Rabu, 08 Februari 2017

Persamaan "Jawaban" Nabi Besar Muhammad Saw. Dengan "Jawaban" Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. Mengenai "Kemusyrikan" yang Terjadi di Kalangan Para Pengikutnya Sepeninggal Kedua Rasul Allah Itu




Bismillaahirrahmaanirrahiim

  ISLAM
Pidato  Mirza Ghulam Ahmad a.s.
Tgl. 2 November 1904 di Kota Sialkote – Hindustan

Bab  15

PERSAMAAN JAWABAN NABI BESAR MUHAMMAD SAW. DENGAN JAWABAN NABI ISA IBNU MARYAM A.S. MENGENAI KEMUSYRIKAN  YANG TERJADI DI KALANGAN PARA PENGIKUTNYA SEPENINGGAL KEDUA RASUL ALLAH ITU

Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam bagian akhir Bab 14  telah dijelaskan topik  Mempertuhankan “Siti Maryam” Sebagai “Bunda Tuhan berkenaan surah Al-Māidah ayat 117-118, firman-Nya:
وَ  اِذۡ قَالَ اللّٰہُ یٰعِیۡسَی ابۡنَ مَرۡیَمَ  ءَاَنۡتَ قُلۡتَ لِلنَّاسِ اتَّخِذُوۡنِیۡ وَ اُمِّیَ  اِلٰہَیۡنِ مِنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ ؕ قَالَ سُبۡحٰنَکَ مَا یَکُوۡنُ لِیۡۤ  اَنۡ اَقُوۡلَ مَا لَیۡسَ لِیۡ ٭ بِحَقٍّ ؕ؃ اِنۡ کُنۡتُ قُلۡتُہٗ فَقَدۡ عَلِمۡتَہٗ ؕ تَعۡلَمُ  مَا فِیۡ نَفۡسِیۡ وَ لَاۤ اَعۡلَمُ مَا فِیۡ نَفۡسِکَ ؕ اِنَّکَ اَنۡتَ عَلَّامُ  الۡغُیُوۡبِ ﴿﴾  مَا قُلۡتُ لَہُمۡ اِلَّا مَاۤ اَمَرۡتَنِیۡ بِہٖۤ اَنِ اعۡبُدُوا اللّٰہَ رَبِّیۡ وَ رَبَّکُمۡ ۚ وَ کُنۡتُ عَلَیۡہِمۡ  شَہِیۡدًا مَّا دُمۡتُ فِیۡہِمۡ ۚ فَلَمَّا تَوَفَّیۡتَنِیۡ  کُنۡتَ اَنۡتَ الرَّقِیۡبَ عَلَیۡہِمۡ ؕ وَ  اَنۡتَ عَلٰی کُلِّ  شَیۡءٍ  شَہِیۡدٌ ﴿﴾
Dan ingatlah ketika Allah berfirman: “Hai ‘Isa ibnu Maryam, apakah engkau telah berkata kepada manusia: “Jadikanlah aku dan ibuku sebagai dua tuhan  selain  Allah?" Ia berkata: “Maha Suci Engkau. Tidak patut bagiku mengatakan  apa yang  sekali-kali  bukan hakku. Jika  aku telah mengatakannya maka sungguh  Engkau mengetahuinya. Engkau mengetahui apa yang ada dalam diriku, sedangkan aku tidak mengetahui apa yang ada dalam diri Engkau,  sesungguhnya Engkau benar-benar Maha Mengetahui segala yang gaib. Aku sekali-kali tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang telah Engkau perintahkan kepadaku, yaitu:  Beribadahlah kepada Allah, Rabb-ku (Tuhan-ku) dan Rabb (Tuhan) kamu.” Dan aku menjadi saksi atas mereka selama aku berada di antara mereka, tetapi tatkala  Engkau telah mewafatkanku  maka Engkau-lah Yang benar-benar menjadi Pengawas atas mereka, dan Engkau adalah Saksi atas segala sesuatu. (Al-Māidah [5]:117-118).
     Makna ayat: “Dan ingatlah ketika Allah berfirman: “Hai ‘Isa ibnu Maryam, apakah engkau telah berkata kepada manusia: “Jadikanlah aku dan ibuku sebagai dua tuhan  selain  Allah?"   Ayat itu menunjuk kepada kebiasaan Gereja Kristen yang menisbahkan kekuatan-kekuatan Uluhiyyah (Ketuhanan) kepada Siti Maryam. Pertolongan Siti Maryam dimohon dalam Litania (suatu bentuk sembahyang), sedangkan dalam Katakisma (Cathechism, yakni, dasar-dasar ajaran agama berupa tanya-jawab) Gereja Romawi ditanamkan akidah bahwa Siti Maryam  itu bunda Tuhan.
        Gerejawan-gerejawan di zaman lampau menganggap beliau mempunyai sifat-sifat Tuhan dan hanya beberapa tahun yang silam, Paus Pius XII telah memasukkan paham kenaikan Siti Maryam ke langit dalam ajaran Gereja. Semua ini sama halnya dengan menaikkan beliau ke jenjang Ketuhanan dan inilah apa yang dicela oleh umat Protestan dan disebut sebagai Mariolatry (Pemujaan Dara Maria).
