسُنَ اُولٰٓئِکَ رَفِیۡقًا -- dan mereka itulah sahabat yang sejati. ذٰلِکَ الۡفَضۡلُ
مِنَ اللّٰہِ ؕ وَ کَفٰی بِاللّٰہِ عَلِیۡمًا -- Itulah karunia
dari Allah, dan cukuplah Allah Yang Maha Mengetahui
(An-Nisā [4]:70-71).
“Kenabian Ummati” Mirza
Ghulam Ahmad a.s. Sebagai Rasul Akhir
Zaman & Dua Periode Khilafat Kenabian yang Terpisah
Di Akhir
Zaman ini -- sesuai dengan sabda Nabi Besar Muhammad
saw. dalam Hadits sebelum ini – umat manusia telah menyaksikan khalifah
ruhani beliau saw. yang terbesar dalam wujud Pendiri Jemaat Ahmadiyah., Mirza Ghulam Ahmad a.s. – Imam
Mahdi a.s. dan Al-Masih Mau’ud a.s. – sebagaimana
sabda beliau saw.: ثم تكون
خلافة على منهاج النبوة . ثم سكت " -- “kemudian berlaku pula zaman Kekhalifahan yang
berjalan di atas cara kenabian.” Setelah mengucapkan nubuatan tersebut beliau
saw. diam:
تكون
النبوة فيكم ما شاء الله أن تكون , ثم يرفعها الله إذا شاء أن يرفعها ثم تكون
خلافة على منهاج النبوة , فتكون ما شاء الله أن تكون , ثم يرفعها إذا شاء أن
يرفعها , ثم تكون ملكا عاضا فيكون ما شاء الله أن تكون , ثم يرفعها إذا شاء الله
أن يرفعها , ثم تكون ملكا جبريا فتكون ما شاء الله أن تكون , ثم يرفعها إذا شاء أن
يرفعها , ثم تكون خلافة على منهاج النبوة . ثم سكت " .
“Akan
ada masa nubuwwat (kenabian) pada
kalian selama yang Allah kehendaki, kemudian Allah mengangkatnya kalau
Allah kehendaki. Lalu akan ada khilāfatun ‘alā minhājin- nubuwwah -- masa khilafah di atas jalan
kenabian selama yang
Allah kehendaki, kemudian Allah
mengangkatnya jika Allah menghendaki. Lalu ada mulkan ‘ādhan -- masa kerajaan
yang dhalim/menggigit selama yang Allah kehendaki, kemudian Allah mengangkatnya bila Allah
menghendaki. Lalu akan ada mulkan jabriyān – masa kerajaan
tirani (diktator) selama yang Allah kehendaki, kemudian Allah mengangkatnya bila Allah
menghendaki. Lalu akan ada lagi khilāfatun ‘alā minhājin- nubuwwah -- masa kekhilafahan di atas manhaj
Nubuwwah”. Kemudian beliau diam” [Diriwayatkan oleh Ahmad 4/273 dan Ath-Thayalisi
no. 439; dishahihkan oleh Al-Albaaniy dalam Silsilah Ash-Shahiihah
no. 5].
Jadi, silsilah خلافة
على منهاج النبوة -- khilafat
atas jalan (acuan) kenabian” di kalangan umat Islam ada di dua
zaman, yaitu:
(1) di masa awal setelah wafatnya
Nabi Besar Muhammad berupa masa kepemimpinan
para Khulafa-ur-Rasyidin (Khalifah Abu bakar Shiddiq r,a,,
Khalifah ‘Umat bin Khaththab r.a.,
Khalifah Utsman bin ‘Affan r.a., dan Khalifah Ali bin Abu Thalib r.a.).
(2) di Akhir Zaman ini yang diawali
dengan pengutusan Mirza Ghulam Ahmad a.s. sebagai Rasul Akhir Zaman yaitu Al-Masih Mau’ud a.s. atau misal Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.
(QS.43:58), dan para penerus kepemimpinannya disebut
Khalifatul-Masih.
