Bismillaahirrahmaanirrahiim
ISLAM
Pidato Mirza Ghulam Ahmad a.s.
Tgl. 2 November 1904
di Kota Sialkote – Hindustan
Bab 10
PELEPASAN SEMENTARA IBLIS
DARI “PEMENJARAAN SERIBU TAHUN”
& ASHHĀBUL-KAHF
(PENGHUNI GUA) DAN RĀQIM (PRASASTI) -
DUA GENERASI PENGIKUT NABI ISA IBNU MARYAM A.S. YANG BERTOLAK-BELAKANG
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam bagian akhir Bab 9 telah
dijelaskan topik Para
Mujaddid Tidak Mendakwakan Diri
Kemujadidan Mereka, sehubungan dengan sabda Nabi Besar
Muhammad saw. mengenai kemunculan para mujaddid
di setiap awal abad:
“Sesungguhnya Allah akan mengutus (menghadirkan) bagi umat
ini (umat Islam) orang yang akan memperbaharui (urusan) agama mereka pada
setiap akhir seratus tahun.” (Hadits riwayat al-Bukhari, bab Al Fitan. no. 7068. Imam Abu
Dawud dalam Sunannya hadits
no 4921. Al Baihaqy dalam Ma’rifatus
Sunan wal Atsar, h. 52).
Ibnu Ziyad telah menyebutkan tokoh-tokoh
Islam yang disebut-sebut sebagai mujaddid
pada zamannya, yakni:
1. Mujaddid
abad pertama Sayyidina Umar bin Abdul al-Aziz,
2. Mujaddid
abad kedua Imam Syafi’i,
3. Mujaddid
abad ketiga Ibnu al-Suraij atau Imam
al-Asy’ari,
4. Mujaddid
abad keempat Al-Sha’luky atau Abu Hamid al-Asfiraainy atau Qadhi Abu Bakar al-Baqilany,
5. Mujaddid
abad kelima Imam al-Ghazali,
6. Mujaddid
abad keenam Fakhrurrazi atau al-Rafi’i
7. Mujaddid
abad ketujuh Ibnu Daqiq al-Id,
8.
Mujaddid abad
kedelapan Al-Bulqaini
atau Zainuddin al-Iraqi atau Ibnu binti al-Miilaq,
9. Mujaddid
abad kesembilan Zakariya
al-Anshari atau al-Suyuthi
(al-Suyuthi telah menisbahkan mujaddid kepada dirinya sendiri),
10.Mujaddid abad kesepuluh Ibnu
Hajar al-Haitamy atau Imam al-Ramli,
11.Mujaddid abad kesebelas Al-Quthub
Abdullah bin ‘Alawi al-Hadad ‘Alawi,
12.Mujaddid abad keduabelas Al-Quthub Ahmad bin Umar ibnu Sumith ‘Alawi.
Dalam sebuah buku yang bernama Hujajul
Kiramah karangan Nawab Shiddiq Hasan Khan (Bahasa Parsi). Dalam buku itu
pada halaman 135-139 tercantum nama-nama Mujaddid
dimulai abad ke 1 sampai 14 sbb:
1.
’Umar bin ‘Abdul ‘Aziz;
2.
Imam Syafi’i dan setengah orang mengatakan Ahmad bin Hambal,
3.
Abu Syarah atau Abu Hasan Asy’ari,
4.
Abu Ubaidullah,
5.
Imam Ghazali,
6.
Abdul Qadir Al-Jailani,
7.
Ibnu Thaimiyah,
8.
Ibnu Hajar Asqwalani,
9.
Imam Suyuthi,
10.Imam Muhammad Thahir Gujarati,
11.Alif Tsani Sarhindi,
12.Syekh Waliyullah Muhadits Delhi,
13.Sayid Ahmad Barelwi,
14.Imam Mahdi
/ Isa Al-Masih
yang dijanjikan Rasulullah saw..
Berlangsungnya Silsilah Khilafat Kenabian
Namun dari sumber-sumber lainnya menyebutkan susunan nama para mujaddid yang lain lagi
sehingga timbul pertanyaan: Mengapa bisa terjadi seperti itu? Jawaban atas pertanyaan tersebut adalah:
1. Berbeda dengan para Rasul
(nabi) Allah yang harus mendakwakan
diri mengenai kenabian atau kerasulan yang disandangnya dari Allah
Swt., sedangkan para mujaddid mau pun para wali Allah mereka itu tidak ada kewajiban harus mendakwakan
dirinya sebagai mujaddid atau
sebagai wali Allah.