       Ungkapan bahasa Arab dalam teks   -- berkenaan jawaban Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. -- yang diterjemahkan sebagai “tidak layak bagiku” dapat ditafsirkan sebagai: “Tidak patut bagiku atau tidak mungkin bagiku atau aku tidak berhak berbuat demikian,” dan sebagainya. Sebab Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.  mengajarkan menyembah hanya satu Tuhan:
Maka berkatalah Yesus kepadanya: "Enyahlah, Iblis!   Sebab ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti! " (Matius 4:10) lihat pula Lukas 4:8.
       Kemudian   masih dalam Injil Matius ada dialog antara Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. dengan seorang penanya:
36 "Guru, hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat?" 37 Jawab Yesus kepadanya: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. 38 Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. 39 Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. 40 Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi." (Matius 22:36-37).
         Karena Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. datang  bukan untuk menghilangkan  hukum Taurat mau pun kitab nabi-nabi melainkan untuk menyempurnakannya (Matius 5:17-20), tentu beliau pun mengajarkan Tauhid Ilahi kepada para murid-murid beliau  selama beliau bersama-sama dengan mereka, sebagaimana firman-Nya sebelum ini:
وَ  اِذۡ قَالَ اللّٰہُ یٰعِیۡسَی ابۡنَ مَرۡیَمَ  ءَاَنۡتَ قُلۡتَ لِلنَّاسِ اتَّخِذُوۡنِیۡ وَ اُمِّیَ  اِلٰہَیۡنِ مِنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ ؕ قَالَ سُبۡحٰنَکَ مَا یَکُوۡنُ لِیۡۤ  اَنۡ اَقُوۡلَ مَا لَیۡسَ لِیۡ ٭ بِحَقٍّ ؕ؃ اِنۡ کُنۡتُ قُلۡتُہٗ فَقَدۡ عَلِمۡتَہٗ ؕ تَعۡلَمُ  مَا فِیۡ نَفۡسِیۡ وَ لَاۤ اَعۡلَمُ مَا فِیۡ نَفۡسِکَ ؕ اِنَّکَ اَنۡتَ عَلَّامُ  الۡغُیُوۡبِ ﴿﴾  مَا قُلۡتُ لَہُمۡ اِلَّا مَاۤ اَمَرۡتَنِیۡ بِہٖۤ اَنِ اعۡبُدُوا اللّٰہَ رَبِّیۡ وَ رَبَّکُمۡ ۚ وَ کُنۡتُ عَلَیۡہِمۡ  شَہِیۡدًا مَّا دُمۡتُ فِیۡہِمۡ ۚ فَلَمَّا تَوَفَّیۡتَنِیۡ  کُنۡتَ اَنۡتَ الرَّقِیۡبَ عَلَیۡہِمۡ ؕ وَ  اَنۡتَ عَلٰی کُلِّ  شَیۡءٍ  شَہِیۡدٌ ﴿﴾
Dan ingatlah ketika Allah berfirman: “Hai ‘Isa ibnu Maryam, apakah engkau telah berkata kepada manusia: “Jadikanlah aku dan ibuku sebagai dua tuhan  selain  Allah?" Ia berkata: “Maha Suci Engkau. Tidak patut bagiku mengatakan  apa yang  sekali-kali  bukan hakku. Jika  aku telah mengatakannya maka sungguh  Engkau mengetahuinya. Engkau mengetahui apa yang ada dalam diriku, sedangkan aku tidak mengetahui apa yang ada dalam diri Engkau,  sesungguhnya Engkau benar-benar Maha Mengetahui segala yang gaib. Aku sekali-kali tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang telah Engkau perintahkan kepadaku, yaitu:  Beribadahlah kepada Allah, Rabb-ku (Tuhan-ku) dan Rabb (Tuhan) kamu.” Dan aku menjadi saksi atas mereka selama aku berada di antara mereka, tetapi tatkala  Engkau telah mewafatkanku  maka Engkau-lah Yang benar-benar menjadi Pengawas atas mereka, dan Engkau adalah Saksi atas segala sesuatu. (Al-Māidah [5]:117-118).

