Minggu, 19 Februari 2017

"Bai'at" Kepada "Imam Mahdi a.s." Berarti "Bai'at" Kepada Pengutusan Kedua Kali Secara Ruhani Nabi Besar Muhammad Saw. di Akhir Zaman & Pengulangan "Jaman Jahiliyah" di Akhir Zaman





Bismillaahirrahmaanirrahiim

  ISLAM
Pidato  Mirza Ghulam Ahmad a.s.
Tgl. 2 November 1904 di Kota Sialkote – Hindustan

Bab  23

 BAI’AT KEPADA IMAM MAHDI A.S. BERARTI  BAI’AT KEPADA PENGUTUSAN KEDUA KALI SECARA RUHANI NABI BESAR MUHAMMAD SAW.   DI AKHIR ZAMAN     &   PENGULANGAN ZAMAN JAHILIYAH DI AKHIR ZAMAN    

Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam bagian akhir Bab 22 telah dijelaskan topik    Makna  Pohon Sidrah Tertinggi” & Hakikat “Pingsannya” Nabi Musa a.s.  sehubungan dengan makna ayat: مَا کَذَبَ الۡفُؤَادُ  مَا  رَاٰی  --  Hati Rasulullah sekali-kali tidak berdusta apa yang dia lihat“ (An-Najm [53]:12), bahwa hakikatnya  ialah apa yang telah dilihat atau dialami oleh Nabi Besar Muhammad saw. dalam peristiwa mi’raj adalah pengalaman hakiki, dan  pengalaman beliau saw. itu kebenaran sejati dan bukan tipuan khayal beliau saw..
        Makna ayat selanjutnya:  اَفَتُمٰرُوۡنَہٗ  عَلٰی مَا یَرٰی     -- “Maka apakah kamu membantahnya mengenai apa yang telah dia lihat?  وَ لَقَدۡ رَاٰہُ  نَزۡلَۃً   اُخۡرٰی -- Dan  sungguh  dia benar-benar melihat-Nya kedua kali.” Yakni kasyaf Nabi Besar Muhammad saw.  itu suatu pengalaman ruhani berganda.
  Selanjutnya Allah Swt. berfirman:  عِنۡدَ سِدۡرَۃِ  الۡمُنۡتَہٰی      -- “Dekat pohon Sidrah tertinggi, عِنۡدَہَا جَنَّۃُ  الۡمَاۡوٰی  --    yang di dekatnya ada surga  tempat tinggal.” Nabi Besar Muhammad saw. pada waktu mi’raj  telah mencapai martabat qurb Ilahi (kedekatan kepada Allah Swt.) demikian tinggi, sehingga sungguh berada di luar jangkauan otak manusia untuk memahaminya.
Atau ayat ini dapat berarti bahwa pada martabat itu terbentang di hadapan beliau saw. bagaikan samudera luas tanpa tepi – samudera makrifat Ilahi,  hakikat-hakikat serta kebenaran-kebenaran abadi. Sadir yang diambil dari akar kata yang sama berarti bahwa makrifat Ilahi yang dilimpahkan kepada Nabi Besar Muhammad saw.   akan seperti halnya pohon Sidrah memberikan kesenangan dan naungan kepada para musafir ruhani yang merasa kakinya letih dan payah.
   Lebih-lebih karena daun pohon Sidrah memiliki khasiat mengawetkan mayat dari proses pembusukan, ayat  عِنۡدَ سِدۡرَۃِ  الۡمُنۡتَہٰی      -- “Dekat pohon Sidrah tertinggi”,  ini dapat berarti  bahwa ajaran Islam (Al-Quran)  yang diwahyukan Allah Swt. kepada Nabi Besar Muhammad saw.  tidak hanya kebal terhadap bahaya kerusakan  -- karena mendapat jaminan pemeliharaan Allah Swt. (QS.15:10)   --  melainkan juga baik sekali guna menolong dan memelihara umat manusia terhadap kerusakan dan kematian ruhani.
Jadi, menurut ayat tersebut  pohon sidrah tertinggi” (sidratul-muntaha) dengan “surga” itu berdekatan atau berdampingan  --bukan berada di dalamnya  -- ungkapan tersebut mengandung makna bahwa dengan diutusnya Nabi Besar Muhammad saw. membawa ajaran Islam (wahyu Al-Quran) sebagai agama (Kitab suci) terakhir dan tersempurna (QS.5:4) maka beriman dan patuh-taat kepada Nabi Besar Muhammad  saw. adalah syarat mutlak untuk masuk ke  dalam surga (QS.3:32 & 86).

Pernyataan Iman Nabi Musa a.s. kepada Kesempurnaan Martabat Nabi Besar Muhammad Saw.

