Bismillaahirrahmaanirrahiim
ISLAM
Pidato Mirza Ghulam Ahmad a.s.
Tgl. 2 November 1904
di Kota Sialkote – Hindustan
Bab 23
BAI’AT KEPADA IMAM MAHDI A.S. BERARTI BAI’AT KEPADA PENGUTUSAN KEDUA KALI SECARA RUHANI NABI BESAR MUHAMMAD
SAW. DI AKHIR ZAMAN & PENGULANGAN ZAMAN JAHILIYAH DI AKHIR
ZAMAN
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
D
|
alam bagian akhir Bab 22 telah dijelaskan topik Makna “Pohon
Sidrah Tertinggi” & Hakikat “Pingsannya”
Nabi Musa a.s. sehubungan dengan makna ayat: مَا کَذَبَ
الۡفُؤَادُ مَا رَاٰی -- “Hati
Rasulullah sekali-kali tidak
berdusta apa yang dia lihat“ (An-Najm [53]:12), bahwa hakikatnya ialah apa yang telah dilihat atau dialami oleh
Nabi Besar Muhammad saw. dalam peristiwa mi’raj
adalah pengalaman hakiki, dan pengalaman
beliau saw. itu kebenaran sejati dan
bukan tipuan khayal beliau saw..
Makna
ayat selanjutnya: اَفَتُمٰرُوۡنَہٗ عَلٰی مَا یَرٰی -- “Maka apakah kamu membantahnya mengenai apa yang telah dia lihat? وَ لَقَدۡ
رَاٰہُ نَزۡلَۃً اُخۡرٰی -- Dan sungguh dia benar-benar melihat-Nya kedua kali.”
Yakni kasyaf Nabi Besar Muhammad saw. itu suatu pengalaman ruhani berganda.
Selanjutnya Allah Swt.
berfirman: عِنۡدَ سِدۡرَۃِ الۡمُنۡتَہٰی -- “Dekat
pohon Sidrah tertinggi, عِنۡدَہَا جَنَّۃُ الۡمَاۡوٰی -- yang di
dekatnya ada surga tempat tinggal.”
Nabi Besar Muhammad saw. pada waktu mi’raj telah mencapai martabat qurb Ilahi (kedekatan
kepada Allah Swt.) demikian tinggi,
sehingga sungguh berada di luar jangkauan
otak manusia untuk memahaminya.
Atau ayat ini dapat berarti bahwa pada martabat itu terbentang di hadapan beliau saw. bagaikan samudera luas tanpa tepi – samudera makrifat
Ilahi, hakikat-hakikat serta
kebenaran-kebenaran abadi. Sadir yang diambil dari akar kata yang sama
berarti bahwa makrifat Ilahi yang dilimpahkan kepada Nabi Besar Muhammad
saw. akan seperti halnya pohon Sidrah memberikan kesenangan
dan naungan kepada para musafir ruhani yang merasa kakinya letih
dan payah.
Lebih-lebih karena daun pohon Sidrah memiliki khasiat mengawetkan mayat dari proses pembusukan, ayat عِنۡدَ سِدۡرَۃِ الۡمُنۡتَہٰی -- “Dekat pohon Sidrah tertinggi”, ini dapat
berarti bahwa ajaran Islam (Al-Quran) yang
diwahyukan Allah Swt. kepada Nabi
Besar Muhammad saw. tidak hanya kebal terhadap bahaya kerusakan -- karena mendapat jaminan pemeliharaan Allah Swt. (QS.15:10) -- melainkan juga baik sekali guna menolong
dan memelihara umat manusia terhadap kerusakan dan kematian ruhani.
Jadi, menurut ayat tersebut
“pohon sidrah tertinggi”
(sidratul-muntaha) dengan “surga” itu
berdekatan atau berdampingan --bukan berada di dalamnya -- ungkapan tersebut mengandung makna bahwa
dengan diutusnya Nabi Besar Muhammad saw. membawa ajaran Islam (wahyu Al-Quran)
sebagai agama (Kitab suci) terakhir dan tersempurna (QS.5:4) maka beriman
dan patuh-taat kepada Nabi Besar
Muhammad saw. adalah syarat mutlak untuk masuk ke dalam surga
(QS.3:32 & 86).
Pernyataan Iman Nabi Musa a.s. kepada Kesempurnaan
Martabat Nabi Besar Muhammad Saw.
Atau, ayat عِنۡدَ سِدۡرَۃِ الۡمُنۡتَہٰی -- “Dekat pohon Sidrah tertinggi, عِنۡدَہَا جَنَّۃُ الۡمَاۡوٰی -- yang di
dekatnya ada surga, tempat tinggal” mengandung kabar gaib (nubuatan) yang mengisyaratkan kepada sebatang pohon, yang di bawah pohon itu para sahabat Nabi Besar
Muhammad saw. di Hudaibiyah mengikat janji setia (bai’at) kepada beliau saw. pada peristiwa Perjanjian Hudaibiyah (QS.48:19).
