Jumat, 03 Februari 2017

Pelepasan Sementera "Iblis" Dari "Pemenjaraan SeribuTahun" & "Ashhabul-Kahf (Penghuni Gua) dan "Raaqim" (Prasasti) - Dua Generasi Pengikut Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. yang Bertolak-belakang


Bismillaahirrahmaanirrahiim

  ISLAM
Pidato  Mirza Ghulam Ahmad a.s.
Tgl. 2 November 1904 di Kota Sialkote – Hindustan

Bab  10

PELEPASAN  SEMENTARA IBLIS DARI “PEMENJARAAN SERIBU  TAHUN”  &   ASHHĀBUL-KAHF (PENGHUNI GUA) DAN RĀQIM (PRASASTI) - DUA GENERASI PENGIKUT NABI ISA IBNU MARYAM A.S. YANG BERTOLAK-BELAKANG

Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam bagian akhir Bab 9  telah dijelaskan topik Para Mujaddid Tidak Mendakwakan Diri Kemujadidan Mereka, sehubungan dengan sabda Nabi Besar Muhammad saw. mengenai kemunculan para mujaddid di setiap awal abad:
 “Sesungguhnya Allah akan mengutus (menghadirkan) bagi umat ini (umat Islam) orang yang akan memperbaharui (urusan) agama mereka pada setiap akhir seratus tahun.” (Hadits riwayat al-Bukhari, bab Al Fitan. no. 7068. Imam Abu Dawud dalam Sunannya hadits no 4921. Al Baihaqy dalam Ma’rifatus Sunan wal Atsar,  h. 52).     
        Ibnu Ziyad telah menyebutkan tokoh-tokoh  Islam yang disebut-sebut sebagai mujaddid pada zamannya, yakni:
1.  Mujaddid  abad pertama  Sayyidina Umar bin Abdul al-Aziz,
2.  Mujaddid  abad kedua Imam Syafi’i,
3.  Mujaddid  abad ketiga  Ibnu al-Suraij atau Imam al-Asy’ari,
4.  Mujaddid  abad keempat Al-Sha’luky atau Abu Hamid al-Asfiraainy atau Qadhi Abu Bakar al-Baqilany,
5.  Mujaddid  abad  kelima Imam al-Ghazali,
6.  Mujaddid  abad  keenam Fakhrurrazi atau al-Rafi’i
7.  Mujaddid  abad ketujuh Ibnu Daqiq al-Id,
8. Mujaddid  abad kedelapan    Al-Bulqaini atau Zainuddin al-Iraqi atau Ibnu binti al-Miilaq,
9.  Mujaddid  abad  kesembilan Zakariya al-Anshari atau al-Suyuthi (al-Suyuthi telah menisbahkan mujaddid kepada dirinya sendiri), 
10.Mujaddid  abad kesepuluh  Ibnu Hajar al-Haitamy atau Imam al-Ramli,
11.Mujaddid  abad kesebelas  Al-Quthub Abdullah bin ‘Alawi al-Hadad ‘Alawi,
12.Mujaddid  abad keduabelas Al-Quthub Ahmad bin Umar ibnu Sumith ‘Alawi
      Dalam sebuah buku yang bernama Hujajul Kiramah karangan Nawab Shiddiq Hasan Khan (Bahasa Parsi). Dalam buku itu pada halaman 135-139 tercantum nama-nama Mujaddid dimulai abad ke 1 sampai 14 sbb:
1.  ’Umar bin ‘Abdul ‘Aziz;
2.  Imam Syafi’i dan setengah orang mengatakan Ahmad bin Hambal,
3.  Abu Syarah atau Abu Hasan Asy’ari,
4.  Abu Ubaidullah,
5.  Imam Ghazali,
6.  Abdul Qadir Al-Jailani,
7.  Ibnu Thaimiyah,
8.  Ibnu Hajar Asqwalani
9.  Imam Suyuthi
10.Imam Muhammad Thahir Gujarati
11.Alif Tsani Sarhindi,
12.Syekh Waliyullah Muhadits Delhi,
13.Sayid Ahmad Barelwi,
14.Imam Mahdi / Isa Al-Masih yang dijanjikan Rasulullah saw..