   Atau, ayat  عِنۡدَ سِدۡرَۃِ  الۡمُنۡتَہٰی      -- “Dekat pohon Sidrah tertinggi, عِنۡدَہَا جَنَّۃُ  الۡمَاۡوٰی  --    yang di dekatnya ada surga, tempat tinggal” mengandung kabar gaib (nubuatan) yang mengisyaratkan kepada sebatang pohon, yang di bawah pohon itu para sahabat Nabi Besar Muhammad saw. di Hudaibiyah    mengikat janji setia (bai’at) kepada beliau saw. pada peristiwa Perjanjian Hudaibiyah (QS.48:19). 
  Kata-kata “yang menutupi”  dalam ayat selanjutnya: اِذۡ  یَغۡشَی السِّدۡرَۃَ  مَا یَغۡشٰی  --  Ketika pohon Sidrah diselubungi oleh sesuatu yang menyelubungi maknanya ialah penjelmaan Ilahi.  مَا زَاغَ الۡبَصَرُ  وَ مَا طَغٰی --  Penglihatannya sekali-kali tidak menyimpang dan tidak pula melantur.  لَقَدۡ رَاٰی مِنۡ اٰیٰتِ رَبِّہِ  الۡکُبۡرٰی --    Sungguh  ia benar-benar melihat Tanda paling besar dari Tanda-tanda Rabb-nya (Tuhan-Nya). (An-Najm [53]:1-18-19).
   Firman Allah Swt. dalam dua ayat terakhir surah An-Najm  menjelaskan bahwa “Tajalliyati Ilahiyah” (penampakan keagungan Allah Swt.) kepada Nabi Besar Muhammad saw. merupakan tajalli  Allah Swt.  yang paling sempurna,  yang belum pernah terjadi para para rasul Allah sebelumnya, sehingga Nabi Musa a.s. pun “pingsan” pada saat Allah Swt. bertajalli pada sebuah gunung dalam kasyaf (penglihatan ruhani) yang dialami oleh Nabi Musa a.s.  lalu  setelah siuman dari “pingsannya” Nabi Musa a.s. menyatakan beriman kepada Nabi Besar Muhammad saw., firman-Nya:
وَ لَمَّا جَآءَ مُوۡسٰی لِمِیۡقَاتِنَا وَ کَلَّمَہٗ رَبُّہٗ ۙ قَالَ رَبِّ اَرِنِیۡۤ   اَنۡظُرۡ   اِلَیۡکَ ؕ قَالَ لَنۡ تَرٰىنِیۡ  وَ لٰکِنِ  انۡظُرۡ  اِلَی  الۡجَبَلِ فَاِنِ اسۡتَقَرَّ مَکَانَہٗ فَسَوۡفَ تَرٰىنِیۡ ۚ فَلَمَّا تَجَلّٰی رَبُّہٗ  لِلۡجَبَلِ جَعَلَہٗ  دَکًّا وَّ خَرَّ مُوۡسٰی صَعِقًا ۚ فَلَمَّاۤ  اَفَاقَ قَالَ سُبۡحٰنَکَ تُبۡتُ  اِلَیۡکَ  وَ اَنَا  اَوَّلُ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ ﴿﴾ 
Dan  tatkala Musa datang pada waktu yang Kami tetapkan dan Rabb-nya (Tuhan-nya) bercakap-cakap dengannya, ia berkata: “Ya Rabb-ku (Tuhan-ku), perlihatkanlah kepadaku supaya aku dapat memandang Engkau.” Dia berfirman: “Engkau tidak akan pernah dapat melihat-Ku  tetapi pandanglah gunung itu, lalu jika ia tetap ada pada tempatnya  maka engkau pasti  akan dapat melihat-Ku.”  فَلَمَّا تَجَلّٰی رَبُّہٗ  لِلۡجَبَلِ جَعَلَہٗ  دَکًّا وَّ خَرَّ مُوۡسٰی صَعِقًا  -- Maka  tatkala Rabb-nya (Tuhan-nya) menjelmakan keagungan-Nya pada  gunung itu  Dia menjadikannya hancur lebur, dan Musa pun jatuh pingsan.  ۚ فَلَمَّاۤ  اَفَاقَ قَالَ سُبۡحٰنَکَ تُبۡتُ  اِلَیۡکَ  وَ اَنَا  اَوَّلُ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ -- Lalu tatkala ia sadar kembali  ia berkata: “Mahasuci Engkau, aku bertaubat  kepada Engkau dan aku adalah orang pertama di antara orang-orang yang beriman kepadanya di masa ini.”  (Al-A’rāf [7]:144). 
         Ayat ini memberikan penjelasan mengenai salah satu masalah keagamaan yang sangat penting, yaitu mungkinkah bagi seseorang menyaksikan   Allah Swt.  dengan mata jasmaninya? Ayat itu sedikit pun tidak mendukung pendapat bahwa  Allah Swt.  dapat disaksikan oleh mata jasmani (QS.6:104). Jangankan melihat  Allah Swt.   dengan mata jasmani, bahkan manusia tidak dapat pula melihat malaikat-malaikat, kita hanya dapat melihat penjelmaan mereka belaka.
       Begitu pula hanya tajalli (penjelmaan keagungan)  Allah Swt.  sajalah yang dapat kita saksikan  tetapi Wujud Allah Swt.  sendiri tidak. Oleh karena itu tidak dapat dimengerti bahwa seorang nabi yang besar seperti Nabi Musa a.s.  dengan segala makrifat mengenai sifat-sifat  Allah Swt. akan mempunyai keinginan mengenai hal-hal yang mustahil.