Dengan demikian genaplah nubuatan Allah Swt. dalam Al-Quran
mengenai dua kali pengutusan Nabi Besar Muhammad saw., yaitu di masa awal umat Islam dan di masa akhir umat Islam yakni di Akhir
Zaman ini melalui pengutusan Masih Mau’ud a.s., firman-Nya:
ہُوَ
الَّذِیۡ بَعَثَ فِی الۡاُمِّیّٖنَ
رَسُوۡلًا مِّنۡہُمۡ یَتۡلُوۡا
عَلَیۡہِمۡ اٰیٰتِہٖ وَ
یُزَکِّیۡہِمۡ وَ
یُعَلِّمُہُمُ الۡکِتٰبَ وَ الۡحِکۡمَۃَ ٭ وَ اِنۡ کَانُوۡا مِنۡ قَبۡلُ
لَفِیۡ ضَلٰلٍ مُّبِیۡنٍ ۙ﴿﴾ وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ
لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ ہُوَ
الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ ﴿﴾
Dia-lah Yang telah membangkitkan di kalangan bangsa yang buta huruf seorang rasul dari antara mereka, yang membacakan
kepada mereka Tanda-tanda-Nya, mensucikan mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah walaupun sebelumnya mereka berada dalam kesesatan yang nyata, وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ
لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ ہُوَ
الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ -- Dan juga Dia akan membangkitkannya pada kaum lain dari antara mereka, yang belum bertemu dengan mereka. Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa, Maha
Bijaksana. (Al-Jumu’ah [62}:3-4).
Umat Islam
Sebagai “Umat Terbaik” dan Perumpamaan “Air Hujan”
Atas dasar nubuatan itu pulalah Nabi Besar Muhammad saw. telah bersabda
mengenai permisalan umat Islam dengan
turunnya air hujan dari langit:
"Perumpamaan
ummatku seperti halnya hujan, tidak diketahui manakah yang lebih baik, awalnya atau akhirnya."
(HR. Tirmidzi
2869; Ahmad dalam Musnadnya).
Dalam
kesempatan lain Nabi Besar Muhammad saw. bersabda:
"Sesungguhnya Islam dimulai dalam keadaan asing dan akan kembali menjadi asing" (HR Muslim; Tirmidzi;
Ibnu Majah).
"Sebaik-baik
umatku adalah generasi
yang hidup ketika aku diutus." (HR Muslim;
Abu
Dawud; Tirmidzi; Ahmad)
Nabi Besar Muhammad saw. pun pernah bersabda:
"Sebaik-baik umatku adalah yang pertama dan yang terakhir”
" (HR Al-Haitsami dalam Majma'
'Az-Zawaid).
Beliau
saw. bersabda lagi:
"Orang
yang memegang agamanya dari
mereka ketika itu (Akhir Zaman) seperti orang
yang memegang bara api."
Bahkan
ketika Nabi Besar Muhammad saw. ditanya
tentang al-ghuroba (orang-orang yang
dianggap asing/aneh di Akhir Zaman)
beliau saw. bersabda:
"Mereka adalah orang-orang yang menghidupkan
sunnahku yg telah mati (sunnah
yang telah ditinggalkan oleh manusia)." (HR Tirmidzi).
Dengan
demikian jelaslah bahwa hadits "Perumpamaan ummatku seperti halnya hujan, tidak diketahui manakah yang lebih baik, awalnya atau
akhirnya." Dapat dipahami bahwa
Nabi Besar Muhamad saw. ingin
mendekatkan keutamaan umat Islam yang
hidup di Akhir Zaman dengan keutamaan generasi umat Islam yang awal, karena generasi
umat Islam di Akhir Zaman yang diisyaratkan dalam ayat: وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ -- Dan juga
Dia akan membangkitkannya pada kaum lain dari antara mereka, yang
belum bertemu dengan mereka (QS.62:4)
atau ثم
تكون خلافة على منهاج النبوة . ثم سكت " – “Lalu
akan ada lagi khilāfatun ‘alā minhājin- nubuwwah -- masa kekhilafahan
di atas manhāj (jalan) kenabian” juga mengalami perjuangan
(jihad) yang besar dan berat di jalan
Allah dalam menghadapi ujian dan cobaan untuk tetap bisa komitmen (istiqamah/teguh) di atas agama Islam yang lurus dan benar
(QS.2:154-158; QS.41:31-33; QS.98:6), sehingga
benarlah sabda Nabi Besar Muhammad saw. sebelum ini:
"Orang yang memegang agamanya dari mereka
ketika itu (Akhir Zaman) seperti orang
yang memegang bara api."