Kata-kata “yang
menutupi” dalam ayat selanjutnya: اِذۡ
یَغۡشَی السِّدۡرَۃَ مَا یَغۡشٰی -- “Ketika pohon Sidrah diselubungi oleh sesuatu
yang menyelubungi“ maknanya ialah penjelmaan Ilahi. مَا زَاغَ الۡبَصَرُ وَ مَا طَغٰی -- Penglihatannya
sekali-kali tidak menyimpang dan tidak
pula melantur. لَقَدۡ رَاٰی مِنۡ اٰیٰتِ رَبِّہِ الۡکُبۡرٰی -- Sungguh
ia benar-benar melihat Tanda
paling besar dari Tanda-tanda Rabb-nya (Tuhan-Nya). (An-Najm [53]:1-18-19).
Firman Allah Swt. dalam
dua ayat terakhir surah An-Najm menjelaskan bahwa “Tajalliyati Ilahiyah” (penampakan keagungan Allah Swt.) kepada
Nabi Besar Muhammad saw. merupakan tajalli
Allah Swt. yang paling
sempurna, yang belum pernah terjadi
para para rasul Allah sebelumnya,
sehingga Nabi Musa a.s. pun “pingsan”
pada saat Allah Swt. bertajalli pada
sebuah gunung dalam kasyaf (penglihatan ruhani) yang dialami
oleh Nabi Musa a.s. lalu
setelah siuman dari “pingsannya” Nabi Musa a.s. menyatakan beriman kepada Nabi Besar Muhammad saw.,
firman-Nya:
وَ لَمَّا جَآءَ
مُوۡسٰی لِمِیۡقَاتِنَا وَ کَلَّمَہٗ رَبُّہٗ ۙ قَالَ رَبِّ اَرِنِیۡۤ اَنۡظُرۡ
اِلَیۡکَ ؕ قَالَ لَنۡ تَرٰىنِیۡ
وَ لٰکِنِ انۡظُرۡ اِلَی
الۡجَبَلِ فَاِنِ اسۡتَقَرَّ مَکَانَہٗ فَسَوۡفَ تَرٰىنِیۡ ۚ فَلَمَّا
تَجَلّٰی رَبُّہٗ لِلۡجَبَلِ جَعَلَہٗ دَکًّا وَّ خَرَّ مُوۡسٰی صَعِقًا ۚ
فَلَمَّاۤ اَفَاقَ قَالَ سُبۡحٰنَکَ
تُبۡتُ اِلَیۡکَ وَ اَنَا
اَوَّلُ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ ﴿﴾
Dan tatkala
Musa datang pada waktu yang Kami
tetapkan dan Rabb-nya (Tuhan-nya)
bercakap-cakap dengannya, ia
berkata: “Ya Rabb-ku (Tuhan-ku), perlihatkanlah kepadaku supaya aku dapat
memandang Engkau.” Dia berfirman: “Engkau
tidak akan pernah dapat melihat-Ku
tetapi pandanglah gunung itu,
lalu jika ia tetap ada pada tempatnya maka engkau
pasti akan dapat melihat-Ku.” فَلَمَّا تَجَلّٰی رَبُّہٗ
لِلۡجَبَلِ جَعَلَہٗ دَکًّا وَّ
خَرَّ مُوۡسٰی صَعِقًا -- Maka tatkala
Rabb-nya (Tuhan-nya) menjelmakan
keagungan-Nya pada gunung itu Dia
menjadikannya hancur lebur, dan Musa pun jatuh pingsan. ۚ
فَلَمَّاۤ اَفَاقَ قَالَ سُبۡحٰنَکَ
تُبۡتُ اِلَیۡکَ وَ اَنَا
اَوَّلُ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ -- Lalu tatkala ia sadar kembali ia berkata: “Mahasuci Engkau, aku
bertaubat kepada Engkau dan aku adalah orang pertama di antara
orang-orang yang beriman kepadanya di masa ini.” (Al-A’rāf [7]:144).
Ayat ini memberikan penjelasan mengenai salah
satu masalah keagamaan yang sangat
penting, yaitu mungkinkah bagi seseorang menyaksikan Allah
Swt. dengan mata jasmaninya?
Ayat itu sedikit pun tidak mendukung pendapat bahwa Allah Swt. dapat disaksikan oleh mata
jasmani (QS.6:104). Jangankan melihat Allah Swt. dengan mata jasmani,
bahkan manusia tidak dapat pula melihat malaikat-malaikat,
kita hanya dapat melihat penjelmaan
mereka belaka.
