Bismillaahirrahmaanirrahiim
ISLAM
Pidato Mirza Ghulam Ahmad a.s.
Tgl. 2 November 1904
di Kota Sialkote – Hindustan
Bab 15
PERSAMAAN JAWABAN NABI
BESAR MUHAMMAD SAW. DENGAN JAWABAN NABI
ISA IBNU MARYAM A.S. MENGENAI KEMUSYRIKAN YANG TERJADI DI KALANGAN PARA PENGIKUTNYA SEPENINGGAL KEDUA RASUL ALLAH ITU
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam bagian akhir Bab 14 telah
dijelaskan topik Mempertuhankan “Siti Maryam” Sebagai “Bunda
Tuhan” berkenaan surah Al-Māidah ayat 117-118, firman-Nya:
وَ اِذۡ قَالَ اللّٰہُ
یٰعِیۡسَی ابۡنَ مَرۡیَمَ ءَاَنۡتَ قُلۡتَ
لِلنَّاسِ اتَّخِذُوۡنِیۡ وَ اُمِّیَ اِلٰہَیۡنِ مِنۡ دُوۡنِ
اللّٰہِ ؕ قَالَ سُبۡحٰنَکَ مَا یَکُوۡنُ لِیۡۤ
اَنۡ اَقُوۡلَ مَا لَیۡسَ لِیۡ ٭ بِحَقٍّ ؕ اِنۡ کُنۡتُ قُلۡتُہٗ فَقَدۡ
عَلِمۡتَہٗ ؕ تَعۡلَمُ مَا فِیۡ
نَفۡسِیۡ وَ لَاۤ اَعۡلَمُ مَا فِیۡ نَفۡسِکَ ؕ اِنَّکَ
اَنۡتَ عَلَّامُ الۡغُیُوۡبِ ﴿﴾ مَا قُلۡتُ لَہُمۡ اِلَّا مَاۤ اَمَرۡتَنِیۡ بِہٖۤ اَنِ اعۡبُدُوا
اللّٰہَ رَبِّیۡ وَ رَبَّکُمۡ ۚ وَ کُنۡتُ
عَلَیۡہِمۡ شَہِیۡدًا مَّا
دُمۡتُ فِیۡہِمۡ ۚ فَلَمَّا تَوَفَّیۡتَنِیۡ کُنۡتَ اَنۡتَ الرَّقِیۡبَ
عَلَیۡہِمۡ ؕ وَ اَنۡتَ عَلٰی
کُلِّ شَیۡءٍ شَہِیۡدٌ ﴿﴾
Dan ingatlah
ketika Allah berfirman: “Hai ‘Isa ibnu
Maryam, apakah engkau telah berkata
kepada manusia: “Jadikanlah aku dan
ibuku sebagai dua tuhan selain
Allah?" Ia berkata: “Maha
Suci Engkau. Tidak patut bagiku
mengatakan apa yang sekali-kali
bukan hakku. Jika aku telah mengatakannya maka sungguh Engkau mengetahuinya. Engkau mengetahui apa yang ada dalam diriku,
sedangkan aku tidak mengetahui apa yang
ada dalam diri Engkau, sesungguhnya
Engkau benar-benar Maha Mengetahui
segala yang gaib. Aku sekali-kali
tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang telah Engkau perintahkan kepadaku, yaitu: ”Beribadahlah kepada Allah, Rabb-ku
(Tuhan-ku) dan Rabb (Tuhan) kamu.” Dan aku menjadi saksi atas mereka selama aku berada di antara mereka,
tetapi tatkala Engkau telah mewafatkanku maka Engkau-lah
Yang benar-benar menjadi Pengawas atas mereka, dan Engkau adalah Saksi atas segala sesuatu. (Al-Māidah [5]:117-118).
Makna ayat: “Dan ingatlah ketika Allah
berfirman: “Hai ‘Isa ibnu Maryam,
apakah engkau telah berkata kepada
manusia: “Jadikanlah aku dan ibuku
sebagai dua tuhan selain Allah?" Ayat itu menunjuk kepada kebiasaan Gereja Kristen yang menisbahkan kekuatan-kekuatan Uluhiyyah
(Ketuhanan) kepada Siti Maryam.
Pertolongan Siti Maryam dimohon dalam
Litania (suatu bentuk sembahyang), sedangkan dalam Katakisma (Cathechism,
yakni, dasar-dasar ajaran agama berupa tanya-jawab) Gereja Romawi ditanamkan akidah bahwa Siti Maryam itu bunda Tuhan.
Gerejawan-gerejawan di zaman
lampau menganggap beliau mempunyai sifat-sifat
Tuhan dan hanya beberapa tahun yang silam, Paus Pius XII telah memasukkan
paham kenaikan Siti Maryam ke langit
dalam ajaran Gereja. Semua ini sama
halnya dengan menaikkan beliau ke
jenjang Ketuhanan dan inilah apa yang
dicela oleh umat Protestan dan disebut sebagai Mariolatry (Pemujaan Dara
Maria).
Ungkapan bahasa Arab dalam teks -- berkenaan jawaban Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. -- yang diterjemahkan sebagai “tidak
layak bagiku” dapat ditafsirkan sebagai: “Tidak patut bagiku atau tidak
mungkin bagiku atau aku tidak berhak
berbuat demikian,” dan sebagainya. Sebab Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. mengajarkan menyembah hanya satu Tuhan:
Maka berkatalah Yesus kepadanya: "Enyahlah, Iblis! Sebab ada tertulis: Engkau harus menyembah
Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti! " (Matius 4:10) lihat pula Lukas
4:8.