Berlangsungnya Silsilah Khilafat Kenabian

        Namun dari sumber-sumber lainnya menyebutkan  susunan nama  para mujaddid  yang lain lagi  sehingga timbul pertanyaan: Mengapa bisa terjadi seperti itu?  Jawaban atas pertanyaan tersebut  adalah:
     1. Berbeda dengan para Rasul (nabi) Allah yang  harus mendakwakan diri mengenai kenabian atau kerasulan yang disandangnya dari Allah Swt.,  sedangkan  para mujaddid   mau pun para wali Allah mereka itu tidak ada kewajiban  harus mendakwakan dirinya sebagai mujaddid atau sebagai wali Allah. 
      2.  Tugas ke-mujaddid-an  para mujaddid di kalangan umat Islam tidak secara otomatis berlaku bagi seluruh wilayah kekuasaan umat Islam,  melainkan berlaku pada masanya dan pada wilayah  di mana para mujaddid tersebut ada. Demikian juga  tugas ke-mujaddid-an  (pembaharuan) yang mereka lakukan pun  tidak sama, sesuai dengan kasus-kasus keagamaan yang sedang terjadi pada wilayah mujaddid yang berangkutan ada, karena itu sangat wajar jika dalam  abad-abad tersebut terdapat lebih dari seorang  yang dianggap sebagai mujaddid.
      4.  Kadang-kadang terjadi juga seorang yang dianggap mujaddid pada abad tertentu mengeritik keras bahkan mengeluarkan fatwa kafir terhadap pemahaman yang dikemukakan mujaddid sebelumnya, contohnya Ibnu Taimiyah terhadap pemahaman Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani.
      5. Jangka waktu tajdid (pembaharuan) yang dilakukan oleh para mujaddid tersebut hanya 1 abad (100 tahun), karena itu tidak menjadi keharusan bahwa tajdid (pembaharuan)  oleh seorang mujaddid  berlaku secara umum bagi abad-abad selanjutnya sebagaimana yang difahami oleh para pengikut berbagai thariqah  atau mazhab  sehingga mengakibatkan semakin maraknya perpecahan  yang terjadi di kalangan umat Islam (QS.30:21-33; QS.6:160).
      Nubuatan Bible tersebut selaras dengan nubuatan Allah Swt. dalam Al-Quran   mengenai Ash-habul Kahf (penghuni gua  -  QS.18:10-24)  yang diisyaratkan secara kiasan mereka “tidur” selama  3 abad, berikut firman-Nya kepada Nabi Besar Muhammad saw:
وَ تَحۡسَبُہُمۡ اَیۡقَاظًا وَّ ہُمۡ رُقُوۡدٌ ٭ۖ وَّ نُقَلِّبُہُمۡ ذَاتَ الۡیَمِیۡنِ وَ ذَاتَ الشِّمَالِ ٭ۖ وَ کَلۡبُہُمۡ بَاسِطٌ ذِرَاعَیۡہِ  بِالۡوَصِیۡدِ ؕ لَوِ اطَّلَعۡتَ عَلَیۡہِمۡ لَوَلَّیۡتَ مِنۡہُمۡ فِرَارًا  وَّ  لَمُلِئۡتَ مِنۡہُمۡ  رُعۡبًا ﴿﴾
Dan engkau menyangka mereka itu bangun  padahal mereka itu tidur,  dan Kami membolik-balikkan mereka ke kanan dan ke kiri,    dan anjing mereka sedang menjulurkan kedua kaki-depannya di halaman   gua itu.  Seandainya engkau menyaksikan mereka niscaya engkau akan berbalik dari mereka untuk melarikan diri dan niscaya engkau akan dipenuhi oleh rasa takut terhadap mereka.  (Al-Kahfi [18]:19).
 Makna ayat:  وَ تَحۡسَبُہُمۡ اَیۡقَاظًا وَّ ہُمۡ رُقُوۡدٌ -- “Dan engkau menyangka mereka itu bangun  padahal mereka itu tidur.”  Orang Islam di masa   Nabi Besar Muhammad saw. telah diberi peringatan sebelumnya bahwa – seiring dengan kemenangan umat Islam atas   kerajaan Romawi  yang beragama Kristen dan kerajaan Persia  yang menyembah api,  bangsa-bangsa Kristen di daerah utara sedang berleha-leha, tetapi tidak lama lagi mereka akan bangkit dari keadaan lelap (tidur)  yang meliputi masa ratusan tahun itu, dan  mereka akan menyebar ke seluruh dunia serta menguasai dunia yakni pelepasan  Ya’juj (Gog) dan Ma’juj (Magog  --  QS.21:96-97)  atau pelepasan “iblis” atau satan  si “ular tua” dari masa pemenjaraannya selama 1000 tahun (Wahyu 20:7-10).