Nabi yang Seperti Musa” di Kalangan Bani Isma’il

        Nabi Musa a.s. mengetahui bahwa beliau hanyalah dapat menyaksikan Tajalli (penampakkan kekuasaan) Allah Swt.,  dan bukan Wujud-Nya Sendiri. Akan tetapi beliau sebelumnya sudah melihat suatu Tajalli   Allah Swt.  dalam bentuk “api” dalam perjalanan beliau dari Midian ke Mesir (28:30). Jadi  apa gerangan maksud Musa a.s. dengan perkataan:  رَبِّ اَرِنِیۡۤ   اَنۡظُرۡ   اِلَیۡکَ  -- “Ya Rabb-ku (Tuhan-ku), tampak-kanlah  kepadaku supaya aku dapat melihat Engkau?”
      Permohonan itu nampaknya mengisyaratkan kepada tajalli-sempurna  Allah Swt. yang kelak akan menjelma pada diri Nabi Besar Muhammad saw.  beberapa masa kemudian. Nabi Musa a.s.  – sebagai akibat berulangkalinya Bani Israil melakukan kedurhakaan kepada Allah Swt. dan para rasul Allah yang dibangkitkan di kalangan mereka (QS.2:89-90) --   diberi janji bahwa dari antara saudara-saudara Bani Israil akan muncul seorang nabi yang di mulutnya Tuhan akan meletakkan Kalam-Nya (Kitab Ulangan 18:18-22).
         Nubuatan ini berkenaan dengan suatu tajalli lebih besar daripada yang pernah dilimpahkan kepada Nabi Musa a.s., karena itu beliau dengan sendirinya sangat berhasrat melihat macam bagaimana Keagungan dan Kemuliaan  Allah Swt.  yang akan tampak dalam tajalli yang dijanjikan itu. Beliau berharap bahwa Keagungan dan Kemuliaan itu  yang diraih oleh “rekan sejawat” beliau  -- Nabi Besar Muhammad saw. (QS.46:11)  -- ada yang dapat diperlihatkan kepada beliau.
       Nabi Musa a.s. diberi tahu bahwa Tajalli ini berada di luar batas kemampuan beliau untuk menanggungnya,  tajalli itu tidak akan dapat terjelma pada hati beliau, tetapi  Allah Swt.  memilih gunung untuk bertajalli. Gunung itu berguncang dengan hebat  serta nampak  seakan-akan ambruk, dan Nabi Musa a.s.  karena dicekam oleh pengaruh guncangan itu rebah tidak sadarkan diri (pingsan).
      Dengan cara demikian Nabi Musa a.s.  dibuat sadar bahwa beliau tidak mencapai taraf kesempurnaan yang demikian tingginya dalam martabat keruhanian yang dapat membuat beliau boleh menyaksikannya sendiri tempat Allah Swt. bertajalli sebagaimana dimohonkan beliau. Hak istimewa yang unik itu disediakan untuk seorang yang lebih besar daripada beliau, tak lain ialah Mahkota segala makhluk Ilahi yaitu   Khātamul-Anbiyya  Nabi Besar Muhammad saw. (QS.33:41).
       Mungkin pula permohonan Nabi Musa a.s. itu karena didesak para pemuka Bani Israil yang menuntut untuk melihat Allah Swt.   dengan mata lahir (QS.2:56). Pengalaman Nabi Musa a.s. yang sangat luar biasa itu memberi kesadaran kepada beliau bahwa permohonan beliau itu tidak layak. Dengan serta merta beliau berseru: “Aku bertaubat kepada Engkau, dan aku orang pertama di antara orang-orang beriman,” yang berarti beliau telah sadar bahwa beliau tidak dianugerahi kemampuan melihat tajalli-sempurna Keagungan Ilahi yang seharusnya akan menjelma pada hati Nabi Yang dijanjikan itu dan bahwa beliau (Nabi Musa a.s.) adalah orang yang pertama-tama beriman kepada keluhuran kedudukan ruhani yang telah ditakdirkan akan dicapai oleh Nabi Besar itu. Keimanan Nabi Musa a.s.  kepada  Nabi Besar Muhammad saw,   itu telah disinggung juga dalam QS.46:11.
   Dalam kenyataannya  gunung itu sebenarnya tidak hancur-lebur. Kata-kata itu telah dipergunakan secara majasi (kiasan) untuk menyatakan kehebatan gempa bumi yang terjadi pada waktu Nabi Musa a.s. menyaksikan “peristiwa ruhani” (kasyaf)  yang sangat luar-biasa tersebut. Lihat Keluaran 24:18.  
Selanjutnya Allah Swt. berfirman  dalam rangka “menghibur” hati Nabi Musa a.s. setelah mengalami peristiwa ruhani yang benar-benar mengguncang hati dan perasaan beliau tersebut:
قَالَ یٰمُوۡسٰۤی  اِنِّی  اصۡطَفَیۡتُکَ عَلَی النَّاسِ بِرِسٰلٰتِیۡ  وَ بِکَلَامِیۡ ۫ۖ فَخُذۡ مَاۤ اٰتَیۡتُکَ  وَ  کُنۡ  مِّنَ  الشّٰکِرِیۡنَ ﴿﴾
Dia berfirman: “Hai Musa, sesungguhnya Aku telah memilih engkau atas umat manusia dengan risalah-Ku dan firman-Ku, maka pegang-teguhlah apa yang telah Aku berikan kepada engkau dan jadilah engkau ter-masuk orang-orang yang bersyukur (Al-A’rāf [7]:145).
      Ayat ini nampaknya ditujukan kepada Nabi Musa a.s.   sebagai kata-kata penghibur sesudah Allah Swt.  membuat beliau sadar bahwa beliau tidak dapat mencapai derajat keruhanian yang tinggi seperti Nabi Besar dari keturunan Nabi Isma’il a.s.  yang ditakdirkan akan mencapainya. Nabi Musa a.s.  diminta agar jangan mendambakan kemuliaan tinggi yang disediakan untuk “Nabi itu” tetapi hendaknyalah merasa puas dengan dan bersyukur atas peringkat (martabat ruhani) yang telah dianugerahkan Allah Swt.  kepada beliau..