Kemudian
masih dalam Injil Matius ada
dialog antara Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. dengan seorang penanya:
36 "Guru, hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat?" 37 Jawab Yesus
kepadanya: "Kasihilah Tuhan,
Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap
akal budimu. 38 Itulah hukum yang
terutama dan yang pertama. 39 Dan hukum
yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. 40 Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum
Taurat dan kitab para nabi."
(Matius 22:36-37).
Karena Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.
datang bukan untuk menghilangkan hukum Taurat mau pun kitab nabi-nabi melainkan untuk menyempurnakannya
(Matius 5:17-20), tentu beliau pun
mengajarkan Tauhid Ilahi kepada para murid-murid beliau selama beliau bersama-sama dengan mereka, sebagaimana
firman-Nya sebelum ini:
وَ اِذۡ قَالَ اللّٰہُ
یٰعِیۡسَی ابۡنَ مَرۡیَمَ ءَاَنۡتَ قُلۡتَ
لِلنَّاسِ اتَّخِذُوۡنِیۡ وَ اُمِّیَ اِلٰہَیۡنِ مِنۡ دُوۡنِ
اللّٰہِ ؕ قَالَ سُبۡحٰنَکَ مَا یَکُوۡنُ لِیۡۤ
اَنۡ اَقُوۡلَ مَا لَیۡسَ لِیۡ ٭ بِحَقٍّ ؕ اِنۡ کُنۡتُ قُلۡتُہٗ فَقَدۡ
عَلِمۡتَہٗ ؕ تَعۡلَمُ مَا فِیۡ
نَفۡسِیۡ وَ لَاۤ اَعۡلَمُ مَا فِیۡ نَفۡسِکَ ؕ اِنَّکَ
اَنۡتَ عَلَّامُ الۡغُیُوۡبِ ﴿﴾ مَا قُلۡتُ لَہُمۡ اِلَّا مَاۤ اَمَرۡتَنِیۡ بِہٖۤ اَنِ اعۡبُدُوا
اللّٰہَ رَبِّیۡ وَ رَبَّکُمۡ ۚ وَ کُنۡتُ
عَلَیۡہِمۡ شَہِیۡدًا مَّا
دُمۡتُ فِیۡہِمۡ ۚ فَلَمَّا تَوَفَّیۡتَنِیۡ کُنۡتَ اَنۡتَ الرَّقِیۡبَ
عَلَیۡہِمۡ ؕ وَ اَنۡتَ عَلٰی
کُلِّ شَیۡءٍ شَہِیۡدٌ ﴿﴾
Dan ingatlah
ketika Allah berfirman: “Hai ‘Isa ibnu
Maryam, apakah engkau telah berkata
kepada manusia: “Jadikanlah aku dan
ibuku sebagai dua tuhan selain
Allah?" Ia berkata: “Maha
Suci Engkau. Tidak patut bagiku
mengatakan apa yang sekali-kali
bukan hakku. Jika aku telah mengatakannya maka sungguh Engkau mengetahuinya. Engkau mengetahui apa yang ada dalam diriku,
sedangkan aku tidak mengetahui apa yang
ada dalam diri Engkau, sesungguhnya
Engkau benar-benar Maha Mengetahui
segala yang gaib. Aku sekali-kali
tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang telah Engkau perintahkan kepadaku, yaitu: ”Beribadahlah kepada Allah, Rabb-ku
(Tuhan-ku) dan Rabb (Tuhan) kamu.” Dan aku menjadi saksi atas mereka selama aku berada di antara mereka,
tetapi tatkala Engkau telah mewafatkanku maka Engkau-lah
Yang benar-benar menjadi Pengawas atas mereka, dan Engkau adalah Saksi atas segala sesuatu. (Al-Māidah [5]:117-118).
Persamaan Jawaban Nabi Besar Muhammad
Saw. di Hari Kebangkitan Seperti Jawaban
Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.
Selama Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. hidup, beliau mengamati dengan cermat
pengikut-pengikut beliau dan menjaga agar mereka tidak menyimpang dari jalan
yang benar dan dari Tauhid Ilahi,
tetapi setelah Allah Swt. mewafatkan beliau dalam usia 120 tahun (Ad-Daruqutni) beliau tidak mengetahui betapa mereka telah
berbuat dan akidah-akidah palsu apa
yang dianut mereka.
Jadi, jika dalam kenyataannya orang-orang yang
mengaku sebagai pengikut beliau telah sesat karena mempercayai “Trinitas” dan “Penebusan dosa” melalui “kematian
terkutuk” beliau di atas salib
yang diajarkan Paulus, maka dapat
diambil kesimpulan pasti bahwa Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. benar-benar telah
wafat, sebab sebagaimana ditunjukkan oleh ayat itu, karena sesudah wafatnyalah beliau disembah sebagai Tuhan.
Begitu pula kenyataan bahwa
menurut ayat ini Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. akan menyatakan tidak tahu-menahu bahwa pengikut-pengikut beliau
menganggap beliau dan bundanya (Siti Maryam) sebagai dua tuhan sesudah beliau meninggalkan mereka di Palestina -- setelah beliau diselamatkan Allah Swt. dari kematian
terkutuk di tiang salib -- membuktikan bahwa beliau tidak akan kembali lagi ke dunia.
Mengapa demikian? Sebab apabila benar
bahwa Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. harus kembali atau turun dari langit
dan melihat dengan mata sendiri pengikut-pengikut beliau telah menjadi rusak dan telah mempertuhankan beliau, tentu beliau tidak dapat berdalih tidak tahu-menahu tentang penyembahan yang dilakukan mereka terhadap diri beliau, atau beliau telah dipertuhankan
mereka. Jika demikian maka jawaban
beliau dalam ayat-ayat tersebut -- dengan berdalih tidak tahu-menahu -- akan
sama halnya dengan benar-benar dusta.