Penyebaran Bangsa-bangsa Kristen Barat ke Seluruh Dunia

  Kata-kata وَّ نُقَلِّبُہُمۡ ذَاتَ الۡیَمِیۡنِ وَ ذَاتَ الشِّمَالِ  -- "dan Kami akan membolik-balikkan mereka ke kanan dan ke kiri" nampaknya menunjuk kepada berkeliarannya atau merajalelanya mereka di muka bumi, dan  tersebarnya mereka ke semua jurusan  dunia untuk mencari pasaran baru dan untuk mencapai kemenangan-keme-nangan yang baru  pula di wilayah-wilayah yang mereka kuasai:
20:7 Dan setelah masa seribu tahun itu berakhir,   Iblis akan dilepaskan  dari penjaranya, 20:8 dan ia akan pergi menyesatkan bangsa-bangsa    pada keempat penjuru bumi,   yaitu Gog dan Magog,   dan mengumpulkan mereka untuk berperang  dan jumlah mereka sama dengan banyaknya pasir di laut.   20:9 Maka naiklah mereka ke seluruh dataran bumi, lalu mengepung  perkemahan tentara orang-orang kudus dan kota yang dikasihi   itu (Wahyu 20:7-9).
        Kata-kata  “dan anjing mereka sedang menjulurkan kedua kaki-depannya di halaman   gua itu”  itu di samping menunjuk kepada kesayangan yang mendalam bangsa-bangsa Kristen di barat kepada anjing, dapat pula dianggap menunjuk kepada kerajaan Byzantine (Romawi Timur) yang ketika itu mengadakan penjagaan terhadap Eropa pada kedua pantai Laut Marmora, yang kelihatan (nampak) seperti seekor anjing yang mengadakan penjagaan, dengan membentangkan kaki-depannya ke kedua sisinya.
   Firman Allah Swt, kepada Nabi Besar Muhammad saw.:  “Seandainya engkau menyaksikan mereka niscaya engkau akan berbalik dari mereka untuk melarikan diri dan niscaya engkau akan dipenuhi oleh rasa takut terhadap mereka“  Ayat ini berisikan gambaran khas mengenai kekuasaan bangsa-bangsa Kristen  barat  -- yakni Ya’juj (Gog) dan Ma’juj (Magog)  setelah pelepasan mereka dari masa “pemenjaraan” selama 1000 tahun (Wahyu [20:7-10) --   di atas negeri-negeri sebelah timur dan selatan  -- termasuk wilayah  Hindustan dan wilayah Nusantara -- cara hidup mereka yang khusus, rasa takut, dan keseganan yang bangsa ini timbulkan di tengah­-tengah rakyat-rakyat (bangsa-bangsa) yang mendiami daerah-daerah yang berhasil mereka kuasai tersebut,  termasuk   penduduk benua Amerika,   Afrika  dan Australia,    tidak ada satu pun  di antara bangsa-bangsa  atau kerajaan-kerajaan  yang mereka jajah tersebut yang  mampu melawan mereka, karena mereka memiliki berbagai macam senjata api yang mustahil dapat dikalahkan dengan menggunakan senjata tradisional.
 Mengisyaratkan kepada kenyataan itulah  makna ayat: “Seandainya engkau menyaksikan mereka niscaya engkau akan berbalik dari mereka untuk melarikan diri dan niscaya engkau akan dipenuhi oleh rasa takut terhadap mereka,“ ayat tersebut   bukan berarti – sebagaimana  keliru memahaminya -- bahwa karena mereka (para penghuni gua) tidur pulas selama berabad-abad, sehingga    rambut, kumis, janggut dan kuku tangan dan kakinya  menjadi sangat panjang,   maka penampilan mereka  sangat menakutkan. Kepercayaan (penafsiran)   seperti itu didasari karena karena tidak mampu memahami  makna-mana mendalam ayat-ayat mutasyabihat Al-Quran (QS.3:8-9).

Ashhabul-Kahfi” dan “Prasastinya” Bukan Tanda Kekuasaan Allah Swt.