Pentingnya  Jihad Melawan “Hawa-nafsu” & Pentingnya Bai’at Kepada Imam Mahdi a.s.

 Jadi, untuk meraih ketinggian tingkatan-tingkatan mi’raj ruhani  menuju “perjumpaan” atau “perpaduan” dengan Sifat-sifat Tasybihiyyah Allah Swt. – sebagaimana yang dicontohkan Nabi Besar Muhammad saw.  -- memerlukan   jihad  (perjuangan) istimewa melawan “diri sendiri” (hawa-nafsu) yang sangat istimewa, sebagaimana firman-Nya:
وَ الَّذِیۡنَ جَاہَدُوۡا فِیۡنَا لَنَہۡدِیَنَّہُمۡ سُبُلَنَا ؕ وَ اِنَّ اللّٰہَ  لَمَعَ الۡمُحۡسِنِیۡنَ ﴿٪﴾
Dan orang-orang yang berjuang  untuk Kami niscaya Kami akan memberi petunjuk kepada mereka pada jalan-jalan Kami, dan se-sungguhnya Allāh beserta orang-orang yang berbuat ihsan (Al-Ankabūt [29]:70).
      Jihad sebagaimana diperintahkan Allah Swt.  dalam ajaran    Islam, tidak berarti harus membunuh atau menjadi kurban pembunuhan, melainkan harus berjuang keras guna memperoleh keridhaan Ilahi, sebab kata fīnā berarti “untuk menjumpai Kami”, firman-Nya:”
یٰۤاَیُّہَا الۡاِنۡسَانُ  اِنَّکَ کَادِحٌ  اِلٰی رَبِّکَ کَدۡحًا  فَمُلٰقِیۡہِ ۚ﴿﴾
Hai insan, sesungguhnya engkau bekerja keras dengan sungguh-sungguh menuju Rabb (Tuhan) engkau  maka  engkau akan bertemu dengan-Nya. (Al-Insyiqāq [84]:7). 
       Jadi, betapa  pentingnya melakukan “baiat” kepada Nabi Besar Muhammad saw. (QS.48:11) dan pentingnya melakukan  baiat kepada Imam Mahdi a.s.  yang diperintahkan Nabi Besar Muhammad saw.:
“Ketika kalian melihatnya (kehadiran Imam Mahdi)  maka berbai’atlah dengannya walaupun harus merangkak-rangkak di atas salju karena sesungguhnya dia adalah Khalifatullah Al-Mahdi.” (HR Abu Dawud, 4074).
  Mengapa demikian pentingnya baiat kepada Imam Mahdi a.s. tersebut? Sebab pada hakikatnya Imam Mahdi a.s. atau Masih Mau’ud a.s.  atau misal Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (QS.43:58)  merupakan pengutusan kedua kali secara ruhani Nabi Besar Muhammad saw. di Akhir Zaman ini,  sebagaimana dikemukakan dalam  firman-Nya:
  ہُوَ الَّذِیۡ  بَعَثَ فِی  الۡاُمِّیّٖنَ  رَسُوۡلًا مِّنۡہُمۡ  یَتۡلُوۡا عَلَیۡہِمۡ  اٰیٰتِہٖ  وَ  یُزَکِّیۡہِمۡ وَ  یُعَلِّمُہُمُ  الۡکِتٰبَ وَ  الۡحِکۡمَۃَ ٭ وَ  اِنۡ کَانُوۡا مِنۡ  قَبۡلُ  لَفِیۡ ضَلٰلٍ  مُّبِیۡنٍ ۙ﴿﴾   وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ  لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ ہُوَ  الۡعَزِیۡزُ  الۡحَکِیۡمُ ﴿﴾           
Dia-lah Yang telah membangkitkan di kalangan bangsa yang buta-huruf seorang  rasul dari antara mereka, yang membacakan kepada mere-ka Tanda-tanda-Nya,  mensucikan mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah  walaupun sebelumnya mereka berada dalam kesesatan yang nyata, وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ  لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ ہُوَ  الۡعَزِیۡزُ  الۡحَکِیۡمُ  --  Dan juga akan membangkitkan-nya pada kaum lain dari antara me-reka, yang belum bertemu dengan mereka.  Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana. (Al-Jumu’ah [62]:3-4).
     Kata  وَ (wa) --  dalam ayat وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ  لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِم  -- “Dan juga akan membangkitkan-nya pada kaum lain dari antara mereka, yang belum bertemu dengan mereka” disebut wau athaf, yang mengisyaratkan kepada  pengulangan peristiwa yang disebutkan dalam ayat sebelumnya pada ayat berikutnya.
     Dengan demikian dari ayat  وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ  لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِم  -- “Dan juga akan membangkitkan-nya pada kaum lain dari antara mereka, yang belum bertemu dengan mereka  diisyaratkan   bahwa kejahiliyahan yang terjadi  pada zaman menjelang pengutusan Nabi Besar Muhammad saw. (QS.30:42)  – yang diisyaratkan dalam ayat: وَ  اِنۡ کَانُوۡا مِنۡ  قَبۡلُ  لَفِیۡ ضَلٰلٍ  مُّبِیۡنٍ ۙ  --  “walaupun sebelumnya mereka berada dalam kesesatan yang nyata  --  akan  terjadi  lagi (berulang) di Akhir Zaman pada masa puncak kemunduran akhlak dan ruhani serta politik yang dialami umat Islam selama 1000 tahun  sejak 3 abad  masa kejayaannya yang pertama (QS.32:6), yaitu pada masa menjelang pengutusan kedua kali secara ruhani Nabi  Besar Muhammad saw. dalam wujud Imam Mahdi a.s. atau Masih Mau’ud a.s. atau misal Nabi Isa Ibnu Maryam (QS.43:58), yakni Mirza Ghulam Ahmad a.s.,Pendiri Jemaat Muslim Ahmadiyah.