2. Tugas ke-mujaddid-an para mujaddid di kalangan umat Islam tidak secara otomatis berlaku
bagi seluruh wilayah kekuasaan umat Islam, melainkan berlaku pada masanya dan pada wilayah di mana para mujaddid tersebut ada. Demikian juga tugas ke-mujaddid-an (pembaharuan) yang mereka lakukan pun tidak
sama, sesuai dengan kasus-kasus
keagamaan yang sedang terjadi pada wilayah mujaddid yang berangkutan ada, karena itu sangat wajar jika
dalam abad-abad tersebut terdapat lebih dari seorang yang dianggap sebagai
mujaddid.
4. Kadang-kadang terjadi juga
seorang yang dianggap mujaddid pada
abad tertentu mengeritik keras bahkan
mengeluarkan fatwa kafir terhadap pemahaman yang dikemukakan mujaddid sebelumnya, contohnya Ibnu Taimiyah terhadap pemahaman Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani.
5. Jangka waktu tajdid
(pembaharuan) yang dilakukan oleh para mujaddid
tersebut hanya 1 abad (100
tahun), karena itu tidak menjadi keharusan
bahwa tajdid (pembaharuan) oleh seorang mujaddid berlaku secara umum
bagi abad-abad selanjutnya
sebagaimana yang difahami oleh para
pengikut berbagai thariqah atau mazhab sehingga mengakibatkan semakin maraknya perpecahan yang terjadi di kalangan umat Islam (QS.30:21-33; QS.6:160).
Nubuatan Bible tersebut selaras dengan nubuatan Allah Swt. dalam Al-Quran mengenai Ash-habul
Kahf (penghuni gua - QS.18:10-24)
yang diisyaratkan secara kiasan
mereka “tidur” selama 3 abad,
berikut firman-Nya kepada Nabi Besar Muhammad saw:
وَ تَحۡسَبُہُمۡ اَیۡقَاظًا وَّ ہُمۡ رُقُوۡدٌ ٭ۖ وَّ نُقَلِّبُہُمۡ
ذَاتَ الۡیَمِیۡنِ
وَ ذَاتَ الشِّمَالِ ٭ۖ وَ
کَلۡبُہُمۡ بَاسِطٌ ذِرَاعَیۡہِ بِالۡوَصِیۡدِ ؕ لَوِ اطَّلَعۡتَ عَلَیۡہِمۡ لَوَلَّیۡتَ
مِنۡہُمۡ فِرَارًا
وَّ لَمُلِئۡتَ
مِنۡہُمۡ
رُعۡبًا ﴿﴾
Dan
engkau menyangka mereka itu bangun padahal mereka
itu tidur, dan Kami membolik-balikkan mereka ke kanan dan
ke kiri, dan anjing
mereka sedang menjulurkan kedua kaki-depannya di halaman gua itu. Seandainya engkau menyaksikan mereka niscaya engkau akan berbalik dari mereka untuk melarikan diri dan niscaya engkau akan dipenuhi oleh rasa
takut terhadap mereka. (Al-Kahfi [18]:19).
Makna
ayat: وَ تَحۡسَبُہُمۡ اَیۡقَاظًا وَّ ہُمۡ رُقُوۡدٌ -- “Dan engkau menyangka
mereka itu bangun padahal mereka itu tidur.” Orang Islam di masa Nabi Besar Muhammad saw. . telah diberi peringatan sebelumnya bahwa – seiring dengan kemenangan umat Islam atas kerajaan Romawi yang beragama
Kristen dan kerajaan Persia yang menyembah api, bangsa-bangsa
Kristen di daerah utara sedang berleha-leha,
tetapi tidak lama lagi mereka akan
bangkit dari keadaan lelap
(tidur) yang meliputi masa ratusan tahun itu, dan mereka akan menyebar ke seluruh dunia
serta menguasai dunia yakni
pelepasan Ya’juj (Gog) dan Ma’juj (Magog --
QS.21:96-97) atau pelepasan “iblis” atau satan si “ular tua” dari
masa pemenjaraannya selama 1000 tahun (Wahyu
20:7-10).
Penyebaran Bangsa-bangsa Kristen Barat ke Seluruh Dunia
Kata-kata وَّ نُقَلِّبُہُمۡ ذَاتَ الۡیَمِیۡنِ وَ ذَاتَ الشِّمَالِ
-- "dan Kami akan membolik-balikkan
mereka ke kanan dan ke kiri"
nampaknya menunjuk kepada berkeliarannya
atau merajalelanya mereka di muka bumi,
dan tersebarnya
mereka ke semua jurusan dunia untuk mencari pasaran baru dan untuk mencapai kemenangan-keme-nangan
yang baru pula di wilayah-wilayah
yang mereka kuasai:
20:7 Dan setelah masa seribu tahun itu berakhir, Iblis akan dilepaskan dari penjaranya,
20:8 dan ia akan pergi menyesatkan bangsa-bangsa
pada keempat penjuru bumi, yaitu Gog
dan Magog, dan mengumpulkan
mereka untuk berperang dan
jumlah mereka sama dengan banyaknya
pasir di laut. 20:9 Maka naiklah mereka ke seluruh dataran bumi,
lalu mengepung perkemahan tentara orang-orang kudus
dan kota yang dikasihi itu (Wahyu 20:7-9).