Dengan
demikian jelaslah bahwa yang dimaksud dengan sabda Nabi Besar Muhammad saw. ‘ulamā-u ummatiy kal-anbiyā-i
banī Isrāīla (para
’ulama umatku seperti nabi-nabi Bani Israil), bukanlah para ‘ulama dalam pengertian umum
– yang disebut juga ustadz
atau kyai atau ajengan atau buya dan lain-lain
– melainkan maksudnya adalah para wali Allah yang memiliki kedekatan khusus dengan Allah Swt. yakni
para mujaddid yang muncul di setiap abad, seperti Khalifah ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz yang dipercayai
sebagai mujaddid Islam yang pertama
setelah masa khulafa-ur- Rasyidin,
lalu Imam Syafi’i, Imam Ghazali, Syeikh ‘Abdul Qadir Jailani
dan para ulama rabbani lainnya.
Berbagai
Versi Para Mujaddid Di Setiap Abad
Sehubungan dengan hal tersebut berdasarkan
riwayat dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda:
“Sesungguhnya Allah akan mengutus
(menghadirkan) bagi umat ini (umat Islam) orang yang akan memperbaharui
(urusan) agama mereka pada setiap akhir seratus tahun.”
(Hadits riwayat al-Bukhari, bab Al Fitan.
no. 7068. Imam Abu Dawud dalam Sunannya
hadits no 4921. Al Baihaqy dalam Ma’rifatus
Sunan wal Atsar, h. 52).
Ibnu Ziyad telah menyebutkan tokoh-tokoh
Islam yang disebut-sebut sebagai mujaddid
pada zamannya, yakni:
1. Mujaddid abad pertama
Sayyidina Umar bin Abdul al-Aziz,
2.
Mujaddid abad kedua Imam Syafi’i,
3.
Mujaddid abad ketiga
Ibnu al-Suraij atau Imam al-Asy’ari,
4.
Mujaddid abad keempat Al-Sha’luky atau Abu Hamid
al-Asfiraainy atau Qadhi Abu Bakar
al-Baqilany,
5.
Mujaddid abad
kelima Imam al-Ghazali,
6.
Mujaddid abad
keenam Fakhrurrazi atau al-Rafi’i
7.
Mujaddid abad ketujuh Ibnu Daqiq al-Id,
8.
Mujaddid abad kedelapan Al-Bulqaini atau Zainuddin al-Iraqi atau Ibnu
binti al-Miilaq,
9.
Mujaddid abad kesembilan Zakariya al-Anshari atau al-Suyuthi
(al-Suyuthi telah menisbahkan mujaddid kepada dirinya sendiri),
10.
Mujaddid abad kesepuluh Ibnu
Hajar al-Haitamy atau Imam al-Ramli,
11.
Mujaddid abad kesebelas Al-Quthub
Abdullah bin ‘Alawi al-Hadad ‘Alawi,
12.
Mujaddid abad keduabelas Al-Quthub Ahmad bin Umar ibnu Sumith ‘Alawi.
Dalam sebuah buku yang bernama Hujajul
Kiramah karangan Nawab Shiddiq Hasan Khan (Bahasa Parsi). Dalam buku itu
pada halaman 135-139 tercantum nama-nama Mujaddid
dimulai abad ke 1 sampai 14 sbb:
1.
’Umar
bin ‘Abdul ‘Aziz;
2.
Imam
Syafi’i dan setengah orang mengatakan Ahmad bin Hambal,
3.
Abu
Syarah atau Abu Hasan Asy’ari,
4.
Abu
Ubaidullah,
5.
Imam
Ghazali,
6.
Abdul
Qadir Al-Jailani,
7.
Ibnu
Thaimiyah,
8.
Ibnu
Hajar Asqwalani,
9.
Imam
Suyuthi,
10.
Imam
Muhammad Thahir Gujarati,
11.
Alif
Tsani Sarhindi,
12.
Syekh
Waliyullah Muhadits Delhi,
13. Sayid Ahmad Barelwi,
14. Imam Mahdi
/ Isa Al-Masih yang dijanjikan
Rasulullah saw..