Dengan demikian Surah Al-Māidah
ayat 117 membuktikan secara positif
bahwa Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. telah
wafat (QS.3:56 & 150; QS.21:35-36)
dan beliau sekali-kali tidak akan kembali
ke dunia ini. Lebih-lebih menurut
hadits yang termasyhur, Nabi Besar Muhammad saw. akan menggunakan kata-kata seperti itu
pada Hari Kebangkitan -- sebagaimana kata-kata itu diletakkan di sini
pada mulut Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. -- bila kelak beliau saw. melihat pengikut
beliau saw. (umat Islam) digiring ke
neraka.
Hal tersebut memberikan
dukungan lebih lanjut pada kenyataa bahwa Nabi Isa
Ibnu Maryam a.s. telah wafat
seperti halnya Nabi Besar Muhammad saw. juga telah wafat (QS.3:145; QS.21:35-36). Berikut adalah terjemahan hadits yang
dimaksud:
“Telah menceritakan kepada kami 'Affan
telah menceritakan kepada kami Syu'bah telah menceritakan kepada kami Al
Mughirah bin An Nu'man seorang syaikh dari An Nakha', dia berkata; aku
mendengar Sa'id bin Jubair bercerita; aku mendengar Ibnu Abbas berkata;
Rasulullah shallallāhu 'alaihi wasallam menyampaikan nasihat di tengah-tengah
kami, lalu beliau bersabda: "Sesungguhnya kalian akan dikumpulkan kepada
Allah dalam keadaan tak beralas kaki, bertelanjang dan tidak berkhitan.
(Sebagaimana Kami telah memulai
penciptaan pertama begitulah Kami akan mengulanginya. Itulah suatu janji yang
pasti Kami tepati; sesungguhnya Kami-lah yang akan melaksanakannya). Ketahuilah bahwa manusia pertama yang akan dikenakan pakaian pada hari kiamat adalah Ibrahim, dan sungguh ia akan didatangi oleh orang-orang dari umatku,
lalu ia membawa mereka ke sebelah kiri.
Kemudian sungguh aku akan mengucapkan: 'Sahabatku,
sahabatku!' Lalu akan dikatakan
kepadaku: ”Sesungguhnya engkau tidak tahu apa yang mereka ada adakan setelah
ketiadaan engkau.” Lalu sungguh aku akan mengatakan sebagaimana yang
dikatakan oleh hamba yang shalih (Isa Ibnu Maryam):
(“Aku tidak pernah mengatakan kepada
mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku mengatakannya yaitu: “Sembahlah Allah, Rabb-ku (Tuhanku) dan Rabb kamu (Tuhan kamu)” dan adalah
aku menjadi saksi terhadap mereka, selama aku berada di antara mereka, maka
setelah Engkau wafatkan aku, Engkau-lah Yang Mengawasi mereka. dan Engkau
adalah Maha menyaksikan atas segala sesuatu. Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba Engkau, dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkaulah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana – QS.5:117-119).
Lalu dikatakan; "Sesungguhnya
mereka telah murtad kembali kepada kepercayaan lama mereka
semenjak engkau meninggalkan mereka."
Syu'bah berkata: “Dia mendiktekannya kepada Sufyan, kemudian Sufyan
mendiktekannya kepadaku." Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin
Ja'far telah menceritakan kepada kami Syu'bah dari Al Mughirah bin An Nu'man
dari Sa'id bin Jubair dari Ibnu Abbas, ia berkata; "Rasulullah shallallāhu
'alaihi wasallam menyampaikan nasehat di tengah-tengah kami." Lalu
dikemukakan haditsnya. (Musnad Ahmad nomor 2168).
Makna
“Kalimat” Berkenaan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.
Kembali kepada kemusyrikan yang terjadi di kalangan golongan Ahli-Kitab, dalam surah lain Allah Swt. berfirman:
یٰۤاَہۡلَ الۡکِتٰبِ لَا تَغۡلُوۡا
فِیۡ دِیۡنِکُمۡ وَ لَا تَقُوۡلُوۡا عَلَی اللّٰہِ اِلَّا الۡحَقَّ ؕ اِنَّمَا الۡمَسِیۡحُ
عِیۡسَی ابۡنُ مَرۡیَمَ رَسُوۡلُ اللّٰہِ وَ کَلِمَتُہٗ ۚ اَلۡقٰہَاۤ اِلٰی
مَرۡیَمَ وَ رُوۡحٌ مِّنۡہُ ۫ فَاٰمِنُوۡا بِاللّٰہِ وَ رُسُلِہٖ ۚ۟ وَ لَا تَقُوۡلُوۡا
ثَلٰثَۃٌ ؕ اِنۡتَہُوۡا خَیۡرًا لَّکُمۡ ؕ
اِنَّمَا اللّٰہُ اِلٰہٌ وَّاحِدٌ ؕ سُبۡحٰنَہٗۤ اَنۡ یَّکُوۡنَ لَہٗ وَلَدٌ ۘ لَہٗ
مَا فِی السَّمٰوٰتِ وَ مَا فِی
الۡاَرۡضِ ؕ وَ کَفٰی بِاللّٰہِ
وَکِیۡلًا ﴿﴾٪ لَنۡ
یَّسۡتَنۡکِفَ الۡمَسِیۡحُ اَنۡ یَّکُوۡنَ عَبۡدًا لِّلّٰہِ وَ لَا الۡمَلٰٓئِکَۃُ
الۡمُقَرَّبُوۡنَ ؕ وَ مَنۡ یَّسۡتَنۡکِفۡ عَنۡ عِبَادَتِہٖ وَ یَسۡتَکۡبِرۡ
فَسَیَحۡشُرُہُمۡ اِلَیۡہِ جَمِیۡعًا ﴿﴾
Hai Ahlul Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam urusan agama
kamu, dan janganlah kamu mengatakan
mengenai Allah kecuali yang haq
(benar). Sesungguhnya Al-Masih Isa Ibnu
Maryam hanyalah seorang rasul Allah,
suatu kalimat dari-Nya yang diturunkan
kepada Maryam, dan ruh dari-Nya, maka berimanlah kepada Allah dan rasul-rasul-Nya,
dan janganlah kamu mengatakan: “Tuhan itu tiga”, berhentilah, itu lebih
baik bagi kamu. Sesungguhnya Allah adalah
Tuhan Yang Maha Esa. Maha Suci Dia dari memiliki anak. Milik-Nya apa pun yang ada di
seluruh langit dan apa
pun yang ada di bumi. Dan cukuplah
Allah sebagai Pemelihara. Al-Masih tidak pernah merasa hina menjadi hamba bagi Allah,
dan tidak juga malaikat yang dekat kepada-Nya,
dan barangsiapa merasa hina karena
beribadah kepada-Nya dan berlaku
takabur maka Dia akan mengumpulkan
mereka semua kepada-Nya. (An-Nisa [4]:172-173). Lihat pula QS.2:217.