Kata-kata “dan anjing mereka sedang menjulurkan kedua
kaki-depannya di halaman gua itu” itu di samping menunjuk kepada kesayangan yang mendalam bangsa-bangsa Kristen di barat kepada anjing, dapat pula dianggap menunjuk
kepada kerajaan Byzantine (Romawi
Timur) yang ketika itu mengadakan penjagaan
terhadap Eropa pada kedua pantai Laut Marmora, yang kelihatan (nampak) seperti
seekor anjing yang mengadakan penjagaan, dengan membentangkan kaki-depannya ke kedua sisinya.
Firman
Allah Swt, kepada Nabi Besar Muhammad saw.: “Seandainya engkau menyaksikan
mereka niscaya engkau akan berbalik
dari mereka untuk melarikan diri dan niscaya
engkau akan dipenuhi oleh rasa takut terhadap mereka“ Ayat ini berisikan gambaran khas mengenai kekuasaan
bangsa-bangsa Kristen barat -- yakni Ya’juj
(Gog) dan Ma’juj (Magog) setelah pelepasan
mereka dari masa “pemenjaraan” selama
1000 tahun (Wahyu [20:7-10) -- di atas negeri-negeri sebelah timur dan selatan
-- termasuk wilayah Hindustan dan wilayah Nusantara -- cara hidup mereka yang
khusus, rasa takut, dan keseganan yang bangsa ini timbulkan di tengah-tengah
rakyat-rakyat (bangsa-bangsa) yang mendiami daerah-daerah
yang berhasil mereka kuasai tersebut, termasuk
penduduk benua Amerika, Afrika dan Australia,
tidak ada satu pun di antara bangsa-bangsa atau kerajaan-kerajaan yang mereka jajah tersebut yang mampu melawan mereka, karena mereka
memiliki berbagai macam senjata api
yang mustahil dapat dikalahkan dengan
menggunakan senjata tradisional.
Mengisyaratkan
kepada kenyataan itulah makna ayat: “Seandainya engkau menyaksikan mereka niscaya engkau akan berbalik dari mereka untuk melarikan diri dan niscaya engkau akan dipenuhi oleh rasa
takut terhadap mereka,“ ayat tersebut bukan berarti
– sebagaimana keliru memahaminya -- bahwa
karena mereka (para penghuni gua) tidur
pulas selama berabad-abad, sehingga
rambut, kumis, janggut dan kuku tangan dan kakinya
menjadi sangat panjang, maka penampilan
mereka sangat menakutkan. Kepercayaan (penafsiran) seperti itu didasari karena karena tidak mampu memahami makna-mana mendalam ayat-ayat mutasyabihat Al-Quran (QS.3:8-9).
“Ashhabul-Kahfi”
dan “Prasastinya” Bukan Tanda Kekuasaan Allah Swt.
Itu pula sebabnya pada ayat awal mengenai kisah “Ashhabul- Kahf” bahwa kisah mereka bukan
merupakan Ayat-ayat (Tanda-tanda kekuasaan) Allah Swt., firman-Nya:
اَمۡ حَسِبۡتَ اَنَّ
اَصۡحٰبَ الۡکَہۡفِ وَ الرَّقِیۡمِ ۙ کَانُوۡا مِنۡ اٰیٰتِنَا
عَجَبًا ﴿﴾
Ataukah
engkau menyangka bahwa penghuni
gua dan prasasti-prasastinya itu adalah dari antara Tanda-tanda Kami yang menakjubkan?
(Al-Kahf [18]:10.
Ungkapan ashhāb al-kahf, telah diberi
banyak arti, seperti: kaum gua;
orang-orang gua; teman-teman segua;
penghuni gua; dan penduduk gua. Menurut ayat ini menyatakan bahwa para penghuni gua itu bukanlah wujud‑
wujud aneh. Tidak ada sifat mereka yang dianggap menyimpang dari hukum alam biasa. Tetapi sungguh amat aneh bahwa banyak dongengan-dongengan khayali telah terjalin sekitar mereka.
wujud aneh. Tidak ada sifat mereka yang dianggap menyimpang dari hukum alam biasa. Tetapi sungguh amat aneh bahwa banyak dongengan-dongengan khayali telah terjalin sekitar mereka.