Persamaan Jawaban  Nabi Besar Muhammad Saw.  di Hari Kebangkitan Seperti Jawaban Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.

     Selama Nabi Isa  Ibnu Maryam a.s. hidup, beliau mengamati dengan cermat pengikut-pengikut beliau dan menjaga agar mereka tidak menyimpang dari jalan yang benar dan dari Tauhid Ilahi,  tetapi setelah Allah Swt. mewafatkan beliau dalam usia 120 tahun (Ad-Daruqutni)  beliau tidak mengetahui betapa mereka telah berbuat dan akidah-akidah palsu apa yang dianut mereka.
       Jadi, jika dalam kenyataannya orang-orang yang mengaku sebagai pengikut beliau telah sesat  karena mempercayai “Trinitas” dan “Penebusan dosa”  melalui “kematian terkutuk” beliau di atas salib yang diajarkan Paulus, maka dapat diambil kesimpulan pasti bahwa Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. benar-benar  telah wafat, sebab sebagaimana ditunjukkan oleh ayat itu, karena sesudah wafatnyalah beliau disembah sebagai Tuhan.
      Begitu pula kenyataan bahwa menurut ayat ini Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. akan menyatakan tidak tahu-menahu bahwa pengikut-pengikut beliau menganggap beliau dan bundanya (Siti Maryam) sebagai dua tuhan sesudah beliau meninggalkan mereka di Palestina  -- setelah beliau diselamatkan Allah Swt.  dari kematian terkutuk di tiang salib  --  membuktikan bahwa beliau tidak akan kembali lagi ke dunia.
      Mengapa demikian? Sebab apabila benar bahwa Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.  harus kembali  atau turun  dari langit dan melihat dengan mata sendiri pengikut-pengikut beliau telah menjadi rusak dan telah mempertuhankan beliau, tentu beliau tidak dapat berdalih tidak tahu-menahu tentang penyembahan  yang dilakukan  mereka terhadap diri beliau, atau beliau telah dipertuhankan mereka. Jika  demikian maka jawaban beliau  dalam ayat-ayat tersebut  -- dengan berdalih tidak tahu-menahu  -- akan sama halnya dengan benar-benar dusta.
        Dengan demikian Surah Al-Māidah ayat 117  membuktikan secara positif bahwa Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. telah wafat (QS.3:56 & 150; QS.21:35-36) dan beliau sekali-kali tidak akan kembali ke dunia ini. Lebih-lebih menurut hadits yang termasyhur, Nabi Besar Muhammad saw.  akan menggunakan kata-kata seperti itu pada Hari Kebangkitan   --  sebagaimana kata-kata itu diletakkan di sini pada mulut Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.  --  bila kelak beliau saw. melihat pengikut beliau saw. (umat Islam) digiring ke neraka.
       Hal tersebut memberikan dukungan lebih lanjut pada kenyataa  bahwa Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. telah wafat seperti halnya  Nabi Besar Muhammad saw. juga telah wafat (QS.3:145; QS.21:35-36).  Berikut adalah terjemahan hadits yang dimaksud:
“Telah menceritakan kepada kami 'Affan telah menceritakan kepada kami Syu'bah telah menceritakan kepada kami Al Mughirah bin An Nu'man seorang syaikh dari An Nakha', dia berkata; aku mendengar Sa'id bin Jubair bercerita; aku mendengar Ibnu Abbas berkata; Rasulullah shallallāhu 'alaihi wasallam menyampaikan nasihat di tengah-tengah kami, lalu beliau bersabda: "Sesungguhnya kalian akan dikumpulkan kepada Allah dalam keadaan tak beralas kaki, bertelanjang dan tidak berkhitan.
(Sebagaimana Kami telah memulai penciptaan pertama begitulah Kami akan mengulanginya. Itulah suatu janji yang pasti Kami tepati; sesungguhnya Kami-lah yang akan melaksanakannya).  Ketahuilah bahwa manusia pertama yang akan dikenakan pakaian pada hari kiamat adalah Ibrahim, dan sungguh ia akan didatangi oleh orang-orang dari umatku, lalu ia membawa mereka ke sebelah kiri. Kemudian sungguh aku akan mengucapkan: 'Sahabatku, sahabatku!' Lalu akan dikatakan kepadaku:  ”Sesungguhnya engkau tidak tahu apa yang mereka ada adakan setelah ketiadaan engkau.” Lalu sungguh aku akan mengatakan sebagaimana yang dikatakan oleh hamba yang shalih (Isa Ibnu Maryam):
(“Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku  mengatakannya yaitu: “Sembahlah Allah, Rabb-ku (Tuhanku) dan Rabb kamu (Tuhan kamu)”    dan adalah aku menjadi saksi terhadap mereka, selama aku berada di antara mereka, maka setelah Engkau wafatkan aku, Engkau-lah Yang Mengawasi mereka. dan Engkau adalah Maha menyaksikan atas segala sesuatu. Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba Engkau, dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkaulah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana – QS.5:117-119).
Lalu dikatakan; "Sesungguhnya mereka telah murtad kembali kepada kepercayaan lama mereka semenjak engkau meninggalkan mereka." Syu'bah berkata: “Dia mendiktekannya kepada Sufyan, kemudian Sufyan mendiktekannya kepadaku." Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja'far telah menceritakan kepada kami Syu'bah dari Al Mughirah bin An Nu'man dari Sa'id bin Jubair dari Ibnu Abbas, ia berkata; "Rasulullah shallallāhu 'alaihi wasallam menyampaikan nasehat di tengah-tengah kami." Lalu dikemukakan haditsnya. (Musnad Ahmad nomor 2168).

Makna “Kalimat”    Berkenaan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.