Kalimah dalam
ayat: اِنَّمَا الۡمَسِیۡحُ عِیۡسَی ابۡنُ
مَرۡیَمَ رَسُوۡلُ اللّٰہِ وَ کَلِمَتُہٗ -- “Sesungguhnya
Al-Masih Isa Ibnu Maryam hanyalah seorang rasul Allah, suatu kalimat dari-Nya” berarti: sebuah kata,
putusan, perintah (Al-Mufradat).
Kata ini bersama-sama dengan kata ruh yang terdapat dalam QS.4:172,
menjelaskan tanpa sekelumit pun keraguan bahwa jauh dari membenarkannya, bahkan kata-kata
itu dipakai untuk menghancurkan dan menolak paham yang menganggap Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. – Na’ūdzubillāhi
mi dzālika -- adalah Tuhan dan anak Tuhan.
Dalam ayat ini Nabi Isa a.s.
disebut Kalimatullāh, karena kata-kata (ucapan-ucapan) beliau membantu
untuk kepentingan Kebenaran. Seperti
halnya orang yang membela kepentingan kebenaran dengan keberaniannya disebut Saifullāh
(Pedang Allah) atau Asadullāh (Singa Allah), demikian pula Nabi Isa
Ibnu Maryam a.s. isebut Kalimatullāh, sebab kelahirannya tidak terjadi dengan perantaraan seorang ayah seorang laki-laki melainkan atas “perintah” langsung dari Allah Swt. (QS.19:22).
Selain arti harfiah yang
tercantum di atas, Al-Quran telah memakai kata kalimah dalam arti-arti
berikut: (1) “Tanda” (QS.66:13 dan QS.8:8); (2) “hukuman” (QS.10:97); (3)
“rencana” atau “rancangan” (QS.9:40); (4) “kabar gembira” (QS.7:138); (5)
“ciptaan Tuhan” (QS.18:110); (6) “semata-mata ucapan” atau “semata-mata
pernyataan” (QS.23:101). Diambil dalam rangkuman salah satu arti di atas,
penggunaan kata kalimah mengenai Nabi Isa a.s. sekali-kali
tidak memberikan kepada beliau suatu martabat yang lebih baik daripada
nabi-nabi lainnya.
Tambahan pula, bila Nabi Isa Ibnu
Maryam a.s. disebut Kalimah dalam Al-Quran, Nabi Besar
Muhammad saw. telah disebut Dzikr,
artinya Kitab atau nasihat yang baik (QS.65:11-12), yang
tentunya terdiri atas banyak kalimat. Pada hakikatnya, bila Kalimatullāh
diambil dalam arti “Firman Allah”,
paling-paling kita hanya dapat mengatakan bahwa Allah Swt. telah menyatakan Diri-Nya lewat Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. seperti halnya Dia menyatakan Diri-Nya melalui para nabi Allah lainnya.
Kata-kata
(kalimat) tidak lain hanya wahana
untuk pengungkapan pikiran-pikiran.
Kata-kata (kalimat) tidak merupakan
bagian wujud kita dan tidak pula menjadi titisan manusia, sebagaimanayang telah diartikan secara berlebihan mengenai kelahiran Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. yang tanpa ayah seorang laki-laki.
Makna
“Ruh” Berkenaan Nabi Isa Ibnu Maryam
a.s. & Kedustaan Faham “Trinitas” dan “Penebusan Dosa”
Rūh
berarti: ruh atau jiwa, nafas yang
memenuhi seluruh jisim, dan apabila nafas berhenti maka orang akan mati; wahyu Ilahi atau ilham;
Al-Quran; malaikat; kegembiraan dan kebahagiaan; rahmat (Lexicon Lane). Dari berbagai arti rūh dan kalimah
tersebut di atas jelaslah bahwa tidak ada kedudukan
ruhani yang istimewa pada Nabi Isa Ibnu Maryam a.s..
Kata-kata “kalimah”
dan “ruh” serta ucapan-ucapan lainnya yang seperti itu
dipakai dalam Al-Quran mengenai nabi-nabi
lainnya, dan juga mengenai orang-orang
shalih lainnya seperti Siti Maryam (QS.15:30; QS.32:10; QS.58:23).