Kisah yang
tersohor mengenai "Seven Sleepers" (Tujuh penidur) seperti
diuraikan oleh Gibbon dalam karyanya "Decline and fall of the Roman
Empire" (Kemunduran dan jatuhnya kerajaan Romawi), memberi suatu kunci
penting untuk menyingkapkan kabut rahasia yang menyelubungi para penghuni gua
itu. Gibbon berkata: "Ketika Maharaja Decius mengejar-ngejar dan menindas orang-orang
Kristen, tujuh pemuda bangsawan dari Ephesus menyembunyikan diri dalam sebuah
gua yang luas di pinggir sebuah gunung di mana mereka dibiarkan menjadi musnah
oleh raja zalim itu, dan memberi perintah untuk menutup pintu masuk gua itu
rapat-rapat dengan tum-pukan batu-batu besar.”
Menurut
riwayat lain, konon kabarnya Yusuf itu mengembara di Britania pada tahun 63 M.
Menurut dongengan-dongengan, gereja Glastonbury yang pertama itu merupa-kan
bangunan yang dibuat dengan ranting-ranting yang dianyam, didirikan oleh Yusuf
Arimatea, ialah kepala dua belas rasul yang diutus ke Britania dari Gaul oleh
Santa Filip (Encyclopaedia Britannica,
Edisi ke10 & Edisi ke-13, pada kata "Yoseph of Arimathea" & pada kata "Glastonbury").
Teori terbaru
yang mendapat dukungan kuat dari penyelidikan terhadap "Dead Sea scrolls" (Gulungan-gulungan tulisan yang terdapat di
dekat Laut Mati), menunjukkan gua-gua
itu — yakni tempat orang-orang Kristen di
masa awal yang berpegang-teguh pada Tauhid Ilahi yang diajarkan Nabi Isa
Ibnu Maryam a.s. dalam Injil
(QS.5:117-119 – QS.18:11-18), ketika mereka
-- akibat kezaliman kaumnya yang musyrik --
terpaksa mencari perlindungan ke dalam gua-gua
dan mereka menuliskan kepercayaan-kepercayaan
serta ajaran-ajaran mereka — di
sebuah lembah dekat Laut Mati, berikut firman-Nya kepada
Nabi Besar Muhammad saw.:
نَحۡنُ نَقُصُّ عَلَیۡکَ نَبَاَہُمۡ بِالۡحَقِّ ؕ اِنَّہُمۡ فِتۡیَۃٌ اٰمَنُوۡا
بِرَبِّہِمۡ وَ زِدۡنٰہُمۡ ہُدًی ﴿٭ۖ﴾ وَّ رَبَطۡنَا عَلٰی
قُلُوۡبِہِمۡ اِذۡ قَامُوۡا
فَقَالُوۡا رَبُّنَا رَبُّ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ لَنۡ
نَّدۡعُوَا۠ مِنۡ دُوۡنِہٖۤ اِلٰـہًا
لَّقَدۡ قُلۡنَاۤ اِذًا
شَطَطًا ﴿﴾ ہٰۤؤُلَآءِ قَوۡمُنَا اتَّخَذُوۡا
مِنۡ دُوۡنِہٖۤ اٰلِہَۃً ؕ لَوۡ لَا یَاۡتُوۡنَ عَلَیۡہِمۡ
بِسُلۡطٰنٍۭ بَیِّنٍ ؕ فَمَنۡ اَظۡلَمُ مِمَّنِ افۡتَرٰی
عَلَی اللّٰہِ کَذِبًا ﴿ؕ﴾ وَ اِذِ اعۡتَزَلۡتُمُوۡہُمۡ وَمَا یَعۡبُدُوۡنَ اِلَّا اللّٰہَ فَاۡ وٗۤا اِلَی الۡکَہۡفِ
یَنۡشُرۡ لَکُمۡ رَبُّکُمۡ مِّنۡ رَّحۡمَتِہٖ وَیُہَیِّیٔۡ لَکُمۡ
مِّنۡ اَمۡرِکُمۡ مِّرۡفَقًا ﴿﴾
Kami
ceriterakan kepada engkau kisah mereka dengan benar, sesungguhnya
mereka itu para pemuda
yang beriman kepada Rabb-nya (Tuhan-nya), dan Kami
tambahkan kepada mereka pe-tunjuk.
Dan Kami meneguhkan hati mereka ketika mereka berdiri lalu
berkata: "Rabb (Tuhan)
kami adalah Rabb (Tuhan) seluruh langit dan bumi, kami tidak pernah menyeru tuhan selain Dia, karena
jika
demikian sungguh kami benar-benar telah berkata jauh dari kebenaran. Mereka itu kaum kami yang telah
mengambil tuhan-tuhan lain selain Dia. Mengapa mereka
tidak mengemukakan suatu dalil yang terang mengenai mereka itu? Maka siapakah
yang lebih zalim daripada orang yang
mengada-adakan kedustaan terhadap Allah?