Pengulangan Zaman Jahiliyah di Akhir Zaman

     Dalam masa puncak kemunduran yang dialami oleh umat Islam   -- akibat  mereka telah meninggalkan Al-Quran sebagai sesuatu  yang  tidak berharga   -- itulah Rasul Akhir Zaman  tersebut  yang sangat prihatin,  firman-Nya:
   وَ قَالَ الرَّسُوۡلُ یٰرَبِّ اِنَّ قَوۡمِی اتَّخَذُوۡا ہٰذَا الۡقُرۡاٰنَ مَہۡجُوۡرًا ﴿﴾  وَ کَذٰلِکَ جَعَلۡنَا لِکُلِّ نَبِیٍّ عَدُوًّا مِّنَ الۡمُجۡرِمِیۡنَ ؕ وَ کَفٰی بِرَبِّکَ ہَادِیًا وَّ نَصِیۡرًا ﴿﴾
Dan  Rasul itu berkata: “Ya Rabb-ku (Tuhan-ku), sesungguhnya kaumku telah menjadikan Al-Quran ini sesuatu yang telah ditinggalkan. وَ کَذٰلِکَ جَعَلۡنَا لِکُلِّ نَبِیٍّ عَدُوًّا مِّنَ الۡمُجۡرِمِیۡنَ  -- Dan demikianlah Kami  telah menjadikan musuh bagi tiap-tiap nabi   dari antara orang-orang yang berdosa, وَ کَفٰی بِرَبِّکَ ہَادِیًا وَّ نَصِیۡرًا --  dan cukuplah Rabb (Tuhan) engkau sebagai pemberi petunjuk dan penolong. (Al-Furqān [25]:31-32).
     Ayat 32  dengan sangat tepat sekali dapat dikenakan kepada mereka yang menamakan diri orang-orang Islam (Muslim) tetapi  mereka telah menyampingkan Al-Quran dan telah melemparkannya ke belakang. Mereka lebih mementingkan  hadits-hadit  dan ucapan para wali Allah  -- seperti wirid dan olah kebatinan dan lain-lain  yang tidak disunnahkan nabi Besar Muhammad saw.  --daripada petunjuk Al-Quran, sebagaimana  sebelumnya telah terjadi di kalangan golongan Ahli-Kitab (orang-orang Yahudi) yang  lebih mementingkan Talmud daripada ajaran Taurat.
        Barangkali belum pernah terjadi selama 14 abad ini di mana Al-Quran demikian rupa diabaikan dan dilupakan oleh orang-orang Islam  seperti di Akhir Zaman ini. Ada sebuah hadits Nabi Besar Muhammad saw.   yang mengatakan:
Satu saat akan datang kepada kaumku, bila tidak ada yang tinggal dari Islam melainkan namanya dan dari Al-Quran melainkan tulisannya , masjidnya ramai adapun isinya menyalahi hukum agama, ulama-ulamanya sejelek-jelek manusia ibarat di bawah bayangan langit, dan dari ulama-ulama tersebut keluar fitnah, dan fitnah itu kembali kepada mereka (fitnah-memfitnah).”  (HR. Baihaqi dalam kitab Syu’abul Iman).
    Terjadinya konflik antar umat islam di berbagai tempat dan negara, adanya umat islam yang saling melempar fitnah dan saling mengkafirkan padahal kalau benar Islam masih di dada mereka mestinya menyadari bahwa sesama Muslim itu tidak boleh saling menyakiti, tidak boleh saling bunuh dan tidak boleh merusak kehormatan Muslim lainnya, mereka ibarat satu tubuh sebagaimana sabda Nabi Besar Muhammad saw. lainnya:
Dari Nu’man bin Basyir, ia berkata: Rasulullah saw. bersab­da, “Orang-orang Muslim itu ibarat satu orang (satu tubuh), jika matanya sakit, maka seluruh badannya ikut merasakan sakit. Dan bila kepalanya sakit, maka seluruh tubuhnya ikut merasa sakit pula (HR. Muslim juz 4, hal. 2000).  

Pencabutan “Ruh” Al-Quran

       Sungguh di Akhir Zaman inilah saat yang dimaksudkan oleh Nabi Besar Muhammad saw. tersebut, yakni sebagai akibat  ruh” (jiwa) Al-Quran   dan ajaran Islam telah “terbang ke bintang Tsuraya” sehingga yang tinggal di kalangan umat Islam hanyalah “jasad” Al-Quran yang “tanpa ruh”, demikian pula keadaan umat Islam pun bukan lagi merupakan “satu tubuh yang utuh dan hidup” melainkan bagaikan “tulang-belulang berserakan” sehingga melawan satu negara Israel yang kecil pun mereka tidak berdaya, firman-Nya:
وَ یَسۡـَٔلُوۡنَکَ عَنِ الرُّوۡحِ ؕ قُلِ الرُّوۡحُ مِنۡ  اَمۡرِ رَبِّیۡ وَ مَاۤ  اُوۡتِیۡتُمۡ مِّنَ الۡعِلۡمِ اِلَّا  قَلِیۡلًا ﴿﴾  وَ لَئِنۡ شِئۡنَا لَنَذۡہَبَنَّ بِالَّذِیۡۤ  اَوۡحَیۡنَاۤ اِلَیۡکَ ثُمَّ لَا تَجِدُ لَکَ بِہٖ عَلَیۡنَا  وَکِیۡلًا ﴿ۙ﴾  اِلَّا رَحۡمَۃً  مِّنۡ رَّبِّکَ ؕ اِنَّ  فَضۡلَہٗ  کَانَ عَلَیۡکَ  کَبِیۡرًا ﴿﴾
Dan mereka bertanya kepada engkau mengenai ruh, katakanlah: “Ruh telah diciptakan atas perintah Rabb-ku (Tuhan-ku), dan kamu sama sekali  tidak  diberi ilmu mengenai itu melainkan sedikit.”  Dan jika Kami benar-benar  menghendaki, niscaya Kami mengambil kembali  apa yang telah Kami wahyukan kepada engkau  kemudian engkau tidak akan memperoleh penjaga baginya terhadap Kami dalam hal itu   karena rahmat dari Rabb (Tuhan) engkau, sesungguhnya karunia-Nya sangat besar kepada engkau. (Bani Israil [17]:86-88).
       Dalam masa kemunduran dan kejatuhan ruhani mereka, nampaknya orang-orang Yahudi asyik berkecimpung dalam kebiasaan-kebiasaan ilmu klenik (occult), seperti halnya banyak ahli kebatinan modern, para pengikut gerakan teosofi dan yogi-yogi Hindu. Nampaknya di masa Nabi Besar Muhammad saw. pun beberapa orang Yahudi di Medinah telah menempuh cara-cara kebiasaan semacam itu. Itulah sebabnya mengapa ketika orang-orang musyrik Mekkah mencari bantuan orang-orang Yahudi untuk membungkam Nabi Besar Muhammad saw  mereka memberi saran supaya orang-orang musyrik Mekkah itu menanyakan kepada beliau saw.  hakikat ruh manusia.
     Dalam ayat yang sedang dibahas ini Al-Quran menjawab pertanyaan mereka dengan mengatakan  bahwa ruh memperoleh daya kekuatannya dari perintah Ilahi, dan apa pun yang menurut kepercayaan orang dapat diperoleh dengan perantaraan apa yang dikatakan latihan-latihan batin dan ilmu sihir, adalah semata-mata tipuan dan omong-kosong belaka.
   Menurut riwayat pertanyaan-pertanyaan mengenai sifat ruh manusia pertama-tama diajukan kepada Nabi Besar Muhammad saw.  di kota Mekkah oleh orang-orang Quraisy dan kemudian menurut ‘Abdullah bin Mas’ud r.a. pertanyaan yang sama  diajukan oleh  orang-orang Yahudi di Medinah.
       Dalam ayat:  قُلِ الرُّوۡحُ مِنۡ  اَمۡرِ رَبِّیۡ  --  “katakanlah: “Ruh telah diciptakan atas perintah Rabb-ku (Tuhan-ku)“   disebut sesuatu yang diciptakan atas perintah langsung dari Allah Swt.. Menurut Al-Quran semua penciptaan terdiri dari dua jenis:
      (1) Kejadian permulaan yang dilaksanakan tanpa mempergunakan zat atau benda yang telah diciptakan sebelumnya.
     (2) Kejadian selanjutnya yang dilaksanakan dengan mempergunakan sarana dan benda yang telah diciptakan sebelumnya.
      Penciptaan  macam pertama termasuk jenis amr (arti harfiahnya ialah perintah – “Kun, fayakun: “Jadilah” maka terjadi”) lihat QS.2:118, dan cara penciptaan yang kedua  disebut khalq (arti harfiahnya ialah menciptakan). Dan menurut ayat tersebut  keberadaan  ruh manusia termasuk jenis penciptaan pertama: قُلِ الرُّوۡحُ مِنۡ  اَمۡرِ رَبِّیۡ  --  “katakanlah: “Ruh telah diciptakan atas perintah Rabb-ku (Tuhan-ku).“ 