Itu pula sebabnya pada ayat awal mengenai kisah “Ashhabul- Kahf” bahwa kisah mereka  bukan merupakan  Ayat-ayat (Tanda-tanda kekuasaan) Allah Swt., firman-Nya:
اَمۡ حَسِبۡتَ اَنَّ  اَصۡحٰبَ الۡکَہۡفِ وَ الرَّقِیۡمِ ۙ کَانُوۡا  مِنۡ  اٰیٰتِنَا  عَجَبًا ﴿﴾
Ataukah engkau menyangka bahwa  penghuni gua dan prasasti-prasastinya  itu adalah dari antara Tanda-tanda Kami yang menakjubkan? (Al-Kahf [18]:10.
    Ungkapan ashhāb al-kahf, telah diberi banyak arti, seperti:  kaum gua; orang-orang gua;   teman-teman segua; penghuni gua; dan  penduduk gua.    Menurut ayat ini menyatakan  bahwa para penghuni gua itu bukanlah wujud‑
wujud aneh. Tidak ada sifat mereka yang dianggap  menyimpang dari hukum alam biasa. Tetapi sungguh amat aneh bahwa banyak dongengan-dongengan khayali  telah terjalin sekitar mereka.
    Kisah yang tersohor mengenai "Seven Sleepers" (Tujuh penidur) seperti diuraikan oleh Gibbon dalam karyanya "Decline and fall of the Roman Empire" (Kemunduran dan jatuhnya kerajaan Romawi), memberi suatu kunci penting untuk menyingkapkan kabut rahasia yang menyelubungi para penghuni gua itu.  Gibbon berkata: "Ketika Maharaja Decius  mengejar-ngejar dan menindas orang-orang Kristen, tujuh pemuda bangsawan dari Ephesus menyembunyikan diri dalam sebuah gua yang luas di pinggir sebuah gunung di mana mereka dibiarkan menjadi musnah oleh raja zalim itu, dan memberi perintah untuk menutup pintu masuk gua itu rapat-rapat dengan tum-pukan batu-batu besar.”
   Menurut riwayat lain, konon kabarnya Yusuf itu mengembara di Britania pada tahun 63 M. Menurut dongengan-dongengan, gereja Glastonbury yang pertama itu merupa-kan bangunan yang dibuat dengan ranting-ranting yang dianyam, didirikan oleh Yusuf Arimatea, ialah kepala dua belas rasul yang diutus ke Britania dari Gaul oleh Santa Filip (Encyclopaedia Britannica, Edisi ke­10 & Edisi ke-13, pada kata "Yoseph of Arimathea" & pada kata "Glastonbury").
   Teori terbaru yang mendapat dukungan kuat dari penyelidikan terhadap "Dead Sea scrolls" (Gulungan-gulungan tulisan yang terdapat di dekat Laut Mati), menunjukkan gua-gua itu — yakni tempat orang-orang Kristen di masa awal  yang berpegang-teguh pada Tauhid Ilahi yang diajarkan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. dalam Injil (QS.5:117-119 – QS.18:11-18), ketika  mereka  -- akibat kezaliman kaumnya yang musyrik   --  terpaksa mencari perlindungan  ke dalam gua-gua dan mereka menuliskan kepercayaan-kepercayaan serta ajaran-­ajaran mereka — di sebuah lembah dekat Laut Mati, berikut firman-Nya kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
نَحۡنُ نَقُصُّ عَلَیۡکَ نَبَاَہُمۡ  بِالۡحَقِّ ؕ اِنَّہُمۡ فِتۡیَۃٌ  اٰمَنُوۡا بِرَبِّہِمۡ وَ زِدۡنٰہُمۡ ہُدًی  ﴿٭ۖ﴾ وَّ رَبَطۡنَا عَلٰی قُلُوۡبِہِمۡ اِذۡ قَامُوۡا فَقَالُوۡا رَبُّنَا رَبُّ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ لَنۡ نَّدۡعُوَا۠ مِنۡ دُوۡنِہٖۤ  اِلٰـہًا لَّقَدۡ قُلۡنَاۤ  اِذًا  شَطَطًا ﴿﴾  ہٰۤؤُلَآءِ قَوۡمُنَا اتَّخَذُوۡا مِنۡ دُوۡنِہٖۤ اٰلِہَۃً ؕ  لَوۡ لَا یَاۡتُوۡنَ عَلَیۡہِمۡ بِسُلۡطٰنٍۭ بَیِّنٍ ؕ فَمَنۡ اَظۡلَمُ  مِمَّنِ افۡتَرٰی عَلَی اللّٰہِ کَذِبًا ﴿ؕ﴾  وَ اِذِ اعۡتَزَلۡتُمُوۡہُمۡ وَمَا یَعۡبُدُوۡنَ  اِلَّا اللّٰہَ  فَاۡ وٗۤا اِلَی الۡکَہۡفِ یَنۡشُرۡ لَکُمۡ رَبُّکُمۡ مِّنۡ رَّحۡمَتِہٖ وَیُہَیِّیٔۡ لَکُمۡ مِّنۡ  اَمۡرِکُمۡ  مِّرۡفَقًا ﴿﴾
Kami ceriterakan kepada engkau kisah mereka dengan benar, sesungguhnya mereka itu para  pemuda  yang beriman kepada Rabb-nya (Tuhan-nya), dan  Kami tambahkan kepada mereka  pe-tunjuk.  Dan Kami meneguhkan  hati mereka  ketika mereka berdiri  lalu  berkata: "Rabb (Tuhan) kami adalah Rabb (Tuhan) seluruh langit dan bumi, kami  tidak pernah menyeru tuhan selain Dia, karena  jika demikian sungguh kami  benar-benar telah berkata  jauh dari kebenaran.  Mereka itu kaum kami yang telah mengambil tuhan-tuhan lain selain Dia.  Mengapa mereka tidak mengemukakan suatu dalil yang terang mengenai mereka itu? Maka  siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mengada-adakan kedustaan terhadap Allah?  Dan ketika kamu meninggal-kan mereka dan  apa yang mereka sembah selain Allah lalu carilah per-lindungan dalam gua itu maka Rabb (Tuhan) kamu akan melapangkan bagi kamu rahmat-Nya  dan akan menyediakan untuk kamu sarana kemudahan bagi urusan kamu." (Al-Kahf [18]:14-17).
 