Kata-kata itu telah dipergunakan untuk membersihkan
Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. dan Siti Maryam dari noda-noda (fitnah-fitnah) yang dilemparkan
oleh orang-orang Yahudi kepada kedua
mereka itu (QS.4:157-159; QS.19:28-30) dan bukan memberikan kepada keduanya suatu kedudukan
ruhani istimewa, sebagaimana telah disalah-tafsirkan.
Masih
sehubungan munculnya kemusyrikan di
kalangan golongan Ahli-Kitab
(QS.9:30-32) -- termasuk di kalangan
generasi penerus para hawari Nabi Isa
Ibnu Maryam a.s. (QS.7:170; QS.18:19-23) – firman-Nya:
لَقَدۡ کَفَرَ الَّذِیۡنَ قَالُوۡۤا
اِنَّ اللّٰہَ ہُوَ الۡمَسِیۡحُ ابۡنُ مَرۡیَمَ ؕ وَ قَالَ الۡمَسِیۡحُ
یٰبَنِیۡۤ اِسۡرَآءِیۡلَ اعۡبُدُوا
اللّٰہَ رَبِّیۡ وَ رَبَّکُمۡ ؕ اِنَّہٗ مَنۡ یُّشۡرِکۡ بِاللّٰہِ فَقَدۡ حَرَّمَ
اللّٰہُ عَلَیۡہِ الۡجَنَّۃَ وَ مَاۡوٰىہُ النَّارُ ؕ وَ مَا لِلظّٰلِمِیۡنَ مِنۡ
اَنۡصَارٍ ﴿﴾ لَقَدۡ کَفَرَ الَّذِیۡنَ قَالُوۡۤا اِنَّ
اللّٰہَ ثَالِثُ ثَلٰثَۃٍ ۘ وَ مَا مِنۡ
اِلٰہٍ اِلَّاۤ اِلٰہٌ وَّاحِدٌ ؕ وَ اِنۡ لَّمۡ یَنۡتَہُوۡا عَمَّا
یَقُوۡلُوۡنَ لَیَمَسَّنَّ الَّذِیۡنَ
کَفَرُوۡا مِنۡہُمۡ عَذَابٌ
اَلِیۡمٌ ﴿﴾ اَفَلَا یَتُوۡبُوۡنَ اِلَی اللّٰہِ وَ
یَسۡتَغۡفِرُوۡنَہٗ ؕ وَ اللّٰہُ غَفُوۡرٌ
رَّحِیۡمٌ ﴿﴾ مَا الۡمَسِیۡحُ ابۡنُ مَرۡیَمَ اِلَّا رَسُوۡلٌ ۚ قَدۡ خَلَتۡ مِنۡ قَبۡلِہِ
الرُّسُلُ ؕ وَ اُمُّہٗ صِدِّیۡقَۃٌ ؕ کَانَا یَاۡکُلٰنِ الطَّعَامَ ؕ اُنۡظُرۡ
کَیۡفَ نُبَیِّنُ لَہُمُ الۡاٰیٰتِ ثُمَّ انۡظُرۡ اَنّٰی یُؤۡفَکُوۡنَ ﴿﴾ قُلۡ
اَتَعۡبُدُوۡنَ مِنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ مَا لَا یَمۡلِکُ لَکُمۡ ضَرًّا وَّ لَا نَفۡعًا ؕ وَ اللّٰہُ ہُوَ السَّمِیۡعُ
الۡعَلِیۡمُ ﴿﴾ قُلۡ یٰۤاَہۡلَ الۡکِتٰبِ لَا تَغۡلُوۡا فِیۡ
دِیۡنِکُمۡ غَیۡرَ الۡحَقِّ وَ لَا تَتَّبِعُوۡۤا اَہۡوَآءَ قَوۡمٍ قَدۡ ضَلُّوۡا مِنۡ قَبۡلُ وَ
اَضَلُّوۡا کَثِیۡرًا وَّ ضَلُّوۡا عَنۡ سَوَآءِ السَّبِیۡلِ ﴿٪﴾ لُعِنَ
الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا مِنۡۢ بَنِیۡۤ
اِسۡرَآءِیۡلَ عَلٰی لِسَانِ دَاوٗدَ
وَ عِیۡسَی ابۡنِ مَرۡیَمَ ؕ ذٰلِکَ بِمَا عَصَوۡا وَّ کَانُوۡا
یَعۡتَدُوۡنَ ﴿﴾
Sungguh
benar-benar telah kafir orang-orang yang berkata,
“Sesungguhnya Allah adalah Al-Masih Ibnu Maryam”, padahal Al-Masih berkata: “Hai Bani Israil, beribadahlah
kepada Allah, Rabb-ku (Tuhan-ku)
dan Rabb (Tuhan) kamu.” Sesungguhnya barangsiapa mempersekutukan sesuatu dengan
Allah, maka sungguh Allah
mengharamkan surga baginya dan tempat tinggalnya adalah Api, dan tidak ada bagi orang-orang zalim
seorang penolong pun. Sungguh benar-benar telah kafir orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah adalah ketiga
dari yang tiga", padahal tidak
ada Tuhan kecuali Tuhan Yang Maha Esa.
Dan jika mereka tidak berhenti dari apa
yang mereka katakan maka niscaya azab yang pedih akan menimpa orang-orang yang
kafir di antara mereka. Maka mengapakah
mereka tidak bertaubat kepada Allah dan meminta ampun kepada-Nya, padahal
Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang? Sekali-kali tidak lain Al-Masih ibnu Maryam
melainkan seorang rasul, sungguh telah
berlalu yakni wafat rasul-rasul
sebelumnya, dan ibunya adalah
seorang yang benar, kedua-nya dahulu biasa makan makanan.