Begitu pula hanya tajalli
(penjelmaan keagungan) Allah
Swt. sajalah yang dapat kita saksikan tetapi Wujud
Allah Swt. sendiri tidak. Oleh karena itu
tidak dapat dimengerti bahwa seorang nabi yang besar seperti Nabi Musa a.s.
dengan segala makrifat mengenai sifat-sifat
Allah Swt. akan mempunyai keinginan
mengenai hal-hal yang mustahil.
“Nabi yang Seperti Musa” di Kalangan Bani Isma’il
Nabi Musa a.s. mengetahui
bahwa beliau hanyalah dapat menyaksikan Tajalli
(penampakkan kekuasaan) Allah Swt., dan bukan Wujud-Nya
Sendiri. Akan tetapi beliau sebelumnya sudah melihat suatu Tajalli Allah Swt. dalam bentuk “api” dalam
perjalanan beliau dari Midian ke Mesir (28:30). Jadi apa gerangan maksud Musa a.s. dengan
perkataan: رَبِّ اَرِنِیۡۤ اَنۡظُرۡ
اِلَیۡکَ -- “Ya
Rabb-ku (Tuhan-ku), tampak-kanlah
kepadaku supaya aku dapat melihat Engkau?”
Permohonan itu nampaknya mengisyaratkan
kepada tajalli-sempurna Allah Swt. yang kelak akan menjelma pada diri Nabi Besar Muhammad
saw. beberapa masa kemudian.
Nabi Musa a.s. – sebagai akibat
berulangkalinya Bani Israil melakukan
kedurhakaan kepada Allah Swt. dan
para rasul Allah yang dibangkitkan di
kalangan mereka (QS.2:89-90) -- diberi janji bahwa dari antara saudara-saudara Bani Israil akan muncul seorang nabi yang di mulutnya Tuhan akan meletakkan Kalam-Nya (Kitab Ulangan 18:18-22).
Nubuatan ini berkenaan dengan suatu tajalli
lebih besar daripada yang pernah dilimpahkan kepada Nabi Musa a.s., karena
itu beliau dengan sendirinya sangat berhasrat melihat macam bagaimana Keagungan
dan Kemuliaan Allah Swt. yang akan tampak dalam tajalli yang dijanjikan itu. Beliau
berharap bahwa Keagungan dan Kemuliaan itu yang diraih oleh “rekan sejawat” beliau --
Nabi Besar Muhammad saw. (QS.46:11) -- ada
yang dapat diperlihatkan kepada beliau.
Nabi Musa a.s. diberi tahu
bahwa Tajalli ini berada di luar batas kemampuan beliau untuk menanggungnya, tajalli itu tidak akan dapat terjelma pada hati beliau, tetapi Allah
Swt. memilih gunung untuk bertajalli. Gunung itu berguncang dengan hebat serta nampak
seakan-akan ambruk, dan Nabi
Musa a.s. karena dicekam oleh pengaruh guncangan itu rebah tidak sadarkan diri (pingsan).
Dengan cara demikian Nabi Musa a.s. dibuat sadar bahwa beliau tidak mencapai taraf kesempurnaan yang demikian tingginya dalam martabat keruhanian yang dapat membuat beliau
boleh menyaksikannya sendiri tempat Allah Swt. bertajalli sebagaimana dimohonkan beliau.
Hak istimewa yang unik itu disediakan untuk seorang yang lebih besar daripada beliau, tak lain ialah Mahkota segala makhluk Ilahi
yaitu Khātamul-Anbiyya
Nabi Besar Muhammad saw. (QS.33:41).
Mungkin pula permohonan Nabi Musa a.s.
itu karena didesak para pemuka Bani Israil yang menuntut untuk melihat Allah
Swt. dengan
mata lahir (QS.2:56). Pengalaman Nabi
Musa a.s. yang sangat luar biasa itu memberi kesadaran kepada beliau bahwa permohonan beliau itu tidak layak. Dengan serta merta beliau
berseru: “Aku bertaubat kepada Engkau, dan aku orang pertama di antara
orang-orang beriman,” yang berarti beliau telah sadar bahwa beliau tidak
dianugerahi kemampuan melihat tajalli-sempurna Keagungan Ilahi yang seharusnya akan menjelma pada hati Nabi Yang dijanjikan itu dan bahwa
beliau (Nabi Musa a.s.) adalah orang yang pertama-tama beriman kepada keluhuran
kedudukan ruhani yang telah ditakdirkan
akan dicapai oleh Nabi Besar itu. Keimanan
Nabi Musa a.s. kepada Nabi Besar Muhammad saw, itu telah disinggung juga dalam
QS.46:11.
Dalam kenyataannya gunung itu sebenarnya tidak
hancur-lebur. Kata-kata itu telah dipergunakan secara majasi (kiasan) untuk
menyatakan kehebatan gempa bumi yang
terjadi pada waktu Nabi Musa a.s. menyaksikan “peristiwa ruhani” (kasyaf)
yang sangat luar-biasa tersebut. Lihat Keluaran 24:18.