Dan ketika kamu meninggal-kan
mereka dan apa yang mereka sembah selain Allah lalu carilah per-lindungan dalam gua itu maka Rabb (Tuhan) kamu akan melapangkan bagi kamu rahmat-Nya dan akan
menyediakan untuk kamu sarana kemudahan bagi urusan kamu." (Al-Kahf
[18]:14-17).
Dua Generasi Kaum
Nashrani yang Bertolak-belakang
Jadi, "gua" dan "prasasti" dalam ayat tersebut merupakan dua
segi yang sangat penting dalam kepercayaan
Kristen dan umat Kristen yang berarti bahwa agama Kristen itu mulai
sebagai agama yang melepaskan dan menarik diri dari keramaian
dunia dan tetap berpegang-teguh
pada Tauhid Ilahi sebagaimana yang
diajarkan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. dalam Injil
(Matius 10:5-10; QS.3:46-55; QS.5:18
& 73-74 & 117-119; QS.19:31-38)
-- inilah generasi pertama
golongan Nasrani yang tetap berpegang teguh pada Tauhid Ilahi -- tetapi generasi
penerus kaum Yahudi tersebut berakhir dengan menjadi suatu agama yang memusatkan perhatian kepada urusan dunia; suatu agama perdagangan dan perniagaan
dalam dunia tulis-menulis serta prasasti-prasasti
(tulisan-tulisan pada dinding dan benda-benda – QS.18:1-9 & 10-22), itulah makna firman-Nya:
اَمۡ حَسِبۡتَ اَنَّ
اَصۡحٰبَ الۡکَہۡفِ وَ الرَّقِیۡمِ ۙ کَانُوۡا مِنۡ اٰیٰتِنَا
عَجَبًا ﴿﴾
Ataukah
engkau menyangka bahwa penghuni
gua dan prasasti-prasastinya itu adalah dari antara Tanda-tanda Kami yang menakjubkan?
(Al-Kahf [18]:10.
Jadi, jelaslah bahwa generasi penerus kaum Yahudi
-- yakni para pengikut Nabi Isa
Ibnu Maryam yang disebut Nashrani
-- di masa awalnya mereka tetap berpegang-teguh pada Tauhid Ilahi, yang karena demi
mempertahankan Tauhid Ilahi dari
penindasan kaum musyrik yang berkuasa pada masa itu mereka terpaksa
harus bersembunyi di goa-goa
(katakombe-katakombe) bawah tanah sehingga dalam Al-Quran mereka disebut “penghuni gua” (Ashhābul-Kahf –
QS.18:14-17).
Sebutan Ashhabul-Kahf (para penghuni) yang digambarkan Al-Quran tersebut
sesuai dengan keterangan Bible
-- Matius 10:5-32 --
mengenai murid-murid awal Nabi Isa Ibnu Maryam a.s., antara
lain:
10:5 Kedua belas murid itu
diutus oleh Yesus dan Ia berpesan kepada mereka: "Janganlah kamu menyimpang ke jalan bangsa
lain atau masuk ke dalam kota orang
Samaria, 10:6 melainkan pergilah kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel. 10:7 Pergilah dan beritakanlah: Kerajaan Sorga
sudah
dekat. 10:8 Sembuhkanlah orang sakit; bangkitkanlah orang
mati; tahirkanlah orang kusta; usirlah setan-setan. Kamu telah memperolehnya
dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma. 10:9 Janganlah
kamu membawa emas atau perak atau tembaga dalam ikat pinggangmu. 10:10 Janganlah
kamu membawa bekal dalam perjalanan, janganlah kamu
membawa baju dua helai, kasut atau tongkat,
sebab seorang pekerja patut mendapat
upahnya. 10:11 Apabila
kamu masuk kota atau desa, carilah di
situ seorang yang layak dan tinggallah padanya sampai kamu berangkat. 10:12 Apabila kamu masuk
rumah orang, berilah salam kepada mereka. 10:13 Jika mereka layak
menerimanya, salammu itu turun ke atasnya, jika tidak, salammu itu kembali
kepadamu. 10:14 Dan apabila seorang
tidak menerima kamu dan tidak mendengar perkataanmu, keluarlah dan
tinggalkanlah rumah atau kota itu dan kebaskanlah debunya dari kakimu. 10:15 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya pada hari penghakiman tanah Sodom
dan Gomora akan lebih
ringan tanggungannya dari pada kota
itu. (Matius 10:5-15).