Dua Generasi Kaum Nashrani  yang  Bertolak-belakang

    Jadi, "gua" dan "prasasti" dalam ayat tersebut  merupakan dua segi yang sangat penting dalam kepercayaan Kristen dan umat Kristen   yang berarti bahwa agama Kristen itu mulai sebagai agama yang melepaskan dan menarik diri dari keramaian dunia dan tetap berpegang-teguh pada Tauhid Ilahi sebagaimana yang diajarkan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. dalam Injil  (Matius 10:5-10; QS.3:46-55; QS.5:18 & 73-74 & 117-119; QS.19:31-38)  -- inilah generasi pertama golongan Nasrani yang tetap berpegang teguh pada Tauhid Ilahi --  tetapi generasi penerus kaum Yahudi tersebut berakhir dengan menjadi suatu agama yang memusatkan perhatian kepada urusan dunia; suatu agama perdagangan dan perniagaan dalam dunia tulis-menulis serta prasasti­-prasasti (tulisan-tulisan pada dinding dan benda-benda – QS.18:1-9 & 10-22),  itulah makna firman-Nya:
اَمۡ حَسِبۡتَ اَنَّ  اَصۡحٰبَ الۡکَہۡفِ وَ الرَّقِیۡمِ ۙ کَانُوۡا  مِنۡ  اٰیٰتِنَا  عَجَبًا ﴿﴾
Ataukah engkau menyangka bahwa  penghuni gua dan prasasti-prasastinya  itu adalah dari antara Tanda-tanda Kami yang menakjubkan? (Al-Kahf [18]:10.    
       Jadi, jelaslah bahwa   generasi penerus kaum Yahudi  --  yakni para pengikut Nabi Isa Ibnu Maryam  yang disebut Nashrani  --   di masa awalnya mereka tetap berpegang-teguh pada Tauhid Ilahi, yang karena demi mempertahankan Tauhid Ilahi   dari penindasan kaum musyrik  yang berkuasa pada masa itu mereka terpaksa harus bersembunyi di goa-goa (katakombe-katakombe) bawah tanah  sehingga dalam Al-Quran mereka disebut   “penghuni gua” (Ashhābul-Kahf – QS.18:14-17).
       Sebutan Ashhabul-Kahf (para penghuni) yang digambarkan Al-Quran tersebut sesuai dengan  keterangan Bible   -- Matius 10:5-32   --   mengenai murid-murid  awal Nabi Isa Ibnu Maryam a.s., antara lain:
Yesus mengutus kedua belas rasul
10:5 Kedua belas murid itu diutus oleh Yesus dan Ia berpesan kepada mereka: "Janganlah kamu menyimpang ke jalan bangsa lain atau masuk ke dalam kota orang Samaria,  10:6 melainkan pergilah kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel.  10:7  Pergilah dan beritakanlah: Kerajaan Sorga    sudah dekat. 10:8  Sembuhkanlah orang sakit; bangkitkanlah orang mati; tahirkanlah orang kusta; usirlah setan-setan. Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma. 10:9  Janganlah kamu membawa emas atau perak atau tembaga dalam ikat pinggangmu.  10:10 Janganlah kamu membawa bekal dalam perjalanan, janganlah kamu membawa baju dua helai, kasut atau tongkat, sebab seorang pekerja patut mendapat upahnya.  10:11  Apabila kamu masuk kota atau desa, carilah di situ seorang yang layak dan tinggallah padanya sampai kamu berangkat. 10:12 Apabila kamu masuk rumah orang, berilah salam   kepada mereka. 10:13 Jika mereka layak menerimanya, salammu itu turun ke atasnya, jika tidak, salammu itu kembali kepadamu. 10:14  Dan apabila seorang tidak menerima kamu dan tidak mendengar perkataanmu, keluarlah dan tinggalkanlah rumah atau kota itu dan kebaskanlah debunya dari kakimu.   10:15 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya pada hari penghakiman   tanah Sodom dan Gomora   akan lebih ringan tanggungannya dari pada kota itu. (Matius 10:5-15).