Para
Mujaddid Tidak Mendakwakan Diri Ke-mujaddid-an Mereka
Namun dari sumber-sumber
lainnya menyebutkan susunan nama
para mujaddid yang lain
lagi sehingga timbul pertanyaan: Mengapa
bisa terjadi seperti itu? Jawaban atas pertanyaan tersebut adalah:
1. Berbeda dengan para Rasul
(nabi) Allah yang harus mendakwakan
diri mengenai kenabian atau kerasulan yang disandangnya dari Allah
Swt., sedangkan para mujaddid mau pun para wali Allah mereka itu tidak ada kewajiban harus mendakwakan
dirinya sebagai mujaddid atau
sebagai wali Allah.
2. Tugas ke-mujaddid-an para mujaddid di kalangan umat Islam tidak secara otomatis berlaku
bagi seluruh wilayah kekuasaan umat Islam, melainkan berlaku pada masanya dan pada wilayah di mana para mujaddid tersebut ada. Demikian juga tugas ke-mujaddid-an (pembaharuan) yang mereka lakukan pun tidak
sama, sesuai dengan kasus-kasus
keagamaan yang sedang terjadi pada wilayah mujaddid yang berangkutan ada, karena itu sangat wajar jika
dalam abad-abad tersebut terdapat lebih dari seorang yang dianggap
sebagai mujaddid.
4. Kadang-kadang terjadi juga
seorang yang dianggap mujaddid pada
abad tertentu mengeritik keras bahkan
mengeluarkan fatwa kafir terhadap pemahaman yang dikemukakan mujaddid sebelumnya, contohnya Ibnu Taimiyah terhadap pemahaman Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani.
5. Jangka waktu tajdid
(pembaharuan) yang dilakukan oleh para mujaddid
tersebut hanya 1 abad (100
tahun), karena itu tidak menjadi keharusan
bahwa tajdid (pembaharuan) oleh seorang mujaddid berlaku secara umum
bagi abad-abad selanjutnya
sebagaimana yang difahami oleh para
pengikut berbagai thariqah atau mazhab sehingga mengakibatkan semakin maraknya perpecahan yang terjadi di kalangan umat Islam (QS.30:21-33; QS.6:160).
Kembali kepada janji Allah
Swt. mengenai akan berlangsungnya silsilah Khilafat
kenabian di kalangan umat Islam,
firman-Nya:
وَعَدَ اللّٰہُ الَّذِیۡنَ
اٰمَنُوۡا مِنۡکُمۡ وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ لَیَسۡتَخۡلِفَنَّہُمۡ فِی
الۡاَرۡضِ کَمَا اسۡتَخۡلَفَ الَّذِیۡنَ مِنۡ قَبۡلِہِمۡ ۪ وَ لَیُمَکِّنَنَّ
لَہُمۡ دِیۡنَہُمُ الَّذِی ارۡتَضٰی لَہُمۡ
وَ لَیُبَدِّلَنَّہُمۡ مِّنۡۢ بَعۡدِ خَوۡفِہِمۡ
اَمۡنًا ؕ یَعۡبُدُوۡنَنِیۡ لَا
یُشۡرِکُوۡنَ بِیۡ شَیۡئًا ؕ وَ مَنۡ
کَفَرَ بَعۡدَ ذٰلِکَ فَاُولٰٓئِکَ ہُمُ
الۡفٰسِقُوۡنَ ﴿﴾
Allah
telah berjanji kepada orang-orang yang beriman
dan beramal saleh di antara kamu niscaya
Dia akan menjadikan mereka itu khalifah
di bumi ini sebagaimana Dia telah
menjadikan orang-orang yang sebelum mereka khalifah, dan niscaya Dia akan meneguhkan bagi mereka
agamanya yang telah Dia ridhai bagi mereka,
dan niscaya Dia akan mengubah keadaan
mereka dengan keamanan sesudah ketakutan mereka. Mereka akan menyembah-Ku dan mereka tidak akan mempersekutukan sesuatu
dengan-Ku, dan barangsiapa kafir
sesudah itu mereka itulah orang-orang
durhaka. (An-Nūr
[24]:56).
Keabadian
Silsilah Khilafat Penerus Nabi Besar
Muhammad Saw.
Dikarenakan ayat
ini berlaku sebagai pendahuluan untuk mengantarkan masalah khilafat,
maka dalam ayat-ayat QS.52:55 sebelumnya berulang-ulang telah diberi tekanan
mengenai ketaatan kepada Allah Swt. dan Rasul-Nya. Tekanan ini merupakan isyarat mengenai tingkat dan kedudukan seorang khalifah dalam Islam. Ayat ini berisikan janji Allah Swt. bahwa orang-orang Muslim akan dianugerahi pimpinan ruhani maupun duniawi.