Selanjutnya Allah Swt.
berfirman dalam rangka “menghibur” hati
Nabi Musa a.s. setelah mengalami peristiwa
ruhani yang benar-benar mengguncang
hati dan perasaan beliau tersebut:
قَالَ یٰمُوۡسٰۤی اِنِّی
اصۡطَفَیۡتُکَ عَلَی النَّاسِ بِرِسٰلٰتِیۡ وَ بِکَلَامِیۡ ۫ۖ فَخُذۡ مَاۤ اٰتَیۡتُکَ وَ
کُنۡ مِّنَ الشّٰکِرِیۡنَ ﴿﴾
Dia
berfirman: “Hai Musa, sesungguhnya Aku telah memilih engkau atas umat manusia dengan
risalah-Ku dan firman-Ku, maka pegang-teguhlah
apa yang telah Aku berikan kepada engkau dan jadilah engkau ter-masuk orang-orang yang bersyukur” (Al-A’rāf
[7]:145).
Ayat
ini nampaknya ditujukan kepada Nabi Musa a.s. sebagai kata-kata penghibur sesudah Allah
Swt. membuat beliau sadar
bahwa beliau tidak dapat mencapai derajat
keruhanian yang tinggi seperti Nabi Besar dari keturunan Nabi Isma’il a.s. yang ditakdirkan akan mencapainya. Nabi
Musa a.s. diminta agar jangan
mendambakan kemuliaan tinggi yang
disediakan untuk “Nabi itu” tetapi hendaknyalah merasa puas dengan dan bersyukur atas peringkat (martabat ruhani) yang telah dianugerahkan Allah Swt.
kepada beliau..
Pentingnya Jihad Melawan “Hawa-nafsu” & Pentingnya
Bai’at Kepada Imam Mahdi a.s.
Jadi, untuk meraih ketinggian tingkatan-tingkatan mi’raj
ruhani menuju “perjumpaan” atau “perpaduan”
dengan Sifat-sifat Tasybihiyyah Allah Swt. – sebagaimana
yang dicontohkan Nabi Besar Muhammad saw.
-- memerlukan “jihad”
(perjuangan) istimewa melawan “diri
sendiri” (hawa-nafsu) yang sangat istimewa, sebagaimana firman-Nya:
وَ الَّذِیۡنَ
جَاہَدُوۡا فِیۡنَا لَنَہۡدِیَنَّہُمۡ سُبُلَنَا ؕ وَ اِنَّ اللّٰہَ لَمَعَ الۡمُحۡسِنِیۡنَ ﴿٪﴾
Dan orang-orang yang berjuang untuk Kami niscaya Kami akan memberi petunjuk kepada mereka pada
jalan-jalan Kami, dan se-sungguhnya
Allāh beserta orang-orang yang berbuat ihsan (Al-Ankabūt [29]:70).
Jihad
sebagaimana diperintahkan Allah Swt.
dalam ajaran Islam, tidak berarti harus membunuh atau menjadi kurban pembunuhan, melainkan harus berjuang keras guna memperoleh keridhaan Ilahi, sebab kata fīnā berarti
“untuk menjumpai Kami”, firman-Nya:”
یٰۤاَیُّہَا
الۡاِنۡسَانُ اِنَّکَ کَادِحٌ اِلٰی رَبِّکَ کَدۡحًا فَمُلٰقِیۡہِ ۚ﴿﴾
Hai insan, sesungguhnya engkau
bekerja keras dengan sungguh-sungguh
menuju Rabb (Tuhan) engkau maka engkau
akan bertemu dengan-Nya. (Al-Insyiqāq [84]:7).
Jadi, betapa pentingnya
melakukan “baiat” kepada Nabi Besar Muhammad saw. (QS.48:11) dan pentingnya melakukan baiat
kepada Imam Mahdi a.s. yang diperintahkan
Nabi Besar Muhammad saw.:
“Ketika kalian melihatnya
(kehadiran Imam Mahdi) maka berbai’atlah dengannya walaupun harus merangkak-rangkak di atas salju
karena sesungguhnya dia adalah Khalifatullah
Al-Mahdi.” (HR Abu Dawud, 4074).