Mengalami Penzaliman  Selama  Tiga  Abad

          Penindasan yang dialami  orang-orang Nasrani – baik yang berpegang teguh pada Tauhid Ilahi maupun terhadap yang mengikuti ajaran Paulus   --  mencapai rentang waktu selama 3 abad, dan penderitaan  mereka baru berakhir setelah  kaisar Romawi Konstantin memeluk agama Kristen  dan bahkan menjadikannya sebagai agama kerajaan, firman-Nya:
وَ لَبِثُوۡا فِیۡ  کَہۡفِہِمۡ ثَلٰثَ مِائَۃٍ سِنِیۡنَ وَ ازۡدَادُوۡا  تِسۡعًا ﴿﴾  قُلِ اللّٰہُ  اَعۡلَمُ بِمَا لَبِثُوۡا ۚ لَہٗ غَیۡبُ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ؕ اَبۡصِرۡ بِہٖ  وَ  اَسۡمِعۡ ؕ مَا  لَہُمۡ  مِّنۡ  دُوۡنِہٖ مِنۡ وَّلِیٍّ ۫ وَّ لَا یُشۡرِکُ  فِیۡ  حُکۡمِہٖۤ   اَحَدًا ﴿﴾
Dan mereka tinggal dalam gua mereka tiga ratus tahun dan mereka menambah sembilan.    Katakanlah: "Allah Yang lebih mengetahui berapa lamanya mereka tinggal.  --  Milik-Nya rahasia seluruh langit dan bumi.   Sangat terang penglihatan-Nya dan sangat tajam pendengaran­-Nya.    Mereka sama sekali tidak mempunyai penolong selain Dia dan Dia tidak mengambil se-kutu seorang pun dalam keputusan-Nya. (Al-Kahf [18]:25-27).
  Jangka waktu selama orang-orang Kristen dari masa permulaan menjadi kurban penindasan yang sering terpaksa mencari perlindungan dalam gua-gua dan tempat-tempat persembunyian lainnya, meliputi masa kurang­lebih 309 tahun; dan catatan-catatan sejarah pun  membenarkan pernyataan Allah Swt. dalam Al-Quran tersebut.
  Seperti umum percaya bahwa penindasan terhadap orang-orang Kristen mulai dengan peristiwa disalibnya  Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.  pada tahun 28 M. dan berakhir dengan masuknya Kaisar  Romawi  --  Konstantin   --  ke dalam agama Kristen pada tahun 337 M. (Encyclopaedia Britannica) satu masa yang panjangnya kurang-lebih 309 tahun. Dan sebenarnya Kaisar Konstantin itu berpindah agama bukan pada tahun 337 M., tetapi pada tahun 309 M. Peristiwa penyaliban Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.  yang mengerikan itu telah terjadi 28 tahun kemudian dari apa yang pada umumnya dipercayai (Chronology by Archbishop Ushers & Daily Bible Illustration by Dr. Kitto).
   Makna ayat:   “Katakanlah: "Allah Yang lebih mengetahui berapa lamanya mereka tinggal.” Orang-orang Kristen dari masa permulaan di berbagai negeri dan pada masa yang berlainan, seperti di Roma, Aleksandria, dan sebagainya selalu dikejar-kejar. Mereka terpaksa mencari perlindungan dalam gua-gua dan katakomba-katakomba, pada berbagai masa dan untuk jangka waktu   yang ber­lainan.
Tinggalnya mereka di katakomba-katakomba bukan merupakan suatu peristiwa tersendiri dan yang terjadi terns menerus. Hanya Allah  Swt. yang mengetahui dengan tepat berapa lamanya mereka tinggal dalam keadaan demikian.
   Kata-kata   "Sangat terang penglihatan-Nya dan sangat tajam pendengaran­-Nya"  itu berarti pula  "Sangat terang penglihatan-Nya dan sangat tajam  pendengaran-Nya" atau "Dia melihat segala sesuatu serta mendengar segala sesuatu." Yakni Allah Swt. benar-benar mengetahui orang-orang Nashrani di masa awal yang disebut “Ashhabul-kahf”  (para penghuni gua) mau pun orang-orang Nashrani generasi penerus mereka yang disebut orang-orang Kristen pengikut ajaran Paulus  yang disebut “rāqim” (prasasti-prasasti) yang keadaannya bertolak-belakang  dengan generasi awal orang-orang Nashrani, berikut firman-Nya kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
وَ تَحۡسَبُہُمۡ اَیۡقَاظًا وَّ ہُمۡ رُقُوۡدٌ ٭ۖ وَّ نُقَلِّبُہُمۡ ذَاتَ الۡیَمِیۡنِ وَ ذَاتَ الشِّمَالِ ٭ۖ وَ کَلۡبُہُمۡ بَاسِطٌ ذِرَاعَیۡہِ  بِالۡوَصِیۡدِ ؕ لَوِ اطَّلَعۡتَ عَلَیۡہِمۡ لَوَلَّیۡتَ مِنۡہُمۡ فِرَارًا  وَّ  لَمُلِئۡتَ مِنۡہُمۡ  رُعۡبًا ﴿﴾
Dan engkau menyangka mereka itu bangun  padahal mereka itu tidur, dan Kami membolik-balikkan mereka ke kanan dan ke kiri,   dan anjing mereka sedang menjulurkan kedua kaki-depannya di halaman   gua itu.   Seandainya engkau menyaksi-kan mereka niscaya engkau akan ber-balik dari mereka untuk melarikan diri dan niscaya engkau akan dipenuhi oleh rasa takut terhadap mereka. (Al-Kahfi [18]:19).