Janji Allah Swt. itu diberikan kepada
seluruh umat Islam, tetapi lembaga khilafat
akan mendapat bentuk nyata dalam wujud
perorangan-perorangan tertentu, yang akan menjadi penerus Nabi Besar Muhammad
saw. serta wakil seluruh umat Islam. Janji mengenai ditegakkannya khilafat adalah jelas dan tidak dapat
menimbulkan salah paham.
Oleh sebab kini Nabi Besar Muhammad saw. satu-satunya hadi (petunjuk
jalan) umat manusia untuk selama-lamanya (QS.3:32; QS.4:70-71), maka khilafat
beliau saw. akan terus berwujud dalam salah satu bentuk di dunia ini sampai Hari Kiamat, karena semua khilafat
yang lain telah tiada lagi.
Inilah, di antara banyak keunggulan
yang lainnya lagi, merupakan kelebihan
Nabi Besar Muhammad saw. yang
menonjol di atas semua nabi dan rasul Allah lainnya. Di Akhir Zaman ini
-- sesuai dengan sabda Nabi Besar Muhammad saw. dalam Hadits sebelum ini
– umat manusia telah menyaksikan khalifah ruhani beliau saw. yang
terbesar dalam wujud Pendiri Jemaat
Muslim Ahmadiyah., Mirza Ghulam Ahmad a.s. – Imam
Mahdi a.s. dan Al-Masih Mau’ud a.s. – sebagaimana
sabda beliau saw. “Tsumma
takūnu khilāfatun ‘alā minhāji- nubuwwah -- “kemudian berlaku pula zaman Kekhalifahan yang berjalan di atas cara hidup zaman kenabian.” Setelah mengucapkan nubuatan tersebut beliau saw. diam.
Kembali kepada firman Allah Swt.
mengenai pengenugerahan silsilah khilafat
di kalangan pengikut hakiki Nabi Besar Muhammad saw., firman-Nya:
وَعَدَ اللّٰہُ الَّذِیۡنَ
اٰمَنُوۡا مِنۡکُمۡ وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ لَیَسۡتَخۡلِفَنَّہُمۡ فِی
الۡاَرۡضِ کَمَا اسۡتَخۡلَفَ الَّذِیۡنَ مِنۡ قَبۡلِہِمۡ ۪ وَ لَیُمَکِّنَنَّ
لَہُمۡ دِیۡنَہُمُ الَّذِی ارۡتَضٰی
لَہُمۡ وَ لَیُبَدِّلَنَّہُمۡ مِّنۡۢ بَعۡدِ خَوۡفِہِمۡ اَمۡنًا ؕ یَعۡبُدُوۡنَنِیۡ لَا یُشۡرِکُوۡنَ بِیۡ شَیۡئًا ؕ وَ مَنۡ کَفَرَ بَعۡدَ ذٰلِکَ فَاُولٰٓئِکَ ہُمُ الۡفٰسِقُوۡنَ ﴿﴾
Allah
telah berjanji kepada orang-orang yang beriman
dan beramal saleh di antara kamu niscaya
Dia akan menjadikan mereka itu khalifah
di bumi ini sebagaimana Dia telah
menjadikan orang-orang yang sebelum mereka khalifah, dan niscaya Dia akan meneguhkan bagi mereka
agamanya yang telah Dia ridhai bagi mereka,
dan niscaya Dia akan mengubah keadaan
mereka dengan keamanan sesudah ketakutan mereka. Mereka akan menyembah-Ku dan mereka tidak akan mempersekutukan sesuatu
dengan-Ku, dan barangsiapa kafir
sesudah itu mereka itulah orang-orang durhaka. (An-Nūr [24]:56).