Mengalami Penzaliman Selama
Tiga Abad
Penindasan yang dialami orang-orang
Nasrani – baik yang berpegang teguh pada Tauhid Ilahi maupun terhadap yang mengikuti ajaran Paulus -- mencapai
rentang waktu selama 3 abad, dan penderitaan mereka baru berakhir setelah kaisar Romawi Konstantin memeluk agama
Kristen dan bahkan menjadikannya
sebagai agama kerajaan, firman-Nya:
وَ لَبِثُوۡا
فِیۡ کَہۡفِہِمۡ ثَلٰثَ مِائَۃٍ
سِنِیۡنَ وَ ازۡدَادُوۡا تِسۡعًا ﴿﴾ قُلِ
اللّٰہُ اَعۡلَمُ بِمَا لَبِثُوۡا ۚ لَہٗ غَیۡبُ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ؕ اَبۡصِرۡ بِہٖ وَ اَسۡمِعۡ ؕ
مَا لَہُمۡ مِّنۡ دُوۡنِہٖ مِنۡ وَّلِیٍّ ۫ وَّ لَا یُشۡرِکُ فِیۡ حُکۡمِہٖۤ اَحَدًا ﴿﴾
Dan
mereka tinggal dalam gua mereka tiga
ratus tahun dan mereka menambah sembilan.
Katakanlah: "Allah Yang lebih mengetahui berapa lamanya mereka tinggal. -- Milik-Nya rahasia seluruh langit dan bumi.
Sangat terang penglihatan-Nya dan sangat tajam pendengaran-Nya. Mereka
sama sekali tidak mempunyai penolong selain Dia dan Dia tidak mengambil se-kutu seorang pun dalam keputusan-Nya. (Al-Kahf [18]:25-27).
Jangka waktu selama orang-orang Kristen dari masa permulaan menjadi kurban penindasan yang sering terpaksa
mencari perlindungan dalam gua-gua dan tempat-tempat persembunyian lainnya, meliputi masa
kuranglebih 309 tahun; dan catatan-catatan
sejarah pun membenarkan pernyataan
Allah Swt. dalam Al-Quran tersebut.
Seperti umum
percaya bahwa penindasan terhadap orang-orang Kristen mulai dengan
peristiwa disalibnya Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. pada tahun 28 M. dan berakhir dengan
masuknya Kaisar Romawi
-- Konstantin -- ke
dalam agama Kristen pada tahun 337 M. (Encyclopaedia
Britannica) satu masa yang panjangnya kurang-lebih 309 tahun.
Dan sebenarnya Kaisar Konstantin itu
berpindah agama bukan pada tahun 337 M., tetapi pada tahun 309 M. Peristiwa penyaliban Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. yang mengerikan itu telah terjadi 28
tahun kemudian dari apa yang pada umumnya dipercayai (Chronology by Archbishop Ushers & Daily Bible Illustration
by Dr. Kitto).
Makna
ayat: “Katakanlah: "Allah Yang lebih mengetahui berapa lamanya mereka tinggal.”
Orang-orang Kristen dari masa permulaan di berbagai negeri dan pada masa yang
berlainan, seperti di Roma, Aleksandria, dan sebagainya selalu dikejar-kejar. Mereka terpaksa mencari perlindungan dalam gua-gua dan katakomba-katakomba,
pada berbagai masa dan untuk jangka waktu yang
berlainan.
Tinggalnya mereka di katakomba-katakomba bukan merupakan suatu peristiwa tersendiri dan
yang terjadi terns menerus. Hanya Allah Swt. yang mengetahui dengan tepat berapa
lamanya mereka tinggal dalam keadaan demikian.
Kata-kata "Sangat
terang penglihatan-Nya dan sangat
tajam pendengaran-Nya" itu berarti
pula "Sangat terang penglihatan-Nya dan sangat tajam pendengaran-Nya" atau "Dia melihat segala sesuatu serta mendengar
segala sesuatu." Yakni Allah Swt. benar-benar mengetahui orang-orang Nashrani di masa awal yang
disebut “Ashhabul-kahf” (para penghuni gua) mau pun orang-orang
Nashrani generasi penerus mereka yang disebut orang-orang Kristen pengikut ajaran Paulus yang disebut “rāqim” (prasasti-prasasti) yang
keadaannya bertolak-belakang dengan generasi awal orang-orang Nashrani, berikut firman-Nya kepada Nabi Besar Muhammad
saw.:
وَ تَحۡسَبُہُمۡ اَیۡقَاظًا وَّ ہُمۡ رُقُوۡدٌ ٭ۖ وَّ نُقَلِّبُہُمۡ
ذَاتَ الۡیَمِیۡنِ
وَ ذَاتَ الشِّمَالِ ٭ۖ وَ
کَلۡبُہُمۡ بَاسِطٌ ذِرَاعَیۡہِ بِالۡوَصِیۡدِ ؕ لَوِ اطَّلَعۡتَ عَلَیۡہِمۡ لَوَلَّیۡتَ
مِنۡہُمۡ فِرَارًا
وَّ لَمُلِئۡتَ
مِنۡہُمۡ
رُعۡبًا ﴿﴾
Dan
engkau menyangka mereka itu bangun padahal mereka itu tidur, dan Kami
membolik-balikkan mereka ke kanan dan ke kiri, dan anjing
mereka sedang menjulurkan kedua
kaki-depannya di halaman gua itu. Seandainya engkau menyaksi-kan mereka niscaya engkau akan ber-balik dari mereka untuk
melarikan diri dan niscaya engkau
akan dipenuhi oleh rasa takut terhadap mereka. (Al-Kahfi [18]:19).