Pencabutan “Ruh” Al-Quran dan Pengembaliannya Lagi di Akhir Zaman
  
       Kata ruh itu berarti wahyu Ilahi (QS.42:52-54; QS.58:23; Lexicon Lane). Letaknya kata ini dalam ayat tersebut    mendukung arti demikian.  Ayat tersebut nampaknya mengandung nubuatan bahwa  setelah umat Islam mengalami masa kejayaan yang pertama selama 3 abad,   akan datang suatu saat  selama 1000 tahun (QS.32:6) ketika ilmu Al-Quran secara berangsur-angsur akan lenyap dari bumi, firman-Nya:
یُدَبِّرُ الۡاَمۡرَ مِنَ السَّمَآءِ  اِلَی الۡاَرۡضِ ثُمَّ یَعۡرُجُ  اِلَیۡہِ  فِیۡ یَوۡمٍ کَانَ مِقۡدَارُہٗۤ اَلۡفَ سَنَۃٍ  مِّمَّا تَعُدُّوۡنَ ﴿﴾
Dia mengatur perintah dari langit sampai bumi, kemudian perintah itu akan naik kepada-Nya dalam satu hari, yang hitungan lamanya seribu tahun dari apa yang kamu hitung. (As-Sajdah [32]:6).
       Ayat ini menunjuk kepada suatu pancaroba sangat hebat  yang ditakdirkan Allah Swt. akan menimpa Islam dalam perkembangannya yang penuh dengan perubahan itu. Islam akan melalui suatu masa kemajuan dan kesejahteraan yang mantap selama 3 abad pertama kehidupannya. Nabi Besar Muhamad saw.  diriwayatkan pernah menyinggung secara jitu mengenai kenyataan itu dalam sabda beliau: “Abad terbaik ialah abad di kala aku hidup, kemudian abad berikutnya, kemudian abad sesudah itu” (Tirmidzi & Bukhari, Kitab-usy-Syahadat).
     Islam mulai mundur sesudah 3 abad pertama masa keunggulan dan keme-nangan pertama yang tiada henti-hentinya. Peristiwa kemunduran dan kemerosotannya ber-langsung dalam masa 1000 tahun berikutnya. Kepada masa 1000 tahun inilah telah diisyaratkan dengan kata-kata: ثُمَّ یَعۡرُجُ  اِلَیۡہِ  فِیۡ یَوۡمٍ کَانَ مِقۡدَارُہٗۤ اَلۡفَ سَنَۃٍ  مِّمَّا تَعُدُّوۡنَ  -- “Kemudian perintah itu akan naik kepada-Nya dalam satu hari, yang hitungan lamanya seribu tahun.”
      Dalam hadits lain berkenaan tafsir surah Al-Jumu’ah ayat 3-4  mengenai makna ayat:   وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ  لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ ہُوَ  الۡعَزِیۡزُ  الۡحَکِیۡمُ  --  Dan juga akan membangkitkan-nya pada kaum lain dari antara mereka, yang belum bertemu dengan mereka.  Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana. (Al-Jumu’ah [62]:4). Nabi Besar Muhammad saw. diriwayatkan pernah bersabda bahwa iman akan terbang ke Bintang Tsuraya dan seseorang dari keturunan Parsi akan mengembalikannya ke bumi (Bukhari, Kitab-ut-Tafsir).