        Kembali kepada kemusyrikan yang terjadi di kalangan golongan Ahli-Kitab, dalam surah lain Allah Swt. berfirman:
یٰۤاَہۡلَ الۡکِتٰبِ لَا تَغۡلُوۡا فِیۡ دِیۡنِکُمۡ وَ لَا تَقُوۡلُوۡا عَلَی اللّٰہِ  اِلَّا الۡحَقَّ ؕ اِنَّمَا الۡمَسِیۡحُ عِیۡسَی ابۡنُ مَرۡیَمَ رَسُوۡلُ اللّٰہِ وَ کَلِمَتُہٗ ۚ اَلۡقٰہَاۤ اِلٰی مَرۡیَمَ وَ رُوۡحٌ مِّنۡہُ ۫ فَاٰمِنُوۡا بِاللّٰہِ وَ رُسُلِہٖ ۚ۟ وَ لَا تَقُوۡلُوۡا ثَلٰثَۃٌ ؕ اِنۡتَہُوۡا خَیۡرًا  لَّکُمۡ ؕ اِنَّمَا اللّٰہُ اِلٰہٌ وَّاحِدٌ ؕ سُبۡحٰنَہٗۤ اَنۡ یَّکُوۡنَ لَہٗ  وَلَدٌ ۘ لَہٗ  مَا  فِی السَّمٰوٰتِ وَ مَا  فِی  الۡاَرۡضِ ؕ وَ کَفٰی بِاللّٰہِ  وَکِیۡلًا ﴿﴾٪  لَنۡ یَّسۡتَنۡکِفَ الۡمَسِیۡحُ اَنۡ یَّکُوۡنَ عَبۡدًا لِّلّٰہِ وَ لَا الۡمَلٰٓئِکَۃُ الۡمُقَرَّبُوۡنَ ؕ وَ مَنۡ یَّسۡتَنۡکِفۡ عَنۡ عِبَادَتِہٖ وَ یَسۡتَکۡبِرۡ فَسَیَحۡشُرُہُمۡ  اِلَیۡہِ جَمِیۡعًا ﴿﴾
Hai Ahlul Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam urusan agama kamu, dan janganlah kamu mengatakan mengenai Allah kecuali yang haq (benar). Sesungguhnya Al-Masih Isa Ibnu Maryam hanyalah  seorang rasul Allah, suatu kalimat dari-Nya  yang diturunkan kepada Maryam, dan  ruh  dari-Nya, maka berimanlah kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, dan janganlah kamu  mengatakan: “Tuhan itu tiga”, berhentilah, itu lebih baik bagi kamu. Sesungguhnya Allah adalah Tuhan Yang Maha Esa.  Maha Suci Dia dari memiliki  anak. Milik-Nya apa pun  yang ada di seluruh langit dan   apa  pun yang ada di bumi. Dan cukuplah Allah sebagai Pemelihara.    Al-Masih tidak pernah   merasa hina menjadi hamba bagi Allah, dan tidak juga malaikat yang dekat kepada-Nya, dan barangsiapa merasa hina karena beribadah kepada-Nya dan berlaku takabur maka Dia akan mengumpulkan mereka semua kepada-Nya. (An-Nisa [4]:172-173). Lihat pula QS.2:217.
        Kalimah dalam ayat:  اِنَّمَا الۡمَسِیۡحُ عِیۡسَی ابۡنُ مَرۡیَمَ رَسُوۡلُ اللّٰہِ وَ کَلِمَتُہٗ  --  “Sesungguhnya Al-Masih Isa Ibnu Maryam hanyalah  seorang rasul Allah, suatu kalimat dari-Nya” berarti: sebuah kata, putusan, perintah (Al-Mufradat). Kata ini bersama-sama dengan kata ruh yang terdapat dalam QS.4:172, menjelaskan tanpa sekelumit pun keraguan bahwa jauh dari membenarkannya, bahkan  kata-kata itu dipakai untuk menghancurkan dan menolak paham yang menganggap Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.  – Na’ūdzubillāhi mi dzālika -- adalah Tuhan dan anak Tuhan.
      Dalam ayat ini Nabi Isa a.s. disebut Kalimatullāh, karena kata-kata (ucapan-ucapan) beliau membantu untuk kepentingan Kebenaran. Seperti halnya orang yang membela kepentingan kebenaran dengan keberaniannya disebut Saifullāh (Pedang Allah) atau Asadullāh (Singa Allah), demikian pula Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. isebut Kalimatullāh, sebab kelahirannya tidak terjadi dengan perantaraan seorang ayah seorang laki-laki melainkan atas “perintah” langsung dari Allah Swt. (QS.19:22).
      Selain arti harfiah yang tercantum di atas, Al-Quran telah memakai kata kalimah dalam arti-arti berikut: (1) “Tanda” (QS.66:13 dan QS.8:8); (2) “hukuman” (QS.10:97); (3) “rencana” atau “rancangan” (QS.9:40); (4) “kabar gembira” (QS.7:138); (5) “ciptaan Tuhan” (QS.18:110); (6) “semata-mata ucapan” atau “semata-mata pernyataan” (QS.23:101). Diambil dalam rangkuman salah satu arti di atas, penggunaan kata kalimah mengenai Nabi Isa a.s. sekali-kali tidak memberikan kepada beliau suatu martabat yang lebih baik daripada nabi-nabi lainnya.
       Tambahan pula, bila Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. disebut Kalimah dalam Al-Quran, Nabi Besar Muhammad saw.  telah disebut Dzikr, artinya Kitab atau nasihat yang baik (QS.65:11-12), yang tentunya terdiri atas banyak kalimat. Pada hakikatnya, bila Kalimatullāh diambil dalam arti “Firman Allah”,  paling-paling kita hanya dapat mengatakan bahwa  Allah Swt.   telah menyatakan Diri-Nya lewat Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.  seperti halnya Dia menyatakan Diri-Nya melalui para nabi Allah lainnya.
        Kata-kata  (kalimat) tidak lain hanya wahana untuk pengungkapan pikiran-pikiran. Kata-kata (kalimat) tidak merupakan bagian wujud kita dan tidak pula menjadi titisan manusia, sebagaimanayang telah diartikan secara berlebihan mengenai kelahiran Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. yang tanpa ayah seorang laki-laki.

Makna “Ruh” Berkenaan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. &  Kedustaan  Faham “Trinitas” dan “Penebusan Dosa”