Makna “Bangkit” dari “Tidur”
Ratusan Tahun Ashhabul-Kahf (Penghuni Gua)
Makna ayat: “Dan engkau menyangka mereka itu bangun padahal mereka itu tidur.“
Orang-orang Islam di masa Nabi
Besar Muhamad saw. telah
diberi peringatan sebelumnya oleh
Allah Swt. bahwa bangsa-bangsa Kristen
– yakni Ya’juj (Gog) dan Ma’juj (Magog) --di daerah utara sedang berleha-leha, tetapi tidak lama lagi mereka akan bangkit dari keadaan lelap (tidur) yang meliputi masa ratusan tahun itu, dan merka akan
menyebar ke seluruh dunia serta menguasai dunia.
Kata-kata: "Kami akan membolik-balikkan mereka ke kanan dan ke kiri"
nampaknya menunjuk kepada berkeliarannya bangsa-bangsa
Kristen dari barat di muka bumi pada abad ke-17 Masehi serta tersebarnya
mereka ke semua jurusan untuk mencari pasaran
baru dan untuk mencapai penaklukan-penaklukan
yang baru
pula.
Makna ayat: “dan anjing mereka sedang menjulurkan kedua kaki-depannya di
halaman gua itu.” Kata-kata itu di
samping menunjuk kepada kesayangan
yang mendalam bangsa-bangsa Kristen
di barat kepada anjing, ayat tersebut
dapat pula dianggap menunjuk kepada kerajaan
Byzantine (Romawi Timur) yang ketika itu mengadakan penjagaan terhadap Eropa
pada kedua pantai Laut Marmora, yang
kelihatan seperti seekor anjing yang
mengadakan penjagaan, dengan
membentangkan kaki-depannya ke kedua sisinya.
Makna
ayat selanjutnya: “Seandainya engkau menyaksikan mereka niscaya engkau akan berbalik dari mereka
untuk melarikan diri dan niscaya engkau
akan dipenuhi oleh rasa takut terhadap mereka.” Kata-kata ini menunjuk kepada masa ketika bangsa-bangsa
Kristen dari barat akan memperoleh kekuasaan
politik yang besar di seluruh dunia dengan kekuatan militernya yang sangat hebat,
sehingga bangsa mana pun tidak akan
mampu menghadapi mereka.
Al-Quran
menubuatkan hakikat ini ratusan tahun sebelumnya, ketika bangsa-bangsa Kristen masih terbenam dalam tidur lelap ratusan tahun, sehingga daya ciptamanusia yang
betapa pun kaya dan luasnya tidak dapat meramalkan
kekuasaan dan kemuliaan yang akan
dicapai oleh bangsa-bangsa itu
sesudahnya.
Jadi, ayat “dan niscaya engkau akan
dipenuhi oleh rasa takut terhadap mereka“
ini berisikan gambaran khas
mengenai kekuasaan duniawi bangsa-bangsa
Kristen dari barat di atas negeri-negeri sebelah timur
dan selatan, cara hidup mereka yang
khusus, rasa takut, dan keseganan yang bangsa ini timbulkan di
tengah-tengah rakyat-rakyat yang mendiami daerah-daerah yang dikuasai mereka. Itulah sebabnya mereka mampu mempertahankan kekuasaannya di
wilayah-wilayah jajahan mereka selama ratusan
tahun, contohnya penjajahan Belanda
(VOC) atas wilayah Nusantara selama
350 tahun, firman-Nya:
وَ حَرٰمٌ عَلٰی قَرۡیَۃٍ اَہۡلَکۡنٰہَاۤ اَنَّہُمۡ لَا
یَرۡجِعُوۡنَ ﴿﴾ حَتّٰۤی
اِذَا
فُتِحَتۡ یَاۡجُوۡجُ وَ مَاۡجُوۡجُ وَ ہُمۡ مِّنۡ
کُلِّ حَدَبٍ یَّنۡسِلُوۡنَ ﴿﴾
Dan terlarang bagi penduduk suatu negeri yang telah Kami binasakan bahwa sesungguhnya mereka itu tidak mungkin kembali.