Mengapa
demikian pentingnya baiat kepada Imam
Mahdi a.s. tersebut? Sebab pada hakikatnya Imam Mahdi a.s. atau Masih
Mau’ud a.s. atau misal Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (QS.43:58) merupakan
pengutusan kedua kali secara ruhani Nabi Besar Muhammad saw. di Akhir Zaman ini, sebagaimana dikemukakan dalam firman-Nya:
ہُوَ
الَّذِیۡ بَعَثَ فِی الۡاُمِّیّٖنَ
رَسُوۡلًا مِّنۡہُمۡ یَتۡلُوۡا
عَلَیۡہِمۡ اٰیٰتِہٖ وَ
یُزَکِّیۡہِمۡ وَ
یُعَلِّمُہُمُ الۡکِتٰبَ وَ الۡحِکۡمَۃَ ٭ وَ اِنۡ کَانُوۡا مِنۡ قَبۡلُ
لَفِیۡ ضَلٰلٍ مُّبِیۡنٍ ۙ﴿﴾ وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ ہُوَ الۡعَزِیۡزُ
الۡحَکِیۡمُ ﴿﴾
Dia-lah Yang telah membangkitkan di kalangan bangsa
yang buta-huruf seorang rasul dari antara mereka,
yang membacakan kepada mere-ka
Tanda-tanda-Nya, mensucikan mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah walaupun sebelumnya mereka berada dalam kesesatan yang nyata, وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ ہُوَ الۡعَزِیۡزُ
الۡحَکِیۡمُ -- Dan juga akan membangkitkan-nya pada kaum lain dari antara me-reka,
yang belum bertemu dengan mereka.
Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa, Maha
Bijaksana. (Al-Jumu’ah [62]:3-4).
Kata وَ (wa) -- dalam
ayat وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِم
-- “Dan juga akan membangkitkan-nya pada kaum lain dari antara mereka, yang belum bertemu dengan mereka” disebut wau athaf, yang mengisyaratkan kepada pengulangan
peristiwa yang disebutkan dalam ayat sebelumnya pada ayat berikutnya.
Dengan demikian dari ayat وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ
لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِم
-- “Dan juga akan membangkitkan-nya pada kaum lain dari antara mereka, yang belum bertemu dengan mereka”
diisyaratkan bahwa kejahiliyahan
yang terjadi pada zaman menjelang pengutusan Nabi
Besar Muhammad saw. (QS.30:42) –
yang diisyaratkan dalam ayat: وَ اِنۡ کَانُوۡا مِنۡ قَبۡلُ
لَفِیۡ ضَلٰلٍ مُّبِیۡنٍ ۙ -- “walaupun
sebelumnya mereka berada dalam kesesatan
yang nyata“ -- akan terjadi
lagi (berulang) di Akhir Zaman
pada masa puncak kemunduran akhlak
dan ruhani serta politik yang dialami umat
Islam selama 1000 tahun sejak 3
abad masa kejayaannya yang pertama (QS.32:6), yaitu pada masa menjelang
pengutusan kedua kali secara ruhani
Nabi Besar Muhammad saw. dalam wujud Imam Mahdi a.s. atau Masih Mau’ud a.s. atau misal Nabi Isa Ibnu Maryam (QS.43:58), yakni
Mirza Ghulam Ahmad a.s.,Pendiri
Jemaat Muslim Ahmadiyah.
Pengulangan Zaman
Jahiliyah di Akhir Zaman
Dalam masa puncak kemunduran yang dialami oleh umat Islam -- akibat mereka telah meninggalkan Al-Quran
sebagai sesuatu yang “tidak
berharga” -- itulah Rasul Akhir Zaman tersebut yang sangat prihatin, firman-Nya:
وَ قَالَ الرَّسُوۡلُ یٰرَبِّ اِنَّ قَوۡمِی
اتَّخَذُوۡا ہٰذَا الۡقُرۡاٰنَ مَہۡجُوۡرًا ﴿﴾ وَ کَذٰلِکَ جَعَلۡنَا لِکُلِّ نَبِیٍّ عَدُوًّا
مِّنَ الۡمُجۡرِمِیۡنَ ؕ وَ کَفٰی بِرَبِّکَ ہَادِیًا وَّ نَصِیۡرًا ﴿﴾
Dan Rasul
itu berkata: “Ya Rabb-ku (Tuhan-ku),
sesungguhnya kaumku telah menjadikan
Al-Quran ini sesuatu yang telah
ditinggalkan. وَ کَذٰلِکَ
جَعَلۡنَا لِکُلِّ نَبِیٍّ عَدُوًّا مِّنَ الۡمُجۡرِمِیۡنَ -- Dan demikianlah Kami telah
menjadikan musuh bagi tiap-tiap nabi dari antara orang-orang yang berdosa, وَ کَفٰی بِرَبِّکَ ہَادِیًا وَّ نَصِیۡرًا -- dan cukuplah Rabb (Tuhan) engkau sebagai pemberi
petunjuk dan penolong. (Al-Furqān
[25]:31-32).
Ayat
32 dengan sangat tepat sekali dapat
dikenakan kepada mereka yang menamakan diri orang-orang
Islam (Muslim) tetapi mereka telah menyampingkan Al-Quran dan telah melemparkannya ke belakang. Mereka lebih mementingkan
hadits-hadit dan ucapan para wali Allah -- seperti wirid dan olah kebatinan dan lain-lain
yang tidak disunnahkan nabi Besar Muhammad saw. --daripada petunjuk Al-Quran, sebagaimana
sebelumnya telah terjadi di kalangan golongan
Ahli-Kitab (orang-orang Yahudi) yang
lebih mementingkan Talmud
daripada ajaran Taurat.