   Rūh berarti:  ruh atau jiwa, nafas yang memenuhi seluruh jisim, dan apabila nafas berhenti  maka orang akan mati; wahyu Ilahi atau ilham; Al-Quran; malaikat; kegembiraan dan kebahagiaan; rahmat (Lexicon Lane). Dari berbagai arti rūh dan kalimah tersebut di atas jelaslah bahwa tidak ada kedudukan ruhani yang istimewa pada Nabi Isa Ibnu Maryam a.s..
   Kata-kata “kalimah” dan “ruh”  serta ucapan-ucapan lainnya yang seperti itu dipakai dalam Al-Quran mengenai nabi-nabi lainnya, dan juga mengenai orang-orang shalih lainnya seperti Siti Maryam (QS.15:30; QS.32:10; QS.58:23). Kata-kata itu telah dipergunakan untuk membersihkan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. dan Siti Maryam dari noda-noda (fitnah-fitnah) yang dilemparkan oleh orang-orang Yahudi kepada kedua mereka itu (QS.4:157-159; QS.19:28-30) dan bukan memberikan kepada keduanya  suatu kedudukan ruhani istimewa, sebagaimana telah disalah-tafsirkan.
 Masih sehubungan munculnya kemusyrikan di kalangan golongan Ahli-Kitab (QS.9:30-32)  -- termasuk di kalangan generasi penerus para hawari Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (QS.7:170; QS.18:19-23) – firman-Nya: 
لَقَدۡ کَفَرَ الَّذِیۡنَ قَالُوۡۤا اِنَّ اللّٰہَ ہُوَ الۡمَسِیۡحُ ابۡنُ مَرۡیَمَ ؕ وَ قَالَ الۡمَسِیۡحُ یٰبَنِیۡۤ  اِسۡرَآءِیۡلَ اعۡبُدُوا اللّٰہَ رَبِّیۡ وَ رَبَّکُمۡ ؕ اِنَّہٗ مَنۡ یُّشۡرِکۡ بِاللّٰہِ فَقَدۡ حَرَّمَ اللّٰہُ عَلَیۡہِ الۡجَنَّۃَ وَ مَاۡوٰىہُ النَّارُ ؕ وَ مَا لِلظّٰلِمِیۡنَ مِنۡ اَنۡصَارٍ ﴿﴾ لَقَدۡ کَفَرَ الَّذِیۡنَ قَالُوۡۤا اِنَّ اللّٰہَ ثَالِثُ ثَلٰثَۃٍ ۘ وَ مَا مِنۡ  اِلٰہٍ  اِلَّاۤ اِلٰہٌ  وَّاحِدٌ ؕ وَ اِنۡ لَّمۡ یَنۡتَہُوۡا عَمَّا یَقُوۡلُوۡنَ لَیَمَسَّنَّ الَّذِیۡنَ  کَفَرُوۡا مِنۡہُمۡ  عَذَابٌ اَلِیۡمٌ ﴿﴾ اَفَلَا یَتُوۡبُوۡنَ اِلَی اللّٰہِ وَ یَسۡتَغۡفِرُوۡنَہٗ ؕ وَ اللّٰہُ غَفُوۡرٌ  رَّحِیۡمٌ ﴿﴾ مَا الۡمَسِیۡحُ ابۡنُ مَرۡیَمَ  اِلَّا رَسُوۡلٌ ۚ قَدۡ خَلَتۡ مِنۡ قَبۡلِہِ الرُّسُلُ ؕ وَ اُمُّہٗ صِدِّیۡقَۃٌ ؕ کَانَا یَاۡکُلٰنِ الطَّعَامَ ؕ اُنۡظُرۡ کَیۡفَ نُبَیِّنُ لَہُمُ الۡاٰیٰتِ ثُمَّ انۡظُرۡ اَنّٰی یُؤۡفَکُوۡنَ ﴿﴾ قُلۡ اَتَعۡبُدُوۡنَ مِنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ مَا لَا یَمۡلِکُ لَکُمۡ ضَرًّا وَّ لَا  نَفۡعًا ؕ وَ اللّٰہُ ہُوَ  السَّمِیۡعُ  الۡعَلِیۡمُ ﴿﴾ قُلۡ یٰۤاَہۡلَ الۡکِتٰبِ لَا تَغۡلُوۡا فِیۡ دِیۡنِکُمۡ غَیۡرَ  الۡحَقِّ وَ لَا  تَتَّبِعُوۡۤا اَہۡوَآءَ   قَوۡمٍ قَدۡ ضَلُّوۡا مِنۡ قَبۡلُ وَ اَضَلُّوۡا کَثِیۡرًا وَّ ضَلُّوۡا عَنۡ سَوَآءِ السَّبِیۡلِ ﴿٪﴾ لُعِنَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا مِنۡۢ بَنِیۡۤ  اِسۡرَآءِیۡلَ عَلٰی لِسَانِ دَاوٗدَ  وَ عِیۡسَی ابۡنِ مَرۡیَمَ ؕ ذٰلِکَ بِمَا عَصَوۡا وَّ کَانُوۡا یَعۡتَدُوۡنَ ﴿﴾
Sungguh benar-benar telah kafir  orang-orang yang berkata, “Sesungguhnya Allah adalah Al-Masih Ibnu Maryam”, padahal Al-Masih berkata: “Hai Bani Israil, beribadahlah kepada Allah, Rabb-ku (Tuhan-ku) dan Rabb (Tuhan) kamu.” Sesungguhnya barangsiapa mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka  sungguh  Allah mengharamkan  surga baginya dan tempat tinggalnya adalah Api, dan tidak ada bagi orang-orang zalim seorang penolong pun.   Sungguh benar-benar telah kafir orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah  adalah ketiga dari yang tiga",  padahal tidak ada  Tuhan kecuali Tuhan Yang Maha Esa. Dan jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan maka niscaya  azab yang pedih akan menimpa orang-orang yang kafir  di antara mereka.   Maka mengapakah  mereka tidak bertaubat kepada Allah dan meminta ampun kepada-Nya, padahal  Allah  Maha Pengampun, Maha Penyayang?  Sekali-kali tidak lain Al-Masih ibnu Maryam  melainkan  seorang rasul,  sungguh  telah berlalu yakni wafat rasul-rasul sebelumnya, dan ibunya adalah seorang yang benar,  kedua-nya dahulu biasa makan makanan.  Perhatikanlah bagaimana Kami menjelaskan Tanda-tanda bagi mereka, kemudian perhatikanlah ba-gaimana mereka berpaling.   Katakanlah:  ”Apakah kamu menyembah selain Allah yang tidak berkuasa mendatangkan kemudaratan kepadamu dan tidak pula manfaat?” Dan Allah   Dia-lah Yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui.    Katakanlah:  ”Hai Ahlul Ki-tab, janganlah kamu melampaui batas dalam urusan agama kamu   tanpa haq, dan janganlah kamu mengikuti  hawa-nafsu  kaum yang telah sesat sebelum ini dan telah menyesatkan pula banyak orang, dan mereka telah sesat dari jalan lurus.” لُعِنَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا مِنۡۢ بَنِیۡۤ  اِسۡرَآءِیۡلَ عَلٰی لِسَانِ دَاوٗدَ  وَ عِیۡسَی ابۡنِ مَرۡیَمَ ؕ ذٰلِکَ بِمَا عَصَوۡا وَّ کَانُوۡا یَعۡتَدُوۡنَ --    Orang-orang  yang kafir  dari kalangan Bani Israil telah   dilaknat oleh lidah Daud dan Isa ibnu Mar-yam,  hal demikian itu karena mereka senantiasa durhaka dan melampaui batas. (Al-Māidah [5]:73-79).
        Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. mengajarkan hanya  Allah Swt.  semata yang harus disembah itu jelas dari Injil, yang sekalipun bentuknya sekarang sudah tidak murni lagi (Matius 4:10; Lukas 4:8).  Yang dimaksud dalam ayat “Sungguh benar-benar telah kafir orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah  adalah ketiga dari yang tiga",  padahal tidak ada  Tuhan kecuali Tuhan Yang Maha Esa ialah ‘itikad Trinitas, dogma yang ganjil dan susah dipahami tentang tiga oknum tuhan — Bapak, Anak, dan Ruhulqudus — yang hidup berdampingan dan sama dalam segala hal, berpadu jadi satu Tuhan, namun tetap tiga juga.
       Nicene Council (Musyawarah di Nicea)  dan terutama ajaran Athanasius (Uskup Besar Alexandria di zaman Konstantin, Pent.) yang pertama-tama memberikan bentuk yang pasti kepada dogma itu. Hukum agama itu membentuk asas pokok kepercayaan Kristen.