Firman-Nya lagi:
وَ مَنۡ یُّطِعِ اللّٰہَ وَ
الرَّسُوۡلَ فَاُولٰٓئِکَ مَعَ الَّذِیۡنَ اَنۡعَمَ اللّٰہُ عَلَیۡہِمۡ مِّنَ
النَّبِیّٖنَ وَ الصِّدِّیۡقِیۡنَ وَ الشُّہَدَآءِ وَ الصّٰلِحِیۡنَ ۚ وَ حَسُنَ
اُولٰٓئِکَ رَفِیۡقًا ﴿ؕ﴾ ذٰلِکَ الۡفَضۡلُ مِنَ اللّٰہِ ؕ وَ کَفٰی
بِاللّٰہِ عَلِیۡمًا ﴿٪﴾
Dan barangsiapa
taat kepada Allah dan Rasul ini
maka mereka akan termasuk di antara
orang-orang yang Allah memberi nikmat kepada
mereka yakni: nabi-nabi, shiddiq-shiddiq, syahid-syahid,
dan orang-orang shalih, dan merekaitulah sahabat yang
sejati. Itulah karunia
dari Allah, dan cukuplah Allāh Yang Maha Mengetahu . (An-Nisa [4]:70-71).
Ayat 70
sangat penting sebab ia menerangkan
semua jalur kemajuan ruhani yang terbuka bagi kaum Muslimin. Keempat martabat keruhanian — nabi-nabi, shiddiq-shiddiq,
syuhada (saksi-saksi) dan orang-orang shalih
— sejak diwahyukan-Nya agama Islam (Al-Quran) dan pengutusan Nabi Besar Muhammad saw., semua derajat ruhani tersebut dapat dicapai hanya dengan jalan mengikuti Nabi Besar Muhammad saw..
Kehormatan
Khusus Nabi Besar Muhammad Saw. & Ketidak-bersyukuran Bani Isma’il dan Terbunuhnya Tiga Orang Khulafatur Rasyidin
Hal ini merupakan kehormatan khusus bagi Nabi Besar Muhammad saw.. semata. Tidak ada nabi Allah lain menyamai
beliau saw. dalam perolehan nikmat
ini. Kesimpulan itu lebih lanjut ditunjang oleh ayat yang membicarakan nabi-nabi Allah secara umum dan
mengatakan: “Dan orang-orang yang beriman kepada Allah dan para rasul-Nya, mereka
adalah orang-orang shiddiq dan saksi-saksi di sisi Tuhan mereka”, firman-Nya:
وَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا
بِاللّٰہِ وَ رُسُلِہٖۤ اُولٰٓئِکَ ہُمُ الصِّدِّیۡقُوۡنَ ٭ۖ وَ
الشُّہَدَآءُ عِنۡدَ رَبِّہِمۡ ؕ لَہُمۡ اَجۡرُہُمۡ وَ نُوۡرُہُمۡ ؕ وَ الَّذِیۡنَ
کَفَرُوۡا وَ کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَاۤ اُولٰٓئِکَ اَصۡحٰبُ الۡجَحِیۡمِ ﴿٪﴾
Dan orang-orang yang beriman kepada Allah
dan Rasul-rasul-Nya, mereka adalah orang-orang yang benar dan saksi-saksi di sisi Rabb (Tuhan) mereka. Bagi mereka ada ganjaran mereka dan cahaya mereka. Tetapi mereka yang kafir dan mendustakan Tanda-tanda Kami mereka
adalah penghuni-penghuni Jahannam. (Al-Hadīd [57]: 20).
Apabila kedua ayat ini dibaca
bersama-sama maka kedua ayat itu berarti bahwa, kalau para pengikut nabi-nabi
Allah lainnya dapat mencapai martabat shiddiq, syahid, dan shalih dan tidak lebih tinggi dari itu, maka pengikut
sejati Nabi Besar Muhammad saw. dapat naik ke martabat nabi
Allah juga.
Kitab “Bahr-ul-Muhit” (jilid III, hlm.
287) menukil Al-Raghib yang mengatakan: “Tuhan
telah membagi orang-orang beriman dalam
empat golongan dalam ayat ini, dan telah menetapkan bagi mereka empat
tingkatan, sebagian di antaranya lebih rendah dari yang lain, dan Dia telah
mendorong orang-orang beriman sejati agar jangan tertinggal dari keempat
tingkatan ini.”
Dan
membubuhkan bahwa:
“Kenabian
itu ada dua macam: umum dan khusus. Kenabian khusus, yakni kenabian yang
membawa syariat, sekarang tidak dapat dicapai lagi; tetapi kenabian yang umum
masih tetap dapat dicapai.”