Barangkali belum pernah terjadi selama 14 abad ini di mana Al-Quran demikian rupa diabaikan dan dilupakan oleh orang-orang
Islam seperti di Akhir Zaman ini. Ada sebuah hadits Nabi
Besar Muhammad saw. yang
mengatakan:
“Satu saat akan datang kepada kaumku, bila
tidak ada yang tinggal dari Islam melainkan namanya dan dari Al-Quran
melainkan tulisannya , masjidnya ramai adapun isinya menyalahi
hukum agama, ulama-ulamanya sejelek-jelek manusia ibarat di bawah bayangan
langit, dan dari ulama-ulama tersebut keluar fitnah, dan fitnah itu kembali
kepada mereka (fitnah-memfitnah).” (HR. Baihaqi dalam kitab
Syu’abul Iman).
Terjadinya konflik antar umat islam di
berbagai tempat dan negara, adanya umat islam yang saling melempar fitnah dan saling mengkafirkan padahal kalau benar Islam masih di dada mereka
mestinya menyadari bahwa sesama Muslim
itu tidak boleh saling menyakiti,
tidak boleh saling bunuh dan tidak
boleh merusak kehormatan Muslim
lainnya, mereka ibarat satu tubuh sebagaimana sabda Nabi Besar Muhammad saw.
lainnya:
Dari Nu’man bin Basyir, ia berkata: Rasulullah saw. bersabda,
“Orang-orang Muslim itu ibarat satu
orang (satu tubuh), jika matanya sakit, maka seluruh badannya ikut merasakan
sakit. Dan bila kepalanya sakit, maka seluruh tubuhnya ikut merasa sakit pula (HR. Muslim juz 4, hal. 2000).
Pencabutan “Ruh” Al-Quran
Sungguh di Akhir Zaman inilah saat yang dimaksudkan oleh Nabi Besar Muhammad
saw. tersebut, yakni sebagai akibat “ruh” (jiwa) Al-Quran dan ajaran Islam telah “terbang ke bintang Tsuraya” sehingga yang tinggal di kalangan umat
Islam hanyalah “jasad” Al-Quran yang
“tanpa ruh”, demikian pula keadaan umat
Islam pun bukan lagi merupakan “satu
tubuh yang utuh dan hidup” melainkan bagaikan “tulang-belulang berserakan” sehingga melawan satu negara Israel yang kecil pun mereka tidak berdaya, firman-Nya:
وَ یَسۡـَٔلُوۡنَکَ عَنِ الرُّوۡحِ ؕ
قُلِ الرُّوۡحُ مِنۡ اَمۡرِ رَبِّیۡ وَ
مَاۤ اُوۡتِیۡتُمۡ مِّنَ الۡعِلۡمِ
اِلَّا قَلِیۡلًا ﴿﴾ وَ
لَئِنۡ شِئۡنَا لَنَذۡہَبَنَّ بِالَّذِیۡۤ
اَوۡحَیۡنَاۤ اِلَیۡکَ ثُمَّ لَا تَجِدُ لَکَ بِہٖ عَلَیۡنَا وَکِیۡلًا ﴿ۙ﴾ اِلَّا
رَحۡمَۃً مِّنۡ رَّبِّکَ ؕ اِنَّ فَضۡلَہٗ
کَانَ عَلَیۡکَ کَبِیۡرًا ﴿﴾
Dan mereka bertanya kepada engkau mengenai ruh, katakanlah: “Ruh telah diciptakan atas
perintah Rabb-ku (Tuhan-ku), dan kamu sama sekali tidak
diberi ilmu mengenai itu melainkan
sedikit.” Dan jika Kami benar-benar
menghendaki, niscaya Kami mengambil kembali apa yang telah Kami wahyukan kepada engkau kemudian engkau
tidak akan memperoleh penjaga baginya terhadap Kami dalam hal itu karena
rahmat dari Rabb (Tuhan) engkau, sesungguhnya karunia-Nya sangat besar kepada engkau. (Bani Israil [17]:86-88).
Dalam masa kemunduran
dan kejatuhan ruhani mereka,
nampaknya orang-orang Yahudi asyik
berkecimpung dalam kebiasaan-kebiasaan
ilmu klenik (occult), seperti halnya banyak ahli kebatinan modern, para pengikut gerakan teosofi dan yogi-yogi
Hindu. Nampaknya di masa Nabi Besar Muhammad saw. pun beberapa orang Yahudi
di Medinah telah menempuh cara-cara
kebiasaan semacam itu. Itulah sebabnya mengapa ketika orang-orang musyrik Mekkah mencari bantuan orang-orang Yahudi untuk membungkam
Nabi Besar Muhammad saw mereka memberi
saran supaya orang-orang musyrik Mekkah itu menanyakan
kepada beliau saw. hakikat ruh manusia.