Perhatikanlah bagaimana Kami menjelaskan Tanda-tanda bagi mereka, kemudian perhatikanlah ba-gaimana mereka berpaling.
Katakanlah: ”Apakah kamu menyembah selain Allah yang tidak berkuasa mendatangkan kemudaratan kepadamu dan tidak pula manfaat?” Dan Allah
Dia-lah Yang Maha Mendengar, Maha
Mengetahui. Katakanlah: ”Hai Ahlul Ki-tab, janganlah kamu
melampaui batas dalam urusan agama
kamu tanpa haq, dan janganlah kamu mengikuti hawa-nafsu
kaum yang telah sesat sebelum ini dan telah menyesatkan pula banyak orang, dan mereka telah sesat dari jalan lurus.” لُعِنَ الَّذِیۡنَ
کَفَرُوۡا مِنۡۢ بَنِیۡۤ اِسۡرَآءِیۡلَ
عَلٰی لِسَانِ دَاوٗدَ وَ عِیۡسَی ابۡنِ
مَرۡیَمَ ؕ ذٰلِکَ بِمَا عَصَوۡا وَّ کَانُوۡا یَعۡتَدُوۡنَ -- Orang-orang yang kafir dari kalangan
Bani Israil telah dilaknat oleh lidah Daud dan Isa ibnu Mar-yam, hal demikian itu karena mereka senantiasa durhaka dan melampaui batas. (Al-Māidah
[5]:73-79).
Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. mengajarkan hanya Allah
Swt. semata yang harus disembah itu jelas dari Injil,
yang sekalipun bentuknya sekarang sudah tidak murni lagi (Matius 4:10; Lukas
4:8). Yang
dimaksud dalam ayat “Sungguh benar-benar
telah kafir orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah adalah ketiga dari yang tiga", padahal tidak
ada Tuhan kecuali Tuhan Yang Maha Esa“
ialah ‘itikad Trinitas, dogma
yang ganjil dan susah dipahami tentang tiga
oknum tuhan — Bapak, Anak, dan Ruhulqudus — yang hidup berdampingan dan
sama dalam segala hal, berpadu jadi satu
Tuhan, namun tetap tiga juga.
Nicene Council (Musyawarah di Nicea) dan
terutama ajaran Athanasius (Uskup Besar Alexandria di zaman Konstantin, Pent.)
yang pertama-tama memberikan bentuk yang pasti kepada dogma itu. Hukum agama
itu membentuk asas pokok kepercayaan Kristen.
Kutukan Nabi Daud a.s.
dan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. & Nubuatan Rangkaian Perang Dunia
Makna
ayata: “Maka mengapakah mereka tidak bertaubat kepada Allah dan meminta ampun kepada-Nya, padahal Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang?“ Tidak ada pengorbanan
sebagai pengganti (penebus) orang
lain diperlukan oleh manusia untuk mencapai najat
(keselamatan), karena Allah Swt.
Sendiri dapat mengampuni semua dosa. Hanya hati
yang benar-benar menyesal dan bertaubat diperlukan untuk menarik
pengampunan-Nya.
Ayat “Sekali-kali tidak lain Al-Masih
ibnu Maryam melainkan seorang
rasul, sungguh telah
berlalu yakni wafat rasul-rasul
sebelumnya, dan ibunya adalah
seorang yang benar, keduanya dahulu biasa makan makanan“ mengemukakan
sejumlah dalil yang menentang ketuhanan Nabi Isa Ibnu Maryam
a.s.:
(a)
Nabi Isa
Ibnu Maryam a.s. tidak melebihi rasul-rasul
Allah lainnya dalam hal apa pun,
(b)
beliau
dilahirkan oleh seorang perempuan,
(c)
seperti
makhluk manusia lainnya, beliau tunduk kepada hukum alam, harus mengalami perasaan haus dan lapar, dan juga
tunduk kepada gejala-gejala alam.
Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. tidak
memiliki kekuatan berbuat baik atau merugikan siapa pun. Beliau tidak dapat
mengabulkan doa, begitu pula tidak mengenal keperluan-keperluan manusia,
sehingga beliau tidak dapat memenuhi keperluan-keperluan itu. Semua kekuatan
tadi adalah hak-hak istimewa Allah Swt..
Makna
ayat: لُعِنَ
الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا مِنۡۢ بَنِیۡۤ
اِسۡرَآءِیۡلَ عَلٰی لِسَانِ دَاوٗدَ
وَ عِیۡسَی ابۡنِ مَرۡیَمَ ؕ ذٰلِکَ بِمَا عَصَوۡا وَّ کَانُوۡا یَعۡتَدُوۡنَ -- “Orang-orang yang kafir dari kalangan
Bani Israil telah dilaknat oleh lidah Daud dan Isa ibnu Maryam, hal demikian itu karena mere-ka senantiasa durhaka dan melampaui batas“ (Al-Māidah
[5]:79). Dari antara semua nabi Bani
Israil, Nabi Daud a.s. dan
Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. tergolong
paling menderita di tangan orang-orang Yahudi.
Penzaliman orang-orang Yahudi
terhadap Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.
mencapai puncaknya, ketika beliau dipakukan pada kayu
salib, dan penderitaan serta kepapaan yang dialami oleh Nabi Daud a.s. dari kaum yang
tak mengenal terima kasih itu,
tercermin di dalam Mazmurnya yang sangat merawankan hati, padahal beliau
merupakan pembangun kerajaan Bani Israil setelah berhasil “membunuh Jalut
dan bala-tentaranya” (QS.2:250-252).
Dari lubuk hati yang penuh kepedihan Nabi Daud a.s. dan Nabi Isa Ibnu
Maryam a.s. mengutuk
mereka.