Janji Allah Swt. dalam kedua firman-Nya tersebut itu diberikan kepada seluruh umat Islam, tetapi lembaga khilafat
akan mendapat bentuk nyata dalam
wujud perorangan-perorangan tertentu,
yang akan menjadi penerus (khalifah) Nabi
Besar Muhammad saw. serta wakil
seluruh umat Islam yang – akibat ketidak bersyukuran dari kalangan umat Islam sendiri -- silsilah Khilafat tersebut terbatas sampai zaman para Khulafatur- Rasyidah saja dimana 3
orang Khalifah Nabi Besar Muhammad saw. tersebut telah disyahidkan, yakni Khalifah
Umar bin Khaththab r.a., Khalifah Utsman
bin ‘Affan r.a. dan Khalifah
Ali bin Abi Thalib r.a..
Dari kenyataan sejarah tersebut jelaslah bahwa setelah wafat
Nabi Besar Muhammad saw., di kalangan
umat Islam bangsa Arab (Bani Isma’il) telah muncul bentuk-bentuk ketidak-bersyukuran kepada Allah Swt. dan kepada Nabi Besar Muhammad saw.
Pelepasan
Sementara Iblis dari “Pemenjaraan 1000
Tahun” & Kisah As-habul Kahf (Para Penghuni Gua)
Alasan lainnya mengapa kejayaan
umat Islam yang pertama hanya
berlangsung selama 3 abad saja,
karena dari kurun 7000 tahun sejak pengutusan
Nabi Adam a.s. – yang masanya silih berganti antara masa datangnya cahaya dan masa datangnya kegelapan
masing-masing selama 1000 tahun, seperti satu
hari dalam kurun 7 hari (satu minggu) -- pengutusan
Nabi Besar Muhammad saw. pun persis di 3 abad akhir masa cahaya yang dimulai
pengutusan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s., yang datang sekitar 6
abad sebelum pengutusan Nabi Besar Muhammad saw. ditambah 3
abad masa kejayaan Islam jumlahnya kurang-lebih 1000 tahun. Setelah itu mulai datang kurun waktu 1000
tahun masa kegelapan, firman-Nya:
یُدَبِّرُ الۡاَمۡرَ مِنَ
السَّمَآءِ اِلَی الۡاَرۡضِ ثُمَّ
یَعۡرُجُ اِلَیۡہِ فِیۡ یَوۡمٍ کَانَ مِقۡدَارُہٗۤ اَلۡفَ سَنَۃٍ مِّمَّا تَعُدُّوۡنَ ﴿﴾ ذٰلِکَ
عٰلِمُ الۡغَیۡبِ وَ الشَّہَادَۃِ
الۡعَزِیۡزُ الرَّحِیۡمُ ۙ﴿﴾
Dia
mengatur perintah dari langit sampai bumi, kemudian perintah
itu akan naik kepada-Nya dalam satu
hari, yang hitungan lamanya seribu
tahun dari apa yang kamu hitung. Demikian itulah Tuhan Yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, Maha Perkasa,
Maha Penyayang (As-Sajdah [32]:6-17).
Sejalan dengan pernyataan
Allah Swt. tersebut, dalam Bible pun dikemukakan mengenai
berakhirnya masa pemenjaraan “iblis”
atau Satan, si ular tua selama 1000 tahun kemudian
untuk sementara waktu ia akan dilepaskan agar menyesatkan umat
manusia:
Iblis dihukum
20:7 Dan setelah masa seribu tahun itu berakhir, Iblis akan dilepaskan dari penjaranya,
20:8 dan ia akan pergi menyesatkan bangsa-bangsa
pada keempat penjuru bumi, yaitu Gog
dan Magog, dan mengumpulkan
mereka untuk berperang dan
jumlah mereka sama dengan banyaknya
pasir di laut. 20:9 Maka naiklah mereka ke seluruh dataran bumi,
lalu mengepung perkemahan tentara orang-orang kudus
dan kota yang dikasihi itu. Tetapi dari langit turunlah api menghanguskan mereka, 20:10 dan Iblis, yang menyesatkan mereka, dilemparkan
ke dalam lautan api dan beleran ,
yaitu tempat
binatang dan nabi
palsu itu, dan mereka disiksa siang malam sampai selama-lamanya. (Wahyu
20:7-10).
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran Anyar,
1 Februari 2017
Tidak ada komentar:
Posting Komentar