Hingga apabila dibukakan pin-tu pemenjaraan Ya’juj dan Ma’juj dan mereka
turun dengan cepat dari setiap ketinggian (Al-Anbiya [21:96-97).
Jika
ayat 97 dibaca bersama-sama dengan ayat yang mendahuluinya maka maksud ayat ini
ialah bahwa hukum alam bekerja
demikian rupa, sehingga sekali bila suatu kaum
— sesudah mencapai puncak kejayaan
dan kemuliaannya — mengalami kebinasaan dan kehancuran, mereka tidak
mendapatkan kembali kejayaan mereka
yang hilang itu.
Demikian pula Ya’juj (Gog) dan
Ma’juj (Magog) -- yakni bangsa-bangsa
Kristen dari Barat yang bermata biru (QS.20:103-105) -- pun dengan kejayaan dan kemuliaan besar mereka dalam kebendaan
tidak dapat mengelakkan diri dari hukum
alam tersebut. Mereka akan jatuh
dan tidak akan bangkit kembali untuk
selama-lamanya.
Ya’juj
(Gog) dan Ma’juj (Magog) atau bangsa-bangsa
Kristen barat telah mencapai segala puncak
kekuasaan politik dan telah menyebar ke seluruh dunia, sesuai dengan
nubuatan Allah Swt. dalam Al-Quran: وَ ہُمۡ
مِّنۡ کُلِّ حَدَبٍ
یَّنۡسِلُوۡنَ --
“dan mereka turun dengan cepat dari setiap ketinggian“ berarti, bahwa
mereka akan menempati setiap ujung yang membawa keuntungan dan akan menguasai
seluruh dunia.
Nubuatan Dzulqarnain
(Cyrus -- Raja Media dan Persia)
Kenyataan tersebut sesuai dengan nubuatan Dzulqarnain (Cyus) – Raja Media dan Persia -- berkenaan akan berkeliarannya kembali Ya’juj (Gog) dan Ma’juj (Magog) setelah untuk sementara waktu berhasil dihalangi
melalui pembuatan dinding Darband
(QS.18:95-99), firman-Nya:
فَمَا اسۡطَاعُوۡۤا اَنۡ یَّظۡہَرُوۡہُ وَ مَا
اسۡتَطَاعُوۡا لَہٗ نَقۡبًا ﴿﴾ قَالَ
ہٰذَا رَحۡمَۃٌ
مِّنۡ رَّبِّیۡ ۚ
فَاِذَا جَآءَ وَعۡدُ رَبِّیۡ
جَعَلَہٗ دَکَّآءَ ۚ وَ
کَانَ وَعۡدُ رَبِّیۡ حَقًّا ﴿ؕ﴾ وَ تَرَکۡنَا بَعۡضَہُمۡ
یَوۡمَئِذٍ یَّمُوۡجُ فِیۡ بَعۡضٍ وَّ نُفِخَ فِی الصُّوۡرِ
فَجَمَعۡنٰہُمۡ جَمۡعًا ﴿ۙ﴾ وَّ عَرَضۡنَا جَہَنَّمَ یَوۡمَئِذٍ لِّلۡکٰفِرِیۡنَ
عَرۡضَۨا ﴿﴾ۙ الَّذِیۡنَ
کَانَتۡ اَعۡیُنُہُمۡ فِیۡ غِطَـآءٍ
عَنۡ ذِکۡرِیۡ وَ
کَانُوۡا لَا یَسۡتَطِیۡعُوۡنَ سَمۡعًا ﴿﴾٪
Maka
mereka, Yajuj dan Majuj tidak dapat memanjatnya dan tidak dapat melubanginya. Ia, Dzulqarnain, berkata: Ini rahmat dari Rabb-ku (Tuhan-ku), tetapi apabila telah tiba janji Rabb-ku (Tuhan-ku),
Dia akan memecahkannya berkeping-keping,
dan janji Rabb-ku
(Tuhan-ku) itu pasti benar. Dan pada hari itu Kami akan membiarkan sebagian mereka menyerang sebagian lain, dan nafiri akan ditiup, lalu Kami akan menghimpun mereka itu semuanya.
Dan pada
hari itu Kami menghadirkan Jahannam berhadapan muka dengan orang-orang kafir, yaitu orang-orang
yang mata mereka tertutup dari peringatan-Ku,
dan mereka tidak mampu mendengar
(Al-Kahf [18]:98-102).
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran Anyar,
3 Februari 2017
Tidak ada komentar:
Posting Komentar