Kutukan Nabi Daud a.s. dan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.  & Nubuatan  Rangkaian Perang Dunia   

      Makna ayata: “Maka mengapakah  mereka tidak bertaubat kepada Allah dan meminta ampun kepada-Nya, padahal  Allah  Maha Pengampun, Maha Penyayang?“ Tidak ada pengorbanan sebagai pengganti (penebus) orang lain diperlukan oleh manusia untuk mencapai najat (keselamatan), karena Allah Swt.  Sendiri dapat mengampuni semua dosa. Hanya hati yang benar-benar menyesal dan bertaubat diperlukan untuk menarik pengampunan-Nya.
       Ayat “Sekali-kali tidak lain Al-Masih ibnu Maryam  melainkan  seorang rasul,  sungguh  telah berlalu yakni wafat rasul-rasul sebelumnya, dan ibunya adalah seorang yang benar,  keduanya dahulu biasa makan makanan“ mengemukakan sejumlah dalil yang menentang ketuhanan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.:
(a)    Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. tidak melebihi rasul-rasul Allah lainnya dalam hal apa pun,
(b)   beliau dilahirkan oleh seorang perempuan,
(c)    seperti makhluk manusia lainnya, beliau tunduk kepada hukum alam, harus mengalami perasaan haus dan lapar, dan juga tunduk kepada gejala-gejala alam.  
       Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. tidak memiliki kekuatan berbuat baik atau merugikan siapa pun. Beliau tidak dapat mengabulkan doa, begitu pula tidak mengenal keperluan-keperluan manusia, sehingga beliau tidak dapat memenuhi keperluan-keperluan itu. Semua kekuatan tadi adalah hak-hak istimewa  Allah Swt..  
       Makna ayat: لُعِنَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا مِنۡۢ بَنِیۡۤ  اِسۡرَآءِیۡلَ عَلٰی لِسَانِ دَاوٗدَ  وَ عِیۡسَی ابۡنِ مَرۡیَمَ ؕ ذٰلِکَ بِمَا عَصَوۡا وَّ کَانُوۡا یَعۡتَدُوۡنَ  --  “Orang-orang  yang kafir  dari kalangan Bani Israil telah   dilaknat oleh lidah Daud dan Isa ibnu Maryam,  hal demikian itu karena mere-ka senantiasa durhaka dan melampaui batas“ (Al-Māidah [5]:79). Dari antara semua nabi Bani Israil, Nabi Daud a.s.  dan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.  tergolong paling menderita di tangan orang-orang Yahudi.
       Penzaliman orang-orang Yahudi terhadap Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.  mencapai puncaknya, ketika beliau dipakukan pada  kayu salib, dan penderitaan serta kepapaan yang dialami oleh Nabi Daud a.s. dari kaum yang tak mengenal terima kasih itu, tercermin di dalam Mazmurnya yang sangat merawankan hati, padahal beliau merupakan pembangun kerajaan Bani Israil  setelah berhasil “membunuh  Jalut dan bala-tentaranya” (QS.2:250-252). Dari lubuk hati yang penuh kepedihan  Nabi Daud a.s. dan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. mengutuk mereka.
        Kutukan Nabi Daud a.s.  mengakibatkan orang-orang Bani Israil dihukum oleh Allah Swt. melalui Nebukadnezar dari Babilonia  yang menghancurluluhkan Yerusalem dan membawa orang-orang Bani Israil sebagai tawanan pada tahun 556 sebelum Masehi (QS.2:260; QS.17:5-7), sedangkan akibat kutukan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. mereka ditimpa bencana dahsyat, ketika Titus dari kerajaan Romawi Timur  kembali menaklukkan Yerusalem dalam tahun ± 70 Masehi, membinasakan kota dan menodai rumah-ibadah dengan jalan menyembelih babi — binatang yang sangat dibenci oleh orang-orang Yahudi — di dalam rumah-ibadah itu (QS.17:8-9; Matius 23:37-39 & 24:1-22).