Kutukan Nabi Daud a.s. mengakibatkan
orang-orang Bani Israil dihukum oleh Allah
Swt. melalui Nebukadnezar dari
Babilonia yang menghancurluluhkan Yerusalem dan membawa orang-orang Bani Israil
sebagai tawanan pada tahun 556 sebelum Masehi (QS.2:260; QS.17:5-7), sedangkan
akibat kutukan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.
mereka ditimpa bencana dahsyat, ketika Titus
dari kerajaan Romawi Timur kembali menaklukkan Yerusalem dalam tahun ± 70
Masehi, membinasakan kota dan menodai rumah-ibadah dengan jalan menyembelih babi — binatang yang sangat
dibenci oleh orang-orang Yahudi — di dalam rumah-ibadah
itu (QS.17:8-9; Matius 23:37-39 &
24:1-22).
Dengan demikian benarlah peringatan Allah Swt. yang dikemukakan dalam firman-Nya sebelum ini
mengenai pentingnya pewahyuan Al-Quran
– sebagai agama dan Kitab suci terakhir dan tersempurna
(QS.5:4) – kepada Nabi Besar Muhammad saw. sebagai “penjaga” ajaran asli Kitab-kitab suci sebelumnya,
firman-Nya:
ِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿۳﴾ اَلۡحَمۡدُ لِلّٰہِ الَّذِیۡۤ اَنۡزَلَ عَلٰی
عَبۡدِہِ الۡکِتٰبَ وَ لَمۡ
یَجۡعَلۡ لَّہٗ عِوَجًا ؕ﴿ٜ﴾ قَیِّمًا لِّیُنۡذِرَ بَاۡسًا
شَدِیۡدًا مِّنۡ لَّدُنۡہُ وَ یُبَشِّرَ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ الَّذِیۡنَ
یَعۡمَلُوۡنَ الصّٰلِحٰتِ اَنَّ لَہُمۡ اَجۡرًا حَسَنًا ۙ﴿﴾ مَّاکِثِیۡنَ فِیۡہِ اَبَدًا ۙ﴿﴾ وَّ یُنۡذِرَ
الَّذِیۡنَ قَالُوا اتَّخَذَ اللّٰہُ وَلَدًا ٭﴿﴾ مَا لَہُمۡ بِہٖ مِنۡ عِلۡمٍ وَّ لَا لِاٰبَآئِہِمۡ ؕ کَبُرَتۡ کَلِمَۃً تَخۡرُجُ مِنۡ اَفۡوَاہِہِمۡ ؕ اِنۡ یَّقُوۡلُوۡنَ اِلَّا کَذِبًا ﴿﴾ فَلَعَلَّکَ بَاخِعٌ نَّفۡسَکَ عَلٰۤی اٰثَارِہِمۡ اِنۡ
لَّمۡ یُؤۡمِنُوۡا بِہٰذَا الۡحَدِیۡثِ اَسَفًا ﴿﴾
اِنَّا
جَعَلۡنَا مَا عَلَی الۡاَرۡضِ زِیۡنَۃً لَّہَا لِنَبۡلُوَہُمۡ اَیُّہُمۡ اَحۡسَنُ عَمَلًا ﴿﴾ وَ اِنَّا لَجٰعِلُوۡنَ مَا عَلَیۡہَا صَعِیۡدًا جُرُزًا ؕ﴿﴾
Aku
baca dengan nama Allah Maha Pemurah,
Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah
Yang telah menurunkan kepada hamba-Nya Kitab Al-Quran ini
dan Dia tidak menjadikan padanya kebengkokan.
Sebagai penjaga
untuk mem-beri peringatan mengenai
siksaan yang dahsyat dari hadirat-Nya, dan memberikan kabar gembira
kepada orang-orang beriman
yang beramal saleh bahwa sesungguhnya
bagi mereka ada ganjaran yang baik, mereka
menetap di dalamnya selama-lamanya. وَّ یُنۡذِرَ الَّذِیۡنَ قَالُوا اتَّخَذَ اللّٰہُ وَلَدًا -- Dan supaya
memperingatkan orang-orang yang
berkata: "Allah mengambil seorang anak laki-laki. مَا لَہُمۡ بِہٖ مِنۡ عِلۡمٍ وَّ لَا لِاٰبَآئِہِمۡ -- Mereka sekali-kali tidak memiliki pengetahuan mengenainya, dan tidak pula bapak-bapak mereka memilikinya. کَبُرَتۡ کَلِمَۃً تَخۡرُجُ مِنۡ اَفۡوَاہِہِمۡ -- Sangat
besar keburukan perkataan yang keluar dari mulut mereka, اِنۡ یَّقُوۡلُوۡنَ اِلَّا کَذِبًا
-- mereka tidak mengucapkan kecuali kedustaan. فَلَعَلَّکَ بَاخِعٌ نَّفۡسَکَ عَلٰۤی اٰثَارِہِمۡ اِنۡ لَّمۡ یُؤۡمِنُوۡا بِہٰذَا
الۡحَدِیۡثِ
اَسَفًا
-- Maka sangat mungkin engkau akan membinasakan diri engkau karena sangat
sedih sekiranya mereka tidak beriman kepada keterangan ini. اِنَّا جَعَلۡنَا مَا عَلَی الۡاَرۡضِ زِیۡنَۃً لَّہَا لِنَبۡلُوَہُمۡ اَیُّہُمۡ
اَحۡسَنُ عَمَلًا -- Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi perhiasan baginya لِنَبۡلُوَہُمۡ اَیُّہُمۡ اَحۡسَنُ عَمَلًا -- supaya Kami
menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya. وَ اِنَّا لَجٰعِلُوۡنَ مَا عَلَیۡہَا صَعِیۡدًا جُرُزًا -- Dan sesungguhnya Kami niscaya akan menjadikan segala yang ada di atasnya
menjadi tanah-rata yang tandus.