      Nubuatan Nabi Besar Muhammad saw. serupa itu telah diriwayatkan oleh Mardawaih, Baihaqi, dan Ibn Majah, ketika ruh dan jiwa ajaran Al-Quran akan hilang lenyap dari bumi, dan semua  orang yang dikenal sebagai ahli-ahli mistik dan para sufi yang mengakui memiliki kekuatan batin istimewa — seperti pula diakui oleh segolongan orang-orang Yahudi dahulu kala yang sifatnya serupa dengan mereka — tidak akan berhasil mengembalikan jiwa ajaran Al-Quran dengan usaha mereka bersama-sama, itulah makna firman-Nya:
وَ لَئِنۡ شِئۡنَا لَنَذۡہَبَنَّ بِالَّذِیۡۤ  اَوۡحَیۡنَاۤ اِلَیۡکَ ثُمَّ لَا تَجِدُ لَکَ بِہٖ عَلَیۡنَا  وَکِیۡلًا ﴿ۙ﴾ اِلَّا رَحۡمَۃً  مِّنۡ رَّبِّکَ ؕ اِنَّ  فَضۡلَہٗ  کَانَ عَلَیۡکَ  کَبِیۡرًا ﴿﴾
Dan jika Kami benar-benar  menghendaki, niscaya Kami mengambil kembali apa yang telah Kami wahyukan kepada engkau   kemudian engkau tidak akan memperoleh pen-jaga baginya terhadap Kami dalam hal itu. اِلَّا رَحۡمَۃً  مِّنۡ رَّبِّکَ ؕ اِنَّ  فَضۡلَہٗ  کَانَ عَلَیۡکَ  کَبِیۡرًا  --   Kecuali karena rahmat dari Rabb (Tuhan) engkau, sesungguhnya karunia-Nya sangat besar kepada engkau. (Bani Israil [17]:87-88).

Rahmat dan Karunia Ilahi  Kepada Umat Islam

         Dalam ayat:   اِلَّا رَحۡمَۃً  مِّنۡ رَّبِّکَ ؕ اِنَّ  فَضۡلَہٗ  کَانَ عَلَیۡکَ  کَبِیۡرًا   -- “Kecuali karena rahmat dari Rabb (Tuhan) engkau, sesungguhnya karunia-Nya sangat besar kepada engkau“ terdapat kabar gembira  bahwa Allah Swt. akan  mengembalikan lagi “ruh” Al-Quran yang telah “terbang ke bintang Tsuraya” tersebut di Akhir Zaman ini kepada umat Islam  sebagaimana yang terjadi di zaman  Nabi Besar Muhammad saw. yaitu melalui pengutusan kedua kali beliau saw. secara ruhani  dalam wujud Rasul Akhir Zaman, firman-Nya:
  ہُوَ الَّذِیۡ  بَعَثَ فِی  الۡاُمِّیّٖنَ  رَسُوۡلًا مِّنۡہُمۡ  یَتۡلُوۡا عَلَیۡہِمۡ  اٰیٰتِہٖ  وَ  یُزَکِّیۡہِمۡ وَ  یُعَلِّمُہُمُ  الۡکِتٰبَ وَ  الۡحِکۡمَۃَ ٭ وَ  اِنۡ کَانُوۡا مِنۡ  قَبۡلُ  لَفِیۡ ضَلٰلٍ  مُّبِیۡنٍ ۙ﴿﴾   وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ  لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ ہُوَ  الۡعَزِیۡزُ  الۡحَکِیۡمُ ﴿﴾           
Dia-lah Yang telah membangkitkan di kalangan bangsa yang buta-huruf seorang  rasul dari antara mereka, yang membacakan kepada mere-ka Tanda-tanda-Nya,  mensucikan mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah  walaupun sebelumnya mereka berada dalam kesesatan yang nyata, وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ  لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ ہُوَ  الۡعَزِیۡزُ  الۡحَکِیۡمُ  --  Dan juga akan membangkitkannya pada kaum lain dari antara mereka, yang belum bertemu dengan mereka.  Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana. (Al-Jumu’ah [62]:3-4).

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid

oo0oo
Pajajaran Anyar, 19    Februari  2017

Tidak ada komentar:

Posting Komentar