Dalam ayat yang sedang dibahas
ini Al-Quran menjawab pertanyaan mereka dengan mengatakan bahwa ruh
memperoleh daya kekuatannya dari perintah Ilahi, dan apa pun yang menurut
kepercayaan orang dapat diperoleh dengan perantaraan apa yang dikatakan latihan-latihan batin dan ilmu sihir, adalah semata-mata tipuan dan omong-kosong belaka.
Menurut riwayat
pertanyaan-pertanyaan mengenai sifat ruh
manusia pertama-tama diajukan kepada Nabi Besar Muhammad saw. di kota Mekkah oleh orang-orang Quraisy
dan kemudian menurut ‘Abdullah bin Mas’ud r.a. pertanyaan yang sama diajukan oleh orang-orang
Yahudi di Medinah.
Dalam ayat:
قُلِ
الرُّوۡحُ مِنۡ اَمۡرِ رَبِّیۡ -- “katakanlah: “Ruh telah diciptakan atas perintah Rabb-ku (Tuhan-ku)“ disebut sesuatu yang diciptakan atas perintah langsung dari Allah Swt..
Menurut Al-Quran semua penciptaan terdiri
dari dua jenis:
(1) Kejadian permulaan yang
dilaksanakan tanpa mempergunakan zat atau benda yang telah diciptakan
sebelumnya.
(2) Kejadian selanjutnya yang
dilaksanakan dengan mempergunakan sarana dan benda yang telah diciptakan
sebelumnya.
Penciptaan macam pertama termasuk jenis amr (arti
harfiahnya ialah perintah – “Kun, fayakun:
“Jadilah” maka terjadi”) lihat QS.2:118, dan cara penciptaan yang kedua disebut khalq (arti harfiahnya ialah menciptakan). Dan menurut ayat
tersebut keberadaan ruh
manusia termasuk jenis penciptaan
pertama: قُلِ
الرُّوۡحُ مِنۡ اَمۡرِ رَبِّیۡ -- “katakanlah: “Ruh telah diciptakan atas perintah Rabb-ku (Tuhan-ku).“
Pencabutan “Ruh”
Al-Quran dan Pengembaliannya Lagi di Akhir
Zaman
Kata ruh itu berarti wahyu Ilahi (QS.42:52-54; QS.58:23; Lexicon Lane). Letaknya kata ini
dalam ayat tersebut mendukung arti demikian. Ayat tersebut nampaknya mengandung nubuatan bahwa setelah umat Islam mengalami masa kejayaan
yang pertama selama 3 abad, akan datang
suatu saat selama 1000 tahun (QS.32:6) ketika
ilmu Al-Quran secara berangsur-angsur
akan lenyap dari bumi, firman-Nya:
یُدَبِّرُ
الۡاَمۡرَ مِنَ السَّمَآءِ اِلَی
الۡاَرۡضِ ثُمَّ یَعۡرُجُ اِلَیۡہِ فِیۡ یَوۡمٍ کَانَ مِقۡدَارُہٗۤ اَلۡفَ سَنَۃٍ مِّمَّا تَعُدُّوۡنَ ﴿﴾
Dia
mengatur perintah dari langit sampai bumi, kemudian perintah itu
akan naik kepada-Nya dalam satu hari, yang hitungan lamanya seribu tahun dari apa yang kamu hitung. (As-Sajdah [32]:6).
Ayat ini menunjuk kepada suatu pancaroba sangat hebat yang ditakdirkan
Allah Swt. akan menimpa Islam dalam
perkembangannya yang penuh dengan perubahan itu. Islam akan melalui suatu masa kemajuan dan kesejahteraan yang mantap selama 3 abad pertama kehidupannya. Nabi Besar Muhamad saw. diriwayatkan pernah menyinggung secara
jitu mengenai kenyataan itu dalam sabda beliau: “Abad terbaik ialah abad di kala aku hidup, kemudian abad berikutnya,
kemudian abad sesudah itu” (Tirmidzi
& Bukhari,
Kitab-usy-Syahadat).
Islam mulai mundur sesudah 3 abad pertama masa keunggulan dan keme-nangan pertama
yang tiada henti-hentinya. Peristiwa kemunduran dan kemerosotannya ber-langsung
dalam masa 1000 tahun berikutnya.
Kepada masa 1000 tahun inilah telah diisyaratkan dengan kata-kata: ثُمَّ یَعۡرُجُ اِلَیۡہِ
فِیۡ یَوۡمٍ کَانَ مِقۡدَارُہٗۤ اَلۡفَ سَنَۃٍ مِّمَّا تَعُدُّوۡنَ
-- “Kemudian perintah itu akan naik kepada-Nya dalam satu hari, yang
hitungan lamanya seribu tahun.”