       Dengan demikian benarlah peringatan Allah Swt.  yang dikemukakan dalam firman-Nya sebelum ini mengenai pentingnya pewahyuan Al-Quran – sebagai agama dan Kitab suci terakhir dan tersempurna (QS.5:4) – kepada Nabi Besar Muhammad saw. sebagai “penjaga” ajaran asli Kitab-kitab suci sebelumnya, firman-Nya:
ِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿۳اَلۡحَمۡدُ لِلّٰہِ الَّذِیۡۤ  اَنۡزَلَ عَلٰی عَبۡدِہِ الۡکِتٰبَ  وَ لَمۡ  یَجۡعَلۡ  لَّہٗ عِوَجًا ؕ﴿ٜ﴾ قَیِّمًا  لِّیُنۡذِرَ بَاۡسًا شَدِیۡدًا مِّنۡ لَّدُنۡہُ وَ یُبَشِّرَ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ الَّذِیۡنَ یَعۡمَلُوۡنَ الصّٰلِحٰتِ اَنَّ  لَہُمۡ  اَجۡرًا حَسَنًا ۙ﴿﴾  مَّاکِثِیۡنَ فِیۡہِ اَبَدًا ۙ﴿﴾ وَّ یُنۡذِرَ الَّذِیۡنَ قَالُوا اتَّخَذَ اللّٰہُ وَلَدًا ٭﴿﴾ مَا لَہُمۡ بِہٖ مِنۡ عِلۡمٍ وَّ لَا لِاٰبَآئِہِمۡ ؕ کَبُرَتۡ کَلِمَۃً  تَخۡرُجُ مِنۡ اَفۡوَاہِہِمۡ ؕ اِنۡ یَّقُوۡلُوۡنَ  اِلَّا کَذِبًا ﴿﴾  فَلَعَلَّکَ بَاخِعٌ نَّفۡسَکَ عَلٰۤی اٰثَارِہِمۡ  اِنۡ لَّمۡ  یُؤۡمِنُوۡا بِہٰذَا  الۡحَدِیۡثِ  اَسَفًا ﴿﴾ اِنَّا جَعَلۡنَا مَا عَلَی الۡاَرۡضِ زِیۡنَۃً  لَّہَا لِنَبۡلُوَہُمۡ  اَیُّہُمۡ   اَحۡسَنُ  عَمَلًا ﴿﴾ وَ اِنَّا لَجٰعِلُوۡنَ مَا عَلَیۡہَا صَعِیۡدًا جُرُزًا  ؕ﴿﴾
Aku baca dengan nama Allah Maha Pemurah, Maha Penyayang.      Segala puji bagi Allah  Yang  telah menurunkan kepada hamba-Nya Kitab Al-Quran ini dan   Dia  tidak menjadikan padanya ke­bengkokan.   Sebagai penjaga    untuk mem-beri peringatan mengenai  siksaan yang dahsyat dari hadirat-Nya, dan memberikan kabar gembira  kepada orang-orang  beriman  yang beramal saleh bahwa sesungguhnya bagi mereka ada ganjaran yang baik,   mereka menetap di dalamnya selama-lamanya. وَّ یُنۡذِرَ الَّذِیۡنَ قَالُوا اتَّخَذَ اللّٰہُ وَلَدًا  -- Dan supaya memperingat­kan orang-orang  yang berkata: "Allah  mengambil seorang  anak laki-laki. مَا لَہُمۡ بِہٖ مِنۡ عِلۡمٍ وَّ لَا لِاٰبَآئِہِمۡ  --    Mereka   sekali-kali tidak memiliki pengetahuan mengenainya, dan tidak pula bapak-bapak mereka memilikinya. کَبُرَتۡ کَلِمَۃً  تَخۡرُجُ مِنۡ اَفۡوَاہِہِمۡ   --  Sangat besar keburukan perkataan yang keluar dari mulut mereka, اِنۡ یَّقُوۡلُوۡنَ  اِلَّا کَذِبًا  --   mereka tidak mengucapkan kecuali kedustaanفَلَعَلَّکَ بَاخِعٌ نَّفۡسَکَ عَلٰۤی اٰثَارِہِمۡ  اِنۡ لَّمۡ  یُؤۡمِنُوۡا بِہٰذَا  الۡحَدِیۡثِ  اَسَفًا  --    Maka sangat mungkin engkau akan  membinasakan diri engkau   karena sangat sedih  sekiranya mereka tidak beriman kepada keterangan ini. اِنَّا جَعَلۡنَا مَا عَلَی الۡاَرۡضِ زِیۡنَۃً  لَّہَا لِنَبۡلُوَہُمۡ  اَیُّہُمۡ   اَحۡسَنُ  عَمَلًا --  Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi per­hiasan  baginya  لِنَبۡلُوَہُمۡ  اَیُّہُمۡ   اَحۡسَنُ  عَمَلًا --   supaya  Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannyaوَ اِنَّا لَجٰعِلُوۡنَ مَا عَلَیۡہَا صَعِیۡدًا جُرُزًا  --       Dan sesungguhnya Kami niscaya akan menjadikan segala yang ada di atasnya menjadi tanah-rata yang tandus.  (Al-Kahf [19]:1-9).