Makna “Bangkit” dari “Tidur” Ratusan Tahun  Ashhabul-Kahf (Penghuni Gua)

   Makna ayat:  “Dan engkau menyangka mereka itu bangun  padahal mereka itu tidur.“  Orang-orang Islam di masa Nabi Besar Muhamad saw.   telah diberi peringatan sebelumnya oleh Allah Swt. bahwa bangsa-bangsa Kristen – yakni Ya’juj (Gog) dan Ma’juj (Magog)   --di daerah utara sedang berleha-leha, tetapi tidak lama lagi mereka akan bangkit dari keadaan lelap (tidur) yang meliputi masa ratusan tahun itu, dan merka akan menyebar ke seluruh dunia serta menguasai dunia.
  Kata-kata:   "Kami akan membolik-balikkan mereka ke kanan dan ke kiri" nampaknya menunjuk kepada berkeliarannya bangsa-bangsa Kristen dari barat di muka bumi pada abad ke-17 Masehi serta tersebarnya mereka ke semua jurusan untuk mencari pasaran baru dan untuk mencapai penaklukan-penaklukan  yang baru pula.
        Makna ayat:  “dan anjing mereka sedang menjulurkan kedua kaki-depannya di halaman   gua itu.” Kata-kata itu di samping menunjuk kepada kesayangan yang mendalam bangsa-bangsa Kristen di barat kepada anjing, ayat tersebut dapat pula dianggap menunjuk kepada kerajaan Byzantine (Romawi Timur) yang ketika itu mengadakan penjagaan terhadap Eropa pada kedua pantai Laut Marmora, yang kelihatan seperti seekor anjing yang mengadakan penjagaan, dengan membentangkan kaki-depannya ke kedua sisinya.
   Makna ayat selanjutnya:  “Seandainya engkau menyaksikan mereka niscaya engkau akan berbalik dari mereka untuk melarikan diri dan niscaya engkau akan dipenuhi oleh rasa takut terhadap mereka.”   Kata-kata ini menunjuk kepada masa  ketika bangsa-bangsa Kristen dari barat akan memperoleh kekuasaan politik yang besar di seluruh dunia dengan kekuatan militernya yang  sangat hebat, sehingga bangsa mana pun tidak akan mampu menghadapi mereka.
 Al-Quran menubuatkan hakikat ini ratusan tahun sebelumnya, ketika bangsa-bangsa Kristen masih terbenam dalam tidur lelap ratusan tahun, sehingga daya ciptamanusia  yang betapa pun kaya dan luasnya tidak dapat meramalkan kekuasaan dan kemuliaan yang akan dicapai oleh bangsa­-bangsa itu  sesudahnya.
Jadi, ayat     “dan niscaya engkau akan dipenuhi oleh rasa takut terhadap mereka“  ini berisikan gambaran khas mengenai kekuasaan duniawi bangsa-bangsa Kristen dari  barat di atas negeri-negeri sebelah timur dan selatan, cara hidup mereka yang khusus, rasa takut, dan keseganan yang bangsa ini timbulkan di tengah­-tengah rakyat-rakyat yang mendiami daerah-daerah yang dikuasai  mereka. Itulah sebabnya mereka  mampu mempertahankan kekuasaannya di wilayah-wilayah jajahan mereka selama ratusan tahun, contohnya penjajahan Belanda (VOC) atas wilayah Nusantara selama 350 tahun, firman-Nya:
وَ حَرٰمٌ عَلٰی قَرۡیَۃٍ  اَہۡلَکۡنٰہَاۤ  اَنَّہُمۡ لَا  یَرۡجِعُوۡنَ ﴿﴾  حَتّٰۤی  اِذَا  فُتِحَتۡ یَاۡجُوۡجُ وَ مَاۡجُوۡجُ وَ ہُمۡ  مِّنۡ  کُلِّ  حَدَبٍ  یَّنۡسِلُوۡنَ ﴿﴾
Dan terlarang bagi penduduk suatu negeri yang telah Kami binasakan bahwa sesungguhnya mereka itu tidak mungkin kembali.  Hingga apabila dibukakan pin-tu pemenjaraan  Ya’juj dan Ma’juj  dan mereka turun dengan cepat dari setiap ketinggian  (Al-Anbiya [21:96-97).
        Jika ayat 97 dibaca bersama-sama dengan ayat yang mendahuluinya maka maksud ayat ini ialah bahwa hukum alam bekerja demikian rupa, sehingga sekali bila suatu kaum — sesudah mencapai puncak kejayaan dan kemuliaannya — mengalami kebinasaan dan kehancuran,  mereka tidak mendapatkan kembali kejayaan mereka yang hilang itu.
       Demikian pula Ya’juj (Gog) dan Ma’juj (Magog)   -- yakni bangsa-bangsa Kristen dari Barat yang bermata biru  (QS.20:103-105) -- pun dengan kejayaan dan kemuliaan besar mereka dalam kebendaan tidak dapat mengelakkan diri dari hukum alam tersebut. Mereka akan jatuh dan tidak akan bangkit kembali untuk selama-lamanya.
       Ya’juj (Gog) dan Ma’juj (Magog)  atau bangsa-bangsa Kristen barat telah mencapai segala puncak kekuasaan politik dan telah menyebar ke seluruh dunia, sesuai dengan nubuatan Allah Swt. dalam Al-Quran:  وَ ہُمۡ  مِّنۡ  کُلِّ  حَدَبٍ  یَّنۡسِلُوۡنَ --  “dan mereka turun dengan cepat dari setiap ketinggian“ berarti, bahwa mereka akan menempati setiap ujung yang membawa keuntungan dan akan menguasai seluruh dunia.