Dalam hadits lain berkenaan
tafsir surah Al-Jumu’ah ayat 3-4 mengenai makna ayat: وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ ہُوَ الۡعَزِیۡزُ
الۡحَکِیۡمُ -- Dan juga akan membangkitkan-nya pada kaum lain dari antara mereka, yang
belum bertemu dengan mereka. Dan Dia-lah
Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana.
(Al-Jumu’ah
[62]:4). Nabi Besar Muhammad saw. diriwayatkan pernah bersabda bahwa
iman akan terbang ke Bintang Tsuraya dan seseorang
dari keturunan Parsi akan
mengembalikannya ke bumi (Bukhari,
Kitab-ut-Tafsir).
Nubuatan Nabi Besar Muhammad saw. serupa itu telah
diriwayatkan oleh Mardawaih, Baihaqi, dan Ibn Majah, ketika ruh dan
jiwa ajaran Al-Quran akan hilang
lenyap dari bumi, dan semua orang yang
dikenal sebagai ahli-ahli mistik dan
para sufi yang mengakui memiliki kekuatan batin istimewa — seperti pula
diakui oleh segolongan orang-orang Yahudi
dahulu kala yang sifatnya serupa
dengan mereka — tidak akan berhasil mengembalikan
jiwa ajaran Al-Quran dengan usaha
mereka bersama-sama, itulah makna firman-Nya:
وَ لَئِنۡ شِئۡنَا لَنَذۡہَبَنَّ
بِالَّذِیۡۤ اَوۡحَیۡنَاۤ اِلَیۡکَ ثُمَّ
لَا تَجِدُ لَکَ بِہٖ عَلَیۡنَا وَکِیۡلًا
﴿ۙ﴾ اِلَّا رَحۡمَۃً مِّنۡ
رَّبِّکَ ؕ اِنَّ فَضۡلَہٗ کَانَ عَلَیۡکَ کَبِیۡرًا ﴿﴾
Dan jika Kami benar-benar menghendaki, niscaya Kami mengambil kembali apa yang telah Kami wahyukan kepada
engkau kemudian engkau
tidak akan memperoleh pen-jaga baginya terhadap Kami dalam hal itu. اِلَّا رَحۡمَۃً مِّنۡ رَّبِّکَ ؕ اِنَّ فَضۡلَہٗ
کَانَ عَلَیۡکَ کَبِیۡرًا -- Kecuali karena rahmat dari Rabb (Tuhan) engkau,
sesungguhnya karunia-Nya sangat besar
kepada engkau. (Bani Israil [17]:87-88).
Rahmat dan Karunia Ilahi Kepada Umat
Islam
Dalam ayat: اِلَّا رَحۡمَۃً مِّنۡ
رَّبِّکَ ؕ اِنَّ فَضۡلَہٗ کَانَ عَلَیۡکَ کَبِیۡرًا -- “Kecuali karena rahmat dari Rabb (Tuhan) engkau,
sesungguhnya karunia-Nya sangat besar
kepada engkau“ terdapat kabar gembira
bahwa Allah Swt. akan mengembalikan
lagi “ruh” Al-Quran yang telah “terbang ke bintang Tsuraya” tersebut di Akhir Zaman ini kepada umat Islam sebagaimana yang terjadi di zaman Nabi Besar Muhammad saw. yaitu melalui pengutusan kedua kali beliau saw. secara ruhani dalam wujud Rasul Akhir Zaman, firman-Nya:
ہُوَ
الَّذِیۡ بَعَثَ فِی الۡاُمِّیّٖنَ
رَسُوۡلًا مِّنۡہُمۡ یَتۡلُوۡا
عَلَیۡہِمۡ اٰیٰتِہٖ وَ
یُزَکِّیۡہِمۡ وَ
یُعَلِّمُہُمُ الۡکِتٰبَ وَ الۡحِکۡمَۃَ ٭ وَ اِنۡ کَانُوۡا مِنۡ قَبۡلُ
لَفِیۡ ضَلٰلٍ مُّبِیۡنٍ ۙ﴿﴾ وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ ہُوَ الۡعَزِیۡزُ
الۡحَکِیۡمُ ﴿﴾
Dia-lah Yang telah membangkitkan di kalangan bangsa
yang buta-huruf seorang rasul dari antara mereka,
yang membacakan kepada mere-ka
Tanda-tanda-Nya, mensucikan mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah walaupun sebelumnya mereka berada dalam kesesatan yang nyata, وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ ہُوَ الۡعَزِیۡزُ
الۡحَکِیۡمُ -- Dan juga akan membangkitkannya pada kaum lain dari antara mereka, yang
belum bertemu dengan mereka. Dan Dia-lah
Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana.
(Al-Jumu’ah
[62]:3-4).
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran Anyar, 19 Februari
2017
Tidak ada komentar:
Posting Komentar