Penjagaan Al-Quran Terhadap Ajaran Asli Kitab-kitab (Agama-agama)  Sebelumnya

      Al-Quran sebagai qayyim (penjaga) melakukan tugas ganda. Al-Quran   penjaga atas kitab-kitab terdahulu dengan jalan memperbaiki dan menghilang­kan kesalahan-kesalahan yang telah masuk dalam kitab-kitab itu, dan Al-Quran  penjaga atas generasi-generasi yang akan datang, sebab dipikulnya kewajiban untuk memperkembangkan ruhani mereka serta membimbing mereka pada jalan-jalan yang menjurus kepada penghayatan tujuan hidup manusia yang agung dan mulia (QS.51:57-59).
  Al-Quran pertama-tama disebut sebagai "memberi peringatan" dan kemudian sebagai "memberi kabar gembira" (ayat 3), dan sekali lagi sebagai “memberi peringatan” seperti dalam ayat  ini. Orang-orang kafir dari kalangan Ahli-Kitab telah dua kali diberi peringatan,  dan di tengah-tengah dua peringatan itu orang-orang beriman telah diberi kabar gembira.
   Dua peringatan yang dipisahkan oleh kabar gembira bagi umat Islam itu mengandung tiga nubuatan:
(a)       Kekalahan dan kehancuran lawan-lawan Nabi Besar Muhammad saw.  di masa beliau saw. sendiri,
(b)      Kenaikan umat Islam ke puncak kekuasaan dan kemuliaan dengan jalan yang menakjubkan,  
(c)       Sesudah terlepasnya umat Islam dari kejayaan dan kemegahan selama 3 abad   -- dan secara beraangsur-angsur mengalami masa kemunduran selama 1000 tahun (QS.32:6)  --  adanya hukuman yang disediakan bagi bangsa-bangsa yang mengatakan bahwa "Allqh telah mengambil seorang anak lelaki."
   Makna ayat    “maka sangat mungkin engkau akan  membinasakan diri engkau   karena sangat sedih  sekiranya mereka tidak beriman kepada keterangan ini,”    karena bakhi' itu ism fail dari bakha'a yang berarti: ia berbuat sesuatu dengan cara setepat-tepatnya, ayat ini dengan padat dan lugas melukiskan betapa besarnya perhatian dan kekhawatiran serta kecemasan Nabi Besar Muhammad saw.  mengenai kesejahteraan ruhani kaum beliau saw..
  Kesedihan  Nabi Besar Muhammad saw. atas penolakan dan perlawanan mereka terhadap amanat Ilahi hampir membuat beliau  saw. wafat. Memang begitulah keadaan para rasul  dan nabi Allah hatinya senantiasa penuh dengan kasih-sayang terhadap sesama manusia. Mereka berseru  kepada Allah Swt. menangis  dan berdukacita demi kepentingan umat manusia. Tetapi manusia tidak tahu  berterimakasih, sehingga orang­orang itu sendiri yang bagi mereka para nabi Allah  mempunyai perasaan yang begitu mendalam justru merekalah yang menindas para nabi Allah dan berusaha untuk membunuh mereka.

Tujuan Penganugerahan Keberhasian Duniawi

  Makna ayat:   “sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi per­hiasan  baginya     supaya  Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya.”  Semua benda yang tidak terhitung banyaknya yang telah diciptakan  Allah Swt., tidak ada satu pun yang tidak mempunyai kegunaan tersendiri yang tertentu, atau yang kosong dari segala kebaikan, semuanya menambah semarak dan indahnya kehidupan manusia.
   Umat Islam telah dianjurkan untuk senantiasa  memberi perhatian kepada kebenaran agung yang  melandasi kata-kata sederhana itu, dan untuk menyerahkan waktu dan tenaga  mereka guna menggali rahasia­-rahasia alam  yang agung dan untuk menyelidiki sifat-sifat yang tidak terbilang banyaknya, yang  dimiliki unsur-unsur alam (QS.3:191-195; QS.18:110; QS.31:28; QS.15:22; QS.40:14).
  Ayat   ”dan sesungguhnya Kami niscaya akan menjadikan segala yang ada di atasnya menjadi tanah-rata yang tandus”.   ini mengandung suatu kabar gaib  bahwa bangsa-bangsa Kristen dari barat sesudah memperoleh kekayaan, kekuatan, kekuasaan duniawi dan sesudah mendapat penemuan-penemuan besar, akhirnya akan membuat bumi Allah itu penuh dengan  kedosaan dan keburukan (QS.30:42-43) seperti yang dituturkan oleh Bible.
    Kemurkaan Allah Swt.  akan bangkit, dan sesuai dengan nubuatan-nubuatan yang diucapkan oleh mulut para nabi Allah  di dalam Perjanjian Lama maupun di dalam Perjanjian Baru, serta dalam  Al-Quran dan hadits bahwa bencana-bencana akan menimpa bumi (umat manusia) secara meluas, serta segala kemajuan duniawi yang tadinya telah dicapai oleh mereka dan semua buah tangan  mereka,  gedung-gedung mereka yang tinggi megah, keindahan negeri mereka, serta segala kemuliaan, kemegahan, dan keagungan duniawi  mereka sama sekali akan menjadi hancur berantakan.

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid

oo0oo

Pajajaran Anyar,  8    Februari  2017

Tidak ada komentar:

Posting Komentar