Nubuatan Dzulqarnain (Cyrus -- Raja Media dan Persia)

      Kenyataan tersebut sesuai dengan nubuatan   Dzulqarnain (Cyus) – Raja Media dan Persia --  berkenaan akan berkeliarannya kembali Ya’juj (Gog) dan Ma’juj (Magog) setelah untuk sementara waktu berhasil dihalangi melalui pembuatan dinding Darband (QS.18:95-99), firman-Nya:
فَمَا اسۡطَاعُوۡۤا اَنۡ یَّظۡہَرُوۡہُ  وَ مَا اسۡتَطَاعُوۡا  لَہٗ  نَقۡبًا ﴿﴾  قَالَ ہٰذَا رَحۡمَۃٌ مِّنۡ رَّبِّیۡ ۚ فَاِذَا جَآءَ وَعۡدُ رَبِّیۡ جَعَلَہٗ  دَکَّآءَ ۚ وَ کَانَ وَعۡدُ رَبِّیۡ  حَقًّا  ﴿ؕ﴾ وَ تَرَکۡنَا بَعۡضَہُمۡ یَوۡمَئِذٍ یَّمُوۡجُ فِیۡ بَعۡضٍ وَّ نُفِخَ فِی الصُّوۡرِ فَجَمَعۡنٰہُمۡ جَمۡعًا ﴿ۙ﴾  وَّ عَرَضۡنَا جَہَنَّمَ  یَوۡمَئِذٍ  لِّلۡکٰفِرِیۡنَ  عَرۡضَۨا ﴿﴾ۙ الَّذِیۡنَ کَانَتۡ اَعۡیُنُہُمۡ فِیۡ غِطَـآءٍ عَنۡ ذِکۡرِیۡ وَ کَانُوۡا لَا یَسۡتَطِیۡعُوۡنَ سَمۡعًا ﴿﴾٪
Maka mereka, Yajuj dan Majuj tidak dapat memanjatnya dan tidak dapat melubanginya.  Ia, Dzulqarnain, berkata: Ini rahmat dari Rabb-ku (Tuhan-ku), tetapi apabila telah tiba janji Rabb-ku (Tuhan-ku), Dia akan me­mecahkannya berkeping-keping, dan   janji Rabb-ku (Tuhan-ku) itu pasti benar.  Dan pada hari itu Kami akan mem­biarkan sebagian mereka  menyerang sebagian lain dan nafiri akan ditiup, lalu  Kami akan menghimpun mereka itu semuanya.  Dan pada hari itu Kami menghadirkan Jahannam berhadapan muka dengan orang-orang kafir  yaitu  orang-orang yang mata mereka tertutup dari pe­ringatan-Ku, dan mereka tidak mampu mendengar  (Al-Kahf [18]:98-102).


(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid

oo0oo

Pajajaran Anyar,  3 Februari  2017

Tidak ada komentar:

Posting Komentar