(Al-Kahf [19]:1-9).
Penjagaan Al-Quran Terhadap Ajaran Asli
Kitab-kitab (Agama-agama) Sebelumnya
Al-Quran sebagai qayyim (penjaga) melakukan tugas ganda.
Al-Quran penjaga atas kitab-kitab
terdahulu dengan jalan memperbaiki
dan menghilangkan kesalahan-kesalahan
yang telah masuk dalam kitab-kitab itu, dan Al-Quran penjaga
atas generasi-generasi yang akan
datang, sebab dipikulnya kewajiban untuk
memperkembangkan ruhani mereka serta membimbing mereka pada jalan-jalan yang menjurus kepada penghayatan tujuan hidup manusia yang agung dan mulia (QS.51:57-59).
Al-Quran pertama-tama disebut sebagai "memberi peringatan" dan kemudian sebagai "memberi kabar
gembira" (ayat 3), dan sekali lagi sebagai “memberi peringatan” seperti dalam ayat ini. Orang-orang
kafir dari kalangan Ahli-Kitab telah
dua kali diberi peringatan, dan di tengah-tengah dua peringatan itu orang-orang beriman telah diberi kabar gembira.
Dua peringatan yang dipisahkan oleh kabar gembira bagi umat Islam itu mengandung tiga nubuatan:
(a)
Kekalahan dan
kehancuran lawan-lawan Nabi Besar
Muhammad saw. di masa beliau saw.
sendiri,
(b)
Kenaikan umat Islam ke puncak kekuasaan dan
kemuliaan dengan jalan yang menakjubkan,
(c)
Sesudah
terlepasnya umat Islam dari kejayaan
dan kemegahan selama 3 abad -- dan secara beraangsur-angsur mengalami
masa kemunduran selama 1000 tahun (QS.32:6) -- adanya hukuman
yang disediakan bagi bangsa-bangsa
yang mengatakan bahwa "Allqh telah
mengambil seorang anak lelaki."
Makna
ayat “maka sangat mungkin engkau akan membinasakan diri engkau karena sangat
sedih sekiranya mereka tidak beriman kepada keterangan ini,” karena bakhi' itu ism fail dari bakha'a
yang berarti: ia berbuat sesuatu dengan cara setepat-tepatnya, ayat ini dengan
padat dan lugas melukiskan betapa besarnya perhatian dan kekhawatiran serta
kecemasan Nabi Besar Muhammad saw. mengenai
kesejahteraan ruhani kaum beliau saw..
Kesedihan Nabi Besar Muhammad saw. atas penolakan dan perlawanan mereka terhadap amanat Ilahi hampir membuat beliau saw. wafat.
Memang begitulah keadaan para rasul dan nabi
Allah hatinya senantiasa penuh dengan kasih-sayang
terhadap sesama manusia. Mereka berseru kepada
Allah Swt. menangis dan berdukacita demi
kepentingan umat manusia. Tetapi
manusia tidak tahu berterimakasih, sehingga orangorang itu
sendiri yang bagi mereka para nabi Allah
mempunyai perasaan yang begitu mendalam justru merekalah yang menindas para nabi Allah dan berusaha untuk membunuh
mereka.
Tujuan
Penganugerahan Keberhasian Duniawi
Makna ayat: “sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi perhiasan baginya supaya Kami
menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya.”
Semua benda yang tidak terhitung banyaknya yang telah diciptakan Allah Swt., tidak ada satu pun yang tidak
mempunyai kegunaan tersendiri yang
tertentu, atau yang kosong dari segala kebaikan,
semuanya menambah semarak dan indahnya kehidupan manusia.
Umat Islam telah dianjurkan untuk senantiasa memberi
perhatian kepada kebenaran agung
yang melandasi kata-kata sederhana itu,
dan untuk menyerahkan waktu dan tenaga
mereka guna menggali rahasia-rahasia
alam yang agung dan untuk menyelidiki
sifat-sifat yang tidak terbilang banyaknya, yang dimiliki unsur-unsur
alam (QS.3:191-195; QS.18:110; QS.31:28; QS.15:22; QS.40:14).
Ayat ”dan sesungguhnya Kami niscaya akan menjadikan segala yang ada di atasnya
menjadi tanah-rata yang tandus”.
ini mengandung suatu kabar gaib
bahwa bangsa-bangsa Kristen
dari barat sesudah memperoleh kekayaan,
kekuatan, kekuasaan duniawi dan sesudah mendapat penemuan-penemuan besar, akhirnya akan membuat bumi Allah itu penuh dengan kedosaan dan keburukan (QS.30:42-43) seperti yang dituturkan oleh Bible.
Kemurkaan Allah Swt. akan bangkit, dan sesuai dengan nubuatan-nubuatan yang diucapkan oleh
mulut para nabi Allah di dalam Perjanjian Lama maupun di
dalam Perjanjian Baru, serta dalam Al-Quran
dan hadits bahwa bencana-bencana akan menimpa bumi
(umat manusia) secara meluas, serta segala kemajuan
duniawi yang tadinya telah dicapai oleh mereka dan semua buah tangan
mereka, gedung-gedung mereka yang tinggi megah, keindahan negeri mereka, serta segala kemuliaan, kemegahan, dan
keagungan duniawi mereka sama sekali
akan menjadi hancur berantakan.
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran Anyar,
8 Februari
2017
Tidak ada komentar:
Posting Komentar